Monday, April 27, 2015

Transformasikan Aku!


Pdt. Jonathan Lo

Gal 6:14Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.

Pendahuluan

                Apa yang harus diubah dalam hidupku? Rasul Pauus berbicara, dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia (Gal 6:14b). Rasul Paulus menghubungkan “aku’ dengan “dunia”. Kalau aku semakin serupa dengan dunia, maka aku semakin jauh dari Tuhan. Jadi aku harus diubah oleh Tuhan supaya makin serupa dengan Kristus. Pada waktu kita menjadi serupa dengan Kristus, maka aku menyalibkan dunia bagi aku dan aku bagi dunia. Kedewasaan orang Kristen tidak ditentukan oleh seberapa giat ia melayani Tuhan. Melayani Tuhan itu baik tetapi kehidupan rohani tidak ditentukan oleh pelayanan kita tetapi ditentukan oleh seberapa jauh kita telah mati bagi dunia, dan dunia bagi aku. Kalau aku hidup makin menyerupai dunia, maka kita tidak pernah mengerti apa artinya kuasa kebangkitan Kristus bagi dunia. Bagaimana aku bisa mati bagi dunia? Yaitu melalui kuasa Roh Kudus dalam diri kita dan hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus sehingga seperti yang Rasul Paulus katakan dalam Gal 2:20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Rasul Paulus hidup seperti itu karena bersandarkan kuasa kebangkitan Yesus Kristus dan membiarkan Yesus Kristus  yang memimpin kehendak dan pikirannya. Sehingga perubahan hidup kita dimulai dengan perubahan dari dalam, bukan diawali dari perubahan tingkah laku karena perubahan tingkah laku berasal dari dalam.

              Rasul  Paulus mengatakan bahwa  dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Apa yang dimaksud “dunia” oleh Rasul Paulus? Dunia selalu berkaitan dengan aku. Sebelum Kristus menguasai hidup kita, maka kita cenderung hidup bagi diri sendiri. Dunia ini adalah sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Rasul  Yohanes mengatakan bahwa ada 3 hal yang berkaitan dengan dunia ini seperti yang dikatakan pada 1 Yoh 2:16  Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

1.    Keinginan daging

          Keinginan daging berarti hidup yang mengikuti hawa nafsu dan serupa dengan dunia. Keinginan hawa nafsu bertentangan dengan keinginan Roh Kudus. Barangsiapa mengikuti keinginan daging maka tidak mungkin berkenan di hadapan Tuhan. Rasul Paulus pada Galatia 5 menjelaskan tentang keinginan daging. Keinginan daging menghasilkan perbuatan daging. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (Gal 5:19-21). Perbuatan daging menonjolkan kepentingan diri sendiri.
          Saya bertemu dengan seorang Ibu yang mengatakan, “Saya telah berdosa di dalam hidup.” Saya bertanya, “Mengapa Ibu berkata seperti itu?” Si Ibu menjawab, “Saya benci sekali dengan perbuatan dosa yang saya lakukan ketika melihat anak laki-laki saya menikah bukan dengan orang yang berasal dari satu suku. Di dalam benak, saya tidak bisa menerima menantu saya. Saya membencinya tanpa alasan. Bahkan waktu tahun baru imlek saya tidak mau menerimanya saat dia datang. Bertahun-tahun menantu saya sulit menghadapi saya. Saya tidak bisa menerima dia di dalam hati saya!” Itulah keinginan daging yaitu berkaitan dengan keinginan, kepentingan diri dan keinginan duniawi. Tapi kemudian ia mengatakan, “Suatu saat saya mendengar bahwa Tuhan mengasihi saya, dan Tuhan telah menerima saya seperti semua orang. Tuhan tidak membedakan siapa pun juga. Pada saat itu firman Tuhan masuk dalam hati saya. Saya bertobat dan menangis di hadapan Tuhan. Saat pulang ke rumah saya berdoa, ‘Tuhan apa yang saya harus perbuat?’” Tuhan pun mengingatkan, “Terimalah  menantumu seperti Aku menerima engkau!” Lalu ibu  ini menelepon menantunya dan berkata, “Maafkan saya karena selama ini sudah menyusahkan kamu.” Menantunya sangat terperanjat mendengar perkataan itu, namun ia berkata, “Mama tidak perlu mengatakan seperti  itu.” Kemudian Ibu ini mengunjungi menantunya untuk pertama kali. Sang Ibu berkata, “Pada waktu saya melakukan itu, hati saya bergetar. Tidak ada harga diri yang harus saya pertahankan. Sebenarnya ada rasa malu di dalam diri saya kalau mengaku kesalahan diri saya, tetapi firman Tuhan bergema dalam hati saya. Saya tidak tahan dan kemudian memberanikan diri untuk berdamai dengan menantu saya.” Orang seperti ini belajar “mati bagi Aku.” Ia tidak hidup dalam hawa nafsu dan perpecahan serta membiarkan Kristus hidup dan menguasai dia. Itulah yang harus diubah dalam hidup kita. Jika kita  tidak berubah bagaimana kuasa Kristus bisa bekerja dalam hidup kita?
          Seringkali si “aku” yang muncul saat kita sedang melalui berbagai himpitan dan kesulitan. Suatu kali saat macet saya menginjak rem untuk menghentikan mobil. Namun mobil di belakang terus membunyikan klakson. Saya rasanya ingin marah. Kalau si “aku” menguasai hidup maka saya akan buka pintu dan mengatakan, “Mau apa kamu?” Tetapi saya bersama istri kemudian berdoa, “Tuhan ampuni mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Si aku seringkali dimunculkan dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Kalau bertemu dengan orang yang tidak sesuai dengan kita, maka kita ingin marah dan ingin melakukan sesuatu yang membawa “aku” muncul dalam hidup kita. Tapi Rasul Paulus mengatakan, dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.

2.    Keinginan mata.

          Rasul Yohanes mengatakan Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu ….., keinginan mata artinya segala sesuatu yang berasal dari luar diadopsi dan kemudian mengendalikan kita. Bentuknya bisa berupa harta. Harta sebenarnya tidak jahat, tetapi yang jahat adalah orang jahat yang berharta. Orang benar menggunakan hartanya untuk kebenaran. Oleh sebab itu jangan berdoa agar supaya bisa kaya raya, tetapi berdoa supaya takut akan Tuhan dan beriman. Kalau seseorang tidak takut Tuhan dan tidak punya iman, maka ia akan menggunakan hartanya untuk berbuat dosa dan ia akan menggunakan segala cara untuk menjadi kaya. Oleh sebab itu, punya iman lebih baik daripada punya harta. Bila seseorang punya iman tapi tidak punya harta maka ia bisa setia. Bila seseorang punya iman dan harta maka ia akan menggunakan hartanya melayani Tuhan. Jadi harta tidak jahat, yang jahat adalah hati kita yang menggunakan harta tersebut. Ada orang yang punya harta banyak tapi pelitnya luar biasa. Ada juga orang yang tidak miskin dan kaya tapi hatinya terbuka kepada orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Ada orang yang hartanya semakin banyak semakin pelit. Persoalannya bukan harta tapi hatinya yang sempit. Kalau hatinya  berubah maka ia menggunakan harta untuk melayani hatinya yang baik.
          Tidak mempunyai rumah yang ‘baik’ itu sebenarnya bisa berarti berkat. Walau tIdak memiliki sesuatu yang ‘baik’ kita harus menghargai pemberian Tuhan. Tetapi keinginan mata  tidak akan memiliki rasa puas untuk memiliki sesuatu. Kalau sudah memperoleh “yang ini” ingin lagi yang lain. Kalau sudah memperoleh yang diingini hatinya tidak pernah bersyukur. Orang yang hatinya tidak pernah bersyukur  tidak pernah tahu bahwa harta dalam hidupnya itu adalah anugerah Tuhan. Jadi jangan bersandar pada harta , manusia atau sesuatu yang kita miliki tetapi bersandarlah pada Tuhan yang memiliki segala sesuatu. Ada orang yang punya uang lalu membeli baju yang mahal. Waktu dipakai , jalannya petantang-petenteng seperti sudah menjadi “manusia” yang hebat. Saat orang lain ngomong “bajumu bagus sekali”, ia hanya berkata, “biasa”. Tetapi kemudian ia bangkrut (tidak punya apa-apa) lalu mepakai baju yang mungkin hanya seharga Rp 20.000. Waktu datang ke gereja, ia malu. Kalau orang berkomentar “Bajumu bagus ya”, mungkin ia akan tersinggung dan berkata dalam hati,”Sudah bajunya murah dibilang bagus”. Apa yang kita pakai bisa menentukan diri kita sehingga perkataan tersebut dikira menghinanya. Diri kita seringkali terikat oleh sesuatu yang kita miliki. Oleh sebab itu kita merasa bangga atau sebaliknya susah pada waktu kita memiliki sesuatu yang berharga atau tidak berharga. Kalau kita mempunyai sesuatu yang berharga seakan-akan bisa menentukan jati diri kita. Kalau kita memiliki sesuatu yang tidak baik, maka harga diri kita runtuh. Itu membuktikan kita masih mengukur diri berdasarkan sesuatu yang dimiliki. Padahal seharusnya kita mati bagi dunia ini. Karena Kristus telah hidup di dalam diri kita, hidupku tidak lagi ditentukan oleh apa yang dimiliki tapi oleh penilaian Kristus.
          Jangan diri kita yang muncul dan kita tidak bersandar pada Tuhan gara-gara sesuatu yang kita miliki. Orang yang seperti ini tidak pernah maju di dalam kerohanian. Bahkan ada orang yang punya uang dan banyak memberi persembahan sehingga merasa gereja miliknya (kalau saya tidak memberikan persembahan gereja akan ditutup). Orang ini membuktikan kekosongan di dalam hatinya. Ia tidak mengerti tentang anugerah Tuhan. Hidupnya sebenarnya seutuhnya milik Tuhan. Jadi memuliakanlah Tuhan dengan sesuatu apa yang dimiliki. Dengan keinginan dunia maka hati tidak berbangga. Kita bisa memiliki  sesuatu yang baik, tapi jangan berbangga karena memilikinya. Karena apapun yang kita pakai, minum, gunakan, semuanya kita anggap seolah-olah tidak ada.

3.     Keangkuhan hidup.

          Kesombongan diri (keangkuhan hidup) artinya menganggap diri sebagai seseorang yang memadai dan cukup di dalam segala hal, berada di atas kemudian memandang orang lain rendah. Orang yang sombong biasanya berdiri di atas sesuatu . Mungkin karena ia memiliki kelebihan tertentu. Ada orang sombong karena cakap, memiliki rumah besar, skill yang luarbiasa, lebih pintar dari orang lain, anaknya berhasil di dalam pekerjaan dan lain-lain. Kita seringkali bisa mengatakan, “Saya lebih baik dari orang lain.”,oleh sebab itu ia berdiri di atas segala pemberian Tuhan. Seharusnya kita harus mati bagi dunia ini sebaliknya orang yang sombong tidak mengakui pemberian Tuhan. Orang yang sombong merampas segala sesuatu dari Tuhan dan mengatakan “Ini milik saya!”. Orang seperti ini tidak mengerti  dan mengenal siapa Tuhan itu. Oleh sebab itu perlu diubah agar kita makin rendah hati seperti Yesus Kristus. Kristus yang begitu tinggi turun ke dalam dunia untuk melayani. Bagi orang yang mengerti anugerah Tuhan, dia akan bermegah hanya di dalam Kristus. Aku ini orang yang tidak punya apa-apa, kalau bukan Tuhan berbelaskasihan dalam di hidupku, maka saya tidak mungkin bisa ada pada hari ini. Saya orang yang tidak punya apa-apa.
         Sewaktu berumur 4 tahun, papa saya meninggal. Saat itu sangat susah membayar uang sekolah. Jangankan membayar uang sekolah, mau makan saja susah setiap harinya sehingga saya mengalami putus sekolah beberapa kali. Tetapi akhirnya saya bisa bersekolah di Amerika Serikat 2 kali itu karena kemurahan Tuhan. Hari ini saya bisa mengambil pendidikan S2 dan S3, ini semua kemurahan Tuhan. Saya tidak berani mengutamakan “aku” karena Tuhanlah yang menjadi tujuan yang membuat saya bekerja dan Dia hidup di dalamku. Aku belajar mati. Saya berkata, “Tuhan tolong saya supaya saya rendah hati dalam melayani Tuhan agar bukan aku yang dimuliakan tetapi Engkau ya Tuhan.” Tetapi Tuhan memanggil saya dengan  luar biasa. Tuhan memberikan hati , beban dan semangat untuk melayani. Kuasa dari Kristus bekerja dalam hidupku, maka Rasul Paulus mengatakan, “Aku tidak mau berbangga akan apa pun juga. Aku tidak ada apa-apanya karena Yesus telah mati untuk aku.” Oleh karena itu kita harus belajar. Kia belum pernah selesai sekolah untuk mati bagi Kristus. Hari ini mungkin kita berhasil , tetapi besok bisa gagal. Oang yang mungkin tinggi hati besok bisa berubah menjadi rendah hati,. Kiranya kita bisa  memadang Kristus dan memancarkan kemuliaan Kristus dan bukan diri sendiri.
          Banyak orang yang sudah berumur hidup dalam keluarga di mana anak cucunya menghormati dia karena orang ini tidak pernah hidup untuk diri sendiri. Ada seorang ibu yang bersaksi dalam komisi misi.  Saya belajar banyak dari nenek saya. Nenek saya orang yang rajin melayani orang lain. Ia bertekad pergi ke rumah sakit untuk berbagi dengan para pasien  satu per satu. Tiap hari ia berdoa untuk orang yang ditemui dan berdoa untuk anak cucunya. Dia seorang nenek yang begitu sabar dan setia dalam Tuhan. Suatu saat nenek ini terkena kanker stadium 4. Pemeriksaan menyatakan demikian, namun nenek ini tidak diberitahu. Sekeluraga sudah mendiskusikan hal ini. Nenek itu kemudian bertanya, “Sebenarnya saya sakit apa? Saya punya Tuhan dan kalian tidak usah takut.” Akhirnya anak cucunya memberitahu penyakitnya yaitu kanker stadium empat. Lalu ia masuk ke kamar dan anak cucunya tidak tahu ia melakukan apa. Mereka berpikir sang nenek kecewa karena ia telah begitu setia melayani Tuhan tapi sekarang ia terkena kanker! Tapi setelah nenek itu keluar dari kamar itu, ia tetap merasa tidak punya masalah apa-apa. Lalu cucunya bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi dengan diri nenek? Kenapa engkau tidak memberikan suatu reaksi dukacita dan sedih seperti biasanya terjadi pada banyak orang?” Lalu sang nenek berkata, “Hidupku adalah Tuhan. Baik saya sehat maupun kena kanker, Tuhan beserta saya. Tuhan bisa sembuhkan saya, kalau tidak saya tetap bersama Tuhan. Cepat atau lambat saya akan bertemu Tuhan, mengapa saya harus marah dan kecewa dengan Tuhan?” Beberapa hari sesudahnya, pelayanan sang nenek berubah.  Ia pergi ke rumah sakit untuk melayani orang-orang yang terkena kanker. Ia masih bisa berjalan waktu itu dan berbicara ke orang lain satu per satu bahwa ia terkena kanker namun ia tidak takut karena punya Tuhan. Kemudian banyak orang percaya kepada Tuhan melalui pelayanannya. Cucunya mengatakan , “Pelayanan neneknya terakhir lebih banyak berbuah.” Setelah nenek tidak bisa berjalan di rumah sakit dan di rumah, orang mengunjungi dia untuk memberikan nasehat ke nenek itu. Tetapi setiap orang yang bertemu dengan dia, mempunyai pandangan  bahwa Tuhan sungguh hidup di dalam diri dia. Orang yang mau menghibur malah terbaik karena mereka yang dihibur. Orang seperti dia menguatkan mereka. Ibu yang bersaksi mengatakan, “Nenek saya bersaksi untuk kemuliaan Tuhan sampai tidak bisa bicara. Bahkan hidupnya masih tetap menjadi berkat bagi keluarga karena nenek hidup bagi Tuhan.” Orang yang hidup bagi diri sendiri, saat mati orang tidak mengingat dia. Tidak ada hal yang bisa pelajari dari orang yang hidup untuk diri sendiri. Orang yang hidup bagi orang lain, imannya dan keindahannya terus bersinar di tengah dunia.


                Bebeapa waktu lalu saya mengenal seseorang. Orang ini sebelumnya pernah 2 kali ke gereja dan sangat sulit menerima Tuhan . Uangnya banyak dan anaknya berada di luar negeri, tapi pelitnya luar biasa. Dalam hidupnya ia tidak pernah membagikan satu sen pun. Setelah ia meninggal tak seorang pun membicarakannya. Saudara-saudaranya pun tidak terlalu sedih. Orang Kristen tidak boleh seperti itu. Karena Yesus Kristus mati untuk kita, dan aku telah disalibkan bagi dunia. Belajarlah hidup seperti ini. Hidup ini singkat sehingga dalam waktu yang singkat kiranya dapat memberi arti / makna yang mulia. Kehidupan yang memiliki makna berarti dalam memuliakan Tuhan. Maka kita mohon kepada Tuhan. Dengan kuasa kebangkitan, aku menyerahkan hidupku . Walaupun fisik senakin melemah, tetapi diri batin kita senantiasa bertumbuh dan berbuah. 

No comments:

Post a Comment