Sunday, March 22, 2015

Mati Tanpa Kristus!

Pdt. Johni Setiawan

Efesus 2:1-5
1   Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.
2  Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.
3  Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.
4  Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita,
5  telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita  —  oleh kasih karunia kamu diselamatkan  — 

Pendahuluan

                Dalam surat Rasul Paulus ke jemaat di Efesus, kita mendapat gambaran tentang bagaimana orang  yang mati tanpa Kristus. Kita patut mensyukuri bahwa kita tidak seperti itu. Kita tidak mati tanpa Kristus, tetapi kita telah mendapatkan rahmat dan kasih karunia dari Tuhan. Kita telah dihidupkan bersama Kristus. Sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita, tetapi kita telah diselamatkan oleh anugerah Allah dan Kristus telah menyediakan tempat yaitu surga di mana kita akan tinggal bersamaNya.

Pengertian Mati

Kata “mati” mengandung 3 pengeritan :
1.     Mati secara jasmani. Saat mati, roh akan meninggalkan jasad (tubuh secara fisik) nya. Saat itu fungsi tubuhnya sudah rusak alias tidak berfungsi lagi dan segera akan membusuk, sehingga harus dikuburkan.
2.     Mati selama-lamanya (kekal) yaitu kematian setelah kematian jasmani. Jika seseorang belum percaya kepada Tuhan Yesus dan menerima pengampunan dari Tuhan Yesus maka ia akan binasa selama-lamanya. Dia akan mati terpisah dari Kristus, dibuang ke dalam neraka dan akan mengalami penderitaan selama-lamanya.
3.     Mati secara rohani. Kematian ini seperti yang dikatakan dalam Ef 2:1 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.

Mati Tanpa Kristus

Berarti :

1.    Mati secara rohani

Pada Kejadian pasal 1 dikatakan ketika manusia diciptakan, Allah memberikan segala sesuatu yang baik. Tetapi ketika melanggar perintah Allah, manusia mengalami kematian rohani. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, lalu dari tulang rusuk Adam diciptakan Hawa (Kej 2:22). Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." (Kej 2:23).  Adam begitu bersukacita mendapat Hawa sebagai mitra dalam hidupnya. Saat itu Adam senang berjumpa dengan penciptaNya. Tapi begitu jatuh dalam dosa, manusia menjadi takut dengan Allah. Pada Kej 3:7-8 dikatakan Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Manusia menjadi tidak suka dengan Allah dan menyembunyikan diri dari Allah. Manusia tidak lagi menggantungkan diri pada Allah tetapi bergantung pada pohon. Manusia yang mati secara rohani tidak suka membaca Alkitab dan beribadah. Ada orang yang berkata, agama-agama yang ada di dunia membawa keselamatan . sehingga disimpulkan bahwa semua agama itu sama seperti pepatah mengatakan “banyak jalan menuju Roma”. Padahal jalan menuju surga hanya melalui Yesus Kristus. Banyak orang yang memiliki keyakinan kepada Tuhan Yesus tetapi disertai dengan keyakinan pada pohon dan daun yang kemudian disematkan ke tubuhnya. Saya memiliki 2 orang anak laki-laki. Setiap kali saya pulang pelayanan atau berpergian, mereka akan berteriak dengan suaranya yang lucu, “Papi pulang! Papi pulang! Papi saya bawakan tasnya ya” atau “Papi pulang bawa makanan” (Terkadang saya pulang membawa makanan cap-cai, martabak, puyunghai dll). Suatu kali, saat pulang saya tidak mendengar suara mereka menyambut saya. Saya agak heran dan menyimpan dalam hati lalu bertanya kepada istri, “Apakah anak-anak sudah tidur? Mengapa tidak ada suaranya?” Istri saya menjawab,”Ada masalah. Mereka telah menjatuhkun barang dari meja kamu!” Memang saya suka berpesan ke anak-anak agar jangan bermain-main dan menjatuhkan sesuatu di meja saya. Dengan jatuhnya barang dari meja saya sehingga rusak mereka menjadi takut untuk bertemu saya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam diri mereka sehingga tidak berani bertemu saya. Mereka seakan-akan menyembunyikan diri dan mereka tidak mau datang kepada saya. Bukankah ini yang terjadi pada manusia setelah manusia jatuh dalam dosa dan tidak mau bertemu Allah? Mereka menjadi takut dengan Allah! Ini yang terjadi bila manusia melakukan dosa. Ada perasaan tidak damai bila bertemu.

Gus Dur, presiden Indonesia yang keempat adalah orang yang santai (easy-going). Ia banyak melontarkan humor, berikut salah satunya:
Tokoh agama Islam, Kristen, dan Buddha sedang berdebat. Gus Dur sebagai wakil dari agama Islam. Kala itu diperdebatkan mengenai agama mana yang paling dekat dengan Tuhan? Seorang biksu Buddha menjawab duluan,“Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap beribadah kita memanggil Tuhan dengan mengucapkan ‘Om’ (omitohud,red). Nah kalian tahu sendiri kan seberapa dekat antara paman dengan keponakannya?”
Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal.“Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan.” ujar pendeta
“Lah kok bisa ?” sahut biksu penasaran.
“Kenapa tidak?Agama anda kalau memanggil Tuhan hanya om, kalau di agama saya memanggil Tuhan itu ‘Bapa’. Nah kalian tahu sendiri kan lebih dekat mana anak sama bapaknya daripada keponakan dengan pamannya,” jawab pendeta.
Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta.
“Loh kenapa anda kok tertawa terus?” tanya pendeta penasaran.
“Apa anda merasa bahwa agama anda lebih dekat dengan Tuhan?” sahut biksu bertanya pada Gus Dur.
Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan “Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat  justru agama saya malah paling jauh dengan Tuhan.” jawab Gus Dur dengan masih tertawa.
“Lah kok bisa ?” tanya pendeta dan biksu makin penasaran.
“Gimana tidak, lah wong kalau di agama saya, kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara),” jawab Gus Dur.

Hal Ini hanya terjadi di Indonesia, setiap subuh orang di mesjid memanggil jemaahnya untuk sembahyang dengan pengeras suara. Di AS dan Singapore tidak boleh berteriak-teriak memanggil jemaah untuk beribadah, sedangkan di Indonesia ada kultur melalui pengeras suara berbagai berita (termasuk berita kematian) diumumkan. Di dalam gurauan Gus Dur itu, ada sesuatu yang tersirat tentang betapa pentingnya kita dekat dengan Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan adalah orang yang percaya firman Tuhan, merenungkannya siang dan malam, hidupnya seperti tanaman di tepi aliran air sehingga selalu segar dan subur (Maz 1:1  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil). Orang yang hidup bahagia akan dekat dengan Tuhan sedangkan yang jauh menunjukkan ia mati rohaninya. Di dalam kehidupan kita, apakah kita orang yang hidup dekat dengan Tuhan? Kadang saya suka risih bila melihat jemaat yang suka duduk di kursi yang sama setiap minggu. Kalau ia biasa duduk di belakang , ia akan terus duduk di belakang, yang duduk di pojok akan duduk di pojok terus dan tidak mau berubah. Kenapa tidak mau duduk di depan? Padahal kalau ada orang yang baru pertama kali datang, ia biasanya duduk di belakang dan sungkan duduk di depan karena malu semua melihat dia. Oleh karena itu kita harus memberikan kesempatan agar orang-orang yang baru datang bisa duduk di belakang, di samping itu kursi di bagian depan juga tidak kosong. Waktu dekat dengan Tuhan, maka kita akan merasa sukacita kalau bertemu dengan Tuhan.

2.     Mati sebagai hamba Kristus. Kita adalah hamba kebenaran atau hamba Kristus. Bila mati tanpa Kristus maka kita hidup tapi tidak sebagai hamba Kristus lagi. Ef 2:2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Ketika Adam jatuh dalam dosa, dia menyembunyikan diri dari Allah, sehingga ketidaktaatan akan mendatangkan ketidaktaatan lain. Dosa yang satu berkembang menjadi dosa yang lain. Hidup kita bukanlah hidup yang menjadi hamba Kristus lagi tetapi kita menjadi hamba dosa. Kita menjadi hamba setan. Saat kita mengikuti setan, Tuhan Yesus berbicara pada orang yang menolak Dia (termasuk orang Farisi dan Saduki). Yesus berkata,   Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.(Yoh 8:43-44). Iblis pembunuh manusia sejak dulu. Ia tidak hidup dalam kebenaran sebab di dalamnya tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri karena ia pendusta dan bapak segala pendusta. Kalau iblis menjadi tuan kita, iblis yang menjadi pembohong maka hidup kita pun akan terjebak , hidup kita akan mengikuti iblis menjadi pembohong. Rasul Paulus mengatakan pada Roma 12: 2  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Iblis dengan kebohongannya membuat banyak manusia mengikutinya. Iblis yang memberontak kepada Allah membuat banyak orang juga memberontak kepada Allah. Iblis yang tidak mau taat kepada Allah membuat banyak orang tidak mau taat kepada Allah sehingga Rasul Paulus mengatakan “yaitu orangorang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.” (2 Kor 4:4). Orang buta tidak bisa melihat. Saya pernah menyaksikan seorang tunanetra yang berjalan dengan tongkat. Ia kelihatannya sangat percaya diri. Awalnya ia berjalan secara perlahan, namun semakin lama semakin cepat. Pada waktu itu saya sedang naik taxi di Singapore. Orang buta ini berjalan makin cepat , namun tiba-tiba terkejut karena ia membentur sesuatu dan terjatuh. Setelah itu ketika mulai berjalan, ia melakukannya secara perlahan kembali. Hal ini terjadi karena ia tidak bisa melihat. Walaupun orang lain yang melihatnya berteriak,”Awas!” dia tidak tahu. Kalau pikiran kita dibutakan, maka kita tidak menganggap Allah itu penting. Begitu banyak orang takut dengan setan, tetapi tidak takut dengan Tuhan. Ada kebiasaan  di Indonesia, bila ada gua atau pohon besar seringkali diberikan sesajen. Mereka tidak pernah lupa memberikan sesajen itu. Mereka menyediakan persembahan yang terbaik. Suatu kali saya pernah pelayanan di Kaltim dan saya  menempati rumah kos.  Di sana ada sebuah aquarium yang tidak terisi air karena walaupun aquariumnya tertutup di bagian atasnya tapi bagian sampingnya terbuka. Di situ diletakkan banyak patung yakni patung Buddha, patung Yesus, patung Maria, patung Kwan Im, patung Kwan Kong dan di sampingnya juga ada foto leluhur dari pemilik kos. Setiap hari di depan patung dan foto itu disediakan buah-buahan yang mahal dan terbaik. Saya tinggal di tingkat kedua (loteng), setiap hari saat melewati lantai bawah saya perhatikan persembahannya sudah berganti. Kelihatannya sangat enak. Tante kos itu menyajikannya kepada semua patung itu. Pada hari ketiga dan keempat, tante itu akan memanggil dan bertanya apakah saya mau buah-buahan? Saya bertanya, “Apakah ada lebih?” Dijawabnya, “Bukan lebih, tetapi yang tadinya ditaruh di depan patung sekarang bisa dimakan.” Dalam hati saya berkata,”Mengapa yang sudah busuk baru dikasih? Untuk apa makanan seperti itu?” Saya menolak secara halus. Saya ingin yang baru. Sang pemilik kos memberikan yang terbaik, bagaimana dengan kita?

Saya senang bila melihat jemaat tidak terlambat datang beribadah. Senang juga melihat walaupun terlambat tetap jemaat mau datang. Tetapi ibadah adalah mendengarkan undangan dari Tuhan yang menjadi Pencipta dan Penebus kita. Kalau Tuhan yang mengundang apakah kita bersikap hormat? Kita bisa datang sebelum ibadah mulai? Kita berikan hidup kita yang terbaik. Jangan datang dalam keadaan sudah mengantuk. Saya terkadang merasa sedih kalau ada jemaat saat khotbah dia terus terkantuk-kantuk (matanya meram terus). Hal ini berarti ia tidak mendengarkan firman Tuhan. Ada yang mengatakan saya datang ke gereja tapi tidak dapat apa-apa. Yang salah siapa? Apakah orang Kristen boleh menonton sepakbola? Boleh! Tetapi tengah malam sampai pagi dinihari masih menonton juga dan berteriak-teriak, “Gol!” Hal ini kemudian mengakibatkan sesampainya di gereja yang ber-AC, ia awalnya duduk tegak , lama-lama merosot sedikit demi sedikit dan akhirnya tertidur. Apakah ini sikap yang benar? Kalau mengikuti Bapa Sorgawi tidak boleh sembarangan. Hati-hati dengan iblis, bapak pendusta! Ia bisa menyamar sebagai malaikat terang dan sepertinya baik. Ajaran gereja harus berdasarkan norma Alkitab. Siapa yang patut dimuliakan , ditinggikan dan diandalkan? Hanya Yesus Kristus! Akhir-akhir ini banyak orang Kristen disesatkan. Lagu-lagu hymne yang baik dikatakan kuno tetapi kalau dipakai lagu-lagu yang “ramai” dan ada hiburannya, seringkali anak muda ke sana. Padahal suasananya bukan suasana ibadah tapi suasana pesta atau konser. Sangat menyedihkan. Ada juga banyak jemaat yang datang ke gereja tertentu, yang mengajarkan perjamuan kudus seperti “jimat” danmenjadikan minyak urapan sebagai sandaran. Sampai ada kesaksian bahwa minyak urapan dapat menyelamatkan! Saat kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501, ada yang memberikan kesaksian di media massa, “Saya selamat tidak jadi naik pesawat itu karena minyak urapan!” Kita harus menjadikan Tuhan Yesus sebagai satu-satunya tempat bersandar bukan jimat. Tetapi hari ini ajaran setan menarik orang-orang sehingga tersesat.

3.     Mati dari kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Ef 2:33  Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.
Dulu kita hidup dalam hawa nafsu, kita seringkali memikirkan hawa nafsu kedagingin. Kalau datang ke gereja dan mengantuk, sebagai orang percaya kita langsung berdoa, “Tuhan, ampuni saya. Roh berkehendak tapi tubuh lemah, jadi maafkan saya!” namun minggu depan begitu lagi. Bukankah hal itu seperti perbuatan orang-orang di dunia? Alkitab memberikan penjelasan pada Gal 5 : 19-21 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu  —  seperti yang telah kubuat dahulu  —  bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Ini kehendak daging dan membuat hidup kita tidak berkenan kepada Tuhan. Setiap kali kita melakukan dosa dan melakukan perbuatan daging, maka kita membuat hati Tuhan terluka. Jangan berpikir bahwa kita sebagai orang yang sudah diampuni boleh berbuat seenaknya. Seharusnya hidup kita diubahkan. Maka dikatakan pada Gal 5:22-23 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Kita adalah orang-orang yang mengalami penebusan dan kita tidak akan mati dalam dosa kita. Karena kita sudah ditebus oleh Kristus, kita tidak akan mati tanpa Kristus karena Kristus telah menyertai kita. Kita sudah diselamatkan, tetapi ingatlah bahwa banyak jiwa yang masih belum mengenal Kristus. Kita perlu memikirkan jiwa-jiwa yang masih terhilang. Sekarang kalau anak-anak kecil ditanya apa yang menjadi cita-citanya, mereka akan berkata bahwa mereka ingin menjadi dokter, sarjana hukum, arsitek, pejabat, bahkan presiden. Padahal saat ini sekolah-sekolah teologia sedang mengalami dilema. Gereja-gereja Tionghoa di Indonesia, meminta hamba Tuhan yang berasal dari etnis Tionghoa, namun semakin hari semakin sulit dipenuhi. Banyak orang tua tidak rela anaknya menjadi hamba Tuhan karena tidak memiliki hati yang ingin menjangkau jiwa-jiwa.  Hampir 2 tahun yang lampau , saya ditugaskan di Singapore. Tiba-tiba anak saya yang sudah bekerja (lulus S1 dari universitas di Bandung, 1 tahun belajar komunikasi massa di Singapore, di Amerika Serikat 6 tahun, lalu dia bekerja di Singapore) bertanya, “Apakah ia bisa mendaftar sebagai mahasiswa teologia walaupun telat?” Jelas bisa! Yang penting adalah latar dan motivasinya. Pernah saat diinterview dosen “Mengapa kamu mau sekolah teologia?” ada calon mahasiswa yang menjawab “Biasanya sekolah teologia masih menerima, karena sekolah lain tidak ada yang mau terima saya!” Banyak yang seperti itu. Ada juga yang menjawab, “Disuruh mami!” Jelas tidak diterima. Saya bertanya balik ke putra saya,”Ada apa kamu bertanya seperti itu? Selama ini saya bertanya. ‘Kris, kamu tidak mau melayani Tuhan?’” DIa hanya menjawab, “Saya sudah melayani. Saya hidup bagi Tuhan, untuk apa saya melayani secara full-time? Saya melayani di bidang apa saja” Dia berbeda dengan kakaknya yang mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan dengan  masuk sekolah teologia dan melayani. Waktu itu saya bertanya kepadanya, “Apa yang engkau pikirkan?” Dia menjawab,”Saya mau mepersembahkan hidup untuk Tuhan. Saya sedang mempertimbangkan mau sekolah teologia di mana.” Istri saya begitu terperanjat. Kamu dari dulu tidak mau mempersembahkan diri. Kamu sudah sekolah dan bekerja. Mami hanya punya 2 anak, yang pertama 100% melayani dan yang kedua 50%. Orang kalau di panggil Tuhan jangan sekolah (sekuler,red)” Saya berkata,”Kita harus bersyukur bahwa Tuhan mau memanggil kedua putra kita. Mereka tidak berorientasi menjadi kaya. Tetapi mereka memikirkan bagaimana melayani Tuhan dan mencari jiwa. Bukankah ini berharga?” Firman Tuhan berkata, “satu jiwa berharga”. (Lukas 15:7a Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat). Saya merasa dan berharap jemaat di sini dapat memenangkan jiwa kalau kita mau bicara dan menginjili orang lain.


Tuesday, March 17, 2015

Akibat Dosa : TIdak Tahu Membedakan Tangan Kanan dari Tangan Kiri (Belajar dari Kegagalan Niniwe)


Ev. William Andreas

Yunus 4:1-11
1   Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.
2  Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.
3  Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup."
4  Tetapi firman TUHAN: "Layakkah engkau marah?"
5  Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu.
6  Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu.
7  Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu.
8  Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehiNiningga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup."
9  Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah sampai mati."
10  Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.
11 “Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?"

Pendahuluan

                Di dalam dunia ini terdapat pengajaran yang mengatakan bahwa “manusia pada dasarnya baik, lingkunganlah yang membuat manusia jatuh dalam dosa.” Hal ini sebenarnya kurang tepat. Sewaktu saya SMA dan akan menempuh ujian ulangan umum, saya diminta oleh guru untuk sepakat menyontek bersama agar nilainya bagus. Saya pulang dan memberitahukan hal ini mama saya, “Mama , saya disuruh guru untuk menyontek!” Mama saya yang melihat saya jarang belajar menanggapi, “Iya sudah menyontek saja!” Tapi saya memutuskan untuk tidak menyontek. Dari semua mata pelajaran yang diuji, terdapat 3 yang nilainya harus di atas 5 yaitu matematika, bahasa Ingris dan bahasa Indonesia. Untuk bahasa Inggris dan bahasa Indonesia saya tidak menemui kesulitan sedangkan untuk matematika , saya baru menjawabi 5 soal saat waktu yang tersisa tinggal ½ jam lagi! Saya berdoa, “Tuhan tolong saya!” Namun karena takut gagal, akhirnya  saya terpaksa menyontek. Apakah lingkungan membuat kita jatuh dalam dosa? Tidak! Saat menyontek saya menyadari apa yang saya sedang lakukan. Ravi Zacharias (seorang hamba Tuhan) bercerita. Di suatu negara ada seorang Bapak yang membawa anaknya ke negara tetangganya. Ia mengatakan kepada anaknya, “Tujuan hidupmu adalah membunuh orang-orang di negara sana!” Akhirnya ia diajari cara memegang dan menggunakan senjata dan cara merakit bom sehingga akhirnya sang anak menjadi teroris. Joseph Stalin (1879-1953, seorang diktator negeri Rusia) meminta prajuritnya membunuh 30 juta penduduknya sendiri. Apakah itu bukan tanggung jawab saya ketika saya melakukan tindakan dosa? Dalam Roma 3:23 dikatakan Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Agustinus (salah seorang Bapak Gereja) mengatakan Non Pose Non Peccare yang berarti semua manusia tidak bisa tidak berbuat dosa.
                 
Apa akibat dosa?

2 hal yang akan dibahas mengenai akibat dosa :

1.       Dosa membuat kita memberontak terhadap Tuhan. Memberontak bisa melalui tindakan dan pikiran.

a.       Memberontak secara tindakan. Nabi Yunus memberontak melalui tindakan. Yunus 1:1-3   Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian:  "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN. Letak kota Niniwe (ibukota kerajaan Asyur, musuh Israel) jauh dari Tarsis. Yunus tidak konsisten karena jabatannya seorang nabi. Nabi seharusnya menjadi penyambung lidah Allah untuk menyampaikan firman Tuhan. Nama Yunus dalam bahasa Ibrani artinya merpati.  Orang dulu menganggap nama sebagai sesuatu yang sangat berarti.  Merpati merupakan sosok yang tulus, baik dan setia. Jadi Yunus tidak konsisten dalam menjalankan tugasnya.

Ada kisah tentang seseorang yang bernama Untung Jaya tapi hidupnya selalu tidak beruntung. Dia punya sebuah mobil. Saat pencuri mau membawa mobilnya kabur, ia mencoba menahan mobil tersebut dengan berdiri di depannya. Namun akhirnya ia ditabrak pencurinya sehingga meninggal. Jadi nasibnya berbeda dengan arti namanya. Zaman dulu arti nama sangat penting dan dharapkan orang ini seperti arti namanya.  Singkat ceritanya, Yunus masuk ke kapal , dilempar ke laut dan dimakan ikan besar.  Setiap orang memiliki rasa takut menghadapi cara kematian tertentu. Contohnya : saya takut mati terlelap air walau bisa berenang.  Saya pernah pelayanan  di kota Palu. Di sana saya suka melakukan snorkelling (kegiatan berenang atau menyelam dengan mengenakan peralatan berupa masker selam dan snorkel yakni  selang berbentuk huruf J dengan pelindung mulut di bagian ujung sebelah bawah).  Saat melakukan snorkelling, saya melihat batu karang yang indah sekali, sampai saya tidak menyadari berada di pkealung laut. Tiba-tiba kegelapan melanda saya dan selang snorkel  yang saya kenakan kemasukan air laut.  Saya kelabakan dan kemasukan air. Bersyukur, Tuhan menolong saya yang hampir meninggal. Saya beruntung ada batu karang yang sangat tinggi dan saya berdiri di sana sehingga selamat. Saat dilempar ke laut, Yunus pun sangat ketakutan, akhirnya ikan besar menelannya.  Tuhan tetap memaafkan dia. Ini adalah memberontak secara tindakan.

b.       Memberontak secara pikiran. Dalam Yun 4:2 dikatakan “Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Dia seakan ingin beragumen dengan Tuhan, karena ia tahu Tuhan pasti mengampuni Niniwe sehingga ia lari ke Tarsis. Ia ingin berargumen. Benar apa yang dikatakan Roma 1:21b Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.. Dalam bahasa teologia, dosa telah merasuki pikiran dan hati manusia sehingga manusia tidak dapat lagi tidak berbuat dosa. Jadi pikiran kita tidak bakal sampai dengan pikiran Tuhan , kita tidak mengerti maksud dan rencana Tuhan dalam hidup kita. Kita tidak melihat lagi Tuhan yang berotoritas.

Di kampus SAAT, mahasiswa tidak dibolehkan menggunakan laptop di kamar dan HP (ponsel) di luar asrama. Saya selaku salah seorang anggota senat mahasiswa, memperjuangkan agar laptop boleh dipakai di kamar dan HP boleh dibawa keluar asrama, namun  dosen tidak setuju.  Kemudian saya menceritakan kejadian yang menimpa saya. Setiap hari Sabtu perpustakaan kampus hanya dibuka sampai pk 13. Suatu kali saya sedang mengetik di perpustakaan. Karena sedang asyik mengetik saya lupa ketentuan tersebut dan berada di ruang perpustakaan sampai lebih dari pk 13. Ketika tersadar saya cepat-cepat berlari keluar tapi ternyata pintunya terkunci. Padahal petugas perpustakaan itu punya pelayanan pada hari Sabtu dan Minggu di luar kota seperti Surabaya.  Saya tidak berdaya karena tidak ada ponsel sehingga tidak bisa menghubungi ke luar. Dalam pikiran , bila saya tidak bisa keluar ruang perpustakaan saya akan minum dari air keran di toilet perpustakaan. Entah mengapa saya terus menunggu saja. Kebetulan sekali ada orang yang datang sehingga saya bisa keluar. Saya bersyukur atas pertolongan mereka. Sewaktu membebaskan saya, mereka sempat merekam. Akhirnya saya memberitahukan  dosen hal tersebut sehingga mereka menyetujui usulan saya. Dibuatlah keputusan bahwa dalam kondisi mendesak, para siswa diperbolehkan menghidupkan dan menggunakan ponsel.  Di sini kami bukan memberontak tapi berargumen. Dosen sebagai pemegang otoritas tertinggi akhirnya mengabulkan permintaan kami. Namun Nabi Yunus dan kita adalah manusia terbatas dan memiliki pikiran yang sia-sia sehingga bagaimana kita mau berargumen dengan Tuhan yang sempurna? Ketika ada masalah dan  pergumulan, kita bertanya mengapa rencana yang disusun tidak berhasil? Padahal menurut kita rencana yang disusun adalah rencana yang terbaik. Lalu kita mulai berargumen dengan Tuhan. Ini sebenarnya pemberontakan secara pikiran.

2.     Dosa membuat kita buta akan the beauty of God (keindahan/kemuliaan Tuhan). Dalam lirik lagu “Bila Kulihat Bintang Gemerlapan” (lagu Swedia Syair: O store Gud, Carl Gustaf Boberg, 1886. Diterjemahkan E. L. Pohan Shn, 1968) dikatakan,

Bila kulihat bintang gemerlapandan bunyi guruh riuh kudengar,
Ya Tuhanku, tak putus aku heranmelihat ciptaanMu yang besar.
Refrain: Maka jiwakupun memujiMu:“Sungguh besar Kau, Allahku!”
Maka jiwakupun memujiMu:“Sungguh besar Kau, Allahku!”

Ada juga lagu dari Sidney Mohede ,pemimpin pujian dan pengarang lagu, dalam lagunya yang berjudul Mengenalmu (album Giving My Best). Dalam liriknya berkata,

Bila ku buka mataku dan lihat wajahMu ku terkagum

Inilah wahyu umum. Di dalam keteraturan dunia ini, dia ingin menyatakan bahwa ada Tuhan yang menciptakannya, namun dosa membuat kita buta. Apa itu kemuliaan Tuhan? Yunus 4:2: Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Nabi Yunus mengetahui Allah itu mengasihi, Allah itu panjang sabar, berlimpah kasih setia, namun Yunus marah. Ketika tahu bahwa Allah itu pengasih, seharusnya kita kagum dan bangga kepadaNya.  Itulah dosa yang membuat kita buta akan keindahan Allah. Allah menjawab, "Layakkah engkau marah?"(Yunus 4:4)

Singkat cerita, Yunus ditegur Tuhan melalui pohon jarak yang tumbuh dan mati dalam waktu sehari. Melihat hal itu Yunus marah lagi dan minta mati. Tetapi Tuhan berkata"Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula.“Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak? (Yunus 4:10-11). Ia lupa bahwa Tuhan tidak menginginkan kematian orang fasik tapi pertobatannya.


Ibarat secarik kertas yang digambar sebuah lingkaran dengan tulisan bahwa lingkaran itu adalah bola ping pong, lalu kertas tersebut diremas menjadi sampah. Secara substansi ia tetap kertas. Jadi walaupun di atasnya digambar apapun, ia tetap kertas! Walaupun diremas tetap ia merupakan kertas. Berbeda dengan bola ping pong yang sebenarnya. Jadi harus dibedakan kertas dengan bola ping pong. Terkadang kita melihat sesuatu bagian yang mencolok dan kita tidak lagi melihat secara utuh karena pikiran kita sudah dicemari dosa. Mungkin yang kita fokuskan adalah keberdosaan orang, kelemahan kita, atau masalah yang kita hadapi. Tetapi kita lupa Tuhan mengerjakan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Kita bisa datang ke gereja, bisa berdoa, menyanyi-memuji Tuhan, mendengar khotbah, tetapi kita bisa bosan. Saat berdoa, kita berpikir,”anakku nanti makan apa?” dan kita bisa menjadi bosan saat berdoa. Itulah akibat dosa di mana suatu penyembahan dibuat oleh pikiran kita menjadi sesuatu yang tidak menarik. Hal ini perlu diwaspadai. Maka saya terus berusaha saat bernyanyi, saya menyanyikan dengan sungguh-sungguh. Tetapi anugerah Tuhan itu cukup untuk kita. Walaupun Niniwe merupakan bangsa pembunuh tetapi tetap mendapat anugerah Tuhan. Kiranya kita menyadari keberdosaan kita dan tidak lupa memohon ampun pada Allah yang telah mati di kayu salib menggantikan kita.  

Sunday, March 8, 2015

Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka


Pdt. Peter Lau

2 Sam 12:1-14
1   TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin.
2  Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi;
3  si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya.
4  Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu."
5  Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.
6  Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan."
7  Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul.
8  Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu.
9  Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon.
10  Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.
11  Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari.
12  Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan."
13  Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.
14  Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati."

Pendahuluan

Dalam perjalanan hidup sebagai orang percaya, kita menghadapi 3 buah fakta .
1.     Dilahirkan dalam belenggu (kuk) dosa. Maz 51:5 Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. Suka tidak suka kita lahir di dalam, diikat dan berjalan di dalam dosa.
2.     Pengampunan Kristus di atas kayu salib. 1 Tim. 1:15  “Kristus Yesus datang ke dalam dunia menyelamatkan orang berdosa.” KPR 13:39, “…di dalam DIA-lah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa… Allah mencari dan menebus kita, orang yang terhilang, untuk oleh hidup di dalam dunia. Firman Tuhan mengatakan Kristus telah memerdekakan kita dari kuk perhambaan dengan mati di kayu salib
3.     Orang percaya dipercayakan ALLAH ikut bertanggung jawab menjalankan kehidupannya. Fil.2:12-15 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, Dalam perjalanan hidup sampai akhirnya, Tuhan memberi kita tanggung jawab. Kita punya tanggung jawab untuk tidak hidup dalam dosa.

Apa akibatnya ketika orang percaya dalam Yesus Kristus bila menjalani hidup yang berdosa ?

Sebagai umat Allah , Daud membawa umat Israel sebagai bangsa yang jaya, tetapi kemudian ia jatuh dalam dosa. Natan menyampaikan keputusan Allah yang murka kepada Daud karena “…hal yang dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN. .. (2 Sam.11:27b) dan mendatangkan dosa bagi dirinya. Natan menegur Daud sebagai umat yang ditebus Allah tetapi jatuh ke dalam dosa. Daud melakukan dosa demi dosa. Daud telah melakukan minimal 3 dosa :
a.     Melakukan pembunuhan (2 Sam.11:15). Hal ini  melanggar hukum ke-6 dari 10 Hukum Taurat (Perintah Allah). Uria mati karena dirancang demikian.  Uria dipanggil pulang tetapi ia tidak bersenang-senang menikmati waktu bersama istrinya (2 Sam 11:9 dan 11). Melihat itu, Daud meminta Yoab menaruhnya di lini peperangan terdepan, dihadapkan ke musuh yang paling kuat dan ditinggalkan supaya Uria mati terbunuh. Jadi Daud terlibat dalam pembunuhan Uria.
b.     Melakukan perzinahan (2 Sam.11:4). Hal ini  berarti melanggar hukum ke 7 dari 10 perintah Allah. Ia melihat Batsyeba binti Eliam, isteri Uria bawahannya sendiri Ia memanggil Batsyeba datang kepadanya lalu mereka melakukan hubungan intim dan Batsyeba pun hamil.
c.     Mengingini milik sesama (2 Sam.11:4) yang berarti melanggar hukum ke 10.
Dari satu dosa melahirkan dosa yang lain. Daud sunguh-sungguh jahat di mata Tuhan, sehingga Tuhan murka dengan Daud. Sebagai orang yang ditebus Tuhan, Nabi Natan menyampaikan ke Daud apa yang akan dilakukan Tuhan kepada Daud. Ketika kita berdosa sepertinya Allah diam, tapi sebenarnya Dia memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat.

I.    Akibat DOSA :

Akibat yang ditanggung bukan hanya oleh Daud sendiri tapi oleh seluruh keturunannya sampai hari ini.
1.     DOSA membawa KEHANCURAN & DAMPAK PERMANEN (2 Sam.12:10-14). Orang percaya yang melakukan dosa akan menghancurkan hidupnya dan membawa dampak permanen ke dirinya dan orang-orang di sekelilingnya.
a.     Saling membunuh antar anggota keluarga
Tuhan berkata, “Pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu. (2 Sam 12:10) Artinya antara anak sendiri akan saling membunuh. Anggota keluarga Daud dibunuh oleh anggota keluarga sendiri.
b.     Perzinahan akan terus terjadi dalam keluarganya. 2 Sam 12:11-12  Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan." Semua orang akan melihat hubungan antara mama dan anak. Itu hukuman bagi Daud.
c.     Kematian anak pertamanya dari Batsyeba. Salomo bukan anak pertama dari Batsyeba, tapi anak hasil perselingkuhan Daud dengan Batrsyeba yang akan mati.  Daud berpuasa dan memohon agar jangan sampai anak itu mati tetapi anak itu tetap mati.
d.     Perpecahan Israel Akibat dosanya Daud sebagai orang percaya, maka setelah Daud dan Salomo ada perebutan kekuasaan dan saling membunuh lalu terpecahlah antara Israel Utara dan Israel Selatan. 12 suku Israel akhirnya hancur. 10 suku bangsa di Israel Utara (termasuk Manasye, Efraim dan sebagian suku Lewi) tahun 722 SM hancur di tangan bangsa Asyur. Setelah itu 2 suku lainnya (Benyamin, Yehuda dan sebagian suku Lewi) di Israel Selatan hancur di tangan Raja Babel tahun 587 SM. Di kitab Daniel tercatat, Daniel dan teman-temannya dibawa ke Babel.
e.      Zaman inkarnasi Kristus (waktu Yesus Kristus hadir ke dunia) Israel kehilangan 10 suku (Ruben, Simeon, Zebulon, Ishakar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf –Efraim & Manasye, suku Lewi Israel Utara) dan  suku Israel tinggal sisa yaitu Yehuda, Benyamin dan suku Lewi Israel Selatan. Israel tidak memilki kerajaan  lagi karena sudah hancur. Saat itu Israel dikuasai Romawi..

Dosa membawa kehancuran permanen. Saya pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan seorang anak remaja perempuan yang masih kelas 7. Keluarganya sudah Kristen, namun papanya berselingkuh dengan wanita lain. Akhirnya mamanya membalas dengan berselingkuh dengan 4 pria (dari Indonesia sampai Tiongkok). Pria yang keempat dibawa pulang ke rumah dan mamanya meminta anaknya untuk memanggil orang tersebut sebagai “papa”. Sewaktu ditanya “Bagaimana perasaanmu memanggil orang yang bukan papamu sebagai papa?” Yang mengejutkan ia menjawab, “Tidak apa-apa. Saya akan memanggil siapa pun ‘papa’ bila orang itu memberi saya uang!” Sebagai orang tua mendengar hal itu membuat saya terperanjat  karena berarti ia membiarkan tubuhnya ditiduri yang penting uang. Tidak diketahui kapan dampak perselingkuhan orang tuanya terhadap anak perempuan ini akan berhenti. Dampak ini akan permanen dan terekam dalam otaknya. Saya tidak yakin ia bisa menjadi istri yang baik karena tidak punya panutan yang baik. Dampak dosa membawa kehancuran untuk hidup orang percaya. Apa yang dilakukan Daud satu kali, tetapi dosa itu menghancurkan Israel dan keturunannya.

II.   Bagaimana orang percaya dapat terbebas dari kejatuhan dosa?

Dalam Alkitab, ada kisah tentang anak-anak imam Eli ,Hofni dan Pinehas, yang tidak menghormati Allah akhirnya mati (1 Sam 4:17). Dampak dosa menghancurkan hidup orang itu bahkan seluruh keturunannnya. Seorang papa yang selingkuh, bukan hanya berdampak pada dirinya tetapi juga anaknya.  Sehingga tiap orang percaya harus berusaha untuk bebas dari dosa, agar mampu menjaga diri dan tidak hancur. Dalam seluruh hidupnya, Daud bisa jatuh dalam dosa. Begitu Daud menyingkirkan Allah dan hanya hidup dari kemauannya, maka ia akan jatuh ke dalam dosa. Untuk lepas dari dosa, Daud  dan orang-orang percaya harus menjadikan Allah LANDASAN & PUSAT KEHIDUPAN. Bila tidak demikian, maka orang percaya akan jatuh dalam dosa.
Rasul Paulus mengatakan dalam suratnya ke jemaat Galatia namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalamku(Gal. 2:20) dan ke jemaat Filipi Karena bagiku, hidup adalah KRISTUS…”(Fil. 1:21)
Ini yang menjadi landasan hidupku. Hidupku tertuju kepada Kristus dan hidupku adalah Kristus. Sebagai orang berdosa , hidup kita dikuasai oleh Iblis. Hidup kita diatur oleh iblis, iblis jadi bapa kita. Fokus dan tujuan hidupnya mengikuti kehendak dan pengaturan iblis. Landasannya : kemauan iblis dan dosa. Untuk lepas dari dosa,  seluruh hidup kita harusnya dalam otoritas Allah. Orang percaya harusnya menjadikan Allah fokus hidup. Seluruh hidup kita dibungkus dalam otorritas Allah dan Allah menjadi sentral hidup kita, baru kita terhindar dari dosa.

Allah sebagai pusat kehidupan berarti  :
1.     Memiliki sikap hidup “takut akan ALLAH” . Takut akan Allah dan membiarkan Allah mengatur dan menaklukkan hidup kita.
2.  Menyerahkan seluruh   HIDUP ke dalam PENAKLUKAN ALLAH seperti BEJANA . Dia penjunan  dan kita adalah tanah liatnya.
3.    Mendapatkan kekuatan  “hidup dalam komitmen  SETIA kepada ALLAH”.
Orang seperti ini akan setia dan komitemen kepada Allah sehingga menjauhkannya dari dosa. Kalau tidak dosa akan menguasainya. Untuk itu jadikan Allah sebagai sentral.
Dalam kehidupannya Yusuf juga dicobai (Kej 39:1-23). Bukan hanya 1 kali digoda oleh istri Potifar. Dalam kediaman Potifar, dari hari ke hari Yusuf dicobai, tetapi Yusuf tidak jatuh! Hal ini disebabkan seluruh hidup Yusuf dikuasai Allah. Pikirannya : Allah yang paling penting dan Yusuf menaklukkan diri kepadaNya seperti yang dikatakannya pada Kej.39:9 “Bagaimanakah mungkin aku melakukan KEJAHATAN yang besar ini dan berbuat DOSA terhadap ALLAH? Agar kita tidak berdosa dalam korupsi, perjinahan dan dosa lainnya, maka kita harus menjaga diri. Apakah kita hidup menjadikan Allah sebagai pusat? Bila tidak, kita akan jatuh ke dalam dosa dan  tidak punya kekuatan menghadapi dunia ini.

Dari kisah DAUD kita  belajar ada 3 kategori orang di dunia :
1.     Hamba DOSA : Hidup di dalam & dikuasai DOSA (Manusia diluar KRISTUS). Orang ini harus datang kepada Yesus.
2.     HAMBA KEBENARAN (Orang yang menjadi ciptaan baru jadi milik Allah) namun masih hidup melakukan DOSA (Manusia di dalam KRISTUS). Mengasihi Tuhan, namun seringkali tidak berkomitmen dan tidak mau taaat kepada Allah. Orang ini harus berhenti berbuat dosa!
3.     HAMBA KEBENARAN YANG BAIK & SETIA: Semakin hari semakin serupa KRISTUS (Manusia di dalam KRISTUS). Orang seperti ini tetaplah berjuang dan hidup berkomitmen untuk menjadikan Allah pusat dalam hidupnya dan menakulukkan diri di hadapan Allah.
Orang percaya seringkali tidak mampu terbebas dari dosa karena TIDAK BERKOMITMEN menempatkan ALLAH (MENDENGAR & TAAT) sebagai PUSAT KEHIDUPAN.
Namun bila sampai hari ini masih hidup dalam dosa,mari kita berani berhenti berbuat dosa. Seringkali kita berdosa dan Allah menuntut keadilan. Setiap kali kita datang kepada Tuhan, Dia akan memberikan pengampunan. Dosa kita diampuni Tuhan, tapi akibat dosa ditanggung Tuhan. Kalau kita hidup masih berdosa, mari berhenti. Seperti bapa yang ingin melihat anak kita hidup benar. Allah ingin kita hidup benar. Dosa mendatangkan kehancurn. Saat kita berdosa, hati Allah hancur. Mari mengasihi Tuhan dengan menjadi hamba yang baik dan terus berjuang.
Ketika harus memilih antara firman Tuhan dan jalan dunia : berkomitmenlah untuk senantiasa memilih jalan yang sesuai hati & kehendak ALLAH.

Penutup

Ketika bertobat, percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka Allah akan memimpin hidup orang percaya kepada keselamatan (bukan kepada kehancuran). Kehidupan orang percaya bukanlah atribut, aksesoris atau pun aktivitas belaka namun kehidupan orang percaya merupakan kehidupan rohani yang menuntut adanya perubahan dari manusia lama menjadi manusia baru melalui KRISTUS YESUS dan dalam kehidupan  selanjutnya menjadi orang percaya harus tunduk dan taat pada kehendak ALLAH (menjadi penurut Allah).  Pada 2 Sam 12:1-14 terlihat bahwa  dosa membawa KEHANCURAN dan merupakan  JALAN KEBINASAAN, sedangkan Jalan TUHAN membawa KEHIDUPAN yang mendatangkan BERKAT.Tuhan Yesus akan memberkati kehidupan kita setiap hari bila kita berjalan bersama ALLAH dan hidup kita BERSERAH kepada ALLAH seperti yang tertuang dalam lirik lagu “Aku Berserah” :

Berserah kepada YESUS
Tubuh, Roh dan Jiwaku
Aku ingin s’lalu hidup
Bagi Yesus Tuhanku
Aku berserah, aku berserah
Pada Yesus, Juru S’lamat
Aku berserah
Berserah kepada YESUS
dikakiNya ku sujud
Nikmat dunia kutinggalkan
Tuhan, t’rimalah aku
Aku berserah, aku berserah
Pada Yesus, Juru S’lamat
Aku berserah


Sunday, March 1, 2015

Harga Sebuah Jiwa

Ev. Susan Maqdalena

Matius 16:21-26
21  Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
22  Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
23  Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
24   Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
25  Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.
26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
Lukas 15:1-4,7
1   Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
3  Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
Kej 1:26-27
26  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
27  Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.     

Pendahuluan

                Berapa harga sebuah jiwa (nyawa) manusia? Di mass media seperti televisi dan surat kabar kerapkali muncul berita terbunuhnya manusia. Seolah-olah tidak ada penghargaan atas nyawa manusia. Hanya demi uang sebanyak Rp 2.000, nyawa manusia bisa melayang. Bukan itu saja, nilai dari jiwa manusia dipandang rendah sehingga karena nafsu manusia bisa melakukan hal yang membuat kerusakan dan turunnya nilai dari jiwanya. Pada suatu malam, seorang hamba Tuhan ribut dengan istrinya dan kemudian pergi meninggalkan rumahnya. Saat melewati lokasi prostitusi, untuk melampiaskan rasa amarahnya ia masuk ke dalamnya. Walau ia dalam keadaan marah dengan istrinya, ia tidak tega bersetubuh dengan lawan jenis sehingga ia memilih   seorang pelacur pria dan berhubungan intim dengannya. Ia kemudian tertidur di sana. Saat pagi hari , ia terbangun dan terkejut saat menyadarinya. Ia menyesal namun sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Sekitar 2 tahun kemudian , ia menderita penyakit yang tidak diketahui jenisnya dan istrinya pun menyarankan agar ia memeriksa darah. Hasil lab-nya mengejutkan karena ternyata ia terkena HIV postif! 3 bulan kemudian ia memeriksa ulang dan hasilnya semakin menguatkan hasil lab yang pertama. Yang membuatnya menyesal adalah setelah peristitwa itu, setengah tahun kemudian istrinya mengandung sehingga ia meminta agar istri dan anak yang dikandungnya juga diperiksa. Saat melakukannya dulu, hamba Tuhan ini mungkin tidak berpikir lagi harga dari penebusan Kristus di kayu salib dan panggilannya sebagai hamba Tuhan. Semuanya dianggap tidak ada nilainya  sehingga ia melakukan tindakan yang akhirnya merugikan istri, anak, jemaat yang dipimpin dan orang-orang di sekelilingnya. Ada juga berita tentang akibat cemburu buta seorang suami menyiram wajah istri dengan air keras lalu mengambil pisau di dapur dan menggorok leher istrinya! Nyawa manusia sepertinya tidak berharga sama sekali!

Harga Jiwa

                Orang Kristen (orang percaya) seringkali menganggap harga nyawanya begitu “tinggi” sampai-sampai mengorbankan nyawa Tuhan Kristus dengan mengikuti hal-hal duniawi dan kenikmatan yang ditawarkan dunia. Ada juga orang Kristen yang demi kesuksesan karir melepaskan imannya dan pindah agama.  Hal itu sama dengan tidak menyadari arti sebuah jiwa yang bukan sekedar nafas kehidupan tetapi kehidupan yang dianugerahkan Kristus yang telah mati untuk menggantikan kita. Pada Matius 16 Yesus memberitahukan penderitaanNya untuk pertama kali kepada para muridNya. Alkitab mencatat pemberitahuan tentang penderitaan Yesus sebanyak 4 kali (Mat 16:21-23, Mat 17:22-23, Mat20:17-19, Mat 26:1-2). Yesus memberitahu bahwa Dia akan mengalami penderitaan, dibunuh dan dibangkitkan. Mendengar itu Petrus menarik Yesus ke samping dan menegorNya, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." (Mat 16:22). Petrus berkata demikian karena belum memahami seutuhnya tujuan kehadiran (kedatangan) Gurunya di dunia. Apa yang dikatakan Petrus pada Mat 16:22 mengindikasikan bahwa ia tidak akan sanggup menghadapi penderitaan di taman Getsemani dan akhirnya menyangkal Yesus 3 kali. Ia mau kehidupan yang stabil, nyaman dan bisa menikmatinya.  Sebagai tanggapannya Yesus berpaling dan menegur Petrus dengan keras, walau tidak menyuruh Petrus “Diam!” atau “Tidak boleh ngomong begitu”. Tetapi pada ayat 23 dikatakan "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Itu teguran yang keras. Suatu ketidaksetujuan atas perkataan Petrus yang sama sekali tidak benar. Yesus sudah memberitahu ke murid-muridNya untuk apa Dia ada di dunia ini, namun Petrus dan murid-murid lainnya tidak bisa menerima bahwa Yesus datang menjadi “anak domba” yang akan digantung di kayu salib menggantikan dosa manusia.

                Mat 16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Pikiran orang dunia untuk menikmati hidup dengan sebaik, seenak dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, mengambil kenikmatan apa yang ditawarkan dunia sebanyak-banyaknya. Sehingga tawaran dunia dan apa yang ditawarkan Yesus merupakan 2 konsep yang bertabrakan. Pikiran Yesus berbeda dengan pikiran dunia sehingga Yesus berkata,”Kamu tidak sanggup berjalan dengan Aku”. Orang Kristen yang hidup untuk diri sendiri, tidak hidup lurus dan hanya mau enak saja, tidak siap dan sanggup menjalani hidup yang sulit bersama Yesus. Yesus memberikan komparasi, “Kalaupun kamu menyangkal Aku, supaya nyawamu bisa selamat, aku ingin katakan bahwa kamu akan kehilangan nyawamu selama-lamanya”.  Mat 16:25  Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Banyak orang menjual dan menyangkal imannya dengan menghalalkan cara demi bisa bertahan, sukses , menikmati hidup dan mendapatkan apa yang ditawarkan dunia ini.

                Dalam masa pra-Paskah ketika diingatkan tentang harga nyawa (jiwa) manusia, Yesus mengingatkan, “Apa gunanya kamu menikmati apa yang ditawarkan dunia ini, sehingga memejamkan mata di atas kasur yang enak tapi kehilangan keselamatan, keselamatan itu adalah hal yang penting dan tidak bisa ditukarkan apa pun  juga.” Yesus menegur Petrus dengan keras dan berkata, “Pergi kamu iblis!”. Kalau Tuhan menegur kita dengan kalimat seperti itu, bagaimana reaksi kita? Kalimat “kamu Iblis” artinya Tuhan tidak main-main, Tuhan tidak pernah main-main ketika bicara tentang keselamatan yang dimiliki karena penderitaan Yesus Kristus.

                Lukas 15 memberikan pemahaman lain lagi tentang harga sebuah jiwa. Yesus sedang memperbandingkan bagaimana Allah yang penuh kasih dan tidak pernah menyepelekan 1 jiwa manusia pun  yang ingin bertobat. Demi satu jiwa Allah rela mendatangkan anakNya ke tengah dunia. Lukas 15:1-7 menggambarkan peristiwa di mana pemunugut cukai dan orang berdosa makan dan minim, ngobrol bersama Yesus. Hal ini dipandang tidak baik oleh ahli Taurat, orang Farisi dan orang-orang yang belajar firman Tuhan. Artinya orang yang menganggap dirinya rohani atau baik secara moral, tidak membenarkan dan tidak suka Yesus bersahabat dengan orang-orang kelas bawah. Mereka tidak senang kalau Yesus makan, mengajar dan menawarkan keselamatan untuk orang yang hina dan tidak layak. Bukankah seharusnya orang yang belajar Alkitab dan  mendengarkan firman Tuhan memiliki hati yang lebih luas untuk menerima bahwa keselamatan ditawarkan dan diceritakan kepada orang-orang yang belum percaya? Itu sebabnya Yesus menegur orang-orang yang mengangap dirinya rohani. Petrus ditegur karena menganggap dirinya bijaksana, mengikuti pendapat umum dan seakan-akan ia berkata,”Tuhan, Guru janganlah berbeda agar tidak susah!”. Sedangkan yang kedua Yesus menegur sekelompok orang yang menganggap dirinya baik yaitu ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus memberikan teguran yang berbeda lewat perumpamaan  (cerita).

                Pernahkah kita belajar peka? Pernahkah kita merasa Tuhan sedang mengajarkan kita? Hidup kita terus-menerus dipenuhi keinginan dan kerinduan akan “kapankah Tuhan memperlancar hidup, memberi sukses, atau menyembuhkan saya”? Kalau bisa Tuhan jangan lama-lama dalam menyembuhkan saya. Minggu lalu saya berada dalam kondisi sakit karena saat buang air kecil berdarah sehingga malam-malam saya pergi ke dokter. Jadi waktu membesuk orang sakit, saya juga sedang bergumul dengan penyakit saya. Ada juga yang sedang ujian dan berharap lulus. Tetapi pernahkan kita bertanya, “Apakah hari ini Tuhan memarahi saya tidak? Tuhan mengajar saya tidak?” Kalau iya, Dia mengajar seperti mengajar Petrus dengan teguran yang sangat keras supaya saya sadar atau Tuhan menegur saya dengan sederhana lewat cerita dan pengalaman orang lain. Intinya apakah Tuhan sedang menegur saya dengan keras atau cukup menegur dengan halus (cara yang berliku) supaya saya sadar? Kadangkala Tuhan menegur kita dengan keras , tapi bisa juga Dia menegur cara yang berbeda, supaya kita memahami diri kita dan arti penebusan Kristus. Maka Dia menegur ahli Taurat dan orang Farisi dengan cerita. “Siapa di antaramu yang punya 100 domba lalu ada 1 yang hilang dan tidak mencarinya?” Yesus cukup berani menanyakan ini ke pendengarnya. Kalau ada pengusaha etnis Tionghoa mungkin ia akan mengambil kalkulator untuk menghitung untung ruginya. Misal : kalau domba tersebut jaraknya telah jauh maka akan menghabiskan banyak bahan bakar,  kemungkinan pecah ban, rasa capek, kalau hujan dan angin bisa sakit sehingga harus ke dokter. Jadi dihitung untung-ruginya. Akhirnya domba yang hilang dibiarkan saja. Karena hanya 1 yang hilang, masih ada 99 ekor lagi. Hati manusia seperti itu. Tuhan Yesus bukannya tidak tahu hati manusia dan ahli Taurat. Ia juga mengenal orang Yahudi yang pelit luar biasa dan sudah memperhitungkan segalanya. Yesus langsung mengatakan, “Gembala yang baik akan mencari yang 1 karena yang 99 sudah aman di kandang. Yang 1 ia tetap cari.” Artinya gembala yang baik tidak pernah menyepelekan harga 1 jiwa dan ia akan mencari dan menyelamatakan . Sukacita surga itu luar biasa, ketika 1 orang bertobat dibandingkan 99 orang “benar” yang tidak memerlukan pertobatan. Dalam perumpamaan ini tidak dimaksudkan untuk membandingkan 1 orang dengan 99 orang. Tetapi yang dibandingkan adalah 99 orang yang menganggap dirinya benar dan tidak perlu pertobatan yaitu orang Farisi dan ahli Taurat. Ritual yang dilakukan tidak membuat mereka bersuka. Tetapi akan ada sukacita surgawi saat 1 orang bertobat (Lukas 15:7) yaitu pemungut cukai . Yesus mati untuk saya. Apakah kita menyadari bahwa Kristus mati untuk saya ,domba yang hilang, itu? Ia begitu menghargai jiwa 1 orang dan mau berkorban untuk saya

Berharga di Mata Tuhan (Kej 1:26-27)

                Manusia adalah ciptaan Allah yang adalah gambar dan rupa Allah (Imago Dei, Kej 1:26). Harga inilah yang tidak bisa ditawar-tawar dan dianggap remeh. Allah membentuk dan menciptakan manusia dengan khsusus. Ia menjadikan manusia seperti diriNya sendiri. Ia tidak menjadikan hewan dan tumbuhan seperti diriNya. Kendatipun banyak kelebihan pada hewan dan ciptaan lain, tapi hanya manusia yang spesial karena serupa Allah. Manusia walau tidak sekuat kuda tapi Allah mengasihi manusia. Manusia tidak bisa mengalahkan kecepatan larinya kuda dan tingginya elang terbang tetapi Allah menghargai manusia lebih tinggi. Elang diciptakan dengan mata yang bisa melihat hal terkecil sampai puluhan kilometre sedangkan manusia terbatas (bahkan terkadang harus dibantu kacamata) tetapi Allah menghargai dan mengasihi kita lebih dari elang yang matanya begitu tajam. Elang bukan rupa dan gambar Allah, tetapi manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupaNya. Allah mengasihi manusia melebihi ciptaan yang indah seperti merak yang punya ‘jubah’ yang indah.  Namun manusia dikasihi dan dihargai Allah melebihi merak walaupun pakaian kita compang-camping, atau tidak cantik/tampan karena kita aadalah gambaran rupa Allah. Walaupun tidak banyak atribut yang luar bisa, tetapi Allah menghargai kita lebih dari burung merpati yang memiliki kepekaan yang luar biasa. Maka dikatakan hendaklah engkau tulus seperti merpati (Mat 10:16). Kadangkalah hati manusia lebih keras dari singa , tidak tulus seperti merpati dan kita menjadikan Allah “pembantu”, tetapi Allah mau mengasihi kita lebih dari ciptaan yang lain.

Penutup

                Mari kita belajar dari teguran Yesus kepada Petrus. Katakan TIDAK terhadap tawaran dunia dan segala bentuk kompromi demi kenikmatan yang ditawarkan dunia kepada kita. Cermati dan koreksi kompromi apa pun yang telah kita lakukan dengan alasan demi hidup, kesuksesan  dan demi apapun juga. Kadangkala pikiran saya dicela orang, tapi tetap saya pegang. Saya seringkali katakan kepada teman yang punya kedudukan tinggi di perusahaan, “Apa artinya ibadah hari Minggu untukmu? Sejauh mana ibadah hari Minggu bisa dikompromikan? Kalau kamu menganggapnya penting, maka segala bentuk pelatihan outbound jangan menggunakan hari Minggu karena itu pekerjaan kantor!” Perkataan saya ini menimbulkan perdebatan. Banyak pemikiran saya yang ditentang dan dicela atas hal-hal yang dikompromikan demi alasan yang sepertinya masuk akal. Akhirnya kembali kepada pertanyaan ,”Seperti apa kita memprioritaskan diri kita kepada Tuhan?” Adakah sukacita saat 1 orang yang bertobat, dibanding 99 orang yang mengaku Kristen tetapi tidak bertobat? Kita hidup dalam pembaharuan setiap hari. Allah tidak bersukacita dengan aktivitias rohani yang begitu banyak dan yang merasa dirinya sudah baik . Charles Haddon Spurgeon (1834-1892, pengkhotbah dari Inggris) mengakan ,”Moralitas yang baik menghindarkan anda dari penjara. Tetapi hanya darah Yesus yang mampu membebaskan anda dari neraka!” Moralitas itu penting , tetapi kepentingan moralitas itu untuk menunjukkan siapa kita sebenarnya di hadapan Tuhan. Terakhir. saya berharga seharga darah Kristus, jadi saya tidak boleh sembarangan. Orang lain berharga seharga darah kristus jadi tidak boleh memperlakukan orang lain secara sembarangan. Semua berharga di mata Kristus. Saya berharga dan orang lain juga berharga!