Monday, May 15, 2017

Khotbah yang “Enak” di Telinga Ev. Natanael Widjaja


Ev Natanael Widjaja

2 Timotius 4:1-8
1   Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
2   Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
3   Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
4   Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.
5   Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!
6   Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.
7   Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
8   Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Pendahuluan

Saya baru pertama kali menyampaikan khotbah di GKKK Mabes walau sudah sering melalui jalan di depan gedung gereja ini. Marga saya Huang (,kuning). Nama lengkap saya Huang .. Yi.  Saya pernah minta ke papa ,”Papa tolong tulis nama Mandarin saya.” Yi () artinya righteousness (kebenaran). Bangun huruf  Yi  () terdiri dari tiga bentuk karakter, yakni ( \  /  ;      ;   ) yang berarti  ( \  / ) = Yin - Yang ;   ( / Wang  = Raja) dan ( / Wo) = saya , secara garis besar   Yi   ()  dapat diartikan rasa kewajiban moral dasar manusia. Saya bertanya ke orang yang mengerti bahasa Mandarin. Saya diberitahu,”Wah nama kamu bagus. Siapa yang memberi nama kamu ini?” Saya menjawab,”Papa saya!” Dia berkata lagi,”Wah papa kamu tahu bahasa Mandarin.” Saya bertanya,”Mengapa?”. Dia pun memberi penjelasan,”Arti nama kamu : sumber kebenaran” dalam  bahasa Indonesianya : Natanael. Di dalam bahasa aslinya berarti “di dalam dirinya tidak ada kepalsuan” (Yoh 1:47). Tuhan Yesus sendiri yang mengatakannya. Sewaktu saya tahu artinya, hal ini menjadi beban dalam diri sendiri : kamu harus menyampaikan kebenaran. Begitu menjadi hamba Tuhan saya menjadi lebih gemetar lagi. Sejak di perut mama, saya sudah mengikuti Sekolah Minggu karena mama adalah seorang guru sekolah Minggu. Jadi bisa dibayangkan , sejak di dalam perut sampai sekarang entah berapa kali saya mendengarkan firman Tuhan. Saat ini saya menyampaikan firman Tuhan. Ini menjadi kegentaran bagi saya.

Waktu saya bertemu dengan seorang teman, ia menyampaikan sharing tentang kepergiannya ke Jawa Timur. Karena melewati hari Minggu ia sempat pergi ke sebuah gereja. Ia berkata bahwa gerejanya besar. Jemaatnya bukan ratusan tapi ribuan orang. Lalu ia berbicara dengan sedikit lucu karena pengkhotbahnya berkata,”Siapa yang hari ini membawa kunci motor? Coba keluarkan kunci motornya. Angkat kunci motornya! Kita berdoa pada hari ini agar saudara minggu depan tidak membawa kunci motor lagi, melainkan kunci mobil! Minggu depan kita percaya bahwa Tuhan akan memberkati kita karena kita adalah anak-anak Raja. Sebagai anak Raja kita pasti diberkati. Kita usir roh miskin!” Wah khotbahnya luar biasa! Saya sendiri tidak pernah menyampaikan khotbah seperti ini. Saya pernah mendengar khotbah dari seorang pendeta yang cukup berumur. Ia berkata, “Kalau saya berbicara tentang dosa maka saya tidak mau saudara duduk dengan tenang. Kalau saya berbicara tentang penghukuman dosa, saya tidak mau saudara hidup dengan nyaman.” Dari dua model khotbah di atas, kita pilih yang mana?

2 Tim 4:1-8, poin kita pada ayat 2,3 dan 4. Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.  Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.Jadi kalau diminta untuk memilih, mana khotbah yang kita pilih? Khotbah yang selalu menyampaikan berkat-berkat Tuhan atau kita rindu mendengarkan firman Tuhan tentang dosa yang merusak kehidupan kita? Tema khotbah hari ini adalah “Khotbah yang enak di telinga”.

Khotbah yang “Enak” di Telinga

Setiap kita pasti ingin berkat Tuhan. Bahkan kita rindu setiap hari Tuhan memberkati kita. Masalahnya apakah berkat Tuhan itu hanya dalam bentuk materi? Bagaimana dengan sukacita? Bagaimana dengan kerinduan kita untuk datang ke gereja? Apakah selama ini kita datang ke gereja tidak dengan hati yang bersyukur? Saya tidak alergi dengan berkat dalam bentuk materi. Betul memang kita perlu materi, tetapi kalau kita mengartikan berkat Tuhan dalam bentuk materi, inilah kesalahan. Kalau diperhatikan, tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham dan Ayub diberkati Tuhan dengan harta yang banyak. Jadi kita harus memberikan ruang yang jelas, apa itu firman Tuhan? Yang menjadi masalah adalah : bagaimana seorang yang sudah peraya kepada Tuhan bahkan seorang pengkhotbah harus menyampaikan firman Tuhan. Kalau diperhatikan tugas yang diberikan Rasul Paulus kepada Timotius ayat 2 (Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran).  Rasul Paulus menasehati Timotius untuk memberitakan firman Tuhan. Apa itu firman Tuhan? Perkataan Tuhan, suatu respon Allah kepada manusia untuk dibacakan. Ini adalah alat di mana Allah ingin manusia mengenal diriNya.

Hari ini pengkhotbah dan motivator beda tipis. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada motivator, hari ini saya merasakan pengkhotbah dan motivator 11-12 (beda-beda tipis). Pengkhotbah tidak menyampaikan firman Tuhan, takut kalau menyampaikan firman Tuhan tentang dosa. Agar dipanggil lagi untuk menyampaikan khotbah maka berkat terus yang disampaikan. Inilah yang menjadi kesungguhan yang disampaikan Rasul Paulus kepada Timotius, beritakanlah firman Tuhan itu. Alasannya apa? Ayat 3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.  Orang tidak mau lagi mendengar ajaran yang sehat. Yang mau didengar adalah ajaran yang enak didengar. Yang enak didengar itu seperti apa? Kalau pengkhotbah bisa meninabobokan saya atau tidak pernah menegur saya karena saya korupsi. Tidak pernah menegur saya karena saya menipu. Tidak pernah menegur saya karena suka memanfaatkan orang lain. Ini semua yang dimaui. Padahal Firman Tuhan bukan saja tentang berkat. Firman Tuhan penuh dengan murka Tuhan tentang dosa manusia. Firman Tuhan bukan saja soal kasihNya saja, tetapi Tuhan juga murka kepada manusia yang tidak taat. Inilah firman Tuhan! Itulah sebabnya dikatakan , beritakanlah firman Tuhan itu! Karena akan datang waktunya orang tidak lagi mendengar ajaran yang sehat apalagi dikatakan baik atau tidak baik waktunya. Baik atau tidak baik waktunya, kapan? Kita bersyukur di Indonesia, kita bebas datang beribadah. Coba bayangkan kita berada di Timur Tengah. Boro-boro datang beribadah kepada Tuhan. Semua gedung diratakan dengan tanah. Tidak ada kesempatan lagi untuk mendengar firman Tuhan seperti di  Suriah. Saya pernah melihat foto-fotonya. Hampir sebagian besar negara itu rata dengan tanah. Kalau sudah seperti itu, di mana kita mau beribadah?

Baik atau tidak baik mengandung arti bahwa manusia hidupnya terbatas. Sekarang umur kita berapa? Pasti ada batas waktunya di mana kita akan mengakhiri hidup. Ada yang mengatakan : saya masih muda, saya aktif melatih tubuh, (olah raga) saya diet makanan, saya cerdas sekali, nutrisi saya cukup pasti saya sehat. Betul? Ada yang berpikir kesempatan kita waktu di ICU (d isitulah kesempatan kita menerima Tuhan). Kalau nanti sudah tua, baru saya melayani Tuhan. Baik atau tidak baik ada waktu kita bisa mendengar firman Tuhan atau tidak bisa mendengarNya. Hari ini kita mendengar firman Tuhan. Sebagai hamba Tuhan, saya ingin menantang  : baik atau tidak baik waktunya, hidup kita terbatas! Hari ini kita bisa bertemu, minggu depan apakah masih bisa ada di sini? Belum tentu! Beritakanlah firman Tuhan! Betapa kita rindu mendengar firman Tuhan menjadi makanan rohani. Kita rindu agar firman Tuhan meresap dalam jiwa kita. Agar kita mengerti di dalam otak kita. Kita rindu agar Firman Tuhan meresap dalam hati kita. Bagaimana Tuhan berfirman kepada saya? Bagaimana Tuhan ingin kita menjadi pelaku firman? Ada batas waktunya!

Di gereja kami beberapa waktu lalu ada jemaat yang meninggal. Umurnya baru 37 tahun. Dia berasal dari keluarga yang tak satu pun percaya Tuhan. Baru dia sendiri yang percaya Tuhan. Dia punya cici dan kokonya. Dulu katanya mereka pernah ke gereja, tetapi setelah menikah mereka tidak lagi datang ke gereja.  Waktu melihat adiknya sakit kanker, terbaring sekarat di rumah sakit, mereka berjanji “Kalau adik saya ini sembuh saya mau datang ke gereja.” Tiap hari cici dan kokonya datang melihat adiknya. Herannya sang adik  setiap hari berkata kepada istrinya, “Hari ini hari apa? Hari Minggu ya? Anak-anak tolong dibawa ke Sekolah Minggu ya!”. Karena sakitnya makin parah, maka otaknya sudah tidak bisa mengingat lagi hari ini hari apa. Jadi setiap hari dia bertanya hal yang sama. Cici dan kokonya bingung mendengarnya. Akhirnya kesehatannya makin lama semakin buruk dan Tuhan memanggilnya. Janjinya kalau sang adik sembuh mereka mau ke gereja. Tetapi ternyata sang adik tidak sembuh. Koko dan cicinya berkata, ,”Mereka teringat kenapa sang adik selalu berkata,  “Hari ini hari apa? Pergi ke gereja hari Minggu.” Bertahun-tahun mereka tidak ke gereja. Beberapa hari lalu mereka datang ke gereja. Hidup ini ada batasnya. Sudah berapa tahun kita hidup di dunia ini? Pasti tidak sebanding dengan kekekalan yang akan diterima. Seberapa hebat pun hidup kita, tidak sebanding dengan kekekalan nanti.  Justru di sinilah kita mendengar firman Tuhan.

Seorang hamba Tuhan seperti Timotius diberi pesan oleh Rasul Paulus, “Baik atau tidak baik engkau harus menyampaikan firman Tuhan.” walaupun mereka akan memuaskan telinganya dengan kehendak mereka sendiri atau walaupun mereka hanya mau mendengarkan dongeng-dongeng saja. Dongeng biasanya dikisahkan kepada seorang anak. Suatu kali saya bertanya kepada anak saya, “Masih ingat tidak dongeng yang saya ceritakan saat kamu masih kecil?” Biasa nya sebelum tidur, saya menceritakan dongeng kepada anak saya. Di dalam dongeng tidak ada kebenarannya. Hanya hal yang mengenakkan. Tidak ada cerita yang aslinya bagaimana , supaya dia enak mendengarnya kita menceritakannya. Kalau kita hanya mendengar dongeng seperti itu, maka tidak ada tuntutan untuk kita mendengarkan cerita yang lengkap tentang firman Tuhan. Masalahnya bukan di dalam berita itu tetapi di dalam hati kita. Kita sudah menutup diri kepada kebenaran. Bukan hanya menutup diri pada kebenaran tetapi menolak kebenaran. Kalau ada Tuhan, bisnis dan hidup saya benar. Saya gagal mendapat penghasilan yang baik karena ada Tuhan yang tidak bisa tipu. Inikah yang kita inginkan dalam hidup kita? Bisakah kita katakan, “Firman Tuhan yang murni, kudus dan lengkap itulah yang kita kehendaki”?

Penutup

Apa yang Firman Tuhan katakan kepada saya hari ini?  Rasul Paulus memberikan suatu pernyataan yang luar biasa,”Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku  dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal 2:20).  Ia adalah seorang yang tidak memikirkan dirinya. Saya jujur mengatakan,”Saya merasa ngeri dengan kalimat ini.” Bukan lagi aku yang hidup tetapi Kristus yang hidup. Mantan gubernur DKI,Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) , pernah mengutip pepatah Tiongkok dalam pledoi sidang perkara penistaan agama, ‘Sebelum bunyi empat paku di atas peti mati kamu, kamu tidak bisa nilai orang lain itu baik atau buruk.” Kalimat ini sangat dalam maknanya. Beritakanlah firmanNya, dengarlah firmanNya. Akan datang waktunya manusia tidak lagi bisa mendengar firmanNya. Akan datang waktunya karena hari kita terbatas, baik atau tidak baik waktunya. 

No comments:

Post a Comment