Sunday, February 2, 2014

Perintah Allah itu Ajaib

Pdt. Hery Kwok

Hosea 1:1-9
1  Firman TUHAN yang datang kepada Hosea bin Beeri pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda, dan pada zaman Yerobeam bin Yoas, raja Israel.
2 Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: "Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN."
3  Maka pergilah ia dan mengawini Gomer binti Diblaim, lalu mengandunglah perempuan itu dan melahirkan baginya seorang anak laki-laki.
4  Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: "Berilah nama Yizreel kepada anak itu, sebab sedikit waktu lagi maka Aku akan menghukum keluarga Yehu karena hutang darah Yizreel dan Aku akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel.
5  Maka pada waktu itu Aku akan mematahkan busur panah Israel di lembah Yizreel."
6  Lalu perempuan itu mengandung lagi dan melahirkan seorang anak perempuan. Berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: "Berilah nama Lo-Ruhama kepada anak itu, sebab Aku tidak akan menyayangi lagi kaum Israel, dan sama sekali tidak akan mengampuni mereka.
7  Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka demi TUHAN, Allah mereka. Aku akan menyelamatkan mereka bukan dengan panah atau pedang, dengan alat perang atau dengan kuda dan orang-orang berkuda."
8   Sesudah menyapih Lo-Ruhama, mengandunglah perempuan itu lagi dan melahirkan seorang anak laki-laki.
9  Lalu berfirmanlah Ia: "Berilah nama Lo-Ami kepada anak itu, sebab kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu."

Pendahuluan

Sewaktu menempuh pendidikan teologia di salah satu sekolah Alkitab di Batu Malang, ada pengalaman yang cukup menarik yang saya alami. Semua mahasiswa yang bersekolah di sana dibentuk Tuhan melalui proses yang luar biasa. Selain mendapat pendidikan tentang firman Allah dari para dosen , kami juga memiliki pengalaman dalam berinteraksi antar sesama mahasiswa di asrama. Namun sekolah Alkitab bukanlah sorga di mana sudah tidak ada perselisihan atau pertengkaran. Di sekolah, terkadang timbul perselisihan karena adanya kesalahpahaman dan terkadang muncul percekcokan karena setiap mahasiswa punya karakter yang berbeda-beda. Perselisihan seperti ini mewarnai kehidupan kami. Suatu kali salah seorang rekan seangkatan saya ribut dengan seorang adik tingkat. Saya tidak tahu kejadian awal yang menjadi penyebabnya karena saat itu mereka sudah berselisih paham dengan kata-kata yang cukup keras. Umumnya perselisihan timbul terkait dengan tugas membersihkan asrama. Biasanya para mahasiswa dibagi kelompok untuk bekerja membersihkan jendela, lantai dan WC. Kemungkinan ada mahasiswa yang malas sehingga akhirnya ditegur. Terkadang ada yang mendapat pembagian kerja yang tidak enak seperti membersihkan WC yang baru dipakai oleh pengunjung yang baru selesai beribadah. Karena selain pengguna yang bersih ada juga pengguna WC yang jorok. Kemungkinan adik tingkat tersebut tidak mau membersihkan WC dengan baik (hanya disiram saja) sehingga  waktu dicek masih kotor karena ada kotoran yang tertinggal. Saat ribut mereka masing-masing saling bersitegang. Rekan satu angkatan saya itu berasal dari Indonesia bagian Timur yang sangat emosional sehingga saat marah dia menampar adik tingkat nya. Lalu adik tingkat itu berkata, “Dalam nama Yesus, tampar sekali lagi!”. Ditantang begitu, rekan saya menampar lagi sehingga kedua pipi adik tingkat tersebut telah ditamparnya. Akhirnya keduanya diskors. Karena rekan saya yang memukul, maka dia mendapat hukuman yang lebih berat. Dia tidak boleh mengambil kuliah selama 1 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tidak mudah melaksanakan firman dan perintah Tuhan.

Tafsiran atas Perintah Allah kepada Nabi Hosea untuk Menikahi Gomer

Memahami firman Tuhan merupakan sesuatu yang penting dalam hidup agar  kita tidak salah dalam mengartikan dan melaksanakannya. Jadi dasar yang pertama adalah  mengerti (memahami) lalu melakukan kebenaran firman Tuhan itu. Namun firman TUhan yang seringkali kita baca, seringkali tidak mudah dilakukan. Timbul kesulitan karena dunia seakan-akan tidak menerima apa yang diajarkan oleh firman Tuhan. Selama bulan Februari kita akan belajar dari kitab Hosea. Hari ini fokusnya adalah perintah Allah kepada nabi Hosea untuk menikahi perempuan sundal (Gomer). Perintah yang disampaikan ke Hosea ini  banyak menimbulkan kesulitan bagi orang yang mempelajarinya. Dengan tema “Perintah Allah itu Ajaib” menimbulkan pertanyaan “Apa yang ajaib dari perintah Allah kepada nabi Hosea untuk menikahi Gomer? Banyak penafsir mengatakan sulit menerima bahwa Allah memerintahkan seorang nabiNya untuk  menikahi seorang pelacur. Sehingga terdapat 4 (empat) kelompok penafsir yang memberikan gambaran tentang perintah ini.

1.     Pernikahan yang diceritakan di kitab Hosea adalah pernikahan yang tidak benar-benar terjadi melainkan sebagai simbol atau penglihatan yang menggambarkan hubungan antara Allah dengan manusia yang berdosa, khususnya hubungan antara kasih Allah yang sedemikian besar dengan umat Israel yang tidak setia. Kelompok ini mengasumsikan bahwa , tidak mungkin Allah menyuruh seorang nabi untuk menikahi seorang pelacur. Oleh karena menurut penafisr, pada Imamat 21:7 Tuhan berfirman kepada Musa, “Janganlah mereka mengambil seorang perempuan sundal atau perempuan yang sudah dirusak kesuciannya atau seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya, karena imam itu kudus bagi Allahnya. Allah saja melarang seorang imam untuk menikah dengan seorang pelacur dan Imamat 21:14 Seorang janda atau perempuan yang telah diceraikan atau yang dirusak kesuciannya atau perempuan sundal, janganlah diambil, melainkan harus seorang perawan dari antara orang-orang sebangsanya. Sehingga otomatis, nabi Tuhan juga tidak boleh menikah dengan seorang pelacur. Kalau memang benar Hosea menikahi Gomer, maka pelayanannya akan menemuni kesulitan, karena Hosea tidak menjadi berkat dalam pelayanannya. Secara rasio pemikiran, argumentasi  ini masuk akal. Ada cerita tentang seorang anak yang diputus hubungan dari ikatan keluarganya. Ayahnya mengatakan, “Apakah di dunia ini tidak ada gadis sehingga ia kawin dengan janda?” Papanya menganggap anaknya buta dan tidak bisa memilih perempuan. Apalagi ia seorang yang kaya. Lingkungannya akan sulit menerima anaknya menikah dengan janda tersebut. Dalam masyarakat ada kesan negatif tentang status janda, walau belum tentu status tersebut tidak baik tetapi begitulah anggapan masyarakat, apalagi kalau ada seorang nabi yang menikah dengan seorang pelacur. Dulu saya melayani gereja di Petamburan yang lokasinya dekat dengan Tanah Abang. Daerah Tanah Abang ini yang kemudian dibersihkan oleh gubernur DKI Jokowo dan  wakilnya A Hok dari para pedagang. Namun  mereka keberatan direlokasi ke daerah tersebut, karena di daerah itu sering terjadi transaksi seks, sehingga dikenal dengan nama Bongkaran. Suatu kali saya ditelpon seorang jemaat yang bertanya, “Pak Pendeta kemarin malam-malam ngapain ke daerah Bongkaran?” Saya coba mengingat-ingat kembali. Rupanya malam sebelumnya sekitar pk 21 saya melewati daerah itu, karena ada seorang jemaat yang anaknya kerasukan dan minta didoakan. Jadi saya bersama rekan-rekan hamba Tuhan pergi ke sana, karena daerahnya sulit dicapai, lalu kami naik mikrolet, dan melewati daerah  bongkaran itu sehingga jemaat itu bertanya untuk apa ke sana malam-malam.

2.     Pernikahan benar-benar  terjadi tetapi Gomer bukanlah seorang pelacur. Dia berdosa karena melakukan penyembahan berhala sama seperti bangsa Israel.  Penafsir dari kelompok ini merasa sulit secara moral untuk menerima seorang nabi menikahi seorang pelacur.

3.     Perkwainan benar terjadi. Gomer awalnya bukanlah seorang perempuan pelacur tetapi setelah menikah dengan nabi Hosea, ia menjadi pelacur.  Hal ini disebabkan di dalam diri perempuan itu ada kecenderungan moral untuk berzina dengan pria lain. Hal ini seperti kisah Yusuf yang digoda oleh istri Potifar yang senang “daun muda” (Kej 39:12).

4.     Pernikahan nabi Hosea benar-benar terjadi dan istrinya (Gomer) benar-benar seorang pelacur.  Kelompok ini mengatakan firman Allah ditulis secara jelas dan harus ditafsirkan secara jelas. Perkawinan Hosea benar-benar dengan seorang pelacur. Apa yang dipikirkan penafsir bahwa akan ada kesulitan secara moral tidak terjadi. Menurut penafsir kelompok ini, larangan untuk menikah dengan perempuan pelacur hanya dikhususkan untuk imam.  Secara hukum harus diketahui apakah hukum itu bersifat mutlak atau tidak. Pertama, larangan itu bersifat umum atau mutlak. Hukum yang absolute itu harus melihat konteks (situasinya). Larangan berzina itu sifatnya umum yaitu siapapun tidak boleh berzina dan sifatnya absolute (mutlak) yakni siapa yang melakukan perzinaan itu salah. Konteksnya orang Yahudi harus hidup secara kudus sehingga orang yang berzina harus dirajam hingga mati. Namun larangan untuk menikahi pelacur bukan bersifat umum melainkan  hanya berlaku untuk seorang imam (tidak berlaku untuk semua pria). Karena kalau berlaku berarti semua laki-laki tidak boleh menikahi seorang pelacur. Kenyataannya, nabi Hosea menikah dengan seorang pelacur. Jadi menurut kelompok ini, hanya pria berjabatan imam saja yang Allah larang karena seorang imam harus menjaga dirinya dengan kekudusan. Bukan berarti karena statusnya sebagai nabi, Hosea menikahi pelacur ,tapi ini untuk konteks orang Israel. Keadaan orang Israel saat itu tidak normal (wajar) pada zaman itu. Bahkan nabi Amos pernah menulis, seorang bapak dan seorang anak pergi ke tempat pelacuran (Amos 2:7b  anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan muda, sehingga melanggar kekudusan nama-Ku). Biisa dibayangkan bapak mengajak anaknya ke tempat pelacuran, dan itulah zaman yang tidak normal. Itu sebabnya penafsir keempat mengatakan karena kondisi yang krisis, maka Allah memberi contoh yang ekstrim juga. Dan ini membuktikan , Allah ingin menyadarkan Israel bahwa dosamu sudah sedemikian mengerikan.

Saya setuju dengan pandangan kelompok yang keempat. Pada situasi tertentu Allah menegur dengan cara yang tidak umum. Beberapa bagian dalam kitab suci juga menjelaskan contoh-contoh yang ekstrim. Contoh : nabi Yesaya disuruh berjalan dengan tidak berkasut dan berjalan selama 3 tahun (Yesaya 20:3 Berfirmanlah TUHAN: "Seperti hamba-Ku Yesaya berjalan telanjang dan tidak berkasut tiga tahun lamanya sebagai tanda dan alamat terhadap Mesir dan terhadap Etiopia). Bila saya hanya memakai kaos singlet dan celana dalam saja, maka jemaat akan marah, walau tujuannya untuk membersihkan selokan. Hal ini disebabkan jemaat akan merasa risih. Pada tahun 2007 saya pernah menolong jemaat di Ciledug yang menjadi korban dari banjir 5 tahunan. Saat itu saya menolong bersama semu dan para jemaat. Namun kemudian saya berpisah dengan se mu yang membawa pakaian saya, sehingga saya hanya memakai celana renang. Waktu menolong jemaat itu, saya hampir mati karena orang itu tiba-tiba memeluk sehingga saya sulit bernapas.  Lalu saya harus berjalan dengan berpakaian seperti itu. Karena ponsel saya dibawa se mu, maka saya pergi ke toko untuk meminjam telepon. Pemilik toko melihat saya dari atas ke bawah 3 kali dan mungkin pikirannya berkata, “kok muda-muda stress?”  Saya saat itu malu sekali karena dilihatin orang-orang. Saya merasa terpojok. Bayangkan nabi Yesaya berjalan tanpa kasut dengan telanjang selama 3 tahun!. Ia melakukan itu karena orang Israel masih menaruh harapan akan pertolongan bangsa Mesir dan Allah berkata, “Aku akan membawa Mesir dengan telanjang” artinya akan mempermalukan orang yang akan menolong bangsa Israel. Contoh lain : Yehezkiel membakar makanan di atas kotoran yang sebenarnya sangat menjijikkan (Yeh 4:12 Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya di atas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka."). Yehezkiel melakukan apa yang diminta Tuhan walau secara umum tidak lazim. Tetapi selanjutnya TUHAN berfirman: "Aku akan membuang orang Israel ke tengah-tengah bangsa-bangsa dan demikianlah mereka akan memakan rotinya najis di sana." (Yeh 4:13).

Belajar dari Hosea

Saat melakukan perintah Allah yang sulit, Hosea meyakini bahwa firman Allah tidak salah dan ajaib. Ada 2 hal yang bisa dipelajari dari Hosea :

1.     Hosea taat meskipun perintahNya sulit dalam pandangannya. Firman Allah tidak pernah meminta ijin manusia untuk  mengontrol dan menerimanya atau apakah ia pantas untuk dilakukan. Firman Tuhan tidak pernah “memikirkan” manusia akan perintahNya. Yang dibutuhkan hanyalah ketaatan yang Hosea berikan. Kejatuhan manusia, adalah kejatuhan di mana manusia tidak taat kepada firman Allah sehingga kemudian manusia terus tidak taat kepada Allah. Sehingga keselamatan hanya bisa terjadi karena orang yang taat kepada Allah dan menggantikan manusia. Dialah Yesus Kristus yang taat dan menggantikan manusia. Waktu Firman Tuhan mengajarkan untuk hidup dengan jujur, bisakah kita jujur dalam perkataan dan tindakan kita? Saya sering menemukan dalam lapangan, jemaat Kristen mengatakan bahwa ada 2 jenis kebohongan yakni bohong putih dan bohong hitam. Kalau bohong putih, kita boleh bohong dengan tujuan untuk yang baik dan benar. Kalau bohong hitam adalah bohong untuk tujuan kejahatan sehingga kalau orang Kristen tersudut boleh bohong sedikit. Hati-hati dengan mulut kita, karena hal ini yang paling gampang dilakukan manusia. Bisakah kita berlaku jujur, mengatakan “ya” di atas “ya”, “tidak” di atas “tidak” seperti yang diajarkan firman Tuhan? Waktu banjir kemarin, ada yang bertanya, “Mushi kalau banjir boleh tidak menginap di gereja?” Saya bilang, “Boleh”. Gereja pasti menolong dalam kondisi darurat. Kalau tidak darurat “tidak bisa” karena kalau semuanya tidur di gereja, maka gereja tidak bisa menampungnya. “Oh gitu ya?” dia menyambung, saya dengar gereja sekarang tidak boleh menolong seperti itu”. Waktu mendengarnya, hati saya sedih karena perkataan yang tidak benar sudah merajalela! Belajar taat dari mulut, mata, pendengaran dan perbuatan kita.

2.     Hosea adalah orang yang beriman melakukan firmanNya. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibarni 11:1). Iman adalah mempercayakan sesuatu yang Allah perintahkan dan perintah Allah itu baik. Waktu firman Allah bersabda, maka lakukanlah karena itu baik dalam kacamata orang yang percaya kepada Allah. Allah tidak pernah menjerumuskan manusia ke dalam hal yang tidak baik. Dalam kitab Hosea, baik keluarga dan bangsa Isareal berakhir bahagia (happy ending). Mereka bertobat dan kembali lagi kepada Allah. Iman kepada firman Allah merupakan sesuatu yang penting yang berada dalam diri kita. Iman kita kepada pemeliharaan Allah menjadi dasar di mana kita berani menghadapi hidup ini. Sesulit apapun kondisinya, firman Allah berkata, “Jangan pernah berpikir rancangan Allah tidak baik”. Saya dapat sebuah nasehat sahabat saya, “Mushi kalau dalam pelayanan berbeda pendapat, itu hal yang wajar. Jangan takut, kalau mushi tidak hidup dalam dosa. Kalau hidup dalam dosa, kita harus takut dan tidak boleh melakukannya. Kalau perbedaan pendapat dalam koridor yang baik, orang akan mengerti”. Waktu nasehat itu diberikan saya tercengang, karena terkadang saya berpikir firman Allah itu tidak baik. Saya curiga dengan Tuhan dan firmanNya tidak sesuai dengan konteks zaman sehingga tidak saya lakukan. Walau perintah Allah itu sepertinya “tidak baik”, lalukanlah dalam ketaatan maka kita akan diberikati.

No comments:

Post a Comment