Sunday, July 28, 2013

Memberi dengan Sukacita


2 Kor 8:1-7
1  Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
2  Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
3  Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
4  Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
5  Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
6  Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya.
7 Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, — dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami — demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.

Kita sedang menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali sehingga kita bersukacita namun bagaimana kita seharusnya bersikap dalam menantikan kedatanganNya? 2 Kor 8 merupakan pasal yang baik sekali yang menceritakan bagaimana gereja Tuhan dalam menantikan Tuhan. Gereja yang sudah menerima kasih karunia, penebusan darah Krsitus, dipindahkan dari murka Allah kepada terang yang ajaib. Itu sebabnya Rasul Paulus mendorong jemaat Korintus untuk hidup seperti jemaat yang berkenan kepada Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus untuk melaksanakan komitmen gereja kepada Tuhan. Jemaat ini menjadi jemaat yang mengerti kehendak Tuhan, tetapi jemaat ini belum melakukannya. Maka seorang yang taat tidak cukup sekedar mengerti kebenaran , tetapi harus menjadi pelaku kebenaran. Contoh : jemaat Makedonia. Rasul Paulus mendapat penglihatan ada orang yang memanggil untuk menyeberangi ke mari. Rasul Paulus taat kepada pimpinan Tuhan. Ia pergi ke jemaat Makedonia, Filipi, Berea dan Tesalonika. Sekarang jemaat ini hidup luar biasa. Itu yang harus kita contoh dari jemaat yang bertumbuh.
Ayat 1-2. Selagi dicobai dengan berat , tetapi sukacita mereka meluap. Gereja ini mengalami kasih karunia Tuhan. Kasih karunia artinya gereja yang mengalami yang tidak layak mereka terima tetapi mereka menerima berkat Tuhan. Dulu mereka tidak mengenal Tuhan Yesus sekarang menjadi penyembah Yesus yang hidup. Dulu menyembah berhala sekarang menyembah Allah yang benar. Mereka yang harusnya dimurkai dan masuk ke dalam api neraka tetapi mengalami kasih Kristus. Sehingga gereja ini menjadi gereja yang luar biasa indahnya. Ada yang mengatakan gereja yang mengalami kasih Allah sekarang ini adalah gereja yang mewah dan gereja yang sukses adalah gereja yang banyak sekali uangnya, ribuan jemaatnya, banyak orang yang dibaptis. Apakah gereja yang berkenan yang demikian? Bukan, namun bukan  berarti gereja yang besar bukan kehendak Tuhan. Tetapi gereja hanya besar penampilan, banyak manusia karena banyak penampilan, bukanlah gereja yang diberi kasih karunia. Ada gereja yang besar, namun mencuri domba gereja yang lain. Ada gereja yang besar sekali di Los Angeles. Gedungnya begitu mewah dan manusia nya begitu banyak. Namun tahun lalu gerejanya tutup karena bangkrut karena uangnya diselewengkan. Yang paling mengerikan, penyelewengannya dilakukan oleh hamba Tuhannya. Mari kita belajar menjadi gereja yang sudah menerima kasih karunia Allah. Jemaat Filipi, Tesalonika dan Berea bukanlah jemaat yang kaya dan tidak punya masalah , melainkan gereja yang banyak masalah dan penderitaan. Banyak yang menekan hidup mereka karena mereka mengikut Kristus. Gereja yang menerima kasih karunia Tuhan tidak lepas dari masalah dan pergumulan. Melalui penderitaan dan kesusahan , gereja bertumbuh dan mengalami Allah sehingga sukacita mereka meluap-luap. Dalam dunia ini tidak ada gereja yang mengalami penderitaan kemudian mati gerejanya. Gereja di Tiongkok  banyak yang mengalami penderitaan, banyak hamba Tuhannya mati tetapi gerejanya bertumbuh di tengah penderitaan. Saat ini gereja India juga banyak yang mengalami penderitaan tetapi jutaan orang menjadi percaya kepada Kristus. Penderitaan tidak pernah merampas sukacita jemaat. Di Eropa, dulu gerejanya kaya luar biasa, mengalami berkelimpahan keuangan, namun sekarang gerejanya mati dan hancur. Beribu-ribu gereja dijual karena tidak sanggup dipelihara karena tidak ada lagi jemaatnya. Sekali lagi kita diingatkan , penderitaan kita sebagai gereja Tuhan dan pribadi tidak pernah jadi hancur kalau kita melibatkan Tuhan dalam hidup. Mengingatkan kita , agar jangan setelah menerima berkat Tuhan meninggalkan Tuhan karena lebih mencitai berkat Tuhan daripada Tuhan sendiri. Saya berdoa kalau dapat berkat. Doa saya , “Terima kasih berkatMu, tetapi bawa saya lebih dekat kepada Pemberi Berkat daripada berkatMu.” Gereja yang hidup tidak harus kaya. Kalau dipercayakaan kekayaan dari TUhan, gereja harus membawa kembali kepada misi Allah, bukan untuk diri sendiri.

Ayat 3. Gereja ini suka memberi walau tidak kaya. Ayat 2, mereka sangat miskin. Istilahnya “extreme” atau “sangat-sangat” miskin. Mungkin mereka hanya bisa makan 3x sehari pas-pasan. Dibandingkan orang di Jakarta yang makannya tidak hanya 3x, tapi tiap jam selama perut masih cukup. Ayat 2b, namun mereka kaya dalam kemurahan. Biasanya jemaat bisa kaya dalam hidupnya namun miskin dalam memberinya alias pelit. Herannya walau gereja Makedonia sangat miskin, tetapi sangat kaya dalam memberi. Gereja yang luar biasa! Rasul Paulus menjadi saks,i mereka memberi lebih dari kemampuan mereka. Bagaimana orang miskin memberi lebih dari kemampuan mereka? Apakah mereka seperti RobinHood yang suka merampas orang kaya dan membagikannya kepada orang miskin? Tetapi jemaat Korintus bukan seperti itu. Mungkin mereka makan 3x sehari pas-pasan dan hidup sederhana. Ada pendeta yang jago masak datang ke tempat pelayanan orang miskin gereja kami dan mengajarkan 4 sehat .. dan 3 lumayan! Karena orang miskin tidak bisa makan 5 sempurna. Sayur-sayuran yang murah tapi cara masaknya yang sehat. Sangat menarik sekali. Waktu jemaat ini mendengar sharing Rasul Paulus, bahwa orang Yahudi di Yerusalem kelaparan luar biasa. Rasul Paulus mengabarkan itu supaya orang percaya menolong orang yang mengalami penderitaan. Rasul Paulus menceritakan penderitaan orang Yahudi di Yerusalem. Waktu jemaat Makedonia mendengarnya, mereka langsung meminta dan mendesak Rasul Paulus supaya mereka memperoleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang kudus. Luar biasa! Mereka bukan orang berlebihan. Pas-pasan. Namun mereka memikirkan orang lainnya yang lebih kelaparan dan mereka tolong. Mereka bukan gereja kaya secara materi tetapi memberi lebih. Kemiskinan tidak membuat mereka mengasihi diri secara berlebih-lebihan. Mereka memuasatkan hati kepada Allah dan orang lain. Kemiskinan tidak pernah mematahkan semangat dalam memberi. Mungkin mereka tidak makan pagi supaya bisa dipersembahkan ke jemaat Yerusalem. Saking ‘kaya’nya, bukan saja mereka tidak makan pagi , tapi juga tidak makan malam, mereka sunguh-sungguh peduli kepada mereka yang kelaparan. Karena jemaat ini sadar, apa artinya lapar. Ibu Dorothy Marx setiap Kamis puasa alasannya,”Saya puasa supaya saya mengerti apa artinya kelaparan. Sehingga saya harus menolong mereka yang menderita.” Jemaat Makedonia mengerti apa artinya kelaparan sehingga mereka mendesak Rasul Paulus agar mereka diberi kesempatan ambil bagian dalam pelayanan. Alangkah indah jemaat Makedonia! Pendetanya tidak harus capai mendorong dan mendesak jemaatnya untuk menolong orang lain. Majelis tidak perlu mendesak jemaat untuk pelayaan. Jemaat ini dewasa dan ‘jatuh hati’ kepada jemaat yang kelaparan dan ingin memberi. Bila gereja di Indonesia seperti gereja di Makedonia, kita cepat memberantas kemiskinan di Indonesia. Sehingga semua orang bisa mengenal cinta kasih dan dengan cepat Tuhan Yesus akan datang.

Ayat 5. Mereka adalah orang-orang yang sadar. Hidup mereka boleh tetap bersukacita karena mengenal Yesus Kristus. Dalam penderitaan mereka melibatkan Allah dan Allah memberikan mereka penghiburan. Dalam kemiskinan, mereka bersandar dan mengalami kebaikan Allah. Itulah sebabnya mereka memberi hidup kepada Tuhan. “Kamu telah dibeli dan kamu bukan milik sendiri.” Ekspresi penyerahan hidup mereka kepada Allah, mereka ekspresikan dalam memberi kepada orang yang kelaparan di Yerusalem. Mereka digerakkan oleh Allah. Pelayanan diakonia bukan saja untuk orang yang mampu. Pelayanan misi bukan untuk yang mampu tetapi juga yang tidak mampu. Oleh karena itu Rasul Paulus berkata kepada jemaat di sana (lihat ayat 7). Sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu. Dalam iman, perkataan, pengetahuan, kesungguhan untuk membantu dan kasihmu terhadap kami. Demikian pula hendaklah kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. Contoh gereja Makedonia yang miskin ini. Kamu bukan gereja miskin, salurkan berkat kepada yang kekurangan. Supaya orang lain yang menderita mengenal kasih Allah. Jika jemaat mengalami kasih Allah, tidak ada alasan untuk tidak memberi.

Ada seorang janda yang sangat miskin di Pluit. Kalinya hitam karena pembuangan limbah pabrik dan jadi kolam renang anak-anak. Toiletnya dimana saja. Lalatnya banyak. Di sana ada ratusan anak. Janda ini berenam dengan anak-anaknya. Suaminya meninggal sejak anaknya masih kecil. Setelah kematian suaminya, ia hanya tidur 2 jam setiap hari. Janda ini terus bekerja supaya anak-anaknya bisa makan dan sekolah. Tetapi janda ini bukan hanya pikirkan anaknya tetapi juga mengasih orang di lingkungan Manggaubi, sebuah daerah di Pluit yang miskin luar biasa. Kalinya bau luar biasa, rumah rata-rata mau roboh, jalan penuh air dan cacing. Maka kami digerakkan gereja Tionghoa dan lembaga pelayanan untuk mempedulikannya. Ada keluarga dengan 3-14 orang anak , sehingga di sana terdapat ratusan anak . Kami ingin mendapatkan bangunan untuk mengajarkan kesehatan anak dan ibu. Hanya ada 1 tanah dan itu milik Cik Timbul, sang janda tersebut. Itu bukan nama aslinya. Di sana ada pohon timbul yang bentuknya seperti pohon nangka, namun buah timbul bulat tidak lonjong seperti nangka. Setiap kali masak buah dan timbul, bukan hanya masak untuk anak-anaknya tetapi ia juga masak untuk orang-orang yang tidak bisa makan di tempat itu. Dia suka memberi sehingga orang lupa namanya dan akhirnya diberi nama Cik Timbul. Kelaparan itu menyakitkan sehingga ia membagikan kepada mereka yang kelaparan. Ia mengumpulkan uang untuk beli gelas, garpu, sendok, piring-piring, dan disewakan di kampung itu. Tapi kalu ada yang meninggal, tidak dipungut biaya sewa, karena dianggap sudah menderita. Jadi walaupun sudah miskin, ia mau menolong orang yang miskin. Saat mencari tanah dan yang ketemu adanya tanahnya Cik Timbul. Tanah dan rumahnya tidak besar. Waktu ditanya apakah bisa dibeli atau disewa? Awalnya dijawab tidak bisa namun kemudian ditanya untuk apa? Dijawab, “Untuk anak supaya bisa sekolah, ibunya dididik dan bangun klinik.” Lalu ia berkata,”Mulai hari ini tanah ini saya persembahkan kepada Yesus Kristus. Kalau masih kurang, potong rumah saya bagi dua.” Air mata kami mengalir luar biasa. Kami tidak lebih miskin dari dia, tetapi dia punya hati yang kaya luar biasa. Sekarang ratusan anak yang bersekolah dan ibu-ibu yang dididik. Mematahkan kemiskinan dengan memberi pendidikan. Ibu ini memberi untuk pembaruan masyarakat di sana. Gereja membantu dengan melakukan pembangunan. Lalu gerjea memotong dua tanahnya dan membangun rumahnya bertingkat 2. Banyak gereja Tionghoa dan LSM di sini yang melayani di tengah kemiskinan . Semua memberi tapi tidak pernah terjadi kalau bukan karena sang janda miskin ini. Dialah jemaat makedonia, penuh penderitaan tapi tetap bersukacita. Miskin tapi kaya! 

No comments:

Post a Comment