Sunday, November 25, 2012

Bertumbuh, Melayani, Berbuah


Pdt. Erwin Tantero

Ef 4:9-16
9      Bukankah "Ia telah naik" berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah?
10  Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.
11  Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,
12  untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,
13  sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,
14  sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,
15  tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.
16  Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Percaya Yesus bukan sekedar untuk masuk surga saat kita meninggal, tetapi yang sangat penting terjadi perubahan hidup (mengalami hidup baru). Saat mengalaminya kita bertumbuh  dan dinyatakan dalam pertumbuhan yang nyata yakni melayani dan berbuah. Membicarakan kekristenan tidak terlepas dari hidup dan kehidupan, bukan hanya surga dan neraka. Sebagai pengikut Yesus, kita memiliki hidup, orang hidup akan bertumbuh, dalam bertumbuh kita melayani. Dalam melayani kita berbuah dan terus bertumbuh. Dari ayat 11 sampai 13, Rasul Paulus berkata, “Sebagai orang percaya kita harus bertumbuh”. Sejak zaman dulu ada nabi-nabi dan pada zaman Tuhan Yesus ada rasul-rasul sedangkan pada zaman kini ada  orang-orang yang ditetapkan sebagai penginjil, pengajar dan penggembala untuk memperlengkapi orang percaya untuk bertumbuh, melayani dan berbuah.  Kalau tidak bertumbuh, maka sia-sialah menjadi orang Kristen. Kalau bertumbuh berarti orang punya hidup. Orang yang meninggal (seperti bunga plastik) tidak akan bertumbuh alias tidak punya hidup. Sebagai orang Kristen kita punya hidup dan kita nyatakan dalam pertumbuhan kita. Pertumbuhan adalah hal yang penting yang menunjukkan kita punya hidup. Orang hidup bertumbuh. Rasul Paulus bahkan berkata, “Setiap orang harus bertumbuh dalam pertumbuhan rohani.” Ini penting karena berkaitan dengan iman dan pengalaman iman. Seharusnya kita bertumbuh dalam iman, dalam pengetahuan yang benar sehingga kita terus menjadi dewasa. Kalau kita tidak bertumbuh, kita akan diombang-ambingkan oleh aneka pengajaran. Sekarang ini kekristenan sudah banyak yang diselusupi oleh pengajaran yang tidak benar. Bersyukur, gereja aliran utama tetap mempertahankan kebenaran untuk menjadi dasar bertumbuh dan doktrin yang ortodoks.

Bertumbuh dalam Iman
Iman kepada Tuhan seringkali dianggap iman yang bisa memaksa Tuhan. Dengan beriman, seakan-akan bisa menyuruh Tuhan bekerja sesuai apa yang kita mau. Hal ini dengan berpegang pada firman Tuhan, “Mintalah, akan diberikan. Carilah, akan mendapat. Ketuklah, pintu akan dibukakan.” Dengan demikian pengertian firman Tuhan begitu penting, kalau tidak kita akan diombang-ambingkan. Kekristenan banyak dipengaruhi hal-hal di luar Alkitab, sehingga arah pertumbuhan kekristen tidak sesuai firman Tuhan tapi sesuai kebutuhan manusia semata. Pertumbuhan iman Kristen sekarang ini coba dipengaruhi oleh pandangan post-modern dari New Age Movement (Gerakan Zaman Baru) yang mencoba mempersatukan semua kepercayaan yang ada di dunia ini. Menurut pandangan mereka, semua agama punya kebenaran untuk membangun iman. Pandangan New Age Movement sangat mempengaruhi gereja-gererja tertentu. Ini sangat disayangkan, sehingga terombang-ambingkan. Mereka mengklaim : dengan iman yang kuat mereka merasa bisa menuntut. Bila Yesus di dalam kita, kita di dalam Yesus, maka semuanya tidak ada yang mustahil,  apa yang diminta harus jadi. Pernyataan ini sering kita dengar. Seharusnya, bagi Tuhan tIdak ada yang mustahil tetapi bagi manusia tetap ada keterbatasan. Saat Tuhan ada di dalam kita, kita ada di dalam Tuhan, maka sifat kita akan seperti Tuhan. Bila sifat ilahi sudah berkembang, maka tidak ada yang mustahil. Iman harus dibangun di atas pengenalan iman (dasar) yang benar, jangan di atas pengajaran orang. Pandangan New Age Movement, “Kita harus berpikir positif. Apa yang dipikirkan akan terjadi.” Kalau begitu, apakah kita Tuhan? Apa yang kita pikir tidak selalu jadi, karena Tuhan ikut mengendalikan hidup kita. Juga ada pandangan, “Jangan omong sembarangan karena perkataan ada kuasa. Apa yang dibicarakan akan terjadi” Kalau begitu kita atau Tuhan yang punya kuasa? Perkataan kita tidak punya kuasa, termasuk kutukan orang. Walau kita dikutuk , kita tidak perlu kuatir karena saya punya Tuhan. Kita tunduk di bawah otoritas Tuhan.

Suatu kali anak angkat saya menyelenggarakan tour ke holy land. Setelah kembali, ia mengajak saya makan sambil ngobrol. Dia bilang, ada seorang pendeta peserta tour yang berkata, “Eh, kamu sudah berhasil, bagus! Kamu setiap bulan bawa 2-3 rombongan. Tapi kamu tidak kaya karena kamu tidak pernah minta kaya.”  Lalu ditambahkan lagi, “Dengan iman minta kekayaan karena kekayaan itu baru di depan pintu. Bila kita sudah masuk ke dalam maka permintaan baru diberikan.” Ini pengajaran salah, dengan iman ingin memaksa dan mengendalikan Tuhan.
Seharusnya apa yang diinginkan Tuhan menjadi keinginan saya. Kita bertumbuh dalam iman dan kebenaran sehingga kita tidak diombang-ambingkan. Iman bertumbuh dari anak menjadi dewasa dengan meneladani Tuhan Yesus Kristus seperti saat bergumul untuk meminum cawan pahit atau tidak. Saat kepahitan yang akan diterima, kalau boleh berlalu tetapi iman Yesus kepada Bapa, menjadi teladan. BagiNya, sekalipun harus minum, maka jadilah. Saat ini kalau kita berdoa, dan Tuhan tidak mengabulkannya, bagaimana sikap kita? Kalau Tuhan mau kita sakit, kita imani? Iman yang dewasa, menyerahkan diri kepada Tuhan untuk mengatur hidup kita. Kalau kita ingin mengatur Tuhan,  ini seperti anak kecil. Kita tahu Tuhan punya rencana yang indah. Tuhan punya kedaulatan yang penuh.

Melayani
Kita bukan dipanggil untuk hanya diselamatkan dan masuk surga. Kita sadar kita hidup, bertumbuh, Tuhan panggil kita untuk diberikan anugerah menjadi saksi dan menceritakan pekerjaan besar. Kita sadar bahwa dalam peran masing-masing , kita dibina, disiapkan oleh para hamba Tuhan. Semakin menyadari diri kita adalah saksi, harus semakin  melayani. Semua orang diberikan pelayanan yang berbeda. Ada  yang terpanggil jadi pendeta, gembala, penginjil , pengajar yang diberikan peran khusus untuk memperlengkapi jemaat dalam melayani tubuh Kristus. Jangan bilang kita tidak bisa melayani. Dalam peran yang kecil, kita sudah melayani. Namun ada yang melayani, supaya banyak dapat berkat,   bangun relasi, dapat status, atau pujian sebagai pelayan yang rajin melayani. Seharusnya tujuan melayani hanya satu yakni  membangun tubuh Kristus. Gereja adalah tubuh Kristus yaitu membuat gereja terus semakin bertumbuh.



Apakah kita rindu gereja terus bertumbuh? Satu hal yang kita kalah dengan gereja karismatik yakni semangat pelayanan.
Saya dulu ikut fitness. Ada seorang ibu yang rajin fitness dengan tujuan untuk menurunkan berat badan.  “Agar pelayanannya dapat lebih efektif”, katanya. “Karena Roh Kudus yang bilang,”sambungnya. Mendengar saya dari gereja injili, ia berkomentar. “Kalau gereja Pdt. Stephen Tong tidak ada Roh Kudusnya. Saya ajari ya, bapa minta nanti Roh Kudus beritahu.” Di Alkitab tidak ada ayat yang bilang begitu. Si ibu meneruskan ,”Sekarang ketinggalan, kita tinggal telepon.” Percuma saya banyak ngomong menjelaskan. Setelah mengamati cara si Ibu fitness, saya berkomentar, “Ibu, kalau dengan cara seperti itu, dengkul Ibu akan sakit.” Si Ibu heran bagaimana saya bisa tahu.  Saya jelaskan, “Karena dengan cara begitu, dengkul Ibu berbenturan sehingga sakit. Tapi ini bukan Roh Kudus. Ini logika menurut kedokteran. Sejak itu, bila ia melihat saya,  antara mau tegur dan tidak tegur. 

Dalam melayani , ada yang inginnya hanya sebagai kolektan, penyambut, anggota paduan suara atau tim besuk, sedangkan penginjilan urusan hamba Tuhan. Padahal kita diperlengkapi untuk melayani. Kita bisa melayani dengan perubahan hidup. Melalui hidup bisa melayani. Kol  3:23. Melalui hidupmu, injil berbicara dan disampaikan kepada orang.



Melalui hidupmu, injil berbicara dan disampaikan kepada orang. Apapun yang kamu perbuat. Ada suatu waktu di TIongkok (saya pelayanan di sana 2 tahun). Ada ibu yang berada di suku terasing. Ia orang luar yang mau menginjili. Ia tidak tahu apa yang harus kerjakan, dia berdoa, “Tuhan tolong saya untuk saya melayani suku ini.” Ia dibawa oleh teman yang dikenal di luar. AKhirnya ia tinggal di antara suku terasing lalu ia datang mengunjungi para tetangga. Ia berjalan keliling dan membantu para tetangganya. Saat tetangga yang punya anak  sedang mencuci, anaknya dia gendong. Ia bantu satu per satu. Akhirnya ibu-ibu pada bingung. Orang ini bukan satu suku dengan kita, tapi kenapa begitu baik menolong kita? Sehingga rame-rame mereka datang ke rumah dia ingin melihatnya sedang melakukan apa. Akhirnya ibu-ibu datang mau mengintip. Karena intip sambil dorong-mendorong, akhirnya pintu jatuh. Gedubrak!! Ibu itu sedang berdoa, di depan ada Alkitab. Ibu itu baru selesai berdoa dan mengucap amin. Melihat para ibu ada di rumahnya, ia merasa kaget. Ia pikir ia sudah melakukan kesalahan. Jadi ia bertanya, “Saya salah apa?” Mereka bilang, “Kami kagum dengan ibu, kenapa ibu bisa begitu baik.” Dijawabnya,”Saya belajar dari buku ini. Buku ini Tuhan yang hidup yang mengajar saya, bagaimana saya harus hidup.” Mereka jadi tertarik, “Boleh ajarkan kami?” Mulai dari hari itu, ia mulai mengajarkan Alkitab.
 

Hidupmu adalah teladan, injil yang terbaca orang. Kita melayani melalui segala talenta yang Tuhan berikan, namun tidak berarti hanya melayani tugas di gereja. Kebanyakan kalau tidak diatur, kita diam. Tidak pernah tanya, kira-kira tugas apa yang bisa diatur untuk saya.




Saya ikut dalam yayasan interdenominasi gereja. Area pelayanannya di Jateng, Jatim. Di situ kita masuk pedesaan, membina hamba Tuhan yang jemaatnya untuk pelihara mereka sulit karena tidak punya uang. Ada pos gereja yang hancur tidak bisa dibangun karena tidak ada uang. Ada ibu yang ditinggalkan keluarga karena masuk Kristen. Awalnya anak si Ibu di Tulungagung dirasuk setan. Rohaniwan agama lain dipanggil, namun  saat diuber dengan golok, ia kabur. Seorang dukun diundang. Saat  datang, sebelum mendekat, diacungkan golok sehingga ia kabur. Pendeta datang dan berseru,”Dalam nama Tuhan Yesus, turunkan golok! Golok pun diturunkan. Setelah didoakan, akhirnya sang anak sembuh. Setelah sembuh ibunya ikut percaya. Sang ibu berkata, “Gusti Yesus benar-benar gusti sejati.” Tetapi kakak dan papa anak ini , marah. Kalau sudah sembuh yan sudah. Kenapa harus pindah agama. Sehingga akhirnya ibu ini ditinggalkan sendirian. Padahal ia jalan pakai tongkat dari bamboo. Tetapi Tuhan pelihara. Setiap hari, ada tetangga yang mengirimnya nasi 1 kali dengan sayur. Itu karena ia tetap ingin percaya kepada Tuhan Yesus. Seberapa jauh kita melayani, bersimpati karena orang yang menderita karena Yesus. 


Seberapa jauh kita melayani, bersimpati kepada orang yang menderita karena Yesus. Banyak yang mengira : yang penting ada di gereja (berlindung dalam gereja) sehingga tidak pernah melayani.


Banyak yang hanya merasakan yang penting ada di gereja, berlindung dalam gereja. Tidak pernah melayani. Ada seorang hamba Tuhan orang dayak, Pak Erwin tolong kami. Kami dari Sintang, di pedalaman. Banyak hamba Tuhan yang tinggalkan pos pelayanan. Karena mereka tidak bisa hidup, tidak didukung karena sebulan hanya dapat Rp 100.000 . Setiap hari kerja, dapat getah karet. Kalau tidak hujan tanam. Kalau sudah hujan, tanaman habis, tidak makan, gereja tidak pernah mikirkan mereka. Ada orang yang tidak tergerak tapi ada yang tergerak. Pelayanan bukan hanya terlibat dalam tugas seperti ini. Pelayanan ikut terlibat dalam sesuatu apa yang terjadi bersama. 

Pemberitaan Injil kebanyakan berupa pemberitahuan tanpa tindakan. Injil artinya kabar baik. Tetapi kita hanya beritakan tanpa merasakan. Injil adalah holistik, keterpaduan, bukan hanya beritakan Injil dan doakan saja. Apa yang di depan mata, kita harus pikirkan, ikut berbagian dalam batas kemampuan kita. Jikalau Injil hanya kata-kata, tidak menjadi berkat buat orang lain. Hari ini, kita melayani bukan di gereja kita sendiri tapi membangun tubuh Kristus, melihat kebutuhan di depan mata kita ikut melayani. Layani, sebagai ekspresi apa yang Tuhan bagikan untuk dibagikan ke orang lain. Sehingga kita berbuah.

Berbuah
Proses dari bertumbuh sampai dibagikan adalah proses yang bisa dirasakan. Pelayanan bisa berubah karena ada pertumbuhan. Mari kita bertumbuh sampai ke kedewasaan. Pohon berbuah di dalam batas tertentu. Kalau belum sampai dewasa tidak akan berbuah. Kalau berbuah, tunjukkan bertumbuh sehingga jadi dewasa, sehingga berbuah yang bisa dilihat dan dirasakan orang (Ef 4:2). Hari ini pertumbuhan rohani , semakin bertumbuh semakin sombong, egois dan individualis. Semakin bertumbuh, semakin berbuah, semakin rendah hati, semakin sabar, semakin mengasihi. Ini buah yang bisa dirasakan. Lihat diri masing-masing apakah terdapat perubahan yang bisa dirasakan dan dilihat orang. Kita perlu bertumbuh dan tidak menyalahkan orang. Tunjukkan kasihmu dan kelemahlembutan. Gereja pecah karena kesombongan , adu kekuatan yang tidak menahlukkan diri ke satu Pimpinan untuk saling mengasihi. Semakin orang melihat engkau melayani maka akan diberikan orang-orang untuk dilayani. Semakin hari Tuhan tambahkan mereka, karena layak ditambahkan. Tunjukkan kita berbuah dari perubahan diri, maka buah akan menyatakan diri dalam buah buah pelayanan. Berdoalah agar buah kita membangun tubuh Kristus, gereja terbangun dan nama Tuhan dipermuliakan.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment