Sunday, October 22, 2017

Tenggelamnya Suara Injil


Ev. Lie Wei Tjen

Roma 1:16-17
16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.
17  Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Pendahuluan

                Saat ini manusia lebih banyak  diam dibanding sebelumnya. Kalau dulu kita pergi ke tempat ramai, banyak suara berdengung saling bicara satu dengan lain. Sekarang orang-orang lebih tenang dan diam. Hal ini disebabkan setiap kita sudah punya handphone sendiri sehingga kita membaca pesan dan berita, bermain , mendengarkan musik di handphone serta tidak peduli dengan orang-orang di kiri dan kanan kita. Bahkan saat keluarga sedang makan bersama-sama tidak lagi terjadi banyak pembicaraan. Di restoran, sambil menunggu makanan yang dipesan datang, setiap kita membuka handphone dan melakukan ‘sesuatu’ dengannya. Tetapi tetap saja waktu kita membaca pesan atau berita di handphone dengan diam, pesan atau berita itu menjadi ‘suara’ yang masuk dalam hidup, pikiran dan hati kita. Mungkin sebagian dari kita menggunakan Whatsapp menggunakan sarana komunikasi atau  sebagian dari kita juga suka menggunakan Youtube. Di dalam media-media sosial seperti itu banyak pesan dan berita yang disampaikan. Apakah kita memperhatikan bahwa dari Youtube dan berita yang dibaca menimbulkan perasaan pada diri kita? Kadang waktu kita membaca sesuatu maka hati kita seperti terganggu. Kalau kita membaca yang mengerikan maka hati kita merasa miris dan tidak suka dengannya. Kadang-kadang waktu membaca kita tertawa sendiri, kadang kita gemas dan marah, kadang kita menyukuri waktu membacanya. Berita yang sampai itu seperti suara yang masuk dalam hati kita. Apakah suara Injil punya hal seperti itu?

Injil adalah Kekuatan Allah yang Bisa Mengubah Hidup Manusia

Rasul Paulus sebagai penulis kitab Roma punya keyakinan yang kuat seperti yang ditulisnya pada Roma 1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Apakah seperti berita tadi sewaktu membaca atau mendengar Injil perasaan kita berbicara juga? Bukan itu maksud Rasul Paulus. Ia mengatakan bahwa Injil adalah kekuatan Allah sehingga waktu mendengarnya orang bisa berubah. Waktu mendengar berita yang biasa, mungkin hati kita tergugah tetapi setelah itu melupakannya. Tetapi suara Injil punya kemampuan untuk mengubah hidup manusia dari berdosa menjadi meninggalkan dosanya. Itu sebabnya Rasul Paulus mengatakan bahwa Injil itu kekuatan Tuhan karena barang siapa percaya pada Injil maka hidupnya akan diselamatkan. Dari orang yang menikmati dosanya dan menganggap bahwa dosa itu hal yang biasa dan baik-baik saja saat dilakukan (dari orang yang berpendapat bahwa dosa itu sesuatu yang menyenangkan dan bisa dinikmati dalam dunia ini), namun saat mendengar Injil lalu menerimanya dan percaya padanya, ia seperti orang buta yang celik matanya. Ia melihat sesungguhnya dirinya sangat kotor. Ia tidak lagi melihat dosa sekedar sebagai suatu perbuatan. Tetapi ia bisa melihat bahwa dosa adalah keadaan diri yang sesungguhnya dari manusia. Dan saat itulah ia bisa merasa jijik dengan apa yang sudah dilakukannya di masa lampau dan mengarahkan dirinya pada Allah. Dia akan datang kepada Tuhan dan mengatakan Tuhan mulai hari ini ia akan sungguh-sungguh mengarahkan diri pada Tuhan. Itulah suara Injil! Itulah kekuatan Injil! Dan apa yang menjadi isi berita Injil sesungguhnya?

Isi Berita Injil

1.     Yesus adalah Tuhan

Kisah 11:20-21 Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan.  Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan. Mereka memberitakan Injil tentang Yesus adalah Tuhan. Waktu memberitakan hal itu, tangan Tuhan menyertai mereka dan banyak orang menjadi percaya pada berita itu.

2.     Injil tentang Yesus dan KebangkitanNya

Kisah 17:18 Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: "Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?" Tetapi yang lain berkata: "Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa asing." Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya. Diberitakan tentang Yesus yang mati dan bangkit. Inti berita Injil sesungguhnya untuk menyatakan bahwa Yesus adalah inkarasi Allah yang menjadi manusia. Sebagai manusia akhirnya Ia harus mati menanggung dosa semua manusia di atas kayu salib. Saat di atas kayu salib ia menanggung dosa seluruh dunia. Dosa yang terjadi dari Kitab Kejadian di mana Adam dan Hawa jatuh dalam dosa sampai sekarang. Semuanya ditanggung di atasNya. Itulah sekali-kalinya Allah Bapa memalingkan wajahNya dari Yesus karena begitu luar biasa dosa yang  ditanggung oleh anakNya. Tetapi itu bukan cerita yang terakhir. Beberapa hari kemudian Yesus bangkit untuk memuliakan Allah dan kemudian Allah menyatakan kemuliaan melalui Yesus. Hanya kalau kita percaya kepadaNya bahwa dosa kita ditanggung oleh Kristus dan bahwa Yesus adalah Juruselamat kita maka kita diperdamaikan dengan Allah, pada saat itulah kita disebut sebagai anak-anak Allah. Ini berita yang paling penting dari Injil. Para rasul baru mengerti hal ini setelah Yesus bangkit. Waktu Yesus masih hidup, Ia beberapa kali berbicara tentang hal ini tetapi murid-muridNya tidak mengerti. Namun setelah Yesus bangkit, barulah mereka merasakan kebangunan dalam diri mereka. Sekarang mereka mengerti apa itu Juruselamat. Sekarang mereka mengerti bahwa dosa mereka ditanggung oleh Yesus di atas kayu salib. Mulai saat itulah mereka mulai memberitakan Injil kemana-mana. Mereka mulai membicarakan bahwa Kristus mati untuk kita dan bagi orang yang percaya kepadaNya akan diselamatkan.

Cara Orang Menjadi Kristen

Terdapat 2 cara di mana orang-orang menjadi Kristen :

1.     Melalui tanda dan mujizat

Kisah 5:12-16  Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.  Orang-orang lain tidak ada yang berani menggabungkan diri kepada mereka. Namun mereka sangat dihormati orang banyak.  Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan,  bahkan mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka.  Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan. Waktu mereka melihat mujizat atau mereka merasakan mujizat dalam diri mereka, mereka menjadi percaya. Mereka melihat sesuatu yang besar dan luar biasa sehingga mereka mau mengikuti orang yang mengajarkan mereka itu.

2.     Melalui pengajaran

Kisah 2:41- 42 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Sebelum orang-orang tersebut menjadi percaya, Rasul Petrus berkhotbah tentang bagaimana Yesus menjadi Juruselamat dunia. Setelah ia bicara maka terjadilah apa yang ditulis dalam Kisah 2:41-42

Orang menjadi percaya kepada Kristus bisa melalui mujizat atau pengajaran. Tetapi semua orang yang percaya akan bertekun dalam pengajaran. Orang-orang percaya tidak terus mencari mujizat dan kehebatanNya yang bisa dilihat di depan mata tetapi mereka bertekun dalam pengajaran. Itu menjadi hal yang paling penting. Waktu mereka belajar mereka bertumbuh dan berbuah. Orang-orang bisa melihat bahwa hidup mereka tidak yang dulu lagi. Itu sebabnya diceritakan bahwa banyak orang yang tidak percaya sangat menghormati mereka. Menghormati bukan karena mereka kaya raya atau mujizat-mujizatNya tetapi karena cara mereka hidup yang luar biasa. Orang-orang percaya mulai menunjukkan hidup mereka yang berfokus pada Allah. Itu yang membuat berita Injil berkembang luar biasa.

Suara Injil Pada Zaman Ini

Di beberapa negara berita Injil masih sangat kuat. Saya beberapa kali pergi ke Tiongkok. Ada seorang jemaat di sana yang saya sering kunjungi gerejanya. 7 tahun lalu kami datang ke sana. Kami mengenalnya sebagai gereja rumah tangga yang dilakukan pada rumah-rumah jemaat saja (bukan gereja yang formal seperti kita hari ini). Kita tahu bahwa di Tiongkok rumah dan apartemen itu ukurannya kecil. Waktu kebaktian di hari Minggu mereka duduk di mana saja yang masih ada tempatnya. Kadang-kadang di dapur atau di depan WC. Waktu terakhir ke sana mereka masih berjumlah beberapa puluh orang. Bulan Juni 2017 kemarin, saya pergi lagi ke sana. Mereka sudah menempati satu ruko yang lebih besar dari gereja rumah tangga. Namun ruko tersebut sudah penuh sesak dan kebaktiannya 2 kali. Merkeka berkembang dengan cepat. Bagaimana caranya? Pada akhir setiap kebaktian, ditanya siapa yang baru pertama kali datang di gereja tersebut? Pada gereja-gereja di Indonesia yang mengatakan,”Selamat datang kepada Bapak/Ibu yang baru pertama kali datang. Apabila Bapak/Ibu belum mempunyai tempat ibadah yang tetap , minggu depan dipersilahkan untuk datang kembali di tempat ini.” Di sana tidak begitu. Mereka hanya berkata, “Bapak / Ibu yang baru datang boleh tidak tinggal sebentar? Kami ingin mengenal saudara lebih lanjut.” Biasanya setelah kebaktian ada persekutuan. Jemaat jarang sekali yang langsung pulang. Mereka ngobrol dulu. Bagaimana dengan orang baru ini? Mereka menunggu saja. Saya selalu perhatikan, ada orang-orang yang punya tugas untuk mendekati mereka. Apa yang mereka lakukan selain berkenalan? Yang pertama dilakukan adalah mencatat alamat dan nomor telpon. Setelah itu mereka akan bertanya,”Darimana kamu bisa datang ke gereja?” Ada yang menjawab bahwa  tetangga , teman, saudara nya yang mengajak datang. Setelah itu penyambut tamu itu bertanya, “Apakah kamu pernah mendengar berita Injil?” Mereka lalu akan mulai membuka Alkitab dan menceritakan Injil yang mereka baru dengar sambil berkata,”Percayalah bahwa Yesus adalah Juruselamatmu yang abadi”. Mereka tidak bicara banyak tentang mujizat-mujizat, tetapi mereka menyampaikan inti Injil pada orang itu. Maka kekristenan tumbuh  luar biasa. Marilah kita berpikir bagaimana kita memberitakan Injil kita hari ini.
Saya seringkali mendengar kesaksian tentang menerima berita Injil melalui berkat dan mujizat Tuhan (kebaikan Tuhan yang memberi berkat dan menghibur saat kita susah). Kesaksian ini tidak salah dan itu akan menguatkan kita. Tetapi buat orang yang tidak pernah mengenal Tuhan,mereka tidak akan mengerti. Kebutuhan manusia berdosa bukan mujizat. Kebutuhan manusia berdosa adalah Juruselamat. Beritakanlah Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan itu adalah yang utama. Kita harus kembali pada berita Injil yang mula-mula. Kedua, kita melihat bagaimana hidup kita sebagai orang Kristen. Ada yang bertanya,”Mengapa orang Kristen lebih jelek cara hidupnya dari saya?” Bagaimana mungkin seseorang berkata,”Bertobatlah kamu!” padahal hidupnya lebih buruk darinya? Kita bukanlah orang yang sempurna. Tetapai waktu bergumul dengan sungguh-sungguh tentang dosa dan hidup kita maka Tuhan akan memimpin kita, sehingga waktu memberitakan Injil maka Injil itu berkuasa dan mengubahkan orang. Saya tidak percaya bila Injil diberitakan dengan benar tidak bergema. Injil sudah diberitakan 2.000 tahun dan bergema. Kiranya sepanjang hidup kita, menjadi corong Injil yang membuat Tuhan dipermuliakan. Amin.

   

Monday, October 16, 2017

Gereja Kristen Keliling-Keliling

Pdt. Hery Kwok

Ibrani 10:22-25
22  Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
23  Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.
24  Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
25  Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Pendahuluan

Dalam bulan reformasi (Oktober) diberikan penekanan bagaimana Allah telah memelihara gerejaNya selama 500 tahun (1517-2017). Pada minggu pertama Oktober 2017 temanya tentang perpecahan (Pertikaian dalam Gereja). Gus Dur , presiden keempat RI (1999-2001), mengatakan bahwa orang Kristen jangan ditindas karena semakin ditindas semakin besar, semakin ditekan semakin hebat, semakin dihambat semakin merambat. Kalau gereja dihalang-halangi akan semakin makmur. Biarkan saja. Kalau orang-orang Kristen dibiarkan sendiri, maka orang Kristen akan ribut sendiri di dalamnya. Walaupun Gus Dus tidak pernah ikut sekolah Alkitab, tapi ia mengetahui kelemahan orang Kristen yaitu perpecahan. Ada koster gereja yang mengatakan,”Lebih enak  bekerja di perusahaan karena kalau melayani di gereja, tuan dan nyonyanya terlalu banyak yang mengatur. Terlalu banyak bosnya sehingga pecah. Ibarat perusahaan pecah kongsi karena pendapat mitranya tidak didengar. Perpecahan gereja merupakan salah satu virus yang membuat gereja hancur. Kemarin saya pergi ke Rumah Sakit Siloam karena ada jemaat yang terkena virus di otaknya. Virus ini sangat  berbahaya karena dapat menyebabkan kematian.
Tema pada minggu kedua Oktober 2017  ‘Umat Allah Tekun Menonton’ (gereja sebagai penonton). Sebagai penonton umat Allah tidak punya sense of belonging (rasa memiliki) gereja. Ibarat di bioskop bila ada popcorn jatuh berceceran atau minuman tumpah maka tidak ada yang mau membersihkan atau membuang ke tempat sampah. Kalau ada penonton seperti itu maka ia perlu diberi penghargaan karena telah membantu memunguti sampahnya. Bila ada dan ia memberikan sampah ke petugas cleaning service maka bisa diberi piagam. Sayangnya tidak ada penonton seperti itu karena umumnya selesai nonton  semua penonton langsung pulang. Tidak ada penonton yang melakukan diskusi tentang inti dari film (sharing cerita). Bila bertemu di toilet dan ada keran menyala tidak dimatikan. Bila seperti ini (jemaat hanya menonton), maka gereja akan hancur. Berbeda dengan Kitab Suci yang menceritakan tentang gereja mula-mula di Kisah Para Rasul. Jemaatnya memiliki sense of belonging tinggi sekali dan sangat perhatian terhadap jemaat yang lain. Mereka memberikan kepunyaan mereka menjadi kepunyaan bersama dan tidak ada jemaat yang kekurangan. Sehingga orang Farisi ketakutan dan kaisar merasa ngeri dengan perhimpunan (persekutuan) orang percaya.
Hari ini kita belajar tentang jemaat gereja Kristen yang suka berkeliling-keliling dari satu gereja ke gereja lain. Sekarang banyak jemaat yang keliling-keliling dari satu gereja ke gereja yang lain. Suatu kali saat berada di ruang tunggu bandara di salah satu kota saya berbicara dengan orang lain. Karena tahu ia orang Kristen, saya bertanya ia bergereja di mana. Ia hanya tersenyum-senyum dan akhirnya menyebutkan gerejanya, namun ia mengaku bahwa suka keliling-keliling dari satu gereja ke gereja yang lain. Ini membuktikan bahwa tema hari ini memang nyata (ada orang Kristen yang gerejanya keliling-keliling). Banyak jemaat yang bertipe keliling-keliling sehingga tidak pernah bertumbuh secara rohani.

Alasan Orang Kristen Bergereja Keliling-Keliling

Paling tidak ada tiga alasan mengapa orang Kristen senang bergereja keliling-keliling. Pdt. Dr. Stephen Tong mengemukakan tipe jemaat yang bergereja keliling-keliling ini dengan memberikan ilustrasi. Ada seorang Kristen yang bertanya kepada Tuhan,”Tuhan saya mau ke gereja, tetapi di mana ada gereja yang sempurna? Karena waktu saya pergi ke gererja yang satu jemaatnya cuek dan dingin sekali. Tuhan ada tidak gereja yang hangat? “ Tuhan menjawab, “Gereja yang sempurna ada!” Orang Kristen ini berkata, “Tetapi saya tidak menemukannya! Yang aku temukan gereja yang tidak hangat. Ada juga gereja lain yang tidak memberi rasa haus dalam menyembah Tuhan. Puji-pujiannya kering sehingga tidak membuat saya rindu untuk menyanyi. Sehingga saya tidak menikmati pertumbuhan rohani dalam memuji Tuhan. Jadi apakah tidak ada gereja yang sempurna?” Tuhan berkata,”Ada!” Orang Kristen itu kembali bertanya,”Di mana Tuhan? Adakah gereja yang sempurna di mana waktu datang beribadah, saya bisa menikmati gereja itu sebagai rumah sendiri dan mengalami pertumbuhan di gereja tersebut?” Tuhan menjawab,”Gereja yang sempurna ada tetapi saya tidak akan memberi petunjuk di mana kamu dapat menemukannya. Karena kalau saya beri petunjuk dan kamu bergereja di sana, maka gereja tersebut menjadi tidak sempurna gara-gara kamu.” Intinya gereja yang sempurna ada, tetapi akan menjadi tidak sempurna gara-gara orang tersebut. Karena orang tersebut suka berkeliling-keliling mencari gereja yang sempurna. Seharusnya ia mengambil bagian sehingga gereja yang tidak sempurna menjadi sempurna.

3 Alasan / Ciri Jemaat yang Suka Keliling dari Satu Gereja ke Gereja Lain

1.     Jemaat yang seperti bayi rohani.

Ibrani 5:12-13 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.  Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Rasul Paulus mengatakan bahwa ciri dari jemaat yang suka bergereja keliling-keliling adalah bayi rohani yang tidak suka dengan makanan yang keras.  Saat diberi makanan dan merasa tidak enak maka seorang bayi tidak mau menelannya atau makanan tersebut akan dimuntahkannya. Saat bayi merasa tidak suka dengan makanan yang diberi, karena tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata maka dia mengeluarkannya lagi. Jadi bayi rohani adalah bayi yang hanya mau makanan yang dia suka. Dia hanya mau makanan sesuai cita rasa dirinya. Padahal mamanya memberi makanan yang mengandung gizi , vitamin dan nutrisi yang dibutuhkannya walau rasanya  mungkin dia tidak suka. Ada banyak jemaat yang menjadi bayi rohani yang hanya mau mengunyah makanan yang disukai dan tidak mau makanan yang tidak disukai. Mereka duduk dan mendengar khotbah dan bila   pemberitaan firman itu mengenakkan hati dan telinga maka mereka mau. Karena sesuai selera dan cita rasa, maka mereka menganggap ‘Ini baru makananku’. Waktu datang lagi, pengkhotbahnya memberi makanan yang penuh “vitamin” (bernada keras / berisi nasehat), ia tidak suka. Selidiki apakah kita masih menjadi bayi rohani atau tidak? Setiap khotbah mungkin cita rasanya tidak seperti yang saya mau, tapi mengandung vitamin yang dibutuhkan untuk membawa saya kepada Tuhan. Ada yang senang khotbah sesuai dengan cita rasanya saja yang menyenangkan telinga dan hatinya. Itu membuat dia tidak merasa di gereja ini bertumbuh dengan baik. Ada yang berkata bahwa saya dengar pengkhotbahnya begini-begitu (berisi kritikan).
Saya pribadi menjadi pengkhotbah di gereja-gereja lain sebulan sekali. Suatu kali setelah berkhotbah di gereja lain, saya bertanya kepada seorang jemaat di sana, “Bapak sudah berapa lama bergereja di sini?”. Lalu ia menjawab, “Saya lihat-lihat pengkhotbahnya Pak! Kalau menarik, baru saya ke mari” Pdt. Yakub B. Susabda mengatakan, “Saya pernah terkejut dengan satu orang yang setiap kali saya menyampaikan khotbah dia ada. Waktu awalnya saya tidak sadar, namun waktu kedua dan seterusnya dia terus ada. Jemaat ini duduk di belakang. Akhirnya saya tahu dan bertanya kepadanya,’Mengapa kamu tidak ada di gerejamu?’ Dia menjawab,’Saya senang dengan khotbah Bapak sehingga kemana Bapak khotbah saya datang’. “ Ini tipe jemaat yang keliling-keliling. Kita tidak pernah bertumbuh kalau Roh Kudus tidak menyentuh hati . Firman akan menggedor kita. Apakah saat mendengar khotbah kita pernah menangis? Saya menangis karena ada Firman yang menusuk hati. Saya menangis karena Firman itu menegur saya. Waktu mendengar khotbah , FirmanNya menegur saya, “Kamu munafik dan jahat”. Maka di situ saya mengalami pertobatan kembali. Firman Allah itulah yang masuk dalam hati saya. Apakah kita merupakan bayi rohani yang hanya ingin menikmati cita rasa sendiri?

2.    Jemaat yang Menolak Firman

2 Tim 4:3-4 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.  Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Itu adalah tulisan Rasul Paulus kepada anak rohaninya, Timotius, untuk memberitakan firman dengan baik karena akan ada masanya orang menolak firman itu karena orang hanya mau mendengar apa yang enak di telinganya saja. Berbeda dengan bayi rohani yang mendengar firman sesuai dengan cita rasa, maka tipe yang ini bergereja (datang ke gereja) sebagai orang Kristen tetapi firman yang diberitakan ditolak karena orang-orang seperti ini di zaman akhir telinga dan hatinya tidak mau mendengarkan kebenaran. Ia mencari di gereja tapi tidak pernah bertemu kebenaran. Ia datang ke gereja tapi tidak pernah membuka hatinya untuk kebenaran. Sehingga ia tidak akan tinggal lama di suatu gereja tapi terus mencari karena ia tidak menemukan kebenaran yang dicarinya. Tipe ini lebih parah dari bayi rohani. Ia tampaknya saja bergereja. Orang itu datang sepertinya kepada Allah dengan segala persembahan tetapi menolak kebenaran itu. Sebagai orang beragama, ia menganggap ke gereja hanya sebagai kegiatan rohani yang rutin . Ia merasa menjadi orang Kristen tetapi kenyataan sebenarnya ia menolak kebenaran. Kemana pun berkeliling gereja ia tidak akan pernah menemukan kebenaran. Inilah yang Rasul Paulus katakan tentang orang di zaman akhir. Tipe orang Kristen kesatu dan kedua ada banyak sekali saat ini. Datang ke gereja tapi jiwanya tidak di sana.

3.    Tidak mau mengambil tanggung jawab

Jemaat seperti ini adalah jemaat yang tidak pernah di satu tempat karena tidak pergi di dalam ibadah yang tetap padahal Allah menginginkan agar ia mau menerima beban itu. Tuhan memberi hukum,”Kasihilah Tuhan Allahmu secara totalitas dan hukum kedua kasihilah sesamamu seperti dirimu”. Jadi kita harus bertanggung jawab untuk mengasihi Allah dan sesama. Dengan mengasihi sesama membuktikan bahwa kita mengasihi Allah. Kalau mengatakan cinta pada seseorang tapi tidak bertanggung jawab, maka ucapannya berarti gombal. Waktu pacaran saat turun hujan , maka tanpa diminta oleh sang pacar ia akan memayungi dan membuka pintu. Saat membuka payung yang diutamakan adalah sang pacar. Kalau ia sendiri terkena air hujan sedikit tidak dihiraukan. Mengapa ia melakukannya? Karena itu adalah bentuk tanggung jawab dari cinta. Cinta dan tangungg jawab adalah 2 hal yang tidak terpisahkan. Cinta akan melahirkan tanggung jawab. Cinta tanpa tanggung jawab berarti orang yang mengalaminya sedang krisis karena tidak menghidupi cintanya. Maka Kristus mengajarkan untuk mengasihi sesama artinya kita harus memperhatikan orang lain. Itu bentuk tanggung jawab kasih kita kepada Allah. Kalau berpindah-pindah gereja maka ia tidak punya tanggung jawab. Seharusnya kita punya perhatian kepada jemaat yang lain misalnya kita memberi perhatian kepada asuk atau ayi yang tidak datang? Jangan menganggap saya bukan ketua RT yang harus memperhatikan warganya karena dengan melakukannya membuat kita setia.
Salah satu tanggung jawabnya ada di kitab Ibrani 10:25  Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Ayat 25 mengatakan janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita. Mengapa ada kata “kita” di belakang frasa “pertemuan-pertemuan ibadah”? Kita berarti saya dan engkau. Jadi dengan kata lain, penulis Kitab Ibrani sedang menunjukkan janganlah engkau menjauhkan diri dari pertemuan ibadah di gereja lokalmu (unitmu). Itu ibadah dari komunitas orang percaya yang berkumpul di satu tempat maka jangan jauhkan ibadah petemuan kita.

Kiat untuk Tidak Menjadi Jemaat Keliling-Keliling

Penulis Ibrani jelas mengatakan agar kita jangan menjauhkan pertemuan ibadah kita. Ia memberi beberapa alasan. Pada awal dari ayat ke-22 sampai ayat 24 ia mengatakan, “marilah”. Tiga kali kata “marilah” diungkapkan sebelum masuk ke ayat 25. Di dalam ibadah lokal di mana kita beribadah, ia mengungkapkan konsep ibadah dari kitab Perjanjian Lama. Penulis Ibrani merupakan penulis yang hebat. Tuhan yang memakainya adalah Tuhan yang hebat. Penulis mengatakan Yesus sebagai imam besar. Kemah suci adalah pusatnya ibadah (tidak boleh mengikuti ibadah di tempat lain). Musa mendirikan tempat ibadah dan tempat itu jadi pusatnya. Imam besar masuk ruang maha kudus setahun sekali. Umat yang datang membawa kambing (binatang kurban) agar disucikan dari dosa-dosanya. Konsep ini tidak lepas dari peran imam besar untuk mendamaikan Allah dengan kita. Sekarang kita punya perantara yaitu Imam Agung. Berikut yang menjadi kiat agar tidak menjadi jemaat yang berkeliling-keliling gereja :

a.     Datang dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh

Ibrani 10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Orang yang beriman teguh tidak lahir dari hati nurani yang baik. Saya pernah berbicara ,”Untuk menjadi pengkhotbah yang hebat dengan cara membandingkan. Ada hamba Tuhan yang mengklaim,”Saya pernah naik ke sorga. Kalau kita klaim seperti itu juga, maka kita akan kalah dengan dia yang katanya sudah ke sana sebelumnya.  Maka kita bisa mengatakan bahwa kita adalah orang yang pernah ke neraka. Kalau ke neraka, berarti saya jadi tuan. Saya beritakan firman karena pernah ke neraka. Maka jemaat akan merasa ia hebat karena firmannya menggelegar. Jemaat terbuai dengan firman itu sendiri. Kita menghadap Allah dengan keyakinan iman yang teguh. Dulu saya melayani di Gereja Kristen Ketapang  9 tahun dan 6 tahun di Gereja Kristen Petamburan. Seluruhnya 15 tahun saya melayani di Gereja Kristus dan mengalami pertumbuhan rohani. Kalau jadi jemaat yang berkeliling-keliling gereja, maka kita tidak belajar mempunyai keyakinan iman yang baik. Maka dikatakan, mari kita menghadap dan beribadah kepada Allah.

b.  Teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita

Ibrani 10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia. Bila ada Firman yang membuat air mata turun akan menyadarkan bahwa kita orang berdosa, maka Firman itu membuat kita punya pengharapan dalam hidup yang dijanjikan oleh Tuhan yang setia. Seperti pengikut Kristus di bukit, kita ditanam dalam pondasi pengharapan dan  pengharapan itu tidak pernah hilang. Jemaat yang keliling-keliling, waktu dihantam masalah akan roboh karena tidak punya keyakinan . Kalau sudah setia, kita menyadari bahwa sifat setianya diturunkan. Pada pertemuan PGTI, saya dan rekan-rekan rohaniawan lainnya membicarakan jemaat dalam konteks zaman akhir. Untuk melihat kerohanian jemaat mudah dilakukan. Lihat saja saat badai datang apakah badai itu akan membuat jemaat itu bersinar atau redup. Kita bisa berdiri tegak karena firman yang memberi pengharapan. Firman itu didapati pada gereja di mana kita setia dalam pertemuan di dalamnya. Ini hal hebat yang ditulis oleh penulis Ibrani, karena kita mengenalnya di gereja di mana dengan setia kita mendengarkan firman yang baik.

c.  Mari Kita Memperhatikan dan Mendorong


Ibrani 10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Jemaat yang tidak berkeliling-keliling gereja akan mempunyai hati tehadap gerejanya dan ia menjadi orang yang memperhatikan dan memotivasi orang lainnya. Saya baru mengerti dan menikmati memberi lebih baik dari menerima. Kebenaran kitab suci tidak pernah berbohong. Just do it maka kita akan menikmatinya. Kita diciptakan sebagai mahluk sosial  sehingga mau memperhatikan orang  lain. Hati kita cenderung memperhatikan orang karena manusia adalah mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial akan sempurna saat memperhatikan orang. Kalau tidak , maka kita akan kering dan hampa dalam hidup. Allah sungguh tepat menjadikan kita sebagai ciptaan yang sempurna. Kita diprogram menjadi mahluk sosial. Kita belajar memperhatikan orang-orang di gereja Tuhan, karena di sana kita belajar dalam kasih. Jemaat yang tidak berkeliling akan belajar menemukan orang yang harus diperhatikan. Kita selalu diimbau untuk memperhatikan keadaan sekitarnya. Gereja di kitab Ibrani menjadi sempurna dalam kelemahan dan keterbatasannya, karena ada kita yang mau diubahkan menjadi jemaat yang setia. 

Sunday, October 15, 2017

Umat Allah “Tekun” Menonton


Pdt. Ramli Kifli

Ibrani 12:1-2
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Pendahuluan

Tema hari ini “Umat Allah ‘Tekun’ Menonton”. Apa yang harus kita sebagai umat Allah tonton sebenarnya? Kalau kita hanya sekedar menonton maka ini sangat tidak baik untuk perkembangan gereja. Gereja bukan sekedar organisasi tetapi kita adalah gereja itu sendiri yaitu kumpulan orang-orang percaya yang dipanggil (eklesia). Gereja tidak bisa hanya menjadi “penonton”. Sebagai umat Allah kita tidak bisa lagi menjadi penonton. Kita dipanggil bukan untuk menjadi penonton tetapi bergerak untuk melakukan sesuatu. Tantangan yang dihadapi oleh kita adalah perkembangan teknologi zaman sekarang yang membuat kita banyak menonton. Banyak hal membuat kita tidak peduli akan sekeliling kita. Perkembangan teknologi zaman ini membuat tempat-tempat umum seperti restoran menyediakan fasilitas wi-fi sehingga anak-anak mudah bermain gawai (gadget) dan bergaul dengan telepon seluler dan komputer tablet. Ini semua bisa  membuat kita menjadi pasif. Kita menjadi lemah dan berlaku hampir sama dengan mereka sehingga banyak waktu yang dihabiskan dengan bermain gawai.

                Ada sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2015 tentang perkembangan gereja-gereja di Korea Selatan. Menurut survey tersebut selama 5 tahun terakhir (2010-2015) saat Samsung berhasil mengejar Apple, maka angka dari anak-anak muda yang datang ke gereja menurun drastis. Data ini mengejutkan. Hal ini berlawanan dengan data yang dikumpulkan dari tahun 1970an- 2000. Saat itu merupakan masa pertumbuhan kekristenan yang sangat pesat di Korea Selatan. Hampir separuh (45%) dari penduduk Korea Selatan pergi ke gereja. Sedangkan menurut hasil survey di atas, persentase penduduk Korea Selatan yang datang ke gereja turun ke angka 17% sama seperti di tahun 1970-an.  Ini sangat mengerikan. Bila umat Allah tidak bergerak (hanya ‘tekun’ menonton saja) dan setelah keluar dari gereja tidak melakukan apa-apa maka tidak mengherankan kejadiannya seperti itu.

                Pada tahun 2004 saya sangat bergumul sekali karena diberi pelayanan untuk menggembalakan gereja berbahasa Mandarin yang mayoritas jemaatnya dari suku Tionghoa. Untuk menjangkau anak-anak muda suku Tionghoa tidak mudah. Beberapa gereja berbahasa Mandarin di Teluk Gong, Muara Karang dan sekitarnya (seperti Gereja Baptis, Gereja Methodist dll) menunjukkan bahwa orang mudanya hanya 10% saja. Waktu memulainya 13 tahun lalu saya berdoa tentang menjangkau anak-anak muda Tionghoa. Saya percaya kepada Tuhan tahun 1979 dan pada tahun 1980 saya dibaptis. Saat mulai melayani sebagai gembala, saya sudah berada selama 24 tahun (dari 1980 – 2004) di gereja berbahasa Mandarin. Rekan saya mengatakan,”Ini tidak mudah karena yang akan kamu gembalakan adalah orang-orang tua yang jumlahnya akan semakin sedikit.” Maka saya doakan agar gereja dipenuhi setengahnya oleh orang-orang muda yang berusia kurang dari 35 tahun. Puji Tuhan, sekarang jumlah jemaat ada 500 orang lebih sedikit dan setengah darinya adalah orang-orang muda. Saya melihat ini sangat penting kalau gereja mau bergerak.  Kita bisa berbuat sesuatu kalau kita mau mengerjakan apa yang Tuhan kehendaki lalu menghidupinya. Tahun 2017 ada regenerasi, di mana ada anak-anak muda yang bangkit melayani gereja Tuhan. Gereja kami ini penuh  orang-orang tua yang minggu ini saja ada 2 orang yang meninggal. Kami tetap menginjili orang-orang tua tetapi sekarang ini ladang-ladang sudah menguning dan ini kesempatan untuk menjangkau generasi muda. Dari orang-orang tua menjangkau orang-orang muda.

Membaurkan Umat Allah

Di gereja kedatangan anak-anak muda yang menjadi orang tua tunggal (single parent). Bagaimana orang-orang melihat anak muda seperti ini yang tidak ada pasangan hidupnya. Setiap minggu orang-orang tua menghampiri anak-anak seperti ini, mengelus kepala mereka dan mengatakan Tuhan Yesus mengasihimu. Bagaimana orang-orang tua bisa ada di gereja saat anak-anak muda sudah datang dengan kesukaan mereka (orang biasanya di gereja mencari kesukaan mereka)? Bagaimana orang tua bisa berbaur dengan orang muda? Ada orang-orang muda yang datang ke gereja sejak kecil. Orang-orang muda ini datang lalu menghampiri dan menyalami orang-orang tua dan mengatakan ,”Ye Su ai ni (Yesus mengasihimu)”. Suatu kali saya melihat ada seorang tua (a kong / kakek) yang duduk di kursi roda dan sepanjang ibadah mengucurkan air mata. Selesai kebaktian saya pun menghampirinya dan bertanya kepadanya apa yang menyebabkan ia menangis (apa ia sakit atau waktunya sudah ‘tidak lama’ lagi?). Saya bertanya,”Mengapa menangis? Ada pergumulan apa? Apa ada yang bisa didoakan?” Ia berkata, “Saya punya 4 orang anak dan banyak cucu. Cucu saya hanya menghampiri saya waktu mau menerima angpao. Cucu-cucu saya  datang hanya untuk menerima ang-pao. Waktu saya berulang tahun pun, cucunya datang karena mau menerima angpao. Sedangkan di gereja , begitu banyak anak-anak datang dan memberi salam,”A Kong, Ye Su ai ni (Yesus mengasihimu)”. Ucapan sederhana ini membuatnya merasa terharu. Jadi kita jangan lagi terpukau menonton apalagi dengan slogan gereja “Semangat Gereja Menuju Pengajaran Injil”. Semua kita bisa dipakai oleh Tuhan. Kita jangan lagi menjadi penonton. Kita harus buka mata melihat seperti yang tertulis pada Maz 34:8 Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya  TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung  pada-Nya! Orang-orang besar mengatakan setiap hari melihat dan merasakan kasih Tuhan. Betapa luar biasanya Tuhan dan karyaNya! Kita adalah orang-orang yang dipanggil bukan sekedar diselamatkan dan melihat saja, tetapi kita juga dipanggil dan dipakai Tuhan menjadi saluran berkat keselamatan bagi orang-orang lain. Bila umat tidak bertekun menonton saja tapi aktif berbuat maka saya percaya gereja akan berubah dan berbuah.
Ada seorang tetua dari GKKK Medan yang menjadi ketua PGTI di Sumatra yang sangat aktif sekali. Ia pergi ke gereja-gereja kecil di Sumatra. Bila ada hamba Tuhan datang dari Taiwan, maka ia akan membawanya untuk melayani gereja-gereja lokal di sana agar gereja tidak menonton tapi bergerak agar ditonton.

Banyak Saksi Mengelilingi Umat Allah

Pada Ibrani 12:1-2 dikatakan Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. Tidak diketahui dengan benar siapa penulis dari Kitab Ibrani tetapi dari gaya penulisannya ada ahli Alkitab yang mengatakan kitab Ibrani ditulis oleh Rasul Paulus. Di sini dikisahkan bagaimana Yesus menyelematkan kita. Mata kita memang harus tertuju pada Yesus yang sudah menjadi Imam Agung kita dan sekarang sudah duduk di sebelah kanan Allah. Kita harus selalu memandang dan melihat Yesus dalam kehidupan iman kepercayaan kita. Kita jangan berpaling daripadaNya. Tetapi dalam ayat 1 dikatakan, kita punya banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita. Ini berbicara tentang apa dan siapa. Penulis Ibrani menuliskan orang-orang hebat yang hidup dalam iman dan telah menyelesaikan perlombaan yang diwajibkan. Kita jangan menjadi umat Tuhan yang hanya menonton tetapi marilah kita 2 bulan lagi menjelang Natal 2017 dan tahun baru 2018 mendoakan dan mengajak orang-orang yang belum percaya untuk datang ke gereja. Jadikan itu kesempatan untuk mengundang orang-orang datang di kebaktian dan perayaan Natal. Biasanya lebih mudah untuk mengundang orang datang di hari Natal. Bukan hanya itu saja yang dilakukan. Jangan kita hanya menunggu acara besar seperti Paskah dan Natal untuk mengundang mereka tetapi juga pada hari Minggu biasa kita bisa mengundang orang-orang untuk mengenal Tuhan Yesus.

Kita mempunyai banyak saksi yaitu orang-orang sudah mendahului kita dan orang-orang yang sudah berjuang dalam iman kepercayaan kepada Tuhan Yesus.  Kita sekarang menjadi orang yang sedang ditonton. Kita adalah orang-orang yang sedang mengadakan pertunjukan (tontonan) namun bukan sandiwara yang tidak benar. Kita hidup dalam kebenaran dan kita menghidupi Kristus di dalam diri kita. Hidupku bukan aku tetapi tetapi Yesus yang hidup di dalamku. Hidup kita bukan lagi menonton tetapi kita adalah orang-orang yang sedang ditonton oleh orang-orang besar (bukan orang-orang kecil). Orang-orang yang berkemenangan itu yang melihat kita dan memberi kita semangat untuk hidup seperti mereka. Maka kita dengan iman memandang Yesus sampai kepada kesempurnaan.

Umat Allah Wajib Mengikuti ‘Perlombaan’

Kita sedang mengikuti perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Sehingga kita tidak bisa mengatakan kita tidak mau masuk ke dalam perlombaan tersebut. Rasul Petrus pada 1 Petrus 5:8 mengatakan,”Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”. Hal ini bisa terjadi kalau kita menjadi ‘lembek’ sehingga hidup kita menjadi tidak efektif dan semau-mau kita. Hidup seperti itu bukanlah kehidupan orang yang percaya. Hidup orang percaya penuh dengan perjuangan seperti yang dikatakan Rasul Paulus pada Efesus 6:12 (karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara). Kalau kita tidak masuk dalam perlombaan dan perjuangan maka kita akan mudah masuk ke dalam kehidupan yang penuh kegagalan dan kekalahan. Tetapi Tuhan Yesus penuh kemenangan dan Dia ingin kita hidup dalam kemenangan. Asalkan kita tidak lagi hidup sebagai penonton.

Dalam hidup kita, banyak yang sudah mencapai garis akhir di depan (mendahului kita) seperti Abraham dan lain-lain. Mereka di depan, mendahului kita dan mencapai garis akhir sedangkan kita masih berlomba. Mereka sedang menunggu kita dan memberi semangat kita untuk terus berlari sampai mencapai garis akhir. Jangan sampai jadi orang Kristen yang baru masalah sedikit lalu duduk di pinggir jalan (tidak mau berlomba lagi) dan membuang banyak kesempatan. Sehingga orang lain yang melihat hidup kita tidak mau menjadi pengikut Kristus. Kita sedang didukung oleh orang-orang yang mendahului kita, mereka menjadi saksi bagi kita dan mendorong kita mencapai apa yang telah mereka capai. Berapa banyak waktu dalam kehidupan kita merupakan perjuangan untuk berkenan kepada Tuhan? Kebanyakan hidup kita untuk menyesali dosa semata dan berkata,”Waduh hari ini saya berdosa, berbohong lagi dll”. Setiap hari hanya berfokus pada semua masalah dalam hidupnya. Ada juga yang tiap hari berkata, “Tuhan berkati saya karena hari ini dagangan sedang sepi dan lain-lain “. Banyak barang-barang yang hilang sehingga tidak bisa mencari barang yang dibutuhkan. Yang beli dan jual marah-marah dan menjadi stress. Kalau hidup kita hanya bergumul tentang dosa , penghidupan, ekonomi , penyakit  maka semua waktu dan kekuatan yang ada untuk hidup berkemangan akhirnya tidak kelihatan. Semuanya yang terlihat begitu buka mata adalah usaha yang sedang susah, penyakit , hubungan tidak baik dengan orang lain dan lain-lain seperti itu. Waktu kita punya waktu ikut perlombaan yang diwajibkan bagi kita yaitu hidup yang menuju pada kemenangan. Marilah kita melihat semua itu sebagai kesempatan. Perlombaan yang kita jalani agar hidup kita berkemangan akan semua hal. Baik kesehatan dan keuangan kita, maka percayalah Tuhan yang akan berkuasa penuh. Kita memperhatikan benar-benar apa yang Tuhan kehendaki sehingga Tuhan akan memperhatikan semua hal dalam kehidupan kita. Hidup kita yang kita jalani sedang ditonton, bagaimana kita menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya? Hidup kita tidak akan lebih bernilai bila kita tidak mau hidup dalam jalanNya dan melakukan sesuatu yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Bukan lagi jadi orang Kristen yang melulu fokus minta Tuhan berbuat bagi kita.

Tuhan Yesus Sudah Tekun Memikul Salib bagi Umat Allah

Penggembalaan saya sebelumnya ada di 2 gereja berbahasa Mandarin yang berbeda. Dalam pelayanan saya melihat banyak orang yang menjadi kecewa , mundur dan hanya mengharapkan Yesus bekerja bagi dirinya. Padahal Dia sudah tekun memikul salib dan Dia sudah melakukan semua hal bagi kita. Setiap hari kita perlu mengingat ayat ini. Semua hal sudah ditanggungnya. Apa yang tidak ditanggungNya? Dosa kita sudah ditebus dan kita diselamatkan. Dia bukan Tuhan yang sekedar memenuhi keinginan kita, namun Dia ingin agar Injil Tuhan bisa tampil melalui kehidupan kita. Untuk menjadi berkat bagi orang lain, orang-orang yang membutuhkan yang berada di sekeliling kita sudah lebih dari cukup bagi kita untuk menghidupi Injil Tuhan. Seperti contoh sederhana di atas, hanya dengan anak-anak yang memberi salam kepada orang tua , itu sudah cukup menjadi berkat bagi orang lain dan membuat mereka percaya pada Yesus.. Asal kita ikut maunya Tuhan bukan maunya kita. Kalau Tuhan gerakkan kita untuk melakukan sesuatu bagi orang lain, pasti Tuhan akan campur tangan. Kalau kita tidak bergerak dan menjadi penonton saja, kita tidak melihat apa pun yang terjadi. Ada peringatan ke kita agar jangan sampai gereja tidak lagi bisa mempertahankan ibadah umat Allah. Jemaat GKKK agar berdoa, memilih dan menentukan misi 2018 melalui pimpinan Tuhan. Maka jemaat jangan hanya melihat visi dan misi di warta gereja tetapi mari kita perjuangkan sehingga benar-benar terjadi. Kita mengabarkan Injil melalui setiap kehidupan kita yang mau berjuang dalam perlombaan. Tuhan Yesus telah melakukanNya untuk kita. Semua penderitaan dan kesusahan telah Dia tanggung sehingga kita bisa melakukan yang mudah. Sekarang ada kesempatan bagi kita agar Injil bisa disebarkan. Jangan sampai setelah pintu ditutup, baru memohon,”Oh Tuhan kasih kesempatan dan buka jalan.” Karena seperti yang Wahyu 3:7b katakan, apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.  

Penutup


Hubungan kita dengan Tuhan bukan sekedar saya cinta Tuhan atau Tuhan cinta saya. Hubungan kita dengan Tuhan harus diwarnai kita cinta sesama. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39b) dan "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.(Matius 22:37) . Bila dalam semua urusan kita bersama dengan Tuhan , maka semuanya akan mengalir. Kalau tidak maka usaha kita hanya berupa kata saja. Manusia bisa saja melakukan apa saja yang baik tetapi kalau Tuhan Yesus tidak datang dari surga semuanya menjadi tidak berguna. Kita seringkali tidak mau menghidupi kehendak Kristus sehingga gereja kalah dengan pelayanan lain yang bukan Kristen. Apakah kita mau ikuti dunia atau ikuti kehendak Allah? Mari kita bergandengan tangan berjuang bersama-sama. Kita tidak lagi tekun menonton tetapi kita sedang ditonton. Bagaimana kita menjalani hidup kita? Kita sedang berlomba atau sedang duduk di pinggir jalan? Atau mengatakan, apa yang sedang gereja lakukan tidak berhubungan dengan saya karena nanti waktu bertemu Tuhan Dia katakan, Aku tidak mengenalmu. Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku  yang di sorga (Matius 7:21). Jangan juga kita berkata,”Buat apa melakukan sesuatu toh tidak masuk surga juga?” Apapun yang kita lakukan, lakukanlah hanya dalam dan untuk Tuhan. Nama, kedudukan dan harta kekayaan  semuanya untuk Tuhan. Semua yang dilakukan dalam Tuhan dengan sungguh-sungguh akan diingat Tuhan. Asal hidup kita ditonton, maka pada bulan Desember mendatang Injil bisa diberitakan. Mari lihat hidup kita kembali dan mengaku salah di hadadapan Tuhan, Kalau kita hanya mengatakan “saya masih berdosa” terus menerus, kapan kita mau bergerak? Memang kita ada kesalahan, tetapi kalau kita mau keluar dari ikatan itu dan melihat banyak orang berdosa yang sedang menantikan Injil keselamatan Tuhan, maka kita tidak akan punya banyak waktu melakukan hal-hal tidak berkenan dengan Tuhan. Gunakan waktu sebanyak-banyaknya untuk pekerjaan dan kemuliaan Tuhan. Itulah bagian hidup kita, kita ikut perlombaan yang diwajibkan  bagi kita.

Monday, October 2, 2017

Pertikaian di Dalam Gereja


(Mengapa dan Bagaimana Mengatasinya)

Pdt. Hery Kwok

Filipi 2:1-11
1   Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2   karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
3   dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
4   dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
5   Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
6   yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7   melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8   Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9   Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10   supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11   dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Pendahuluan
               
                Alkisah suatu kali Iblis mengelilingi bumi mencari tempat yang ‘menantang’ untuk bisa disinggahi. Awalnya Sang Iblis singgah ke tempat perjudian, tempat bagi orang-orang  yang ingin cepat kaya tanpa bekerja. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kelebihan pemain judi adalah ia hanya memiliki satu konsep saja yakni ia akan menang. Karena tahu akan menang maka ia terus datang walau pun nantinya ternyata ia kehilangan seluruh hartanya. Setelah mengamat-ngamati tempat judi ini, Iblis  tidak merasa tertantang karena tempat itu memang sudah menjadi miliknya. Orang-orang  yang bermain di sana baginya adalah orang-orang  yang bodoh. Dengan cepat ia pun pergi melesat ke tempat lain yaitu tempat pelacuran. Di sini berkumpul para lelaki hidung belang yang hanya ingin melampiaskan nafsu birahinya saja (berorientasi seksual) dan para wanita yang lebih senang mencari uang dengan jalan menjual tubuhnya dengan dalih sangat membutuhkan uang dan tidak bisa kerja. Setelah melihat sepintas tempat ini, kembali Iblis meninggalkan tempat maksiat itu. Baginya tempat itu tidak menarik lagi karena memang sudah dikuasainya. Lalu ia berkeliling lagi dan akhirnya melihat sebuah gereja. Dengan cepat ia pun datang untuk singgah di sana. Setelah mengamat-amati ternyata tempat ini sangat menantang. Melihat umat Tuhan yang ada di sana, Iblis pun melancarkan serangannya dengan mengadakan pencobaan dan mendatangkan kesulitan. Hasilnya tidak sesuai dengan harapannya. Ternyata ia tidak bisa mengalahkan orang-orang percaya yang ada di sana! Pada waktu orang percaya dihimpit kesulitan dan dikejar oleh orang-orang yang memburunya, gejala aneh terjadi. Gereja ternyata tidak menjadi mati tetapi malah semakin berkembang! Tempat ini benar-benar sangat menantang Iblis . Ia terus mencoba menggempurnya dan ingin mengalahkannya. Dengan berbagai upaya termasuk hidup mereka dibuat susah, tetapi ternyata orang-orang percaya semakin rajin berdoa. Semakin dihimpit mereka semakin kuat, makin dihambat mereka semakin merambat. Iblis pun terus  memeras otaknya untuk memikirkkan cara mengalahkannya. Akhirnya ia mendapat ide yang berlawanan dari upaya sebelumnya. Kalau dengan kesulitan hidup orang percaya tidak dapat ditaklukan maka Sang Iblis mulai memakai cara lain yaitu dengan menebar benih pertikaian. Hasilnya sungguh mengejutkan. Di situlah gereja mulai tercerai-berai dan porak-poranda. Iblis menjadi sangat senang. Tidak mudah mengalahkan orang-orang percaya, sehingga baginya gereja menjadi tempat yang menjadi sangat menantang dan menggiurkan. Ini adalah cerita dan belum tentu benar. Gereja mudah hancur saat benih-benih pertikaian ditaburkan dan berkembang.

Pertikaian Membuahkan Kehancuran

                Oktober adalah bulan reformasi bagi kalangan gereja protestan. 500 tahun lalu saat gereja mulai jatuh , Allah membangkitkan para reformator. Sederetan reformator gereja seperti Martin Luther (1483-1546), John Calvin (1509-1564), Ulrich Zwingli (1484-1531) dll melakukan gerakan pembaharuan gereja sehingga kerohanian yang hancur dan tidak fokus kepada Allah dikembalikan kepada  Allah. Itu sejarah yang membuktikan bahwa Allah menjaga gerejaNya dengan hebat. Hal ini terbukti dari perkataaNya setelah bangkit dari kematian. Saat itu Ia pergi dan memberi Amanat Agung kepada murid-muridNya dan berkata, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Pada tahun ini, kita memperingati 500 tahun reformasi di mana gereja Tuhan tidak hancur sampai hari ini karena tangan pengasihan Allah yang luar biasa. Tetapi Iblis tidak pernah menyerah untuk mencoba menjatuhkan gereja-gereja Tuhan. Ia menggunakan berbagai cara. Walaupun pemeliharaan Allah cukup tetapi iblis terus mencari cara menghancurkan gereja Tuhan. Sehingga selama 5 minggu di bulan Oktober, di gereja kita akan disampaikan topik-topik  yang terkait dengan upaya Iblis untuk menghancurkan gereja.     
Pada minggu pertama disampaikan upaya Si Iblis yang mencoba menghancurkan gereja melalui pertikaian. Bagaimana menyiasatinya? Pada minggu kedua khotbahnya tentang topik terkait banyak jemaat yang punya sikap mental menonton. Mereka datang ke gereja namun tidak mau terlalu ikut ambil bagian dan tidak peduli. Bagi mereka , yang penting datang ke gereja, ‘setor’ muka dan batin terpuaskan dan setelah itu selesai. Itu sikap yang salah. Iblis menaburkan benih agar orang-orang percaya tidak punya respon terhadap pengajaran Tuhan sehingga ada banyak orang Kristen seperti ini. Ini bentuk baru yang Iblis pakai untuk menghancurkan umat Tuhan. Pada minggu ketiga dibicarakan tentang jemaat yang suka ‘keliling-keliling’ alias yang gonta-ganti gereja. Tipe ini akan menjadi jemaat yang tidak bertumbuh karena gereja dibangun bukan dalam format pertumbuhan seperti ini. Ia dikatakan sebagai burung gereja. Jemaat yang suka keliling ke gereja-gereja ibarat burung gereja yang berkeliling gereja di sana-sini. Jemaat seperti ini tidak akan bertumbuh. Alkitab tidak pernah mendasari pertumbuhan jemaat seperti itu. Dalam perjalanan misinya, Rasul  Paulus membangun persekutuan di gereja lokal kemudian ia kembali dan mengukuhkan gereja lokal di sana di mana melalui gereja lokal itu jemaat dibangun dan ditumbuhkan. Pada minggu ke empat topiknya  terkait dengan Injil yang akan tidak diberitakan keluar lagi (meredupnya suara Injil) karena ada banyak jemaat yang tidak antusias bercerita tentang Injil. Peristiwa yang terjadi pada Kisah Para Rasul pasal 7 terjadi karena sebelumnya dikisahkan bahwa pada pasal 1-6 gereja sudah keenakan. Waktu Roh Kudus bekerja dan orang banyak dipertobatkan, gereja tidak mau keluar. Padahal sebelum Yesus naik ke surga, Ia berpesan ,” Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis 1:8).  Tetapi perintah ini hanya terdengar di area mereka saja. Maka pada pasal 7 ada penganiayaan yang diijinkan Tuhan agar Injil bisa tersebar. Melalui penganiayaan Injil tersebar hingga  Injil mencapai Indonesia. Namun sekarang gereja menjadi diam saja. Ini berbahaya. Dengan reformasi yang sudah 500 tahun, kita belajar dari sejarah gereja. Kalau tidak, Tuhan ijinkan lagi kesulitan datang agar Injil tersebar. Kita harus menjadi gereja yang mengerti mengapa Ia memanggil dan menyelamatkan saya agar saya menjadi orang yang memberitakan Injil. Pada minggu kelima akan dibicarakan tentang kondisi  stagnan di mana gereja tidak mau berubah walau gerejanya kecil saja.

                Pada Kitab Filipi 2 Rasul Paulus mau mengangkat 2 kondisi yang ada yakni  kondisi manusia dan kondisi Kristus. Pada ayat 1-11, kondisi manusia adalah orientasinya diri sendiri. Maka Rasul Paulus katakan,”Jangan kamu pikirkan kepentingan diri sendiri”. Jangan kamu berorientasi pada diri sendiri. Ia minta agar kita tidak mementingkan diri sendiri seperti Yesus yang tidak mempertahankan kesetaraanNya dengan Allah dan telah melepaskan diri dari raja menjadi manusia biasa. Bagaimana rendah hati dan murah hatiNya yang tidak memikirkan kepentingan sendiri. Rasul Paulus menceritakan bagaimana secara kristologi benar-benar dikatakan Yesus merendahkan diri. Bahkan dalam kerendahanan hatiNya Ia menuntaskannya dalam ketaatan. Di sini akan difokuskan pada orientasi manusia yang mementingkan diri sendiri. Pertikaian  adalah salah satu bentuk dari kepentingan sendiri.

Penyebab pertikaian

1.     Iri hati.
Pada Kitab Kejadian, setelah Adam dan Hawa diusir dari Taman Firdaus, lahirlah anak-anaknya yang mewakili manusia yaitu Kain dan Habel. Kejadian pasal 4 menceritakan pertikaian antara Kain dan Hawa karena iri hati. Menarik sekali pertikaian terjadi dalam kondisi sedang beribadah di mana  Kain dan Habel memberikan persembahan dan di Kitab Kejadian dikatakan, “Apa yang dipersembahkan Habel diterima oleh Allah sedangkan apa yang dipersembahkan Kain tidak diterima oleh Allah” Dalam ruang lingkup ibadah, ada iri hati karena Kain tidak merasa puas. Iri hati ada di tempat ibadah, bukan di tempat lain. Ini hal yang menarik. Iri hatinya ada di tempat yang bersifat kudus yaitu persembahan. Kalau iri hati di kantor dibilang jamak dan dibiarkan (masih bisa toleransi hati bila ada perebutan jabatan misalnya). Tetapi kalau iri hati di tempat ibadah? Padahal Kain iri saat memberi persembahan. Iblis berkata,”Engkau iri hati terhadap saudaramu. Kamu tidak bisa mendapat apa yang diinginkan” Dikatakan Kain menjadi iri hati, sehingga merencanakan sesuatu dan membunuh adiknya. Hancurnya persekutuan karena ada iri hati. Ini dibuktikan dalam sejarah umat manusia. Bukankah gereja bisa hancur karena iri hati? Kalau kita punya 5 orang anak, waktu mereka tumbuh dan mandiri perhatikan anak-anak tersebut. Yang satu iri hati dengan kakak atau adiknya. Itu cara yang hebat untuk menghancurkan keluarga. Keluarga bisa berantakan dan saling bertengkar satu dengan lain karena ditaburkan iri hati dalam diri kita yang membuat orang mementingkan diri sendiri. Iri hati membuat orang iri terhadap orang lain. Banyak orang yang iri hati. Melihat orang yang lebih dari dirinya sendiri membuat iri hati. Saat iri hati muncul dan menguasai diri kita, maka mulailah timbul pikiran untuk menjatuhkan dan menghancurkan orang itu. Iri hati membuat orang ingin untuk melenyapkan orang lain atau punya politik menghancurkan orang lain. Ini poin yang sangat penting dan sedang merajalela bukan saja di dunia luar tapi juga di gereja. Iblis tahu kita punya kekuatan dari Allah. Kekuatan di mana kita tidak bisa digempur oleh kekuatan ekonomi dan kesusahan, tetapi ia bisa menggempur melalui iri hati. Iri hati bisa membuat orang tidak lagi bersaudara. Ada yang mengiri karena ibadahnya lebih baik. Kalau seperti ini ”Puji Tuhan”. Rasul Paulus berkata, “Saya ingin membuat bangsa saudaraku iri dalam hal kerohanian. Supaya mereka datang kepada Tuhan Yesus.” Tetapi iri hati di sini adalah kondisi di mana kita lebih mementingkan diri sendiri daripada orang lain. Iri hati seperti inilah yang bisa memporak-porandakan persekutaun yang indah.
Ada satu gereja yang hamba Tuhannya berdiri dan menyalami jemaatnya. Ternyata ada satu jemaat yang  terlewat disalami oleh Sang Hamba Tuhan. Karena tidak disalami, lalu jemaat ini berpikir,” Kalau orang kaya pendeta ini perhatikan. Kalau orang hebat dia layani.” Iri hati ditanamkan untuk membuat persaingan,”Kenapa dia diterima sedangkan saya tidak?”. Saya juga iri hati. Suatu kali saya diundang makan di Puri Mall di hari Minggu. Karena sudah lelah, saya sebenarnya agak malas pergi. Namun karena relasi dekat dan pengundangnya pernah jadi jemaat yang dilayani, saya pun berusaha memenuhi janjinya. DI Puri Mal lahan parkirnya sempit dan hari itu turun hujan berat. Saya sebenarnya ingin pulang. Saya pun berdoa minta tempat parkir. Satpam tidak mempersilahkan saya untuk belok tapi harus jalan terus. Saya merasa kesal. Padahal orang di belakang saya boleh belok. Saya jadi merasa iri dan berpikir besok-besok saya pinjam mobil yang mewah. Ada juga teman saya yang saat datang berkata, “Kurang ajar satpam di mal. Mentang-mentang saya datang dengan mobil kecil tidak diperhatikan. “ Keesokan harinya ia datang lagi mengendarai mobil Land Cruiser. Ia disambut satpam yang sama  dan dibukakan pintu. Lalu ia berkata, “Kemarin saya pakai mobil kecil tidak diperhatikan. Sekarang saya pakai Land Cruiser dibukakan pintu dan disambut.“ Namun Tuhan ajar saya untuk mengatasi rasa iri dan  ternyata waktu saya meneruskan mobil ada mobil yang keluar sehingga saya dapat memperoleh tempat parkir. Saat itu saya mengalami rasa iri dan kesal. Kita bisa pecah dengan yang lainnya saat dirasuki rasa iri. Iri ini ditaruh di kitab Kejadian sampai kitab Yakobus. Iri hati membuat persekutuan menjadi hancur.

2.    Kecurigaan.

Ini cara si jahat yang hebat. Kecurigaan ada di Taman Eden yakni  di tempat yang sangat luar biasa indahnya. Di tempat kemakmuran ada, kecurigaan itu ditaburkan. Jadi di tempat yang sebenarnya indah-enak, Si Jahat menaruh kecurigaan kepada Hawa. Iblis menanamkan, “Waktu kamu memakan buah pengetahun yang baik dan jahat maka kamu akan menjadi seperti Allah dan sama dengan Allah”. Hawa pun senang karena  tidak ada lagi yang mengaturnya. Itulah kecurigaan yang ditanamkan Iblis dalam diri Hawa. Ada gereja yang pecah dan hamba Tuhannya keluar serta membawa sebagian jemaat , lalu ditanamkan kecurigaan dalam gereja. Hal ini juga berlaku di rumah tangga. Saat pasangan mulai curiga, maka siap-siap kehancuran terjadi. Ada kisah di video pendek tentang pentingnya privasi. Ada seorang istri / suami yang curiga saat melihat handphone pasangan dipasang password atau PIN. Ada yang ketakutan PIN handphone diketahui pasangannya. Ada yang berkata,”Saya lihat suamimu di warung kopi dengan Nancy yang dandanannya bahenol. Suamimu ngopi di sana.” Istri pun jadi panas hati. Padahal benar terjadi seperti itu namun tidak seperti yang dipikirkan karena tempat duduk mereka terpisah jauh. Maka istri mulai curiga. Waktu suami pulang, “Enak ya Pi ngopi?” Dijawab suaminya dengan bingung,”Ia.” Lalu istri melanjutkan,”Enak ya ngopi dengan Nancy”. Suaminya tambah bingung. Istri pun tambah marah dan memberondong suaminya dengan kemarahan. Kecurigaan adalah bentuk yang hebat untuk awal pertikaian. Banyak kecurigaan di taruh di jemaat. Ada yang mengatakan, “Jangan percaya dengan pemimpin dan hamba Tuhan.” Yang membuat Gereja pecah adalah kecurigaan yang paling manjur. Penghancuran gereja dimulai dari kecurigaan yang ditaburkan satu dengan lain. Curiga ditaburkan terhadap hamba Tuhan, majelis dll. Maka jemaat mulai merasa tidak percaya. Saya baru mendapat cerita dari gereja sahabat saya, “Gereja saya sekarang susah. Ada hamba Tuhan yang keluar dan membawa jemaat cukup banyak.” Kalau kita yang gereja 200 orang saling curiga maka akan hancur. Yang 2.000 orang jemaat saja hancur. Orang Asia tidak suka bicara seperti orang Barat sehingga mudah menimbulkan curiga. Di situlah Iblis menang. Lalu timbul iri hati. Rasul Paulus berkata, “Coba perhatikan Kristus! Ia yang adalah Allah tidak pikirkan dirinya sebagai Allah. Ia yang adalah penguasa menjadi hamba.” Ini sesuatu yang sangat luar biasa. Kalau manusia hanya berorientasi diri sendiri, Kristus tidak. Kita tipenya untuk diri sendiri (istri dan anak sendiri). Itu yang membuat kita tidak perduli dengan orang lain Karena dasarnya manusia berdosa adalah kepentingan diri sendiri. Rasul Paulus berkata, “Kita punya teladan yaitu Imam Besar yang Agung alias Kristus yang tidak mementingkan diri sendiri.” Di dalam ayat 5 ini dikatakan, “Hendaklah engkau dalam hidupmu bersama.” Satu-satu yang membuat engkau tidak bertikai dan engkau bisa keluar dari pertikaian kalau dalam hidup bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Yesus Kristus yaitu Ia mau meninggikan Allah BapaNya. Sehingga waktu BapaNya mempunyai rencana untuk menebus, maka Yesus bersedia melakukannya. Pikiran dan perasaan Kristus hanya satu yaitu apa yang menjadi rencana Bapa , itulah yang dijalankanNya. Ia tidak ingin memiliki pikiran yang lain. Apa yang menjadi rencana Allah BapaKu itulah yang dijalankanNya dan Ia tidak mau memikirkan yang lain kecuali untuk Allah dan kepada Allah . Itu sebabnya Kitab Suci mengatakan, “Kristus mau menanggalkan keilahiannya menjadi sama dengan manusia. Ia mau merendahkan dirinya bahkan taat sampai mati. Menaruh pikiran dan perasaan seperti Kristus hanya satu yaitu dengan membaca Kitab Suci dengan baik. Seluruh Kitab Suci dari Kejadian sampai Wahyu berisi pikiran dan perkataan Yesus. Itulah yang membentuk pola pikir dalam diri orang.  

3.     Gosip

Gosip ini juga menghancurkan persaudaraan. Password dari gosip adalah,”Ssst...! Jangan bilang-bilang ya.”. Itulah mulainya gosip. Setelah itu orang yang awalnya ditinggikan (dipuji-puji) lalu dijatuhkan. “Orangnya baik tetapi.... (masuk cerita palsu)” Teman saya seorang CEO di suatu perusahaan dan seorang majelis gereja. Ia punya supir pribadi yang selalu dibawa ke gereja. Jadi banyak supir yang duduk-duduk ngobrol di gereja. Supir-supir ini mendengarkan cerita tentang gereja dan orang-orangnya. Yang paling tahu gosip di gereja adalah supir gereja karena jemaat saling berbagi cerita di mobil. Saat itu supirnya hanya mendengarkan dan menyimpan di hati. Namun sewaktu mereka berkumpul sesama supir mereka pun berkata,”Tahu tidak Pendeta itu jagonya di mimbar saja, namun begitu diminta bantuan pelitnya minta ampun.” Cerita seperti ini tahunya dari jemaat. “Majelis itu kalau datang, gayanya sok tau waktu memimpin. Saya berdoa supaya majelis itu tidak datang karena kalau ada dia buat pusing.” Supir berkata, “Gayanya seperti boss dan tidak mau bekerja.”  Supir teman saya mendengar banyak cerita.  Akhinya saya bertanya, “Boleh tidak saya bercerita?” “Boleh”, jawab supir itu. Supir itulah yang  kemudian berkata,”Di bawah pohon saat sedang duduk-duduk saya mendengar John banyak bercerita. Bapak Pendeta juga diceritakan. Saya sebenarnya marah, karena Bapak kan orang baik”. Saat ditanggapi,”John itu orangnya baik”. Begitu dikatakan baik supirnya diam dan tidak mau cerita lagi. Penggosip itu mengatakan baik lalu diimbuhi “hanya”, “melainkan “dll. Diceritakanlah gosip. Jadi yang dihancurkan hati, pikiran dan mulut. Tetapi Kristus tidak seperti itu.

Penutup

Di bulan reformasi ini kita diingatkan bahwa gereja bisa hancur melalui pertikaian. Untuk itu taruhlah  pikiran dan perasaan kita di dalamNya. Kalau mulai muncul rasa iri katakan “Tidak boleh. Karena Kristus telah memberkati saya”. Kalau merasa diberkati maka kita tidak akan merasa iri. Sebaliknya kalau kita tidak pernah merasa diberkati maka kita akan merasa iri. Seperti Hawa tidak merasa diberkati maka ia merasa curiga. Kalau Tuhan memberkati kita, maka jangan mau mengikuti cara-cara iblis. Mari bangun persekutuan yang hangat dan membangun. Bagikan cerita yang positif seperti, “Di gereja aku merasa enak. Gereja seperti rumah kedua. Sebagai orang tua saya tidak diabaikan. Gereja telah menyiapkan fasilitas seperti karaoke di mana aku bisa bernyanyi sepuasnya. Ini rumah kita, nikmati persekutuan satu dengan lain.” Kiranya di bulan reformasi Tuhan menguatkan kita agar punya persekutuan yang baik.