Sunday, January 8, 2017

Kristus = Paling Berharga


Pdt. Nindyo Sasongko

Lukas 2:25-35
25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
26  dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
27  Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
28  ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
29  "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
30  sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
31  yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
32  yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
33  Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
34  Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
35   —  dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri  — , supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Roma 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Pendahuluan

                Saya pernah tinggal  setahun sebagai seorang misionaris di Ethiopia. Ethiopia adalah  sebuah negera di Afrika. Tidak pernah terlintas dalam benak sebelumnya bahwa saya akan tinggal di sana, karena saat mendengar nama Ethiopia yang terbayang adalah kemiskinan, kelaparan, kegersangan dan kekurangan lainnya. Pada awal 1980-an, siaran TV banyak menayangkan bencana kelaparan yang maha dahsyat dan kematian yang melanda Ethiopia. Pada tahun 2009 saya tinggal di Addis Ababa (ibukota Ethiopia) di bawah naungan suatu badan misi. Saya tinggal dengan jemaat yang sangat miskin. Gereja yang saya layani  belum memiliki gedung permanen dan masih menggunakan fasilitas yang sangat sederhana. Bangunannya hanya ditutup dengan kain terpal atau karung beras saja dan tiang-tiangnya masih dibuat dari kayu. Ubinnya belum permanen dan  hanya berupa tegel yang ditata berdempetan dan dialasi pasir (belum disemen karena gedungnya masih sementara). Namun yang luar biasa, semangat dari para jemaat di sana. Setiap Minggu jemaat di sana beribadah selama 3 jam! Sekitar 1 jam digunakan untuk puji-pujian, 1 jam untuk penyampaian firman Tuhan dan 1 jam lagi untuk pendalaman Alkitab. Pendalaman Alkitab (bible study) diadakan 1 jam sebelum ibadah yaitu pada pk 9 sedangkan ibadah dimulai pk 10. Yang menarik sebelum pk 9 , bahkan dari pk 7 ada jemaat yang sudah datang. Mereka bukan orang terkenal yang datang dengan mobil mewah melainkan mereka sangat sederhana dan miskin. Mereka adalah orang-orang tua atau ibu yang sudah senior dan mereka datang dari tempat yang jauh. Mereka kebanyakan tidak memiliki cukup uang untuk naik angkot (di sana dikenal sebagai taxi). Karena tidak punya uang sekitar Rp 4.000 maka mereka harus berjalan kaki. Sebelum pendeta datang, mereka telah datang untuk bersujud dan berdoa. Pk 8.30 -9.30 jemaat berdatangan dan pk 10 ibadah di mulai . Suatu kali saya bersama dengan ketua majelis datang lebih pagi yakni sekitar pk 8.30 sebelum pendalaman Alkitab (bible study) dimulai. Saat itu kami bertemu dengan seorang ibu tua . Dia datang menghampiri saya dan mencium (di sana hal ini merupakan simbul bahwa mereka menerima hamba Tuhan) dan berkata, “Pak Pendeta dan Bapak majelis , jangan pernah melupakan bahwa kekuatan gereja ini bukan hanya dari orang-orang yang punya uang atau harta dan bukan hanya orang-orang yang punya posisi yang baik di gereja. Tetapi lihat dan kenang selalu bahwa kekuatan gereja ini ada di lutut orang-orang tua  yang berlutut dan berdoa. Jangan pernah lupakan itu!” Perkataannya saya ingat dan terbukti hasilnya. Pada Juni 2010, 1 bulan sebelum saya tinggalkan gereja di sana, gedung gereja sudah tidak cukup menampung jemaat yang hadir. Dari 250 orang yang beribadah, setahun kemudian sudah bertambah menjadi 350-400 jiwa yang datang. Di mana letak kekuatan gereja?
Menghargai Orang-Orang Marjinal (Terabaikan)

                Pada saat membaca Lukas 2:25-35 kita akan menemukan seseorang yang bernama Simeon. Ia sudah lanjut usia dan tengah menantikan penggenapan janji Tuhan. Ada sebuah legenda yang tidak terdapat di Alkitab tapi patut direnungkan tentang Simeon sebagai pengganti Zakharia, ayah Yohanes Pembaptis. Dikisahkan Zakharia tidak melanjutkan tugasnya karena terbunuh di tangan punggawa Raja Herodes dan Simeon terpilih menjadi imam dan tinggal di Bait Allah menggantikannya. Ada juga legenda kedua yang mengisahkan Simeon sebagai salah satu dari 70 orang yang menerjemahkan Alkitab dari Bahasa Ibrani ke Bahasa Yunani. Saat ia menerjemahkan firman Tuhan dan sampai pada Yesaya 7:14 yang mengatakan Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Pada bagian di mana LAI menerjemahkannya sebagai perempuan muda, dalam bahasa Yunani kata “perempuan muda” ini adalah gadis atau anak dara (virgin) alias  seorang perempuan yang belum dijamah laki-laki. Waktu Simeon menerjemahkan bagian ini kata aslinya bukan anak dara tetapi perempuan muda. Tetapi kenapa diterjemahkan di sini sebagai ‘anak dara’ (anak perempuan yang belum terjamah laki-laki)? Ia siap menghapusnya, namun konon malaikat menghardik dan memintanya agar jangan dihapus karena ada rencana Allah :  “Engkau sendiri akan melihat tanda (bukti) dari kata-kata itu.” Konon menurut legenda ini Simeon kemudian hidup 360 tahun lagi sampai ia melihat buktinya saat ia berjumpa dengan Kristus. Ini hanya legenda dan tidak perlu dipercayai tetapi ada kebenaran dibaliknya yakni ada penghargaan terhadap orang tua (mereka yang sudah sepuh). Ada sebuah penghargaan bagi banyak orang yang tidak ‘dianggap lagi atau bagi masyarakat terpinggirkan.

                Hal ini berbeda dengan tema-tema yang diusung oleh film sinetron pada stasiun-stasiun TV di Indonesia. Dalam film sinetron yang banyak ditampilkan adalah pemeran (artis) muda di mana mereka berpacaran, putus lalu cari lagi pacar yang baru serta kisah tentang memadu kasih antara yang kaya dan miskin. Yang dijual oleh media di masyarakat adalah anak-anak muda. Demikian pula dengan iklan kosmetik yang menampilkan orang-orang muda. Sedangkan tokoh dan pemeran orang (golongan) tua seolah –olah dipinggirkan dan tidak dianggap lagi. Mari menjelang natal dan tutup tahun, saya mengajak setiap kita untuk menyadari apakah selama ini kita telah meninggalkan dan melupakan orang yang disisihkan di masyarakat. Apakah gereja Tuhan juga demikian? Saya suka dengan bagian ini yakni ketika membaca Lukas yang penuh gambaran tentang orang-orang yang tidak berada di tempat yang hebat, bukan Raja Herodes, para imam, para orang muda yang hebat tetapi orang-orang yang terpinggirkan. Hal ini dapat dilihat pada pasal 2 di mana ‘konser pujian’ malaikat yang maha besar digelar bukan di gedung konser yang luar biasa megah melainkan di padang gurun Efrata dan di hadapan orang-orang pinggiran yaitu para gembala. Pada kitab Lukas ini, kita juga membaca ada seorang perempuan yang dipilih jadi ibunda Yesus Kristus yang berasal dari dusun dan tidak terpandang (tidak pernah dimasukkan di sejarah waktu itu) yaitu Maria yang usianya masih muda. Maria bukanlah seorang yang hebat. Kita juga melihat Zakharia dan Elizabet (Lukas 1) yang mandul , menanggung aib bertahun-tahun dan mendapat janji dari Tuhan. Mereka mendapat berkat yang hebat dari Tuhan walau dilupakan oleh manusia. Kalau dilanjutkan, kita akan menemukan nama Nabiah Hanna (Lukas 2:36), seorang  perempuan tua renta yang baik. Gereja kiranya tidak melupakan orang tua.

                Mari kita kembali melihat seorang tua bernama Simeon yang tinggal lama sekali di Yerusalem dan menantikan janji Allah dan menunggu kehadiran Sang Mesias. Ia sudah diberitahu oleh Roh Kudus bahwa ia akan melihat Allah. Kemudian ia menyambut Anak Itu, membopong dalam pelukannya dan berseru dari mulutnya melalui ucapan lagu yang istimewa, "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu (Lukas 2:29) atau dalam bahasa Latinnya Nunc dimittis servum tuum, Domine,secundum verbum tuum in pace, quia viderunt oculi mei. Ia siap sekarang melihat tahta dan kemuliaan Allah. Ia siap memuliakan karena matanya telah melihat keselamatan. Orang yang digeser di masyarakat ini melihat keselamatan dari Tuhan. Bertahun-tahun ia sudah menantikannya. Bagaimana dengan kita? Apakah yang menjadi penantian kita? Minggu ini adalah minggu penantian (minggu kedatangan Tuhan yang keempat atau minggu adven terakhir). Gereja Tuhan telah diajak untuk menantikan Tuhan selama 4 minggu. Jemaat diajak menghadapinya kembali, “Di manakah pengharapan itu di tengah hidup tanpa harapan?.” “Di mana cinta kasih itu di tengah ketiadaan cinta, sukacita, damai sejahtera?” Yang terjadi hanyalah peperangan, musibah dan dunia yang carut marut. Mungkin saat ini kita merasa was-was sewaktu  meninggalkan tahun 2016 karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap kita. Mungkin masih tersembunyi ujung jalan yang akan kita tempuh. Banyak orang Kristen yang tidak bisa merayakan Natal seperti kita, bukan hanya jemaat di Ethiopia. Bayangkan anak-anak yang kehilangan orang tua akibat pemboman di Aleppo (Suriah). Anak-anak yang tidak bisa duduk di ruang ibadah bersama orang yang mengasihi dan dikasihi mereka. Bagaimana dengan orang di Pidie Aceh? Saat ada gempa  6,4 skala Richter memporakporandakan di sana, ada banyak orang Kristen yang tidak bisa duduk dan menikmati perjamuan serta pesta Natal yang megah di gedung bagus seperti kita. Juga bayangkan dalam hati ketika kita mengingat perempuan-perempuan muda dari bagian Timur Indonesia yang dijual dan diberi janji muluk bahwa mereka akan mendapat uang yang banyak dengan bekerja di luar negeri. 2 hari yang lalu saya duduk bersama seorang teman dari NTT. Ia banyak bekerja untuk advokasi perempuan muda di sana. Sampai di penghujung tahun ini, ada 54 perempuan muda Indonesia dari NTT yang pergi dengan sukacita dengan penuh pengharapan namun pulang sebagai jenazah. Sebagian diperlakukan dengan tidak adil. Mereka kehilangan harapan. Bukan hanya dianiaya, ketika meninggal organ tubuh mereka dijual! Inilah dunia di mana tempat kita tinggal. Tidak perlu jauh-jauh, adakah orang di keluarga atau tetangga yang kita lupakan? Berapa banyak orang yang seperti Simeon yang telah lama menantikan kedatangan Mesias dan  hanya bisa mengerang, menanti dan akhirnya kecewa? Simeon akhirnya mendapatkan janji Tuhan. Simeon mendapat hak istimewa dari Tuhan. Bagi Simeon bayi kecil di gendongannya bukanlah bayi biasa. Roma 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Dan dilanjutkan pada Roma 8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Simeon sudah melihat keselamatan dan rela melepaskan semua itu.

                Bagaimana kita mengisi Natal dan tahun baru ini? Saya bersyukur pernah tinggal di Ethiopia. Suasana Natal di sini berbeda dengan di sana. Di sini tanggal untuk memperingati Natal dekat dengan tahun baru. Di Ethiopia, Natal jatuh tanggal 7 Januari (setelah tahun baru). Karena sistem penanggalan di Ethiopia berbeda dengan kita. Kita sekarang sudah hampir memasuki tahun  2017 , sedangkan di sana masih 2009. Maka bila ada yang khawatir usia bertambah bisa pergi ke sana karena 8 tahun lebih muda. Penanggalannya berbeda karena tahun baru di Ethiopia jatuhnya tanggal 11 September. Setelah itu baru Natal 7 Januari. Saya memaknai Natal yang berbeda dengan kita. Pada perayaan Natal di kita , begitu banyak uang yang dihamburkan dan disia-siakan, sedangkan tahun barunya di sana jauh (berjarak 3 bulan lebih). Saat malam natal di sana, jemaat berkumpul untuk mengadakan ibadah dari pk 24 – pk 03 pagi. Setelah pk 3 mereka melayani satu dengan yang lain dengan saling mencuci kaki. Di sini ada tindakan yang luar biasa. Hakikat Natal di Ethiopia adalah saling melayani. Maka melalui renungan Lukas 2:25-35 saya mengajak agar kita memaknai Natal secara berbeda : kepada siapa saya harus melayani? Siapa yang telah saya lupakan dan belum layani? Saya mau pergi dan melayani mereka. Simeon mendapat anugerah besar dari Allah. Dari tahun 2003-2005 saya mengucap syukur karena diberi kesempatan untuk melayani paduan suara  kaum tunanetra di Semarang . Saya menjadi pelatihnya. Itu pelayanan yang luar biasa agar saya punya memiliki hati gembala. Saya justru banyak dilayani oleh anggota paduan suara Efrata di Semarang. Tiap Jumat semua anggota paduan suara berkumpul. Ada saja anggota yang membagikan kisah sukacita maupun sedih. Kalau saya mengeluh dan merasa tidak ada pengharapan dan pertolongan mereka hadirkan melalui paduan suara Efrata. Bagaimana kita pulang menjelang Natal di tahun 2016 ini?

                Hidup kita sebenarnya hanya sementara saja. Kita punya kelengkapan hidup yang hebat dan normal, namun itu hanya sementara. Sewaktu kecil, kita menjadi orang yang ‘disable’ dan membutuhkan orang lain untuk memapah, menolong dan membesarkan kita. Sebentar lagi sebagian dari kita memasuki usia seniordan memasuki era di mana kita akan mengalami permanent disable. Itu berarti kemampuan dan normalitas saya sebentar lagi akan hilang dan juga kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Sebentar lagi saya kehilangan pandangan saya dan  kabur. Kita tidak bisa lagi berjalan secepat sekarang dan suka sakit-sakitan. Kapan waktunya? Saya tidak tahu. Menghayati kehidupan seperti ini dan berefleksi seperti Simeon : Apa yang sudah kita kerjakan untuk orang yang sudah lama dilupakan banyak orang? Marilah kita pulang dan kiranya dibimbing oleh Tuhan . Temukan orang yang  dekat dengan diri kita dan mungkin kita lupa melayani mereka. Tahun 2006, tahun kedua saya tidak berada bersama ibuda yang dipanggil Oktober 2005. Kalau saya pulang dari studi di Amerika, Ibu saya ingin melihat ijazah dan sertifikat saya dari luar negeri. Tetapi kehendak Tuhan berkata lain. Ibu saya belum sempat melihat ijazah saya. Tetapi saya mengucap syukur tahun lalu, penantian saya untuk kembali melihat ibunda diberi waktu bersama 1 bulan Tuhan penuhi. Waktu saya mau pergi ke luar negeri. Ibu saya menderita sakit gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah. Saya pergi ke luar negeri dengan berat hati, tapi ia yakinkan,”Kamu harus pergi karena Ibu masih punya saudara dan teman yang bisa menjaga Ibu . Ketika di luar negeri saya berjanji untuk menyelesaikan studi dengan baik. September lalu saya pulang dan pada bulan Oktober saya sudah punya rencana,”Sebentar lagi Natal dan saya akan merayakan Natal bersama Ibu.” Tetapi Tuhan memanggil dia. Sebelum kita kehilangan orang yang kita kasihi, kita ingat mereka sekali lagi. Sebagai gereja yang dibesarkan Tuhan, mari kita lihat adakah orang yang dilupakan, yang merupakan soko guru dan tiang gereja dan yang menjadi kekuatan gereja ini. Bila ada orang yang tidak punya memiliki keluarga dan kita tergerak menolong mereka, mari nyatakan cinta kasih kita kepada mereka. Mari melayani mereka yang dilupakan masyarakat, Mari sekarang waktunya untuk menjadi terang Allah di dunia yang kehilangan pengharapan ini. Jika kita memiliki keyakinan bahwa Kristus yang  paling berharga dan terutama, maka kita datang seperti Kristus sudah datang kepada kita dan berkata, “Tuhan aku sudah melihat keselamatan Mu dan menjadi saksiMu demi namaMu” dan kiranya di akhir zaman Dia berkata,”Selamat datang hambaKu yang  baik dan setia.” Amin.


Pudarkah Harapanmu?


Pdt. Hery Kwok

Amsal 18:14 Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?
Yesaya 40:29  Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.
Habakuk 1:2-3, 6-7, 3:17-19
2  Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?
3  Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.
6  Sebab, sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka.
7  Bangsa itu dahsyat dan menakutkan; keadilannya dan keluhurannya berasal dari padanya sendiri.
17  Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
18  namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
19  ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

Pendahuluan

                Penulis kitab Amsal mencatat pada Amsal 18:14 bahwa Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?? Pasangan hidup, anak, keluarga, teman? Tidak ada yang dapat melakukannya! Ibarat kayu yang patah, maka sulit menyambungnya kembali. Demikian pula semangat yang sudah menguap. Pada tahun baru ini, bila punya semangat, maka kita bisa menanggung semua hal selama  365 hari x 24 jam! Kalau tidak ada, akan sulit. Selanjutnya Yesaya menulis dalam Yesaya 40:29  Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Amsal 18:14 dan Yesaya 40:29 merupakan dua ayat yang bertalian. Bagi orang yang semangat patah, maka akan  susah dipulihkan. Namun untuk orang-orang yang memiliki pengharapan kepada Tuhan, maka Dia akan memberikan kekuatan bila mereka lelah dan tiada berdaya.

                Di kelas pra-remaja  (kelas untuk anak-anak yang telah melewati Sekolah Minggu namun belum sesuai ke persekutuan remaja) tanggal 23 Desember kemarin, saya ditelpon oleh seorang rekan hamba Tuhan (penginjil) yang bertanya apakah ada jemaat GKKK Mangga Besar yang bisa membantunya untuk main keyboard mengiringi musik pada ibadah kedukaan seorang jemaat GKK (Gereja Kristus Ketapang) yang telah meninggal. Jemaat GKKK Mabes (200 orang) yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding jemaat GKK (sekitar 2.000 orang) tentu tidak memiliki pemain musik sebanyak mereka. Sehingga tidak ada pemusik yang bisa membantu karena semuanya sibuk mengikuti gladi-resik. Rupanya yang meninggal adalah salah satu anggota keluarga dari pemilik pabrik pakaian merk BOSS dan usianya ‘baru’ 49 tahun. Hal ini mengejutkan karena usia ini tergolong muda apalagi ia rutin melakukan general check-up dan sudah memesan tiket untuk liburan. Alasan meninggalnya tidak ditahui pasti karena hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia selama ini sehat. Namun ternyata ia tidak bisa memasuki tahun 2017. 3 hari sebelumnya juga ada seorang rekan pelayanan di GKK yang usianya 53 tahun yang meninggal saat ia menapaki tangga ke ruang kantornya. Tinggal tersisa 3 anak tangga sampai ke ruang kantornya namun tidak tercapai karena ia keburu meninggal dalam posisi jatuh terduduk. Jadi kalau kita bisa masuk tahun 2017, hal ini bukan terjadi secara kebetulan namun merupakan anugerah Allah semata.

                Saat saya mengikuti ibadah tutup tahun di GRII, Pdt Stephen Tong menyampaikan bahwa kita diberikan dua buah harta oleh Tuhan. Yang pertama adalah waktu yang merupakan harta terbesar, namun kita sering tidak menggunakannya dengan baik. Berbeda dengan orang sukses yang dapat menggunakan harta ini. Yang kedua adalah tempat (di mana kita berada, di situ kita berkarya). Memasuki tahun 2017 , kita diberikan waktu untuk kita berjuang dan tempat di mana kita menjalani hidup kita. Saat memasuki tahun 2017, kit melakukannya dengan harapan dan keberanian apa? Ini pertanyaan yang penting karena ada orang yang bisa masuk tahun 2017 namun belum tentu memiliki kekuatan dan semangat seperti yang dikatakan oleh penulis kitab Amsal.

Apa yang dicari orang saat menjelang pergantian tahun?

Ramalan! Banyak artikel yang menyampaikan hal-hal yang harus menjadi perhatian saat memasuki tahun 2017 (tahun ayam). Bagaimana dengan ramalan di tahun ayam? Mengapa orang mencari-cari “sesuatu yang akan terjadi pada tahun depan”? Karena ia ingin memiliki HARAPAN. Ada sesuatu yang ingin didapat, dan hal itu membuatnya bersemangat. Semangat ibarat bahan bakar yang membuat seseorang berusaha sekuat tenaga seperti yang dikatakan oleh penulis kitab Amsal (bila ada semangat, sesusah apapun hidupnya bisa dihadapi). Sehingga saat memasuki 2017, ada orang-orang yang dengan serius mencari tahu hal-hal yang akan terjadi pada tahun 2017, agar punya semangat dan kekuatan untuk berusaha. Tanpa harapan kita tidak punya kemampuan menghadapinya.

Bagaimana kita bisa mendapatkan harapan?

1.    Faktor eksternal (faktor dari luar diri kita)

Sewaktu kita datang untuk melakukan general check-up, bila dokter yang membaca hasilnya mengernyitkan alis maka walau belum disampaikan secara lisan oleh sang dokter membuat hati kita menjadi was-was.  Lalu ia mengatakan, “Setelah saya melihat hasil check-up dengan berat hati saya sampaikan bahwa saudara terkena kanker stadium 4.” Apa tanggapan kita? Harapan kita memasuki tahun 2017  menjadi hancur setelah sang dokter memberitahukan hasil pemeriksaan kesehatan kita. Namun ternyata beberapa hari kemudian, Sang Dokter menelpon dan mengabarkan, “Maaf itu hasil pemeriksaan orang lain sedangkan hasil pemeriksaan anda  bagus.” maka kita akan merasakan kelegaan dan langsung mengeluarkan kalimat “Puji Tuhan” karena faktor eksternal yang kedua ini membuat kita bersemangat lagi. Waktu divonis menderita kanker tahap terakhir, dunia seperti runtuh,  suram dan langit seperti tembaga yang keras. Apalagi membayangkan anak kita masih kecil, istri tidak bekerja, orang tua hidupnya tergantung kita, kalimat “kanker stadium 4” bisa menggocangkan kita. Melihat dunia yang akan kita jalani pada tahun 2017 dengan mengikuti dan melihat faktor eksternal sepertinya tidak mudah. Kemarin saat mengikuti doa syafaat di GRII pokok doanya hanya dua yaitu terkait dengan politik. Walau hanya dua, tetapi doanya berlangsung lama sekali. Kondisi politiknya sulit dan membuat hati dag-dig-dug sehingga membuat pengusaha bersikap wait and see. Saat dunia yang dihadapi mengalami halangan dan gangguan dari faktor eksternal , membuat harapan kita padam. Sepertinya tidak ada faktor eksternal yang membuat kita punya harapan.

2.    Faktor internal (faktor dari dalam diri kita).

Ada sebuah buku menarik yang mencoba memberikan masukan kepada pembacanya tentang pergumulan penulisnya (orang Perancis) yang mengambil bagian pada Perang Dunia Pertama dalam menaklukkan rasa khawatir. Hal yang tidak mudah diatasi. Dia menulis resep untuk menaklukan rawa khawatir yang ditemukan dalam saku bajunya setelah ia meninggal dunia. Dia mengatakan,”Ada hal yang pasti terjadi, entah ditempatkan di garis terdepan atau ditugaskan di gugus belakang yang paling aman. Pasti terjadi di antara keduanya, jadi terima saja. Di antara kedua hal itu, hanya ada 1 yang pasti terjadi. Jika menghadapi bahaya hanya 2 kemungkinan yang terjadi : entah saudara terluka atau anda sama sekali tidak terluka. Jika terluka ada 2 kemungkinan tapi 1 hal yang pasti terjadi : anda pulih kembali atau anda mati. Jadi mau bicara apa? Kesimpulan : jika kamu pulih maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi. Sebaliknya bila saudara mati, maka saudara tidak punya khawatir lagi.” ‘Resep’ itu menjadi rahasia dia bertahan di medan tempur. Faktor internal ini banyak diajarkan oleh para motivator sekarang ini. Kalimat motivasi seperti ini sering lebih menggerakan daripada firman Tuhan. Faktor dimana kita berfikir positif menjadi kekuatan menghadapi masalah. Sepertinya hal ini baik, menarik dan mempunyai solusi saat menghadapi kesulitan tanpa harapan. Kalimat yang disampaikan seorang motivator yang hebat berindikasi harus menang (tidak akan kalah). Faktor ini membuat kita seperti menjadi Tuhan. Ini berbahaya karena gerakan dari orang yang memotivasi hanya berdasarkan pemikiran  (logika)  yang memang masuk akal lalu membentengi diri dengan kekuatan dari dalam. Ini tidak baik. Ini ibarat kita menjadi Tuhan atas diri kita.

3.    Faktor iman.

Habakuk 1:2 mengatakan  Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: "Penindasan!" tetapi tidak Kautolong?  Hal ini mengindikasikan adanya pergumulan yang dihadapi penulis kitab Habakuk. Ia berada di tempat , kondisi dan waktu dimana kesusahan menghampirinya. Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi (Habakuk 1:3). Kalimat ini memberitahukan kita tentang adanya pergumulan iman dari penulisnya.  Faktor iman mungkin bisa keliru. Orang percaya, termasuk Habakuk, sepertinya melihat kesulitan : mengapa sudah percaya kepada Tuhan tetapi mengalami kelaliman dan seperti tidak ada jalan keluar?  Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang (Hab 3:17). Penulis kitab Habakuk tengah mengalami kesulitan dan pergumulan. Dalam kondisi sekarang pergumulannya mungkin berupa : “mengapa sampai saat ini tidak dapat pekerjaan, mengapa suami tidak diubahkan, mengapa istri makin cerewet” walau kita sudah beriman. Orang yang berkata dengan iman  mungkin punya konsep iman yang keliru. Kita menganggap Tuhan seperti sarana yang dibutuhkan. Kalau kita menghadapi masalah , Ia harus menjawabnya. Ini konsep yang keliru. Di talent fair Januari 2017 akan  dikumpulkan orang-orang yang ingin mendedikasikan talenta-nya buat Tuhan. Mungkin ada yang bisa menjadi pembesuk orang sakit. Biasanya saat dibesuk, orang yang menderita sakit ada yang berkata ‘kalau sembuh mau melayani Tuhan dan pergi ke gereja’. Ini kalimat yang sering diucapkan. Ini doa atau ungkapan, kalau saya mau beriman harus begitu. Kitab Habakuk melihat kekejaman dalam kacamata seperti itu. Orang Kristen yang memiliki pandangan seperti Habakuk keliru. Kita melihat Tuhan sebagai sarana untuk mencapai kemauan. Kalau hal ini terjadi maka harapan orang Kristen sama seperti harapan orang dunia. Dengan merenungi kitab Habakuk, orang yang tengah menggumuli iman saat menghadapi tantangan dan masalah yang berat, apakah kita akan beriman seperti itu atau tidak. Walaupun dalihnya iman dan sudah percaya Kristus tapi bisa jadi kita menempatkan Dia menjadi sarana saat kita bermasalah. Tuhan bukannya menjadi fokus. Seharusnya kita menyadari bahwa Ia adalah sasaran dan Ia baik.

Pada Ayat 17 Habakuk berkata, sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah , hasil pohon zaitun mengecewakan dan ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan. Ia menyampaikan hal-hal yang sulit. Gara-gara orang Kasdim , orang yang saat itu berkuasa secara tidak adil, maka pohon zaitun tidak ada dan binatang terhalau dari kandang yang berarti kondisinya tetap sulit.  Ayat 18  namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. Dalam kondisi sulit ternyata Habakuk bisa tetap semangat, memiliki harapan dan bersorak-sorai. Inilah Habakuk yang imannya berproses hingga ia mengenal Allah dalam kebenaranNya dan ia yakin bahwa Tuhan tetap baik (Akulah yang hari ini dan besok yang tidak berubah). Yesus yang tidak berubah dan yang memberi jaminan untuk kita terus berfokus padanya. Proses iman ke Tuhan itu perlu waktu dalam segala hal dan Ia tetap Tuhan yang baik. Sifat dan tindakanNya tetap baik. Di situlah Habakuk punya pergumulan iman yang baik.

Penutup


Mari di tahun 2017 kita mempunyai komitmen untuk (lebih) mengenal Tuhan agar dalam proses yang dijalani iman kita bisa bertumbuh. Kalau tidak, kita sama dengan orang dunia, hanya kita berjubah iman, yang bila permohonannya dijawab akan menjadi sukacita, namun bila tidak dijawab merengut. Bila keinginannya dikabulkan senang, bila tidak akan ngambek. Iman sejati kita seharusnya mengenal Kristus yang tidak berubah dan segalaNya baik. Sehingga apapun yang sedang terjadi dihadapi dengan harapan dan iman yang tidak goyah. Harapan yang pudar bisa berubah menjadi baik sewaktu kita berani diproses oleh Tuhan. Berproses dalam mengenal Tuhan , ingin mengetahui kebaikan Tuhan dan merasakan segala perjalanan hidup yang hebat bersamaNya. Kalau itu menjadi bagian dan pengalaman yang hebat, maka kita akan menjadi jemaat yang kokoh dan kuat. Gereja kita ingin bertumbuh dalam pengenalan terhadap Tuhan. Untuk itu kita perlu berproses dan dengan setia membaca Kitab Suci , melayani dan beribadah dengan baik. Kiranya kita dimampukan Tuhan untuk memiliki keberanian berjalan bersama Tuhan untuk lebih mengenalNya. Kalau hanya bergantung pada faktor eksternal dan internal saja, kita akan sulit. Nabi Yesaya memberikan semangat pada orang yang sungguh-sungguh bergantung padaNya. Disitulah harapan menjadi kuat. 

Hidup Hanya Untuk Hari Ini


Ev. Susan Kwok

Yos 24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"
1 Raja-Raja 15:3 Abiam hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, moyangnya.
1 Raja-Raja 15:11-13
11  Asa melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya.
12  Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya.
13  Bahkan ia memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron.
1 Raja-Raja 22:41-43
41 Yosafat, anak Asa, menjadi raja atas Yehuda dalam tahun keempat zaman Ahab, raja Israel.
42  Yosafat berumur tiga puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh lima tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Azuba, anak Silhi.
43  Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN.
2 Tim 1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Pendahuluan

                Yang dimaksud kalimat pada tema kali ini “Hidup Hanya untuk Hari Ini”  sebenarnya merupakan kalimat sindiran atau  peringatan untuk mengevaluasi diri : apakah kita adalah orang-orang yang hanya memikirkan hidup sebatas hari ini saja? Tema ini sebaliknya hendak mengingatkan bahwa kita harus mempersiapkan hari-hari mendatang dan generasi-generasi penerus kita. Ini bukan pekerjaan mudah. Hanya dengan pertolongan Tuhan kita dapat melakukannya. Tema GKKK Mabes 2017 adalah generasi yang sehat dan kuat. Siapakah generasi itu? Dia adalah anak-anak kita. Dia adalah anak-anak didik kita. Dia adalah orang-orang yang bekerja dan melayani bersama-sama kita. Mereka adalah orang-orang yang hidup bersama kita dan suatu hari akan menggantikan kita. Apa yang akan kita persiapkan untuk mereka? Pondasi apa yang akan kita tanamkan untuk mereka? Apa dasar yang kuat, teguh dan kokoh yang kita tanamkan untuk mereka? Dalam hal iman, kehidupan sosial, moral, pekerjaan, mental yang baik, apa yang kita tanamkan? Apa pengaruh yang kita berikan? Oleh karena itu kita mau melihatnya dari Alkitab dan belajar dari sejarah yang ada di dalamnya.

Yosua : Teladan dalam Mengikut Allah bersama keluarganya serta Menyaksikannya.

                Yosua adalah orang muda yang mempertahankan imannya sampai tua. Dia memimpin suatu bangsa yang tidak mudah ditangani. Suatu bangsa yang selalu ingin hidup seenaknya sendiri. Berkali-kali Yosua harus mengingatkan orang-orang ini. Sampai kemudian dia menjadi tua dan akan meninggal. Sebelum meninggal ia mengeluarkan kalimat yang tertera pada Yos 24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"  Ia memberikan suatu tantangan dan pilihan pada umat Israel. Kamu mau beribadah pada Allah siapa : allah orang Amori , allah bangsa lainnya atau kepada Allah orang Israel? Israel harus membuat suatu  keputusan untuk dirinya sendiri, karena iman tidak bisa ikut-ikutan (hanya meniru-niru saja), tetapi iman itu harus diputuskan dari dalam diri sendiri. Sama seperti kalau mempunyai anak, kita tidak bisa memutuskan iman anak kita harus kepada siapa demikian juga Yosua tidak bisa memutuskan iman bangsa Israel. Namun dia melakukan hal-hal untuk memberikan pondasi selama perjalanan hidupnya agar umat Israel bisa melihat dan dapat memberikan hatinya kepada Allah. Jadi Yosua memberikan teladan hidup. Ia memberikan contoh dan model bagaimana dan seperti apa orang yang takut akan Tuhan (lihat diriku, perbuatanku dan kata-kataku). Inilah contoh orang yang percaya pada Tuhan. Pada suatu hari Yosua berharap orang Israel memilih Tuhan sebagai Allah orang Israel. Demikian pula kita harapkan anak –anak kita memilih iman kepercayaan yang tepat dengan menjadi model atau contoh (teladan).

Yang kedua yang dilakukan Yosua adalah  walaupun ia memberikan pilihan pada Israel tetapi dengan tegas ia menyatakan kepada bangsa Israel bahwa pilihanku adalah kepada Allah. Ketegasan ini harus nyata dalam diri Yosua. Sebagai seorang pemimpin, senior dan  orang tua biasanya diikuti oleh yang lebih muda, sehingga Yosua mengatakan “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!". Itu yang harus kita lakukan kepada keluarga kita. Meskipun tidak bisa mengambil keputusan bagi anak-cucu kita untuk percaya, tapi dengan teladan kita menunjukkan pilihan kita. Itu sebabnya Yosua menjadi tokoh iman yang luar biasa bagi bangsa Israel. Ia mempersiapkan generasi Israel dalam masa sukar untuk memilih Allah yang benar.

Asa : Pengaruh Orang Tua Penting Pada Anak-Anaknya

Yang kedua lihat 1 Raja-Raja 15:3 Abiam hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, moyangnya. Salah seorang putra Raja Daud adalah Salomo yang punya kemudian berputra Rehabeam. Selanjutnya Rehabeam mempunyai anak yang bernama Abiam. Daud sangat terkenal akan hatinya yang lembut sehingga kalau dia berbuat dosa dan ditegur Allah, langsung ia bertobat. Sebagai orang tua Daud pasti telah mengajarkan anak-anaknya bagaimana ia hidup di hadapan Allah. Tetapi beberapa anak dari beberapa istrinya ada yang ikut dan ada juga yang tidak ikut jalan Tuhan. Anaknya Salomo pada awalnya sangat mencintai Tuhan. Waktu Salomo ditanya olehTuhan, “Kamu mau meminta apa Salomo? Kamu meminta apa saja akan Saya kasih.” Suatu kali kalau Tuhan datang dan bertanya kepada kita,”Kamu mau minta apa?” Pasti ada yang mau ini, ada yang mau itu. Namun permintaan Salomo berbeda. Ia berkata,”Tuhan saya tidak minta uang yang banyak dan umur yang panjang.” Keduanya merupakan hal yang kalau ditanya menjadi jawaban banyak orang : “Tuhan aku mau umur panjang, sehat , makmur, kaya serta uangnya banyak”. Tetapi Salomo berkata,”Tuhan aku tidak minta uang dan umur panjang. Ya Tuhan jadikan aku orang yang bijaksana dan berhikmat.” Diminta keduanya karena dengan hikmat dan bijaksana ia akan bisa memimpin kerajaan dan keluarga dengan baik. Bila punya uang tapi tidak bijaksana maka kerajaan atau keluarga bisa bubar. Punya usia panjang, tetapi tidak pintar dan bijakasana, juga bisa bubar. Tetapi bila berhikmat dan bijaksana bisa berusia panjang dan langgeng kerajaan dan keluarganya. Sayangnya Salomo jatuh dalam dosa seks. Ia memperistri orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan, sehingga hatinya berubah kepada Tuhan. Akhirnya kejahatan demi kejahatan dia mulai lakukan. Itu yang dia perlihatkan kepada anak-anaknya. Anak-anaknya mencontoh apa yang telah diperbuatnya. Sehingga Rehabeam menjadi anak yang jahat.  Demikian pula dengan Abiam, anaknya Rehabeam yang ternyata juga jahat. Jadi dua generasi di bawah Salomo adalah raja yang jahat. Rehabeam dan Abiam membawa bangsa Israel menjadi bangsa yang jahat juga, tetapi anugerah Tuhan ada untuk bangsa Israel.

1 Raja-Raja 15:11-13  Asa melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya.  Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya.  Bahkan ia memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron. Siapa Raja Asa? Asa adalah anak dari Abiam. Allah melindungi Bangsa Israel. Ketika menggantikan Abiam, Asa banyak melakukan reformasi (perubahan). Yang pertama, Ia menghapus pelacuran bakti yakni persetubuhan yang diijinkan dilakukan oleh kepada siapapun dan dianggap sebagai persembahan kepada dewa.  Hal ini seperti yang terjadi beberapa puluh tahun lalu di mana dunia kekristenan digegerkan oleh satu bentuk agama yang membolehkan orang yang selesai ibadah melakukan hubungan seks dengan siapa pun, karena itu dianggap sebagai salah satu bentuk liturgi penyembahan. Betapa jahat yang dilakukan manusia dengan begitu bebas melakukan hubungan seks. Itu sebabnya ketika Asa menjadi raja ia bertekad menghapus pelacuran bakti. Nenek kandungnya sendiri kemudian dipecat sebagai ibu suri karena ia membangun patung Asyera. Apakah Asa kurang ajar? Bukan! Hal ini dilakukan karena neneknya kurang ajar kepada Tuhan yang telah membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir sehingga Asa memecatnya.
Asa memiliki seorang anak yang juga seorang reformator alias  pembawa pembaharuan. 1 Raja-Raja 22:41-43 Yosafat, anak Asa, menjadi raja atas Yehuda dalam tahun keempat zaman Ahab, raja Israel. Yosafat berumur tiga puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh lima tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Azuba, anak Silhi.  Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Asa seorang reformator yang melahirkan anak yang juga melakukan pembaharuan. Ia melakukan apa yang benar seperti ayahnya. Tadi Abiam juga melakukan apa yang jahat seperti ayahnya. Hal ini berarti apa? Berarti orang tua mempunyai pengaruh penting terhadap anaknya seperti apa di masa depannya. Tentu hal ini bukan bermaksud menyalahkan orang tua seratus persen, karena ada faktor lain yang juga mempengaruhi perkembangan anak seperti media dan lingkungan (pergaulan). Namun yang penting sebagai orang tua, kita  harus  mengevaluasi diri apakah kita sudah menjadi orang tua dan memberi contoh yang baik. Kita tidak bisa mengawasi anak 24 jam, tidak menutup gelombang perkembangan teknologi, namun yang dilakukan di dalam rumah sendiri atau saat sedang berada bersama, maka saat itu kita bertanggung jawab atas anak-cucu kita.

Timotius : Pengaruh dari Ibu dan Nenek

                2 Tim 1:5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.
Rasul Paulus sangat menghormati , sangat bangga dan bersyukur akan ibu dari Timotius. Kemungkinan ayah Timotius sudah meninggal sehingga tidak dibicarakan pada nats ini. Pengaruh nenek dan ibu membuat Timotius mempunyai dasar yang kuat sebagai seorang anak. Sehingga ketika Timotius bertemu Rasul Paulus ,seorang profesor yang hebat di bidang teologi, maka Timotius bisa terasah dengan baik.

Tanpa pondasi yang baik, generasi mendatang jadi tidak baik

Raja, orang tua,  pemimpin yang hidup hanya untuk hari ini (tidak pikir panjang untuk masa depan), mereka akan mencetak generasi-generasi yang tidak baik. Tetapi orang tua, pemimpin dan generasi yang takut akan Tuhan akan memikirkan bagaimana hidup generasi ke depan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah memberikan pondasi yang kuat untuk generasi penerus kita supaya nanti mereka lebih baik dari kita? Ada 2 jenis pekerjaan yang sangat menyadari pentingnya regenerasi (kelanjutan pekerjaan). Yang pertama adalah orang yang berkecimpung dalam dunia bisnis dan yang kedua adalah orang yang berkecimpung dalam politik. Orang yang berkecimpung dalam bisnis, apalagi bisnis keluarga, maka ia sebisa mungkin mendidik generasi penerusnya agar hartanya tidak beralih. Segala macam cara dilakukan. Bagi anak berasal dari keluarga yang sangat kaya, sebelum penikahan dibuat perjanjian pra nikah. Untuk berjaga-jaga agar kalau orang tuanya meninggal atau bercerai maka hartanya tidak jatuh ke tangan orang lain. Kalau Di Indonesia dikenal sebagai harta gono-gini. Misalnya : pengusaha sepatu. Bila usaha sepatunya sudah berkembang  dan merambah ke seluruh dunia, maka ia ingin anaknya yang meneruskan dan berharap anaknya jauh lebih berkembang. Anaknya akan dididik segala hal tentang sepatu. Supaya anaknya ini bisa menggantinya. Demikian juga dengan seorang politikus. Politikus identik dengan dunia kotor walaupun tidak semuanya kotor. Orang tua yang berkecimpung dalam dunia politik akan mencoba mewariskan pengetahuan kepada anaknya dengan tujuan, minimal kalau sudah tidak menjabat lagi maka kekayaan dan kesalahan saya tidak dikutak-katik. Itu sering terjadi di negara kita. Pengusaha dan politikus sangat mementingkan regenerasi. Bagaimana dengan keluarga dan gereja kita? Bagaimana kita mempersiapkan (menganggap penting) iman dalam hal regenerasi ini?
                Ada seorang teman yang tahun lalu anak perempuan satu-satunya yang pintar sekali ternyata jatuh cinta pada seorang supir taksi. Bukan masalah pada pekerjaan supir taksi. Masalahnya : ayahnya yang aktifis gereja serius dalam pelayanan. Anaknya juga serius dalam pelayanan. Namun begitu cinta datang maka tahi  kucing terasa coklat (irasional, tidak masuk akal, otaknya tidak jalan). Dia sudah seperti lupa akan Tuhan yang sudah menyelamatkannya dan lupa pada pelayanan yang sudah diambil. Dia mulai pakai ATM dengan limit yang tidak kira-kira. Papanya tahunya ia kuliah tetapi ternyata ia tidak kuliah dan ia pergi jalan dengan cowonya. Suatu kali ia pergi dan tidak pulang-pulang. Papanya bingung , telepon tidak diangkat-angkat. Tetapi tagihan kartu kredit jalan terus. Akhirnya oleh bapaknya diblokir. Ternyata ia berada di salah satu pelosok terpencil di Sukabumi , mereka hidup bersama. Pasangannya muslim dan jelas ia tidak ke gereja. Papanya coba cari dengan membawa pendeta, malah pendetanya mau dipukul oleh cowonya. Akhirnya papanya marah besar dan memutuskan hubungan. Beberapa bulan kemudian, ia mendengar kabar, anaknya sudah hamil 6 bulan. Tambah pusing papanya. Masing-masing orang harus punya keputusan sendiri. Orang tua memberikan pondasi tetapi anak harus memutuskan sendiri. Jangan bilang itu ujian dari Tuhan. Bukan, itu penyakit yang dicari sendiri.
Contoh kedua. Seorang teman meminta tolong, karena suaminya sedang tergila-gila. Awalnya saya pikir gila judi ternyata gila perempuan. Mereka sebenarnya sudah punya anak. Tetapi ia tergila-gila pada seorang perempuan muda yang jauh beda usianya. Apa yang terjadi? Siapa perempuan muda itu? Saya waktu mendengarnya terkejut. Sebagai hamba Tuhan saya juga merasa ditampar. Ternyata anak perempuan itu adalah anak dari pendeta. Saya tidak salahkan bapaknya yang tidak saya kenal. Ternyata sang bapak, istrinya lebih dari 1 alias ada 3 tetapi bisa jadi pendeta. Buat malu saja. Perempuan masih muda anak pendeta, ternyata pendeta itu punya istri 3. Kita sebagai orang Kristen malu. Saya sebagai hamba Tuhan merasa malu. Apa kata Tuhan itu yang penting. Tidak mau berpikir, mereka berdua hanya hidup untuk hari ini, kesenangan hari ini, kepuasan hari ini. Tidak berpikir anak-cucu dan bagaimana nantinya. Kalau dengan gereja bagaimana?
Saya punya pengalaman tidak enak berkaitan dengan gereja. Lebih dari 10 tahun lalu, ketika terjadi peralihan pimpinan, pemimpin sebelumnya tidak dipersiapkan oleh gereja untuk menerima saya yang lebih muda. Semua yang saya lakukan dianggap salah. Kemudian terjadi sedikit permasalahan di tengah jemaat. Karena jemaat merasa bahwa kehadiran saya untuk meniadakan pelayanan si Bapak Tua itu. Waktu itu usia saya masih cukup muda dan mengikuti emosi anak muda. Saya langsung marah dan langsung berkata, “Kalau memang begitu, hari ini juga saya berhenti. Saya tidak mau gereja ribut.” Akhirnya setelah beberapa hari, saya seperti ditegur oleh Tuhan. Mengapa kamu pakai emosi seperti itu? Coba adakan pertemuan dengan pusat. Akhirnya diadakan pertemuan dengan pusat dan semua hamba Tuhan hadir dan bicara. Semua dibukakan dan diketahui bahwa regenerasi di dalam gereja tidak disiapkan dengan baik. Peralihan kepemimpinan tidak dipersiapkan dengan baik. Orang yang akan diganti dan akan mengganti tidak diberitahu dengan baik. Akhirnya saya menangis karena kesal, sedih dan kecewa. Tiba-tiba hamba Tuhan itu menangis juga dengan suara kencang. Saya sampai terkejut. Yang membuat saya kaget , dia menghampiri saya dan memeluk saya seakan-akan saya anaknya. Langsung kemarahan dan kekecewaan saya hilang. Saya menyesal mengapa saya marah-marah dengan dia. Sesudah itu pelayanan jadi indah karena saling mendukung satu dengan lain. Itu regenerasi yang baik.

Penutup


Bagaimana dengan jemaat GKKK Mabes? Bulan Januari 2017 di pelataran parkir digelar acara talent fair yakni pameran talenta (pelayanan) yang bertujuan untuk mencari dan mempersiapkan kader agar pergantian pelayanan berjalan mulus (tidak terjadi kepincangan dalam usia). Contoh : pelatih paduan suara Hosana ,Sung shimu, sudah harus berpikir bahwa  tidak selamanya shi mu bisa hidup dan memimpin latihan paduan suara. Siapa penerusnya di paduan suara Hosana. Sehingga Sung shi mu harus mempersiapkan pelatih yang lebih muda untuk mengambil alih tugasnya. Pengganti anggota paduan suara Hosana juga perlu disiapkan. Suatu kali anggota paduan suara Jubilate (paduan suara anak muda)  akan menjadi tua dan menggantikan asuk-asuk di Hosana. Anggota Jubilate harus mempersiapkan anak-anak remaja di bawahnya. Sedangkan para remaja akan meninggalkan masa remaja dan menjadi anggota Jubilate. Anak-anak sekolah minggu akan menggantikan remaja. Talent fair untuk segala usia. Majelis dan rohaniawan memikirkan harus ada regenerasi yang baik di GKKK Mabes. Gereja ini tidak boleh berjalan secara tidak jelas urutan dan tujuannya. Itu sebabnya saat ini saya bersusah-susah dalam mengikuti kuliah bahasa Mandarin. Saya baru tahu kata ‘de’ ada 3 macam. De yang harus ada di belakang kata benda, kata kerja dan di belakang menyusul kata kerja. Supaya tidak salah dalam hal pemakaian dan terutama dalam tulisan. Kita harus ada regenerasi juga dalam hal pemusik (termasuk pianis) dan pengurus sound system harus mendidik juniornya. Siapa yang harus menggantikan mereka? Pengertian regenerasi tidak boleh terbalik, di mana yang tua menggantikan yang muda. Gereja bisa saja berpikir tidak perlu pusing tentang penyanyi, pemusik, sound system, operator LCD karena untuk menggantikannya dengan menyewa orang. Tetapi itu hal yang paling jelek yang bisa dilakukan oleh gereja. Kalau sudah begitu, gereja tidak berdiri di atas kaki jemaat melainkan di atas uang. Suatu kali Tuhan tidak kasih uang, bagaimana gereja mau berjalan bila tidak ada generasi yang disiapkan? Oleh karena itu hidup hanya untuk hari ini adalah hidup yang mempersiapkan generasi dalam segala hal. Amin.

Sunday, December 11, 2016

Tak Mengerti Tapi Percaya


Pdt. Mee Fang Njoo

Mat 1:1-17
1   Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
2  Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,
3 Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram,
4  Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon,
5  Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai,
6  Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,
7  Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa,
8  Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia,
9  Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia,
10  Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia,
11  Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel.
12 Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel,
13  Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor,
14  Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud,
15  Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub,
16  Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
17  Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.

Luk 3:23,38
23  Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli,
38  anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah.

Wahyu 22:20-21 Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: "Ya, Aku datang segera!" Amin, datanglah, Tuhan Yesus! Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin.

Pendahuluan

                Cukup banyak jemaat yang bila terlambat datang ke gereja tidak merasa bersalah, namun kalau menonton film di bioskop tidak mau terlambat. Mengapa? Karena banyak orang mengatakan bahwa  bila menonton di bioskop tidak tahu awalnya maka akan kehilangan ceritanya. Jadi jangan sampai terlambat , karena pembukaan itu sangat penting.  Sedangkan kalau ke gereja, pembukaan dianggap tidak penting, padahal pembukaan adalah sesuatu yang sangat penting. Kalau membaca satu buku yang tebal maka sangat baik bila kita membaca semua halaman. Namun kalau waktunya kurang, maka kita akan melewatkan bagian yang tengah karena bagian depan sangat penting. Demikian juga belakangnya karena kita ingin tahu bagaimana akhirnya. Demikian juga pada waktu kita membaca Alkitab. Hari ini kita membaca Matius pasal 1 yang merupakan pembukaan (pasal pertama dari kitab pertama Perjanjian Baru). Jadi bagian ini sangat penting, walaupun terkadang kita sulit mengerti. Maka kita belajar baik-baik maksud dari silsilah Tuhan Yesus ini.

Ada 3 hal yang bisa dipelajari dari silsilah Tuhan Yesus

1.    Yesus adalah Juruselamat Dunia.

Saat Natal, kita sebagai orang Kristen punya kebanggaan karena Natal ini dirayakan hampir di seluruh dunia. Saat piknik ke mana saja, ada hiasan Natal. Itu membuat kita bangga bahwa banyak orang di seluruh dunia merayakan Natal.  Dan hal itu memiliki dasar yang terdapat pada :

-          Kitab Matius yang mengatakan bahwa Yesus adalah anak Daud, anak Abraham (Mat 1:1).
Daud adalah raja Israel. Jadi ketika dikatakan Yesus adalah anak Daud, itu menunjukkan Yesus adalah keturunan Yahudi atau Israel. Memang Yesus lahir sesuai apa yang dinubuatkan di Perjanjian Lama (lahir dari keturunan Daud). Kelahiran Yesus bukan mendadak atau kebetulan lahir sebagai orang Israel. Dia lahir sesuai rencana dan janji Tuhan bahwa Dia adalah keturunan Daud. Jadi Yesus pertama-tama adalah Juruselamat untuk orang Israel tetapi langsung dikatakan Dia sebagai anak Abraham. Abraham dikenal sebagai bapak orang beriman,  jadi lebih luas dari sekedar bangsa Israel. Di sini ditekankan Yesus yang anak Israel adalah anak Abraham yang beriman. Matius dengan indah memulai kitab dengan mengatakan Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham (Matius 1:1). Pada penutupan kitabnya , Matius ‘membuka pintu lebar’ bahwa Kristus harus diberitakan ke seluruh dunia. Jadi sejak mula dikatakan Yesus dari Israel tapi untuk semua orang di dunia ini. Kitab Matius ini pertama-tama ditulis oleh orang Yahudi dan ditujukan untuk orang Yahudi. Di dalam kitab Matius terdapat banyak kalimat yang mengatakan bahwa demikian inilah digenapi Perjanjian Lama.  Jadi meskipun Matius menekankan pada orang Yahudi tetapi dia menjelaskan bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia.

-          Kitab Lukas (Lukas 3) juga mencantumkan silsilah Tuhan Yesus. Menurut anggapan orang,  Ia adalah anak Yusuf anak Eli (Luk 3:23) … anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah (Luk 3:38).  Berbeda dengan kitab Matius yang berhenti pada anak Abraham, silsilah pada kitab Lukas berhenti pada anak Adam dan anak Allah. Jadi Lukas menulis lebih jauh lagi dan  menekankan ulang bahwa Yesus adalah Jurselamat manusia keturunan Adam. Kalau kitab Matius ditujukan pertama-tama untuk orang Yahudi sedangkan Lukas ditujukan untuk bukan orang Yahudi (Pada Lukas 1:1 dikatakan kitab ini ditujukan kepada Teofilus dan Teofilus bukan orang Yahudi). Lukas mengatakan akan menulis dengan teliti supaya Teofilus yang bukan orang Yahudi percaya (segala sesuatu yang diajarkan kepadanya sungguh benar). Sehingga ketika menulis silsilah Yesus, Lukas menulis sampai ujungnya bahwa Yesus adalah anak Adam dan anak Allah. Hal ini menekankan sekali lagi bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia ini.

Jadi dari sini kita belajar untuk :

a.     Berterima kasih.
Melalui silsilah ini kita mengetahui bahwa orang Indonesia juga merupakan alamat (tujuan) Tuhan Yesus datang ke dunia ini. Dia tidak hanya datang untuk orang Israel , Eropa atau Amerika, tetapi Tuhan Yesus datang untuk kita orang Indonesia dari suku apapun (termasuk keturunan Tionghoa seperti Hok Cia dan Hokian yang ada di GKKK). Tuhan Yesus datang untuk seluruh dunia.  Jadi Natal merupakan waktunya kita berterima kasih kepada Tuhan apapun suku kita.

b.     Bersaksi
Mari kita melihat siapa yang belum merayakan Natal di rumah kita. Suku apapun mereka, mari kita ajak mereka untuk merayakannya. Waktu bekerja dan bersekolah atau di manapun kita berada, lihatlah siapa mereka.  Tuhan mencintai kita seperti Tuhan pun mencintai mereka. Doakan mereka , cari kesempatan untuk mengajak mereka datang ke gereja. Banyak orang tidak mau pergi ke gereja, tetapi saat Natal ada kemauan mereka untuk ke gereja. Mari kita bersaksi bahwa Yesus mengasihi orang lain siapa pun mereka. Salah satu simbol Natal adalah lilin yang bersinar. Lilin itu lebih berguna bila berada di tempat yang gelap. Di tempat yang bercahaya, lilin tidak terlalu terasa sinarnya. Tapi bila listrik mati dan ruang menjadi gelap, maka terang lilin menjadi sangat berguna. Tuhan memanggil kita untuk bersaksi dimana pun kita berada. Bersinarlah seperti lilin, di keluarga, lingkungan dan di mana pun banyak orang yang belum mengenal Tuhan.

2.    Yesus Kaya Kasih Karunia.

Warna yang dominan untuk Natal adalah merah yang merupakan lambang bahagia. Orang Tionghoa percaya bahwa merah adalah lambang sukacita. Natal adalah waktunya kita bersukacita. Karena Natal ini, Allah melimpahkan kasih karunia. Peristiwa Natal ini ibarat “Tuhan mengobral kasih”.  Hal ini dapat dilihat dalam silsilah Yesus yang mencatat :

-          nama wanita : Tamar, Rahab, Rut, istri Uria, Maria (ayat 3,5,6,16)
Pada zaman itu, wanita tidak dihitung alias direndahkan. Di dalam Alkitab jarang ada nama wanita dicantumkan. Misalnya : Adam dan Hawa punya anak perempuan tapi tidak langsung ditulis namanya. Yakub punya anak-anak di mana hanya 12 anak laki-laki saja yang dicatat, padahal ada 1 anak perempuan. Pada zaman itu wanita direndahkan, tetapi pada pembukaan  Perjanjian Baru ada nama-nama wanita yang dicatat. Secara sengaja ada nama wanita yang ditulis sebagai nenek moyang Tuhan Yesus, padahal beberapa perempuan ini bukanlah perempuan baik-baik. Ada yang hidupnya tidak benar, misalnya : istri Uria yang menjadi istri raja Daud dan melahirkan Salomo. Ia istri yang merupakan hasil selingkuhan. Mereka itu wanita dan ada yang punya riwayat yang kurang baik. Tetapi Tuhan memandang mereka bahwa nama mereka boleh ditulis dalam silsilah Tuhan. Meskipun wanita tersebut pernah menjadi orang tidak baik, namun ketika mereka datang kepada Tuhan, bertobat dan mau dipakai Tuhan maka Tuhan memakainya. Inilah kasih karunia Tuhan. Yang direndahkan orang,  ditinggikan oleh Tuhan. Orang yang dibuang dan dihina di masyarakat tetapi diambil dan diberi kehormatan oleh Tuhan.

-          nama orang kafir / non Yahudi : Rut, orang Moab (ayat 5), dan Rahab orang Yerikho (ayat 5)
Saat itu orang Israel bangga menjadi orang Israel. Orang yang bukan Israel dianggap kafir. Sebutan sebagai orang kafir itu tidak enak. Bulan lalu saya melakukan pelayanan ke Pulau Sumba dan ditanya apakah mau mencoba makanan yang dinamakan “ayam kafir”.  Saya bertanya bagaimana cara memasaknya dan apa bumbunya? Dijawab bahwa ayamnya dibunuh lalu dibakar bersama dengan bulu-bulunya. Setelah hangus lalu bulunya dicabut. Saya berkata bahwa saya tidak mau makan ayam yang bulunya gosong terbakar walau enak dan merasa kasihan sekali dengan ayamnya. Istilah kafir itu tidak enak didengar. Pada waktu itu orang Israel sangat bangga bahwa mereka orang Israel. Orang yang bukan Israel dianggap orang pinggiran dan orang kafir yang tidak berguna. Namun luar biasanya  Allah memberikan kehormatan kepada beberapa orang kafir yang masuk dalam silsilah Tuhan Yesus. Ada nama Rut, orang Moab. Dia menjadi nenek moyang Tuhan Yesus. Ada juga Rahab orang Yerikho yang mau membantu umat Israel sehingga namanya masuk dalam silsilah Tuhan Yesus.

Pada Natal ini kita memperingati bahwa Allah kaya akan kasih sehingga kita belajar :

-          Memuji Tuhan 
Kita memperingati bahwa Tuhan menerima kita dan memberikan kehormatan bagi kita. Natal adalah untuk semua orang bahkan orang-orang yang dianggap rendah. Berita Natal dan konser Natal yang pertama disampaikan para malaikat kepada para gembala. Itu berarti suasana Natal merupakan sukacita untuk kita semua. Mungkin saat ini ada orang yang direndahkan oleh orang lain. Tetapi pada Natal ini, Tuhan menaikkan dan meninggikan kita. Mungkin ada orang merendahkan dan menghina kita karena jenis kelamin, latar belakang,  penampilan, bakat, status ekonomi dan sosial kita. Tetapi Natal adalah kabar sukacita. Tuhan tidak peduli apapun latar belakang kita. Selama kita menyambut uluran tanganNya, Tuhan datang untuk kita. Tuhan selalu memberi kesempatan kedua bagi kita. Dia tidak pilih kasih. Hal ini berbeda dengan orang di dalam dunia ini yang sering pilih kasih. Sudah bukan rahasia kalau orang akan lebih menyambut orang yang punya mobil mewah, daripada orang yang naik angkutan kota. Orang tua keluarga besar kita ada yang suka memperbincangkan seberapa yang kita punya. Manusia di dunia ini pilih kasih dan memandang rupa. Tetapi pada Natal ini, Tuhan memandang kita sebagai orang-orang yang dicintaiNya. Datanglah pada Tuhan pada saat ini karena Ia selalu menunggu kita.

-          Meneladani Tuhan
Tuhan suka menaikan orang , bukan merendahkan orang. Sebagai manusia berdosa, kita sering merendahkan orang. Kita mengobrol setiap hari dan sering berbicara tentang kekurangan orang lain. Dengan merendahkan orang lain berarti saya memandang diri kita lebih baik dari orang lain. Tuhan tidak begitu. Yang direndahkan orang lain bahkan Tuhan naikkan. Setiap hari saat kita berbicara di rumah tangga, tempat pekerjaan, dan pelayanan kita, apakah perkataan kita lebih banyak mendukung atau menjatuhkan orang lain? Begitu banyak kita mengkritik dan menjatuhkan orang dan bukannya memuji orang lain. Pada Natal ini merupakan kesempatan kita meneladani Tuhan. Ketika melihat orang ada di bawah  maka Tuhan ikut merendah dan kemudian menaikkannya. Marilah kita menjadi seperti Tuhan yang berbuat baik kepada orang-orang yang dianggap rendah.

Suatu kali ada patung Tuhan Yesus terkena bom saat perang dan menjadi rusak. Ada seorang seniman yang diberi tugas untuk memperbaiki patung tersebut. Setelah diperbaiki, patungnya ditaruh di dalam gereja dan ditutupi dengan selembar kain. Selesai kebaktian Natal patung tersebut diresmikan dan kain penutupnya dibuka. Semua jemaat yang hadir menunggu, bagaimana rupa patung yang sudah diperbaiki ini? Di antara yang hadir ada seniman yang diberi tugas memperbaikinya. Ketika kain selubung dibuka orang-orang yang hadir terkejut melihat tangan patungnya masih buntung. Orang-orang kemudian bertanya kepada sang seniman. Mengapa belum selesai? Apakah kamu tidak sungguh-sungguh berniat memperbaikinya? Seniman ini mengatakan,”Bukan. Patung itu sudah selesai saya perbaiki dan saya sengaja membiarkannya buntung untuk mengingatkan bahwa kitalah orang Kristen yang menjadi kepanjangan tangan Tuhan.” Hari ini kita menjadi seperti kepanjangan tangan Tuhan yang menolong lain dan tidak pilih-pilih kasih. Bukan pada orang yang sama suku atau pada orang yang baik dengan saya saja, tetapi kepada semua orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan kita. Itulah orang-orang yang kita jangkau.

3.    Allah Menepati JanjiNya (memberikan Juruselamat keturunan Daud , Keturunan Abraham, keturunan Adam)      

a.       Allah penguasa sejarah
Ada pepatah yang berkata bahwa “lidah tidak bertulang” yang bermakna manusia mudah melupakan janji. Banyak alasan yang diutarakan untuk tidak menepati janji seperti macet dan cuaca. Manusia sering tidak menepati janji dan membuat orang sulit mempercayai janji Tuhan. Sama seperti ada orang yang sukanya berbohong, maka ia juga sulit percaya kepada orang lain karena curiga orang tersebut juga berbohong seperti dirinya. Silsilah Tuhan Yesus mengajarkan bahwa Allah itu bukan manusia. Sekali Dia berjanji, ya dan amin serta akan dilakukan. Janji Allah untuk mengirimkan manusia sudah lama sekali. Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, langsung Allah berjanji akan ada Juruselamat. Kemudian manusia menjadi jahat dan Tuhan menghukumnya (seperti pada peristiwa air bah), tetapi janji Tuhan itu masih berlaku. Sebelum Tuhan menunjuk Abraham menjadi bapa orang beriman, Tuhan menunjuk Abraham untuk memulai bangsa yang baik dan umat pilihan Tuhan. Ia berpikir Abraham bisa menjadi bapa dari suatu bangsa yang baik. Tetapi ternyata keturunan Abraham pun banyak yang memberontak kepada Tuhan. Keturunan Tuhan lebih memperjelas bahwa Juruselamat dari keturunan Daud, dipersempit lagi agar janji ini sungguh bisa ditepati meskipun orang Israel sering jahat kepada Tuhan dan hobinya selingkuh secara rohani. Umat Tuhan ini kalau mau enak , mereka ‘jajan’ dengan menyembah dewa lain dan kalau dihukum mereka menjerit minta tolong pada allah lain. Tetapi luar biasanya , Tuhan tidak putus asa dalam mencintai manusia. Tuhan terus mengarahkan dan memperbaiki orang Israel. Ketika mereka melakukan kawin campur dengan bangsa lain (pada akhir Pernjanjian Lama sebelum masuk Pernjanjian Baru) Tuhan kembali memakai nabinya, Esra untuk mengingatkan bahwa orang Israel tidak boleh melakukan kawin campur. Jadi meskipun orang Israel sering jatuh bangun, Tuhan tidak pernah putus asa memenuhi janjiNya. Manusia bisa belok ke kiri dan ke kanan, tetapi Tuhan memegang pimpinan dengan pasti dan menepati janjiNya pada waktu yang tepat melalui Jusuf dan Maria yang keduanya keturunan Daud. Hal itu berarti kita bisa yakin bahwa Allah kita menguasai sejarah.

b.       Janji Tuhan terhadap kerajaan Tuhan akan digenapi (RencanaNya pasti digenapi)
Janji Tuhan kepada umatNya pasti digenapi. Meskipun keadaan begitu sulit, bangsa-bangsa bergolak tetapi janji Tuhan pasti digenapi. Pada penglihatan Daniel ada patung yang besar. Tangan, bahu dan semuanya dibuat dari bahan yang hebat. Tetapi ada batu kerikil yang makin hari makin besar dan menjatuhkan patung itu. Hal ini seperti kerajaan di dunia yang begitu kuat, tetapi Tuhan berjalan dan mengalahkan semua bangsa itu. Ini merupakan kekuatan bagi kita. Di dunia ini, kita melihat bahwa semua negara punya persoalan. Hari ini kalau kita tidak melihat Tuhan, hati kita dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran. Pada tahun 1998, ada yang lari ketakutan dan mengungsi. Ada yang pergi ke Amerika dan sekarang ternyata kondisi Amerika tidak lebih aman. Lalu ada juga yang ke Eropa dan ternyata di Eropa juga banyak teroris. Ada juga yang mampunya pergi ke Bali saja dan ternyata Bali juga tidak lebih aman. Kalau melihat kiri dan kanan,  membuat hati kita ketakutan. Tapi di Natal ini kita belajar bahwa Allah kita menguasai sjearah dan umatNya dipeliharaNya. Mari kita merayakan Natal dengan tenang , yakin dan sukacita. Kekuatan kita tidak ditentukan oleh orang atau kelompok mana pun. Mari melihat kepada Tuhan karena rencana Tuhan pasti digenapi.

Pada kitab, pasal dan ayat terkahir, ada janji yang belum digenapi bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali. Walaupun sepertinya sulit kedatangan Yesus pertama kali ke dunia, tetapi ternyata janjinya digenapi. Demikian pula dengan kedatanganNya yang kedua. Mari kita merayakan Natal berpegang pada Tuhan yang memegang janjinya.