Monday, February 10, 2014

Hosea 2








Ev. Peter Yosua

Hosea 2
1 Katakanlah kepada saudara-saudaramu laki-laki: "Ami!" dan kepada saudara-saudaramu perempuan: "Ruhama!"
2  "Adukanlah ibumu, adukanlah, sebab dia bukan isteri-Ku, dan Aku ini bukan suaminya; biarlah dijauhkannya sundalnya dari mukanya, dan zinahnya dari antara buah dadanya,
3   supaya jangan Aku menanggalkan pakaiannya sampai dia telanjang, dan membiarkan dia seperti pada hari dia dilahirkan, membuat dia seperti padang gurun, dan membuat dia seperti tanah kering, lalu membiarkan dia mati kehausan.
4   Tentang anak-anaknya, Aku tidak menyayangi mereka, sebab mereka adalah anak-anak sundal.
5   Sebab ibu mereka telah menjadi sundal; dia yang mengandung mereka telah berlaku tidak senonoh. Sebab dia berkata: Aku mau mengikuti para kekasihku, yang memberi roti dan air minumku, bulu domba dan kain lenanku, minyak dan minumanku.
6 Sebab itu, sesungguhnya, Aku akan menyekat jalannya dengan duri-duri, dan mendirikan pagar tembok mengurung dia, sehingga dia tidak dapat menemui jalannya.
7  Dia akan mengejar para kekasihnya, tetapi tidak akan mencapai mereka; dia akan mencari mereka, tetapi tidak bertemu dengan mereka. Maka dia akan berkata: Aku akan pulang kembali kepada suamiku yang pertama, sebab waktu itu aku lebih berbahagia dari pada sekarang.
8 Tetapi dia tidak insaf bahwa Akulah yang memberi kepadanya gandum, anggur dan minyak, dan yang memperbanyak bagi dia perak dan emas yang dibuat mereka menjadi patung Baal.
9   Sebab itu Aku akan mengambil kembali gandum-Ku pada masanya dan anggur-Ku pada musimnya, dan akan merampas kain bulu domba dan kain lenan-Ku yang harus menutupi auratnya.
10 Dan sekarang, Aku akan menyingkapkan kemaluannya, di depan mata para kekasihnya, dan seorangpun tidak akan melepaskan dia dari tangan-Ku.
11 Aku akan menghentikan segala kegirangannya, hari rayanya, bulan barunya dan hari Sabatnya dan segala perayaannya.
12 Aku akan memusnahkan pohon anggurnya dan pohon aranya, yang tentangnya dikatakannya: Ini semuanya pemberian kepadaku, yang dihadiahkan kepadaku oleh para kekasihku! Aku akan membuatnya menjadi hutan, dan binatang-binatang di padang akan memakannya habis.
13 Dan Aku akan menghukum dia karena hari-hari ketika dia membakar korban untuk para Baal, berhias dengan anting-antingnya dan kalungnya, dan mengikuti para kekasihnya dan melupakan Aku," demikianlah firman TUHAN.
14 "Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya.
15  Aku akan memberikan kepadanya kebun anggurnya dari sana, dan membuat lembah Akhor menjadi pintu pengharapan. Maka dia akan merelakan diri di sana seperti pada masa mudanya, seperti pada waktu dia berangkat keluar dari tanah Mesir.
16  Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku!
17  Lalu Aku menjauhkan nama para Baal dari mulutmu, maka nama mereka tidak lagi disebut.
18 Aku akan mengikat perjanjian bagimu pada waktu itu dengan binatang-binatang di padang dan dengan burung-burung di udara, dan binatang-binatang melata di muka bumi; Aku akan meniadakan busur panah, pedang dan alat perang dari negeri, dan akan membuat engkau berbaring dengan tenteram.
19 Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang.
20 Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN.
21 Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mendengarkan langit, dan langit akan mendengarkan bumi.
22  Bumi akan mendengarkan gandum, anggur dan minyak, dan mereka ini akan mendengarkan Yizreel.
23 Aku akan menaburkan dia bagi-Ku di bumi, dan akan menyayangi Lo-Ruhama, dan Aku berkata kepada Lo-Ami: Umat-Ku engkau! dan ia akan berkata: Allahku!"

Perlukah Marah?

Kitab Hosea pasal 2 merupakan kelanjutan dari pasal 1. Inti pasal 1 adalah betapa Allah ingin menegur umatNya dengan cara yang tidak biasa (ekstrim). Dan Hosea pasal 2 seperti “surat murka” Allah yang dinyatakan dalam cara yang tidak umum juga. Kata-kata yang dipakai memang menimbulkan rasa tidak nyaman bagi umat yang ditegurNya. Pertanyaannya : mengapa harus nyaman? Apakah saat Allah menegur, hati orang (pihak) yang ditegur harus dibuat nyaman? Pertanyaan ini timbul karena seringkali manusia menggunakan patokan berupa rasa nyaman sehingga banyak yang berkata, “Aku tahu maksud dari apa yang dia sampaikan, hanya jangan begitu caranya”. Tetapi kenyataannya Allah menegur dengan cara yang tidak nyaman dan kata-kata yang keras dan ekstrim. Kenapa Allah marah seperti ini? Apakah orang yang tidak pernah marah adalah orang yang baik? Apakah standard kita kalau ada yang tidak pernah menegur kesalahan orang lain adalah orang yang baik? Apakah orang yang tidak pernah marah itu adalah orang baik? Apakah guru yang baik adalah guru yang tidak pernah marah? Kalau sang guru marah lalu dibilang tidak “punya otak” atau guru yang marah adalah guru pembunuh (killer)! Para siswa menginginkan guru yang selalu ramah. Maka ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta dan seringkali marah, banyak orang menjadi heran dan kaget. Sebelumnya tidak pernah ada pejabat pemerintah yang bersikap seperti itu karena kebanyakan pejabat hanya menebarkan senyum agar menjadi popular di mata masyarakat. Sekarang kita seyogianya melihat apakah marah itu perlu dan tidak selalu jelek. Marah perlu dalam beberapa kondisi seperti saat keadilan ditindas dan kebenaran disingkirkan, karena marah berbicara tentang sesuatu yang penting. Apa jadinya kalau suami tidak marah saat istri digoda orang lain? Istri berkata,”Pi, kenapa papi tidak marah waktu saya ditowel?” Sang suami kemudian menjawab, “Ya tidak apa-apa mami. Kan kalau sekedar ditowel, tidak akan luntur”  Masa seperti itu? Marah itu perlu pada waktunya. Bahkan hewan juga punya natur untuk marah , saat sesuatu yang penting baginya diganggu. Ada binatang yang marah karena waktu makan diganggu atau burung hantu beringas yang menjadi beringas kalau anaknya diganggu. Begitu juga dengan kita. Seharusnya kita tidak alergi dengan rasa “marah”. Marah berbicara tentang sesuatu yang perlu dipertahankan.

Murka Allah

Seorang rekan hamba Tuhan yang menjadi guru, suatu kali menampar anaknya karena berbohong. Mendengar hal ini, mungkin kita merasa kaget dan menilai sikapnya terlalu keras saat menghadapi kebohongan anaknya. Namun saat membagikan kisah tersebut, raut wajahnya tidak menggambarkan kondisi yang ber sukacita melainkan berat hati. Karena apa yang dilakukan anaknya sangat tidak pantas sehingga ia perlu menampar anaknya.

Ketika Allah berhubungan dengan umatNya, berkali-kali Allah murka dengan mereka. Namun konsep Allah yang marah dan murka membuat banyak orang merasa tidak nyaman. Kita hidup di zaman orang yang tidak suka dengan konsep ini. Bila kita melihat video di laman Youtube, banyak orang Barat yang tidak suka dengan konsep ini. Ada seorang pengkhotbah (street preacher) berbicara di taman tentang Allah yang menghakimi. Kemudian ada seorang ibu yang sedih dan menangis, kemudian berkata, “Saya tidak suka dengan apa yang dikhotbahkannya. Dari kecil saya diajar bahwa Allah adalah kasih, sehingga Allah yang saya kenal adalah Allah yang mengasihi. Ia tidak murka dengan kita. Hati saya sangat kesal”. Banyak orang di Barat mengatakan, Allah adalah Allah yang sangat baik dan Dia tidak pernah marah. Sehingga mereka tidak suka saat mendengar Allah yang murka. Ia suka mendengar Allah yang baik hati. Budaya Barat konsepnya penuh dengan cinta dan hak asazi manusia. Anak tidak boleh dipukul orang tuanya, dan kalau dipukul maka anak tersebut akan mengadu ke semacam “Komnas HAM” di sana selanjutnya orang tuanya akan ditahan di penjara. Hal ini juga terjadi di sekolah internasional di Indonesia. Ada seorang teman yang mengajar di sekolah internasional di Jakarta yang benar-benar menerapkan budaya Barat sehingga guru tidak boleh marah dan memukul murid-muridnya bila melakukan kesalahan. Aturan ini kemudian juga banyak diterapkan di sekolah-sekolah nasional sehingga guru tidak boleh menegur murid-muridnya. Apakah benar demikian? Alasan tidak boleh ditegur adalah supaya murid menjadi percaya diri dan tidak takut. Guru ini bercerita bahwa di depan matanya, ada anak murid mengangkat kakinya di meja dan guru tidak punya otoritas untuk menegurnya. Hal ini menyebabkan anak yang paling nakal ada di Amerika. Padahal bukankah Amerika menekankan HAM dan persamaan (ekualiti) sehingga anak merasa setingkat dengan orang tuanya dan mereka memanggil mereka dengan namanya saja. Bila hal ini terjadi di Indonesia, bagaimana perasaan kita? Bila hal itu dianggap kurang ajar, maka orang tua akan memukul anaknya. Budaya barat  tidak menyukai marah dan pukulan, sehingga orang tua banyak yang tidak sanggup mendidik anaknya. Ada ibu yang menggendong satu anak yang menangis dan anaknya yang lain iri sehingga mau juga digendong. Anak yang satu muntah, lalu ke mana papanya? Ia tidak ada di rumah. Sepulangnya kerja ia naik sepeda berkeliling kompleks atau main bowling, karena ia merasa sudah lelah mencari uang. Sehingga orang tua menghubungi pengasuh anak (nanny 911) yakni orang yang biasa mengurus anak. Cara mereka menangani anak yang bermasalah bukanlah dengan cara yang baru. Dia hanya mengembalikan otoritas orang tua. Orang tua harus tegas kepada anak. Ia menempel peraturan. Sehingga orang tua perlu marah, menegur dan mendisiplinkan anak-anaknya.

Perceraian Emosional

Pada kitab Hosea, Allah menegur dengan keras umat Israel yang terus memberontak terhadap perintah Allah. Akhirnya Israel dibuang ke Asyur (722 SM) karena Israel tidak pernah menyadari kesalahannya. Bagi Israel, Yerusalem adalah tanah suci dan tanah yang dicintai. Namun mengapa Allah begitu tega membuang 10 suku ke Asyur? Seperti juga pertanyaan : “Kenapa guru tega menegur muridnya?” atau “Mengapa papa tega memarahi anaknya?”. Apakah Allah kejam? Pasti ada rasa perih di hati saat orang tua menghukum anaknya. Tetapi hukuman itu perlu supay anak belajar tidak melakukan hal yang salah. Walau saat kita menghukum orang yang dekat, hati kita merasa perih. Berapa banyak dari kita yang memahami bahwa Allah perih hatiNya saat menghukum kesalahan kita? Umumnya Allah hanya dianggap sebagai Pencipta , Penjaga (dari kecelakaaan) atau Pemberi Berkat saja. Seberapa banyak yang menganggap Allah adalah mempelaiku? Waktu marah, Dia berkata , “Engkau bukanlah mempelaiku”. Hubungan antara umat Allah dan Allah adalah seperti suami-istri sehingga waktu orang Israel menyembah Baal, dikatakan kamu sudah berzina dan berselingkuh. Banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian. Saat menonton infotaiment di TV, perceraian lumrah terjadi dan sepertinya tidak masalah. Banyak public figure yang bercerai. Sadar tidak sadar mereka telah menjadi panutan orang. Kalau perceraian menjadi hal yang biasa, apakah anak-anak Tuhan banyak yang bercerai? Bila tidak, puji Tuhan! Ada juga perceraian secara emosional. Ketika suami-istri tidak lagi memiliki rasa sayang, mereka menjadi teman biasa bahkan menjadi orang asing (stranger). Itu terjadi perceraian emosional. Banyak keluarga bercerai tidak secara fisik, tetapi secara emosi dan tidak ada lagi rasa sayang.

Ada sebuah cerita tentang seorang istri yang mengirim pesan singkat (SMS) ke  suaminya. “Honey, I’m dying”. Suaminya yang berada di suatu tempat lain melompat kegirangan karena mengira istrinya sedang sekarat,  tapi ia berpura-pura dan membalas pesan sang istri, “Sayang apa yang terjadi padamu? Saya tidak dapat hidup tanpamu.” Istri bingung dengan balasan suaminya. “Sayang, apa yang kamu pikirkan?  I’m dying my hair (saya sedang mewarnai rambut)”. Sang suami kemudian mengomel. Betulkah ada seorang suami yang tidak suka dengan istrinya dan berharap sang istri cepat mati? Bila betul terjadi, sangat menyedihkan. Bagaimana hubungan dengan Tuhan? Ada yang ikut beribadah, punya Alkitab dan salib terpasang di rumah. Walau tidak bercerai secara fisik, tetapi apakah kita bercerai secara emosional? Ciri-cirinya : doanya “kering” dan ibadah tidak menyenangkan (enjoy) hati. Ibadah hanya menjadi kebiasaan. Kalau tidak ke gereja tidak enak, seperti berhutang. Secara tidak sadar terjadi perceraian dengan Tuhan. Sehingga banyak orang Kristen hidup seperti orang dunia. Bandingkan kita dengan orang yang belum percaya, di pekerjaan dan lingkungan. Karena cara hidup dan konsep hidup kita, betulkah kita anak Tuhan? Mencintai Tuhan dan menjadi mempelaiNya?  Saat harga rumah mengalami kenaikan secara drastis, banyak orang yang merasa kuatir tidak bisa membeli rumah karena harganya tidak terjangkau. Beberapa tahun lalu rumah yang harganya miliaran rupiah adalah rumah artis. Sekarang rumah biasa harganya sudah miliaran rupiah . Sewaktu saya melihat harga rumah di perumahan , harganya miliaran rupiah dan paling murah RP 600 juta. Ada yang mengingatkan, “Belilah rumah sekarang! Kalau tidak beli sekarang, tidak bisa beli rumah lagi di masa depan. Apakah kita punya kekhawatirkan yang sama? Bukankah itu kalimat yang menggoyahkan iman? Dahulu orang tidak pernah membayangkan harga rumah Rp 1 miliar sekarang biasa karena perekonomian Indonesia naik. Sekarang banyak filosofi yang menggoyangkan iman. Kita menggumulkan hal yang sama (uang dan etika kerja) dengan dunia. Ada pendapat kalau tidak ikut dunia, tidak bisa sukses. Kalau mental nya sama dengan orang dunia, apa bedanya? Apa dampaknya kita mengenal Tuhan? Kalau tidak ada, kita akan seperti orang tidak mengenal Tuhan. Kemudian sadar atau tidak sadar, kita akan mulai “jatuh” dan mulai menjadi orang duniawi. Saat bangsa Israel  berubah menjadi duniawi dan mengandalkan Baal (bersyukur kepada Baal untuk makanan dll), Allah marah. Saat kita merasa prestasi yang kita miliki karena kita sendiri, maka siapkah kita saat Allah menahan berkat? Allah yang murka menahan berkat dari Israel karena Dia ingin bangsa Israel melihat kenyataan bahwa Allahlah yang memberkati (Coba buktikan Baal yang memberikan itu semua? Aku menahan berkat).

Saat Allah mengingatkan, Ia menyebutkan kata “padang gurun” (Hosea 2:3). Hal ini untuk  mengingatkan bahwa bangsa Israel pernah berputar di padang gurun selama 40 tahun sebelum masuk ke tanah perjanjian. Juga lembah Akhor disebutkan (Hosea 2:15) dimana Akhan ketahuan menyembunyikan harta untuk dirinya sendiri sehingga ia dan keluarganya dibunuh barulah surut murka Allah dan  setelah itu bangsa Israel menang perang (Yosua 7). Hal ini menunjukkan bahwa dosa kita harus dihancurkan terlebih dahulu. Siapkah dosa kita dihancurkan?

Allah sungguh mengasihi kita. Ketika mengasihi kita, Dia juga ingin kita mengasihiNya dan bukannya mengasihi Baal atau mencintai uang. Seperti filosofi 2 ekor ikan. Bila ada satu yang disayang, maka yang lain kurang disayang (tidak mungkin sama-sama disayang). Juga kalau punya 2 sepatu atau 2 mobil, pasti ada yang lebih disukai. Karena dalam filosofi cinta manusia, hanya bisa mencintai 1 orang dalam 1 waktu. Tidak ada bila punya beberapa istri bisa berlaku adil kepada semuanya. Karena kita hanya bisa mengasihi 1 hal  dalam 1 waktu. Seperti juga Yakub (Kejadian 29-30) yang lebih mengasihi Rahel dibanding Lea. Kalau punya anak lebih dari 1, sadar tidak sadar kita sering membandingkan. Kamu tidak seperti adik atau kakakmu. Kamu harus seperti adikmu yang rapi. Ketika Yesus berkata  , “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
(Mat 6:24). Mengapa Yesus membandingkan Allah dengan uang (Mamon)? Ketika perbandingan diadakan, perbandingan dilakukan secara setara (equal). Tidak bisa kita membandingkan mobil Daihatsu dengan Ferrari karena kelasnya berbeda (membandingkan Ferrari dengan Lamborghini baru setara). Berarti saat dibandingkan Allah dengan  uang, tidak jauh berbeda. Hal ini menunjukkan betapa mengerikannya Mamon (uang) ini. Ketika Yesus menyandingkannya, berarti keduanya memiliki kesetaraan (uang bukan sekedar logam tetapi seperti alah yang dipuja). Bukankah uang bisa membelokkan motivasi yang paling suci sekalipun? Maukah kita kembali kepada Tuhan hari ini?

Ada ilustrasi yang bercerita tentang seorang gembala dengan domba-dombanya. Sang gembala memiliki banyak domba , namun ada 1 dombanya yang nakal dan tidak bisa diatur (yang lain menurut). Domba adalah hewan yang matanya rabun jauh (hanya bisa melihat dari dekat). Jadi Sang Gembala kuatir bahwa sang domba tersebut akan hilang sehingga ia berpikir bagaimana caranya agar sang domba nakal itu bisa belajar. Akhirnya domba itu diambil dan ditaruh di pangkuannya. Setelah itu sang gembala mematahkan salah satu kakinya. Domba itu menjerit, kemudian selama beberapa minggu ia berjalan dengan kaki yang pincang karena sakit. Ajaibnya, ia tidak berani lagi berada jauh dari sang gembala. Apakah kita harus sama dengan domba ini? Kalau kita tidak lagi berdoa atau kita memikirkan dunia lebih dari kita memikirkan Tuhan, ijinkan Ia mematahkan kakimu! Hatimu akan sakit sekali dan mungkin bertanya, “Mengapa semua terjadi?” Tetapi justru ketika kaki patah 1 dan berjalan terpincang, kita belajar kembali kepada Tuhan.

Sunday, February 2, 2014

Perintah Allah itu Ajaib

Pdt. Hery Kwok

Hosea 1:1-9
1  Firman TUHAN yang datang kepada Hosea bin Beeri pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda, dan pada zaman Yerobeam bin Yoas, raja Israel.
2 Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: "Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN."
3  Maka pergilah ia dan mengawini Gomer binti Diblaim, lalu mengandunglah perempuan itu dan melahirkan baginya seorang anak laki-laki.
4  Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: "Berilah nama Yizreel kepada anak itu, sebab sedikit waktu lagi maka Aku akan menghukum keluarga Yehu karena hutang darah Yizreel dan Aku akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel.
5  Maka pada waktu itu Aku akan mematahkan busur panah Israel di lembah Yizreel."
6  Lalu perempuan itu mengandung lagi dan melahirkan seorang anak perempuan. Berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: "Berilah nama Lo-Ruhama kepada anak itu, sebab Aku tidak akan menyayangi lagi kaum Israel, dan sama sekali tidak akan mengampuni mereka.
7  Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka demi TUHAN, Allah mereka. Aku akan menyelamatkan mereka bukan dengan panah atau pedang, dengan alat perang atau dengan kuda dan orang-orang berkuda."
8   Sesudah menyapih Lo-Ruhama, mengandunglah perempuan itu lagi dan melahirkan seorang anak laki-laki.
9  Lalu berfirmanlah Ia: "Berilah nama Lo-Ami kepada anak itu, sebab kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu."

Pendahuluan

Sewaktu menempuh pendidikan teologia di salah satu sekolah Alkitab di Batu Malang, ada pengalaman yang cukup menarik yang saya alami. Semua mahasiswa yang bersekolah di sana dibentuk Tuhan melalui proses yang luar biasa. Selain mendapat pendidikan tentang firman Allah dari para dosen , kami juga memiliki pengalaman dalam berinteraksi antar sesama mahasiswa di asrama. Namun sekolah Alkitab bukanlah sorga di mana sudah tidak ada perselisihan atau pertengkaran. Di sekolah, terkadang timbul perselisihan karena adanya kesalahpahaman dan terkadang muncul percekcokan karena setiap mahasiswa punya karakter yang berbeda-beda. Perselisihan seperti ini mewarnai kehidupan kami. Suatu kali salah seorang rekan seangkatan saya ribut dengan seorang adik tingkat. Saya tidak tahu kejadian awal yang menjadi penyebabnya karena saat itu mereka sudah berselisih paham dengan kata-kata yang cukup keras. Umumnya perselisihan timbul terkait dengan tugas membersihkan asrama. Biasanya para mahasiswa dibagi kelompok untuk bekerja membersihkan jendela, lantai dan WC. Kemungkinan ada mahasiswa yang malas sehingga akhirnya ditegur. Terkadang ada yang mendapat pembagian kerja yang tidak enak seperti membersihkan WC yang baru dipakai oleh pengunjung yang baru selesai beribadah. Karena selain pengguna yang bersih ada juga pengguna WC yang jorok. Kemungkinan adik tingkat tersebut tidak mau membersihkan WC dengan baik (hanya disiram saja) sehingga  waktu dicek masih kotor karena ada kotoran yang tertinggal. Saat ribut mereka masing-masing saling bersitegang. Rekan satu angkatan saya itu berasal dari Indonesia bagian Timur yang sangat emosional sehingga saat marah dia menampar adik tingkat nya. Lalu adik tingkat itu berkata, “Dalam nama Yesus, tampar sekali lagi!”. Ditantang begitu, rekan saya menampar lagi sehingga kedua pipi adik tingkat tersebut telah ditamparnya. Akhirnya keduanya diskors. Karena rekan saya yang memukul, maka dia mendapat hukuman yang lebih berat. Dia tidak boleh mengambil kuliah selama 1 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tidak mudah melaksanakan firman dan perintah Tuhan.

Tafsiran atas Perintah Allah kepada Nabi Hosea untuk Menikahi Gomer

Memahami firman Tuhan merupakan sesuatu yang penting dalam hidup agar  kita tidak salah dalam mengartikan dan melaksanakannya. Jadi dasar yang pertama adalah  mengerti (memahami) lalu melakukan kebenaran firman Tuhan itu. Namun firman TUhan yang seringkali kita baca, seringkali tidak mudah dilakukan. Timbul kesulitan karena dunia seakan-akan tidak menerima apa yang diajarkan oleh firman Tuhan. Selama bulan Februari kita akan belajar dari kitab Hosea. Hari ini fokusnya adalah perintah Allah kepada nabi Hosea untuk menikahi perempuan sundal (Gomer). Perintah yang disampaikan ke Hosea ini  banyak menimbulkan kesulitan bagi orang yang mempelajarinya. Dengan tema “Perintah Allah itu Ajaib” menimbulkan pertanyaan “Apa yang ajaib dari perintah Allah kepada nabi Hosea untuk menikahi Gomer? Banyak penafsir mengatakan sulit menerima bahwa Allah memerintahkan seorang nabiNya untuk  menikahi seorang pelacur. Sehingga terdapat 4 (empat) kelompok penafsir yang memberikan gambaran tentang perintah ini.

1.     Pernikahan yang diceritakan di kitab Hosea adalah pernikahan yang tidak benar-benar terjadi melainkan sebagai simbol atau penglihatan yang menggambarkan hubungan antara Allah dengan manusia yang berdosa, khususnya hubungan antara kasih Allah yang sedemikian besar dengan umat Israel yang tidak setia. Kelompok ini mengasumsikan bahwa , tidak mungkin Allah menyuruh seorang nabi untuk menikahi seorang pelacur. Oleh karena menurut penafisr, pada Imamat 21:7 Tuhan berfirman kepada Musa, “Janganlah mereka mengambil seorang perempuan sundal atau perempuan yang sudah dirusak kesuciannya atau seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya, karena imam itu kudus bagi Allahnya. Allah saja melarang seorang imam untuk menikah dengan seorang pelacur dan Imamat 21:14 Seorang janda atau perempuan yang telah diceraikan atau yang dirusak kesuciannya atau perempuan sundal, janganlah diambil, melainkan harus seorang perawan dari antara orang-orang sebangsanya. Sehingga otomatis, nabi Tuhan juga tidak boleh menikah dengan seorang pelacur. Kalau memang benar Hosea menikahi Gomer, maka pelayanannya akan menemuni kesulitan, karena Hosea tidak menjadi berkat dalam pelayanannya. Secara rasio pemikiran, argumentasi  ini masuk akal. Ada cerita tentang seorang anak yang diputus hubungan dari ikatan keluarganya. Ayahnya mengatakan, “Apakah di dunia ini tidak ada gadis sehingga ia kawin dengan janda?” Papanya menganggap anaknya buta dan tidak bisa memilih perempuan. Apalagi ia seorang yang kaya. Lingkungannya akan sulit menerima anaknya menikah dengan janda tersebut. Dalam masyarakat ada kesan negatif tentang status janda, walau belum tentu status tersebut tidak baik tetapi begitulah anggapan masyarakat, apalagi kalau ada seorang nabi yang menikah dengan seorang pelacur. Dulu saya melayani gereja di Petamburan yang lokasinya dekat dengan Tanah Abang. Daerah Tanah Abang ini yang kemudian dibersihkan oleh gubernur DKI Jokowo dan  wakilnya A Hok dari para pedagang. Namun  mereka keberatan direlokasi ke daerah tersebut, karena di daerah itu sering terjadi transaksi seks, sehingga dikenal dengan nama Bongkaran. Suatu kali saya ditelpon seorang jemaat yang bertanya, “Pak Pendeta kemarin malam-malam ngapain ke daerah Bongkaran?” Saya coba mengingat-ingat kembali. Rupanya malam sebelumnya sekitar pk 21 saya melewati daerah itu, karena ada seorang jemaat yang anaknya kerasukan dan minta didoakan. Jadi saya bersama rekan-rekan hamba Tuhan pergi ke sana, karena daerahnya sulit dicapai, lalu kami naik mikrolet, dan melewati daerah  bongkaran itu sehingga jemaat itu bertanya untuk apa ke sana malam-malam.

2.     Pernikahan benar-benar  terjadi tetapi Gomer bukanlah seorang pelacur. Dia berdosa karena melakukan penyembahan berhala sama seperti bangsa Israel.  Penafsir dari kelompok ini merasa sulit secara moral untuk menerima seorang nabi menikahi seorang pelacur.

3.     Perkwainan benar terjadi. Gomer awalnya bukanlah seorang perempuan pelacur tetapi setelah menikah dengan nabi Hosea, ia menjadi pelacur.  Hal ini disebabkan di dalam diri perempuan itu ada kecenderungan moral untuk berzina dengan pria lain. Hal ini seperti kisah Yusuf yang digoda oleh istri Potifar yang senang “daun muda” (Kej 39:12).

4.     Pernikahan nabi Hosea benar-benar terjadi dan istrinya (Gomer) benar-benar seorang pelacur.  Kelompok ini mengatakan firman Allah ditulis secara jelas dan harus ditafsirkan secara jelas. Perkawinan Hosea benar-benar dengan seorang pelacur. Apa yang dipikirkan penafsir bahwa akan ada kesulitan secara moral tidak terjadi. Menurut penafsir kelompok ini, larangan untuk menikah dengan perempuan pelacur hanya dikhususkan untuk imam.  Secara hukum harus diketahui apakah hukum itu bersifat mutlak atau tidak. Pertama, larangan itu bersifat umum atau mutlak. Hukum yang absolute itu harus melihat konteks (situasinya). Larangan berzina itu sifatnya umum yaitu siapapun tidak boleh berzina dan sifatnya absolute (mutlak) yakni siapa yang melakukan perzinaan itu salah. Konteksnya orang Yahudi harus hidup secara kudus sehingga orang yang berzina harus dirajam hingga mati. Namun larangan untuk menikahi pelacur bukan bersifat umum melainkan  hanya berlaku untuk seorang imam (tidak berlaku untuk semua pria). Karena kalau berlaku berarti semua laki-laki tidak boleh menikahi seorang pelacur. Kenyataannya, nabi Hosea menikah dengan seorang pelacur. Jadi menurut kelompok ini, hanya pria berjabatan imam saja yang Allah larang karena seorang imam harus menjaga dirinya dengan kekudusan. Bukan berarti karena statusnya sebagai nabi, Hosea menikahi pelacur ,tapi ini untuk konteks orang Israel. Keadaan orang Israel saat itu tidak normal (wajar) pada zaman itu. Bahkan nabi Amos pernah menulis, seorang bapak dan seorang anak pergi ke tempat pelacuran (Amos 2:7b  anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan muda, sehingga melanggar kekudusan nama-Ku). Biisa dibayangkan bapak mengajak anaknya ke tempat pelacuran, dan itulah zaman yang tidak normal. Itu sebabnya penafsir keempat mengatakan karena kondisi yang krisis, maka Allah memberi contoh yang ekstrim juga. Dan ini membuktikan , Allah ingin menyadarkan Israel bahwa dosamu sudah sedemikian mengerikan.

Saya setuju dengan pandangan kelompok yang keempat. Pada situasi tertentu Allah menegur dengan cara yang tidak umum. Beberapa bagian dalam kitab suci juga menjelaskan contoh-contoh yang ekstrim. Contoh : nabi Yesaya disuruh berjalan dengan tidak berkasut dan berjalan selama 3 tahun (Yesaya 20:3 Berfirmanlah TUHAN: "Seperti hamba-Ku Yesaya berjalan telanjang dan tidak berkasut tiga tahun lamanya sebagai tanda dan alamat terhadap Mesir dan terhadap Etiopia). Bila saya hanya memakai kaos singlet dan celana dalam saja, maka jemaat akan marah, walau tujuannya untuk membersihkan selokan. Hal ini disebabkan jemaat akan merasa risih. Pada tahun 2007 saya pernah menolong jemaat di Ciledug yang menjadi korban dari banjir 5 tahunan. Saat itu saya menolong bersama semu dan para jemaat. Namun kemudian saya berpisah dengan se mu yang membawa pakaian saya, sehingga saya hanya memakai celana renang. Waktu menolong jemaat itu, saya hampir mati karena orang itu tiba-tiba memeluk sehingga saya sulit bernapas.  Lalu saya harus berjalan dengan berpakaian seperti itu. Karena ponsel saya dibawa se mu, maka saya pergi ke toko untuk meminjam telepon. Pemilik toko melihat saya dari atas ke bawah 3 kali dan mungkin pikirannya berkata, “kok muda-muda stress?”  Saya saat itu malu sekali karena dilihatin orang-orang. Saya merasa terpojok. Bayangkan nabi Yesaya berjalan tanpa kasut dengan telanjang selama 3 tahun!. Ia melakukan itu karena orang Israel masih menaruh harapan akan pertolongan bangsa Mesir dan Allah berkata, “Aku akan membawa Mesir dengan telanjang” artinya akan mempermalukan orang yang akan menolong bangsa Israel. Contoh lain : Yehezkiel membakar makanan di atas kotoran yang sebenarnya sangat menjijikkan (Yeh 4:12 Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya di atas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka."). Yehezkiel melakukan apa yang diminta Tuhan walau secara umum tidak lazim. Tetapi selanjutnya TUHAN berfirman: "Aku akan membuang orang Israel ke tengah-tengah bangsa-bangsa dan demikianlah mereka akan memakan rotinya najis di sana." (Yeh 4:13).

Belajar dari Hosea

Saat melakukan perintah Allah yang sulit, Hosea meyakini bahwa firman Allah tidak salah dan ajaib. Ada 2 hal yang bisa dipelajari dari Hosea :

1.     Hosea taat meskipun perintahNya sulit dalam pandangannya. Firman Allah tidak pernah meminta ijin manusia untuk  mengontrol dan menerimanya atau apakah ia pantas untuk dilakukan. Firman Tuhan tidak pernah “memikirkan” manusia akan perintahNya. Yang dibutuhkan hanyalah ketaatan yang Hosea berikan. Kejatuhan manusia, adalah kejatuhan di mana manusia tidak taat kepada firman Allah sehingga kemudian manusia terus tidak taat kepada Allah. Sehingga keselamatan hanya bisa terjadi karena orang yang taat kepada Allah dan menggantikan manusia. Dialah Yesus Kristus yang taat dan menggantikan manusia. Waktu Firman Tuhan mengajarkan untuk hidup dengan jujur, bisakah kita jujur dalam perkataan dan tindakan kita? Saya sering menemukan dalam lapangan, jemaat Kristen mengatakan bahwa ada 2 jenis kebohongan yakni bohong putih dan bohong hitam. Kalau bohong putih, kita boleh bohong dengan tujuan untuk yang baik dan benar. Kalau bohong hitam adalah bohong untuk tujuan kejahatan sehingga kalau orang Kristen tersudut boleh bohong sedikit. Hati-hati dengan mulut kita, karena hal ini yang paling gampang dilakukan manusia. Bisakah kita berlaku jujur, mengatakan “ya” di atas “ya”, “tidak” di atas “tidak” seperti yang diajarkan firman Tuhan? Waktu banjir kemarin, ada yang bertanya, “Mushi kalau banjir boleh tidak menginap di gereja?” Saya bilang, “Boleh”. Gereja pasti menolong dalam kondisi darurat. Kalau tidak darurat “tidak bisa” karena kalau semuanya tidur di gereja, maka gereja tidak bisa menampungnya. “Oh gitu ya?” dia menyambung, saya dengar gereja sekarang tidak boleh menolong seperti itu”. Waktu mendengarnya, hati saya sedih karena perkataan yang tidak benar sudah merajalela! Belajar taat dari mulut, mata, pendengaran dan perbuatan kita.

2.     Hosea adalah orang yang beriman melakukan firmanNya. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibarni 11:1). Iman adalah mempercayakan sesuatu yang Allah perintahkan dan perintah Allah itu baik. Waktu firman Allah bersabda, maka lakukanlah karena itu baik dalam kacamata orang yang percaya kepada Allah. Allah tidak pernah menjerumuskan manusia ke dalam hal yang tidak baik. Dalam kitab Hosea, baik keluarga dan bangsa Isareal berakhir bahagia (happy ending). Mereka bertobat dan kembali lagi kepada Allah. Iman kepada firman Allah merupakan sesuatu yang penting yang berada dalam diri kita. Iman kita kepada pemeliharaan Allah menjadi dasar di mana kita berani menghadapi hidup ini. Sesulit apapun kondisinya, firman Allah berkata, “Jangan pernah berpikir rancangan Allah tidak baik”. Saya dapat sebuah nasehat sahabat saya, “Mushi kalau dalam pelayanan berbeda pendapat, itu hal yang wajar. Jangan takut, kalau mushi tidak hidup dalam dosa. Kalau hidup dalam dosa, kita harus takut dan tidak boleh melakukannya. Kalau perbedaan pendapat dalam koridor yang baik, orang akan mengerti”. Waktu nasehat itu diberikan saya tercengang, karena terkadang saya berpikir firman Allah itu tidak baik. Saya curiga dengan Tuhan dan firmanNya tidak sesuai dengan konteks zaman sehingga tidak saya lakukan. Walau perintah Allah itu sepertinya “tidak baik”, lalukanlah dalam ketaatan maka kita akan diberikati.

Sunday, January 26, 2014

Allah yang Baik memberi yang Terbaik

Ev. Astri Sinaga

Maz 37:23-24
23  TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;
24  apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Pendahuluan : Mengapa Tuhan?

Pemazmur mengatakan Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya dan dengan yakin mengatakan apabila ia jatuh tidak sampai tergeletak karena Tuhan menopang tangannya. Ini ungkapan orang yang sangat yakin sekali padahal seringkali dalam hidup kita tidak seyakin itu. Saat dalam keadaan senang dan berkecukupan , kita merasa yakin sekali akan Tuhan, tetapi saat kehilangan, kesusahan atau penyakit datang bertubi-tubi, kita sulit merasa yakin. Bisakah saat menderita, kita mengatakan “Tuhan tetap menopang aku” atau “Tuhan itu baik”?. Kenyataannya saat susah, kita sulit mengatakannya. Beberapa waktu lalu, mama saya yang berusia 80 tahun mengalami sakit di bagian punggungnya (tulang belakang nomor 1 dan 2). Dia yang biasanya aktif, paham firman Tuhan  dan senang mendengar khotbah harus terbaring di tempat tidur selama 3 bulan.  Karena hal itu, ia mengajukan pertanyaan kepada saya, “Mengapa ya aku sakit?” Saya menjawab, “Kok tanya kenapa? Kan sudah 80 tahun, pasti bisa sakit”.  Dia menambahkan, “Tetapi aku kan cinta Tuhan, kenapa aku dikasih penyakit?” Kita mungkin sering mempertanyakan hal seperti itu, kalau sedang susah kita mengatakan, “mengapa Tuhan?”, “kok bisa?”, “mengapa aku sakit?”, “mengapa aku kehilangan?”, “mengapa orang jahat kepadaku?”, “mengapa aku menderita?”, “mengapa aku, kenapa tidak orang lain?” atau “mengapa Kau biarkan aku bangkrut?” Pertanyaan ini seakan-akan menyatakan bahwa bukan saya yang harus mengalaminya. Dan dalam menghadapi penderitaan, kita tidak bisa mengatakan seperti pemazmur “Tuhan tetap menopang tangannya”.

Kalau kita menyaksikan kisah orang-orang di Alkitab, hampir tidak ada yang tidak menderita. Semakin hebat Tuhan memakai seseorang, semakin hebat penderitaannya. Yusuf dipakai dengan hebat oleh Tuhan, tetapi ia juga mengalami penderitaan yang hebat. Ia dijual oleh saudara-saudaranya dan masuk ke penjara yang dalam sekali. Yeremia dipakai Tuhan luar biasa, tetapi hidupnya juga banyak penderitaan  dan ditolak orang-orangnya sendiri. Daniel dipakai Tuhan tapi juga mengalami penderitaan. Sadrakh, Mesakh dan Abednego dimasukkan ke perapian yang menyala-nyala. Tetapi walau menderita mengapa mereka punya keyakinan kepada Tuhan? Walau diancam, mereka tetap punya keyakinan. Apa yang sesungguhnya mereka pahami tentang Tuhan? Apa arti Allah bagi mereka sehingga walau menderita mereka tetap yakin kepada Tuhan? Apa yang kita pahami mempengaruhi respon kita dalam menghadapi masalah.

CS Lewis (1898-1963) seorang teolog dan sastrawan Inggris dalam bukunya A Grief Observed (1961) menulis, “Di manakah Tuhan? Sewaktu anda besuka-cita anda tidak memerlukan Dia, sewaktu datang kepadaNya Dia menyambutNya dengan tanganNya. Saat mengalami penderitaan, apa yang didapatkan? Pintu yang terkunci rapat-rapat sehingga anda berbalik dan pergi. Sebelumnya ia juga menulis buku The Problem of Pain (1940). Melalui buku ini Lewis berusaha memberikan tanggapannya sebagai intelektual Kristen dalam memandang penderitaan. Buku ini berupaya mendamaikan iman Kristen ortodoks dalam Allah yang adil, penuh kasih dan mahakuasa dengan rasa sakit dan penderitaan. Lalu dia menikah namun 3 bulan kemudian istrinya meninggal karena kanker tulang. Setelah itu CS Lewis menulis A Grief Observed. Itu suatu kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Ia mengalami penderitaan, dan kehilangan yang dalam. Waktu ia menulis buku yang kedua berbeda dengan yang pertama. Dia lebih dari sangat emosional. Meluap hatinya. Yang tidak berubah, kepercayaannya kepada Tuhan. Dalam A Grief Observed, dia akhirnya mengatakan, “Kalau mengalami hidup dan mati, kita akan menemukan pengetahuan yang dalam tentang siapa itu Allah”. CS Lewis menulis buku berdasarkan pengalaman yang berbeda namun tidak berbeda keyakinan kepada Allah. Apa yang kita pahami tentang Allah akan mempengaruhi sikap kita dalam menghadapi masalah. Kita bisa melihat orang yang percaya kepada Tuhan seperti nabi, rasul dan jemaat mula-mula. Mereka tidak punya keraguan sedikitpun terhadap siapa itu Tuhan.

Paling tidak ada 3 hal yang diyakini orang-orang dalam Alkitab tersebut

1.    Allah adalah Allah Pencipta. Fakta bahwa Allah adalah pencipta tidak bisa diganggu gugat.  Allah mencipta dan mempunyai tujuan dalam penciptaanNya. Allah menempatkan maksud hatiNya dalam ciptaanNya. Mungkin hal ini bisa digambarkan melalui ilustrasi sbb : saat punya anak, orang tua mempunyai tujuan di dalam anak-anaknya. Mungkin ada yang ingin anaknya menjadi dokter. Maka orang tua membimbing dan memperlihatkan dunia kedokteran seperti apa, sehingga suatu saat ia menjadi dokter. Allah adalah pencipta yang mempunyai tujuan atas ciptaanNya, Dia mencipta dalam kebaikanNya. Sehingga sewaktu mencipta Dia melihat dan mengatakan semuanya baik. Dia yang baik menciptakan ciptaan yang baik. Dia yang baik meletakkan tujuan yang baik dalam ciptaanNya. Sehingga rancangan yang Dia buat, juga merupakan rancangan yang baik. Sebagai lawannya, ada rancangan yang jahat. Yang jahat adalah hati manusia.

2.    Setelah mencipta, Allah tidak meninggalkan ciptaanNya melainkan Dia terus memeliharaNya. Dia bisa memelihara karena Dia berkuasa. Dia bahkan berkuasa atas hidup kita sehingga Dia bisa ikut campur tangan (intervensi) dalam hidup kita. Kalau tidak punya kuasa, Dia tidak bisa melakukan intervensi. Di STT Amanat Agung, saya bertugas sebagai pembantu ketua di bidang akademi. Kalau ada mahasiswa yang kelihatannya kurang baik belajarnya, saya bisa memanggilnya. Saya panggil dan kemudian mengajaknya berbicara, “Kenapa nilaimu turun?”, “Ada apa dengan masalah belajar?” Kau punya masalah di kelas? Di keluarga? Saya berhak mengatakan kepadanya, “Karena nilaimu turun,  semester depan kamu tidak boleh mengambil pelajaran banyak-banyak”. Saya berhak ikut campur karena saya punya kuasa. Tetapi dengan siswa di sekolah lain, saya tidak bisa karena tidak punya kuasa. Untuk intervensi harus punya kuasa. Waktu anak masih kecil, kita bisa menyuruhnya melakukan apa saja. Kalau kita minta, “Kamu tidur sekarang!” maka ia harus tidur. Ketika sudah besar, mereka menjadi kuat dan berkuasa. Bahkan ketika sudah menikah dan orang tuanya ikut campur dengan keluarganya, mereka akan mengatakan, “Papa jangan ikut campur!” Kalau kita berkuasa, kita bisa ikut campur. Allah berkuasa, maka Dia bisa ikut campur. Dia bisa berintervensi dalam hidup kita, bahkan waktu kita tidak tahu apa yang terjadi dalam kita, Dia bisa intervensi karena dia berdaulat penuh atas hidup kita. Konsep ini sebenarnya juga kita miliki sehingga tidak susah untuk mengerti hal ini. Buktinya, kita selalu berdoa meminta supaya penyakit kita disembuhkan, padahal dokter meminta kita agar tidak lagi bekerja. Kita punya pikiran Allah lebih berkuasa dari dokter. Kita juga berdoa agar anak  kita diberkati hidupnya atau kita berdoa agar punya umur panjang. Kita berdoa begitu karena Allah berkuasa. Pemahaman kita terhadap Tuhan mempengaruhi cara kita bersikap. Dalam keadaan senang kita bisa bersikap benar. Dalam keadaaan susah, apakah tetap kita bisa mempunyai sikap benar dan apakah saat itu kita tetap bisa katakan Tuhan itu baik? Saat menderita kita bertanya “mengenapa Tuhan?” seakan-akan Tuhan tidak bisa apa-apa atas penderitaan kita.
Beberapa tahun lalu ada seorang alumni STT Amanat Agung yang meninggal dunia dalam umurnya yang “baru” 30 tahun. 3 bulan sebelumnya ia baru mengetahui bahwa ia menderita kanker. Dalam waktu 3 bulan, kanker itu menyebar sedemikian rupa sehingga ia meninggal. Sebulan terakhir, kami para dosen masih terus melakukan kontak dengannya. Dia seorang hamba Tuhan yang baik, masih muda dan sungguh-sungguh dalam pelayanan. Seminggu sebelum meninggal ia sempat mengirimkan pesan bahwa ia sudah tidak minum obat, dokter sudah tidak bisa apa-apa lagi dan ia hanya menunggu di rumah. Ia berpesan bahwa, “Saya akhirnya bisa mengerti apa artinya Tuhan itu baik”. Orang yang kena kanker yang sedang menunggu kematiannya bisa mengatakan, “Tuhan itu baik”. Kalau kita menyadari betul bahwa Allah itu Pencipta dan berkuasa memelihara, kita meyakini bahwa Dia baik!

3.    Bila Allah kita mencipta dan terus bekerja memelihara ciptaanNya, maka tidak ada kebetulan dalam hidup kita. Segala yang terjadi, ada dalam rancangan Tuhan.  Allah mencipta dan merancang , memelihara supaya rancangan ini terjadi. Jadi Allah merancang hal-hal yang baik dalam hidup kita. Sehingga buat orang percaya tidak ada istilah kebetulan. Kita seringkali mengatakan kebetulan. Misalnya saat ada yang mengatakan, “Wah kamu hebat ya pekerjaannya” atau “penjualan kamu bulan ini hebat” , supaya kelihatan rendah hati kita mengatakan, “itu hanya kebetulan”. Orang  percaya tidak punya pemahaman hoki atau untung-untungan (untung yang kebetulan). Hidup kita tidak ada kebetulan. Istilah “kamu lebih beruntung daripada saya” tidak ada dalam hidup ini karena semua ada dalam rancangan Allah. Kalau Allah merancang, maka Allah tidak pernah kaget melihat kita dan mengatakan, “kok bisa ya?” Tidak ada yang kebetulan, yang ada adalah rancangan Tuhan. Sehingga suatu saat kita mengalami penderitaan, lalu kita katakan, “Tuhan, nasibku buruk amat”. Yang benar adalah Tuhan mengijinkan rancangan ini terjadi dalam hidupku. Maka aku harus belajar mencari kehendak Tuhan dan apa yang harus kulakukan.

Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya. Tidak ada yang kebetulan, karena kuasa Tuhan tidak ada yang kebetulan. Kebetulan tidak mungkin lebih besar dari kuasa Tuhan. Maz 37:23-24 mengajarkan :

1.    Walaupun hidup orang percaya di tengah kesulitan, Allah adalah Allah yang berkuasa. Ia mempunyai rancangan dan ketetapan atas kita. Karena Dia pencipta dan pemelihara ciptaanNya sehingga harusnya kita berani melangkah dan mengambil keputusan. Karena Tuhan akan menolong. Banyak yang tidak berani ambil keputusan. Padahal kalau kita salah mengambil keputusan, Tuhan bisa memperbaikinya.
2.    Allah bukan saja menetapkan langkah pada orang yang berkenan kepadaNya. He make his steps firm. Allah senang orang yang mendahulukan (mementingkan) melakukan kehendakNya. Dalam keadaan sulit tetap berpegang teguh dalam mencari dan melakukan kehendakNya. Kalau pun mengajukan pertanyaan “mengapa”, itu bukan pertanyaan yang bernada protes tetapi berkonotasi bahwa “Aku ingin mempelajari dan  mengoreksinya agar menjadi lebih baik”.

3.    Dia menyatakan berarti ada janji bahwa kalaupun  orang yang berkenan kepadaNya jatuh tidak akan sampai tergeletak karena tangan Tuhan tidak pernah lepas menopangnya. Seringkali saat jatuh, kita pikir Allah tidak sedang bersama dengan kita. Padahal Dia tidak pernah melepaskan kita, sehingga orang percaya jangan takut (paranoid) atau enggan hidup karena ada janji Tuhan.  Kalaupun susah, menderita atau salah, Tuhan akan menolong dan mengembalikan ke jalan yang benar. Berhentilah mengeluh dan bertanya, “Mengapa Tuhan tega menerbitkan penderitaan? Tuhan aku tak sanggup lagi?” Tuhan tidak mungkin tidak sanggup. Tuhan tetap sanggup karena Allah jauh lebih berkuasa dan dalam kuasaNya Dia bisa memperbaiki yang salah. Saya punya kawan yang sama-sama mengikuti kelas-kelas Sekolah Minggu sampai kuliah tahun pertama dan bersama-sama di persekutuan pemuda. Waktu tahun pertama kuliah, ia mengalami kecelakaan di tol. Umurnya baru 19 tahun dan dia mengalami gagal ginjal! Tubuhnya kurus dan harus cuci darah. Dia bertahan hidup 20 tahun kemudian dengan cuci darah. Setelah saya menjadi hamba Tuhan, saya melayani Christmas Carol dan perjamuan kudus rumahan. Saat itu saya melayani dia. Setiap datang, ia selalu berkata, “Tahun depan ketemu lagi tidak ya?” Saya beberapa kali menemani dia menjalani cuci darah. Karena sudah begitu lama cuci darah, susternya mengalami kesulitan mencari pembuluh darah yang bisa ditusuk jarum. Kalau tidak memahami, dalam peristiwa yang berat itu muncul kebaikan Tuhan di tengah hidupnya. Dia hidup dari cuci darah ke cuci darah. Namun banyak orang belajar dari dia. Papanya yang awalnya menolak kekristenan, menjadi percaya. Anggota keluarganya menjadi saling menolong. Dia menjadi berkat untuk keluarganya. Saya membuat film dokumenter tentang dia berdurasi sekitar 40 menit dan telah diputar di tengah jemaat dalam acara keluarga. Setelah itu setahun kemudian dia meninggal. 20 tahun hidupnya menjadi berkat bagi orang lain. Di mata manusia hidupnya menderita dan tidak enak. Terakhir kaki kanannya diampuntasi dan tulangnya ada yang sudah terpisah (rusak), namun di tengah penderitaan dia menerima kebaikan. Kalau kita memahami Allah pencipta dan memelihara hidup kita, maukah kita memiliki hidup yang berkualitas dan mengimani hidup kita?

Dengan memahami ketiga hal di atas, maka hidup ini tidak ada kebetulan lagi. Pemikiran ini yang ada dalam pemikiran pemazmur. Maka ia bisa mengatakan TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya (Maz 37:23) . Karena Allah berkuasa, Allah yang menetapkan langkah-langkah bagi orang percaya dan juga memeliharanya agar dapat menjalani hidup dengan baik. Allah inilah yang memelihara hidup pemazmur. Pemazmur memiliki keyakinan, apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya (Maz 37:24). Bukan berarti orang percaya tidak berani jatuh dan menderita. Bukan berarti ia tidak pernah mengalami kemalangan dan kerugian.  Tetapi ia punya keyakinan, kalau pun jatuh tidak akan tergeletak karena Tuhan yang menolong. Begitu yakin, karena Allah lebih berkuasa daripada kesulitan-kesulitannya. Ilustrasinya : Suatu kali dalam perjalanan ke Bandung , mobil saya rusak. Entah kenapa mesinnya tidak bisa menyala, “kebetulan” (coincidently) dekat mobil berhenti, ada sebuah bengkel sehingga saya pun meminta bantuan montirnya.  Montir itu kemudian membuka kap mobil lalu coba mencari penyebab rusaknya. Namun setelah beberapa saat mencoba, ternyata mobilnya tidak hidup juga. Lalu dia coba berbaring di bawah mobil dan mengutak-atik mobil, tapi tetap tidak menyala. Akhirnya ia mengatakan, “Mobilnya tidak bisa diperbaiki”. Saya katakan, “Ah, bapak tidak canggih”. Artinya ia tidak cukup pintar memperbaiki mobil saya, artinya kerusakan mobil saya lebih besar dari kemampuan dia. Kalau kita punya problem (masalah) yang besar, bisakah kita mengatakan, “Tuhan engkau tidak bisa menolong saya”? Tidak mungkin kita mengatakan demikian. Karena Dia lebih besar dari problem saya. Seberapa hebatnya masalah dalam hidup kita, Dia bisa perbaiki. Apa yang kita pahami mempengaruhi bagaimana kita bersikap dalam hidup. Kalau kita paham, Allah adalah Allah yang berkuasa dan memelihara hidup kita, sanggupkah kita hidup dan beriman kepadaNya? Dengan percaya Dia Allah yang baik dan memberikan yang terbaik bagi kita, pemahaman itu harus bekerja dengan baik. Pemahaman itu bukan hanya di kepala saja sebagai informasi (bukan hanya tahu saja), tetapi ketika penderitaan dan kesusahan itu datang, apakah pemahaman itu bisa teruji baik? Hal ini ibarat kita punya TV besar (60 inch) dan suaranya bagus, sehingga semua orang kagum dengan TV tersebut. Tetapi bila tidak pernah kita nyalakan TV nya (hanya dipajang di ruang tengah saja), maka tidak ada gunanya. Sama seperti pemahaman kita. Apakah kita tahu “Allah itu Pencipta”? Tahu. Apakah kita tahu, “Allah berkuasa memelihara hidup kita?” Tahu. “Apakah Allah merancang hidup kita?” Tahu. Tapi saat kesusahan datang, apakah kita tetap mengatakan Tuhan itu baik? Dia tahu apa yang terbaik buat kita. Tahun 2014 baru memasuki bulan Januari atau tahun ini masih panjang. Namun begitu memasuki tahun baru, terjadi banjir besar. Banyak orang tidak punya keyakinan untuk hidup Tetapi kita punya keyakinan karena Dialah Allah yang memelihara hidup kita sehingga kita punya keyakinan dalam hidup kita. Apapun yang terjadi, kita percaya Allah memberikan yang terbaik.