Wednesday, January 15, 2014

Mengasihi Tuhan dan Sesama

Pdt. Ridwan Hutabarat

Kalau ada orang membawa benda tajam dan menusuk kita, apakah orang tersebut adalah orang jahat?  Orang tersebut bisa jadi orang jahat dan bisa juga orang baik. Kalau dia menusuk kita untuk kebutuhan dia berarti dia orang jahat. Tapi kalau dia menusuk kita karena kebutuhan kita, berarti dia  itu orang baik. Misalnya : dokter menusuk (menyuntik) kita, maka itu baik karena ia hendak menolong kita. Melayani Tuhan itu berarti mengasihi dan mengasihi itu lebih banyak “tidak enaknya”. Jangan bicara mengasihi kalau tidak ada pengorbanan. Allah begitu luar biasa, dari aspek penciptaan terlihat dengan jelas bahwa Dia mengasihi kita karena Dia menciptakan kita sesuai dengan gambarNya!

Mengasihi
Mengasihi berarti memberikan yang terbaik bagi obyek yang kita kasihi. 5 tahun setelah perkawinan kami, saya khotbah di Medan kemudian diteruskan di UGM, Yogya. Seminggu lebih saya tinggalkan istri. Setelah khotbah saya ke pasar Beringharjo untuk membelikan kado buat istri saya. Setelah itu kadonya saya bungkus dengan kertas kado yang bagus. Ketika dikasih, istri saya mengatakan, “Mengapa repot-repot?”. Begitu membuka bungkusannya, ia berkata, “Pa kalau beli batik nanti ajak saya. Ini batik mbok-mbok”. Jadi meskipun saya memberikan yang terbaik menurut pikiran saya, namun belum tentu terbaik menurut istri saya. Jadi tidak ada orang yang menikah berdasarkan cinta tapi  berdasarkan suka ibarat pepatah “Tak kenal maka tak sayang” sehingga makin kenal makin sayang. Mana ada pernikahan berdasarkan hanya mengenal pribadinya? Setiap orang yang mau pernikahannya diberkati di gereja saya harus mengikuti konseling pra-nikah selama 6 bulan. Kalau tidak mau, saya persilahkan untuk mencari pendeta lain. Itu harga mati karena saya menghayati arti pernikahan. Satu hari sebelum pernikahan, saya telepon calon pengantinnya dan berkata, “Besok kamu akan menikah. Saya mau ingatkan kamu. Malam ini kalau mau kamu boleh putus”. Sang calon pengantin berkata, “Tidak mau”.  Saya lanjutkan, “Benar tidak mau?” Sang calon pengantin bertanya, “Memang kenapa?” Saya jawab, “Karena setelah pemberkatan nikah besok, tidak ada lagi kamus putus”. Makanya setelah pemberkatan nikah, orang memberi salam basa-basi,”Selamat berbahagia”. Kalau saya beri ucapan,”Selamat bonyok”. Karena tidak ada orang menikah yang langsung cocok, kecuali menikah dengan tiang listrik. Tuhan mengirim pasangan yang tidak cocok yaitu menikah dengan lawan jenis. Tidak boleh menikah dengan sejenis. Sehingga waktu menikah, diiringi lagu yang bernada mars. Itu mars peperangan. Sambungannya rentemtem (bunyi tembak-tembakan). Kenapa tidak berani khotbah jujur walau tidak popular?

Saya orang Batak, istri saya orang Tionghoa. Latar belakang saya keras, kejam dan sadis. Pada tahun 1979 saya menjadi pembina pemuda se Jakarta-Bogor. Tapi pada tahun yang sama, saya masuk penjara Cipinang ke-2 kali karena saya kejam dan sadis, walau saya mengambil kuliah jurusan seni teater dan musik. Mama saya bahkan pernah bilang, “Lebih baik elo mati”.  Makanya saya dapat “mujijat” sakit jantung parah. 6 bulan saya diopname di rumah sakit. Saat itu, jangankan duduk , untuk memiringkan badan saja saya tidak bisa. Berat saya tinggal 32 kg. Super langsing.  Tekanan darah saya 230/40. Profesor di RS Cipto bahkan berkata, “Tidak ada harapan hidup!” Nafas saya satu per satu (megap-megap) seperti ikan mas koki. Sebelum menikah, kami berpacaran selama 4,5 tahun. Saat berpacaran, kami menjaga kekudusan. Kami bisa saja pacaran di bawah lampu 5 watt, tapi kami menghindarinya dan juga menghindari nonton bioskop. Alasannya sederhana karena nafsu kami normal, sehingga gampang “korslet”. Jadi saya sarankan untuk menghindari pacaran yang tidak bisa dilihat orang lain, kecuali tidak normal. Begitu kami menikah, terjadi konflik dan konflik. Istri saya sangat super bersih sekali banget dan sangat disiplin.  Rumah kami dipel 5 kali sehari sehingga kalau anda berkunjung ke rumah saya dan menggeser lemari lalu gosok lantai, maka tidak akan menjumpai debu. Akibatnya saya menderita.  Setiap masuk rumah harus cuci kaki. Kalau sepuluh kali masuk rumah, maka harus cuci kaki 10 kali!  Yang mencuci piring hanya boleh istri saya. Garpu-sendok yang jumlahnya hanya 4 buah dicuci satu per satu. Setelah cuci, dibilas dengan air bersih , direndam dengan air panas, lalu dengan memakai jepitan diambil dan ditaruh ke rak. Lalu ambil kain-lap untuk mengeringkannya. Setelah itu sendok, garpu, gelas dibungkus dengan plastik. Saat mau makan, sendok-garpu-gelasnya  disiram dulu dengan air panas. Saya seorang hamba Tuhan, dengan tingkat kebersihan seperti itu, maka kalau makan di luar saya bisa sakit perut. Sewaktu mau naik lift, istri saya melarang untuk memencet tombol lift. Dia kemudian membuka tasnya, mengambil tissue dan menggunakan sebagai alas untuk memencet tombol lift. Saat menggunakan tangga escalator di mal, istri saya minta untuk tidak memegang railingnya. Alasannya karena banyak orang yang naik, padahal baru saja mereka “ngupil”. Juga banyak orang yang naik, “cebok”nya tidak bersih. Di pikiran istri saya, semua tidak bersih sehingga tidak boleh pegang. Setelah 6 tahun pernikahan, saya merasa tidak tahan lagi. Saya berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, tilik hati saya. Sedikitpun saya tidak mau mengganti istri. Tetapi saya tidak mampu melanjutkan perkawinan ini”. Karena latar belakang saya, orangnya super jorok. Main piano di pub bisa sampai jam 2 pagi. Kemudian pulang dan dengan baju yang sama, saya tidur. Tapi firman Tuhan berkata, “Segala sesuatu dari Dia”. Berarti istri saya dari Tuhan. Tuhan tidak pernah salah pilih. Menyadari hal ini, menangislah saya. Seolah-olah Tuhan berkata, “Perlukah kau menasihati Aku?” Sejak itu paradigm (sudut pandang)  saya berubah. Baru saya mengerti arti pelayanan.

Matius 22:34-40
34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
35  dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
36  "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
37  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
40  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Kata kunci perikop di atas ada di ayat 40. Itu konteks berikutnya karena ditulis sebelum Perjanjian Baru. Saat itu belum ada kitab Matius sampai Wahyu. Melayani tanpa memiliki kasih adalah nihil. Jemaat Korintus paling lengkap karunianya (lihat 1 Kor 12 dan 14), namun di antara kedua pasalnya diselipkan 1 Kor 13 yang berbicara tentang kasih. Jadi tidak otomatis, setelah belajar sekolah teologia kemudian hamba Tuhan bisa melayani dengan kasih walaupun, tidak bisa juga melayani bila tanpa pengetahuan. Seperti kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang” jadi harus ada pengenalan. Orang Kristen yang melayani Tuhan tanpa mengenalNya, sangat disayangkan, walau kenyataannya banyak yang begitu. Ahli Taurat dan orang Farisi mengenal firman Tuhan.  Tuhan berkata, Mat 23:3  Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya (Mat 23:3). Ahli Taurat bagus pengajarannya tetapi jangan ikuti perbuatannya karena mereka mengajarkannya tapi tidak melakukannya. Saya sedih melihat gerakan gereja yang terlalu menekankan berkatNya. Saya juga sedih dengan pengetahuan yang bagus tapi tidak mau melakukan firman Tuhan. Makanya Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Ada yang sudah cukup berusia namun masih mau belajar di sekolah teologia,  padahal banyak anak muda yang tidak mau. Seharusnya anak muda juga membaca buku rohani, karena hal ini penting seperti yang tertuang dalam Mzm 119:9 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Tidak mungkin seseorang melayani orang lain kalau tidak mengenal Allah pencipta mereka. Maka setiap aktifis gereja , harus punya pengenalan akan Tuhan secara benar. Walaupun tidak harus sekolah teologia formal tapi dasarnya benar. Seharusnya itu harga mati. Jadi wajar kalau gereja walau lelah dan tidak popular, memiliki kelas pemuridan dan pengajaran yang bagus. Ini penting!

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (ayat 39). Jadi kasihilah dirimu sendiri dulu. Kuncinya ada pada kata “seperti”. Standarisasi mengasihi sesame adalah sejauh mana kita mengasihi diri sendiri. Kalau banyak konflik, itu indikasi (pertanda) tidak mengasihi diri sendiri. Kalau membalas kejahatan dengan kebaikan, itu menunjukkan kita mengasihi diri sendiri. Tapi berlawanan dengan hal itu, moto yang seringkali dipakai setiap hari malah “kalau bisa dipersulit mengapa dipermudah”.

Kasih Suami-Istri

Efesus 5:22-33
22  Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,
23  karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
24  Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
25  Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
26  untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman,
27  supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
28  Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
29  Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,
30  karena kita adalah anggota tubuh-Nya.
31  Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
32  Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
33  Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Perikop di atas tentang kasih antara suami dan istri. Tapi sebelum itu kasihilah dirimu sendiri. Itulah sebabnya dikatakan pada Ef 5:15  Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.  Bebal artinya bodoh sekali, suka mengulang kesalahan yang sama. Kalau kita mengasihi dan mengenal Tuhan, maka kita mengenal diri kita. Bahkan seorang ahli jiwa (psikolog) bila tidak mengenal Yesus, tidak bisa mengenal dirinya. Hanya dengan mengenal Tuhan (atas dasar begitu besar Allah mengasihi dunia ini) baru bisa mengenal diri. Melalui Tuhan Yesus, kita mengenal diri kita dan kita bisa menerima diri kita sebagaimana adanya. Jangan cari jati diri melalui orang lain. Ada seorang teman sekolah teologia yang gaya khotbahnya seperti Pdt. Octavianus dan ada juga yang gaya khotbahnya seperti gaya Pdt. Stephen Tong, berarti hilanglah jati diri mereka. Postur tubuh saya pendek dan gigi tidak rata. Namun di luar itu saya punya kelebihan yang tidak dipunyai orang lain demikian sebaliknya. Alasan manusia menjadi sombong atau minder karena manusia tidak mengenal diri. Kalau postur tubuh pendek, tidak perlu memakai sepatu dengan hak setinggi 15 cm. Jangan cara ngomongnya dibuat-buat untuk menutupi gigi yang tidak rata. Ketika ada orang kaya, kita minder. Untuk orang miskin di bumi yang menjadi minder, saya tegur agar tidak menderita 2 kali (di bumi dan di neraka). Apa adanya saja, jadi enak. Maka kenallah diri sendiri. Perhatikan dengan seksama (teliti) bagaimana kita memperbarui hidup kita. Karena kematian datang secara tiba-tiba. Seperti di Bandung dan Medan, ada pesawat jatuh sehingga para penumpangnya mati. Ada juga penerjun payung, yang saat terjun payung kuncup sehingga ia meninggal. Telitilah. Bagaimana memilih tontonan, makanan dan  tidur agar diperhatikan. Sehingga orang Kristen harus hidup tertib. Sering kalau ada banyak makanan yang kita pilih adalah makanan yang enak bukan yang sehat.

Dari pilihan yang diambilnya, kelihatan orang itu mengasihi atau tidak. Ibadah di gereja kami pk 8 pagi dan saat diubah menjadi pk 7 banyak yang protes, namun kebaktian tetap dimulai pk 7  pagi. Orang terambat bukan karena waktu dan jarak. Orang terlambat karena pilihan. Bandingkan bila akan naik pesawat pk 7 pagi, maka penumpang akan sampai bandara 2 jam sebelumnya. Survei membuktikan orang mudah telat ke gereja. Kalau alasan telat karena banjir, bisa saja tapi tidak bisa berulang-ulang. Jadi terlambat karena tata nilai dan  UUD (Ujung Ujunganya Duit). Kalau terlambat tiba di bandara, maka akan hangus tiketnya sedangkan  kalau terlambat ke  gereja, lewatlah  kolektenya. Jadi orang bisa melayani kalau tertib hidupnya. Tidak bisa seenaknya. Maka melayani itu mulai dari kehidupan sehari-hari. Lulus tidak akan pengenalan akan Tuhan? Alasan tidak memilih omong jorok, karena tidak bagus untuk jiwa kita, maka lebih baik kita memberkati orang. Bukti mengasihi diri adalah dengan memberikan yang terbaik bagi diri dengan kesadaran penuh. Jadi tidak ada Bucheri (Bule karena Cat Sendiri). Botak rambutnya uga tidak apa-apa. Jangan kita mengejar sesuatu yang tidak utama. Misalnya : ke salon bisa 4 jam, ditambah pedicure dan manicure agar dikatakan cantik (berarti aslinya jelek). Boleh ke salon, tapi jangan sampai terlalu banyak membuang waktu dan dana ke hal yang tidak utama. Tidak usah cari ponsel yang mahal yang penting sesuai kebutuhan saja.  Tidak perlu game yang canggih karena game tidak menghidupkan. Ada yang main game sampai 2 jam sehari karena tidak mengenal Tuhan. Seharusnya seperti yang tertuang pada Rm 11:36  Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Karena segala sesuatu dari Dia harus ditindaklanjuti. Jangan dari kita, karena tidak efektif (boros). Ketika sudah mengenal diri sendiri lalu melayani Tuhan, maka siapa pun yang dilayani dari Tuhan. Maka melayani pun dari Tuhan. Yang kaya dan miskin kita layani dan hormati sebaik-baiknya. Karena banyak hal kita perlu perhatikan khusus termasuk  memperlakukan jemaat dengan indah. Hal itu akan berdampak luar biasa pada pelayanan kita dan akan damai hidup ini. Maka tidak usah fokuskan ke jumlah jemaat, tapi fokuskan ke kualitas. Tidak perlu instan tapi pasti bertambah jumlahnya. Kalau jemaat terlayani itu “iklan” terbagus. Kalau ada hamba Tuhan tidak mengenal jemaat , itu tidak hebat. Bukan alasan dengan jumlah yang sedikit. Tapi kalau kita melayani sebaik-baiknya dan punya tingkat pengenalan yang baru, segala sesuatu dari Dia untuk Dia sehingga kita bisa melayani sebaik-baiknya, maka Tuhan berkenan dengan kita, pelayanan kita dan gereja kita. Tiap tahun akan ditambahkan jiwa walau tidak meledak, tapi bisa dipertanggungjawabkan. Kalau kita lakukan dengan konsisten, lama-lama daya tarik gereja yang mengutamakan kasih semakin menarik. Saya khotbah di mana-mana apa adanya walau konsekuensinya tidak diundang lagi. Karena ada gereja yang saat menyanyikan lagu pujian hanya menekankan pada dimensi hiburan. Nyanyian terharu tapi kelakuannya yang  “mengharukan”. Perubahan kelakuan tidak ada. Kemasan boleh berubah tapi isi jangan berubah. Gereja juga jangan terlalu kaku sekali. Lagu-lagu lama yang dinyanyikan dengan iringan music kontemporer dan tepuk tangan terdengar enak juga. Saya sedih gereja terlalu kaku dan anak mudanya menyanyi dengan tertib tidak boleh tepuk tangan. Tapi pelan-pelan mulai ditanamkan lagu-lagu yang berbobot karena lagu sekarang “ringan”. Suatu kali saya memimpin KKR di Surabaya. 2 hari sebelumnya saya membina panitianya karena saat itu lagu “Tuhan Kristus Tidak Berubah” dikatakan kurang urapan dengan alasan lagu lama. Lagu “Dalam Nama Yesus Ada Kemenangan” bagus dinyanyikan karena bertahun-tahun kalah. Bila “dipepet” kurang urapan, terus mengalah anda bisa menangis. Itu konteksnya lebih dalam. Maka seharusnya kita sebagai pelaku firman. Kalau itu dilakukan, gereja akan berorientasi pada kekekalan dan tidak kalah dengan zaman. Kebenaran tetap lebih mahal dalam hidup kita. Pasti gereja akan diberkati. Itulah nilai tertinggi. Kenapa orang lebih semangat dengan mujijat kesembuhan padahal bukan itu nilai tertinggi. Oleh karena itu belajarlah masing-masing, perhatikan dengan seksama bagaimana kamu hidup. Yang terbaik kita lakukan. Seringkali kita korbankan kesukaan kita, karena kita lakukan yang terbaik untuk Tuhan. Ef 5:16  dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Lakukan kesukaan Tuhanmu. Berikan yang terbaik untukNya. Kepada kedua hukum itulah tergantung hukum Tuhan (Matius 22:34-40). Maka ada semangat yang kita lakukan. Kalau ada kasih , tidak pernah memadamkan pelayanan kita. Kita tidak pernah menyerah. Jauh melebihi orang yang tidak mengenal Tuhan dan sesama. Karena orang ini tinggal tunggu waktu saja, akhirnya tidak tahan uji. Hal ini pasti, karena berorientasi pada kesementaraan bukan kekekalan. Kalau mengenal diri kita, tahu kekurangan kelebihan, penuhi kebaikan Tuhan  pada diri kita, maka janganlah kamu bodoh, tetapi usahakan supaya mengerti kehendak Tuhan. Maka melayani dalam bidang apapun ,dalam pengertian “kehendak Tuhan kita lakukan”. Dalam konteks ini Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa (Maz 108:13A). Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31B)

Tuesday, January 14, 2014

Dicipta untuk Memuliakan Allah



Pdt. Ridwan Hutabarat *)

Yesaya 43:7 “semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!"

Ciptaan Allah

Konteks pada Yesaya 43:7 dialamatkan ke orang Israel yang sangat parah moralnya, walaupun mereka tetap mengidentifikasikan diri sebagai orang yang percaya Allah. Mereka hanya percaya secara rohani saja. Ibarat seorang aktifis gereja yang kelakuannya tidak beda dengan orang tidak percaya, malah lebih jahat. Konsekuensi logis kita diciptakan Allah adalah paling cocok dipakai Allah. Apa yang diciptakan paling cocok dipakai sang pencipta. Terminologi (istilah) mencipta adalah membuat dari “tidak ada” menjadi “ada”. Jadi tidak dikatakan “mencipta lagu” tapi “menggubah lagu” karena semua nada sudah ada (tinggal digunakan saja). Sebuah mike (pengeras suara) dibuat manusia dan paling cocok dipakai oleh manusia sendiri (tidak cocok dipakai gajah misalnya).  Seorang misionaris pergi ke pedalaman Afrika dengan membawa gitar akustik not elektrik dan masuk ke suku pedalaman yang ganas. Gitarnya menjadi daya tarik sendiri karena memiliki nada ritmis, melodis dan harmonis. Saat beberapa nada dipukul secara harmonis, maka ia menghasilkan bunyi yang menjadi daya tarik sendiri bagi suku pedalaman tersebut sehingga gitarnya menjadi sarana untuk penginjilan. Setelah 3 tahun melayani di sana, ada anggota keluarganya yang meninggal di Amerika sehingga ia meminta ijin untuk pulang. Saat meminta ijin, kepala suku meminta agar gitarnya ditinggal. Permintaan tersebut dikabulkan tetapi sang misionaris lupa mengajarkan cara penggunaannya. Saat digunakan oleh kepala sukunya dan anggota suku lainnya hanya menghasilkan suara yang sumbang. Lama-lama mereka menjadi jenuh. Akhirnya gitar tersebut ditaruh dan dibiarkan teronggok di pojok. Suatu kali ada seorang bapak dari suku tersebut menjemur kayu bakar. Karena tumpukan kayu selalu jatuh , maka ia membutuhkan tali. Dia melihat ada “tali” di gitar tersebut, lalu diambil dan dipakainya untuk mengikat kayu bakar. Sebagai tali, senar gitar tersebut memang bisa berguna. Tapi kalau bisa bicara, tali senar gitar tersebut akan berkata, “Aku diciptakan bukan untuk mengikat kayu bakar”. Lama-lama semua senar gitar dipreteli dan jadi “ompong”. Beberapa lama kemudian tibalah musim kemarau, sehingga semua orang membutuhkan air yang untuk mendapatkannya harus turun cukup jauh ke bawah. Untuk mengangkat air tersebut diperlukan wadah. Akhirnya digunakan bodi dari gitar tersebut. Namun tidak sampai 2 minggu, wadah berupa bodi tersebut bocor karena memang tidak diciptakan untuk berfungsi sebagai ember. Kita sebagai mahluk ciptaan Allah, harus cerdas guna mengetahui “Untuk apa diciptakan Allah”. Karena ibarat rumah, akan awet bila dipakai (tidak dibiarkan kosong).

Gambar Allah dan Kuasa

Tuhan menciptakan kita dengan 2 kata kunci seperti yang dicatat pada Kej 1:26  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita (imago Dei), supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Antara kalimat pertama (Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupka Kita) dan kalimat kedua (mereka berkuasa ….) ada kata penghubung “supaya”. Kata tersebut menjelaskan hubungan “sebab-akibat”. Seperti pada kalimat, “Makanlah semangkok bakso supaya kenyang”,  “kenyang” itu akibat dari penyebab “semangkok bakso”. Jadi agar kata supaya menunjukkan kalimat pertama sebagai kunci. Allah mencipta manusia menurut gambarNya supaya punya kuasa. Kalau ada gambar Allah maka ada kuasa. Kita diciptakan menurut gambar Allah jadi fungsinya untuk memuliakan Allah kapan dan dimana saja. Ibarat foto kita yang merupakan gambar dari diri kita. Foto tersebut menceritakan tentang kita sendiri kapan saja dan dimana saja. Foto kita diletakkan di ruang tamu tetap menceritakan kita. Dipindahkan kemana pun  menceritakan tentang kita. Ia tidak akan merajuk walau dipindahkan ke dapur. Orang Kristen memuliakan Tuhan bukan saja di gereja. Jadi jangan melihat kerohanian saya waktu saya berkhotbah, tetapi lihatlah apakah saya rohani di rumah supaya mengerti apa arti melayani Tuhan. Lihatlah kerohanian orang Kristen waktu di”pepet” saat sedang mengemudia, apakah ia balas me”mepet” balik? Ada pengkhotbah saat membawakan khotbah gemetaran namun  saat menyetir ia membuat  orang lain jadi gemetaran. Jangan melayani Tuhan kalau tidak benar di jalan raya (jangan hanya benar waktu menjadi aktifis di komisi remaja atau saat sedang berkhotbah). Tidak ada jaminan lulusan S1 teologia bisa melayani Tuhan. Juga orang yang bertitel Doktor Teologi atau Master Teologi. Ini penting sekali. Saya mengajar banyak mahasiswa di sekolah teologia, di antara mereka mungkin saja ada yang tidak bisa percaya. (seperti juga Yudas Iskariot, murid Tuhan Yesus yang menolakNya). Seringkali pikiran (mindset) kita masih sama dengan dunia ini. Ini berbahaya. Oleh karena itu kita sebagai gambar Allah seharusnya menyenangkan hati Allah dimana pun kita berada, takutlah akan Allah dan lakukanlah apa yang disenangi Tuhan. Kalau begitu memakai jubah kependetaan, saya kelihatan agung, lembut, berhikmat, tetapi begitu pegang setir lalu berubah, maka akan menjadi kacau. Ada jemaat yang saat menyembah angkat tangan dengan gemetar. Waktu pulang istrinya “gemetar” dengan dia, tapi lembut dengan istri orang. Itu namanya munafik, muka nabi fikiran kacau. Melihat orang melayani Tuhan, lihatlah perlakuannya di rumah. Jangan sampai di rumah malas sekali, joroknya minta ampun. Maka karena kita adalah gambar Allah  di manapun kita menyenangkan hati Allah, maka kita punya kuasa dan menjadi teladan. Seharusnya orang Kristen menjadi “terang dan garam” bagi orang lain . Orang seperti itu yang cocok menjadi aktifis gereja. Karena ada gambar Allah maka ada kuasa.  Ibarat uang kertas Rp 100.000, yang gambarnya ditentukan pemerintah RI. Karena ada “gambarnya”, uang itu punya “kuasa” sebagai alat bayar

Dosa Menghilangkan Gambar Allah

Yang dicecar iblis adalah gambarnya. Yang membuat gambar hilang, adalah dosa. Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Dosa artinya ketidaktaatan (tidak sesuai sasaran atau meleset). Pada Kej 1:16-17 dikatakan Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,  tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." Bukan masalah apa buahnya yang dimakan, tetapi mau taat atau tidak. Itu konteksnya. Adam-Hawa tidak taat, dan itu dosa. Mencuri itu berdosa karena tidak taat. Kasar dengan istri, berdosa karena tidak taat. Istri “menanduk” mertua itu berdosa karena tidak taat. Manusia tidak taat sehingga hilang kemuliaan Allah.

Dosa adalah Hal yang Paling Serius

Apa yang paling serius dalam hidup adalah tidak taat, dosa. Bukan kematian atau kanker yang menjadi hal yang paling serius, tetapi dosa. Tidak terkecuali, semua orang biarpun ia baik, benar atau hamba Tuhan yang sungguh-sungguh akan mati juga, sehingga kematian tidak serius. Rasul Paulus berkata, “Hiduplah untuk Kristus” dan  mati itu tidak serius. Kematian adalah mujizat dalam kebenaran. Sedangkan doa kesembuhan hanya sampai limit tertentu lebih dari itu pembodohan. Orang Kristen tidak anti kesembuhan tapi jangan mengutamakan kesembuhan. Yang serius dosa bukan penyakit, karena upah dosa adalah maut. Suatu hal itu serius atau tidak dilihat dari akibatnya. Bila melebihi, limit berikutnya bisa menjadi kejahatan bagi Tuhan. Suatu kali datang seorang nenek kepada saya. Dia minta untuk mendoakan ibunya. Dia saja sudah berusia 78 tahun sedangkan ibunya 98 tahun. Dia minta agar ibunya yang sakit-sakitan agar didoakan supaya sembuh. Itu pembodohan kalau minta disembuhkan terus, karena sudah terlalu tua. Bukan kesembuhan yang utama! Jangan bangga kalau setelah berdoa, orang yang kita doakan menjadi sembuh. Pendeta “dukun” dan dukun sama fokusnya yaitu kesembuhan. Kalau orang sembuh dari sakit penyakit, tidak ada sukacita di surga , karena Tuhan tidak meletakkan sukacita pada kesembuhan. Contoh pada Lukas 17, ada 10 orang penderita sakit kusta yang datang ke Yesus dan semuanya sembuh, namun hanya 1 yang menyenangkan hati Tuhan. Karena Tuhan tidak meletakkan sukacita pada kesembuhan. Hanya orang yang sembuh yang senang. Tapi Alkitab dikatakan Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." (Luk 15:7).  Banyak orang mati dulu baru mau tobat, itu sudah kadaluarsa (expired). Jangan yang tidak utama jadi utama dan sebaliknya. Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang (2 Kor 11:14). Ia memakai nats Alkitab (yang pakai primbon levelnya hanya “kopral”nya iblis). Hal ini terlihat di mana setelah puasa 40 hari, Yesus digoda dengan firman. Jangan jadi aktifis gereja bila menekankan yang tidak utama. Yang utama adalah dosa. Bukan sakit kanker. Kalau pasangan, atau anak atau orang tua meninggal, itu hal yang tidak serius. Tapi kalau mati tanpa mengenal Yesus itu baru serius. Kematian bukan serius, karena semua mengalaminya. Dosa itu serius. Hal ini penting supaya kita mengerti untuk apa jadi aktifis gereja dan melayani.

Dosa itu Serius!

Serius atau tidak suatu masalah, dilihat dari sebab-akibat. Antara kanker dan bisul, kanker lebih serius karena bisa mengakibatkan kematian sedangkan bisul hanya mengakibatkan rasa cenut saja. Dosa itu serius . Melihat serius atau tidak, lihat dari siapa yang turun tangan mengantasinya. Kalau di Mal Cental Park ada kejadian (mobil hilang atau orang meninggal) lalu yang turun tangan Kapolsek Tanjung Duren. Maka bila ada kejadian yang lebih serius maka yang turun Kapolda misalnya ada teroris atau bom C4. Kalau sampai ada kejadian yang turun tangan Kaporli, Kapolda, Kapolsek ditambah presiden SBY muncul di TV, itu serius sekali. Hanya orang Kristen yang tahu dosa itu serius karena Tuhan yang turun tangan.

Dosa itu serius. Banyak yang mau melayani, tetapi tidak mau melihat dosa sebagaimana Tuhan melihat dosa. Sehingga banyak orang lebih takut penyakit daripada dosa. Ada ibu yang melawan suami , itu dosa. Kalau melawan suami dengan alasan apapun jangan melayani Tuhan. Kalau tahu perbuatan atau kebiasaan itu dosa, jangan dipelihara. Jangan tenang hidupmu karena dosa. Bisa menjadi aktifis secara organisasi (di gereja), tetapi dihadapan Tuhan tidak. Tuhan tidak bsia dibohongi. Ada seorang Bapak dengan pangkat kolonel  dan merupakan seorang panatua di suatu gereja. Dia bertanya, “Memang merokok berdosa?.  Kan tidak tertulis di Alkitab”. Saya balik bertanya , “Bapak kolonel atau kopral? Bukan berarti bila tidak tertulis itu tidak berdosa. Kalau semua dosa ditulis ,itu kitab dosa namanya (bukan Alkitab). Pak sebenarnya itu dosa atau tidak, apakah merokok itu berguna dan membangun?” Karena merokok tidak usah di Alkitab, tapi di bungkus rokok sudah ditulis apa akibatnya bila merokok yaitu kanker, impotensi, jantung dll. Sang colonel kemudian menyalakan rokok di depan saya sambil berkata dengan sombongnya “Ji sam su , jiwa sampai surge”. Namun kemudian dia menderita penyakit kanker paru-paru dan dokter pun akhirnya memintanya berhenti merokok. Bagaimana kita melayani dengan benar bila tidak melihat dosa dengan serius? Kita melayani kegiatan rohani, karena tahu siapa Pencipta dan Penebus kita. Orang seringkai tidak melihat dosa serius, tapi melihat penyakit lebih serius. Kalau sakit disembuhkan itu dianggap baru mujijat. Sehat sakitpun mujijat. Ada jemaat di Pondok Indah yang saya bimbing. Istrinya ke gereja sedangkan suaminya tidak mau.  Sang suami tinggi ganteng tapi suka berzina. Saya berkata, “Pak, jangan kasar dengan istri”. Dia menjawab, “Dia kan saya yang kasih makan, bukan pendeta yang kasih makan!”. Saya berkata lagi,”Pak, bagaimana melihat istrimu yang berdarah-darah? Itu tidak baik!” Namun dia tetap tidak mau dibimbing. Begitu saya pulang, ia keluar sambil mengejek,”Nanti kalau ke gereja, salam sama Yesus ya!” Sombong sekali. Beberapa tahun kemudian dia sakit kanker prostat dan parasnya menjadi lembut. Waktu saya membesuknya di RS Pertamina dia berkata, “Pak saya tidak mau memukul istri lagi. Pak pendeta, ampuni saya!”.  Banyak orang kalau sehat sombong sekali , namun saat sakit parah menjadi lembut. Jangan katakan penyakit itu lebih serius dari dosa. Dosa lah yang lebih serius.

Banyak orang menganggap dosa itu tidak serius, sehingga kalau berbuat dosa tidak ketahuan merasa aman. Ini menyeramkan. Bapak yang selingkuh tidak ketahuan lalu mengucap terima kasih karena tidak ketahuan. Dosa lebih serius dari penyakit. Jadi kalau ketahuan dari awal lebih baik. Maka katakana ke Tuhan, “Luar bisa pengorbananMu di kayu salib, sehingga aku tidak mau lagi pilih dosa. Tetapi, kalau sampai aku berbuat dosa, tolonglah sampai aku ketahuan. Bila perlu sedikit dipermalukan, supaya kejadian tidak enak ini, melatih saya tidak cocok dengan dosa”. Bukan orang lumpuh didoakan lalu berjalan yang “keren” tapi tidak berdosa itu yang keren, Supaya kita mengerti mengapa diciptakan Tuhan. Kalau perlu kita sering dikasih penyakit untuk mengerti. Sebaiknya saat berbuat ketahuan, bila perlu dipermalukan.

Pentingnya Ketaatan

Banyak orang tidak melihat dosa itu serius. Ada yang tidak mencuri, berzina bukan karena sudah bertobat tapi karena belum ada kesempatan. Mujijat besar adalah Yusuf yang bekerja di rumah Potifar.  Istri Potifar meminta semua pembantu yang lain untuk pergi jauh-jauh, hanya Yusuf diminta tinggal. Sehingga rumahnya sangat sepi. Tidak ada orang. Lalu istri Potifar menggodanya. Yusuf berlari. Yusuf punya kesempatan berzina dan dijamin tidak ketahuan, tapi ditinggalkannya. Itu mujijat hebat. Sakit sembuh tidak berorientasi kekekalan. Sembuh hanya menunda kematian. Maka bila ada yang didoakan sembuh, saya mengingatkan “ibu bisa mati lagi”. Mana ada orang sakit sembuh dan tidak mati-mati? Maka jangan berbuat dosa lagi supaya tidak terjadi yang lebih buruk kepada engkau. Bila ada kesempatan berbuat dosa dan dijamin tidak ketahuan, jangan lakukan! Kalau tidak ketahuan sampai seumur hidup, maka akan hancur. Ketika Yesus datang ke dunia, Ia menebus dosa kita. Kita telah dibeliNya. Hal ini berarti kalau dibeli harus jadi budak si pembeli. Maka setiap orang percaya (bukan hanya pendeta atau penginjil) adalah hamba Tuhan. Kalau bisa “dipanggil” jadi aktifis, maka seharusnya kita terharu. Kalau tahu pengorbanan Tuhan kita akan sangat terharu. Menjadi aktifis itu adalah penghargaan. Setiap orang percaya adalah hamba Tuhan. Fungsi hamba adalah mentaati tuannya. Jangan sampai seperti “keakraban” dengan Tuhan, sehingga tidak mau baca Alkitab dan melaksanakannya. Di dalam Alkitab ada perintah , Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!(Roma 12:17), Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. (Ef 6:1), maukah kita menjalankannya? Ada anak yang disuruh membantu orang tua tidak mau. Umumnya kala berdoa, seringkali kita lah yang meminta Tuhan untuk melakukan sesuatu untuk kita. Tuhan menjadi pembantu kita. Jangan pernah meminta untuk dipimpin Tuhan kalau kita sendiri tidak suka dipimpinNya,

Para aktifis gereja harus mengerti bahwa kita harus melakukan kesukaan dan kehendak Tuhan. Suatu kali saat istri sedang pergi, suaminya meminta pembantu untuk membeli bahan masakan yang sudah direncanakan sang istri. Sang suami berkata, “Mbak, tadi sebelum pergi ibu sudah meninggalkan catatan untuk dibelikan ikan teri, sambal, daun singkong, kelapa”. Lalu sang pembantu pergi. Beberapa lama kemudian, tercium bau kambing. Saat ditanya , si pembantu menjawab, “Saya suka daging kambing dan tidak suka teri”. Jadi sang pembantu tidak melakukan apa yang diminta dan hanya melakukan apa yang disukainya. Akhirnya sang pembantu pun dipecat. Jadi kita jangan bicarakan kesukaan kita, tapi bicarakan kesukaan Tuhan. Jangan nekad mencari kesukaan kita. Jadi kalau kita melakukan pembesukan, walaupun banjir juga tetap dikunjungi. Bahkan biarpun orang yang akan dikunjungi “melawan” pun tetap kita kunjungi. Ada orang kaya yang suka melakukan kekerasan dalam rumah tangga walaupun fisiknya menawan. Suatu kali istrinya datang ke rumah saya sambil menangis, rupanya ia baru saja dipukul suaminya. Saya pun mendatangani rumah mereka namun sang suami mengusir. Saya tetap berdiri di depan pintu. Wlaau mau diteriaki maling, saya tetap berdiri di depan. Setelah menunggu sampai pagi, akhirnya dia keluar juga dan  sambil menangis berkata, “Pak Pendeta sabar sekali”.Jadi bukan bicara kesukaan diri tapi kesukaan Tuhan , bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Orang benar dikejar berkat bukan mengejar berkat. Jangan hormati berkat. Lebih mahal diri kita dibanding berkat. Tuhan mati untuk kita bukan untuk benda (seperti mobil Mercy dll). Kita bernilai karena Yesus adalah Tuhan kita. Jadi jangan bicara kesukaan diri seperti yang dikatakan pada Matius 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Sehingga tidak banyak hamba Tuhan di mata Tuhan. Walau banyak hamba Tuhan dan aktifis di organisasi gereja banyak, tapi yang menyenangkan Tuhan sedikit. Ketika bertobat dan lahir baru, kita menjadi anak Allah, konsekuensi anak ikut orang tuanya. Contoh : anak saya rambutnya keriting seperti saya, matanya segaris karena keturunan Tionghoa seperti istri saya. Kalau anak kami tingginya 2,2 meter, maka diketawakan karena kami berdua pendek. Jadi kalau kita jadi anak Allah maka kita mirip Allah. Cape atau tidak, ngantuk atau tidak, kita harus  bangun pagi untuk membaca Alkitab. Begitulah seharusnya. Saat orang Islam sembahyang subuh, banyak orang Kristen masih tidur mendengkur. Aktifis bukan sekedar apa yang digariskan gereja. Kita tidak berbobot kalau tidak menyenangkan Tuhan. Kalau diminta bantuan mencuci piring malas, bagaimana melayani Tuhan? Juga kalau kasar terhadap pasangan bagaimana melayani Tuhan? Padahal tukang cabe yang hidupnya sederhana, ada yang sikapnya sungguh-sungguh melayani Tuhan. Ada orang yang sekolah teologia tapi hatinya tidak melayani Tuhan. Harus ada dasar dalam melayani Tuhan setiap hari. Mulailah dari pagi hari  berlutut, berdoa, membaca Alkitab, Itu “keren” sekali. Ibarat gedung-gedung di Sudirman dan Thamrin yang keren sekali karena memiliki pondasinya kuat. Kerohanian tanpa pondasi yang kuat, akan mudah jatuh. Kalau gedungnya 20 lantai tapi pondasinya hanya  30 cm, maka gedungnya akan runtuh. Jangan bicara aktifis gereja kalau hobinya jatuh dalam dosa. Bersekutu dengan Tuhan itu bagus. Banyak buku rohani yang bagus. (misalnya : Santapan Rohani). Bila tidak bergairah dalam membaca Alkitab setiap hari, maka bohonglah kalau mau jadi aktifis. Membaca Alkitab setiap hari tidak mudah. Itu latihan untuk menyangkal diri dan melayani Tuhan. Walau lelah dan mengantuk, tetap harus membaca Alkitab dan orang seperti ini yang digunakan Tuhan. Kuatkan kerohanian kita walau tidak popular! Mulailah membiasakan diri setia  pada Tuhan! Mulailah proses menyangkal diri!

Ibarat retreat yang diadakan di luar kota, pasti ada panitianya.  2 minggu kemudian, setelah selesai ibadah diedarkan 2 album foto terkait retreat tersebut. Bagi yang akan pesan dapat melihat foto-fotonya pada album tersebut. Bagi yang mau pesan, dapat menuliskan mencatat pesanannya. Para peserta retreat pun kemudian mencari fotonya sendiri. Bila tidak dirinya dalam fotonya, maka akan dilewati. Demikian juga saat Tuhan nanti datang, Dia akan mencari gambar Dia. Walau aktif ikut koor, tapi bila tidak ada gambarNya, maka kita akan dilewati. Demikian juga hamba Tuhan yang tidak ada gambarNya , tidak akan diajak masuk ke surga. Memiliki gambar Allah berarti menyenangkan hati Allah, bukan saja di gereja tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Di rumah ketahuan kita rohani atau tidak. Apalagi saya sekolah teater, lebih gampang lagi. Pulanglah , apa saja yang tidak menunjukkan ketidaktaatan, tinggalkan! Kalau tahu perbuatan itu dosa, jangan ulangi.

Jaga hubungan baik dengan Tuhan. Lelah atau tidak, mengantuk atau tidak, kita tetap harus  baca Alkitab setiap hari. Renungkan kemudian minta tolong Roh Kudus untuk mempraktekkan (melakukan) nya. Itu tujuannya. Khotbah atau iman tanpa perbuatan adalah mati. Aktifis yang tanpa perbuatan adalah mati. Kalau jatuh  dalam melakukan perbuatan, bangunlah lagi. Jangan tinggal dalam dosa! Tahun ini saya sudah melayani Jangan hanya khotbah saja, tapi kita lakukan apa yang dikhotbahkan. Di mana pun berada, taati peraturan. Bila lampu lalu lintas berwarna kuning, maka kita siap berhenti (jangan malah memacu kecepatan). Sopanlah dalam berkendaraan di jalan raya. Kalau orant tua berbicara, hormatilah mereka. Lakukanlah hal-hal tersebut untuk mengerti Tuhan yang mau mati bagi kita. Supaya bila gambar Allah ada, maka kita hidup enak dan tenang. Di rumah atau di sekolah ada damai. Ketika difitnah juga ada damai. Dalam situasi bagaimana pun kita menjadi berkat. Kita menjadi surat terbuka untuk melayani Tuhan. Kita tahu untuk apa kita diciptakan dan ditebus.

*) Seorang sarjana teater dan musik, dosen drama musical. Istrinya keturunan Tionghoa seorang Sarjana Teknik Kimia.  Suami-istri kemudian masuk sekolah teologia. Memiliki sepasang anak (laki dan perempuan). Saat ini beliau menjadi         Gembala Sidang di GKRI Jemaat Pondok Indah.

Sunday, January 12, 2014

Ketika Allah Meminta : Logis?

Ev. Susan Kwok

Kej 22:1-8; 14
1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan."
2  Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."
3  Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.
4  Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.
5  Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu."
6  Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
7  Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"
8  Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
14  Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."

Pendahuluan

Kalau diberi sesuatu yang baik atau miliknya ditukar dari yang jelek menjadi yang baik, manusia tidak akan bertanya apakah hal (pemberian / penukaran) itu logis atau tidak. Misalkan ada seorang hamba Tuhan berkata, “Ayo ikut persekutuan doa dengan rajin. Kalau rajin ikut Persekutuan Doa,maka rumahmu yang berukuran 7 m x 15 m tahun depan akan diganti Tuhan dengan yang berukuran berkali-kali lipat lebih besar”. Kalau mendapatkan hal seperti itu dari Tuhan, maka tidak akan ada yang bertanya lagi ke Tuhan. Ketika Tuhan memberikan hal yang baik, atau menukar dari yang kurang menjadi yang lebih , kita tidak akan mempertanyakannya dan tidak ada tema hari ini “Ketika Allah Meminta : Logis?” karena kita akan menerimanya  dengan senang hati. Seperti waktu Raja Hizkia sakit dan hampir mati, lalu ia berdoa dan menangis minta agar disembuhkan, lalu Tuhan mendengarkan doanya bahkan umurnya diperpanjang 15 tahun lagi (2 Raja 20:1-6). Jadi Raja Hizkia menerima hal yang baik dan menganggapnya anugerah dan seolah-olah ia berkata,”Puji Tuhan! Harusnya hari ini saya mati tapi diberi hidup 15 tahun lagi”. Bila kita mengalami hal sepeti ini, kita juga akan menerimanya. Permasalahannya berbeda jika ternyata apa yang Allah akan beri (minta) menurut kita tidak baik (tidak masuk akal). Sepertinya permintaan Allah mengada-ngada atau  Allah tidak adil dengan meminta / mengambilnya daripadaku. Kita akan menjawab demikian, bila kita berada di posisi Abraham seperti pada nats di atas (Kej 22:1-8). Allah sepertinya meminta sesuatu yang tidak masuk akal. Dulu waktu Sara (istri Abraham) mandul, dijanjikan keturunan Abraham akan seperti pasir di laut banyaknya. Namun  sekarang setelah dikasih seorang anak (Ishak yang artinya membawa tertawa dalam keluarga), kenapa permintaan Tuhan tidak masuk akal untuk mempersembahkannya? Ketika kita merasa pemberian Allah tidak masuk akal, maka biasanya responnya, kita menjadi kecewa, ragu, takut, bergeser (tidak lagi mau percaya Allah yang demikian) atau lainnya.

Ukuran Manusia Berbeda dengan Ukuran Allah

Ilustrasi berikut tentang apa yang harus diberikan kepada Tuhan. Ada 3 orang (A, B dan C) yang kikir semuanya. Mereka cari akal (logika) bagaimana caranya untuk tidak memberi persembahan. Si A berkata, “Tuhan sekarang saya akan memberi persembahan kepadamu. Saya akan membuat lingkaran kecil , lalu saya akan melemparkan uang tinggi-tinggi. Jika uang itu jatuh di lingkaran kecil, maka itu milik Tuhan. Tapi kalau jatuh di luar lingkaran itu punya saya”. Karena lingkarannya kecil, maka kebanyakan uang jatuh di luar lingkaran. Hanya ada sedikit uang yang jatuh di dalam lingkaran, lalu diberikannya ke Tuhan. B tidak mau kalah. Dia berkata, “Tuhan saya berjanji akan memberi persembahan untuk itu saya akan membuat lingkaran yang besar. Saat saya melemparkan uang, lalu ia jatuh dalam lingkaran besar maka uang itu menjadi milik saya dan yang jatuh di luarnya itu milikMu”. Karena lingkarang yang dibuatnya sangat besar maka saat ia melemparkan uang, kebanyakan jatuh di dalam lingkaran. Sedangkan yang jatuh di luar lingkaran sangat sedikit dan itu yang diberikannya ke Tuhan. C pun tidak mau kalah. “Tuhan saya tidak mau seperti A dan B yang membuat lingkaran. Saya akan melempar uang ke atas. Setiap uang yang jatuh ke bawah menjadi milikku, sedangkan yang tidak jatuh itu milikMu”. Setelah dilempar, maka semua uangnya jatuh (karena mengikuti hukum gravitasi bumi). Karena semua uangnya jatuh maka semuanya menjadi miliknya.

Ketika Tuhan meminta dedikasi, uang , pikiran, waktu dll, manusia merasa Allah tidak logis. Tuhan tahu kita sibuk, mengapa Tuhan memberi kita banyak waktu untuk melayani? Atau saat sedang kekurangan harta, mengapa Tuhan meminta uang kita? Atau saya tidak pintar, mengapa Tuhan minta saya menjadi majelis, aktifis dan lain-lain? Alasannya sebenarnya manusia mengapatakan “apa yang Allah minta tidak logis” adalah manusia punya ukuran sendiri dalam melakukan sesuatu. Sampai kapanpun manusia, akan merasa Allah tidak logis karena ukuran manusia dengan Allah berbeda. Tujuan dan rencana Dia berbeda dengan manusia. Manusia merupakan Karena kita ciptaan Allah. Manusia tidak mampu memahami apa yang dikehendaki Penciptanya. Dia kudus, manusia hina. Dia pencipta kekal tidak terbatas oleh waktu, manusia sangat terbatas. Bagaimana mungkin yang tidak terbatas bisa memahami yang terbatas? Ketika Dia meminta atau memberi sesuatu seringkali ada kesenjangan antara pikiran kita dengan pikiranNya. Dan bila terjadi demikian, kita sering berpikir bahwa yang salah itu adalah Tuhan (bukan kita yang salah). Itu sebabnya Rasul Paulus mengatakan dalam Rom 11:33-36 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!  Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?  Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Tak seorang pun mengetahui pikiran Allah. Sehingga kita tidak boleh menghakimi Allah dengan mudah atau kita meragukan apa yang telah kita jalani walau ada sesuatu yang tidak logis atau terlalu sulit untuk dikerjakan.

Belajar dari Abraham

Apa yang Allah minta ke Abraham sepertinya tidak logis, menyusahkan dan mengada-ada, namun kita bisa belajar dari respon Abraham.

1.     Saat Allah “mencoba”nya, Abraham memberikan tanggapan, “Ya Tuhan”. Allah tidak pernah mencobai untuk sesuatu yang jahat, melainkan untuk sesuatu yang positif. Sehingga istilah yang digunakan adalah kata “menguji” untuk membawa manusia lebih “tinggi” lagi. Ketika Allah menguji manusia, seperti guru menguji siswa sesuai dengan materinya. Ketika anak kelas 6 SD diuji, tidak mungkin bahan yang diuji berasal dari pelajaran kelas 3 SMP. Semua sesuai porsi dan aturan. Kalau Allah meminta dari kita, Allah tahu apakah tingkat (ukuran) kita sampai di sana atau tidak. Waktu Allah meminta dari Abraham, Dia tidak meminta hal yang sama kepada nabi lainnya. Jadi itu merupakan suatu permintaan yang khusus. Dia ingin agar Abraham menjadi lebih baik , dekat , tinggi dan lebih kuat lagi. Dia memberikan ujian ke Abraham bukan utnuk menjatuhkan Abraham, karena kalau demikian Dia bukanlah guru yang baik. Dialah Guru Agung yang jauh lebih baik dari guru terbaik di dunia. Dia tahu ujian apa yang diberikan. Abraham menjawab, “Ya Tuhan” (dalam bahasa aslinya Abaraham menjawab “Aku disini ya Tuhan” atau “Ya Tuhan, aku ada”. Ini memberikan makna, aku mendengarkan Tuhan dan aku siap menerima apa yang akan Kau firmankan kepadaku. Aku berdiri di sini di hadapanMu, siap mendengarkan firmanMu. Ketika Abraham berkata, “Aku disini siap mendengarkan firmanMu”.

2.     Abraham menang atas pergumulannya. Lalu Allah berkata, “Abraham, ambil anakmu”. Allah tidak meminta harta yang lain tapi anaknya. Kalau Tuhan meminta sapi 10 ekor, kambing 100 ekor, kerbau 1.000 ekor sekalipun mungkin tidak menyulitkan Abraham. Namun bukan berarti Abraham tidak bergumul saat anak “satu-satu”nya diminta untuk dipersembahkan. Anaknya Ishak  bukan anak yang lain (Ismail).  Ishak artinya tertawa, karena waktu nubuatan untuk Abraham datang, Sara yang ikut mendengarnya kemudian tertawa. Karena saat itu ia sudah tua, rambutnya putih dan  sudah menopause sehingga waktu dikatakan tahun depan akan hamil, ia tertawa. Ishak waktu akan dipersembahkan berumur sekitar 6-8 tahunan. Saat diminta “”Ambillah anakmu yang tunggal itu”, ini merupakan hal yang berat. Bahkan kalau anaknya banyak dan diminta 1 orang, hatinya tentu tidak rela. Anak yang diminta bukan untuk  diajar mengenal Tuhan seperti Samuel (supaya bisa datang ke bait Allah), tetapi diminta jadi korban bakaran. Itu berarti harus disembelih, darahnya tercurah, lalu ditaruh di atas mezbah, dibakar sampai habis sampai tidak ada apa-apanya. Sebagai orang tua, permintaan Allah itu sesuatu yang luar biasa beratnya.  Tetapi pada ayat yang ke-3, Allah tidak sedang melecehkan perasaan Abraham sebagai manusia, sekalipun Alkitab tidak mengatakan pergumulan Abraham, tetapi lebih mengangkat kemenangan Abaraham di atas pergumulannya. Sehingga dikatakan , Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham. Kita tidak tahu dengan tepat waktu Allah berfirman kepada Abraham. Tetapi ada jeda waktu antara saat Allah berfirman dengan saat Abraham melaksanakannya dan pasti antar waktu itu ada pergumulan Abraham. Alkitab tidak meremehkan pergumulannya, tetapi Allah mengajar bagaimana ia bisa menang dan melakukan apa yang dikehendaki. Keeseokan harinya bagunlah Abraham dan melakukan apa yang disampaikan Tuhan.

3.       Abraham punya keyakinan Allah akan menggenapi janjinya menurut caraNya sendiri. Ayat 5, Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." Di dalam bahasa aslinya , kata ganti yang digunakan bersifat jamak (kata “kami” yaitu saya dan Ishak akan kembali lagi). Ini perkataan kepada bujangnya. Apakah perkataan ini  bohong untuk menenangkan hati bujangnya atau benar-benar demikian? Demikian juga pada ayat 7b-8a dikatakan " Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"   Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.", Apakah jawaban Abraham ini benar atau karena tidak tega? Sebagai bapa, mungkin ia tidak tega untuk mengatakan, “Kamu yang akan dipersembahkan”. Apakah jawabannya merupakan kalimat diplomasi untuk menenangkan Ishak saja seperti saat ia menenangkan bujangnya? Pada Ibrani 11:17-19 dikatakan Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal,  walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. Dengan demikian jawaban yang diberikan Abraham adalah iman dari Abraham. Allah yang memberi , Dia berhak mengambil. Kalau Dia janji untuk memberikan keturunan yang banyak, Dia akan menepati janji bagaimanapun caranya. Abaraham punya keyakinan Allah akan menggenapi janjinya tergantung cara Allah sendiri. Pada ayat 1, jawaban Abraham, “Aku di sini Tuhan siap mendengarkanMu”. Dia melakukan perintah Tuhan dari awal sampai akhir. Dia percaya Allah yang sudah berjanji tidak akan pernah melanggar janjiNya sendiri, entah bagaimana caranya sehingga Abraham disebut bapa orang beriman (punya iman yang luar biasa). Pada Perjanjian Lama, ada banyak respon dari tokoh Alkitab karena mereka punya iman yang kuat. Ketika Tuhan berbicara, mereka menempatkan diri sebagai orang yang mendengar dan melakukannya. Contoh : ketika Hosea dipanggil oleh Tuhan melakukan hal yang tidak masuk akal. Hosea diminta untuk mengawini Gomer yang merupakan seorang pelacur (Hosea 1:2). Ini berat untuk Hosea namun Hosea adalah nabi yang luar biasa. Ia pun pergi mengawini perempuan sundal karena ia mengetahui ada maksud Tuhan untuknya. Ini merupakan permintaan khusus Allah untuknya. Tidak ada lagi yang seperti Hosea. Demikian juga ketika nabi Yeremia dipanggil untuk memberitakan firman Tuhan ke Yehuda, namun diberi peringatan “Tetapi kamu harus siap karena mereka akan menolak”. Ini tidak masuk akal. Ia diminta untuk memberitakan firman tapi akan ditolak. Untuk apa buang-buang waktu? Namun ia mengetahui ada sesuatu yang Tuhan ingin ia kerjakan sehingga ia melakukannya. Contoh terakhir nabi Yunus. Ia diminta Allah untuk pergi ke kota Niniwe. Itu kota yang jahat sehingga ia berkesimpulan mengapa harus ditobatkan?  Harusnya tidak ada penduduknya yang selamat! Sehingga ia lari ke Tarsus dan dimakan ikan. Akhirnya ketika ia menobatkan Niniwe, penduduk Niniwe pun bertobat. Tuhan merasa kasihan kepada  orang-orang yang bertobat, Tapi malah nabi Yunus menyesal. Karena ia tahu Tuhan akan mengampuni Niniwe. Dengan demikian ia merasa “lebih” dari Tuhan.  Dengan demikian, saat dipanggil ada yang menjawab “ya”, “tidak” atau “setengah hati”.

Permintaan Allah sekarang ini tidak ada yang aneh seperti ketika Dia meminta kepada Abraham , Hosea, Yunus (tidak sampai seberat itu). Tetapi yang Dia minta secara umum , berlaku untuk semua, kecuali sesuatu yang spesifik. Secara umum, Allah meminta kita untuk mendengarkan suaraNya. Zaman ini adalah zaman anugerah di mana anugerah Allah begitu berlimpah. Kita dapat menjumpai Alkitab secara bebas di toko buku dengan berbagai terjemahan.  Meskipun anugerahNya luas dan berlimpah, tetapi di tengah hal demikian, justru para dombaNya paling tuli  dalam mendengarkan suaraNya. Sampai dombaNya tidak tahu apakah ini suara gembala yang asli atau asing. Contoh : ketika pengajaran di sampaikan di atas mimbar tidak banyak jemaat yang mempunyai sikap yang kritis , karena tidak membaca Alkitab dan menggalinya. Dengan demikian bagaimana kita tahu suara yang benar?  Hari ini domba tuli dan buta terhadap isi Alkitab. Ada seorang penginjil bernama Robert Samuel. Ia menemukan seorang korban kebakaran di Kansas, Amerika yang  menjadi buta dan kedua tangannya buntung. Padahal ia baru bertobat dan ingin belajar Firman Tuhan. Kemudian ia merasa putus asa, karena tidak bisa membaca Alkitab dengan jalan merabanya. Waktu ia mencoba meraba dengan bibirnya, juga tidak bisa karena bibirnya rusak terbakar. Suatu kali, tanpa sengaja saat ada sesuatu yang terjatuh di mesin Braille, ia berusaha membersihkannya dengan lidah. Ternyata ia bisa mengenali huruf Braile dengan lidahnya! Sehingga mulai hari itu ia bisa membaca. Ia sudah membaca dari kitab Kejadian sampai Wahyu 4 kali dalam 2 tahun. Bagaimana dengan kita yang memiliki kelengkapan organ tubuh? Bagaimana kita tahu permintaan Allah yang baik , walau sepertinya tidak masuk akal? Iman bertumbuh dari pendengaran akan firman Tuhan, membaca dan merenungkannya.

Ada seorang Kristen, karena tidak setuju dengan ajaran saksi Yehova, ia mengajak pengikut saksi Yehova berdebat dan coba mempertobatkannya. Tapi ia kalah, karena ia tidak punya banyak kemampuan, termasuk ayat hafalan. Pengetahuannya kalah jauh. Terakhir, ia ditanya, “Berapa kali kamu sudah baca Alkitab?”. Ternyata walau sudah 17 tahun menjadi Kristen, ia tidak pernah membaca seluruh Alkitab dari  Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sang pengikut saksi Yehova berkata,”Bagaimana mungkin kamu memenangkan pertobatan saya, kalau kamu tidak pernah membaca seluruh isi Alkitab sekali pun? Saya sudah membaca alkitab saya puluhan kali sejak masuk Saksi Yehova”. Sekarang ini banyak ajaran yang tidak benar, tetapi banyak yang tidak bisa menangkalnya. Mereka rajin “menginjili” dari rumah ke rumah. Mereka rajin baca Alkitab. Bagaimana dengan kita? Abraham walau belum ada Alkitab terutlis, tetapi suara Allah ia dengarkan sampai masuk dalam hatinya dan percaya. Sehingga saat terjadi sesuatu ia percaya Allah itu baik.