Sunday, October 6, 2013

Kaya tapi Miskin

Pdt Hery Kwok

Wahyu 3:14-22
14  "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah:
15  Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!
16  Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.
17  Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,
18  maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.
19  Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!
20  Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
21  Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.
22  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Beberapa waktu lalu, di Indonesia diputar film Mandarin dengan judul “Red Cliff” (artinya Tebing Merah, bagian awal dari cerita tentang Tiga Negara atau “San Guo”) yang disutradarai oleh John Woo (67 tahun). Sutradara Hong Kong ini mengangkat film berlatar sejarah Tiongkok pada akhir dinasti Han sekitar tahun 208-209. Pada salah satu bagian ceritanya, dikisahkan adanya peperangan  antara pasukan besar yang dikepalai Jendral Cao Cao dengan pasukan kecil. Kekuatan pasukan Jendral ini luar biasa besar dengan angkatan laut yang dilengkapi banyak kapal perang. Sebelumnya Jendral Cao Cao berhasil mengalahkan begitu banyak kerajaan kecil. Bahkan kerajaan-kerajaan besar juga takut menghadapi kekuatan pasukan Cao Cao. Kepala pasukan yang kecil ini adalah panglima Sun Quan. Ternyata tentara yang besar itu kalah oleh tentara kecil. Yang membuat Jendral Cao Cao  kalah dan dipermalukan, bukan karena pasukannya tidak hebat atau tidak gagah, tetapi karena Jendral Cao Cao merasa punya pasukan yang kuat dan hebat dan dia merasa puas dengan dirinya. Sutradara John Woo ingin mengangkat kegagalan pasukan yang besar dikarenakan Jendral Cao Cao merasa diri puas dengan keberadaannya. Salah 1 filosofi orang Tionghoa adalah saat menjadi besar dan merasa puas berarti kita melupakan keberadaan kita.  Itu sebabnya dalam film ini kita petik pelajaran yang menarik bahwa orang yang cepat puas diri , maka ia bisa jatuh dengan cepat.

Kitab Wahyu merupakan tulisan yang luar biasa dan disebut kitab apokaliptik (kitab akhir zaman). Penulis (Rasul Yohanes) diminta Tuhan untuk menulis surat ke 7 jemaat (gereja) di Asia dengan tujuan masing-masing. Ada jemaat (gereja) yang telah kehilangan kasih mula-mulanya. Ada gereja yang berkompromi dengan ajaran sesat. Pada surat ke jemaat Laodikia, penulis punya penekanan yang luar biasa. Jemaat ini merasa dirinya kaya dan merasa tidak kekurangan apa-apa. Inilah bahaya yang dihadapi gereja mula-mula dan kemudian hancur (tidak ada lagi). Kehidupan kekristenannya menjadi sekedar formalitas saja. Mereka pergi ke gereja tapi tidak punya kualitas kehidupan rohani. Mereka berdoa tetapi tidak punya jiwa berdoa. Betapa bahayanya keadaan rohani seperti ini (keadaan yang digambarkan sebagai “engkau suam-suam kuku”). Seperti kalau kita minum air, biasanya ada 2 pilihan yang dipilih yakni air dingin atau air panas tergantung kesukaan yang meminumnya. Jarang ada yang meminta “air yang suam-suam kuku” yang tidak enak. Perikop di atas tentang gereja yang jemaatnya suam-suam kuku. Searas tema kita dikatakan mereka seperti nya kaya tetapi sesungguhnya miskin. Secara fisik mereka punya kekayaan yang luar biasa. Saat itu kota Laodikia punya perdagangan yang hebat dan perbankan yang luar biasa besar, sehingga secara ekonomi, mereka merupakan kota yang benar-benar makmur. Dulu waktu kota ini mengalami gempa bumi dan hancur, mereka membangun lagi tanpa meminta subsidi dari pemerintahan Romawi. Secara finansial kota ini memang makmur (kaya). Tetapi mengapa pada ayat 7, Tuhan mengatakan “kamu ini adalah miskin”. Padahal kota ini juga termasuk kota yang memiliki penghasilan dari bulu domba yang terbaik. Saat itu kalau seseorang punya peternakan bulu domba yang menghasilkan wol, bisa menjadi pengusaha yang kaya. Tetapi Tuhan berkata, “engkau melarat dan malang”. Ketiga, keistimewaan Laodikia mempunyai kedokteran yang hebat yang menghasilkan obat mata yang canggih. yang berguna bagi orang yang sakit mata. Tetapi pada ayat 17 dikatakan, “kamu adalah jemaat yang buta”.  Sangat berbeda kehidupan jemaat Laodikia dengan pernyataan Tuhan. Meskipun secara ekonomi kaya, (punya perbankan besar dan banyak emas) tetapi  engkau tetap meralat dan miskin. Engkau penghasil obat mata terbaik tetapi engkau sesungguhnya buta. Engkau punya banyak peternakan domba dan menghasilkan kain wol tetapi tetap telanjang. Apa yang membuat Tuhan mempunyai penilaian seperti itu? Karena kehidupan mereka dengan Tuhan tidak benar-benar baik. Kekristenannya hanya sebatas formalitas. Mereka ke gereja dan berdoa tapi isi dan rohaninya tidak ada. Ini sesuatu yang menakutkan yang terjadi pada gereja-gereja. Jangan bangga sebagai orang Kristen dan rajin ke gereja tiap mingu tetapi tidak punya pengharapan dan pengandalan pada  Tuhan secara total.

Pada Perjanjian Lama, ada kisah tentang Yosua memimpin bangsa Israel menyerang kota Ai yang merupakan kota kecil dibanding kota Yerikho. Kota Yerikho bisa dirubuhkan orang Israel setelah berkeliling 7 kali dan meniup sangkakala. Saat menyerang Yerikho, mereka punya pengharapan luar biasa kepada Allah. Tetapi begitu Yerikho dikalahkan dan mau menyerang kota AI, mereka menganggapnya sepele. Mereka merasa tidak perlu lagi Tuhan dalam peperangan. Itu sebabnya ketika menyerang kota Ai, mereka dipermalukan dan kalah. Kekalahan  Karena di dalam dirinya punya rasa puas terhadap diri sendiri. Saya mampu dan punya kekayaan. Saya mampu karena bisa bekerja. Saya mampu karena punya keluarga banyak. Saya mampu karena punya relasi bisnis yang besar. Kita merasa mampu tanpa Tuhan.

Ada cerita ALkitab lain. Ada seorang kaya yang berpikir tentang kekayaannya. Supaya bisa tertampung, ia ingin membangun lumbung yang besar sehingga hasil bumi bisa disimpan dan ia bisa menikmati hidup sampai tua. Tuhan kemudian berkata, “Hai kamu orang kaya yang bodoh, malam ini engkau akan mati.” Karena ia menaruh harapannya pada kekayaannya, ia tidak mencari Tuhan. Kitab Wahyu 3, kitab yang menekankan agar hidup rohani jangan seperti ini. Pada waktu mengenal Tuhan, saya punya pengharapan yang luar biasa. Pengharapan itulah yang membuat kita mengubah cara hidup yang tidak benar. Pada waktu bekerja, tidak melakukan korupsi dan manipulasi karena punya harapan besar kepada Allah yang besar. Pada waktu kita tidak berbohong kepada pasangan hidup, itu karena punya pengharapan yang besar kepada Tuhan. Sewaktu sekolah anak-anak tidak menyontek karena punya pengharapan besar kepada Tuhan. Hidup bersama Tuhan, kita dapat mengharapkan perubahan dalam seluruh aspek kita (tingkah laku dan perbuatan kita). Jangan bicara bahwa kita percaya Tuhan dan ke gereja tapi tidak peduli kepada sesama. Itu artinya kita tidak punya ketergantungan pada Allah melihat orang lain yang susah. Kita menjaga kesucian hidup karena punya pengharapakn kepada Allah yang besar. Sehingga jemaat Laodikia diingatkan kalau punya pengharapan yang besar kepada Allah maka hidupmu akan berubah.

Di Eropa ada sebuah keluarga yang sangat harmonis. Keluarga ini mempunyai seorang anak laki-laki. Saat mau memberikan nama kepada anaknya, orang tuanya mencari nama yang terbaik. Lalu ditemukan nama yang terbaik dan diberikan nama Fantastic.  Nama marganya, Brown sehingga disebut Fantastic Brown. Seperti di Indonesia, kalau pergi ke Batak Karo anak diberikan nama yang “lucu”. Waktu ayahnya lihat benda saat istri melahirkan, maka anak diberi nama seperti nama benda itu. Misal lihat lampu maka diberi nama Lampu SImanjutak. Ada teman saya namanya Gajah Parulian (?).  Jadi ada yang memanggil dia “Gajah.. Gajah”. Sehingga anak kecil tersebut bertumbuh dalam ejekan teman-temannya, karenadisebut Fantastic. Tapi anak itu bertumbuh dengan baik percaya Tuhan dan hidupnya benar-benar nyata. Waktu sekolah, dia tidak mau menyontek karena mengenal Yesus. Waktu kerja, dia menunjukkan dedikasi yang baik, sehingga perusahaan mengangkatnya menjadi pemimpin. Waktu bersosialisasi dengan orang susah , ia bantu dengan uangnya  oleh karena Fantastic mempunyai pengenalan akan Tuhan yang baik. Lalu ia menikah dan punya anak yang baik-baik. Suatu kali Fantastic sakit dan hampir mati. Lalu dia berkata ke istrinya, “Waktu nanti menguburkan saya, janganlah kamu menulis nama Fantastic karena banyak yang mengejek saya.” Istrinya jadi bingung, mau tulis apa di batu nisannya. Lalu istrinya mempunyai akal dan menulis di atas nisan, “Telah meninggal seorang pria yang luar biasa baik. Suami yang tidak pernah berkata kasar ke istri dan tidak pernah memukul / menampar istri. Seorang suami yang selalu memberi kekuatan saat istri mengalami kesulitan. Sang suami yang bisa menjadi teman ngoborol saat istri mengalami pergumulan. Menjadi seorang bapak dari anak-anak yang sangat baik. Seorang bapak yang terhadap anaknya bisa menjadi sahabat, menjadi teman bagi orang yang susah dalam kehidupan ekonomi.”  Waktu semua pelayat datang menghadiri pemakaman terakhir dan membaca tulisan di atas nisan tersebut, mereka menggelengkan kepala dan berkata, “Fantastic!”  Namanya tidak disebut tetapi orang menyebutnya “Fantastic!” Kenapa dunia heran kepada orang yang luar biasa baik? Karena dunia menginginkan lahir dari orang percaya yang mengandalkan Tuhan. Hidupnya benar-benar diubahkan karena punya pengharapan kepada Tuhan. Hidup seperti itulah di mana kerohanian kita tumbuh. Jangan bangga jadi Kristen tapi tidak peduli terhadap sesama.

Saya suka nonton TV DaAi. Mereka tidak mengenal Kristus tapi peduli terhadap sesama. Kita punya pengharapan yang pasti dalam Kristus untuk masuk surga tapi banyak yang tidak peduli terhadap sesama. Waktu saudara kita duduk di sebelah , apakah kita peduli terhadap dia? Atau kita melihat dengan pandangan sinis dan tidak punya pandangan baik. Ini yang terjadi di Laodikia. Lalu apa yang membuat kita bekerja giat dan hidup jujur? Karena kita punya pengharapan kepadaNya. Saat sulit , apakah kita langsung datang kepadaNya? Di Persekutuan Doa beberapa waktu lalu, saya pernah bercerita. Ada pendeta yang membangun gereja. Waktu membangun gereja, bila engkau punya deposito besar melebihi anggaran pembangunan gereja, maka pengharapan kepada Tuhannya akan turun. Mungkin kita berdoa tetapi doanya tidak seperti orang yang berteriak kepada Tuhan. Karena waktu berdoa, ingat jumlah depositonya cukup untuk membangun gereja. Waktu seperti itu engkau tidak punya pengharapan besar kepada Tuhan.

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi rumah anak yang bersekolah di Kalam Kudus bersama  beberapa lau shi. Mamanya bercerita tentang kesulitan anaknya yang ternyata menderita kanker getah bening. Waktu datang, saya tidak bisa melihatnya karena sedang menjalani perawatan kemo yang dilakukan di ruang isolasi. Jadi saya hanya bertemu mamanya dan bercakap-cakap dan ada satu hal yang membuat saya disadarkan Tuhan. Seringkali saat besuk , saya belajar dari jemaat yang dibesuk dan saya sering mendapat yang rohani dari Tuhan. Sang mama berkata, “Biaya yang diperlukan sangat besar.  Jumlahnya bisa ratusan juta. Dari mana duitnya saya juga tidak tahu. Waktu anak saya dikemo, dan dilakukan tindakan medis, saya juga bingung duitnya dari mana. Tetapi ada seorang yang membiayai anak saya.” Dia tidak mengenal orang itu, tetapi waktu anaknya sakit, dia berteriak kepada Tuhan. Waktu dia tahu biaya yang dibutuhkan, dia menangis dihadapan Tuhan. Waktu bicara di ruang kantor tersebut, ternyata di sebelahnya ada orang lain yang mau bicara juga ke pihak rumah sakit. Rupanya orang ini mendengar pergumulan ibu ini. Ia tidak kenal siapa orang ini. Baru di kemudian hari, orang ini memperkenalkan diri. Ia bilang ke pihak Rumah Sakit, “Tolong layani anak ini dengan baik. Berapapun biayanya saya akan bayar. Kasih obat terbaik walaupun mahal.” Waktu mendengarnya, saya menangis di hadapan Tuhan. Sepertinya dihadapan Tuhan saya ditanya, “Pengharapanmu bagaimana?” Itu membuat saya menyampaikan tentang hal terkait kerohanian kita. Waktu hidup rohani kita dengan Tuhan baik, hidup ibadah baik dan kualitasnya nyata dimana senang bersekutu dengan Tuhan di rumah Tuhan, namun juga peduli terhadap sesama di gereja. Bahkan juga terbeban menolong orang yang perlu. Karena kita punya pengharapan yang kokoh dalam Kristus. Seperti yang tertulis pada ayat 20 “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”. .Jemaat Laodikia adalah jemaat yang Kristen KTP (Kristen tanpa Kristus). Jangan menjadi orang seperti itu. Mari kita minta Tuhan terus selidiki hati. Waktu punya pengharapan, apa pun yang dihadapi, Tuhan yang pertama kita cari. Bukan kekayaan, kekuatanmu atau relasimu.

Beberapa waktu lalu saya diajak besuk ke rumah seorang jemaat. Saya diijinkan Tuhan berkenalan dan melayani banyak gereja dan mengenal banyak jemaat dari yang konglomerat sampai yang sederhana. Saya bergaul dengan berbagai tipe jemaat karena waktu mati, kita tidak membawa harta. Itu sebabnya saya tidak pernah sungkan.  Kalau salah, saya katakan Bapak salah. Sewaktu saya diajak makan dengan seorang kaya, dia berkata, “Pak Heri, kalau Pak Heri perlu sesuatu untuk gereja baru tolong sampaikan ke saya.” Saya jawab, “Terima kasih Pak.” Tetapi dalam hati, saya tidak pernah mau datang kepada orang ini karena saya punya Tuhan yang hebat. Tuhan akan mengirim orang yang terbeban untuk membangun gereja ini. Keyakinan dan pengaharapan ini  membuat saya yakin dalam melayani Tuhan. Mari kita hidup dalam keyakinan kerohanian yang baik dan bukan kerohanian yang biasa-biasa, tetapi yang luar biasa. Bukan taraf “ordinary” (biasa) tetapi harus “extra ordinary” (luar biasa) Rajinlah baca Alkitab dengan baik karena ini mengubah hidup dan tingkah lakumu. Ini membuat hidup kita punya pengharapan saat kesulitan menghadang. Firman inilah membuat kita senang beribadah dan melayani Tuhan dengan baik. Sehingga saat berjumpa dengan Tuhan, Dia berkata, “Hai hambaKu yang setia masuklah!” Marilah kita setia dalam pengharapan, pelayanan dan beribadah kepadaNya.


Sunday, September 29, 2013

Rindu akan Tuhan

Ev Helen Sung

Maz 42:1-4
Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah. (42-2) Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?"
Maz 137:1-4
Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.  Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" Bagaimanakah kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing?

Suatu saat ada seseorang jatuh ke laut. Ia dikelilingi oleh air laut. Di mana-mana air laut. Namun ia berseru-seru,”Saya perlu air. Saya perlu air.” Berkali-kali ia berseru. Sungguh ironis, orang yang dikelilingi air namun masih terus berteriak perlu air karena air laut memang tidak bisa dimunum langsung karena mengandung kadar garam yang tinggi. Air memang merupakan kebutuhan utama manusia. Tanpa air, manusia tidak bisa hidup. Pemazmur mengatakan, “Bila tidak ada Tuhan ibaratnya seperti tidak ada air.” Maka pemazmur mengatakan, “Hatiku rindu akan Engkau. Seperti rusa yang rindu sungai yang berair.”

Waktunya Menyembah Tuhan
Saat itu orang-orang Israel sedang ditawan oleh bangsa Babel sehingga tidak bebas menyembah Tuhan. Sewaktu mengigat negara sendiri, bangsa Israel sangat sedih karena saat itu mereka sangat bebas menyembah Tuhan. Semuanya bersukacita datang ke bait Allah menyembah Allah. Setelah ditawan di Negara Babel, mereka tidak bisa bebas menyembah Allah lagi. Karena bangsa Babel adalah bangsa yang menyembah berhala, Tuhan kita sangat humoris.  Ia tahu orang Israel sangat suka menyembah berhala sehingga Ia biarkan mereka ditawan di negara Babel yang menyembah berhala. Contoh : mereka menyembah sapi emas yang mereka kira membawa mereka keluar dari Mesir. Sehingga setelah meninggal, jasad Musa disembunyikan karena dikhawatirkan orang Israel akan menyembahnya bila mengetahui tempat jasadnya dikuburkan. Tuhan membiarkan mereka ditawan di Babel selama 70 tahun supaya mereka jera (takut) dan tidak berani lagi menyembah berhala, Mazmur 137 mengatakan bahwa orang Israel pernah duduk-duduk di tepi sungai Babel. Ketika duduk, mereka menangis memikirkan Sion yang menggambarkan Yerusalem. Ketika mengingat Sion mereka meratap karena di Babel mereka tidak bebas menyembah Tuhan. Orang Babel terus menertawakan mereka, “Di manakah Tuhanmu?” atau “Kalau Tuhan ada, mengapa engkau ditawan di Babel?” dan mereka tidak bisa menjawabnya. Mereka ingin menyanyikan lagu penyembahan kepada Tuhan di Babel tetapi penulis Mazmur berkata, “Bagaimana kami menyanyi tentang Yehova di negari asing?” sehingga mereka merasa kesepian. Mereka tidak merasakan kehadiran Tuhan. Musuh dibiarkan menertawakan mereka supaya mereka mengetahui apa yang mereka hadapi bila hidup jauh dari Tuhan.

Sekarang ini kita hidup dalam zaman mas dan Tuhan menaruh kita di negara Indonesia, negara yang  penduduknya bebas menyembah Dia. Maka kita jangan menganggap bisa beribadah atau tidak, bukan merupakan masalah. Kita jangan menganggap ibadah sebagai sesuatu yang suka-suka saja (kalau suka datang, tidak suka tidak datang).  Ada juga yang datang ke rumah Tuhan untuk beribadah tapi tanpa memiliki kerinduan kepada Tuhan bahkan ada yang sampai tertidur. Bagaimana jikalau misalnya pemerintah melarang kita beribadah? Maka kita harus menghargai kesempatan beribadah saat ini. Tanpa menilai apakah cara membawakan khotbah enak atau tidak, kita dengan hati rindu datang beribadah kepadaNya. Melalui kebersamaan dalam rangkaian ibadah termasuk puji-pujian, doa, pembacaan Alkitab, kita akan bertemu dengan Tuhan. Umat Kristen Tiongkok mengalami kesulitan beribadah selama puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Ketika aliran komunis datang, semua kepercayaan dan agama harus dimusnahkan. Mereka menganggap tidak ada Tuhan sehingga tidak perlu beribadah, maka semua gereja dan  wihara berubah menjadi tempat peternakan sapi. Hal ini menakutkan. Umat Kristen yang mengasihi Tuhan rindu untuk datang beribadah kepada Tuhan. Mereka beribadah dengan cara satu per satu datang ke rumah jemaat. Karena bila datang serombongan, keberadaan mereka akan diketahui sehingga mereka akan ditangkap polisi. Saat beribadah mereka bernyanyi tanpa mengeluarkan suara. Mereka bergandengan tangan dan hanya membuka mulut bernyanyi dengan hati memuji Tuhan. Melihat keadaan demikian sungguh tergerak hati kita. Hari ini, kita bebas memuji Tuhan dengan suara keras, boleh bertepuk tangan bahkan menari. Kita sangat bebas beribadah, tetapi kenapa kita tidak menghargai waktu ini? Sekarang pintu Injil di Negara Tiongkok sudah terbuka, yang percaya Tuhan semakin hari semkain banyak, Kita harus rindu mendekat dan mengenal Tuhan kita. Jangan asal sempat baru datang beribadah. Kalau kita memiliki hati yang rindu, walaupun bagaimana sibuknya, kita datang beribadah menyembah Tuhan kita. Sekali tidak beribadah ada rasa kehilangan.

Pada tahun 1986, saya bersama Pdt Paulus Sung pergi ke Tiongkok. Waktu itu kehidupan bergereja belum sebebas sekarang, walaupun sekarang pun masih dikendalikan pemerintah. Pada hari  Minggu, kami mencari gereja mau beribadah namun tidak tahu di mana tempatnya. Saat bertanya dimana gereja, bahkan ada yang tidak tahu apa itu gereja.. Setelah mencari-cari akhirnya ketemu. Karena saat itu taxi tidak sebanyak sekarang, maka kami menunggu lama sekali sehingga sewaktu tiba di gereja sudah terlambat. Ibadah sudah selesai dan jemaat sudah pulang. Kami pun mencari pendetanya dan mengobrol. Sewaktu bertanya umur sang pendeta, ia menjawab, “Saya berumur 60 tahun. Saya pendeta termuda di tempat ini.” Waktu mendengar hal ini, saya merasa beruntung karena usia 21 tahun saya sudah menjadi penginjil.

Kita harus datang ke gereja untuk beribadah dengan kerinduan kepada Tuhan. Bukan saja di gereja, di rumah juga harus menyembah Tuhan. Demikian pula di tempat kerja. Setiap saat mendekat pada Tuhan. Karena Tuhan suka saat kita dekat denganNya. Hari ini, mungkin kita tidak dapat bekerja bagi Tuhan mengerjakan pelayanan yang besar-besar. Hal ini tidak apa-apa karena Tuhan mau kita tidak henti-hentinya berdekat kepadaNya. Ibarat sepasang  muda-mudi yang sedang berpacaran. Mereka tiap hari ingin bertemu. Tiap hari berharap mendengar suaranya. Hal ini sekarang dapat dilakukan dengan mudah karena ada ponsel (HP). Dulu saat saya pacaran tidak ada HP bahkan tIdak punya telpon. Seminggu kami bertemu sekali yaitu hari Senin, hari di mana kami beristirahat. Siang hari Pdt Sung datang dan sore hari sudah pulang. Mengapa kita rindu berdekat? Karena kita mengasihi dia. Kalau engkau berpacaran tanpa rasa cinta, maka tidak usah lagi pacaran. Karena kita mencintainya kita rindu bertemu dan mendengar suaranya. Mengapa kita terhadap Tuhan tidak demikian? Karena kita tidak sungguh-sungguh atau cukup mencintaiNya. Hati kita tidak sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Kalau kita sungguh-sungguh, kita pasti setiap saat rindu kepada Tuhan, berdekat kepadaNya, senang mendengar suaraNya, karena suara Tuhan sangat lemah lembut. Berdekat kepada Tuhan bukan hanya berdoa meminta Tuhan memberikan ini-itu atau saat kita mengalami begitu banyak masalah. Mari kita berdekat pada Tuhan, hati berpaling padaNya dan merenungkan cinta Tuhan.



Sunday, September 22, 2013

Umat Tuhan yang Bersatu Hati

(Jemaat yang Bersehati)

Pdt. Matius Farianto

Fil 2:1-11
1  Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2  karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
3  dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
4  dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
6  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9  Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10  supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11  dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Fil 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus atau dalam Bahasa Indonesia sehari-hari dikatakan, “Jadikanlah hati Kristus hatimu”. Surat ini ditulis setelah Rasul Paulus melayani dan mengamati selama 27 tahun. Ia mempunyai pengalaman baik yang menyenangkan maupun yang menakutkan. Dalam pelayanannya Rasul Paulus menghadapi bermacam-macam manusia baik yang kaya ataupun miskin, terpelajar ataupun tidak dan Yahudi juga non Yahudi. Sepanjang 27 tahun, ia pernah menangis juga tertawa. Sehingga apa yang dikemukan, merupakan bagian dari kesimpulan bagaimana supaya jemaat bisa bersatu dalam pelayanan. Apa yang dikatakan bukan merupakan teori tetapi hasil pelayanan bersama-sama dengan Tuhan. Ia berbagi apa yang dialami dan ia ingin supaya jemaat Tuhan bersatu dan tidak terpecah belah.

Ada 3 pertanyaan penting yang perlu dijawab sebelum mengetahui cara jemaat bisa bersatu :
1.     Siapa aku di sini? Ini penting untuk dijawab dengan jelas. Aku bukan majikan atau penguasa. Pertanyaan ini bicara tentang status kita, ternyata aku di sini bukan siapa-siapa. Aku orang berdosa yang mendapat kasih karunia dan pertolongan Tuhan. Ia merangkul Aku menjadi jemaat di GKKK Mabes. Status aku disini orang bedosa dan diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan. Sehingga di hadapan Tuhan aku bukan siapa-siapa.
2.     Mengapa aku di sini? Pertanyaan ini berbicara tentang peran. Apa perananku di sini ? Apa yang aku lakukan di sini? Peran di sini bukan aku yang tentukan karena aku hadir diutus oleh Tuhan. Setelah kita diselamatkan lalu diutus oleh Tuhan. Peran kita di sini merupakan misi kita yakni apa yang kita lakukan. Tanyakan pada Tuhan apa yang harus aku lakukan. Bukan sekedar kita hadir di gereja saja. Setiap orang punya peran yang Tuhan berikan dan tidak boleh dikurangi satu pun.
3.     Bagaimana aku di sini? Ini berbicara tentang sikap. Bagaimana aku bersikap? Apakah kita tidak mau tahu karena menganggap itu urusan pendeta atau majelis? Pokoknya aku hanya datang ke gereja dan setelah itu pulang?

Setelah selesai menjawab ketiga pertanyaan ini, ada 4 kata kunci yang penting di dalam pelayanan Tuhan. Keempatnya untuk melaksanakan misi Tuhan dan dengannya kita bisa menjadi saksi Kristus, dipakai Tuhan dan menyebabkan jemaat Tuhan menjadi satu. Tanpa keempatnya, kita akan susah bersatu dan melaksanakan misi Tuhan. Itu yang Rasul Paulus lihat sepanjang 27 tahun pelayanannya.
1.     Rendah hati. Ayat 3. dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri ; Ini sangat penting. Mengucapkan ayat  ini tidak sampai 1 menit tetapi untuk melaksanakan nya perlu seumur hidup. Kata kuncinya : rendah hati. Gampang mengatakan tetapi susah melaksanakannya. Kita tidak bisa besatu dan bersama-sama karena kita tidak bisa rendah hati. Rendah hati artinya tidak menganggap diri lebih tinggi dari orang lain. Menganggap “saya lebih pintar, lebih banyak gelar atau lebih tinggi jabatannya dari kamu” bisa menjadi batu kerikil bagi orang lain. Menganggap lebih pengalaman (lebih banyak makan garam) atau punya banyak talenta sehingga tidak bisa kerjasama. 1 Kor 15:10   Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.  Rasul Paulus mengatakan hal ini, padahal Rasul Paulus adalah seorang ahli teologia (ahli taurat). Itu yang menyebabkan ia bisa datang merendahkan diri di hadapan Tuhan. Rasul Paulus mengatakan,”Tuhan aku tidak tahu-tahu apa, tidak punya apa-apa, tidak bisa apa-apa , aku tidak ada apa-apanya.” Aku tidak bedanya seperti sarung tangan yang tanpa tangan tidak ada gunanya. Tuhan memakai orang yang rendah hati. Seperti sarung tangan yang kosong, apapun tidak bisa aku lakukan. Kalau tangan bisa terbuka, kita bisa merangkul sesama kita.
2.     Mengosongkan diri. Ayat 5-7. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Mengosongkan diri sama dengan menyangkal diri yakni meletakkan latar belakangnya dan memindahkan fokus pada Yesus. Bukan apa yang aku lakukan tetapi apa yang Engkau mau aku lakukan. Menyangkal diri tidak mudah karena harus menanggalkan keberhasilan dan segala kemewahannya. Tuhan Yesus menyangkal diri dan memakai rupa seorang hamba. Ini tidak mudah. Ibarat main sandiwara, orang tidak suka  jadi pembantu, tapi  senang kalau jadi raja. Sandiwara saja begitu, padahal itu bukan sungguh-sungguh. Di sebuah gereja setelah selesai khotbah kantong kolekte diedarkan. Sesampainya kolektan di barisan belakang, seorang jemaat tiba-tiba berdiri tegak dan member hormat kepada sang petugas kolektan. Saat ditanya alasannya, ia menjawab, “Kamu tidak tahu ya, itu wakil gubernur!” Sang wakil menerima persembahan dari karyawannya. Ketika aku menjalankan kantong kolekte, aku bukan melaksanakan tugas gereja, tetapi menjalankan peran sebagai wakil Tuhan dalam menerima persembahan dari jemaat sehingga ia menanggalkan jabatan wakil gubernurnya. Janganlah mengandalkan latar belakang kita tetapi bertanya,”Tuhan apa yang harus aku perbuat” seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus.
3.     Taat. Ayat 8. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Ketaatan itu penting, bukan taat ke gereja tapi ke Tuhan yang memanggil kita. Sehingga perkataan baik atau tidak baik, lancar atau tidak lancar, dekat atau jauh, bagi saya tidak penting. Yang penting baik di mata Tuhan, bisa melaksanakan kehendak Tuhan dan menyenangkan hatiNya. Yang penting agar “orang lain bisa mengenal Kristus” maka aku siap melaksanakannya. Selagi melakukan tanggung jawab sebagai umat Tuhan, kita tidak mencari-cari alasan. Seperti yang Rasul Paulus katakan “tidak menghiraukan nyawa sedikitpun untuk memberitakan Injil kasih karunia Allah”. Ketika kita taat maka bisa bersama-sama. Kalau setiap orang mentaati Kristus, maka kita akan bersama-sama, sejalan, searah, dan satu beban.
4.     Kasih. 1 Kor 16:14. Lakukankanlah segala pekerjaanmu dalam kasih. Dengan kasih baru kita bisa memeluk orang dan tidak memperhitungkan untung rugi, tidak bicara apa yang bisa aku peroleh tetapi apa yang bisa aku berikan. Itu yang Yesus Kristus lakukan dalam kehidupanNya. Ia bekerja keras memberitakan Injil supaya ada keselamatan, pertolongan dan kasih karunia. Mati-matian Ia bekerja. Bukan saja berkeringat untuk kita, tetapi tetesan air mataNya pun untuk kita. Ia menangis bila orang tidak mengenal kasih karunia Allah. Ia menangisi setiap langkah menuju kenamaan, atau saat umatNya bersedih atau mundur. Setiap tetes air mataNya untuk kita. Setiap darahNya pun untuk kita, supaya kita terlepas dari dosa yang membuat kita tidak mengenal Tuhan, supaya kita berdamai dengan Tuhan, keluar dari kematian dan masuk dalam hidup kekal, menjadi anak dan keluarga Allah. Ini sesuatu yang indah dan baik. Ia mengasihi kita bukan dengan perhitungan kalkulator, bukan karena kita kaya dan pintar. Ia mengasihi kita karena kita diciptakan seturut gambar dan rupa Allah. Kasih ini yang mendorong Rasul Paulus bekerja untuk Tuhan habis-habisan. Sehingga jemaat Tuhan bersama-sama mengasihi Tuhan, gerejaNya , orang-orang percaya dan jiwa-jiwa yang tersesat. Kasih yang menggerakkan jemaat Tuhan, berbakti kepada Tuhan, menggerakkan mereka memuji Tuhan, menggerakkan mereka bersatu dan bersaksi bagi Tuhan.

Kemiskinan yang paling besar di dunia bukan karena tidak punya uang, tetapi tidak punya Tuhan. Pemborosan ayng paling besar di dunia, kalau orang tidak melayani Tuhan. Bencana yang paling besar di dunia bukan Tsunami tetapi tidak mempunyai hidup yang kekal. Penyesalan terbesar dalam dunia, ketika kita tidak membawa satu jiwapun kepada Tuhan. Kegagalan terbesar ketika tidak meneladani hidup Kristus. Mari kita menjadikan hati kita seperti hati Kristus. Rendah hati, menyangkal diri, taat dan mengasihi.

Ada seorang anak TK setiap kali ke sekolah menangis. Dari TK sampai SMP, ia  menangis. Dia bukan anak bodoh namun karena ia tidak mempunyai kedua daun telinga. Teman-temannya di TK , SD dan SMP mengejek dan menganggapnya orang aneh serta tidak mau berkawan dengannya. Mamanya juga menangis saat melihat anaknya menangis. Suatu hari, waktu ada pemilihan ketua kelas, wali kelas mengusulkannya menjadi ketua kelas namun teman-teman sekelasnya tidak mau karena mereka tidak ingin mempunyai ketua kelas seperti momo yang tidak punya telinga. Itu pukulan yang hebat sekali . Ia menangis. Setiap kali ia menyisir rambut , ia menangis. Suatu kali mamanya berkata, “Nak, nanti engkau akan dioperasi. Ada orang yang mendonorkan sepasang daun telinga kepadamu.” Setelah dioperasi ia punya daun telinga sehingga tidak malu. Teman-temannya sekarang mendekat, karena ia pintar. Kemudian setelah lulus dari perguruan tinggi, ia  bekerja di kementrian luar negeri urusan Eropa Timur. Sekarang setiap kali menyisir, ia menangis. Ia terharu, siapa yang memberikan kedua daun telinga kepadanya. Beberapa lama berlalu lalu papanya berkata, “Mama sudah meninggal 5 tahun, mari kita menabur bunga.” Sampai di sana, papanya berkata, “Nak, tiba waktunya papa memberitahu kepadamu. Sewaktu kecil, setiap kali kamu menangis, mamamu juga  menangis sehingga ia pun memberikan kedua telinganya kepadamu. Sejak itu ia memakai topi menutupinya.” Ketika sang anak mendengarnya ia menangis. “Mama, engkau sudah sampai di sana. Aku berterima kasih di hadapan papa untukmu dan aku bernazar untuk meberitahukan hal ini kemanapun aku pergi”. Mulai hari itu, ia berkata, “Dulu aku tidak punya telinga , namun mamaku mengasih telinganya. Ini telinganya”.

Setiap tetes keringat dan darah Tuhan Yesus diberikan kepada kita. Ketika mama memberikan telinganya kita bisa bersaksi, mengapa kita tidak bisa bersaksi untukNya? Tuhan Yesus mati bukan untuk pendeta atau majelis tetapi untuk setiap kita. Sebab itu mari kita bergandengan tangan, beritakan kasih Kristus agar semua mengalaminya dengan kerendahan hati, penyangkalan diri, taat dan kasih.