Sunday, October 6, 2013

Kaya tapi Miskin

Pdt Hery Kwok

Wahyu 3:14-22
14  "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah:
15  Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!
16  Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.
17  Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,
18  maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.
19  Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!
20  Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
21  Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.
22  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Beberapa waktu lalu, di Indonesia diputar film Mandarin dengan judul “Red Cliff” (artinya Tebing Merah, bagian awal dari cerita tentang Tiga Negara atau “San Guo”) yang disutradarai oleh John Woo (67 tahun). Sutradara Hong Kong ini mengangkat film berlatar sejarah Tiongkok pada akhir dinasti Han sekitar tahun 208-209. Pada salah satu bagian ceritanya, dikisahkan adanya peperangan  antara pasukan besar yang dikepalai Jendral Cao Cao dengan pasukan kecil. Kekuatan pasukan Jendral ini luar biasa besar dengan angkatan laut yang dilengkapi banyak kapal perang. Sebelumnya Jendral Cao Cao berhasil mengalahkan begitu banyak kerajaan kecil. Bahkan kerajaan-kerajaan besar juga takut menghadapi kekuatan pasukan Cao Cao. Kepala pasukan yang kecil ini adalah panglima Sun Quan. Ternyata tentara yang besar itu kalah oleh tentara kecil. Yang membuat Jendral Cao Cao  kalah dan dipermalukan, bukan karena pasukannya tidak hebat atau tidak gagah, tetapi karena Jendral Cao Cao merasa punya pasukan yang kuat dan hebat dan dia merasa puas dengan dirinya. Sutradara John Woo ingin mengangkat kegagalan pasukan yang besar dikarenakan Jendral Cao Cao merasa diri puas dengan keberadaannya. Salah 1 filosofi orang Tionghoa adalah saat menjadi besar dan merasa puas berarti kita melupakan keberadaan kita.  Itu sebabnya dalam film ini kita petik pelajaran yang menarik bahwa orang yang cepat puas diri , maka ia bisa jatuh dengan cepat.

Kitab Wahyu merupakan tulisan yang luar biasa dan disebut kitab apokaliptik (kitab akhir zaman). Penulis (Rasul Yohanes) diminta Tuhan untuk menulis surat ke 7 jemaat (gereja) di Asia dengan tujuan masing-masing. Ada jemaat (gereja) yang telah kehilangan kasih mula-mulanya. Ada gereja yang berkompromi dengan ajaran sesat. Pada surat ke jemaat Laodikia, penulis punya penekanan yang luar biasa. Jemaat ini merasa dirinya kaya dan merasa tidak kekurangan apa-apa. Inilah bahaya yang dihadapi gereja mula-mula dan kemudian hancur (tidak ada lagi). Kehidupan kekristenannya menjadi sekedar formalitas saja. Mereka pergi ke gereja tapi tidak punya kualitas kehidupan rohani. Mereka berdoa tetapi tidak punya jiwa berdoa. Betapa bahayanya keadaan rohani seperti ini (keadaan yang digambarkan sebagai “engkau suam-suam kuku”). Seperti kalau kita minum air, biasanya ada 2 pilihan yang dipilih yakni air dingin atau air panas tergantung kesukaan yang meminumnya. Jarang ada yang meminta “air yang suam-suam kuku” yang tidak enak. Perikop di atas tentang gereja yang jemaatnya suam-suam kuku. Searas tema kita dikatakan mereka seperti nya kaya tetapi sesungguhnya miskin. Secara fisik mereka punya kekayaan yang luar biasa. Saat itu kota Laodikia punya perdagangan yang hebat dan perbankan yang luar biasa besar, sehingga secara ekonomi, mereka merupakan kota yang benar-benar makmur. Dulu waktu kota ini mengalami gempa bumi dan hancur, mereka membangun lagi tanpa meminta subsidi dari pemerintahan Romawi. Secara finansial kota ini memang makmur (kaya). Tetapi mengapa pada ayat 7, Tuhan mengatakan “kamu ini adalah miskin”. Padahal kota ini juga termasuk kota yang memiliki penghasilan dari bulu domba yang terbaik. Saat itu kalau seseorang punya peternakan bulu domba yang menghasilkan wol, bisa menjadi pengusaha yang kaya. Tetapi Tuhan berkata, “engkau melarat dan malang”. Ketiga, keistimewaan Laodikia mempunyai kedokteran yang hebat yang menghasilkan obat mata yang canggih. yang berguna bagi orang yang sakit mata. Tetapi pada ayat 17 dikatakan, “kamu adalah jemaat yang buta”.  Sangat berbeda kehidupan jemaat Laodikia dengan pernyataan Tuhan. Meskipun secara ekonomi kaya, (punya perbankan besar dan banyak emas) tetapi  engkau tetap meralat dan miskin. Engkau penghasil obat mata terbaik tetapi engkau sesungguhnya buta. Engkau punya banyak peternakan domba dan menghasilkan kain wol tetapi tetap telanjang. Apa yang membuat Tuhan mempunyai penilaian seperti itu? Karena kehidupan mereka dengan Tuhan tidak benar-benar baik. Kekristenannya hanya sebatas formalitas. Mereka ke gereja dan berdoa tapi isi dan rohaninya tidak ada. Ini sesuatu yang menakutkan yang terjadi pada gereja-gereja. Jangan bangga sebagai orang Kristen dan rajin ke gereja tiap mingu tetapi tidak punya pengharapan dan pengandalan pada  Tuhan secara total.

Pada Perjanjian Lama, ada kisah tentang Yosua memimpin bangsa Israel menyerang kota Ai yang merupakan kota kecil dibanding kota Yerikho. Kota Yerikho bisa dirubuhkan orang Israel setelah berkeliling 7 kali dan meniup sangkakala. Saat menyerang Yerikho, mereka punya pengharapan luar biasa kepada Allah. Tetapi begitu Yerikho dikalahkan dan mau menyerang kota AI, mereka menganggapnya sepele. Mereka merasa tidak perlu lagi Tuhan dalam peperangan. Itu sebabnya ketika menyerang kota Ai, mereka dipermalukan dan kalah. Kekalahan  Karena di dalam dirinya punya rasa puas terhadap diri sendiri. Saya mampu dan punya kekayaan. Saya mampu karena bisa bekerja. Saya mampu karena punya keluarga banyak. Saya mampu karena punya relasi bisnis yang besar. Kita merasa mampu tanpa Tuhan.

Ada cerita ALkitab lain. Ada seorang kaya yang berpikir tentang kekayaannya. Supaya bisa tertampung, ia ingin membangun lumbung yang besar sehingga hasil bumi bisa disimpan dan ia bisa menikmati hidup sampai tua. Tuhan kemudian berkata, “Hai kamu orang kaya yang bodoh, malam ini engkau akan mati.” Karena ia menaruh harapannya pada kekayaannya, ia tidak mencari Tuhan. Kitab Wahyu 3, kitab yang menekankan agar hidup rohani jangan seperti ini. Pada waktu mengenal Tuhan, saya punya pengharapan yang luar biasa. Pengharapan itulah yang membuat kita mengubah cara hidup yang tidak benar. Pada waktu bekerja, tidak melakukan korupsi dan manipulasi karena punya harapan besar kepada Allah yang besar. Pada waktu kita tidak berbohong kepada pasangan hidup, itu karena punya pengharapan yang besar kepada Tuhan. Sewaktu sekolah anak-anak tidak menyontek karena punya pengharapan besar kepada Tuhan. Hidup bersama Tuhan, kita dapat mengharapkan perubahan dalam seluruh aspek kita (tingkah laku dan perbuatan kita). Jangan bicara bahwa kita percaya Tuhan dan ke gereja tapi tidak peduli kepada sesama. Itu artinya kita tidak punya ketergantungan pada Allah melihat orang lain yang susah. Kita menjaga kesucian hidup karena punya pengharapakn kepada Allah yang besar. Sehingga jemaat Laodikia diingatkan kalau punya pengharapan yang besar kepada Allah maka hidupmu akan berubah.

Di Eropa ada sebuah keluarga yang sangat harmonis. Keluarga ini mempunyai seorang anak laki-laki. Saat mau memberikan nama kepada anaknya, orang tuanya mencari nama yang terbaik. Lalu ditemukan nama yang terbaik dan diberikan nama Fantastic.  Nama marganya, Brown sehingga disebut Fantastic Brown. Seperti di Indonesia, kalau pergi ke Batak Karo anak diberikan nama yang “lucu”. Waktu ayahnya lihat benda saat istri melahirkan, maka anak diberi nama seperti nama benda itu. Misal lihat lampu maka diberi nama Lampu SImanjutak. Ada teman saya namanya Gajah Parulian (?).  Jadi ada yang memanggil dia “Gajah.. Gajah”. Sehingga anak kecil tersebut bertumbuh dalam ejekan teman-temannya, karenadisebut Fantastic. Tapi anak itu bertumbuh dengan baik percaya Tuhan dan hidupnya benar-benar nyata. Waktu sekolah, dia tidak mau menyontek karena mengenal Yesus. Waktu kerja, dia menunjukkan dedikasi yang baik, sehingga perusahaan mengangkatnya menjadi pemimpin. Waktu bersosialisasi dengan orang susah , ia bantu dengan uangnya  oleh karena Fantastic mempunyai pengenalan akan Tuhan yang baik. Lalu ia menikah dan punya anak yang baik-baik. Suatu kali Fantastic sakit dan hampir mati. Lalu dia berkata ke istrinya, “Waktu nanti menguburkan saya, janganlah kamu menulis nama Fantastic karena banyak yang mengejek saya.” Istrinya jadi bingung, mau tulis apa di batu nisannya. Lalu istrinya mempunyai akal dan menulis di atas nisan, “Telah meninggal seorang pria yang luar biasa baik. Suami yang tidak pernah berkata kasar ke istri dan tidak pernah memukul / menampar istri. Seorang suami yang selalu memberi kekuatan saat istri mengalami kesulitan. Sang suami yang bisa menjadi teman ngoborol saat istri mengalami pergumulan. Menjadi seorang bapak dari anak-anak yang sangat baik. Seorang bapak yang terhadap anaknya bisa menjadi sahabat, menjadi teman bagi orang yang susah dalam kehidupan ekonomi.”  Waktu semua pelayat datang menghadiri pemakaman terakhir dan membaca tulisan di atas nisan tersebut, mereka menggelengkan kepala dan berkata, “Fantastic!”  Namanya tidak disebut tetapi orang menyebutnya “Fantastic!” Kenapa dunia heran kepada orang yang luar biasa baik? Karena dunia menginginkan lahir dari orang percaya yang mengandalkan Tuhan. Hidupnya benar-benar diubahkan karena punya pengharapan kepada Tuhan. Hidup seperti itulah di mana kerohanian kita tumbuh. Jangan bangga jadi Kristen tapi tidak peduli terhadap sesama.

Saya suka nonton TV DaAi. Mereka tidak mengenal Kristus tapi peduli terhadap sesama. Kita punya pengharapan yang pasti dalam Kristus untuk masuk surga tapi banyak yang tidak peduli terhadap sesama. Waktu saudara kita duduk di sebelah , apakah kita peduli terhadap dia? Atau kita melihat dengan pandangan sinis dan tidak punya pandangan baik. Ini yang terjadi di Laodikia. Lalu apa yang membuat kita bekerja giat dan hidup jujur? Karena kita punya pengharapan kepadaNya. Saat sulit , apakah kita langsung datang kepadaNya? Di Persekutuan Doa beberapa waktu lalu, saya pernah bercerita. Ada pendeta yang membangun gereja. Waktu membangun gereja, bila engkau punya deposito besar melebihi anggaran pembangunan gereja, maka pengharapan kepada Tuhannya akan turun. Mungkin kita berdoa tetapi doanya tidak seperti orang yang berteriak kepada Tuhan. Karena waktu berdoa, ingat jumlah depositonya cukup untuk membangun gereja. Waktu seperti itu engkau tidak punya pengharapan besar kepada Tuhan.

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi rumah anak yang bersekolah di Kalam Kudus bersama  beberapa lau shi. Mamanya bercerita tentang kesulitan anaknya yang ternyata menderita kanker getah bening. Waktu datang, saya tidak bisa melihatnya karena sedang menjalani perawatan kemo yang dilakukan di ruang isolasi. Jadi saya hanya bertemu mamanya dan bercakap-cakap dan ada satu hal yang membuat saya disadarkan Tuhan. Seringkali saat besuk , saya belajar dari jemaat yang dibesuk dan saya sering mendapat yang rohani dari Tuhan. Sang mama berkata, “Biaya yang diperlukan sangat besar.  Jumlahnya bisa ratusan juta. Dari mana duitnya saya juga tidak tahu. Waktu anak saya dikemo, dan dilakukan tindakan medis, saya juga bingung duitnya dari mana. Tetapi ada seorang yang membiayai anak saya.” Dia tidak mengenal orang itu, tetapi waktu anaknya sakit, dia berteriak kepada Tuhan. Waktu dia tahu biaya yang dibutuhkan, dia menangis dihadapan Tuhan. Waktu bicara di ruang kantor tersebut, ternyata di sebelahnya ada orang lain yang mau bicara juga ke pihak rumah sakit. Rupanya orang ini mendengar pergumulan ibu ini. Ia tidak kenal siapa orang ini. Baru di kemudian hari, orang ini memperkenalkan diri. Ia bilang ke pihak Rumah Sakit, “Tolong layani anak ini dengan baik. Berapapun biayanya saya akan bayar. Kasih obat terbaik walaupun mahal.” Waktu mendengarnya, saya menangis di hadapan Tuhan. Sepertinya dihadapan Tuhan saya ditanya, “Pengharapanmu bagaimana?” Itu membuat saya menyampaikan tentang hal terkait kerohanian kita. Waktu hidup rohani kita dengan Tuhan baik, hidup ibadah baik dan kualitasnya nyata dimana senang bersekutu dengan Tuhan di rumah Tuhan, namun juga peduli terhadap sesama di gereja. Bahkan juga terbeban menolong orang yang perlu. Karena kita punya pengharapan yang kokoh dalam Kristus. Seperti yang tertulis pada ayat 20 “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”. .Jemaat Laodikia adalah jemaat yang Kristen KTP (Kristen tanpa Kristus). Jangan menjadi orang seperti itu. Mari kita minta Tuhan terus selidiki hati. Waktu punya pengharapan, apa pun yang dihadapi, Tuhan yang pertama kita cari. Bukan kekayaan, kekuatanmu atau relasimu.

Beberapa waktu lalu saya diajak besuk ke rumah seorang jemaat. Saya diijinkan Tuhan berkenalan dan melayani banyak gereja dan mengenal banyak jemaat dari yang konglomerat sampai yang sederhana. Saya bergaul dengan berbagai tipe jemaat karena waktu mati, kita tidak membawa harta. Itu sebabnya saya tidak pernah sungkan.  Kalau salah, saya katakan Bapak salah. Sewaktu saya diajak makan dengan seorang kaya, dia berkata, “Pak Heri, kalau Pak Heri perlu sesuatu untuk gereja baru tolong sampaikan ke saya.” Saya jawab, “Terima kasih Pak.” Tetapi dalam hati, saya tidak pernah mau datang kepada orang ini karena saya punya Tuhan yang hebat. Tuhan akan mengirim orang yang terbeban untuk membangun gereja ini. Keyakinan dan pengaharapan ini  membuat saya yakin dalam melayani Tuhan. Mari kita hidup dalam keyakinan kerohanian yang baik dan bukan kerohanian yang biasa-biasa, tetapi yang luar biasa. Bukan taraf “ordinary” (biasa) tetapi harus “extra ordinary” (luar biasa) Rajinlah baca Alkitab dengan baik karena ini mengubah hidup dan tingkah lakumu. Ini membuat hidup kita punya pengharapan saat kesulitan menghadang. Firman inilah membuat kita senang beribadah dan melayani Tuhan dengan baik. Sehingga saat berjumpa dengan Tuhan, Dia berkata, “Hai hambaKu yang setia masuklah!” Marilah kita setia dalam pengharapan, pelayanan dan beribadah kepadaNya.


No comments:

Post a Comment