Sunday, September 8, 2013

Bahasa Kasih dalam Keluarga

Ev. Susan Kwok

Kol 3:17-21
17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
18   Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.

Tema “Bahasa Kasih dalam Keluarga” mengajarkan agar setiap orang dalam keluarga memahami kebutuhan anggota keluarga lainnya. Suami mengerti kebutuhan istri dan sebaliknya. Demikian juga orang tua memperhatikan kebutuhan anak dan sebaliknya. Terdapat 2 hal penting dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose yakni :
1.     Pada Kol 1:15 Rasul Paulus mengingatkan / mengajarkan bahwa Kristus itu adalah segala-galanya. Sehingga Kristus harus menjadi yang utama dalam hidup kita.
2.     Pada Kol 2:6 : Jemaat harus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
Oleh karena itu pada Kol 3:17-21 Rasul Paulus mengingatkan setiap orang percaya harus menunjukkan siapa Kristus dalam keluarganya.
Pada Kol 3:17, Rasul Paulus mengingatkan jemaat bahwa seluruh jemaat harus melakukan segala sesuatu dengan perkataan dan perbuatan di dalam nama Tuhan Yesus. Apa yang disampaikan pada ayat 17 bersifat umum, sedangkan pada ayat 18-21 Rasul Paulus menjelaskan secara spesifik, tentang siapa yang dimaksud dengan “kamu” dan apa yang harus dilakukan.
1.     Ayat 18 : istri terhadap suaminya. Hai istri tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Kata “tunduk” mempunyai 2 pengertian : istri harus menyerahkan diri dengan sukarela (tidak dengan terpaksa)  dan istri harus belajar menundukkan dirinya pada peraturan yang Tuhan sudah tetapkan. Peraturannya ialah  di dalam keluarga, suami menjadi pemimpin (kepala). Sebelum seorang wanita Kristen memutuskan menikah dia harus tahu peraturan ini dan belajar melakukannya baru rumah tangganya harmonis. Allah tidak memberi hak yang semena-mena kepada suami. Karena pada ayat ini, seorang istri meletakkan suaminya sebagai pemimpin yang harus dihargai. Allah tidak menginginkan bahwa seorang istri walau lebih banyak penghasilannya atau lebih tinggi pendidikannya melecehkan suaminya. Banyak istri yang tidak memahami dan seringkali mempermalukan suaminya di hadapan orang lain. Jangan sampai ketika seorang suami menasehati anaknya, tiba-tiba istrinya mengatakan, “Jangan dengarkan papamu, karena ia tidak tahu apa-apa.” Atau dengan kata kasar istri berkata, “Papamu itu bodoh, saya lebih tahu dari papamu.” Suatu kali saya bertanya kepada salah seorang saudari yang dekat dengan saya,” Mengapa kamu tidak mau tidur dengan suamimu dalam satu kamar selama bertahun-tahun?” Sewaktu ia mau menjawab, tiba-tiba suaminya muncul. Lalu dia mengatakan, “Lihat bajunya, rambutnya dan mukanya. Bau! Bagaimana saya mau tidur dengan dia?” Dalam hati saya kaget, sedih dan berkata dalam hati,”Kalau cici saya pembersih, pasti suaminya juga bersih. Dia tidak mungkin tak mau dengan orang jorok sebelum menikah, tetapi kenapa sekarang suaminya berubah jadi jorok pasti ada sesuatu.” Karena setiap masalah pasutri dalam rumah tangga pasti melibatkan 2 belah pihak. Ada istri yang kemudian mengatakan pada pihak keluarganya bahwa “Suaminya itu betul-betul sial dan tidak berguna. Karena penghasilannya sedikit dan tidak bisa buat apa-apa.” Sehingga sang suami dilecehkan di mata keluarga besar istrinya. Allah mengingatkan kepada sebagai istri untuk tidak memperlakukan suami demikian. Kita justru harus memberikan solusi (masukan) untuk mendukung suami agar percaya diri. Kalau suami setiap hari dikatakan bodoh maka kemudian dia benar-benar jadi bodoh. Tapi bila dihargai sebagai kepala keluarga, maka suami akan produktif. Sewaktu SD kelas 4, papa berkata kepada saya, “Susan kemari! Lihatlah mamamu! Mamamu menjahit dari pagi, siang ke pasar, masak, menjahit, makan, lalu menjahit lagi sampai malam. Sepanjang hari ia bekerja namun tidak mengeluh, dan ia terus menerus bekerja. Tetapi yang kamu harus tiru adalah , kamu harus seperti mamamu yang tidak pernah menuntut.” Mama menerima apa adanya, walau papa sudah berusaha sekuat tenaga tetapi penghasilannya hanya terbatas. Mama tidak merendahkan papa di depan keluarganya. Jadi papa merasa bahagia hidup bersama mama. Ketika seorang suami diterima apa adanya lalu didukung sekuat tenaga, maka suami merasakan bahwa istrinya tunduk kepadanya.
2.     Ayat 19 : suami terhadap istri. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Banyak pembicara seminar berkata “Suami-suami jangan pelit mengatakan I love you kepada istri. Itu seperti obat yang akan membuat istrinya bisa menikmati hidup sepanjang hari walau menghadapi kesulitan tapi hatinya lega.” Tetapi banyak suami “hemat” dalam berkata-kata.  Jangankan kata-kata pujian, kata-kata terima kasih saja jarang. Padahal wanita unik. Wanita itu lebih banyak berkata-kata dibanding laki-laki dan juga lebih banyak butuh dukungan kata-kata dari laki dibanding laki-laki sendiri. Banyak suami kurang mengasihi istrinya dan tidak menghargai pekerjaan istri sepanjang hari. Ada seorang konselor bertanya kepada seorang bapak,”Apakah bapak bekerja?” Dijawab, “Saya bekerja di kantor “X”, dari hari apa dan dari jam berapa.” Ditanya lagi, “Apakah istrimu juga bekerja?” Si Bapak menjawab,”Istrinya tidak bekerja tapi pengangguran.” Ditanya lagi,”Oh kalau begitu yang antar anak ke sekolah dan menyiapkan sarapan siapa?” “Ya istri sayalah, kan dia pengangguran jadi dia yang siapkan.” “Yang menyetrika baju, membereskan tas kantor bapak siapa?” “Ya istri sayalah kan dia tidak ada pekerjaan.” Di mata suaminya,  istrinya adalah pengangguran, padahal istrinya bekerja dari buka mata sampai tutup mata. Ia bekerja tanpa batas waktu tapi penghasilan belum tentu. Bagaimana mungkin suami yang punya konsep seperti ini mau berterima kasih pada apa yang dilakukan istrinya. Tuhan tidak mau suami Kristen seperti demikian. Kasih itu memang perlu diucapkan dan dinyatakan dalam tindakan. Ada ilustrasi lain dari sepasang opa (kakek) dan oma (nenek). Pada waktu masih muda , opa melamar oma berkata, “Percayalah kepadaku.” Si oma percaya dan menerimanya sebagai suaminya. Ternyata suaminya bertanggung jawab luar biasa. Pada waktu si istri hamil dan melahirkan anak pertama (perempuan), sang suami berkata, “Maafkan saya sudah merepotkan kamu.”  Sungguh suami yang baik. Waktu sang anak perempuannya menikah dan dibawa pergi si oma sedih. Tetapi opa sambil menepuk istrinya berkata, “Tenang masih ada saya.” Istri (oma) di tengah kesedihan menemukan suatu kekuatan. Bagaimana dengan suami hari ini? Apabila ada kesalahan (masalah), akankah ia berkata, “Tenang masih ada saya.” atau sebaliknya, “Memang dasar! Sudah diomongin... makanya....” Ketika mereka berdua sudah tua, si oma sakit keras dan hanya terbaring. Si opa duduk di samping istrinya sebelum menutup mata, “Tunggu saya ya.” Luar biasa sekali bukan?.
3.     Ayat 20 : anak terhadap orang tua. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan Kata “taat” yang dipakai, seringkali dipakai untuk orang Israel agar taat kepada Allah. Berarti Allah memandang tinggi kedudukan orang tua di bumi. Oleh sebab itu, Allah tidak suka seorang anak (walau ketika dewasa menjadi sukses) tidak taat. Allah saja mengatakan, “Aku akan menggendong kamu walaupun putih rambutmu” kepada orang Israel. Allah mengasihi walau kita sudah tua. Kita adalah tetap anak di mata Allah. Walaupun kita sekolah lebih tinggi dan bekerja lebih dari orang tua, kita tetap anak. Kita harus menyediakan dana dan perhatian untuknya. Ada pepatah, “Satu janda dapat memelihara 8 anak tetapi 8 orang anak belum tentu dapat merawat seorang ibu janda.” Ilustrasi tentang seorang ibu janda yang memiliki 3 orang anak , dan merawat ketiganya saat suaminya meninggal ketika ketiganya masih kecil. Saat anaknya sudah besar, mereka hidup berkecukupan walau tidak kaya. Awalnya si ibu tinggal dengan anak pertama (tertua) keberatan kalau hanya ia yang mengurus ibunya. Ia mengajak adik-adiknya rapat dan akhirnya membuat ketentuan kalau makan pagi di rumah anak pertama, makan siang di rumah anak kedua, makan malam di rumah anak ketiga, setelah 1 bulan akan diputar gilirannya. Berbulan-bulan terjadi dan tidak ada masalah, dan anak-anak merasa beres. Suatu kali setelah makan pagi di rumah anak terbesar, menjelang makan siang  si mama sakit. Ia tidak sanggup berjalan ke rumah anak kedua, sehingga ia mau makan siang di rumah anak pertama saja. Tapi anak yang pertama keberatan dan berkata, “Ma kan saya jatahnya makan pagi dan tidak ada jatah siang ini”. Sorenya menjelang makan sore badannya sudah enak, tapi hujan turun dengan derasnya. Jadi dia tidak bisa ke rumah anak ketiga, maka ia maunya makan malam di rumah anak pertama. Tapi anak pertama berkata, “Mama bagaimana sih, kan jatahnya makan malam di rumah anak ketiga, tadi siang juga begitu.” Akhirnya mamanya sedih dan masuk kamar. Badannya yang tua sakit-sakitan. Hari itu dia hanya makan pagi saja. Besok paginya dia tidak keluar, sehingga anak pertamanya datang dan memintanya keluar untuk makan. Tetapi mamanya berkata, “Jangan lagi siapkan makan buat saya. Saya tidak bisa makan lagi dan saya sudah tidak kuat makan lagi.” Tak lama kemudian ia meninggal. Kalau sudah begitu, walau mau dikasih makan, dia sudah tidak bisa makan.
4.     Ayat 21 : orang tua terhadap anak. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. Ini bukan hanya untuk bapak tetapi juga untuk ibu. Anak itu bisa merasa sakit hati terhadap orang tuanya karena beberapa hal :
-        yang pertama, ketika anak diacuhkan, tidak diperhatikan. Mungkin ada orang tua yang akan protes, “Saya sudah memperhatikan makan, minum, sekolah dan kebutuhan lainnya sudah dipenuhi. Bagaimana tidak dicukupi?” Tetapi mungkin anak merasa tidak diperhatikan ketika ia membutuhkan pujian, pendampingan , waktu ngobrol dari orang tuanya namun tidak didapatnya. Juga termasuk saat mendapat nilai bagus, anak orang lain dipuji, tetapi anak sendiri tidak. Bahkan dikatakan, “Kenapa hanya dapat nilai 8, yang lain bisa dapat nilai 10.” Itu salah satu bentuk tidak memperhatikan anak. Anak juga bisa tawar hati dari orang tua ketika dibedakan  juga ada anak yang bagus dan yang tidak bagus (pembawa sial). Kalau anak sejak kecil dianggap pembawa sial sehingga benar-benar menjadi pembawa sial. Atau ketika anak diperlakukan kasar oleh orang tuanya. Contoh : Adolf Hitler, yang membasmi orang Yahudi terutama yang Kristen. Waktu kecil ia bercita-cita menjadi rabi (rohaniawan Yahudi). Tapi ia benci papanya yang Kristen karena kasar kepadanya sehingga ia berbalik arah dan benci kekristenan. Begitu mengenal ajaran komunis, ia menjadi pengikut ajaran komunis yang setia.
-        Anak juga bisa tawar hati terhadap orang tua, karena sewaktu kecil diberikan kebebasan tanpa pengawasan. Seorang anak tidak merasakan perhatian orang tuanya karena tidak pernah didisiplinkan. Ketika Allah selesai menciptakan Adam, malaikat bertanya, “Kenapa Adam diciptakan dengan kaki yang besar?” Tuhan berkata, “Kaki Adam besar karena nanti kalau punya anak, anaknya bisa memakai sepatu dia dan memasukkan kaki ke dalam sepatunya.” Maksudnya kalau nanti dia punya anak, maka anaknya akan belajar mengikuti langkah ayahnya.

Tuesday, September 3, 2013

Berdoa dengan Tiada Jemu


Pdt Hery Kwok

Lukas 18:1-5
1  Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
2  Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun.
3  Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
4  Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun,
5  namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku."

Pendahuluan
Kenapa kita sering mengalami kebosanan (jemu) dalam berdoa???
Pertanyaan ini bukan pertanyaan omong kosong, tapi kita temui dalam kehidupan kita. Mungkin bukan saja jemaat, tapi ada juga hamba Tuhan yang jemu berdoa. Artinya orang Kristen dalam hidupnya tidak konsisten dalam berdoa. Berikut dua contoh dalam kehidupan kita. Ada seorang pemuda yang rajin berdoa. Kebaktian dimulai pk 6.30, pk 5.30 dia sudah hadir. Saya tertarik dan bertanya, “Mengapa kamu rajin berdoa dan datangnya jauh sebelumnya?” Ia berkata, “Saya punya pergumulan berat dan ingin berdoa kepada Tuhan”. Beberapa waktua kemudian, dia berkata bahwa doanya sudah dijawab oleh Tuhan. Setelah itu dia mulai bolong-bolong berdoanya. Dulu sebulan 4 kali berdoa, lalu menjadi 3 x, 2x, 1x dan terakhir tidak lagi. Saya bertanya,”Kemana kamu sudah lama tidak berdoa?” Dijawabnya, “Sekarang saya sudah sibuk bekerja.” Saya jadi berpikir, apa kita tidak dikasih kerja supaya rajin berdoa? Ini contoh pertama, setelah Tuhan menjawab doa , kita tidak lagi berdoa dengan baik. Contoh kedua, seorang bapak rajin berdoa, namun kemudian ia menghilang (tidak lagi berdoa). Sewaktu ditanya, “Mengapa Bapak tidak berdoa lagi?” Dia menjawab, “Saya bosan berdoa karena Tuhan tidak menjawab doa yang saya panjatkan. Saya pikir Tuhan tidak mendengar doa saya. Sekian lama saya berdoa, Dia tidak jawab doa.” Kedua ekstrim ini merupakan hal yang menyebabkan kenapa kita jemu berdoa.

Lukas 18:1-8 diapit oleh Lukas 17: 20-37 dan 18:9-14. Lukas 17:20-37 berbicara tentang kedatangan kerajaan Allah. Dikatakan bahwa orang-orang yang ada di zaman itu adalah orang-orang yang serupa dengan orang-orang pada zaman Nuh dan Lot. Artinya orang-orang itu tidak beda dengan orang-orang sewaktu Nuh memberitakan agar bertobat tapi mereka tidak mau. Nuh menyampaikan bahwa Tuhan berkata kita orang berdosa dan akan menghukum kita. Mereka tidak peduli, Mereka memuaskan nafsu untuk berbuat jahat. Mereka lebih mementingkan diri sendiri daripada mencari Tuhan. Sehingga pada zaman Nuh dikatakan dosanya sampai ke langit. Itu sebabnya pada kitab Kejadian dikatakan Allah menyesal menciptakan manusia. Di zaman Lot , orang-orang berbuat amoral di mana laki-laki dengan laki-laki berbuat mesum. Sehingga timbul istilah sodomi. Dari kecil sampai besar orang-orang Sodom dan Gomora jahat. Jadi waktu Tuhan berbicara, “Janganlah jemu-jemu berdoa”, itu untuk menolong kita menghadapi zaman yang sangat rusak di mana orang tidak mempedulikan Allah,  mementingkan diri sendiri, berzinah,  tidak bermoral, menipu dll. Orang percaya diajar berdoa supaya tidak seperti mereka dan agar bisa bertahan dengan pengharapan. Luar biasa ayat firman Tuhan! Sewaktu Tuhan berkata, “Jangan jemu-jemu berdoa” karena menghadapi zaman yang sulit sekali , kita mungkin tidak tahan menghadapinya atau mulai mengikuti zaman ini dengan tingkah lakunya. Tuhan berkata, “Waktu tekun berdoa kamu tidak akan terjebak dengan arus dunia”. Tuhan Yesus mempunyai pemahaman dosa yang luar biasa untuk menghadapi zaman yang sulit. Mungkin bisnis sulit, tapi kalau tekun berdoa, maka kita akan selamat karena waktu berdoa kita akan ingat Tuhan.
Pada pasal 18, Lukas juga berbicara tentang doa orang Farisi. Orang Farisi saat berdoa menyombongkan dirinya. Karena sudah membayar kewajiban (seperti perpuluhan), mereka  merasa benar di hadapan Allah (tidak berdosa). Berbeda dengan si pemungut cukai yang berdoa dengan takut dan menundukkan kepala. Si pemungut cukai malu dengan Tuhan karena merasa tidak layak. Tuhan berkata,,”Bila ingin berdoa, ikuti contohlah si  pemungut cukai.” Jadi waktu Tuhan mengajarkan janganlah jemu-jemu berdoa, agar hatimu seperti pemungut cukai yang mengharapakan belas kasihan Allah dengan sangat. Baru di sinilah kita mengerti Luk 18:1 (jangan jemu-jemu berdoa). Di satu sisi, Tuhan membuat kita bertahan menghadapi zaman dan di sisi lain membuat kita berharap selalu kepada Tuhan. Itu sebabnya kita melihat Yesus Kristus memberi contoh orang yang berdoa. Kita berbeda sedikit dengan Tuhan Yesus. Yesus sedikit-sedikit berdoa, kita sedikit berdoa.

Ada 3 hal yang bisa dipelajari dari “Berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Lukas 18:1-8)
1.     Pada ayat 6 Tuhan Yesus berkata, “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu.” itu hal yang penting. Hakim itu adalah hakim yang jahat , hakim yang tidak takut akan Allah (ayat 2). Hakim  ini berani berbuat jahat, karena ia tidak hormat kepada Allah. Mengapa setelah mengenal Tuhan, kita takut nyontek? Karena ada Tuhan yang saya percaya. Tetapi kalau tidak kenal Tuhan, saya nyontek karena tidak ada yang saya takuti, kecuali guru. Hakim itu tidak takut akan Allah, orang ini sangat mengerikan sekali. Ia jadi hakim yang tidak adil dan tidak menghormati seornag pun. Orang Tionghoa diajarkan untuk menghormati orang lain. Itu sebabnya, sewaktu di rumah, kita dipanggil untuk mepangil apak, asuk, sukme, popo, kungkung dll supaya kita tahu menghormati orang. Kalau ke rumah tidak menyapa apak  lalu ke dapur makan, maka papa saya bisa ambil rotan dan memukul saya. “Karena kamu tidak hormat dengan orang”, katanya. Hakim ini tidak hormat orang, berarti benar-benar mengesalkan dan memuakkan. Pada ayat 4 dia mengaku, “Aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun”, jadi waktu Tuhan Yesus katakan ,”Camkan apa yang dikatakan hakim itu.” Allah sedang membandingkan dirinya dengan hakim yang jahat. Dulu saya seorang pengacara. Kalau bertemu hakim, kita bilang, “Pak Hakim tolong lah kami, walau kesal tapi tetap kita datang.” Walau pun dalam hati kita dongkol dan kesal, nanti kalau sudah tidak ada hubungan, saya tidak akan datang. Tuhan berkata , “Aku pengasih dan penyayang, kenapa engkau tidak mencari Aku? Jadi waktu berdoa tidak jemu-jemu, kita berdoa kepada Allah yang pengasih dan penyanyang, pemurah. Kita sedang mencari Sang Pengasih dan Pemurah. Kalau tahu itu, kita punya kerinduan yang luar biasa.
2.     Waktu Tuhan berkata, “Camkan apa yang dikatakan hakim itu” Ia membandingkannya denga hakim yang menghadapi janda. Begitu ia membuka pintu, ia bertemu janda. Baru mau makan dengan keluarganya di depannya sudah ada janda itu yang berseru,”Pak hakim tolong dan bela perkara saya.” Jadi ia terus menerus merongrongnya. Hari ini sang janda merongrong waktu makan. Hari esok, waktu mau nonton, ia juga ada. Waktu masuk mobil ia berteriak,”Hakim tolong perkara saya.” Waktu hakim mau pergi ke kantor, janda itu ada di depan rumahnya. Lama-lama ia merasa sulit. Daripada ia sulitkan saya, lebih baik saya kabulkan saja. Hakim itu menyerah karena janda itu membuatnya pusing. Sekarang Tuhan bilang, “Aku adalah Allah yang murah hati, aku rela memberikan pertolongan kepada orang-orang pilihanku.” Waktu Ia kasih berkat kepada kita, Dia tidak pernah mengungkit berkat itu. Ia tidak bilang, “Kamu dapat bapau ya. Awas kalau tidak rajin ke gereja” atau “Kemarin sudah saya kasih kangtau sekarang tidak rajin berdoa.” Ia rela memberikannya. Karena hati Allah meluap dengan kebaikan demi kebaikan. Jadi waktu Tuhan membandingkan hakim itu dengan diriNya. Ada perbedaan yang luar biasa menyolok antara Allah dengan hakim itu. Hakim itu memberi jawaban karena sang janda membuatnya pusing, Sedangkan hati Allah luar biasa rela, masakan kita tidak rindu? Kalau kita punya kawan-kawan yang hatinya pemurah, hatinya baik dan tulus hatinay , rasanya berkawan dengan orang itu enak sekali. Coba kalau kita punya teman yang pelit, judes, galak, capenya luar biasa. Saudara pasti piih yang lembut, pemurah untuk menjadi sahabat. Allah menggambarkan diriNya sebagai pribadi yang murah hati.
3.     Allah membandingkanNya dengan hakim jahat yang kalau menjawab lama sekali. Setelah dirongrong, dia baru menjawab. Tapi Tuhan memberikan jawaban pada waktuNya yang hebat dan terbaik untuk kita. Kalau Tuhan belum menjawab, berarti belum waktunya buat kita. Bahkan sekalipun tidak menjawab, dia tahu yang terbaik buat kita. Inilah sesuatu yang penting tentang Allah. Ia membuat kita semangat berdoa. Maka Yesus senang berdoa kepada Bapa di sorga. Karena bapa di surga berbeda dengan hakim yang jahat dan yang menyulitkan orang. Pribadi yang hatiNya murah sehingga Kristus sangat senang. Kristus tahu Bapa di sorga tahu kapan memberikan.

Kalau kita mengenal Allah yang sedemikian baik, mengapa kita tidak rindu berdoa? Mungkin kita sedang menghadapi masalah yang pelik sekali. Mungkin kita sedang menghadapi zaman Lot atau Nuh yakni  zaman di mana orang mementingkan diri sendiri dan orang berbuat jahat. Pagi tadi saya datang pk 5.30. Saat saya melewati pertigaan Kartini Raya di sebelah kanan ada sebuah diskotik besar. Cukup banyak orang keluar dari sana. Mereka menghabiskan waktunya untuk diri sendiri. Karena kita hidup di zaman yang susah, mari kita sungguh-sungguh berdoa karena Allah kita baik. Allah yang kita kenal tidak pernah mengulur waktunya. Jangan kita pernah curiga dengan waktunya Tuhan. Waktu kita belajar taat dan setia berdoa, Dia pasti akan memberikan yang terbaik buat kita.


Sunday, August 25, 2013

Manajemen Konflik

Yud 1:9
Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: "Kiranya Tuhan menghardik engkau!"

Kis 15:35-41
35 Paulus dan Barnabas tinggal beberapa lama di Antiokhia. Mereka bersama-sama dengan banyak orang lain mengajar dan memberitakan firman Tuhan.
36 Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: "Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka."
37  Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus;
38  tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka.
39  Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus.
40  Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan
41  berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ.

Ev. Yoppy Sihombing

Konflik bisa terjadi di mana dan kapan saja. Suatu ketika saya berkunjung ke rumah adik ipar saya. Dia punya 2 anak yang masih kecil dan sedang lucu-lucunya. Sang kakak sedang main mobil-mobilan. Saat sedang serius bongkar mobil-mobilannya, anaknya datang ingin ikut bermain. Pagi yang indah berubah menjadi malapetaka. Sang adik memaksa dan berusaha merampas mainan kakaknya. Akhirnya mereka ribut. Papanya kemudian datang dan minta sang kakak untuk mengalah karena adiknya lebih kecil. Ia tidak mau karena mainan itu miliknya dan sang adik punya mainan sendiri. Akhirnya mereka berebutan sehingga mainannya rusak. Papanya marah dan menyentil Sang Kakak. Sang Kakak menangis. Lalu mamanya keluar dan bertanya mengapa menangis. Sang Kakak berkata, “Papa menyentilnya”. Mamanya kemudian bertanya kepada papanya. Akhirnya terjadi konflik antara anak dengan anak dan  orang tua dengan orang tua.

Gara-gara konflik, persahabatan bisa putus. Persahabatan terputus hanya karena persoalan sepele. Padahal untuk membangun persahabatan dibutuhkan waktu yang lama. Yang dipikirkan hanya harga diri, kesombongan di atas segalanya, ingin menang sendiri dan melupakan persahabatan yang penting. Terjadinya konflik begitu saja dan bisa terjadi dimana saja, termasuk di dalam rumah tangga. Hanya karena persoalan TV, suami-istri bisa ribut. Belum lagi antara orang tua dengan anak, rekan-rekan sepelayanan, dengan tetangga. Demikian pula di luar terjadi begitu banyak konflik. Suku dengan suku, antar organisasi atau antar bangsa. Dunia ini penuh dengan konflik. Dimana-mana pasti ada konflik. Mengapa hal ini terjadi? Selama masih ada keegoisan, kesombongan dan dosa, setan maka konflik itu akan terjadi. Salah satu sebab mengapa Yesus datang dari surga ke dunia ini, karena sejak berdosa, hubungan manusia dengan Allah terputus dan terjadi konflik. Itulah sebabnya Tuhan Yesus perlu jadi juru damai untuk mengatasi konflik manusia dengan Allah.

Dalam Kisah Para Rasul , Rasul Paulus berselesih dengan Barnabas. Keduanya adalah tokoh iman besar dalam Perjanjian Baru, penginjilan di Asia dan melahirkan banyak gereja. Mereka punya kualitas rohani yang tidak meragukan namun gara-gara Yohanes Markus, mereka berselisih panjang. Mereka adalah 2 pribadi yang berbeda. Rasul Paulus adalah orang yang tidak main-main dalam pelayanan, begitu tegas. Barnabas orang yang low profile dan sabar. Sewaktu Rasul Paulus sangat marah besar dengan Markus, maka Barnabas mau membawanya serta. Tetapi Paulus tidak setuju karena Markus telah meninggalkan pelayanan dan Paulus tidak ingin memberi kesempatan karena pelayanan bukanlah hal main-main. Banyak tantangannya. Markus masih sangat muda dan menghadapi banyak tantangan di depan. Tapi Barnabas berkata, “Ia akan memimpin sampai Markus bisa melayani.” Akhirnya mereka berpisah. Barnabas bertangan dingin, sehingga mengakibatkan terjadi perubahan luar biasa terhadap Markus. Bahkan nantinya Rasul Paulus berkata, “Berikanlah Markus. Berikanlah dia.” Untuk membantu pelayanannya.  Di sini terlihat bahwa konflik bisa terjadi pada 2 tokoh di zaman itu.

Contoh lain di kitab Yudas, ada malaikat Michael dan Lucifer. Lucifer dulunya sebelum dibuang dan menjadi setan, adalah panglima tentara surga. Oleh karena keangkuhannya, Allah menghukumnya dan mengusirnya ke bumi ini. Sehingga ada kekosongan dalam sistem keprajuritan di surga. Jabatan Lucifer kosong, sehingga dibutuhkan panglima para malaikat pengganti. Maka Allah menugaskan Michael. Sebelumnya ia adalah seorang pemimpin paduan suara di surga. Michael dan Lucifer adalah malaikat tingkat tinggi dan saling mengenal. Mereka konflik dan selisih satu dengan lain berkenaan dengan mayat Musa. Bagi Lucifer, hal ini penting. Karena Musa selama hidupnya dianggap sebagai orang sakti dan hebat. Tak ada tokoh yang mampu membelah laut. Ia mengalahkan ahli nujum. Kalau mayatnya ditemukan orang Yahudi, maka orang Yahudi akan menyembah Musa. Itu sebabnya mayat Musa harus disembunyikan agar tidak disembah. Tetapi Lucifer ingin agar mayatnya nampak dan kalau perlu disembah. Michael dan Lucifer bertengkar hebat. Ada konflik di antara mereka. Konflik bisa terjadi kapan dan dimana saja.

Cara menyelesaikan konflik.
Manajemen artinya mengatur sedangkan konflik artinya perseteruan atau perselesihan. Manajemen konflik = bagaimana mengatur perselisihan atau perseteruan. Dalam manajemen , kita mengenal 4 hal penting :
1.     Controlling (mengendalikan). Apa yang harus dikontrol dalam diri kita? Emosi! Saat menjadi gembala di sekolah, saya berkata ke seorang guru, “Kalau kamu sedang marah , maka tangan kamu harus di belakang. Sehingga hanya mulutmu saja. Andaipun marah, marah dengan mulut, jangan tanganmu ke depan sehingga main tangan.” Marah tidak harus dengan penganiayaan. Siapa bisa mengontrol emosi dan marahnya? TIdak mudah. Tidak ada orang yang merencanakan untuk marah-marah. Begitu mudah orang membuat orang lain marah. Kita tidak berlambat untuk marah melainkan dengan cepat. Suatu kali saya harus khotbah di 3 tempat di 3 kota berbeda. Pagi saya naik taxi supaya cepat agar jangan sampai telat / ketinggalan pesawat. Jadi begitu ada mobil lain yang lewat, dia selalu marah-marah. Gampang sekali marah. Harusnya tidak perlu marah-marah walau ingin cepat-cepat sampai. Waktu nenek saya meninggal usianya 125 tahun. Menjelang usia itu, ia tiap hari marah-marah, dari pagi sampai malam marah-marah. Dia marah-marah karena darah tinggi. Mengontrol emosi dan kata-kata tidaklah mudah. Yakobus mengatakan, tidak seorang pun sempurna karena orang yang sempurna dapat mengekang lidahnya. Dari mulut yang sama keluarlah kutuk dan juga berkat. Orang seringkali menyumpah. Harusnya tidak boleh sumpah keluar dari anak-anak Tuhan. Kita harus mengontrol perkataan, pikiran dan keinginan-keinginan daging kita. Suatu kali istri saya bilang sapu patah sehingga mau beli. Juga tidak ada sabun jadi ingin belanja di supermarket. Saya ingatkan, hanya yang diperlukan saja yang dibeli. Walau sudah setuju,  sewaktu sampai di mal ternyata ada sale. Jadinya awalnya hanya mau beli sapu dan sabun, kenapa jadi belanja Rp 1,5 juta. Bagaimana mengontrol ketamakan kita? Seorang ibu kesaksian. Ia ditipu. Awalnya ia bingung uangnya mau diapakan. Karena kalau didepositokan bunganya kecil, maka ikut sebuah investasi yang katanya sebulan bisa dapat Rp 50 juta. Sehingga dia bermimpi , kalau bunga sudah dibayarkan mobilnya bisa ganti. Bulan pertama , kedua dapat bunganya, bulan ketiga tidak muncul. Bulan empat curiga. Bulan lima sadar ia tertipu. Lalu berdoa ke Tuhan, saya sudah tamak , minta agar modalnya dikembalikan. Uang yang Rp 1 miliar kembali Rp 400 juta. Dia bilang, Puji Tuhan walau uang Rp 600 juta hilang. Tetapi berat badannya sudah berkurang 5 kg. Ia menyadari ini suatu ketamakan. Mau dapat uang banyak tetapi tidak mau kerja keras. Tidak mau cape-cape.  Jadi hati-hatilah kalau ada menawarkan investasi.
2.     Leading (memimpin). Kita harus mampu memimpin diri sendiri. Mengarahkan diri sendiri. Menaklukkan diri sendiri. Pimpin kepada Yesus Kristus, kepada firman Tuhan. Karena memang kita sulit mengendalikan diri sendiri. Rasul Paulus berkata, apa yang tidak aku ingin itu yang aku lakukan. Ada duri dalam daging. Aku tidak mau yang tidak baik tapi itu yang kulakukan. Plato mengatakan, dalam diri manusia ada 2 kekuatan. Seperti 2 kuda, yang satu baik yang lain beringas dan nakal. Kedua kuda bertentangan satu dengan lain. Seringkali kuda yang jahat yang memenangi pertempurannya. Sehingga manusia sulit jadi baik. Untuk memimpin diri sendiri, kita tidak mampu kecuali diserahkan kepada Allah Roh Kudus untuk memimpinnya.
3.     Programming. Kita mau menjadi orang Kristen yang mengalami pertumbuhan. Kita mau mengalami kemajuan kerohanian. Bukan seperti tembang lawas , “aku mau seperti yang dulu”. Sudah jadi orang Kristen lama, ada yang 3 tahun atau 50 tahun , tetapi terlambat ke gerejanya masih juga sampai sekarang. Tidak berubah. Yang berubah umurnya. Karakternya tidak berubah, kerohaniannya tidak berubah. Kita takut dan hormat kepada orang tua, karena takut kualat. Orang tuanya selalu berkata, “Kamu tidak perlu kasih tahu saya, saya sudah makan garam banyak-banyak” . Padahal Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus belajar kepada anak-anak”. Belajar tidak peduli dengan orang tua atau muda. Rasul Paulus berkata kepada TImotius, jadilah teladan dalam perkataan dan tingkah laku meskipun kamu masih muda. Dari siapapun kita bisa belajar. Mari belajar membuat program tertentu utnuk pertumbuhan rohani. Perlu Persekutuan Doa, kelas Alkitab, KKR atau kebaktian yang lebih banyak. Kita harus buat program untuk bertumbuh. Kalau dulu dilayani maka sekarang harus melayani. Harus buat perubahan, dulu didoakan orang lain sekarang mendoakan orang lain.
4.     Organizing. Jangan menganggap kita terlepas dari orang di sekitar kita. Seringkali kita menganggap bahwa urusan kita berbuat dosa, itu bukan urusan orang lain. Ini adalah masalah saya. Tidak ada masalah dengan kalian. Ini dosa dan masalahku. Tidak merasa bagian dari tubuh Kristus. Padahal kita berada dalam organ Kristus, gereja dan masyarakat sekitarnya. Dosa bersifat social artinya juga bisa melemahkan orang lain. Setiap orang berbuat dosa, membuat citra buruk bagi yang lain. Karena kita bagian dari organ. Sama seperti tubuh, tidak mungkin jempol berkata, ini lukaku tidak ada urusan dengan kepala. Atau badan membiarkan jempol luka , akhirnya menderita sampai tingkat terentu. Kerusakan dalam gereja, akan dimulai dari individu-individu dan hal-hal kecil, tahu-tahu sudah rusak semua. Kerusakan individu bisa merusak yang lain sehingga dibuat aturan / siasat gereja. Apabila ada yang salah / dosa, maka hubungannya ada. Maka untuk melindungi seluruh tubuh, anak-anak Tuhan dan gereja, perlu dibuat aturan-aturan.

Untuk menyelesaikan konflik :
1.     Carilah perdamaian. Saat konflik pikirkan perdamaian.
2.     Menjadi terang dan garam
3.     Menjunjung orang lain. Tempatkan orang lain di atas kita. Kita menghormati dan menghargai orang lain. Kepentingan orang lain di atas kepentingan kita. Kenapa kita junjung? Saat menjunjung, yang kuat ada  di di bawah. Karena ia menjunjung yang di atas/yang salah. Orang yang mengampuni adalah orang yang kuat. Orang yang marah adalah orang lemah.