Sunday, August 4, 2013

Berikanlah yang Terbaik

Pdt. Liem Ie Liong

Kej 4:1-5
1  Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN."
2 Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani.
3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan;
4 Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu,
5 tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram.

Kejadian 4:1-5 merupakan perikop tentang persembahan Kain dan Habel kepada Tuhan. Ada beberapa pertanyaan yang tidak mudah dijawab timbul :
1.     Mengapa persembahan Habel diterima sedangkan persembahan Kain tidak? Apakah Allah pilih kasih?
2.     Kapan kita tahu persembahan Kain tidak diterima dan Habel tidak? Apakah saat persembahan diberikan atau sesudahnya?
3.     Bagaimana kita tahu bahwa persembahan kain itu salah dan persembahan Habel benar dihadapan Allah, sehingga Allah menerima persembahan Habel dan tidak menerima persembahan Kain. Apakah persembahan Kain salah dan Habel benar sehingga diterima?
Apakah kita merenungkannya saat membawa persembahan kepada Tuhan? Apakah persembahan kita diterima oleh Tuhan?

Apa persembahan  Kain dan Habel?
Keduanya membawa persembahan dari hasil pekerjaan mereka. Kain seorang petani membawa hasil pertaniannya, Habel seorang peternah dan membawa anak sulung kambing domba. Keduanya, membawa hasil dari usahanya. Waktu sekolah minggu, ada guru Sekolah Minggu yang menceritakan bahwa persembahan Kain yang jelek/ busuk. Padahal firman Tuhan tidak menceritakan demikian. Kain membawa persembahan dari hasil pertaniannya , tidak dikatakan membawa hasil pertanian yang jelek/buruk. Keduanya membawa persembahan yang menurut pandangan manusia baik. Mereka melihat hasil usaha mereka dan membawanya kepada Allah.
Persembahan Habel diterima dan Kain tidak, karena Allah kita adalah Allah yang berdaulat. Secara manusiawi, apa yang dipersembahkan mereka baik, namun yang dilihat adalah orang yang bagaimana yang mempersembahkannya. Kain setelah tahu persembahannya tidak diterima menjadi marah, lalu membunuh adiknya. Karakter Kain dinilai tidak baik dan hal ini dilihat dari bagaimana ia bersikap saat membawa persembahan kepada Allah. Mungkin dengan sikap yang sombong. Sikap inilah yang tidak berkenan dihadapan Allah. Tetapi Habel membawa persembahannya dengan merendahkan hati di hadapan Tuhan . Yak 4:6 Allah mengasihi orang yang rendah hati, sebaliknya Allah menentang orang yang sombong. Tuhan memperhatikan orang yang membawa persembahan itu. Habel persembahannya diterima, karena ia membawa dengan sikap yang rendah hati, tulus, sungguh-sungguh dan pernyataan syukur ke hadapan Tuhan sehingga persembahannya diterima. Alm Pdt. Eka Darmaputra mengatakan, “Siapakah saya ketika membawa persembahan di hadapan TUhan?” Bagaimana dengan kita? Adakah sikap yang benar , rendah hati dan bersyukur ketika membawa persembahan di hadapan Tuhan?

2 Korintus 9:6-7
Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.  Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
Bagian ini ingin memberitahukan kita, bukan kita membawa persembahan untuk menerima berkat Tuhan. Tetapi kita menyadari membawa persembahan , ini adalah berkat Tuhan. Seringkali orang Kristen membawa persembahan supaya saya mendapat berkat Tuhan Seharusnya saat membawanya kita menyadari , ini berkat Tuhan.
Bagaimana saya membawa persembahan itu kepada Tuhan?
- Kerelaan hati, jangan  terpaksa atau bukan terpaksa.
- Sukacita, jangan sedih hati/ bukan dengan sedih.
-  Membawa dengan hati bersyukur atas berkat Tuhan.

2 Kor 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.. Dengan kebajikan , kita menyalurkan berkat Tuhan karena Tuhan sudah memberkati. Tuhan mengingatkan, apakah kita sudah membawa persembahan yang terbaik kepada Tuhan. Habel sungguh-sungguh berkenan di hadapan Tuhan ketika membawa persembahan. Habel membawa anak sulung kambing domba. Ia tahu memberikan persembahan yang terbaik. Habel rendah hati dan tulus, dengan kerelanan dan sukacita dan diberikan kepada Tuhan sebagai ucapan/ korban syukur sehingga Tuhan boleh menerima persembahan Habel. Ketika membawa persembahan kepada Tuhan, apakah kita mempunyai motivasi yang salah? Misalnya ; supaya Tuhan memberkati dengan banyak. Tuhan tidak melihat berapa banyaknya. Tuhan tidak melihat kuantitas tetapi kualitasnya. . Kalau Tuhan sudah memberkati dan memberikan yang terbaik,mengapa kita tidak dapat memberikan yang terbaik bagi Tuhan? Bukan saja di dalam memberi  persembahan, tetapi juga di dalam melayani Tuhan. Dalam memberi persembahan, sudahkah kita  setiap kali membawa persembahan yang terbaik bagi Tuhan?

Lukas 21:1-4.
Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.   Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.  Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.   Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."
Ketika Tuhan Yesus di bait Allah, ada orang membawa persembahan, dan Yesus memperhatikan mereka memberi persembahan. Banyak orang kaya yang memasukkan persembahan dalam jumlah yang besar. Tetapi ada seorang janda yang mempersembahkan hanya 2 peser (mata uang yang terkecil waktu itu). Tetapi ketika Tuhan Yesus melihat mereka membawa persembahan, Ia berkata, “Sesungguhnya, janda itu memberi lebih banyak dari semua orang. Orang kaya member di dalam kelimpahan, tetapi janda ini membawa di dalam kekurangan, bahkan sesluruh nafkah.” Tuhan mengatakan itu baik padahal 2 peser nilai yang paling kecil. Orang kaya pasti memberi persembahan dengan uangnya yang banyak. Tetapi Tuhan Yesus berkata, “Lebih banyak janda itu memberikan.” Karena orang kaya diberkati dengan limpah. Ia bisa memberikan jumlah yang banyak. Tetapi janda dalam kekurangannya masih bisa memberi persembahan . Tuhan tidak melihat kuantitas, tetapi Tuhan melihat orang yang memberikan. Di Bandung, ada liturgis yang sebelum persembahan berkata, “Saudara-saudara mari kita membawa persembahan yang banyak.” Lalu ada seorang majelis yang mengatakan, “Jangan ngomong begitu.” Anggapan majelis itu, yang baik itu adalah persembahan dalam jumlah yang besar. Bukan demikian! Memberi persembahan tidak begitu. Kita menyadari siapa kita ini. TUhan memberkati saya, saya membawa persembahan ini di hadapan Tuhan sebagai ucapan syukur dan dengan sukacita. Apakah kita memberikan waktu yang terbaik saat datang ke hadapan Tuhan? Demikian juga waktu kita melayani Tuhan, apakah kita melayani Tuhan dengan yang terbaik? Banyak yang mengatakan , “Saya memberikan yang terbaik.” Apakah betul kita mmberi yang terbaik? Ketika merenungkan hal ini, sepatutnyakah kita memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Tuhan Yesus sudah memberikan yang terbaik. Karena ia sudah mau mati di atas kayu salib, menebus dosa kita menggantikan kita yang seharusnya dihukum. Ia berikan dirinya untuk menebus dosa kita. Begitu besar kasihNya kepada kita. Dia sudah berikan yang terbaik, karena darahNya tertumpah menebus kita. Ketika mengikuti sakramen, kita diingatkan Tuhan Yeus memberikan terbaik , selayaknya kita juga memberikan yang terbaik. Biarlah kita sungguh-sungguh melayani Tuhan. Dengan segenap hati melakukannya untuk Tuhan. Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti bukan untuk manusia tetapi kepada TUhan. Biarlah kita dengan ucapan penuh syukur di hadapan Tuhan.


Sunday, July 28, 2013

Memberi dengan Sukacita


2 Kor 8:1-7
1  Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
2  Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
3  Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
4  Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
5  Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
6  Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya.
7 Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, — dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami — demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.

Kita sedang menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali sehingga kita bersukacita namun bagaimana kita seharusnya bersikap dalam menantikan kedatanganNya? 2 Kor 8 merupakan pasal yang baik sekali yang menceritakan bagaimana gereja Tuhan dalam menantikan Tuhan. Gereja yang sudah menerima kasih karunia, penebusan darah Krsitus, dipindahkan dari murka Allah kepada terang yang ajaib. Itu sebabnya Rasul Paulus mendorong jemaat Korintus untuk hidup seperti jemaat yang berkenan kepada Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus untuk melaksanakan komitmen gereja kepada Tuhan. Jemaat ini menjadi jemaat yang mengerti kehendak Tuhan, tetapi jemaat ini belum melakukannya. Maka seorang yang taat tidak cukup sekedar mengerti kebenaran , tetapi harus menjadi pelaku kebenaran. Contoh : jemaat Makedonia. Rasul Paulus mendapat penglihatan ada orang yang memanggil untuk menyeberangi ke mari. Rasul Paulus taat kepada pimpinan Tuhan. Ia pergi ke jemaat Makedonia, Filipi, Berea dan Tesalonika. Sekarang jemaat ini hidup luar biasa. Itu yang harus kita contoh dari jemaat yang bertumbuh.
Ayat 1-2. Selagi dicobai dengan berat , tetapi sukacita mereka meluap. Gereja ini mengalami kasih karunia Tuhan. Kasih karunia artinya gereja yang mengalami yang tidak layak mereka terima tetapi mereka menerima berkat Tuhan. Dulu mereka tidak mengenal Tuhan Yesus sekarang menjadi penyembah Yesus yang hidup. Dulu menyembah berhala sekarang menyembah Allah yang benar. Mereka yang harusnya dimurkai dan masuk ke dalam api neraka tetapi mengalami kasih Kristus. Sehingga gereja ini menjadi gereja yang luar biasa indahnya. Ada yang mengatakan gereja yang mengalami kasih Allah sekarang ini adalah gereja yang mewah dan gereja yang sukses adalah gereja yang banyak sekali uangnya, ribuan jemaatnya, banyak orang yang dibaptis. Apakah gereja yang berkenan yang demikian? Bukan, namun bukan  berarti gereja yang besar bukan kehendak Tuhan. Tetapi gereja hanya besar penampilan, banyak manusia karena banyak penampilan, bukanlah gereja yang diberi kasih karunia. Ada gereja yang besar, namun mencuri domba gereja yang lain. Ada gereja yang besar sekali di Los Angeles. Gedungnya begitu mewah dan manusia nya begitu banyak. Namun tahun lalu gerejanya tutup karena bangkrut karena uangnya diselewengkan. Yang paling mengerikan, penyelewengannya dilakukan oleh hamba Tuhannya. Mari kita belajar menjadi gereja yang sudah menerima kasih karunia Allah. Jemaat Filipi, Tesalonika dan Berea bukanlah jemaat yang kaya dan tidak punya masalah , melainkan gereja yang banyak masalah dan penderitaan. Banyak yang menekan hidup mereka karena mereka mengikut Kristus. Gereja yang menerima kasih karunia Tuhan tidak lepas dari masalah dan pergumulan. Melalui penderitaan dan kesusahan , gereja bertumbuh dan mengalami Allah sehingga sukacita mereka meluap-luap. Dalam dunia ini tidak ada gereja yang mengalami penderitaan kemudian mati gerejanya. Gereja di Tiongkok  banyak yang mengalami penderitaan, banyak hamba Tuhannya mati tetapi gerejanya bertumbuh di tengah penderitaan. Saat ini gereja India juga banyak yang mengalami penderitaan tetapi jutaan orang menjadi percaya kepada Kristus. Penderitaan tidak pernah merampas sukacita jemaat. Di Eropa, dulu gerejanya kaya luar biasa, mengalami berkelimpahan keuangan, namun sekarang gerejanya mati dan hancur. Beribu-ribu gereja dijual karena tidak sanggup dipelihara karena tidak ada lagi jemaatnya. Sekali lagi kita diingatkan , penderitaan kita sebagai gereja Tuhan dan pribadi tidak pernah jadi hancur kalau kita melibatkan Tuhan dalam hidup. Mengingatkan kita , agar jangan setelah menerima berkat Tuhan meninggalkan Tuhan karena lebih mencitai berkat Tuhan daripada Tuhan sendiri. Saya berdoa kalau dapat berkat. Doa saya , “Terima kasih berkatMu, tetapi bawa saya lebih dekat kepada Pemberi Berkat daripada berkatMu.” Gereja yang hidup tidak harus kaya. Kalau dipercayakaan kekayaan dari TUhan, gereja harus membawa kembali kepada misi Allah, bukan untuk diri sendiri.

Ayat 3. Gereja ini suka memberi walau tidak kaya. Ayat 2, mereka sangat miskin. Istilahnya “extreme” atau “sangat-sangat” miskin. Mungkin mereka hanya bisa makan 3x sehari pas-pasan. Dibandingkan orang di Jakarta yang makannya tidak hanya 3x, tapi tiap jam selama perut masih cukup. Ayat 2b, namun mereka kaya dalam kemurahan. Biasanya jemaat bisa kaya dalam hidupnya namun miskin dalam memberinya alias pelit. Herannya walau gereja Makedonia sangat miskin, tetapi sangat kaya dalam memberi. Gereja yang luar biasa! Rasul Paulus menjadi saks,i mereka memberi lebih dari kemampuan mereka. Bagaimana orang miskin memberi lebih dari kemampuan mereka? Apakah mereka seperti RobinHood yang suka merampas orang kaya dan membagikannya kepada orang miskin? Tetapi jemaat Korintus bukan seperti itu. Mungkin mereka makan 3x sehari pas-pasan dan hidup sederhana. Ada pendeta yang jago masak datang ke tempat pelayanan orang miskin gereja kami dan mengajarkan 4 sehat .. dan 3 lumayan! Karena orang miskin tidak bisa makan 5 sempurna. Sayur-sayuran yang murah tapi cara masaknya yang sehat. Sangat menarik sekali. Waktu jemaat ini mendengar sharing Rasul Paulus, bahwa orang Yahudi di Yerusalem kelaparan luar biasa. Rasul Paulus mengabarkan itu supaya orang percaya menolong orang yang mengalami penderitaan. Rasul Paulus menceritakan penderitaan orang Yahudi di Yerusalem. Waktu jemaat Makedonia mendengarnya, mereka langsung meminta dan mendesak Rasul Paulus supaya mereka memperoleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang kudus. Luar biasa! Mereka bukan orang berlebihan. Pas-pasan. Namun mereka memikirkan orang lainnya yang lebih kelaparan dan mereka tolong. Mereka bukan gereja kaya secara materi tetapi memberi lebih. Kemiskinan tidak membuat mereka mengasihi diri secara berlebih-lebihan. Mereka memuasatkan hati kepada Allah dan orang lain. Kemiskinan tidak pernah mematahkan semangat dalam memberi. Mungkin mereka tidak makan pagi supaya bisa dipersembahkan ke jemaat Yerusalem. Saking ‘kaya’nya, bukan saja mereka tidak makan pagi , tapi juga tidak makan malam, mereka sunguh-sungguh peduli kepada mereka yang kelaparan. Karena jemaat ini sadar, apa artinya lapar. Ibu Dorothy Marx setiap Kamis puasa alasannya,”Saya puasa supaya saya mengerti apa artinya kelaparan. Sehingga saya harus menolong mereka yang menderita.” Jemaat Makedonia mengerti apa artinya kelaparan sehingga mereka mendesak Rasul Paulus agar mereka diberi kesempatan ambil bagian dalam pelayanan. Alangkah indah jemaat Makedonia! Pendetanya tidak harus capai mendorong dan mendesak jemaatnya untuk menolong orang lain. Majelis tidak perlu mendesak jemaat untuk pelayaan. Jemaat ini dewasa dan ‘jatuh hati’ kepada jemaat yang kelaparan dan ingin memberi. Bila gereja di Indonesia seperti gereja di Makedonia, kita cepat memberantas kemiskinan di Indonesia. Sehingga semua orang bisa mengenal cinta kasih dan dengan cepat Tuhan Yesus akan datang.

Ayat 5. Mereka adalah orang-orang yang sadar. Hidup mereka boleh tetap bersukacita karena mengenal Yesus Kristus. Dalam penderitaan mereka melibatkan Allah dan Allah memberikan mereka penghiburan. Dalam kemiskinan, mereka bersandar dan mengalami kebaikan Allah. Itulah sebabnya mereka memberi hidup kepada Tuhan. “Kamu telah dibeli dan kamu bukan milik sendiri.” Ekspresi penyerahan hidup mereka kepada Allah, mereka ekspresikan dalam memberi kepada orang yang kelaparan di Yerusalem. Mereka digerakkan oleh Allah. Pelayanan diakonia bukan saja untuk orang yang mampu. Pelayanan misi bukan untuk yang mampu tetapi juga yang tidak mampu. Oleh karena itu Rasul Paulus berkata kepada jemaat di sana (lihat ayat 7). Sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu. Dalam iman, perkataan, pengetahuan, kesungguhan untuk membantu dan kasihmu terhadap kami. Demikian pula hendaklah kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. Contoh gereja Makedonia yang miskin ini. Kamu bukan gereja miskin, salurkan berkat kepada yang kekurangan. Supaya orang lain yang menderita mengenal kasih Allah. Jika jemaat mengalami kasih Allah, tidak ada alasan untuk tidak memberi.

Ada seorang janda yang sangat miskin di Pluit. Kalinya hitam karena pembuangan limbah pabrik dan jadi kolam renang anak-anak. Toiletnya dimana saja. Lalatnya banyak. Di sana ada ratusan anak. Janda ini berenam dengan anak-anaknya. Suaminya meninggal sejak anaknya masih kecil. Setelah kematian suaminya, ia hanya tidur 2 jam setiap hari. Janda ini terus bekerja supaya anak-anaknya bisa makan dan sekolah. Tetapi janda ini bukan hanya pikirkan anaknya tetapi juga mengasih orang di lingkungan Manggaubi, sebuah daerah di Pluit yang miskin luar biasa. Kalinya bau luar biasa, rumah rata-rata mau roboh, jalan penuh air dan cacing. Maka kami digerakkan gereja Tionghoa dan lembaga pelayanan untuk mempedulikannya. Ada keluarga dengan 3-14 orang anak , sehingga di sana terdapat ratusan anak . Kami ingin mendapatkan bangunan untuk mengajarkan kesehatan anak dan ibu. Hanya ada 1 tanah dan itu milik Cik Timbul, sang janda tersebut. Itu bukan nama aslinya. Di sana ada pohon timbul yang bentuknya seperti pohon nangka, namun buah timbul bulat tidak lonjong seperti nangka. Setiap kali masak buah dan timbul, bukan hanya masak untuk anak-anaknya tetapi ia juga masak untuk orang-orang yang tidak bisa makan di tempat itu. Dia suka memberi sehingga orang lupa namanya dan akhirnya diberi nama Cik Timbul. Kelaparan itu menyakitkan sehingga ia membagikan kepada mereka yang kelaparan. Ia mengumpulkan uang untuk beli gelas, garpu, sendok, piring-piring, dan disewakan di kampung itu. Tapi kalu ada yang meninggal, tidak dipungut biaya sewa, karena dianggap sudah menderita. Jadi walaupun sudah miskin, ia mau menolong orang yang miskin. Saat mencari tanah dan yang ketemu adanya tanahnya Cik Timbul. Tanah dan rumahnya tidak besar. Waktu ditanya apakah bisa dibeli atau disewa? Awalnya dijawab tidak bisa namun kemudian ditanya untuk apa? Dijawab, “Untuk anak supaya bisa sekolah, ibunya dididik dan bangun klinik.” Lalu ia berkata,”Mulai hari ini tanah ini saya persembahkan kepada Yesus Kristus. Kalau masih kurang, potong rumah saya bagi dua.” Air mata kami mengalir luar biasa. Kami tidak lebih miskin dari dia, tetapi dia punya hati yang kaya luar biasa. Sekarang ratusan anak yang bersekolah dan ibu-ibu yang dididik. Mematahkan kemiskinan dengan memberi pendidikan. Ibu ini memberi untuk pembaruan masyarakat di sana. Gereja membantu dengan melakukan pembangunan. Lalu gerjea memotong dua tanahnya dan membangun rumahnya bertingkat 2. Banyak gereja Tionghoa dan LSM di sini yang melayani di tengah kemiskinan . Semua memberi tapi tidak pernah terjadi kalau bukan karena sang janda miskin ini. Dialah jemaat makedonia, penuh penderitaan tapi tetap bersukacita. Miskin tapi kaya! 

Sunday, July 21, 2013

It’s All About His Love

(Semuanya Itu tentang Kasih Tuhan)

Sdri. Junia Purnomo

Ulangan 10:12-22
12 "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,
13  berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu.
14  Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya;
15  tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini.
16  Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.
17  Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap;
18  yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian.
19  Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.
20  Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu, kepada-Nya haruslah engkau beribadah dan berpaut, dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah.
21  Dialah pokok puji-pujianmu dan Dialah Allahmu, yang telah melakukan di antaramu perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, yang telah kaulihat dengan matamu sendiri.
22  Dengan tujuh puluh orang nenek moyangmu pergi ke Mesir, tetapi sekarang ini TUHAN, Allahmu, telah membuat engkau banyak seperti bintang-bintang di langit."

Ada seorang jemaat yang sangat mengagungkan dan mengasihi Tuhan. Sejak berjumpa Tuhan Yesus saat  usianya sekitar 13 tahun, ia begitu mengasihi dan menggebu-gebu melayaniNya. Ia bukanlah seorang yang kaya raya dan bukan dari keluarga percaya. Menariknya, ia bisa menyisihkan uang jajannya untuk membeli Alkitab. Ternyata Alkitab itu dibeli dan dibagikan kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Sejak saat itu sampai usianya saat ini (40 tahun), sudah banyak Alkitab yang dibagikan. Yang lebih menarik, ia divonis menderita kanker stadium 4. Mengalami hal seperti itu, membuat banyak di antara kita menjadi marah kepada Tuhan dan berkata,”Aku sudah melayani Engkau membagikan Injil kemana-mana tetapi kenapa Tuhan mengijinkan hal ini terjadi?” Di usianya saat ini, kanker menggerogoti tubuhnya sampai tulang belakang, sehingga beratnya hanya 35 kg! Tubuhnya jadi bungkuk dan tidak dapat menopangnya. Ia bersyukur memiliki suami yang setia yang metuntunnya  untuk berjalan.  Ia tidak duduk dan tidur saja di rumah tetapi terus berjalan keliling dunia dan memberitakan Injil bagi Tuhan dan memberikan kesaksian bagaimana ia berjumpa Kristus kepada semua orang. Saat ditanya darimana punya kekuatan demikian, ia mengatakan, “Jangan pernah menyerah karena kasih Tuhan lebih daripada cukup.” Hanya orang yang sadar akan kasih anugerah Tuhan yang melimpah dan memberikan kesalamatan dalam hidupnya yang membuat ia terus melayani. Kesadaran akan kasih anugerah Tuhan seharusnya menjadi dasar bagi orang percaya. Tuhan hanya menginginkan , kita taat dalam melakukan kehendakNya.

Seluruh kitab Ulangan berbicara tentang relasi antara umat Israel dengan Allah. Ini berlaku sampai saat ini dimana Abraham dan keturunannya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Mengapa Tuhan memanggil Israel menjadi umat pilihan? Apakah karena mereka sangat baik, hidup kudus tak bercela di hadapan Tuhan, atau karena mereka pintar dan banyak jumlahnya? Sama sekali tidak. Ketika belajar firman Tuhan sepanjang sejarah, bangsa Israel selalu murtad. Meskipun Tuhan mencintai dan memanggil mereka menjadi umat pilihanNya, tetapi akhirnya mereka berpaling. Apakah kasih Tuhan menjauh dari mereka? Tidak. Ayat 14-15.  Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya;  tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini. Hal ini jelas menunjukkan pemilihan Israel semata-mata karena anugearh Tuhan saja. Kembali ke ayat 12. Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. Kata “maka sekarang” menunjukkan konsekuensi “oleh sebab ini maka”. Maknanya? Inilah yang dikatakan Tuhan menginginkan ketaatan untuk melakukan kehendakNya. Kita harus melakukannya karena apa? Ayat 20-21. Dialah pokok puji-pujianmu dan Dialah Allahmu, yang telah melakukan di antaramu perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, yang telah kaulihat dengan matamu sendiri. Dengan tujuh puluh orang nenek moyangmu pergi ke Mesir, tetapi sekarang ini TUHAN, Allahmu, telah membuat engkau banyak seperti bintang-bintang di langit."
Kalau diperhatikan 21b, “perbuatan yang besar dan dahsyat, yang telah kaulihat dengan matamu sendiri”, hal ini berbicara tegas kepada bangsa Israel, dimana Tuhan sendiri menuntun mereka keluar dari perbudakan. Allah telah membebaskan mereka. Di Perjanjian Baru, Kristus telah datang untuk menebus dosa kita. Anugerah keselamatan yang ditujukan Allah yang menjadi dasar kita taat kepada Tuhan. Namun kita seringkali taat kepada Tuhan karena kita takut kepada Tuhan dan tidak mau dihukum Tuhan. Ada juga yang berkata,”saya taat karena saya mengasihi Tuhan.” Benarkah? Ketika permasalahan hidup mengguncang keluarganya, apakah ia masih datang ke gereja?  Apabila usaha kita mengalami kegagalan dan kebangkrutan, apakah kita masih memuji namaNya? Apabila, anak  atau menantu membuat hidup  susah, apakah kita tetap datang ke gereja dan mengatakan, “Aku mengasihi Tuhan”?  Bukankah lebih sering kita taat karena punya motivasi lain? Kita menunggu berkat Tuhan. Kalau Tuhan tidak memberikan kekayaan, aku tidak akan pernah menginjakkan kembali kakiku ke gereja. Tanpa sadar, kasih anugerah yang dirasakan seakan-akan tidak ada artinya.  Kita jauh lebih menginginkan berkat jasmani daripada rohani yaitu Yesus Kristus sendiri. Tetapi firman Tuhan mengatakan, dasar dari ketaatan yang Tuhan inginkan, menyadari kasih anugerah yang begitu luar biasa membuat kita taat sungguh-sungguh kepadaNya. Dengan demikian, bila ada banyak peristiwa yang dialami kita tetap dapat mengatakan, “Tuhan memang baik”. Ketika menyadari Tuhan tidak pernah melepaskan tangan kita, sekalipun keluarga kita mengalami musibah ,  kita akan setia melayani Tuhan. Karena dasar ketaatan kita, kasih Tuhan. Seringkali saat berhubungan dengan Tuhan, tanpa sadar kita lupa identitas kita.

Di ayat 14 tertulis bahwa Tuhan adalah Allah empunya segala, siapakah kita di hadapanNya? Bukankah kita ciptaanNya? Tapi seringkali kita berlaku seakan-akan kita pencipta. Seringkali kita berkata kepada Tuhan, “Tuhan aku ingin Engkau melakukan apa yang menjadi keinginanku. Aku jauh lebih tahu apa yang lebih baik padaku.” Bukankah saat berkata demikian, kita menjadi sang pencipta? Seakan-akan Tuhan itu suruhan kita.  Sangat memprihatikan, kalau kita datang ke gereja, bukan karena memiliki hati yang rela memuji dan menyembahNya. Tetapi ada begitu banyak agenda pribadi dan motivasi lain namun seakan-akan ibadah kita berkenan di hadapanNya. Tetapi yang Tuhan lihat adalah sikap hati kita. Walaupun banyak kegiatan di gereja, melakukan banyak hal, tetapi kalau motivasi kita tidak sungguh menyembah Dia, Tuhan tidak akan pernah berkenan. Biarlah kita menyadari ada berkat yang jauh lebih besar dari Tuhan yakni keselamatan dan kehidupan kekal. Kasih anugerah , keselamatan yang Tuhan berikan, hidup kekal tidak bisa dibeli dengan uang. Walau kita punya banyak kekayaan, saat meninggal semuanya tidak bisa dibawa. Kalaupun bisa dibawa, kita juga tidak bisa masuk ke rumah Tuhan dengan membayarnya.

Di ayat 16. Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk. Hal ini berbicara tentang sunat rohani bukan lahiriah. Maksudnya, kita harus menyangkal diri dan mengekang keinginan daging kita. Kita harus menundukkan keinginan hati kita di bawah Tuhan. Seperti Yesus Kristus menjadi teladan dalam melakukan kehendak Bapak, walaupun tahu jalan yang ditempuhNya begitu sulit dan menyakitkan. Karena Ia harus mati menebus manusia yang berdosa, walau manusia menghargainya. Tetapi meskipun manusia tidak menghiraukan dan menghargaiNya, tetapi Yesus Kristus tetap naik ke kayu salib menebus kita. Kalau Dia mengikuti keinginan dagingNya, mungkin Dia tidak mau. Tetapi karena Dia mengasihi kita, maka Dia ingin kita mengalahkan keinginan kita sendiri di bawah kehendakNya.

Ada sepasang suami istri yang telah menikah selama 5 tahun. Suatu hari sang suami dipindah ke luar kota, sehingga 3 bulan sekali ia baru kembali. Ia sibuk dan hanya bisa menelpon istrinya seminggu sekali. Sang istri yang kesepian karena ditinggal suaminya, mendapatkan perhatian yang begitu luar biasa dari pria lain dan  membuatnya  jatuh dalam perselingkuhan. Padahal ia orang Kristen, seorang aktifis dan membaca firman Tuhan. Namun keinginan daging begitu luar biasa, sehingga karena tidak hati-hati ia jatuh. Walau diingatkan berkali-kali oleh orang tuanya, ia merasa sulit sekali lepas. Tapi bersyukur, saat berjalan ke bandara menjemput suaminya, Tuhan menyapa hatinya. Melalui sebuah lagu, Roh Kudus melawatnya. Selidiki hatiku, lihat hatiku, apakahku mengasihiMu Yesus. Kau yang maha tahu dan menilai hidupku, tak ada yang tersembunyi bagiMu. Mungkin suaminya tidak pernah tahu perselingkuhannya, tapi Tuhan tahu. Tuhan tidak pernah membiarkan anak-anaknya berkubang dosa dan terus jatuh. Ia menginginkan kesetiaan kita, keluar dari keinginan daging. Bukan karena Dia jahat, tidak tahu kita sulit melepas keinginan daging , tetapi semata untuk kebaikan kita. Ayat 13, Kita harus berpegang pada ketetapan-ketetapanNya supaya baik keadaanmu. Inilah perintah Tuhan.
Bila kita masih dikendalikan hawa nafsu atau bergumul saat datang beribadah dengan motivasi yang salah, kita boleh belajar bahwa kasih anugerah Tuhan selalu cukup buat kita. Kasih itu pula yang akan menopang kita untuk melakukan kehendak Tuhan mengatasi keinginan daging kita. Melalui firman Tuhan, kehidupan rohani yang Tuhan inginkan adalah ketaatan dalam mengasihi sesama. Seringkali kita punya momen-momen tertentu, misalnya berbagi kasih di momen valentine atau di hari ayah dan ibu. Kita menunjukkan kasih kita yang begitu luar biasa, baik dalam bentuk hadiah dan bunga atau kata-kata, saat itu kita boleh belajar untuk mengatakan hal yang sama atau memberikan hadiah, bagi orang lain yang bahkan mungkin tidak kita kenal.

Ayat 17-19 Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap;  yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian.  Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. Siapakah sesama kita, apakah yang dikasihi hanya keluarga kita? Tuhan menginginkan kita mengasihi sesama tanpa memandang bulu. Sekalipun mungkin kita tidak suka dengan orang itu. Atau bahkan kita menyimpan kepahitan. 1 Yoh 4:20-21 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.  Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. Mana yang lebih mudah mengasihi Tuhan atau sesama? Ada  yang bilang pastilah manusia karena kelihatan. Tetapi apakah kita bisa mengasihi orang yang misalnya telah merebut suami kita, menantu kita yang membuat kita susah, anak yang tidak peduli dengan hidup kita, orang yang tidak kita kenal? Seorang perempuan bernama Toi, miskin dan dicampakkan suaminya. Tetapi ia bisa memelihara dan mengasihi anak-anak jalanan. Padahal ia sendiri menderita sakit kanker! Ia bukan orang percaya tetapi secara jujur, kasihnya jauh lebih besar dari kebanyakan kita. Seringkali kita terpaku pada kekayaan yang kita miliki dan tidak mau membagi berkat dengan orang lain. Ketika kita dipanggil oleh Tuhan, diselamatkan dan diberikan hidup yang kekal, bukan semata-mata berhenti di situ tetapi menjadi berkat bagi orang lain. Sejak awal Abraham dan keturunannya dipanggil untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Kita yang telah merasakan kasih TUhan, kita menjadi duta untuk mengasihi sesama. Marilah kita merenungkan firman TUhan, menenangkan diri , menilik hati kita., apakah kita sungguh mengasihi Tuhan dan orang lain. Ketika mengatakan,”TUhan aku mengasihMu”, sungguhkah? Ketika mengatakan ,”Aku mengasihi engkau”  sungguhkah kita mengasihi? Ataukah di dalam hati kita menyimpan banyak kebencian? Tuhan mengasihi kita dan tidak ada sesuatu di dunia yang jauh lebih berharga daripada yang telah diberikan Yesus Kristus pada kita. Kasih anugerahNya menebus kita. Tanpa sadar, kita mengabaikan begitu saja. Bahkan tidak menghargainya, dan ketika datang , hanya menuntut berkat dari Tuhan. Datang dengan motivasi yang tidak benar. Padahal apa yang tidak kita berikan, sudah diberikanNya di kayu salib. Jika hari ini, saat kita menyelidiki hati kita, sesungguhnya kita tidak benar-benar mengasihi Tuhan, kita lebih suka menuruti hawa nafsu kita, menyenangkan diri kita sendiri, maka marilah  kita sama-sama mohon ampun. Biarlah kasih anugerah Tuhan menolong kita untuk lepas dari dosa yang terus kita pegang. Bila kita mengatakan aku mengasihi Tuhan tetapi membenci orang lain, sesungguhnya kita tidak mengasihiNya. Kalau hari ini ada begitu banyak pergumulan, mungkin kita benci menantu, suami yang terus selingkuh, kita jadi sakit hati karena anak tidak pedulikan kita, biarlah kasih anugerah Tuhan, memungkinkan kita mengampuninya dan mengasihi mereka kembali.