Sunday, July 7, 2013

Jadilah Penyembah-Penyembah yang Benar

Pdt. Liem Ie Liong

Yoh 4:1-24
1  Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes
2   —  meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya,  — 
3  Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea.
4   Ia harus melintasi daerah Samaria.
5  Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.
6  Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
7  Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum."
8  Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.
9  Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
10  Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."
11  Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
12  Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?"
13  Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
14  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."
15  Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."
16  Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini."
17  Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami,
18  sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar."
19  Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.
20  Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."
22  Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
23  Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
24  Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
Mat 4:10  Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

Apakah tujuan kita datang ke gereja? Bila ditanya demikian tentu kita mengatakan, bahwa tujuan  datang ke gereja untuk menyembah Tuhan. Memang benar. Kiranya hal ini tertanam dalam hati kita. Namun ada juga orang Kristen yang datang ke gereja dengan motivasi lain, misalnya ada yang lebih mementingkan hubungan dengan sesama (datang ke gereja yang lebih ramai atau jumlah jemaatnya lebih banyak) dll. Seharusnya kita datang ke gereja bukan sekedar bertemu dengan saudara seiman, namun yang lebih utama karena kita mau menyembah Tuhan. Biarlah Tuhan memberikan berkatnya melalui ibadah, puji-pujian, dan firman Tuhan. Ketika Tuhan Yesus dicobai iblis mengatakan, “Semua kerajaan dunia dengan kemegahannya akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Namun pada Mat 4:10, Tuhan Yesus berkata, ada tertulis (artinya ada firman Tuhan) "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" Di sini Tuhan Yesus memberitahukan kita juga untuk menyembah Allah. Pada waktu kita datang ke rumah Tuhan, apakah hati dan pikiran kita seluruhnya berada di rumah Tuhan dan sunguh-sungguh menyembahNya? Pdt. Paulus Daun dalam salah satu bukunya menulis, “Salah satu faktor pertumbuhan rohani orang Kristen adalah mengenal hakikat ibadah yang benar.” Inilah yang Tuhan Yesus ajarkan dan kehendaki dalam setiap kehidupan anak-anakNya yaitu supaya kita boleh datang beribadah dengan benar, menjadi penyembah-penyembah yang benar. Suatu kali Tuhan Yesus melintasi daerah Samaria dalam perjalanan dari Yudea ke Galilea dan sampailah Dia di sumur. Karena pk 12 siang matahari bersinar dengan terik, maka Tuhan Yesus merasa haus. Tiba-tiba ada seorang perempuan Samaria dating untuk mengambil air dari sumur. Tuhan Yesus berkata, "Berilah Aku minum." dan "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.". Tuhan Yesus mengalihkan dari air jasmawi ke air rohani. Perempuan itu berkata,” Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?” Ketika itu Tuhan Yesus tidak bicara tentang air jasmani tetapi air hidup. Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. Perempuan Samaria adalah perempuan yang berdosa, hidup dalam dosa dan  membutuhkan air hidup. Ia sudah bersuami 5 orang yang sebenarnya bukan suaminya. Orang Samaria menyembah di gunung. Sedangkan orang Yahudi mengira bahwa penyembahan itu di Yerusalem tempatnya. Tetapi Tuhan Yesus mengubah hal ini. Yesus mengatakan bahwa penyembahan itu bukan di gunung atau Yerusalem tetapi Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang benar yang menyembah dalam roh dan kebenaran. Akhirnya perempuan Samaria ini percaya. Tuhan Yesus juga mau agar perempuan Samaria ini menyembah dengan benar.  

Dalam Yoh 4:42 dikatakan, dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.".  Ketika perempuan Samaria sudah bertemu Tuhan Yesus dan percaya, ia kemudian bersaksi dan menceritakan tentang Tuhan Yesus sehingga akhirnya orang-orang yang mendengarkan  juga percaya. Perempuan Samaria ini mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya bukan karena kata orang, tetapi karena ia sudah mengenal Tuhan Yesus. Sebelumnya Tuhan Yesus mengatakan, "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.  Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal” Karena perempuan Samaria menyembah tapi tidak mengenal siapa yang disembah. Ketika Rasul Paulus memberitakan Injil dari satu kota ke kota lain, sampailah dia ke kota Atena (Kisah rasul 17). Orang Atena menyembah dewa dan patung. Lalu Rasul Paulus melihat ada 1 mezbah yang ada tulisannya, kepada allah yang tidak dikenal. Penduduk Atena amat beribadah, tetapi mereka tidak mengenal siapa yang disembahnya. Tuhan Yesus mengatakan kepada perempuan Samaria bahwa sekarang kamu akan menyembah yang kamu kenal. Setelah percaya, kita mengenal Allah kita sebagai Kristus Tuhan Juruselamat kita. Ketika datang menyembah Allah, kita juga menyembah Tuhan Yesus yang sudah mati menebus dosa kita melalui kematiannya di atas kayu salib, kemudian bangkit dan mendamaikan kita dengan Allah. Melalui Tuhan Yesus kita mengenal Allah yang benar. Yesus memyatakan diri kepada kita, bahwa Dia adalah Allah. Ketika kita datang menyembah Allah, maka kita mengenal siapa yang kita sembah. Dahulu sebelum kita percaya, kita tidak mengenal siapa yang kita  sembah. Maka Rasul Paulus berkata, kiranya kita bertumbuh dalam pengenalan kita kepada Allah. Demikian pula pada 2 Pet 3:18 Rasul Petrus menulis, Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya. biarlah kita semakin mengenal Allah. Waktu menyembah Allah, kita menjadi penyembah-penyembah yang benar yaitu menyembahNya dalam roh dan kebenaran.

Menyembah dalam roh
Kita menyembah dalam roh karena Tuhan Yesus mengatakan bahwa Allah kita adalah roh adanya dan tidak kelihatan. Maka waktu kita menyembah Allah tidak perlu visualisasi seperti di depan patung atau gambar Yesus. Menyembah dalam roh dan kebenaran bukan demikian. Kita menyembah Allah yang adalah roh adanya. Ketika menyembah dalam roh dan kebenaran itulah yang Allah kehendaki. Maka kita boleh menjadi penyembah yang benar. Apa itu kebenaran (alatea, dalam bahasa Yunani artinya jujur, sungguh, tulus). Menyembah Allah dalam roh dan kebenaran dengan seluruh diri kita yaitu tubuh jiwa dan roh. Karena itu kita menyembah Allah dalam roh dalam kesungguhan dan ketulusan hati kita. Kita menyembah dalam roh dan kebenaran, berarti sungguh kita dibangunkan dalam kehidupan kita sesuai kebenaran firman Tuhan. Ketika menyembah Tuhan, kita mendengarkan firman Tuhan yang bisa menolong untuk mengerti dengan benar sehingga kita menyembah dalam roh dan kebenaran. Setiap kita datang kepada Tuhan, adakah hati kita mau dipuaskan oleh firman Tuhan? Dalam bukunya John Piper menulis bahwa,”Orang yang tidak menyukai apa yang dilakukan Allah melalui Tuhan Yesus, tidak menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Orang yang dibangun dengan kesalahan tentang pandangan terhadap Allah, tidak menyembah dalam roh dan kebenaran.” Tuhan Yesus menuntut keduanya yaitu menyembah dalam roh dan kebenaran. Ini merupakan pengalaman ibadah kita, di dalam pengenalan kita kepada Allah yang benar. Dan roh kita yang dibangun, digerakkan, oleh kebenaran maka ketika kita datang kepada Tuhan, dan menyembahNya maka kita menyembah dalam roh dan kebenaran. Dalam memuji Tuhan, apakah roh ikut menyembahnya? TUhan Yesus mencela orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka memuji Tuhan dengan mulutnya sehingga tidak berkenan di hadapanNya. Pada Matius 15:7-9 Tuhan Yesus berkata, Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:   Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.  Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.". Perhatikan firman Tuhan yang dikatakan begitu keras kepada pemimpin agama Yahudi waktu itu. Memuji Tuhan harus dari hati. Waktu mengajar SMP, dalam ibadah tiap minggu selalu pakai tepuk tangan. Para siswa memuji Tuhan dengan tepuk tangan , tapi tidak menyanyi. Tepuk tangannya luar biasa. Walau tidak alergi , saya tidak mau ikut tepuk tangan saat itu karena mereka bukan memuji Tuhan. Saat memuji Tuhan, Tuhan bukan hanya ingin mulut kita memuji TUhan, tetapi Tuhan mau kita menyembah dalam roh dan kebenaran dalam seluruh keberadaan kita. Hati dan pikiran kita yang sudah disucikan oleh Tuhan. Percuma kita menyembah kalau hanya berdasarkan ajaran atau perintah manusia semata dan bukan Allah. Kalau bukan perintah Allah berarti bukan firman Tuhan. Maka waktu menyembah Tuhan, kita sungguh-sungguh mau mendengar firman Tuhan. Apa yang Tuhan perintahkan dan kehendak Tuhan dalam hidup saya, maka dalam menyembah dalam roh dan kebenaran , kita sungguh rindu mendengar firman Tuhan , tidak melihat siapa yang khotbah. Ada jemaat bila yang khotbah Pdt A ia datang, sebaliknya kalau si B yang khotbah ia tidak datang. Hamba Tuhan dari suatu gereja pernah bercerita. Ada seorang jemaat yang mengikuti ke manapun pengkhotbahnya berkhotbah. Tidak persoalan jaraknya. Suatu kali karena macet pendeta itu tidak bisa sampai ke Bogor, sehingga jemaat itu harus menggantikannya. Apakah penyembahan kita benar bila saat datang, hanya ingin melihat pengkhotbahnya? Suatu kali ada pendeta luar negeri yang bisa berkhotbah dengan gaya yang begitu menarik dan isi firman Tuhannya padat, jelas dan berwibawa. Seorang jemaat merasa ia mendapat berkat dari firman Tuhan yang disampaikan . Lalu ia pulang dan mendengar bahwa pendeta tersebut akan khotbah lagi, maka ia datang lagi minggu depan. Pengkhotbah menyampaikan khotbah dengan padat seperti minggu lalu, ia berkhotbah dengan menarik sama seperti minggu sebelumnya. Isi firman Tuhan begitu jelas disampaikan, namun setelah selesai kebaktian, sang jemaat tidak mendapat apa-apa. Ia pun heran, “Kenapa minggu lalu saya dapat berkat sedang hari ini tidak ?” Ketika selesai bersalaman di depan, ia bertanya kepada pendeta ini. Pendeta ini menjawab dengan bijak. Ia mengatakan , “Hanya 1 penyebabnya. Minggu lalu kamu datang mendengar firman Tuhan dan beribadah kepadaNya. Tetapi hari ini  kamu datang untuk mendengarkan suara dan mengagumi saya.” Maka tidak heran, jika hari ini kamu tidak mendapat berkat. Ibadah yang benar kalau sungguh datang kepada Tuhan, kita menjadi penyembah-penyembah yang benar, dalam roh dan kebenaran. Kalau kita salah motivasi dalam menyembah Tuhan, maka kita tidak mendapat apa-apa. Ibadah yang benar, akan menumbuhkan rohani kita. Jikau dikatakan, saya tidak bertumbuh kerohanian saya, berarti minggu ini tidak menyembah yang benar. Tuhan yesus mengehendaki penyembah seperti ini. Bukan menyembah di gunung atau Yerusalem, tetapi menyembah dengan roh. Menyembah dalam kebenaran, engkau menjadi penyembah yang benar. Biarlah kita mengintrospeksi diri kita, apakah saya datang pada setiap ibadah dan bertumbuh kerohanian kita. Saya datang dengan tangan kosong, bukan pulang dengan tangan kosong, tetapi pulang dengan berkat. Setiap menyembah Tuhan, kita rindu. Jadilah penyembah yang benar. Sehingga penyembah sungguh berkenan kepada Tuhan. Ketika kita mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus kita menyembah Tuhan dan Allah kita dalam roh yang benar.

Monday, July 1, 2013

Bersyukur di Dalam Segala Situasi dan Kondisi

Ev. Djie Sadar Mahonny

1 Tes 5:18  Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Mengucap syukur bukan sekedar kata-kata. Seringkali kita mengucap syukur tanpa mengetahui esensi dan maknanya. Sebagai orang Kristen, kita hanya terbiasa berkata,”Syukur”. Bahkan kadang-kadang kita salah dalam mengucap syukur. Misal : Kalau ada anak atau cucu yang nakal dan diberitahu tidak mau.  Suatu saat ia jatuh, kita lalu berkata,”Syukurin loe...Rasain loe...” Tuhan tidak menginginkan seperti itu. Atau kita hanya mengucap syukur kalau semuanya berjalan lancar. Misal : setiap mendapat anak perempuan hingga 3 orang kita mengucap syukur. Tapi setelah berdoa untuk mendapat anak lelaki, ternyata mendapat anak perempuan lagi, apakah masih mengucap syukur? Atau bila mendapat anak laki tapi cacat, apakah masih mengucap syukur? Ucapan syukur menunjukkan keyakinan iman kita kepada Tuhan. Menunjukkan kaitan erat antara iman kita kepada Tuhan.

Mengapa kita sulit mengucap syukur?
Hidup ini indah atau sukar? Lebih banyak susah atau indahnya? Bila kita diperlihatkan sebuah kertas putih dengan bundaran-bundaran kecil warna hitam dan merah, lalu ditanya apa yang kita lihat? Ada yang melihat noda hitam atau noda merah atau keduanya. Padahal yang paling besar adalah kertas putihnya.  Hal ini ibarat manusia yang fokusnya melihat (titik) noda-noda saja dalam hidupnya. Kita lupa ada selembar kertas putih yang lebih besar dan menarik. Kalau kita gambarkan hidup sebagai kertas dengan titik merah dan hitam, maka kita melupakan kertas putih yang besar. Kalau kita fokus pada masalah yang buruk dalam hidup kita, maka hidup menjadi tidak indah. Yang ada hanyalah masalah. Begitu banyak keindahan yang perlu disyukuri. Tidak sakit telinga itu indah. Pernah bersyukur untuk telinga yang tidak sakit? 1,5 bulan lalu saya masuk RS untuk menjalani operasi pertama kalinya dalam hidup saya. Hal ini karena gendang telinga kiri saya pecah saat kecelakaan di laut, sehingga 3 tahun yang lalu pendengaran sedikit menurun. Namun yang jadi masalah adalah suara seperti suara jangkrik di telinga kiri saya selama 24 jam. Operasi berhasil , namun suara “jangkriknya” belum hilang. Kalau fokus ke suara , maka saya menderita. Tetapi saat berkhotbah dan fokus ke khotbah saya lupa hal itu. Kita semua menghadapi masalah, tetapi mari kita fokus ke hal yang lebih baik. Kita susah mengucap syukur, karena kita fokus ke hal yang tidak tercapai daripada yang tercapai. Misal : kita punya 10 target , 8 sudah tercapai. Lalu kita fokus ke 2 target yang tidak tercapai, sehingga kita melupakan yang 8. Ada yang berkata, “Sesuatu hanya indah sebelum kita miliki.” Ini berlaku bagi yang belum menikah. Katanya menikah seperti naik perahu kora-kora di Ancol.  Begitu mendengar orang berteriak-teriak, teriakannya menarik perhatian kita. Kita pun antri untuk naik, namun saat giliran kita diayun, kita mau muntah lalu kita pun berteriak. Teriakan yang sama seperti orang yang terdahulu. Baru kita menyadari, teriakan tadu bukan menunjukkan kegembiraan tapi minta turun. Ketika kita teriak , teriakan kita menarik orang dan mereka antri untuk naik.

Ada sebuah tulisan yang menarik. Di saat kita seharusnya bersyukur bisakah kita bersyukur? Apa yang menarik diburu orang. Yang tinggal di gunung merindukan pantai, yang tinggal di pantai merindukan gunung, Di musim kemarau merindukan hujan, di musim hujan merindukan kemarau. Saat diam di rumah merindukan berpergiaan, waktu sedang berpergian, merindukan diam di rumah. Waktu ramai mencari ketenangan, saat tenang merindukan keramaian. Setelah berkeluarga belum punya anak, mengeluh dan merindukan anak. Setelah memiliki anak, mengeluh karena biaya hidup tinggi. Kita tidak pernah bahagia. Sebab segala sesuatu hanya tampak indah sebelum dimiliki. Namun setelah dimiliki tidak indah lagi. Kapan kebahagian didapatkan kalau kita hanya memikirkan apa yang belum ada dan mengabaikan apa yang sudah kita memiliki. Jadilah pribadi yang selalu bersyukur. Bersyukurlah senantiasa dengan berkat yang sudah kita miliki. Bagaimana mungkin daun kecil menutupi dunia yang luas ini. Jangankan bumi, menutupi telapak tanganpun tidak bisa. Namun bila daun kecil ini ditempelkan di mata kita maka tertutuplah  bumi. Begitulah kalau hati kita ditutupi hal buruk, maka kita melihat keburukan ada di mana-mana. Bumi akan tampak buruk dan suram. Jangan menutup mata kita walaupun dengan daun yang kecil. Jangan menutup hati kita walau dengan sebuah pikiran yang buruk. Bila hati kita tertutup, tertutuplah semuanya. Syukuri apa yang sudah kita miliki. Tulisan ini sangat menarik. Ucapan syukur berkaitan dengan iman keyakinan kita. Itu berarti pengenalan kita pada Allah cukup. Keyakinan kita terhadap rancangan Allah sudah cukup. Kalau anda sering bertanya mengapa begini Tuhan?, anda tidak akan mengucap syukur. Kalau sedikit-sedikit mengeluh, tidak mengucap syukur. Intinya, bahwa kesulitan ada tapi kita yakini Tuhan ijinkan terjadi, karena ada sesuatu yang Tuhan inginkan tercapai. Persoalannya kita tidak siap jadi berkat melalui cara seperti itu. Kesulitan boleh datang, masalah bagi manusia adalah bagaimana menyelesaikannya. Ada seorang petambak ikan. Di kampungnya  semua orang beternak ikan. Ikannya sama. Dari indukan yang sama, air dengan Ph yang sama , makannya pun sama dari pabrikan yang sama. Jam makannya pun sama. Tetapi aneh sekali ada satu bapak, ikannya beda, tekstur dagingnya lebih enak. Tidak ada yang tahu rahasianya. Suatu hari bapak ini meninggal. Semua orang berbondong-bondong ke tambaknya melihat rahasianya. Tidak ada yang aneh. Tetapi seseorang mengamati , ternyata bapak tersebut sengaja memasukkan beberapa ikan buas di dalam tambaknya. Itu rahasianya. Jadi ikan yang dipelihara dikejar setiap saat oleh ikan buas ini sehingga ikan memiliki tekstur daging yang lebih baik. Di gereja ada biang kerok. Anggap saja biang kerok itu ikan buas. Persoalannya kita siap atau tidak. Kalau kita siap, maka ikan buas itu akan membuat kita menjadi lebih kuat. Tapi kalau kita tidak mengerti, maka ikan buas itu akan memangsa kita. Ketika Tuhan ijinkan persoalan melanda kita, itu ikan buas. Kalau kita mengandalkan dan percaya Tuhan , maka kita akan mendapat berkat. Persoalan memang berpotensi membuat kita terpuruk. Tetapi jangan salah, persoalan hidup membuat kita naik kelas. Ketika HP pertama kali keluar, ukurannya sangat bear. Masalahnya : besar dan harganya mahal. Sekarang HP sudah menjadi barang kebutuhan yang mudah didapat dengan harga yang terjangkau. Ada masalah, cari solusinya, naik kelas. Ketika TV muncul, gambarnya hitam putih. Lalu dibuatlah yang berwarna. Ketika TV berwarna muncul, orang tidak puas. TV terbaru dipasang di kacamata. Itulah kemajuan. Darimana sampai kemajuan seperti itu? Karena orang mendapat masalah, mengatasi masalah dan naik kelas. Yakini Tuhan akan memberikan yang terbaik walau kita tidak mengerti. Sesuatu yang buruk terjadi untuk mendatangkan kebaikan. Yakini, imani itu. Alkitab berkata, “Allah turut berkerja utnuk mendatangkan kebaikan bukan keburukan. Bagi orang yang terpanggil dan mengasihi Dia yang hidup sesuai dengan rancangan Tuhan.” Masalah bagi kita ialah, kita tahu diujung sana ada sesuatu yang indah, tapi dalam rangka menuju ke sana, Tuhan tidak memberikan peta jalan bagi kita.
Contoh : Yusuf muda mendapatkan pemberitahuan suatu saat ia akan jadi pejabat. Tapi bagaimana caranya tidak tahu. Ia lahir dengan saudara-saudara yang kurang ajar. Bukan rancangan Tuhan , bahwa saudaranya akan kurang ajar, tetapi memang demikian adanya. Tanpa begitu, tidak mungkin Yusuf akan menjadi seperti itu. Tanpa ayahnya ia pergi ke Mesir. Yakub sangat cinta dengan Yusuf. Yakub mendapat mamanya setelah ditipu 14 tahun. Kedua, mereka anak Yahudi yang sangat menjaga kekudusan hidup. Bagaimana mungkin Yakub melepaskan anaknya pergi ke Mesir. Lalu singkat cerita Yusuf pergi ke Mesir. Ia jadi budak di sana. Tidak ada peta jalan. Gelap semuanya, tetapi ia tahu Tuhan akan memimpin. Saat ia menjadi budak, Tuhan menyertai dia. Pekerjaannya berhasil. Lalu Yusuf digoda nyonya rumahnya Digoda itu berita buruk bagi Yusuf. Dan ia pun menjadi napi. Orang yang disertai dan benar di hadapan Tuhan , justru masuk penjara. Tetapi Tuhan tetap menyertai dia. Ia berkarya luar biasa sampai 2 pejabat masuk penjara lagi. Lalu Yusuf berpesan kepada salah satunya setelah ia menolongnya agar kalau sudah bebas jangan melupakannya. Yusuf tetap menjadi napi. Sampai waktunya Tuhan. Yusuf akhirnya keluar menjadi yang dijanjikan kepada dia. Kita bisa melihat sesuatu indah dibalik itu? Tetapi bagi Yusuf yang menjalaninya, perjalanan hidupnya penuh air mata penderitaan.  Karena itu kita yakin Tuhan membuat rencana itu indah bagi kita. Banyak kesulitan, bersyukurlah! Apapun situasi yang melanda, kita bersyukur. Tuhan tidak membiarkan kita menderita tanpa menyertainya kecuali kita tidak mau ikut ambil bagian di dalamnya. Ada sebuah cerita tentang seorang raja yang berburu. Ia didampingi banyak pengawal dan seorang penasehat. Suatu kali terjadi kecelakaan dan raja kehilangan jempolnya. Ia sedih sekali, bagaimana seorang raja cacat? Sang penasehat bilang, “Tidak apa-apa , mungkin itu sesuatu yang baik.” Raja marah dengan komentarnya,”Apanya yang bagus?” Jabatan sang penasehat diturunkan dan dimasukkan ke penjara. Beberapa bulan kemudian raja sudah pulih dan pergi berburu kembali bersama para pengawalnya. Kali ini , mereka nyasar dan berada di antara para kanibal. Semua ditangkap dan satu per satu dipotong dipersembahkan ke dewa. Terakhir sang raja. Karena raja ini tidak sempurna, cacat dan dewa tidak mau menerima orang yang cacat, akhirnya raja dibebaskan. Ia senang sekali. Wah beruntung jempolnya hilang. Sampai di istana ia ingat sang penasehat yang di penjara.  Sang penasehat dikeluarkan dan dipulihkan posisinya.  Benar kan jempol yang hilang bisa menjadi sesuatu yang indah? Raja berkata, “Betul.” Sang penasehat menambahkan, “Tetapi saya juga bersyukur masuk penjara. Karena kalau tidak di penjara saya sudah dipersembahkan kepada dewa.” Bersyukur kehilangan jempol? Senang di penjara? Bersyukurlah kepada Tuhan. Di dalam situasi apa pun bersyukurlah.


Sunday, June 23, 2013

Membangun Karakter

Pdt Karyanto

Roma 12:2 (FAYH)
Jangan kita meniru tingkah laku dan kebiasaan dunia ini, melainkan jadilah orang dengan kepribadian yang sama sekali baru dalam segala perbuatan dan pikiran, niscaya, saudara akan mengerti dari pengalaman sendiri bahwa jalan-jalan Allah itu sempurna dan sunguh-sungguh memuaskan saudara.

Kita hidup di zaman krisis dan semakin tua. Ada isu tentang global warming di mana suhu di muka bumi semakin tinggi dan terjadi banjir yang hebat di mana-mana. Ada krisis keuangan. Eropa belum pulih benar dari krisis ekonomi dan pengaruhnya sampai ke Amerika, Asia dan Indonesia. Ada krisis moral. Apa yang dulu orang sembunyikan karena orang malu diketahui orang lain, sekarang diceritakan ke orang lain dengan bangga. Ada perubahan nilai-nilai moral dalam masyarakat. Ada krisis keluarga. Waktu saya akan meninggalkan SAAT, Pdt.  Paul Gunadi memberikan pesan,”Kalau sudah masuk ladang pelayanan dan diundang untuk khotbah di gereja-gereja tertentu biasanya ada majelis jemaat yang mendampingi. Orang itu mengorbankan waktu dan uang untuk pelayanan kepada Tuhan. Yang perlu diingat, belum tentu keluarga mereka harmonis. Bahkan tidak sedikit hamba Tuhan yang mengalami masalah dalam keluarga.” Tugas pendeta yang paling berat saat ini adalah memimpin pernikahan. Pendeta sangat ingin agar pasangan pengantin hidup bersama sampai maut memisahkan mereka. Ada krisis yang jarang orang sadar, yakni krisis identitas. Kalau ada seorang siswa, lebih banyak bernyanyi di karaoke, dibandingkan dengan memegang buku dan belajar maka siswa ini sedang mengalami krisis identitas. Harusnya ia lebih banyak belajar daripada karaoke. Kalau seorang ibu lebih banyak jalan-jalan di mal atau bergosip dengan tetangga lain dibanding mengurus rumah tangganya, maka ibu ini sedang mengalami krisis identitas. Ibu Kristen tidak patut membuang waktu seperti itu. Ia bisa menggunakan waktunya untuk membesuk dan mendoakan jemaat. Kalau ada seorang ayah lebih banyak di bar dan bertingkah seakan-akan belum berkeluarga, ketimbang pulang ke rumah berkumpul dengan istri dan anak-anak, maka suami ini sedang mengalami krisis identitas. Banyak orang Kristen sedang mengalami krisis idenitas. Tingkah laku, tutur kata dan caranya berpikir mirip dengan orang dunia ini.

Friedrich Nietzsche (1844-1900) berkata, “Christians must show me they are redeemed, before I will believe in their Redeemer.” (Orang Kristen harus menunjukkan kepada saya bahwa mereka telah ditebus, baru saya percaya kepada Penebus mereka). Nietche adalah seorang profesor filologi (ilmu yang meneliti kertas kuno), anak seorang pendeta dan  ahli filsafat. Saat dewasa ia mengkritik dan mengecam gereja dan orang Kristen. Ia diberi gelar Sang Pembunuh Tuhan. Ia melihat kehidupan orang Kristen yang tidak berbeda dengan kehidupan non Kristen. Ia ingin orang Kristen menunjukkan kehidupan yang berbeda baru ia akan percaya kepada Penebusnya. Kita juga mengalami hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Kekristenan mati bukan karena hamba Tuhan ditangkap, dipenjarakan, dan dibunuh atau karena gereja Tuhan dipalang atau disegel, Alkitab dibakar, dirobek, diinjak dan diludahi tetapi karena orang-orang Kristen hidupnya tidak berbeda dengan orang-orang dunia ini. Tuhan Yesus berkata, kamu adalah garam dunia. Kalau garam itu telah kehilangan rasa asinnya (fungsinya), tidak ada lagi gunanya.

Roma  12:2 versi bahasa Inggris, “Do not be conformed to this world, but be transformed by the renewing of your minds, so that you may discern what is the will of God – what is good and acceptable and perfect.” Ada 2 tipe orang Kristen yaitu : yang sama (serupa) dengan dunia ini. Apa yang teman dan tetangga lakukan, ia juga melakukannya. Tipe kedua, orang Kristen yang selalu mengalami transformasi, (perubahan dari waktu ke waktu) sehingga  orang bisa melihat perubahannya. Kita termasuk yang mana? Kita melakukan profesi dengan cara yang sama dengan dunia atau selalu mengalami perubahan?
Paulus berkata, “Janganlah engkau menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah (=bermetamorfose) dengan pembaruan budimu.” Kata berubah yang dipakai disini adalah metamorphosis yakni dari telur, menjadi larva lalu berubah menjadi mahluk dewasa. Perubahan yang dimaksud bukan dari yang baik menjadi jelek, tetapi perubahan yang semakin hari menuju ke kedewasaan dan keindahan. Dulu giat melayani tetapi sekarang tidak lagi melayani Tuhan. Dulu ikut Tuhan dengan setia, sekarang tidak peduli lagi dengan Tuhan. Yang dimaksud Paulus bukan seperti ini. Kalau dulu ditakuti di kampungnya (preman), pencuri, tetapi ia sekarang berubah menjadi anak Tuhan yang menjadi kesaksian. Itu yang dimaksudkan oleh Paulus dengan berubah yang menjadi mahluk yang dewasa.  Mungkin ada yang baru setahun, sudah 5 tahun, 15 tahun atau 50 tahun menjadi Kristen. Apakah orang-orang di sekitar kita  melihat hidup kita berubah? Perubahan yang dimaksudkan di sini bukan perubahan yang instan tetapi perubahan yang terjadi melalui hubungan kita dengan Yesus Kristus (lahir baru). Waktu kita mengaku percaya, menerima Tuhan Yesus Kristus, maka dikatakan kita mengalami kelahiran baru. Apa yang menjadi harapan kita saat dokter mengatakan, “Selamat ya Pak , istri bapak hamil.” Sebagai seorang suami Kristen berdoa, agar janin dapat tumbuh sehat dan normal dan pada waktunya dapat dilahirkan dengan baik. Lalu ia bertumbuh dan berguna bagi Tuhan. Tetapi bila anak kita waktu lahir beratnya 3 kg dan kemudian beratnya menurun maka sebagai orang tua kita menjadi cemas (khawatir). Atau bila anak teman yang berusia sebaya sudah bisa berjalan sedang anak saya tergeletak di ranjang, sebagai orang tua, kita sedih sekali. Demikian juga dalam kehidupan rohani kita, pada waktu kita lahir baru. Allah Bapa ingin anakNya mengalami pertumbuhan demi pertumbuhan. Sampai suatu saat kita berjumpa muka dengan muka sebagai orang dewasa. Kalau orang mengenal kita dulunya memiliki temperamen yang kasar, gampang cemas atau pelit setelah ikut Tuhan sekian tahun mendengar firman Tuhan , rajin ke gereja, membaca Alkitab, berdoa dan bergumul di hadapan Tuhan, apakah orang melihat kita berubah, memiliki ketenangan-kedamaian dalam Tuhan atau murah hati. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti pokok keyakinan ajaran yang paling dasar dari Kristus. Salah satu perubahan yang diinginkan, kita semakin mengenal Tuhan. Kita semakin mengenal isi hatiNya. Kita semakin mengenal keyakinan yang pokok. Dulu kita tidak mengerti apa maksudnya, namun setelah menjadi Kristen sekian lama, ikut PA, membaca buku, apakah hidup kita berubah. Itu yang dimaksudkan oleh Paulus. Tetapi ada satu lagi yang paling penting yakni perubahan dari kekudusan kita. Kalau ada 1 orang Kristen dari waktu ke waktu , tidak bertumbuh dalam pengertian tentang kekudusan, maka kemungkinan ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan Kristennya. Kalau ada yang melayani sekian tahun, tetapi tidak bisa membedakan mana yang Tuhan kehendaki dan mana yang tidak, ada sesuatu yang tidak beres dalam hidup kekristenannya. Seorang anak Tuhan, dengan Roh Kudus yang ada dalam diri dan diperlengkapi dengan firman Tuhan, kalau pertumbuhannya normal, maka semakin hari semakin sensitif, mana yang Tuhan kehendaki.

Sebuah gedung yang terkenal di Inggris Westminster Abbey. Di sisi Utara biasanya diselenggarakan pernikahan-pernikahan kerajaan. Tetapi di gedung ini juga dimakamkan tokoh-tokoh terkenal. Misalnya : Isaac Newton (fisikawan), Charles Darwin, misionari terkenal dan sangat cinta Tuhan David Livingstone. Ia pergi melayani sebagai misionari di Afrika. David Livingstone dari kerajaan Inggris pergi ke Afrika. Karena begitu mengasihi orang Afrika, ia menulis wasiat, “Nanti kalau saya meninggal, bedah dan ambil jantung saya. Tanamkan di Afrika dan bawa jasad saya ke Inggris.” Dan ia pun dimakamkan di sana. Demikian pula dengan salah seorang teman saya dari Filipina yang melayani di UPH setelah sebelumnya menjadi dosen di SAAT dan STT Reform. Ia datang sebagai misionari dan pernah tinggal di Toraja, Pematang Siantar dan ditahbiskan sebagai pendeta di tanah Toraja. Terakhir ia koma, tetapi sebelum ia meninggal, ia sudah menyampaikan keinginan hatinya, “ Nanti kalau saya meninggal, tolong dikremasi, sebagian abunya dilarung di salah satu sungai di Toraja, dan sebagian lagi tolong bawa ke Filipina.” Di atas batu nisan seorang uskup Anglikan tertulis,”Ketika aku masih muda, bebas, dan imajinasiku tanpa batas, aku bermimpi untuk mengubah dunia. Saat aku tumbuh dewasa dan semakin bijak, aku sadari betapa sulit untuk mengubah dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku. Tapi sama saja, aku juga tak dapat mengubahnya. Ketika usiaku semakin senja, dalam satu upaya terakhirku, aku berusaha untuk mengubah keluargaku, orang-orang terdekatku, tapi akupun tak dapat mengubahnya. Dan sekarang saat aku terbaring di ranjang dan menyadari mungkin untuk pertama kalinya, bahwa kalau aku dapat mengubah diriku sendiri, kemudian dengan contoh perubahan dari diriku dapat mempengaruhi perubahan di keluargaku, dan dengan dengan dorongan dan dukungan mereka mungkin dapat membuat negaraku lebih baik, dan siapa tahu, aku juga dapat mengubah dunia ini.”

Tuhan memanggil kita untuk berubah menuju kedewasaan, mari kita berubah mulai dari diri kita sendiri. Suami jangan menuntut istri berubah demikian juga istri. Orang tua jangan menuntut anak berubah terlebih dahulu , demikian pula sang anak. Mari kita berubah dari diri kita masing-masing. Jemaat tidak perlu menuntut majelis untuk berubah, mari mengubah diri masing-masing.