Sunday, March 10, 2013

Warisan Ilahi

Ev Yenny Suh

Yoh 13:1-17
1   Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.
2  Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.
3  Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
4  Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,
5  kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
6  Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?"
7  Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."
8  Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."
9  Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!"
10  Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."
11  Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih."
12  Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?
13  Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
14  Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;
15  sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.
16  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.
17  Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Minggu ini adalah minggu menjelang kematian Tuhan Yesus, minggu di mana kita dibawa ke dalam kedukaan yang mendalam. Seberapa besar di antara kita yang tahu persis bahwa sekarang adalah minggu-minggu kesengsaraan Tuhan Yesus? Minggu kesengsaraan Tuhan Yesus bukan dimulai minggu ini tetapi sudah dimulai dari minggu-minggu sebelumnya. Jangan-jangan kita tidak menyadari dan memahami akan hal tersebut. Sehingga kita kurang memaknai akan kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib. Karena tidak ada hati yang dipersiapkan memasuki masa-masa kedukaan tersebut. Padahal masa inilah kita melihat karya agung Tuhan Yesus bagi dunia ini.

Warisan Ilahi
Perikop yang dibacakan (Yoh 13:1-17) merupakan  bagian di mana Tuhan Yesus akan mengakhiri hidupnya dalam dunia ini. Masa di mana ia menempuh jalan salib (via dolorosa). Yesus tahu betul, masanya tidak lama lagi. Ia tidak mau menyia-nyiakan masa yang sedikit ini terbuang dengan percuma.  Jika kita membaca bagian pertama, “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai”, banyak ahli Alkitab meyakini bahwa setelah masa  inilah Tuhan Yesus ditangkap oleh para prajurit. Setelah membasuh kaki murid-muridNya, Yudas pergi untuk menyerahkan Tuhan yesus. Jika benar, masa menjelang Tuhan Yesus dieksekusi tinggal hitungan jam. Tidak menunggu lagi hitungan hari. Tetapi di masa-masa itulah digunakan Tuhan Yesus sebaik-baiknya. Sebab Dia tahu kematianNya sudah semakin dekat. Dia tahu, keberadaanNya sebagai guru secara fisik akan berakhir. Dan Dia tahu apa yang harus Dia berikan bagi murid-muridNya. Dengan waktu yang begitu sempit, itulah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Yesus. Walaupun waktunya  sedikit, tetapi memberi makna dan kesan yang mendalam bagi para muridNya. Umumnya saat orang meninggal, kita menunggu pesan terakhir apa yang akan diberikan kepada kita.  Kita ingin dengar baik-baik, apa yang ingin disampaikan dan pada umumnya pesan itu dijalankan. Waktu Pdt. Paulus Sung meninggal, di ruang UGD, Se Mu mengelus pipinya dan berkata,”Kamu cepat sekali meninggalnya dan tidak meninggalkan pesan apa-apa.” Ada harapan orang yang akan pergi meningalkan pesan. Itulah hal yang akan dilakukan oleh Yesus. Sebelum Dia disiksa dan pergi selama-lamanya secara fisik, harus meninggalkan pesan yang mendalam bagi para muridNya. Kesan dan pesan yang diberikan Yesus kepada murid-muridNya itulah yang disebut sebagai Warisan Ilahi. Dia pergi tidak meninggalkan warisan harta duniawi tetapi Dia memberikan warisan abadi. Warisan duniawi tidak pernah dibawa sampai mati. Justru akan menimbulkan banyak perpecahan. Tetapi jika warisan ilahi yang diberikan, akan dibawa sampai mati dan akan memberikan suatu ketenangan. Inilah yang diberikan Tuhan Yesus kepada para muridNya. Warisan yang tidak diberikan untuk diri sendiri tapi harus diwariskan kepada orang lain. Banyak pelayanan yang telah Tuhan Yesus lakukan. Apa yang diperintahkan sudah diberikan terlebih dahulu. PerkataanNya  dan tindakanNya sama. Itulah yang disebut sebagai integritas. Melakukan apa yang diucapkan. Kalau kita manusia yang berdosa, kita melakukan apa yang lain dari yang diucapkan. Tetapi tidak demikian Tuhan Yesus. Ia melakukan apa yang diucapkan. Itulah yang Dia ingin wariskan. Keteladanan! Di dalam masa-masa Dia akan berakhir , Dia masih memberikan waktu yang tersisa kepada murid-muridNya.

Keteladanan
Ada 2 hal yang ingin Tuhan Yesus tunjukkan terkait keteladanan.
1.       Pelayanan. Kalau ditanya apa yang dimaksud dengan pelayanan? Semua jawaban yang diberikan tidak ada yang salah. Semua orang tahu, apa yang dimaksud dengan pelayanan. Semua tahu Tuhan Yesus mau kita ambil bagian dalam pelayanan. Pelayanan yang kita berikan seperti apa di hadapan Tuhan? Seringkali saat melayani, kita berpikir : saya melayani karena saya kurang pekerjaan (punya banyak waktu); melayani karena dipaksa melayani; melayani karena tidak ada orang lain yang mau melayani atau melayani karena mampu melayani di bidang pelayanan tersebut.  Itu yang seringkali ada di benak kita. Kalau melayani karena punya banyak waktu dikatakan sebagai melayani dengan memberikan yang terbaik kepada Tuhan.   Benarkah? Kalau ke empat hal tadi yang menjadi jawaban kita saat ditanya Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus akan berkata, “Enyahlah engkau karena Aku tidak mengenal engkau!” Bisakah kita bercermin kembali , pelayanan seperti apa yang sudah kita berikan kepada Tuhan? Mungkin kita tidak bisa disandingkan dengan Yesus yang adalah Tuhan. Tetapi Tuhan Yesus sebelum mati, menunjukkan sisi manusiawinya. Dia bukan hanya Tuhan tapi juga manusia 100%. Pelayanan yang ditunjukkan adalah pelayanan dari sisi manusia yang diberikan Bapa kepadaNya.  Pelayanan apa yang kita berikan kepada Tuhan? Kita bilang yang terbaik, tetapi kalau dikoreksi kita memberikan pelayanan yang menyedihkan kepada Tuhan. Kita tidak mempersiapkan hati untuk melayani Tuhan. Di mana letak hati kita yang telah diisi Tuhan Yesus untuk melayani Dia? Saat mau dieksekusi, Dia mempersiapkan dengan baik murid-muridNya. Dia tahu persis siapa yang akah menjual Dia, tetapi Dia tetap menunjukkan pelayanan yang terbaik. 3,5 tahun bukan masa pelayanan yang pendek dalam mempersiapkan para murid dalam pelayanan.  Tetapi bagi Tuhan Yesus, tetap tidak cukup untuk memberikan teladan untuk melayani Dia. Tuhan Yesus mempersiapkan dengan begitu baik dan sempurna. Dari awal sampai akhir Dia sudah melakukannya dengan begitu indah, walau di akhirnya Dia tahu akan begitu menyedihkan. Tetapi Dia tidak lari dari pelayanan, agar bisa menjadi penebus bagi banyak orang. Dia mempersiapkan sebaik mungkin agar bisa diingat dan dilakukan oleh murid-muridNya. Melayani Tuhan adalah masalah hati dan panggilan. Banyak orang yang punya hati melayani tetapi belum tentu dipanggil untuk melayani. Banyak yang dipanggil untuk menjadi hamba Tuhan tetapi belum tentu dipilih jadi hamba-hamba Tuhan. Tetapi orang yang sudah terpanggil melayani Tuhan sudah pasti mau melayani Tuhan. Jikalau kita sudah tahu hal itu, kita bisa menjawab pelayanan seperti apa yang kita berikan pada Tuhan. Apa saya memberikan pelayanan selama ini menurut saya yang terbaik? Atau justru yang menurut saya, terbaik tetapi menurut Tuhan paling menyedihkan. Dulu saat pelayanan di gereja lama, setiap minggu 1 dan 4 saya bertugas jadi MC di kebaktian kedua. Saya menangni bidang ibadah dan music dan saya memberi peraturan dalam ibadah, setiap MC yang mau bawa pujian, 3 minggu sebelumnya harus serahkan lagu yang akan dinyanyikan.  Contohnya : saya MC minggu 1 maka minggu ke 2 bulan sebelumnya sudah harus menyerahkan lagu kepada pemusik dan singer. Pemusik yang akan mengatur antara sesama pemusik setiap partitur yang akan dinyanyikan. Itu aturan pertama dan tidak bisa ditawar-tawar. Peraturan kedua, latihan minimal 2 kali.  Minggu depan saya mau MC , setelah kebaktian saya latihan. Kebaktian pk 8 dan pk 10 , saya latihan setelahnya. Seluruh yang memimpin pujian harus latihan minimal 2 kali. Satu kali saat mau latihan pertama kali, singer mengirim sms kepada saya, “GI sorry saya tidak bisa ikut latihan. Saya ikut pas pelayanan saja, lagu-lagunya saya kenal.” Saat dapat sms seperti itu, mungkin kita balas, “Ok. Dipelajari ya lagunya.” Tetapi hari itu saya balas, “Ok, minggu depan tidak ikut pelayanan.” Saya MC dan saya pilih lagu. Saya yang tahu lagu yang saya pilih. Model partitur yang dipilih pemusik sesuai dengan keinginan saya. Alur dan variasi lagu nya saya pun yang tahu. Jadi saya lebih tahu dari singer saya. Harusnya saya tidak usah latihan, pas waktu latihan baru saya maju. Tetapi saya harus konsisten dengan peraturan yang dibuat. Akhirnya latihan tanpa singer dan saat pelayanan juga tanpa singer. Saya ingin menekankan, melayani bukan untuk hamba Tuhan dan majelis yang kasat mata, melainkan melayani kepada Tuhan yang tidak kasat mata. Tetapi saat menerima pelayanan, banyak yang merasa bisa , sehingga tidak perlu latihan dan tidak perlu hati melayani Tuhan. Tetapi lebih menyedihkan di saat pelayanan, kita berkata, “kita memberikan yang terbaik kepada Tuhan!” Sebenarnya, kurang apa persiapan Yesus dalam menyiapkan murid-muridNya sampai waktu Dia ditangkap dan murid-muridNya dinyatakan gagal. Satu menyerahkanNya, satu menyangkal dan yang lainnya meninggalkan Dia. Pelayanan seperti apa yang kita berikan? Inikah memberikan pelayanan terbaik bagi Tuhan? Pelayanan yang dipersiapkan dengan baik,dan penuh kegentaran dalam mempersiapkan pelayanan. Itulah arti dalam melayani. Tuhan Yesus mempersiapkan kembali para muridNya ketika membasuh kaki para muridNya. Tuhan Yesus membasuh kaki para muridNya, bukan berarti kakinya kotor tetapi Tuhan Yesus ingin menunjukkan arti  pelayanan yang sesungguhnya. Mereka dipersiapkan untuk melayani Tuhan. Jikalau kita dipanggil melayani Tuhan, seharusnya pelayanan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh baik sehingga memberikan hasil pelayanan yang berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus membasuh kaki murid-muridNya untuk pelayanan di bumi ini setelah Tuhan Yesus tidak ada lagi di bumi ini.
2.       Kerendahan hati. Ketika berada di dalam rumah, Yesus mengambil baskom atau ember yang berisi air lalu menanggalkan jubahNya. Kata “menanggalkan jubahNya” dipakai juga pada Yoh 10:11 saat Tuhan Yesus mengatakan bahwa  Dialah gembala yang baik dan gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya. Menyerahkan nyawa dan menanggalkan jubah mempunyai makna yang sama. Secara tidak langsung, Yesus mengatakan Dia akan mati dan menyerahkan nyawaNya bagi umat manusia. Ia membasuh kaki murid-muridNya. Di rumah Yahudi ada gentong untuk membersihkan kaki. Bila ada tamu, maka kakinya harus dibasuh , dicuci dulu supaya bersih waktu masuk ke dalam rumah. Yang mencuci kaki tamu itu , bukan tuan rumah tetapi budak yang diperkerjakan dan ia bukan orang Yahudi. Pekerjaan itu hanya dilakukan oleh non Yahudi. Karena pekerjaan mencuci kaki dipandang rendah oleh orang Yahudi. Sehingga sangat mengherankan murid-murid Yesus ketika Yesus melakukan pekerjaan yang dianggap paling rendah tersebut. Suatu keanehan yang luar biasa. Yesus tidak membasuh kaki mereka saat baru masuk , tetapi setelah di dalam rumah. Secara status Yesus lebih tinggi, karena Yesus adalah guru mereka, dan mereka murid-muridNya. Jadi yang seharusnya melakukan pekerjaan tersebut adalah murid-murid bukan sang guru. Tetapi sampai dalam rumah, Yesus tidak mendapatkan yang demikian. Mengapa? Di dalam perjalanan, para murid memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka. Secara tidak langsung, siapa yang menjadi nomor satu di antara mereka? Adanya perdebatan untuk mencari siapa yang menjadi pemimpin di antara mereka. Bagi mereka , pemimpin bukanlah melayani tetapi dilayani. Sehingga sampai di dalam rumah tersebut, Yesus tidak mendapati insiatif di antara para muridNya. Konsep mereka : pemimpin harus dilayani. Tetapi Yesus mengajarkan kalau menjadi seorang pemimpin, Dia harus melayani. Konsep yang terbalik dari murid-muridNya. Dalam persiapan, saya berhalusinasi. Jangan-jangan Yesus ngomong, “Ya, saya mengerti kamu tidak membasuh kaki saya saat masuk karena kalian memperebutkan siapa yang menjadi yang nomor satu di antara kalian. Saya mengerti siapa pun tidak tergerak karena maunya dilayani. Mereka lupa Anak Manusia bukan untuk dilayani tetapi melayani , untuk memberikan nyawaNya bagi banyak orang. Ketika Tuhan Yesus melakukan cuci kaki, maka mereka terkejut. Tapi rasa terkejut, tidak mengurangi keinginan Yesus untuk melakukan apa yang ingin dilakukanNya. Ia menunjukkan bagaimana Yang Maha Mulia berada di tempat itu, tetapi ia memberi keteladanan yang tidak pernah mati. Pelayanan yang diberikan menunjukkan kasihNya kepada manusia. Pembasuhan kaki yang Yesus lakukan memberikan keteladanan yang harus dimiliki oleh semua yaitu kerendahan hati. Satu kata yang susah dilakukan : kerendahan hati! Bagaimana Yang Maha Mulia menunjukkan bentuk pelayanan adalah kerendahan hati? Dengan menanggalkan keegoisan kita sebagai posisi yang utama bagi umat Allah. Yesus ingin meninggalkan warisan yang terus diingat murid-muridNya. Kerendahan hati sangat sulit untuk diterapkan. Tetapi yang sering dimiliki bukan rendah hati tetapi tinggi hati. Lebih sering kesombongan kita yang menjadi landasan dalam melayani Tuhan . Yesus memberi teladan bagaimana kerendahan hati menjadi dasar dalam melayani. Saat saya kuliah S1 saya ingat perkataan dosen waktu kuliah di dalam kelas,”Belajar tafsir PB butuh waktu 2 tahun untuk mempelajari, belajar tafsir PL butuh waktu 3 tahun untuk mempelajari. Belajar dogmatika 2,5 tahun untuk mempelajari. Semua ada batas waktunya. Tetapi belajar pelayanan penuh kerendahan hati tidak pernah ada waktu yang habis untuk dipelajari.” Semua ada limitnya , tetapi mempelajari kerendahan hati , tidak akan pernah habis waktunya. Itu yang harus dipelajari dan harus ditunjukkan sepanjang hidup kita. Inilah yang ingin ditunjukkan Yesus kepada murid-muridNya. Bukan menunjukkan kaki murid yang kotor, tetapi Dia ingin menunjukkan pelayanan dengan rendah hati.
Tema gereja “Sehati sepikir melayani tubuh Kristus”, ini adalah kerinduan gereja, hamba Tuhan, majelis dan jemaat Tuhan di seluruh dunia. Sehati dan sepikir tidak akan tercapai, bila pelayanan tidak didasarkan hati yang terpanggil dan kerendahan hati. Sehati sepikir tidak akan mencapai tujuannya, kalau orang-orang melayani berdasarkan kemampuan diri sendiri atau didasari dengan tinggi hati. Bagaimana Yesus mewarisi keteladanan dengan pelayanan yang penuh kerendahan hati. Ketika kita meninggalkan dunia ini, keteladanan apa yang ingin ditinggalkan bagi orang lain. Apa yang bisa diberikan kepada orang lain , bukan keburukan tapi keteladanan. Berapa hari ini negara Venezuela sedang berduka karena presiden Hugo Chaves meninggal dunia yang mereka kasihi. Mereka ingat presiden mereka sangat memikirkan mereka. Sehingga di kematiannya, banyak yang memberi komentar belum pernah ada presiden seperti dia dan tidak akan pernah ada presiden seperti dia. Saat dimakamkan, seluruh rakyat ingat, dialah seorang pemimpin yang luar biasa bagi mereka. Yesus sebelum masa kematianNya, ia memberi teladan seorang pemimpin bagaimana melayani bukan dilayani. Seorang pemimpin bukan jadi terbesar tapi jadi seorang hamba. Seorang pemimpin melakukan apa yang diucapkan. Itulah warisan yang ingin diberikan Yesus yang dikenang terus oleh banyak orang. Warisan harta tidak bisa dibawa mati, dalam hitungan waktu akan habis dan lenyap. Tetapi warisan ilahi berupa keteladanan yang bisa dibawa sampai mati. Itulah yang bisa dikenang sampai selama-lamanya , turun temurun. Bisa terus diulang-ulang. Itulah yang menjadi penekanan Tuhan Yesus sebelum menjalanai masa-masa penghukuman. “Jika kamu tahu apa yang Aku lakukan. Aku melakukan hal ini maka kamu harus melakukan hal yang sama.” Di masa kematian ia memberi keteladanan yang besar. Biarlah keteladanan itu terus dijalani selama kita berada di dunia ini. Karena keteladanan tidak akan pernah mati.


Tuesday, March 5, 2013

Kasih yang Semula

Pdt Liem Ie Liong

Yoh 21:15-19
15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
16  Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
17  Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
18  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
19  Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."
Wahyu 2:1-7
1  "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2  Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
3  Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
4  Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
5  Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
6  Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.
7  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."

PENDAHULUAN
Zaman ini banyak masyarakat yang sudah kehilangan kasih. Bukan saja di masyarakat, tapi kasih juga hilang di tengah keluarga. Baru- baru ini kita mendengar  berita, seorang ayah tega membunuh anak kandungnya sendiri (13 th), dan seorang ibu membunuh anak kandungnya sendiri (5 th). Bagaimana di dalam gereja, sebagai keluarga Allah? Apakah juga kehilangan kasih dari pemimpin gereja dan jemaat? Pertanyaan ini penting untuk kita renungkan bersama. Para rohaniwan / hamba Tuhan, majelis, aktifis gereja dan jemaat, apakah sudah kehilangan kasih? Ketika saya  bertobat dan percaya serta menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi,  kasih saya begitu luar biasa (memiliki semangat yang berkobar-kobar dan mencintai Tuhan. Misalnya : rajin beribadah dan bersekutu; membaca Alkitab dan berdoa, melayani Tuhan dan membawa jiwa/bersaksi.
Kita akan belajar dan bercermin dari wahyu Allah melalui Rasul Yohanes di Patmos kepada 7 gereja / jemaat  di Asia Kecil. Ciri dari pada Firman Allah kepada 7 Gereja / Jemaat adalah Pujian dan Kritikan. Ada perkecualiaan yaitu Jemaat Laodikia tidak di puji dan jemaat di Smirna tidak di kritik.

I.        Wahyu  Kristus untuk Jemaat Efesus.
Efesus merupakan Kota terbesar di propinsi Asia kecil pada waktu itu. Kota ini adalah satu-satunya diantara ke 7 kota lain yang muncul berkali-kali dalam kitab-kitab Perjanjian Baru. Kota ini memperoleh perhatian cukup luas di dalam Kisah Para Rasul (18:18-19:41); kepada jemaat di kota ini , Rasul Paulus menuliskan salah satu suratnya; dan kepada jemaat ini juga Tuhan yang telah naik ke Sorga mengirimkan sebuah surat. Setelah memuji Jemaat atas ketekunan mereka bekerja, rela mendertita dalam kesabaran, dan penolakan mereka atas para rasul palsu, Tuhan menunjukkan satu kekurangan yang menyedihkan yaitu Jemaat Efesus telah kehilangan kasih yang semula.
Kalau kita perhatikan :
1.       Pujian Apa kepada jemaat Efesus ?  Soal pekerjaan: rela berjerih lelah dan ketekunan/setia. Sabar dan rela menderita karena Nama Yesus(mengikut  Yesus). Ayat 6. siapa Penggikut Nikolaus? Pengikut Nikolaus adalah  sekelompok orang yang merusak anak-anak Tuhan dengan membujuk mereka untuk melakukan kompromi tehadap budaya pada masa itu. Daripada hanya menyembah Allah saja,  mereka mengatakan bahwa adalah tepat untuk melibatkan diri dalam upacara kebangsaan (misalnya pesta yang berkaitan dengan pemujaan Kaisar) dan lembaga budaya lainnya (misalnya serikat sekerja perdagangan yang mirip dengan serikat sekerja atau perkumpulan professional modern, beserta pemujaannya). Mungkin saja sebagai bagian dari upacara tsb atau sebagai tindakan kompromi secara terpisah, mereka juga mengijinkan penggunaan pelacur (barangkali sebagai bagian yang diterima dari “etika bisnis” pada zaman mereka).

2.       Apa celaan/kritikan kepada jemaat Efesus? Engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula ( YOUR  FIRST   LOVE). Celaan/kritikan ini ditujukan bukan saja kepada jemaat Efesus tetapi juga kepada para pemimpin gereja / jemaat Efesus. Gambaran kasih yang semula dari gereja / jemaat mula: beribadah di Bait Allah setiap hari, bertekun dalam bersekutu dan berdoa; bertekun dalam pengajaran para rasul (diisi dengan Firman Allah). Hidup dalam kemurnian, kesederhanaan dan kasih kepada Tuhan Yesus dan sesama (selalu mendukung jemaat yang berkekurangan. Dan selalu dalam pengutusan untuk memberitakan Injil (bersaksi). Kasih yang semula seperti kasih dalam pernikahan yang baru sebagai suami isteri yang saling mengasihi. Kasih Gereja terhadap Tuhannya dilambangkan sebagai kasih seorang suami kepada isterinya (Efesus 5:32-33).Lalu apa kasih Gereja/Jemaat kepada Kristus? Kasih semula merupakan tindakan meninggalkan segala sesuatu didasarkan kasih yang sudah meninggalkan segala sesuatu. Tuhan menuntut kasih kita kepada Tuhan seperti Tuhan sudah mengasihi kita.
Contoh: Simon Petrus. (Yoh. 21:15-19). Tuhan Yesus menampakkan diri setelah  bangkit dari kematian, dan menanyakan kepada Petrus sampai 3 kali : Apakah engkau mengasihiKu? Lalu jawab Tuhan Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-dombaKu.” Tuhan Yesus meminta Simon Petrus mengasihi Tuhan Yesus dengan kasih agape, bukan kasih filia/kasih persahabatan. Lalu Tuhan Yesus berkata kembali kepada Petrus, “Ikutlah Aku!”. Mengingatkan kepada Petrus  untuk menyangkal diri dan memikul salib dalam mengikut Yesus.

Ada 4 hal yang membuat Orang Kristen kehilangan kasih mula-mula.
1.     Sudah nyaman. Kehidupan saya berjalan baik dan aman. Tidak ada banyak masalah. Inilah orang Kristen yang berada dalam zona nyaman. Saya dapat melakukannya sendiri tanpa Tuhan. Itulah sebabnya, tidak perlu ibadah. Karena ia tidak perlu Tuhan.
2.     Cinta akan dunia ini. Firman Tuhan mengatakan, jangan mencintai uang. Cinta akan dunia ini artinya bagaimana dunia akan menarik kenikmatan dunia. Sehingga kasih kita semula semakin lama semakin menurun. Karena saya menikmati dunia ini.
3.     Sudah jenuh. Tiap hari saya membaca Alkitab. Berdoa. Dalam kehidupan berjalan seperti biasa. Bangun tidur , sebelum makan berdoa. Sesuatu yang rutinitas membuat jenuh. Kita akan jenuh kalau melakukannya terus. Tetapi waktu membaca, merenungkan firman Tuhan berdoa. Walau tiap hari secara rutinitas, mau mengubahnya menjadi anugerah. Saya akan disiplin melakukannya. Tetapi saya menganggapnya anugerah Tuhan yang memperbarui kehdupan kita. Sehingga kita tidak menjadi jenuh walau setiap hari, berdoa dan membaca Alkitab.
4.     Luka di hati. Ada kepahitan dalam hidupnya, tidak bisa hilang dan sulit mengampuni. Sehingga ada rasa benci yang terus menerus dan kasih kita menjadi hilang. Ada ibu berusia sekitar 60 tahun, cukup aktif datang ke gereja melayani Tuhan dalam paduan suara, tetapi belum mau dibaptis karena masih benci dengan suaminya. Karena suaminya meninggalkan dia dan anak-anaknya. Saat tua, lalu datang ke rumahnya. Kalau suaminya datang, dia pergi karena benci melihat suaminya. Kalau orang Kristen terus mempunyai luka hati , maka ia akan kehilangan kasih yang mula-mula .

II.      Panggilan Gereja  untuk mengasihi  Kristus.
Kritikan Kristus kepada Gereja Efesus bahwa mereka telah meninggalkan kasih yang semula (your first love).  Tuhan Yesus  yang sudah ada di Sorga, melalui Rasul Yohanes menyampaikan FirmanNya  dan mengatakan kepada jemaat Efesus bahwa mereka sudah meninggalkan kasih yang semula. Pangggilan ini harus di tanggapi  atau direspon oleh jemaat Efesus. Lihat ayat 5.  Ingatlah…, bertobatlah…, lakukanlah… yang  semula kamu lakukan. Ancaman Tuhan kepada Gereja Efesus, jika engkau tidak bertobat, Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya. Apa artinya? Tuhan Yesus memanggil kita untuk mengasihi Tuhan, namun benarkah saat ini saya masih mengasihi Tuhan? Tuhan berbicara kepada Jemaat di Efesus bahwa “engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.”  Kalau Tuhan juga berbicara kepada setiap kita. Kiranya kita mau bertobat  dan melakukan kembali seperti kasih yang mula-mula kita telah melakukannya. (setia dan semangat dalam beribadah, memiliki semangat dalam membaca Alkitab dan berdoa; dan  dalam melayani serta bersaksi, semua itu didasarkan dengan  mengasihi Tuhan Yesus. Kalau kita sudah meninggalkan kasih yang semula, Firman Tuhan memanggil kita untuk : Bertobat.



Sunday, February 24, 2013

Bersaksi dengan Kasih

Ev. Suwandi
Mat 22:37-39; 28:19, Kis 1:8
37  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Mat 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
Kis 1:8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Dalam Puji-Pujian Kristen nomor 199 ada sebuah lagu berjudul Apa yang Kau Perbuat bagi Yesus yang liriknya mengatakan:  Apa yang kau buat bagiNya? Tiap hari semangatkah? Bersandarkah kau padaNya? Saksikan kasihNya! Apa kau perbuat bagi Tuhanmu? Apa kau peroleh kerja bagiHu?, Setiap harinya apa kerjamu? Apa kau perbuat bagi Tuhanmu?. Lagu ini ingin menolong diri kita untuk mengevaluasi diri kita sendiri, apa yang telah kita lakukan bagi Tuhan. Kita begitu lama mengenal dan percaya pada Tuhan, menjadi anak Tuhan? Apa yang telah kita lakukan bagiNya? Apa kita pernah menjadi saksi bagi Tuhan? Setelah percaya, bukan berarti selesai, duduk beribadah di gereja, menunggu dan naik ke sorga. Setelah kenal Tuhan, banyak hal yang harus kita lakukan untuk Tuhan. Salah satunya adalah bersaksi bagi Tuhan. Bersaksi adalah panggilan utama anak-anak Tuhan (orang Kristen) yang berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Dia mengulangi 2 kali perintah untuk menjadi saksi bagiNya.
Pada Mat 28:19, Tuhan Yesus mengatakan, “Pergilah , jadikan semua bangsa muridKu.” Dan setiap orang yang mau menjadi murid Tuhan Yesus, pertama-tama harus bertobat, diselamatkan, percaya kepada Tuhan Yesus. Untuk itu mereka harus mendengar tentang Yesus, Injil. Sehingga kita perlu memberitakan, bagaimana mengenal Kristus dan kita harus menjadi saksi bagiNya. Sedangkan pada Kis 1:8 Tuhan Yesus mengatakan,” Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Bersaksi adalah perintah yang berasal dari Tuhan Yesus. Menjadi saksi bagi Tuhan Yesus adalah hak istimewa sebagai anak-anak Tuhan (orang-orang percaya). Sebagai orang Kristen, kita harus menjadi saksi bagi Tuhan. Banyak orang Kristen tahu hal ini, tetapi dalam kehidupannya tidak mau melakukannya. Banyak alasan dikemukan untuk tidak menjadi saksi bagi Kristus. Misal : bersaksi itu sama dengan berkhotbah sehingga harus belajar firman Tuhan sepenuhnya sedangkan yang benar-benar mengenal firman Tuhan adalah orang-orang yang masuk sekolah teologia dan dididik di  seminari. Sehingga “bersaksi” dibebankan ke hamba Tuhan yang sudah belajar teologia di seminari. Ini pengertian yang salah. Bersaksi bukanlah berkhotbah. Bersaksi artinya menceritakan kepada orang lain, pengetahuan tentang Kristus, bagaimana Dia lahir, mati, bangkit untuk kita. Menceritakan bagaimana kita bersama dengan Kristus. Bukan setelah menjadi orang yang hebat, yang mengerti Alkitab baru bersaksi, tetapi kita menceritakan kesaksian pengalaman bersama Kristus. Kesaksian bisa melalui perbuatan. Ada juga yang berasalasan : saya tidak punya bakat untuk memenangkan jiwa. Padahal bersaksi menceritakan pengetahuan tentang Tuhan Yesus dan pengalaman bersama Dia. Memenangkan jiwa bukan pekerjaan atau usaha kita tetapi gerakan Roh Kudus. Orang bisa bertobat melalui kesaksian kita, tetapi itu bukan kehebatan kita tetapi kuasa dari Roh Kudus. Tugas kita adalah bersaksi, tidak ada alasan tidak bersaksi karena tidak punya talenta. Tugas kita menceritakan pengenalan dan pengalaman kita besama Kristus. Sebagai orang Kristen menjadi saksi dan menyampaikan kebenaran firman Tuhan, bukanlah tugas tawar-menawar, Alkitab mengatakan, orang Kristen harus menjadi saksi. Ini tugas yang begitu mulia. Kesaksian bukan menjadi beban tetapi menjadi gaya hidup, anak-anak Tuhan. Setelah begitu lama perccaya, kerohanian kita makin bertumbuh, bagaimana Roh Kudus mengubah kita semakin hari semakin serupa Tuhan Yesus. Saat mengalami hal demikian maka kita harus menyaksikan pada orang lain.

Yoh 1:3 Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga,
Apa yang telah kita lihat, alami, raba, kita saksikan kepada orang lain. Kita menceritakan pengalaman kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus. Banyak orang yang takut bersaksi karena takut ditolak atau tidak dipercaya oleh orang lain. Pada waktu TUhan Yesus datang ke dalam dunia, Dia bersaksi. Saat Ia bersaksi, banyak orang percaya kepadaNya. Tugas kita sama, sebagai anak Tuhan, kita juga harus bersaksi, apa yang diperbuat, diajarkan oleh TUhan Yesus. Mungkin ada orang yang menolak atau percaya. Itu keputusan orang yang kita berikan kesaksian. Yang dituntut : bersaksi bagiku. Oleh karena itu kita tidak usah kecewa saat ditolak. Tugas kita hanya bersaksi. Bukan karena kehebatan tetapi karena kuasa Roh Kudus orang menjadi percaya. Roh Kudus mengingatkan orang berdosa. Sehingga waktu bersaksi bagi Tuhan, kita tidak usah berkecil hati. Tujuan kita bersaksi : supaya orang percaya pada Kristus, berubah gaya hidupnya dari berdosa menjadi percaya.

Yoh 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Kis 4:12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."
Banyak orang mengatakan , agama di dunia ini sama. Memang ada persamaan, pengajarannya sama untuk berbuat baik, tidak ada agama yang mengajarkan berbuat dosa.  Misal : berbakti kepada orang tua. Tidak ada agama mengajarkan jadi anak durhaka atau tidak peduli orang tua. Tetapi tentang keselamatan, tidak semua agama sama.  Keselamatan hanya ada dalam Tuhan Yesus. Kita yang sudah diselamatkan , kita tahu orang yang belum percaya akan binasa, maka kita seharusnya bertanggung jawab untuk memberitakan Kristus. Contoh : kalau ada seseorang menderita kanker, lalu ke sana sini mencari dokter yang pandai untuk menyembuhkan. Suatu kali dikenalkan dengan seorang dokter dan disembuhkan. Setelah itu apakah kita diam saja? Tentu, kita akan menceritakan tentang dokter itu. Sebagai orang Kristen seharusnya kita juga melakukan hal yang sama. Sebagai orang yang menerima keselamatan, sadar betapa pentingnya keselamatan, orang yang tidak percaya akan binasa. Maka kita membagikan berita Injil kepada orang lain.

Pada kitab Lukas ada pria yang dirasuki setan, ia menjadi “galak”. Saat dirantai, rantainya diputus. Suatu hari Tuhan Yesus bertemu Dia dan mengusir setan dalam dirinya. Ia penuh ucapan syukur dan mengatakan , ia akan pergi mengikuti Yesus kemanapun ia pergi. Namun Tuhan Yesus  memintanya pulang ke rumahnya menjadi saksi bagiNya. Apakah kita sudah menjadi saksi bagi Tuhan? Dalam konteks sekarang, kita menjadi saksi di rumah, di masyarakat dan sampai ujung bumi. Tapi banyak orang Kristen merasa masih punya banyak waktu dan tidak mempunya kerinduan untuk bersaksi.

Jangan Menunda
Ada 2 pria yang sudah berkenalan sejak kecil. Mereka berteman sampai dewasa. Satu di antaranya kemudian percaya kepada Yesus dan ingin bersaksi kepada temannya. Tapi setiap kali bertemu, ia merasa malu. Sehingga ia menunda terus. Sampai suatu kali temannya mau berlayar ke luar negeri dan lama baru akan pulang. Kemudian ia mengambil tekad , “Saya harus memberitakan Injil pada waktu mau berangkat”. Waktu temannya mau berangkat ia mengantarkannya ke kapal dengan mobil. Di mobil ia bertekad untuk memberitakan Injil. Tetapi waktu mobil melaju, ia tidak bisa mengatakannya. Kemudian sampai di kapal, ia mengambil tekad lagi, saat akan mengantar ke kamar, ia mau bersaksi. Tetapi porter datang, barang temannya dibawa ke kamar. Lalu ia berkata dalam hatinya, “Saya akan mencari tempat yang sepi untuk bersaksi.” Namun ada suara pengumuman mengatakan kapal akan berangkat, pengantar dipersilahkan turun. Ia katakan, saat bertemu lain waktu ia akan bersaksi. Setelah temannya berangkat, 2 bulan kemudian temannya meninggal dunia. Ia merasa menyesal sekali. Kenapa dia tidak memberitakan Injil kepada Yesus. Seringkali penyesalan datang telat. Ia sudah tidak bisa melakukan apa-apa.
Dalam hidup kita menyesal. Namun penyesalan sudah terlambat, tidak bisa diperbaiki. Sehingga dalam hidup, waktu mau menjadi saksi jangan menunda. Karena kesempatan belum tentu ada. Mungkin kita tidak bisa lagi memberitakan Injil.

Menginjili dengan Kasih
Mat 22:37-39. Kita harus mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi dan mengatakan kita harus mengasihi sesama manusia seperti diri kita. Kita bersaksi karena kita mengasihiNya. Kita mengasihi Tuhan berarti harus taat pada perintahNya. Tetapi kita bukan hanya mengasihiNya tetapi juga mengasihi sesama manusia. Seringkali banyak orang yang tidak mau memberitakan Injil karena hatinya tidak mempunyai kasih atau banyak orang tidak mau percaya, karena kita tidak mengasihi Allah.  Kita tidak ada hati untuk mengasihiNya.
Dr. Fran Lobak (?) menceritakan suatu kali ia ingin mengabarkan injil ke suku Moro di Filipina. Saat itu Moro tidak bisa menerima orang asing dari luar. Mereka memusuhi orang asing yang masuk ke desa mereka. Fran yakin orang suku Moro akan menerima Injil. Tetapi waktu ia pergi untuk memberitakan Injil tidak ada satu pun yang bertobat. Sehingga ia merasa putus asa. Ia merasa sudah gagal. Ia kemudian siap-siap untuk meninggalkan suku Moro. Suatu hari ia naik mendaki suatu tempat. Waktu naik ke atas, ia melihat suatu desa dari suku Moro. Lalu ia berdoa dan bertanya kepada Tuhan, mengapa ia sudah  mengabarkan Injil namun tidak ada orang yang mau bertobat. Bagaimana mengabarkan Injil supaya suku Moro bisa percaya kepada Tuhan Yesus? Tiba-tiba ia mendengar suara Tuhan mengatakan, “Mengapa orang-orang Moro tidak mau  percaya, karena engkau tidak benar-benar mengasihi mereka. Engkau merasa orang kulit putih yang pintar dan melihat orang Moro sebagai orang bodoh. Engkau merasa lebih tinggi dari mereka. Lalu ia meneteskan air mata dan minta Tuhan agar mengajar dia mengasihi suku Moro. Lalu ia bukan saja bersaksi, namun ia juga bergaul dengan mereka dan mengasihi mereka. Tidak lama kemudian, ada orang Moro yang percaya kepada Tuhan.

Tanpa kasih, Tidak Berarti
Kasih itu penting sekali, karena kalau kita tidak sungguh-sungguh mempunya hati yang mengasihi maka sulit menginjili. Kita tahu apa itu kasih, khususnya kasih agape. Mengasihi orang yang belum kita kenal. Tetapi kasih kita seringkali mempunyai syarat. Saya mengasihi dia karena dia melakukan sesuatu untuk saya. Tetapi Tuhan ingin kita mengasihi semua orang termasuk musuh. Apakah kita mengasihi orang lain? Kalau kita tidak mempunyai hati yang mengasihi, apa yang dilakukan sia-sia. Sekalipun kita bisa berbahasa malaikat, tetapi kalau tidak mempunyai kasih tidak ada artinya (gunanya). Apakah kita mengasihi orang lain? Yang paling gampang, apakah kita pernah berdoa untuk orang lain? Apakah kita pernah berdoa untuk orang yang kesulitan? Kalau untuk orang yang dikenal, kita sulit mengasihi apalagi yang belum mengenal. Tanpa kasih, semuanya tidak berarti. Minggu lalu, kita sudah mendengar firman Tuhan tentang kasih yang semula. Jemaat Efesus adalah jemaat yang rajin dan baik. Tetapi dalam pandangan TUhan mereka harus bertobat karena mereka sudah kehilangan kasih yang semula. Kita diminta untuk menjadi saksi. Tetapi tanpa kasih, orang tidak akan percaya. Waktu pelayanan di Cirebon, ada seorang ibu yang tidak banyak bicara tetapi membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan. Karena dalam dirinya ia punya kasih. Mari kita kembali kepada Tuhan, menjadi saksi dengan hati yang mengasihi orang lain.