Sunday, May 14, 2017

Khotbah yang “Enak” di Telinga (Melawan Spirit Zaman Akhir)


Pdt. Gunar Sahari

2 Timotius 4:1-8
1   Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:
2   Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.
3   Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.
4   Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.
5   Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!
6   Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.
7   Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
8   Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.

Pendahuluan

                Tema hari ini cukup menarik yaitu khotbah  yang enak di dengar telinga. Telinga kita paling suka mendengar yang enak-enak. Kita tidak suka mendengar yang kurang enak. Kita senang mendengar yang lembut, dan bagi kita yang terbiasa mendengar lagu klasik menjadi tidak suka kalau mendengar lagu cadas (rock). Yang fundamental, kita semua punya telinga. Kita tidak perlu menyesuaikan telinga kita untuk mendengar sesuatu karena sudah berjalan secara otomatis, kita tidak tidak menyaring suara apa pun (baik yang yang baik atau tidak). Gereja sekarang juga mengikuti semangat untuk mencari yang enak. Anggota jemaat bukan saja ingin mendengar yang enak tapi juga suasana yang enak (nyaman). Ada seorang ketua sinode yang mensurvei dan menguji dahulu sebelum memutuskan membeli kursi yang akan dibeli. Dia mencoba 3-4 kursi yang berbeda dan akhirnya didapat kursi yang baik dari sisi kemiringan dan kenyamanannya. Diharapkan orang yang datang merasa enak.

A.    Beritakanlah Firman Tuhan (ayat 2)
Memang bukan saja spirit zaman , orang-orang di luar sana yang suka mendengar yang enak-enak saja, tetapi orang Kristen juga begitu. Sehingga Rasul Paulus memberi pesan kepada Timotius untuk memberitakan (khotbahkanlah) firman Allah. 2 Tim 4: 2 : Beritakanlah firman dan diulang lagi pada ayat 5 : lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! Bahkan didahului pada 2 Tim 4:1 Lakukanlah pekerjaan pemberitaan Injil untuk memberitakan janji (firman Allah) tentang hidup dalam Kristus Yesus.

2 Tim berkaitan dengan pemberitaan firman Tuhan (khotbah). Saya membaca artikel bahwa ciri orang Yahudi adalah suka mendengar (listening), orang Romawi suka melakukan (doing) sedangkan orang Yunani suka melihat (seeing).  Ciri orang Yahudi adalah suka mendengar. Sehingga dalam doanya mereka berkata,”Tuhan berbicaralah, hambaMu siap mendengar.” Ada banyak ayat yang berkata demikian. Allah pun membalas,”Hai Abraham (Yakub, bangsa Yahudi) dengarkanlah!” Dan semua orang Yahudi mengatakan,”Tuhan berbicaralah, hambaMu siap untuk mendengar.” Jadi sedih kalau kita hanya mau mendengar khotbah yang enak-enak saja. Harusnya setiap pagi kita berkata ,”Tuhan berbicaralah, hambaMu siap mendengar”. Juga pada siang hari dan malam hari. Sedangkan orang Romawi suka bekerja. Orang Romawi sangat hebat. Kaisar Romawi mendorong rakyatnya untuk terus bekerja. Bangsa yang sanggup melintasi batas negara dan benua adalah kekaisaran Romawi. Bangsa Indonesia membangun jalan lintas desa masih belum bertemu. Tahun depan bersyukur ada jalan sepanjang 3.000 km di Papua yang akan terhubung. Di Kalimatan jalan propinsi bergelombang. Tamu saya dari Australia pusing karena jalannya jelek sehingga ia mabuk dan merasa mau mati. Jadi ia tidak sanggup sehingga harus berhenti dahulu untuk memulihkan kondisinya.
Orang Yunani selalu melihat. Sehingga disainer dan arsiteknya hebatnya luar biasa. Orang Yunani punya kemampuan melihat, seni itu seperti apa. Orang Indonesia kurang bisa melihat, mana bangunan yang bagus dan tidak. Kemarin saya dan istri berjalan ke Grand Indonesia bagus sekali. Kalau semua bangunan di Indonesia seperti itu luar biasa. Sedangkan bangunan di kampung bisa miring (tahu-tahu sudah miring). Orang Yahudi punya kebiasaan mendengar dan Rasul Paulus mendorong Timotius untuk memberitakan. Ini cocok dengan audience.

Pesan dari Rasul Paulus yang terakhir (ayat 6).
Kalau ada yang meninggal , biasanya ada tamu yang bertanya saat berkunjung, “Sebelum meninggal opa / oma (orang yang meninggal) menyampaikan pesan apa?” Kita tidak bertanya,”Selama 17 tahun opa bicara apa ya?” tetapi “Kemarin ia pesan apa?”. Karena pesan terakhir harusnya menjadi perhatian kita yang utama. Rasul Pualus mengatakan, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat” (ayat 6). Ini adalah pesan terakhir dari Paulus ke Timotius. Sebentar lagi aku mati maka  ia memesan Timotius untuk memberitakan firman. Itu akan menjadi perhatian Timotius yang mendengarnya. Sebelum itu, Rasul Paulus berkata “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya (ayat 1). Pesan untuk memberitakan injil tidak an sich dari Rasul  Paulus tapi itu pesan dari Allah (Yesus Kristus). Pesan  memberitakan injil itu pesan dari Allah sendiri. Bukan pesan dari saya yang sedang berkhotbah. Sehingga kita menangkap pesan ini : Tuhan memberi pesan (perintah) kepada saya. Bukan pendeta atau majelis yang memberi pesan. Maka beritakanlah firman, menjadi pesan Tuhan Yesus yang terakhir. Setiap Injil selalu diakhiri dengan perintah untuk memberitakan Injil.
-        Matius 28:18 . Pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu. Pergilah dan beritakanlah Injil.
-        Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. (Markus 16:15) 
-        Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa (Injil) harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem (Lukas 24: 47)
-        Sama seperti Bapa mengutus Aku (untuk memberitakan Injil), demikian juga sekarang Aku mengutus kamu (Yohanes 20:21).
Bahkan sebelum Yesus naik ke surga ia sampaikan perintah yang agung : “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Rasul 1:8). Beritakanlah Injil sampai ke Mangga Besar (karena pada zaman dulu Mangga Besar merupakan ujung bumi bagi orang-orang yang ada di Yerusalem).
Kesimpulan   : pemberitaan Firman adalah Pelayanan yang sangat penting. Hal ini bukan berarti menyanyi dan berdoa tidak penting, tapi saya ingin menekankan pemberitaan firman adalah pelayanan yang sangat penting. Gereja yang sudah berhenti memberitakan Injil berarti sudah berhenti menjadi gereja.
Kita bayangkan kalau Rasul Paulus berhenti memberitakan Injil, maka kita semua binasa, tidak ada satu pun dari kita yang selamat. Rasul  Paulus dengan tanpa gangguan dan hambatan  terus memberitakan Injil setiap hari. Kalau Kitab Kisah Para Rasul  diakhiri dengan pernyataan,”Berhentikah mereka memberitakan Injil dan tidak pernah menyampaikan Injil” maka kia akan binasa. Lingkungan dan orang-orang di sekitar kita pasti binasa kalau tidak ada yang memberitakan Injil.  Mari jadikan kalimat ini menjadi evaluasi bagi kita. Secara personal dikatakan, “Orang Kristen yang berhenti beritakan Injil berhenti jadi orang Kristen karena itu tugas kita”.

B. Kondisi manusia seperi apakah yang dilayani oleh Timotius saat itu?
Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. (2 Tim 4:3-4). Orang tidak mau menerima ajaran sehat. Inilah kondisi jemaat saat itu. Saya yakin ini kondisi jemaat  pada umumnya saat ini (tidak dapat menerima ajaran yang sehat dan benar). Istri saya berkata, “Ada gereja yang berkhotbah tentang berkat terus sekalipun jemaatnya tetap miskin, atau berkhotbah mujizat terus walau jemaatnya banyak yang sakit. Tidak ada mujizat, tetapi terus berkata tentang mujizat. Jemaatnya selalu berkata, “Amin” Pengkhotbah berkata,”Tuhan memberkati anda” Dijawab “Amin”. Atau pengkhotbah berkata,”Kita menjadi kepala bukan ekor” dijawab jemaatnya,”Amin”. Dikhotbahkan “Kita akan menjadi kaya” dijawab “Amin”. Ada pengkhotbah datang, dalam waktu 30 menit ‘amin’-nya 130 kali. Setelah mahasiswa tersebut pulang, ditanya ,”Apa khotbahnya?” Dijawab,”Amin”. Tetapi kita tidak suka jemaat yang berdosa bertobatlah. Sakit rasanya telinga. Maka kita setuju dalam liturgi ada pengakuan dosa,selain pujian dan ucapan syukur karena kita memang orang berdosa. Ada orang berkata, “Orang yang terus makan enak lebih mudah sakit, dibanding orang yang makan pahit terus. Kalau pergi, saya dan anak suka sio-may. Tetapi saya pilih pare walau agak pahit karena lebih sehat. Ayat 4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

Bila diringkas, ada 4 kondisi jemaat pada saat itu.
1.     Tidak bisa menerima ajaran sehat. Tetapi orang sekarang kalau dikasih ajaran sesat malah senang. Nov 2016 kami pergi ke STT Shalom dan saat melewati STT Saksi Yehovah. Ternyata mahasiswa STT Saksi Yehovah lebih banyak karena diberi makan yang enak, selalu dikasih ajaran yang enak dan nyaman. Sedangkan di STT Shalom ada paper dan teologi yang sulit.
2.     Kesukaannya memuaskan keinginan telinganya. Ada orang yang suka mengorek telinga, nyaman sekali. Sekarang dinasehatkan agar tidak boleh pakai cotton bud karena bisa merusak telinga. Padahal rasanya enak. Di kampung pakai bulu ayam untuk mengorek telinga, enak sekali. Manusia suka begitu, rasanya enak dan memuaskan keinginan telinga.
3.     Memalingkan telinganya dari kebenaran
4.     Membuka telinganya untuk mendengar dongeng. Anak saya suka mendengar cerita. Saya ceritakan tentang kancil menipu petani, anjing dll. Ia hebat sekali. Itu bohong semua. Ia bisa atur strategi dan bisa bercerita ke anjing. Waktu kancil ditangkap , anjing lewat dan berkata,”Kamu ditangkap dan mau disembelih”. Kancil menjawab,”Itu salah. Saya mau dinikahkan dengan anaknya.” Jadi anjing pun menggantikan kancil. Anak saya senang mendengar seperti itu. Kita suka sekali mendengar seperti itu. Kita juga suka mendengar hoax yang tidak ada kebenarannya. Ini 2000 tahun lalu sudah terjadi (bukan zaman sekarang saja). Kita tinggal mengulang-ulang saja.
Kondisi keempatnya terjadi pada kita saat ini. Tuhan Yesus juga menghadapi manusia yang sama yaitu pendengar yang tidak suka mendengar yang benar. Bukan saja zaman Paulus dan Timotius tetapi sebelumnya di zaman Tuhan Yesus juga begitu. Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”  (Yohanes 6:60) Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia (Yohanes 6:66). Bila khotbah disampaikan dengan benar dan sehat mungkin akan menyakitkan telinga, dan bisa jadi ada yang jemaat yang keluar (pindah gereja). Lebih baik gereja tidak banyak dipenuhi orang yang seperti ini (mendengar dongeng). Lebih baik orang-orangnya lebih suka mendengar ajaran yang sehat. Karena memang itu yang seharusnya terjadi.

Nasehat Rasul Paulus dalam menghadapi jemaat yang tidak suka mendengar ajaran yang benar.
2 Tim 4:5   Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! Kalau ada Pdt. Hery Kwok akan saya katakan,”Sabarlah ya Pak Hery, sabar Kuatkanlah”. Memang seperti inilah kondisi manusia bukan saja dahulu.” Tetapi saat ini banyak yang tidak suka mendenga yang tidak enak. Pdt Stephen Tong membuat pernyataan, “Siapapun tidak boleh jadi pengurus gereja sebelum mengikuti pelajaran teologia sekian SKS.” Sedang di gereja seberang ada orang yang langsung ditahbiskan jadi pendeta tanpa belajar karena ia seorang pengusaha yang berhasil. Semangatnya lain sekali. Ini mengingatkan kita agar menguasai diri dan sabar dalam melakukan pemberitaan Injil.
Rasul Paulus menasehati Timotius untuk memberitakan firman setiap waktu. Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya (2 Tim 4:2). Beritakanlah firman Tuhan baik mereka mendengar atau tidak mendengar, baik menerima atau menolak. Sampaikan saja, karena itu tugas kita. Biar saja bila orang yang mendengarnya kabur , paling tidak ia pernah mendengar hal itu. Paling tidak terngiang-ngiang di telinga bahwa hanya Kristus lah satu-satunya Juruselamat.

Ilustrasi Patung Babi.
Ada seorang raja besar di daratan Tiongkok yang suka menjajah raja kecil untuk digabungkan dengan kerajaannya. Sebelum perang, ia membuat teka-teki. Dikirimlah 3 patung babi ke negara kecil dengan permintaan, “Tolong tunjukkan kepada kami apa beda patung ke-1, 2 dan 3. Kalau kamu bisa memberi jawaban yang benar, maka kami tidak jadi menjajah kalian. Kalau tidak bisa ,kita akan berperang dan kami akan mengalahkan kalian.” Bermacam cara dilakukan untuk menemukan perbedaan. Ada yang menimbang beratnya ternyata sama. Berarti salah, bukan itu perbedaannya. Lalu diukurlah panjang patungnya, ternyata semuanya 30 cm. Ada yang mengira,”Jangan-jangan tingginya mungkin selisih 1 cm”. Setelah diukur ternyata semuanya 25 cm. Ketiga patung diputar untuk mencari perbedaan warna, namun ternyata warnanya juga sama. Akhirnya raja takut, karena sebentar lagi akan dikalahkan. Lalu putra mahkota mendekat ke papanya,”Apa  yang sedang papa lakukan?” Papanya menjawab, “Saya mencari perbedaan di antara ketiga patung ini.” Anaknya mulai melihat dan ternyata tidak ada perbedaan. Kemudian ia menemukan bahwa di antara ketiganya ada 1 patung yang punya lubang di telinga, ada juga patung yang telinganya tertutup dan 1 patung lagi ada lubang juga. Lalu ia mulai mengambil rambut. Ternyata patung kedua setelah dimasukkan rambut lewat telinganya bablas dari kanan ke kiri, tetapi patung ketiga bisa dimasukkan rambut tapi tidak tembus ke sisi lainnya melainkan masuk ke dalam” Maka dia membuat satu kesimpulan,”Tuanku raja, patung pertama tidak ada (tertutup) telinganya.Patung kedua ada telinga yang tembus dari kanan ke kiri. Patung ketiga, dari kanan masuk ke dalam.” Artinya ada 3 macam pendengar. 1 orang punya telinga tetapi tertutup sehingga tidak ada yang masuk. Dikhotbahkan apapun tidak bisa dengar (tuli). Orang kedua, mendengar tapi bablas karena lewat terus. Yang ketiga, mendengar kemudian masuk ke hati.” Apakah kita seperti patung yang pertama , kedua atau ketiga?

Rasul Paulus siap memberitakan Injil sekali pun harus menghadapi penderitaan. “Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.”
(2 Timotius 2:9)  
Artinya baik atau tidak baik aku terus memberitakan Injil. Baik orang itu menerima atau menolak, tetap aku memberitakan Injil. Itu yang disampaikan Rasul Paulus ke Timotius.

Ilustrasi : kisah wanita yang memberitakan Injil sampai masa tuanya.
Ada seorang wanita yang sejak muda terus memberitakan Injil. Ternyata perbuatannya bukan hanya mendapat pujian tetapi ada orang (majelis dan jemaat muda) yang mulai mengkritiknya. “Bu, sudah tua begitu janganlah sok memberitakan injil. Nanti saat menyeberang sana-sini  ditabrak mobil bagaimana? Yang susah nanti juga gereja” tetapi dia tetap memberitakan Injil. Lama kelamaan sang ibu matanya mulai kabur, tetapi tetap ia memberitakan Injil. Kemudian diingatkan lagi,”Bu sudah tua begini apalagi mata sudah tidak jelas, nanti ditabrak mobil. Lebih baik Ibu di rumah saja. Tidak usah memberitakan Injil ” Tetapi ia tetap memberitakan Injil. Suatu kali saat pulang dari gereja ia berjalan dan melewati depan toko yang menjajakan pakaian yang diperagakan patung. Karena ia mengira patung itu manusia maka ia menginjilinya,”Percayalah kepada Yesus dan engkau akan selamat.” Patung itu  diam saja. Ibu ini berpikiran positif, kalau diam berarti terima. Waktu orang muda yang suka mengkritik lewat dan melihat apa yang dilakukan sang Ibu. Setelah itu ia menepuk punggung sang Ibu dan memberitahu bahwa yang ia injili adalah patung. Sang Ibu kaget karena baru mengetahui bahwa selama ini yang ia injili adalah patung. Tetapi ia tidak sedih, dan kemudian berkata, “Bagiku lebih baik menjadi orang Kristen yang memberitakan Injil kepada patung daripada menjadi orang Kristen yang sama dengan patung yang tidak memberitakan Injil.”

Semua orang yang mendengar firman Allah akan mengalami perubahan hidupnya. Contohnya :
-        Nikodemus berubah.
-        Perempuan Samaria berubah. Lalu satu kampung percaya kepada Kristus. Orang yang suka mendengar ajaran yang sehat pasti akan berubah.
Respon para pendengar “Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli ahli Taurat mereka”.
(Matius 7:28-29).
Jika ingin melihat perubahan, maka beritakanlah firman Tuhan (di gereja, keluarga, di lingkungan sekitar dll).

C.    Beritakan firman Tuhan dengan kuasa Allah.
Rasul Paulus telah mengalami dan mendemonstrasikan kuasa Allah dalam memberitakan Firman Tuhan.
Rasul Paulus digigit ular tapi tidak mati. Paulus menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan orang mati sehingga sudah membuktikan ia memberitakan Injil dengan kuasa Allah. Timotius mengikuti jejaknya. Tuhan Yesus berjanji untuk memberita kuasa bagi mereka yang memberitakan firman Allah.
Yesus berkata Yesus berkata:
-          Segala kuasa baik di sorga maupun di bumi telah diberikan kepada-Ku... (Matius 28:16). Setelah Yesus mengatakan tentang kuasa, Dia memberikan perintah untuk memberitakan Injil, “Karena itu pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku.”
-          “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara  dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Markus 16:17-18).
-            “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Lukas 24:49). Injil Lukas menyatakan hal yang sama.
-            Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yohanes 20: 22-23)
-        Kisah Para Rasul diawali dengan janji kuasa Allah. Kamu akan menerima kuasa jika Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksi-Ku  (Kisah Rasul 1:8).Kisah Rasul 1:8. Itu semua janji dari Tuhan Yesus Kristus. Ada banyak kesaksian yang menyatakan bahwa banyak orang yang dilengkapi dengan kuasa Allah. Salah satunya Kesaksian Hudson Taylor (Kesaksian misionaris di India). Suatu kali ia sedang berlayar untuk memberitakan Injil tetapi tiba-tiba mesin kapalnya mati. Nahkoda datang kepadanya,”Tuan, tolong berdoa supaya ada angin. Kalau tidak kapal ini akan menuju ke suatu pulau yang dihuni oleh manusia kanibal. Maka kita akan binasa semua”. Hudson Taylor berkata,” Baiklah. Pasang layarmu.” Nahkoda berkata,”Kami tidak mau. Untuk apa dipasang? Kan belum ada angin. Doa saja dahulu. Kalau sudah ada angin barulah kami akan memasang layarnya” Hudson Taylor berkata,”Kalau kamu tidak pasang layarnya, maka saya tidak akan berdoa.” Hudson Taylor pun berdoa. 5 menit kemudian angin datang dan 10 menit kemudian angin bertambah kencang. Lalu nahkoda datang kepada Hudson Taylor dan berkata,”Tuan Hudson tolong berhentilah berdoa karena angin sudah begitu banyak.” Orang yang memberitakan Injil dilengkapi dengan kuasa Allah. Demikian pula dengan kisah penginjilannya di India.

Penutup

Mari kita memberitakan Injil dengan kuasa-Nya sekalipun banyak orang yang sukanya mendengar yang enak-enak. Mari beritakan Injil (kebenaran) sekalipun orang tidak suka mendengar. Kalau ingin melihat perubahan, BERITAKAN Firman Tuhan, karena Firman Tuhan BERKUASA mengubah kehidupan. Seorang pemuda datang kepada Rabbi yang sudah puluhan tahun memberitakan Firman Tuhan dan bertanya,”Rabbi, mengapa engkau terus memberitakan firman padahal dunia tidak berubah?” Rabbi menjawab,”Hai pemuda, aku memberitakan Injil sebetulnya bukan hanya supaya dunia berubah melainkan supaya saya berubah.” Kalau memberitakan Injil tujuannya bukan sekedar agar orang lain berubah, tetapi supaya kita berubah. Stop Press.. Menyampaikan firman yang baik itu sangat penting, tetapi menjadi pemberita (pribadi) yang baik itu lebih penting. Hidup kita adalah berita yang paling efektif untuk diberitakan sepanjang zaman. Ingatlah bahwa : memberitakan firman adalah pelayanan yang sangat penting tidak peduli kondisi pendengarnya, apakah mereka suka atau tidak suka. Tugas kita adalah memberitakan Injil. “Firman Tuhan bukan hanya untuk dilagukan, bukan hanya untuk dilalukan, tetapi untuk dilakukan”. Tidak salah kita menyanyikan firman Tuhan, tetapi jangan lupa kita perlu melakukannya di dalam hidup. Amin. 

Tuesday, May 9, 2017

Bergereja Tapi Sebatas Tuntutan Agama


Bergereja Tapi Sebatas Tuntutan Agama

Pdt. Hery Kwok

Yesaya 29:13  Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,

Pendahuluan

                Tema hari ini “Bergereja Tapi Sebatas Tuntutan Agama”. Tema ini diharapkan bisa mengoreksi ktia semua yang dalam perjalanannya dari waktu ke waktu bergereja hanya sebatas tuntutan agama belaka. Sebagai orang Kristen kita diharuskan pergi ke gereja setiap Minggu dan hari raya seperti Natal, Paskah, Jumat Agung dan Kenaikan Tuhan Yesus , apakah hanya sebatas itu saja atau tidak? Bila hanya begitu maka bisa saja secara  fisik kita mungkin hadir tapi hati kita tidak di gereja. Itu berbahaya karena akan terbukti dalam pertumbuhan rohani kita yang nyata terlihat dari karakter, hidup pelayanan serta dalam mengasihi sesama kita. Dalam  konteks bergereja pada Yesaya 29:13 dikatakan Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya (mereka datang dengan mulut yang memuji Tuhan dan bibir yang mengucapkan haleluya), padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan gereja mereka (ibadah yang dilakukan) kepada-Ku hanyalah perintah atau tuntutan manusia yang dihafalkan. Mereka datang dengan mulut dan bibir yang sepertinya beribadah tapi hatinya tidak di sana karena mereka hanya melakukan tuntutan (syariah) dari agama (hanya menghafal)  Seperti : ingat untuk membayar perpuluhan, datang hari Minggu (dikatakan sebagai Sabat) dan sebagainya. Sehingga menurut nabi Yesaya itu semua hanyalah perintah atau tuntutan dari manusia atau agama mereka.
Kita bersama-sama hidup di Indonesia dengan gejolak dinamika kehidupan sosial yang sangat kuat. Kalau diamati ada kelompok-kelompok tertentu yang melakukan (mengatasnamakan) ibadah agamanya yang dikatakan sebagai melakukan kehendak Allah. Ini tidak heran atau asing. Sehingga yang kita alami sendiri, ada kelompok yang dengan kuat dan berani mengatakan mereka sedang menjalankan agama dan ibadah mereka yang dilakukan dalam konteks kehendak Allah!! Ini yang kita rasakan dan alami. Sehingga pemimpin negara kita berpidato bahwa orang-orang tertentu yang mencoba mengatasnamakan agama dengan segala kegiatan-kegiatan agamanya dipandang sebagai ekstrimis atau radikal yang mengganggu ketertiban umum dan mencoba mengintimidasi perasaan (hati) orang-orang yang tidak sealiran atau seagama dengan orang-orang tersebut. Menyaksikan peristiwa ini , dalam hati kecil kita mungkin bertanya-tanya,”Mengapa begini?” Kita mencoba menganalisa dari sudut kita,”Kok mereka begitu ya? Apa mereka tidak tahu bahwa perbuatan mereka tidak benar?” Tetapi kalau kita hidup dan ada dalam kelompok itu, bisa jadi kita punya pemahaman yang sama dengan kelompok itu dan menganggap apa yang dilakukan sesuai kehendak Allah (yang berkenan di hadapan Allah).
Hal itu sudah dijelaskan dalam kitab Yesaya. Di kitab ini kita menemukan bahwa orang Israel dengan bangga , berani  dan puas sudah melakukan apa yang ditentukan dan  diminta oleh seluruh aturan agama mereka. Dengan melakukan hal-hal tersebut, mereka katakan bahwa mereka sudah beribadah  pada Allah mereka. Latar belakang Kitab Yesaya ditulis dalam kebobrokan rohani. Ada yang mencuri, berzina, mengintimidasi yatim piatu, janda diperas dan lain-lain. Namun apa pun yang dilakukan sehari-hari tersebut, mereka tetap beribadah pada Tuhan. Mereka datang dengan mulut dan bibirnya menaikan puji-pujian pada Allah. Yesaya 29:13 menjadi kritikan untuk kita. Bisa saja kita sama seperti mereka. Kita duduk di ruang ibadah menyanyikan pujian bagi  Tuhan seperti yang tertuang dalam lirik,”Aku membutuhkan Engkau setiap waktu.” Kita tersentuh dengan kalimat tersebut dan mengangkat tangan. Tetapi sebenarnya hanya mulut dan bibir saja. Yesaya sudah membuktikan apa yang mereka lakukan (terbukti dalam perbuatan sehari-hari berbeda). Katanya perlu Tuhan tiap hari tapi mengapa tidak mencari Tuhan? Katanya mengandalkan Tuhan tapi setiap hari bersandar pada kekuatan dan kekayaan sendiri. Sehingga Nabi Yesaya mengatakan bahwa hanya di mulut bibir saja tetapi perbuatan berbeda.
                Pada Perjanjian Baru, Rasul Paulus membawa kuasa dari imam-imam kepala , ia seorang berani dan bengis. Ia mengatakan ,”Aku orang kejam dan bengis.” Ia memang menyeret orang percaya dan memasukkan ke penjara. Bahkan ada orang percaya yang dianiaya dan dibunuh. Paulus menganggap tindakannya berkenan di hadapan Allah. Kalau dihubungkan dengan orang Kristen, apakah saat kita berbibadah hanya tuntutan agama belaka? Saya datang agar hati saya tidak merasa tuntutan. Itu sebabnya apa yang disampaikan oleh nabi Yesaya dan disaksikan negara kita hanya merupakan penyakit orang beragama.

Ada 2 alasan (hal) yang menjadi penyakit orang beragama

1.    Menilai bahwa melakukan KEGIATAN AGAMA sudah hidup BERIBADAH  kepada ALLAH.  
Sepertinya saya menilai bahwa saya sudah melakukan kegiatan agama (hidup beribadah). Kalau kita tidak menyadari hal ini sebagai penyakit maka akan berbahaya sekali. Mereka mengira sudah melakukan apa yang dituntut oleh syariah mereka. Misal : kalau sudah bayar perpuluhan , sudah selesai. Jadi mau apa lagi? Semua yang dianggap harus dilakukan dalam kegiatan agama sudah dilakukan untuk Tuhan (seperti  waktu sudah ke tempat ibadah, dikatakan kita sudah beribadah). Bila tidak disadari penyakit ini akan membuat kita mati rasa (mati dalam kepekaan rohani).

2.    Menilai bahwa melakukan KEGIATAN AGAMA memuaskan hatinya (memberi rasa damai sejahtera dalam hatinya).
Rasanya puas. Itu merupakan penyakit juga. Yang mencoba menentramkan dirinya dan membuat dirinya enak. Saya khawatir penyakit ini sudah berurat-akar dalam diri kita, sehingga kita merasa sudah selesai tuntutannya dan merasa enak. Ada orang yang datang ke gereja setelah itu main judi. Bahkan bisa terjadi ia datang ke gereja untuk berdoa agar menang judi. Jadi ada kelompok tersendiri untuk bermain maco atau  poker. Sehingga ada orang yang group WA yang mengatakan itu. Begitu menang ia berkata karena Tuhan telah memberkati dia. Ada juga yang datang ke gereja di hari lain dan hal itu dianggap sudah bergereja.

Yang Allah kehendaki : Mengenal Dia

Apa esensi kita bergereja ? Yeremia 24:7 Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya. Di dalam konteks beribadah, yang Tuhan minta kepada orang Israel bukan karena sudah membakar korban ukupan ,memberikan persembahan binatang atau membawa perpuluhan. Bukan itu! Tuhan tidak minta hal itu waktu orang Israel ke luar dari Mesir. Tapi Tuhan minta supaya kita berelasi denganNya dan kita belajar pada Tuhan. Mengenal Tuhanlah itulah yang Tuhan mau. Supaya Ia menjadi Tuhan. Kita berkata, kita bertuhan pada Tuhan tapi sering kita tidak menjadikan Dia sebagai Tuhan. Waktu meminta sesuatu kepada Tuhan, kita perlakukan Ia seperti jongos . Tidak ada rasa hormat dan tidak percaya bahwa Ia memberikan yang terbaik. Dalam kitab Yeremia, Tuhan mengatakan bahwa,”Aku ingin agar kamu tahu bahwa Akulah Tuhan, Akulah penguasa dan milikmu.” Itulah yang diminta Tuhan agar aku mengenalNya. Apa saja yang dibuatNya tetap baik dan luar biasa.

Kemarin selepas rapat BPH Sinode GKKK, kami berkunjung ke rumah Pdt. Jusuf Citra. Ia salah satu hamba Tuhan yang melayani di GKKK Papua. Ia hampir menghabiskan seluruh masa mudanya di sana. Ia sangat dihormati di sana. Ia dikenal sebagai orang yang luar biasa baik. Ia pernah berkhotbah di GKKK Mabes. Waktu kami berkunjung, ia baru menjalani cuci darah di RS Siloam Karawaci. Ia melakukan cuci darah seminggu tiga kali agar darahnya bersih dari zat Kreatin. Waktu duduk bersaksi ia mengatakan bahwa waktu divonis cuci darah (ia hampir meninggal karena nafasnya sudah kembang kempis akibat tidak bisa menarik napas) dan racun sudah menguasainya darahnya. Ia pun disuntik agar kadar racunnya turun serta keluar airnya karena ginjal dan paru-parunya sudah terendam cairan. Di Penang ginjalnya dikatakan sudah parah. Ia berkata,”Saya bisa merasakan artinya minum cawan pahit itu. Sepertinya Tuhan meninggalkan saya! Saya meminta dan berseru tetapi Dia seakan tidak mendengarkan saya. Hati saya hancur. Saya sudah melayani Tuhan. Apa yang tidak saya lakukan untuk Tuhan? Saya korbankan keluarga untuk melakukan pekerjaan Tuhan.” Membandingkannya dengan diri sendiri, saya masih senang nonton film di bioskop dan jajan (menikmati kuliner). Waktu saya tidak banyak seperti dirinya yang berkeliling Papua. Saya merasa malu. “Tetapi saya mengalami suatu keputusasaan dan saya meragukan Tuhan,” sambung Pdt. Jusuf Citra. Saya terdiam. Yang mengatakan kalimat tersebut bukan orang kacangan. Ia sudah berkhotbah dan mengajar tetapi ia berkata bahwa ia meragukan Tuhan dalam kondisi itu. Kita tidak menjadikan Ia Tuhan. Selama ini bisa kita membuat Nya bukan Tuhan untuk diri kita. Seperti yang dikatakanNya dalam kitab Yeremia,”Aku ingin mereka mengenal Aku. Supaya mereka jadi umatKu dan Aku menjadi Allah mereka, supaya mereka bertobat dan mengikut Aku.” Itu ibadah kita di mana kita berjumpa dengan Allah yang membuat kita bertobat. Di mana mengatakan aku membutuhkan Engkau tanpaMu aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Bagaimana Orang Percaya Memiliki Pengenalan akan Tuhan?

                Saya ingin agar kita datang ke gereja bukan karena tuntutan Allah tetapi karena ingin memiliki hubungan (relasi) dengan Tuhan, dan salah satu cara  yang baik adalah melalui pemuridan. Gereja Kristen Kalam Kudus mencanangkan diri untuk menjadi gereja pemuridan. Pemuridan itu ada berbagai bentuk. Seperti kebaktian saat ini merupakan pemuridan besar. Tetapi ada juga kelas Tiranus yang diadakan dengan topik tertentu juga merupakan pemuridan. Kita datang ke komsel pasutri yang membahas topik yang diceritakan pada khotbah dari hamba Tuhan dan di-sharing-kan mengapa kita tidak melakukan ibadah keluarga? Itu juga pemuridan. Tetapi ada juga pemuridan yang sifatnya intens seperti KTB yang setiap waktu anggota-anggotanya berkumpul membahas firman Tuhan dalam hidupnya.

                Ada sebuah pernyataan dari Pastor Edmun Chan. Permuridan adalah proses membawa seseorang kepada relasi yang benar dengan Allah, dan mengembangkan mereka kepada kedewasaan penuh di dalam Kristus melalui strategi pertumbuhan yang terus menerus, sehingga mereka dapat menularkannya juga kepada orang lain. Kebaktian kelompok kecil bisa bertumbuh lalu memuridkan lagi . Sehingga bisa menginjili orang lain.
Ada 4 kalimat yang menjadi kunci dalam pemuridan

1.    Membawa orang pada relasi yang benar dengan Allah

Yoh 1:45-46 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Sewaktu Tuhan memanggil Natanael , ia mempunyai pikiran tidak baik (tidak ada yang baik datang dari Nazaret). Kemudian Tuhan Yesus meluruskan pikirannya. Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" (Yoh 1:48-49).  Terjadi relasi antara Tuhan dengan Natanael dalam pemuridan sehingga Natanael pun bertobat dari pikiran negatif terhadap Allah.
Kita punya kecenderungan curiga pada Allah karena kita orang berdosa. “Kenapa begini Tuhan?” pertanyaan yang menunjukkan kecurigaan. Sewaktu A Hok kalah, kita tidak habis berpikir dan kita curiga. Relasi ini perlu dipulihkan. Tuhan Yesus juga memulihkan pemungut cukai Zakheus (Lukas 19:1-10) atas kepercayaannya pada harta. Ia menganggap harta adalah segalanya dan bisa menolong hidupnya. Setelah dimuridkan ia bertobat dari ketergantungan terhadap harta. Melalui pemuridan kita diharapkan bertobat yang terus terjadi atas berbagai hal buruk. Misal : bertobat terhadap pikiran negatif terhadap orang, ketergantungan pada uang (bila tidak ada duit hati tidak nyaman sehingga duit menjadi raja). Kalau tidak ada pertobatan itu dalam relasi, maka kita tidak akan mengerti arti beribadah kepada Tuhan. Murid-murid lain berkata kepada Tomas bahwa mereka telah bertemu dengan Tuhan namun Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yoh 20:25b). Delapan hari kemudian Tuhan Yesus muncul kembali dan berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." (Yoh 20:27). Tomas pun menjadi percaya dan Tuhan Yesus pun berkata, "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Ada yang berpendapat bahwa segala sesuatu harus ada dalam rasio, sehingga kalau tidak masuk akal tidak percaya. Itulah dosa yang mengerikan dan di sana relasi Zakheus dipulihkan oleh Tuhan Yesus. Pada ujung kitab Yohanes dikatakan Petrus kembali menjadi nelayan. Tuhan Yesus datang ke Petrus di Danau Tiberias. Setelah Tuhan Yesus melakukan keajaiban yang membuat para murid memperoleh 153 ikan, Tuhan Yesus bertanya 3 kali kepada Petrus. "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku (lebih dari pada mereka ini)?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Maka sedihlah hati Petrus. Petrus menangis karena Tuhan Yesus membuat Petrus bertobat dari kesombongan rohani. Kita perlu pemulihan relasi dengan Allah. Banyak sekali relasi yang perlu dipulihkan. Caranya melalui pemuridan. Kebaktian, kelas Tiranus, persekutuan pasutri, KTB merupakan pemuridan untuk memulihkan karakter yang tidak benar.

2.    Mengembangkan mereka kepada kedewasaan penuh di dalam Kristus.

Yoh 15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Aku di dalam Engkau dan Engkau di dalam aku , itu adalah dewasa penuh. Bila Ia ada di dalam kita, maka seluruh pikiran kita dikuasai oleh Tuhan Yesus. Itu yang harusnya terjadi pada orang percaya termasuk rohaniwan. Waktu terjadi suatu peristiwa , apa langkah yang akan dijalani? Ingat apa ayat Tuhan berkata atas suatu peristiwa untuk meresponinya? Dewasa penuh berarti segala hal yang dilakukan dikuasai oleh firman, bukan lagi diri sendiri. Dalam kitab Kisah para Rasul, para rasul melayani Tuhan termasuk Petrus. Petrus datang ke orang bukan Yahudi untuk memberitakan Injil. Petrus diberikan makanan yang non halal, ia tidak mau. Tetapi Tuhan berkata, "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram." (Kis 10:14). Di situ ia belum mengerti. Ternyata Tuhan memintanya datang ke suatu keluarga (rumah) Kornelius yang hendak ditobatkan. Setelah itu, ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.  mereka: "Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka."? (Kis 11:2-3). Petrus berkata, Aku ingat peristiwa Pentakosta. Aku ingat firman Tuhan” Firman Tuhan yang teringat dan itu dewasa penuh. Itu yang seharusnya terjadi dalam hidup kita. Kita juga mengalami pergumulan rohani yang terjadi di dalam rumah, pekerjaan dan lain-lain, namun dalam menghadapi pergumulan tersebut kita mendasarkannya pada firman Tuhan sehingga firman Tuhan tidak terpisah dalam kehidupan kita sehari-hari. Seperti itulah yang Tuhan mau.

3.    Melalui strategi pertumbuhan yang terus menerus.

Dalam pemuridan, strategi pertumbuhan yang terus menerus yang terjadi. Kalau ke gereja hanya karena butuh itu celaka. Dalam kelompok kecil perlu komitmen untuk bertumbuh. Sosok tubuh saya paling pendek di rumah sehingga saat berjalan dengan adik-adik dikira saya yang menjadi adik. Bila sosok tubuh kita tinggi, maka saat berjalan tidak merasa malu. Pertumbuhan fisik seringkali kita perhatikan, namun mengapa kita tidak memperhatikan pertumbuhan rohani? Karena hal itu membutuhkan komitmen dan prosesnya terus menerus. Dalam suatu sharing ada yang berkata, “Mengapa ya Bapak itu datang ke gereja hanya di saat-saat tertentu seperti saat ada bazar, natalan?” Kalau tidak secara konsisten dan terus-menerus membangun diri kita maka tidak akan terjadi pertumbuhan relasi yang baik dengan Tuhan.

4.    Pada akhirnya mereka harus bisa menularkan proses yang sama pada orang lain.

Itulah Amanat Agung dari Kristus. Gereja kita belajar untuk memuridkan melalui kelompok kecil yang dibangun sehingga terjadi kedewasaan penuh.

Penutup

Hidup bergereja seperti yang disampaikan oleh Ev. Harlevy adalah hidup di mana kita mengenal Allah dengan baik (kehendakNya, tujuanNya dalam hidup kita) dan  menikmati Allah dalam perjalanan orang percaya. Tuhan menyelamatkan kita karena ada tujuan yaitu mengenal apa yang Dia mau. Namun seringkali kita tidak mengenal Dia yang telah mati bagi kita. Kita melaksanakan perjamuan kudus untuk mengingatkan kita karyaNya di kayu salib.


Lirik lagu karangan Pdt. Stephen Tong, “Kumau cinta apa yang Dia cinta.” Betul tidak? Dia cinta jiwa-jiwa. Apakah kita cinta jiwa-jiwa? Kita lebih memikirkan diri kita dan lebih pusat keluarga. Kita sudah kehilangan orientasi dan ini berbahaya. Dalam hidup bergereja kita menikmati Allah dalam perjalanan. Allah tidak sekedar ingin kita mengenalNya tetapi kita menikmatNya kasihNya , kuasaNya dan kehadiranNya. Semua itu membuat hidup kita menjadi bergairah, dinamis dan merasakan rahmat Tuhan baru setiap hari. Kalau hidup bergereja seperti itu, maka kita akan antusias datang beribadah kepada Tuhan. Kita akan memberi prioritas hidup untuk beribadah kepada Tuhan. Kiranya firman Tuhan memampukan kita untuk menjadi orang-orang tebusanNya yang bertumbuh iman kerohanian dalam hidup. 

Monday, May 1, 2017

Perkataan yang Mengobarkan Hati


Pdt. Nindyo Sasongko

Lukas 24:13-35
13  Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,
14  dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi.
15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.
16  Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia.
17  Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram.
18  Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?"
19  Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
20  Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.
21  Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.
22  Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur,
23  dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup.
24  Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat."
25  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!
26  Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"
27  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.
28  Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.
29  Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.
30  Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.
31  Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.
32  Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?"
33  Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.
34  Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."
35  Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Pendahuluan

                Situasi saat Yesus bangkit dari kematianNya, tidaklah mudah bagi para murid dan pengikutNya. Dengan bangkitnya Yesus Kristus, keadaannya tidak serta merta menjadi penuh sukacita. Lukas 24:13-35 merupakan perikop yang dilatarbelakangi Yesus telah bangkit dan kemudian menampakkan diriNya kepada dua orang murid yang sedang menuju ke kota Emaus. Belakangan ini muncul hashtag (kata atau frase tanpa spasi yang diawali dengan simbol hash "#") di medsos (seperti FB dan Twitter) yang bunyinya,  “belum bisa move on (bangkit, pindah ke lain hati, membuka diri)”. Kata-kata ini biasanya dipakai oleh anak-anak muda yang sedang patah hati. Muda-mudi ini mengungkapkan perasaan yang tidak enak sekali akibat diputus oleh pacar dan hati rasanya kalut, kelam, dukacita, gelap dan belum bisa move on. Berhari-hari status FB-nya dan gambar di instagram-nya kelam semua dipenuhi dengan  kalimat-kalimat yang pilu, sepilu lagunya alm. Eddy Silitonga “Biarlah Sendiri” (ciptaan Rinto Harahap). Pada tahun 1976 Eddy Silitonga (1950-2016) menyanyikan lirik lagunya, Biar, biarlah sedih, asalkan kau bahagia yang melejitkan namanya di dunia tarik suara. Ada juga lagu lain dengan genre  dangdut “Termiskin di Dunia” yang diciptakan dan dipopulerkan oleh ATT Hamdan yang liriknya berbunyi,” .... Aku merasa orang termiskin di dunia. Yang penuh derita bermandikan airmata ...”.  Intinya belum bisa move on.  Istilah ini kembali marak pasca 19 April 2017 setelah diketahuinya hasil hitung cepat pilkada DKI yang memenangkan pasangan calon gubernur Anies-Sandy. Kekecewaan terjadi di kalangan pendukung A Hok – Djarot dan hal ini wajar. Rasa khawatir dan takut adalah hal yang wajar.

Rasa Takut Setelah Mendengar Berita Kristus Sudah Bangkit

Ketakutan ini juga pernah dirasakan oleh para murid dan pengikut Yesus Kristus seperti yang dicatat oleh Alkitab. Kebangkitan Kristus tidak serta merta disambut oleh orang-orang yang mengenalNya. Pada Markus 16:8 dikatakan “Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.” Para ahli Kitab Suci mengatakan bahwa sebenarnya inilah ayat terakhir dari kitab Markus sedangkan ayat-ayat selanjutnya ditambahkan agar Markus tidak terlalu negatif dalam menutup injilnya. Ayat ini memuat kata “takut”, padahal pasal 16 sedang berbicara tentang kebangkitan Kristus. Kristus sudah bangkit dan kuburNya sudah kosong. Hal ini sudah disaksikan sendiri oleh orang-orang yang dekat dengan Kristus namun mereka masih memiliki perasaan takut.
                Kitab Lukas juga tidak jauh berbeda. Pada Lukas 24:11 para murid mendapat kabar dari perempuan yang melihat kubur Yesus kosong namun mereka mengatakan hal itu omong kosong dan mereka tidak percaya. Demikian pula dengan Matius 28, setelah kebangkitan Kristus, para murid merasa ketakutan dengan orang-orang sekitar mereka. Yoh 20:19a Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Ini kebangkitan Kristus, kubur kosong dan mereka sudah melihat tetapi mereka merasa takut.
                Lukas 24:13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem. Ayat ini dibuka dengan kata “pada hari itu juga”. Perikop ini didahului oleh cerita para perempuan yang melihat kubur kosong dan memberitahu para murid yang berkata bahwa hal itu omong kosong dan mereka tidak percaya. Pada hari yang sama ada kisah tentang 2 orang murid , yang satu namanya Kleopas dan yang lain namanya tidak diketahui. Lukas mungkin tidak ingat siapa nama sahabat dari Kleopas sehingga dibiarkan misterius (no name = NN). Mereka berdua meninggalkan Yerusalem karena ingin kembali ke kampungnya. Mereka memang berasal dari kampung dan mereka ikut urbanisasi (pindah ke kota) lalu sekarang balik kembali ke kampung halaman mereka. Mereka saat itu sedang berjalan menuju Emaus yang terletak 7 mil dari Yerusalem. Mereka sedang melakukan diskusi dan bertukar pandangan dengan intens. Saya coba membayangkan apa yang mereka pikirkan, ketakutan dan kecemasan mereka. Padahal sebelumnya mereka sudah tahu dan mendengar bahwa Kristus sudah bangkit, namun mereka tidak percaya. Maka lebih baik bagi mereka untuk pulang kampung, entah untuk mencangkul, memelihara ternak dan lain-lain. Mereka ingin hidup aman dan untuk itu tidak perlu di Yerusalem. Mereka tidak move on. Mereka kembali ke tempat mereka berasal dan pindah ke kampung halaman mereka kembali. Di tengah perjalanan itu ada seorang laki-laki muncul dan sosoknya misterius. Mereka tidak mengenalNya. Orang itu  bertanya apa yang sedang dipercakapkan. Kleopas dan temannya saling berpandangan karena merasa heran (masa orang ini tidak pernah mendengar apa yang telah terjadi?). Maka Kleopas bertanya, "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?". Mereka pun menceritakan peristiwa besar yang terjadi yaitu penyaliban Yesus Kristus. Mereka mengira Yesus adalah nabi yang berkuasa  yang akan menjadi raja dan menunggangbalikkan pemerintahan Roma namun ternyata Ia mati dan 3 hari kemudian ada berita tentang kebangkitanNya, namun para murid yang lain ada yang tidak percaya. Mendengarnya Orang Misterius itu berkata, “"Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” (Luk 24:25b). Arti kata “bodoh” di sini adalah “kamu terlalu fokus pada masa lalu” atau “terlalu berpikir pada masalah yang sedang dihadapi” sehingga tidak melihat kembali apa yang dirancangkan (ada hal yang lebih besar). “Kamu terlalu bodoh dan memikikrkan masalah kamu. Betapa lambannya hatimu.” Sang Misterius itu kemudian menerangkan Kitab Suci dan berkata, “Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" (ayat 26).
                Kemudian hari mulai larut malam. Kegelapan menyapa dan Sang Misterius bermaksud meneruskan perjalananNya. Tetapi Kleopas dan temannya mencoba menahanNya agar Ia tinggal dengan mereka. Susana saat itu tidak ada penerangan dan jalan sangat gelap. Pada tahun 2009-2010 saya pernah tinggal di Etiopia. Kondisinya saat itu seperti Indonesia (Jakarta) 20 tahun sebelumnya. Tidak semua jalan diaspal dan punya penerangan. Kalau orang mau berjalan malam-malam berbahaya karena jalannya tidak rata, gelap dan dinginnya luar biasa. Hal ini tidak mengherankan karena kota Addis Ababa tingginya 2.400 m di atas permukaan laut. Sehingga pada pk 18 saja, orang-orang  tidak berani keluar di udara terbuka tanpa jaket dan orang harus memakai penutup telinga karena dinginnya luar biasa. Bayangkan di Israel pada zaman itu ada banyak begal dan perampok. Jadi Kleopas mencoba menahan Sang Misterius. Yang menarik Sang Misterius ini kemudian memecahkan roti. Begitu ia memecahkan roti, Kleopas dan temannya tiba-tiba terbuka matanya. Mereka berkata, "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" (Luk 24:32). Lalu mereka kembali ke Yerusalem. Mereka menceritakan bahwa sewaktu Orang Misterius itu memecahkan roti barulah mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan Yesus. Apa pentingnya ayat-ayat ini untuk kita? Apa pentingnya saat apa yang kita dambakan tidak mendapat jawaban? Apa pentingnya bila apa yang kita doakan terjadi tidak seperti yang kita harapkan? Di manakah Yesus Kristus? Saya merasa ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Dalam perikop Lukas 24:13-35 ini, Yesus dikenal sebagai orang asing oleh murid-muridNya sendiri. Kata yang dipakai di sini adalah xenos (ayat 18 Adakah Engkau satu-satunya orang asing?). Bagi para murid yang sedang kalut ini Yesus adalah orang asing. Biasanya kebanyakan manusia (termasuk kita) takut dengan orang asing. Jangan-jangan orang asing ini akan mengancam, membahayakan atau mencelakai kita. Kita hidup dalam suasana xenophobia (fobia atau ketakutan terhadap orang asing). Kita senang kalau berkumpul dengan orang-orang yang sudah kita kenal (misal : sesama Kristen, suku, latar belakang, hobi dll). Melihat orang-orang  di luar lingkungan, kita merasa takut (jangan-jangan ia akan begini-begitu dan mencelakai kita). Apalagi murid-murid sedang mengalami duka-cita dan sekarang ada orang asing. Bayangkan kalau kita hidup dalam trauma seperti yang dialami oleh murid -murid Tuhan Yesus karena kehilangan orang yang mereka kasih dan selama ini melindungi mereka.
                Pada tanggal 8 April 2017 saat kita mengenang Yesus masuk ke Yerusalem dengan sambutan meriah penduduk di sana”Hosana..hosana..!!” untuk memuji Tuhan. Di Mesir ada 2 gereja koptik (Gereja Koptik St. Markus di Iskandariyah dan Gereja Mar Gigris atau St. George di kota Tanta) dibom pada tanggal ini dan menyebabkan 24 orang meninggal dunia. Beberapa jam kemudian teman saya yang tinggal di Siprus mem-posting di status-nya foto  seorang pria paruh baya di mobil. Di sebelahnya duduk seorang pria yang di tangan kanannya bergelayutan seorang anak kecil yang masih balita, yaitu anaknya sendiri. Siapakah si Bapak itu? Ia adalah salah satu korban pemboman bunuh diri di gereja Santo Markus. Tempatkan diri kita seperti si anak kecil tersebut. Seorang anak balita yang kehilangan ayahnya yang tubuhnya hancur berkeping-keping karena bom. Bagaimana nantinya anak itu akan bertumbuh kalau melihat orang yang asing?

PerkataanNya Mengobarkan Hati

                Di antara kita pun banyak mengalami hal seperti itu dan membuat kita trauma dengan orang asing. Tetapi kisah ini memiliki akhir yang berbeda. Kleopas ternyata malah mengundang Orang Asing itu agar jangan pergi dan memintaNya untuk tinggal bersama mereka. Kleopas dan temannya adalah orang-orang Yahudi dan taat kepada firman Tuhan. Pada kitab Imamat  19 dikatakan bahwa bila ada orang asing maka ia harus ditampung dan diterima di rumah mereka. Apalagi hari mulai gelap dan senja , bahaya bisa mengancam sang tamu kapan saja. Tetapi yang menarik, selesai Orang Asing itu membagikan firman Tuhan, Ia kemudian memecahkan roti dan membagi-bagikannya. Ini yang tidak pernah atau jarang sekali terjadi. Biasanya yang memecah dan membagikan roti adalah tuan rumah atau orang yang mengajak. Jadi seharusnya Kleopas dan temannya, tetapi ternyata orang asing ini ‘ketertaluan’, Ia memecah roti dan membagikan ke Kleopas dan temannya. Bayangkan, bila kita kedatangan tamu lalu ia masuk ke dapur, mengeluarkan bahan makanan dari lemari dapur lalu memasak untuk kita. Setelah itu ia menyajikannya kepada kita untuk dimakan. Apa perasaan kita? Tentu kita berpikir, “Ini tamu kurang ajar!” Tamu ini seolah-olah menjadi tuan rumah-nya. Tetapi di sinilah rahasia kebangkitan Tuhan Kristus. Orang asing ini bukan saja menjadi sahabat, tetapi orang asing ini justru menjadi orang yang menjamu mereka. Orang asing yang biasanya ditakuti dan dicemaskan menjadi orang yang memecah roti. Orang asing yang menjadi sahabat mereka. Terjadi perubahan peran, Tamu justru menjadi tuan rumah dan menjamu. Apa artinya ini untuk kita? Perhatikan!  Mereka berkata,”PerkataanNya mengobarkan hati.” Ini tidak cukup. Bagaimana mereka bisa mengenal Yesus? Bagaimana murid yang takut bisa menyadari orang di depan mereka adalah Guru mereka, ketika Yesus memecah roti dan menyambut mereka? Orang ini dari seorang asing menjadi sahabat mereka!
                Ada 2 istilah sahabat dalam bahasa Inggris yaitu friend (teman, sahabat) dan companion (berasal dari kata Latin : com yang artinya bersama dan panis yang artinya roti, jadi companion artinya orang yang berbagi roti atau orang yang mau memecahan roti bersama-sama kita). Dalam perjalanan hidup kita melewati padang gurun yang gersang yang tidak ketahui ujungnya. Tetapi kita punya teman (sahabat) yang punya bekal. Ketika dia tahu kita sedang membutuhkan ia berkata, “Ini rotiku. Makanlah.” Melihat tindakan Sang Tamu, murid-muridNya tahu, “Ia adalah Yesus.” Dengan kata lain, apa pentingnya dan faedahnya bagi kita yang mungkin sedang ketakutan dan belum move on atas apa yang sedang terjadi? Apakah kita mempunyai companion yang mau memecah roti untuk dibagikan? Ia bersama murid-murid yang sedang kalut dan memilih kembali ke kampung mereka. Apakah kita sudah punya companion? Joseph M. Scriven pada tahun 1855 mengarang lagu “What A Friend We Have in Jesus”. Betapa luar biasa persahabatan yang kita miliki di dalam Kristus, sehingga semua dosa dan kekalutan kita bawa kepadaNya. What a friend we have in Jesus, All our sins and griefs to bear! What a privilege to carry. Everything to God in prayer! Ktai punya privilege yaitu hak istimewa untuk membawa seruan minta tolong kita dalam doa. Yesus disebut sahabat kita (our companion) yang memecahkan roti bersama kita. Kebangkitan Kristus mengubahkan manakala kita tahu  Dia tidak meninggalkan ktia, perkataanNya membangkitkan kita dan murid-muridNya di mana sebelumnya Yohanes, Yakobus , Andreas dan Petrus pulang kampung menjadi nelayan lagi karena merasa tidak ada lagi harapan. Namun Yesus datang kepada mereka, Ia makan ikan bersama mereka. Yesus menjadi companion bagi murid-muridNya.

Yesus Menjadi Companion

Kita bisa teguh dan berjuang bila kita dapat menjawab ‘iya’ atas pertanyaan sbb :
1.     Apakah Yesus menjadi companion kita? Apakah saat berada dalam kehidupan yang sulit dan belum move on, Yesus menjadi companion kita?
2.     Apakah kita mau menjadi companion buat orang lain? Apakah kita melihat wajah Kristus ada dalam wajah sahabat dan saudara kita bahkan pada orang yang berada di luar sana?
Dunia bukanlah rumah kita yang permanen karena kita menantikan surga. Semua orang di sini ‘brengsek’ dan membahayakan kita, benarkah demikian? Bukankah kita memiliki keluarga dan gereja? Kristus berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal (Mark 10:29-30).
Mama saya meninggal tahun 2015. Sebelumnya pada tahun 2013 saya meninggalkannya karena melanjutkan kuliah di sekolah teologia. Sebenarnya saya tidak ingin pergi karena mama sedang menderita gagal ginjal sehingga 2 minggu sekali harus menjalani cuci darah. Namun mama saya berkata menenangkan saya,”Kamu jangan mengkhawatirkan kondisi mama. Mama punya sahabat di rumah sakit. Mama punya keluarga di sekitar mama. Mama punya sahabat di gereja. Kamu pergilah.” Akhirnya saya pun berangkat melanjutkan kuliah. Ketika saya sedang kuliah ternyata frekuensi mama cuci darah harus ditambah. Dari 2 minggu sekali menjadi 1 minggu sekali kemudian naik lagi menjadi 1 minggu dua kali. Saya pun menelpon mama,”Besok saya akan pulang. Saya sudah minta izin ke dosen untuk pulang.” Mama menjawab, “Terima kasih Nak. Mama tahu kamu mencintai mama. Tetapi kalau pulang kamu bisa apa? Kamu bukan seorang dokter atau perawat. Kalau pulang, kamu malah akan sibuk dengan tugas-tugas kamu di gereja. Lebih baik kalau kamu bisa selesai lebih cepat.” Mendengar perkataannya, saya sadar bahwa saya memang tidak bisa berbuat banyak dalam proses penyembuhan mama.  Mama menyambung perkataannya lagi untuk mengingatkan,”Mama punya gereja, komunitas dan keluarga.” Dan saya yang mendengarnya menjadi termotivasi. Saya membalas,”Saya tidak hanya menyelesaikan dengan lebih cepat, namun juga  menjadi lulusan terbaik!” Namun pada 2015 mama dipanggil Tuhan. Saya menjadi sebatang kara karena saya anak tunggal dan papa sudah meninggal. Perkataan mama yang terus teringat dalam benak di mana pun saya berada. “Saya punya Yesus. Di mana pun saya berada, saya memiliki Kristus yang perkataanNya mengobarkan saya. Di mana pun saya punya sahabat yang di wajahnya ada Yesus!”

Pada peristiwa pemboman gereja di Mesir tadi , ada gambar seorang perwira polisi yang usianya 33 tahun dan di tangan kanannya ada seorang anak. Namanya Emad El-Rakiby.  Orang ini berusaha menghalangi pembom bunuh diri itu masuk ke ruang ibadah di mana orang-orang Kristen sedang beribadah. Tetapi usahanya gagal. Bom itu sudah keburu meledak. Ia seorang muslim yang mengorbankan dirinya untuk orang-orang Kristen. Kita mungkin sekarang berada di tengah suasana yang tidak menyenangkan, namun kita diajar untuk melihat bahwa tidak semua orang yang kita pandang buruk ingin mencelakai kita. Ada orang seperti Emad yang mau menjadi sahabat kita. Namun bagaimana anaknya bisa bertumbuh tanpa mengenal ayahnya? Kisah Emad mengingatkan kisah 17 tahun lalu pada tanggal 24 Desember 2000 saat diselenggarakannya ibadah malam Natal di Gereja Eben Haezer Mojokerto. Pada malam Natal itu, Riyanto menjadi salah satu dari empat orang Banser NU yang dikirim oleh GP Ansor Mojokerto untuk menjaga perayaan Natal di Gereja Eben Haezer. Semula ibadah malam Natal itu berlangsung dengan suasana hening. Namun saat ibadah baru berlangsung separuh jalan, sekitar pukul 20.30 WIB, seorang jemaat menaruh curiga pada sebuah bungkusan yang tergeletak tak bertuan di depan pintu masuk gereja. Riyanto pun memberanikan diri membuka bungkusan itu. Ia membongkar kantong plastik hitam itu di hadapan petugas keamanan Gereja Eben Haezer lainnya, termasuk seorang polisi dari polsek setempat. Di dalamnya tampak menjulur sepasang kabel. Tiba-tiba muncul percikan api sehingga Riyanto pun langsung berteriak sigap, “Tiaraaaapp!” dan kemudian terjadi kepanikan dalam Gereja. Riyanto segera keluar ruangan dan melemparkan bungkusan bom itu ke tong sampah, namun terpental. Ia kemudian berinisiatif mengamankan bom dengan memungut kembali untuk dilemparkan ke tempat yang lebih jauh lagi dari jemaat. Namun bom meledak dalam pelukan Riyanto sebelum sempat dilempar. Tubuh pria itu terpental, berhamburan. Sekitar 3 jam kemudian, sisa-sisa tubuh Riyanto baru ditemukan di sebelah utara kompleks gereja, sekitar 100 meter dari pusat ledakan. Jari dan wajahnya hancur, Riyanto pun meninggal seketika. Bom ini tampaknya tidak main-main. Ledakannya membuat roboh pagar tembok di seberang gereja. Bahkan kaca-kaca lemari dan etalase Studio Kartini yang berada tepat di depan gereja Eben Haezer hancur semua. Pria yang lahir dari pasangan Sukarnim dan Katinem ini banyak dipuji orang.

Penutup


Hidup memang tidak mudah. Tidak semua orang mau mencelakai kita. Bukankah pada mereka ada sosok Kristus? Emad dan Riyanto tidak jelas apakah mereka akan diijinkan Tuhan untuk masuk surga sesuai dengan kedaulatan Allah. Apakah kematian dan kebangkitan Kristus akan dirayakan dengan ketakutan terhadap orang-orang di luar sana? Karena kedatanganNya kita melihat wajah Kristus. Kita memegang sabda Kristus,”Aku bersama-sama engkau sampai kesudahan zaman. Aku tidak akan meninggalkan engkau. Aku tetap bersamamu.” Jadi move on lah! Bangkitlah! Semangatlah! Kobarkanlah semangat kita bersama Kristus yang sudah bangkit itu! Amin.