Sunday, March 12, 2017

Perbedaan Doktrin Keselamatan Menurut Arminian, Lutheran & Calvinis (Tiranus IX – Sesi 2)


Pdt. Tommy Matakupan

Q (pertanyaan) & A (jawaban)
Q : Bagaimana free-will untuk orang yang sakit jiwa? Apakah orang yang sakit jiwa bisa selamat tidak? (karena untuk menerima keselamatan , orang harus mengenal Yesus).
A : Jawabannya di-pending (lihat uraian tentang predestinasi di bawah)

Q : Menurut penganut Armenian, keselamatan itu harus dikerjakan. Keselamatan itu tidak bisa hilang lalu kenapa harus dikerjakan? Keselamatan itu 100% pekerjaan manusia, 100% pekerjaan Allah atau 100% pekerjaan Allah dan manusia?
A : Pasti bukan 100% pekerjaan manusia. 100% pekerjaan Allah ya. 100% pekerjaan Allah dan manusia? Ya.
Filipi 2:12-13 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu (menunjukkan manusia yang aktif) dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan (Allah yang aktif) di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Jadi Allah dan manusia aktif.
Keselamatan 100% pekerjaan Allah, tetapi untuk menjaga (hidup) keselamatan 100% pekerjaan Allah dan manusia, walaupun demikian dibalik itu Allah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya. Jadi manusia bisa taat karena ada sesuatu yang Allah kerjakan dalam hidupNya barulah manusia bisa taat. Untuk hidup keselamatan, Allah menopang kita di belakangnya agar bisa hidup taat. Allahlah yang menopang (mengerjakanNya di dalam kamu). Jadi tetap kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar. Jadi 100% karya Allah dan 100% karya manusia. Ini pekerjaan Allah dalam hidup seseorang.

Konsep Predestinasi

Predestinasi adalah satu ajaran dalam Alkitab yang menjelaskan bahwa Allah telah memilih orang-orang  tertentu dalam kekekalan untuk mendapatkan keselamatan. Sehingga predestinasi ini harus dibicarakan di dalam konteks Praise the Lord! Tidak bisa dibicarakan dalam konteks sama rata sama rasa.
Efesus 1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Ef 1:6  supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. 8   yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. 12   supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. 14   Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Jadi predestinasi harus dibicarakan dalam konteks Puji Allah. Presedistinasi berjalan di dalam payung kedaulatan Allah. Secara sederhana kedaulatan Allah adalah Allah berhak memutuskan untuk melakukan apa (segala) yang Dia mau atau dalam bahasa sederhana , kedaulatan Allah adalah tindakan Allah “semau gue” (saenak udele, sakarape dewe dalam bahasa Jawa, seenak gue ada masalah buat elo?). Kedaulatan Allah menyebabkan Allah seringkali disalahmengerti. Allah dianggap diktaktor (bertindak semaunya sepertinya Allah tidak mempertimbangkan banyak hal). Keberatan itu ternyata bisa diselesaikan sendiri karena kita punya ide tentang kedaulatan. Misal : saat berjalan di depan MOI ada seorang ibu tua yang kebasahan duduk di sana. Karena baru pulang dari gereja lalu hati kita luas sekali sehingga kita mengambil uang Rp 50.000 untuk diberikan ke ibu itu. Ibu ini merasa sumringah sekali , senang karena jarang ada yang memberi dalam jumlah yang relatif besar. Lalu ada seorang pemuda lusuh berotot datang kepada kita untuk minta uang. Kita pun mengambil uang dan lalu memberi uang Rp 2.000. Pemuda lusuh ini terima, tapi tidak berapa lama ia memanggil dan meminta penjelasan, “Mengapa hanya segini? Samain dong dengan tetangga (ibu tua,red).” Kalau mendapat perlakuan seperti itu , maka kita merasa tidak nyaman  karena merasa kedaulatan kita terganggu ( Aku kasih sesuka-sukaku lho). Itu ilustrasi tentang kedaulatan. Lalu kita bertemu dengan ide Allah yang berdaulat dan kita tidak merasa nyaman dengan kedaulatan Allah (aku boleh Allah tidak boleh begitu). Padahal suka tidak suka ,Allah berdaulat. Ini merupakan konsep predestinasi. Allah memilih siapa yang diselamatkan dan siapa yang tidak diselamatkan. Kesulitannya : Allah dikatakan dikatktor, Allah tidak kasih, Allah tidak adil dan Allah tidak maha kuasa.

Apakah Allah diktaktor?

Pertanyaan ini banyak diajukan karena ada yang merasa tidak nyaman karena Allah berdaulat (harusnya semua orang diselamatkan tanpa terkecuali). Yoh 3:16, berarti semuanya diselamatkan tanpa terkecuali. Istilah semua delimitasi seperti yang terdapat pada  Luks 2:1 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Istilah seluruh dunia, apakah satu bola dunia atau di bawah kekuasaan Kaisar? Dalam konteksnya, kata ini berarti hanya untuk wilayah dibawah kekuasaan kaisar. Jadi bukan semua tanpa kecuali tapi dalam limitasi. Jadi bukan semuanya. Dalam limitasi inilah kita bertemu dengan ide predestinasi. Apakah Allah diktaktor bertingkah sesukaNya sendiri? Tidak! Keputusan yang Allah buat berarti menyertakan semua sifat Allah yang ada dalam diriNya. Yakni kasih, adil, cemburu, kuasa, baik. Saya khawatir karena ada orang Kristen yang berkata, “Sifat Allah adalah parsial, terkotak-kotak, terpisah satu dengan lain”. Kalau demikian maka selama ini kita salah kaprah. Padahal di dalam sifat kasihNya ada adil, cemburu, kuasa, baik dan semua yang lain. Di dalam kebaikanNya di dalamnya ada kasih, cemburu, adil, kuasa. Jadi terintegrasi (bukan parsial). Jadi bila dinyatakan sebuah keputusan,  berarti menyertakan semua sifat yang lainnya. Satu sifat dengan lainnya tidak ada benturan (kalau bicara tentang sifat Allah). Apakah Allah diktaktor yang berkesan kejam, mementingkan hanya 1 sifat saja dan mengabaikan yang lain? Di dalam 1 sifat terkandung sifat lainnya. Tergantung mau ditekankan pada sifat yang mana. Sifat kasih tidak terbentur dengan sifat lainnya. Semua sifat yang lain bersetuju dengan sifat kasih , adil dll. Allah dikatakan kejam (keras), apakah itu sifat Allah? Sifat ini diganti dengan kata adil.  Apakah Allah diktator? Dengan penjelasan tadi, kita berkesimpulan tidak!

Apakah Allah tidak maha kasih?

Dalam predestinasi dijelaskan bahwa Allah maha kasih. Karena orang berdosa (misal : A dan B) tidak berhak mendapatkan kasih Allah (keduanya berhak mendapatkan penghukuman Allah). Tetapi mengapa yang satu Allah pilih , lalu megapa yang lain tidak dipilih (kan Allah maha kasih, kenapa tidak diangkat sekalian? Kerja jangan tanggung-tanggung). Itu terbentur dengan sifat kedaulatan Allah. Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau. Kenapa ada kata membenci Esau? Bagaimana mungkin Allah yang maha kasih bisa membenci? Itu kedaulatan Allah. Allah berkata Aku mau begitu, masalah bagimu? Ini pernyataan yang keras. Sehingga Agustinus dan Calvin mengatakan, This is the most horrible decree of God. Predestinasi adalah pernyataan Allah yang menakutkan.  Yang mempersamakan A dan B selain anugerah Allah adalah dua-duanya orang berdosa. Keduanya berhak mendapat penghukuman Allah. Kepada yang 1 Allah berikan anugerahNya, sedangkan kepada yang lain dibiarkan. Pelagius : Allah menciptakan mereka untuk mendapat penghukuman (diciptakan untuk mendapat penghukuman). Pada waktu B berbuat dosa, apakah karena Allah menetapkan mereka berbuat dosa? Tidak! Mereka berbuat dosa karena mereka memilih untuk berbuat dosa. Ilustrasi : sewaktu liburan biasanya diisi dengan acara bersih-bersih rumah. Bongkar lemari, laci dll ternyata ditemukan kenyataan bahwa sudah sekian lama kita menyimpan sampah. Lalu sampah dikumpulkan di satu tempat, setelah lelah istirahat dan duduk sejenak. Lalu kita perhatikan sampah-sampah itu. Ada satu benda yang sudah dibuang, namun karena kita merasa masih bagus lalu diambil lagi. Lalu apakah sampah yang lain berkata, “Aku juga dong! Sekalian!” A dan B tanpa pemberian anugerah Allah, keduanya berada di tempat sampah. Tiba-tiba yang 1 diambil lalu dikembalikan. Yang satu berkata, “Aku jangan dibuang dong”. Atas pernyataan itu dijawab, “Yang buang bukan aku, tetapi kamu sendiri yang memutuskan untuk berada di tempat sampah.” Mereka mengambil keputusan untuk berbuat dosa sendiri, jadi bukan Allah menetapkan mereka berbuat dosa.  Sehingga mereka saat berada di tempat sampah jangan salahkan Allah (mengapa dibuang Allah). Predestinasi mengungkapkan cinta Tuhan yang besar, mengapa yang satu yang tidak punya hak sedikit pun diambil Tuhan dan diberi tempat yang mulia? Jadi jangan berkata,”Aku ditetapkan untuk dibuang”, karena dia yang memutuskan sendiri. Ia harus menanggung sifat keadilan dari Allah. Kalau ada yang berkata Allah maha kasih dan keduanya harus diselamatkan, maka sifat keadilan Allah dikorbankan. Sifat adil menuntut yang berdosa mendapat penghukuman, namun karena kasih maka orang yang percaya diselamatkan. Di atas kayu saliblah kedua sifat Allah bertemu yaitu sifat kasih dan adil. Yesus mengalaminya dan itu tempat yang paling mengerikan di bawah kolong langit di mana murka Allah fokus pada Yesus. Setelah makan Paskah, maka sisa-sisanya tidak boleh dibiarkan dan dibawa ke luar rumah untuk habis dibakar. Hari itu Yesus dibakar oleh murka Allah. Dia tergantung sekian jam, dibakar oleh matahari dan oleh murka Allah. Allah adalah api yang menghanguskan. Di mana Dia menemukan sifat keadilan Allah di dalam puncaknya yaitu di saat Allah memalingkan wajahNya dari Kristus dan Ia menjadi orang paling sendiri di bawah kolong langit. Ini merupakan pertemuan dari kasih Allah setinggi-tingginya. Di salib undangan Allah untuk datang kepada Kristus. Salah satu lirik lagu himne berbunyi, Di sana (kayu salib) ku dapat ampun dosa. Setiap kali saya menyanyikan lagu tersebut, air mata saya tertumpah. Itu pernyataan puncak kasih Allah. Allah tidak akan mengorbankan keadilanNya. Jadi mereka yang mati dalam dosa karena untuk menyatakan keadilan Allah disebabkan mereka memutuskan sendiri untuk meninggalkan Allah. Bukan Allah tetapkan mereka untuk mati tetapi Allah biarkan mereka mati dalam dosa mereka.

Apakah Allah tidak adil?

Allah sangat adil. Yang berkata tidak adil, itu adalah orang yang sedang menurunkan sang pengadil turun untuk duduk di kursi terdakwa. Apakah berani berkata itu? Itu namanya tidak tahu diri. Hati-hati bicara bahwa Tuhan tidak adil. Apakah kita pernah berdoa, “Mengapa Tuhan?” Mengapa doa bertanya mengapa pada Tuhan? Karena kita merasa ganjil. Tuhan memang baik, tetapi tidak semua (ada bagian) kebaikan Tuhan terjadi dalam kehidupan saya. Apakah kita boleh bertanya tentang hal itu? Boleh kalau kita berani konfrontasikan kejujuran pertanyaan tersebut dan ketidaktahuan, dan dengan rela hati menerima jawaban Tuhan dan menjalankannya, silahkan tanya mengapa? Tetapi kalau ada latar belakang tidak puas, jangan tanya mengapa?  Karena berarti engkau menanyakan keadilan Allah dalam hidup dan hal itu berarti engkau akan membangkitkan murkaNya.
Saya penderita (pasien) sakit kanker. Saya divonis kanker stadium 3+.  Saya menderita kanker Limfoma Maligna non-Hodgkin’s (kanker kelenjar getah bening) yakni kanker nya menjalar di dalam pembuluh darah. Kalau jaringan kankernya diangkat bisa “marah” dan metastatis (menyebar) ke mana-mana. Satu bulan saya berdoa, “Tuhan mengapa?” Selama sebulan saya mencoba menetralisir diri. Saya bertanya mengapa saya terkena sakit kanker. Saya mencoba menjadi negosiator kepada Tuhan. Berdoa dengan janji kalau sembuh maka saya akan melakukan ini dan itu. Tuhan akan menjawab, “Rupamu? Modelmu?” Satu bulan saya bangun pk 3 dan berdoa sampai pk 6. Saat berkata amin dan buka mata, masih tetap. Saya pakai jurus doa dari gereja reform sampai jurus doa orang-orang karismatik. Tetapi saat menutup doa dengan amin, kankernya tetap ada. Hari itu istri saya frustasi menemani saya dan berkata sambil menunjuk-nunjuk saya,”Kalau kamu tidak berdoa sampai kepala terantuk di lantai, jangan harap kamu mendengar suara Tuhan”. Hanya istri pendeta yang berani memarahi pendeta. Tapi saya terus berpikir apa yang dikatakannya. Setelah lewat ½ bulan, tetap saja masih pakai jurus doa yang lain, tetap saja setelah berkata amin, sel kanker tetap ada. Saya sebelum tidur berdoa, “Tuhan saya tidak tahu mau berdoa seperti apa. Stocknya sudah habis. Terserah Tuhan maunya seperti apa.” Tiba-tiba melintas ayat Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya,  sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Petrus 5:7).  Saya coba deal dengan Dia dan membalasnya dengan deal melalui ayat itu (Aku hanya mau memelihara tidak menyembuhkan. Take it or leave it). Hari itu saya menangis tersedu-sedu selama sebulan. Ini yang saya tunggu-tunggu. Tuhan berbicara melalui Firman karena Roh Kudus mengingatkan segala sesuatu yang Tuhan ajarkan kepadamu. Jangan berkata mendengar suara Tuhan seperti manusia berbicara. Kalau Tuhan berkata dengan suara seperti manusia berbicara maka kita akan terkejut. Lalu saya gunakan jurus kedua yaitu SKSD (Sok Kenal Sok Dekat). Kalau Tuhan bicara, apa kita tahu itu suara Tuhan? (memang pernah dengar suara Tuhan sebelumnya). Suatu kali saya ingin buktikan hal ini. Saya telpon ke rumah dengan cara membungkus mulut gagang telpon pakai kain beberapa lapis. Lalu terdengar nada masuk dan telepon diangkat. “Halo!” istri saya memberi salam. Dengan suara formal saya berkata,”Selamat siang. Di sini rumah Tommy?”. Lalu dijawab oleh istri saya, “Apa Kak?” Saya berkata lagi,”Maafkan ini rumah keluarga Tommy?” Kemudian dijawab istri saya, “Sudah ...mau omong apa?” Dia sudah mengenal suara saya. Saya mau apa pun tidak bisa. Setelah itu saya baru tahu yang namanya kedaulatan itu seperti apa. Di dalam kedaulatan tidak mungkin tidak ada pemeliharaan. Hari itu pk 6 saya bangun dan menatap matahari dan berkata dalam hati, “I’m different now”. Saya seperti keluar dari kepompong. Ampuni saya Tuhan. Selama satu bulan saya tarik ukur bertarung dengan Tuhan. Ternyata saya tetap saja kalah. Orang yang tidak mau menghormati kedaulatan Allah , mengatakan Allah tidak adil.

Allah tidak maha kuasa?

Apakah Allah tidak maha kuasa? Allah maha kuasa! Justru dalam kemahakuasaanNya Allah akan mencari orang-orang yang sudah ditetapkan untuk diselamatkan dan orang-orang itu pasti mendapat keselamatan. Orang-orang yang dalam kekekalan yang Bapa tetapkan, suatu kali akan menemukan Kristus dan pengorbanNya di dalam hidup mereka karena pekerjaan Roh Kudus. Mereka akan temukan bahwa “Dulu aku buta namun sekarang aku melihat”. Anugerahnya terlalu baik . Predestinasi (penetapan kekekalan) bukan keselamatan. Tetapi predestinasi itu menuju kepada keselamatan. Orang-orang ini akan mendapat keselamatan setelah mereka mendengar berita tentang Injil Yesus Kristus. Ini adalah sebuah keharusan mutlak (harus mendengar tentang Yesus Kristus). Jadi saya membangun 2 buah pernyataan :
1.     Orang diselamatkan tidak ditentukan oleh (dari) apakah dia pernah mendengar atau tidak pernah mendengar berita Injil Yesus Kristus.
2.     Tetapi untuk diselamatkan orang mutlak  harus mendengar Injil Yesus Kristus.
Karena Alkitab hanya punya satu standar untuk keselamatan :  orang harus percaya Yesus Kristus. Tidak ada yang lain. Ada yang berkata, ada standar rohani yang lain yaitu hati rohani (Roma 1). Paulus hanya ingin mengungkapkan kerusakan hati nurani bukan standar. Hati nurani itu rusak. Hal itu juga dikatakan Luther dan Calvin : hati nurani juga tercemar.  Orang-orang yang berkata, aku masih punya free will mengindikasikan hati nurani satu-satunya yang tidak tercemar dosa. Alkitab bilang semuanya rusak.
Thomas Aquinas, mencetuskan teologi naturalistik, berkata,”Dalam diri manusia ada satu bagian yang tidak tercemar dosa yaitu pikirannya. Dengan pikirannya ia dapat menjelajah dan mencari jalan kembali kepada Allah.“ Ia dikenal dengan ajarannya The Five Ways of Thomas Aquinas yang menjelaskan keabsolutan pikiran dari manusia. Lagu yang dipengaruhi pikiran Thomas Aquinas :
Semua bunga ikut bernyanyi, gembira hatiku. Segala rumputkpun riang ria, Tuhan sumber gembiraku....
Semua lorong di bumi menuntunmu ke surga, bersama dengan sesama menuju pada Bapa.
Hal itu tidak benar. Seluruh lorong tidak memimpin ke pada Bapa. Tuhan Yesus berkata, hanya satu. I’m the way, the truth and the life. Hanya Tuhan Yesus.
Ada juga lagu Kristen yang hanya improvisasi yang menyenangkan seperti lagu Dong..dong...dong...dong.. Ada iblis di bawah kolong. Hatiku mau dicolong. Oh Tuhan segeralah tolong. Itu membuat anak tidak berani tidur sendiri , saat masuk kamar melongo ke kolong apakah ada iblis atau tidak.

Keselamatan tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang pernah mendengar berita Injil tetapi untuk selamat orang harus mendengar berita Injil. Semua orang yang ditetapkan dalam kekekalan oleh Bapa, suatu kali mereka lahir, berjalan imannya  dan belum percaya. Ia belum mau percaya saat mendengar khotbah pertama, kedua, ketiga , keempat sampai waktu tertentu (N) tidak menerima. Tetapi sampai waktunya Tuhan, ia harus kembali kepada Tuhan, ia harus bertobat. Ia tidak bisa bilang tidak. Pada momen ini, Tuhan tidak akan bilang, “Tidak mau ya...? ya sudah “. Kalau Tuhan mau, maka harus jadi. Kita akan kesulitan sekali karena punya Tuhan yang berdaulat (mau punya mau). Puji Tuhan Ia berdaulat. Implikasinya  Dia berhak memaksakan apa yang Dia mau. ide dan rencana dan itu harus terjadi. Setelah menolak terus sampai waktunya ia tidak bisa (pernah) menolak lagi. Ini berapa banyak? Tidak tahu. Bisa ratusan. Saya mendengar Injil ratusan kali tapi tidak bertobat. Sampai tanggal 8 Okt 1983, saya bertobat. Kalau Tuhan mau pasti terjadi. Tanggal 9 Okt 1983 saya berjanji menjadi hamba Tuhan setelah itu saya lupakan janji. Saya ulangi janji itu 12 Desember 1984 pk 12 siang, setelah itu saya melupakan janji. Selama 7 tahun saya tetap melayani, pimpin komisi dll, sampai suatu kali tertentu waktu mau pelayanan pk 10 saya ke gereja dahulu di bilangan ada bioskop Megaria dan di sebelahnya Gereja GSIA. Pengkhotbahnya berkata,”Jangan lupa janjimu dengan Tuhan.” Saya pura-pura tidak tahu, janji yang mana. Hari itu saya pergi pelayanan dan saya gelisah sepanjang hari. Lalu saya ke GKI Panglima Polim di Blok M. Sang Pengkhotbah (perempuan) berkata“Jangan lupa nazarmu untuk Tuhan “ itu khotabnya. Hati saya semakin gelisah  Saya ketemu  teman, semua yang dijanjikan Tuhan akan digenapi, tetapi jangan lupa janjimu kepada Tuhan. Kalau tidak janjimu tidak akan pernah terpenuhi. Saya langsung dapat strike dan KO. Agustus 1989, suatu hari saya berlutut di samping tempat tidur pk 2 pagi dan berdoa,”Tuhan saya mau taat tidak mau lari lagi. Saya capai dan saya mau jadi hamba Tuhan. Hari pertama di STT saya berbaring di tempat tidur, tangan di kepala saya berdoa kepada Tuhan, “Sudah ya, sudah di STT.”  Hari itu damai sejahtera mengisi hati saya. Jadi kamu janji apa dengan Tuhan? Kalau tidak dipenuhi maka hidupmu akan gagal. Harus penuhi janji kepada Tuhan. Mau tidak mau kamu harus mau. Kesusahan : apakah kita bisa berdamai dengan Tuhan. Saatnya harus dengarkan injil, mau tidak mau.

Q (pertanyaan) & A (jawab)
Q: mungkinkah orang desa Klutuk, orang yang paling ndeso adalah orang pilihan karena tidak ada orang yang mau memberitakan Injil ke sana  (padahal orang pilihan harus selamat bila tidak ada yang mau beritakan Injil)?  Apakah ia akan mati sesuai dengan dosanya.
A : Pertanyaan ini tidak jujur. Arah pertanyaannya : apakah Tuhan maha kuasa tidak? Kalau Dia maha kuasa, dia akan menggunakan segala cara. Tidak tahu bagaimana caranya, sehingga orang itu akan bertobat dan menerima Tuhan Yesus. Setelah berjalan terus, suatu kali ia kecewa dengan Tuhan dan murtad. Saya dititipi suatu video tentang Ibu  Irene yang katanya biarawati padahal ia belum pernah jadi biarawati karena masih masa percobaan. Disebut biarawati kalau ia sudah kaul kekal.  Di tempat umum ia mengatakan bahwa ia ahli kristologi. Sejak tahun 1996 saya sudah mendengar tentang hal ini. Ternyata konsepnya bukan kristologi Alkitab. Itu adalah “dagangannya: dia. Para pendeta punya barang dagangan. Hal ini seperti Pendeta Pariaji, “dagangannya” minyak urapan. Supaya laku dikasih expired date. Seperti  isi pulsa ada masa tenggang waktu. Kalau expired , maka pulsanya hangus. Gilbert “dagangannya” melepaskan orang dari ketakutan kutuk persis seperti Daud Tony.

Q : Apakah orang Kristen bisa murtad?
A : Istilah murtad artinya keluar. Dia sudah percaya tapi kemudian keluar dari sistem kepercayaan disebut murtad dan dalam kepercayaan baru yang dimasukinya ia disebut bertobat. Yohanes 10:27-30  Domba-domba-Ku (=Tuhan Yesus) mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku (=Tuhan Yesus). Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.Aku dan Bapa adalah satu."
Jadi ada 2 tangan yang menjaga yaitu tangan Bapa dan Aku (Tuhan Yesus), diistilahkan double insurance (asuransi ganda). Tangan Bapa dan tangan Yesus. Tangan Bapa dan tangan Yesus ibarat sebuah lingkaran. Kata “pasti tidak” “tidak akan”, dan “hidup yang kekal” menunjukkan bahwa orang yang di dalam lingkaran tidak boleh keluar. Kalau dia keluar berarti ada kekuatan lain yang melepaskan dari genggaman tangan Bapa dan Yesus. Ada yang mengatakan orang itu benar-benar keluar . Bahkan ada pendeta yang keluar dan tidak menjadi orang Kristen lagi. Yang terjadi mereka mundur dari hidup iman tetapi tidak keluar. Mundur bisa sampai dalam keadaan “compang-camping” rohani. Tapi pasti sebelum ia mati , Tuhan akan membawanya kembali ke dalam pertobatan. Mati adalah batasan akhir. Ia akan menyerahkan hatinya kembali kepada Tuhan. Tetapi kalau sampai dia lewati (tidak kembali kepada Tuhan) berarti hal itu menunjukkan bahwa dia tidak ada di dalam genggaman tangan Tuhan. Karena kalau ia bilang percaya, itu hanya mengaku-ngaku saja. Karena kalau iya, Tuhan akan kejar kemana pun, ke ujung dunia manapun Tuhan akan membawa kepada kepada pertobatan. Ingat cerita 1 domba yang hilang yang dicari gembala yang meninggalkan 99 domba lainnya. Jadi orang Kristen tidak bisa murtad. Keselamatan yang dimiliki orang Kristen itu sifatnya sempurna. Tidak bisa hilang, tetapi bisa compang-camping.

Q : Allah menetapkan sehingga  orang percaya lalu diselamatkan. Bagaimana kita tahu kita ditetapkan tidak? Setelah ditetapkan lalu percaya? Kalau begitu orang yang tidak kenal Yesus bagaimana?
A : Standar keselamatan adalah orang harus mendengar berita Injil. Bagaimana saya tahu bahwa kita adalah orang pilihan. Kalau sudah pernah mendengar berita Injil dan satu kali ditakhlukkan Injil dan berkata, “Tuhan ampuni dosaku.” Mau percaya kepada Tuhan dan buka hati , hari itu menunjukkan ia pernah diselamatkan. Predestinasi menuju kepada keselamatan. Kalau mendegar berita Injil tetapi tidak pernah berkata “Tuhan masuk hatiku”, maka Tuhan belum kasih kesempatan. Tetapi kalau saatnya tiba, engkau akan tunduk dan takluk kepadanya. Saat itu “Praise the Lord”. Predestinasi harus di dalam konteks Puji Tuhan. Orang yang sekarang sudah mendengar Tuhan Yesus.Sedangkan orang masa perjanjian lama mendengar berita tentang salib (Yesus belum datang). Baik Yesus belum datang atau sudah datang. Saat Yesus belum datang, mereka percaya nubuatan. Sedangkan orang Perjanjian Baru percaya penggenapan. Orang Perjanjian Lama mendengar nubuatan tentang Mesias (Yesus adalah Mesias). Sebelum Yesus datang, mereka ibarat melambai-lambai dari jauh , mereka menanti penggenanpan dari janji. iman mereka mengarungi waktu berabad-abad di depan. Iman mereka melihat ke depan sedangkan kita (orang-orang setelah kedatangan Tuhan Yesus) melihat ke belakang.Prinsipnya : sama. Ada yang mengatakan orang Perjanjian Lama menggunakan hati nurani sebagai standar. Padahal hati nurani sudah rusak.  Kita terima Yesus yang sudah datang, sedangkan orang perjanjian lama berdasarkan yang akan datang.

Q : Apa yang dimaksud dengan murtad?
A : Murtad menurut kitab Ibrani  Ibrani 2:1Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. 3:1 Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus (orang kudus = orang suci, orang-orang yang sudah percaya) , yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, 4:1  Sebab itu, baiklah kita waspada (be aware), supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku.
Mengapa timbul pasal 3 , 4 dan 6? Kalau orang itu murtad lagi bagaimana? Ternyata beda. Istilah murtad dalam konteks Ibrani, orang Ibrani  sangat bangga dengan tradisi Musa. Salah satu tradisi Musa : korban persembahan, sunat, tradisi-tradisi Perjanjian Lama. Mereka sangat bangga sekali. Kemudian orang Ibrani percaya kepada Kristus lalu suatu kali muncul guru-guru Taurat, yang berkata kepada mereka kamu percaya Kristus baik tidak salah, tetapi kamu jangan buang ketiganya. Kalau begitu bagaimana caranya? Sambil kamu percaya sambil praktekkan ini. Murtad kalau menengok ke belakang dan mengambil kembali ketiganya. Tidak ada kaitan (bersinggungan) dengan aspek keselamatan. Maka dikatakan waspada, hati-hati. FF Bruce, penafsir Perjanjian Baru mengatakan”Ini pendekatan aposteriori, sebuah pendekatan yang harus dikasih tahu dan peringatan iitu  tidak mungkin terjadi pada orang yang diberi peringatan”. Murtad jadinya Kristus plus ketiganya (mengambil yang lama berjalan bersama dengan Kristus). Tidak ada hubungan dengan keselamatan.

Q : Kemahatahuan Allah tentang keselamatan.Apakah Allah tahu siapa yang diselamatkan dan siapa yang tidak?
A : Allah pasti tahu orang-orang yang diselamatkan. Masalahnya kita yang tidak tahu. Ujung-ujungnya menyinggung sifat kemahatahuan Allah (Kita berkata, “Oh andaikata kita tahu orang yang dipilih, kita injili dia maka dia bertobat. Kalau tidak injili, orang itu akan masuk neraka”). Untung Tuhan tidak kasih tahu supaya kita bergantung pada Tuhan. Sedangkan Tuhan pasti tahu sehingga Ia akan mengutus utusan Injil untuk datang mengabari Injil sehingga ia diselamatkan. Saya punya rencana saat di sorga nanti, salah satunya saya ingin mencari orang yang memberitakan Injil ke saya (pembicara saat retreat lalu). Terakhir saya coba telusuri jejaknya, ia ada di Indonesia saat saya pelayanan di Yogya. Ia direktur dari MIF Asia Pasifik (Mission Aviation Fellowship). Ia ada di perwakilan di Indoneisa. Saya ingin bertemu dengan.  Kabarnya ia sudah kembali ke Filipina. Namun 5 tahun lalu saya mendengar dia sudah meninggal.  Dengan khotbah dia di retreat membuat saya bertobat. Masih ingat orang yang menginjilmu dan memperkenalkan Yesus kepadamu? Jangan lupakan orang yang membawa berita keselamatan kepada kita. Itu anugerah besar untuk kita. Saya juga ingin bertemu dengan Rasul Paulus dan Rasul Petrus. Tuhan pasti tahu. Untuk orang yang diselamatkan, Ia akan dikurung dan pasti bertobat. Ia akan bawa berita Injil agar orang itu mendengarnya dan bertobat.

Q : Kemahatahuan Allah tentang kejatuhan dalam dosa (Adam dan Hawa).
Kalau dipikir sumber semua masalah adalah Tuhan sendiri. Ia ciptakan Adam dan hawa dan dia kasih tahu bahwa semua pohon di taman ini boleh dimakan dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan yang di tengah taman jangan kamu makan karena kamu pasti mati. Harusnya jangan ciptakan pohon. Terus dikasih tahu lagi posisinya di tengah taman. Lalu diberi larangan (jangan dimakan). Ilustrasi : suatu kali pulang ke rumah dan melihat. Cukup kaget karena di gagang pintu ada tulisan ‘jangan intip’. Biasanya kalau larangan malah dilakukan (malah kita intip).  Lalu kalau Allah maha kuasa kenapa ada ular dibiarkan muncul? Jadi semua  sumbernya adalah Allah. Setelah jatuh dalam dosa, lalu diusir keluar taman Eden. Yang salah siapa yang tanggung siapa.
A : Free will harus dimengerti dalam konteks otoritas Allah.  Allah menciptakan mereka dalam peta dan teladan (gambar dan rupa Allah), Hal ini berarti Allah memetakan sedikit sifatnya pada manusia. Sehingga manusia tahu sifat kasih dan baik dari sifat Allah yag maha kasih dan baik. Bedanya Allah maha sedangkan manusia tidak. Juga tidak semua dipetakan. Salah satunya yaitu ketidakberubahan. Allah tidak berubah. Manusia berubah (dulu rambut hitam sekarang putih). Salah satu sifat Allah yang diberikan ke manusia adalah sifat moral yaitu sifat untuk mengatakan mana yang baik dan tidak (kalau kamu makan pasti mati). Manusia tahu aspek moral. Morality adalah aspek choices (pilihan). Aspek pilihan ini muncul, bagaimana pelaksanaannya melalui kecintaan mereka pada Allah maka mereka harus menjalankan pilihan. Sehingga kebebasan itu konsekuensi logis dari peta dan teladan Allah. Bila manusia peta dan teladan Allah tetapi tidak ada aspek moral, maka manusia menjadi robot. Harus ada aspek moral. Aspek moral menjelaskan komplit peta dan teladan Allah. Harus ada ujian berbentuk pilihan. Kamu makan maka kamu akan mati. Mereka mengerti ? Sangat mengerti tetapi belum alami. Tetapi justru mereka pilih untuk melawan Allah. Sejak kapan mereka berdosa? Mereka berdosa saat datang ke tengah taman? Berdosa saat mereka petik buah? Pada saat mereka mengunyah pertama kali? Saat mereka datang ke tengah taman menunjukkan mereka datang dengan motif  untuk mengambil dan memakan buah berarti sudah berdosa. Tetapi karena belum dilakukan berarti potential sin. Kalau sudah punya potensi tinggal tunggu waktu. Ini yang kitab Yohanes katakan keingin mata kalau sudah dibuahi menjadi dosa. Secara potensi mereka sudah jatuh. Itu sebabnya barang siapa memandang perempuan dan dalam hati sudah mengingini dalam hati, sudah berdosa.  Seorang laki-laki akan meninggalkan ayah ibunya dan bersatu dengan istrinya (bukan sebaliknya). Itu konsep kekepalaan (headship). Waktu Hawa jatuh, Adam ada di mana? Adam ada di samping Hawa. Hari itu Adam melepaskan hak kekepalaan. Perintah tidak boleh makan datang kepada Adam. Tetapi hari itu Hawa (coup de tat) mengambil otoritas Adam. Hawa mengambil alih posisi suami. Mengambil posisi suami maka istri membuka peluang setan masuk. Suami jelilah, jangan menanggung kesusahan istrimu sendiri karena engkau melepaskan hak kekepalaanmu. Kamu harus jadi bemper di depan istri karena istri mahluk lemah. Setan paling tahu : Jalan masuk yang ampuh dan mudah adalah melalui para istri. Kalau istri tidak cinta Tuhan dan marah kepada suami, hal ini sudah mirip Setan. Kepala hanya diberikan kepada Adam. Adam biarkan istri berjalan sendiri dan menanggung resiko. Lalu dia melihat Hawa mengambil dan memakan buah. Adam menanti-nanti apakah Hawa mati tidak. Ternyata Hawa tidak mati. Maka Adam pun ikut.  Ini konsekuensi logis sebagai peta dan teladan manusia untuk menunjukkan ketaatan , harus ada pilihan-pilihan. Waktu Yesus menebus kita, Dia menebus kepada blueprint penciptaan, diciptakan menurut gambar khalikNya. Itu sebabnya pilihan menunjukkan hal yang serius dalam hidup iman kita. Apakah kita mau taat atau tidak.

Q : Bagaimana dengan orang yang sakit jiwa? Bisa diselamatkan?
A : Kalau Allah maha kuasa, maka suatu kali Ia bisa merapikan kabel-kabel  yang korslet supaya ia bisa mengerti Injil dan menerima Yesus. Setelah itu korslet lagi. Ada seorang kawan yang melayani orang-orang mentally retarded, Saya pernah diajak pelayanan oleh dia. Saya pernah melihat orang yang mulut mencong dan iler-nya keluar sehingga saya mengambil handuk kecil untuk mengeringkannya. Hari itu 2 jam saya duduk untuk mengajarkan satu kalimat doa Bapa Kami selama 2 jam. Setelah itu dia bisa ngomong. Besoknya disuruh mengulangi ia lupa lagi (mulai dari enol lagi).Teman saya punya hati yang luas untuk orang seperti ini. Sekarang ia punya beberapa sekolah di Jakarta ini. Namnya Ibu Ingkan Mangundep. Orang-orang yang melayani seperti dia bisa dihitung dengan jari. Saya pernah ketemu dengan orang di pedalaman Kalimatan Timur. Anaknya cantik dan kembar. Masih kecil, manis dan matanya buta. Saya pimpin kebaktian natal mereka menyanyi. Saya menangis melihat mereka. Di tempatnya ini tidak ada sekolah, sehingga akhirnya diputuskan untuk mendirikan sekolah. Saya yang mengajar. Perlu untuk membuat sekolah bagi anak-anak  mentally retarded . Mereka perlu penerimaan yang penuh penerimaan, kasih dan empati. Tidak semua orang bisa melayani orang-orang seperti itu. Saya tidak punya hati seluas itu. Dua jam hanya untuk 1 kalimat doa Bapa Kami!

Q : Kalau bayi di dalam kandungan meninggal, masuk surga atau neraka?
A : yang pertama konsep predestinasi, apakah ia dipredestinasi atau tidak. Yang kedua konsep Family covenant, kalau kedua orang tua percaya kepada Kristus, maka ortu berani berharap anak itu diselamatkan (nubuatan tentang Yesus). Tapi tidak ada kepastian. Saya lebih memilik konsep  predestinasi karena ada kepastian. Covenant bicara tentang nubuatan tentang Kristus (konsepnya samar). Mungkin tidak seorang bayi dilahirkan baru? Anak kecil 5 tahun bisa bertobat menerima Tuhan Yesus? Anak ini belum mengerti. Saya akan layani anak 5 tahun dalam khotbah bertema “Anak yang Hilang”. Ternyata anak-anak itu menangis dan bisa mengerti firman Tuhan. Waktu ditanya siapa mau terima Tuhan Yesus, mereka dengan isak tangis menjawab,”Saya mau”. Anak kecil bisa jadi merupakan anak jenius. Jadi jangan memberi pengajaran yang tidak benar kepada anak kecil. Seperti : persembahan Habel diterima, sedangkan persembahan Kain ditolak tahu darimana? Karena asapnya lempang? Tidak ada pengajaran seperti itu. Kain memberi persembahan yang busuk-busuk? Memang Kain berani memberi persembahan yang busuk? Tidak berani. Bedanya Habel mempersembahkan dengan iman sedangkan Kain tidak. Habel mempersembahan yang paling baik untuk Tuhan. Belum tentu Tuhan terima persembahan yang baik, indah, ultimat belum tentu Tuhan terima kalau tidak sesuai dengan kehendakNya. Anak-anak bisa terima Tuhan Yesus. Bagaimana dengan batita? Bisa terima Tuhan Yesus? Bayi dalam perut bisa terima Tuhan Yesus? Di Alkitab, ada bayi yang terima Tuhan Yesus. Dua orang hamil tua bertemu, saat bayi Yohanes pembaptis bertemu dengan Yesus di dalam perut. Kalau Tuhan mau Dia bisa membuat bayi bertemu Tuhan Yesus. Tuhan itu humor tinggi.

Q : bagaimana dengan orang yang bunuh diri?
A : Orang bunuh diri, tidak diperkenan Tuhan. Tetapi Allah punya pertimbangan khusus untuk orang yang bunuh diri walau tetap salah. Tetapi kalau orang tersebut terima Tuhan Yesus, masuk surga. Tapi ada penghukuman untuk orang yang bunuh diri. Ada kepicikan yang dibuat manusia. Saya mendengar cerita dari Pdt. Stephen Tong. Saat penjajahan Jepang di Tiongkok. Ada sebuah keluarga yang mempunyai 2 gadis yang percaya Yesus dimasukkan ke penjara. Di pengadilan mereka ditanya, apakah mau menyangkal atau tidak. Kalau tidak mau menyangkal mereka akan ditelanjangi, dibawa keliling desa (dipermalukan) baru dihukum mati. Akhirnya malam sebelum diekesekusi mereka bunuh diri.  Mereka orang Kristen. Tindakan Allah tidak tergantung dari kebodohan manusia. Allah pasti tidak berubah. Selamat tetap selamat. Kebodohan pasti ada hukuman tetapi tidak mengubah keputusan Allah mengenai keselamatan. Percaya Tuhan Yesus tidak mengubah apapun juga. Yudas, diberikan label anak durhaka. Yudas di surga atau di neraka? Dosanya Petrus tidak kurang dari Yudas. Bedanya : hanya yang satu dapat kesempatan, satu tidak. Satu dipulihkan dan satu dibiarkan. Apakah Tuhan mati untuk orang yang tidak diselamatkan?

Thursday, March 9, 2017

Perbedaan Doktrin Keselamatan Menurut Arminian, Lutheran & Calvinis (Tiranus IX) Sesi 1


Pdt. Tommy Matakupan

Prinsip Alkitab (biblika) tentang keselamatan.

1.    Pengertian

Ada banyak pengertian tentang keselamatan. Pengertian seperti apa? Di Alkitab juga ada kata “diselamatkan dari bahaya, kelaparan , musuh atau kematian”. Jadi istilah keselamatan dipakai dalam banyak arti (konteks). Yang dimaksud dengan keselamatan dalam sesi ini adalah keselamatan jiwa manusia dari penghukuman kekal dari Allah. Keselamatan kekal ini adalah keputusan tetap dari Allah sendiri. Allah yang ambil keputusan dan membuat perencanaan jauh sebelum ide tentang keselamatan muncul dalam pikiran manusia dan menjadi objek perdebatan dari logika manusia.

Dasar Alkitab :

-        Efesus 1:3-4 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
Ada kata “Allah memilih kita jauh sebelum dunia dijadikan”. Konsep ini adalah konsep kekekalan dalam pikiran Allah. Implikasinya adalah Allah tidak membutuhkan penasehat, siapapun dia, untuk memberitahu Allah bahwa kita harus diselamatkan. Jangan merasa seseorang dapat mengangkat diri menjadi seorang penasehat Allah. Kalau ada yang berkata bahwa ada baiknya Allah berbicara keselamatan harus mengikuti konsep ini...itu. Karena berarti Allah punya konsep keselamatan tapi kurang sempurna adanya sehingga saya perlu memberikan masukan. Misalnya ada yang berkata, “Kalau Allah maha kasih, maka Dia harus menyelamatkan manusia tanpa kecuali (ini sifat kasih Allah).” Dengan perkataan ini seakan-akan rencana Allah kurang punya aspek empati. Dia merasa lebih punya empati dari Tuhan. Atau “memang baik rencana Allah tetapi ada celah. Seharusnya semua manusia harus diselamatkan tanpa kecuali.” Ide ini muncul, karena ada orang yang merasa ada bagian yang kurang. Ada orang yang saya kasihi (seperti orang tua, saudara dll) tetapi waktu meninggal karena tidak percaya Yesus maka ia tidak masuk ke sorga. Karena di luar Kristus tidak ada keselamatan. Mengapa mereka harus dihukum oleh Tuhan? Jadi seakan ia ingin mengatakan bahwa Allah kurang kasih. Kasihku lebih besar dari kasih Allah. Alkitab berkata, “sebelum di dunia dijadikan” artinya sebelum ada ruang dan waktu sudah ada ide tentang keselamatan. Semua ketetapan sudah sempurna adanya. Tidak perlu direvisi atau diedit.

-        Keselamatan itu adalah pilihan Allah. Allah memilih.  Lihat 2 Tes 2:13. Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai. Allah memilih kamu dari mulanya untuk diselamatkan. Kis 13:48. Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya. Konsep ini memang tidak enak didengar telinga. Tetapi Alkitab mencatat bahwa Allah memilih. Kita tidak bisa memilih. Pada waktu bertobat, Tuhan aku mau menerima Engkau. Apakah ini berarti kita memilih? Seakan-akan kita yang memilih. Tetapi Alkitab bilang, Allah yang memilih. Jadi bagaimana dengan saya? Ini menjadi perdebatan besar yang tidak habis-habisnya. Keselamatan itu karena Allah sendiri atau manusia yang pilih.

Perdebatan ini terus berlangsung sampai kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Siapa yang pilih? Kalau Allah yang pilih pada kenyataannya aku berkata, “Aku yang memilih untuk Tuhan masuk ke dalam hatiku. Ampunilah dosa-dosaku” Titik temunya di mana? Semua kita pernah memilih. Misal memilih baju , sepatu dll. Kata ‘memilih’ memiliki konotasi ‘tidak semua’. Tidak semua karena banyak pertimbangan misal : minat, keinginan,kebutuhan dll. Kita bisa salah memilih. Waktu browsing di internet, kita merasa baju ini cocok lalu pesan via online. Sampai di rumah. “Badanku dulu tidak begini, sekarang tak cukup lagi”, rasanya bagus. Jangan lupa gambar yang dimunculkan di online adalah model yang ukurannya ideal. Banyak sekali kita salah pilih. Tetapi herannya memilih Tuhan itu benar! Ternyata untuk urusan keselamatan kita memang dan harus tergantung dan mengakui sepenuhnya bahwa itu adalah pernyataan pilihan Allah. Memilih berarti tidak semua. Berarti ada orang yang Tuhan tidak selamatkan yaitu mereka yang tidak percaya pada Tuhan Yesus. Ada seorang teolog dari Katolik, Karl Rahner (1904–1984), penggagas Anonymous Christian yang mengatakan “Sebenarnya Kristus juga ada dalam kepercayaan yang lain tetapi namanya bukan Yesus.” Ada orang percaya tetapi karena pendiri kepercayaan bukan bernama Kristus, maka ia diselamatkan karena pendirinya Kristus dalam nama lain. Orang itu yang disebut Anonymous Christian (orang Kristen yang tanpa nama). Konsep ini  ingin mencetuskan universalisme dalam keselamatan. Dalam Islam diwakili oleh Muhamad, Budha diwakili oleh Gautama, ada juga Hinduisme. Juga Taoisme, Konghucu yang tidak punya kitab suci (hanya kumpulan kebijaksanaan dari pikiran manusia). Mereka tidak punya konsep wahyu yang diberikan Allah kepada manusia.

Bagaimana dengan orang yang tidak percaya kepada Kristus? Masa waktu meninggal dihukum oleh Tuhan? Ide tentang pilihan adalah sesuatu hal yang jelas sekali dinyatakan dalam firmanNya. Pilihan itu diletakkan sebelum dunia dijadikan.

2.    Sarana Keselamatan (Keselamatan adalah Pekerjaan dari Allah Tritunggal)

Keselamatan adalah pekerjaan dari Allah Tritunggal.Ketiganya berperan (Allah Bapa , Anak Dan Roh). Pekerjaan Allah Tritunggal 1 Petrus 1:2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.
Kita dipilih oleh Bapa sesuai rencanaNya, dikuduskan oleh Roh supaya taat kepada Yesus Kristus. Idenya : Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Allah Bapa memilih di dalam kekekalan (di sini manusia belum memperoleh keselamatan). Allah Anak mati di kayu salib untuk menebus manusia. Allah Roh Kudus mengaplikasikan pekerjan penebusan Kristus sehingga semua orang yang dipilih Allah menemukan kenyataan keselamatan.  Jadi definisi orang Kristen dalam hal keselamatan : orang-orang yang mengalami pekerjaan Allah Tritunggal di dalam kehidupannya sehingga mereka mendapat keselamatan, jadi bukan pekerjaan Allah Anak saja tetapi juga Allah Bapa dan Allah Roh Kudus.

Di dalam urutan Allah Tritunggal pada 1 Petrus 1:2 ada yang aneh? Urutannya yang tidak lazim : Bapa, Roh dan Yesus (biasanya Bapa, Anak dan Roh). Mengapa Petrus membaliknya? Petrus tidak lupa. Bedanya di mana? Waktu bicara tentang penggenapan rencana keselamatan, maka urutannya Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Bapa mengutus Anak. Lalu Anak mengatakan kalau Aku pergi, Aku akan mengutus Roh Kudus yang menyertai manusia selama-lamanya. Ini urutan penggenapan rencana keselamatan. Tetapi apa yang dikatakan Petrus adalah aplikasi keselamatan maka urutannya Allah Bapa, Allah Roh Kudus dan Allah Anak. Dasarnya apa? Apakah semua orang di segala tempat dan sepanjang zaman bisa melihat aspek ini? Kalau bicara tentang Kristus di kayu salib, kita tidak pernah melihat sama sekali, tetapi bagaimana kita mengatakan Aku menemukan Yesus Kristus? Itu adalah pekerjaan Allah Roh Kudus. Allah Roh Kudus pertama-tama menghidupkan rohani yang mati, lalu Ia mencondongkan kerohanian tersebut kepada Allah (dan Kristus secara khusus) kemudian memberikan kesempatan agar orang tersebut percaya kepada Kristus. Efesus 2:1-2  Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.  Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Orang yang tidak percaya kepada Kristus aadalah orang yang hidup dalam kematian rohani. Ayat 1-2 menjelaskan kondisi orang yang belum percaya (orang di luar Kristus), lalu bagaimana agar ia bisa memperoleh kehidupan? Ayat 4 Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita,telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita  —  oleh kasih karunia kamu diselamatkan  — Paulus mengatakan bahwa orang mati (rohani yang mati) dihidupkan kembali oleh karena pekerjaan Kristus. Lalu Dia mencondongkan kepada Allah. Dia arahkan kepada Allah. Ada cerita tentang penjual kain ungu dari Tiatira yakni Lidia (Kis 16:14-15). Tuhan membuat dia memperhatikan khotbah dari Rasul Paulus. Tadinya ia tidak memperhatikannya. Tuhan membuat Lidia memperhatikan / condong hatinya kepada khotbah Paulus untuk percaya kepada Kristus. Di sinilah kita menemukan anugerah adalah 100 % pekerjaan Allah. Jadi aku memilih Tuhan karena Tuhan telah terlebih dahulu memilih aku (Tuhan condongkan hati kepada Dia). Alkitab mengatakan,Ia (Yesus) datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya (Yoh 1:11). Pada orang percaya Allah mengubah arah hati dan percaya kepada Kristus. Dia kasih kita kesempatan untuk menerima dan percaya Yesus Kristus. Dia kasih kemampuan dan kekuatan untuk mengatakan “Aku mau menerima Tuhan Yesus”. Ada orang yang terpesona kepada pekerjaan Kristus, tapi tidak sampai kepada keselamatan. Nurcholish Masjid bercerita tentang kekristenan secara sejarah  (bicara tentang Luther, Calvin dan lain-lain) Dia membaca buku rohani Kristen dengan baik dan ia bicara tentang segala macam doktrin keselamatan dari kekristenan. Bagus benar, ciamik dan tepat. Tidak heran karena dia memang pintar. Tapi apakah dia diberi kesempatan untuk percaya kepada Tuhan Yesus? Kalau tidak beri kesempatan walau punya pengertian paling bagus takkan dapat keselamatan. Saya berharap bertemu Nur Madjid di sorga karena ia punya pemikiran bagus tentang kekristenan, Yesus dan karya Kristus di kayu salib. Saya berharap ia punya kesempatan. Tapi sebaliknya ada orang yang tidak pernah duduk di kelas Tiranus, tetapi ia punya doktrin kristology yang dihargai Tuhan dan Yesus berkata hari ini juga kamu bersama-sama aku di Taman Firdaus. Di sini Yesus bicara mengenai kesempatan.

Kapan kesempatan diberikan kepadamu? Bisa sebutkan tanggal tertentu? Kalau ditanya kepada saya jawabannya tanggal 8 Oktober 1983 pk 20.30 di Villa dekat Gudeg bu Tjitro , Cimacan saya angkat tangan dan mengatakan, “Di sini saya Tuhan” dan airmataku bercucuran. Hari itu saya menerima Yesus Kristus. Hari itu saya masih siswa kelas 3 SMA , merasa senior dan duduk paling belakang. Saya sesuaikan gerakan tubuh saya dengan orang paling depan sepertinya saya mau bersembunyi . Sehingga saya ikuti kemana pun tubuhnya bergerak. Tetapi hari itu ada tantangan “Siapa yang mau menerimaNya?” Kalau saya angkat tangan, adik kelas akan melihat kakak kelas bertobat, pasti malu benar. Tetap pembicaranya berkata lagi,”Ada seorang pemuda yang bersikeras hati” Dalam hati saya berkata, “Kok tahu?” Pembicara itu terus berkata,”Saya akan tunggu siapa yang mau menerima Tuhan Yesus, angkat tangan.” Akhirnya seolah-olah saya berkata dalam hati,”Tuhan saya tidak bisa bersembunyi lagi.” Akhirnya Tuhan menemukan saya. Hari ditahbiskan jadi pendeta , khotbah sulung saya dengan tema “Anugerah Mengejar” diambil dari Yesaya 42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya. Salah satu ilustrasi yang saya pakai , saya berkata,”Tanya kepada perempuan Samaria , di mana Tuhan menemukannya?” Tanya kepada pemuda itu dimana Tuhan menemukannya? Di Villa dekat Gudeg Ibu Tjitro. Hari itu saya percaya Yesus. Tuhan mencondongkan hati orang tersebut, untuk menggunakan kesempatan. Kalau tidak dikasih kesempatan jangan harap orang itu mendapatkan keselamatan. Keselamatan adalah pekerjaan Tritunggal.  Urutan ini berlaku , pekerjaan keselamatan Allah Tritunggal pada orang Kristen di segala tempat dan segala abad. Bapa menetapkan, Anak menggenapi dan Roh Kudus membuat realita keselamatan menjadi nyata dalam hidup setiap orang percaya.

Q & A

a.     Apa implikasi “jangan keraskan hatimu” terkait dengan keselamatan?
Ada istilah “jangan keraskan hatimu” seperti pada Ibrani 3:15 Tetapi apabila pernah dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman,". Apakah Roh Kudus yang mengeraskan hati? Waktu Firaun mengeraskan hati, itu adalah proklamasi. Sebelum ditegur Allah, Firaun mengeraskan  hatinya. Tetapi di bagian lain (Ibrani 3:15) jangan keraskan hatimu pada hari keselamatan itu. Saat mau bertobat, momen (waktu) nya tiba apa kita langsung mau bertobat dan menerima? Biasanya tidak. Gengsi kita besar sekali. Kita sering menolak. Namun apakah kita bisa menang atas pekerjaan Roh Kudus? Tidak! Roh Kudus akan taklukkan. Mau adu kuat-kuatan? Dia akan menaklukkan kita. Waktu pimpin KKR, saat altar call saya sampaikan, “Kalau hari ini kau tetap keraskan hati, engkau tidak akan kuat melawan Tuhan. Sebelum engkau takluk, hidupmu tidak akan pernah fulfil. Sebelum serahkan hidup kepada Tuhan, maka hidupmu tidak akan penuh kebahagiaan.” Kalau sudah waktunya Tuhan , kita tidak akan kuat. Mau adu kekuatan, silahkan tetapi kita tidak akan pernah menang. Jadi bila dalam penginjilan pribadi, ada yang berkata, “Nanti ya saya coba pikirkan lagi.” Sayaa tidak akan menggunakan metode khotbah kepadanya. Maka saya katakan, “Saya menghormati keputusanmu, tetapi saya akan tunjukkan kepadamu kalau saat itu tiba engkau harus bagaimana.” Saya ajarkan bagaimana doa menerima Tuhan Yesus karena ada orang yang sombong, dia mau doa dipimpin. Nanti waktu kita pulang dia akan berdoa sendiri,”Tuhan kalau Engkau benar, tolong ampuni saya”. Ini mengajar kepada saya, “Only Him, not me”.

Roh Kudus menghidupkan yang mati dan memberi kesempatan.
Hari di mana saat salah seorang penjahat berkata, "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Ini perkataan yang tidak berasal dari ajaran (dia dapat darimana?). Dia tidak punya kesempatan untuk belajar. Dia punya ide itu , itu adalah pekerjaan dari Roh Kudus. Sebab Alkitab mencatatnya begitu.  Kristologi yang jitu sekali. Ia bicara tentang kebangkitan. Saya membayangkan sebagai Guru SM saat mengajar balita. Pas mati , Ia masuk surga. Malaikat terkejut waktu Yesus datang. Yesus datang dengan siapa? Waktu Yesus mati masuk surga. Ia jalan sendiri, ia menggandeng seseroang . Para malaikat berbisik-bisik. Itu buah sulung penebusan. Orang yang mati (penjahat) di kayu salib merupakan buah sulung penebusan. Tidak ada dosa yang tidak mungkin Yesus tebut. Orang disalib dikutuk oleh Allah, jadi jangan katakan, “Dosaku terlalu banyak, tidak mungkin Tuhan terima.” Alkitab berkata "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancurhati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." (Mazmur 51:19). Stephen Tong mengatakan arsietek-arsitek  dunia membangun dengan material paling bagus, tetapi Tuhan membangun bangunan kerajaanNya dengan jiwa-jiwa yang hancur dan hati yang remuk.

b.     Dosa yang tidak diampuni adalah menghujat Roh Kudus (Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal."- Markus 3:29 dalam perikop Yesus dan Beelzebul). Hari itu Yesus menyembuhkan yang buta dan tuli. Ternyata ada banyak orang Farisi yang melihatnya dan berkata Ia menyembuhkan dengan kuasa Beezebul (penghulu Setan). Yesus menjawab keberatan itu dengan perumpamaan, Tetapi tidak seorangpun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu (Markus 3:27). Yang kedua, Yesus berkata kalau setan berperang melawan setan bagaimana kerajaannya bertahan? Lalu ia mengatakan barangsiapa menghujat Anak dia akan diampuni, tetapi barang siapa menghujat Roh Kudus ia tidak akan diampuni baik di dunia sekarang maupun dunia yang akan datang. Bagaimana sikap orang Farisi terhadap Yesus? Mereka benci (tidak suka). Peristiwa ini terjadi sebelum Yesus disalib. Dosa terhadap Anak Manusia akan diampuni (ini menjelang di depan), tetapi orang yang menghujat Roh Kudus tidak akan diampuni. Roh Kudus muncul setelah Tuhan Yesus mati di kayu salib. Ia (Roh Kudus) bersaksi tentang Yesus. Maka menghujat Roh Kudus berarti menolak kesaksian Yesus di kayu salib. Menghujat Roh Kudus berarti menolak Yesus. Banyak orang Kristen sekarang takut berkata menghujat Roh Kudus. Meragukan sesuatu sebagai pekerjaan Tuhan, itu dosa tidak? Tidak. Meragukan pekerjaan Tuhan (masa itu pekerjaan Tuhan?) tidak dosa. Alkitab memberi prinsip : 1 Yohanes 4:1 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Yohanes menulis ayat ini dan diinpirasi oleh Roh Kudus. Roh minta Yohanes untuk menuis, “Jangan percaya pada setiap roh”, maka kalau percaya kepada setiap roh berarti melawan ayat ini.

Kritis dan kritik tidak dosa. Yesus juga mengkritik dan menghakimi. Kalau berkata jangan mengkritik dan menghakimi berarti kita melebihi Yesus. Yesus menghakimi. Jadi ada yang boleh menghakimi dan ada yang tidak boleh. Kalau membawa dia dengan jujur dan tulus ingin membawa seseorang kepada kebenaran itu diperbolehkan. Kalau anak melakukan kesalahan, apakah kita tidak boleh menghakimi. Menghakimi  bila melihat dengan benar dan membawa kembali orang kepada kebenaran, silahkan. Hal ini berbeda dengan anggapan “Jangan utak-atik orang yang diurapi Tuhan”.  Hal ini dianggap sebagai penistaan.  Menghujat Roh Kudus berarti menolak kesaksian Roh Kudus tentang Yesus.

3.     Perdebatan tentang Keselamatan

Problema yang muncul : kesalamatan itu pekerjaan Allah (monogeistik) atau hasil kerjasama (sinetik) antara Allah denga manusia?. Perdebatan muncul karena perbedaan antara “Doktrin Pilihan” dan free will (kebebasan kehendak manusia). Dalam aspek sejarah, ini bukan problem yang mudah dan sudah beratus tahun terjadi dan terus berulang perdebatannya sampai sekarang.

a.     Agustinus vs Pelagius
Menurut Agustinus pada awal gereja berkata,”Keselamatan itu mutlak pekerjaan Allah.” Keselamatan itu pemberian. Setelah memberontak kepada Allah manusia jatuh dalam dosa yang kemudian dosa ini diturunkan turun temurun kepada setiap manusia sehingga setiap orang berdosa karena turunan dari Adam.
Pelagius : manusia memiliki kehendak bebas. Dosa tidak bersifat turunan melainkan personal. Saat seseorang pertama kali berdosa, ia sama persis seperti pertama kali Adam berbuat dosa. Sehingga dosa tidak bersifat turunan. Momen pertama berdosa sama dengan pertama kali Adam berbuat dosa. Maka ia sangat menolak aspek dosa turunan lalu ia mengembangkan aspek kebebasan kehendak. Hal ini berarti kalau aku tidak mau , maka tidak ada ‘cerita’ kelanjutannya.  Anugerah itu diberikan oleh Allah dari atas, kalau aku menyambut aku akan menerimanya. Kalau menolaknya maka anugerah tinggal menjadi anugerah.
Perdebatan ini berlangsung terus sampai mereka meninggal. Pertama-tama gereja menerima ajaran Pelagius. Ajaran Agutustinus dianggap aneh.  Ajaran Pelagius dianggap lebih human-being. Masa kita bertanggung jawab atas dosa yang tidak pernah kita perbuat? Kita harus bertanggung jawab sendiri atas dosa yang dibuat. Ini ajaran resmi dari gereja. Ketika mereka berdua meninggal, maka diganti. Ajaran Pelagius ada yang meneruskannya yang dinamakan ajaran semi-Pelagius. Dosa adalah dosa, tetapi dosa itu bukan warisan, tetapi karena musibah penyakit. Dosa adalah penambahan pengetahuan yang baik daripada yang jahat. Pada waktu saya tahu yang baik dan jahat seperti apa, itu dosa. Dosa itu bukan turunan. Dosa tidak menyinggung aspek yang lain tetapi karena lingkungan, penyakit dari masyarakat (pergaulan ayng buruk merusak kebiasaan yang baik. Itu awal mula dosa.).Ajaran ini pernah jadi ajaran resmi gereja. Ajaran Agustinus sendiri terpendam, walaupun ada tetapi disimpan dalam gudang gereja. Lalu berlanjut dalam sejarah gereja ada perdebatan lain.

b.     Martin Luther & Desiderius Erasmus (dua raksasa besar dalam sejarah gereja).
Luther menggali kembali dan menemukan ajaran Agustinus. Melalui pergumulan rohani  untuk bisa diterima oleh Tuhan, dia beranjak dari doktrin Allah bahwa Allah yang mengadili (justify). Ia begitu takut sekali dengan Allah yang mengadili sehingga ia sampai setiap hari harus mengaku dosa. Setelah mengaku dosa, lalu keluar. Begitu sampai pintu luar , merasa berdosa lagi lalu masuk lagi minta ampun. Hal ini terus berlangsung. Dia begitu takut sekali dengan Allah yang menghakimi. Ini dimulai waktu jauh sebelum dia merasa kali pertama Tuhan memanggil dia. Ia awalnya memberontak (tidak mau) terus, sampai dalam perjalanan melewati badai, ada petir yang menyambar dia sembunyi sehingga akhirnya dia mau jadi biarawan. Ia merasa dia dikejar Allah melalui petir. Sejak itu Allah yang menghakimi menghantui pikirannya. Ini mempengaruhi dasar dalam ia mengembangkan teologinya. Kemudian ia merasa susah hati karena gereja dipenuhi korupsi para rohaniawan yang menjual kerohanian untuk mendapat keuntungan (sampai ia geleng kepala dan begini toh yang namanya imam). Dalam kondisi seperti itu, ia merasa dapat belajar sesuatu di Vatikan sehingga ia pergi ke Vatikan. Tetapi para imam melakukan korupsi, berjinah dan tidak melakukan hal yang sepatutnya. Ia merasa hal ini tidak benar. Lalu ia pulang ke kota asalnya, dan mempelajari Alkitab lagi, sampai menemukan bahwa apa yang diajarkan para imam itu salah besar sekali. Saat itu ajaran para imam yang terkenal adalah Surat Pengampunan Dosa. Slogannya : semakin banyak koin yang berdencing di kotak persembahan (jemaat semakin banyak memberi psembahan) maka semakin banyak jiwa yang keluar (diselamatkan). Sampai sekarang ajaran itu masih banyak. Berarti hanya orang kaya dan keluarganya yang bisa diselamatkan. Sampai Luther menemukan doktrin keselamatan dari Roma 1:16-17. Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman." Ini momen yang mengeluarkan dia dari kekopongan rohaninya. Kita dibenarkan karena dari iman menuju kepada iman. Ini salah satu warisan (heritage) besar gereja. Kita punya iman karena Allah memberi iman. Orang berdosa tidak memiliki iman. Kamu mati dan hidup di dalamnya. Dia bisa punya iman, karena diberikan Allah sehingga memungkinkan ia punya iman kembali kepada Allah (from faith to faith). Iman itu kepunyaan Allah. Ia dihidupkan, dicondongkan dan  diberi kesempatan. Jadi jangan Ge-er dahulu karena iman itu kepunyaan Allah (bukan punya kita). Pada waktu Tuhan menghidupkan , mencondongkan, memberi kesempatan, maka pergunakan momen itu. Kita bisa gunakan momen itu juga karena Tuhan desak supaya Aku mau. From Faith to Faith. Karena kesedihan Luther melihat kondisi kerohanian jemaat yang amburadul dan banyak hal yang tidak sesuai firman Tuhan (iman Kristen), maka dia mencetuskan 95 dalil. Jadi Luther memakai cara bertarung (fight).
Erasmus memiliki pikiran yang sama dengan Luther. Ia juga mempunyai kesusahan sendiri. Ia sedih melihat para iman yang hidup dalam kondisi rohani yang berantakan. Ia ingin mengembalikan gereja pada ajaran kebenaran. Ia juga reformator. Ia ingin mengembalikan gereja pada ajaran yang benar. Luther pakai cara keras (I fight), sedangkan Erasmus menggunakan cara yang friendly. Ia melakukan dialog teologi dan ingin mengembalikan pada ajaran murni Alkitab. Tapi sejarah berkata bahwa cara itu tidak pernah bisa berhasil. Luther berkata ke Erasmus, “Kamu terlalu lembut.” Mereka berdua saling menghormati. Karena sistem sudah berurat akar sekian tahun lamanya, tidak bisa memakai cara lembut. Jadi keduanya orang reform. Mulai hari itu gereja mulai sadar ada sesuatu yang terjadi dan gereja terpecah menjadi 2 bagian yaitu gereja reformasi dan arus gereja Katolik yang lama. Perdebatan ini berlangsung ratusan tahun, namun  kita melihat bagaimana Allah memelihara gerejaNya.

c.     Calvin dan Yakobus Armenius
Calvin bertolak dari konsep dari Allah adalah Allah yang kasih. Maka muncul istilah predestinasi. Allah sudah menentukan dari semula orang-orang yang akan diselamatkan. Dia mengikuti aliran Luther. Armenius juga orang reform. Dia juga punya pikiran yang sama dengan Calvin ingin membangun ajaran gereja yang benar. Mereka juga saling menghormati.
Saat Armneius meninggal ada orang yang mencetuskan ajaran lain, yang disebut sebagai kelompok yang mengajarkan bahwa Allah menetapkan orang untuk dihukum (dipredistinasikan untuk dibuang ke neraka). Padahal itu tidak diajarkan oleh Armenius.

Dipredestinasikan oleh Allah .
Dalam perdebatan ini gereja menentukan mana yang menang. Suatu lagi ditentukan Pelagius yang menang. Setelah Paus ganti , Agustinus yang menang atau Luther yang menang. Saat itu Erasmus menang, Luther dibuang (diekskomunikasikan). Bolak-balik begitu terus. Calvin waktu mengajarkan tentang reformasi ia dibuang dan dikucilkan gereja dan dianggap tidak medapat ‘keselamatan’ yang ajaran saat itu ditentukan oleh gereja (di luar gereja tidak ada keselamatan). Pengajaran saat itu keselamatan berdasarkan pengajaran di dalam gereja. Hal ini benar kalau kalau gereja mengajarkan ajaran Yesus Kristus. Tetapi dalam konteks saat itu, lebih pertimbangan politik. Karena Paus tidak suka, maka kamu dikucilkan dan dibuang sehingga tidak akan mendapat keselamatan. Sehingga Calvin mengutip ayat di Alkitab “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku” (Maz 27:10). Ayat itu menjadi ayat yang kokoh dalam ajaran predestinasi. Armenius mengatakan kita harus punya free will (kebebasan kehendak). Anugerah Allah memang diberikan kepada manusia. Tetapi manusia punya hak untuk menerima atau menolak. Ia mengadopsi pikiran itu dan mengembangkan pikiran lain yaitu apa yang dikenal sebagai anugerah pendahulu di dalam hidupnya. Anugerah itu memungkinkan ia memilih Tuhan. Jadi Tuhan kasih sesuatu dalam dirinya. Anugerah ini miliknya sendiri. Selanjutnya saya mau terima atau tidak. Sama konsepnya dengan free will, aku mau terima atau tidak.

Ada ilustrasi gambar tangan orang tenggelam yang ditolong oleh tangan yang lain. Gambar ini sering digunakan sebagai ilustrasi tentang keselamatan.  Ini bukan ajaran keselamatan Alkitab. Orang yang tenggelam ini masih hidup dan punya kekuatan sehingga tangannya naik dan mencari pertolongan dari atas. Kalau di atas menemukan, ia masih bisa menggenggamnya. Padahal Alkitab berkata bahwa orang ini mati. Jadi harusnya tangan yang dari atas sudah masuk ke dalam air dan menemukan tangan yang sudah lunglai di dasar. Gambar pertama adalah aplikasi dari pikiran Pelagius, Armenius dan Erastus dengan ide tentang free will.

Ada juga yang memakai ilustrasi : Yesus berdiri di muka pintu dan mengetuk. Wahyu 3:20. Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya. Dorongannya : bukalah pintu hatimu dan Tuhan akan mendapatkannya. Ini ajaran Alkitab tetapi ilustrasi bukan itu. Ayatnya jangan dipotong sampai kata “mendapatkannya” padahal ada terusannya “dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”. Itu penting. Ini merupakan inti dari ayat Wahyu 3:20. Kalau dipotong ini penistaan.  Ini adalah surat ke jemaat Laodikia. Orang Laodikia sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Dikatakan mereka tidak dingin dan panas alias suam-suam kuku. Orang-orang ini kehilangan persekutuan dengan Tuhan Yesus. Mereka sudah percaya. Aku akan masuk mendapatkannya dan aku akan makan bersama-sama dengan dia. Ini harus mengerti konsep Perjanjian Lama. Bila seorang tuan rumah membukakan pintu rumah , mengundang orang datang dan membuka meja untuk makan, berarti tuan rumah menjaminkan nyawanya untuk keselamatan (nyawa) tamunya. Hal ini bisa dilihat pada cerita Lot yang menawarkan anak-anak perempuannya sebagai ganti tamunya setelah orang-orang ingin memakai tamu Lot. Lot mau menukar nyawa tamu dengan nyawa anak-anaknya. Dia menjamin. Kalau membuka meja untuk keselamatan tamu maka aku jadi jaminannya. Persekutuan itu untuk memberi sebuah jaminan. Nyawaku menjadi jaminan. Aku makan bersama mereka, menemukan kembali persekutan dan jaminan keselamatan. Laodikia sudah percaya tapi tidak yakin akan keselamatan. Jadi ayat ini untuk orang percaya. Aku menjadi jaminan bagimu. Pada waktu Tuhan Yesus buka meja waktu perjamuan terakhir, Ia mengundang Yudas tetapi ia mengangkat kaki dan menaruhnya di wajah Yesus. Setelah Yudas keluar, roti dan anggur baru dipecah dan dibagikan. Itu spesifik karena hanya umat tebusan saja. Tidak bisa dikatakan ini tindakan rutin dalam sebuah acara gereja. Waktu perjamuan kudus, pengulangan dari jemaat di Laodikia. Keselamtan sudah dijamin oleh Kristus. Jadi ayat ini bukan ayat penginjilan, tetapi untuk rededikasi.

Untuk penginjilan gunakan Roma 10:9,13 siapa yang diutus.  Roma 10:9 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Dan Roma 10:13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Kedua ayat ini lebih cocok untuk penginjilan. Wahyu 3  untuk orang yang sudah percaya tapi suam-suam kuku.

Ini belum menyelesaikan problema tentang free will. Terserah aku, kalau aku menerima, anugerah jadi anugerah. Tetapi bila tidak menerima, maka Tuhan tidak bisa apa-apa. Karena aku punya free will. Luther menolak istilah free will tetapi mengunakan istilah bondage of the will menolak tulisan Erasmua. Kebebasan kehendak manusia terbelenggu oleh dosa. Karena terbelenggu maka tidak punya kemauan untuk tidak berbuat dosa. Lalu dibalas oleh Erasmus yang menulis On the free will.
Untuk free will ada 2 statement yaitu :
- aku bebas, sehingga bisa melakukan segala sesuatu yang aku mau.
- aku bebas maka aku bisa memutuskan untuk tidak melakukan segala sesuatu yang saya tidak mau. Bisa menahan keinginan , bebas.
Pada pernyataan kedua lebih tinggi karena ada aspek ‘tidak’. Bila ada kata ‘tidak’ punya keinginan untuk tidak melakukannya. Pengguna narkoba akan terus memakainya kecuali dia katakan kata tidak. Ini asing dan tidak disukai.

Antara taat dan tidak taat lebih susah taat. Kata tidak itu asing. Kita dekat dengan kata tidak. Alkitab seringkali menggunakan kata ‘jangan’. Kata jangan punya sisi yang positif. Kata “Jangan” itu  positif untuk kebaikan. Kita tidak merasa familiar. Jangan seakan menjadi belenggu dan tidak bebas. Maka dikatakan “jangan”. Salah satu tingkat kerohanian, bagaimana kita bisa bermain dengan kata ‘tidak’. Kebebasan rohani, kita suka dengan kata ‘tidak’. Aku bebas sehingga bisa putuskan untuk tidak menggunakan kata yang tidak aku mau. Kalau aku punya free will, apakah berarti bebas melakukan apa yang dilakukan? Itu bukan bebas tetapi belenggu. Apakah manusia pernah berada di dalam posisi sungguh-sungguh free? Sebelum Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka berada di posisi Allah (karena melakukan perintah Allah). Setelah berdosa mereka berada di posisi iblis? Salah. Mereka tetap di posisi Allah. Ia kepunyaan Allah. Manusia tidak pernah berada di posisi iblis. Dia tetap ada di bawah Allah (di posisinya Allah). Tetapi posisinya sekarang melawan Allah. Iblis tidak punya hak apapun bahwa manusia kepunyaannya. Misal : Ada jemaat yang memakai motor ke gereja dan memarkirnya di tempat parkir. Tiba-tiba ada teman yang pinjam motornya karena sakit. Ternyata motornya hilang. Ia mulai pikir, dan mengingat-ingat lalu merasa yakin tempat di mana ia parkir motornya. Lalu tanya satpam di depan. Satpam bilang yang mana? Yang dijawab,”Itu yang saya parkir di sini.” Singkat cerita motornya dicuri. Sementara Gideon panas dingin motornya dicuri, tetapi pencurinya mengucap syukur karena dapat motor. Polisi yang melihat pencurinya memakai motor malah mempersilahkan padahal itu motor pemilik lama. Pencuri bisa tipu semua orang dengan mengatakan itu motornya dia padahal itu bukan motornya. Pencuri bisa mengelabui ini motorku. Ilustrasi ini sama dengan manusia. Manusia punya Allah. Sejak manusia jatuh dalam dosa, ia tetap kepunyaan Allah. Iblis tidak punya hak. Ia bisa bohongi bahwa manusia punya iblis. Itu salah. Dalam kondisi ini manusia tidak free. Manusia tidak pernah berada dalam kondisi benar-benar free. Tetapi manusia dibohongi Iblis yang mengatakan, bahwa kamu bisa melakukan keputusanmu sendiri. Padahal tidak, manusia tidak pernah benar-benar memiliki kebebasan mutlak.

Kebebasan
Ibrani 10:7 mejelaskan apa itu kebebasan mutlak. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku." Tuhan Yesus bebas mutlak. Tetapi dalam kitab Ibrani dikatakan, “Aku datang untuk melakukan kehendakMu, ya AllahKu.” Di sini tidak bebas.  Yesus punya kehendak sendiri tetapi saat inkarnasi Ia mengatakan, “Aku datang melakukan kehendaKu Allah. Inilah kebebasan sejati, kebebasan di bawah otoritas Allah. Setelah Allah menciptakan Adam-Hawa, Ia berkata, “Kuasai dan taklukkanlah serta beri nama atas semua mahluk” Ia bebas melakukannya, tetapi didahulu oleh perintah di atasnya. Tidak ada free thinker (aku sendiri). Yang benar, bebas dengan berada di bawah otoritas Allah. Itulah kebebasan sejati. Ini yang asing bagi orang yang berdosa. Saat menjadi orang Kristen, asing sekali. Saat menjadi orang kristen, menjadi asing sekali. Selama ini mengatur dirinya, tetapi sebenarnya ia sedang  menjual diri kepada dosa dengan kebiasaan berdosanya. Ia perlu belajar untuk taat. Maka saya berkata lebih gampang tidak taat. Karena tarikan hidup yang dahulu sangat kuat sekali. Ia belajar dalam keberdosaan. Setelah jadi orang Kristen, kebiasaan berdosa tetap saja ada. Dulu ada di tumpukan file keberdosaan kita di atas. File keberdosaan kita setelah percaya Kristus, ditaruh di bawah. Tetapi kadang file ini bisa naik lagi di atas dan kita melakukan dosa yang sama seperti kita belum percaya ke Tuhan Yesus. Kita melakukannya karena file itu tidak pernah hilang. Dulu kita suka “...” itu berarti file ini tetap ada tapi diletakkan di bawah (saat ikut retreat, KKR dan kelas Tiranus file ini ada di bawah). Herannya pada waktu tertentu file itu ditaruh di atas lagi. Masih ada, tidak pernah hilang. Karena banyak yang mengatakan, orang Kristen tidak bisa melakukan dosa. Apakah orang Kristen masih bisa membuat dosa? 1 Yoh 3:9  Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. Ilustrasi : setiap orang yang lahir dari Allah adalah anak Allah. Anak Allah, lahir dari Allah, tidak bisa berbuat dosa. Kita lahir dari Allah, ngaku lahir dari Allah dan bisa berbuat dosa? Kalau berbuat dosa, anak siapa ? Sampai satu kali saya bandingkan dengan terjemahan Alkitab yang lain. Dalam bahasa Inggris versi KJV dan NIV ,tenses yang digunakan present tense dan present continuous tense. Tidak terus menerus berbuat dosa (not continue to sin) karena benih ilahi remain in Him. Present tense sesuatu yang bersifat habit dan berlaku berulang-ulang. Jadi lahir dari lahir, tidak terus menerus berbuat dosa karena habitnya berubah. Jadi masih bisa berbuat dosa, hanya sifatnya tidak harus. Dulu tidak bisa menolak (terjual di bawah dosa), sekarang ia punya kuasa untuk mengatakan tidak. Itu tanda sebuah kehidupan kerohanian sebagai akibat pekerjaan Roh Kudus dalam hidupnya. Itu tanda pada orang yang sudah diselamatkan.  


Monday, March 6, 2017

Penderitaan yang Tidak Terhindarkan (Pemberitahuan Pertama tentang Penderitaan Yesus)


Ev. Susan Kwok

Mat 16:21-24
21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."
24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

Pendahuluan

                Ada satu orang yang sebenarnya tidak perlu menderita namun nyatanya Ia menderita. Saat membaca tema “Penderitaan yang Tidak terhindarkan (Pemberitahuan Pertama tentang Penderitaan Yesus)” kita harus mengingat bahwa bukannya Yesus tidak mampu menghindari penderitaan. Ia pasti mampu karena Ia adalah Allah, Ia adalah Penguasa. Itu sebabnya lagu “Di taman Getsemani Tuhan Yesus berdoa... Dia diangkat dan dibawa... Bukankah Dia dapat memanggil  ribuan malaikat lepaskan Dia?” artinya Yesus mempunyai kemampuan untuk menghindari penderitaan, tetapi ia tidak mau melakukannya. Ia sadar secara mutlak untuk melakukanNya di kayu salib sehingga mengalami penderitaan karena itu cara yang ditentukan Allah untuk menyelamatkan manusia.
                Mat 16:21-24. Dikatakan, sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menanggung penderitaan, akan dibunuh, mati dan bangkit pada hari ketiga. Itu pemberitaan pertama tentang Yesus harus mati. Ada 4 kali Yesus menyampaikan hal itu kepada murid-muridNya. Sejak Petrus dipakai oleh Allah untuk menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias dalam perikop sebelumnya, maka sejak itu Yesus melarang murid-muridNya untuk memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias. Karena belum genap waktunya, masih ada  hal yang harus dilakukan Yesus. Tetapi sejak Petrus mengatakan “Yesus , Engkau adalah Mesias, anak Allah yang hidup (Matius 16:16)”, maka sejak itulah Yesus melihat sudah waktunya menyampaikan misi kedatangan Yesus ke dunia. Yesus menyampaikan berita tentang kematiannya sampai 4 kali, bukan sekedar agar murid-muridNya tidak sedih , terkejut, bingung tetapi Yesus ingin murid-muridNya paham (mengerti) untuk apa Yesus datang ke dunia (Yesus akan melalui jalan salib tetapi itu bukan akhir dari segala-galanya). Tetapi kematian Yesus bukanlah kegagalan. KematianNya itu tidak sia-sia, karena setelah kematianNya ada harapan karena Yesus akan bangkit pada hari ketiga. Yesus memberitahukan bahwa kematian yang harus dialamiNya itu bukan kesuraman, kegelapan, kesia-siaan, sesuatu yang tidak ada nilainya. Ia mau murid-muridNya paham kedatangan Yesus untuk apa, matinya bagaimana, nantinya matinya seperti apa. Murid-muridNya menjadi saksi yang berkuasa untuk mengabarkan tentang kasih Allah. Tetapi Yesus tidak berhenti di situ.
                Injil Matius mencatat bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem. Karena pada saat itu sudah akan mulai diadakan pesta Paskah orang Yahudi. Semua orang Israel yang tercerai berai (diaspora) karena dibuang oleh Allah berusaha pulang ke Palestina. Setiap perayaan hari raya penting mereka berusaha untuk berkumpul di Yerusalem. Pada waktu semua orang mulai ramai di kota, itu akan menjadi saksi hidup akan penderitaan Yesus di kayu salib. Maka Yesus harus pergi ke Yerusalem. Dalam bahasa Yunani digunakan kata Exodos.

Exodos

Di dalam kata “Exodos” (bahasa Yunani untuk Keluaran) ada unsur :

1.     Kerelaan di satu sisi tetapi ada unsur kemutlakan di sisi lainnya. Mutlak, wajib, harus, tidak ada cara lain, hanya itu satu-satunya cara. Yesus pergi ke Yerusalem dengan satu kesadaran (tanpa terpaksa atau dipaksa). Yesus menyongsong sesuatu yang membahayakan hidupNya tanpa terpaka atau dipaksa. Ia sadar itu cara yang mutlak yang harus dilakukan.

2.     Kata Exodos dipakai waktu orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Kata ini menunjuk pada malam waktu mereka akan pergi, Allah melakukan suatu cara yang membuat mereka akhirnya harus pergi yaitu anak domba harus disembelih. Darahnya harus dioleskan di tiang pintu. Bagi yang tidak memoleskannya maka anak sulungnya akan mati. Hal ini termasuk anak sulung Firaun yang kemudian mati. Peristiwa keluarnya Orang Israel dari Mesir melalui ungkapan Exodos ini menunjukkan ada darah yang tercurah, ada anak domba yang disembelih. Istilah teologi ini menjadi prototipe (gambaran) dari apa yang akan dilakukan Yesus. Yesus adalah anak domba yang tak bercacat yang disembelih dan darahnya tercurah di atas kayu salib yang membuat orang percaya tidak binasa. Anak domba Allah, Yesus Kristus, harus pergi menyongsong kematianNya sendiri. Dan Ia melakukanNya dengan rela hati dengan kesadaran bahwa itu harus dilakukanNya.

Penderitaan Yesus yang Tidak Dimengerti

                Apa yang dilakukan Yesus tidak dipahami para muridNya. Buktinya pada ayat 22-23 ada dialog. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."  Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Mendengar pernyataan Yesus, Petrus langsung mengatakan, “Bukan begitu! Walau Engkau masuk ke Yerusalem , Allah tidak akan melakukannya.” Seakan-akan apa yang dilakukan Yesus adalah sesuatu yang tidak harus terjadi. Karena Petrus tidak paham. Sehingga Yesus mengatakan, “Enyahlah Iblis!” Murid Yesus yang paling berani ini malah disamakan atau dipanggil dengan sebutan Iblis. Apa yang disampaikan Petrus, pemikirannya sudah dibayang-bayangi dan dirasuki oleh Iblis yang tidak senang dan tidak mau karya penyelamatan Yesus terjadi. Bukankah Iblis selalu merecoki sejak awal penciptaan Allah. Ia ingin menggagalkan rencana Allah, termasuk nasehat Petrus yang sepertinya rohani. Nasehat Petrus yang sepertinya baik dan masuk akal (logis), bukanlah perkataan yang betul. Karena ia memikirkan apa yang dipikirkan manusia pada umumnya. Tetapi Yesus rindu murid-muridNya memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah. Yesus ingin murid-muridNya termasuk kita hari ini, bisa belajar apa yang Allah mau. Bukan yang seolah-olah Allah mau tetapi sebenarnya tidak.
                Waktu Petrus di taman Getsemani ia menyangkal Yesus 3 kali. Ia mengelak ketiga kalinya dengan berkata, “Sumpah, saya tidak mengenal orang ini.” Kata “sumpah” dalam Perjanjian Lama artinya “demi Allah”. Dengan kata ini  sepertinya orang yang mengucapkannya tahu benar pikiran dan isi hati Allah atau dalam arti yang lebih tegas  sumpah berarti Allah setuju dengan apa yang saya ucapkan. Jadi dalam pengertian “sumpah”, Allah ikut menyetujui apa yang saya katakan. Ia akan mengkonfirmasi apa yang saya katakan. Maka kita dihimbau untuk tidak dengan mudah mengatakan “Sumpah” karena itu melibatkan Allah. Kelihatan benar, tetapi motivasi, pikiran dan isi hatinya tidak benar. Waktu ia berbicara begitu, kemudian ayam berkokok 3 kali. Seolah-olah tahu apa yang ia buat itu baik, tetapi sebenarnya semuanya salah. Bukankah Petrus sebelumnya mengatakan bahwa Yesus adalah Mesias? Hal itu tidak berarti ia tidak jatuh ke dalam rintangan, godaan, kejatuhan atau percobaan . Itu bukan akhir segala-galanya. Bagaimana pengakuanmu nyata dalam kelakuanmu? Bukankah hanya Petrus yang berkata, “Yesus adalah anak Allah yang hidup” dan Yesus mengatakan ,”Bukan kamu yang mengatakan tetapi Allah!”. Jadi tidak menjamin bahwa Petrus akan beres-beres saja. Hidup ini perlu perjuangan sehingga hidup perlu ikatan yang benar dan relasi yang intim secara pribadi dengan Tuhan. Hari ini kita benar, besok belum tentu karena jangan-jangan kita menjadi batu sandungan. Seperti yang Yesus katakan kepada Petrus, “Engkau menjadi batu sandungan bagiKu.” Kemarin ia memuji, tetapi sekarang ia menegur, “Engkau batu sandungan!”

Menyangkal Diri untuk Mengikut Tuhan

                Saat sidang raya sinode di Papua, Pdt Heri mendengar cerita dari jemaat di Papua. Katanya , orang Papua adalah orang Kristen tradisional yang kuat dan bernyanyi dengan baik. Pulang dari gereja , mereka ada yang berjudi dan mabok tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruk tersebut. Sehingga antara pengakuan (apa yang diucapkan) – iman dengan kelakuan ada jurang (tidak sama). Gereja ya gereja, setelah selesai gereja, lihat saja. Yesus tidak mau seperti itu, ia tahu kita akan jatuh bangun karena kita adalah manusia biasa, tetapi Ia mau tidak seperti itu. Ayat 24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.  Mengapa Yesus berkata begitu? Ia tahu dalam hati Petrus, Petrus tidak siap mati. Ia tidak siap menghadapi rintangan ketika harus memperlihatakn identitas dirinya yang sebenarnya. Dalam ayat-ayat selanjutnya, Yesus mengingatkan diri Petrus, agar ia ingat dan sadar (hati-hati). Kelemahan Petrus ialah ingin mempertahankan apa yang menjadi miliknya. Harta, keluarga, karir adalah milikkku (semuanya milikku). Tetapi semua itu adalah milik Tuhan. Kalau Tuhan mau mengambilnya mudah sekali. Maka kita diajar utuk sadar bahwa hari ini kita sehat, besok tidak tahu. Jangan sampai selagi sehat tidak ingat Tuhan.
Ada seorang ekseskutif muda yang mungkin memenuhi semua kriteria sebagai idaman yang diinginkan para wanita. Tampan, tinggi, kekar, banyak uang dan karirnya menanjak. Dia adalah seorang anak Tuhan dalam pengertian ia adalah salah satu anggota jemaat gereja. Suatu hari, tidak ada angin tidak ada hujan (tanpa tanda-tanda terlebih dahulu) karena ia sangat menjaga kesehatannya, saat bangun dari tidur, ia tidak bisa menggerakkan lehernya. Biasanya hal itu dikatakan sebagai salah bantal padahal dalam hal ini bukan. Langsung saja ia dibawa ke rumah sakit dan diperiksa dokter yang bagus. Katanya ada sedikit saraf terjepit sehingga ia diberi suntikan. Tetapi perawatan dan suntikan yang diberikan kepadanya oleh dokter tidak membuatnya sembuh. Bukan saja leher, tetapi kemudian kepala, muka, tangan dan badannya tidak bisa bergerak (gerak motoriknya sukar) dalam waktu sebulan. Tidak diketahui ia terkena penyakit apa. Dokter berkata, “Dalam waktu singkat, otaknya akan menyusut sehingga ia akan kehilangan banyak memori dan tidak lagi bisa bekerja”. Kalau menjadi dia, kita bisa takut atau kuatir (kita mau berbuat apa). Benar saja. Dalam waktu 3 bulan, tubuhnya yang atletis menjadi kurus. Banyak memori yang hilang sehingga ia tidak bisa mengambil keputusan dalam perusahaan seperti sebelumnya. Kemudian hanya dalam waktu 1 tahun ia meninggal. Kadangkala kita bertanya, “Mengapa Tuhan ijinkan hal itu terjadi?” Kalau sampai di surga kita bisa menanyakan hal ini pada Tuhan. Kalau Tuhan memberi kita kesehatan, kekuatan dan karir, jangan lupa itu semua bukan total milik saya, tetapi milik Tuhan. Itu sebabnya Yesus mengingatkan Petrus, “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya (Mat 10:39)”. Petrus ingin menyelamatkan nyawanya sehingga ia telah menyangkal Yesus tiga kali. Itu proses, dan di dalam prosesnya Petrus bertumbuh sehingga di kemudian hari ia tidak takut mati lagi dan saat tidak takut mati maka ia siap mati dengan cara yang sangat menakutkan. Ia mampu bertahan dalam proses itu.
Hai ini minggu pra paskah pertama dan  Jumat Agung adalah pra Paskah yang ke-7. Pra paskah mengingatkan  kita bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita bisa jatuh bangun dalam kegagalan. Tetapi di dalam jatuh dan bangun itu, mari kita terus meningkat di dalam Tuhan. Tuhan tahu kita jatuh bangun, tetapi di dalam proses nya ada kemajauan (peningkatan, pertumbuhan). Maka kita harus cek, sampai di mana pertumbuhan rohani kita. Cara mengeceknya dari yang paling gampang sampai yang paling susah. Apa kita senang mengeluarkan kata-kata kotor, gosip atau mengeluarkan kata –kata yang menjadi berkat, lebih senang kata dusta atau benar? Bagaimana bacaan Alkitab setiap hari? Dengan jujur kita bisa mengecek diri sendiri. Orang lain tidak bisa tahu, namun kita dan Tuhan mengetahuinya. Sejak 2 tahun lalu ditulis bacaan Alkitab setahun di dalam warta. Diri sendiri yang periksa. Apakah kita memandang warta itu tidak berguna? Itu kembali kepada masing-masing, kita akan lihat pertumbuhannya.
Kata “sangkal diri” berarti hidupku bukan untuk aku saja. Hidup dan nyawaku dari Tuhan. Siapa yang bisa menambah umur 1 hari saja? Obat apa yang dimakan untuk menambah umur sebanyak 10 tahun? Bila ada, maka orang kaya akan berlomba untuk membelinya. Bisa? Tidak bisa! Sangkal diri , pikul salib. Salib siapa? Bukan salib kebodohan kita. Kalau kebodohan kita, itu bukan salib.  Itu konsekuensi kebodohan dan kebandelan. Tetapi salib Kristus yaitu apa yang difirmankan oleh Tuhan dalam Alkitab. Apa yang dibicarakan oleh Tuhan akan diperiksa  apakah terjadi dan dilakukan dalam diri kita. Bukan karena suka atau tidak suka kita melakukan firman Tuhan. Bicara tentang firman Tuhan tidak bisa kita mengatakan suka atau tidak suka melakukannya. Tidak bisa. Perkataan Yesus adalah salib Kristus untuk kita. Selagi muda dan mencari pasangan hidup yakni mencari teman hidup yang sepadan adalah pengalaman yang paling berat. Misal : calon teman hidup di gereja sendiri kurang sehingga  perlu dicari dari gereja lain.  Bisa di GKKK , GKY, GKI dll yang penting gereja yang benar. Kita harus punya pemahaman iman yang benar walau Itu hal yang tidak suka kita lakukan. Dalam hidup berkeluarga, apa salib Kristus? Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,  karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat (Efesus 5:22-23). Mungkin ada istri yang berkata, “Sudah bagus saya layani, sudah bagus saya menyiapkan makanan setiap hari. Suami saya berbeda dengan suami teman saya dll.” Kalau ada anak Tuhan seperti itu maka harus dicuci-otaknya. Atau bagi para suami, Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya (Ef 5:25). Sewaktu suami pulang bekerja ada yang berkata ke istrinya yang sipit, “Matamu di mana sih? Saya sebal melihatmu. Cepat pergi ke Korea supaya jadi belo.” Bandingkan dengan firman yang meminta suami agar mengasihi istri. Itu sebuah contoh. Kita benar-benar bisa mencari contoh yang tepat untuk diri kita.

Penutup

Ada satu cerita berdasarkan pengalaman seseorang. Di suatu tempat di Amerika ada satu patung anak domba didirikan. Suatu hari waktu di tempat tersebut sedang didirikan sebuah bangunan megah dan tinggi, salah seorang tukang bangunan terjatuh dari lantai yang tinggi. Temannya berpikir tubuhnya hancur karena jatuh dari tempat yang tinggi, maka temannya pun buru-buru turun. Ternyata orang yang terjatuh tersebut tidak mati. Tetapi ada darah yang terlihat di bawah tubuhnya. Rupanya ia jatuh tepat di atas seekor anak domba yang masih kecil dan sedang bermain-main di situ. Karena tertimpa pekerja, maka anak domba itu pun mati dan Sang Pekerja itu selamat. Itu kejadian nyata. Saya kaitkan dalam hal ini, seharusnya yang harus mati itu adalah kita. Karena kita yang berbuat dosa. Tetapi ternyata yang mati menggantikan kita adalah anak domba Allah. Yang masuk dengan rela ke kota Yerusalem.

O ... Yerusalem kota mulia. Hatiku rindu ke sana. Oh Yerusalem kota mulia. Hatiku rindu ke sana. Tak lama lagi Tuhanku datanglah. Bawa saya masuk ke sana.