Saturday, April 19, 2014

Kasih dari Kalvari





Kasih dari Kalvari *)

Pdt. Hery Kwok

Fil 2:8
8  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Yoh 18:1-11
1   Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
2  Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.
3  Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
4  Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: "Siapakah yang kamu cari?"
5  Jawab mereka: "Yesus dari Nazaret." Kata-Nya kepada mereka: "Akulah Dia." Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka.
6  Ketika Ia berkata kepada mereka: "Akulah Dia," mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.
7  Maka Ia bertanya pula: "Siapakah yang kamu cari?" Kata mereka: "Yesus dari Nazaret."
8  Jawab Yesus: "Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi."
9  Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: "Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa."
10  Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus.
11  Kata Yesus kepada Petrus: "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?"

Pendahuluan
Saya pernah memberikan nasehat kepada sepupu saya dan ternyata nasehat itu salah. Saat itu, sepupu saya sedang mengalami masalah karena pertunangannya putus dan tunangannya pergi meninggalkan dia. Rasanya tidak masuk akal. Keduanya tidak berasal dari keluarga yang berada, mereka berjuang dari bawah dan mereka sudah mengetahui keberadaan masing-masing. Oleh sebab itu seharusnya mereka menjadi pasangan yang luar biasa (ideal) karena lahir dari cinta. Putusnya pertunangan mereka tidak bisa masuk dalam pikiran saya. Oleh sebab itu saya memberi nasehat, “Ambil lagi apa yang sudah kamu berikan kepadanya seperti kalung emas. Karena keenakan.  Sesudah mendapatkannya, sekarang putus dan ia pergi meninggalkan kamu.” Hari itu saya emosi dan marah sehingga saya memberikan nasehat yang tidak bagus. Tidak bagus karena sesungguhnya hati yang mengasihi lahir dari ketulusan dan tidak pernah main hitung-hitungan. Waktu saya menyuruh ambil, ibaratnya saya menempatkan cinta pada tempat pegadaiaan dan kemudian menyuruhnya mengambil kembali. Seharusnya esensi (inti) dari kasih adalah hati yang tulus, sunguh-sungguh rela, dan memberikan totalitas kepada orang yang dikasihi.

Kasih dari Kalvari
Pada minggu pertama dan kedua tema khotbah di gereja adalah doktrin tentang karya Kristus. Pada minggu pertama, temanya substitusi  yang artinya menggantikan. Maksudnya harusnya saya yang mati tapi Kristus yang mati menggantikan saya. Harusnya saya yang tergantung di kayu salib tetapi Yesus yang menggantikan posisi saya di sana. Pada minggu kedua, temanya tentang harga yang telah lunas dibayar oleh Kristus atas dosa manusia. Perkara atau karya yang Kristus lakukan dengan membayar lunas memberi petunjuk bahwa kita sekarang sudah menjadi milik Allah. Kamis kemarin pada persekutuan doa tema-nya salib Kristus adalah lambang pengampunan. Salib adalah tempat dimana orang terkutuk ada di sana. Terkutuk adalah orang dilaknat dan layak menerima hukuman yang paling berat. Dari khotbah yang membawa kita kepada doktrin tentang karya Allah yang sedemikian hebat timbul pertanyaan apa yang menggerakkan sehingga karya itu dilakukan Allah di dalam AnakNya? Pada Jumat Agung inilah kita menemukan jawabannya. Seluruh karya Kristus digerakkan oleh kasih yang turun dari Kalvari. Pada Filipi 2:8 Rasul Paulus mengatakan bahwa Ia telah merendahkan diri dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib. Di dalam esensi kasih Rasul Paulus memberikan petunjuk yang jelas, Ia merendahkan diri dan taat sampai mati. Di dalam kasih seperti itulah kristus melakukan karya Allah yang telah digenapiNya di kayu salib.  Di dalam kasihnya di mana Ia merendahkan diri dan taat disitulah Ia menggantikan saya. Di dalam kasihNya Ia membayar saya lunas di kayu salib, menjadi kutuk dimana Ia dilaknati oleh Tuhan Allah.

Pada Yohanes 18 disampaikan gambaran tentang kasihNya yang terefleksi dalam ketaatanNya sampai mati. Ada 2 hal yang ditunjukkan oleh Rasul Yohanes tentang bagaimana Kristus menunjukkan kasihNya melalui ketaatan dan kerendahan diri.

1.     Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah ia bersama murid-muridNya ke taman Getsemani (Yoh 18:1
Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya). Arti dari frase “setelah Yesus mengatakan semuanya itu” dengan membandingkan keempat kitab Injil adalah setelah Ia mengajar murid-muridNya dan melakukan perjamuan kudus yang terakhir. Di sana dijelaskan bahwa Anak Manusia harus disiksa dan dibunuh oleh manusia yang jahat. Pengajaran ini diterapkan oleh Yesus saat Ia masuk ke taman Getsemani. Di taman inilah , detik-detik yang menentukan untuk Ia masuk ke jalan salib (via dolorosa).  Di dalam pasal 18 inilah saat yang genting karena Yesus harus melakukan misi yang berat sekali sehingga Yesus mengatakan, “Kalau boleh cawan ini lalu daripadaKu”. Perkataan ini menunjukkan betapa mengerikan dan dahsyatnya dosa kita. Bagi Kristus perpisahan dengan bapaNya dimana ia mengambil cawan itu, itulah dosa kita yang paling menjijikkan. Pada pasal 18, Rasul Yohanes mau menggambarkan detik-detik  menentukan apakah Ia mau melakukan karya Allah atau tidak. Waktu kita mau melakukan dosa, sesungguhnya detik di mana Ia mau melakukan atau tidak itulah momen yang sangat mahal sekali. Seorang anak yang masih bersekolah menyontek atau tidak sampai pada detik-detik di mana ia harus menentukan. Di dalam detik-detik itu berkecamuk pikiran, apakah ia tidak akan menyontek karena taat kepada Yesus dan memuliakan Tuhan namun nilainya jelek (mungkin ia sudah mendengar bahwa Tuhan Yesus telah menebus dia), tapi gambaran mamanya yang galak dan akan memarahinya bila dapat nilai jelek membuat ia berpikir untuk menyonteknya. Detik-detik seperti itulah yang menentukan seseorang untuk melakukan sesuatu.  Sebelum seorang pemuda Kristen dalam dosa seks, ia tiba pada detik-detik yang genting untuk memutuskan apakah akan melakukannya atau tidak. Sebagai orang Kristen, ia tahu bahwa  itu bukan hidup yang diperkenan Tuhan tapi begitu ia melihat perempuan yang sexy ia berpikir untuk melakukannya juga. Ada satu buku yang coba menjelaskan bahwa detik itulah saya harusnya menentukan untuk tidak melakukan tapi di situlah saya jatuh. Harusnya ia lari tapi ternyata malah ia jatuh. Konselornya bertanya seharusnya kalau kamu lari seperti Yusuf, kamu tidak akan masuk ke dosa perzinahan. Lalu ia bilang, justru pada detik itulah saya memutuskan lari di tempat dan jatuh! Waktu Yesus bergumul di taman Getsemani itulah Yesus bergumul sehingga peluhnya menetes seperti darah. Di dalam detik-detik pergumulan di taman itulah Yesus menyatakan kasihNya dalam ketaatan dan kerendahan hati. Kalau kita membaca Filipi 2 secara keseluruhan, Rasul Paulus menyatakan Dia, Dia yang Allah maha kuasa, merendahkan diri. Kita mengenal Allah kita Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tiga pribadi yang esa tidak mungkin terpisah satu dengan yang lain, sama-sama setara dan sejajar, Dialah Allah! Tetapi Dia merendahkan diri dari KeallahanNya dan mau taat atas apa yang BapakNya minta. Itu sebabnya Kalvari merupakan bentuk dari kasih yang tercurah luar biasa. Waktu membaca Yoh 18:1 , kita harusnya bersyukur, ia membuktikan kasihNya pada  detik-detik ia mengambil keputusan. Memasuki ibadah Jumat Agung kita diingatkan betapa luar biasanya kasih Allah ini. Seluruh karyaNya yang disebut penggantian (substitusi) dan pelunasan digerakan oleh Kasih Allah. Itu sebabnya di dalam kasihNya dalam detik-detik yang menentukan Ia memutuskan mengambil cawan yang pahit.

2.     Kasih Allah yang nyata di dalam ketaatan dan kerendahan hatiNya dalam ayat-ayat berikutnya. Ayat kedua dikatakan Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Bagi yang belum pernah mengalami pengkhianatan, tidak bisa memahani pengkhianatan yang sempurna, pengkhianatan yang paling menyakitkan bagi orang yang dikhianati. Sesungguhnya yang terjadi adalah kebencian dari yang awalnya cinta. Orang sering berkata bahwa antara benci dan cinta perbedaannya tipis sekali dan yang membatasinya pengkhianatan. Waktu seorang terdorong mencintai seseorang dan mendapati orang itu mengkhianatinya maka cintanya berubah menjadi benci.  Beberapa waktu lalu, media menceritakan bagaimana seorang pejabat dituntut oleh wanita selingkuhannya agar dinikahi. Karena didesak, pejabat itu kemudian membunuh wanita tersebut. Kalau ia benar-benar cinta, mengapa malah membunuh? Unsurnya ia takut didesak terus karena ia sudah mempunya istri yang sah! Yang paling pedih dan menyakitkan, saat benci itu lahir dari pengkhianatan. Kalau kita dikhianati, apa yang kita janjikan tidak mampu kita laksanakan. Bandingkan dengan ayat kedua. Yudas adalah salah satu dari 12 murid Tuhan yang selama 3 tahun bersama-sama tapi kemudian mengkhianatiNya! Mari coba bersama-sama menghayati Ia melakukan tugas yang menyakitkan karena Ia mengalami peristiwa pengkhianatan.  Rasul Yohanes menuliskan ayat ini, kasih Calvary membuatNya tetap melakukan semua itu. Dia tidak berbelok dari tujuan yang Allah minta karena di sanalah dinyatakan kasihNya melalui ketaatan sampai mati. Dikatakan prajurit dan Simon Petrus menggunakan kekerasan (kekuatan). Pada waktu Yesus berkata kepadanya (Petrus) : "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (Mat 26:52-53). Dalam istilah ketentaraan Romawi, pasukan atau Legiun atau Legion (seperti waktu Tuhan Yesus mengusir roh jahat di Gerasa) artinya banyak. 1 pasukan bisa terdiri dari 4.000-6.000 prajurit. Sehingga 12 pasukan malaikat jumlahnya bisa mencapai 72.000 malaikat yang bisa menjagaNya dari pasukan Romawi. Padahal seperti di Perjanjian Lama, waktu Sodom dan Gomora ditunggangbalikan malaikat, hanya diutus 2 malaikat yang  kemudian menarik Lot dan keluarganya supaya keluar dari kota itu dan menghukum penduduk Sodom dan Goroma yang berdosa. Karena malaikat diberikan Tuhan kuasa yang luar biasa. Kalau 12 pasukan malaikat berarti betapa luar biasanya Yesus mempunyai kuasa atas mereka tapi tidak dilakukanNya saat prajurit datang dan Simon membelaNya. Bahaya yang menghinggapi orang berkuasa adalah kekuasaannya. Yang berbahaya dalam diri orang kaya adalah kekayaannya.  Karena saat berkuasa dan punya uang, orang menganggap dirinya hebat dan bisa melakukan apa saja. Itu sebabnya Nabi Yeremia berkata "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya” (Yer 9:23). Karena saat itulah orang menunjukkan ego dan jati dirinya yang jahat kepada orang lain. Yesus Kristus menunjukkan bahwa Dia orang yang mengasihi. Di dalam kekuasaan dan kebesaranNya Ia tidak menggunakan itu semua. Bahkan dengan perkataanNya saja yang membawa wibawa yang hebat sehingga saat mengatakan “Akulah Dia” membuat pasukan yang akan menangkapNya jatuh (Yoh 18:6). Rasul Yohanes menceritakan sesuatu yang hebat saat Yesus berkata dan sepasukan prajurit itu jatuh. Prajurit Romawi bukanlah pasukan lemah, tapi sudah dilatih dan memiliki tubuh yang kuat. Saat ia berkata “Akulah Dia” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Saya membayangkan dalam imaginasi saya, ini luar biasa. Kalau kita yang berteriak, siapa yang akan jatuh? Tapi dikatakan di sini  perkataanNya pun punya wibawa yang luar biasa. Tapi semua tidak dilakukanNya karena Dia mengasihi kita.  Dalam kasih yang tercurah di Kalvari, Dia belajar taat dan merendahkan diri, supaya kita tidak binasa. Pertanyaannya kalau kasih sudah tercurah di Kalvari apa respon kita terhadap kasih itu? Masihkah kitamenjalani hidup dengan sia-sia tanpa tujuan? Tidak melihat betapa pentingnya mengenal Tuhan dalam hidup? Kalvari yang mengerikan, namun justru di sanalah turun kasih yang agung dan mulia.

Ilustrasi film (https://www.youtube.com/watch?v=8H3wJFcukrY). Ada seorang pria yang memiliki seorang putra yang sangat dicintainya. Ia bekerja sebagai penjaga jembatan yang bisa dinaikturunkan untuk melayani jalur kereta api yang melalui jembatan tersebut dan perahu yang melayari sungai di bawah jembatan. Anaknya sangat suka mengamati-amati kereta api. Suatu kali berangkatlah sebuah kereta yang akan melalui jembatan tersebut. Kereta tersebut berisikan banyak penumpang dengan berbagai jenis manusia. Ada orang-orang yang sedang mengalami kesepian, marah-marah,  egois (tidak mau bergaul dengan sesama), tersakiti bahkan pecandu narkoba!  Beberapa saat sebelum kereta melewati jembatan, sang pria mengangkat tuas sehingga jembatan terangkat karena ada sebuah perahu yang ingin melewati sungai di bawah jembatan tersebut. Sementara perahu melewati kolong jembatan, sang anak yang sedang mengamati kondisi di luar ruang kontrol, tiba-tiba melihat asap kereta api yang bergerak cepat menuju jembatan. Ia pun berteriak memberitahukan ayahnya bahwa ada kereta api yang bergerak sangat cepat menuju jembatan. Sang pria pun melihat asap kereta tersebut. Namun saat sang ayah mencari anaknya dari ruang kontrolnya, ia tidak menemukan di tempat biasanya ia bermain (di pinggir sungai). Dari ruangnya dengan panik ia melihat keluar mencari-cari di mana anaknya berada. Akhirnya ia melihat anaknya sedang berusaha menurunkan tuas jembatan di luar karena sang anak mengira ayahnya tidak melihat kereta yang akan lewat sehingga ia khawatir ayahnya tidak akan punya waktu yang cukup untuk menurunkan jembatan itu kembali. Sayangnya karena masih kecil, saat tangannya hendak menjangkau tuas tersebut, sang anak terjatuh ke bawah jembatan. Sang pria terkejut melihatnya dan ia ingin segera menyelamatkannya. Namun ia menyadari ada sebuah kereta yang sedang bergerak cepat menuju jembatan. Saat itu ia mengalami dilema (konflik batin) yang luar biasa) antara melakukan tugasnya untuk menurunkan tuas agar jembatan kembali bisa dilalui kereta atau menyelamatkan sang anak. Karena bila tuas jembatan diturunkan sementara tubuh sang anak ada di bawah jembatan, tubuh sang anak akan tergencet jembatan. Ia sungguh gelisah.  Ia pun memukul dinding  ruang kontrolnya. Ia hanya memiliki sedikit waktu untuk mengambil keputusan. Itulah detik-detik ia harus mengambil keputusan. Dengan menahan kepedihan hatinya, akhirnya ia berketetapan hari menurunkan tuas sehingga jembatan kembali turun dan kereta bisa melewati jembatan. Di sisi lain, hal ini mengakibatkan tubuh anaknya terjepit jembatan dan kematian pun menghampiri sang anak! Sebagian penumpang kereta saat itu sedang tertidur nyenyak, sebagian lagi sedang bermain dengan gembira dengan teman-temannya, ada juga seorang perempuan muda yang sedang membakar sendok untuk memanaskan narkoba yang akan dipakainya sementara kereta melalui jembatan itu dengan aman. Sang pria hanya bisa menangisi kematian sang anak. Pemakai narkoba yang melihat keluar kereta api, menyaksikan seorang pria menangis pilu. Sang pria pun melihat pemudi pemakai narkobanya sedang memandangnya. Kemudian pemudi ini melihat sang pria mengangkat jasad sang anak. Hatinya tersentuh melihatnya. Hatinya tergerak menyaksikan kesedihan sang pria yang sangat mengasihi anaknya. Hatinya menyadari masih ada cinta di dunia ini. Di sisi lain, sang pria telah memilih untuk menyelamatkan banyak orang dan mengorbankan anaknya sendiri yang sangat dikasihi. Sang pria telah mengorbankan anaknya agar orang-orang di atas kereta memiliki masa depan yang penuh harapan.  Setelah lama berselang, di stasiun kereta sang pria kembali berjumpa dengan pemudi tersebut. Pemudi itu sedang menggendong anaknya yang masih kecil dengan ceria. Mereka saling memandang dan tersenyum. Rupanya sang pemudi pemakai narkoba sudah mendapatkan kembali hidup normalnya dan memiliki anak yang yang membuatnya bahagia. Melihat kegembiraan sang pemudi tersebut, sang pria mengucap syukur. Tidak sia-sialah pengorbanannya. Yoh 3 : 16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal (Tuhan Yesus Kristus), supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Ilustrasi yang diambil dari film MOST tersebut menggambarkan sebagian kecil kasih Allah yang telah mengorbankan AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan dosa manusia.


*) Wycliffe: Luk 23:33 - Di tempat yang bernama Tengkorak
Di tempat yang bernama Tengkorak (Kalvari). Lokasi persisnya tempat ini tidak diketahui. Semua tanda sudah dimusnahkan bersama dengan kota itu, sehingga pengindentifikasian menjadi mustahil. Tempat pelaksanaan hukuman adalah di luar tembok kota, dekat jalan raya yang banyak dilalui orang. Pendapat dewasa ini terpecah di antara yang beranggapan bahwa tempat itu adalah di Gereja Makam Kudus, atau di Kalvari Gordon, di utara Gerbang Damaskus. Kalvari (Latin) atau Golgota (Aram) berarti "tengkorak." Bukit tersebut rupanya dinamakan demikian karena bentuk tanahnya yang mirip sebuah tengkorak, atau mungkin karena tulang-tulang berserakan di situ. Alternatif kedua berkemungkinan lebih kecil mengingat keberatan orang Yahudi apabila mayat-mayat tidak dikubur.



Sunday, April 13, 2014

Ransom : Allah Menebusku dan Lunas Terbayarkan

Ev. Lili Suwandi

1 Kor 6:19-20
19  Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah,  —  dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
20  Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Pada 1 Kor 6:19b Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat Korintus (yang kaya namun punya  banyak masalah) dengan kalimat yang indah bahwa “kamu bukan milik kamu sendiri”. Ini berarti aku bukan milik aku lagi tapi milik Tuhan Yesus Kristus karena Allah telah menebusku dan semua utang(dosa)ku lunas dibayar. 3 hal yang dapat dipelajari dari penebusan (ransom) ini.

1.     Pengorbanan tentang Tuhan Yesus. Dia telah mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Sehingga saat memikirkan kasih Tuhan, kita tidak akan mundur. PengorbananTuhan Yesus sedemikian besar, sehingga Dia bahkan berseru kepada Allah,”Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15: 34b). Saat memikirkan kasih Tuhan, kita seharusnya seperti Rasul Petrus. Ia orang yang berterus terang (spontan). Apa yang dirasakan dan dipikirkan , itu yang langsung dikatakan. Dalam kelemahannya, ia punya kekuatan. Rasul Petrus adalah seorang murid Tuhan yang pintar. Orang Tiongkok (Utara) mendidik anak dengan 3 cara. Yang pertama untuk anak yang pintar, mereka menggunakan mata sebagai bahasa isyarat untuk mengajarnya. Sehingga dengan kedipan mata saja maka sang anak akan mengerti apa keinginan sang ibu (seperti ada kontak batin). Cara yang kedua, bila sang anak tidak mengerti dengan tatapan mata, maka harus diucapkan (diajar dengan mulut) misalnya dengan berkata,”Jangan nakal ya”. Cara ketiga untuk anak yang kurang pandai. Dalam mengajar, sang ibu akan berkata “bodoh” kepada anaknya (sang anak dibodoh-bodohi). Bila seorang hamba Tuhan berkata terus-terang , maka jemaat biasanya tidak suka. Karena biasanya perkataan sejati tidak sedap didengar, sedangkan perkataan yang tidak benar (bohong) diucapkan dengan lambat. Sehingga di kepolisian, seorang pelaku  kejahatan diproses lama untuk mengetahui apakah ia sedang berbohong atau tidak dengan cara mengulang-ulang pertanyaannya. Rasul Petrus dikatakan pintar karena setelah tiga kali ia menyangkal Tuhan Yesus, hanya dengan tatapan mata Tuhan Yesus Rasul Petrus menyadari kesalahan (kelemahan) nya dan menangis tersedu-sedu seperti yang dikatakan pada Lukas 22:61-62 Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku. Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Biasanya seorang gentleman seperti Petrus boleh mencucurkan darah dan keringat tapi tidak air mata (gengsi untuk menangis). Ia melihat cinta kasih Tuhan dan pengorbananNya yang luar biasa sehingga ia menangis. Saat di atas kayu salib, Tuhan Yesus mati pelan-pelan karena darahNya keluar setetes-setetes demi saya dan Tuhan Yesus mengucapkan 7 perkataan di kayu salib, di antaranya adalah :
-        Yang pertama, Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk 23:34). 
-        Yang kedua, Yesus berkata saat seorang penjahat (penyamun) yang disalibkan bersama Yesus berkata : "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."  Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:42-43).  Penjahat tersebut tidak sempat datang ke gereja, dibaptis atau ikut katekisasi. Tatkala menyadari siapa Tuhan Yesus yaitu Juruselamat,  Ia mengaku sebagai orang berdosa dan minta pengampunan.
-        Perkataan yang ketiga dan keempat dapat dilihat pada Yoh 19: 27-29 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"  Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.  Tuhan Yesus menitipkan ibunya (Maria) kepada muridNya (Rasul Yohanes). Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah anak yang berbakti kepada orang tua. Ada yang bilang orang Kristen tidak berbakti kepada orang tua karena  kalau orang tuanya meninggal setelah meninggal tidak dikasih makan di kuburannya. Padahal seharusnya kalau sayang orang tua, maka kita harus menunjukkan kasih itu selagi orang tua hidup. Jangan saat hidup hanya dikasih makan supermie, sedangkan setelah meninggal dikasih daging samseng (artinya: tiga macam daging yang terdiri dari tiga jenis macam binatang yaitu ikan bandeng, ayam betina, dan daging babi) padahal sudah tidak bisa makan lagi. Saat ini, anak harus meneladani Tuhan Yesus supaya iman yang kita peroleh adalah iman yang sejati.

2.     Kita harus mengenal diri kita sendiri bahwa kita milik Allah. Sehingga kita jangan sombong (angkuh). Manusia diberkati Allah sehingga memiliki kepandaian dan bisa membuat kapal terbang. Namun saat pesawat MAS dengan nomor penerbangan MH 370 hilang, sampai saat ini belum bisa ditemukan. Manusia bisa menjadi hebat tapi tidak ada artinya bila tanpa Tuhan. Selain beriman, manusia memiliki kebijaksanaan. Manusia yang ingin membesarkan diri , dalam bahasa Mandarin 自(zi, sendiri) 大 (da, besar) yang artinya sendiri menjadi besar tapi kalau kedua huruf digabung menjadi huruf 臭chou (bau). Jadi orang jangan membesarkan diri tapi harus selalu bersyukur kepada Tuhan dalam segala perkara dan meninggikan Kristus sehingga hidup menjadi indah. Dalam bahasa Mandarin, huruf “indah” (mei, 美) terdiri dari 2 huruf yakni 羊 (yang,  domba) dan 大 (da, membesarkan). Hidup bisa jadi indah dengan membesarkan (meninggikan) anak domba Allah. Saat kita meninggikan Allah dan merendahkan diri, maka hidup menjadi indah. Tatkala Tuhan Yesus menebus kita, Roh Allah tinggal di dalam kita sehingga kita perlu bersyukur kepada Tuhan dalam berbagai hal (termasuk dalam kesulitan). Bersyukur dalam bahasa Mandarin è°¢ (xie) terdiri dari 3 huruf yakni yaituè® (zhi, kata- firman) , 身(shen, tubuh-Allah) dan寸 (cun, inci - ukuran). Melalui kata, tubuh dan ukuran yang menjadi tolok ukur kita adalah Alkitab (Firman Allah menjadi ukuran kita). Sehingga kita perlu hidup bersyukur kepada Tuhan agar kita bisa hidup dengan tenang. Dengan hidup penuh ucapan syukur maka kita bisa menikmati betapa besar anugerah Tuhan dalam hidup kita. Roh Allah ada dalam hati kita sehingga kita menjadi luar biasa, karena bisa memahami bahwa kita sudah ditebus. Ada seorang anak muda Kristen yang berhasil karirnya. Suatu hari ia diundang rekan bisnisnya keluar negeri dan disodorkan seorang teman wanita (lady-escort) gratis. Namun ia menolak dan berkata, “Saya adalah anak dari Tuhan yang sudah menebus diri saya dengan darahNya yang sangat mahal”. Sehingga rekan bisnisnya merasa malu dan meminta wanita tersebut keluar. Sang anak muda menyadari bahwa tubuhnya adalah bait Allah sehingga jangan dipakai untuk berzinah (1Kor 3:16  Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?). Perzinahan  (fornication) bisa bermakna ganda yaitu tubuh yang berzina atau penyembahan berhala (berzina rohani).

3.     Muliakanlah Tuhan dengan hidup kita. Ada 3 prinsip dalam memuliakan Allah yaitu :

a.     Setiap hal boleh kita lakukan tapi jangan diperhamba. Ada orang yang suka merokok sampai kecanduan (tidak bisa menghentikan kebiasaan merokoknya). Ada juga yang suka kopi (setiap pagi, siang dan malam, ia harus minum kopi minimal 1 gelas) sehingga kalau tidak minum kopi maka kepalanya menjadi pusing. Jangan tanya,”Ini boleh atau tidak?”. Segala sesuatu boleh (halal) ,tapi jangan sampai dibelenggu. Kalau sudah terbelenggu, maka kita harus mengatakan, “Tuhan, hidup saya bukan untuk ini.”
b.   Segala sesuatu boleh, tetapi harus ditanya berguna tidak dan apakah membangun orang lain tidak. Baik kita makan atau minum , makan sampai mati jangan sampai mati tidak makan. Waktu anak masih kecil, saya tidak pernah tanya kepada anak saya tentang hari ini mereka mau makan apa. Suami saya saja tidak komplain. Saya harus mengajar dan menyampaikan khotbah. Apa yang mama dan papa makan, anak harus bisa makan walau saat sedang sibuk saya hanya bisa menyiapkan 1 jenis makanan saja, yang penting sehat. Kamu ingat kamu tidak selalu akan dengan mama. Suatu kali dengan moto itu kamu akan easy goling. Sekarang mereka sudah besar dan jauh dari saya, benar sih mama. Mereka, jangan banyak ngomong dengan mama tidak bakal menang.  Memang tidak mudah menjadi seorang mama. Dalam bahasa Mandarin kata 妈 (ma) terdiri dari dua kata yaitu女 (nÇš, perempuan) dan马 (ma, kuda) sehingga kata mama punya konotasi seorang perempuan yang bekerja seperti kuda. Hidup bukan untuk makan, tapi makan untuk sambung hidup.
c.   Semua boleh dilakukan, tetapi belum tentu bisa dilakukan karena semuanya harus memuliakan Tuhan. Makan itu hak saya. Tetapi kalau kita makan harus memuliakan Tuhan, jangan sampai mendewakan perut dan makan terus. “Makan sampai mati” adalah moto yang salah karena tubuh kita adalah bait Allah.
Untuk memuliakan Tuhan :
-   Harus bayar harga (waktu, uang dan perasaan). Seperti persembahan Maria saat diadakan perjamuan untuk Yesus, dia bukan saja meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang sangat mahal bahkan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Rambut adalah mahkota wanita. Wanita cantik karena ada rambutnya. Tatkala Maria mempersembahkan, yang mengkritik nya adalah murid Yesus sendiri yang menjadi bendahara (Yudas, yang kemudian menjual Tuhan Yesus) seperti tertulis pada Yoh 12:5, "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Tetapi Maria melihat Tuhan Yesus tidak melihat murid-muridNya. Dia menyeka Tuhan Yesus dengan rambutnya, mahkotanya.  Meskipun korban perasaan, tapi Maria rela. Sehingga Yesus berkata, “Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia." (Markus 14:9).
-   Melakukan yang baik. Tuhan mengorbankan diriNya untuk kita, apa yang kita korbankan untukNya? Kalau baik, jangan tolak, berbuatlah kebaikan. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yak 4:17). Mungkin kita tidak melihat hasilnya saat ini, tapi apa yang ditaburkan tidak akan sia-sia. Kalau tahu baik, tidak dilakoni, kita berdosa kepada Tuhan. Tuhan Yesus telah menebus kita dan lunas dibayar, apa yang kita persembahkan kepada Tuhan saat ini?

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari rumah ke rumah, menemukan bahwa di kantongnya hanya tersisa beberapa sen saja, dan saat itu dia sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya, hanya untuk menutupi rasa laparnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya punya keberanian meminta segelas air untuk menghilangkan dahaganya. Ketika wanita muda tersebut melihat, dan ia berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah sangat lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “Berapa uang yang harus saya bayar untuk segelas besar susu ini?” Wanita itu menjawab, “Kamu tidak perlu membayar apapun.” “Orang tua kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk sebuah kebaikan, “Kata wanita itu menambahkan. Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata, “Dari dalam hatiku yang paling dalam aku berterima kasih pada anda.” Belasan bahkan puluhan tahun kemudian, wanita muda ini sudah menjadi tua, ia mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota kecil dimana ia tinggal, sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut. Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tua tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui ruang rumah sakit, menuju kamar si wanita tua tersebut. Dengan jubah kedokterannya ia menemui si wanita tua itu. Ia langsung mengenali wanita tua itu dengan pasti pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya yang terbaik untuk menyelamatkan hidup wanita tua itu. Mulai hari itu, ia selalu memberikan perhatian khusus pada penanganan wanita tua itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya wanita tua ini disembuhkan. Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk minta persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. Wanita tua itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut sekalipun ia harus mencicil seumur hidupnya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca sebuah tulisan yang berbunyi. “TELAH DIBAYAR LUNAS DENGAN SEGELAS BESAR SUSU.” TERTANDA, DR. HOWARD KELLY. Air mata kebahagiaan membanjiri mata wanita tua ini, ia ingat pada peristiwa beberapa tahun lalu. Ia kemudian berdoa, “Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.” (http://sangpemulungkisah.blogspot.com/2012/10/segelas-susu.html)

Ev. Lili Suwandi (Wang Lie Lie), istri dari Pdt. Samuel Suwandi, melayani di Bandung dan sekarang sudah emeritus (selama 5 tahun). Dikaruniai 2 putri (di luar negeri) dan 1 putra (di Indonesia). Masuk ke Sekolah Alkitab Asia Tenggara (SAAT) angkatan 66 (angkatan terakhir yang menggunakan bahasa Mandarin) di bawah Pdt. Paulus Sung 2 tahun.

Monday, April 7, 2014

Substitusi : Allah Menggantikanku

Roma 3:25-26
25  Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.
26  Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Ibrani 4:14-15
14  Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.
15  Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Ibrani 7:26-27
26  Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
27  yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.

2 Kor 5:15
15  Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

Pendahuluan

                Dalam perjalanan melayani Tuhan dan beribadah sebagai orang Kristen, saya telah mendengar berbagai kesaksian hidup orang-orang Kristen. 3 contoh di antaranya :
1.     Ada seorang  bapak yang mengganti agama dan menggadaikan iman demi karir di kantornya. Ada jemaat yang bekerja sebagai polisi berkata bahwa jenjang karir orang Kristen di kepolisian paling tinggi mayor. Kalaupun ada yang berpangkat jendral, jumlahnya sangat sedikit. Itu pun susah sekali. Sedangkan bila orang Kristen berkarir sebagai pegawai negeri paling tinggi golongan 2 atau 3, sedangkan golongan 4 sangat sulit dicapai. Sehingga faktanya di lapangan banyak orang Kristen yang rela mengganti imannya demi karir dan hidupnya.
2.     Seorang pemuda/i  rela memeluk agama lain karena terpincut pacarnya dan demi menikah dengan pasangannya.
3.     Seorang pelajar Kristen menyontek di kelas demi nilai yang baik dan lulus sekolah.
Dari contoh-contoh di atas, timbul pertanyaan mengapa sedemikian rendah seorang Kristen memandang imannya (tidak bisa melihat iman Kristen yang sedemikian agung)?  Padahal di dalam Alkitab dan perjalanan iman orang-orang suci (saleh), kita bisa melihat perjalanan hidup mereka dalam mempertahankan imannya, walaupun mereka tetap jatuh dalam dosa. Setelah mengenal karya Kristus di kayu salib, seharusnya paradigma hidup kita berubah.

Substisusi : Allah Menggantikanku (Karya Kristus di Kayu Salib)

                Pengertian substitusi secara sederhana adalah menggantikan artinya bukan saya tetapi orang lain. Dulu waktu pemeriksaan tiket pesawat tidak terlalu ketat, penumpang yang batal pergi dapat diganti dengan orang lain dengan menggunakan tiketnya. Belajar karya Kristus penting untuk iman kita. Untuk memahami istilah substisusi kita mulai dari jabatan kristus yang ditulis di kitab suci. Ada 3 jabatan yang disandang Kristus dalam Kitab Suci dalam perjalanan hidupnya :

1.     Nabi. Nabi adalah seorang yang menyatakan kehendak Allah bagi umat Tuhan tentang keselamatan. Yoh 1:18
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. Yesus menyatakan Allah yang tidak kelihatan supaya manusia beroleh selamat sehingga jabatan sebagai nabi dilaksanakan Yesus dengan baik. Kepada umat manusis, Dia menyatakan kehendak Allah.

2.     Raja. Fungsi raja adalah menaklukkan bangsa-bangsa. Sebagai raja, Yesus menaklukkan kita kepada diriNya sehingga kita percaya kepada Dia. Itulah karyanya Dia memberi hati yang percaya dan menaklukkan kita kepada diriNya. Dia bukan saja menaklukkan juga memerintah orang yang dipimpinanNya. Sebagai raja, Dia melindungi umatNya dalam hidupnya. Sebagai raja Dia menaklukkan musuhNya dan musuh kita sebagai orang percaya.

3.     Imam. Jabatan inilah yang berkaitan dengan tema khotbah yakni subsitusi. Seorang imam adalah perantara antara Allah dengan umatNya. Itu sebabnya di antara 12 suku Israel, suku Lewi dipilih untuk memegang jabatan imam. Suku inilah yang melayani Allah supaya umat Tuhan tidak binasa karena hidup dalam kesalahan mereka. Itu sebabnya seorang imam harus menjadikan dirinya supaya hidup dalam hukum-hukum Tuhan karena ia akan melayani dan membawa umatNya kepada Allah dan membawa persembahan kepada Allah. Itu sebabnya kitab Ibrani mengatakan Yesus Kristus adalah Imam Besar yang hidup. Dia membawa pergumulan umat kepada Allah. Ibrani 7:26-27 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,  yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.Kitab Ibrani menjelaskan persembahan diri Yesus di kayu salib cukup satu kali dan itu cukup untuk orang percaya.

3 Aspek Subsitusi

1.     Menggantikan diri saya. Waktu Yesus mempersembahan diriNya , Ia memuaskan keadilan ilahi. Allah itu Allah yang kudus dan tidak pernah kompromi dengan dosa. Dosa bagi Dia adalah dosa dan dosa harus dihukum. Jadi keadilan Allah tidak boleh disepelekan. Kalau berdosa maka kita tanggung karena dosa adalah dosa. Kalau kita memahami dosa begitu menakutkan maka kita harus menjaga diri dari perkara itu. Pengadilan atas dosa membuahkan hukuman. Tapi dalam karakter kasih, Dia rindu orang percaya mendapat keselamatan. Orang-orang pilihanNya adalah orang-orang yang diberikan keselamatan. Tidak mudah memahami kedua karakter Allah (kasih dan adil) yang sepertinya bertentangan. Karakter pertama, Dia kasih dan menyelamakan orang berdosa. Karakter kedua , Dia akan menghukum orang berdosa dan tidak kompromi dengan dosa. Dua karakter ini yang dilakukan Yesus sehingga memuaskan keadilan Allah. Roma 3:25-26  Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Yesus merendahkan diriNya untuk meredakan kemurkaan Allah. Ini sesuatu yang luar biasa. Yesus menggantikan kita karena apa yang menjadi keadilan Allah harus dijalankan. Di dalam menjalankan keadilan Allah, kasih Allah nyata dalam diri Yesus yang menggantikan manusia. Alkisah di satu kerajaan terdapat peraturan bahwa kalau lonceng berbunyi di istana berarti ada orang yang akan dihukum mati. Suatu kali ada pemuda yang harus menjalani hukuman mati. Orang muda yang seharusnya punya masa depan cerah, melakukan kesalahan dan divonis hukuman mati. Orang muda tersebut tinggal memiliki ibu yang sangat mengasihinya (ayahnya sudah meninggal). Ibunya sedih karena anaknya harus menjalani hukuman mati, namun peraturan kerajaan tidak bisa ditolak dan besok pagi lonceng akan dibunyikan tanda hukuman akan dilaksanakan. Namun keesokan pagi , setelah prajurit menarik bandul lonceng ternyata tidak terdengar bunyi sama sekali. Orang bingung mengapa lonceng tersebut tidak bunyi. Karena lonceng tidak berbunyi berarti tidak ada hukuman mati. Akhirnya orang muda ini tidak jadi dihukum mati. Setelah diselidiki ternyata ditemukan ibu anak muda  telah meninggal dunia dalam posisi memeluk bandul lonceng. Rupanya sang ibu melakukan hal itu sehingga waktu bandul ditarik pengawal, tubuhnya yang terkena dinding lonceng. Semakin keras ditarik, maka tubuh ibu itu semakin keras mengenai dinding lonceng sampai mengeluarkan darah dan akhirnya sang ibu meninggal demi menyelamatkan anaknya. Waktu saya pertama mengenal Tuhan, saya ingat ilustrasi yang sedemikian mengharukan. Demi putranya, sang ibu mau mengorbankan dan menggantikan dirinya. Ia mengorbankan dirinya dihantam ke dinding lonceng sehingga darahnya tercurah. Pada waktu Kristus di salib, lonceng tetap berbunyi karena lonceng menandakan kematian Yesus. Itulah penggantian (substitusi) yang sifatnya memuaskan keadilan Allah.

2.     Mendamaikan kita dengan Allah. Hal ini dipahami orang Yahudi karena Perjanjian Lama (PL) mengajarkan mereka. PL menggambarkan substisusi dengan jelas dari manusia kepada binatang. Orang berdosa membawa binatang lalu dikorbankan. Lalu imam melakukan ritual ini untuk menggambarkan pemindahan dosa manusia kepada binatang. Hal ini terjadi untuk mendamaikan Allah dengan manusia yang berdosa. Allah benci dosa sehingga perlu didamaikan. Waktu korban disembelih dan mengeluarkan darah , di situ terjadi pembunuhan yang menggambarkan nyawa yang tertumpah dan saat itulah Allah didamaikan dengan manusia yang berdosa.  Jadi Allah memberikan aturan seperti ini untuk mendamaikan diriNya dengan umatNya yang berdosa. Ibarat manusia hidup di suatu negara dan ia bermusuhan dengan pemimpin negaranya, itu sama saja hidup dalam keadaan mati. Nazaruddin, bendahara partai demokrat, melarikan diri ke Amerika karena bersalah. Ia tidak berani menghadapi penegak hukum Indonesia karena ia melakukan kesalahan (korupsi). Waktu berdosa, kita lari dari Allah karena takut. Kita pakai cara dan usaha kita sendiri untuk mengenal Allah tapi sesungguhnya Allah murka. Itu sebabnya supaya kita berdamai dengan Allah, maka Yesus menggantikan kita dari hukuman dosa.

3.     Dia terus menerus menjadi perantara kita dengan Allah. Dalam kitab Ibrani dijelaskan bahwa  Kristus yang menggantikan saya, sekarang jadi pengantara kita dengan Allah di sorga. Itu membuat kita berani datang kepada Dia karena punya perantara. Karena sifat penggantian inilah , maka kita yang harusnya mati menjadi hidup. Itu sebabnya dalam 2 Kor 5:15 dikatakan  Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Jika karya Kristus di salib benar-benar nyata dan dialami secara luar biasa, Dia yang suci menggantikan saya di kayu salib, maka Rasul Paulus mengatakan bahwa implikasinya kita (orang percaya) harus mengalami perubahan dari hari ke hari. Pengetahuan kognitif tentang subsituti seharusnya masuk dalam hidup kita. Betapa mengerikan substitusi tapi betapa agung karya substitusi. Mengerikan karena harusnya sayalah yang dihukum tapi Dia telah menggantikan saya. Mengagungkan karena Dia mau menggantikan saya. Itu sebabnya kita seharusnya mengalami perubahan hidup dari hari ke hari. Dengan demikian, apakah kita akan terus hidup dalam berbohong? Berbohong adalah perkara yang berbahaya. Dosa berbohong dilakukan dari anak sampai orang paling tua sekalipun. Dosa ini paling mudah dilakukan karena lidah tidak sakit waktu digunakan saat berbohong. Bagi Paulus, hal ini tidak boleh terjadi lagi. Memang kita bisa berdosa tapi kita tidak harus berdosa. KaryaNya yang agung tidak mungkin dihinakan dengan diri kita yang menyontek. Seringkali kita terpancing menyontek supaya dapat nilai tinggi supaya ortu tidak marah dan untuk naik kelas. Tujuan itu tidak sebanding dengan Yesus yang mati dan seharusnya tidak.  Sebagai orang Kristen kita harus menjaga supaya tidak memfitnah orang sesuai dengan pepatah Indonesia  “memfitnah lebih kejam daripada membunuh”. Karena kalau dibunuh, orang akan langsung mati dan orang yang langsung mati tidak mengalami kesusahan lagi. Kalau difitnah dia tetap hidup tapi sesungguhnya sudah mati. Dia menjalani hidup dengan susah, karena lingkungan sudah mendengar fitnahnya sehingga sesungguhnya dia sudah mati. Seorang tokoh rohani, Jonatan Edward pernah difintah sehingga ia harus meninggalkan kampung halamannya. Tetapi setelah beberapa waktu berlalu dan ia telah meninggal kemudian terungkap ternyata fitnahan itu tidak benar. Ini peristiwa yang mengerikan. Fitnah terkadang lebih banyak di gereja daripada di luar. Mari kita merefleksikan karya Yesus yang mengantikan kita dan jangan lagi melakukan perbuatan-perbuatan yang mendukakan hati Allah seperti berjudi, berselingkuh dll. Biarlah karya Kristus yang sedemikian agung bernar-benar nyata dalam hidup kita.

Oleh : Pdt. Hery Kwok