Sunday, February 16, 2014

Hosea 3








Pdt Hery Kwok

Hosea 3
1  Berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis."
2  Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai.
3  Aku berkata kepadanya: "Lama engkau harus diam padaku dengan tidak bersundal dan dengan tidak menjadi kepunyaan seorang laki-laki; juga aku ini tidak akan bersetubuh dengan engkau."
4  Sebab lama orang Israel akan diam dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berhala dan tiada efod dan terafim.
5  Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari TUHAN, Allah mereka, dan Daud, raja mereka. Mereka akan datang dengan gementar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya pada hari-hari yang terakhir.

Pendahuluan

                Sewaktu mempersiapkan khotbah dengan tema Hosea 3 , saya membaca buku tentang keluarga karangan Dr. Gary & Barb Rosberg.  Keduanya adalah penulis buku , pembawa acara radio dan pembicara tentang pernikahan untuk memperlengkapi para pasangan agar memiliki pernikahan yang terus bertumbuh sampai selamanya dan mendedikasikan diri mereka untuk menolong  pernikahan Kristen yang sedang mengalami kehancuran. Mereka menulis buku yang berjudul  The 5 Love Needs of Men and Women yakni 5 Kebutuhan Wanita yang perlu dipahami oleh setiap pria dan 5 Kebutuhan Pria yang perlu dipahami oleh setiap wanita. Buku ini diawali dengan sebuah kisah nyata sebagai berikut :

Phil menelpon kantor konseling saya (Gary) dan bertanya apakah dia dan istrinya dapat membuat janji. Saya melihat agenda saya yang teramat padat dan menjawab, “Waktu saya sangat ketat dan baru bisa membuat janji beberapa minggu lagi.”
“Tidak bisa menunggu beberapa minggu lagi”, katanya. “Harus hari ini” Kemudian dia melanjutkan, “Saya tidak akan meminta kalau masalahnya tidak mendesak”.
Saya tidak begitu mengenal Phil, namun saya mengenali rasa panik saat ia menelpon. Saya pun berkata,“Jika kamu memang sangat perlu untuk datang, kamu dapat singgah pk 5 sore ini”.
“Kami akan datang” katanya.
Sepanjang hari itu saya terus memikirkan telpon Phil tersebut dan mendoakan Phil dan istrinya. Nada suaranya yang sangat mendesak merupakan lampu merah yakni tanda peringatan  bahwa kami akan menghadapi sebuah pertempuran. Pertempuran bagi kehidupan keluarganya.
Beberapa jam kemudian, kekhawatiran terburuk saya menjadi kenyataan saat saya menyalami Phil dan Susan, istrinya, di ruang tunggu kantor saya. Susan menangis dan matanya menatap lantai. Phil seperti seorang pria yang baru saja mengalami mimpi terburuknya.
Setelah mereka berada di kantor saya, saya bertanya apa yang mereka perlu sampaikan.
“Saya ingin membawa anak-anak ke taman siang ini” kata Phil. “Saat ingin berangkat, saya bermaksud mengganti popok bayi Annie.  Karena tidak menemukan lap, saya meminta salah satu anak yang lebih tua untuk menjaga Annie saat saya mencari lap tersebut. Kemudian saya teringat, Susan pernah membawa sekotak lap di tas pantainya yang disimpan di kamar lemari pakaian anak perempuan kami. Saat  mencari di tas tersebut, saya menemukan sebuah surat cinta untuk Susan. Masalahnya……. Surat itu bukan dari saya! “
Phil melirik ke arah Susan lalu kembali berpaling ke saya.
“Surat itu dari pria lain. Dia menuangkan cintanya kepada istri saya. Dia menulis tentang saat-saat kebersamaan mereka. Sampai di sana saya mulai melihat seluruh hidup saya terkoyak. Saya tidak percaya! Dia bercerita tentang parfum yang dipakai istri saya…. Tentang pakaian istri saya yang menjadi kesukaannya. Pakaian yang saya beli untuk Susan. Dia bercerita tentang kenang-kenangan di hotel-hotel dan makan siang-makan siang rahasianya. Saya tidak dapat mempercayainya! Inilah istri saya. Ibu anak-anak saya yang sedang ia bicarakan. Namun saya pikir yang membuat saya lebih terperosok adalah bahwa mereka pernah melakukannya di kamar tidur kami.  Selama ini saya tugas ke luar kota untuk mencari nafkah untuknya dan anak-anak kami dan dia melakukannya di kamar kami dengan pria itu! Yang bisa saya lakukan hanyalah menatap surat itu.”
“Apa yang kau lakukan selanjutnya?” tanya saya kepada Phil.
“Saya terduduk di lantai dalam ruang pakaian itu dan tidak henti-hentinya membaca surat itu. Saya tidak bisa menghentikannya.” Katanya. “Saya tahu kalau saya melangkah ke luar kamar lemari pakaian, saya akan menghadapi rasa sakit yang lebih dari yang dapat saya bayangkan. Saya tahu hidup saya tidak pernah sama lagi. Saya mendengar anak-anak berlarian di dalam rumah, tidak menyadari bahwa dunia mereka akan berubah. Akhirnya saya mengumpulkan segenap tenaga untuk berdiri. Saya mendengar Susan sedang menelpon di kamar tidur kami dan saya pun melangkah menyusuri gang rumah kami menuju ke tempat Susan berada. Saat melakukannya, saya melewati foto-foto keluarga yang menggambarkan berbagai peristiwa . Foto-foto liburan. Foto saat sedang menyusuri sungai dengan rakit, reuni keluarga…. Langkah itu merupakan langkah terpanjang dalam hidup saya. Saat masuk ke dalam kamar, punggung Susan membelakangi saya. Kemudian ia menutup telepon dan berpaling kepada saya. Saat dia melakukannya, saya menatap matanya dan semua hal yang dapat saya katakan hanyalah 3 kata, ‘Susan, saya tahu.’ Bersama dengan kata itu, dia terjatuh ke ranjang dan mulai terisak. Kemudian saya tahu secara pasti bahwa itu bukanlah sekedar mimpi buruk , tapi hal itu benar-benar terjadi. Istri saya punya affair . Rasa sakit melingkupi seluruh tubuh saya dan mengiris jiwa saya yang terdalam. Kemudian kami berdua jadi berantakan.”
“Oh Tuhan. Jangan ada keluarga lainnya….” Tanpa sadar saya berdoa. “Jangan pasangan ini…  anak-anak kecil mereka. Bapa, berikan saya kata-kata. Berikan saya hikmat.”
“Apa yang terjadi dengan kami, Gary?” air mata membayang di mata Phil saat dia memandang saya.
“Kami memulai pernikahan kami dengan luapan cinta kasih di antara kami dengan harapan luar biasa untuk kehidupan masa depan bersama-sama. Kami yakin memiliki pernikahan berpusatkan Kristus yang teguh. Tapi apa yang terjadi?”

Dr. Gary memperhatikan kejadian yang menimpa Phil dengan lukanya yang dalam karena disakiti luar biasa. Ams 6:34 mengatakan .”Karena cemburu adalah geram seorang laki-laki, ia tidak kenal belas kasihan pada hari pembalasan dendam”; Laki-laki yang disakiti hatinya  seperti beruang yang sedang marah. Saat marah, beruang bisa mencabik dan menjadi buas sekali. Itulah yang coba dipahami Dr. Gary saat hati nurani Phil disakiti istrinya. Di salah satu blog yang membahas tentang “hati yang disakiti” ada yang menulis, “kalau dikhianati istri saya, saya bisa menangis 4 hari 4 malam”, ada juga yang menulis, “Saya bisa tidak makan 4 hari”. Tetapi semuanya menggambarkan, seandainya mengalaminya belum tentu kita melakukan hal itu karena ini berkaitan dengan  perasaan orang yang dikhianati.

Cinta Allah : Cinta yang “Kendatipun”

Hosea 3 terdiri dari 5 ayat yang menggambarkan kasih setia Allah yang tidak berwujud dan berpangkal yang diwujudkan pada kasih kepada Gomer. Pada Hosea 1, perintah Allah kepada nabi Hosea "Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal” (Hosea 1:2)  sepertinya tidak masuk ke dalam pikiran. Bagaimana seorang nabi menikah seorang sundal? Tetapi hal ini menunjukkan betapa ekstrim dosa orang Israel sehingga Allah memberi contoh yang ekstrim untuk memberi pelajaran kepada orang Israel. Sedangkan Hosea pasal 2 berisi kemarahan hati Allah, karena orang Israel sangat jahat sekali. Ia pantas marah. Walau orang berpikir kenapa Allah marah, karena seringkali dalam persepsi orang, Allah tidak boleh marah. Itu membuat orang Kristen “lembek”. Yang tidak boleh adalah pemarah. Waktu perlu marah, maka marahlah. Saya kemarin diundang di GKR Gedong untuk menjadi narasumber. Dalam pengantar MC nya berkata, “Kasih itu sabar, tidak boleh marah” sehingga orang Kristen punya image seperti itu. Padahal jelas sekali bagaimana Allah marah. Karena itu sesungguhnya  lahir dari kasih setiaNya yang hebat. Pada Hosea 3:1 dikatakan Pergilah lagi.  Ini indikasi kemungkinan besar Gomer sering berbagi cinta dengan laki-laki lain sebagai seorang pelacur. Sehingga waktu dikatakan pergilah lagi, di sinilah sesungguhnya Allah sedang memberi penegasan ke Israel bahwa engkaulah perempuan sundal (Gomer)  itu. Dan Aku mencoba kembali mencintaimu.

Kemarin di acara pasutri dengan topik “Ada Apa dengan Cinta” yang dibawakan oleh Pdt Sugiharto disampaikan bahwa  ada 3 karakter cinta yaitu :
1.     Cinta yang “karena”. Saya cinta karena kamu ganteng atau cantik. Faktornya “karena”. Kalau faktor “karena” tidak ada lagi, maka cinta bisa runtuh. Pada saat mengucapkan janji nikah, dikatakan akan mencintai sehidup semati dan dalam susah-senang. Kenyataannya  waktu hidup bersama dan istri menjadi gemuk, maka cintanya hilang dan ia mencari yang lain. Faktor “karena” merupakan cinta yang sangat dangkal.
2.     Cinta yang “supaya”. Saya cinta kamu supaya ….. Kata “supaya” banyak dalam bercinta. Saya mencintainya karena ia bisa merawat keluarga atau menolong saya. Ada pamrih dalam kata cinta. Dan banyak orang mencinta seperti itu. Saya mencinta supaya saya menikmati kekayaan, pertolongan dll Waktu “supaya” tidak ada lagi, maka tidak ada lagi cinta itu.
3.     Cinta yang “kendatipun” atau “sekalipun”. Saya mencintai kendalipun (sekalipun)… Ini cinta yang luar biasa. Ini yang digambarkan oleh Allah dalam cinta kepada Gomer walaupun Gomer berpaling kepada allah lain. Dalam bahasa aslinya, Hosea diterjemahkan sebagai “Allah menyelamatkan” sedangkan Gomer artinya “kue kismis”. Kata “kue kismis” ini diungkapkan dalam Hosea 3:1 : “menyukai kue kismis” karena orang Israel menyembah Baal dan Asytoret. Orang Kanaan beribadah kepada Baal dan Asytoret dan kehidupan mereka makmur. Mereka beribadah karena Baal memberi mereka kemakmuran. Orang Israel ingin seperti bangsa Kanaan dengan menyembah Baal dan Asytoret. Sehingga dikatakan, “kamu mencari allah lain karena…”, Itu cinta karena diberkati. Waktu Allah tidak seperti itu, maka dianggap Allah tidak mencintai.

Fokus kepada Allah dan Kembali kepadaNya

Apa yang membuat kita tidak setia? Mungkin allah lain, walau bukan berwujud paranormal, dukun atau orang yang bisa meramal nasib. “Allah” yang dimaksud mungkin tidak seperti Baal atau Asytoret, allah bangsa Kanaan yang kemudian disembah orang Israel, tetapi berupa “tidak berfokus pada Allah”  atau focus ke hal yang lain. Seorang pendeta diberikan anak lalu kemudian anak itu jadi allah karena membuatnya tidak berkonsentrasi lagi pada Allah yang sejati. Bisa saja allah itu berupa anak, istri, pekerjaannya yang semuanya membuat fokus kepada hal itu melebihi fokus kepada Allah. itu membuat orang Israel membagi cintanya kepada Allah. Padahal Allah telah membelinya dengan lunas. Jadi kecemburuanNya adalah benar karena tidak mau cinta kepadaNya dibagi. Kita juga tidak bisa menerima menerimanya. Cinta kita sesungguhnya cinta kepada Allah yang membuat focus kita hanya kepada Dia. Saat saya ditempatkan di sekolah, ada seorang orang tua bertanya, “Pak, kenapa banyak ulangan di tempat ini, sehingga saya tidak bisa ke gereja? Saya menjawab, “Jadi tidak mau ulangan? Juga ulangan umum? Hanya mau diberikan nilai 6 di rapor?” Orang tua tersebut menjawab, “Bukan begitu. Kalau banyak ulangan, saya harus mengajari anak, sehingga saya sulit kegereja.” Saya bertanya, “Dengan tidak ke gereja selama 2 jam, apakah anak bisa belajar dengan hebat?” Jangan sampai anak menjadi allah dalam diri kita. Juga hobimu. Ada orang yang hobi memancing, sehingga ia menghadapi kesukaran . Dalam allah itu mereka menikmati “kue kisimis” (kesenangan). Betapa manisnya “kue kismis” sehingga Allah dilupakan. Ada orang yang rajin berdoa. Begitu doanya dikabulkan dia tidak lagi berdoa. Pekerjaan juga bisa menjadi “kue kismis”nya. Itu sebabnya Hosea menikahi Gomer. , Ia pergi ke Gomer. Nabi Hosea mencintai Gomer (kue kisimis). Kehebatan cinta Allah bisa dilihat pada ayat 2 (Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai). 1,5 homer jelai nilainya sama dengan 15 syikal perak. Jadi bila dijumlahkan, totalnya menjadi 30 syikal perak. Tuhan Yesus waktu dijual seharga 30 keping perak. Sama persis! Itu harga yang terlalu murah. Itu harga seorang budak, orang yang dianggap tidak berharga.
Gomer juga tidak berharga, namun Allah mengambilnya dan mencintainya lagi. Itulah Allah yang luar biasa. Mari kita evaluasi cinta kita kepada Allah. Apakah cinta kita begitu menggebu-gebu seperti saat bertemu pertama kali? Mengapa cinta tidak mengebu lagi? Seperti lirik lagu yang digubah oleh Pdt. Stephen Tong. Banyak yang cintanya makin lama makin hilang. Jangan seperti orang Israel, sehingga mereka harus dididik dengan mahal yakni dengan dibuang selama 70 tahun di negeri Babel. Seperti yang ditulis pada Hosea 3:4   Sebab lama orang Israel akan diam dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berhala dan tiada efod dan terafim. Baru di sana mereka mencari Allah dengan gemetar. Allah tidak mau kita datang dengan kasus seperti ini, tetapi orang Isarel yang membuat dirinya begitu. Allah rindu orang datang kepadaNya seperti orang sedang kehausan dan melayani Dia dengan kesadaran. Suatu kali saya memutar khotbah Pdt. Stephen Tong di mobil untuk penyegaran. Sepanjang jalan, saya mendengarkannya dan waktu lewat Kemayoran saya berhenti. Pdt. Stephen Tong berkata  dengan keras tentang cinta yang sudah krisis dan mulai hilang. Saya menangis. Karena Allah mengingatkan saya kembali melalui kebenaran firman Tuhan. Kalau hati tersentuh dengan kasih Allah, maka tidak akan bisa melupakan kasih Allah yang begitu hebat.

Dalam buku karangan Dr. Gary di atas, saat dipulihkan, istrinya mengasihi dan menghormati suaminya kembali. Apakah kita mengenal kasih itu yang membuat kita beribadah, datang melayani Dia ,membuat kita suka hidup dalam aturanNya? Hosea 3 mengingatkan siapa kita. Kitalah Gomer, tapi Dia mencintai kita, ingin kita kembali kepada kasih setiaNya.

Monday, February 10, 2014

Hosea 2








Ev. Peter Yosua

Hosea 2
1 Katakanlah kepada saudara-saudaramu laki-laki: "Ami!" dan kepada saudara-saudaramu perempuan: "Ruhama!"
2  "Adukanlah ibumu, adukanlah, sebab dia bukan isteri-Ku, dan Aku ini bukan suaminya; biarlah dijauhkannya sundalnya dari mukanya, dan zinahnya dari antara buah dadanya,
3   supaya jangan Aku menanggalkan pakaiannya sampai dia telanjang, dan membiarkan dia seperti pada hari dia dilahirkan, membuat dia seperti padang gurun, dan membuat dia seperti tanah kering, lalu membiarkan dia mati kehausan.
4   Tentang anak-anaknya, Aku tidak menyayangi mereka, sebab mereka adalah anak-anak sundal.
5   Sebab ibu mereka telah menjadi sundal; dia yang mengandung mereka telah berlaku tidak senonoh. Sebab dia berkata: Aku mau mengikuti para kekasihku, yang memberi roti dan air minumku, bulu domba dan kain lenanku, minyak dan minumanku.
6 Sebab itu, sesungguhnya, Aku akan menyekat jalannya dengan duri-duri, dan mendirikan pagar tembok mengurung dia, sehingga dia tidak dapat menemui jalannya.
7  Dia akan mengejar para kekasihnya, tetapi tidak akan mencapai mereka; dia akan mencari mereka, tetapi tidak bertemu dengan mereka. Maka dia akan berkata: Aku akan pulang kembali kepada suamiku yang pertama, sebab waktu itu aku lebih berbahagia dari pada sekarang.
8 Tetapi dia tidak insaf bahwa Akulah yang memberi kepadanya gandum, anggur dan minyak, dan yang memperbanyak bagi dia perak dan emas yang dibuat mereka menjadi patung Baal.
9   Sebab itu Aku akan mengambil kembali gandum-Ku pada masanya dan anggur-Ku pada musimnya, dan akan merampas kain bulu domba dan kain lenan-Ku yang harus menutupi auratnya.
10 Dan sekarang, Aku akan menyingkapkan kemaluannya, di depan mata para kekasihnya, dan seorangpun tidak akan melepaskan dia dari tangan-Ku.
11 Aku akan menghentikan segala kegirangannya, hari rayanya, bulan barunya dan hari Sabatnya dan segala perayaannya.
12 Aku akan memusnahkan pohon anggurnya dan pohon aranya, yang tentangnya dikatakannya: Ini semuanya pemberian kepadaku, yang dihadiahkan kepadaku oleh para kekasihku! Aku akan membuatnya menjadi hutan, dan binatang-binatang di padang akan memakannya habis.
13 Dan Aku akan menghukum dia karena hari-hari ketika dia membakar korban untuk para Baal, berhias dengan anting-antingnya dan kalungnya, dan mengikuti para kekasihnya dan melupakan Aku," demikianlah firman TUHAN.
14 "Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya.
15  Aku akan memberikan kepadanya kebun anggurnya dari sana, dan membuat lembah Akhor menjadi pintu pengharapan. Maka dia akan merelakan diri di sana seperti pada masa mudanya, seperti pada waktu dia berangkat keluar dari tanah Mesir.
16  Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku!
17  Lalu Aku menjauhkan nama para Baal dari mulutmu, maka nama mereka tidak lagi disebut.
18 Aku akan mengikat perjanjian bagimu pada waktu itu dengan binatang-binatang di padang dan dengan burung-burung di udara, dan binatang-binatang melata di muka bumi; Aku akan meniadakan busur panah, pedang dan alat perang dari negeri, dan akan membuat engkau berbaring dengan tenteram.
19 Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang.
20 Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN.
21 Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mendengarkan langit, dan langit akan mendengarkan bumi.
22  Bumi akan mendengarkan gandum, anggur dan minyak, dan mereka ini akan mendengarkan Yizreel.
23 Aku akan menaburkan dia bagi-Ku di bumi, dan akan menyayangi Lo-Ruhama, dan Aku berkata kepada Lo-Ami: Umat-Ku engkau! dan ia akan berkata: Allahku!"

Perlukah Marah?

Kitab Hosea pasal 2 merupakan kelanjutan dari pasal 1. Inti pasal 1 adalah betapa Allah ingin menegur umatNya dengan cara yang tidak biasa (ekstrim). Dan Hosea pasal 2 seperti “surat murka” Allah yang dinyatakan dalam cara yang tidak umum juga. Kata-kata yang dipakai memang menimbulkan rasa tidak nyaman bagi umat yang ditegurNya. Pertanyaannya : mengapa harus nyaman? Apakah saat Allah menegur, hati orang (pihak) yang ditegur harus dibuat nyaman? Pertanyaan ini timbul karena seringkali manusia menggunakan patokan berupa rasa nyaman sehingga banyak yang berkata, “Aku tahu maksud dari apa yang dia sampaikan, hanya jangan begitu caranya”. Tetapi kenyataannya Allah menegur dengan cara yang tidak nyaman dan kata-kata yang keras dan ekstrim. Kenapa Allah marah seperti ini? Apakah orang yang tidak pernah marah adalah orang yang baik? Apakah standard kita kalau ada yang tidak pernah menegur kesalahan orang lain adalah orang yang baik? Apakah orang yang tidak pernah marah itu adalah orang baik? Apakah guru yang baik adalah guru yang tidak pernah marah? Kalau sang guru marah lalu dibilang tidak “punya otak” atau guru yang marah adalah guru pembunuh (killer)! Para siswa menginginkan guru yang selalu ramah. Maka ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta dan seringkali marah, banyak orang menjadi heran dan kaget. Sebelumnya tidak pernah ada pejabat pemerintah yang bersikap seperti itu karena kebanyakan pejabat hanya menebarkan senyum agar menjadi popular di mata masyarakat. Sekarang kita seyogianya melihat apakah marah itu perlu dan tidak selalu jelek. Marah perlu dalam beberapa kondisi seperti saat keadilan ditindas dan kebenaran disingkirkan, karena marah berbicara tentang sesuatu yang penting. Apa jadinya kalau suami tidak marah saat istri digoda orang lain? Istri berkata,”Pi, kenapa papi tidak marah waktu saya ditowel?” Sang suami kemudian menjawab, “Ya tidak apa-apa mami. Kan kalau sekedar ditowel, tidak akan luntur”  Masa seperti itu? Marah itu perlu pada waktunya. Bahkan hewan juga punya natur untuk marah , saat sesuatu yang penting baginya diganggu. Ada binatang yang marah karena waktu makan diganggu atau burung hantu beringas yang menjadi beringas kalau anaknya diganggu. Begitu juga dengan kita. Seharusnya kita tidak alergi dengan rasa “marah”. Marah berbicara tentang sesuatu yang perlu dipertahankan.

Murka Allah

Seorang rekan hamba Tuhan yang menjadi guru, suatu kali menampar anaknya karena berbohong. Mendengar hal ini, mungkin kita merasa kaget dan menilai sikapnya terlalu keras saat menghadapi kebohongan anaknya. Namun saat membagikan kisah tersebut, raut wajahnya tidak menggambarkan kondisi yang ber sukacita melainkan berat hati. Karena apa yang dilakukan anaknya sangat tidak pantas sehingga ia perlu menampar anaknya.

Ketika Allah berhubungan dengan umatNya, berkali-kali Allah murka dengan mereka. Namun konsep Allah yang marah dan murka membuat banyak orang merasa tidak nyaman. Kita hidup di zaman orang yang tidak suka dengan konsep ini. Bila kita melihat video di laman Youtube, banyak orang Barat yang tidak suka dengan konsep ini. Ada seorang pengkhotbah (street preacher) berbicara di taman tentang Allah yang menghakimi. Kemudian ada seorang ibu yang sedih dan menangis, kemudian berkata, “Saya tidak suka dengan apa yang dikhotbahkannya. Dari kecil saya diajar bahwa Allah adalah kasih, sehingga Allah yang saya kenal adalah Allah yang mengasihi. Ia tidak murka dengan kita. Hati saya sangat kesal”. Banyak orang di Barat mengatakan, Allah adalah Allah yang sangat baik dan Dia tidak pernah marah. Sehingga mereka tidak suka saat mendengar Allah yang murka. Ia suka mendengar Allah yang baik hati. Budaya Barat konsepnya penuh dengan cinta dan hak asazi manusia. Anak tidak boleh dipukul orang tuanya, dan kalau dipukul maka anak tersebut akan mengadu ke semacam “Komnas HAM” di sana selanjutnya orang tuanya akan ditahan di penjara. Hal ini juga terjadi di sekolah internasional di Indonesia. Ada seorang teman yang mengajar di sekolah internasional di Jakarta yang benar-benar menerapkan budaya Barat sehingga guru tidak boleh marah dan memukul murid-muridnya bila melakukan kesalahan. Aturan ini kemudian juga banyak diterapkan di sekolah-sekolah nasional sehingga guru tidak boleh menegur murid-muridnya. Apakah benar demikian? Alasan tidak boleh ditegur adalah supaya murid menjadi percaya diri dan tidak takut. Guru ini bercerita bahwa di depan matanya, ada anak murid mengangkat kakinya di meja dan guru tidak punya otoritas untuk menegurnya. Hal ini menyebabkan anak yang paling nakal ada di Amerika. Padahal bukankah Amerika menekankan HAM dan persamaan (ekualiti) sehingga anak merasa setingkat dengan orang tuanya dan mereka memanggil mereka dengan namanya saja. Bila hal ini terjadi di Indonesia, bagaimana perasaan kita? Bila hal itu dianggap kurang ajar, maka orang tua akan memukul anaknya. Budaya barat  tidak menyukai marah dan pukulan, sehingga orang tua banyak yang tidak sanggup mendidik anaknya. Ada ibu yang menggendong satu anak yang menangis dan anaknya yang lain iri sehingga mau juga digendong. Anak yang satu muntah, lalu ke mana papanya? Ia tidak ada di rumah. Sepulangnya kerja ia naik sepeda berkeliling kompleks atau main bowling, karena ia merasa sudah lelah mencari uang. Sehingga orang tua menghubungi pengasuh anak (nanny 911) yakni orang yang biasa mengurus anak. Cara mereka menangani anak yang bermasalah bukanlah dengan cara yang baru. Dia hanya mengembalikan otoritas orang tua. Orang tua harus tegas kepada anak. Ia menempel peraturan. Sehingga orang tua perlu marah, menegur dan mendisiplinkan anak-anaknya.

Perceraian Emosional

Pada kitab Hosea, Allah menegur dengan keras umat Israel yang terus memberontak terhadap perintah Allah. Akhirnya Israel dibuang ke Asyur (722 SM) karena Israel tidak pernah menyadari kesalahannya. Bagi Israel, Yerusalem adalah tanah suci dan tanah yang dicintai. Namun mengapa Allah begitu tega membuang 10 suku ke Asyur? Seperti juga pertanyaan : “Kenapa guru tega menegur muridnya?” atau “Mengapa papa tega memarahi anaknya?”. Apakah Allah kejam? Pasti ada rasa perih di hati saat orang tua menghukum anaknya. Tetapi hukuman itu perlu supay anak belajar tidak melakukan hal yang salah. Walau saat kita menghukum orang yang dekat, hati kita merasa perih. Berapa banyak dari kita yang memahami bahwa Allah perih hatiNya saat menghukum kesalahan kita? Umumnya Allah hanya dianggap sebagai Pencipta , Penjaga (dari kecelakaaan) atau Pemberi Berkat saja. Seberapa banyak yang menganggap Allah adalah mempelaiku? Waktu marah, Dia berkata , “Engkau bukanlah mempelaiku”. Hubungan antara umat Allah dan Allah adalah seperti suami-istri sehingga waktu orang Israel menyembah Baal, dikatakan kamu sudah berzina dan berselingkuh. Banyak pernikahan yang berakhir dengan perceraian. Saat menonton infotaiment di TV, perceraian lumrah terjadi dan sepertinya tidak masalah. Banyak public figure yang bercerai. Sadar tidak sadar mereka telah menjadi panutan orang. Kalau perceraian menjadi hal yang biasa, apakah anak-anak Tuhan banyak yang bercerai? Bila tidak, puji Tuhan! Ada juga perceraian secara emosional. Ketika suami-istri tidak lagi memiliki rasa sayang, mereka menjadi teman biasa bahkan menjadi orang asing (stranger). Itu terjadi perceraian emosional. Banyak keluarga bercerai tidak secara fisik, tetapi secara emosi dan tidak ada lagi rasa sayang.

Ada sebuah cerita tentang seorang istri yang mengirim pesan singkat (SMS) ke  suaminya. “Honey, I’m dying”. Suaminya yang berada di suatu tempat lain melompat kegirangan karena mengira istrinya sedang sekarat,  tapi ia berpura-pura dan membalas pesan sang istri, “Sayang apa yang terjadi padamu? Saya tidak dapat hidup tanpamu.” Istri bingung dengan balasan suaminya. “Sayang, apa yang kamu pikirkan?  I’m dying my hair (saya sedang mewarnai rambut)”. Sang suami kemudian mengomel. Betulkah ada seorang suami yang tidak suka dengan istrinya dan berharap sang istri cepat mati? Bila betul terjadi, sangat menyedihkan. Bagaimana hubungan dengan Tuhan? Ada yang ikut beribadah, punya Alkitab dan salib terpasang di rumah. Walau tidak bercerai secara fisik, tetapi apakah kita bercerai secara emosional? Ciri-cirinya : doanya “kering” dan ibadah tidak menyenangkan (enjoy) hati. Ibadah hanya menjadi kebiasaan. Kalau tidak ke gereja tidak enak, seperti berhutang. Secara tidak sadar terjadi perceraian dengan Tuhan. Sehingga banyak orang Kristen hidup seperti orang dunia. Bandingkan kita dengan orang yang belum percaya, di pekerjaan dan lingkungan. Karena cara hidup dan konsep hidup kita, betulkah kita anak Tuhan? Mencintai Tuhan dan menjadi mempelaiNya?  Saat harga rumah mengalami kenaikan secara drastis, banyak orang yang merasa kuatir tidak bisa membeli rumah karena harganya tidak terjangkau. Beberapa tahun lalu rumah yang harganya miliaran rupiah adalah rumah artis. Sekarang rumah biasa harganya sudah miliaran rupiah . Sewaktu saya melihat harga rumah di perumahan , harganya miliaran rupiah dan paling murah RP 600 juta. Ada yang mengingatkan, “Belilah rumah sekarang! Kalau tidak beli sekarang, tidak bisa beli rumah lagi di masa depan. Apakah kita punya kekhawatirkan yang sama? Bukankah itu kalimat yang menggoyahkan iman? Dahulu orang tidak pernah membayangkan harga rumah Rp 1 miliar sekarang biasa karena perekonomian Indonesia naik. Sekarang banyak filosofi yang menggoyangkan iman. Kita menggumulkan hal yang sama (uang dan etika kerja) dengan dunia. Ada pendapat kalau tidak ikut dunia, tidak bisa sukses. Kalau mental nya sama dengan orang dunia, apa bedanya? Apa dampaknya kita mengenal Tuhan? Kalau tidak ada, kita akan seperti orang tidak mengenal Tuhan. Kemudian sadar atau tidak sadar, kita akan mulai “jatuh” dan mulai menjadi orang duniawi. Saat bangsa Israel  berubah menjadi duniawi dan mengandalkan Baal (bersyukur kepada Baal untuk makanan dll), Allah marah. Saat kita merasa prestasi yang kita miliki karena kita sendiri, maka siapkah kita saat Allah menahan berkat? Allah yang murka menahan berkat dari Israel karena Dia ingin bangsa Israel melihat kenyataan bahwa Allahlah yang memberkati (Coba buktikan Baal yang memberikan itu semua? Aku menahan berkat).

Saat Allah mengingatkan, Ia menyebutkan kata “padang gurun” (Hosea 2:3). Hal ini untuk  mengingatkan bahwa bangsa Israel pernah berputar di padang gurun selama 40 tahun sebelum masuk ke tanah perjanjian. Juga lembah Akhor disebutkan (Hosea 2:15) dimana Akhan ketahuan menyembunyikan harta untuk dirinya sendiri sehingga ia dan keluarganya dibunuh barulah surut murka Allah dan  setelah itu bangsa Israel menang perang (Yosua 7). Hal ini menunjukkan bahwa dosa kita harus dihancurkan terlebih dahulu. Siapkah dosa kita dihancurkan?

Allah sungguh mengasihi kita. Ketika mengasihi kita, Dia juga ingin kita mengasihiNya dan bukannya mengasihi Baal atau mencintai uang. Seperti filosofi 2 ekor ikan. Bila ada satu yang disayang, maka yang lain kurang disayang (tidak mungkin sama-sama disayang). Juga kalau punya 2 sepatu atau 2 mobil, pasti ada yang lebih disukai. Karena dalam filosofi cinta manusia, hanya bisa mencintai 1 orang dalam 1 waktu. Tidak ada bila punya beberapa istri bisa berlaku adil kepada semuanya. Karena kita hanya bisa mengasihi 1 hal  dalam 1 waktu. Seperti juga Yakub (Kejadian 29-30) yang lebih mengasihi Rahel dibanding Lea. Kalau punya anak lebih dari 1, sadar tidak sadar kita sering membandingkan. Kamu tidak seperti adik atau kakakmu. Kamu harus seperti adikmu yang rapi. Ketika Yesus berkata  , “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."
(Mat 6:24). Mengapa Yesus membandingkan Allah dengan uang (Mamon)? Ketika perbandingan diadakan, perbandingan dilakukan secara setara (equal). Tidak bisa kita membandingkan mobil Daihatsu dengan Ferrari karena kelasnya berbeda (membandingkan Ferrari dengan Lamborghini baru setara). Berarti saat dibandingkan Allah dengan  uang, tidak jauh berbeda. Hal ini menunjukkan betapa mengerikannya Mamon (uang) ini. Ketika Yesus menyandingkannya, berarti keduanya memiliki kesetaraan (uang bukan sekedar logam tetapi seperti alah yang dipuja). Bukankah uang bisa membelokkan motivasi yang paling suci sekalipun? Maukah kita kembali kepada Tuhan hari ini?

Ada ilustrasi yang bercerita tentang seorang gembala dengan domba-dombanya. Sang gembala memiliki banyak domba , namun ada 1 dombanya yang nakal dan tidak bisa diatur (yang lain menurut). Domba adalah hewan yang matanya rabun jauh (hanya bisa melihat dari dekat). Jadi Sang Gembala kuatir bahwa sang domba tersebut akan hilang sehingga ia berpikir bagaimana caranya agar sang domba nakal itu bisa belajar. Akhirnya domba itu diambil dan ditaruh di pangkuannya. Setelah itu sang gembala mematahkan salah satu kakinya. Domba itu menjerit, kemudian selama beberapa minggu ia berjalan dengan kaki yang pincang karena sakit. Ajaibnya, ia tidak berani lagi berada jauh dari sang gembala. Apakah kita harus sama dengan domba ini? Kalau kita tidak lagi berdoa atau kita memikirkan dunia lebih dari kita memikirkan Tuhan, ijinkan Ia mematahkan kakimu! Hatimu akan sakit sekali dan mungkin bertanya, “Mengapa semua terjadi?” Tetapi justru ketika kaki patah 1 dan berjalan terpincang, kita belajar kembali kepada Tuhan.

Sunday, February 2, 2014

Perintah Allah itu Ajaib

Pdt. Hery Kwok

Hosea 1:1-9
1  Firman TUHAN yang datang kepada Hosea bin Beeri pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda, dan pada zaman Yerobeam bin Yoas, raja Israel.
2 Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: "Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN."
3  Maka pergilah ia dan mengawini Gomer binti Diblaim, lalu mengandunglah perempuan itu dan melahirkan baginya seorang anak laki-laki.
4  Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: "Berilah nama Yizreel kepada anak itu, sebab sedikit waktu lagi maka Aku akan menghukum keluarga Yehu karena hutang darah Yizreel dan Aku akan mengakhiri pemerintahan kaum Israel.
5  Maka pada waktu itu Aku akan mematahkan busur panah Israel di lembah Yizreel."
6  Lalu perempuan itu mengandung lagi dan melahirkan seorang anak perempuan. Berfirmanlah TUHAN kepada Hosea: "Berilah nama Lo-Ruhama kepada anak itu, sebab Aku tidak akan menyayangi lagi kaum Israel, dan sama sekali tidak akan mengampuni mereka.
7  Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka demi TUHAN, Allah mereka. Aku akan menyelamatkan mereka bukan dengan panah atau pedang, dengan alat perang atau dengan kuda dan orang-orang berkuda."
8   Sesudah menyapih Lo-Ruhama, mengandunglah perempuan itu lagi dan melahirkan seorang anak laki-laki.
9  Lalu berfirmanlah Ia: "Berilah nama Lo-Ami kepada anak itu, sebab kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu."

Pendahuluan

Sewaktu menempuh pendidikan teologia di salah satu sekolah Alkitab di Batu Malang, ada pengalaman yang cukup menarik yang saya alami. Semua mahasiswa yang bersekolah di sana dibentuk Tuhan melalui proses yang luar biasa. Selain mendapat pendidikan tentang firman Allah dari para dosen , kami juga memiliki pengalaman dalam berinteraksi antar sesama mahasiswa di asrama. Namun sekolah Alkitab bukanlah sorga di mana sudah tidak ada perselisihan atau pertengkaran. Di sekolah, terkadang timbul perselisihan karena adanya kesalahpahaman dan terkadang muncul percekcokan karena setiap mahasiswa punya karakter yang berbeda-beda. Perselisihan seperti ini mewarnai kehidupan kami. Suatu kali salah seorang rekan seangkatan saya ribut dengan seorang adik tingkat. Saya tidak tahu kejadian awal yang menjadi penyebabnya karena saat itu mereka sudah berselisih paham dengan kata-kata yang cukup keras. Umumnya perselisihan timbul terkait dengan tugas membersihkan asrama. Biasanya para mahasiswa dibagi kelompok untuk bekerja membersihkan jendela, lantai dan WC. Kemungkinan ada mahasiswa yang malas sehingga akhirnya ditegur. Terkadang ada yang mendapat pembagian kerja yang tidak enak seperti membersihkan WC yang baru dipakai oleh pengunjung yang baru selesai beribadah. Karena selain pengguna yang bersih ada juga pengguna WC yang jorok. Kemungkinan adik tingkat tersebut tidak mau membersihkan WC dengan baik (hanya disiram saja) sehingga  waktu dicek masih kotor karena ada kotoran yang tertinggal. Saat ribut mereka masing-masing saling bersitegang. Rekan satu angkatan saya itu berasal dari Indonesia bagian Timur yang sangat emosional sehingga saat marah dia menampar adik tingkat nya. Lalu adik tingkat itu berkata, “Dalam nama Yesus, tampar sekali lagi!”. Ditantang begitu, rekan saya menampar lagi sehingga kedua pipi adik tingkat tersebut telah ditamparnya. Akhirnya keduanya diskors. Karena rekan saya yang memukul, maka dia mendapat hukuman yang lebih berat. Dia tidak boleh mengambil kuliah selama 1 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tidak mudah melaksanakan firman dan perintah Tuhan.

Tafsiran atas Perintah Allah kepada Nabi Hosea untuk Menikahi Gomer

Memahami firman Tuhan merupakan sesuatu yang penting dalam hidup agar  kita tidak salah dalam mengartikan dan melaksanakannya. Jadi dasar yang pertama adalah  mengerti (memahami) lalu melakukan kebenaran firman Tuhan itu. Namun firman TUhan yang seringkali kita baca, seringkali tidak mudah dilakukan. Timbul kesulitan karena dunia seakan-akan tidak menerima apa yang diajarkan oleh firman Tuhan. Selama bulan Februari kita akan belajar dari kitab Hosea. Hari ini fokusnya adalah perintah Allah kepada nabi Hosea untuk menikahi perempuan sundal (Gomer). Perintah yang disampaikan ke Hosea ini  banyak menimbulkan kesulitan bagi orang yang mempelajarinya. Dengan tema “Perintah Allah itu Ajaib” menimbulkan pertanyaan “Apa yang ajaib dari perintah Allah kepada nabi Hosea untuk menikahi Gomer? Banyak penafsir mengatakan sulit menerima bahwa Allah memerintahkan seorang nabiNya untuk  menikahi seorang pelacur. Sehingga terdapat 4 (empat) kelompok penafsir yang memberikan gambaran tentang perintah ini.

1.     Pernikahan yang diceritakan di kitab Hosea adalah pernikahan yang tidak benar-benar terjadi melainkan sebagai simbol atau penglihatan yang menggambarkan hubungan antara Allah dengan manusia yang berdosa, khususnya hubungan antara kasih Allah yang sedemikian besar dengan umat Israel yang tidak setia. Kelompok ini mengasumsikan bahwa , tidak mungkin Allah menyuruh seorang nabi untuk menikahi seorang pelacur. Oleh karena menurut penafisr, pada Imamat 21:7 Tuhan berfirman kepada Musa, “Janganlah mereka mengambil seorang perempuan sundal atau perempuan yang sudah dirusak kesuciannya atau seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya, karena imam itu kudus bagi Allahnya. Allah saja melarang seorang imam untuk menikah dengan seorang pelacur dan Imamat 21:14 Seorang janda atau perempuan yang telah diceraikan atau yang dirusak kesuciannya atau perempuan sundal, janganlah diambil, melainkan harus seorang perawan dari antara orang-orang sebangsanya. Sehingga otomatis, nabi Tuhan juga tidak boleh menikah dengan seorang pelacur. Kalau memang benar Hosea menikahi Gomer, maka pelayanannya akan menemuni kesulitan, karena Hosea tidak menjadi berkat dalam pelayanannya. Secara rasio pemikiran, argumentasi  ini masuk akal. Ada cerita tentang seorang anak yang diputus hubungan dari ikatan keluarganya. Ayahnya mengatakan, “Apakah di dunia ini tidak ada gadis sehingga ia kawin dengan janda?” Papanya menganggap anaknya buta dan tidak bisa memilih perempuan. Apalagi ia seorang yang kaya. Lingkungannya akan sulit menerima anaknya menikah dengan janda tersebut. Dalam masyarakat ada kesan negatif tentang status janda, walau belum tentu status tersebut tidak baik tetapi begitulah anggapan masyarakat, apalagi kalau ada seorang nabi yang menikah dengan seorang pelacur. Dulu saya melayani gereja di Petamburan yang lokasinya dekat dengan Tanah Abang. Daerah Tanah Abang ini yang kemudian dibersihkan oleh gubernur DKI Jokowo dan  wakilnya A Hok dari para pedagang. Namun  mereka keberatan direlokasi ke daerah tersebut, karena di daerah itu sering terjadi transaksi seks, sehingga dikenal dengan nama Bongkaran. Suatu kali saya ditelpon seorang jemaat yang bertanya, “Pak Pendeta kemarin malam-malam ngapain ke daerah Bongkaran?” Saya coba mengingat-ingat kembali. Rupanya malam sebelumnya sekitar pk 21 saya melewati daerah itu, karena ada seorang jemaat yang anaknya kerasukan dan minta didoakan. Jadi saya bersama rekan-rekan hamba Tuhan pergi ke sana, karena daerahnya sulit dicapai, lalu kami naik mikrolet, dan melewati daerah  bongkaran itu sehingga jemaat itu bertanya untuk apa ke sana malam-malam.

2.     Pernikahan benar-benar  terjadi tetapi Gomer bukanlah seorang pelacur. Dia berdosa karena melakukan penyembahan berhala sama seperti bangsa Israel.  Penafsir dari kelompok ini merasa sulit secara moral untuk menerima seorang nabi menikahi seorang pelacur.

3.     Perkwainan benar terjadi. Gomer awalnya bukanlah seorang perempuan pelacur tetapi setelah menikah dengan nabi Hosea, ia menjadi pelacur.  Hal ini disebabkan di dalam diri perempuan itu ada kecenderungan moral untuk berzina dengan pria lain. Hal ini seperti kisah Yusuf yang digoda oleh istri Potifar yang senang “daun muda” (Kej 39:12).

4.     Pernikahan nabi Hosea benar-benar terjadi dan istrinya (Gomer) benar-benar seorang pelacur.  Kelompok ini mengatakan firman Allah ditulis secara jelas dan harus ditafsirkan secara jelas. Perkawinan Hosea benar-benar dengan seorang pelacur. Apa yang dipikirkan penafsir bahwa akan ada kesulitan secara moral tidak terjadi. Menurut penafsir kelompok ini, larangan untuk menikah dengan perempuan pelacur hanya dikhususkan untuk imam.  Secara hukum harus diketahui apakah hukum itu bersifat mutlak atau tidak. Pertama, larangan itu bersifat umum atau mutlak. Hukum yang absolute itu harus melihat konteks (situasinya). Larangan berzina itu sifatnya umum yaitu siapapun tidak boleh berzina dan sifatnya absolute (mutlak) yakni siapa yang melakukan perzinaan itu salah. Konteksnya orang Yahudi harus hidup secara kudus sehingga orang yang berzina harus dirajam hingga mati. Namun larangan untuk menikahi pelacur bukan bersifat umum melainkan  hanya berlaku untuk seorang imam (tidak berlaku untuk semua pria). Karena kalau berlaku berarti semua laki-laki tidak boleh menikahi seorang pelacur. Kenyataannya, nabi Hosea menikah dengan seorang pelacur. Jadi menurut kelompok ini, hanya pria berjabatan imam saja yang Allah larang karena seorang imam harus menjaga dirinya dengan kekudusan. Bukan berarti karena statusnya sebagai nabi, Hosea menikahi pelacur ,tapi ini untuk konteks orang Israel. Keadaan orang Israel saat itu tidak normal (wajar) pada zaman itu. Bahkan nabi Amos pernah menulis, seorang bapak dan seorang anak pergi ke tempat pelacuran (Amos 2:7b  anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan muda, sehingga melanggar kekudusan nama-Ku). Biisa dibayangkan bapak mengajak anaknya ke tempat pelacuran, dan itulah zaman yang tidak normal. Itu sebabnya penafsir keempat mengatakan karena kondisi yang krisis, maka Allah memberi contoh yang ekstrim juga. Dan ini membuktikan , Allah ingin menyadarkan Israel bahwa dosamu sudah sedemikian mengerikan.

Saya setuju dengan pandangan kelompok yang keempat. Pada situasi tertentu Allah menegur dengan cara yang tidak umum. Beberapa bagian dalam kitab suci juga menjelaskan contoh-contoh yang ekstrim. Contoh : nabi Yesaya disuruh berjalan dengan tidak berkasut dan berjalan selama 3 tahun (Yesaya 20:3 Berfirmanlah TUHAN: "Seperti hamba-Ku Yesaya berjalan telanjang dan tidak berkasut tiga tahun lamanya sebagai tanda dan alamat terhadap Mesir dan terhadap Etiopia). Bila saya hanya memakai kaos singlet dan celana dalam saja, maka jemaat akan marah, walau tujuannya untuk membersihkan selokan. Hal ini disebabkan jemaat akan merasa risih. Pada tahun 2007 saya pernah menolong jemaat di Ciledug yang menjadi korban dari banjir 5 tahunan. Saat itu saya menolong bersama semu dan para jemaat. Namun kemudian saya berpisah dengan se mu yang membawa pakaian saya, sehingga saya hanya memakai celana renang. Waktu menolong jemaat itu, saya hampir mati karena orang itu tiba-tiba memeluk sehingga saya sulit bernapas.  Lalu saya harus berjalan dengan berpakaian seperti itu. Karena ponsel saya dibawa se mu, maka saya pergi ke toko untuk meminjam telepon. Pemilik toko melihat saya dari atas ke bawah 3 kali dan mungkin pikirannya berkata, “kok muda-muda stress?”  Saya saat itu malu sekali karena dilihatin orang-orang. Saya merasa terpojok. Bayangkan nabi Yesaya berjalan tanpa kasut dengan telanjang selama 3 tahun!. Ia melakukan itu karena orang Israel masih menaruh harapan akan pertolongan bangsa Mesir dan Allah berkata, “Aku akan membawa Mesir dengan telanjang” artinya akan mempermalukan orang yang akan menolong bangsa Israel. Contoh lain : Yehezkiel membakar makanan di atas kotoran yang sebenarnya sangat menjijikkan (Yeh 4:12 Makanlah roti itu seperti roti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya di atas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka."). Yehezkiel melakukan apa yang diminta Tuhan walau secara umum tidak lazim. Tetapi selanjutnya TUHAN berfirman: "Aku akan membuang orang Israel ke tengah-tengah bangsa-bangsa dan demikianlah mereka akan memakan rotinya najis di sana." (Yeh 4:13).

Belajar dari Hosea

Saat melakukan perintah Allah yang sulit, Hosea meyakini bahwa firman Allah tidak salah dan ajaib. Ada 2 hal yang bisa dipelajari dari Hosea :

1.     Hosea taat meskipun perintahNya sulit dalam pandangannya. Firman Allah tidak pernah meminta ijin manusia untuk  mengontrol dan menerimanya atau apakah ia pantas untuk dilakukan. Firman Tuhan tidak pernah “memikirkan” manusia akan perintahNya. Yang dibutuhkan hanyalah ketaatan yang Hosea berikan. Kejatuhan manusia, adalah kejatuhan di mana manusia tidak taat kepada firman Allah sehingga kemudian manusia terus tidak taat kepada Allah. Sehingga keselamatan hanya bisa terjadi karena orang yang taat kepada Allah dan menggantikan manusia. Dialah Yesus Kristus yang taat dan menggantikan manusia. Waktu Firman Tuhan mengajarkan untuk hidup dengan jujur, bisakah kita jujur dalam perkataan dan tindakan kita? Saya sering menemukan dalam lapangan, jemaat Kristen mengatakan bahwa ada 2 jenis kebohongan yakni bohong putih dan bohong hitam. Kalau bohong putih, kita boleh bohong dengan tujuan untuk yang baik dan benar. Kalau bohong hitam adalah bohong untuk tujuan kejahatan sehingga kalau orang Kristen tersudut boleh bohong sedikit. Hati-hati dengan mulut kita, karena hal ini yang paling gampang dilakukan manusia. Bisakah kita berlaku jujur, mengatakan “ya” di atas “ya”, “tidak” di atas “tidak” seperti yang diajarkan firman Tuhan? Waktu banjir kemarin, ada yang bertanya, “Mushi kalau banjir boleh tidak menginap di gereja?” Saya bilang, “Boleh”. Gereja pasti menolong dalam kondisi darurat. Kalau tidak darurat “tidak bisa” karena kalau semuanya tidur di gereja, maka gereja tidak bisa menampungnya. “Oh gitu ya?” dia menyambung, saya dengar gereja sekarang tidak boleh menolong seperti itu”. Waktu mendengarnya, hati saya sedih karena perkataan yang tidak benar sudah merajalela! Belajar taat dari mulut, mata, pendengaran dan perbuatan kita.

2.     Hosea adalah orang yang beriman melakukan firmanNya. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibarni 11:1). Iman adalah mempercayakan sesuatu yang Allah perintahkan dan perintah Allah itu baik. Waktu firman Allah bersabda, maka lakukanlah karena itu baik dalam kacamata orang yang percaya kepada Allah. Allah tidak pernah menjerumuskan manusia ke dalam hal yang tidak baik. Dalam kitab Hosea, baik keluarga dan bangsa Isareal berakhir bahagia (happy ending). Mereka bertobat dan kembali lagi kepada Allah. Iman kepada firman Allah merupakan sesuatu yang penting yang berada dalam diri kita. Iman kita kepada pemeliharaan Allah menjadi dasar di mana kita berani menghadapi hidup ini. Sesulit apapun kondisinya, firman Allah berkata, “Jangan pernah berpikir rancangan Allah tidak baik”. Saya dapat sebuah nasehat sahabat saya, “Mushi kalau dalam pelayanan berbeda pendapat, itu hal yang wajar. Jangan takut, kalau mushi tidak hidup dalam dosa. Kalau hidup dalam dosa, kita harus takut dan tidak boleh melakukannya. Kalau perbedaan pendapat dalam koridor yang baik, orang akan mengerti”. Waktu nasehat itu diberikan saya tercengang, karena terkadang saya berpikir firman Allah itu tidak baik. Saya curiga dengan Tuhan dan firmanNya tidak sesuai dengan konteks zaman sehingga tidak saya lakukan. Walau perintah Allah itu sepertinya “tidak baik”, lalukanlah dalam ketaatan maka kita akan diberikati.