Sunday, January 12, 2014

Ketika Allah Meminta : Logis?

Ev. Susan Kwok

Kej 22:1-8; 14
1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan."
2  Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."
3  Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.
4  Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.
5  Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu."
6  Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
7  Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"
8  Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
14  Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."

Pendahuluan

Kalau diberi sesuatu yang baik atau miliknya ditukar dari yang jelek menjadi yang baik, manusia tidak akan bertanya apakah hal (pemberian / penukaran) itu logis atau tidak. Misalkan ada seorang hamba Tuhan berkata, “Ayo ikut persekutuan doa dengan rajin. Kalau rajin ikut Persekutuan Doa,maka rumahmu yang berukuran 7 m x 15 m tahun depan akan diganti Tuhan dengan yang berukuran berkali-kali lipat lebih besar”. Kalau mendapatkan hal seperti itu dari Tuhan, maka tidak akan ada yang bertanya lagi ke Tuhan. Ketika Tuhan memberikan hal yang baik, atau menukar dari yang kurang menjadi yang lebih , kita tidak akan mempertanyakannya dan tidak ada tema hari ini “Ketika Allah Meminta : Logis?” karena kita akan menerimanya  dengan senang hati. Seperti waktu Raja Hizkia sakit dan hampir mati, lalu ia berdoa dan menangis minta agar disembuhkan, lalu Tuhan mendengarkan doanya bahkan umurnya diperpanjang 15 tahun lagi (2 Raja 20:1-6). Jadi Raja Hizkia menerima hal yang baik dan menganggapnya anugerah dan seolah-olah ia berkata,”Puji Tuhan! Harusnya hari ini saya mati tapi diberi hidup 15 tahun lagi”. Bila kita mengalami hal sepeti ini, kita juga akan menerimanya. Permasalahannya berbeda jika ternyata apa yang Allah akan beri (minta) menurut kita tidak baik (tidak masuk akal). Sepertinya permintaan Allah mengada-ngada atau  Allah tidak adil dengan meminta / mengambilnya daripadaku. Kita akan menjawab demikian, bila kita berada di posisi Abraham seperti pada nats di atas (Kej 22:1-8). Allah sepertinya meminta sesuatu yang tidak masuk akal. Dulu waktu Sara (istri Abraham) mandul, dijanjikan keturunan Abraham akan seperti pasir di laut banyaknya. Namun  sekarang setelah dikasih seorang anak (Ishak yang artinya membawa tertawa dalam keluarga), kenapa permintaan Tuhan tidak masuk akal untuk mempersembahkannya? Ketika kita merasa pemberian Allah tidak masuk akal, maka biasanya responnya, kita menjadi kecewa, ragu, takut, bergeser (tidak lagi mau percaya Allah yang demikian) atau lainnya.

Ukuran Manusia Berbeda dengan Ukuran Allah

Ilustrasi berikut tentang apa yang harus diberikan kepada Tuhan. Ada 3 orang (A, B dan C) yang kikir semuanya. Mereka cari akal (logika) bagaimana caranya untuk tidak memberi persembahan. Si A berkata, “Tuhan sekarang saya akan memberi persembahan kepadamu. Saya akan membuat lingkaran kecil , lalu saya akan melemparkan uang tinggi-tinggi. Jika uang itu jatuh di lingkaran kecil, maka itu milik Tuhan. Tapi kalau jatuh di luar lingkaran itu punya saya”. Karena lingkarannya kecil, maka kebanyakan uang jatuh di luar lingkaran. Hanya ada sedikit uang yang jatuh di dalam lingkaran, lalu diberikannya ke Tuhan. B tidak mau kalah. Dia berkata, “Tuhan saya berjanji akan memberi persembahan untuk itu saya akan membuat lingkaran yang besar. Saat saya melemparkan uang, lalu ia jatuh dalam lingkaran besar maka uang itu menjadi milik saya dan yang jatuh di luarnya itu milikMu”. Karena lingkarang yang dibuatnya sangat besar maka saat ia melemparkan uang, kebanyakan jatuh di dalam lingkaran. Sedangkan yang jatuh di luar lingkaran sangat sedikit dan itu yang diberikannya ke Tuhan. C pun tidak mau kalah. “Tuhan saya tidak mau seperti A dan B yang membuat lingkaran. Saya akan melempar uang ke atas. Setiap uang yang jatuh ke bawah menjadi milikku, sedangkan yang tidak jatuh itu milikMu”. Setelah dilempar, maka semua uangnya jatuh (karena mengikuti hukum gravitasi bumi). Karena semua uangnya jatuh maka semuanya menjadi miliknya.

Ketika Tuhan meminta dedikasi, uang , pikiran, waktu dll, manusia merasa Allah tidak logis. Tuhan tahu kita sibuk, mengapa Tuhan memberi kita banyak waktu untuk melayani? Atau saat sedang kekurangan harta, mengapa Tuhan meminta uang kita? Atau saya tidak pintar, mengapa Tuhan minta saya menjadi majelis, aktifis dan lain-lain? Alasannya sebenarnya manusia mengapatakan “apa yang Allah minta tidak logis” adalah manusia punya ukuran sendiri dalam melakukan sesuatu. Sampai kapanpun manusia, akan merasa Allah tidak logis karena ukuran manusia dengan Allah berbeda. Tujuan dan rencana Dia berbeda dengan manusia. Manusia merupakan Karena kita ciptaan Allah. Manusia tidak mampu memahami apa yang dikehendaki Penciptanya. Dia kudus, manusia hina. Dia pencipta kekal tidak terbatas oleh waktu, manusia sangat terbatas. Bagaimana mungkin yang tidak terbatas bisa memahami yang terbatas? Ketika Dia meminta atau memberi sesuatu seringkali ada kesenjangan antara pikiran kita dengan pikiranNya. Dan bila terjadi demikian, kita sering berpikir bahwa yang salah itu adalah Tuhan (bukan kita yang salah). Itu sebabnya Rasul Paulus mengatakan dalam Rom 11:33-36 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!  Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?  Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Tak seorang pun mengetahui pikiran Allah. Sehingga kita tidak boleh menghakimi Allah dengan mudah atau kita meragukan apa yang telah kita jalani walau ada sesuatu yang tidak logis atau terlalu sulit untuk dikerjakan.

Belajar dari Abraham

Apa yang Allah minta ke Abraham sepertinya tidak logis, menyusahkan dan mengada-ada, namun kita bisa belajar dari respon Abraham.

1.     Saat Allah “mencoba”nya, Abraham memberikan tanggapan, “Ya Tuhan”. Allah tidak pernah mencobai untuk sesuatu yang jahat, melainkan untuk sesuatu yang positif. Sehingga istilah yang digunakan adalah kata “menguji” untuk membawa manusia lebih “tinggi” lagi. Ketika Allah menguji manusia, seperti guru menguji siswa sesuai dengan materinya. Ketika anak kelas 6 SD diuji, tidak mungkin bahan yang diuji berasal dari pelajaran kelas 3 SMP. Semua sesuai porsi dan aturan. Kalau Allah meminta dari kita, Allah tahu apakah tingkat (ukuran) kita sampai di sana atau tidak. Waktu Allah meminta dari Abraham, Dia tidak meminta hal yang sama kepada nabi lainnya. Jadi itu merupakan suatu permintaan yang khusus. Dia ingin agar Abraham menjadi lebih baik , dekat , tinggi dan lebih kuat lagi. Dia memberikan ujian ke Abraham bukan utnuk menjatuhkan Abraham, karena kalau demikian Dia bukanlah guru yang baik. Dialah Guru Agung yang jauh lebih baik dari guru terbaik di dunia. Dia tahu ujian apa yang diberikan. Abraham menjawab, “Ya Tuhan” (dalam bahasa aslinya Abaraham menjawab “Aku disini ya Tuhan” atau “Ya Tuhan, aku ada”. Ini memberikan makna, aku mendengarkan Tuhan dan aku siap menerima apa yang akan Kau firmankan kepadaku. Aku berdiri di sini di hadapanMu, siap mendengarkan firmanMu. Ketika Abraham berkata, “Aku disini siap mendengarkan firmanMu”.

2.     Abraham menang atas pergumulannya. Lalu Allah berkata, “Abraham, ambil anakmu”. Allah tidak meminta harta yang lain tapi anaknya. Kalau Tuhan meminta sapi 10 ekor, kambing 100 ekor, kerbau 1.000 ekor sekalipun mungkin tidak menyulitkan Abraham. Namun bukan berarti Abraham tidak bergumul saat anak “satu-satu”nya diminta untuk dipersembahkan. Anaknya Ishak  bukan anak yang lain (Ismail).  Ishak artinya tertawa, karena waktu nubuatan untuk Abraham datang, Sara yang ikut mendengarnya kemudian tertawa. Karena saat itu ia sudah tua, rambutnya putih dan  sudah menopause sehingga waktu dikatakan tahun depan akan hamil, ia tertawa. Ishak waktu akan dipersembahkan berumur sekitar 6-8 tahunan. Saat diminta “”Ambillah anakmu yang tunggal itu”, ini merupakan hal yang berat. Bahkan kalau anaknya banyak dan diminta 1 orang, hatinya tentu tidak rela. Anak yang diminta bukan untuk  diajar mengenal Tuhan seperti Samuel (supaya bisa datang ke bait Allah), tetapi diminta jadi korban bakaran. Itu berarti harus disembelih, darahnya tercurah, lalu ditaruh di atas mezbah, dibakar sampai habis sampai tidak ada apa-apanya. Sebagai orang tua, permintaan Allah itu sesuatu yang luar biasa beratnya.  Tetapi pada ayat yang ke-3, Allah tidak sedang melecehkan perasaan Abraham sebagai manusia, sekalipun Alkitab tidak mengatakan pergumulan Abraham, tetapi lebih mengangkat kemenangan Abaraham di atas pergumulannya. Sehingga dikatakan , Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham. Kita tidak tahu dengan tepat waktu Allah berfirman kepada Abraham. Tetapi ada jeda waktu antara saat Allah berfirman dengan saat Abraham melaksanakannya dan pasti antar waktu itu ada pergumulan Abraham. Alkitab tidak meremehkan pergumulannya, tetapi Allah mengajar bagaimana ia bisa menang dan melakukan apa yang dikehendaki. Keeseokan harinya bagunlah Abraham dan melakukan apa yang disampaikan Tuhan.

3.       Abraham punya keyakinan Allah akan menggenapi janjinya menurut caraNya sendiri. Ayat 5, Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." Di dalam bahasa aslinya , kata ganti yang digunakan bersifat jamak (kata “kami” yaitu saya dan Ishak akan kembali lagi). Ini perkataan kepada bujangnya. Apakah perkataan ini  bohong untuk menenangkan hati bujangnya atau benar-benar demikian? Demikian juga pada ayat 7b-8a dikatakan " Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"   Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.", Apakah jawaban Abraham ini benar atau karena tidak tega? Sebagai bapa, mungkin ia tidak tega untuk mengatakan, “Kamu yang akan dipersembahkan”. Apakah jawabannya merupakan kalimat diplomasi untuk menenangkan Ishak saja seperti saat ia menenangkan bujangnya? Pada Ibrani 11:17-19 dikatakan Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal,  walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali. Dengan demikian jawaban yang diberikan Abraham adalah iman dari Abraham. Allah yang memberi , Dia berhak mengambil. Kalau Dia janji untuk memberikan keturunan yang banyak, Dia akan menepati janji bagaimanapun caranya. Abaraham punya keyakinan Allah akan menggenapi janjinya tergantung cara Allah sendiri. Pada ayat 1, jawaban Abraham, “Aku di sini Tuhan siap mendengarkanMu”. Dia melakukan perintah Tuhan dari awal sampai akhir. Dia percaya Allah yang sudah berjanji tidak akan pernah melanggar janjiNya sendiri, entah bagaimana caranya sehingga Abraham disebut bapa orang beriman (punya iman yang luar biasa). Pada Perjanjian Lama, ada banyak respon dari tokoh Alkitab karena mereka punya iman yang kuat. Ketika Tuhan berbicara, mereka menempatkan diri sebagai orang yang mendengar dan melakukannya. Contoh : ketika Hosea dipanggil oleh Tuhan melakukan hal yang tidak masuk akal. Hosea diminta untuk mengawini Gomer yang merupakan seorang pelacur (Hosea 1:2). Ini berat untuk Hosea namun Hosea adalah nabi yang luar biasa. Ia pun pergi mengawini perempuan sundal karena ia mengetahui ada maksud Tuhan untuknya. Ini merupakan permintaan khusus Allah untuknya. Tidak ada lagi yang seperti Hosea. Demikian juga ketika nabi Yeremia dipanggil untuk memberitakan firman Tuhan ke Yehuda, namun diberi peringatan “Tetapi kamu harus siap karena mereka akan menolak”. Ini tidak masuk akal. Ia diminta untuk memberitakan firman tapi akan ditolak. Untuk apa buang-buang waktu? Namun ia mengetahui ada sesuatu yang Tuhan ingin ia kerjakan sehingga ia melakukannya. Contoh terakhir nabi Yunus. Ia diminta Allah untuk pergi ke kota Niniwe. Itu kota yang jahat sehingga ia berkesimpulan mengapa harus ditobatkan?  Harusnya tidak ada penduduknya yang selamat! Sehingga ia lari ke Tarsus dan dimakan ikan. Akhirnya ketika ia menobatkan Niniwe, penduduk Niniwe pun bertobat. Tuhan merasa kasihan kepada  orang-orang yang bertobat, Tapi malah nabi Yunus menyesal. Karena ia tahu Tuhan akan mengampuni Niniwe. Dengan demikian ia merasa “lebih” dari Tuhan.  Dengan demikian, saat dipanggil ada yang menjawab “ya”, “tidak” atau “setengah hati”.

Permintaan Allah sekarang ini tidak ada yang aneh seperti ketika Dia meminta kepada Abraham , Hosea, Yunus (tidak sampai seberat itu). Tetapi yang Dia minta secara umum , berlaku untuk semua, kecuali sesuatu yang spesifik. Secara umum, Allah meminta kita untuk mendengarkan suaraNya. Zaman ini adalah zaman anugerah di mana anugerah Allah begitu berlimpah. Kita dapat menjumpai Alkitab secara bebas di toko buku dengan berbagai terjemahan.  Meskipun anugerahNya luas dan berlimpah, tetapi di tengah hal demikian, justru para dombaNya paling tuli  dalam mendengarkan suaraNya. Sampai dombaNya tidak tahu apakah ini suara gembala yang asli atau asing. Contoh : ketika pengajaran di sampaikan di atas mimbar tidak banyak jemaat yang mempunyai sikap yang kritis , karena tidak membaca Alkitab dan menggalinya. Dengan demikian bagaimana kita tahu suara yang benar?  Hari ini domba tuli dan buta terhadap isi Alkitab. Ada seorang penginjil bernama Robert Samuel. Ia menemukan seorang korban kebakaran di Kansas, Amerika yang  menjadi buta dan kedua tangannya buntung. Padahal ia baru bertobat dan ingin belajar Firman Tuhan. Kemudian ia merasa putus asa, karena tidak bisa membaca Alkitab dengan jalan merabanya. Waktu ia mencoba meraba dengan bibirnya, juga tidak bisa karena bibirnya rusak terbakar. Suatu kali, tanpa sengaja saat ada sesuatu yang terjatuh di mesin Braille, ia berusaha membersihkannya dengan lidah. Ternyata ia bisa mengenali huruf Braile dengan lidahnya! Sehingga mulai hari itu ia bisa membaca. Ia sudah membaca dari kitab Kejadian sampai Wahyu 4 kali dalam 2 tahun. Bagaimana dengan kita yang memiliki kelengkapan organ tubuh? Bagaimana kita tahu permintaan Allah yang baik , walau sepertinya tidak masuk akal? Iman bertumbuh dari pendengaran akan firman Tuhan, membaca dan merenungkannya.

Ada seorang Kristen, karena tidak setuju dengan ajaran saksi Yehova, ia mengajak pengikut saksi Yehova berdebat dan coba mempertobatkannya. Tapi ia kalah, karena ia tidak punya banyak kemampuan, termasuk ayat hafalan. Pengetahuannya kalah jauh. Terakhir, ia ditanya, “Berapa kali kamu sudah baca Alkitab?”. Ternyata walau sudah 17 tahun menjadi Kristen, ia tidak pernah membaca seluruh Alkitab dari  Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sang pengikut saksi Yehova berkata,”Bagaimana mungkin kamu memenangkan pertobatan saya, kalau kamu tidak pernah membaca seluruh isi Alkitab sekali pun? Saya sudah membaca alkitab saya puluhan kali sejak masuk Saksi Yehova”. Sekarang ini banyak ajaran yang tidak benar, tetapi banyak yang tidak bisa menangkalnya. Mereka rajin “menginjili” dari rumah ke rumah. Mereka rajin baca Alkitab. Bagaimana dengan kita? Abraham walau belum ada Alkitab terutlis, tetapi suara Allah ia dengarkan sampai masuk dalam hatinya dan percaya. Sehingga saat terjadi sesuatu ia percaya Allah itu baik.


Sunday, January 5, 2014

Bergaul dengan Allah



Pdt Hery Kwok

Efesus 5:1-5
1   Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih
2  dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
3  Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus.
4  Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono  —  karena hal-hal ini tidak pantas  —  tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.
5  Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.

Kejadian 6:1;5;9
1   Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan,
5  Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,
9  Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

Mengapa Kita Harus Bergaul dengan Allah?
Pertanyaan penting yang perlu dijawab, “Mengapa kita harus bergaul dengan Allah?” atau “Apakah kita harus bergaul dengan Allah?”

1.     Alkitab suci menjelaskan bahwa Allahlah yang menghendaki supaya kita bergaul dengan diriNya. Allah yang berinisiatif dan menghendaki bahwa Ia yang mau bergaul dengan kita. Manusia yang memberontak dan jahat bagaimana mungkin bisa mencari Allah? Karena kasih Allah , Dia datang dan ingin bergaul dengan manusia. Dalam bergaul, terkadang kita membuat perbandingan. Dia tidak se-level untuk berteman dengan saya karena kepintaran, status dan kekayaannya di bawah saya. Itu sebabnya seringkali saat berteman kita memilih orang-orang yang sesuai dengan patokan kita. Berbeda dengan Allah. Alkitab tidak menjelaskan, waktu mau bergaul dengan manusia, Dia memakai patokan hanya orang yang suci (kudus) yang dapat bergaul dengan Dia. Tetapi Allah memilih orang-orang berdosa supaya orang itu disucikan oleh Dia. Itu sebabnya Allah lah yang menyucikan kita sehingga kita bisa bergaul dengan Dia. Tujuan Dia ingin bergaul supaya kita yang berdosa memperoleh keselamatan. Pada tanggal 12 Mei 2008 terjadi gempa bumi di Wenchuan, provinsi Sichuan Tiongkok  yang cukup hebat (7,9 Richter).  Saat itu para sukarelawan berusaha menyelamatkan para korban. Pada tanggal 17 Mei 2008, mereka melihat ada jenasah seorang ibu dalam posisi tertelungkup. Setelah diangkat ternyata ada seorang bayi yang masih hidup. Posisi jenasah sang ibu seperti sedang menyusui sang anak. Para sukarelawen berpikir mungkin itu yang dilakukan sang ibu karena tahu itu adalah terakhir kalinya dia menyusui anaknya. Di samping jenasah sang ibu , ada telepon seluler (HP) dari sang ibu yang menulis kalimat yang mengharukan. Ia menulis, “Anakku sayang. Bila engkau selamat ingatlah bahwa mama mencintaimu selamanya”. Manusia yang berdosa saja ingin menyelamatkan anaknya dari keruntuhan gempa apalagi Allah yang menciptakan manusia dengan sempurna. Dia tidak ingin manusia hidup dalam dosa. Kalau kita diselamatkanNya, itu bukan karena kita baik atau kudus, tapi karena Dia mengasihi kita.

2.   Pada kitab Filipi, Rasul Paulus menuliskan bahwa saat kita bergaul dengan Allah , Dia ingin kita menjadi reflector atau pemancar kasih Allah. Kita adalah duta Allah di dunia ini. Di Perjanjian Lama, pada zaman Nabi Nuh , manusia hidup dengan sangat jahat. Ada kejahatan Sodom Gomora di mana mereka tidak malu lagi berbuat dosa. Hal ini menakutkan. Kalau berbuat jahat dan kita takut , itu adalah sinyal yang baik. Kalau berbuat jahat dan hati tidak bergetar dan takut, itu dosa yang mengerikan dalam hidup kita. Seorang penulis kristiani mengatakan “Dosa yang mengerikan adalah dosa yang dilakukan saat kita tidak menyadari bahwa kita sedang melakukan dosa”. Peninggalan sejarah Nabi Nuh tidak bisa kita lihat, karena dihapus oleh air bah. Namun dapat dilihat bahwa lokasi Sodom Gomora terletak di daerah yang titik rendahnya sangat rendah sekali dan sangat didominasi oleh garam.  Di bagian atasnya ada  sebuah bentuk seperti batu yang serupa perempuan, itulah istri Lot.  Di dalam zaman Sodom Gomora , orang berbuat jahat baik secara seksual , ekonomi , sosial dengan luar biasa.  Pada zamannya, Nabi Nuh hidup dalam dunia yang sangat jahat.  Namun Alkitab mengatakan bahwa meskipun Nabi Nuh hidup di lingkungan orang-orang yang tidak baik , ia bisa tetap menjadi duta Allah. Pada waktu kita bergaul dengan Allah maka kita akan berbeda dengan dunia dalam kelakuan. Berbeda bukan saja pada tampak luar, tetapi isinya juga berbeda. Tampak dan isi pada waktu bergaul dengan Allah sangat berbeda dengan dunia. Seringkali kita menemukan ada orang Kristen yang tampak luarnya baik, tetapi isinya tidak baik. Suatu kali saat menjadi pengacara, saya mengajak rekan-rekan untuk pergi pada malam hari. Setelah menyelesaikan kasus pk 10.30 malam, saya mengajak mereka keliling Jakarta. Karena pengacara banyak dari Batak dan kawan saya ini datang langsung dari Batak, mereka minta untuk diajak ke tempat khusus yang ada di Jakarta. Kantor kami di Gajah Mada sehingga segala beluk daerah itu ia sudah tahu. Sehingga saya ajak dia ke Taman Lawang. Waktu melewati daerah itu, para pengacara berkata, “Wah Pak Heri cewe di sini sangat cantik”. Apalagi waktu dia melihat beberapa sosok perempuan itu seksi, karena di Medan tidak ada yang seperti itu. Saya diam saja, lalu saya bawa mobil mendekati ke orang-orang yang membuatnya tercengang. Lalu saya buka kaca samping dan , lalu cewe itu menyapa dengan suara berat, “Halo. Selamat malam”.  Waktu mendengar suara perempuan itu, rekan saya berkata, “Waduh Pak Heri, itu bencong ya?” Tampak luarnya perempuan, tapi dalamnya berbeda. Nabi dan Rasul Paulus tidak seperti itu. Orang percaya yang bergaul dengan Allah, adalah wakil, duta Allah dan reflector yang memancarkan kasih Allah. Ada perbedaan dari hidup orang dunia dengan orang yang mengasihi Allah.

3.   Bergaul dengan Allah membuat orientasi hidup kita tidak salah. Kalau Nabi Nuh tidak mempunyai hubungan baik dengan Allah, pasti orientasi hidupnya akan tercemar. Orang-orang saleh dalam kitab suci memberikan keteladanan bergaul dengan Allah yang tidak bergeser hidupnya di dunia ini seperti yang Allah inginkan. Hal ini penting. Waktu harus hidup di dunia tanpa mengenalNya, maka orientasi manusia bisa salah. Anak kelas 3 SMA ditanya setelah lulus mau melanjutkan ke mana, ada yang bilang tidak tahu atau yang penting ikuti saja teman-teman. Sehingga mereka mengambil jurusan yang tidak sesuai dengan talentanya dan tidak heran, ada Sarjana Teknik yang bekerja sebagai pustakawan oleh karena tidak tahu untuk apa dan bagaimana seharusnya. Sewaktu bergaul dengan Allah, ia berbuat seperti yang Allah mau. Kita akan tahu, tujuan orang percaya hidup di dunia hanya satu yaitu memuliakan Allah, meninggikan Allah dan hidup dalam persekutuan denganNya. Kalau tidak punya orientasi yang benar, maka hidup kita picik dan merusak.  Dunia ini seringkali mengaburkan orientasi kita dengan cara nya. Contoh : kita perlu berkerja untuk hidup. Tetapi bekerja bukan tujuan yang Allah berikan waktu menciptakan kita. Seringkali orang Kristen tidak ke gereja, bersekutu dan beribadah karena terjebak dengan pekerjaannya. Bekerja memang diperintahkan Tuhan waktu manusia berdosa yaitu Allah memerintahkan manusia untuk mengusahakan dunia ini. Tetapi bekerja bukan tujuan, melainkan bagaimana kita punya relasi yang baik dengan Allah. Sewaktu Marta memprotes Maria karena tidak membantunya melayani, Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (Lukas 10:41-42). Hal ini tidak berarti Maria tidak bekerja. Jangan sampai kita tidak punya relasi dengan Allah. Jangan sampai kita bekerja, berumah tangga  atau punya segala sesuatu tapi tidak punya relasi dengan Allah. Allah memberikan keluarga supaya bersama keluarga kita datang kepada Allah. Anak diberikan Allah supaya bersama anak itu kita beribadah. Ada banyak orang yang lebih rela tidak membawa anaknya ke gereja karena sang anak punya tuntutan sendiri. Jangan sampai orientasi hidup kita bergeser (menyimpang).

Bagaimana Supaya Kita Bergaul dengan Allah?

1.   Membaca, merenungkan dan menggali Alkitab dengan baik. Membaca Alkitab selesai dalam setahun harus ada dalam prinsip kita. Selain itu kita harus merenungkan apa yang Allah inginkan dalam hidup kita. D.L. Moody, penginjil terkenal abad 19, setelah bertobat belum tahu Alkitab. Sewaktu datang ke gereja, pendeta nya meminta untuk membuka Alkitab halaman sekian. Karena baru jadi petobat , ia bingung. Apa yang dibaca di mimbar berbeda dengan bagian yang dibukanya. Rupanya pembicara (pengkhotbah) itu membuka Perjanjian Baru, sedangkan ia membuka Perjanjian Lama sehingga sampai kapan pun tidak akan bertemu.  Moody pulang dan bertekad untuk mempelajari Alkitab. Dia membaca, merenungkan dan menggali firman Tuhan dengan baik. Di kemudian hari ia menyerahkan hidupnya dan menjadi pengkhotbah yang luar biasa. Lalu ia membangun institut teologia untuk menolong orang awam yang baru bertobat supaya mereka mengenal Tuhan Yesus dengan baik. Moody menunjukkan salah satu cara bergaul dengan Allah.

2.   Berani melakukan firman Allah dalam hidup walau jatuh bangun terjadi dalam hidup kita.  Jatuh bangun contohnya  waktu diajarkan tentang kekudusan , kita ingin melakukannya tapi belum bisa sempurna. Jangan menyerah dan terus berusaha. Itulah yang kita lakukan. Di dalam kitab Efesus Rasul Paulus berkata, “Jangan kamu mencemarkan tubuhmu dan jangan berkata sembrono atau berkata yang tidak-tidak”. Seringkali kita jatuh bangun dalam melakukannya. Waktu Rasul Paulus berbicara hal itu menunjukkan fungsi dari mulut kita yang harus dijaga untuk memuliakan Tuhan. Kita mungkin jatuh bangun tapi jangan pernah menyerah dan terus belajar dalam hidup kita.

3.   Bergaul dengan sesama. Allah memakai sesama untuk mengenalNya. Kita hidup di tengah dunia di mana orang-orangnya ada yang baik dan ada yang jahat.  Waktu Nabi Nuh dan Rasul Paulus hidup dalam zaman susah, Allah memakai zaman itu untuk “menggodok” keduanya. Waktu mau belajar untuk sabar, Allah bisa menaruh kita di tempat yang membuat kita tidak sabar. Waktu mau hidup suci, mungkin lingkungan kita tidak suci tetapi di situlah kita harus hidup. Bergaul dan hidup dengan Allah membedakan kita dengan lingkungan yang tidak suci.

Ada cerita dari daerah Tiongkok. Ada seorang menantu (Ling Ling) yang hidup serumah dengan mertua (Mei Lan). Seringkali hubungan antara menantu-mertua sulit akur. Itulah fakta. Ling Ling mencintai Ahong (suaminya) dan tinggal bersama mertuanya. Ling Ling mau walau berkata dalam hatinya, “Apa bisa hidup dengan mama mertua?”. Singkat cerita setelah 5 tahu bertahan hidup bersama, ia sudah sampai ke batas ambang dan tidak bisa tahan untuk terus hidup bersama mertuanya. Namun karena tradisi di Tiongkok, keluarga harus hidup rukun, hal ini membuatnya sulit. Lalu ia pergi ke seorang tabib meminta racun untuk mertuanya agar cepat meninggal. Waktu sang tabib bertanya, “Mengapa kamu mau membunuh mertuamu? Bukankah kamu sudah hidup bersama 5 tahun dengan dia?” Ling Ling menjawab, “Betul. Tapi sepertinya dia terus mencari-cari kesalahan saya.” Akhirnya sang tabib berkata, “Karena kamu mengalami hidup susah selama 5 tahun, saya berikan rancun sehingga mertuamu akan meninggal 1 tahun kemudian. Supaya begitu kamu kasih tidak langsung mati, karena bila demikian, maka akan ketahuan. Lalu waktu memberikan, kamu harus berikan dalam masakan yang enak agar mertuamu tidak curiga. Saat kasih makan, kamu harus tersenyum supaya ia tidak curiga dan dia mau makan. Kamu harus layani dia dengan baik supaya tidak curiga. Ling Ling berterima kasih kepada sang tabib lalu pulang. Dia lakukan dengan baik apa yang disarankan sang tabib. Ia selalu tersenyum dan mengajak mertuanya minum teh. Mertuanya yang melihat memantunya baik merasa bersalah sehingga ia berubah menjadi baik kepada menantunya. Setelah berlangsung 11 bulan, Ling Ling jadi bingung karena ia menemukan bahwa mertuanya bukan sosok yang ingin dibunuhnya karena ia sosok yang penuh perhatian dengannya. Lalu ia kembali ke tabib untuk meminta penawar racun ke tabib. Ia berkata, “Tabib saya menyesal karena saya sudah menaruh racun selama 11 bulan ke makanan dan minuman mertua saya. Tolong berikan penawar racunnya.” Sang tabib tersenyum dan berkata,”Ling Ling , apa yang saya berikan bukan racun tapi penyedap buat makanan dan minuman (semacam vitamin)”.  Waktu Ling Ling melihat mertuanya tidak seperti yang dia takutkan, dia sadar. Waktu bergaul dengan Allah yang baik, maka kita akan menemukan orang-orang ini dengan sudut pandang yang berbeda.  Kiranya Tuhan membantu kita mengawali hidup di tahun ini.

Thursday, January 2, 2014

Karena Masa Depan Sungguh Ada

Pdt. Hery Kwok

Maz 1:1-6
1  Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
3  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
4  Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
5  Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;
6  sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
Amsal 23:17-18
17  Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa.
18  Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

Pendahuluan
Harga-harga barang di Indonesia di akhir tahun ini mengalami kenaikan. Hal ini dipicu oleh nilai tukar Rupiah yang melemah terhadap mata uang lainnya sehingga harga barang di Indonesia yang masih sangat tergantung dari barang impor, juga ikut mengalami kenaikan. Saat gereja akan melengkapi fasilitas untuk keperluan Sekolah Minggu berupa mainan anak-anak yang dibuat dari bahan fibre glass harganya juga sudah melonjak. Demikian juga dengan barang elektronik, makanan  dan lain-lainnya naik dengan cepat. Dulu dengan uang Rp 100.000 bisa membeli banyak barang, sekarang sudah tidak bisa lagi. Kondisinya sudah berbeda. Tahun  mendatang bukan tahun  yang gampang. Menjelang imlek yang jatuh di akhir Januari 2014, sudah terbit buku-buku yang dikarang oleh peramal yang menggambarkan tahun depan makin susah. Secara logis dengan berlakunya hukum permintaan dan penawaran, dimana jumlah barang yang tersedia semakin berkurang karena keterbatasan jumlah sumber daya alam (seperti minyak bumi, mineral dll) sedangkan permintaan semakin meningkat karena jumlah penduduk dunia yang semakin banyak, maka tidak mengherankan harga barang-barang akan terus meningkat. Kemerosotan melanda berbagai hal sehingga hidup semakin tidak mudah. Bukan saja terjadi kemerosotan ekonomi, tetapi juga moral dan etika.

Paradoks Masa Depan Sungguh Masih Ada
Kesulitan akan melanda dunia di masa mendatang. Orang akan sulit mendapat pekerjaan, bertambahnya pergumulan hidup sehari-hari, biaya kesehatan semakin mahal. Realita hidup memang tidak mudah sehingga tema “Masa Depan Sungguh Masih Ada” apakah relevan? Sepertinya timbul paradoks antara tema dan realita. Sewaktu kecil, saya harus menunggu kuah bakso dari kedai saudara kami. Jadi saya pernah mengalami kesulitan. Untuk hidup memang tidak gampang. Tetapi Alkitab mengatakan “masa depan sungguh ada” (Amsal 23:18a). Namun ayat Ini tidak bisa dipecahkan dari ayat sebelumnya. Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa (Amsal 23:17). Kata sambung “karena” pada ayat 18 menunjukkan ayat 18 tidak terlepas dari ayat 17.

Ada 2 hal yang akan kita pelajari saat memasuki tahun 2014 supaya kita yakin bahwa harapan itu ada :

1.     Janganlah hatimu iri kepada orang yang berbuat dosa. Pasal 1 kitab Mazmur sangat tepat diletakkan di paling awal dari kitab Mazmur. Pada pasal 1 ditulis, “berbahagilah orang yang tidak menuruti jalan orang fasik”. Berarti penulis kitab Mazmur (pemazmur) dan kitab Amsal memiliki pikirannya yang sama yakni “jangan iri dengan orang fasik”. Sewaktu dunia tidak punya harapan, maka orang yang ikut dengan permainan dunia akan terjebak di dalamnya, sehingga pemazmur dan penulis Amsal mengingatkan untuk tidak hidup dalam dosa.  Minggu lalu (29 Des 2013), saya diundang makan malam oleh sahabat kami yang menjadi agen perusahaan elektronik dan lampu perusahaan Jerman. Ada seorang karyawannya  yang mencoba mencuri gulungan kabel (tembaga). Saat gulungan tersebut dimasukkan ke tas dan ia tergesa-gesa keluar dari pabrik, ada teknisi lain yang melihatnya. Waktu ditegur, ia kabur dan satpam yang menjaga di depan menahannya. Waktu diperiksa, memang benar orang itu mencuri barang perusahaan dan dia sudah melakukannya selama 2 tahun. Dia memahami peralatan listrik sehingga bisa memadamkan sementara CCTV yang dipasang sehingga ia bisa memasukkan barang perusahaan ke tasnya dan baru setelah itu pesawat CCTV nya dinyalakan lagi. Setelah 2 tahun baru ketahuan. Ia melakukan pencurian  karena ia merasa tuntutan dunia sangat tinggi, sehingga ia ingin mendapat uang dengan cara apapun juga. Alkitab mengatakan, “Janganlah hatimu iri dengan orang berhasil dengan cara yang tidak benar”. Ia juga pernah bertemu dengan salah satu anggota kamar dagang dari provinsi Papua. Pejabat tersebut menawarkan, “Kalau kamu mau bisnis yang empuk di Irian Jaya, saya bisa kasih kamu tapi kamu harus kasih persentase. Saat ditawari komisi 5% dia menampiknya. Dia ingin mendapatkan penawaran yang fantastis. Misalnya : kalau nilai proyek 10 miliar, dia minta Rp 4-5 miliar. Jadi sangat besar. Setelah mempelajari transaksi tersebut, bagian legalnya memberikan nasehat, “Kalau Bapak mau makan dan tidur enak, jangan ambil penawaran ini walaupun untungnya besar! Karena akan berbahaya.” Kedua cerita itu membuat saya berpikir, dunia membuat tuntutan hidup yang tinggi dan menimbulkan irihati melihat cara orang yang berdosa. Dengan semakin berkembangnya  cara yang tidak benar, maka engkau akan berpikir untuk mengikutinya. Dunia dengan hebat menarik kita dengan sistemnya dan membuat kita iri kepada cara yang sia-sia. Banyak bisnisman Kristen terjebak mengikutinya. Ini yang diperingati pemazmur dan Amsal. Orang percaya jangan mengikuti orang fasik dan jangan iri dengan orang yang berbuat dosa. Tuntutan hidup bisa membawa kita berpikir untuk mengikuti dunia dengan caranya. Kalau kita melihat dunia , maka bisa membawa ikut jalan pikiran dunia dan membuat kita iri hati. Alkitab memberi sinyal, jangan engkau mengikuti gaya hidup sia-sia yang ada di dunia ini.
Jangan mengikuti jalan orang fasik, karena dunia menawarkan pola hidup instan dan enak. Walau hal ini tidak berarti pola hidup enak tidak boleh dinikmati. Tetapi biasanya cara hidup instan, caranya  tidak sesuai prosedur dan dapat menghasilkan uang dengan cepat. Ada orang yang bekerja mati-matian dari pagi hingga malam tetapi hasilnya biasa saja. Namun ada juga yang buka pk 10-pk 13 hasilnya luar biasa. Rupanya ada cara yang tidak benar (potong kompas) dan membuat kita terjebak mengikuti cara dunia. Iklan cereal memberi pemawaran, betapa sempitnya waktu para pekerja sehingga makan pagi juga tidak sempat. Lalu cereal membuatnya menjadi sempat. Aktivitas di dunia bisnis dan keluarga serta kegiatan sehari-hari harus cepat. Pola instan untuk hidup enak membuat kita terjebak dalam hidup yang tidak benar. Dalam salah satu wawancara di salah satu TV swasta di Sukamiskin, Gayus diwawancara. Dulu sewaktu dia mengambil uang dari terdakwa pajak alasannya karena dia ingin hidup enak dengan cara yang cepat. Dunia menawarkan hidup enak dengan cara yang tidak sesuai dengan Firman. Pada waktu mengikutinya dan menganggap Alkitab tidak usah dipusingkan maka dia hidup dalam 2 dunia yakni dunia hitam (hidup mengikuti cara dunia yang ingin cepat cara dengan menghalalkan berbagai cara) dan dunia putih (datang ke gereja). Itu yang tidak boleh. Kita jangan iri dengan orang fasik yang kaya lalu terpincut hidup di dalamnya.

2     Takutlah akan Tuhan senantiasa

Terdapat 2 pengertian tentang “Takut akan Tuhan” yakni :

a.     Mengenal Allah dengan baik. Waktu semakin mengenal Tuhan dengan baik, hidup takutmu semakin nyata. Hidup takut Allah dalam perjalananmu , disebut sebagai kenallah Tuhan dengan baik seperti yang dikatakan penulis kitab Amsal dan Mazmur. Ini yang membuat kita bisa melihat ayat 18 di mana Allah menegur Abrahan, “hiduplah dengan tidak bercela”. Jangan kamu tidak mengenal akan Aku. Karena di Kejadian pasal 17, Abraham mencoba dengan caranya sendiri untuk mendapat anak sementara Sara, istrinya,  mandul dan kepadanya Allah menjanjikan keturunan dan negeri impian. Abraham mengira melalui Ismail janji Tuhan akan digenapi. Lalu Allah menegurnya. Waktu kita mengenal Allah dengan baik, maka masa depan sungguh ada dan harapan tidak hilang. Pada film Titanik dikisahkan ada sepasang kekasih yakni Jack dan Rose sedang mempertahankan cinta mereka sementara kapal tenggelam. Sebelumnya Jack ditangkap dengan tuduhan mencuri mantel. Ia diborgol sementara air yang masuk kapal yang sudah bocor semakin meninggi. Rose mencari Jack. Jack merasa heran Rose tidak meninggalkan dia dalam kondisi tersebut. Terjadilah dialog. “Rose , kamu percaya saya tidak melakukan itu?” kata Jack.  Rose menjawab, “Saya percaya”. Saat bilang saya percaya menunjukkan Rose mengenal Jack dengan baik. Dengan semakin dekat dengan pasangan, atau orang tua dekat dengan anak, maka nilai percaya tidak akan dikoyakkan oleh apapun termasuk oleh ketidaksetiaan. Ini sesuatu yang tidak sederhana. Saya punya papa yang lumpuh karena waktu kecil disuntik polio. Waktu kecil saya “dikerjai” karena bermata sipit. Tapi waktu kecil, papa saya jauh dari kehidupan “preman”. Karena mengenal papa, saya percaya. Masa depan tidak hilang, yang menjaminnya Allah yang menciptakan langit. Allah memelihara dan menuntun perjalanan hidup kita dan menjaga hidup kita dalam dunia yang jahat. Dia yang perkasa ada dalam perjalanan engkau dan saya. Sehingga ada masa depan dan harapan. Jangan pernah takut dan khawatir karena Allah yang kita kenal dengan baik bisa dipercaya!

b.     Dalam konteks Perjanjian Lama, bukan saja mengenal tetapi menggantungkan hidup kepada Allah, menaruh harapan kepada Dia. Waktu menaruh harapan, Allah punya cara untuk mematangkan iman kita. Allah ingin anak-anakNya bergantung kepadaNya 100%. Ia mau agar kita percaya sepenuhnya. Caranya, Dia berikan tantangan yang mungkin disebut dengan kesulitan. Dalam hidup yang naik turun membuat kita semakin bergantung kepadaNya, mendewasakan pengenalan kita kepadaNya. Prosesnya seperti ibu yang mengandung anaknya selama 9 bulan 10 hari agar pertumbuhan janin menjadi matang. Kalau lahir sebelum waktunya dikatakan lahir premature dan biasanya punya masalah. Pematangan janin ada dalam proses waktu, setelah waktunya ia akan keluar. Kalau hari ini masalah kita sepertinya tidak ada pintu (jalan keluar) dan  dunia terasa gelap sekali, tetapi waktu kenal dengan baik dan menaruh harapannya dengan baik, maka kita dimatangkan dan didewasakan dalam pengenalan akan Allah. Allah senang dengan iman yang dewasa sehingga tidak akan terjebak dan tidak goyah dengan tawaran apapun. Keponakan dari istri saya ada 3 orang. Papa mereka adalah dosen SAAT dan melarang mereka untuk memakan makanan yang tidak sehat. Lalu saya kasih cobaan, “Ayo makan. Tidak apa”. Dia menjawab, “Kata papa tidak boleh.” Saya coba lagi,” Nanti kalau dicari papa, katakana aja paman yang bilang”. Saya jadi penasaran dengan keteguhan hatinya.  Hal ini seperti pada Matius 4 sewaktu Tuhan Yesus tidak mau mengikuti keinginan iblis, iblis terus menunggu waktu yang tepat. Jadi saya cari cara agar anak tersebut mengambil makanan yang dilarang. Tapi anak itu tetap tidak mau makan. Dalam hati saya berkata, “Hebat! Perkataan papanya dipegang”. Padahal dia masih kecil. Seperti juga orang yang menaruh harapan kepada Dia, ada kematangan dalam ketaatan kepada Tuhan, kematangan yang membuat kita takut dan bergantung pada Tuhan. Jangan pernah mencari pertolongan dunia dan mengikuti cara dunia. Waktu belajar dari Tuhan akan memunculkan harapan yang ada, memberikan masa depan di dalam Dia. Mari jalani tahun ini yang masih pajang, yang kita tidak tahu apakah kesulitan kita semakin besar seperti kesehatan menurun, usaha tidak ada harapan atau tidak dapat pekerjaan. Waktu mencapai titik yang rendah, ingat masih ada harapan! Waktu engkau percaya kepada Tuhan dan menggantungkan hidup kepada Tuhan, di situlah akan dilihat kehebatan Tuhan dalam menyertai kita dalam menghadapi masalah hidup. Rajinlah membaca ALkitab, rajinlah beribadah, hiduplah dalam firmanNya!