Tuesday, December 17, 2013

Meneruskan Misi Allah



Pdt. Karyanto Gunawan

Yoh 17:18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;
Yoh 20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."

Pendahuluan
Sejak November lalu, lagu dan dekorasi sudah banyak dipasang untuk menyambut perayaan natal. Banyak orang yang ingin merayakan kelahiran Tuhan Yesus tapi hanya sedikit yang mematahui perintahNya. Saat ini kita memasuki minggu advent yang seharusnya masa untuk mempersiapkan hati kita dalam menyambut kelahiran Yesus tapi kenyataannya kebanyakan kita sibuk mempersiapkan dekorasi rumah, membeli hadiah, membuat kue, berlatih paduan suara dan banyak kegiatan lainnya. Itu semua tidak salah. Yang salah adalah kalau kita hanya terpaku pada kegiatan tersebut dan kehilangan kesempatan dalam menyiapkan hati. Seharusnya kita memfokuskan kehidupan rohani kita pada hal yang penting yaitu Meneruskan Misi Allah. Seperti juga syair lagu “Bila Jiwaku DipanggilNya” (Must I Go and Empty Handed) yang digubah oleh George C. Stebbins dan syairnya ditulis oleh Charles C. Luther
Syair lagu ini ditulis oleh Charles C. Luther didasarkan pada kisah penginjilan pada seorang pasien yang setelah mendengarkan penginjilan lalu menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya. Si pasien merasa sukacita, karena dirinya sudan beroleh selamat, hanya saja penyakitnya semakin parah. Sebelum meninggal, dia menangis begitu rupa, Pendeta yang mendampinginya bertanya: mengapa kamu menangis? Dia terus menangis. Sampai saat dia tidak menangis lagi, Pendeta bertanya "Bukankah kamu sudah selamat, akan masuk ke sorga, berjumpa dengan Yesus, Juruselamat yang mengasihimu, mengapa kamu menangis?" "Saya tahu, saya sudah selamat dan saya bersyukur untuk itu, tapi waktu saya menghadap Tuhan nanti, haruskah saya pulang dengan tangan hampa? Kalimat itulah yang dijadikan lagu Bila jiwaku dipanggilNya, layakkah 'ku nampak sriNya. B'lum seorang yang kubawa,rahmat Hu tersia sialah.Belum selesai kerjaku,'ku tak layak nampak Hu. B'lum seorang yang kubawa,tangan hampa pulangkah? S'karang pulang kutak sesal,kar'na jiwaku t'lah s'lamat. Hanya hatiku sedih b'rat, kerjaanku b'lum berbuah.Kini kus'rahkan raga, jiwa, serta giat bekerja. Malam segera tibalah,kesempatan habislah

Natal merupakan Misi Allah
Banyak manusia dari lahir sampai dengan meninggal berputar-putar di 7C
1.     College (pendidikan). Orang tua mengumpulkan uang mati-matianagar anaknya bisa bersekolah. Dengan pendidikan yang baik berharap mendapatkan C yang kedua yaitu Career.
2.     Career (pekerjaan). Setelah ada pendidikan & pekerjaan yang baik mengharapkan dapat C yang ketiga (Card)
3.     Card (kartu = uang). Kita hidup di jaman uang plastik
4.     Car (mobil). Setelah ada uang yang lebih banyak lalu ganti mobil
5.     Condominium (rumah). Harga apartemen sekarang mahal, ada yang lebih dari Rp 25 juta/m2.
6.     Couple (pasangan hidup). Yang laki-laki mencari pasangan hidup dengan  kriteria 3B (beauty-cantik, behaviour-perilaku, brain-otak). Yang perempuan mencari laki-laki dengan criteria 3B (bibit, bobot, bebet). Setelah itu
7.     Children (anak-anak). Orang tua biasanya yang sibuk bila anaknya menempuh pendidikan.
Kalau orang Kristen juga berputar-putar pada 7C sangat memprihatinkan.
Kaisar Alexander Agung (33 tahun) dikenal sebagai pemimpin militer yang paling kuat dan penakluk dunia zaman kuno. Sebelum ia berusia 30 tahun ia telah menaklukkan kerajaan yang membentang lebih dari 3.000 mil dari Yunani ke India. Ia dilahirkan pada 356 SM di Makedonia, yang dikenal hari ini sebagai Yunani bagian utara. Pada detik detik terakhir hidupnya sebelum maut menjemputnya di atas tempat tidurnya, Alexander Agung berwasiat kepada jenderal perangnya yang terpercaya “Setelah kematian saya, ketika Anda membaringkan tubuh saya di peti mati, biarkan lengan saya menggantung di tepi mati dengan telapak tanganku terbuka lebar, sehingga masyarakat dapat melihat bahwa tangan saya kosong ketika saya meninggalkan dunia ini.” Kitab Talmud (kitab orang Yahudi) mengatakan, “Seorang bayi lahir ke tengah dunia dengan tangan yang menggenggam, namun ketika meninggalkan dunia tangan seorang manusia terbuka lebar”. Maksudnya manusia lahir ke dunia dengan nafsu ingin meraih segala sesuatu , namun waktu mati ia tidak membawanya serta. Seorang Kristen tahu waktu lahir dengan telanjang, dan sewaktu mati tidak membawa apapun juga. Hidup orang Kristen bukan hanya 7C saja. Hanya sedikit orang yang bisa hidup bebas dari 7C. Kalau orang dunia bisa, maka seharusnya orang Kristen juga bisa hidup bebas dari sekedar menguber 7C. Orang Kristen harus mengabarkan Injil (menyampaikan berita sukacita) seperti yang diperintahkan Tuhan di tengah-tengah lingkungan kita. Misi Kristen bukan dimulai oleh orang Kristen, yayasan atau gereja tapi oleh Allah sendiri. Kalau Allah tidak punya misi untuk umat manusia maka manusia akan terhilang.

Allah terus bekerja melalui nabi-nabi dan tidak pernah putus asa (menegur, menguatkan dan mengingatkan) memanggil manusia untuk kembali kepada Allah, namun nabi-nabiNya ditolak. Sampai pada puncaknya, Allah mengutus anakNya (mengaruniakan putra tunggalNya) untuk lahir di dunia. Inilah yang diperingati saat natal. Allah yang memulai dan kemudian memakai orang percaya untuk melanjutkan misiNya di dunia ini. Allah memulai dengan orang-orang yang sederhana (kedua belas murid Yesus). Awalnya mereka adalah orang yang tidak diperhitungkan , namun setelah menyerahkan dirinya menjadi pengikuti Tuhan, mereka menjadi orang-orang yang luar biasa. Melalui orang-orang sederhana seperti mereka, kuasa Allah bekerja. Bisa diibaratkan orang Kristen itu seperti pengemis yang menemukan gudang penuh makanan, lalu memberitahukan kepada pengemis-pengemis lainnya. Dia tidak tinggal diam tapi memberitahukan kepada yang lain.

Penginjilan
Penginjilan adalah suatu proses yang melibatkan kehidupan seutuhnya dalam membagikan injil Tuhan Yesus Kristus dengan kasih Allah, dalam pimpinan dan kuasa Roh Kudus dan mempercayakan hasil-hasilnya kepada Allah. Ada orang yang baru percaya pada saat akan meninggal dunia. Namun itu adalah proses yang panjang. Mungkin orang tua, anak-anaknya, orang-orang di lingkungannya telah berdoa begitu lama agar ia menjadi orang percaya. Kita mengabarkan Injil melalui perkataan dan kehidupan kita secara keseluruhan.
Friedrich Nietzsche (1844-1900) adalah anak seorang pendeta. Dalam seluruh hidupnya dia adalah pengkrititk orang-orang Kristen di (gereja-gereja) Eropa khususnya di Jerman. Suatu hari dia menderita sifilis, gangguan jiwa dan meninggal di rumah sakit , tapi tulisan-tulisannya pedas mengkritik orang-orang Kristen dan gereja sehingga disebut pembunuh Tuhan. Hal ini karena hidup banyak orang Kristen rusak. Ada yang mabuk-mabukan, berzina , berjudi dan lain-lain. Di rumah sebagai orang tua atau anak-anak, di tempat kerja sebagai rekan bisnis atau pemimpin atau bawahan, di kampus sebagai pelajar seharusnya sebagai orang Kristen memperlihatkan kehidupan yang benar dan sesuai dengan ajaran Yesus Kristus. Nietzshce mengatakan, “Orang Kristen harus memperlihatkan kepada saya bahwa mereka telah ditebus, baru saya bisa percaya kepada Penebus mereka” (Christians must show me they are redeemed, before I will believe in their Redeemer) artinya menjadi orang Kristen harus berani hidup berbeda dengan lingkungannya yang rusak.

Sewaktu naik pesawat dari Sorong ke Jakarta, saya duduk di sebelah haji dan istrinya. Mereka melihat tas saya yang bertuliskan PGTI. Lalu ia bertanya,”Dari gereja ya?” Setelah bercakap-cakap, mereka mau buku-buku Kristen. Lalu saya minta nomor telepon dan mengirimkan buku karya Pdt Stephen Tong dan Alkitab. Mereka mengucapkan terima kasih atas buku-buku yang saya kirim. Sewaktu ada KKR Pdt Stephen Tong, saya menelpon untuk menginformasikan ke haji tersebut untuk datang dan bila ada yang tidak dimengerti dapat bertanya. Sayangnya sang haji tidak bisa hadir karena ada acara. Itu bukanlah masalah, yang penting kita sudah melakukan perintah Tuhan dengan mengajaknya. Ada juga seorang teman yang diajak ikut KKR –nya Pdt Tong di Surabaya dan dia bertobat. Setelah lama tidak bertemu, akhirnya kami bertemu di beberapa acara KKR. Ternyata ia telah mengikuti Yesus dengan setia. Kita tidak pernah tahu hasilnya yang penting kita melakukannya.

Tuesday, December 10, 2013

Aku adalah Hamba Tuhan



Ev. Daesy Sanger

Luk 1:26-38
26  Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
29  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
30  Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
34  Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
35  Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
36  Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
37  Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
38  Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Pendahuluan
Di kebaktian saat diminta, “Siapa di sini yang hamba Tuhan angkat tangan!”,  ternyata jarang (bahkan tidak ada) jemaat yang mengangkat tangannya. Umumnya hamba Tuhan dikonotasikan dengan penginjil atau pendeta. Padahal kalimat “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan” bukan dikeluarkan oleh seorang imam, nabi, pemimpin rumah ibadah (gereja), tetapi keluar dari mulut seorang perempuan muda biasa, yang sangat sederhana seperti kebanyakan.

Siapa yang dimaksud hamba Tuhan?
Waktu masih mengikuti kelas Sekolah Minggu, saya punya keinginan bermain drama memerankan tokoh Maria, ibu Yesus. Hal ini karena Maria digambarkan sebagai wanita cantik memakai jubah panjang, kerudung merah muda dan menggendong bayi Yesus. Sebagai seorang anak kecil, kita tidak mengerti, menjadi Maria tidak mudah, penuh dengan kesulitan. Setelah dewasa, belum tentu kita mengerti beratnya pergumulan Maria. Karena kita terpesona oleh kepopuleran Maria. Maria adalah seorang perempuan muda yang dipilih Tuhan yang dari mulutnya keluar satu kalimat, ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan.” (ayat 38a). Pada ayat 26-27  dikatakan, “Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret” kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria., Pada ayat-ayat  tersebut, jelas sekali bahwa Allah sudah memberikan sebuah petunjuk yang sangat tepat tentang waktu, tempat dan orangnya yang membuktikan bahwa ini adalah fakta sejarah. Bulan keenam yang dimaksud adalah bulan keenam dari saat Elizabeth mulai mengandung. Ini dua peristiwa yang mencengangkan yang tidak masuk akal (tidak bisa diterima oleh medis). Bagaimana mungkin seorang perempuan tua yang mandul, bisa mengandung dan punya anak? Tetapi Tuhan sudah menyediakan sebuah rencana yang begitu besar (hebat) nya , walau bagi kebanyakan orang sungguh tidak masuk akal.

Siapa Maria?
Alkitab mengatakan, ia seorang perawan, tunangan dari Yusuf, keturunan Daud dan tinggal di Nazaret Galilea. Jadi tidak kebetulan ia yang dipilih, karena Tuhan sudah merencanakannya. Artinya segala sesuatu yang terjadi atas Maria, ia sudah dipilih menjadi hamba Tuhan, walaupun ia bukanlah seorang imam atau pemimpin agama, tetapi ia mempunyai kerohanian yang baik. Kondisi Maria mengingatkan kita akan nubuatan Allah pada Yesaya 7:14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.
Sebuah rencana Allah , jauh sebelum Maria lahir, sudah diberitahukan. Alasan Maria yang dipilih walaupun ia  bukan seorang imam atau rohaniawan :
1.     Maria dipilih karena ia telah memperoleh kasih karunia. Ini adalah kedaulatan Allah dalam memilih orang, Allah mengasihi dan memilih Maria. Seperti juga halnya Tuhan memilih kita dari orang yang berdosa, penuh kejahatan , harus dihukum mati, dan kita dipilih menjadi anak Tuhan, itu adalah kasih karunia. Maria memperoleh kasih karunia dari Allah, sama seperti Nuh pernah menerimanya. Kej 6:8 Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. Jika tidak pernah merasakan kasih karunia itu, sunguh sulit untuk memahami bahwa kita dikasihi dan dipanggil menjadi hambaNya sehingga kita tidak berani berkata bahwa kita hamba Tuhan.
2.     Maria seorang yang hidup berkenan kepada Allah. Tuhan memilih dan memberi kasih karunia lalu Maria meresponinya dengan melakukan hal yang berkenan. Alkitab mencatat Maria adalah orang yang berkenan kepada Allah. 2 Tim 2:21 Jika seseorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud mulia, ia dikuduskan, ia dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan mulia. Ini merupakan nasehat Rasul Paulus kepada Timotius. Setiap orang yang dipanggil Tuhan, tidak bisa tidak melakukan apa-apa. Ini merupakan respon. Kalau kita tidak berusaha menyucikan diri dan meninggalkan perbuatan jahat, kita tidak bisa menjadi perabot rumah Tuhan serta tidak dipandang untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Maria dipilih karena kasih karunia dan berkenan di hadapan Tuhan sehingga pekerjaan yang mulia sebagai ibu Yesus di dunia diberikan kepada Maria. Bagaimana kita bisa jadi hamba Tuhan kalau tidak menyadari hal ini?  Jangan pernah berpikir bahwa dengan masuk dan belajar di sekolah Alkitab (bahkan sampai S2) sudah membawa kita kepada karakter hamba Tuhan. Tidak! Banyak hamba Tuhan bergumul dengan karakter-karakternya. Artinya untuk bisa menjadi hamba TUhan kita perlu berusaha, menerima kasih karunia, berjuang untuk berkenan di hadapan Allah seperti Maria.

Kunjungan Malaikat kepada Maria
Ayat 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau"  (“Greeting* you who are higly favored! The Lord is with you”). Kunjungan Malaikat kepada Maria merupakan puncak (peristiwa yang sangat dahsyat). Saya kesulitan mendapat gambar yang mewakili ayat ini. Biasanya gambar di google, lengkap dengan sinar yang terang (berkilau-kilau) dan ini berbeda dengan apa yang dilukiskan Lukas. Lukas tidak mencatat bahwa Maria dikunjungi mahluk yang bersinar menakutkan dan membuat Maria merasa ngeri. Sewaktu menjadi guru Sekolah Minggu, saya membuat kesalahan menggambarkan malaikat dengan lingkaran halo di kepala dan membawa tongkat berujung bintang seperti pada kisah Pinokio. Padahal Alkitab mencatatnya begitu alami (biasa). Saat penampakan malaikat di hadapan Maria, Lukas tidak mencatat seperti apa fisik malaikat tersebut seperti Lukas mencatat di bagian lain yang menceritakan malaikat sebagai sosok yang bersinar. Seperti pada Lukas 2:9 , Lukas mencatat, Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lukas adalah penulis yang sangat detil dan akurat sehingga tidak mungkin dia lupa mencatat malaikat yang bersinar-sinar ketika bertemu Maria. Jadi bukan sinarnya yang penting tetapi salamnya yang penting, karena itu ditulis dalam Alkitab pada ayat 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu, Maria terkejut mendengar perkataan itu (bukan terkeju dengan fisiknya malaikat) yakni Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau. Kata salam berasal dari kata khah’eero (chario yang artinya gembira / merasakan sukacita). Kata chairo sangat erat kaitannya dengan kata grace (anugerah).  Chairo merupakan sebuah perasaan gembira karena anugerah Allah. Maria terkejut karena perkataan malaikat itu. Dia merasa dia orang biasa (kebanyakan), tetapi didatangi malaikat yang berkata, “Salam (chairo /greeting)”. Dengan penuh kerendahan hati Maria mengatakan, “Siapa saya, sampai mendapat salam yang begitu memuliakannya”. Itu membuatnya terkejut. Dia tidak mengerti apa arti salam itu. Seorang hamba Tuhan begitu rendah hati. Ia menyadari dirinya orang biasa yang sebenarnya tidak layak. Tetapi Allah melayakkan. Allah memberikan chairo untuk dia, sebuah salam yang tidak biasa. Berapa banyak dari kita yang tersinggung ketika kita melayani di gereja sebagai aktivis, majelis gereja, guru sekolah minggu bahkan hamba Tuhan dan kita merasa kurang dihargai oleh orang lain. Kita perlu belajar dari Maria. Maria merasa dirinya tidak layak dapat salam itu. Bukankah kita dipilih jadi hamba Tuhan? Ini benar-benar karena Allah melayakkan kita. Bukan karena kita pintar, baik, karena Tuhan bisa pakai siapa saja yang bukan kita. Waktu Yesus masuk Yerusalem naik keledai orang banyak mengambil pohon palm mulai memulikan Allah, “Hosana..Hosana.”. Prajurit dan ahli taurat tidak suka. Mereka meminta orang banyak diam. Tetapi Yesus bilang, “kalau mereka diam batu bisa memuji”. DI surga ada sepasukan malaikat yang melayani tetapi Allah mau memakai dan menghargai kita seperti Maria yang bersedia untuk taat, hidup berkenan dan kasih hidupnya untuk Tuhan. Semuanya dikasih termasuk harga diri, masa depan dan pernikahannya.

Waktu malaikat menyampaikan pesan, Maria tidak mengerti, sehingga ia bertanya lalu Allah memberikan jawabanNya. Ayat 30-33 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Allah memberitahukan Maria , seorang hamba Tuhan, tentang rencananya yang begitu agung. Kepada Maria malaikat mengatakan, “Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia adalah Yesus”. Maria tetap tidak memahami. Untuk itu ia bertanya, "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Ketidakmampuan Maria untuk memahami rencana Allah tidak membuat Allah tidak memilih dia. Allah bersedia memberi jawaban. Ini membuktikan kerendahanan hati Maria. Salah satu ciri rendah hati adalah terus bertanya pada Tuhan tentang apa yang Tuhan mau saya berikan. Dan Tuhan memberikan jawaban. Kali ini malaikat berkata, "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Waktu saya menyiapkan bagian ini, saya mencoba berada pada posisi Maria. Saya membayangkan bagaimana Maria bisa menerima kondisi seperti ini? Benar-benar membutuhkan kepercayaan atas perkataan Allah karena belum kelihatan bayinya dan belum tahu siapa Yesus. Hanya mendengar dan dia percaya. Itulah hamba Tuhan. Berapa banyak yang mengaku hamba Tuhan tapi tidak bisa percaya pada Tuhan serta perkataan dan janjiNya. Maria tidak begitu. Tetapi Tuhan tetap bisa memberikan banyak peneguhan padanya. Ada peristiwa ajaib sebelum ia mengandung Yesus. Saudaranya, seorang perempuan yang sudah tua dan mandul, ternyata bisa hamil. Tuhan memakai Elizabet untuk bisa menjadi contoh (teladan) dan malaikat mengatakan,” Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.”  Tuhan mengerti pergumulan Maria. Tuhan memberikan peneguhan demi peneguhan. Memberikan orang-orang di sampingnya untuk meneguhkan Maria sehingga muncullah perkataan,”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan”. Hamba Tuhan bukan selalu orang yang masuk sekolah Alkitab tetapi orang-orang yang mengerti pilihan, kasih karunia Allah, bersedia hidup berkenan kepada Allah, memberikan dirinya pada Tuhan menjadi perabot rumah Tuhan, untuk kemuliaan Tuhan. Maria memberikan pelajaran yang berharga buat kita. Apakah kita bersedia menjadi hamba Tuhan ? Apa kita bersedia mengambil resiko? Maria mengambil resiko!, Kalimat yang diltulis Lukas tidak berhenti pada, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan” namun ada tambahannya, “; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Perkataan yang mana? Perkataan Allah yang dikatakan malaikat. Artinya Maria bersedia masuk dalam rencana Allah dengan segala resiko mungkin bisa dirajam mati karena hamil di luar nikah, kehilangan Yusuf, gagal pernikahan, dan sebagainya. Maria bersedia mengambil resiko karena ia percaya Allah, dia tahu Allah memberikan rencana hidup yang luar biasa.

Mari kita sama-sama memikirkan apakah kita bersedia menjadi hambaNya? Mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan? Dengan apa yang Tuhan sudah berikan pada kita (materi, talenta, karakter dan seluruh keberadaan kita). Biarlah kita bisa menjadi seperti Maria yang bisa berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanMu.”

Tuesday, December 3, 2013

Ibadah yang Munafik

Pdt. Hery Kwok

Yer 7:21-28
21  Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: "Tambah sajalah korban bakaranmu kepada korban sembelihanmu dan nikmatilah dagingnya!
22  Sungguh, pada waktu Aku membawa nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir Aku tidak mengatakan atau memerintahkan kepada mereka sesuatu tentang korban bakaran dan korban sembelihan;
23  hanya yang berikut inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!
24  Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memberi perhatian, melainkan mereka mengikuti rancangan-rancangan dan kedegilan hatinya yang jahat, dan mereka memperlihatkan belakangnya dan bukan mukanya.
25  Dari sejak waktu nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir sampai waktu ini, Aku mengutus kepada mereka hamba-hamba-Ku, para nabi, hari demi hari, terus-menerus,
26  tetapi mereka tidak mau mendengarkan kepada-Ku dan tidak mau memberi perhatian, bahkan mereka menegarkan tengkuknya, berbuat lebih jahat dari pada nenek moyang mereka.
27 Sekalipun engkau mengatakan kepada mereka segala perkara ini, mereka tidak akan mendengarkan perkataanmu, dan sekalipun engkau berseru kepada mereka, mereka tidak akan menjawab engkau.
28  Sebab itu, katakanlah kepada mereka: Inilah bangsa yang tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan yang tidak mau menerima penghajaran! Ketulusan mereka sudah lenyap, sudah hapus dari mulut mereka."

Yeremia disebut sebagai nabi yang menangis. Penyebabnya ada pada ayat 27 Sekalipun engkau mengatakan kepada mereka segala perkara ini, mereka tidak akan mendengarkan perkataanmu, dan sekalipun engkau berseru kepada mereka, mereka tidak akan menjawab engkau dengan perkataan lain Nabi Yeremia menangis karena orang-orang  Israel adalah orang-orang yang tegar tengkuk dan tidak mau mendengarkan perkataan yang disampaikannya dan kemudian ia menulisnya dalam kitab Ratapan.

Pendahuluan
Di suatu hari Minggu, di kedai tuak (kedai minuman) di salah satu desa Brastagi (Medan Sumatra Utara) ada  2 orang laki-laki sedang bercakap-cakap di kedai tuak (kedai minuman). Yang satu bernama Ucok dan yang lain bernama Poltak. Poltak bertanya, “Jadi tidak besok kita berjudi lagi?” Ucok menjawab,”Bukannya besok hari Minggu? Saya mau ke gereja dulu.” Poltak tersadar dan berkata, “Oh iya, saya lupa besok adalah hari Minggu. Jadi kita ibadah dulu ya.” Ucok melanjutkan,”Iya. Baru setelah selesai kita lanjutkan lagi.” Ini adalah kisah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga mungkin terjadi dengan diri kita di mana setelah ke gereja, lalu melakukan hal yang tidak berkenan kepada Allah.

Konsep ibadah yang salah
1.     Kewajiban agamawi (beribadah untuk membayar hutang, “menyetor muka” kepada Allah, agar jangan dihukum oleh Allah atau supaya diberkati oleh Allah). Orang Israel melakukan ibadah mereka dengan cara yang salah. Itu sebabnya , ibadah mereka adalah ibadah yang munfaik. Yang dimaksud munafik adalah apa yang dilakukan berbeda dengan yang ada di dalam pikiran. Mereka datang ke rumah Tuhan sebagai kewajiban agama mereka. Itu sebabnya pada Yer 7:2-3, firman Tuhan datang kepada Nabi Yeremia untuk menyerukan kepada umat Israel,” Dengarlah firman TUHAN, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada TUHAN!  Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini. Bagi mereka ibadah hanya merupakan kewajiban, sekedar kegiatan agamawi mereka yang mempunyai unsur bayar hutang atau setor muka kepada Allah. Dalam konteks hari ini, serupa dengan hal itu adalah alasan pergi ke gereja karena “Saya orang Kristen. Tidak enak kalau hari Minggu tidak pergi ke gereja” atau  “Tidak enak karena mertua saja majelis (hamba Tuhan)” Artinya dengan kata lain, orang pergi ke gereja dengan alasan yang tidak benar. Jadi saat orang Israel datang ke pintu gerbang bait Allah mereka menganggap mereka sudah “setor muka” kepada Allah. Juga dalam melakukan kewajiban agama, mengandung unsur supaya mereka tidak dihukum Allah dan supaya mereka merasa diberkati oleh Allah. Pada Yer 7:10 dikatakan, “kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini!” Jadi ada orang yang punya konsep beribadah seperti yang disebutkan dalam ilustrasi di atas.

2.     Lebih mementingkan ritual (kegiatan) agama. Dalam konsep yang bersifat agamawi mereka lebih mementingkan ritual atau kegiatan agama. Pada Yer 7:21 dikatakan, Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: "Tambah sajalah korban bakaranmu kepada korban sembelihanmu dan nikmatilah dagingnya! Orang Israel merasa sewaktu mereka membawa korban persembahan, agama yang mereka lakukan itu sudah benar. Sepertinya dengan membawa persembahan, Tuhan sudah puas. Orang Israel kalau bawa persembahan tidak tanggung-tanggung. Mereka membawa binatang dari rumah yang tentunya tidak mudah. Jadi orang-orang Israel menganggap ritual atau kegiatan itu sangat penting. Kegiatan atau ritual tidak salah, tetapi mereka berpikir karena mereka sudah lakukan, maka Allah sudah dipuaskan, padahal hidup mereka tidak mau berubah dari yang jahat menjadi yang baik.

3.     Tidak mau diarahkah ke jalan yg benar Setiap nabi yang mengajarkan, mereka tolak. Pada Yer 7:24-26 dikatakan,”Tetapi mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memberi perhatian, melainkan mereka mengikuti rancangan-rancangan dan kedegilan hatinya yang jahat, dan mereka memperlihatkan belakangnya dan bukan mukanya.  Dari sejak waktu nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir sampai waktu ini, Aku mengutus kepada mereka hamba-hamba-Ku, para nabi, hari demi hari, terus-menerus,  tetapi mereka tidak mau mendengarkan kepada-Ku dan tidak mau memberi perhatian, bahkan mereka menegarkan tengkuknya, berbuat lebih jahat dari pada nenek moyang mereka.” Orang Israel tidak mau diajar kebenaran. Apa yang disampaikan oleh Nabi Yeremia, juga kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga sering menolak waktu diajar kebenaran. Seringkali waktu hamba Tuhan menyampaikan kebenaran yang menyakitkan,  kita merasa tidak suka. Pada acara (program) TV, anak-anak sekolah tidak boleh dimarahi gurunya. Mau jadi apa bangsa ini, kalau tidak ada orang yang mengarahkan dengan suara yang benar? Wakil gubernur DKI (Ahok) , berkata tentang pelajar yang tawuran, “Itu calon bajingan!” Ada yang bilang, pernyataan Ahok keras tapi ada yang mendukung dengan alasan kalau tidak diajar dengan keras, maka pelajar akan terus tawuran. Bangsa ini sama seperti bangsa Israel tidak mau diajar kebenaran. Itu sebabnya apa yang mereka lakukan di rumah Tuhan sesungguhnya adalah ibadah yang munafik. Apa yang tampak di luar berbeda dengan apa yang ada di hati mereka.

Arti Ibadah yang sejati

Konsep yang Tuhan berikan tentang Ibadah bisa dilihat pada  Yer 7:22 Sungguh, pada waktu Aku membawa nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir Aku tidak mengatakan atau memerintahkan kepada mereka sesuatu tentang korban bakaran dan korban sembelihan. Pada kisah tentang Musa waktu membawa keluar bangsa Israel dari Mesir. Musa berbicara kepada Firaun “Biarkanlah umat Tuhan ini pergi ke padang gurun untuk beribadah kepada Allah sebagai Allah yang memanggil umatNya untuk beribadah di padang gurun”. Ibadah artinya :

1.     Allah memanggil umatNya untuk datang dan bersekutu dengan Dia (Yer 7:22) Di dalam ibadah , inisiatif yang memanggil adalah Allah bukan manusia. Itu sebabnya dalam kisah Musa, ibadah merupakan keharusan sehingga Firaun pun tidak boleh menolaknya. Karena Allah mencintai umatNya sehingga Dia berkata, “UmatKu akan Kubawa ke padang gurun karena Aku mau beribadah dengan mereka”. Waktu Firaun menolaknya dengan keras hati, Tuhan menghukumnya dengan 10 tulah. Itu sebabnya ibadah merupakan panggilan dari Allah kepada kita. Itu sifatnya harus supaya umatNya datang. Ev. Inawaty (dosen PL dari STT Reform) mengatakan, “Ibadah merupakan keharusan sehingga orang tidak boleh menolak untuk beribadah meskipun hati kita tidak senang dengan seseorang di gereja, itu bukan alasan tidak ke gereja. Atau kita punya pergumulan yang membuat kita sulit ke gereja. Atau sibuk dengan pekerjaan dan rumah sehingga beribadah dengan siaran TV saja.” Konsep beribadah seperti ini sudah bergeser. Orang tidak ke rumah Tuhan untuk beribadah. Mereka menonton acara gereja di TV dan mengira itulah ibadah. Itu bukan ibadah karena  ibadah adalah Allah memanggil kita untuk datang ke rumahNya. Allah yang sedemikian kasih ini memanggil umatNya untuk bertemu dengan ciptaanNya.

2.     Ibadah yang sejati agar umatnya mendengar suara-Nya sehingga mengenal Dia dengan benar. Pada Yer 7:23 dikatakan, hanya yang berikut inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia! . Allah memanggil umatNya, agar makin mengenal Dia. Itu sebabnya dalam ibadah, FT yang disampaikan adalah sesuatu yang penting agar kita mengenal Allah. Allah jangan kita kenal karena perasaan kita. Ada orang merasa, waktu diberkati Allah baik sekali, tetapi waktu dia merasa Allah tidak memberkatinya, bertanya, “Koq Allah seperti ini?” Hal itu terjadi kalau mengenal Allah dengan perasaan atau pikiran kita. Itu sebabnya kita sering keliru dalam mengenal Allah. Waktu kita mendengar Allah berbicara, Dia menjadi Allah kita dan kita jadi umatNya. Di sini terjadi relasi antara Allah dengan umatNya. Itulah sebenarnya esensi ibadah dimana Allah ingin kita punya persekutuan antara Allah dengan umatNya. Dengan terjadi relasi, kita makin nengetahui benar Dia Allahku dan kita umatNya. Suami istri kalau tidak punya relasi akan menemui kesulitan. Satu dengan lain tidak saling kenal dengan dalam. Dari luar kita melihat mereka suami istrik tapi secara esensi mereka tidak saling mengenal satu dengan lain. Waktu sang suami dengar suara istri dan sebaliknya maka terjadilah sebuah interaksi. Bayangkan saat malam hari, kita merenung dan melihat pasangan kita lalu  kita bertanya,”Tuhan benarkah itu pasanganku?”. Kalau relasi kita baik, “Dia itu benar istri saya walau dia suka mengomel”. Atau mungkin “Suami saya keras tapi dia sangat mencintai saya”. Pertanyaan itu bisa terjawab waktu kita punya relasi yang baik. Aku akan menjadi Allahmu dan engkau jadi umatKu.

3.     Agar umat-Nya melakukan apa yangg dikehendakinya sehingga hidup berbahagia (Yer.7:23). Waktu engkau mendengar maka engkau akan tahu apa yang harus dilakukan supaya hidupmu berbahagia. Keselamatan itu dari Allah dan Allah yang tentukan caranya. DIa berkuasa dan berdaulat untuk tentukan cara. Kita tidak bisa protes, mengapa tidak bisa begini dan begitu. Mengapa keselamatan di  dalam Kristus dan yang lain tidak? Karena Allah yang tentukan. Waktu Allah menentukan jalan kita, kita tahu apa yang Dia kehendaki. Kalau Allah memberi perintah / jalan, Dia tidak membuat kita jadi susah. Kadang jalan Tuhan sepertinya susah, tapi ujungnya indah. Waktu orang Israel menyeberang lautan Teberau mereka kesulitan minuman. Saat mereka bersungut-sungut lalu Allah memberikan mereka air. Sesungguhnya Allah menyediakan air yang melimpah yang disebut Elim. Seringkali mata kita tidak bisa melihat jauh sehingga Firman Allah menolong kita. Waktu Allah memanggil dan kita lakukan, itulah ibadah sejati. Kalau anak sudah besar dan memberikan sesuatu, orang tua selalu bilang, “Saya tidak butuh ini tetapi hatimu”. Waktu beribadah kepada Tuhan, Allah ingin hati kita.

Kesimpulan Ibadah yang tidak munafik


1.     Ibadah sebagai respon/tanggapan terhadap cinta kasih Allah yang ingin bersekutu dengan umat-Nya (keharusan dan kecintaan). Keharusan supaya kita datang kepada Dia dan kecintaan karena kita ingin bertemu denganNya. Di zaman dulu saat orang tua kita hidup dalam zaman presiden Soekarno, para petani dengan segera melepas cangkulnya kalau mendengar presiden Soekarno akan pidato. Kita yang hidup zaman sekarang tidak bisa menangkap hal ini dengan baik. Tetapi waktu mendengar cuplikan pidatonya baru saya pahami hal ini. Bagi mereka, suara presiden Soekarno adalah suara yang harus mereka dengar. Karena mereka menganggapnya  pemimpin mereka dan mereka mencintai pemimpin ini. Seharusnya respon orang Kristen terhadap Tuhannya melebihi orang-orang biasa. Namun banyak orang Kristen yang diajak ke gereja tidak mau dengan alasan masih sibuk. Berbeda dengan si petani yang melempar cangkul untuk mendengar pidato Soekarno. Ada orang Kristen yang tidak ke gereja karena alasan tokonya buka di hari Minggu karena takut tidak mendapat untung. Ada seorang anak Tuhan yang berbicara tentang tokonya di Mangga Dua yang justru paling ramai pada hari Minggu. Dia pernah bergumul untuk menutup tokonya pada hari Minggu atau tidak datang ke gereja. Karena waktu ibadah gerejanya bertepatan dengan waktu buka tokonya Apalagi ada pembelinya berkata, “Buka dong ko, karena kita bisanya hanya hari Minggu”. Dia berkata “Kalau saya tidak bulatkan hati untuk tutup, rasanya tidak pernah tutup.”

2.     Ibadah yang berpusat/mendengar Firman Tuhan sebagai kebutuhan pokok manusia untuk dapat mengenal Allah dengan benar. Tuhan Yesus waktu digoda ibis, “Manusia bukan hidup dari roti saja tetapi dari setiap Firman Tuhan”. Firman menjadi makanan pokok rohani yang kalau tidak “dimakan” maka kita akan lemas. Ibarat orang indonesia yang kalau belum makan nasi, rasanya belum makan. Walau sudah makan bapao dan harmburger, tetap rasanya belum makan, karena makanan pokoknya adalah nasi. Kebutuhan pokok rohani kita adalah Firman. Waktu kita berangkat dari rumah untuk mendengar firman Allah itu seharusnya menunjukkan kehausan yang luar biasa.


3.     Ibadah yg dapat dilihat melalui sikap hidup sehari-hari yang diubahkan oleh Firman yg didengarnya. Ibadah terefleksi / tercermin dalam hidup kita sehari-hari. Jangan sampai kita punya ritual hebat tetapi aktual kita miskin sekali. Jangan rajin ke gereja tapi kehidupan praktis tidak benar. Suatu kali ada seorang anak Tuhan buka bengkel. Usaha bengkel mobil adalah usaha dalam bidang jasa. Perusahaan jasa berhubungan dengan ketepatan dan kecepatan waktu. Kalau janji tentang waktu pengerjaan mobil tidak ditepati, pembeli tidak akan datang ke bengkel lagi. Kalau kita ke Auto 2000, waktu yang dijanjikan sesuai. Di monitor terlihat jelas, sampai di mana proses pengerjaannya. Kalau orang buka bengkel tapi tidak tahu berapa lama waktu pengerjaannya, pembeli akan kapok. Di Bandung ada anak Tuhan yang buka bengkel. Setiap pembeli datang disapanya, “Syalom”. Suatu kali ada kliennya yang juga Kristen servis mobil di bengkelnya. Awalnya dijanjikan selesai 4 hari. Tetapi setelah 4 hari, ternyata belum selesai dan dia minta maaf dan minta diundur 2 hari. Kliennya kesal tapi terpaksa balik lagi 2 hari kemudian. Lalu disambut lagi “syalom” yang  dibalas syalom juga. Namun saat ditanya apakah  sudah selesai, kembali dia minta maaf dan bilang besok selesai. Keesokan harinya kliennya datang lagi dan kembali bertanya apakah sudah selesai. Namun ternyata masih belum selesai juga. Sang klien merasa kesal dan berkata, “Syalom-syalom tetapi ngaret terus”. Ibadah yang sejati bisa dilihat dalam hidup kita. Apa yang engkau katakana, itu yang engkau lakukan.. Engkau memberi persembahan, hatimu penuh kelimpahan. Itulah ibadah yang tidak munafik.