Sunday, November 17, 2013

Melayani Selagi Ada Kesempatan

Pdt. Yonathan Lo.

Yer 18:1-8
1   Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:
2 "Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu."
3  Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan.
4  Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.
5  Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya:
6  "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!

Ada beberapa tipe orang Kristen di dalam gereja :
1.     Orang yang tidak mau melayani Tuhan. Baginya, untuk apa melayani karena di dalam gereja banyak masalah. Oleh sebab itu dia berdiri jauh dan hanya melihat kondisi gereja. Dia tidak mau terlibat apapun dalam kegiatan gereja, hanya datang ke gereja dan kemudian pulang.
2.     Orang yang mau coba-coba melayani Tuhan. Tetapi setelah masuk ke dalam pelayanan, lalu ia mengatakan, “Sekali untuk selama-lamanya. Kalau saya sudah selesai jabatan periode ini, maka saya tidak mau melayani lagi. Saya melayani karena saya sudah terperangkap di dalam gereja”.
3.     Orang yang tidak mau melayani karena tidak tahu apa-apa. Dia tidak tahu kondisi gereja, anugerah Tuhan dan potensi dari Tuhan. Dia datang ke gereja, duduk kemudian pulang.
4.     Orang yang melayani Tuhan, tahu ada kesulitan kemudian belajar melayani. Karena ia tahu Allah sedang bekerja dalam hidupnya dan Allah membawa dia dalam pertumbuhan rohani justru di tengah gereja yang banyak masalah. Orang ini tahu bahwa tidak ada gereja yang tidak ada masalah. Ia berpendapat, “Akulah manusia yang menjadi masalah.” Dia mau belajar untuk bertumbuh karena dia mengenal Allah dan apa yang Allah sedang kerjakan dalam hidupnya. Pikiran dan pemahaman seperti ini menjadi dasar perjuangan untuk melalui berbagai kesulitan dalam pelayanan.

Melalui Yeremia 18, kita melihat apa yang Allah kerjakan dalam hidup kita, sehingga kita mengatakan selagi masih ada kesempatan kita mau melayani. Tuhan berfirman pada Yer 18:2 dan Yeremia pergi ke rumah tukang periuk. Di sana ia melihat tukang priuk mengerjakan apa yang baik menurut pandangannya. Tukang priuk berdaulat melalui tangannya atas tanah liat. Ia punya kebijakan terhadap tanah liat. Kemudian tukang priuk berkuasa atas tanah lihat yang sudah dibentuknya. Siapakah tanah liat, tukang periuk itu?
Pada ayat 6 dikatakan, "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel! Ayat ini jelas sekali menekankan bahwa tanah liat adalah umat Israel, umat Allah. Sedangkan tukang priuk adalah Allah yang berdaulat atas umat pilihanNya. Allah sedang bekerja dalam hidup orang Israel. Allah membentuk umatNya supaya lebih sempurna menurut pandanganNya. Allah bukanlah ide manusia tetapi Allah yang hidup. Kita melayani dan berada di tangan Allah yang hidup. Kita bisa mengalami kehadiran Allah dalam hidup kita. Allah yang berdaulatat, yang berkuasa membentuk , menghancurkan dan  membentuk kembali. Hidup kita berada dalam tangan kedaulatan Allah. Allah mengerjakan sesuatu menurut pandanganNya yang baik. Allah punya rencana terhadap umatNya. Allah membentuk Israel bukan menurut pandangan mereka, tetapi menurut hemat (bijaksana) Allah. Apa yang baik bagi manusia belum tentu baik bagi Allah. Sehingga kita dibentuk menurut bentukan Allah dalam hidup kita. Allah punya program yang membuat kita makin indah menurut pandanganNya. Kebenaran ini masih berlaku pada zaman ini. Allah adalah Allah yang berdaulat , membentuk umatNya Israel dan pada zaman ini sedang bekerja membentuk kita. Allah mau agar orang Kristen semakin hari semakin indah menurut padanganNya. Sehingga sebagai orang Kristen harus terus bertumbuh menurut pandangan Tuhan. Pertumbuhan rohani adalah program Allah dalam kita, Allah menggunakan bijaksanaNya untuk membentuk kita. Kadang melaui sakit penyakit, lalu kita mulai percaya pada Tuhan. Kadang kita dikhianati teman,  kadang mengalami tekanan hidup yang berat dan merasa diri tidak berdaya sehingga kita berseru kepada Tuhan. Pada waktu di tengah padang gurun atau di rumput yang hijau Allah menyertai kita. Kita berada dalam rencana Allah yaitu membentuk, menghancurkan dan membentuk kembali. Bejana lama dibentuk Tuhan menjadi bejana yang baru. Itu merupakan reformasi dalam  hidup kita. Itu merupakan hal yang sulit sekali. Bejana jelek, kalau tidak dibentuk kembali tetap jadi bejana yang jelek dan orang tidak mau pakai, ditaruh di tempat yang tidak semestinya. Bejana yang dibentuk oleh tuannya tukang priuk menjadi bejana indah dan setiap orang mengagumi. Orang yang tidak mau dibentuk tidak siap melayani dan menjadi masalah di gereja. Kalau Tuhan membentuk kita melalui pemahaman bahwa  Allah bekerja untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup ini, maka Tuhan memakai pelayanan untuk membentuk kita. Banyak orang Kristen tidak mempunyai pemahamam seperti itu dan beranggapan kalau saya sudah dipilih untuk melayani berarti saya menjadi “bos”, sehingga memerintah orang untuk melakukan apa yang dikehendakinya. Orang seperti ini tidak bisa dipakai Tuhan. Yang kedua. Melayani tidak tidak masalah. Waktu menghadapi masalah menjadi kecewa, frustasi dan menjadi tawar hati. Orang ketiga. orang yang waktu melayani Tuhan orang yang sungguh berjuang kemudian menganggap sudah memberi terlalu banyak, lalu menjadi kecewa saat tidak mendapatkan sesuatu. Orang ini menganggap melayani adalah saya memberi tenaga dan segala sesuatu.  Dengan pola pikir seperti itu, ia kurang belajar bahwa Allah membentuk kita melalui pelayanan.

Alah bekerja di dalam hidup kita , melalui pelayanan yang kita kerjakan. Tetapi bejana yang lama harus dihancurkan agar Tuhan membentuk kembali menjadi lebih indah.

Apa bejana yang lama dan bejana baru yang dibentuk Tuhan?
1.     Bejana yang lama adalah kesombongan diri kita. Setiap orang sebelum percaya Tuhan punya kecenderungan sombong dalam dirinya, hidup berpusat pada dirinya, mencari kepentingan diri, egois. Waktu keegoisan disinggung maka ia menjadi marah. Yang harusnya diperjuangkan adalah membangun kerajaan Allah. Pada waktu Kristus hadir dalam diri kita, kita belum sempurna tapi mulai mengenal siapa Tuhan dan mengerti anugerah Tuhan. Ini dapat juga membuat kesombongan meluas, sehingga bejana lama dibangun dengan tinggi sekali. Allah membentuk kita menjadi orang yang rendah hati, setelah Allah menyelamatkan kita di dalam Yesus Kristus. Musa membawa Israel di padang gurun selama 40 tahun , karena mereka tidak bersandar pada Tuhan. Tuhan memberi manna supaya mereka bersandar pada Tuhan. Mereka diberi makan-minum “berkecukupan” agar mereka rendah hati di hadapanNya. Bejana lama adalah kesombongan, kalau dibentuk kembali menjadi rendah hati. Suatu saat saya berbicara dengan seorang hamba Tuhan yang takut untuk melayani sebuah gereja. Saat ditanya alasannya, ia menjawab, “Karena ada seorang kaya yang berkuasa di dalam gereja. Apa yang katakan akan terjadi. Jadi tidak ada seorang pun yang bisa melawan dia. Dia kaya , pendiri gereja dan pemimpin gereja itu. Ia membiayai gereja itu.” Jadi gereja itu menjadi gereja dia. Ia mengantikan posisi Kristus dalam gereja itu. Dengan pola seperti itu, berarti ia melayani dengan bejana yang lama. Bejana ini harus dipecahkan agar ia menjadi orang yang rendah hati. Ada seorang bapak di Amerika yang menceritakan pengalamannya, “Saya pernah bertengkar dengan hamba Tuhan. Suatu saat persekutuan kaum bapak mau rekreasi di Puncak. Saya sebagai ketua. Panitia sudah rapat bersama dan menentukan hanya 80 jemaat saja yang boleh ikut. Sesudah jumlah itu tercapai, tidak boleh ada yang mendaftar lagi. Beberapa hari sebelum rekreasi, jemaat yang mendaftar sudah 80 orang, namun ada 2 orang bapak yang baru ke gereja dan mau ikut juga. Karena jumlah sudah tercapai, maka mereka ditolak. Lalu mereka datang ke pendeta dan mengatakan bahwa seumur hidup baru ikut acara gereja dan bila mobilnya tidak cukup mereka bisa membawa mobil sendiri. Pendeta berpendapat baik kalau mereka bisa ikut mendengar firman Tuhan kalau bawa mobil sendiri. Jadi ia membolehkan keduanya ikut.” Bapak tersebut sebagai ketua panitia mendengarnya lalu ia mencari pendeta dan berkata, “Pendeta tidak konsisten. Saya sudah kasih tahu tidak boleh, tetapi pak Pendeta kasih, di mana muka saya mau ditaruh? Saya malu ini.” Cerita seperti itu  membuat saya mengenal bapak tersebut. Orang yang melayani, punya jabatan, tetapi keegoisannya begitu tinggi. SIkap seperti ini perlu dihancurkan di hadapan Tuhan, agar kita boleh belajar rendah hati, tidak menganggap diri lebih baik (bijak) dari orang lain, mau belajar dari orang lain. Punya sikap hati yang terbuka menampung pendapat dari orang. Tidak  memaksakan  diri di hadapan orang lain. Ada yang melayani Tuhan bertahun-tahun tidak berubah karena kesombongan menguasai dirinya dan tidak bisa melihat dirinya.

2.     Bejana yang lama adalah hati yang dingin, yang lebih berfokus pada diri sendiri. Setiap diri kita punya kecenderungan untuk mengasihi diri sendiri, tetapi mengasihi diri yang terasing dari orang lain. Kita lebih memperhatikan kepentingan kita. Kita tidak mau repot melakukan sesuatu yang baik kepada orang lain. Setiap diri kita punya hati yang dingin terhadap orang lain, sehingga waktu pelayanan tercermin keluar dari diri kita. Waktu kita dipanggil melayani, Allah memanggil supaya kita mengasihi sesame dan tidak memikirkan diri sendiri tetapi juga orang lain. Waktu pikirkan orang lain, hal ini menunjukkan sudah penuhlah kasih karunia dalam dirinya. Bagaimana mungkin air tumpah keluar kalau tidak penuh? Bagaimana kita bisa hidup bagi  orang kalau tidak ada kepenuhan? Saat mengalami kesulitan, kita belajar mengasihi orang yang membuat susah dan orang yang mengkhianati kita. Seperti Rasul Paulus mengasihi jemaat Korintus walau dituduh sebagai hamba Tuhan yang mencari uang. Rasul Paulus tidak marah walau disinggung keegoisannya. Ia mengerti bahwa ia berhadapan dengan orang Kristen yang belum dewasa dalam Kristus. Ia melayani dengan mencucurkan air mata. Ia menulis surat dengan hati yang sedih. Ia mengasihi mereka. Orang yang melayani Tuhan dibentuk untuk mengasihi lebih. Suatu kali saya melayani bersama 3 orang pemuda. Kami minta jemaat untuk mendaftarkan orang-orang belum percaya. Kami mendapat ratusan nama. Itu membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengunjungi mereka. Kami tidak mengenal mereka sama sekali. Tujuan kami ke sana untuk penginjilan. Suatu saaat kami ke Grogol mengetuk satu rumah. Seorang bapak keluar dan menanyakan maksud kedatangan kami. Kami bilang,”Kami dari gereja. Kami mau mengunjungi bapak A”. Ternyata bapak itu adalah Bapak A. Sang bapak berpikir untuk apa kami datang, untuk kebutuhan apa dan akhirnya menolak kedatangan kami sehingga kami pulang. Ada seorang pemuda berkata tidak mau melayani lagi,”Saya capai pulang dari kantor, membesuk lalu ditolak”. Saya bilang, “Karena kita ditolak memberitakan Injil, maka kita mengerti sedikit saja bahwa Tuhan Yesus pernah ditolak memberitakan Injil”. Disitu kita belajar mengasihi. Lalu saya berkata, “Mau tidak berdoa untuk orang ini? Suatu saat kita datang kembali”. Bagaimana mungkin kita bisa melayani tanpa kasih. Dari apa yang kita kerjakan, orang akan melihat siapa diri kita. Bejana baru betul-betul akan dibentuk Tuhan. Allah memakai pelayanan supaya kita semakin serupa dengan Kristus.

3.     Bejana yang lama adalah menggantungkan hidup dari diri dan pengalaman kita. Bejana baru dibentuk agar kita menggantungkan diri pada Tuhan. Manusia punya kecenderungan, saat berhasil ia menjadi percaya diri sendiri dan kalau gagal merasa minder. Setelah seorang bekerja sepanjang tahun dan berhasil, maka ia menjadi sombong, bersandarkan pada pengalaman lebih dari sebelumnya. Sebab itu, dia selalu berkata,”Aku sudah berpengalaman” dan menjadi orang yang bersandar pada kepintarannya. Maka ia merasa tidak perlu bersandar kepada Tuhan, tetapi menggantungkan pengalaman pada diri sendiri. Allah bekerja membentuk kita, memecahkan bejana kita, agar kita menggantungkan diri pada Tuhan. Ada seorang bapak berusia 78 tahun. Ia kaya, pengusaha yang berhasil di Jakarta. Anaknya meminta saya untuk membesuknya,”Papa saya tidak pernah kenal Tuhan, sombongnya luar biasa. Tetapi pintar juga luar biasa.” Suatu saat ia sakit dan dibawa ke Singapore, namun disuruh balik ke Indonesia karena sudah tidak bisa diobati. Saya datang membesuknya. Saat itu ia berkata,”Pikiran saya masih oke, tetapi tidak punya tenaga”. Setelah saya pulang, ia bertanya ke anaknya,”Pak Yonatan datang untuk apa?” Kedua kali saya besuk saya berkata,”Saya datang tidak mau apa-apa pak. Saya datang membawa kabar baik.” Lalu ia bertanya, “Apa kabar baiknya?” Saya pun menjelaskan Injil. Lalu saya bertanya,”Kenapa Bapak takut saya datang kepadanya?” Rupanya sang bapak takut orang datang karena mau minta hartanya. Hartanya banyak sekali , pelit dan bersandar pada pengertian sendiri. Say aterus menginjili dia dari waktu ke waktu. FIsiknya semakin turun. Terakhir dia berkata,”Hidup sia-sia. Saya punya harta yang banyak dan ditinggalkan untuk orang lain. Saya mati tidak bawa apa-apa. Dokter tidak bisa menyembuhkan saya.” Sampai satu titik ia serahkan diri pada Tuhan. Hatinya hancur dan serahkan diri pada Tuhan. Bejananya hancur.

Allah membentuk bejana baru menurut pandangan baik dari Tuhan. Oleh karena itu selama ada kesempatan ,layanilah Tuhan. Setiap gereja punya masalah. Gereja tidak sempurna tetapi kita juga tidak sempurna. Kalau kita berkata, “Saya tidak mau gereja ini dan pindah ke gereja lain yang lebih sempurna”, saya usulkan jangan masuk kesana, karena kita tidak sempurna kalau masuk ke sana maka gereja itu menjadi tidak sempurna. Hanya Kristus yang sempurna, sehingga saya datang ke gereja belajar kesempurnaan Kristus. Jangan banyak kristik gereja, tetapi tanya apa yang saya mau berikan kepada Tuhan. Tanya apa yang telah Tuhan kerjakan dalam membentuk diri kita di gereja. Kita melayani Tuhan dan jangan menganggap diri lebih hebat dari orang lain. Mari bertumbuh bersama-sama. Allah mau kita bertumbuh, Allah pun bekerja memecahkan bejana yang lama sehingga bejana semakin indah dipakai untuk tujuan yang mulia. Sebab itu melayani bukan karena punya sesuatu lalu berikan kepada Tuhan, karena segala sesuatu dari Tuhan (bukan milik kita). Melayani merupakan proses membentuk diri. Katakan, “selagai saya ada kesempatan, saya mau melayani Tuhan”.





Sunday, November 10, 2013

Jemaat GKKK yang Setia

Sparrow (Burung Gereja)
 
(Unedited)
 
Pdt. Hery Kwok

Kis 2:41-47
41  Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
42  Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
43  Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.


Pengalaman Hidup Berjemaat
Burung gereja (sparrow) adalah jenis burung pipit kecil yang berasal dari keluarga Passeridae. Burung-burung ini mendiami kota-kota dalam jumlah yang sangat besar. Burung gereja merupakan burung yang jinak dari semua burung liar. Pada umumnya, burung gereja berbentuk kecil, berwarna coklat-kelabu, gemuk, berekor pendek, dan memiliki paruh yang kuat. Makanan burung ini adalah biji dan serangga kecil. Pada awalnya, burung gereja berasal dari Eropa, Afrika, dan Asia, kemudian burung ini disebarkan ke Australia dan Amerika. Entah kenapa diberi nama burung gereja. Ada mitos yang mengatakan mungkin karena burung ini senang hinggap dan membuat sarang di bangunan gereja. Tetapi dalam realitanya bukan saja hinggap di gereja, ia juga hinggap di tempat lain. Tema hari ini “Jemaat GKKK yang setia”. Jangan sampai kita punya predikat jemaat tetapi tidak punya kesetiaan beribadah. Jangan sampai berlabel “burung gereja”  hinggap di mana saja.

Dalam pengalaman hidup berjemaat, ada beberapa hal (kalimat / komentar) yang saya dapati :
1.     Saya tidak bertumbuh di gereja tersebut. Pernyataan ini perlu dipikirkan bersama-sama apa maknanya (apa yang dimaksud dengan “tidak bertumbuh”)? Pernyataan “tidak bertumbuh” dari mana? Kalau berkata demikian tapi tidak memahami makna perkataan tersebut jadi aneh.
2.     Saya tidak menikmati ibadah di gereja tersebut. Mungkin pernyataan ini ingin menjelaskan bahwa puji-pujiannya tidak sampai ke surge karena ada gereja yang saat bernyanyi seakan-akan rohnya pergi ke suatu tempat. Atau rasanya roh Tuhan tidak ada sehingga tidak bisa menikmati ibadah di tempat tersebut. Atau musik menggelora sedemikian sehingga membawa ke sebuah emosi.
3.     Saya tidak mendapat berkat di gereja tersebut. Saya tinggal di Kalimanis yang banyak mesjid dan saat tahlilan sering membawa nasi bungkus. Sedangkan di gereja tidak mendapat berkat atau nasi bungkus. Kalau pengertian berkat seperti itu, maka setiap kali ibadah diberi nasi bungkus (besek). Mungkin yang dimaksud berkat, artinya kita tidak mengalami sesuatu dalam hidup kita.
4.     Saya senang menjadi jemaat GKKK (Gereja Kristen Keliling Keliling). Kalau poin 1-3  di atas ada di dalam diri kita, maka jemaat kita memang senang berkeliling-keliling. Di Pos Kelapa Gading dulu saat pelayanan, banyak sekali gereja (katanya sampai tidak bisa dihitung). Tetapi yang hebat ada yang bilang bahwa ia sudah pergi ke semua gereja di Kelapa Gading. Mungkin orang ini cocok disebut GKKK.

Kenapa sulit setia dalam bergereja?
1.     Pemahaman tentang bergereja. Kis.2:42a Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Perlu dikaji pemahaman kita tentang hidup bergereja. Jemaat mula-mula di Kisah Para Rasul 2 hidup dalam keadaan sulit beribadah. Kalau ketahuan percaya pada Kristus , mereka akan ditangkap dan dihukum. Salah satu orang yang mengejar orang Kristen mula-mula adalah Saulus (Rasul Paulus). Hal ini tidak kita alami saat ini. Namun dalam kondisi jemaat seperti itu, dikatakan Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan (ayat 41-42a). Mereka hadir dan mendapat pengajaran dari firman Allah. Ukuran bertumbuh di sini ialah mendapat berkat dan menikmati dimana firman Allah yang mengubah hidup kita. Bagaimana firman Tuhan disampaikan dari mimbar gereja membuat kita mengenal Allah. Apakah firman Allah yang dialami jemaat mengubah diri jemaat? Mengubah cara hidup berkeluarga, cara berbisnis dan keseharian jemaat?. Jemaat di sana dikatakan “mereka bertekun dalam perkara itu”. Meskipun mereka sulit untuk datang beribadah karena dikejar musuh tetapi mereka setia bersekutu. Karena ada satu yang mereka cari yaitu firman Allah yang sanggup menghibur mereka, yang sanggup mengubah hidup orang. Firman Allah yang mengubah hidup dari hal yang negatif (pemarah, culas). Dari pelaku bisnis kotor ke bersih, dari suami yang jahat menjadi lembut, itu berarti perubahan. Apakah kita mengalami perubahan seperti jemaat mula-mula. Mengapa kita datang ke gereja? Karena ingin mendengar firman Allah. Bukan karena ada artisnya, pengobatan gratis, pengadaan nasi murah dll. Kalau itu menjadi dasar maka kita tidak akan menjadi setia. Gereja menyediakan pengobatan, makanan sebenarnya tidak salah. Tetapi apakah firman Allah menjadi dasar untuk mendengar?

2.     Keterlibatan Jemaat yang melayani. Pada Kisah Para Rasul dikatakan, Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Kis 2:42b) dan Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati (Kis 2:46). Keterlibatan jemaat sangat jelas dalam gereja mula-mula. Mungkin ada jemaat yang berkata, “Pak Petrus nanti di rumah saya yah” atau “Setelah di rumah dia, ke rumah saya ya”. Mereka saling melayani satu dengan yang lain. Mereka melakukan hal itu dengan gembira dan tulus hati. Jemaat kalau melayani sekarang karena  ada hamba Tuhan yang “menodong” (kasih ancaman). Misalnya : kalau tidak melayani nanti bisnismu hancur, kalau tidak menyanyi  maka suaramu jadi serak-serak kacau,  kalau melayani anakmu jadi pintar dll. Padahal apa hubungan melayani dengan anak pintar? Jemaat di sana memahami firman Allah mengubah diri mereka dan mereka ingin melayani satu dengan yang lain. Ada banyak gereja memberikan kesempatan untuk melayani tetapi responnya sangat sedikit sekali. Mungkin hanya 1-2 orang yang meresponi pelayanan. Kebanyakan yang hanya hadir beribadah lalu pulang. Pdt Benny Solihin memberikan ilustrasi berikut. Di sebuah kota kecil, ada gereja yang membutuhkan orang muda untuk melayani. Dia berdoa agar orang muda dibangkitkan untuk melayani. Ternyata ada seorang executive di perusahaan yang gagah dan pintar mau melayani. Namun orang muda ini jatuh sakit dan menjadi semakin parah dan akhirnya meninggal. Hamba Tuhan ini marah kepada Tuhan, dia kecewa dan komplain kepada Tuhan. “Tuhan ini tidak adil, orang ini mau melayani tapi “dicabut”, sedangkan orang yang tidak mau melayani dididamkan saja.” Waktu hatinya begitu Tuhan berbicara, “Yang kasih kesempatan melayani itu Aku dan yang tidak kasih kesempatan juga Aku”. Hamba Tuhan ini terkejut dan sadar bahwa “melayani Tuhan itu anugerah”.  Ada banyak pelayanan di gereja ini. Saya dulu pernah mengajak guru-guru Sekolah Minggu (GSM) visitiasi ke gereja lain. Ada jemaat yang usianya sudah 70 tahun masih menjadi GSM! Jangan berpikir pelayanan Sekolah Minggu  hanya untuk orang-orang muda. Saya punya kerinduan, GSM melayani di waktu ibadah KU1 lalu setelah itu GSM beribadah di KU2. Nanti diatur lantai 4 ada ruang main anak sehingga setelah selesai kelas, anak-anak sekolah minggu bisa bermain di sana. Saya rindu ada jemaat yang rela melayani saat GSM beribadah. Waktu kita melayani maka akan lahir kesetiaan. Kalau hanya hadir lalu pulang, maka rasa untuk memiliki tidak akan muncul.

3.     Kekuatan jemaat yang berdoa. Pada Kisah Para Rasul 2:42b dikatakan Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Salah satu kekuatan gereja adalah saat gereja menjadi gereja yang berdoa. Kalau bangunan, maka pilar yang menopang bangunan itu adalah doa. Saat tekun berdoa, maka kita punya hati untuk gereja. Jemaat mula-mula berdoa dan hidup di dalamnya. Saya berkenalan dengan hamba Tuhan dari Batak. Saya pergi ke Israel ikut dengan rombongan mereka. Gerejanya banyak dan tersebar di seluruh Indonesia. Menurut rekan hamba Tuhan tersebut, salah satu kekuatan gereja yang melayani adalah doa. Seluruh  hamba Tuhan gereja mereka dari seluruh Indonesia berkumpul berdoa sebulan sekali. Jemaat (di Batam) dilatih untuk berdoa. Jemaat hadir untuk berdoa. Mendengar itu, saya terpesona. Kalau di gereja Proteston yang berdoa bisa dihitung dengan jempol. Jemaat tidak senang berdoa, sehingga jemaat tidak mengalami perubahan di gereja. Waktu mengalami beban, maka tidak akan tumbuh setia.

4.     Kehidupan jemaat yang bersaksi. Pada Kisah Para Rasul 2:47 dikatakan Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Karena kita tidak menjadi jemaat yang bersaksi. Walau jemaat awal sulit beribadah, jumlah mereka terus bertambah. Saya melihat keajaiban jemaat Tuhan yang bersaksi melalui hidup mereka sehingga jumlah jemaat bertambah. Saya berjumpa dengan jemaat salah satu gereja. Dia menawarkan saya untuk datang ke gerejanya. Saya pikir orang ini sangat bangga dengan gerejanya. Dia berkata, “Kalau saudara ke gereja saya, saudara akan mengalami lawatan Allah”. Dia tidak pusing, yang diajak pendeta atau bukan. Saya pikir , dia sangat senang, gerejanya dikenal orang dan di sana ada Tuhan yang hibup. Pernah bangga dengan gereja kita : “Gereja saya GKKK Mabes adalah gereja di mana saya diberkati Tuhan”. Atau malu gerejanya saja kusam dan atapnya bolong-bolong. Menurut saya, waktu kita setia bersaksi, akan lahir cinta kita pada gereja. Gereja kita banyak kesempatan bersaksi.  Selama 3 bulan kunjungan, banyak keluarga yang belum percaya pada Tuhan. Saya sangat berapi kalau diajak ke keluarga yang belum mengenal Yesus karena saya ingin berbagi cerita. Saya berkata Yesus adalah Tuhan. Selebihnya kalau mau bertumbuh saya persilahkan datang ke gereja. Mau kah kita menjadi gereja yang bersaksi?  Bersaksi melalui perkataan dan hidup kita? Maka orang akan mencari Tuhan di mana orang itu bertumbuh. Papa saya dulu suka “ribut” dengan saya karena tidak sependapat. Tapi sebelum mama meninggal, ia berkata, “Papa mau ke gereja di tempat saya melayani”. Waktu itu saya melayani di GKY Ketapang. Kebaktian dimulai pk 7, namun pk 5.30 papa saya sudah datang. Sampai satpam berkata, “Saya malu dengan orang tua bapak”. Ternyata dia melihat kesaksian hidup seseorang.

Kesimpulan
Untuk menjadi jemaat yang setia, marilah :
-        jangan hanya menonton. Kalau hanya datang ke gereja, langsung pulang seusai ibadah dan hanya “menonton”, maka jemaat tidak akan pernah bertumbuh kesetiaannya kepada gereja. Karena bila hanya menjadi penonton, jemaat tidak akan tahu apa yang menjadi beban dari gerejanya. Ibarat orang menonton bioskop, setelah selesai, ia tidak pusing apakah ada yang membersihkan ruang bioskop atau apakah gedung bioskopnya mau ambruk atau tidak.
-        jangan menjadi jemaat yang pasif. Karena waktu menjadi jemaat yang pasif, tidak akan timbul kesukaan terhadap gereja ini.
-        jangan jadi jemaat yang bersifat eksklusif (untuk golongan sendiri saja). Jangan menjadi jemaat yang tidak peduli dengan orang lain.
Dengan melihat dan mencontoh teladan jemaat Kristen mula-mula, maka jemaat GKKK Mabes dapat menjadi jemaat yang setia. Saya rindu ada regenerasi dari jemaat yang militan (benar-benar punya kesetiaan dalam bergereja atau seperti pemazmur katakan : senang pergi ke rumah Tuhan).

Monday, November 4, 2013

Hutang yang Tak Terbayarkan



(Tidak diedit)

Pdt Hery Kwok

Roma 1:14-17
14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.
15  Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.
16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.
17  Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Pendahuluan

Suatu kali saya mengikuti acara Paskah di penjara. Waktu itu pelayanannya dilakukan oleh para sarjana (penasehat) hukum yang beragama Kristen. Itu pelayanan pertama saya bersama rekan-rekan di penjara. Pelayanannya kami dihadiri oleh banyak napi. Awalnya saya mengira mereka rindu beribadah, namun saat saya menanyakan alasannya ternyata bukan begitu. Ada yang beralasan tidak mau diam di sel saja (sumpek) sehingga lebih baik beribadah. Ada juga yang berkata, setelah ibadah biasanya disiapkan konsumsi (ada yang mengharapkan makanan). Sewaktu pemimpin pujian mengajak para narapidana bernyanyi , dia memilih lagu yang popular yakni “Sekarang Saya Sudah Bebas” (http://www.youtube.com/watch?v=vurViBZrSb8). Syairnya : s'karang saya sudah bebas, s'karang saya sudah bebas, s'karang saya bebas oleh darahNYA Domba Allah, s'karang saya bebas, bebas, haleluya. (s'karang saya bebas, bebas, bebas, saya bebas haleluya. Lalu ia bertanya, “Apakah saudara mau bebas?” Serempak para narapidana menjawab, “Amin”. Itu kata yang didambakan mereka yaitu “bebas”. Lalu pemimpin pujian berkata, “Sekarang mari kita nyanyikan, ‘Sekarang Saya Sudah Bebas’.” Setelah musik bergema dan pemimpin pujian menyanyi dengan semangat, narapidana yang begitu banyak tidak mengeluarkan suara. Hanya 1-2 orang saja yang bernyanyi. Pemimpin pujian bingung. Lalu ia bertanya lagi, “Saudara mau bebas?” Serentak mereka menjawab lagi, “Amin”. Pemimpin pujian berkata lagi, “Mari kita nyanyi lagi ‘Sekarang Saya Sudah Bebas”. Ternyata kembali yang menyanyi hanya 1-2 saja. Lalu ia bertanya, “Mengapa Saudara-Saudara tidak mau menyanyi?” Mereka menjawab, “Memang lagunya bilang sudah bebas, tetapi kita tetap ada di penjara.”

Mungkin gambaran seperti itu ada dalam kehidupan Kristen kita. Kita sudah bebas dari dosa tapi sepertinya kita masih terkukung oleh dosa. Pertanyaan penting yang perlu dijawab,”Apa benar kita benar-benar sudah bebas?” Karena kalau benar-benar sudah bebas, maka hidup kita punya perbedaan yang luar biasa. Jangan sampai seperti orang di penjara yang menyanyikan lagu “Sekarang Saya Sudah Bebas”, tetapi secara fisik masih di penjara. Rasul Paulus mengatakan bahwa,”Saya sudah dibebaskan dari dosa.” Ini ungkapan yang diucapkan setelah ia berjumpa dengan Kristus. Saat itu Saulus (nama Paulus sebelumnya) menganiaya jemaat Tuhan dan ingin membunuhnya. Hal ini dilakukan karena ia menganggap pada waktu lalu, ajaran Kristus adalah bidat (ajaran sesat). Sehingga sebagai ahli taurat (Farisi) , ia ingin membasmi ajaran yang menyimpang. Namun kemudian dalam perjalanan ke Damsyik , Kristus menjumpai dan memanggilnya “Saulus, Saulus!” Itulah perjumpaan Kristus dengan Saulus (Kis 9). Saulus mendapat kebebasan dari dosa-dosanya saat berjumpa dengan Kristus. Di sana ia mengakui Kristus adalah Tuhan dalam hidupnya. Karena ia mengalami kebebasan yang sejati, ia kemudian ingin menceritakan tentang Kristus. Salah satu ciri orang yang ditebus dosanya, ia punya kerinduan untuk menceritakan tentang Kristus yang sudah membebaskannya. Itu sebabnya dalam Kis 1:14-15 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.  Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma. Rasul Paulus mengatakan dirinya sebagai orang yang berhutang. Ini perkataaan yang penting. Orang yang berhutang seharusnya punya kesadaran untuk membayar hutangnya. Ia mengakui Yesus sudah membebaskan dirinya sehingga ia ingin memberitakan Injil. ia punya hutang untuk menceritakan Yesus kepada orang lain.

Kalau kita berhutang dan penagih hutang datang, maka sebagai orang yang berhutang, kita berkewajiban untuk membayarnya.  Kecuali kita nakal, begitu datang penagih hutang, kita malah bersembunyi. Ada orang Kristen modelnya seperti itu. Mau berhutang tapi mentalnya tidak mau bayar. Ada anak kecil yang diajari orang tuanya, nanti kalau tukang kredit datang, bilang mama tidak ada. Waktu tukang kredit datang bertanya, “Mana mamamu?” Ia menjawabnya, “Mama tidak ada. Sedang pergi.” Tukang kredit kembali bertanya, “Perginya kemana?” Lalu dengan polosnya sang anak menjawab, “Nanti saya tanya mama dulu ya di belakang.” Itu mental berhutang yang tidak benar.  Orang-orang jaman dulu punya mental berhutang yang bagus, kalau berhutang harus dilunasi. Sejak kecil diajarkan, kalau berhutang harus dilunasi. Maka kalau berhutang, kita akan bekerja keras untuk membayarnya. Ada semangat untuk menabung dan membayar hutang kepada orang yang memberi pinjaman. Semangat untuk membayar hutang itulah yang Rasul Paulus sampaikan. Kalau kita mendapat kebebasan seperti Rasul Paulus, maka kita juga punya semangat untuk membayar hutangnya.  Kerinduan itu muncul karena kita telah mengalami kebaikan Allah. Kalau kita punya hutang yang besar lalu dihapuskan oleh orang yang memberikan hutang, maka kita akan merasa sukacita luar biasa. Kita akan bercerita kepada orang-orang lain tentang kebaikan dan anugerahNya. Di kitab Matius dikatakan kita sebenarnya berhutang kepada Allah dan tidak bisa (mampu) membayarnya. Itu sebabnya setelah kita diampuni, seharusnya kita tidak pernah tutup mulut untuk mengabarkan Injil.

Fakta di lapangan mengapa manusia perlu Yesus.

Ratusan tahun sebelum Kristus dilahirkan jadi manusia, ada banyak agama hebat yang didirikan atas dasar kebenaran manusia. Manusia berusaha dengan kekuatan, kebaikan, uang dan amalnya, itu yang disebut sebagai kebenaran manusia.

Sebagai contoh,
-        2.000 tahun sebelum kedatangan Kristus, Hinduisme mengajarkan, “Biarlah mereka bersabar dalam menanggung beban yang berat. Biarlah dia tidak mencerca orang lain. Dalam menghadapi orang-orang yang pemarah, biarlah mereka tidak menunjukkan kemarahannya. Diberkatilah mereka ketika mereka dikutuk.”  Itulah Hinduisme. Bila hal ini diterapkan pengikutnya maka hasilnya baik, karena biasanya kalau dimarahi, hati tidak senang dan ingin membalas bahkan dengan kasar.
-          Konfusius hidup sekitar tahun 551 S.M. Ada sekitar 300.000.000 (tiga ratus juta) pengikut konfusius. Ajaran utamanya berbunyi, “Apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan terhadap dirimu, jangan berbuat hal itu kepada orang lain.” Dan ini merupakan suatu ”golden rule”. Dan lagi, “Balaslah penghinaan dengan keadilan, dan balaslah kebaikan dengan kebaikan.”
-        Lao Tse hidup 604 tahun sebelum Kristus. Ada sekitar 43.000.000 (43 juta) pengikut Taoisme hari ini. Lao Tse berkata, “Kepada setiap orang yang berbuat baik kepadaku, saya akan baik. Dan kepada mereka yang tidak baik kepada saya, saya tetap baik. Dan biarlah semuanya beroleh kebaikan.” Lao Tse juga berkata “Kepada mereka yang tulus hatinya, hati saya tulus. Kepada mereka yang tidak tulus hatinya, saya tetap tulus. Dan biarlah kita semua memiliki hati yang tulus.”
-        “Jainisme”, kepercayaan yang telah ada sekitar 595 tahun sebelum kelahiran Kristus – dan saat ini pengikut aliran Jainisme berjumlah sekitar 50.000.000 (lima puluh juta) – dan mereka mengajarkan, “Belajarlah dariku hukum yang mulia dari Jain. Sebagaimana adanya, kamu melihat ketamakan, kemarahan dan kesombongan. Orang bijaksana seharusnya tidak menjauhkan diri dari hal-hal itu. Jika dia digigit seharusnya dia tidak menjadi marah. Jika dia dicaci maki, seharusnya dia tidak mendendam. Dengan sebuah ketenangan pikiran dia seharusnya menanggung segala sesuatu
-        Budha hidup 560 tahun sebelum Kristus. Ada sekitar lebih dari 200.000.000 (dua ratus juta) pengikut Budha saat ini. Budha berkata, “Manusia yang pemarah, dan membawa kebencian, seseorang yang berbicara dusta, yang memegahkan dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain, biarlah orang mengenalnya sebagai seorang buangan.” Artinya kalau kamu berbuat jahat akan dinilai sebagai orang buangan. Ini ajaran yang keras agar kita sadar jangan berkelakuan jahat. Budha juga berkata, “Jika seorang murid berhasrat untuk diselamatkan, untuk memperoleh keselamatan yang final, biarlah dia memenuhi dirinya dengan kebenaran. Biarlah dia bertekun dalam ketenangan hati yang mengalir bersamanya.”

Namun demikian Rasul Paulus tetap mengajarkan tentang Kristus. Kalau ajaran manusia sudah dianggap sempurna mengapa Rasul Paulus tetap mengajarkan tentang Tuhan Yesus? Kalau pengajar-pengajar yang mengajarkan agama besar sudah sempurna, Tuhan Yesus tidak perlu hadir di dunia. Itu sebabnya. Rasul Paulus menyadari, tidak mungkin orang diselamatkan tanpa Tuhan Yesus. Oleh karena itu manusia perlu Tuhan Yesus.

Kenapa manusia perlu Kristus?

1.     Manusia tidak dapat menolong dirinya yang berdosa dengan KEKUATAN sendiri (kebaikannya, kepintarannya, amalnya, dll). Waktu mengajar di sekolah, saya mendengar seorang anak kelas 2 SD (8 tahun) mengucapkan kata-kata kotor. Saya panggil dan konseling dia. Saya bertanya tentang siapa yang mengajarinya. Dia menjawabnya,”Belajar sendiri!”. Setelah Adam (pertama manusia) jatuh dalam dosa, manusia dan keturunannya punya dosa warisan. Walau berdosa, bukan berarti manusia tidak bisa membuat kebaikan. Itulah sebabnya pemimpin agama mengajarkan tentang kebaikan. Namun ada 1 hal, yaitu manusia tidak bisa menebus dosanya sendiri. Dosa warisan ini membuat manusia cenderung berbuat dosa. Dosa warisan membuat kita hidup dalam dosa. Kebaikan, kepintaran, uang tidak bisa melepaskan kita dari dosa. Suatu kali ada jemaat suatu gereja yang menyumbang Rp 2 miliar. Majelis dan hamba Tuhan terheran-heran. Bendahara, majelis dan hamba Tuhan berterima kasih. Ternyata 2 bulan kemudian, nama penyumbang itu ada di daftar KPK.  Manusia berdosa seperti itu. Melakukan kebaikan tetapi dalam dosa. Itu sebabnya kekuatan kita tidak bisa menolong kita keluar dari dosa. Ibarat kain lap yang kotor. Waktu kain lap kotor digunakan untuk melap meja, maka meja yang bersih menjadi kotor. Kita memberikan amal (uang) seperti kain lap kotor membuat meja menjadi kotor. Rasul Paulus menyadari hidupnya seperti itu dan tidak bisa menolong dirinya sendiri.

2.     Manusia tidak dapat menolong dirinya yang berdosa dengan CARANYA sendiri.
Suatu kali, saya dan istri mengendarai mobil. TIba-tiba mobil di depan rem sehingga kami menabraknya. Sebagai orang yang bertanggung jawab, saya turun dan minta maaf. Saya bermaksud mengganti dan membawa mobil yang saya tabrak ke bengkel asuransi. Namun pengemudinya berkata, “Saya tidak tahu karena ini mobil majikan saya”. Sang supir memberi nomor telpon pemilik mobil, lalu saya menelponnya. Rupanya supir tersebut sudah memberitahu majikannya. Sewaktu saya sampaikan ingin memperbaiki mobil yang ditabark, saya sampaikan hal tersebut dengan pikiran dan cara saya. Namun pemiliknya berkata, “Pak, tidak perlu. Saya sudah anggap lunas.”  Dia tidak ingin cara saya, itu bukan yang dia mau. Allah tidak mau cara kita, Allah punya cara yaitu melalui anakNya. Dia sudah menentukan caranya yaitu Yesus Kristus satu-satunya jalan. Karena hanya Yesus  yang bisa menggantikan posisi kita sebagai orang yang seharusnya dihukum Allah. Karena HANYA KRISTUS yang ditentukan oleh Allah sebagai penebus dosa manusia. (KRISTUS melakukan kehendak ALLAH sehingga yang DIKERJAKAN KRISTUS BERKENAN/LAYAK dihadapan Allah). Seharusnya kita sendiri yang membayar hukuman. Namun Allah tahu kita tidak mampu sehingga dengan cinta Nya yang luar biasa, Dia  menggantikan posisi kita sebagai terhukum. Harusnya kita yang duduk di kursi penghukuman, tetapi Tuhan Yesus yang menggantikan.  Hanya Kristus yang ditentukan untuk menggantikan dosa kita. Pada kitab Roma dikatakan Kristus melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Sehingga apa yang dikerjakan Kristus membuat Ia berkenan di hadapan Allah (Ibrani). Itu sebabnya Kristus menjadi pokok bagi orang yang mengharapNya. Allah senang akan apa yang Yesus lakukan di kayu salib. Bukan Allah senang dengan kematianNya, tetapi senang karena anakNya Yesus melakukan apa yang dia minta dan lakukan selama di dunia.
Kesimpulan

Kalau kita mendapat anugerah Allah, kita percaya kepada Kristus, maka kita diselamatkan. Kalau sudah diselamatkan, jangan simpan untuk dirimu saja. Jangan menyimpan apa yang seharusnya diberikan kepada orang lain. Kalau disimpan untuk diri sendiri itulah kejahatan. Ada seorang teman saya memberitakan Injil kepada orang yang dianggapnya perlu mengenal Tuhan.  Dia injili hampir 5 jam dalam perjalanan di bus. Sampai terakhir bus mau masuk diterminal, orang yang diinjili berkata, “Saya sebenarnya seorang pendeta”.  Teman saya berkata, “Pak, kalau bapak seorang pendeta, jangan biarkan saya sampai 5 jam berbicara”. Tapi teman saya senang karena , “Saya tidak menyimpan berita keselamatan tapi menceritakan kepada orang lain”. Jangan “menyimpan” keselamatan sehingga orang lain tidak dengar. Ceritakan keselamatan itu kepada papa dan mamamu kalau belum kenal Kristus. Ceritakan kepada saudaramu kalau belum kenal yesus. Kalau disimpan, kita berhutang kepadanya. Jangan bosan menceritakan keselamatan kepada orang lain. Walau orang yang mendengarnya menolak. Saya menginjili papa saya selama lebih dari 17 tahun. Saya pernah merasa bosan, sewaktu melihatnya tidak bereaksi. Hati jadi letih. Dalam pikiran saya percuma saya cerita tentang Kristus, tapi tidak diresponi. Ini penyakit yang sering terjadi dalam diri kita. Sampai suatu kali Tuhan sendiri yang membuat hatinya percaya. Kita hanya menceritakan, Kristus yang membuatnya percaya. Selama papa hidup ia berbuat baik pada saya. Saya percaya, di tengah kelelahan orang tua, ia memberikan kasih  yang terbaik untuk anak-anaknya. Kita bisa membalasnya dengan hidup yang baik. Itu ajaran yang baik. Jangan berbuat baik setelah orang tua sudah meninggal. Jangan membawa babi hong di kuburan karena yang menikmati orang lain. Kita bisa membalas kebaiknya, secara etika, sopan santun dalam hubungan anak kepada orang tua. Tapi kita akan terus “berputar” pada orang tua, kalau kita belum menceritakan tentang Yesus. Tunjukkan selama orang tua hidup dengan merawat dan memperhatikannya selama mereka hidup. Namun yang tidak boleh dilupakan, ceritakan tentang Yesus. Itu yang harus dilakukan. Menurut Alkitab, waktu bertemu dengan Tuhan, Dia tidak bertanya tentang seberapa berhasil bisnis kita. Tuhan tidak butuh kekayaan, karena Dia kaya sekali. Ia bisa membaut seseorang kaya. Dia tidak membutuhkan segala kekayaaanmu. Dia memberikan kita semangat sehingga kita bisa bekerja. Ia hanya bertanya tentang seberapa besar cinta kepada sesame kita. Jangan sekali-kali tidak bayar hutang kepada sesamamu. Bayar dengan menceritakan ke relasi binis , rekan kerja dan kepada siapapun yang belum percaya.