Monday, September 16, 2013

Persembahan Persepuluhan

Pdt. Hery Kwok

Maleakhi 3:6-12
6    Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.
7    Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?"
8 olehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!
9    Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa!
10  Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
11 Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.
12 Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.

Tema ini berkaitan dengan uang. Untuk itu kita perlu mengetahui tentang konsep memberi. Terdapat 2 konsep yang ekstrim dan salah tentang memberi :
1.  Dulu ada lagu rohani yang salah satu kalimat syairnya berbunyi “ ... persembahan kami sedikit sekali”. Pengarang lagu ini sebenarnya ingin mengatakan dengan rendah hati tentang nilai persembahan yang diberikan di hadapan Tuhan. Tetapi ada orang Kristen yang memang memberi seenaknya dan jumlahnya benar-benar sedikit sehingga lirik lagu itu sesuai sekali secara harafiah. Namun saat berdoa ia berkata, “Kiranya Tuhan terimalah dengan segenap hati.” Jadi dengan memberi sedikit kita memaksa Tuhan untuk menerimanya. Itu berarti sewaktu memberi persembahan, kita hitung-hitungan dengan Tuhan karena terbiasa memberi dengan konsep sedikit.
2.  Waktu kecil saya suka memancing, karena kawan-kawan papa suka mengajak saya. Namun setelah besar, saya mudah mabuk laut dan muntah, saat diombang-ambing air laut terutama bila digunakan perahu kecil. Itu sebabnya saya jarang ikut memancing. Kawan papa saya mengajari kiat memancing,”Kalau mau dapat ikan “kakap” (besar), umpannya jangan kecil. Apalagi digunakan umpan “bohongan” (umpan berbentuk palet), ikan besar tidak mau. Jadi gunakan umpan yang besar juga”. Ada orang Kristen memberi persembahan dengan konsep mancing seperti itu. Saya memberi dalam jumlah besar supaya Tuhan memberi lebih besar lagi. Itu mental pedagang.

Latar Belakang Maleakhi 3
Kitab Maleakhi ditulis saat Israel berada dalam pembuangan dan hidup susah, padahal dulu Israel merupakan negara yang penuh susu madu. Kalau kita baca ada belalang pelahap (ayat 11) yang memakan hasil tanah. Mereka meragukan Tuhan yang sepertinya tidak memperhatikan dan tidak berbelas kasihan pada hidup mereka. Pada zaman Perjanjian Lama, ada pandangan bahwa dewa yang memberkati adalah dewa yang benar. Itu sebabnya orang Israel bersungut-sungut waktu keluar dari Mesir. Karena mereka pikir dewa Mesir yang membuat mereka mendapat makanan. Justru di padang pasir Tuhan memberi mereka makanan yang secukupnya. Tuhan berkata,”Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah.” Yang membuat dirimu susah adalah  dirimu sendiri. Pada ayat 7 dikatakan, dari zaman nenek moyang mereka menyimpang dan tidak memelihara ketetapanNya. Rupanya mereka selama ini tidak melakukan apa yang ditetapkan Tuhan.
Pada ayat 8 dikatakan, Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! Mereka hidup susah karena mereka tidak melakukan apa yang Tuhan ajarkan. Mereka melakukan protes, “Tuhan tidak sayang mereka”. Tuhan berkata, “Tidak, saya tetap Tuhan yang sama, justru kamulah tidak mengikuti apa yang Aku ajarkan.”

Ada 3 hal yang bisa dipelajari tentang persepuluhan
1.     Persepuluhan adalah milik Tuhan. Imamat 27:30 Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN. Kalau persepuluhan tidak diberikan berarti kita mencuri milikNya. Bukankah dunia dan seisinya milikNya namun mengapa hanya dikatakan 10% milkiNya? Angka 1/10 adalah angka yang paling kecil. Dulu tarif pajak mengikuti Alkitab yakni 10% sehingga pajak orang dihitung 1/10 dari pendapatannya. Karena pembuat peraturan pajak menganggap 10% angka yang masuk akal dan bisa disetor warga negara. Jadi kalau Tuhan mendapat 10% dari milikNya itu sangat kecil. Kalau tidak diberikan berarti yang 10% itu diambil dan dirampas. Jangan berpikir, kalau nanti ingat dan tidak ada lagi kesulitan, baru kita berikan persepuluhan. Ini sesuatu yang serius. Milik Tuhan jangan dirampok. Kalau kita ambil milik Tuhan, berarti kita pencuri. Selama ini, keluarga saya punya pembantu yang beberapa kali ganti, karena saat pulang kampung waktu lebaran, sang pembantu dikawinkan oleh orang tuanya. Setiap kali mencari pengganti, saya dan istri hanya berkata, “Syarat kami hanya rajin dan jujur.” Rajin menyangkut pekerjaan yang dilakukan dengan baik, jujur menyangkut keberadaan sang pembantu waktu di tempat kerjanya. Kalau dia melihat ada duit di atas meja dan mengambilnya berarti dia pencuri. Kalau punya pembantu seperti ini kita akan marah sekali dan berkata, “Kurang ajar sekali. Akan saya pecat kamu!” Tuhan tidak berbicara seperti itu. Tetapi kalau tidak suka barang dicuri, maka kita seharusnya tidak mau mencuri uang. 10% itu bukan milik saya tetapi Tuhan! Sehingga waktu memberi, kita memberikan apa yang menjadi milik Tuhan. Pada kitab Malaekhi, orang Israel diajarkan bahwa mereka tidak berkelimpahan karena mereka telah mencuri milik Allah.
2.     Persepuluhan adalah ucapan syukur dalam ibadah kepada Tuhan (Ul 22:6, 14:22-29).  Orang Israel saat beribadah tidak boleh di tempat yang sembarang. Berbeda dengan orang kafir yang menyembah pohon, matahari, atau batu besar. Konsep ibadah diluruskan Tuhan , “Aku tetapkan tempatnya.” Saat beribadah, bawalah persembahan kepada Tuhan. Itu ucapan syukur karena sudah diberkati oleh Tuhan. Waktu member persepuluhan, ucapkan terima kasih dan berikan dengan tulus kepada Tuhan. Bukan seperti konsep orang mancing tetapi dari hati yang tulus karena Tuhan telah memelihara saya. Engkau tidak membuat saya mati kedinginan karena kekurangan. Engkau tidak membuat saya tidak tidur karena tidak ada ranjang, Engkau tidak membuat saya 2-3 hari tidak makan, tetapi Engkau cukupkan aku sehingga aku ucapkan terima kasih. Saya dan istri punya pikiran untuk memberi uang kepada orang tua, ini berkat Tuhan bagi mereka. Mereka menolaknya, “Anak tidak usah kasih, apalagi kamu masih kerja.” Saya bilang,”Ini ucapan terima kasih saya karena sudah dipelihara dengan baik.” Saya dan istri berpikir tidak sebanding dengan apa yang sudah diberikan buat kita. Bayangkan mereka membesarkan kita dan tidak memiliki apa-apa saat kita besar. Kita sampaikan ke orang tua ucapan terima kasih. Waktu kita berikan persembahan persepuluhan , kita ucapkan syukur karena Tuhan sudah pelihara. Kalau pergi ke rumah sakit bagian ICU, kita bisa melihat orang membeli oksigen dengan harga mahal sekali. 1 tabung kecil harganya sudah beberapa juta, apalagi tabung besar. Saya senang membesuk karena bisa melihat Tuhan bekerja dengan hebat. Saya bisa mensyukuri orang menghirup oksigen dengan bebas. Kalau Tuhan menahan udara sebentar, kita bisa pingsan. Itu kebaikan Tuhan. Jadi orang Israel diajar bersyukur dari persembahan.
3.     Memelihara orang Lewi (hamba Tuhan). Di dalam konsep orang Israel, dari 12 suku 11 suku boleh mendapat tanah dan boleh bekerja. Hanya 1 suku yaitu suku Lewi yang tidak boleh bekerja. Pekerjaan / tugas orang Lewi hanya mengatur tempat ibadah. Dia mempersiapkan persembahan pagi dan sore. Dia membawa kemah suci saat kemah suci akan dipindahkan. Dengan kata lain, ia tidak seperti 11 suku lain yang bisa mencari uang sebebas-bebasnya. Berikan persepuluhan supaya ada persediaan untuk memelihara suku Lewi (hamba-hamba Tuhan). Sebelum saya melayani full-time, saya pernah bekerja sebagai lawyer (penasehat hukum). Sebenarnya seorang lawyer hebat luar biasa. Kalau dia menangani kasus , ia bisa kasih nilai berapa duit kasusnya. Klien yang datang konsultasi bisa memilih cara pembayaran. Bisa dihitung dengan tariff 100$/jam (Rp 1,2 juta bila kursnya Rp 12.000/$ AS). Bisa juga dibayar lump sum (sejumlah angka tertentu) lalu kalau menang maka 10% dari nilai kemenangan dikasih ke lawyer. Berarti bisa bebas cari uang. Tetapi di gereja protestan , hamba Tuhan mendedikasikan diri untuk melayani Tuhan (tidak bekerja dalam konteks duniawi). Jemaat akan marah kalau hamba Tuhan tiap hari jual ikan lele di pasar misalnya karena hamba Tuhan tidak mempersiapkan khotbah dengan baik. Sehingga jemaat yang mendukung para hamba Tuhan dari sisi finansial. Itulah system yang gereja protestan ambil. Jadi memang Tuhan sendiri yang berbicara agar hamba-hambaKu dipelihara.

Waktu bawa persembahan siapa yang untung? Kita atau Tuhan? Kenapa ada berkat bagi umat Tuhan yang setia membawa Perpuluhan?
1.  Tuhan menguji hati manusia terhadap diriNya dengan persembahan persepuluhan. Di mana hartamu berada disitu hatimu berada. Jadi waktu membawa persepuluhan secara rutin, kita berada dalam kesetiaan. Tuhan menguji kita dari harta kita. Waktu kita punya mobil dan hilang, mungkin kita dikuasai kehilangan itu. Makan dan tidur jadi susah karena memikirkan mobil yang hilang saja. Sebelum ketemu, hati tidak enak sekali. Karena sesungguhnya hati kita berada di harta kita. Itulah sebenarnya manusia. Contoh lain : waktu pulang dari gereja, ponsel BlackBerry tidak ada. Maka kita akan terburu-buru putar kembali ke gereja. Tetapi kalau Alkitab ketinggalan, umumnya tidak akan kembali. Kalau dompet hilang pasti balik, apalagi banyak kartu kreditnya. Itulah yang menjadi ujian kita. Waktu pacaran, pria berkata ke wanita, “Sudah saya yang akan bayar”. Tidak tahu zaman sekarang, perempuan yang bayar? Dulu laki-laki harus bayar. Maka kalau ajak pacar harus hitung-hitung dulu, jangan sampai waktu traktir kurang uang. Sebenarnya itu salah satu bentuk pernyataan bahwa sang pria mengasihi pacarnya. (Saya bayar karena tidak mau kamu yang susah. Jadi agar tahu, saya benar-benar sayang. Itu ujian dalam percintaan.) Lain kalau sudah menikah, istri disuruh bayar. Jadi waktu kita kasih, itulah ujian. Apakah engkau mencintai Tuhan? Tuhan tidak pernah kekurangan dan menghendaki uang kita, tetapi Dia menginginkan kita. Waktu hatimu memberi, disitulah kita berkata,”Engkaulah Tuhanku, Engkau Tuhan yang memeliharaku selama-lamanya.”
2. Tuhan memberikan jaminan kepada umatNya bahwa Dia akan memberkati umatNya yang setia dalam membawa persepuluhan karena Tuhan senang memberi berkat. Dia tidak pernah mengambil berkatNya dari kita. Saya sekolah Alkitab tidak disponsori papa, karena ia tidak suka saya jadi hamba Tuhan. Waktu itu dia belum percaya Tuhan. Agamanya 5 yakni Islam, Hindu, Budha, Kristen, Katolik alasannya kalau Tuhan yang satu tidak menerimanya, masih ada 4 Tuhan lain yang menerimanya. Ini konsep papa saya. Makanya waktu saya mau jadi hamba Tuhan, saya dikatakan bodoh karena akan melarat. Padahal waktu saya jadi pengacara dia senang. Waktu sekolah Alkitab, saya dibiayai oleh gereja yang kecil. Gerejanya 1/3 dari luas tanah GKKK Mabes. Tetapi sang pendeta bilang, “Kami mau mensponsori kamu.” Karena saat itu saya berkata mau mundur tapi dicegah. Jadi waktu saya dapat kepastian sponsor yang akan membiayai setiap bulan lalu saya ikut test dan akhirnya belajar di sekolah Alkitab itu. Saya dengan se mu satu sekolah Alkitab. Saat itu, waktu makan siang, diumumkan kiriman wesel dari sponsor. Saya juga menantikan kiriman wesel tersebut. Hanya sekretariat gereja lupa sehingga tidak kirim wesel beberapa bulan. Waktu bulan pertama saya masih tenang. Bulan kedua, tiap dibacakan saya berdoa, “Dalam nama Yesus wesel saya datang.” Sampai bulan keempat wesel saya tidak datang. Padahal sudah berdoa dalam nama Yesus. Saya jadi malu. Berarti 4 bulan saya makan dan tidur gratis. Kalau saya dikasih sponsor uang untuk kuliah, maka uang untuk jajan dan beli buku hanya Rp 20.000. Jadi seharinya tidak sampai Rp 1.000. Saya gunakan uang itu untuk beli sabun dan alat tulis. Atau kadang makan kecil di kantin atau bila tidak ada saya makan indomie. Lama-lama habis total uangnya. Yang susah waktu saya kehabisan odol. Itu tabung odol sudah saya belah dengan pisau sampai tak tersisa odolnya. Saya jadi kepikiran sehingga sepanjang hari, kuliah yang diberikan dosen tidak bisa saya tangkap. Meskipun dosen sedang mengajar eskatologi (pelajaran tentang akhir zaman) saya tidak pusingkan. Yang saya pusingkan odol. Sepanjang hari pelajaran saya tidak konsentrasi. Mengapa? Kalau saya tidak sikat gigi, begitu nyanyi persembahan maka orang-orang di sekitar akan rebah. Bukan karena kuasa Tuhan tapi karena baunya. Saya sebenarnya sudah takut sekali. Hati saya sedih. Tidur tidak konsentrasi. Yang dipikirkan hanya odol saja. Waktu saya belajar mandiri, sore hari waktu mau taruh pulpen di laci, saya lihat ada amplop putih di laci saya. Saya tanya kakak tingkat, karena di kamar ada 3-4 orang. Saya tanya, ini amplop siapa di laci saya? Mereka bilang, saya tidak tahu. Memang ada sendirinya. Waktu saya buka, isinya uang Rp 20.000. Saya bisa beli odol lagi. Saya mau menceritakan keajaiban yang memberi berkat. Jangan pernah takut memberi persembahan, bukan Tuhan yang diuntungkan. Bukan gereja yang diuntungkan tetapi kita yang diberkati Tuhan.

Sunday, September 8, 2013

Bahasa Kasih dalam Keluarga

Ev. Susan Kwok

Kol 3:17-21
17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
18   Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.

Tema “Bahasa Kasih dalam Keluarga” mengajarkan agar setiap orang dalam keluarga memahami kebutuhan anggota keluarga lainnya. Suami mengerti kebutuhan istri dan sebaliknya. Demikian juga orang tua memperhatikan kebutuhan anak dan sebaliknya. Terdapat 2 hal penting dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose yakni :
1.     Pada Kol 1:15 Rasul Paulus mengingatkan / mengajarkan bahwa Kristus itu adalah segala-galanya. Sehingga Kristus harus menjadi yang utama dalam hidup kita.
2.     Pada Kol 2:6 : Jemaat harus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
Oleh karena itu pada Kol 3:17-21 Rasul Paulus mengingatkan setiap orang percaya harus menunjukkan siapa Kristus dalam keluarganya.
Pada Kol 3:17, Rasul Paulus mengingatkan jemaat bahwa seluruh jemaat harus melakukan segala sesuatu dengan perkataan dan perbuatan di dalam nama Tuhan Yesus. Apa yang disampaikan pada ayat 17 bersifat umum, sedangkan pada ayat 18-21 Rasul Paulus menjelaskan secara spesifik, tentang siapa yang dimaksud dengan “kamu” dan apa yang harus dilakukan.
1.     Ayat 18 : istri terhadap suaminya. Hai istri tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Kata “tunduk” mempunyai 2 pengertian : istri harus menyerahkan diri dengan sukarela (tidak dengan terpaksa)  dan istri harus belajar menundukkan dirinya pada peraturan yang Tuhan sudah tetapkan. Peraturannya ialah  di dalam keluarga, suami menjadi pemimpin (kepala). Sebelum seorang wanita Kristen memutuskan menikah dia harus tahu peraturan ini dan belajar melakukannya baru rumah tangganya harmonis. Allah tidak memberi hak yang semena-mena kepada suami. Karena pada ayat ini, seorang istri meletakkan suaminya sebagai pemimpin yang harus dihargai. Allah tidak menginginkan bahwa seorang istri walau lebih banyak penghasilannya atau lebih tinggi pendidikannya melecehkan suaminya. Banyak istri yang tidak memahami dan seringkali mempermalukan suaminya di hadapan orang lain. Jangan sampai ketika seorang suami menasehati anaknya, tiba-tiba istrinya mengatakan, “Jangan dengarkan papamu, karena ia tidak tahu apa-apa.” Atau dengan kata kasar istri berkata, “Papamu itu bodoh, saya lebih tahu dari papamu.” Suatu kali saya bertanya kepada salah seorang saudari yang dekat dengan saya,” Mengapa kamu tidak mau tidur dengan suamimu dalam satu kamar selama bertahun-tahun?” Sewaktu ia mau menjawab, tiba-tiba suaminya muncul. Lalu dia mengatakan, “Lihat bajunya, rambutnya dan mukanya. Bau! Bagaimana saya mau tidur dengan dia?” Dalam hati saya kaget, sedih dan berkata dalam hati,”Kalau cici saya pembersih, pasti suaminya juga bersih. Dia tidak mungkin tak mau dengan orang jorok sebelum menikah, tetapi kenapa sekarang suaminya berubah jadi jorok pasti ada sesuatu.” Karena setiap masalah pasutri dalam rumah tangga pasti melibatkan 2 belah pihak. Ada istri yang kemudian mengatakan pada pihak keluarganya bahwa “Suaminya itu betul-betul sial dan tidak berguna. Karena penghasilannya sedikit dan tidak bisa buat apa-apa.” Sehingga sang suami dilecehkan di mata keluarga besar istrinya. Allah mengingatkan kepada sebagai istri untuk tidak memperlakukan suami demikian. Kita justru harus memberikan solusi (masukan) untuk mendukung suami agar percaya diri. Kalau suami setiap hari dikatakan bodoh maka kemudian dia benar-benar jadi bodoh. Tapi bila dihargai sebagai kepala keluarga, maka suami akan produktif. Sewaktu SD kelas 4, papa berkata kepada saya, “Susan kemari! Lihatlah mamamu! Mamamu menjahit dari pagi, siang ke pasar, masak, menjahit, makan, lalu menjahit lagi sampai malam. Sepanjang hari ia bekerja namun tidak mengeluh, dan ia terus menerus bekerja. Tetapi yang kamu harus tiru adalah , kamu harus seperti mamamu yang tidak pernah menuntut.” Mama menerima apa adanya, walau papa sudah berusaha sekuat tenaga tetapi penghasilannya hanya terbatas. Mama tidak merendahkan papa di depan keluarganya. Jadi papa merasa bahagia hidup bersama mama. Ketika seorang suami diterima apa adanya lalu didukung sekuat tenaga, maka suami merasakan bahwa istrinya tunduk kepadanya.
2.     Ayat 19 : suami terhadap istri. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Banyak pembicara seminar berkata “Suami-suami jangan pelit mengatakan I love you kepada istri. Itu seperti obat yang akan membuat istrinya bisa menikmati hidup sepanjang hari walau menghadapi kesulitan tapi hatinya lega.” Tetapi banyak suami “hemat” dalam berkata-kata.  Jangankan kata-kata pujian, kata-kata terima kasih saja jarang. Padahal wanita unik. Wanita itu lebih banyak berkata-kata dibanding laki-laki dan juga lebih banyak butuh dukungan kata-kata dari laki dibanding laki-laki sendiri. Banyak suami kurang mengasihi istrinya dan tidak menghargai pekerjaan istri sepanjang hari. Ada seorang konselor bertanya kepada seorang bapak,”Apakah bapak bekerja?” Dijawab, “Saya bekerja di kantor “X”, dari hari apa dan dari jam berapa.” Ditanya lagi, “Apakah istrimu juga bekerja?” Si Bapak menjawab,”Istrinya tidak bekerja tapi pengangguran.” Ditanya lagi,”Oh kalau begitu yang antar anak ke sekolah dan menyiapkan sarapan siapa?” “Ya istri sayalah, kan dia pengangguran jadi dia yang siapkan.” “Yang menyetrika baju, membereskan tas kantor bapak siapa?” “Ya istri sayalah kan dia tidak ada pekerjaan.” Di mata suaminya,  istrinya adalah pengangguran, padahal istrinya bekerja dari buka mata sampai tutup mata. Ia bekerja tanpa batas waktu tapi penghasilan belum tentu. Bagaimana mungkin suami yang punya konsep seperti ini mau berterima kasih pada apa yang dilakukan istrinya. Tuhan tidak mau suami Kristen seperti demikian. Kasih itu memang perlu diucapkan dan dinyatakan dalam tindakan. Ada ilustrasi lain dari sepasang opa (kakek) dan oma (nenek). Pada waktu masih muda , opa melamar oma berkata, “Percayalah kepadaku.” Si oma percaya dan menerimanya sebagai suaminya. Ternyata suaminya bertanggung jawab luar biasa. Pada waktu si istri hamil dan melahirkan anak pertama (perempuan), sang suami berkata, “Maafkan saya sudah merepotkan kamu.”  Sungguh suami yang baik. Waktu sang anak perempuannya menikah dan dibawa pergi si oma sedih. Tetapi opa sambil menepuk istrinya berkata, “Tenang masih ada saya.” Istri (oma) di tengah kesedihan menemukan suatu kekuatan. Bagaimana dengan suami hari ini? Apabila ada kesalahan (masalah), akankah ia berkata, “Tenang masih ada saya.” atau sebaliknya, “Memang dasar! Sudah diomongin... makanya....” Ketika mereka berdua sudah tua, si oma sakit keras dan hanya terbaring. Si opa duduk di samping istrinya sebelum menutup mata, “Tunggu saya ya.” Luar biasa sekali bukan?.
3.     Ayat 20 : anak terhadap orang tua. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan Kata “taat” yang dipakai, seringkali dipakai untuk orang Israel agar taat kepada Allah. Berarti Allah memandang tinggi kedudukan orang tua di bumi. Oleh sebab itu, Allah tidak suka seorang anak (walau ketika dewasa menjadi sukses) tidak taat. Allah saja mengatakan, “Aku akan menggendong kamu walaupun putih rambutmu” kepada orang Israel. Allah mengasihi walau kita sudah tua. Kita adalah tetap anak di mata Allah. Walaupun kita sekolah lebih tinggi dan bekerja lebih dari orang tua, kita tetap anak. Kita harus menyediakan dana dan perhatian untuknya. Ada pepatah, “Satu janda dapat memelihara 8 anak tetapi 8 orang anak belum tentu dapat merawat seorang ibu janda.” Ilustrasi tentang seorang ibu janda yang memiliki 3 orang anak , dan merawat ketiganya saat suaminya meninggal ketika ketiganya masih kecil. Saat anaknya sudah besar, mereka hidup berkecukupan walau tidak kaya. Awalnya si ibu tinggal dengan anak pertama (tertua) keberatan kalau hanya ia yang mengurus ibunya. Ia mengajak adik-adiknya rapat dan akhirnya membuat ketentuan kalau makan pagi di rumah anak pertama, makan siang di rumah anak kedua, makan malam di rumah anak ketiga, setelah 1 bulan akan diputar gilirannya. Berbulan-bulan terjadi dan tidak ada masalah, dan anak-anak merasa beres. Suatu kali setelah makan pagi di rumah anak terbesar, menjelang makan siang  si mama sakit. Ia tidak sanggup berjalan ke rumah anak kedua, sehingga ia mau makan siang di rumah anak pertama saja. Tapi anak yang pertama keberatan dan berkata, “Ma kan saya jatahnya makan pagi dan tidak ada jatah siang ini”. Sorenya menjelang makan sore badannya sudah enak, tapi hujan turun dengan derasnya. Jadi dia tidak bisa ke rumah anak ketiga, maka ia maunya makan malam di rumah anak pertama. Tapi anak pertama berkata, “Mama bagaimana sih, kan jatahnya makan malam di rumah anak ketiga, tadi siang juga begitu.” Akhirnya mamanya sedih dan masuk kamar. Badannya yang tua sakit-sakitan. Hari itu dia hanya makan pagi saja. Besok paginya dia tidak keluar, sehingga anak pertamanya datang dan memintanya keluar untuk makan. Tetapi mamanya berkata, “Jangan lagi siapkan makan buat saya. Saya tidak bisa makan lagi dan saya sudah tidak kuat makan lagi.” Tak lama kemudian ia meninggal. Kalau sudah begitu, walau mau dikasih makan, dia sudah tidak bisa makan.
4.     Ayat 21 : orang tua terhadap anak. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. Ini bukan hanya untuk bapak tetapi juga untuk ibu. Anak itu bisa merasa sakit hati terhadap orang tuanya karena beberapa hal :
-        yang pertama, ketika anak diacuhkan, tidak diperhatikan. Mungkin ada orang tua yang akan protes, “Saya sudah memperhatikan makan, minum, sekolah dan kebutuhan lainnya sudah dipenuhi. Bagaimana tidak dicukupi?” Tetapi mungkin anak merasa tidak diperhatikan ketika ia membutuhkan pujian, pendampingan , waktu ngobrol dari orang tuanya namun tidak didapatnya. Juga termasuk saat mendapat nilai bagus, anak orang lain dipuji, tetapi anak sendiri tidak. Bahkan dikatakan, “Kenapa hanya dapat nilai 8, yang lain bisa dapat nilai 10.” Itu salah satu bentuk tidak memperhatikan anak. Anak juga bisa tawar hati dari orang tua ketika dibedakan  juga ada anak yang bagus dan yang tidak bagus (pembawa sial). Kalau anak sejak kecil dianggap pembawa sial sehingga benar-benar menjadi pembawa sial. Atau ketika anak diperlakukan kasar oleh orang tuanya. Contoh : Adolf Hitler, yang membasmi orang Yahudi terutama yang Kristen. Waktu kecil ia bercita-cita menjadi rabi (rohaniawan Yahudi). Tapi ia benci papanya yang Kristen karena kasar kepadanya sehingga ia berbalik arah dan benci kekristenan. Begitu mengenal ajaran komunis, ia menjadi pengikut ajaran komunis yang setia.
-        Anak juga bisa tawar hati terhadap orang tua, karena sewaktu kecil diberikan kebebasan tanpa pengawasan. Seorang anak tidak merasakan perhatian orang tuanya karena tidak pernah didisiplinkan. Ketika Allah selesai menciptakan Adam, malaikat bertanya, “Kenapa Adam diciptakan dengan kaki yang besar?” Tuhan berkata, “Kaki Adam besar karena nanti kalau punya anak, anaknya bisa memakai sepatu dia dan memasukkan kaki ke dalam sepatunya.” Maksudnya kalau nanti dia punya anak, maka anaknya akan belajar mengikuti langkah ayahnya.

Tuesday, September 3, 2013

Berdoa dengan Tiada Jemu


Pdt Hery Kwok

Lukas 18:1-5
1  Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
2  Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun.
3  Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
4  Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun,
5  namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku."

Pendahuluan
Kenapa kita sering mengalami kebosanan (jemu) dalam berdoa???
Pertanyaan ini bukan pertanyaan omong kosong, tapi kita temui dalam kehidupan kita. Mungkin bukan saja jemaat, tapi ada juga hamba Tuhan yang jemu berdoa. Artinya orang Kristen dalam hidupnya tidak konsisten dalam berdoa. Berikut dua contoh dalam kehidupan kita. Ada seorang pemuda yang rajin berdoa. Kebaktian dimulai pk 6.30, pk 5.30 dia sudah hadir. Saya tertarik dan bertanya, “Mengapa kamu rajin berdoa dan datangnya jauh sebelumnya?” Ia berkata, “Saya punya pergumulan berat dan ingin berdoa kepada Tuhan”. Beberapa waktua kemudian, dia berkata bahwa doanya sudah dijawab oleh Tuhan. Setelah itu dia mulai bolong-bolong berdoanya. Dulu sebulan 4 kali berdoa, lalu menjadi 3 x, 2x, 1x dan terakhir tidak lagi. Saya bertanya,”Kemana kamu sudah lama tidak berdoa?” Dijawabnya, “Sekarang saya sudah sibuk bekerja.” Saya jadi berpikir, apa kita tidak dikasih kerja supaya rajin berdoa? Ini contoh pertama, setelah Tuhan menjawab doa , kita tidak lagi berdoa dengan baik. Contoh kedua, seorang bapak rajin berdoa, namun kemudian ia menghilang (tidak lagi berdoa). Sewaktu ditanya, “Mengapa Bapak tidak berdoa lagi?” Dia menjawab, “Saya bosan berdoa karena Tuhan tidak menjawab doa yang saya panjatkan. Saya pikir Tuhan tidak mendengar doa saya. Sekian lama saya berdoa, Dia tidak jawab doa.” Kedua ekstrim ini merupakan hal yang menyebabkan kenapa kita jemu berdoa.

Lukas 18:1-8 diapit oleh Lukas 17: 20-37 dan 18:9-14. Lukas 17:20-37 berbicara tentang kedatangan kerajaan Allah. Dikatakan bahwa orang-orang yang ada di zaman itu adalah orang-orang yang serupa dengan orang-orang pada zaman Nuh dan Lot. Artinya orang-orang itu tidak beda dengan orang-orang sewaktu Nuh memberitakan agar bertobat tapi mereka tidak mau. Nuh menyampaikan bahwa Tuhan berkata kita orang berdosa dan akan menghukum kita. Mereka tidak peduli, Mereka memuaskan nafsu untuk berbuat jahat. Mereka lebih mementingkan diri sendiri daripada mencari Tuhan. Sehingga pada zaman Nuh dikatakan dosanya sampai ke langit. Itu sebabnya pada kitab Kejadian dikatakan Allah menyesal menciptakan manusia. Di zaman Lot , orang-orang berbuat amoral di mana laki-laki dengan laki-laki berbuat mesum. Sehingga timbul istilah sodomi. Dari kecil sampai besar orang-orang Sodom dan Gomora jahat. Jadi waktu Tuhan berbicara, “Janganlah jemu-jemu berdoa”, itu untuk menolong kita menghadapi zaman yang sangat rusak di mana orang tidak mempedulikan Allah,  mementingkan diri sendiri, berzinah,  tidak bermoral, menipu dll. Orang percaya diajar berdoa supaya tidak seperti mereka dan agar bisa bertahan dengan pengharapan. Luar biasa ayat firman Tuhan! Sewaktu Tuhan berkata, “Jangan jemu-jemu berdoa” karena menghadapi zaman yang sulit sekali , kita mungkin tidak tahan menghadapinya atau mulai mengikuti zaman ini dengan tingkah lakunya. Tuhan berkata, “Waktu tekun berdoa kamu tidak akan terjebak dengan arus dunia”. Tuhan Yesus mempunyai pemahaman dosa yang luar biasa untuk menghadapi zaman yang sulit. Mungkin bisnis sulit, tapi kalau tekun berdoa, maka kita akan selamat karena waktu berdoa kita akan ingat Tuhan.
Pada pasal 18, Lukas juga berbicara tentang doa orang Farisi. Orang Farisi saat berdoa menyombongkan dirinya. Karena sudah membayar kewajiban (seperti perpuluhan), mereka  merasa benar di hadapan Allah (tidak berdosa). Berbeda dengan si pemungut cukai yang berdoa dengan takut dan menundukkan kepala. Si pemungut cukai malu dengan Tuhan karena merasa tidak layak. Tuhan berkata,,”Bila ingin berdoa, ikuti contohlah si  pemungut cukai.” Jadi waktu Tuhan mengajarkan janganlah jemu-jemu berdoa, agar hatimu seperti pemungut cukai yang mengharapakan belas kasihan Allah dengan sangat. Baru di sinilah kita mengerti Luk 18:1 (jangan jemu-jemu berdoa). Di satu sisi, Tuhan membuat kita bertahan menghadapi zaman dan di sisi lain membuat kita berharap selalu kepada Tuhan. Itu sebabnya kita melihat Yesus Kristus memberi contoh orang yang berdoa. Kita berbeda sedikit dengan Tuhan Yesus. Yesus sedikit-sedikit berdoa, kita sedikit berdoa.

Ada 3 hal yang bisa dipelajari dari “Berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Lukas 18:1-8)
1.     Pada ayat 6 Tuhan Yesus berkata, “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu.” itu hal yang penting. Hakim itu adalah hakim yang jahat , hakim yang tidak takut akan Allah (ayat 2). Hakim  ini berani berbuat jahat, karena ia tidak hormat kepada Allah. Mengapa setelah mengenal Tuhan, kita takut nyontek? Karena ada Tuhan yang saya percaya. Tetapi kalau tidak kenal Tuhan, saya nyontek karena tidak ada yang saya takuti, kecuali guru. Hakim itu tidak takut akan Allah, orang ini sangat mengerikan sekali. Ia jadi hakim yang tidak adil dan tidak menghormati seornag pun. Orang Tionghoa diajarkan untuk menghormati orang lain. Itu sebabnya, sewaktu di rumah, kita dipanggil untuk mepangil apak, asuk, sukme, popo, kungkung dll supaya kita tahu menghormati orang. Kalau ke rumah tidak menyapa apak  lalu ke dapur makan, maka papa saya bisa ambil rotan dan memukul saya. “Karena kamu tidak hormat dengan orang”, katanya. Hakim ini tidak hormat orang, berarti benar-benar mengesalkan dan memuakkan. Pada ayat 4 dia mengaku, “Aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun”, jadi waktu Tuhan Yesus katakan ,”Camkan apa yang dikatakan hakim itu.” Allah sedang membandingkan dirinya dengan hakim yang jahat. Dulu saya seorang pengacara. Kalau bertemu hakim, kita bilang, “Pak Hakim tolong lah kami, walau kesal tapi tetap kita datang.” Walau pun dalam hati kita dongkol dan kesal, nanti kalau sudah tidak ada hubungan, saya tidak akan datang. Tuhan berkata , “Aku pengasih dan penyayang, kenapa engkau tidak mencari Aku? Jadi waktu berdoa tidak jemu-jemu, kita berdoa kepada Allah yang pengasih dan penyanyang, pemurah. Kita sedang mencari Sang Pengasih dan Pemurah. Kalau tahu itu, kita punya kerinduan yang luar biasa.
2.     Waktu Tuhan berkata, “Camkan apa yang dikatakan hakim itu” Ia membandingkannya denga hakim yang menghadapi janda. Begitu ia membuka pintu, ia bertemu janda. Baru mau makan dengan keluarganya di depannya sudah ada janda itu yang berseru,”Pak hakim tolong dan bela perkara saya.” Jadi ia terus menerus merongrongnya. Hari ini sang janda merongrong waktu makan. Hari esok, waktu mau nonton, ia juga ada. Waktu masuk mobil ia berteriak,”Hakim tolong perkara saya.” Waktu hakim mau pergi ke kantor, janda itu ada di depan rumahnya. Lama-lama ia merasa sulit. Daripada ia sulitkan saya, lebih baik saya kabulkan saja. Hakim itu menyerah karena janda itu membuatnya pusing. Sekarang Tuhan bilang, “Aku adalah Allah yang murah hati, aku rela memberikan pertolongan kepada orang-orang pilihanku.” Waktu Ia kasih berkat kepada kita, Dia tidak pernah mengungkit berkat itu. Ia tidak bilang, “Kamu dapat bapau ya. Awas kalau tidak rajin ke gereja” atau “Kemarin sudah saya kasih kangtau sekarang tidak rajin berdoa.” Ia rela memberikannya. Karena hati Allah meluap dengan kebaikan demi kebaikan. Jadi waktu Tuhan membandingkan hakim itu dengan diriNya. Ada perbedaan yang luar biasa menyolok antara Allah dengan hakim itu. Hakim itu memberi jawaban karena sang janda membuatnya pusing, Sedangkan hati Allah luar biasa rela, masakan kita tidak rindu? Kalau kita punya kawan-kawan yang hatinya pemurah, hatinya baik dan tulus hatinay , rasanya berkawan dengan orang itu enak sekali. Coba kalau kita punya teman yang pelit, judes, galak, capenya luar biasa. Saudara pasti piih yang lembut, pemurah untuk menjadi sahabat. Allah menggambarkan diriNya sebagai pribadi yang murah hati.
3.     Allah membandingkanNya dengan hakim jahat yang kalau menjawab lama sekali. Setelah dirongrong, dia baru menjawab. Tapi Tuhan memberikan jawaban pada waktuNya yang hebat dan terbaik untuk kita. Kalau Tuhan belum menjawab, berarti belum waktunya buat kita. Bahkan sekalipun tidak menjawab, dia tahu yang terbaik buat kita. Inilah sesuatu yang penting tentang Allah. Ia membuat kita semangat berdoa. Maka Yesus senang berdoa kepada Bapa di sorga. Karena bapa di surga berbeda dengan hakim yang jahat dan yang menyulitkan orang. Pribadi yang hatiNya murah sehingga Kristus sangat senang. Kristus tahu Bapa di sorga tahu kapan memberikan.

Kalau kita mengenal Allah yang sedemikian baik, mengapa kita tidak rindu berdoa? Mungkin kita sedang menghadapi masalah yang pelik sekali. Mungkin kita sedang menghadapi zaman Lot atau Nuh yakni  zaman di mana orang mementingkan diri sendiri dan orang berbuat jahat. Pagi tadi saya datang pk 5.30. Saat saya melewati pertigaan Kartini Raya di sebelah kanan ada sebuah diskotik besar. Cukup banyak orang keluar dari sana. Mereka menghabiskan waktunya untuk diri sendiri. Karena kita hidup di zaman yang susah, mari kita sungguh-sungguh berdoa karena Allah kita baik. Allah yang kita kenal tidak pernah mengulur waktunya. Jangan kita pernah curiga dengan waktunya Tuhan. Waktu kita belajar taat dan setia berdoa, Dia pasti akan memberikan yang terbaik buat kita.