Sunday, July 14, 2013

Focus on God




Ev. Anky Hitro

Filipi 1:12-26
12  Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,
13  sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.
14  Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.
16  Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,
17  tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.
18  Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,
19  karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.
20  Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.
21   Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
22  Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.
23  Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus  —  itu memang jauh lebih baik;
24  tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.
25  Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,
26  sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

Pada Fil 1:12 Rasul Paulus menulis, “Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,”. Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi, walaupun secara jarak ia berada jauh dari Filipi yakni di dalam penjara (Fil 1:13). Rasul Paulus menyatakan dengan yakin dalam suratnya bahwa ia sedang berada di penjara karena Kristus. Karena ia tahu bahwa pemenjaraan itu menyebabkan kemajuan Injil dan ia ingin semua jemaat di Filipi tahu tentang hal tersebut. Apa bedanya orang yang telah mengalami penebusan Tuhan dan hidup bukan untuk diri sendiri tetapi Tuhan dibandingkan orang yang sudah mengalami dan dijamah Tuhan tetapi masih mementingkan diri? Bedanya sangat jauh walaupun sama-sama Kristen dan telah mengalami kasih Tuhan. Orang Kristen yang berfokus pada Tuhan berbeda dampaknya. Saat diundang untuk menyampaikan khotbah dengan tema “Focus on God” , saya bergumul tentang tema ini.  Saya rindu menyampaikan apa yang Tuhan ingin saya sampaikan. Bukan dengan konsep dan pengetahuan kita fokus pada Tuhan, tapi biarlah ibadah hari ini kita fokus pada Tuhan dengan hati dan setiap peristiwa dalam hidup kita.

Rasul Paulus  dipenjara karena Kristus dan menyebabkan kemajuan Injil dan ia ingin jemaat Filipi tahu tentang hal ini. Lalu pada  ayat 14, Rasul Paulus menulis “Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.”  Jadi Rasul Paulus berkata, “Saya di penjara karena Kristus dan dampaknya adalah Injil semakin maju. Injil maju karena makin banyak orang memberitakan Injil tanpa takut”. Jadi kita jangan berfokus pada diri sendiri atau berkeluh kesah karena sebagai anak Tuhan, hidup kita tidak akan selalu mudah. Selama 21 tahun saya mengikut Tuhan, hidup tidak lebih mudah bahkan pergumulan lebih sulit karena terkait kekudusan dan integritas. Tetapi hidup lebih bermakna, mulia, hormat, honoured dan worthy. Kalau dulu menderita karena diri sendiri tetapi sekarang walaupun kita susah, sebenarnya kita menderita karena Kristus. Dulu dihukum karena kesalahan sendiri, tetapi sekarang kita sadar bahwa kesulitan hidup bukan karena kesalahan kita tetapi diijinkan terjadi agar kemuliaan Tuhan dinyatakan. Saat berjalan bersama Yesus Kristus dan melihat orang buta, muridNya bertanya, “Salah siapa orang ini buta? Kesalahan dirinya sendiri atau orang tuanya?” Tuhan Yesus menjawab, “Bukan salah dia atau orang tuanya tetapi karena kemuliaan Tuhan akan dinyatakan melaluinya”. Saat saya berusia 19 tahun, mama saya terkena kanker. Salah siapa , kalau mama saya meninggal karena kanker? Hal ini terjadi setelah 1 tahun saya menjadi orang Kristen (saya menerima Kristus di usia 18 tahun lebih sedikit). Padahal sebelumnya selama 17 tahun tanpa Kristen, mama saya tidak apa-apa. 1 tahun kemudian mama saya sakit kanker dan berobat sampai ke Guang Zhou. Karena salah mama saya atau saya? Bukan karena salah mama saya atau saya, tetapi karena kemuliaan Tuhan akan dinyatakan. Saat itu saya sulit menerimanya. 2,5 bulan saya tidak mau ke gereja dan tidak mau ikut pelayanan. Tetapi kalau hari ini ditanya mengapa hal itu terjadi, saya percaya dan berterima kasih karena hal itu banyak mengubah hidup saya. Dulu saya anak paling dimanja oleh mama sehingga hidup saya tergantung pada mama. Tuhan memakai hal ini membawa saya makin dekat dengan Tuhan dan akhirnya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Kalau tidak hari ini saya menjadi tukang beras di gang Hober. Rasul Paulus berkata,”Saya di penjara karena Kristus. Karena saya di penjara, orang-orang percaya makin berani memberitakan Injil.”

Pada ayat 15, Rasul Paulus menulis, Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Jadi sementara Rasul Paulus di penjara ada orang yang makin berani memberitakan Injil. Sekelompok orang melayani Tuhan (seperti menjadi majelis) karena mencintai Tuhan dan sebagian karena mencintai diri sendiri. Ada aktivis pemuda yang menjadi pengurus melayani Tuhan dengan menggebu-gebu karena cinta Yesus dan menyadari bahwa Tuhan Yesus telah mati baginya tetapi ada juga pemuda yang melayani karena diri sendiri. Ada juga sekelompok orang Kristen dewasa membuka sekolah Kristen untuk menjangkau jiwa-jiwa yang hilang dan ada juga yang membuka sekolah Kristen hanya menjadi label untuk mendapat untung lebih banyak. Demikian juga banyak orang Kristen yang menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan seumur hidup, sama-sama dipersiapkan di sekolah teologia, dididik oleh dosen yang sama, namun faktanya setelah lulus kuliah sebagian menyerahkan diri melayani, mati-hidup bagi kristus, apapun demi Tuhan. Tetapi tidak semuanya begitu. Faktanya ada sebagian yang lulus mendirikan gereja tetapi untuk keuntungan diri sendiri. Sekelompok orang Kristen kuliah di fakultas kedokteran , yang satu merawat pasien untuk kemuliaan Kristus tetapi yang lainnya melayani untuk kepentingan pribadi. Dunia dipenuhi fakta seperti itu. Itu bukan terjadi saat ini, tetapi sejak zaman Rasul Paulus. Kalau hari ini kita berteriak karena majelis yang cinta diri, Rasul Paulus sudah mengalaminya sejak sekitar 2.000 tahun lalu. Ada yang kecewa karena pendiri sekolah Kristen melayani untuk diri sendiri, hamba Tuhan di atas mimbar berkhotbah untuk kepentingan diri sendiri dan ada orang memanfaatkan slogan Kristen untuk kepentingan diri sendiri, namun ada orang yang memberitakan Injil karena kasih Kristus yang mengubahkan dirinya.

Fakta tidak bisa berubah, tapi kita bisa memaknai sejarah bersama Tuhan. Tidak bisa dipungkiri, ada orang Kristen yang anaknya meninggal , lalu tidak jadi Kristen. Ada juga yang setelah melewatinya dengan susah , ia terus menjadi Kristen sampai akhir. Itu sejarah. Tetapi bagaimana kita meresponi fakta sejarah dan peristiwa yang tidak bisa diubah. Rumah sakit, sekolah, majelis tidak diubah. Tetapi kita bisa memilih untuk merespon. Respon Rasul Paulus pada ayat 18 menulis,” Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.” Karena fokus saya bukan pada orang lain, tetapi pada Tuhan. Bedanya orang yang tidak mudah dibiaskan dengan orang yang ikut-ikutan panggilan , pekerjaan atau kesuksesan orang lain. Gereja yang fokus pada Tuhan tidak akan gampang mengikuti gereja lain walaupun gereja lain tersebut sepertinya lebih berhasil. Majelis yang fokusnya pada Tuhan tidak mudah diubahkan arah hidupnya walaupun berbagai peristiwa dialami dalam hidupnya. Hamba Tuhan tidak akan mudah dikecewakan dalam hidupnya karena everything is about God. Waktu Rasul Paulus berkata,”Tidak mengapa, karena tidak ada masalah dengan semua itu.” Nanti akan terjadi fakta seperti itu. Mungkin ribuan orang membuat sekolah Kristen atau rumah sakit untuk kepentingan diri sendiri, tapi jangan karena hal itu kita takut membuka sekolah atau rumah sakit Kristen. Kita jangan takut untuk memberitakan Injl hanya karena ada orang yang memberitakan Injil untuk diri sendiri. “Aku akan tetap bersukacita,” kata Rasul Paulus.

Aku tetap bersukacita di dalam Tuhan whatever happen. Walau motivasi orang lain melayani palsu, saya tidak akan tergoyahkan. Walau orang lain menyeleweng, saya tetap fokus ke Tuhan. Saya tidak akan ikut cara yang curang. Saya tidak peduli kalau itu caramu sendiri, aku ada karena Tuhan. Hidup dan gerejaku ada karena Tuhan. Maka tidak mengapa  untuk apa  yang terjadi karena life is not about me but God. Seperti yang dituliskan Rasul Paulus pada ayat 20,”Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.”  Jadi kalau aku mati atau hidup, biarlah Kristus dimuliakan. Hidup yang kuhidupi sekarang bukan milikku tetapi milik Kristus. Kalau orang Kristen seperti ini, maka dunia akan digoncangkan, tidak mudah diselewengkan, dan dipenuhi anak Kristen yang berpacaran dengan bersih. Dipenuhi orang Kristen berintegritas dan tulus di hadapan Tuhan. Dunia dipenuhi gereja yang mencintai dan melayani Tuhan meskipun ada gereja yang didirikan untuk kepentingan diri sendiri. Celakakalah mereka yang memilih begitu. Celakakalah kita kalau kita ikut-ikutan memilih yang salah. Bersukacitalah kita kalau kita fokus pada Tuhan. Ayat 21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Kalau aku hidup, bagiku hidup memberi buah. Tidak ada tujuan yang lain, kecuali menghasilkan buah. Kalau kuhidup bagiMu, agar kutetap memandangMu. Dunia tidak bisa menjauhkan dari kasihMu selama kuhidup bagiMu. Sudah berapa kali dikecewakan dan dikhianati oleh orang yang kita percayai? Saya pun mengalami hal yang sama. Yesus juga. Ia dijual oleh muridNya sendiri, Yudas Iskariot dan diingkari oleh Petrus. Tuhan Yesus, Rasul Paulus, saya dan saudara dikhianati. Berapa lama lagi kita akan kecewa? Karena hidup kita bukan karena mereka tapi Kristus.

Walau banyak kekecewaan dalam hidup , jangan bias dan berfokus pada hidup kita. Hiduplah berfokus pada Kristus. Karena saat mati kita hidup di surga untuk selama-lamanya. Hidup bagi Kristus, aku akan bersukacita dan akan tetap bersukacita, aku akan menunggu kematianku karena mati adalah keuntungan. Selama kematian belum datang, aku hidup untuk Kristus dan berbuah. Hari ini (atau dua hari atau sekian hari lagi) aku hidup, aku hidup berbuah untuk Tuhan dan hari ini (atau 2 hari atau sekian hari kemudian) menyambut kematian karena keuntungan. Aku bersukacita walau tidak akan mengubah sejarah orang Kristen yang menjual Tuhan, tetapi aku mati untuk Tuhan dan itulah panggilanku. Bahkan setelah kita mati, rumah sakit yang menjual Kristus niscaya masih ada. Namun orang Kristen yang cinta Tuhan masih banyak. Kita mati untuk Kristus. Kita mewariskan teladan bagi orang lain. Di saat orang lain memilih untuk diri sendiri, kita memilih Tuhan dan mati merupakan keuntungan serta memberikan warisan iman yang sejati. Dengan begitulah kita menjalani hidup dan kembali kepada keseharian. Kita kembali ke istri bukan ke wanita manapun, kita menjadi ayah yang mencintai anak-anak kita. Karena hidup adalah Tuhan, kita kembali pada pekerjaan dan Tuhan , untuk itulah kita melayani Tuhan seperti menjadi majelis atau aktifis dan tidak dibiaskan dari cinta kepada Tuhan. Jangan pernah menyerah, karena Tuhan tidak pernah menyerah dengan kita. Biarlah kita pulang menjadi orang yang menemukan, melakukan, menghayati dan mewariskan iman yang hidup.

Sunday, July 7, 2013

Jadilah Penyembah-Penyembah yang Benar

Pdt. Liem Ie Liong

Yoh 4:1-24
1  Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes
2   —  meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya,  — 
3  Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea.
4   Ia harus melintasi daerah Samaria.
5  Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.
6  Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
7  Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum."
8  Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.
9  Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
10  Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."
11  Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?
12  Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?"
13  Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
14  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."
15  Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."
16  Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini."
17  Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami,
18  sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar."
19  Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.
20  Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah."
22  Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
23  Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
24  Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."
Mat 4:10  Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"

Apakah tujuan kita datang ke gereja? Bila ditanya demikian tentu kita mengatakan, bahwa tujuan  datang ke gereja untuk menyembah Tuhan. Memang benar. Kiranya hal ini tertanam dalam hati kita. Namun ada juga orang Kristen yang datang ke gereja dengan motivasi lain, misalnya ada yang lebih mementingkan hubungan dengan sesama (datang ke gereja yang lebih ramai atau jumlah jemaatnya lebih banyak) dll. Seharusnya kita datang ke gereja bukan sekedar bertemu dengan saudara seiman, namun yang lebih utama karena kita mau menyembah Tuhan. Biarlah Tuhan memberikan berkatnya melalui ibadah, puji-pujian, dan firman Tuhan. Ketika Tuhan Yesus dicobai iblis mengatakan, “Semua kerajaan dunia dengan kemegahannya akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Namun pada Mat 4:10, Tuhan Yesus berkata, ada tertulis (artinya ada firman Tuhan) "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" Di sini Tuhan Yesus memberitahukan kita juga untuk menyembah Allah. Pada waktu kita datang ke rumah Tuhan, apakah hati dan pikiran kita seluruhnya berada di rumah Tuhan dan sunguh-sungguh menyembahNya? Pdt. Paulus Daun dalam salah satu bukunya menulis, “Salah satu faktor pertumbuhan rohani orang Kristen adalah mengenal hakikat ibadah yang benar.” Inilah yang Tuhan Yesus ajarkan dan kehendaki dalam setiap kehidupan anak-anakNya yaitu supaya kita boleh datang beribadah dengan benar, menjadi penyembah-penyembah yang benar. Suatu kali Tuhan Yesus melintasi daerah Samaria dalam perjalanan dari Yudea ke Galilea dan sampailah Dia di sumur. Karena pk 12 siang matahari bersinar dengan terik, maka Tuhan Yesus merasa haus. Tiba-tiba ada seorang perempuan Samaria dating untuk mengambil air dari sumur. Tuhan Yesus berkata, "Berilah Aku minum." dan "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.". Tuhan Yesus mengalihkan dari air jasmawi ke air rohani. Perempuan itu berkata,” Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?” Ketika itu Tuhan Yesus tidak bicara tentang air jasmani tetapi air hidup. Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. Perempuan Samaria adalah perempuan yang berdosa, hidup dalam dosa dan  membutuhkan air hidup. Ia sudah bersuami 5 orang yang sebenarnya bukan suaminya. Orang Samaria menyembah di gunung. Sedangkan orang Yahudi mengira bahwa penyembahan itu di Yerusalem tempatnya. Tetapi Tuhan Yesus mengubah hal ini. Yesus mengatakan bahwa penyembahan itu bukan di gunung atau Yerusalem tetapi Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang benar yang menyembah dalam roh dan kebenaran. Akhirnya perempuan Samaria ini percaya. Tuhan Yesus juga mau agar perempuan Samaria ini menyembah dengan benar.  

Dalam Yoh 4:42 dikatakan, dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.".  Ketika perempuan Samaria sudah bertemu Tuhan Yesus dan percaya, ia kemudian bersaksi dan menceritakan tentang Tuhan Yesus sehingga akhirnya orang-orang yang mendengarkan  juga percaya. Perempuan Samaria ini mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya bukan karena kata orang, tetapi karena ia sudah mengenal Tuhan Yesus. Sebelumnya Tuhan Yesus mengatakan, "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.  Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal” Karena perempuan Samaria menyembah tapi tidak mengenal siapa yang disembah. Ketika Rasul Paulus memberitakan Injil dari satu kota ke kota lain, sampailah dia ke kota Atena (Kisah rasul 17). Orang Atena menyembah dewa dan patung. Lalu Rasul Paulus melihat ada 1 mezbah yang ada tulisannya, kepada allah yang tidak dikenal. Penduduk Atena amat beribadah, tetapi mereka tidak mengenal siapa yang disembahnya. Tuhan Yesus mengatakan kepada perempuan Samaria bahwa sekarang kamu akan menyembah yang kamu kenal. Setelah percaya, kita mengenal Allah kita sebagai Kristus Tuhan Juruselamat kita. Ketika datang menyembah Allah, kita juga menyembah Tuhan Yesus yang sudah mati menebus dosa kita melalui kematiannya di atas kayu salib, kemudian bangkit dan mendamaikan kita dengan Allah. Melalui Tuhan Yesus kita mengenal Allah yang benar. Yesus memyatakan diri kepada kita, bahwa Dia adalah Allah. Ketika kita datang menyembah Allah, maka kita mengenal siapa yang kita sembah. Dahulu sebelum kita percaya, kita tidak mengenal siapa yang kita  sembah. Maka Rasul Paulus berkata, kiranya kita bertumbuh dalam pengenalan kita kepada Allah. Demikian pula pada 2 Pet 3:18 Rasul Petrus menulis, Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya. biarlah kita semakin mengenal Allah. Waktu menyembah Allah, kita menjadi penyembah-penyembah yang benar yaitu menyembahNya dalam roh dan kebenaran.

Menyembah dalam roh
Kita menyembah dalam roh karena Tuhan Yesus mengatakan bahwa Allah kita adalah roh adanya dan tidak kelihatan. Maka waktu kita menyembah Allah tidak perlu visualisasi seperti di depan patung atau gambar Yesus. Menyembah dalam roh dan kebenaran bukan demikian. Kita menyembah Allah yang adalah roh adanya. Ketika menyembah dalam roh dan kebenaran itulah yang Allah kehendaki. Maka kita boleh menjadi penyembah yang benar. Apa itu kebenaran (alatea, dalam bahasa Yunani artinya jujur, sungguh, tulus). Menyembah Allah dalam roh dan kebenaran dengan seluruh diri kita yaitu tubuh jiwa dan roh. Karena itu kita menyembah Allah dalam roh dalam kesungguhan dan ketulusan hati kita. Kita menyembah dalam roh dan kebenaran, berarti sungguh kita dibangunkan dalam kehidupan kita sesuai kebenaran firman Tuhan. Ketika menyembah Tuhan, kita mendengarkan firman Tuhan yang bisa menolong untuk mengerti dengan benar sehingga kita menyembah dalam roh dan kebenaran. Setiap kita datang kepada Tuhan, adakah hati kita mau dipuaskan oleh firman Tuhan? Dalam bukunya John Piper menulis bahwa,”Orang yang tidak menyukai apa yang dilakukan Allah melalui Tuhan Yesus, tidak menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Orang yang dibangun dengan kesalahan tentang pandangan terhadap Allah, tidak menyembah dalam roh dan kebenaran.” Tuhan Yesus menuntut keduanya yaitu menyembah dalam roh dan kebenaran. Ini merupakan pengalaman ibadah kita, di dalam pengenalan kita kepada Allah yang benar. Dan roh kita yang dibangun, digerakkan, oleh kebenaran maka ketika kita datang kepada Tuhan, dan menyembahNya maka kita menyembah dalam roh dan kebenaran. Dalam memuji Tuhan, apakah roh ikut menyembahnya? TUhan Yesus mencela orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka memuji Tuhan dengan mulutnya sehingga tidak berkenan di hadapanNya. Pada Matius 15:7-9 Tuhan Yesus berkata, Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:   Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.  Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.". Perhatikan firman Tuhan yang dikatakan begitu keras kepada pemimpin agama Yahudi waktu itu. Memuji Tuhan harus dari hati. Waktu mengajar SMP, dalam ibadah tiap minggu selalu pakai tepuk tangan. Para siswa memuji Tuhan dengan tepuk tangan , tapi tidak menyanyi. Tepuk tangannya luar biasa. Walau tidak alergi , saya tidak mau ikut tepuk tangan saat itu karena mereka bukan memuji Tuhan. Saat memuji Tuhan, Tuhan bukan hanya ingin mulut kita memuji TUhan, tetapi Tuhan mau kita menyembah dalam roh dan kebenaran dalam seluruh keberadaan kita. Hati dan pikiran kita yang sudah disucikan oleh Tuhan. Percuma kita menyembah kalau hanya berdasarkan ajaran atau perintah manusia semata dan bukan Allah. Kalau bukan perintah Allah berarti bukan firman Tuhan. Maka waktu menyembah Tuhan, kita sungguh-sungguh mau mendengar firman Tuhan. Apa yang Tuhan perintahkan dan kehendak Tuhan dalam hidup saya, maka dalam menyembah dalam roh dan kebenaran , kita sungguh rindu mendengar firman Tuhan , tidak melihat siapa yang khotbah. Ada jemaat bila yang khotbah Pdt A ia datang, sebaliknya kalau si B yang khotbah ia tidak datang. Hamba Tuhan dari suatu gereja pernah bercerita. Ada seorang jemaat yang mengikuti ke manapun pengkhotbahnya berkhotbah. Tidak persoalan jaraknya. Suatu kali karena macet pendeta itu tidak bisa sampai ke Bogor, sehingga jemaat itu harus menggantikannya. Apakah penyembahan kita benar bila saat datang, hanya ingin melihat pengkhotbahnya? Suatu kali ada pendeta luar negeri yang bisa berkhotbah dengan gaya yang begitu menarik dan isi firman Tuhannya padat, jelas dan berwibawa. Seorang jemaat merasa ia mendapat berkat dari firman Tuhan yang disampaikan . Lalu ia pulang dan mendengar bahwa pendeta tersebut akan khotbah lagi, maka ia datang lagi minggu depan. Pengkhotbah menyampaikan khotbah dengan padat seperti minggu lalu, ia berkhotbah dengan menarik sama seperti minggu sebelumnya. Isi firman Tuhan begitu jelas disampaikan, namun setelah selesai kebaktian, sang jemaat tidak mendapat apa-apa. Ia pun heran, “Kenapa minggu lalu saya dapat berkat sedang hari ini tidak ?” Ketika selesai bersalaman di depan, ia bertanya kepada pendeta ini. Pendeta ini menjawab dengan bijak. Ia mengatakan , “Hanya 1 penyebabnya. Minggu lalu kamu datang mendengar firman Tuhan dan beribadah kepadaNya. Tetapi hari ini  kamu datang untuk mendengarkan suara dan mengagumi saya.” Maka tidak heran, jika hari ini kamu tidak mendapat berkat. Ibadah yang benar kalau sungguh datang kepada Tuhan, kita menjadi penyembah-penyembah yang benar, dalam roh dan kebenaran. Kalau kita salah motivasi dalam menyembah Tuhan, maka kita tidak mendapat apa-apa. Ibadah yang benar, akan menumbuhkan rohani kita. Jikau dikatakan, saya tidak bertumbuh kerohanian saya, berarti minggu ini tidak menyembah yang benar. Tuhan yesus mengehendaki penyembah seperti ini. Bukan menyembah di gunung atau Yerusalem, tetapi menyembah dengan roh. Menyembah dalam kebenaran, engkau menjadi penyembah yang benar. Biarlah kita mengintrospeksi diri kita, apakah saya datang pada setiap ibadah dan bertumbuh kerohanian kita. Saya datang dengan tangan kosong, bukan pulang dengan tangan kosong, tetapi pulang dengan berkat. Setiap menyembah Tuhan, kita rindu. Jadilah penyembah yang benar. Sehingga penyembah sungguh berkenan kepada Tuhan. Ketika kita mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus kita menyembah Tuhan dan Allah kita dalam roh yang benar.

Monday, July 1, 2013

Bersyukur di Dalam Segala Situasi dan Kondisi

Ev. Djie Sadar Mahonny

1 Tes 5:18  Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Mengucap syukur bukan sekedar kata-kata. Seringkali kita mengucap syukur tanpa mengetahui esensi dan maknanya. Sebagai orang Kristen, kita hanya terbiasa berkata,”Syukur”. Bahkan kadang-kadang kita salah dalam mengucap syukur. Misal : Kalau ada anak atau cucu yang nakal dan diberitahu tidak mau.  Suatu saat ia jatuh, kita lalu berkata,”Syukurin loe...Rasain loe...” Tuhan tidak menginginkan seperti itu. Atau kita hanya mengucap syukur kalau semuanya berjalan lancar. Misal : setiap mendapat anak perempuan hingga 3 orang kita mengucap syukur. Tapi setelah berdoa untuk mendapat anak lelaki, ternyata mendapat anak perempuan lagi, apakah masih mengucap syukur? Atau bila mendapat anak laki tapi cacat, apakah masih mengucap syukur? Ucapan syukur menunjukkan keyakinan iman kita kepada Tuhan. Menunjukkan kaitan erat antara iman kita kepada Tuhan.

Mengapa kita sulit mengucap syukur?
Hidup ini indah atau sukar? Lebih banyak susah atau indahnya? Bila kita diperlihatkan sebuah kertas putih dengan bundaran-bundaran kecil warna hitam dan merah, lalu ditanya apa yang kita lihat? Ada yang melihat noda hitam atau noda merah atau keduanya. Padahal yang paling besar adalah kertas putihnya.  Hal ini ibarat manusia yang fokusnya melihat (titik) noda-noda saja dalam hidupnya. Kita lupa ada selembar kertas putih yang lebih besar dan menarik. Kalau kita gambarkan hidup sebagai kertas dengan titik merah dan hitam, maka kita melupakan kertas putih yang besar. Kalau kita fokus pada masalah yang buruk dalam hidup kita, maka hidup menjadi tidak indah. Yang ada hanyalah masalah. Begitu banyak keindahan yang perlu disyukuri. Tidak sakit telinga itu indah. Pernah bersyukur untuk telinga yang tidak sakit? 1,5 bulan lalu saya masuk RS untuk menjalani operasi pertama kalinya dalam hidup saya. Hal ini karena gendang telinga kiri saya pecah saat kecelakaan di laut, sehingga 3 tahun yang lalu pendengaran sedikit menurun. Namun yang jadi masalah adalah suara seperti suara jangkrik di telinga kiri saya selama 24 jam. Operasi berhasil , namun suara “jangkriknya” belum hilang. Kalau fokus ke suara , maka saya menderita. Tetapi saat berkhotbah dan fokus ke khotbah saya lupa hal itu. Kita semua menghadapi masalah, tetapi mari kita fokus ke hal yang lebih baik. Kita susah mengucap syukur, karena kita fokus ke hal yang tidak tercapai daripada yang tercapai. Misal : kita punya 10 target , 8 sudah tercapai. Lalu kita fokus ke 2 target yang tidak tercapai, sehingga kita melupakan yang 8. Ada yang berkata, “Sesuatu hanya indah sebelum kita miliki.” Ini berlaku bagi yang belum menikah. Katanya menikah seperti naik perahu kora-kora di Ancol.  Begitu mendengar orang berteriak-teriak, teriakannya menarik perhatian kita. Kita pun antri untuk naik, namun saat giliran kita diayun, kita mau muntah lalu kita pun berteriak. Teriakan yang sama seperti orang yang terdahulu. Baru kita menyadari, teriakan tadu bukan menunjukkan kegembiraan tapi minta turun. Ketika kita teriak , teriakan kita menarik orang dan mereka antri untuk naik.

Ada sebuah tulisan yang menarik. Di saat kita seharusnya bersyukur bisakah kita bersyukur? Apa yang menarik diburu orang. Yang tinggal di gunung merindukan pantai, yang tinggal di pantai merindukan gunung, Di musim kemarau merindukan hujan, di musim hujan merindukan kemarau. Saat diam di rumah merindukan berpergiaan, waktu sedang berpergian, merindukan diam di rumah. Waktu ramai mencari ketenangan, saat tenang merindukan keramaian. Setelah berkeluarga belum punya anak, mengeluh dan merindukan anak. Setelah memiliki anak, mengeluh karena biaya hidup tinggi. Kita tidak pernah bahagia. Sebab segala sesuatu hanya tampak indah sebelum dimiliki. Namun setelah dimiliki tidak indah lagi. Kapan kebahagian didapatkan kalau kita hanya memikirkan apa yang belum ada dan mengabaikan apa yang sudah kita memiliki. Jadilah pribadi yang selalu bersyukur. Bersyukurlah senantiasa dengan berkat yang sudah kita miliki. Bagaimana mungkin daun kecil menutupi dunia yang luas ini. Jangankan bumi, menutupi telapak tanganpun tidak bisa. Namun bila daun kecil ini ditempelkan di mata kita maka tertutuplah  bumi. Begitulah kalau hati kita ditutupi hal buruk, maka kita melihat keburukan ada di mana-mana. Bumi akan tampak buruk dan suram. Jangan menutup mata kita walaupun dengan daun yang kecil. Jangan menutup hati kita walau dengan sebuah pikiran yang buruk. Bila hati kita tertutup, tertutuplah semuanya. Syukuri apa yang sudah kita miliki. Tulisan ini sangat menarik. Ucapan syukur berkaitan dengan iman keyakinan kita. Itu berarti pengenalan kita pada Allah cukup. Keyakinan kita terhadap rancangan Allah sudah cukup. Kalau anda sering bertanya mengapa begini Tuhan?, anda tidak akan mengucap syukur. Kalau sedikit-sedikit mengeluh, tidak mengucap syukur. Intinya, bahwa kesulitan ada tapi kita yakini Tuhan ijinkan terjadi, karena ada sesuatu yang Tuhan inginkan tercapai. Persoalannya kita tidak siap jadi berkat melalui cara seperti itu. Kesulitan boleh datang, masalah bagi manusia adalah bagaimana menyelesaikannya. Ada seorang petambak ikan. Di kampungnya  semua orang beternak ikan. Ikannya sama. Dari indukan yang sama, air dengan Ph yang sama , makannya pun sama dari pabrikan yang sama. Jam makannya pun sama. Tetapi aneh sekali ada satu bapak, ikannya beda, tekstur dagingnya lebih enak. Tidak ada yang tahu rahasianya. Suatu hari bapak ini meninggal. Semua orang berbondong-bondong ke tambaknya melihat rahasianya. Tidak ada yang aneh. Tetapi seseorang mengamati , ternyata bapak tersebut sengaja memasukkan beberapa ikan buas di dalam tambaknya. Itu rahasianya. Jadi ikan yang dipelihara dikejar setiap saat oleh ikan buas ini sehingga ikan memiliki tekstur daging yang lebih baik. Di gereja ada biang kerok. Anggap saja biang kerok itu ikan buas. Persoalannya kita siap atau tidak. Kalau kita siap, maka ikan buas itu akan membuat kita menjadi lebih kuat. Tapi kalau kita tidak mengerti, maka ikan buas itu akan memangsa kita. Ketika Tuhan ijinkan persoalan melanda kita, itu ikan buas. Kalau kita mengandalkan dan percaya Tuhan , maka kita akan mendapat berkat. Persoalan memang berpotensi membuat kita terpuruk. Tetapi jangan salah, persoalan hidup membuat kita naik kelas. Ketika HP pertama kali keluar, ukurannya sangat bear. Masalahnya : besar dan harganya mahal. Sekarang HP sudah menjadi barang kebutuhan yang mudah didapat dengan harga yang terjangkau. Ada masalah, cari solusinya, naik kelas. Ketika TV muncul, gambarnya hitam putih. Lalu dibuatlah yang berwarna. Ketika TV berwarna muncul, orang tidak puas. TV terbaru dipasang di kacamata. Itulah kemajuan. Darimana sampai kemajuan seperti itu? Karena orang mendapat masalah, mengatasi masalah dan naik kelas. Yakini Tuhan akan memberikan yang terbaik walau kita tidak mengerti. Sesuatu yang buruk terjadi untuk mendatangkan kebaikan. Yakini, imani itu. Alkitab berkata, “Allah turut berkerja utnuk mendatangkan kebaikan bukan keburukan. Bagi orang yang terpanggil dan mengasihi Dia yang hidup sesuai dengan rancangan Tuhan.” Masalah bagi kita ialah, kita tahu diujung sana ada sesuatu yang indah, tapi dalam rangka menuju ke sana, Tuhan tidak memberikan peta jalan bagi kita.
Contoh : Yusuf muda mendapatkan pemberitahuan suatu saat ia akan jadi pejabat. Tapi bagaimana caranya tidak tahu. Ia lahir dengan saudara-saudara yang kurang ajar. Bukan rancangan Tuhan , bahwa saudaranya akan kurang ajar, tetapi memang demikian adanya. Tanpa begitu, tidak mungkin Yusuf akan menjadi seperti itu. Tanpa ayahnya ia pergi ke Mesir. Yakub sangat cinta dengan Yusuf. Yakub mendapat mamanya setelah ditipu 14 tahun. Kedua, mereka anak Yahudi yang sangat menjaga kekudusan hidup. Bagaimana mungkin Yakub melepaskan anaknya pergi ke Mesir. Lalu singkat cerita Yusuf pergi ke Mesir. Ia jadi budak di sana. Tidak ada peta jalan. Gelap semuanya, tetapi ia tahu Tuhan akan memimpin. Saat ia menjadi budak, Tuhan menyertai dia. Pekerjaannya berhasil. Lalu Yusuf digoda nyonya rumahnya Digoda itu berita buruk bagi Yusuf. Dan ia pun menjadi napi. Orang yang disertai dan benar di hadapan Tuhan , justru masuk penjara. Tetapi Tuhan tetap menyertai dia. Ia berkarya luar biasa sampai 2 pejabat masuk penjara lagi. Lalu Yusuf berpesan kepada salah satunya setelah ia menolongnya agar kalau sudah bebas jangan melupakannya. Yusuf tetap menjadi napi. Sampai waktunya Tuhan. Yusuf akhirnya keluar menjadi yang dijanjikan kepada dia. Kita bisa melihat sesuatu indah dibalik itu? Tetapi bagi Yusuf yang menjalaninya, perjalanan hidupnya penuh air mata penderitaan.  Karena itu kita yakin Tuhan membuat rencana itu indah bagi kita. Banyak kesulitan, bersyukurlah! Apapun situasi yang melanda, kita bersyukur. Tuhan tidak membiarkan kita menderita tanpa menyertainya kecuali kita tidak mau ikut ambil bagian di dalamnya. Ada sebuah cerita tentang seorang raja yang berburu. Ia didampingi banyak pengawal dan seorang penasehat. Suatu kali terjadi kecelakaan dan raja kehilangan jempolnya. Ia sedih sekali, bagaimana seorang raja cacat? Sang penasehat bilang, “Tidak apa-apa , mungkin itu sesuatu yang baik.” Raja marah dengan komentarnya,”Apanya yang bagus?” Jabatan sang penasehat diturunkan dan dimasukkan ke penjara. Beberapa bulan kemudian raja sudah pulih dan pergi berburu kembali bersama para pengawalnya. Kali ini , mereka nyasar dan berada di antara para kanibal. Semua ditangkap dan satu per satu dipotong dipersembahkan ke dewa. Terakhir sang raja. Karena raja ini tidak sempurna, cacat dan dewa tidak mau menerima orang yang cacat, akhirnya raja dibebaskan. Ia senang sekali. Wah beruntung jempolnya hilang. Sampai di istana ia ingat sang penasehat yang di penjara.  Sang penasehat dikeluarkan dan dipulihkan posisinya.  Benar kan jempol yang hilang bisa menjadi sesuatu yang indah? Raja berkata, “Betul.” Sang penasehat menambahkan, “Tetapi saya juga bersyukur masuk penjara. Karena kalau tidak di penjara saya sudah dipersembahkan kepada dewa.” Bersyukur kehilangan jempol? Senang di penjara? Bersyukurlah kepada Tuhan. Di dalam situasi apa pun bersyukurlah.