Sunday, June 16, 2013

Orang Tua Yang Bertanggung Jawab

Pdt. Yanvantius Tulai, M. Th

Ayub 1
1  Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
2  Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan.
3  Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.
4  Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka.
5  Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.
6   Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.
7  Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi."
8  Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan."
9  Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?
10  Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.
11  Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu."
12  Maka firman TUHAN kepada Iblis: "Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya." Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.
13  Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung,
14  datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: "Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya,
15  datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan."
16  Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan."
17  Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan."
18  Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: "Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung,
19  maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan."
20 Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah,
21  katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"
22  Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

Tanggung jawab orang tua sangat besar. Tidak semua orang tua bertanggung jawab. Itulah yang menyebabkan masalah sosial dalam masyarakat. Ketika bergumul menjadi orang tua yang bertanggung jawab, kita bisa bercermin pada tokoh Ayub. Ayub memiliki kualitas kehidupan rohani yang sangat ideal bagi orang tua. Ia orang yang saleh , jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Kualitas rohani dan moral dimiliki oleh Ayub yakni :

Ayub orang yang jujur dan berintegritas
Alangkah baiknya, bila seorang anak bangga karena orang tuanya beriman pada Tuhan, mempunyai moral yang sangat baik dan jujur. Allah bangga kalau mendengar ucapan itu dari anak kita. Anak akan beribadah dengan sepenuh hati. Ayub seorang yang jujur dan berintegritas. Integritas bersama antara yang dikatakan dan diperbuat tidak berbeda. Banyak orang yang pandai berbicara, bagus kata-katanya, tetapi berbeda dengan perbuatannya. Ada tokoh politik mengatakan “tidak” pada korupsi tetapi orang tersebut kemudian melakukan korupsi. Berarti tidak sama antara yang dikatakan dan yang diperbuat dan orang tersebut menjadi pasien KPK. Jujur itu penting. Jujur membuat orang percaya kepada kita.
Di Tiongkok pernah diadakan sayembara. Raja ingin merekrut pemuda yang berkualitas untuk istananya dengan syarat siapa yang menumbuhkan pohon bunga terbagus di pot bunga itulah yang akan melayani raja. Lalu benih dibagikan kepada para pemuda. Pemuda bernama Chang adalah seorang yang pintar sekali menanam bunga. Ia menaruh tanah di potnya. Bibit yang diberikan sang raja ditaruh di pot, dikasih pupuk, ditaruh di tempat yang cukup cahaya lalu disiram air. Tetapi ditunggu sampai 3 minggu ternyata tidak tumbuh. Akhirnya ia ganti tanahnya, digembur dan benihnya ditanam lagi. Ternyata tetap tidak tumbuh. Pada waktu yang ditetapkan, para pemuda menghadap raja membawa pot masing-masing. Banyak yang bawa pot dengan bunga warna warni. Chang berkata, “Saya minta maaf. Saya telah berusaha menanam tetapi tidak berhasil.” Semua orang mengira Chang pasti gagal. Namun  Raja mengatakan,”Saudara-saudara , justru pemuda Chang ini yang dipilih.” Pemuda lain protes, kenapa bukan mereka? Raja berkata,”Satu malam sebelum memberi bibit bunga, semua bibit saya rebus dalam air yang mendidih. Saya pastikan bunga itu tidak akan tumbuh. Yang lain-lain itu bohong semua karena mengganti bibitnya. Pemuda Chang seorang yang jujur. Saya senang dengan kejujurannya. Maka saya akan merekrutnya”.
Di dunia ini banyak orang pintar, trampil, tetapi yang dibutuhkan dunia adalah orang yang jujur dan benar. Pebisnis yang jujur.  Orang tua yang jujur dan  hidup dengan berintegritas. Ayub orang yang benar dan jujur di hadapan Tuhan.

Ayub berkomitmen memenuhi kebutuhan financial dalam keluarga. (Ayub 1:1-3).
Ayub dikaruniakan 10 orang anak. Keluarganya diberkati. Ia punya banyak sekali kambing, domba dan budak. Itu tidak terjadi secara kebetulan dan tiba-tiba. Tidak ada orang kaya yang mendadak. Mereka berjuang setengah mati.  Mereka bekerja keras. Itulah AYub. Ayub tidak hanya ingin berumah tangga, tetapi ia bertanggung jawab memenuhi kebutuhan finansial keluarganya. Ada orang yang gampang sekali meninggalkan keluarga dan tidak mau bertanggung jawab kepada keluarganya. Waktu pelayanan sebagai gembala, ada bertemu seorang pemuda berusia 16 tahun dan ingin kawin. Calon istrinya berumur 14 tahun.  Setelah menikah, hari-harinya diisi dengan keributan.  Mereka tetangga kami. Suatu waktu setelah pulang pelayanan, saya melihat wajah istrinya biru-biru karena gamparan suaminya yang pengangguran. Mau nikah tapi tidak mau bertanggungjawab. Sewaktu kuliah teologia di Malang, saya pernah pergi ke pasar, mencari tukang tambal sepatu. Ia seorang pria berusia 70 tahun. Saat itu di sampingnya ada anak kecil 2,5 tahun yang tidak punya baju dan celana, ingusnya meleleh, kudisan, perut buncit, dekil dan kumal. Ternyata anak tersebut adalah anak dari istrinya yang kelima. Orang ini memiliki ciri-ciri orang yang tidak bertanggung jawab. Ekonominya tidak baik tapi istrinya banyak sekali. Anaknya itu datang ke dunia tidak mau seperti itu. Ia mau supaya ada makanan dan pakaian cukup, bisa sekolah yang baik. Ayub memberi teladan dan bertanggung jawab bagi keluarga. 

Ayub seorang yang memperhatikan kebutuhan rohani anak-anaknya (ayub 1:5)
Selain bertanggungjawab memenuhi kebutuhan finansial, Ayub juga memperhatikan kebutuhan rohani anak-anaknya. Ia kuatir anak-anaknya berbuat dosa. Setiap hari ia memberi korban untuk anak-anaknya di hadapan Tuhan. Ia memberitakan Injil kepada anak-anaknya. Tidak terlalu menjadi soal bila anak tidak mengetahui tokoh terkenal dalam dunia seperti Tukul Arwana, Arya Wiguna, Eyang Subur atau SBY. Paling dianggap kurang pengetahuan. Tetapi kalau sampai anak tidak kenal Yesus Kristus, itu fatal. Karena tidak kenal Kristus, berarti tidak kenal keselamatan, binasa selama-lamanya. Jadi selain bisa memberikan fasilitas kepada anak-anak, mainan dan sekolah yang bagus, jangan lupa untuk memperhatikan kebutuhan rohani mereka. Membuat mereka beriman. Dalam diri manusia ada kehampaan dan kekosongan. Kekosongan itu hanya dapat diisi Tuhan Yesus saja. Banyak yang berhasil dan kaya, tetapi hidup tidak berpengharapan karena tidak ada Tuhan dalam hidup mereka. Di AS ada penelitian atas keturunan dari Max Jukes dan Jonatan Edward. Max Jukes adalah seorang ateis dan ia juga menikah dengan istri yang tidak percaya Tuhan. Bagi mereka Tuhan tidak perlu, yang penting sekolah dan cari duit. Ternyata keturunan dari keluarga Max Jukes : 310 orang yang mati sebagai gembel, 150 orang penjahat, 7 orang pembunuh dan 100 orang pembauk berat. Selain itu hampir separuh keturunan mereka menjadi pelacur dan 540 orang keturunan mereka menjadi beban negara. Memboroskan keuangan negara sekitar 6 juta $. Di kota yang sama hidup hamba Tuhan yang saleh, J Edwards (1703-1758) yang mendidik anaknya takut akan Tuhan. Keturunan dari keluarga Edwards : 13 orang rekor, 65 profesor. 3 senator, 30 hakim, 100 pengacara 60 dokter, 75 perwira angkatan darat dan laut, 100 penginjil dan pendeta, 60 penulis terkenal dalam disiplin ilmu masing-masing, 80 pemuka masyaratakat dan 195 alumnus universitas yang menjadi gubernur, menteri dan 1 wakil presiden. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh pendidikan kerohanian terhadap keberhasilan keluarga. Ayub selain berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga memperhatikan kebutuhan rohani anak-anaknya. Ada 4 macam orang yakni kaya tapi tidak saleh, saleh tapi tidak kaya, tidak kaya juga tidak saleh dan kaya dan saleh. Ayub kaya raya dan takut akan Tuhan. Kita termasuk yang mana? Masih mending nomor 2 yakni saleh walau tidak kaya. Paling bagus, kaya raya dan cinta Tuhan luar biasa.

Ayub orang yang tegar dalam ujian iman.
Harta habis, anak meninggal. Dirinya kena sakit yang aneh. Itu penyakit borok yang melanda dari kepala sampai kaki. Penyakit Pemphigus Foliaceus. Istri Ayub tidak sayang Ayub lagi, ia minta Ayub kutuki Tuhan dan mati. Nyonya ini model “ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang”. Sudah tahu suami terpuruk , tidak dihibur. Malah disuruh kutuki Tuhan dan mati saja. Padahal saat diteguhkan dalam pernikahan, harusnya terus bersama dalam sehat sakit, seharusnya jangan suami sakit dibuang. Tetapi Ayub tetap tegar. Contoh : Ibu Susannah Wesley – A Godly Mother. Anaknya 19 orang. Setelah suaminya meninggal, ia mendidik anaknya dalam kesalehan dan ada 2 anaknya yang menjadi tokoh kekristenan yakni Charles dan John Wesley. Tiap malam ia membacakan cerita Alkitab untuk anak-anak. Pagi-pagi ia mendoakan anak-anaknya yang 19 orang. Beda dengan nyonya Ayub yang menyuruh Ayub mati. Banyak yang ketika masih muda , dunia bagai milik berdua.  Setiap hari berdua-duaan terus menerus. Tidak bisa berjauhan karena saling mencintai. Apalagi pengantin baru, istri dicium terus. Waktu kulit istri masih muda, diusap dan dicium terus. Bagi setiap calon pengantin, ingatlah bahwa perempuan di samping kamu akan menjadi jelek nanti. Yang penting hatinya. Kalau wajah berubah, kulit sudah keriput,  masih sayang tidak? Waktu suami masih ganteng, senyum menawan, gigi masih utuh, disayang. Tetapi saat sudah rontok satu per satu masih disayang? Seharusnya walau sudah jadi kungkung popo masih saling menyayangi. Masih ciuman. Sudah tua pun perlu ciuman. Dijaga kemesraan itu. Walau tIdak muda lagi, hati saling tetap menyayangi. Istri Ayub , melihat Ayub borok dan bau , harta habis maka habis pula cintanya. Ayub tidak mempersalahkan Allah. Dalam Ayub 2:10, Ayub berkata, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. Karena kesetiaan Ayub kepada Tuhan, Ayub dipulihkan Tuhan (Ayub 41:10-17). Hartanya dikembalikan 2 x lipat. Sahabat-sahabatnya datang, menghibur ,dan masing-masing memberi uang dan cincin. Ia mendapat 7 anak laki dan 3 anak perempuan sama dengan sebelumnya. Itu perlu sikap yang tegar dari orang tua.

Sikap anak terhadap orang tua
1.       Taatilah orang tua di dalam Tuhan, supaya bahagia hidupmu.
2.       Apapun kondisi ortu, hormati mereka . Kel 20:12; Ef 6:2. Apapun kondisi mereka, tetap hormat supaya hidup diberkati. Membantu mereka saat mereka sedang jatuh. Tetap hormat walau mereka bersalah. Roy Marten ditangkap karena narkoba, sikap keluarganya? Gading Martin,”Saya tetap hormat & respek kepada papa. Tetap kagum. Ada kekurangan yang dibuat, tidak mengurangi rasa hormat kepadanya.” Sikap ini membuat Roy Martin bangkit kembali. Maka anak harus hormat orang tua. Juga mama. Karena mama adalah God’s Agent yang telah bersusah payah bertarung dnegan maut. Hormati mereka.
3.       Jangan sakiti hati orang tua. Bawa mereka jalan-jalan. Ada orang yang saat orang tuanya hidup tidak dihiraukan, namun setelah meninggal bakar uang, kertas dll. Ada seorang ibu yang tinggal di rumah dan anaknya laki-laki bekerja. Ibu itu melihat tetangganya makan anggur impor dan dia ingin sekali. Lalu ia memberi tahu anaknya,  “Anakku, tetangga makan anggur rasanya enak sekali, bolehkah belikan mama sedikit? Mama ingin sekali.” Anaknya bilang, “Mama jangan pikir macam-macam. Anggur impor mahal.” Akhirnya si Ibu jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Pagi dan sore sebelum dan sesudah kerja ia besuk. Waktu itu ia ingat mamanya ingin anggur impor. Ia cari kemana-mana , namun tidak ketemu. Akhirnya ia berhasil juga mendapatkannya di sebuah toko buah dan ia membeli 2 kg sekaligus. Dengan  semangat ia membawanya dan berkata,”Mama ingin anggur impor kan? Mama makan ya.” Mamanya menjawab,” Anakku kenapa repot-repot, angur impor mahal.” Anaknya berkata, “Tidak apa demi mama tersayang, saya belikan.” Namun mamanya berkata,”Anakku, saat sakit, apa pun tidak enak. Anggur imporpun tidak enak!” Akhirnya ia tidak bisa mencicipi anggur impor. Maka selama orang tua hidup, perhatikanlah mereka. Jangan mendukakan hati orang tua.

Sunday, June 9, 2013

Kerukunan yang Indah

Ev Suwandi

Maz 133:1-3
1  Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.
3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.
1 Kor 13:4-6
4   Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
5  Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
6  Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Di suatu pulau ada seorang kepala suku yang memiliki 12 putra. Namun sayangnya mereka tidak bersatu (rukun) dan terus bertengkar. Sang kepala suku sangat sedih. Karena bila demikian mereka dengan mudah bisa diserang oleh suku lain. Dia berpikir lama dan akhirnya sakit parah. Dia tahu waktunya sudah tidak lama lagi. Lalu ke-12 anaknya dipanggil ke rumahnya. Ketika mereka datang, dengan suara lembut ia berkata, “Kalian semua pergi mencari 1 buah panah.”  Lalu anak-anaknya pergi dan masing-masing kembali dengan 1 panah. Ayahnya berkata,”Coba kamu patahkan panah ini!” Lalu kedua belas anaknya  mematahkan panah mereka masing-masing. Setelah itu sang ayah memerintah mereka untuk mencari 1 anak panah lagi. Anak-anak ini mendengar perkataan ayahnya dan kembali dengan 1 anak panah lainnya. Sang ayah minta agar semua anak panah itu diberikan kepadanya lalu diikat menjadi satu. Lalu mereka diminta untuk mematahkannya. Satu per satu mematahkannya dan tidak dapat melakukannya. Sang ayah berkata bahwa nasihat dari panah ini adalah agar semua anak-anaknya berkumpul  jadi satu. Ini sangat penting. Saat anak panah tersebut digabungkan, mereka menjadi sangat sulit dipatahkan. Kalau dapat semua anaknya bersatu, mereka dapat menjadi satu suku bangsa yang kuat. Demikian juga orang Kristen, Tuhan mau kita hidup bersatu. Untuk menjadi satu kita perlu kerukunan. Demikianlah dikatakan di Maz 133. Ketika orang Yahudi merayakan hari besar mereka kembali ke Israel, sehingga keadaannya sangat ramai sekali. Jalan-jalan raya menjadi sangat sempit. Beribu-ribu orang ada di sana. Sehingga penduduknya bisa bertengkar dan sangat cepat naik darah. Dengan demikian, Mazmur 133 ini selalu dibacakan dan dinyanyikan untuk mengingatkan bahwa setiap orang Israel adalah saudara. Mereka telah diselamatkan dari Mesir, melewati laut merah , berjalan di gurun pasir dan mendapat perintah Allah dari gunung Sinai. Demikian pula dengan orang Kristen. Latar belakang, pendidikan, cara hidup, suku bangsa, kedudukan kita tidak sama. Tetapi di dalam Kristus kita adalah saudara. Karena kita sudah diselamatkan dari dosa oleh Tuhan Yesus. Maka pemazmur mengatakan, kita harus hidup rukun. Rukun adalah damai. Tidak saling mencela. Tidak ada perdebatan. Rukun tidak ada persaingan dalam jangka waktu yang lama. Kalau mau rukun, di dalam hati tidak ada permusuhan, kebencian, cemburu. Sehingga dalam berhubungan dengan keluarga dan orang lain sangat penting sekali , jangan sampai tidak rukun (timbul pertengkaran / perselisihan).

Pemazmur mengatakan bila bisa hidup dalam kerukunan alangkah indahnya dan baik. Baik dalam kualitas hidup hidup rukun. Ketika kita hidup rukun, itu berarti kebaikan. Bila hidup rukun , kita bisa melihat perkara yang indah. Kita berharap bisa hidup rukun dengan orang lain. Tidak setiap orang bisa hidup rukun. Kita tahu, di dunia ini Tuhan menciptakan kita dengan karakter, sikap dan latar belakang yang berlainan. Maka saat berhubungan dengan orang lain, biasanya akan terjadi perselisihan. Itu adalah hal yang biasa. Apakah kita bisa dapat mengontrol agar dapat hidup rukun dengan orang lain karena kita diciptakan dengan berlainan sehingga rentan terjadi perselisihan. Tuhan menciptakan kita berlainan supaya kita berusaha bagaimana bisa hidup dengan rukun. Tetapi ternyata banyak yang tidak bisa hidup rukun dengan orang lain. Suami tidak rukun dengan istri. Banyak orang tua tidak hidup rukun dengan anaknya. Banyak keluarga tidak hidup rukun dengan tetangganya. Juga dalam gereja. Banyak hal terjadi. Ini karena banyak orang merasa dirinya sombong, merasa lebih baik dari orang lain, tidak perlu ditolong orang lain. Banyak yang egois, apa yang akan dia dapatkan dari hal-hal yang dikerjakan. Karena egois tidak dapat hidup rukun, terjadi pertengkaran selalu merasa diri orang terpenting dan terhebat.  Tetapi pemazmur mengatakan, ketika kita bersatu kita harus hidup dengan rukun. Karena kita saudara seiman, telah ditebus oleh Tuhan.

Bagaimana bisa hidup rukun?
Kita harus mengerti, setiap kita yang sudah ditebus, mempunyai kasih Tuhan. 1 Kor 13:4-6 tentang kasih. Firman Tuhan sering mengajar kita tetang kasih kepada Tuhan dan manusia. Kasih sangat penting adanya membuat kita hidup rukun dengan orang lain. Saat mengasihi orang lain, kita dapat hidup rukun damai. Betapa baik dan indahnya. Selain kasih, kita juga harus mengampuni orang lain. Dengan latar belakang, sikap, pendidikan yang berlainan, terjadi gesekan. Kita merasa orang lain menyakiti kita, dan kita tidak sadar menyakiti orang lain sehingga untuk hidup rukun, kita harus mengampuni orang. Petrus bertanya berapa kali harus mengampuni orang? Biasanya orang Yahdui mengampuni 3 kali sudah cukup. Than Yesus berkata bahwa bukan hanya 3 kali tapi 70x7 yaitu harus  terus menerus mengampuni orang lain. Kita tidak bisa mengampuni orang lain, sehingga tidak bisa hidup rukun. Kita sering menyimpan kesalahan orang lain. Kita tidak dapat hidup rukun dengan orang lain. Kita harus mempunyai hati untuk mengampuni orang lain.
Ketiga, kita tidak boleh memiliki hati yang egois. Filipi 2, kita menjadi hati kita hati Tuhan punya rupa dari Allah. Tetapi dia tidak mempertahankannya. Dia merendahkan dirii, mengambil rupa Allah, taat kehendak Tuhan. Ia sendiri Tuhan. Tetapi Tuhan Yesus mau datang ke dunia untuk mati di kayu salib. Ia bukan orang yang egois. Ia mau rendah hati. Contoh : ada jembatan sempit yang hanya dilalui 1 kambing. Di kiri dan kanan  jembatan ada jurang yang dalam. Kedua kambing berdiri di situ tidak tahu harus bagaimana. Mereka berhenti sebentar. 1 Kambing lalu tiarap duduk saja. Ia memberi kode  agar kambing lainnya melewati badannya sehingga kedua kambing ini selamat. Kalau tidak rendah hati untuk tiarap, kita akan melihat kedua kambing berkelahi dan jatuh ke jurang.
Demikian juga dengan hidup, kita harus rendah hati, menghargai orang lain. Baru bisa hidup rukun. Tuhan tidak mengharapkan kita untuk hidup tidak rukun. Pemazmur berkata, kalau hidup rukun, alangkah baik dan indahnya. Ia mengambil contoh : Harun. Menggambarkan bagaimana baik dan indahnya. Ketika Harun dinobatkan menjadi imam, ketika ia diurapi, dari kepala mengalir ke jenggotnya minyak yang baik dan mahal. Kalau kita hidup rukun, dalam persekutuan, di dalamnya pasti ada sukacita, tentram. Seperti embun di gunung Hermon, turun di gunung-gunung Sion. Gunung Hermon , gunung yang tinggi sekali. Di atasnya ada salju sepanjang tahun. Di sekelilingnya embun yang sangat tebal sekali. Embun ini meleleh, ke gunung yang lebih rendah. Gunung Sion adalah gunung yang sangat kering sekali. Dia mendapatkan air dari gunung Hermon. Gunung Sion dialiri embun dari gunung Hermon dan mengalirkan embun ke bawah lagi. Embun ini melambangkan berkat. Kalau kita bisa hidup rukun, kita bisa melihat setiap kita dapat berkat dari Tuhan.
Kita lihat gereja mula-mula. Mereka berkembang dengan cepat. Banyak gereja ingin seperti gereja mula-mula yang berkembang begitu cepat karena mereka hidup dalam kerukunan. Mereka saling mengasihi. Mereka yang kaya dan memiliki perkebunan, semua dijual dibawa ke rasul-rasul lalu dibagikan ke orang-orang yang membutuhkan. Saat itu tidak ada perselisihan. Tujuannya : mengabarkan Firman TUhan lebih luas lagi. Maka Tuhan memberkati mereka. Terkadang kita bertanya, mengapa Tuhan tidak memberkati gereja kita. Maz  133:3. Sebab kesanalah Tuhan memerintahkan berkat-berkat. Di sinilah Tuhan memberikan berkatNya. Karena mereka hidup rukun. Tuhan sering tidak memberikan berkat yang sebenarnya sudah disediakan. Kita tidak siap hati menerimanya. Di dalam kita masih terus bertengkar. Gereja mula-mula diberkati Tuhan karena mereka hidup dalam rukun dan damai. Kita tidak diberkati, karena kita belum sampai ke tahap hidup dengan rukun.
Saya suka firman Tuhan dan berharap kita semua dapat hidup rukun. Tujuan kita, menyampaikan firman Tuhan. Maz 133 mengajarkan kita agar kita hidup rukun dengan saudara lain. Alangkah baiknya dan indahnya. Tuhan akan memberkati kita.

Monday, June 3, 2013

Mencari atau Mencuri Kemuliaan Allah

Pdt Liem Ie Liong

Yoh 11:1-4
1  Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.
2  Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.
3  Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit."
4  Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan."
Matius  5:16 16  bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."
1 Korintus 10:31  Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
Roma 1:21 Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.
Yes 43:7 semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!"

Orang Kristen yang telah menerima anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus, pasti hidupnya tidak bisa diam. Hal ini berarti dia mau hidup bagi Kristus dan sesuai  dengan tujuan Allah agar dapat memuliakan Allah. Pertanyaannya: Di tengah dunia yang penuh dosa, dapatkah hidup orang Kristen memuliakan Allah?

1.       Manusia Berdosa tidak mungkin hidup memuliakan Allah.
Dalam Roma 1:21, meskipun orang berdosa mengenal Allah, tapi mereka tidak memuliakan Allah sebagai Allah. Semua manusia telah berbuat dan kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Maka tidak mungkin orang berdosa di dalam hidupnya dapat memuliakan Allah. Tujuan Allah yang semula menciptakan manusia segambar dengan Dia, agar manusia dapat memuliakan Allah (Yesaya 43:7).
Perjumpaan orang berdosa dengan Kristus merupakan pengalaman rohani yang tidak terlupakan , di mana ia telah memperolah pengampunan  dosa, ketika percaya dan menerima Kristus sebagai pribadi, menjadi ciptaan yang baru (2 Kor.5:17). Maka sekarang ia menjadi milik Kristus dan Kristus menjadi miliknya. Maka motivasi dan tujuan hidup orang Kristen adalah untuk memuliakan Allah. Pertumbuhan rohaninya  dalam Kristus, pelayanannya bagi Kristus dan seluruh hidupnya bagi Kristus untuk kemulian Kristus. Itulah orang Kristen yang di dalam kehidupannya hanya mencari kemuliaan bagi Allah (Roma 11:36).
Ada satu keluarga suami-istri yang tinggal serumah tapi tidak bicara. Suaminya dibaptis belakangan. Suami-istri ini selalu ribut. Kalau ribut, suaminya diam, tidak mau ribut. Bertahun-tahun, berpuluh tahun, istrinya mengikut Tuhan tetapi dalam kehidupannya, tidak ada perubahan. Setelah beberapa lama dibaptis, ia tidak lagi datang ke gereja. Ia mengatakan, “Bagaimana saya bisa melihat istri saya yang melayani di gereja tapi di rumah selalu marah.” Sampai suaminya meninggal, mereka masih hidup masing-masing.  Ada tukang sayur mengatakan, “Kasihan bapak ini. Beli sayur , masak dan makan sendiri. Bahkan pernah tidak pernah uang, saya kasih sayur.” Suami-istri Kristen ini walau sudah jadi Kristen hidupnya tidak berubah, sama seperti sebelum jadi Kristen. Bagaimana bisa hidup memuliakan Tuhan?
 Ketika berada di dunia,  Yesus memuliakan Allah Bapa, Yesus menyatakan kemuliaan Allah dengan menggenapi apa yang dikehendaki Allah bagiNya (Yoh. 17:4). Jadi Ia berdoa kepada  BapaNya pada akhir dari kehidupanNya: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya. Pekerjaan itu termasuk banyak mujizat semasa hidupNya dan pekerjaan penebusanNya yang final dan agung ketika Ia mati (sudah selesai) dan bangkit kembali. KematianNya dan KebangkitanNya yang  ajaib menunjukkan kemuliaan Allah.

2.       Terang orang kristen bercahaya di depan orang supaya mereka memuliakan Bapamu di Surga.
       Tuntutan agar terang kita bercahaya dalam dunia, bertujuan agar orang memuliakan Bapa kita yang di sorga. Akhirnya, tuntutannya adalah agar kita memuliakan Allah melalui terang kita yang bercahaya yaitu dengan perbuatan baik kita.
Tidak ada apapun dalam alam semesta ini yang lebih berharga daripada kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah adalah sinar yang cemerlang dari nilai yang tak terhingga dari Allah. Ini adalah keindahan moralNya.
Mujizat semasa hidupNya dan pekerjaan penebusanNya yang final dan agung ketika Ia mati (diatas kayu salib Yesus berkata sudah selesai) dan Ia bangkit  pada hari ketiga.
Dan ketika dengan cara demikian Bapa dimuliakan di dalam Anak, maka Allah juga memuliakan Anak di dalam kematianNya dan KebangkitanNya yang ajaib. Bapa dan Anak saling memuliakan satu sama lain di dalam tindakan PENYELAMATAN  bagi manusia berdosa. John Piper berkata: “Tidak ada KASIH yang lebih besar dari pada Kasih Allah yang mempermuliakan diriNya di dalam Yesus demi  kita orang berdosa.
Kita disealamtkan bukan karena kita berbuat baik, tetapi oleh iman kepada Tuhan Yesus Kristus dan keselamatan itu kita terima karena anugerah Allah. Ada orang yang salah mengerti, kalau jadi orang Kristen yang baik supaya menerima keselamatan. Ada pemuda yang belum dibaptis mengatakan, “Tunggu dulu, saya belum mau dibaptis. Kalau saya sudah baik dan tidak berbuat dosa, baru saya mau dibaptis.” Pengertian pemuda ini salah. Dengan berbuat baik supaya bisa menerima keselamatan dan dbaptis. Supaya diselamatkan, Tuhan memanggil kita supaya berbuat baik. Tetapi perbuatan baik, bukan untuk memampukan saya masuk surga. Ukuran perbuatan baik harus sesuai dengan firman Tuhan.

3.       Bagaimana kita dapat hidup yang  memuliakan Allah?
       Hiduplah sedemikian rupa agar orang melihat kehidupanmu dan memuliakan Allah. Terang seperti apa yang dilihat orang lain? Yaitu  Perbuatan baik kita. Bukan perbuatan baik saja, Rasul Paulus berkata: “ Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1 Korintus 10:31).

       Ketika perbuatan baik kita mendapat citarasa dari garam dan cahaya dari terang itu, dunia akan disadarkan untuk  mengecap sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya dan melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, yaitu kemuliaan Allah di dalam YESUS. Tuhan Yesus mengatakan: sasaran kita melakukan perbuatan baik kepada orang lain ialah agar mereka memuliakan Allah.  Pertanyaannya: apakah perbuatan baik yang kita lakukan terhadap sesama,  sungguh untuk memuliakan Allah atau memuliakan diri sendiri (pujian dari manusia bahwa engkau orang  baik). Jadi perbuatan baik kita bukan untuk kemuliaan Allah tetapi kita mencuri kemuliaan Allah , untuk kita dipuji/dihormati. Itu berarti kita telah mencuri kemuliaan Allah, Ketika perbuatan baik kita berfokus kepada diri sendiri, bukan berfokus kepada Allah. Demikian juga ketika kita melayani pekerjaan Tuhan yaitu untuk memuliakan Allah.  Ketika kita melayani Tuhan berfokus pada diri sendiri dan bukan berfokus untuk Tuhan, maka kita telah mencuri kemuliaan Allah.   Mari dalam seluruh hidup kita , sejak kita bertobat dan percaya Tuhan Yesus sampai akhir hidup kita  untuk  memuliakan Allah. Maukah saudara, dalam hidupmu  selalu mencari (motivasi dan tujuan) hanya untuk memuliakan Allah?