Sunday, February 17, 2013

Kasih yang Mula-Mula

Pdt. Heri Kristiawan

Wahyu 2:1-7
1 "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2  Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
3  Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
4  Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
5  Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
6  Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.
7  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."
Wahyu 1:3 Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.

Baru saja kita melihat meriahnya orang merayakan Valentine Day. Hari ini tema kita, adalah Kasih Yang Mula-Mula. Di dalam ramainya perayaan hari kasih sayang, kita seringkali mendengar kisah cinta yang indah-indah. Banyak cerita tentang bagaimana orang mengekspresikan kasihnya kepada orang lain. Namun di tengah banyaknya kisah cinta yang indah, kita juga mendengar kisah cinta yang menyedihkan. Seorang ibu menceritakan dulu ketika pacaran, sang suami begitu sabar dan penuh perhatian. Ketika ia tersandung jatuh, dengan cepat sang pacar (yang kemudian menjadi suaminya) melihat dan berkata,”Sayang, apakah tidak apa-apa?” seraya memijit kaki yang sakit karena terjatuh. Tetapi setelah sekian tahun menjalani hidup berumah tangga, peristiwa yang sama terjadi. Saat ia tersandung dan jatuh, yang dikatakan sang suami, “Kamu taruh di mana matamu?” Ini merefleksikan : di mana kasihnya yang mula-mula yang begitu indah itu? Kasih yang mula-mula itu sudah padam! Itulah  yang terjadi pada jemaat Efesus. Mereka kehilangan cintanya yang semula, Pada kitab Efesus, Rasul Yohanes menulis teguran yang keras terhadap jemaat Efesus.

Latar Belakang Kota Efesus
Kota Efesus adalah kota metropolitan yang menjadi pusat perdagangan di Asia kecil baik melalui darat maupun laut. Kota ini terbuka segala sesuatu, aneka budaya masuk melaluinya. Hal ini bila dibandingkan mirip dengan kota Jakarta. Segala macam budaya asing masuk ke masyarakat Efesus. Tidak heran, bila terdapat praktek penyembahan kepada berhala dan kaisar serta perzinahan pada tempat penyembahan. Di sana ada penyembangan kepada dewi Artemis. Penyembahan berhala dan perzinahan dianggap sebagai hal yang biasa, wajar dan dibenarkan karena dilakukan setiap orang.
Jemaat Efesus menyaksikan (melakukan) kehidupan yang berbeda. Akhirnya Tuhan memberikan pujian pada cara hidup, ketekunan jerih payah dan pelayanan mereka, Secara kasat mata, kehidupan mereka baik. Itu evaluasi secara lahiriah. Bagaimana kesaksian hidup mereka dievaluasi secara rohani.?

Pola Surat Kepada Ke Tujuh Jemaat pada Kitab Wahyu
Wahyu 2:1-7 merupakan surat pertama dari 7 surat kepada para jemaat. Polanya sama. Ada unsur-unsur yang sama. Unsur ini merupakan garis besar untuk memahaminya yang terdiri dari :
1.       Pesan (1a) Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus
2.       Identitas (1b). Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu
3.       Pujian (2-3) Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu….
4.       Teguran (4) Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula
5.       Nasihat (5-6) ancaman kalau nasihat tidak didengarkan. . Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat
6.       Ajakan (7a) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat
7.       Janji (7b) ketika memperhatikan perintah Tuhan: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.

Contoh lain : Wahyu 2: 12-17
Pesan 12a. Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus
Identitas (12b). identitasnya sama dinyatakan dalam cara yang berbeda. : Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua
Pujian (13). Aku tahu di mana engkau diam
Teguran (14-15) Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau
Nasihat (16)   Sebab itu bertobatlah!
Ajakan (17a) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat
Janji (17b) Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi

Kepada 3 jemaat pertama, polanya sama persis. Kepada 4 jemaat berikutnya unsurnya sama, di bagian akhir susunannya berbeda. Janji terlebih dahulu (setelah itu baru ajakan). Tetapi ketujuhnya punya unsur yang sama.

Surat Kepada Jemaat Efesus

Pesan. Tuhan Yesus menugaskan Rasul Yohanes untuk menulis melalui malaikat. Malaikat maksudnya para pemimpin jemaat dan sidang (para pemimpin gereja). Wah 1:19 Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini. Tuhan Yesus memberi kesempatan kepada Rasul Yohanes saat dibuang ke Pulau Patmos (seperti Nusakambangan di Indonesia).

Identitas. Di sana Tuhan memberi penglihatan yang harus dicatat dan diberikan kepada 7 jemaat. Tuhan yang memerintahkan pesan menyatakan identitas sebagai pemegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas. Memegang menunjukkan kuasa Tuhan atas jemaatNya. Tuhan ingin menegaskan bahwa Dialah yang berkuasa sehingga jemaat Efesus menjadi besar, juga menjaga, memelihara dan memperhatikan jemaat. Menjaga dan memelihara segala sesuatu  yang terjadi atas jemaat. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa ijin Tuhan. Dia memberi kuasa sehingga jemaatnya menjadi besar. Bagian ini menegaskan jemaat menjadi besar bukan karena orang tertentu yang berjasa. Semua itu dalam kuasa Tuhan. Tuhan berkuasa menjaga dan memelihara umatNya. Jangan ada, orang yang merasa dirinya yang paling berjasa. Semuanya itu hanya karena Tuhan. Ini menjadi penegasan atas evaluasinya terhadap kehidupan jemaat. Supaya jemaat tidak meragukan Tuhan melakukan evaluasi. Itulah Tuhan yang berotoritas, Maha Tahu yang menjaga dan mengevalusi kehidupan mereka.

Pujian. Evaluasi dimulai dengan pujian (ayat 2-3). Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Kata jerih payahmu menunjukkan betapa mereka telah menggunakan waktunya habis-habisan , mereka telah all-out melakukan pekerjaan tersebut. Kata ketekunan menyatakan kesetiaan mereka sekalipun mereka mengalami penganiayaan. Mereka tetap melayani Tuhan dengan tidak mengenal lelah. Mereka juga menguji semua pengajaran dari rasul palsu (mencobai tepatnya menguji). Setiap pelajaran rasul diuji sesuai tidak dengan pengajaran firman Tuhan. Mereka jemaat yang hebat, setia melayani gereja Tuhan tidak mengenal lelah. Kita yakin mereka memiliki kehidupan yang saleh dan religius, di tengah budaya asing yang masuk di kota itu. Kita mungkin mengandaikan kita sama seperti itu. Saya melakukan pekerjaan habis-habisan. Mungkin sebagai anggota paduan suara mati-matian melakukan latihan untuk menyanyikan dengan baik. Semua aktivis melakukan dengan segenap hati. Yang bisa dilihat orang, semua melakukan dengan semangat yang luar biasa. Mungkin dengan tidak memperhitungkan waktu, untung-rugi. Mungkin jemaat di sini juga sama seperti jemaat di Efesus. Kita semua giat melakukan pekerjaan Tuhan. Semua rela berkorban untuk pekerjaan Tuhan. Secara pribadi, kita menjadi orang setia kepada Tuhan. Di masyarakat, kita bersaksi sebagai oraang Kristen tidak takut ancaman. Di kantor , kita menampakkan identitas sebagai orang Kristen. Di kampus kita bersaksi sebagai anak TUhan. Di rumah tangga, sehari-hari kita, di masyarakat menyaksikan sebagai orang Krsiten Identitas kita di KTP masih sebagai orang Kristen. Semuanya adalah hal yang baik. Kacamata jasmani kita, semuanya baik. 

Teguran. Bagaimana sang Maha Kuasa memberi penilaian?  Bagaimana ketika Tuhan Yesus melihat ke dalam hati kita yang paling dalam? Jemaat ditegur Tuhan Yesus (ayat 4). Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Segala sesuatu yang baik menjadi tidak ada artinya , ketika tidak ada kasih yang semula. Betapa pun baiknya yang dilakukan bila tanpa kasih, sia-sia. Juga bila saya berkhotbah tanpa kasih, tidak ada artinya di hadapan Tuhan. Kasih yang semula yang bagaimana? Kasih yang menjadi ciri saat perjumpaan pertama dengan Kristus. Kasih yang membuat orang berkobar-kobar mencintai Tuhan Yesus dan pekerjaanNya. Kasih yang membuat orang mendedikasikan hidupnya kepada Tuhan.  JIkalau itu tidak ada dalam hidup kita, tanpa kasih hidup kita sia-sia. Kita beribadah setiap minggu dan melayani, tanpa kasih Tuhan tidak ada gunanya. Setia melayani ikut paduan suara, aktivitis tanpa motivasi mengasihi Tuhan, semuanya tidak ada gunanya. Segala sesuatu yang kita lakukan bukan untuk Tuhan, itu pasti untuk diri sendiri. Pasti itu melayani keinginan kita, memuaskan ego kita. Peringatan Tuhan melandasi segala sesuatu dalam kehidupan kita.

Nasihat. Tuhan selain mencela dan menegur , Dia juga memberi nasehatNya. Ayat 5 . 5  Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Kata “ingatlah” muncul mengingatkan kasih yang dulu dimiliki dan yang sekarang tidak ada. “Betapa dalamnya engkau telah jatuh” karena engkau tidak memilih kasih. Ingatlah kembali kasih yang mula-mula. Namun tidak berhenti pada kata “mengingat”, langkah berikutnya “bertobatlah”. Menyesallah pada kondisi yang tanpa kasih mula-mula. Dengan penuh kesadaran , atas segala sesuatu dalam kehidupan. “Lakukanlah lagi” yaitu melakukan segala sesuatu untuk mengasihi Tuhan. Ayat 5 jika tidak demikian, tidak mengingat dan bertobat . maka Aku akan datang mengambil kaki dian Jika seruan tidak didengarkan, Tuhan Yesus akan melenyapakn jemaat yang tidak mengasihi Allah. Bisa jadi, manusia tetap ada tetapi esensi yang tidak ada. Sebenarnya orang ada bisa dilihat secara kasat mata, tetapi secara esensial tidak. Jemaat ini tidak ada gunanya bagi Tuhan. Itu akan dilakukan Tuhan kepada jemaat yang tidak melakukan teguranNya. Jika segala sesuatu yang dilakukan (secara kasat mata dll) jikalau bukan untuk mengasihi Tuhan, Tuhan akan menghapuskan jemaat.

Ajakan (17a) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat. Mendengar dengan telinga rohani dan memahami secara rohani .

Janji. Jika dilakukan maka, Tuhan janjikan : Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah. Jikalau selama ini ,kita menjalani kehidupan tanpa kasih, maka kembalilah kepada kasih yang mula-mula. Supaya janji yang dinyatakan Tuhan digenapkan dalam kehidupan kita. Mengapa diberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus, tempat dimana dulu ada Adam-Hawa. Di Taman Eden sebelum manusia jatuh dalam dosa, tidak ada kesusahan. Yang ada hanya sukacita, kebahagiaan sejati dalam Tuhan. Segala sesuatu yang dilakukan penuh sucakita untuk Tuhan. Adam sebelum jatuh dalam dosa, menikmati hidup dan sukacita dalam Tuhan. Kalau kita taat, maka kita akan menikmati hidup yang sesungguhnya.  Jikalau kita menang mengalahkan motivasi yang tidak benar, menjalani hidup ini untuk Tuhan. Jikalau kasih yang melandasi hidup, maka walau ada hambatan dan tekanan kita tetap bisa hidup. Setiap kita punya kesukaran hidup yang berbeda, pasti kita punya pergumulan sendiri. Di dalam segala sesuatu, pekerjaan dan pelayanan, kita mengalami sukaduka, di situ Tuhan sediakan sukacita yang bisa kita nikmati. Dalam keadaan apapun, kita bisa tetap menikmati hidup. Mari kita kembali kepadaNya, melakukannya dengan penuh kesetiaan dan kasih yang semula. Janji Tuhan itu menjadi bagian dalam kehidupan kita dalam dunia ini.

Tuesday, February 12, 2013

Allah Merindukan Memberkati Umat-Nya



Pdt. Bambang Wijanto

Bilangan 6:22-27
22   TUHAN berfirman kepada Musa:
23  "Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka:
24  TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
25  TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
26  TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
27  Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka."
Yes 66:10-14  
10 Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya!
11  supaya kamu mengisap dan menjadi kenyang dari susu yang menyegarkan kamu, supaya kamu menghirup dan menikmati dari dadanya yang bernas.
12  Sebab beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan.
13  Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem.
14  Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang, dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat; maka tangan TUHAN akan nyata kepada hamba-hamba-Nya, dan amarah-Nya kepada musuh-musuh-Nya.

Tuhan Berinisiatif Memberkati UmatNya
Banyak pendeta mengutip Bil 6:22-27 saat memberi doa berkat. Orang Tionghoa selalu mengharapkan berkat. Waktu berulang tahun di Tiongkok dikatakan, “Semoga kekayaan anda selebar lautan dan umur anda setua gunung.” Ada juga “Semoga tidak ada keburukan yang menimpa kita pada umur berapapun.” Alasannya, kata “umur” terdengar seperti kata “kacau” pada bahasa asalnya (artinya supaya tidak kacau). Itulah bahasa manusia. Kehidupan dikaitkan dengan kekayan dan yang bersifat materi. Itu yang diharapkan siapapun di dunia ini. Apakah harapan seperti ini buruk? Tidak. Allah juga memberikan kekayaan itu untuk dikelola manusia. Tetapi persoalannya, apakah segala ungkapan, harapan atau keinginan itu yang membuat kita mendapat berkat? Tidak! Pada Bilangan 6:22-23 dikatakan “TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka”. Artinya Allah sendiri yang berinisiatif untuk memberkati umatNya. Juga dalam kitab Kejadian. Pada waktu Adam-Hawa diciptakan. Allah menjadikan taman Eden. Semua pohon dan buah boleh dimakan dengan bebas, hanya satu pohon yang buahnya  tidak boleh dimakan. Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.". Semuanya itu Tuhan katakan. Juga Kej 12 pada waktu Abraham akan diberikan visi yang baru ke negeri lain . ayat 16. Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, Demikian juga waktu bangsa Isreal keluar dari tanah Mesir dijanjikan dengan tanah yang penuh berkat.  Itu arti sebenarnya, inisiatif berkat itu dari Allah bukan dari manusia.

Tuhan yang memberi ide dan memberkati umatNya. Dalam kehidupan kita sebagai anak Tuhan kita adalah anak-anak yang pasti diberkati Tuhan, karena Allah punya ide memberkati umatNya. Ini yang harus dipahami. Sehingga waktu mengharapkan berkat itu bukan harapan kita, tetapi Allah merindukan sejak awal untuk memberkati umatNya. Oleh karena itu kita orang yang bersyukur. Kita punya Allah yang seperti ini. Allah rindu memberkati umatNya. Tuhan punya ide (berinisiatif) memberi berkat ke umatNya. Pada kitab Kejadian tertulis,  Tuhan menciptakan Adam-Hawa tujuannya untuk memberi berkat dalam kehidupan mereka. Kalau itu tujuan Allah, maka itu pasti demi kebaikan umat manusia. Akhirnya kita tahu segala sesuatu demi kemuliaan Allah. Karena manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah , berkat diberikan kepada umatNya supaya melalui kehidupan umatNya , nama Allah dimuliakan. Berkat apa yang diberikan dalam kehidupan kita? Tuhan memberkati kita berdasarkan kebutuhan (need) kita bukan berdasarkan keinginan (want) kita.

Uraian Bilangan 6:24-27

A.      Tuhan Memberkati Engkau
1.       Kata Yahweh (TUHAN) dikatakan 3 kali. Memberikan pemahaman bahwa Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus akan hadir dalam seluruh aspek kehidupan manusia secara utuh. Ini artinya Allah merupakan sumber segala berkat.  Ayat 24 ada 3 kata bahasa Yunani, ayat 25 ada 5 kata, ayat 26 ada 7 kata, total  15 – 3 kata Yahweh = 12 kata. Ini menuju ke-12 suku Israel, Ini berkat yang diberikan kepada umat Allah.  Ini tidak diberikan kepada orang lain. Ini berkat yang eksklusif. Berkat yagn diterima sebagai orang yang percaya kepada Allah. Tuhan memberkati engkau seperti di Perjanjian Lama menggunakan kata ini. Mengapa Harun yang harus mengucapkan berkat itu? Karena ia seorang imam. Sekarang ini pendeta yang menumpangkan tangannya. Tapi tidak berarti Harun atau pendeta yang memberi berkat, tapi itu wakil dari Allah. Seluruh inisiatif dari Allah yang menrindukan umatNya.
2.       Berkat yang dicurahkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan yang esensial umatNya. Bukan materi. Itu berkat yang dibutuhkan umat manusia (Allah). Jelas itu berkat yang bukan kebodohan (non esensial).  Berkat yang dibutuhkan secara esensial dan Tuhan yang memberikan.

B.       Melindungi engkau
Kata melindungi berarti melindungi dari yang jahat. Maz 91:1 sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Artinya kita perlu perlindungan bukan saja secara fisik tapi juga dari yang jahat. Kenapa lebih banyak menlindungi dari yang jahat? Itu kebodohan kita. Contohnya : 1 Tim 6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Bagian ini memberikan pemahaman, kalau diberikan berkat , kita bersyukur. Tuhan tidak sekedar memberi berkat / kekayaan itu tetapi memberikan kebutuhan esensial agar kita diluputkan dari kejahatan, supaya kalau diberikan kekayaan, jangan sampai hati cinta uang dan menyimpang dari iman. Sehingga berkat yang diberikan berkat esesnsial yang diberikan kepada umatNya. Tuhan melindungi supaya dalam diri kita tidak timbul kejahatan karena cinta uang. Sehingga kalau menerima berkat, berkat itu begitu utuh. Bukan sekedar mendapat kelimpahan rejeki.  Tetapi Tuhan juga ingin menjaga hidup ini.

C.     Tuhan Menyinari Engkau dengan wajahNya.
Artinya kehadiran Tuhan supaya dikenal umatNya. Waktu Musa dipanggil di padang Midian, ada semak belukar terbakar dengan api yang menyala dan ada sinar yang terang supaya Musa menyadari kehadiran Allah. Di dalam berkat ini Tuhan ingin mengatakan apa? Tuhan dalam kehidupan kita menyatakan kehadiranNya. Kita mampu mengenal kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Supaya dalam seluruh aspek kehidupan kita, kita menyadari Allah Hadir. Ini kerinduan Allah. Kehadiran Allah merupakan kebutuhan esensial dalam kehidupan ini. Waktu bekerja , belajar sebagai siswa / mahasiswa kita membutuhkan Allah, mengajar sebagai dosen/guru membutuhkan hikmat Tuhan dan kehadiran Allah memberikan kehangatan dan keceriaan yang sejati. Inilah kerinduan Allah. Supaya dalam seluruh aspek kehidupan, kita mengenal kehadiran Dia. Itulah yang memberikan kehangatan dan keceriaan sejati. Berbeda dengan yang diungkapkan Amsal 14:13. Di dalam tertawapun hati dapat merana, dan kesukaan dapat berakhir dengan kedukaan. Amsal ini mengungkapkan kalau kita tidak mendapatkan dari Tuhan, maka dalam tertawapun hati sebenarnya merana. Banyak orang tertawa di depan orang lain, tetapi sebenarnya dalam hatinya sedih, merana. Maksudnya supaya kehidupan kita benar penuh kehangatan dan keceriaan.
Maz 4:7-9 (Banyak orang berkata: "Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?" Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN! Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur.  ) adalah aplikasinya. Aplikasi yang punya konteks yang sama, “biarlah cahaya wajahMu menyinari” Ini ada ungkapan yang bagus dalam bahasa Ibrani. Dalam sastra, “kelimpahan gandum dan anggur”, artinya bila orang yang ditanya, apa yang baik bagi kita yaitu kelimpahan gandum dan anggur. Kita tertawa karena kelimpahan panen gandum dan anggur. Tapi pemazmur bilang yang baik bukan itu. Pemazmur berkata, biarlah cahaya wajahMu menyinari kami ya Tuhan. Itulah yang akan memberikan sukacita yang lebih banyak daripada saat kelimpahan gandum dan anggur. Ayat 9, Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman. Inilah yang dikatakan “Tuhan menyinari engkau dengan wajahNya” supaya kita diberikan keceriaan dalam hidup kita. Artinya kalau kita berdoa kepada Tuhan, Tuhan berikan rejeki, berikan kelimpahan gandum dan anggur. TUhan mengatakan, yang Aku berikan itu tidak memberikan rasa aman dalam hidupku. Tetapi kehadiran Tuhan dalam hidupmu yang memberi rasa aman.
Ini yang harus disadari, jangan berdoa “Tuhan berikan rejeki saja.” Itu tidak memberi rasa aman dalam diri kita. Tetapi di sinilah kita melihat Allah merindukan memberi berkat dalam kehidupan manusia. Tuhan ingin agar hidup kita utuh. Sehingga melalui hidup yang aman, kita memuliakan Tuhan.

D.      Dan Tuhan memberi engkau kasih karunia.
Kenapa belas kasihan? Maz 4:7 kiranya Allah menyinari kita dengan wajahNya. Maz 80:4 (Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.). Pengertian ini adalah manusia membutuhkan belas kasihan dari Allah. Kita jangan menggapngap hidup oke saja. Perlu dalam hidup, kita membutuhkan belas kasihan Allah. Dalam keberdosaan, kita butuh pengampunan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita butuh belas kasihan dalam seluruh hidup kita. Ada seorang bapak mengatakan, “waktu saya sombong, saya merasa tidak membutuhkan Allah.” Lalu ia berkata, “Tetapi rasa sombong dalam diri manusia, bukan saja dirasakan dalam manusia, tetapi kata timbul ini secara tidak sengaja.” Hidup normal dan wajar. Kita tidak setiap hari membutuh belas kasihan Allah. Hidup kita sudah ok. Dalam kondisi seperti inilah saya jatuh. Suatu kali saya bertemu anak yang terpisah dari orang tuanya di mal. Ia menangis. Lalu waktu ditanya, orang tuanya ke toko di sana sambil menunjuk ke satu toko. Kami coba mengantar, tetapi saya tahu di toko itu pasti tidak ada. Ternyata memang tidak ada. Ini memberikan rasa aman saja. Kemudian kami pergi ke tempat informasi untuk diumumkan. Kemudian kami titipkan sang anak, tetapi anak itu memegang tangan saya. “Kalau tidak ketemu papa, apakah bapak bisa pulangkan saya ke rumah?” dia bertanya dengan rasa ingin dibelaskasihani. Saya kemudian berpikir, apakah saya juga seperti anak kecil ini di hadapan Allah, sebagai manusia yang perlu belas kasihan Allah?  Tuhan ingin memberikan belas kasihan itu. Karena kita manusia yang patut diberikan belas kasihan. Apakah waktu kita mengaduh kesedihan, hanya sekedar mengaku, bukankah dalam diri kita ada kehancuran hati, membutuhkan pengampuan dengan hati yang hancur? Berkat ini diberikan hanya kepada orang yang memerlukan belas kasihan. Berkat diberikan kepada orang yang hidupnya merasa tidak bisa apa-apa tanpa kehadiran Allah. Itulah ungkapan “kiranya Ia menyinari kita dengan wajahNya”. Aku butuh belas kasihan Allah. Aku butuh berkat Allah. Dan kiranya Dia menyinari kita dengan wajahNya. Itulah artinya Tuhan memberi kasih karunia kepada kita karena kita membutuhkan kasih karunia.

E.       Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu
Secara terminology kalimat ini  artinya : senyum. Hal ini memberikan pemahamaman tentang kasih sayang, perhatian dan kepedulian. Mother Teresa  berkata,”Kemiskinan tidak hanya berarti lapar, ketelanjangan dan tidak punya rumah. Tidak dikehendaki, tidak dikasihi dan tidak dipedulikan adalah kemiskinan yang paling miskin. Suatu ketika Mother Teresa mendengar tangisan bayi dari arah tumpukan sampah. Tidak ada yang mau menghiraukan bayi dalam bak sampah, tapi ia datang dan mencari di tumpukan sampah yang bau. Lalu dengan tangannya ia geser tumpukan sampah. Bayi itu ada dalam tumpukan sampah! Setelah berhasil menemukan, lalu ia mengangkat bayi ini. Wajah bayi penuh dengan kotoran sampah. Tetapi mother Teresa menciumnya. Lalu ia kemudian mengungkapan kata ini ,”Bayi itu tidak punya rumah dan lapar. Bayi itu memang telanjang.” Menurut orang dunia, lapar, telanjang tidak punya rumah merupakan orang miskin. Tetapi Mother Teresa berkata, “tidak dipedulikan, tidak dikasihi. Itulah kemiskinan yang paling miskin”.
Itulah arti Tuhan mengatakan “Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu”. Dia memberikan kasih dan perhatian dalam hidup ini. Itu memberi pemahaam, bila tak seorang pun yang mempedulikan kita, kita masih punya Tuhan yang mempedulikan kita. Artinya yang lebih dalam, dalam situasi apa pun yang kita hadapi, dalam kehidupan seberat apa pun, di dalam semenderita apa pun, Tuhan tidak meninggalkan kita. Tetap dalam penderitaan dan kerumitan , Tuhan peduli dan penuh perhatian kepada kita. Waktu bangsa Israel di padang gurun menghadapi begitu banyak kesulitan, Ia memberkati umatNya, Tuhan menghadapkan wajahNya kepadamu, artinya umat Israel dihibur. Dalam situasi seperti ini, Tuhan kasih, peduli dan perhatikan dirimu.

F.       Tuhan memberikan engkau damai sejahtera.
Kedamaian yang terjadi setelah manusia hidup damai dengan Allah, tetapi sungguh kita bersyukur Tuhan melakukan perdamaian dengan kita manusia berdosa. Yes 66:10-14   Tuhan memberikan damai sejahtera. Tuhan berinisitaif melakukan perdamaian dengan manusia, Tuhan memberi damai sejahtera dalam hidup kita. Damai sejahtera seperti apa? Yes 66 : damai sejahtera yang begitu luar biasa. Bagaimana bayi yang menyusu, menjadi kenyang dengan susu yang menyegarkan. Waktu bayi disusui, digendong, dibelai di pangkuan ibunya. Bayi seperti itu merasa aman. Dia tidak merasa mau dipisahkan dari ibunya. Waktu dibelai, dia merasa kehangatan. Waktu digendong, ia merasakan orang yang memanggul dan memberikan kekuatan dalam dirinya. Kondisi seperti inilah yang diberikan kepada kita menggambarkan damai sejahtera. Kita bayi yang digendong Allah. Dia membelai , memangku kita, memberikan rasa kehangatan dan aman dalam hidup kita. Itulah Allah kita yang luar biasa. Dia melakukan perdamaian dalam hidup kita. Sehingga waktu doa berkat diberikan , TUhan memberikan engkau damai sejahtera. Damai sejahtera kutinggalkan ,kuberikan kepadamu, apa yang kuberikan tidak sama. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Ini yang diberikan Tuhan tidak diberikan dunia padamu. Damai sejahtera itu ditingalkan bagi kita. Fil 4: Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Ini luar biasa. Tuhan memberikan berkat. Itu tidak akan kau peroleh dalam dunia ini. Hanya dari Allah!

G.       Umat pilihan Allah (BIl 6:27)  adalah milik Allah artinya kita tidak boleh melupakan Allah yang telah memberikan berkat. Umat ini yang memperoleh jaminan dari Allah mendapat berkat. Saat dapat berkat seringkali kita tertuju pada berkat itu sendiri. Tuhan katakan jangan tertuju pada berkat itu sendiri, tetapi tujukanlah hatimu pada sumber yang memberikan berkat yaitu Allah. Itulah yang harus dilakukan dan diingat.

Dalam rangka chinese new year ini, mari kita mengenali ajaran Alkitab yang benar. Allah merindukan memberkati umatNya dan biarlah kita menerima berkat bukan berdsarkan keinginan tapi berdsarakan kebutuhan. Demikian juga waktu berdoa. Itu yang memberikan kita damai sejahtera dan memberikan kita kesukacitaan dan kehangatan , keceriaan dalam diri kita. Jangan sampai seperti yang dikatakan Amsal, di dalam tawa hati kita merana. Tetapi kita benar-benar merasakan damai sejahtera. 

Monday, February 4, 2013

Sehati Melakukan KehendakNya


Pdt. Liem Ie Liong

Filipi 2:2
karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
Markus 2:1-12
1  Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah.
2  Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka,
3  ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.
4  Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.
5  Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"
6  Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya:
7  "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"
8  Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?
9  Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?
10  Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu —:
11  "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"
12  Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."
Efesus 6:6-7
jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah,
7  dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.
Fil 1:27
Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil,
Fil 2:5
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,

Pendahuluan

Tuhan mau kita melakukan kehendakNya, ketika kita masih dalam dosa, kita tidak mau taat melakukan perintahNya, sekarang setelah saya menjadi anak-anakNya, kita mau taat melakukan perintahNya atau kehendakNYa.  Tuhan mau kita melakukan kehendaknya dengan segenap hati , Tuhan meminta sikap hati kita. Dalam Efesus 6:6-7, Rasul Paulus mengingatkan kita sebagai hamba-hamba  Kristus yang dengan segenap hati  melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela (sukarela) menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.  Rasul Paulus di sini membicarakan dalam hubungan pekerjaan kita sehari-hari, apalagi kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan seharusnya melayani Tuhan dengan segenap hati. Kita mempunyai  Allah Bapa Surgawi yang begitu mengasihi kita, dan rela mengorbankan AnakNya bagi kita, Bagaimana mungkin kita tidak memberikan yang terbaik bagi Tuhan? Tuhan mau kita melayani dengan segenap hati.

Tahun ini gereja kita mengambil tema ” Sepikir dan sehati Membangun Tubuh Kristus”. Rasul Paulus dalam  suratnya kepada jemaat di Filipi (Filipi 2:2) mengatakan, “Karena itu sempurnakanlah sukacitaku  dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu  kasih, satu jiwa, satu tujuan.”  Dalam suatu gereja terdapat kumpulan jemaat yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, temperamen,  pekerjaan , sifat/karakter, karunia, keluarga, suku bangsa, latar belakang gereja. Hal ini membuat jemaat sehati di dalam melakukan pelayanan pekerjaan Tuhan yaitu memberitakan Injil. Padahal Rasul Paulus karena memberitakan Injil dimasukkan  ke dalam penjara. Di dalam penjara , Rasul Paulus menulis surat untuk jemaat di Kota Filipi, bahwa Rasul Paulus akan memiliki sukacita (sempurnakanlah)  dan ia memerintahkan jemaat Filipi untuk sehati sepikir (hendaklah).

Pengertian Sehati 
Dalam kamus  Bahasa Indonesia,  artinya “Bersatu hati” atau “ seia sekata”. Dalam terjemahan  bahasa Yunani, Filipi 2:2 berbunyi demikian:” Hendaklah kamu mempunyai pikiran yang sama, kasih punyailah, yang sehati-hanya satu (tujuan) pikirkanlah”.
Allah kita sehati. Allah Tritunggal memiliki kesehatian Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, dalam melakukan karya keselamatan bagi manusia berdosa; dalam penciptaan dan pemeliharaan akan dunia ini, beserta isinya, termasuk ketika Allah menciptakan manusia.  Dalam Kejadian 1: 26 dikatakan, “Berfirmanlah Allah: Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa  Kita”
Dalam Markus 2:1-12 ada seorang lumpuh yang dibawa oleh 4 orang sahabatnya dengan tandu untuk meminta pertolongan dari Tuhan Yesus, agar Dia menyembuhkan sakit lumpuhnya. Suatu hari Tuhan Yesus ada di sebuah rumah, di mana ketika Dia mengajar begitu banyak orang  sehingga pintu dan jendela sesak dengan orang banyak yang mau mendengarkan pengajaran Tuhan Yesus. Lalu apa yang dilakukan ke 4 orang sahabat si lumpuh ini?  Mereka memanjat , membuka atap dan barulah bisa menurunkan tilam si lumpuh sampai ke hadapan Tuhan Yesus.  Ketika  Tuhan Yesus  melihat iman mereka, berkatalah Dia kepada  orang lumpuh itu, “Hai anakKu, dosamu sudah diampuni”.

Allah menghendaki kita untuk sehati
1.       Filipi 1:27. “Hanya,  Hendaklah hidupmu berpadanan  dengan Injil Kristus” Hendaklah merupakan suatu perintah untuk apa? “Teguh berdiri dalam satu roh dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari berita Injil”. Allah mau kita sehati, memelihara iman dan menumbuhkan iman.
2.       Filipi 2:5. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, Bukan saja menghendaki kita untuk memiliki hati dan pikiran yang sama dengan Kristus, tetapi juga mencontoh/meneladani hidup dan karakter  Kristus dalam kehidupan jemaat sebagai tubuh Kristus yang terus bertumbuh serupa Kristus.
Dalam bukunya  “Memilih Hidup Serupa Yesus” ,Bill Hull menulis bagaimana seorang Kristen bisa mengalami transformasi iman melalui pemuridan, menjadi seorang murid yang mau taat di dalam kehendakNya. Tujuan  pemuridan adalah  untuk mengenal Tuhan lebih dalam dan dibentuk menjadi serupa dengan gambar Kristus, karena karakter dibentuk dalam komunitas.
Bagaimana jemaat dapat bersehati? Filipi 2:3-4
1.    Ada kerendahan hati.
2.    Tidak egois/mementingkan  diri sendiri.
3.    Tidak mempertahankan status/kedudukan.
4.    Tidak mencari kepentingan sendiri, tapi mengutamakan kepentingan  orang lain.
5.    Taat – rela berkorban.
Kristus Yesus sudah memberikan teladan yang agung dalam penggenapan karya kesalamatan bagi manusia berdosa. Marilah kita meneladani atau mencontoh hidup dan karakter Kristus Yesus, Tuhan kita di dalam kehidupan   berjemaat sebagai tubuh Kristus.
3.       Sehati Melakukan KehendakNya (Filipi 2:2) 
-      Satu kasih,  sehati melayani dengn kasih dan saling mengasihi.
-      Satu jiwa/pikiran, sehati memiliki pikiran yang sama meskipun ada pendapat/pandangan yang berbeda.
-      Satu tujuan- sehati  melakukan pekerjaan  Tuhan untuk mencapai suatu tujuan atau keberhasilan sesuai  yang  dikehendakiNya  bagi  gereja/tubuh Kristus.

Allah menghendaki tubuh kristus sehati. Sehati untuk  melakukan kehendakNya. Agar tubuh Kristus dapat bersehati,  anak-anak Tuhan harus memiliki karakter Kristus. Marilah sehati melakukan kehendakNya yaitu membangun tubuh Kristus. Allah yang menumbuhkan gerejaNya, dan jemaat mau dipakai sebagai alat-alat di dalam tanganNya, menggenapi pekerjaanNya / kehendakNya bagi gerejaNya.