Tuesday, September 25, 2018

“Yahwe/Yehova Tsidkenu” = Tuhan Keadilan Kita

Ev. Natanael

Yeremia 23:5-6 
Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.  Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN  —  keadilan kita.

Pendahuluan

              Setiap kali datang beribadah di gereja, saya selalu berpikir sebenarnya berapa banyak orang yang hari ini beribadah kepada Tuhan tanpa mengalami halangan sama sekali? Kalau menengok keadaan dunia di luar, kita bisa melihat ada orang-orang  yang untuk datang ke gereja saja sangat susah. Mereka datang di bawah ancaman, di dalam segala kesulitan dan berada dalam  hal-hal yang berbahaya. Bahkan ada yang harus berjalan kaki berjam-jam melewati sungai dan hutan baru sampai ke gereja. Sedangkan hari ini kita tidak mengalami hal-hal seperti itu. Kita bisa dengan nyaman datang ke gereja. Masalah dan tantangannya terletak bukan di luar, tetapi berada di dalam diri kita masing-masing. Apakah kita datang ke gereja dengan motivasi untuk mendengar firman Tuhan? Apakah saya haus dan rindu seperti rusa rindu air sungai (Mazmur 42:2)? Jiwa saya ingin dipuaskan sehingga dengan antusias bertanya,”Apakah firman Tuhan hari ini?” Kalau motivasinya seperti itu, hebat. Padahal di luar sana, ada yang untuk mendengar firman Tuhan dan datang ke gereja saja, mereka harus mempertahankan nyawa dan hidupnya. Mereka mungkin akan meninggal atau kalau datang mereka akan  dimakan bintang buas. Tetapi mereka tidak memikirkannya. Apakah saya datang ke gereja untuk mendengar suara Tuhan?

              Hari ini kita akan membahas tema “Tuhan Keadilan Kita”. Bicara tentang keadilan, apa yang ada di benak kita? Kalau berkata “adil” dan “keadilan” apa yang ada dalam pikiran kita?  Mungkin yang kita pikirkan adalah se-level, sama banyak, sama rata, seimbang. Itu baru dikatakan adil. Kita juga berkata, “yang adil dong” (adil artinya sama). Kalau dia dapat sesuatu, saya juga mendapat yang sama. Tetapi pertanyaan-nya mungkinkah dalam kenyataan hidup kita bisa berlaku adil sempurna? Tidak mungkin! Tidak mungkin adil dalam pengertian bisa memuaskan semua orang . Contoh sederhana : ada orang tua memiliki 2 anak dan 1 kue tong ciu pia (kue bulan). Kalau mau adil maka kuenya dibagi 2 potong sama besar sehingga masing-masing mendapat setengah. Tetapi ada informasi tambahannya : usia kedua anaknya berbeda 12 tahun. Kakaknya berusia 12 tahun sedangkan usia  adiknya satu bulan. Bagaimana bisa anak 1 bulan makan kue tong ciu pia? Mana bisa! Jadi apakah adil bila dibagi sama besar? Sulit sekali melakukan adil sempurna sehingga membuat semua orang merasa puas. Yang jauh lebih sulit lagi kalau kita berbicara tentang pembagian warisan. Ada yang berkata,”Wah, dia “bukan anak kami”, mengapa dia medapat bagian?” atau “Tidak adil! Saya kan kakak tertua. Saya seharusnya mendapat lebih banyak.” Lalu adiknya yang paling kecil menjawab,”Memang koko adalah anak yang paling tua, tetapi yang merawat papa adalah saya (anak paling kecil)”. Akhirnya terjadi keributan antara saudara. Bicara tentang keadilan, sungguhkah kita bisa melakukan seadil-adilnya? Kita tidak hanya bicara orang-orang di luar gereja, tetapi juga di dalam gereja sendiri yakni hamba Tuhan dan majelis. Yang satu begitu rajin dan yang lain NATO (no action talk only), ,hanya bicara saja tetapi tidak bekerja. Sehingga ada yang berkata,”Saya nih rajin!”. Bicara tentang kerajinan saja, kita dalam konsep “Iya…ya.. betul ya?”. Tidak bisa! Dalam Pengkhotbah 3:16 dikatakan Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan. Yang benar jadi salah dan sebaliknya, yang penting ada uang. Bersyukurlah dengan ada KPK dan presiden yang baik, sehingga hal ini sedikit lebih reda.

Bagaimana Agar Bisa Mempraktekkan Sikap Adil dalam Hidup Kita?

1.     Kita harus sadar bahwa kita orang berdosa yang tidak mungkin melakukan keadilan dengan sempurna.

Rasul Paulus mengatakan dalam 2 Kor 5:16a Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Sumber keadilan itu berdasarkan bukan dari diri manusia tetapi di luar manusia. Berbicara tentang keadilan, mari kita berpikir bahwa kita manusia berdosa tidak mungkin melakukan keadilan dengan sempurna. Sehingga Rasul Paulus dalam ayat berikutnya berkata, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (ayat 17). Di dalam Kristulah kamu adalah ciptaan yang baru yang tidak lagi melihat seseorang dengan ukuran manusia, tetapi di dalam Kristus. Di dalam Kristus berarti Kristuslah yang menjadi satu-satunya standar di mana kita mengambil keputusan. Bukan lagi berdasarkan diri saya karena diri saya berdosa. Satu-satunya standar saya mengambil keputusan adalah Kristus. Selanjutnya Rasul Paulus mengatakan bahwa mereka tidak lagi hidup dengan diri sendiri, tidak lagi kepentingan diri sendiri tetapi kepentingan orang lain juga. 2 Kor 5:15  Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Berapa banyak kita memikirkan kepentingan orang lain dibanding kepentingan diri sendiri? Kalau untungnya lebih banyak ke saya, baiklah akan saya jalankan. Kalau coan-nya besar, saya mau (yang lain masa bodo). Berapa banyak kita pikirkan kalau orang  lain bagaimana? Adakah kita berpikir seperti itu? Tidak lagi mementingkan diri sendiri tetapi orang lain. Kalau kita berada dalam tahap seperti itu, kita sadar bahwa kita manusia yang berdosa. Manusia yang dilahirbarukan oleh Allah, menyatakan keadilan Allah di dalam diriNya. Allah senang kalau manusia bisa berbagi (share). Kita harus menyadari bahwa yang pertama adalah mintalah keadilan dari Tuhan. “Tuhan, saya tahu saya adalah orang yang berdosa dan tidak bisa bersikap adil  dengan sempurna, saya mohon Tuhan menjadi sumber keadilannya.” Di dalam Alkitab banyak contoh tentang ketidakadilan. Salah satunya adalah Yusuf.
         Kalau diperhatikan perjalanan Yusuf dan kita diberi kesempatan seperti Yusuf untuk bisa membalas kejahatan saudara-saudaranya , maka di dunia ini hal seperti itu adalah hal yang lumrah (dulu kamu membuang dan menganiaya saya, sekarang saya sudah jadi tuan dan penguasa di Mesir). Apalagi Alkitab mengatakan, “Kamu tidak tahu siapa saya sekarang.” Ia adalah adiknya yang sudah menjadi penguasa di Mesir. Dalam kemanusiaan kita, mungkin ini adalah kesempatan. Dengan posisi seperti itu, kalau saya menitahkan seseorang untuk dibunuh, maka ia akan dibunuh atau seseorang saya suruh untuk dipenjarakan, maka ia akan dimasukkan ke penjara. Kakak Yusuf sampai memohon-mohon. Tetapi Yusuf mengatakan, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kejadian 50:20). Sewaktu Yusuf menghadapi ketidakadilan, ia tidak berkata,”Tuhan engkau tidak adil!”. Dia tetap dengan rela dan tulis hati melakukan semuanya itu. Dia melihat ada campur tangan Tuhan berarti ia menyerahkan ketidakadilan ini kepada Tuhan. Ia melihat campur tangan Tuhan di dalam hal ini. “Kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar yaitu Israel!”. Berapa banyak orang yang berpikir seperti Yusuf? Kalau bukan di dalam tangan Tuhan, mustahil Yusuf bisa melakukan hal ini. Berapa banyak dari kita semua yang menyerahkan ketidakadilan pada Tuhan? Menyadari bahwa kita adalah manusia bedosa. Itu adalah hal pertama yang bisa kita pelajari. Sadarilah bahwa diri kita berdosa dan tidak mungkin melakukan keadilan yang sempurna.

2.     Keadilan Allah bersumber dari sifat Allah sendiri. 

Yeremia 23:5-6  Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.   Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN  —  keadilan kita. Perkataan “Aku akan menumbuhkan” berarti sumbernya adalah Allah. Sifat keadilan Allah bersumber dari kebenaran dan sifat Allah itu sendiri. Kalau diperhatikan secara jujur kita sering mengeluh dalam hidup ini. Tidak terkecuali hamba Tuhan. Apa yang dikeluhkan itu pasti hal yang menyedihkan. Mengapa saya menderita sakit ini? Kenapa bukan dia? Herannya kalau mendapat keuntungan, kita tidak mengatakan hal yang sama (mengapa hoki ini datang ke saya bukan ke dia?). Itu saja menunjukkan ketidak-adilan karena manusia tidak adil. Mengapa kalau penderitaan datang kita bertanya,”Mengapa saya? Mengapa bukan musuh saya? Mengapa bukan orang yang menyebalkan saya, mengapa saya?” Yang lebih parah lagi, kita melihat musuh lebih makmur sehingga kita merasa lebih sakit hati lagi. Dongkolnya berlipat ganda (sudah sakit dan tidak punya uang tetapi musuh yang membuat kesal malah sehat dan enak-enakan. Tuhan tolong pindahkan sakit ini ke dia). Berapa banyak kita berpikir, “Tuhan , mengapa berkat ini datang ke saya?” Hari ini kita bisa makan bahkan memilih makakan. Pulang dari kebaktian, kita bisa memilih makanan laut (seafood) karena sudah bosan makan bakmi. Tetapi berapa banyak dari kita yang makan hanya sehari sekali dan itu pun apa adanya. Bisakah kita berkata, “Tuhan berapa banyak hari ini orang yang kelaparan? Berkati mereka juga seperti Tuhan memberkati saya.”?

Saya orangnya baper (bawa perasaan). Kalau saya sedang menikmati makanan yang enak, jangan ada di hadapan saya orang yang memelas. Karena kalau hal itu terjadi, maka langsung selera makan saya turun sehingga saya tidak enak makan lagi. Sekali waktu saya diajak makan oleh seorang asuk-asuk di gereja saya. Dia senang makan. Di Pasar Baru ada makanan yang enak. Sewaktu mengaduk makanan, dia berkata, “Pak Natan, sebenarnya hidup saya lagi kesepian.” Asuk-asuk usianya hampir 80 tahun. Mendengar pernyataannya, langsung selera makan saya turun. Dalam hati saya berkata, “Tuhan bisakah saya jadi penghibur baginya?”
Sumbernya dari Allah. Dia melakukan kebenaran. Apakah kita tunggu sampai terpojok dalam hidup baru mencari Dia? Apakah kita tunggu hingga datang kesulitan baru datang kepadaNya? Apakah kita terlebih dahulu berdoa kepadaNya dibandingkan dengan pengalaman bisnis dan pengalaman hidup kita? Apa yang dilakukan oleh Daniel ketika ia tahu bahwa semua orang bijaksana akan dihabiskan dan dibunuh oleh raja? Daniel tidak mengeluh. Dia tidak datang kepada raja minta tolong untuk dibatalkan seperti “Please, kami akan benar-benar mencari tahu apa yang tuanku raja inginkan.” Firman Tuhan katakan bahwa dia tetap datang kepada Tuhan dan berdoa kepada Tuhan tiga kali. Dia tidak peduli dengan keputusan raja. Dia tidak takut dengan keputusan raja. Ia datang kepada Tuhan menghadap Yerusalem. Berapa banyak di antara kita yang begitu menghadapi masalah, merasakan ketidakadilan dan terpojok, lalu kita mengajak keluarga kita (istri, suami, anak),”Tolong bantu papa-mama berdoa bersama-sama?” Berapa banyak? Ini satu hal yang harus kita sadari bahwa Allah adalah sumber keadilan dan kebenaran.

Setiap kali dalam pelayanan menemui jalan buntu, saya selalu teringat firman Tuhan. Engkau adalah penasehat yang ajaib (Yesaya 9:5). Kalimat itu selalu dalam otak saya. Engkau adalah penasehat yang ajaib. Lawyer saya yang ajaib. Kata “ajaib” yang membuat saya berkata, “Terus Tuhan”. Saya menangani komisi anak dan komisi usia indah. Kadang-kadang saya mengalami kesulitan. Usia saya jauh di bawah mereka. Tetapi saya ingat, “Tuhan engkau adalah penasehat yang ajaib”. Mari berseru kepada Tuhan, Dialah sumber keadilan. Berapa banyak dari kita yang mengarahkan hati, minta didoakan mu-shi atau cuang dao? Mungkin waktu didoakan masalah tidak langsung selesai. Tetapi Dia berjanji bersama kita di dalam masalah dan kesulitan kita. Dia berjanji untuk menghibur dan memberi kesangupan dan kekuatan dalam melewati masalah kita.

Nabi Nehemia juga sama. Ketika mendengar bahaa kota Yerusalem porak poranda dan hancur, dia datang kepada Tuhan dan berdoa ,”Tuhan tolong. Yerusalem hancur. Saya mau ke sana untuk membangunnya kembali.” Apa yang kita lakukan? Ini tantangan untuk kita. Apakah kita mengarahkan hati kita? Begitu kita mendapatkan masalah dan ketidakadilan berserulah, “Tuhan tolong saya”.

3.     Keadilan Tuhan membuat kita memiliki harapan.

Keadilan Tuhan memastikan bahwa kita berada dalam tanganNya. Keadilan Tuhan memastikan kita memiliki kekuatan karena  semua itu dilakukan oleh Kristus. 2 Kor 5:21  Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Dia – nya adalah Kristus. Jadi bicara tetang keadilan, kita mengarahkan hati kita kepada Tuhan, keadilan menjadi kepastian kita. “Tuhan, saya sudah mengarahkan hati saya. Saya sadar bahwa diri saya berdosa dan berada dalam pegangan tanganMu” karena yang melakukan semuanya adalah Kristus. Nabi Yeremia menubuatkan bahwa suatu kali Yehuda akan kembali muncul. Hal ini dilakukan oleh karena kerajaan Yehuda sudah tidak lagi menyembah kepada Tuhan, Allah yang benar sehingga hancur. Maka Tuhan menjanjikan akan menumbuhkan tunas Daud, dan Dia akan melakukan semuanya, yaitu Kristus. Kalau diperhatikan hal yang berikutnya, “Milikilah pengalaman bersama Tuhan”

         Contoh sederhana, kalau saya tidak punya kasih tidak mungkin kita bisa memberi kasih. Kalau kita tidak mengalami Tuhan, bagaimana mungkin membagikannya kepada orang lain untuk memiliki pengalaman besama Tuhan. Tetapi kalau saya memiliki kasih kepada Tuhan dan pengalaman dengan Tuhan, saya bisa membagikannya. Nama-nama dari Allah seperti Yehova Rapha, Yehova Jireh adalah nama-nama yang diberikan oleh orang-orang yang telah memiliki pengalaman bersama Tuhan. Yehova Nissi (Allah yang Perkasa, Panji keselamatan) karena Ia yang berperang bagi saya. Kalau tidak ada pengalaman seperti ini, bagaimana kita bisa melalui ketidakadilan lalu mengatakan “Tuhan itu keadilan”. Tidak mungkin karena kita tidak memiliki pengalaman. Datang ke gereja bukan sekedar untuk absensi. Tetapi saya orang Kristen. Saya datang ke gereja, saya merindukan pengalaman dengan Tuhan. Apa yang disampaikan, mau dipraktekan dalam bisnis, keluarga dan pergaulan saya. Itulah orang yang memiliki pengalaman.

         Tentukan siapa yang menguasai hidup kita. Siapakah yang menjadi raja dalam hidup kita? Uangkah? Jabatankah? Atau apa? Terlalu banyak dari kita mungkin berpatokan kepada hal-hal yang demikian. Banyak uang dapat jabatan. Kalau tidak ada  uang tidak dapat jabatan, kalau begitu sandarkan pada uang saja. Siapa yang menjadi raja dalam hidup kita? Setelah memiliki pengalaman, jadikahlah Kristus sebagai raja kita. Nabi Yeremia menegur bangsa Israel yang berubah sikap karena tidak lagi menyembah pada Allah yang benar tetapi pada ilah yang palsu. Kata “ilah” diartikan kosong atau menjaring angin, usaha yang sia-sia. Tidak bisa kita mengumpulkan angin dengan jaring. Menyembah ilah adalah usaha yang sia-sia tetapi merajakan Kristus adalah sumber keadilan.

4.     Lakukanlah seperti Kristus telah melakukan.

Jangan mengambil hal-hal yang di luar Kristus lakukan. Bagaimana Dia melakukan kepada orang-orang yang tidak adil kepadaNya bahkan sampai mati di kayu salib. Bahkan di kayu salib, Tuhan Yesus berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34). Stefanus juga sama. "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah." (Kisah 7:56) dan "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" (Kisah 7:58) . Sungguh luar biasa. Siapa orang yang mengatakan hal itu  kalau bukan anak Tuhan yang mencintai Tuhan, kalau bukan anak Tuhan yang merajakan Tuhan? Kalau bukan Tuhan yang bertahta dalam hidupNya, tidak mungkin kata-kata itu keluar dari mulutnya. Itulah keadilan dari Tuhan. Milikilah pengalaman dengan Tuhan. Ada lagu Sekolah Minggu berjudul Sdikit Demi Sedikit yang liriknya : S’dikit demi sedikit, tiap hari tiap sifat, Yesus mengubahku, Dia ubahku, sejak ku t’rima Dia, hidup dalam anug’rahNya. Yesus mengubahku. Ref : Dia ubahku, o.. Juruslamat, ku tidak seperti yang dulu lagi Meskipun nampak lambat, Dia mengubahku sampai aku menerima mahkota di sorga. Hari ini kita belajar apa, ya Tuhan? Bila hari ini kita belajar mengampuni maka lakukanlah. Allah telah mengampuni kita. Hari ini kita belajar apa? Misalnya hari ini saya belajar mengasihi, karena Allah sumber kasih kita. Kalau itu ada, mari kita sama-sama berjuang. Mari kita jadikan Dia sebagai  sumber kebenaran dan keadilan kita.

No comments:

Post a Comment