Thursday, September 13, 2018

Gerejamu dan Bangsamu : Tanggung Jawabmu



Pdt. Hery Kwok

Galatia 5:13-15
13  Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
14  Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!"
15  Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Yeremia 29:4-8
4  "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel:
5  Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;
6  ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!
7  Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.


Pendahuluan

              Kamis lalu (16 Agustus 2018) kirab obor (torch relay) Asian Games 2018  etape pertama (5 kilometer) berjalan mulai dari Kantor Kelurahan Tanah Sereal - Jalan K.H Zainul Arifin - Jalan Gajah Mada - Jalan Pintu Besar Selatan - Jalan Pintu Besar Utara - Jalan Kali Besar Barat - Jalan Kunir sehingga polantas melakukan pengalihan arus lalu lintas di Jakarta Barat. Tepuk tangan, teriakan “Indonesia” dan lagu-lagu patriot terkait dengan kemerdekaan menyambut kedatangan pawai obor Asian Games 2018. Anggota komunitas motor gede (moge) mengawali iring-iringan kirab obor Asian Games 2018 di jalan Gajah mada. Warga yang sudah menunggu sejak pagi langsung bersorak-sorai menyambut obor tersebut. Kelompok drum band yang terdiri dari siswa SD pun dengan semangatnya menabuh alat musik yang mereka bawa walau mereka harus menunggu lama. Lagu penyemangat terus dimainkan, hingga obor berpindah tangan ke Devina Yuliandharini yang merupakan  atlet Nasional Renang Indah, dan di bawa ke etape selanjutnya.
Karena saya dan shi-mu tidak mengetahuinya maka sewaktu mau pergi belanja beberapa keperluan bazar gereja di Glodok lewat Hayam Wuruk dan Beos kami dihalangi oleh para petugas. Akhirnya mobil saya parkirkan di Jl. Pinangsia. Begitu banyak orang yang menonton kirab obor tersebut sehingga lalu lintas macet total. Mereka bersorak dan menyanyikan lagu-lagu nasional sehingga suasananya sangat bersemarak. Kami ingin ke Glodok karena mau berbelanja ke toko yang menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga (alat-alat masak). Saat kami tiba, toko itu sedang sepi pengunjung. Biasanya toko itu sangat ramai , sehingga pemiliknya tidak mau melayani pertanyaan para pembeli. Namun hari itu hanya ada saya dan istri. Setelah saya menyapanya ia membuka pembicaraan dengan kalimat, “Sebentar lagi kita akan mengikuti pemilu. Kira-kira pilih siapa ya?” Saya memahami arah tujuan pertanyaannya yang ingin memancing jawaban. Jadi saya menanggapinya,”Kita pilih calon presiden yang memiliki kinerja yang jelas dan telah terbukti mensejahterakan rakyat.” Namun ia sepertinya tidak setuju dan membalas,”Tetapi keadaan ekonomi sekarang sedang sulit dan merosot.” Saya balas kembali,”Yang merosot bukan hanya ekonomi Indonesia saja tetapi juga ekonomi negara-negara lain seperti Singapura dll. Jadi bukan karena gara-gara negara kita dipimpin oleh presiden sekarang.” Dia pun terdiam sejenak lalu berkata lagi,”Tapi hari ini menjelang Asian Games ada pawai obor keliling melewati Glodok membuat toko saya sepi.” Ini adalah contoh orang egois karena hanya memikirkan diri, dagangan dan tokonya saja  dan tidak mau melihat kepentingan bangsa yang lebih besar. Kalau hidup orang-orang seperti ini, bagaimana dengan gereja dan apa jadinya negara?
              Saya pernah berkumpul dengan teman SMA. Dia berkata,”Saya belum tentu pilih presiden yang mencegah korupsi.” Saya pun menanyakan alasannya,”Mengapa?”. Ia pun menjawab,” Karena usaha saya menjadi susah!” Saya pun mencoba mengingatkannya, “Mengapa tidak memikirkan negara jauh ke depan atau memikirkan generasi mendatang tapi hanya memikirkan diri sendiri? Karena bagimu di negara yang bisa korupsi kamu bisa jadi makmur, berdagang dan mendapat keuntungan pribadi!” Seringkali kita melihat kebenaran bahwa apa yang ada dalam diri manusia tentang  rasa mementingkan diri (ego) sangat luar biasa.
              Dalam kitab Galatia, Rasul Paulus ingin memberikan suatu catatan yang sangat penting. Sehingga tema hari ini adalah kita mempunyai tanggung jawab yang tidak boleh kita abaikan. Kedua contoh di atas di mana manusia selalu menuntut hak-hak dan keinginannya. Tapi manusia telah kehilangann dan lupa punya tanggung jawab. Kita punya 2 institutsi yang Tuhan berikan untuk menolong orang yang tidak hanya memikirkan diri , tidak picik untuk golongan-nya sendiri dan tidak mau peduli dengan orang lain yaitu gereja dan negara.

Tanggung Jawab Orang Kristen

1.     Tanggung Jawab kepada Gereja

Apa tanggung jawab kita dalam kehidupan sebagai orang Kristen yang sudah ditebus oleh Tuhan? Apa tanggung jawab kita sebagai gereja yang ditempatkan Allah dalam keberadaan kita?
         Kitab Galatia 5: 13 mengatakan Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat Galatia memberikan catatan-catatan yang sangat keras ke jemaat di sana. Surat Galatia adalah surat yang paling keras karena di sana Rasul Paulus mencela dan mengkritik orang-orang yang Kristen yang hidupnya tidak berpadanan dengan Firman Tuhan dan hanya mementingkan kedagingannya. Itu sebabnya pada Galatia pasal 5 Rasul Paulus memberikan kriteria dan ciri dari orang-orang yang dipimpin oleh keinginan  roh dan keinginan daging. Padahal pada ayat 13 Rasul Paulus mengatakan bahwa  kamu adalah orang-orang yang sudah merdeka. Rasul Paulus menjelaskan tentang status orang-orang yang sudah percaya Kristus yang disebut sebagai gereja Tuhan.
         Ada 2 definsi tentang gereja yaitu yang pertama adalah orang-orangnya yaitu kita  yang telah ditebus dan  dimerdekakan oleh Kristus dari dosa. Yang kedua adalah institusinya. Di sini saya berbicara tentang orang-orang-nya (definisi yang pertama). Rasul Paulus berbicara tentang orang-orang yang sudah dimerdekakan. Rasul Paulus memulai dengan kalimat bahwa statusmu sudah jelas yakni sebagai orang merdeka. Kalau tidak menghargai kemerdekaan , kita tidak pernah bisa mengisi kemerdekaan itu. Kadang-kadang manusia suka ironis dalam kondisinya. Waktu di penjara kita menghendaki kebebasan (kapan saya bebas atau kapan dapat remisi?). Kalau berbuat baik di penjara agar saya pada hari raya dapat remisi dan dipotong masa tahanannya. Anehnya, sewaktu tahanan berada di penjara ingin bebas, tetapi waktu berada di luar penjara dan sudah bebas, orang tidak mengerti arti kekebasan. Artinya kita tidak mengisi kebebasan itu  dengan hal-hal sepatutnya. Maka kondisi ini sangat ironis dan bertentangan. Orang yang di penjara ingin bebas, sedangkan orang yang bebas, tidak memahami kebebasannya dan dia melakukan hal yang baik. Pada ayat 13, Rasul Paulus  mengatakan, “Memang kamu sudah dipanggil untuk merdeka.” Ia ingin mengingatkan bagaimana Allah di dalam Kristus sungguh-sungguh telah melakukan karyaNya yang hebat. Waktu membaca ayat ini, saya teringat injil Matius tentang penggarap kebun anggur. Peristiwa ini dicatat dengan baik oleh Matius. Pemilik kebun anggur mengirim orang-orang upahannya untuk menagih. Orang-orang upahan ini merupakan catatan tentang nabi-nabinya. Allah telah mengirim orang-orang upahannya yaitu nabi-nabinya  untuk datang dan memperingati tentang dosa dan tentang bagaimana mereka harus bertobat, sebagai orang pilihan harus punya kehidupan yang jelas. Tetapi dalam catatan tentang kebun anggur ini, orang-orang itu (para penggarap) membunuh orang-orang suruhan. Lalu pemilik kebun anggur mengirim anaknya yang diharap akan dihormati dan diberi tempat yang baik. Tetapi justru waktu melihat anak majikan itu penggarap-penggarap anggur membunuhnya. Pada ayat 13 (memang kamu telah dipanggil untuk merdeka) Rasul Paulus ingin mengingatkan karya Kristus yang telah sungguh-sungguh menebusmu dan  membebaskan engkau dan telah membuatmu tidak ada lagi dalam kukungan dosa dan terbebas dari kuasa dosa.
         Dalam ayat selanjutnya ia menuliskan ,”Tetapi janganlah kamu menggunakan kesempatan itu untuk hidup dalam dosa”. Kebebasan yang diberikan dalam Kristus, tidak membuatmu melakukan sebebas-bebasnya seperti di dalam hati. Kebebasan kita adalah kebebasan yang terbatas. Para filsuf Barat khususnya Immanuel Kant (1724-1804) mengatakan , “Kebebasan manusia tidak bisa sebebas-bebasnya.” Karena kalau kebebasan manusia dilakukan sebebas-bebasnya maka akibatnya akan mengerikan. Pdt. Stephen Tong pernah berkata ,”Kalau kita berada di jalan raya dan di perempatan jalan tidak ada lampu merah maka setiap orang bisa jalan, nyelonong dan ngebut dari keempat jurusan, maka di perempatan itu akan terjadi kecelakaan yang mengerikan.” Karena kebebasan dilakukan seenak nya. Kita tidak berpikir bahwa kebebasan kita terbatas terhadap apa yang ada di sekeliling kita. Jadi waktu bicara tentang kebebasan, Rasul Paulus berbicara tetang kebebasan yang tidak boleh digunakan untuk kesempatan dalam dosa. Apa maksud dengan  frase “kesempatan dalam dosa”? Ia bicara tentang keinginan daging yang sifatnya untuk kepentingan diri sendiri. Keinginan daging yang membuat kita hidup untuk diri kita.
         Contoh sederhana dari keinginan yang sebenarnya selalu untuk kita. Ada yang senang nyontek karena itu perkara yang paling mudah. Tidak perlu usaha banyak tapi memperoleh hasil sebanyak-banyaknya. Itu adalah ego karena orang tidak mau belajar dengan susah payah tapi mau mendapat nilai. Kita berusaha dengan cara-cara yang tidak bagus karena keinginannya untuk diri sendiri. Itu terbukti banyak sekali.  Beberapa waktu lalu, saya melakukan diskusi dengan teman-teman. Sekarang zaman online yakni zaman di mana  saat mau beli barang kita tidak perlu ke toko, tinggal buka aplikasinya (seperti  Tokopedia, Blibi dll) lalu pesan. Dalam sistem usaha online ada yang bisa diakali untuk mengambil keuntungan. Kemudian ada yang membuka rekening bodong lalu mencoba pesan barang yang sebenarnya tidak ada, agar dapat komisi. Dengan melakukan hal tersebut untuk mendapat komisi (tanpa ada transaksi jual beli) maka itu sebenarnya transaski untuk kepentingan di mana kita melakukan perkara-perkara yang sifatnya untuk ego, memuaskan hawa nafsu atau perbuatan dosa. Maka dikatakan Rasul Paulus agar kita  jangan menggunakan segala kebebasan untuk melakukan hal-hal yang sifatnya dosa.
         Beberapa waktu lalu seorang teman hamba Tuhan ditilang gara-gara melanggar peraturan lalu-lintas ‘3 in 1’ . Ia marah sekali karena merasa rambu-rambu tidak jelas dan  oknum polisi hanya mencari-cari kesalahan orang untuk mencari uang. Sehingga polisi dicap agar bila nanti punya anak perempuan jangan menikah dengan polisi karena polisi adalah aparat yang suka menilang orang, mencari kesalahan orang dan segala macam. Itu gara-gara kesalahan seorang oknum polisi maka semua polisi dicap tidak benar. Sehingga ada yang memberi pernyataan, “Biar saja polisi itu makan duit dengan tidak benar, nanti anak-istrinya akan makan duit yang tidak benar.” Sehingga kalau bisnis kita tidak benar, maka kita sedang memberi anak-istri makanan yang tidak benar yang kata orang “tidak jadi daging”. Karena kita berada dalam kebebasan untuk berbuat dosa. Rasul Paulus mengingatkan kita agar tanggung jawab kita sebagai orang yang telah ditebus, dimerdekakan, melayani seorang akan yang lain. Ia memberikan kita catatan untuk melakukan tugas sebagai gereja yaitu melayani. Karena waktu kita melayani maka kita hidup dalam pimpinan roh. Orang yang melayani adalah orang yang tidak ego terhadap dirinya, tetapi membuka hatinya untuk orang lain dan memberikan dirinya untuk orang lain. Aku ingin ikut ambil bagian dalam apa yang dibutuhkan. Apa yang menjadi kesulitanmu saya ingin ikut ambil bagian. Itu tanggung jawab gereja yang dicatat oleh Rasul Paulus oleh karena kita sudah dimerdekakan. Kalau kita sudah dimerdekakan tetapi tidak menggunakannya dengan melayani maka kita akan menggunakan kebebasanmu untuk melakukan dosa. Karena itulah Rasul Paulus mengingatkan tanggung jawab kita yang sangat baik sekali.

2.     Tanggung Jawab kepada Negara

         Ini merupakan tanggung jawab kita sebagai warga negara. Nabi Yeremia memberi catatan suatu kondisi orang Israel yang berada dalam pembuangan. Orang Israel mengalami dua kali perjalanan exodus. Pertama, perjalanan Israel keluar dari Mesir ke Tanah Kanaan, itu exodus pertama. Saat itu mereka merasa sukacita karena mereka menemukan tanah perjanjian dan mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir. Mereka tidak lagi diperhamba oleh bangsa Mesir. Mereka pergi dengan sukacita karena mereka berada di negara yang dijanjikan Tuhan. Exodus kedua adalah orang Israel pergi ke tanah pembuangan karena dosa-dosa mereka. Itu merupakan masa yang paling susah. Sebagai bangsa mereka sudah kehilangan dirinya. Sebagai orang Yahudi, nilai mereka sudah habis dengan musuh mereka. Di tempat pembuanganlah ada nabi palsu yang mengatakan bahwa kita akan pulang dan Allah memberi kelepasan lagi . Allah mengatakan itu adalah janji-janji yang palsu. Pada kitab Yeremia 29:8 dikatakan  Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan! Karena mereka adalah nabi-nabi palsu maka kamu tidak perlu mendengarkan mereka.

Waktu di orang-orang Yahudi ada di negara pembuangan Tuhan ingin mengingatkan :

1.     Hidupmu ada di negara yang memang Aku berikan sebagai konsekuensi dosamu.

Kamu harus menanggung dosamu dan kamu berada dalam pembuangan di mana engkau menanggung semua kesalahanmu. Di sanalah engkau harus berdiam diri dan hidup sebagai bangsa yang terjajah. Pada ayat ke-8 dikatakan “Sesungguhnya firman Tuhan : Jangan kamu diperdayakan oleh nabi-nabi”. Ayat ini ingin mengingatkan bahwa realita hidup di mana Allah taruh engkau di mana saja adalah realita yang harus engkau jalani.  Orang Israel tidak mau menerima realita bahwa mereka dijajah. Itu sebabnya mereka ada yang mau pulang dan kembali dan Tuhan marah dengan orang-orang seperti ini. Saya ingin menghubungkan dengan realita di Indonesia. Suku Tionghoa, Jawa , Batak adalah orang Indonesia. Kita hidup di Indonesia yang beraneka ragam dan pluralisme. Itu sangat kental dalam perjalanan hidup kita berbangsa. Kita mungkin sebagai kelompok yang menganggap diri orang-orang minoritas. Seringkali mungkin ada perasaan-perasaan di mana kita berontak dan tidak menerima, tetapi itu adalah realita.  Saya senang dengan ayat ini karena Nabi Yeremia mengingatkan tentang realita di mana kita ditempatkan adalah bukan kebetulan. Tuhan tidak pernah menempatkan kita secara kesalahan atau kebetulan . Kita dilahirkan sebagai orang Indonesia , itu adalah rencana Allah untuk kita. Waktu kita ditempatkan sebagai bangsa Indonesia dan kita adalah orang percaya kepada Kristrus , mungkin kita adalah kelompok sangat kecil. Tetapi realita ini tidaklah membuat kita tidak memiliki peran dalam negara ini. Karena itulah Nabi Yeremia mengingatkan realita ini terlebih dahulu agar realita ini jangan sampai membuat kita tidak membuka diri atau tertutup atau membenci. Berapa lama kita menjadi orang-orang yang membenci orang-orang sebangsa kita. Berapa lama kelompok minoritas merasa yang kemudian memikirkan hal-hal negatif kepada bangsa ini. Waktu kemarin penetapan cawapres dan capres mendatang ada beberapa komentar muncul, di antaranya, “Apa masih mau golput seperti pada pilkada?” Ternyata waktu pilkada lalu, banyak yang memilih sebagai golput (tidak memilih). Siapa yang golput? Apakah kita dari suku etnis Tionghoa? Ini perkara penting. Kalau golput kita hilang telah kesadaran bahwa kita hidup dalam realita di bangsa ini sehingga kita tidak mau menerima realita itu. Nabi Yeremia mengingatkan agar sebagai orang-orang yang dibuang engkau harus bisa menerima  realita ini baru engkau bisa berkarya. Kalau tidak pernah menerima maka engkau tidak akan bisa berkarya di suatu tempat di mana engkau ditempatkan Tuhan.
Apa tanggung jawab kita sebagai warga negara di negara Indonesia. Pada ayat 5:4-6 Nabi Yeremia tidak bicara muluk-muluk (engkau akan menjadi politikus atau anggota DPR). Dia bicara tentang hal sederhana, tentang kontribusi orang Israel yang ada di Babel. Apa kontribusinya? Engkau harus bekerja keras di mana engkau bekerja atau berdagang maka jadilah karyawan atau pedagang yang baik , maka kontribusi sebagai tanggung jawab Yahudi di pembuangan “engkau harus bekerja keras”. Realitamu  membukakan bahwa engkau ada di sini , dan engkau tidak boleh berdiam dalam berkarya. Melalui apa? Melalui bekerja keras. Tanggung jawab kita sebagai bangsa Indonesia adalah kerja keras. Kerja keras inilah yang sudah mulai menghilang dalam zaman yang sekarang kita hidupi. Orang lebih senang dapat banyak uang tanpa perlu berlelah-lelah. Orang ingin cepat dapat uang tapi tanpa berkeringat. Mental ini adalah mental budak dan mengerikan. Mental ini masuk ke gereja dan masuk ke orang-orang Kristen. Ada banyak orang Kristen yang tidak mau bekerja keras tapi mau enak dan uang banyak. Ada banyak orang Kristen yang bekerja lalu berhenti, kerja lagi terus berhenti lagi  dan terus begitu. Itu mental yang tidak mau bekerja keras.
Saya hidup saat ekonomi  sedang susah. Papa saya orang susah. Dari kecil  saya menenteng es untuk dibawa ke kantin. Itu pekerjaan yang memalukan karena teman-teman saya melihat saya membawa es. Tetapi papa saya hanya berkata, “Kalau kamu tidak mau bekerja keras, maka lebih baik kamu tidak hidup.” Kata-kata ini luar biasa karena membentuk saya untuk tidak menyerah terhadap kondisi. Saya berani untuk terus bekerja karena itulah yang ditanamkan dalam diri saya. Nabi Yeremia berkata, “Usahakanlah tempat di mana engkau berada.” Ia bicara tentang kerja keras yang harus kita lakukan di bidang masing-masing. Kita tidak usah-usah muluk seperti ingin membela bangsa dan lain-lain. Bekerjalah dengan baik. Saat bekerja sebaik-baik, punya keluarga baik, tidak menyusahkan lingkungan dan tidak menjadi beban negara. Itu sudah baik.  Tetapi sepanjang kita tidak bekerja keras, dan engkau menjadi keluarga yang merepotkan dan menjadi beban negara, maka itulah yang menjadi bahaya .
Saya beberapa kali bergurau dengan orang-orang yang taraf ekonominya rendah tapi anaknya banyak. Saya suka berkata,”Bu tidak dipikirkan mengapa punya anak lagi?” Jawabannya mudah,”Habis kebablasan Pak” jawabnya santai. Maunya tidak tapi akhirnya dapat.” Untuk mencari makan saja susah tetapi anaknya terus lahir. Saya terkadang berpikir,”Kita maunya apa? Tidak mau kerja keras tetapi anak maunya banyak dan duit maunya banyak” Ini mental budak. Nabi Yeremia mengingatkan “Engkau berada di negara Babel dan engkau harus tetap bekerja keras!” Mari pikirkan semangat ini. Karena semangat ini lahir dari Kitab Suci. Semangat di mana engkau ada dengan realitamu dan engkau  terus bekerja keras.

2.     Harapan akan hidup yang lebih baik.

Dalam ayat 5-6 Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;  ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Ayat-ayat ini berbicara tentang harapan untuk hidup yang lebih baik. Waktu orang percaya yang bekerja-keras punya harapan, punya sesuatu di mana engkau percaya terhadap apa yang akan Allah buat, itu akan membuatmu menjadi orang-orang yang punya mental kuat menghadapi tantangan. Ini sebenarnya modal yang bisa diberikan kepada bangsa ini. Ketika engkau mempunyai spirit yang kuat dan punya pandangan tentang masa depan yang bisa diyakini di dalam Tuhan maka engkau akan menjalani hidup itu dengan luar biasa. Menjalani hidup dengan luar biasa inilah adalah sebuah upaya yang bisa diberikan kepada bangsa ini karena engkau bisa berkontribusi untuk bangsa ini dengan baik.

Mari pikirkan apa yang engkau bisa perbuat untuk gereja dan negaramu. Karena kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan oleh Tuhan.

No comments:

Post a Comment