Thursday, September 13, 2018

Keluargamu Ladangmu






Ev. Susan Kwok

Keluaran 2:1-10

1  Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi;
2  lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya.
3  Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil;
4  kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.
5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya.
6  Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: "Tentulah ini bayi orang Ibrani."
7  Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?"
8  Sahut puteri Firaun kepadanya: "Baiklah." Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu.
9  Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu." Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya.
10  Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air."

Pendahuluan

              Tema hari ini : “Keluargamu adalah Ladangmu”. Berbicara tentang ladang di tengah keluarga bukan sekedar berbicara tentang penginjilan, namun kita berbicara tentang banyak hal termasuk penginjilan yakni  bagaimana bila ada anggota keluarga yang belum mengenal Tuhan dan kita harus punya beban dan kerinduan untuk mendoakannya. Dengan perkataan lain, hal ini bisa berbicara tentang bagaimana kita mempunyai konsep keluarga yang bernilai dan juga bagaimana kita melihat keluarga kita sebagai sesuatu  yang Tuhan percayakan untuk kita garap, gali dan temukan mutiara-mutiara rohani di dalam keluarga. Jadi kita bukan berbicara tentang sesuatu yang sepele (jauh yang tidak bisa kita jangkau) tetapi sesuatu yang sangat sederhana yang ada di depan kita. Setiap kita pasti punya keluarga. Bagi yang belum menikah pasti punya orang tua dan saudara. Bagi yang sudah menikah mungkin sudah punya anak. Atau ada yang sudah berpacaran dan berencana ingin menikah. Terdapat begitu banyak permasalahan dalam keluarga. Ada keluarga yang sudah mengenal Tuhan dan ada keluarga yang anggotanya belum mengenal Tuhan. Ada keluarga yang tabiatnya berbeda-beda  Berbicara tentang keluarga itu berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kita.

Beberapa Keadaan Keluarga Kristen

              Pengalaman ini saya temukan sepanjang pelayanan dan kehidupan saya dan terjadi di tengah keluarga Kristen. Sebagian contohnya membuat saya merasa khawatir dan sedih, tetapi ada juga contoh yang menguatkan. Itulah hidup, ada yang baik dan tidak baik. Dari yang tidak baik kita bisa belajar jangan seperti itu dan dari yang baik kita belajar bagaimana kita bisa seperti itu.
              Saya mengenal seorang bapak yang menjadi aktivis di gereja. Awalnya saya mengetahui  ia seorang yang mencintai keluarganya (istri dan anaknya). Tetapi perjalanan waktu membuatnya berubah. Ia tertarik dan jatuh cinta pada seorang janda (non Kristen) lalu ia hidup bersama (samen leven) dengannya dan  meninggalkan istri dan anaknya. Secara organisasi , saya dan mu-shi tidak ada kaitan dengannya, tetapi secara pertemanan ada.  Sehingga ketika diminta tolong untuk mengunjungi orang tersebut, kami coba mengunjunginya walau tempatnya jauh dari Jakarta. Kami berusaha datang mencari setelah Mu-shi pernah bertemu dengannya secara tidak sengaja. Lalu secara sengaja kami datang membesuknya. Waktu pagi kami datang, pintu rumahnya digembok. Lalu siang hari kami datang lagi dan ternyata masih dikunci. Demkian juga sore hari kami datang lagi dan masih dikunci juga. Saya berkata dengan kesal, “Kita buat kemah saja di depan rumahnya, agar bisa tahu kapan dia pulang! Jangan-jangan dia berada dalam rumahnya.” Kami pun bertanya ke tetangga , “Apakah ada orang di rumah itu?” tetapi tetangganya juga tidak tahu. Saya merasa yakin pasti ada karena waktu kami  datang pada siang hari lampu rumahnya tidak menyala tetapi waktu kami datang lagi pada malam hari lampunya sudah menyala. Siapakah yang menyalakannya? Saya juga tidak tahu apa dia menggunakan lampu otomatis yang menyala saat gelap. Tetapi bisa saja ia ada di dalam. Jadi saya berkata,”Mu-shi , besok pagi-pagi kita datang fajar-fajar agar bisa melihat pukul berapa dia keluar rumah”. Tetapi tetap saja ia tidak keluar-keluar. Ia tidak mau berelasi lagi dengan teman-teman lama. Sangat menyedihkan karena ia aktifis. Dulu saya pernah menegurnya satu kali. Saat itu ia menjadi majelis di suatu gereja tetapi ia paling bisa menemukan kesalahan-kesalahan orang lain. Kesalahan yang tidak bisa kami temukan, dia bisa temukan. Dia punya ‘talenta’ seperti itu. Jadi saya pikir orang ini ada sesuatu yang Tuhan ingin dia urus. Dia tidak boleh lari dari permasalahan. Itu inti dari maksud kami datang yaitu agar dia jangan lari dari permasalahan tetapi harus hadapi dan selesaikan bagaimana caranya. Saya juga tidak tahu bagaimana caranya, yang penting kami bertemu dahulu. Tetapi ia tidak mau menemui. Jadi sangat tragis. Sampai hari ini, istrinya banting tulang sendiri dan tidak ada komunikasi.
              Contoh kedua. Seorang teman yang lebih tua sedikit usianya dari saya dan sudah memiliki anak.  Ia berkata terang-terangan,”Anak saya akan saya kuliahkan di Universitas A!”. Saya berkata,”Wow!” Karena universitas yang dipilih itu adalah universitas yang beken, keren, dan mahal. Banyak pejabat, pengusaha dan  orang kaya yang menyekolahkan anak-anaknya di sana.” Saya bertanya,”Mengapa harus di sana? Bukankah di sana lokasinya jauh? Mengapa tidak cari dekat sini saja yang bagus? Di sini juga banyak yang bagus” Ia menjawab, “Itu modal untuk anak saya bisa bertemu anak orang keren dan terkenal. Bertemu anak pejabat dan pengusaha. Siapa tahu suatu hari ia akan kenal dan berpacaran , lalu kenalannya itu menjadi suaminya sehingga saya menjadi tenang.” Saya terdiam , bingung dan bertanya-tanya dalam hati,”Ini sebenarnya sedang meminta anaknya sekolah atau yang lainnya?” Mengapa ada orang yang punya konsep seperti ini? Mungkin ada juga yang lain tetapi dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Saya tidak mengerti karena orang tua tidak melihat anaknya sebagai anggota keluarga yang harus diurus dengan benar, tetapi lebih mirip sebagai modal yang nanti suatu hari harus dikembalikan dengan bunganya. Bagaimana kalau nanti yang jatuh cinta pada anaknya bukan dari kalangan di sana? Mungkin anaknya bisa ‘digorok lehernya’! Cinta mana bisa dipaksa? Apalagi anak sekarang, maunya bebas.
              Contoh ketiga. Saya punya seorang kenalan. Usianya jauh di bawah saya. Setelah  beberapa saat menikah, ia berkata, “Waduh shi-mu, saya baru tahu orang Protestan seperti itu.” Saya merasa heran,”Mengapa?” Apa maksudnya berbicara seperti itu (menyebut Protestan). Ia beribadah di Gereja Betel, aliran karismatik dan ia senang ke JPCC. Saya melihat foto pernikahannya. Ternyata suaminya tampan sekali. Tetapi tidak lama kemudian, usia pernikahannya tidak bertahan lama. Hanya 3 bulan! Hanya seumur jagung ia sudah bercerai karena permasalahan yang sangat luar biasa. Di hari pertama menikah, waktu membersihkan dandanannya dia masuk ke kamar mandi. Di sana ia menjadi bingung melihat suaminya punya peralatan make-up yang lebih banyak dari dia sendiri. “Ini apa?” tanyanya kepada suaminya. Suaminya pun menjelaskan,”Ini sabun muka. Ini sabun tumit. Ini sabun tangan. Ini lotion untuk ini-itu.” Jadi dari hari pertama ia sudah curiga. Ternyata suaminya adalah pecinta sejenis. Suaminya terpaksa menikah karena dipaksa oleh keluarganya, karena kalau tidak menikah maka harta warisan tidak jatuh kepadanya. Suaminya memang keturunan orang kaya luar biasa. Kenalan saya itu berkata, “Saya bingung dengan orang Protestan. Ia aktif di gereja , mengapa bisa begitu?” Ia mencoba menarik jarak antara Protestan dan non Protestan (bicara tentang organisasi). Lalu apalagi? Ia berkata,”Seminggu sesudah kami menikah, mertua saya ribut. Saya bingung. Papa-mama saya sendiri saja baru masuk gereja. Padahal mereka majelis di gereja yang sangat terkenal. Yang membuat terkejut, hari ketiga selesai kami menikah, papa mertua ribut dengan istrinya. Mereka saling teriak di dapur. Yang membuatnya terkejut adalah istrinya sedang mengejar suaminya membawa pisau dapur sambil keliling-keliling seperti ke kamar, ke dapur dll. Saya merasa heran,”Yang benar?” Dijawab,”Benar!” Jadi waktu ribut pada hari ketiga , istrinya memakai pisau. “Apa mungkin sedang emosi saja kali? Berikut-berikutnya bagaimana?” saya bertanya lagi. “Sama!” tegasnya lagi. “Pokoknya, apa yang ada di rumah, mau pisau, garpu atau apa pun bisa menjadi senjata kalau ribut!”. Padahal ia adalah aktifis dan majelis. Artinya, mereka orang yang seharusnya menunjukkan bagaimana seharusnya Kristus hidup di tengah keluarga tetapi kenyataannya tidak demikian. Ini cerita yang sangat tidak enak.
              Contoh keempat. Cerita yang sangat indah yang saya rindukan terjadi di tengah keluarga kita. Kalau ada suatu keluarga yang konsisten, di minggu malam dikumpulkan anak-anaknya untuk sharing. Padahal anaknya ada yang SMP, SD dan TK besar. “Hari ini lao shi cerita apa di Sekolah Minggu? Hayo coba cerita!” mamanya bertanya seperti itu kepadanya anaknya di TK besar.  Untuk anaknya yang sudah SD dan SMP ditanya yang berbeda, “Hari ini dengar firman Tuhan apa? Yang kamu pelajari apa? Tadi di sekolah, kamu ganggu teman tidak? Ada PR tidak?” Mamanya selalu aktif bertanya dan terakhir papanya menutup dalam doa. Suatu persektuan keluarga yang sangat sederhana. Kemarin waktu kami ke Malang, saya berbicara dengan keponakan saya ,dia punya teman namanya Hansel. Anaknya lucu sekali dan sama sekali tidak tampan. Ia masih kelas 2 SD. Saya bertanya, “Hansel, kamu kalau jadi besar mau jadi apa? Kamu mau minta apa?” Ia menjawab,”Mau operasi plastik!”. Saya bertanya, “Hah? Kamu mau minta operasi plastik? Mau apa kelas 2 SD operasi plastic? Ada juga bintang film Korea yang operasi plastik.  Mengapa begitu?” “Saya mau menjadi handsome seperti Abi.” Mendengar hal ini Abi , keponakan saya, tersenyum-senyum malu. Saya terus berkata, “Hansel, bukankah papa-mama mu tidak punya uang? Kamu sangat cakap dan tampan” Dia berkata, “Tidak! Papa-mama saya tidak pernah berkata begitu.” Lalu mu-shi mencoba membesarkan hatinya,“Walau papa-mama mu tidak berkata begitu, tetapi kamu adalah ciptaan Tuhan yang berharga dan luar biasa. Tuhan Yesus mati untukmu…. Dan seterusnya” Dia bertanya, “Abi mengapa pamanmu kalau bicara selalu back to the Bible seperti mamamu?”. Mendengar perkataannya itu, saya bukannya mau membesarkan atau memuji. Ternyata kakak ipar saya kalau bicara ke anaknya suka bicara  back to Bible. Maka dia bisa berkata “Mengapa paman kamu bicara seperti mama kamu yang selalu apa-apa baliknya ke Alkitab?” Pertanyaannya, waktu kita punya anak kecil sampai dia besar dan tua sekalipun, pernah tidak ia mengeluarkan pernyataan seperti begitu, “Kok selalu baliknya ke Alkitab ya?” Ini kalimat yang positif. Dia bisa berkata seperti itu, karena setiap hari ia mendengar dan diajar oleh orang tuanya tentang Alkitab. Sehingga isi Alkitab , pembicaraan Alkitab dan kalimat-kalimat positif tidak asing di telinganya. Itu membahagiakan dan melegakan di tengah-tengah cerita yang cukup tragis di atas.

Belajar dari Keluarga Musa

              Setiap keluarga punya salib dan permasalahan sendiri. Kita tidak bisa berkata, “Keluarga saya lebih susah dari yang lain  karena setiap keluarga punya takaran sendiri.” atau tidak bisa juga berkata, “Keluarga itu lebih berbahagia dari keluarga saya, karena semua keluarga punya hal-hal yang diberikan oleh Tuhan masing-masing.           Oleh karena itu kita ingin belajar dari Musa. Tidak seorang pun yang tidak mengenal Musa.

1.     Iman Keluarga Musa

Harun, Miryam dan Musa , ketiga bersaudara dilahirkan Yokhebed (mama Musa) dan Amram (papa Musa) yang keturunan imam. Yokhebed dan Amram keturunan imam dan keturunan dari Abraham, Ishak , Yakub dari suku Lewi. Mereka adalah keluarga yang secara pelayanan tidak asing. Musa adalah tokoh yang lahir di tengah situasi yang sangat sulit. Pada Kel 1:22, Firaun sudah memberikan perintah, oleh karena takut suatu hari nanti secara politik, jumlah SDM mereka kalah banyak dengan bangsa Israel. Karena ternyata Israel (Yahudi) berkembang dengan sangat pesat dan ditolong Tuhan. Sehingga di tanah Gosyen, jumlah mereka lebih banyak dari orang Firaun. Firaun pun mengeluarkan titah bahwa semua anak-anak lelaki yang lahir bagi orang Ibrani harus dibuang ke dalam sungai Nil (dibunuh). Singkatnya, Musa lahir di tengah situasi politik yang sangat suram dan keras. Pemerintah di dalam keputusan yang sangat keras, tetapi satu hal Allah tidak pernah salah menempatkan seseorang. Mau di zaman yang keras maupun gampang, Allah tidak pernah salah menempatkan anak di keluarga. Keluarga kita hari ini berlawanan , bermusuhan atau menghadapi pertentangan mungkin bukan dengan cara seperti Firaun tetapi dengan medsos, handphone dan segala macam , sepertinya tidak pernah lepas dari itu. Terkadang saya suka berpikir : Mengapa kita tidak bisa melawan dan berhasil memeranginya. Mengapa keluarga Kristen tidak berhasil melawan atau berhasil mengatasinya? Mengapa keluarga Kristen tidak berhasil menjadi pemenang ketika berbicara tentang penggunaan teknologi . Mengapa malah sebaliknya keluarga Kristen dipecah belah dan dijauhkan dengan kemajuan teknologi? Tidak ada satu orang yang mau bayar harga untuk benar-benar berkata, “Sekarang saya tidak mau pakai handphone karena sedang makan dengan orang tua.” Tidak ada! Orang tua cuek dan anaknya cuek dan itu perlawanan kita hari ini. Kita tidak sedang menghadapi peraturan pemerintah yang mengatakan GKKK tidak boleh beribadah di hari Minggu. Tetapi yang dihadapi adalah bagaimana keluarga Kristen tidak menjadi berkat satu sama lain, kehilangan hal-hal indah dalam gereja dan sosialisasi dengan jemaat, kehilangan hal-hal indah dalam beribadah karena ditundukkan oleh alat-alat seperti itu.
         Kemarin saya pergi dengan mu-shi, karena Lelah mau pijat dan makan karena tidak sempat makan. Setiap kali pergi kalau tidak merasa perlu membawa handphone saya tinggalkan. Jadi kalau saya belum membalas hal-hal penting dari jemaat, malamnya baru saya pasti balas. Karena terkadang hal itu sangat mengganggu saat kita mau berinteraksi. Banyak keluarga Kristen menghadapi masa sulit bukan kesulitan seperti Musa, tetapi kesulitan dalam menundukkan hal – hal seperti ini. Apakah kita menjadi pemenang atau tidak , itu kembali kepada kita.
         Saat Musa lahir di masa sulit yang juga dihadapi papa-mamanya. Tetapi mereka tidak pernah meragukan kepedulian dan campur tangan Allah. Pada Ibrani 11 mencatat, “Karena iman maka Musa oleh orang tuanya ditaruh di sungai Nil. Karena iman ,maka Musa begini-begitu.” Mengapa Tuhan menaruh keluarga ini sebagai pahlawan iman? Tuhan tidak bisa dibohongi. Iman adalah urusan pribadi seseorang dengan Tuhan. Kita bisa berlaga rohani tetapi kita tidak mungkin bisa tulus rohani, hanya Tuhan yang tahu. Jadi kalau Tuhan berkata Keluarga ini punya iman, berarti benar keluarga ini punya iman karena Alkitab yang mencatatnya. Di tengah kesulitan, ia tidak putus harapan. Orang yang beriman bukan orang yang malas atau orang yang bodoh tetapi orang yang cerdik, tahu susah, tahu bayar harga dan tahu merencanakan. Karena Iman modal dari segala sesuatunya. Ketika Amram dan Yokhebed beriman, modal beriman itu membuat mereka berani menanggung resiko. Kalau ketahuan anaknya masih hidup, mereka beresiko akan dihukum mati. Bukan hanya untuk menyelamatkan nyawa sendiri, tetapi berani mengambil resiko kalaupun nyawa itu dipertaruhkan. Sepertinya berbicaranya mudah, suatu hari mungkin kita diijinkan untuk mengalami masalah seperti ini. Di saat itulah kita baru tahu apakah kita berani mengambil resiko atau tidak. Iman adalah modal untuk orang tua ini memiliki kecerdikan luar biasa. Mengapa saya katakana demikian? Sungai Nil pada zaman dulu memiliki aliran air yang sangat deras atau hampir seperti sungai Yordan derasnya. Tetapi orang tua ini tahu bagaimana  bisa membuat peti pandan yang dipakalnya dengan gala-gala dan ter, tidak masuk ke muara yang lebih besar. Kemungkinan besar, Amram membuat satu jalur di mana ia menaruh anaknya di situ, sehingga berada di jalur aman tidak terseret arus kemana-mana. Apa pun penafsiran itu, ini adalah orang tua yang rajin, berani beresiko, dan mau berusaha. Di tengah kesulitan ada sesuatu yang mereka ingin perbuat, tidak berhenti begitu saja. Bukan hanya sekedar cinta pada Musa, tetapi saya sangat yakin karena ia punya modal iman yang luar bisa.

2.     Kecerdikan

Walau tidak diceritakan, kalau kita membaca ayat yang ketujuh, waktu putri Fiarun sudah menemukan bayi kecil ini, menurut penafsir bayi ini kemudian di bawa pulang oleh dayang-dayang. Berhari-hari bayi ini tidak mau makan ,menyusui dan terus menangis. Jadi ada jeda waktu. Tetapi ada atau tidak jeda waktu, Miryam diajar orang tuanya untuk menangkap momentum untuk berbicara apa di saat yang tepat. Waktu ia melihat raut muka putri Firaun yang mungkin kebingungan karena melihat bayi kecil ini menangis, ia berkata , "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?" (Kel 2:7)  Puteri Firaun setuju. Lalu Miryam memanggil mamanya sendiri. Karena mamanya juga pasti ingin tetap masih dekat anaknya, bagaimana mendidik adiknya. Tangkap momentum, bagaimana ia bisa mendidik Musa di tengah keluarga selama mungkin. Mengapa Miryam bisa menangkap momentum? Mengapa mereka bisa membuat keranjang alang-alang (keranjang pandan)? Mengapa? Karena Tuhan memberikan hikmat (kecerdikan). Lalu di mana peran Tuhan kalau semua bisa diusahakan oleh manusia. Kalau kita memperhatikan cerita ini, air sungai mengalir deras. Putri Firaun mandi di pinggir sungai saja yang sudah dibuat sedemikian rupa. Sekalipun mungkin Amram membuat jalur, tetapi kalau Allah tidak berkenan, maka bisa menghilang di tengah derasnya aliran air. Tetapi itu tidak terjadi karena ada peran Tuhan di dalamnya. Itu bukan hal yang susah untuk Tuhan. Waktu Tuhan membelah laut Teberau nantinya pun bukan hal yang susah buat Tuhan. Waktu Tuhan mau membesarkan nama Yosua dan membelah Sungai Yordan sejauh 7 km, itu juga bukan hal yang susah untuk Tuhan. Ia adalah Allah atas alam. Ia yang menciptakan. Ia bisa atur semuanya (kita tidak bisa atur). Yang penting, hati ada di mana? Apalagi peran Tuhan? Memegang hati orang. Kita tidak bisa memegang hati orang. Hati pasangan saja kita tidak bisa memegangnya. Kalau kita berpikir, bahwa kita bisa memegang hati suami lewat kecantikan, dengan pedicure dan medicure. Bohong. Orang kalau mau selingkuh (dosa) bisa saja. Itu sebabnya kita perlu tangan Tuhan yang memegang. Suami juga begitu, mau istri dikandangi di rumah agar tidak melihat pria lain, tetapi kalau tetap mau nakal, maka ia akan nakal saja. Ada 1.001 macam cara. Maka hati harus dipegang oleh Tuhan. Hati putri Firaun, mengapa tidak bisa takut pada titah ayahnya? Ayahnya kan sudah jelas memberi perintah, “Bunuh anak laki-laki dan buang ke sungai Nil!” malah ia dapat anak dari Sungai Nil dan ia sangat yakin itu adalah anak Ibrani tetapi mengapa ia bisa punya iba dan berbelas kasihan? Kalau bukan Tuhan yang menaruh belas kasihan dan kalau bukan Tuhan yang menaruh ia agar percaya kata-kata Miryam, ia tidak mungkin melakukan hal itu. Ia bisa saja berkata, “Bayi ini pasti bayi orang Ibrani, kasih Firaun pasti dibunuh. Cari keluarganya sampai dapat. Cari semuanya  sehingga mereka dibunuh!”  Hal ini bisa terjadi karena Tuhan pegang hatinya.

Bagaimana sekarang dengan keluarga dengan masing-masing permasalahan yang ada di tengah keluarga kita.  Apakah dari kecil anak sampai besar mulai dari lahir, dibawa ke sekolah di hari pertama, menjadi remaja dan bisa main ensemble atau hari ini akan menikah, adakah iman bertumbuh di tengah keluarga? Bagaimana peran kita sebagai orang tua di tengah keluarga? Melihat anak-anak sebagai tumbuhan yang harus dirawat . Tumbuhan yang bukan hanya sekedar harus diberi makan secara jasmani tetapi juga memberi makan secara rohani sehingga secara mental, sosial dan sisi apa pun ia bagus.
Kalau kita membaca Alkitab dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, Yosua 24:15 “aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!". Yosua dalam usia tuanya tidak bergeming di tengah-tenngah keluarga yang tidak mau beribadah. Ini sikap yang harus dipegang. Jangan melihat orang lain. Kalau kita datang beribadah, kita datang beribadah. Kalau kita mau mendidik anak dengan cara yang benar, maka kita tetap didik anak kita dengan benar. Jangan terpengaruh dengan orang lain seperti teman, keluarga lain dll. Kalau kita mau konsentrasi beribadah maka konsentrasilah. Kalau orang lain mau main handphone biarkan saja. Kalau sudah ditegur tapi tidak peduli maka  kerjakan bagian kita. Kalau kita mau didik anak kita , maka kita didik dengan cara terbaik, mungkin kita tidak perlu ikut keluarga orang lain. Karena anak keluarga kita , kita tahu seperti apa.
         Susanna Wesley (1669 –1742) adalah seorang ibu yang melahirkan 19 anak (tidak semuanya hidup). Ada beberapa yang meninggal . Anak ke-15 namanya John Wesley yang nantinya menjadi pemimpin pergerakan rohani yang luar bisa di Amerika dan menjadi pendiri gereja Methodist. Adiknya yang terkecil Charles Wesley, selain penginjil juga seorang musisi musik gerejawi yang telah menciptakan lagu rohani. Ada lagu himne  sekitar 8.000  buah yang ia ciptakan. Itu dari orang tua yang saleh dan mendoakan anaknya. Orang tua yang memberikan hal-hal yang baik kepada anaknya. Rasul Paulus berkata kepada Timotius, “Hai Timotius! Engkau sudah belajar Alkitab dari kecil. Jangan tinggalkan iman itu. Ikuti teladan nenekmu, Lois, dan ikuti ajaran ibumu, Eunike. Kenapa bapak tidak disebut? Apakah tidak berperan? Mungkin bapaknya sudah meninggal. Ketika istri disebut itu juga berlaku untuk suami, dan sebaliknya. Siapa pun di dalam keluarga, Allah mau semuanya terlibat.

Keluargaku adalah ladangku

              Bagaimana pandangan kita tentang keluarga adalah ladangku? Apakah keluarga itu menjadi ladang yang berharga dari Tuhan dan akan kita kembalikan untuk Tuhan? Perkawinan dan keluarga bukan manusia yang ciptakan pertama kali. Bukan inisiatif manusia tetapi Tuhan yang berinisiatif untuk membentuk keluarga. Jadi harus kita kembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Kalau kita melihat keluarga sebagai ladang yang berharga maka kita harus memberi nutrisi yang bagus untuk keluarga kita. Saya tidak bicara tentang makanan yang sehat jasmani, tetapi makanan yang bersifat pengajaran rohani atau pun mental dan hal yang lain. Susana Wesley mempunyai 3 cara mendidik anak.
a.     Ia selalu pakai tongkat untuk anaknya.
Selama anak masih bisa dikasih tongkat atau dipukul dengan tongkat, seperti firman Tuhan ajarkan maka ajarlah. Supaya tongkat ini bisa melembutkan hatinya.
b.    Ia selalu bicara mengajar anaknya. Walau pun hati tidak suka , mau berontak, berteriak dan ingin menangis maka lakukanlah dengan suara yang lembut. Artinya ia sedang mengajar mengajar anaknya untuk lembut (jangan menantang)
c.     Ia selalu katakan kepada anaknya, “Jangan selalu minta saya untuk mengoreksi kesalahanmu, tetapi kamu harus belajar mengoreksi dirimu sendiri.” Ia mengajarkan kepada anaknya untuk menilai diri sendiri,  apakah yang dilakukan betul atau tidak. Jangan selalu minta mama dan papa untuk mengoreksi. Ini cukup unik juga. Tetapi akhirnya ia bisa mendidik anak-anaknya. Mungkin ada hal yang bisa kita pelajari dari dia.

Penutup

              Bagaimana dengan kita ketika kita mendengar firman Tuhan ini? Seorang PM Israel pernah komplain kepada salah satu misionaris yang masuk ke Israel. Dia berkata,”Apakah tidak banyak orang Kristen yang bisa melakukan seperti di buku yang ditulis di dalam Alkitab ini?”.  Sang misionaris menjawab,”Banyak orang Kristen. Berjuta-juta di tengah dunia ini!” Tetapi kemudian Perdana Menteri ini berkata,”Kalau begitu banyak orang Kristen seperti yang kamu katakan, mengapa hanya kalimat-kalimat di buku yang bagus, tetapi kenyataannya di  dunia itu tidak bagus?” Pemimpin negara yang katanya Kristen melahirkan keputusan yang tidak bagus dan sangat menentang firman Tuhan dan tidak selaras dengan kebenaran Firman Tuhan. Ternyata, orang zaman sekarang termasuk kita cenderung gudangnya garam, bukan menjadi garam itu sendri. Jadi ia menumpuk garam. Gudangnya garam bukan garam itu sendiri. Terbukti banyak keluarga (mungkin termasuk kita) hari ini yang tidak prihatin terhadap hal-hal sosial yang terjadi di sekitar kita. Kita tidak prihatin terhadap kejahatan , ketidakdisiplinan, kebersihan, kebebasaan seksual di sekitar kita, penjahan media sosial yang menceritakan hal-hal yang tidak benar, tidak peduli perceraian, tindak kekerasan dan sebagainya karena kita menganggap itu tugas negara, pemerintah , kepala desa, pasukan kuning yang membersihkan kali dan itu bukan tugas saya.
              Beberapa hari lalu, ada orang  di depan saya dan mu-shi, membuang sampah banyak sekali di pinggir jalan. Satu kresek lebih. Mu-shi reflex otomatis klakson. Tapi garangan dia yang naik motor. Ia langsung melihat ke arah kita. Saya berkomentar,”Lihat tuh, garangan dia dari kita! Coba kalau dia berhenti, sudah saya fotoin.” Mu-shi menanggapi, “Tidak. Ia pasti lari karena ketakutan. Dia mengira kita petugas kebersihan.” Buang sampah sembarangan itu bukan urusan saya? Tetapi  begitu banjir dan Jakarta tenggelam baru katakan itu tugas siapa? Tidak fair kan? Sama kita juga tidak peduli terhadap hal-hal yang lain. Keluarga-keluarga Kristen hari ini seringkali tidak mementingkan kehidupan dan mengutamakan hal-hal rohani dalam hidup berkeluarga. Boro-boro saat teduh,  mezbah keluarga, pelayanan bahkan beribadah saja mungkin bisa bolong-bolong. Ini baru hal sederhana. Semua itu bisa terjadi dari hal-hal yang kecil baru bisa dipercaya hal-hal yang besar. Kalau tidak keluarga kita akan begitu-begitu saja terus menerus. Karena kita susah melihat bagaimana Tuhan bisa bekerja di tengah keluarga kita. Kita tidak bersungguh-sungguh dalam berhubungan dengan Tuhan kita. Kita hanya menganggapNya, ada dan tidak ada. Tidak ada tapi ada. Begitu-begitu saja. Keluargamu adalah ladangmu! Sadarkah kita bahwa kita perlu membawa keluarga kita bertemu secara pribadi dengan Tuhan. Ikut Tuhan, tidak bisa ikut-ikutan. Anak kita harus bertemu dengan Tuhan secara pribadi. Suami (pasangan) kita yang belum percaya harus bertemu dengan Tuhan secara pribadi. Semua kita harus mendoakan keluarga kita supaya masing-masing bertemu Tuhan secara pribadi.


No comments:

Post a Comment