Monday, June 3, 2019

Fokus pada Kekekalan

Pdt. Hery Kwok

Pengkhotbah 3:11
1   Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
2  Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
3  ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
4  ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
5  ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
6  ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
7  ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
8  ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
9  Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
10  Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Tidak Ada yang Kekal di Dunia Ini (Semuanya Terbatas)
                  
              Pada waktu kita membaca kitab Matius pasal 17, di sana Matius mencatat satu peristiwa di mana Tuhan Yesus dimuliakan di atas gunung yang dikenal dengan istilah transfigurasi. Pada waktu itu, murid-murid  Tuhan Yesus yang diajak hanya 3 orang yaitu Petrus, Yohanes dan Yakobus. Saat Tuhan Yesus dimuliakan dalam peristiwa transfigurasi itu, Ia berbicara dalam kemuliaanNya dengan Nabi Elia dan Nabi Musa. Keduanya adalah tokoh (nabi) besar. Orang Israel sangat mengenal kedua nabi tersebut. Karena Musa membawa bangsa Israel ke luar dari perbudakan menuju ke Tanah Perjanjian. Di sana mereka sungguh-sungguh dibawa ke dalam satu kemerdekaan sebagai satu bangsa. Bukan itu saja Musa melepaskan mereka dari perjanjian dengan ilah bangsa Mesir yang sangat kuat dan mengikat sehingga akhirnya membuat iman mereka kepada Allah bercampur dengan kepercayaan bangsa Mesir. Lalu bangsa Israel dibawa oleh Musa ke tanah yang dijanjikan Allah. Dan itu menjadi sebuah peristiwa besar sehingga orang-orang Israel tidak pernah melupakan siapa Nabi Musa. Sedangkan Nabi Elia adalah nabi yang membawa kerohanian bangsa Israel yang sudah melempem untuk kembali kepada Allah. Elia saat itu membunuh 400 nabi Baal yang menyesatkan orang-orang Israel. Sehingga Nabi Elia dikenal sebagai nabi pembaharuan dan sungguh-sungguh  dikenal oleh bangsa Israel. Ia tidak mengalami kematian karena diangkat oleh Tuhan.
              Petrus menyaksikan peristiwa transfigurasi ini, dan melihat apa yang dialami Tuhan Yesus,  lalu ia berkata kepada Tuhan Yesus,” Tuhan betapa senangnya kami berada di sini. Apakah Engkau mau kami membuat 3 tenda : satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia?” Ungkapan Petrus ini menjelaskan bahwa manusia pada umumnya senang dengan hal-hal yang menyenangkan. Perasaan bahagia (senang) yang dialami kalau bisa berlangsung terus (jangan hilang). Rasa bahagia tersebut kalau bisa jangan berakhir. Itulah manusia. Maka kalau kita melihat catatan dalam kitab Pengkhotbah bahwa di dalam dunia ini segala sesuatu ada batas-nya (tidak ada yang bersifat kekal di dunia ini, karena memang dunia ini fana dan terbatas). Itu sebabnya suka cita yang dialami seseorang pun terbatas.
              Menghadapi liburan lebaran tahun ini, saya sudah mendengar beberapa jemaat sesudah ibadah akan langsung berangkat masuk tol agar tidak terkena macet di Cikampek. Mereka ingin bergegas karena waktu liburan yang juga terbatas. Kalau tidak pergi sekarang, nanti tidak bisa liburan bersama keluarga lagi. Ini hal yang bagus, tetapi kita menghadapi keterbatasan, karena setelah liburan selesai maka pekerjaan atau sekolah memanggil kita kembali. Itu adalah waktu yang terbatas. Kondisi susah sekalipun juga terbatas. Tidak ada yang tidak terbatas. Artinya penulis kitab Pengkhotbah memberikan suatu kebenaran, bahwa di bawah kolong langit tidak ada yang tidak terbatas.


Allah yang Kekal Memberikan Kepuasan dalam Hati Manusia

              Pada waktu membaca Pengkhotbah 3:11, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir, ada 2 hal yang ingin disampaikan dalam tulisan Pengkhotbah tersebut :

1.     Kepuasan tidak akan pernah didapati di dalam dunia yang fana. Hati manusia hanya bisa dipuaskan oleh Allah yang kekal.

Pengkhotbah membawa kepada satu  kebenaran bahwa  manusia bersifat terbatas di dunia yang fana ini, tetapi manusia adalah ciptaan Tuhan berdasarkan peta dan teladan Tuhan yang diciptakan Tuhan dalam sifat kekekalan. Kekekalan artinya tidak musnah (hilang) dan bersifat kekal seperti Penciptanya. Oleh karena manusia adalah ciptaan yang bersifat kekal, maka kepuasan yang ada di dalam diri manusia  tidak mungkin dicapai melalui hal-hal yang terbatas. Hanya Allah yang kekallah yanag sanggup memuaskan hati manusia. Ini adalah hal yang sangat penting yang disampaikan oleh Pengkhotbah. Karena dalam keterbatasan waktu, tidak ada yang di dalam keterbatasan ini bisa memuaskan hati manusia yang sifatnya kekal.
Kalau bicara tentang uang, maka sebanyak apapun uang yang dimiliki tidak pernah bisa memberikan kepuasan secara tak terbatas. Kalau berbicara tentang kekuasaan, maka kekuasaan tidak pernah membuat orang untuk bisa menikmatinya sepuas-puasnya. Mungkin sebentar kita bisa merasa puas karena punya kekuasaan. Kita bisa menyuruh dan mengatur orang. Bila punya uang , kita bisa beli sesuatu , pergi atau melakukan banyak hal (meskipun tidak semua hal) tapi sifatnya terbatas. Sehingga segala yang terbatas di dunia ini, tidak pernah memberikan kepada kita kepuasaan jikalau bukan Yang Kekal yang memberikan kepuasan itu.  Bukankah sejarah sudah mencatat ada banyak orang dengan kekayaan yang berlimpah  , tetapi mereka mati secara mengenaskan. Kita menemukan banyak artis yang hidupnya bergelimangan harta dan pujian. Contoh : Michael Jackon atau, penyanyi-penyanyi besar lainnya baik di luar negeri maupun di Indonesia ditemukan mati secara tragis di dalam ketenaran dan kemewahan mereka karena apa yang dimiliki tidak bisa memuaskan mereka. Kitab Suci memberikan penjelasan yang baik sekali. Itu sebabnya di dalam Pengkhotbah 3:11 dikatakan bahwa Ia memberi kekekalan dalam hati manusia. Karena manusia sifatnya kekal waktu dilahirkan oleh orang tua, kemudian berada dalam keberadaannya maka manusia sifatnya kekal. Meskipun kita akan mati secara fisik, tapi kita tidak musnah (punah). Kita terus berada dalam keberadaan kita karena kita kekal adanya. Dan yang kekal itu tidak mungkin bisa dipuaskan oleh yang tidak kekal.
Saya pernah bertemu dengan seorang penderita kanker stadium 4 yang hatinya bisa tetap tenang. Artinya apa? Ia tidak melihat bahwa yang bersifat kekayaan, keuangan dan segala macam itu menjadikan manusia mampu untuk menikmati kepuasan itu. Tetapi justru orang-orang  tertentu yang dalam kesulitan dan kesakitan tetapi bisa berkata, “Aku bisa tenang. Aku bisa melihat perkara ini”. Hal ini terjadi pada waktu hidup manusia berelasi dengan Allah, waktu ia memiliki iman percaya kepada Allahnya, sehingga ia bisa melihat kepuasaan dari Allah. Ini perkara yang penting sekali. Mengapa?
Kepuasaan yang sejati sungguh-sungguh hanya berasal dari Allah yang kekal. Penulis kitab Pengkhotbah ingin mengingatkan bahwa kita hidup di dunia fana. Kita boleh bekerja dan mencari uang, menempuh studi (kuliah) atau mencari kepintaran tetapi semua yang cari dan kejar itu sifatnya terbatas dan kita tidak bisa mendapat kepuasan di sana. Di sanalah kita harus belajar bagaimana kita sungguh-sungguh mencari kepuasan sejati dari Allah. Kitab Pengkhotbah menghantar kita pada satu kebenaran bahwa Manusia yang diciptakan Allah seturut gambar dan rupa Allah. Gambar dan rupa Allah mempunyai sifat kekekalan seperti penciptaNya yang membawa manusia sungguh-sungguh harus menyadari bahwa manusia benar-benar tidak terlepas dari penciptaNya.
Orang seringkali melupakan Tuhan oleh karena menganggap apa yang mereka kejar dan cari sudah mereka dapatkan, padahal tidak. Justru dalam kekekalan itulah, Allah menaruh dalam diri manusia hati yang mencariNya. Manusia itu unik karena seringkali manusia itu baru bisa menghargai hidup kalau ada kematian. Kalau tidak ada kematian, kita tidak menghargai hidup. Waktu ada kematian, di situ kita tahu bahwa kematian ini membuat kita memahami apa yang harus kita perbuat di dunia ini. Kematian yang sementara membawa kita tercelik bahwa kita bukan hidup di dunia ini selamanya.
Jumat lalu kita mengadakan ibadah tutup peti untuk Sdr. Asen. Dia dioperasi jantungnya untuk dipasang ring. Dari saat dioperasi sampai kemudian meninggal, ia tidak bisa apa-apa lagi. Saya jarang menemukan orang kalau dibalon (di-ring) mati. Ini kasusnya 1 di antara 1000. Kalau ada orang yang dioperasi pasang ring, di jantungnya, maka ia menjadi satu-satunya yang terkena dampaknya. Ia tidak pernah bisa mengalami dan merasakan apa-apa lagi. Setelah masuk rumah sakit , menjalani operasi sampai meninggal ia tidak merasaakan apa-apa. Kalau tidak melihat kematian, kita tidak pernah menghargai hidup. Kita hidup dalam kefanaan dan untuk masuk dalam kekekalan, bagaimana kita mengisi hidup ini? Itu adalah perkara penting yang perlu kita pelajari.
Saat Pengkhotbah berbicara tentang keterbatasan hidupnya di mana kita sungguh-sungguh tidak bisa dipuaskan oleh yang tidak terbatas, kira-kira bagaimana kita mengisi dan menjalani hidup? Apakah kita sungguh-sungguh menjalani dalam takut akan Tuhan atau sungguh-sungguh menjalani hidup untuk diri sendiri? Kalau untuk diri sendiri maka kita hanya akan berakhir dengan ketidak-puasaan hidup ini. Unik sekali manusia ini karena di dalam limitasi hidup baru manusia mengerti hidup.  Waktu di dalam kekekalan yang Allah berikan, Allah  memberikan kesementaraan di dunia. Waktu kesementaraan itu ada, baru kita bisa mengerti ada kekekalan. Karena ada kekekalan itulah, maka ada hidup yang harus dipertanggungjawabkan.

2.     Dalam kekekalan yang akan dimasuki baru kita bisa pahami dalam keterbatasan ini, di situlah baru kita bisa belajar bagaimana mengisi hidup ini.

Apakah hidup yang kita isi adalah hidup yang sia-sia saja, hidup yang hanya berorientasi pada diri sendiri atau hidup untuk kehidupan kita saja atau tidak? Pada waktu Tuhan Yesus ditanya oleh orang Farisi, “Guru apa sebenarnya intisari dari hukum Taurat?” Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan totalitas hidupmu, dengan segenap hati, segenap pikiran, segenap perbuatan. Yang kedua, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum itulah, seluruh hukum Taurat tergantung” Artinya dalam 2 intisari ini, kalau engkau lakukan, maka engkau akan hidup. Waktu Tuhan berbicara, Dia bicara tentang Firman yang kekal. Waktu kita sungguh-sungguh melakukan firman yang kekal, maka kita akan masuk di dalam kekekalan dengan berani untuk kita bertanggung jawab atas apa yang kita kerjakan.
Pada waktu penghakiman dan bertemu Pencipta kita, Rasul Paulus berkata bahwa setiap orang akan diadili menurut segala perbuatan yang dilakukan dalam dunia ini. Kalau di dunia ini kita hanya mengisi hidup untuk diri sendiri (memuaskan diri sendiri , hanya untuk ego sendiri), maka kita akan berhadapan dengan Pencipta kita yang akan mengadili di dalam kebenaran dan keadilan dan Dia tidak akan tawar-menawar dengan kita. Itu sebabnya saya senang dengan filsafat Tionghoa yang dipopulerkan oleh Pdt. Stephen Tong tentang waktu.
Waktu itu adalah seperti hakim (penuntut) yang kejam tetapi sekaligus ia adalah kawan yang setia. Saat kita tidak menggunakan kesempatan di dalam waktu yang terbatas itu, maka ia akan membuat dan menyatakan kita sebagai orang yang teledor dalam hidup kita (sebagai orang yang sungguh-sungguh menyia-nyiakan hidup yang diberikan dalam kesempatan). Karena itu Ia akan menjadi hakim yang menuntut dan menelanjangi kita terhadap hidup yang disia-siakan. Tetapi bila waktu digunakan dengan baik, maka Dia akan bersaksi bahwa orang ini benar, setia, dan menggunakan waktu (kesempatan) ini dengan baik.
Itu sebabnya dalam Efesus 5:16 dengan berani Rasul Paulus berkata bahwa hari-hari itu jahat. Kalau hari-hari yang terbatas itu jahat dan kita berada dalam keterbatasan  waktu untuk masuk dalam kekekalan. Kira-kira bagaimana kita mengisinya? Bagaimana kita menghidupinya? Ini sesuatu yang sangat penting sekali. Kepada orang-orang  di Korintus, waktu menulis surat, Rasul Paulus menegur mereka. Mereka berada dalam filsafat yang salah. Mereka katakan hidup itu tidak ada kekekalan dan berhenti dalam kematian. Maka silahkan makan dan minum saja, berpuas-puas diri saja. Kalau masih muda, maka gunakanlah masa mudamu dengan sebebas-bebasnya. Bila engkau ingin menggunakan tubuhmu untuk seks , narkoba silahkan saja karena  akan mati dan berakhir di kuburan. Rasul Paulus berkata, “Tidak! Karena ada kebangkitan dan Kristuslah yang sulung yang bangkit”. Itulah yang menandakan adanya kekekalan. Waktu kekekalan itu kita masuki setelah kita meninggalkan dunia yang terbatas, apakah kita siap berjumpa dengan Hakim yang agung itu?
Saat saya masih menjadi pengacara, setiap kali masuk ke ruang pengadilan, hati saya merasa gentar. Apa yang membuat saya gentar? Saya hanya berpikir, “Apakah hakim yang akan mengadili perkara ini jujur dan baik atau tidak? Kalau tidak baik, maka ia akan memihak yang jahat. Padahal saya mencoba tidak mau menyuap. Saya tidak mau berlaku   curang, tapi kalau hakim ini main mata dengan lawannya, lalu kemudian ia memenangkannya , maka Tuhan sepertinya usaha saya sia-sia saja”. Saya suka gentar masuk ke ruang pengadilan karena berjumpa hakim karena mereka bisa menyalahgunakannya. Tetapi waktu Alkitab bicara tentang Hakim yang agung itu, hal ini jauh lebih menggentarkan, karena Dia menghakimi dengan keadilanNya dan kebenaranNya dan itu tidak akan pernah bisa terlepas. Kalau hidup seorang pendeta tidak benar dalam menggembalakan dan menggunakan uang jemaat secara tidak benar, jemaat memang tidak tahu tetapi ada Tuhan yang tahu.
Kalau kita menjadi seorang suami atau istri, apakah kita sungguh-sungguh mengisi hidup kita sebagai suami/istri yang takut Tuhan? Sebagai pemuda, apakah engkau mengisi masa mudamu sungguh-sungguh dengan melakukan kehendak Tuhan? Sebagai siswa yang masih studi, apakah engkau sungguh-sungguh melakukan studimu dengan baik dan bertanggung jawab kepada Allah?
Istri saya berkata,”Saya terkadang malu melihat orang Indonesia belajar dibanding orang Tiongkok. Orang Tiongkok dalam belajar tidak main-main. Perpustakaan dipenuhi oleh para siswa. Mereka senang dengan textbook. Mereka tidak mencari bahan di handphone melainkan di perpustakaan. Jadi kalau terlambat, kita sulit mendapat tempat untuk belajar di perpustakaan. Sedangkan bagi banyak orang Indonesia, yang ramai adalah mal (bukannya perpustakaan), apalagi menjelang lebaran semua harga barang dibanting. Semua stock di gudang diobral. Bahkan ada mal yang menyelenggarakan midnight sale. Seorang anak muda berkata kepada saya,”Mu-shi nanti belajar di mal saja karena ada midnight sale”. Herannya kalau ada midnight sale mata tidak mengantuk sehingga mal pun ramai. Orang Tiongkok yang disampaikan oleh shimu hebat sekali. Mereka bertanggung-jawab dalam mencari pengetahuan. Orang Indonesia belajarnya sore-sore, karena tidak terlalu serius dalam belajar. Saya belajar secara serius sewaktu di sekolah Alkitab, sebelumnya tidak. Untung saja, saya tidak jadi pengacara gadungan. Karena kita pernah menyaksikan di video, seorang yang menjadi dokter walaupun belajarnya tidak benar (menyuap). Waktu ada pasien di meja operasi dia kebingungan. Yang dia operasi adalah istri dari dosennya yang disuap. Cerita ini bagus. Tidak perlu banyak ribut. Dosen itu juga menyesal karena ia sudah menghasilkan dokter gadungan. Murid-muridnya (mahasiswa dokter gadungan) memang senang cara belajar seperti itu. Kita akan menghadap Hakim yang agung. Maka Kitab Suci memberikan kepada kita kebenaran yagn luar biasa, firman Tuhan yang kekal yang bisa membawa kita untuk memahami kekekalan itu dan mengisi hidup di dalam keterbatasan supaya kita hidup di dalam kekekalan.
                                                                                                                                       
Penutup

Waktu cepat sekali berlalu. Sekarang kita sudah memasuki bulan Juni. Sebentar lagi kita akan masuk Natal, setelah itu masuk Paskah, lalu Lebaran dan Natal lagi. Waktu yang sangat cepat bergulir membawa orang melihat waktu cepat berlalu. Cepat tetapi isinya tidak ada. Kalau tidak pernah diisi, apanya yang cepat? Tetap saja belajarnya malas. Hidupnya sebagai orang muda disia-siakan, sebagai keluarga hidupnya tidak dibawa kepada Tuhan. Katanya cepat tapi tidak pernah di-isi. Ini adalah sesuatu yang perlu dipikirkan. Kitab Pengkhotbah mengingatkan kita dua hal dalam ayat 11 : Allah menaruh kekekalan dalam hati mansuai, agar kita tahu bahwa dunia  yang fana tidak bisa memuaskan kita. Carilah Tuhan selama Dia bisa ditemui karena Dialah yang memberi kepuasan itu. Yang kedua, Dia yang kekal akan menghakimi kita yang kekal selama dalam keterbatasan, kita mengisi keterbatasan dengan melakukan apa yang Tuhan kehendaki atau tidak? Dia memberikan perintah, “Kasihilah Tuhan Allahmu. Kasihilah sesamamu.” Penajabarannya luas dalam kehidupan praktis kita. Kita mengasihi sesama , orang-orang di sekitar kita. Apakah dalam bentuk bantuan secara material atau moral atau yang terpenting secara rohani mengabarkan Injil pada orang-orang ini. Apakah kita sungguh-sungguh melakukannya dalam keterbatasan waktu,  karena dikatakan di bawah kolong langit, itu sangat terbatas. Apa keterbatasan kita? Hari ini kita pergi liburan, tidak tahunya bisa saja tidak kembali lagi. Artinya di dalam keterbatasan itulah, mari kita pikirkan hidup kita ini. Kiranya Tuhan menolong kita memasuki bulan Juni dan kita sungguh-sungguh mengisi hidup ini seperti yang Tuhan mau.  

Monday, May 27, 2019

PerkataanMu Adalah Perkataan Hidup yang Kekal





Ev. Susana Heng

Yoh 6:60-70
60  Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"
61  Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?
62  Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada?
63  Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
64  Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia.
65  Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."
66  Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.
67  Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"
68  Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;
69  dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."
70  Jawab Yesus kepada mereka: "Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis."

Perkataan

              Yohanes 6:68-69 Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.". Tema hari ini  adalah “PerkataanMu adalah Perkataan Hidup yang Kekal”. Tema ini diambil dari jawaban Simon Petrus kepada Tuhan Yesus yang bertanya kepada kedua belas murid-Nya : "Apakah kamu tidak mau pergi juga?". Pertanyaan ini menyebabkan  Rasul Petrus mengatakan bahwa perkataan Tuhan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal.
Setiap hari kita berkata-kata. Apakah pernah bertekad untuk puasa (tidak) bicara sepanjang hari? Mungkin kalau bertengkar dengan suami maka istri tidak bicara kepada suami saja (masih bicara dengan yang lain). Demikian juga kalau suami sedang kesal dengan istri maka tidak bicara dengan istri minimal selama 2 jam (sebelum suami minta makan). Saya juga bicara begitu banyak setiap hari. Dari perkataan-perkataan yang saya ucapkan tersebut , saya tidak tahu berapa banyak perkataan yang salah. Jadi saya seringkali minta ampun kepada Tuhan. Karena saya berpikir, orang yang banyak bicara pasti banyak salah.
              Perkataan Tuhan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal. Perkataan kita yang apa? Pernah tidak orang bertengkar atau sakit hati karena perkataan? Perkataan kita adalah perkataan apa? Perkataan yang membuat 2 orang bertengkar, menyakiti hati orang, menggosipkan orang, perkataan yang tidak baik dan itu ada banyak sekali. Tetapi perkataan Tuhan Yesus bukan perkataan yang demikian. Perkataan Tuhan Yesus yang dikatakan oleh Rasul Petrus adalah perkataan hidup yang kekal. Kita tahu di antara murid-murid Tuhan Yesus, Rasul Petrus yang paling cepat bereaksi.

Perkataan Hidup yang Kekal

              Sewaktu Tuhan Yesus berkata, maka Rasul Petrus yang langsung berkata ,”PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal” padahal ada murid-murid yang lain. Mengapa Petrus mengatakan perkataan ini? Di dalam konteksnya, mengapa sampai Tuhan Yesus bertanya kepada ke dua belas muridNya yang dijawab langsung dijawab Rasul Petrus secara spontan? Kalau kita di pesta dan kita bicara dengan seseorang, tentu ada kejadian atau konteks mengapa mengatakan sesuatu hal. Apakah kita kesal bila kita mengatakan tentang seseorang lalu perkataan tersebut langsung dikutip dan disampaikan (dilapor) kepada orang tersebut agar kita bertengkar. Misalnya : Waktu di pesta ada yang berkata, “Iya-ya, hari ini roknya kependekan”. Orang itu lalu tidak melihat konteksnya menyampaikan bahwa  menurut cuang dao itu , kamu memakai rok terlalu pendek setiap hari. Orang itu menjadi kesal dan marah. Padahal itu konteksnya pembicaraan di pesta. Sehingga saya mengajak untuk melihat konteks dari peristiwa mengapa Petrus mengatakan hal itu. Mengapa Petrus mengucapkan perkataan itu? Sewaktu membaca Alkitab, kita tidak boleh mengutip (ambil) satu ayat saja secara sembarangan, karena di dalam Alkitab pun ada perkataan Iblis. Contoh di kitab Ayub,iblis datang ke hadirat Tuhan dan menuduh Tuhan  sewaktu iblis ingin menggoda Ayub. Jadi kita harus tahu konteks ayat yang dikutip (jangan sembarangan mengutip ayat tanpa mengetahui latar belakang-nya). Di nats Alkitab yang kita baca (Yohanes 6), latar belakangnya terjadi di Kapernaum sewaktu Tuhan Yesus mengajar di rumah  ibadah. Setelah mendengar perkataan Yesus, murid-muridNya menanggapi dengan berkata bahwa perkataan Tuhan Yesus keras ,siapa yang sanggup mendengarkannya. Murid-murid itu bersungut-sungut dan kemudian banyak yang mengundurkan diri dan meninggalkan Tuhan Yesus (Yoh 6:66).
              Setelah kejadian di mana banyak murid-murid mengundurkan diri meninggalkan Tuhan Yesus, Tuhan Yesus bertanya kepada 12 orang murid-Nya, ”Apakah kamu tidak mau  pergi juga?” (karena sudah banyak orang meninggalkan Tuhan Yesus). Tetapi pada saat itu juga Rasul Petrus dengan cepat langsung menjawab,”Tuhan kepada siapa kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal.” Pada mulanya banyak orang mengikuti Tuhan Yesus. Mereka berbondong-bondong mengikuti Tuhan. Tetapi kemudian waktu mendengar perkataan Tuhan Yesus, mereka mengatakan bahwa perkataan Tuhan Yesus terlalu keras. Kemudian mereka meninggalkan Tuhan Yesus. Sehingga Yesus bertanya kepada murid-muridNya,”Apakah kamu juga akan pergi?” Dan Petrus mengatakan,”PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal”. Kemudian dilanjutkan dengan ayat yang di bawahnya. Mengapa perkataan Yesus adalah perkataan hidup yang kekal? Petrus mengatakan, “Karena Engkau adalah Allah”. Petrus mengatakan bahwa ia percaya  walaupun  saat itu Petrus tidak tahu  apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Ia tidak terlalu mengerti apa yang diajarkan Tuhan Yesus saat itu tetapi ia percaya. Seringkali kita juga tidak mengerti apa yang terjadi di dalam hidup kita, seringkali kita juga tidak mengerti firman Tuhan dibandingkan dengan apa yang terjadi di depan kita. Tetapi dalam hati sewaktu kita tidak mengerti,”Percayalah!” Mengapa? Karena Allah adalah Allah yang mengasihi kita. Ia pasti akan memberikan yang baik. Jadi dikatakan, “Percayalah!”. Seperti Rasul Petrus berkata,”karena Engkau adalah Allah”. Tetapi banyak orang yang meninggalkan Tuhan.
              Bandingkan sewaktu orang banyak diberi makan oleh Tuhan Yesus, apa yang terjadi? (Pada Yoh 6:1-15 Yesus memberi makan 5.000 orang). Saat itu orang banyak melihat mujizat. Mereka diberi makan roti dari 5 roti dan 2 ikan. Begitu banyak orang, tetapi roti dan ikan yang tersisa masih banyak. Yoh 6:11  Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Yoh 6:14-15  Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.". Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri. Ketika Tuhan Yesus memberikan makanan, roti , mereka ingin  menjadikan Tuhan Yesus sebagai raja. Bandingkan dengan  Yohanes 6:66 Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Bagian depan semua orang mengikut Yesus, mereka mencari Tuhan Yesus. Mengapa mencari Tuhan Yesus? Karena mereka diberi makan dan mereka kenyang. Karena mereka disembuhkan dari penyakitnya, mereka melihat mujizat Tuhan. Tetapi sewaktu mereka mengikuti Tuhan Yesus, melihat mujizat Tuhan , mereka terus mengikut Yesus hendak menjadikan Yesus sebagai raja. Kemudian Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran kepada mereka. Tetapi bagian belakang dari Yoh 6:66, apa yang terjadi? Mereka meninggalkan Tuhan Yesus! Kedua bagian ini kontras. Satu bagian orang mengejar hendak menjadikan Dia sebagai raja , bukan karena mereka percaya tetapi mereka sudah kenyang. Tetapi ketika Tuhan Yesus mengajar kebenaran kepada mereka. Mereka mengatakan apa? “Ini terlalu keras.”

Bagaimanakah dengan kita?

-        Apakah kita orang  yang mengikut Tuhan karena roti (sudah kenyang)? Ataukah kita mengikut Tuhan walaupun Perkataan  (rhema) itu keras?

Ada gereja tertentu yang mengadakan KKR kesembuhan. Saya tidak mengatakan hal tersebut tidak bagus, melainkan hal itu bagus sekali. Banyak orang disembuhkan. Tetapi kemudian waktu Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran dan mengizinkan sesuatu terjadi , banyak kemudian yang meninggalkan Tuhan. Jadi mereka ikut Tuhan karena mereka “roti”. Percayakah mereka kepada Tuhan Yesus dan perkataanNya-kah atau karena mereka sudah kenyang dan melihat mujizat? Yang mereka mau adalah mujizat Tuhan. Apa yang memenuhi kebutuhan jasmaninya, bukan Yesus sebagai Tuhan!
Saat ini dunia menawarkan yang enak-enak. Mengapa kalau ditawarkan hal begitu, jemaat akan banyak? Banyak orang akan datang. Mereka akan berbondong-bondong datang untuk mencari Tuhan. Tetapi saat perkataan Tuhan yang hidup itu dinyatakan, banyak orang mengatakan “hal itu susah”. Tidak aneh ada yang meninggalkan Tuhan.

-        Kalau mengikut Tuhan karena roti, maka ketika menghadapi kesulitan, kita akan mudah meninggalkan Tuhan.

Hal ini bisa kita lihat di dalam satu pasal (Yohanes 6), kalau kita bandingkan bagian depan dan belakang-nya. Depan ikut Tuhan karena mereka kenyang, dan di bagian belakang mereka meninggalkan Tuhan Yesus karena perkataanNya  sangat keras. Sehingga kita bisa melihat bahwa banyak orang mengikut Tuhan karena melihat atau mendapat mujizat. Kalau saya mendapat mujizat Tuhan, saya akan senang sekali. Saat susah, saya menangis dan berdoa terus. Semua kalau boleh minta kepada Tuhan, maka mintanya adalah berkat Tuhan yang berkelimpahan. Tidak ada yang meminta agar percobaan datang dan bersusah-susah. Saya dari dulu sampai sekarang mintanya adalah agar Tuhan memberkati. Semua orang suka berkat termasuk saya. Berkat Tuhan, perkataan yang enak, mujizat Tuhan (begitu sakit tinggal berdoa dalam nama Tuhan Yesus maka penyakit hilang dan tidak perlu ke dokter.”) saya juga mau. Tetapi kalau ikut Tuhan hanya dengan motivasi seperti itu, maka celakalah! Maka sewaktu  doa tidak dijawab lalu dia akan meninggalkan Tuhan. Namun saya bersyukur karena Alkitab berkata,”Perkataanmu adalah perkataan hidup yang keras”.
Kalau dilihat dalam bahasa Yunani maka untuk “perkataan” digunakan kata rhema (pernyataan atau  perkataan Tuhan). Kata rhema ini ada juga ditulis di dalam Matius 4:4. Waktu itu Tuhan Yesus dicobai di padang gurun. Setelah berpuasa 40 hari 40 malam tidak makan tentu Dia lapar. Iblis tahu Tuhan Yesus lapar dan dia berkata,”Jikalau Engkau Anak Allah maka suruhlah batu ini menjadi roti” Apakah Tuhan Yesus perlu mengubah roti menjadi batu sehingga Dia  baru menjadi anak Allah? Dia adalah Anak Allah, tidak perlu mengubah batu menjadi roti terlebih dahulu. Tidak perlu mujizat apa pun karena dia adalah Anak Allah. Sehingga apa jawab Tuhan Yesus? Tuhan Yesus menjawab,”Ada tertulis , manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (=rhema). Di dalam Yohanes 6:68 perkataan Yesus itu adalah rhema yaitu perkataan dari Allah. Sehingga kalau kita lihat pengajaran Tuhan Yesus mengenai roti hidup dan orang dikenyangkan karena roti jasmani, sekarang kita melihat urutannya. Saya ingin kita melihat urutannya. Bahwa Tuhan Yesus tidak ingin kita kenyang karena roti saja, tetapi Tuhan Yesus mau kita dikenyangkan oleh firman Tuhan. Karena firman Tuhan aalah makanan bagi kerohanian kita. Itu sebabnya hingga Petrus mengatakan, “Itu adalah perkataan Tuhan yang hidup”. Itu yang memberikan hidup yang kekal.

PerkataanMu / Rhema

Perkataan (rhema/yun) ; apa  yang diucapkan, pernyataan , perkataan Tuhan Yesus. Mat 4:4, Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman(rhema) yang keluar dari mulut Allah." Dari sini kita melihat, kedua bagian ini memakai kata rhema. Yoh 6:68  Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal. Kalau makanan jasmani membuat kenyang untuk beberapa jam, maka firman Tuhan setiap hari akan mengenyangkan. Itu sebabnya Tuhan mengajar kita untuk belajar firman Tuhan, untuk belajar dari apa yang Dia ajarkan itu. Banyak orang belum belajar firman Tuhan, malah mereka sudah meninggalkan Tuhan. Saya tidak tahu kalau PA di gereja diikuti berapa orang. Jemaat GKKK Mabes ada 200 orang. Ada yang membawakan Firman untuk menyelidiki Alkitab karena Alkitab susah lalu memberi PR di rumah. Yang ikut ada pada bulan pertama 75 orang, itu hebat sekali. Bulan kedua 50 dan terus menurun. Mengapa sedikit? Belajar firman Tuhan jenuh tidak? Siapa yang baca Alkitab kalau kebanyakan apalagi sampai kitab Bilangan mau tidur? Kadang Firman Tuhan membosankan atau menarik seperti saat membaca buku Narnia? Terkadang Narnia lebih dibaca dibanding kitab Bilangan. Itu sebabnya banyak yang meninggalkan Tuhan. Tetapi Tuhan mengajarkan, “Perkataan Tuhan adalah perkataan yang hidup”. Maz. 119:105  Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Kalau tidak ada perkataan yaitu perkataan hidup yang kekal, maka kita akan tersesat. Itu sebabnya kita belajar firman Tuhan. Kalau kita mengatakan kita percaya Tuhan, maka kita harus belajar dari perkataan Tuhan. Perkataan yang  memberi hidup yang kekal. Bukan perkataan tiap hari gossip tetapi perkataan dari firman Tuhan. Sehingga di sini kita melihat , kenyataan yang terjadi saat ini. Sewaktu Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran dari perkataanNya, banyak orang yang meninggalkan Tuhan. Ternyata firman Tuhan itu bukan saja untuk dihapal. Hapal saja susah apalagi dilakukan. Firman Tuhan kalau hidup maka harus dilakukan dalam hidup kita. Sebagian besar Alkitab mengajar kita bahwa Allah kita adalah Allah kudus sehingga kita juga hidup kudus. Alkitab mengajar kita menjaga kekudusan.
              Saya pernah ikut tour  belasan tahun yang lalu. Pada tour itu yang ikut pesertanya seumuran. Dari Pontianak pada malam hari kita naik bus ke Kuching. Busnya bisa tidur punya. Sampai di Kuching, dijemput oleh tour guide dari Malaysia. Di sana tour guide omong-omong  yang porno dan jorok. Mendengarnya telinga kita tidak enak. Tetapi kita terlalu sopan duduk baik-baik sengaja tidak mau melihatnya agar ia tahu kita tidak mendengar.  Tetapi dia tidak tahu. Bukan saja saya yang tidak melihatnya. Setiap orang tidak mau lihat. Itu tanda omonganmu tidak kita dengar. Akhirnya tour leader langsung berdiri dan bicara ke tour guide. Dia berkata,”Boleh tidak saya minta kamu tidak bicara hal-hal yang seperti itu? Karena kami semua tidak suka” Puji Tuhan ada satu orang yang bicara, kalau tidak kita harus menahan diri untuk tidak menegur dia. Yang terjadi adalah fenomenanya. Mereka menganggap tidak apa-apa. Orang senang menyerempet hal-hal porno sedikit, semua orang mendengar tertawa supaya tidak ngantuk. Mereka menganggap hal yang melanggar kesucian itu sebagai hiburan. Betul tidak? Terkadang kita menjadi bingung. Sedangkan saya orangnya tidak terlalu malu untuk tampil beda. Prinsip saya : kamu tidak usah mengucilkan saya karena saya sangat PD menarik diri.
              Saya punya teman-tema SMA di Medan. Suatu kali saya pulang Medanuntuk reuni. Setelah reuni biasanya dilanjutkan dengan pergi nyanyi-nyanyi di karaoke. Kalau sudah sampai jam tertentu saya sudah harus pulang tidur dan tidak bisa keluar. Biar tidak tidur pun, di tempat tidur saya akan berbaring. Saya tidak bisa pulang malam. Setelah makan malam pk 21, mereka mau lanjut, saya minta diantar pulang. Mereka sudah tahu dan mengantar saya pulang. Besoknya dia bercerita, “Untung kamu tidak ikut. Mereka minum-minum dan berdansa di atas meja sampai pk 12 malam.” Mereka menganggap itu sebagai suatu hiburan. Minum-minum dan dansa-dansi. Mau hidupkan firman Tuhan? Apa yang terbaik yang kita lakukan.
              Apa yang dibaca dilakukan sehingga firman itu adalah firman yang hidup dan memberi hidup yang kekal? Sehingga bukan saya mendengar firman Tuhan lalu menutup Alkitab dan selesai. Itu sebabnya banyak yang meninggalkan Tuhan karena tidak menjalankan firman Tuhan dalam kehidupannya. Jangan anggap dosa itu hal yang biasa. Kalau firman Tuhan katakan hal itu dosa , maka kita juga katakan hal itu dosa.
              Beberapa waktu lalu, saya membaca ada berita tentang K-Pop dari Korea. Banyak anak muda yang suka K-Pop (artis korea yang nyanyi). Anak muda suka sekali. Tahu-tahu saya baca mereka tertangkap. Idola yang gagah dan ganteng, pakai jas dan muka cakap seperti baby-face tidak tahunya menyewa PSK, dan melakukan ini-itu yang diperkenan Allah. Mukanya baby face mengapa hati kayak iblis? Orang yang ganteng dan cantik ternyata  akhirnya banyak ditangkap bahkan ada yang bunuh diri karena tidak tahan diperalat. Ini kemudian menjadi sesuatu yang menggoncangkan Korea karena figure image yang selama ini dianggap bagus ternyata melakukan hal yang kotor. Banyak orang menganggap dosa sebagai tidak apa-apa (hanya hiburan saja). Karena kalau tidak, mereka merasa bosan. Hidup seperti orang tua dianggap tidak ada menariknya. Bagi mereka “yang begini dong yang menarik”. Ternyata bagi kita yang Kristen yang lebih menarik itu katanya dosa. Firman Tuhan menuntut kita dengan jelas. Sehingga kita harus berdasarkan rhema berani berkata tidak kepada dosa. Berani katakan tidak sewaktu ada yang mengajak ke tempat yang tidak benar. Walaupun kita akan merasa, kita dikatakan sebagai orang kurang gaul. Kalau saya dari dulu , PD saja tidak berteman karena tidak mau sampai malam ke tempat yang gelap lampunya karena tidak tahan. Di sana hati saya tidak damai. Jadi tidak usah kucilkan saya, karena saya akan menarik diri terlebih dahulu.
              Rasul Petrus mengatakan, “PerkataanMu adalah perkataan hidup”. Bukan berarti dia mengerti seluruh rhema itu karena dilanjutkan dengan perkataan,”Karena saya percaya engkau adalah Allah”. Mungkin banyak hal yang tidak semua bisa kita mengerti. Tetapi kita percaya kepada Tuhan Yesus yang mati menebus dosa. Bukan percaya karena sudah mendapat berkat atau melihat mujizat. Karena kalau hanya itu saja, kita akan meninggalkan Yesus suatu kali. Apakah kita telah percaya perkataan hidup yang kekal? Walau bukan berarti mengerti semuanya. Banyak yang masih tidak kita mengerti.  Percayakah kepada Tuhan Yesus? PerkataanNya ya dan amin? Beranikah kita melakukan firmanNya dalam hidup kita? Berani kita mengatakan tidak terhadap dosa?