Thursday, September 13, 2018

“Yahweh/Yehova Jireh” = Tuhan Menyediakan





Pdt. Hery Kwok

Kejadian 22:1-14
1  Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan."
2  Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."
3   Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.
4  Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.
5  Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu."
6  Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
7  Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"
8  Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
9  Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.
10  Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.
11   Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan."
12  Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."
13  Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.
14 Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."

Pendahuluan

              Pada tanggal 24 Agustus 2018 (Jumat) bertepatan dengan SIL di Sekolah Kristen Kalam Kudus Jakarta (GKKK Mabes ikut ambil bagian di sana), diadakan silaturahmi  antara pengurus Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia ( PGI) dengan Presiden Joko Widodo. Acara berlangsung secara tertutup. Saat itu saya diutus untuk mewakili Sinode GKKK ke acara tersebut. Ini adalah sebuah kesempatan langka karena tidak semua orang boleh datang ke sana (peserta yang akan hadir harus terdaftar namanya). Bila tidak terdaftar maka tidak boleh masuk. Awalnya saya tidak mau ikut, tetapi setelah berembug dengan rekan-rekan akhirnya saya pergi. Peserta yang hadir ingin bersalaman dengan presiden. Karena jumlah pendeta , karyawan PGI dan Lembaga Alkitab Indonesia yang hadir relatif banyak (250 orang) , saya tidak terlalu berharap banyak untuk dapat bersalaman.  Sewaktu mau masuk ke ruang acara, peserta yang hadir harus di-screening terlebih dahulu. Padahal kami sebelumnya telah berada di ruang tersebut, namun semuanya diminta untuk turun lalu dibersihkan lagi oleh tim kepresidenan. Ada seorang pendeta dari Surabaya yang membawa tas ransel sehingga harus disimpan karena tidak boleh dibawa masuk ke dalam ruang. Akhirnya ia menitipkan tas-nya dalam mobil saya.Karena saya parkir agak jauh (di sebelah gedung pertemuan), maka setelah menaruh tas ranselnya di dalam mobil, saya masuk ke ruang pertemuan paling akhir . Saya perkirakan saya tidak akan mendapat giliran untuk bersalaman dengan presiden. Saya duduk di deretan 3 baris bangku terakhir di sisi kiri dari 2 jalur. Waktu sedang duduk menunggu, tiba-tiba Bapak Presiden datang. Kebetulan ia memilih jalur di mana saya duduk dan saya menjadi orang ketiga yang disalaminya. Rasanya senang sekali. Karena merasa sebagai tuan rumah maka saya ucapkan, “Selamat datang!” Seorang ibu yang duduk di sebelah saya menyalami Bapak Presiden dan menempelkan tangan presiden  sampai ke dahinya karena merasa begitu senangnya. Kemudian dia berkomentar, “Tangannya halus padahal tukang kayu.” Mendengarnya, saya berpikir apa hubungannya tangan halus dengan tukang kayu? Semua orang di sana merasa antusias. Saat sesi foto semua yang hadir berebut agar dapat ikut berfoto. Saya perhatikan, “Ini presiden di mana orang banyak merasa senang dan memberi hormat. Ia orangnya ramah dan menyalami semuanya satu per satu. Ini merupakan sukacita.” Ini kunjungan pertama dari seorang presiden ke PGI. Saat melihat sosoknya saya berkata dalam hati,”Presiden ini banyak orang hargai karena orangnya rendah hati dan mau berbicara dengan rakyat jelata. Itu baru seorang presiden.” Bertemu dan mengenalnya kita sudah merasa sangat senang sekali. Apalagi kalau kita bertemu dan mengenal Allah.
              Tema khotbah selama 2,5 bulan ke depan adalah tentang Allah dengan nama-namaNya. Hari ini “Yehowa Jireh = Tuhan yang Menyediakan”. Selama 2,5 bulan ini, kita akan belajar nama-nama Allah yang menunjukkan sifat dan karakter Allah. Di sana kita akan belajar tentang Allah yang  melayani, melawat dan menyelamatkan kita. Waktu kita belajar tentang nama-nama Allah dan karakter-karakter Allah, apa yang seharusnya terjadi pada diri kita waktu kita mengenalNya dan memahami nama-namaNya? Kita dapat melihat di Alkitab bahwa seluruh orang suci saat berjumpa dengan Allah respons mereka luar biasa. Mereka sungguh-sungguh bersujud , merendahkan diri dan menaruh hormat, karena Allah sungguh-sungguh maha mulia dan suci. Nabi Yesaya dalam suratnya mengatakan, “Saya akan binasa karena saya melihat Allah yang hidup.” Nama Allah yang akan kita pelajari selama 2,5 bulan ini seharusnya membuat kita sukacita untuk melihat dan memahami bahwa Dia Allah yang hebat, dapat dipercaya dan sungguh-sungguh mengasihi kita. Saat belajar nama dan karakterNya, kiranya kita bertumbuh dalam kebenaran Kitab Suci.

Allah Menyediakan AnakNya untuk Menebus Dosa Manusia

              Dalam kitab Kejadian 22:14 ada pernyataan yang disampaikan oleh Abraham setelah peristiwa-peristiwa di atas  terjadi, “Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan." Pernyataan yang disampaikan oleh  Abraham tentang Allah yang menyediakan domba untuk menggantikan anaknya, memberi gambaran Injil yang ada dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Lama memberikan kita gambaran – gambaran Injil meskipun tidak secara nyata seperti pada Perjanjian Baru. Tetapi apa yang disampaikan oleh Perjanjian Baru tentang Yesus Kristus ada di dalam  Perjanjian Lama. Sehingga beberapa penafsir mengatakan Kitab Kejadian pasal 22 merupakan gambaran yang sangat nyata bagaimana hati Allah Bapa sungguh-sungguh rela  memberikan anakNya. Dan anakNya yang  diberikan kepada manusia tersebut adalah Anak yang menjawab seluruh pergumulan manusia. Waktu Allah menyediakan anakNya (Yesus Kristus), itu cukup untuk seluruh kebutuhan hidup manusia. Kebutuhan yang paling hakiki adalah kebutuhan di mana dosa manusia ditebus oleh Yesus Kristus. Itu sebabnya gambaran Injil yang ada pada Kitab Kejadian pasal 22 menggambarkan betapa luar biasanya Allah  merelakan AnakNya untuk diberikan kepada  manusia. Yang diminta Allah kepada  Abraham adalah anak tunggalnya, anak yang dikasihinya.

Pada ayat ke 2 dikatakan, "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Ada  2 frasa yang ditekankan yakni “anak yang tunggal” dan “anak yang kaukasihi”. Kata tunggal menjelaskan anaknya hanya Ishak (tidak ada yang lain). Anak perjanjiannya hanya satu orang saja yaitu Ishak. Yang tunggal itu adalah seorang anak yang sangat dikasihi. Karena Abraham telah menanti anak itu selama 25 tahun sejak Kitab Kejadian pasal 12 (dia dipanggil saat usia 75 tahun dan ia memperoleh janji Allah di usia 100 tahun). Proses mendapatkan Ishak bukanlah proses yang mudah, karena Sara mandul dan usia mereka berdua sudah tua. Jadi kemungkinan mendapat anak secara biologis sudah tidak ada. Sehingga saat mendapat anak, maka itu adalah anak yang ditunggu-tunggu dan luar biasa dikasihinya. Sehingga tepat sekali apa yang dikatakan di ayat 2. Kejadian pasal 22 menggambarkan hati Bapa yang mungkin tidak kita temukan secara panjang lebar di dalam kitab Injil. Karena Kitab Injil menceritakan Tuhan Yesus hadir di dunia dan Tuhan Yesus menebus dosa. Tetapi Allah yang memberikan Yesus Kristus digambarkan dalam cerita tentang Abraham yang menyerahkan dan memberikan anaknya,Ishak. Itu adalah anak yang dinanti-nanti, satu-satunya dan yang dikasihi. Belum lagi Abraham harus berbicara kepada Sara. Kalau kisah itu benar-benar terjadi, apa yang harus dikatakan Abraham kepada Sara? Hati Allah yang rela digambarkan di dalam diri Abraham yang rela memberikan anak satu-satunya sesuai dengan yang tertulis pada ayat 12b  dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.

Sebelumnya Abraham tawar menawar waktu Allah ingin memusnahkan Sodom dan Gomora. Beberapa kali Abraham bertanya, Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" (Kej 18:24-25). Tuhan pun menjawabnya ,”Tidak!” Lalu Abraham bertanya lagi, Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?" Firman-Nya: "Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana." Berapa kali Abraham menawar kepada Tuhan seperti itu? Lima kali! Saya cukup tertegun ketika membaca Kej 22:3   Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Sebelum kisah di pasal 22, waktu Sodom dan Gomora akan dibakar dan Abraham tahu ada Lot (keponakannya) dikatakan Abraham meminta kemurahan Allah. Jadi Abraham tawar menawar dengan Allah supaya Allah jangan menghukum. Abraham seperti orang Tionghoa yang jago tawar-menawar. Orang Tionghoa dan Yahudi punya kemiripan karena menawarnya  banyak (menawarnya bisa rendah sekali atau di bawah harga dasar). Tawar-menawar dilakukan oleh Abraham saat Ia ingin menolong Lot. Tetapi waktu Allah meminta anaknya, tidak diceritakan Abraham tawar-menawar dengan Allah. Ia tidak mengatakan, “Tuhan, apa Ismael saja?” Kalau perlu Ismael yang sudah diusir dipanggil lagi. Atau ada bujang lain yang melahirkan anaknya. Dia tidak menawar seperti itu. Gambaran tentang kerelaan hati Abraham untuk memberikan anaknya itulah gambaran hati Bapa. Ada begitu banyak kesulitan yang dialami Abraham, tetapi kesulitan itu tidak membuatnya mundur terhadap apa yang Allah minta. Itu sebabnya Kejadian pasal 22 menjelaskan hati Bapa. Seperti pujian Ya Bapa kupanggil Engkau Bapa. Waktu Bapa memberikan dan menyediakan anakNya (Yesus Kristus) sungguh-sungguh cukup untuk kebutuhan manusia.

Allah Melihat

Waktu kita lanjutkan lagi kisahnya pada ayat-ayat selanjutnya, Abraham diberkati luar biasa. Kisah ini sangat kita pahami. Tetapi dalam tema “Yehova Jireh”, saya ingin mengangkat mengapa Abraham sungguh-sungguh mempunyai sebuah pernyataan yang luar biasa yang mengatakan : Tuhan menyediakan. Dia Allah yang menyediakan. Mengapa pernyataan ini keluar dari mulut Abraham? Pada Kejadian 22:1a dikatakan Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Isilah “setelah semuanya itu” adalah istilah di mana pada pasal-pasal sebelumnya Abraham sudah mengalami dan melewati proses hidup, yaitu proses di mana ia keluar dari Ur-Kasdim, ia berpisah dengan Lot lalu ia menyelamatkan Lot, ia mendapat anak (Ishak , anak perjanjian), ia pernah juga salah paham di mana ia mengambil Hagar. Semua peristiwa itu terjadi , setelah pasal 21 di mana Ishak diberikan pada Abraham. Lalu pada pasal 22 dikatakan, “Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham”. Istilah “mencoba” dalam Perjanjian Lama adalah istilah yang dipakai oleh seorang tukang logam yang ingin memurnikan logamnya. Istilah “mencoba” adalah istilah untuk memurnikan logam agar benda-benda yang bukan unsur logam itu hilang pada waktu proses pemurnian. Tukang emas akan membersihkan kadar emas itu agar seluruh karat yang menempel dalam emas gugur dan hilang sehingga tinggal emas murni. Seorang tukang logam akan memanaskan sedemikian panasnya sehingga hanya zat emas yang tertinggal (yang lain hilang). Ayat 1 terjadi setelah Abraham sudah mendapat janji Allah (Ishak) dan Ia ingin membuat Abraham untuk memiliki iman yang lebih. Sehingga pada ayat 22:1 dikatakan, “Lalu Allah mencoba Abraham”.  Yang dicoba dan diuji Allah kepada Abraham adalah Allah meminta anaka satu-satunya. Waktu membaca di dalam ayat ke-12 Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Iman Abraham dicatat oleh penulis kitab Ibrani. Ia merangkum ayat 1 sampai 13 pada Kitab Ibrani 11:17-19 tentang iman Abraham. Hanya 3 ayat yang ditulis dalam Kitab Ibrani 11 tentang iman Abraham yang menyerahkan anaknya.

Pernyataan yang lahir dari mulut Abraham adalah pernyataan yang lahir dari Abraham yang mempunyai iman yang diuji. Iman yang sungguh-sungguh ditempa oleh Allah. Iman yang berani mengorbankan dan mempersembahkan yang terbaik. Itu sebabnya Abraham berani mengatakan bahwa Allah yang menyediakan. Istilah menyediakan dalam bahasa Ibrani sebenarnya berarti melihat .  Kejadian 22:7-8  Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?"  Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Istilah “menyediakan” akar katanya dalam bahasa Ibrani artinya melihat. Juga pada ayat 14 Tuhan menyediakan akar katanya adalah melihat. Maka istilah “Tuhan menyediakan” berarti “Tuhan melihat”. Apa yang Tuhan  lihat adalah iman Abraham. Waktu Injil mencatat pada waktu nanti Anak Manusia datang, apa yang Dia cari? Iman! Ia tidak mencari yang lain (bukan manusia dengan kekayaan, kesuksesan dan segala kegemilangan dunia), tetapi Dia mencari dan melihat iman. Inilah yang dikerjakan Allah. Abraham diuji imannya dan Allah melihat iman Abraham. Waktu imannya sungguh-sungguh dan rela memberikan  anaknya yang satu-satunya maka di dalam ayat 14 dicatat bahwa baru setelah itulah dikatakan “Allah melihat” apa yang kita lakukan.

Jehova Jireh

Beranikah kita berkata,”Jehova Jireh”? Istilah ini seringkali digunakan oleh beberapa orang yang mengatakan bahwa Allah adalah Allah menjawab doa. Seringkali kita mengartikan Jehova Jireh secara keliru karena tidak melihat konteksnya. Memang perkara Allah menjawab doa adalah hak dan wewenang Allah dan orang percaya diberi anugerah untuk memintanya. Tetapi istilah “Jehova Jireh” bukanlah istilah yang membuat kita meminta kepada Allah dan berseru kepadaNya lalu Allah akan menjawab apa yang kita minta. Tetapi istilah Yehova Jireh adalah ungkapan dari Abraham saat imannya sungguh-sungguh dilihat oleh Allah. Beranikah kita mengatakan “Allah melihat atau menyediakan untuk saya”? Allah sudah menyediakan Yesus bagi kita dan itu sudah dibuktikan di kayu salib untuk kita. Bukti dari Allah menyediakan itu sudah nyata. Tetapi pertanyaan Allah yang menyediakan untuk kita , apakah Allah yang benar-benar kita katakan dengan iman kita bahwa Dia melihat saya, Dia yang menyediakan saya? Abraham berani mengatakan “Allah yang menyediakan” karena ia melakukan dan menyerahkan anaknya dalam perjalanan iman. Ibrani pasal 11 menceritakan tokoh – tokoh iman yang hebat. Mereka berani membayar harga dan orang yang sungguh-sungguh menyatakan bahwa mereka mengasihi Allah sampai menyerahkan dirinya. Namun sekarang ini berbeda. Allah baru minta talenta kita saja, kita sudah hitung-hitungan. Allah baru minta persembahan kita saja, kita sudah pikir jauh-jauh. Allah meminta waktu kita saja, kita sudah kesulitan. Bagaimana kita berani berkata “Yehova Jireh” (Allah menyediakan. Allah melihat). Saat menyiapkan catatan khotbah ini, saya merasa takut. Mengapa? Apakah benar Allah melihat saya dan iman saya? Iman yang bagaimana? Iman yang rela dengan Tuhan dan tidak hitung-hitungan dengan Tuhan. Iman yang berani berkata, “Tuhan apa yang Kau minta aku beri”. “Apa yang Engkau mau, saya persembahkan”. “Apa yang Kau minta, Aku tidak akan pernah tolak!” Saya khawatir kita adalah orang yang selalu hitung-hitungan dengan Tuhan.  Orang-orang yang selalu pakai kalkulator dalam segala aspek. Waktu Tuhan minta Allah melihat pekerjaan saya, berkata,”Apa yang kamu minta diberikan, tidak adan ditolak. Kita berani? Kita selalu hitung-hitungan dengan Tuhan. Segala aspek kita pakai kalkulator. Saat Tuhan tidak minta yang mungkin hatimu ada di sana yaitu harta ia tidak memintanya tetapi waktu ia minta talentamu saja maka kita sudah hitung-hitungan. Jemaat Tuhan waktu dilibatkan melayani Tuhan, seringkali kita berpikir Tuhan saya sibuk dll. Abraham dengan imannya berkata, “Tuhan aku beri apa yang Engkau minta.” Itu sebabnya ayat ke-14, waktu Allah menyediakan , Allah melihat, Abraham berkata “Jehova Jireh” dalam hidupnya.

Penutup

              Di Bulan Oktober 2018, di GKKK Mangga Besa diadakan pemilihan-pemilihan pengurus. Sebagai gembala saya bertanya,”Apa yang berani engkau berikan kepada Tuhan dalam hidup?” Allah sudah berikan Yesus buat kita , Dia sudah berikan yang terbaik. Saat waktu Ia menguji iman kita dan memurnikan iman kita dan meningkatkan iman kita, Dia minta hanya sedikit tetapi kita hitung-hitungan. Itu sebabnya kita tidak pernah mengalami Jehova Jireh dalam hidup. Itu sebabnya kita tidak pernah mengalami betapa Dia Allah yang menyediakan dan sudah mencukupi kita. Mari kita pikirkan tentang Allah Jehova Jireh sungguh-sungguh telah memberikan yang terbaik bagi kita. Sekarang apakah kita berani sungguh-sungguh memberikan yang terbaik bagi Tuhan? Apakah kita berani berkata, “Tuhan seperti Abraham, aku ingin memberikan apa yang Engkau minta.”  

Gerejamu dan Bangsamu : Tanggung Jawabmu



Pdt. Hery Kwok

Galatia 5:13-15
13  Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
14  Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!"
15  Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Yeremia 29:4-8
4  "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel:
5  Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;
6  ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!
7  Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.


Pendahuluan

              Kamis lalu (16 Agustus 2018) kirab obor (torch relay) Asian Games 2018  etape pertama (5 kilometer) berjalan mulai dari Kantor Kelurahan Tanah Sereal - Jalan K.H Zainul Arifin - Jalan Gajah Mada - Jalan Pintu Besar Selatan - Jalan Pintu Besar Utara - Jalan Kali Besar Barat - Jalan Kunir sehingga polantas melakukan pengalihan arus lalu lintas di Jakarta Barat. Tepuk tangan, teriakan “Indonesia” dan lagu-lagu patriot terkait dengan kemerdekaan menyambut kedatangan pawai obor Asian Games 2018. Anggota komunitas motor gede (moge) mengawali iring-iringan kirab obor Asian Games 2018 di jalan Gajah mada. Warga yang sudah menunggu sejak pagi langsung bersorak-sorai menyambut obor tersebut. Kelompok drum band yang terdiri dari siswa SD pun dengan semangatnya menabuh alat musik yang mereka bawa walau mereka harus menunggu lama. Lagu penyemangat terus dimainkan, hingga obor berpindah tangan ke Devina Yuliandharini yang merupakan  atlet Nasional Renang Indah, dan di bawa ke etape selanjutnya.
Karena saya dan shi-mu tidak mengetahuinya maka sewaktu mau pergi belanja beberapa keperluan bazar gereja di Glodok lewat Hayam Wuruk dan Beos kami dihalangi oleh para petugas. Akhirnya mobil saya parkirkan di Jl. Pinangsia. Begitu banyak orang yang menonton kirab obor tersebut sehingga lalu lintas macet total. Mereka bersorak dan menyanyikan lagu-lagu nasional sehingga suasananya sangat bersemarak. Kami ingin ke Glodok karena mau berbelanja ke toko yang menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga (alat-alat masak). Saat kami tiba, toko itu sedang sepi pengunjung. Biasanya toko itu sangat ramai , sehingga pemiliknya tidak mau melayani pertanyaan para pembeli. Namun hari itu hanya ada saya dan istri. Setelah saya menyapanya ia membuka pembicaraan dengan kalimat, “Sebentar lagi kita akan mengikuti pemilu. Kira-kira pilih siapa ya?” Saya memahami arah tujuan pertanyaannya yang ingin memancing jawaban. Jadi saya menanggapinya,”Kita pilih calon presiden yang memiliki kinerja yang jelas dan telah terbukti mensejahterakan rakyat.” Namun ia sepertinya tidak setuju dan membalas,”Tetapi keadaan ekonomi sekarang sedang sulit dan merosot.” Saya balas kembali,”Yang merosot bukan hanya ekonomi Indonesia saja tetapi juga ekonomi negara-negara lain seperti Singapura dll. Jadi bukan karena gara-gara negara kita dipimpin oleh presiden sekarang.” Dia pun terdiam sejenak lalu berkata lagi,”Tapi hari ini menjelang Asian Games ada pawai obor keliling melewati Glodok membuat toko saya sepi.” Ini adalah contoh orang egois karena hanya memikirkan diri, dagangan dan tokonya saja  dan tidak mau melihat kepentingan bangsa yang lebih besar. Kalau hidup orang-orang seperti ini, bagaimana dengan gereja dan apa jadinya negara?
              Saya pernah berkumpul dengan teman SMA. Dia berkata,”Saya belum tentu pilih presiden yang mencegah korupsi.” Saya pun menanyakan alasannya,”Mengapa?”. Ia pun menjawab,” Karena usaha saya menjadi susah!” Saya pun mencoba mengingatkannya, “Mengapa tidak memikirkan negara jauh ke depan atau memikirkan generasi mendatang tapi hanya memikirkan diri sendiri? Karena bagimu di negara yang bisa korupsi kamu bisa jadi makmur, berdagang dan mendapat keuntungan pribadi!” Seringkali kita melihat kebenaran bahwa apa yang ada dalam diri manusia tentang  rasa mementingkan diri (ego) sangat luar biasa.
              Dalam kitab Galatia, Rasul Paulus ingin memberikan suatu catatan yang sangat penting. Sehingga tema hari ini adalah kita mempunyai tanggung jawab yang tidak boleh kita abaikan. Kedua contoh di atas di mana manusia selalu menuntut hak-hak dan keinginannya. Tapi manusia telah kehilangann dan lupa punya tanggung jawab. Kita punya 2 institutsi yang Tuhan berikan untuk menolong orang yang tidak hanya memikirkan diri , tidak picik untuk golongan-nya sendiri dan tidak mau peduli dengan orang lain yaitu gereja dan negara.

Tanggung Jawab Orang Kristen

1.     Tanggung Jawab kepada Gereja

Apa tanggung jawab kita dalam kehidupan sebagai orang Kristen yang sudah ditebus oleh Tuhan? Apa tanggung jawab kita sebagai gereja yang ditempatkan Allah dalam keberadaan kita?
         Kitab Galatia 5: 13 mengatakan Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat Galatia memberikan catatan-catatan yang sangat keras ke jemaat di sana. Surat Galatia adalah surat yang paling keras karena di sana Rasul Paulus mencela dan mengkritik orang-orang yang Kristen yang hidupnya tidak berpadanan dengan Firman Tuhan dan hanya mementingkan kedagingannya. Itu sebabnya pada Galatia pasal 5 Rasul Paulus memberikan kriteria dan ciri dari orang-orang yang dipimpin oleh keinginan  roh dan keinginan daging. Padahal pada ayat 13 Rasul Paulus mengatakan bahwa  kamu adalah orang-orang yang sudah merdeka. Rasul Paulus menjelaskan tentang status orang-orang yang sudah percaya Kristus yang disebut sebagai gereja Tuhan.
         Ada 2 definsi tentang gereja yaitu yang pertama adalah orang-orangnya yaitu kita  yang telah ditebus dan  dimerdekakan oleh Kristus dari dosa. Yang kedua adalah institusinya. Di sini saya berbicara tentang orang-orang-nya (definisi yang pertama). Rasul Paulus berbicara tentang orang-orang yang sudah dimerdekakan. Rasul Paulus memulai dengan kalimat bahwa statusmu sudah jelas yakni sebagai orang merdeka. Kalau tidak menghargai kemerdekaan , kita tidak pernah bisa mengisi kemerdekaan itu. Kadang-kadang manusia suka ironis dalam kondisinya. Waktu di penjara kita menghendaki kebebasan (kapan saya bebas atau kapan dapat remisi?). Kalau berbuat baik di penjara agar saya pada hari raya dapat remisi dan dipotong masa tahanannya. Anehnya, sewaktu tahanan berada di penjara ingin bebas, tetapi waktu berada di luar penjara dan sudah bebas, orang tidak mengerti arti kekebasan. Artinya kita tidak mengisi kebebasan itu  dengan hal-hal sepatutnya. Maka kondisi ini sangat ironis dan bertentangan. Orang yang di penjara ingin bebas, sedangkan orang yang bebas, tidak memahami kebebasannya dan dia melakukan hal yang baik. Pada ayat 13, Rasul Paulus  mengatakan, “Memang kamu sudah dipanggil untuk merdeka.” Ia ingin mengingatkan bagaimana Allah di dalam Kristus sungguh-sungguh telah melakukan karyaNya yang hebat. Waktu membaca ayat ini, saya teringat injil Matius tentang penggarap kebun anggur. Peristiwa ini dicatat dengan baik oleh Matius. Pemilik kebun anggur mengirim orang-orang upahannya untuk menagih. Orang-orang upahan ini merupakan catatan tentang nabi-nabinya. Allah telah mengirim orang-orang upahannya yaitu nabi-nabinya  untuk datang dan memperingati tentang dosa dan tentang bagaimana mereka harus bertobat, sebagai orang pilihan harus punya kehidupan yang jelas. Tetapi dalam catatan tentang kebun anggur ini, orang-orang itu (para penggarap) membunuh orang-orang suruhan. Lalu pemilik kebun anggur mengirim anaknya yang diharap akan dihormati dan diberi tempat yang baik. Tetapi justru waktu melihat anak majikan itu penggarap-penggarap anggur membunuhnya. Pada ayat 13 (memang kamu telah dipanggil untuk merdeka) Rasul Paulus ingin mengingatkan karya Kristus yang telah sungguh-sungguh menebusmu dan  membebaskan engkau dan telah membuatmu tidak ada lagi dalam kukungan dosa dan terbebas dari kuasa dosa.
         Dalam ayat selanjutnya ia menuliskan ,”Tetapi janganlah kamu menggunakan kesempatan itu untuk hidup dalam dosa”. Kebebasan yang diberikan dalam Kristus, tidak membuatmu melakukan sebebas-bebasnya seperti di dalam hati. Kebebasan kita adalah kebebasan yang terbatas. Para filsuf Barat khususnya Immanuel Kant (1724-1804) mengatakan , “Kebebasan manusia tidak bisa sebebas-bebasnya.” Karena kalau kebebasan manusia dilakukan sebebas-bebasnya maka akibatnya akan mengerikan. Pdt. Stephen Tong pernah berkata ,”Kalau kita berada di jalan raya dan di perempatan jalan tidak ada lampu merah maka setiap orang bisa jalan, nyelonong dan ngebut dari keempat jurusan, maka di perempatan itu akan terjadi kecelakaan yang mengerikan.” Karena kebebasan dilakukan seenak nya. Kita tidak berpikir bahwa kebebasan kita terbatas terhadap apa yang ada di sekeliling kita. Jadi waktu bicara tentang kebebasan, Rasul Paulus berbicara tetang kebebasan yang tidak boleh digunakan untuk kesempatan dalam dosa. Apa maksud dengan  frase “kesempatan dalam dosa”? Ia bicara tentang keinginan daging yang sifatnya untuk kepentingan diri sendiri. Keinginan daging yang membuat kita hidup untuk diri kita.
         Contoh sederhana dari keinginan yang sebenarnya selalu untuk kita. Ada yang senang nyontek karena itu perkara yang paling mudah. Tidak perlu usaha banyak tapi memperoleh hasil sebanyak-banyaknya. Itu adalah ego karena orang tidak mau belajar dengan susah payah tapi mau mendapat nilai. Kita berusaha dengan cara-cara yang tidak bagus karena keinginannya untuk diri sendiri. Itu terbukti banyak sekali.  Beberapa waktu lalu, saya melakukan diskusi dengan teman-teman. Sekarang zaman online yakni zaman di mana  saat mau beli barang kita tidak perlu ke toko, tinggal buka aplikasinya (seperti  Tokopedia, Blibi dll) lalu pesan. Dalam sistem usaha online ada yang bisa diakali untuk mengambil keuntungan. Kemudian ada yang membuka rekening bodong lalu mencoba pesan barang yang sebenarnya tidak ada, agar dapat komisi. Dengan melakukan hal tersebut untuk mendapat komisi (tanpa ada transaksi jual beli) maka itu sebenarnya transaski untuk kepentingan di mana kita melakukan perkara-perkara yang sifatnya untuk ego, memuaskan hawa nafsu atau perbuatan dosa. Maka dikatakan Rasul Paulus agar kita  jangan menggunakan segala kebebasan untuk melakukan hal-hal yang sifatnya dosa.
         Beberapa waktu lalu seorang teman hamba Tuhan ditilang gara-gara melanggar peraturan lalu-lintas ‘3 in 1’ . Ia marah sekali karena merasa rambu-rambu tidak jelas dan  oknum polisi hanya mencari-cari kesalahan orang untuk mencari uang. Sehingga polisi dicap agar bila nanti punya anak perempuan jangan menikah dengan polisi karena polisi adalah aparat yang suka menilang orang, mencari kesalahan orang dan segala macam. Itu gara-gara kesalahan seorang oknum polisi maka semua polisi dicap tidak benar. Sehingga ada yang memberi pernyataan, “Biar saja polisi itu makan duit dengan tidak benar, nanti anak-istrinya akan makan duit yang tidak benar.” Sehingga kalau bisnis kita tidak benar, maka kita sedang memberi anak-istri makanan yang tidak benar yang kata orang “tidak jadi daging”. Karena kita berada dalam kebebasan untuk berbuat dosa. Rasul Paulus mengingatkan kita agar tanggung jawab kita sebagai orang yang telah ditebus, dimerdekakan, melayani seorang akan yang lain. Ia memberikan kita catatan untuk melakukan tugas sebagai gereja yaitu melayani. Karena waktu kita melayani maka kita hidup dalam pimpinan roh. Orang yang melayani adalah orang yang tidak ego terhadap dirinya, tetapi membuka hatinya untuk orang lain dan memberikan dirinya untuk orang lain. Aku ingin ikut ambil bagian dalam apa yang dibutuhkan. Apa yang menjadi kesulitanmu saya ingin ikut ambil bagian. Itu tanggung jawab gereja yang dicatat oleh Rasul Paulus oleh karena kita sudah dimerdekakan. Kalau kita sudah dimerdekakan tetapi tidak menggunakannya dengan melayani maka kita akan menggunakan kebebasanmu untuk melakukan dosa. Karena itulah Rasul Paulus mengingatkan tanggung jawab kita yang sangat baik sekali.

2.     Tanggung Jawab kepada Negara

         Ini merupakan tanggung jawab kita sebagai warga negara. Nabi Yeremia memberi catatan suatu kondisi orang Israel yang berada dalam pembuangan. Orang Israel mengalami dua kali perjalanan exodus. Pertama, perjalanan Israel keluar dari Mesir ke Tanah Kanaan, itu exodus pertama. Saat itu mereka merasa sukacita karena mereka menemukan tanah perjanjian dan mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir. Mereka tidak lagi diperhamba oleh bangsa Mesir. Mereka pergi dengan sukacita karena mereka berada di negara yang dijanjikan Tuhan. Exodus kedua adalah orang Israel pergi ke tanah pembuangan karena dosa-dosa mereka. Itu merupakan masa yang paling susah. Sebagai bangsa mereka sudah kehilangan dirinya. Sebagai orang Yahudi, nilai mereka sudah habis dengan musuh mereka. Di tempat pembuanganlah ada nabi palsu yang mengatakan bahwa kita akan pulang dan Allah memberi kelepasan lagi . Allah mengatakan itu adalah janji-janji yang palsu. Pada kitab Yeremia 29:8 dikatakan  Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan! Karena mereka adalah nabi-nabi palsu maka kamu tidak perlu mendengarkan mereka.

Waktu di orang-orang Yahudi ada di negara pembuangan Tuhan ingin mengingatkan :

1.     Hidupmu ada di negara yang memang Aku berikan sebagai konsekuensi dosamu.

Kamu harus menanggung dosamu dan kamu berada dalam pembuangan di mana engkau menanggung semua kesalahanmu. Di sanalah engkau harus berdiam diri dan hidup sebagai bangsa yang terjajah. Pada ayat ke-8 dikatakan “Sesungguhnya firman Tuhan : Jangan kamu diperdayakan oleh nabi-nabi”. Ayat ini ingin mengingatkan bahwa realita hidup di mana Allah taruh engkau di mana saja adalah realita yang harus engkau jalani.  Orang Israel tidak mau menerima realita bahwa mereka dijajah. Itu sebabnya mereka ada yang mau pulang dan kembali dan Tuhan marah dengan orang-orang seperti ini. Saya ingin menghubungkan dengan realita di Indonesia. Suku Tionghoa, Jawa , Batak adalah orang Indonesia. Kita hidup di Indonesia yang beraneka ragam dan pluralisme. Itu sangat kental dalam perjalanan hidup kita berbangsa. Kita mungkin sebagai kelompok yang menganggap diri orang-orang minoritas. Seringkali mungkin ada perasaan-perasaan di mana kita berontak dan tidak menerima, tetapi itu adalah realita.  Saya senang dengan ayat ini karena Nabi Yeremia mengingatkan tentang realita di mana kita ditempatkan adalah bukan kebetulan. Tuhan tidak pernah menempatkan kita secara kesalahan atau kebetulan . Kita dilahirkan sebagai orang Indonesia , itu adalah rencana Allah untuk kita. Waktu kita ditempatkan sebagai bangsa Indonesia dan kita adalah orang percaya kepada Kristrus , mungkin kita adalah kelompok sangat kecil. Tetapi realita ini tidaklah membuat kita tidak memiliki peran dalam negara ini. Karena itulah Nabi Yeremia mengingatkan realita ini terlebih dahulu agar realita ini jangan sampai membuat kita tidak membuka diri atau tertutup atau membenci. Berapa lama kita menjadi orang-orang yang membenci orang-orang sebangsa kita. Berapa lama kelompok minoritas merasa yang kemudian memikirkan hal-hal negatif kepada bangsa ini. Waktu kemarin penetapan cawapres dan capres mendatang ada beberapa komentar muncul, di antaranya, “Apa masih mau golput seperti pada pilkada?” Ternyata waktu pilkada lalu, banyak yang memilih sebagai golput (tidak memilih). Siapa yang golput? Apakah kita dari suku etnis Tionghoa? Ini perkara penting. Kalau golput kita hilang telah kesadaran bahwa kita hidup dalam realita di bangsa ini sehingga kita tidak mau menerima realita itu. Nabi Yeremia mengingatkan agar sebagai orang-orang yang dibuang engkau harus bisa menerima  realita ini baru engkau bisa berkarya. Kalau tidak pernah menerima maka engkau tidak akan bisa berkarya di suatu tempat di mana engkau ditempatkan Tuhan.
Apa tanggung jawab kita sebagai warga negara di negara Indonesia. Pada ayat 5:4-6 Nabi Yeremia tidak bicara muluk-muluk (engkau akan menjadi politikus atau anggota DPR). Dia bicara tentang hal sederhana, tentang kontribusi orang Israel yang ada di Babel. Apa kontribusinya? Engkau harus bekerja keras di mana engkau bekerja atau berdagang maka jadilah karyawan atau pedagang yang baik , maka kontribusi sebagai tanggung jawab Yahudi di pembuangan “engkau harus bekerja keras”. Realitamu  membukakan bahwa engkau ada di sini , dan engkau tidak boleh berdiam dalam berkarya. Melalui apa? Melalui bekerja keras. Tanggung jawab kita sebagai bangsa Indonesia adalah kerja keras. Kerja keras inilah yang sudah mulai menghilang dalam zaman yang sekarang kita hidupi. Orang lebih senang dapat banyak uang tanpa perlu berlelah-lelah. Orang ingin cepat dapat uang tapi tanpa berkeringat. Mental ini adalah mental budak dan mengerikan. Mental ini masuk ke gereja dan masuk ke orang-orang Kristen. Ada banyak orang Kristen yang tidak mau bekerja keras tapi mau enak dan uang banyak. Ada banyak orang Kristen yang bekerja lalu berhenti, kerja lagi terus berhenti lagi  dan terus begitu. Itu mental yang tidak mau bekerja keras.
Saya hidup saat ekonomi  sedang susah. Papa saya orang susah. Dari kecil  saya menenteng es untuk dibawa ke kantin. Itu pekerjaan yang memalukan karena teman-teman saya melihat saya membawa es. Tetapi papa saya hanya berkata, “Kalau kamu tidak mau bekerja keras, maka lebih baik kamu tidak hidup.” Kata-kata ini luar biasa karena membentuk saya untuk tidak menyerah terhadap kondisi. Saya berani untuk terus bekerja karena itulah yang ditanamkan dalam diri saya. Nabi Yeremia berkata, “Usahakanlah tempat di mana engkau berada.” Ia bicara tentang kerja keras yang harus kita lakukan di bidang masing-masing. Kita tidak usah-usah muluk seperti ingin membela bangsa dan lain-lain. Bekerjalah dengan baik. Saat bekerja sebaik-baik, punya keluarga baik, tidak menyusahkan lingkungan dan tidak menjadi beban negara. Itu sudah baik.  Tetapi sepanjang kita tidak bekerja keras, dan engkau menjadi keluarga yang merepotkan dan menjadi beban negara, maka itulah yang menjadi bahaya .
Saya beberapa kali bergurau dengan orang-orang yang taraf ekonominya rendah tapi anaknya banyak. Saya suka berkata,”Bu tidak dipikirkan mengapa punya anak lagi?” Jawabannya mudah,”Habis kebablasan Pak” jawabnya santai. Maunya tidak tapi akhirnya dapat.” Untuk mencari makan saja susah tetapi anaknya terus lahir. Saya terkadang berpikir,”Kita maunya apa? Tidak mau kerja keras tetapi anak maunya banyak dan duit maunya banyak” Ini mental budak. Nabi Yeremia mengingatkan “Engkau berada di negara Babel dan engkau harus tetap bekerja keras!” Mari pikirkan semangat ini. Karena semangat ini lahir dari Kitab Suci. Semangat di mana engkau ada dengan realitamu dan engkau  terus bekerja keras.

2.     Harapan akan hidup yang lebih baik.

Dalam ayat 5-6 Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;  ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Ayat-ayat ini berbicara tentang harapan untuk hidup yang lebih baik. Waktu orang percaya yang bekerja-keras punya harapan, punya sesuatu di mana engkau percaya terhadap apa yang akan Allah buat, itu akan membuatmu menjadi orang-orang yang punya mental kuat menghadapi tantangan. Ini sebenarnya modal yang bisa diberikan kepada bangsa ini. Ketika engkau mempunyai spirit yang kuat dan punya pandangan tentang masa depan yang bisa diyakini di dalam Tuhan maka engkau akan menjalani hidup itu dengan luar biasa. Menjalani hidup dengan luar biasa inilah adalah sebuah upaya yang bisa diberikan kepada bangsa ini karena engkau bisa berkontribusi untuk bangsa ini dengan baik.

Mari pikirkan apa yang engkau bisa perbuat untuk gereja dan negaramu. Karena kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan oleh Tuhan.