Sunday, August 12, 2018

Alkitab : Penuntun Jalanmu

Ev. Charlotte

2 Tim 3:14-17
14  Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.
15  Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
16  Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
17  Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Ulangan 6:4-9
4  Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
5  Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
7  haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
8  Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
9  dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Legacy (Warisan)

              Tema hari ini : Alkitab Penuntun Jalanmu. Setiap orang tua umumnya selalu memikirkan apa yang mau diwariskan kepada anak-cucu-nya. Billy Graham berkata, “Warisan terbesar bukanlah warisan uang atau hal-hal yang bersifat materi yang dikumpulkan orang sepanjang hidupnya tetapi warisan karakter dan iman (the greatest legacy one can pass on to one’s children and grandchildren is not money or other material things accumulated in one’s life, but rather a legacy of character and faith)”.

Apa yang ingin Anda wariskan ? Bersifat Sementara atau Bernilai Kekal ?

Warisan kekal orang percaya ketika menghadap Tuhan bukanlah ijazah atau emas-berlian. Jangan membawa emas-berlian karena itu menjadi sampah di sorga karena jalanannya sudah dari emas. Maka bawalah iman kepada Kristus dan karakter yang serupa dengan Kristus. Karakter dan iman adalah warisan yang diberikan kepada anak-anak dan warisan itu memiliki nilai kekal. Biasanya orang akan memikirkan tentang apa yang dikumpulkan sepanjang hidup seperti : emas , deposito, anak sekolah tinggi sampai S-3? Teman saya berkata, “Saya sudah punya 7 polis asuransi, maka saat meninggal saya akan tenang karena klaim asuransi tersebut bisa dinikmati oleh anak cucunya.” Saya berkata,”Memang benar. Tetapi bagaimana kalau meninggalnya bareng-bareng? Jadi akan diwariskan kepada siapa?”

Apa yang Dapat Diwariskan Orang Tua ???

Apa yang bernilai kekal yang dapat diwariskan oleh orang tua?

1.     Orang tua harus mengajarkan Firman Tuhan sampai anak menerima dan melakukan

2 Tim 3: 14  Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.
Kehidupan setiap orang tua berbeda-beda. Tidak semua bisa mewariskan uang, ilmu atau harta. Sebagai orang Tionghoa kalau punya 3 anak memikirkan bagaimana supaya bisa memiliki 3 ruko, rumah atau perusahaan supaya anak-anak tidak berebut. Padahal kalau di pengadilan sudah saling berebut satu dengan lain. Rasul Paulus mengatakan kepada Timotius ,“Kamu harus ingat, kamu diajarkan kebenaran. Kamu diajarkannya kepadamu. Kebenaran yang sudah kamu terima dan yakini, harus kamu pegang itu.” Sebagai orang tua kita harus mengajarkan ke anak-anak sampai diterima dan hidup di dalam diri anak-anak yang kita miliki dan ajar baik sebagai orang tua maupun guru Sekolah Minggu yang diberikan kesempatan menjadi orang tua bagi anak-anak Sekolah Minggu.

Apa yang perlu diajarkan?
Ulangan 6 : 4-9

a.     Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan

Dengan mengasihi Tuhan lebih dari apa pun, maka orang akan membenci dosa lebih dari apa pun juga. Saat dikatakan,”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa dan kekuatanmu” maka Tuhan tidak meminta 95% tapi 100%! Ilustrasi : bagaimana kalau pacar berkata, “Saya mencintaimu tapi hanya 90% karena 10% masih tertambat pada pacar sebelumnya.” Ia berkata, “Masih untung 90% jadi terima saja.” Apakah kita mau? Tentu tidak mau, karena kita maunya seluruhnya.
                 Waktu masih muda, saya ‘ditembak” (diminta menjadi pacar) oleh seorang rekan pelayanan. Saya tahu ia pernah mengalami putus pacar dan masih menyimpan foto pacarnya yang ditaruh di meja belajarnya. Saat menembak saya ia berkata,”Sebenarnya pintu hati saya sudah berkarat, tetapi kamu bisa membukanya dan masuk ke dalam hatiku.” Kemudian saya bertanya,”Di mana pacar lamamu?” Dia menjawab,”Dia masih ada di sudut hati saya.” Saya berkata dalam hati,”Oh masih ada di sudut. Saya masuk tidak ya?” Saya membayangkan kalau saya masuk di hati dia berdua dengan mantan pacarnya (10%) bagaimana? Jadi saya tidak menikah dengannya. Saya merenungkan seseorang ingin disayang 100%, maka Tuhan juga bisa menuntut kita 100%, tidak boleh secuilpun untuk diri kita atau orang lain. Karena kalau sudah 100% untuk Tuhan, maka diri kita sudah tidak penting lagi. Karena yang paling penting hanya Tuhan. Ketika kita mengajarkan,”Apa yang kuperintahkan padamu haruslah kau perhatikan! “ NIV mengatakan Keep itu in your heart ternyata harus ada di dalam hati kita dahulu baru bisa ajarkan dan berikan. Ketika mengajarkan berulang-ulang baik dalam segala keadaan, berarti sudah ada dalam pikiran kita. Itu menjadi lifestyle, pembicaraan setiap hari. Sehingga bisa kapan dan di mana saja, bisa kita katakan firman Tuhan ini : kasihilah Tuhanmu dengan segenap hati, jiwa dan kekuatanmu. Apa yang dimaksud dengan kalimat ini. Kasih = perasaan kagum dan hormat yang kudus. Kalau begitu, kita tidak mungkin hidup cemar. Kita takut bukan karena dihukum tapi karena hormat kepada Tuhan. Kalau kita hormat dengan Jokowi maka kita tidak akan main-main di hadapannya atau mengabaikannya tetapi menyimak, duduk sopan dan berpakaian rapi.

Mengasihi dengan seluruh keberadaan masing-masing kita
Kalau kita kagum kepada Tuhan dan hormat yang kudus kepada Tuhan, maka kita akan mengasihi Tuhan dengan segenap hati dengan seluruh keberadaan kita.    Ini tidak mudah. Apa maksudnya mengasihi Tuhan dengan seluruh keberadaan? Seluruh apa yang kita punya , hidupi dan miliki itu semua hanya pernyataan bahwa kita mengasihi Tuhan. Tidak ada yang lain.

b.   Menghadirkan Tuhan dalam keluarga

-        Mengajarkan tentang kehadiran Tuhan kepada anak dengan cara formal maupun informal

Paduan Suara dari GPIB Depok suaranya sangat bagus, sepanjang mendengar lagu yang dinyanyikan hati saya merasa terharu. Suara bass sangat kedengaran, indah sekali. Saya sudah lama tidak ikut latihan paduan suara. Saat mendengar paduan suara yang indah, saya teringat dulu saya punya kesempatan untuk menyanyi. Waktu suara dipersembahkan kepada Tuhan, itu pernyataan untuk mengasihi Tuhan.Bukan menyanyi untuk dilihat. Bukan itu. Pasti motvasi :  seluruh keberaan saya milik Tuhan dan Tuhan nikmati suara yang sudah diberikanNya. Saya membayangkan Tuhan hadir dalam ibadah dan duduk bersama kita. Dia juga mendengar kita menyanyinya bagaimana. Dia menembus hati kita. Tuhan bisa menembus kita (kita transparan), kita dilihat Tuhan (tidak ada yang tersembunyi). Tuhan tahu persis motivasi kita. Ketika seluruh hidup kita, pernyataan itu hanyalah mengasihi Tuhan. Sudah tidak ada lagi, mau apa lagi motivasi kita karena hanya untuk Tuhan, oleh Dia, bagi Dia kemuliaan untuk selama-lamaya. Bagaimana Tuhan hadir dalam keluarga kita? Bagaimana menghadirkan Tuhan secara formal dan tidak formal? Baik duduk maupun berjalan, Tuhan hadir. Biasanya kita sungkan kalau ada tamu. Anak-anak sadar kalau orang tua sedang ada tamu, dan ini bisa menjadi kesempatan untuk meminta sesuatu seperti es krim, siomay, minta uang untuk menonton. Kalau tidak ada tamu susah sekali memintanya. Kalau ada tamu orang tua jadi jaim. Kita sadar tidak kalau di rumah kita ada tamu yaitu Tuhan Yesus. Kalau Tuhan Yesus hadir, bagaimana kita bisa memarahi anak, memukul anak-istri? Tuhan ada dan melihat! Apakah kita tidak mau jaim di hadapan Tuhan? Kalau Dia ada sebagai tamu kita, maka kita melibatkan keputusan dalam apa yang kita buat.

-        Melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan yang dibuat
            Dari pagi sejak membuka mata, kita sudah buat keputusan (mau bangun sekarang atau 5 menit lagi). Begitu buka lemari baju kita harus memutuskan baju mana yang akan dipakai. Mau makan, kita membuat keputusan. Waktu membuat keputusan apakah kita melibatkan Tuhan? Termasuk waktu membeli sepatu harus melibatkan Tuhan. Bukan warnanya apa, apakah kita perlu membeli tidak karena harganya terlalu mahal? Diskusi dengan Tuhan, bukan dengan yang lainnya. Kita pertanggungjawabkan setiap rupiah yang kita gunakan.

-        Menyerahkan semua masalah keluarga ke dalam tangan Tuhan
Kita tahu Tuhan hadir dan terlibat, tidak ada masalah yang tidak Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita tanpa sepengetahuanNya. Semua dalam intervensi Tuhan dan kedaulatan Tuhan. Semua dalam waktunya (timing) Tuhan.

c.     Mengutamakan Tuhan dalam setiap kegiatan dan kesempatan.

-        Memberi waktu, tenaga, uang,  yang terbaik untuk Tuhan
-        Pilihan atas aktivitas hanya untuk membangun relasi agar setiap orang dekat dan kenal dengan Tuhan 
-        Segala potensi, prestasi dan pilihan profesi (pekerjaan) bagi kemuliaan Tuhan

Artinya kita memberi waktu , tenaga, uang yang terbaik yang kita punya untuk Tuhan, seperti kisah janda yang memberikan uang dua peser yang merupakan seluruh miliknya. Apa yang kita punya the best ? Kalau punya anak yang pandai maukah kita berikan ke Tuhan? Anak ketiga, mau jadi hamba Tuhan (yang kedua sudah masuk sekolah teologi). Ia lulus dengan angka ijazah tertinggi di antara teman-temannya. Bagi saya, lumayan saya saja tidak pernah memperolehnya. Suatu kali anak ketiga saya berkata,”Ma saya mau sekolah Alkitab!” Saya masih berkata, “Sekolah kedokteran saja dulu” karena nilainya cukup baik siapa tahu bisa masuk. “Nanti setelah itu baru sekolah teologi.” Lalu ia berkata, “Mama, saya jadi dokter memuliakan Tuhan. Menjadi hamba Tuhan juga memuliakan Tuhan.” Namun dalam hati timbul suara, “Tanya saja Tuhan!” Tuhan mau dia sekolah kedokteran dulu atau langsung sekolah teologi. Kita tidak tahu perjalanan hidup anak kita. Jadi sebaiknya kita taat saja kepada Allah mau dia  kemana. Pokoknya yang terbaik yang kamu lakukan. Jadi dia berkata, “Baik kalau begitu saya tidak mau mendaftar. Kalau lewat undangan saya tidak diterima maka saya akan mendaftar di sekolah teologi” dan sampai saat ini dia sudah menjalani panggilannya. Sampai saat ini dia setia menjalani pilihannya. Dia memberi yang terbaik. Pilihan atas aktivitas kita untuk hanya membangun relasi agar setiap orang dekat dan mengenal Tuhan.
   Untuk apa hidup kita menjadi kabar baik buat orang lain? Supaya orang lain melihat kita berbuat baik dan mereka memuliakan Bapa di surga. Jadi setiap kegiatan kita agar mereka lihat ke atas, bisa kenal dan dekat Tuhan. Tidak ada yang lain. Tetapi seringkali hidup kita membuat orang jadi jauh dan kecewa dengan Tuhan. Mari kita koreksi diri kita. Apakah yang terutama dalam hidup ini sudah memuliakan nama Tuhan? Apakah kita sudah melakukannya? Segala potensi, prestasi dan pilihan profesi , bekerja untuk memuliakan namaNya? Soli Deo Gloria.

2.     Orang tua harus mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anak sejak kecil.

Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. 2 Timotius 3 : 15. Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. Amsal 22:6. Teach children in a way that fits their need (on the way they should go), and even when they are old, they will not leave the right path. Proverbs 22:6. Ada satu terjemahan : that fits their need = yang cocok dengan kebutuhannya, sesuai dengan track nya. Anak-anak punya lintasan sendiri yang mungkin bisa bersama-sama setelah itu dia akan berjalan sendiri. Mungkin kita bisa bersinggungan dalam lintasan (ada irisan). Tapi ia punya track (lintasan) sendiri. Tuhan sudah punya rencana dan tujuan atas hidupnya. Setiap anak punya kondisi yang berbeda. Kalau kita melotot, reaksi mereka berbeda. Anak pertama akan balas melotot lagi, anak yang kedua menangis, dan anak yang ketiga berkata, “Jangan melotot dong!” Maukah kita mendidik dengan cara , kebutuhan dan jalan yang harus dia tempuh  yang Tuhan sudah hadir di masa depannya. Jangan takut, di masa tuanya dia tidak akan menyimpang. Firman Tuhan yang ditabur tidak akan sia-sia sekalipun di tengah-tengah mungkin anak itu menhyimpang. Kita bertekun berdoa, untuk suatu kali kembali. Maka suatu kali ia ingat, ength lagu SM atau ayat, Tuhan bisa ingatkan dengan cara ajaib. Tuhan bisa mendidik sejak muda, anak kita bisa berada pada persimpangan. Ia harus memilih teman seperti apa.
Kemarin saya dapat chat, “Bu bagaimana ya, saya ketemu jodoh. Tapi ia tidak percaya Tuhan. Saya sudah jatuh cinta sekali. Kita sudah sepakat nanti kita masing-masing jalan sendiri. Saya tetap Kristen dan dia Budha. Nanti kita sepakat anak-anak kami bisa memilih agama apa saja.” Saya hanya komentar,”Kalau sudah sudah berjalan sendiri-sendiri kenapa tidak tetangga-an saja?” Bagaimana menikah tapi jalan sendiri-sendiri? Menikah itu dua pihak menjadi satu (two become one itu berarti jalannya satu). Bagaimana kalau jalannya masing-masing, maka lebih baik jadi tetangga saja. Demikian juga dengan pisah harta walaupun alasannya agar kalau terjadi apa-apa maka tidak kedua-duanya jadi miskin (satu tetap kaya). Buat apa nikah? Bukankah sudah janji, baik kaya miskin akan sama-sama? Berarti sama-sama senang dan susah, sakit dan sehat. Kalau sudah berada sama-sama lalu untuk apa pisah harta? Kalau pisah harta, mudah sekali pisahnya. Jadi tetangga-an saja , jadi bisa sering ketemu. Ketika mau memilih taat atau tidak kepada Tuhan, siapa yang memimpin jalan hidup anak-anak kita? Ketika Tuhan yang pimpin, tidak usah khawatir jalan yang ia tempuh karena ia bersama dengan Tuhan.

Maz 1:1-3.
1  Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
2  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
3  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Ikuti nasehat orang fasik?
Ada seorang ibu yang datang konsultasi karena, suaminya sudah selingkuh 5 tahun. Bulan Juni kemarin suaminya baru meledak besar karena ia psikopat. Ia menghampiri rumah dan mau bunuh istrinya. Istrinya mau cerai dan sudah panggil pengacara. Tantenya berkata, “Kamu harus buktikan bahwa kamu menang. Kalau kamu yang diceraikan berarti kamu kalah. Jadi kamu yang menceraikan. Nanti harta bagi dua. Kamu sudah posisi tinggi sekali. Kamu tidak usah takut. Untuk apa ikut suami seperti itu? Kamu masih cantik dapat pria lain.” Menghadapi itu, saya jadi teringat pertemuan dengan dia 5 tahun lalu. Waktu itu ia masih menjalani kemoterapi akibat sakit kankernya. Saat itu saya bertanya, “Siapa yang sakit?” Dia menjawab,”Saya! Ini mau kemo yang keenam. Saya tidak memberi tahu siapa pun. Karena dokter sudah pesan untuk tidak kasih tahu siapa pun. Kalau bicara nanti bisa bingung. Si A akan berkata, nanti makan dan rebus daun ini dll. Ada yang nasehati untuk ke sin-she dll. Ada yang bilang makan saja kentang rebus. Jadi bisa ada 1.001 resep dan nasehat. Maka saya tidak mau omong-omong . Nanti setelah selesai kemoterapi-nya baru saya cerita.” Waktu saya kena diabet, saya diminta minyak kelapa, minum rebusan ini-itu. Jadi karena punya pengalaman itu, saya jadi mengerti. Lebih baik saya ke satu orang dan ikuti. Saya berkata,”Ibu sekarang  terkena kanker lagi, tapi bukan kanker secara fisik. Ibu masuk lagi kepada ujian berikutnya. Dulu Tuhan sudah sembuhkan, mengapa ibu tidak yakin sekarang pun Tuhan bisa sembuhkan? Jangan ikuti nasehat orang fasik. Kembali lagi kepada Firman Tuhan. Tuhan membenci perceraian. Apa yang sudah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Kalau pun kita tidak sangagup menjalani hidup dengan orang yang Tuhan berikan, maka berdoalah kepada Tuhan untuk mengambil dia secepatnya.” Mudah-mudahan dijawab. Jadi biarkan maut yang menceraikan. Buat Tuhan mudah sekali. Tidur saja, tidak bangun-bangun lagi. Papa saya meniggal waktu tidur. Ada hamba Tuhan yang berkata ke istrinya, “Ma kalau besok saya tidak bangun lagi, artinya saya bangun-bangun sudah di sorga. Mama jangan panggil-panggil lagi.  Dah… salam perpisahan sebelum tidur. Kalau pagi besok bangun, eh satu hari lagi. Satu hari lagi kita bersama-sama” Hidup ini rapuh. Apa bisa pastikan kita masih ada hari ini, besok dan minggu depan? Tidak ada yang bisa memastikan. Oleh karena itu pastikan, kita berjalan bersama Tuhan. Sehingga dibalik pun kita sedang berjalan bersama Tuhan. Apa upah orang setia berjalan bersama Tuhan? Seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air. Apa saja yang diperbuatnya berhasil. Maz 1:3. Berhasil , sukses. Ingat Yusuf! Apapun yang dilakukan disertai oleh Tuhan karena Yusuf merenungkan Taurat itu siang dan malam. Taurat Tuhan itu dia hidupi. Taurat itu selalu ada dalam hati dan pikirannya siang malam pagi-sore sepanjang hidupnya. Maka ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air. Apa yang kita harus kesankan dan tekankan kepada anak? Mengajarkannya berulang-ulang dengan rajin. Ketika apapun yang kita lakukan, baik saat bicara, duduk, jalan, berbaring, apa pun itu, perkatakan  dan ajarkan berulang-ulang. Dikatakan berulang-ulang mulai kapan? Sejak kecil, firman Tuhan, tidak akan lewat dan musnah tetapi tertancap!. Namun terkadang apa yang kita tancapkan bukan firman Tuhan tapi kata-kata yang tidak baik.
Saya pernah memberikan konseling pada seorang ayah berusia 47 tahun. Ia berkata bahwa masih terngiang-ngiang perkataan mamanya, “Kamu bodoh, bego, tidak ada guna, tidak bisa jadi apa-apa, payah! Mama menyesal punya kamu.” Ia berkata sambil mengalir air mata. Itu sudah 47 tahun lalu mengapa masih mengingatnya? Dia berkata,”Habis bagaimana Bu. Itu masih terngiang-ngiang?” Saya ingat dan bertanya kepada anak saya,”Apa yang kamu ingat waktu kecil?”. Anak saya  menjawab,”Kalau saya kan makannya susah. Maka makan di belakang, dengan kecoa dan tikus!” Saya sudah lupa bicara seperti itu, tetapi ternyata itu menancap di pikirannya. Apa yang kita kesankan? Apa yang membuat anak berkesan? Seharusnya ayat Firman Tuhan! Sehingga kalau susah maka ia lari ke Tuhan. Itu impressi. Firman Tuhan yang akan meneguhkan dan mengajar, menuntut ketika bingung mau ikut yang mana. Saya seorang konselor dan ada yang datang dan berkata,”Saya bingung harus bagaimana?” Kalau kita sudah punya firman Tuhan, kita tidak usah bingung, datang saja ke Firman Tuhan.
Ada seorang murid. Namanya Andi. 15 tahun lalu ia masuk TK. Papanya penganut Budha dan mamanya Muslim. Rencana mamanya mau menyekolahkan anaknya di sekolah Muslim. Nama sekolah saya Ahtalia dan mamanya mengira itu nama sekolah Muslim. Jadi dimasukkan ke sekolah saya. Sewaktu makan Andi mulai mengikuti pengajaran di sekolah, ia berdoa namun mamanya berkata jangan berdoa,”Katakan terima kasih saja ke mama karena mama yang masak.” Waktu naik kelas 1, Andi minta Alkitab. Mamanya pergi ke Gramedia dan membelikannya. Di awal-awal itu suaminya selingkuh dan meninggalkannya. Waktu itu entah bagaimana ia mau ke gereja. Ia berkata,”Di sana saya tersungkur. Saya hanya ingin ke gereja. Karena dia melihat anaknya begitu tekun padahal masih TK.” Singkat kata di gereja ia mengikut Tuhan, bukan nya suaminya kembali. Suaminya meninggalkan. Yang tadinya punya mobil , tanah dan hartanya semua dijual. Kelas 4 SD dia datang ke saya, ibu saya punya mesin jahit sudah saya jual Rp 1,4 jahit. Rp 100.000 saya kasih yang menjualkan yang dan Rp 1,3 juta untuk membayar uang sekolah Andi 2 bulan. Setelah itu saya akan membawa Andi pulang ke kampung. Hanya saya takut ia jadi Muslim di kampung, tapi saya sudah tidak berdaya. Singkat kata, ia masuk ke sekolah kami karena ada yang sudah membayarkan uang sekolahnya. Waktu ibu ini cerita, air mata saya mengalir. Anak ini kelas 3 SMP mau masuk SMA. Anak ini luar biasa sekolah. Waktu mau masuk SMA beli sepatu, harganya mahal. Lalu anak ini mau diajak oleh teman mamanya ke Bali. Tapi ia menolak. Jadi ia dikasih uang Rp 300.000 oleh teman mamanya.  Tapi waktu mau beli sepatu, Rp 3.300.000. Di Jakarta Fair sepatu yang dia mau harga nya diskon 50% harganya Rp 299.000. Mamanya berkata,”Sepatu yang kamu mau harganya pas!”. Anaknya menjawab,”Harganya tidak pas, tapi lebih Rp 1.000!” Tuhan selalu memberi lebih. Mendengar itu, saya selalu bersyukur untuk iman anak ini. Mama nya kerja di Pecenongnan Rp dengan gaji 1,75 juta habis untuk ongkos dan makan. Dia tetap bersyukur karena yang penting ia tetap bisa bekerja. Di tasnya ada Alkitab. Dia berkata,”Saya susah dan senang baca Alkitab. Di Bus, lagi menunggu saya membaca Alkitab.” Mendengarnya saya melihat diri saya, saya tidak seperti dia. Saya membaca Alkitab kalau sempat dan tidak mengantuk. Kalau pagi enak saya membaca Alkitab. Tapi ia membaca Alkitab kapan pun. Waktu ia bicara seperti itu, saya betul-betul tertegur. Dia berkata,”Saat saya merasa sedih saya membaca Alkitab karena dihibur. Saat senang saya baca. Kemana-mana saya bawa Alkitab saya.” Kita ke gereja saja tidak mau bawa Alkitab, tinggal membawa HP karena merasa berat bawa Alkitab. Kemana-mana ia membaca Alkitab. Saya merasa hati saya diremas-remas. Hidup orang beriman, hidup dalam Firman. Hidup yang rindu merenungkan Firman Tuhan siang dan malam, saat susah dan senang. Mari kita membawa anak – anak kita untuk hidup dalam Tuhan. Hari ini Ibu ini punya proyek di Papua. Luar biasa. Tahun lalu Andi lulus kuliah science. Kalau saya punya anak perempuan akan saya jadikan dia mantu idaman. Baik, cakep dan pintar. Lebih sempurna lagi karena dia takut Tuhan dan punya iman.

3.  Orang Tua harus mengajarkan Firman Tuhan sebagai penuntun jalan hidup anak di masa depan 

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. 2 Tim 3:16-17. Untuk hidup di dunia ke depan ,kita tidak akan pernah tahu apa yang akan dialami oleh anak-anak kita. Tetapi anak-anak kita ibarat punya “senjata” walau anak-anak kita sedang perang. (If we don’t teach our children to follow Christ, the world will teach them not to). Begitu kita tidak mengajari mereka ikut Tuhan, maka dunia akan mengajarnya untuk menarik nya (menjauhkan) dari Tuhan. Siapa yang mengasuh anak Anda saat ini ? Sekarang ini anak sedang diasuh oleh games. Games adalah gembalaku. Tak akan kengangguran aku. Remote control adalah tongkatku. Sekalipun aku berjalan dalam lembah online aku tidak takut sebab wifi besertaku. Anak kita hidup dengan apa? Dunia sedang menarik anak-anak masuk ke dalam cengkeraman tangannya jika kita tidak segera menarik anak-anak masuk ke dalam pelukan tangan Tuhan.  Matius 19 menceritakan bagaimana murid-murid Yesus memarahi orang-orang yang membawa anak-anak untuk datang kepada Tuhan Yesus. Lalu Tuhan Yesus memarahi murid-muridNya dan marahnya Tuhan lebih besar. Ia bukan saja menegur mruid-muridNya "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." (Matius 19:14). Tuhan memeluk dan memberkati anak-anak.
Bill Crowder berkata,”Walk  with the lord in the sunshine, so that you will know that He walks with you in the darkness.” Tuhan yang berjalan dalam terang matahari, ia juga berjalan bersama kita dalam lembah kekelaman. Mary Gardiner Brainard (1837 –1905) berkata,”I would rather walk with God in the dark than go alone in the light.” Lebih baik berjalan bersama Tuhan sekalipun gelap gulita daripada kita sendirian di tengah terang. Mike Morrow (1948 – 2016) berkata,”Don’t doubt in the darkness what God has promised you in the light.” Dan tidak usah ragu, ketika dalam kegelapan sekalipun karena Dia berjanji setia menyertai kita. Ketika kita berjalan dalam terang Dia juga menyertai dalam gelap. Trust and obey for there’s no other way. Taat kepada Tuhan!. Be obedient with one small step and God will give you the next step .. and the next. Taat selangkah demi selangkah maka Dia akan menuntun ke depan. Those who walk with God, always reach their destination. Asal kita berjalan bersama Tuhan. Kita akan tiba pada tujuan. Mat 1: 23 God with us berjalan bersama Tuhan (Immanuel) dan diakhiri dengan “Surely I am with you always , to the very end of the age” (Aku akan menyertaimu senantiasa sampai pada akhir zaman). Tuhan adalah Alfa dan Omega. Dia akan selalu menyertai kita.

Penutup

Apa yang ada wariskan kepada anak Anda? Kitab Suci yang dapat memberi hikmat  dan menuntun mereka kepada keselamatan oleh iman di dalam Kristus Yesus. Kitab suci yang dapat memberi hikmat dan iman percaya. Fiman itu hidup. Itu yang dikatakan Billy Graham. Hayo wariskan karakter dan iman.
Ada satu kisah heroic yang terjadi tentang penyelamatan penumpang pesawat. The Most Successful Ditching in Aviation History. Pada tanggal 15 Januari 2009, pesawat Airbus A320 (US Airways 1549) yang mengangkut 150 penumpang, 3 orang awak kabin dan 2 orang pilot menabrak sekelompok burung angsa pada mesinnya sekitar tiga menit setelah lepas landas dari LaGuardia Airport di New York City menuju Douglas International Airport, Charlotte, North Carolina menyebabkan kedua mesin kehilangan tenaga sehingga pesawat melayang-layang di udara tanpa kekuatan dari kedua mesin. Pilot (Sully) harus memutuskan segera untuk balik atau mendarat di sungai Hudson dengan suhu 2 derejat Celcius. Akhirnya Sang Pilot memutuskan untuk mendaratkan pesawatnya di Sungai Hudson. Kemudian dengan pesawat mengapung di atas air Sungai Hudson, 150 penumpang dan 4 kru serta sang pilot keluar dari pesawat dan berdiri di atas sayap. Kapal-kapal bantuan datang dengan cepat sehingga seluruh penumpang dan kru berhasil dievakuasi dengan selamat sebelum pesawat akhirnya benar-benar tenggelam. Kapten Chesley B. “Sully” Sullenberger, 57 tahun mantan pilot pesawat tempur Amerika dan telah bekerja sebagai pilot pesawat penumpang sejak tahun 1980 setelah pensiun dari Angkatan Udara ( US Air Force ). Kemudian ia memberikan komentar atas “keberuntungannya”. “One way of looking at this, might be that for 42 years I’ve been making small, regular deposits in this bank of experience, education, and training. And on (that day), the balance was sufficient so that I could make a very large withdrawal”. Salah satu cara melihat peristiwa ini, mungkin bahwa selama 42 tahun, saya telah menabung sedikit demi sedikit secara teratur dalam ‘rekening bank’ pengalaman, pendidikan dan pelatihan saya. Dan di hari itu, jumlah tabungan saya sudah mencukupi sehingga saya bisa ‘menarik tabungan’ besar-besaran saat saya membutuhkannya).
Selama 42 tahun ia sudah menaruh dalam deposit dan hari itu ia tarik besar-besaran seluruh deposit itu untuk membuat keputusan mendarat di sungai Hudson. Ia tidak pernah menjalani latihan dengan sengaja  menabrak burung supaya mesinnya mati atau tenggelam di laut agar dapat cara untuk menenggelamkan pesawat di sungai. Itu pengalaman yang pertama ketika ia harus menyelamatkan penumpang. Selama 42 tahun ia punya “rekening bank” pengalaman melalui latihan, lalu ditarik besar-besaran saat membutuhkannya. Apakah kita punya tabungan ayat firman Tuhan yang kita tabung sedikit demi sedikit dan  suatu kali kita tarik besar-besaran karena kita membutuhkan. Di saat kita jatuh, kesulitan dan di saat habis-habisan? Saat itu rekening Firman bisa ditarik. Jadi kita harus menabung agar bisa menariknya. Mari menabung Firman Tuhan tiap hari dalam rekening hati kita. Nanti suatu hari kita akan memerlukannya karena kita akan menariknya besar-besaran. Kisahnya sudah difilmkan (“Sully”).  Pilot ini disidang ke pengadilan karena perusahaan asuransi harus mengganti kerugian atas pesawat tersebut. Pihak asuransi menyalahkan pilot , tapi Sang Pilot akhirnya menang. Alasannya kalau ia terbang balik , maka pesawat akan menabrak sebuah gedung. Ini miracle , terjadi keajaiban.
Hidup ada perjalanan … tidak penting berapa lama kita hidup. Karena kita tidak pernah tahu. Ada orang yang umurnya pendek dan ada yang panjang. Yang penting adalah kehidupan seperti apa dan cara bagaimana kita menjalaninya. Saya teringat sebuah lagu sekolah Minggu berjudul “FirmanMu Pelita” (H. Voss)  mengiringi saya sepanjang saya mempersiapkan khotbah, lagu ini terus-menerus ada di hati saya. FirmanMu pelita bagi kakiku dan sebagai terang bagi jalanku. Firman Tuhan2x menerangi jalanku, Firman Tuhan 2x pelita hidupku.

Sunday, August 5, 2018

Yesus Kristus : Juruslamatmu





Pdt. Leonard Sidharta, Ph.D

1 Korintus 1:21-25
21  Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.
22  Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,
23  tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,
24  tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.
25  Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

Pendahuluan

              Tema hari ini “Yesus Kristus : Juruselamatmu”, apa arti / maknanya dalam konteks budaya orang Timur (Tionghoa) yang sangat mementingkan gengsi (kemuliaan / muka)? Hal ini bisa dipahami dari kitab Korintus (sejak zaman Rasul Paulus). Rasul Paulus memberitahukan kepada kita bahwa Allah tidak memandang muka. Saat kita mencoba mengerti Yesus sebagai Juruselamat, kita berusaha memahami makna dari Injil (berita Injil). Namun berita Injil sulit dimengerti karena memberitakan Allah yang menjadi manusia. Banyak orang sekarang yang bingung apakah Tuhan ada dan malah ini Ia menjadi manusia dan mati di kayu salib. Sehingga ini lebih sulit lagi. Karena belum sempat mengerti bagaimana Allah menjadi manusia, sekarang kita diminta untuk percaya bahwa Ia mati di kayu salib . Kesulitan ini bukan untuk zaman sekarang saja, tetapi juga di zaman Rasul Paulus sudah sulit sekali dimengerti. Orang Yahudi  mendambakan Tuhan yang gagah perkasa dan luar biasa yang mengutus seorang pembebas untuk membebaskan mereka dari orang Romawi. Mereka sekarang harus percaya kepada seorang Mesias disalibkan dan mati di kayu salib, sehingga ini menjadi batu sandungan. Orang Yunani percaya akan filsafat mereka sangat pandai. Mereka ingin Tuhan yang sesuai akal budi mereka dan sekarang mereka harus percaya kepada Allah yang menjelma jadi manusia dan dipakukan di atas kayu salib. Bagi mereka ini merupakan suatu kebodohan. Orang Yahudi mewakili golongan orang yang beragama. Sebagai orang beragama mereka tidak bisa menerima Tuhan yang menjadi manusia dan disalibkan. Orang Yunani (orang bukan Yahudi) mewakili orang-orang intelektual / cerdik-cendekia. Mereka tidak bisa menerima Allah yang menjelma menjadi manusia lalu disalibkan. Bagi mereka hal seperti ini merupakan suatu kebodohan. Tetapi sebenarnya Allah yang menjadi manusia dan disalibkan bukan suatu berita yang tidak masuk akal. Tetapi suatu berita yang tidak sesuai dengan manusia karena manusia punya konsep dan standar sendiri. Jadi kalau Tuhan ada, maka Tuhan harus sesuai dengan standar, pandangan saya dan pandangan saya harus sesuai dengan gengsi saya.
Jadi pandangan terhadap Tuhan adalah pandangan bagaimana Tuhan bisa dipakai untuk menyombongkan diri sendiri. Ini sifat manusia. Orang Israel tidak bisa menerima Tuhan yang dipaku di kayu salib karena tidak bisa dipakai untuk membanggakan diri mereka sebagai bangsa pilihan. Demikian juga dengan orang Yunani yang tidak bisa menerima Yesus yang dipaku di atas kayu salib karena tidak bisa dipakai untuk membuat mereka berbangga. Uniknya, manusia hanya bisa menerima Tuhan yang bisa membuat dirinya bangga. Manusia hanya bisa menerima Tuhan yang bisa membuat dirinya kaya raya karena saya ingin dikenal sebagai orang yang pintar mencari uang. Manusia mau menerima Tuhan yang bisa membuat diri saya cantik karena saya ingin orang lain mengagumi kecantikan saya. Ini sifat dan kebutuhan manusia : manusia berusaha menyombongkan diri. Hewan cukup asal ada makanan, minuman  dan tempat tinggal sudah cukup. Tetapi manusia (memakai istilah dalam Alkitab) bukan saja hidup dari roti dan makanan, tetapi manusia hidup dari membanggakan dan menyombongkan diri. Kalau tidak membanggakan diri, ia tidak bisa kuat hidup. Karena harga diri manusia tergantung orang melihat dia siapa. Kalau orang tidak memandang tinggi dia maka ia tidak punya alasan hidup di dunia ini. Maka orang tidak bisa menerima kalau dirinya tidak dipandang orang lain. Dalam idiom bahasa Tionghoa dipakai istilah “mata hitam”. Kalau diberi mata hitam berarti orang lain memandang / melihat kita. Kalau tidak dipandang orang lain istilahnya diberi “mata putih”. Kita tidak suka diberi mata putih, karena artinya dihina dan tidak dipandang orang lain. Dunia penuh dengan persaingan yang kejam dan kita ingin diakui orang lain. Masalahnya bukan karena saya ingin kaya karena kalau setiap orang sama kayanya tidak menarik tetapi saya ingin lebih kaya dari orang lain. Masalahnya bukan karena saya ingin cantik / tampan karena kalau semua orang sama tampan / cantiknya maka jadi tidak menarik. Masalahnya saya ingin bersyukur kepada Tuhan walau tidak secantik orang lain , tetapi saya bersyukur kepada Tuhan karena ada orang yang mukanya sejelek itu sehingga saya bisa berbangga. Masalahnya bukan karena saya mau pandai, karena kalau semua orang pandai maka apa untungnya? Masalahnya adalah saya ingin berdoa kepada Tuhan, di dalam hikmat Tuhan yang luar biasa itu, meskipun saya tidak sepandai orang lain, Tuhan menciptakan orang-orang yang IQ  nya serendah itu sehingga saya masih bisa merasa aman.

Allah yang Palsu adalah Muka yang Menyebabkan Kita Menipu Diri Sendiri dan Orang Lain.

Saya ingin membanggakan diri kita sendiri. Alkitab mengatakan saat kita membanggakan diri kita sendiri, sebetulnya kita ingin menyembah diri kita. Membanggakan diri berarti  kita ingin memberhalakan diri yaitu menjadikan diri kita sebagai Tuhan. Ini dosa manusia. Dosa manusia yaitu ingin memberhalakan dirinya. Tetapi manusia sadar , dirinya tidak sangat hebat. Manusia sadar manusia punya kelemahan, hal-hal yang gelap dan kelemahan. Untuk membanggakan dirinya, manusia perlu menutupi kelemahannya. Yang digunakan untuk menutupi adalah topengnya. Ia perlu memainkan peran, dan perlu membawa topeng utnuk memperlihatkan sisi baik dan menutupi sisi buruk. Ada pepatah Tionghoa : Orang mau muka tetapi tidak mau wajah . Artinya apa? Wajah menunjukkan keadaan kita yang sebenarnya, muka adalah topeng kita. Maksudnya orang hanya mau topeng tapi tidak mau peduli dengan keadaan dia sebenarnya. Kalau orang tidak punya uang, maka untuk mengadakan pesta perkawinan ia akan meminjam dulu uangnya karena yang penting pesta perkawinannya  luar biasa. Yang penting orang lihat kita bagaimana. Saat jadi mahasiswa apakah dirinya sudah menyerap ilmu, tidak penting. Apakah saat ujian kita  mencontek tidak penting yang penting adalah nilainya bagus. Yang penting dilihat orang. Yang penting adalah topeng kita. Perkara bagaimana dan apa yang dilakukan kita di rumah tidak penting, yang penting bisa cari uang. Bagi hamba Tuhan yang penting orang tahu saya seorang hamba Tuhan yang hebat meskipun dalam aspek lain kita tidak terlalu bagus. Yang penting topeng kita.
Kita adalah orang-orang yang mengejar topeng. Topeng kita lama-lama menjadi berhala kita. Jadi kalau kita menyembah berhala maka kalau kita menyembah berhala maka berhalanya dobel yaitu yang pertama kita menyembah diri sendiri dan yang kedua menyembah topeng kita (apa yang mau kita sandari). Entah itu kepandaian , bisnis atau pekerjaan. Apa saja yang dijadikan sandaran untuk memakai topeng agar kita tampil bagus di hapadan orang. Mengapa orang Israel tidak bisa menerima Tuhan yang disalibkan? Karena Tuhan yang disalibkan tidak bisa memberi muka kepada orang Israel. Juga orang Yunani tidak bisa menerima Tuhan yang disalibkan karena Tuhan yang disalibkan tidak memberi muka kepada orang Yunani. Muka itu penting sekali , karena manusia takut dipermalukan dan mendapat “mata putih”. Salah satu ketakutan kita adalah bukan takut menderita tapi takut dipermalukan. Dipermalukan artinya kita dibuang, berada di luar (menjadi outsider) . Saat bertemu dengan teman - teman lalu teman-teman bicara politik dan ekonomi dengan sangat bagusnya dan kita tidak mengerti apa-apa maka seakan-akan kita di buang di luar, kita menjadi barang rusak, komoditi yang tidak bagus. Ini artinya dipermalukan.
Dulu di era pembentukan Dinasti Han Tiongkok, ada perang Chu-Han (Hanzi: 楚汉相争, Chu Han Xiang Zheng) dimana pada saat itu terjadi perseteruan antara 2 negara besar yaitu Han dengan pemimpinnya Liu Bang dan Chu dengan pemimpinnya Xiang Yu yang dibesarkan oleh pamannya Xiang Liang yang merupakan keturunan Jendral Chu, Xiang Yan. Sejarah ini terjadi pada tahun 206 SM hingga tahun 201 SM. Sejarah ini juga dikenal sebagai awal berdirinya Dinasti Han. Jendral Xiang Yu  adalah seorang ningrat (bangsawan). Belum genap berusia 30 tahun ia sudah bisa memimpin tentara. Ia seorang jenius, pandai dan keluarga ningrat. Ia sangat menekankan gengsi. Lawannya adalah seorang petani merangkap preman (bukan siapa-siapa). Namanya Liu Bang. Ia berkata “Liu Bang itu orang apa? Saya kasih dia mata putih.” Suatu kali karena sombong , ia kalah total. Ia terjepit dan harus menyeberangi sungai. Ia diminta pulang kampung halaman agar nanti suatu kali ia bangkit lagi. Dia mengutarakan kata yang terkenal dalam sejarah Tiongkok, “Aku tidak punya muka untuk bertemu dengan para orang tua dan sesepuh di kampung halaman” sehingga akhirnya ia bunuh diri. Ini orang Timur.
Kita kadang-kadang dihina di kampung halaman kita (tidak ada keluarga dan lingkungan yang sempurna) lalu kita merantau dan suatu kali kembali lagi. Saat itu kita mau orang lain melihat kita sebagai orang berhasil. Lalu kita bertanya kepada orang yang dulu menghina kita, “Sekarang berapa gajimu?” Dijawab,”Gajiku sekian”. Sehingga kita memandang rendah. Dulu aku direndahkan di bawah rata-rata sekarang saya menaikkan diri di atas rata-rata. Manusia memiliki keinginan untuk mempertahankan muka sedemikian rupa.
Di dalam Alkitab, manusia dipermalukan bukan karena karena manusia tumbuh di keluarga yang tidak sempurna. Manusia dipermalukan karena manusia sudah jatuh dalam dosa. Dosa membuat manusia seolah-olah dipermalukan. Kembali pada Kitab Kejadian yang mengatakan pada mulanya  Allah menciptakan Adam dan Hawa sesuai peta dan teladan Allah (gambar Allah) . Artinya Adam dan Hawa mirip Tuhan. Saya punya Alkitab yang bagus sekali untuk anak-anak. Alkitab itu mengatakan, “Tuhan menciptakan yang terbaik pada hari terakhir.” Waktu Adam menggosok-gosok mata, yang pertama kali ia melihat adalah wajah Tuhan. Wajah Tuhan dengan tersenyum berkata,”Wah kamu mirip Saya!” Jadi manusia mirip Tuhan oleh karena itu manusia memiliki kemuliaan Tuhan. Mirip dan memiliki kemuliaan Tuhan , membuat manusia tidak perlu mencari muka. Ada yang berkata mungkin wajah Adam dan Hawa bercahaya. Tapi dipenuhi kemuliaan Allah berarti tidak dipermalukan (berada dalam keadaan mulia). Kalau ada yang mengatakan, “Mukamu  mirip presiden” kita akan merasa senang. Atau ada yang berkata,”Mukamu kok hoki mirip konglomerat” maka kita senang. Tapi kalau muka kita dikatakan mirip koruptor yang kemarin masuk koran maka kita merasa tidak senang. Muka kita harus mirip orang yang luar biasa, apalagi kalau mirip Tuhan. Sejak Adam dan Hawa berdosa , mereka mulai merasa malu dan menyembunyikan diri. Dosa di dalam Alkitab  artinya kenajisan , kecemaran dan kita terpisah dengan Allah. Manusia jatuh dalam dosa dan manusia kehilangan kemuliaan Allah. Manusia tidak lagi mirip Tuhan (tepatnya kekurangan kemuliaan Tuhan). Manusia tidak mirip lagi Tuhan sehingga manusia malu. Tidak mirip Tuhan berarti terpisah dengan Tuhan. Tuhanlah yang bisa memberikan kasih tanpa syarat, Tuhanlah yang bisa memberi kita penerimaan. Sedang apa yang diberi dunia ini semuanya ada syaratnya. Dunia berkata, “Saya terima kamu kalau kamu pandai, punya uang, cantic dll. “ Sedangkan Tuhan bisa menerima kita apa adanya, tetapi kita terpisah dari Tuhan karena dosa. Karena terpisah dari Tuhan sehingga kita merasa selalu takut dan tidak aman. Kita berusaha membeli perasaan kasih sayang dengan tampil baik di hadapan orang lain.
Madonna (penyanyi Amerika) pernah berkata,”Setiap kali saya mau naik panggung untuk menyanyi, hati saya dipenuhi ketakutan. Karena saya takut kalau nanti penonton bukan bertepuk tangan memuji tapi malah berteriak mencemooh saya. Kalau saat menyanyi penonton tepuk tangan dengan riuh, saya menjadi senang sekali. Tetapi senangnya hanya beberapa menit. Karena saya takut kalau konser lagi standarnya  lebih tinggi bagaimana?” Jadi seperti itu. Manusia tidak merasa nyaman. Manusia sebetulnya perlu Tuhan. Manusia sebetulnya perlu diterima dan dikasihi tetapi karena manusia berdosa dan tidak mengenal Allah maka manusia berusaha membeli kasih dengan cara tampil beda. Akhirnya kita dihukum dengan hidup yang menipu diri sendiri dan orang lain. Ini bagian pertama dari khotbah ini yaitu mencari Tuhan yang palsu yakni muka kita ini. Hukumannya apa? Menipu diri sendiri dan orang lain. Kita takut. Ada 1 hal yang kita takuti kalau orang lain tahu kita siapa saya (tahu luar-dalam saya atau sisi gelap saya), apakah orang tersebut masih menerima saya? Oleh karena itu kita berusaha agar di satu pihak mau dicintai orang lain tapi di pihak lain kita tidak mau orang lain tahu siapa saya sehingga kita pakai topeng. Tapi akhirnya yang dicintai adalah topeng saya bukan saya.              
Dosen saya di seminari berkata, “Waktu pacaran, buka kedua mata lebar-lebar. Kalau sudah menikah tutup sebelah mata.” Tetapi orang-orang sekarang terbalik. Kalau berpacaran tutup sebelah mata, tetapi setelah menikah buka kedua mata. Jadi waktu pacaran, “Pacar saya baiknya luar biasa, rela berkorban, pandai, luar biasa.”  Waktu berpacaran, hujan-hujanan saja rela agar bisa bersama saya tetapi setelah menikah terjadi suatu mujizat. Dulu saya buta sekarang melihat. “Lho,kamu siapa? Saya tidak kenal kamu”. Pacaran dengan menikah kenapa berbeda sekali. Seperti orang lain. Siapa kamu? Suaminya juga berkata, “Saya juga tidak kenal siapa saya” karena topengnya kebanyakan. Inilah hidup manusia menipu diri sendiri dan orang lain.

Allah yang benar adalah Allah yang tidak memandang dan mencari muka.

Allah yang benar adalah Allah yang bagaimana? Allah yang benar adalah Allah yang tidak mencari gengsi. Manusia ingin terus naik, dulu tukang sapu, sekarang pegawai nanti jadi bos. Sedangkan Allah maunya turun menjadi manusia. Manusia ingin menjadi Allah tetapi Allah mau menjadi manusia. Tuhan mau mempermalukan diriNya. Allah lahir di palungan di tengah hewan-hewan (ini lahir dalam keadaan memalukan). Kalau ada presiden yang mau datang menginap,  lalu kita berkata tidak ada kamar maka ia tidur di ruang tamu maka hal ini memalukan. Raja dari segala raja lahir lahir di palungan (tidak ada tempat yang layak). Orang-orang  yang mau datang mengetahui kelahiran Juruselamat adalah orang Majus dan para gembala. Keduanya tidak dipandang oleh orang Yahudi. Orang Majus adalah orang kafir dan para gembala adalah orang miskin. Jadi Tuhan mempermalukan dirinya. Bukan hanya demikian, Tuhan Yesus berkumpul dengan orang-orang yang dipermalukan masyarakat. Tuhan Yesus makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa. Tuhan Yesus mau berkumpul bersama pelacur sehingga Tuhan Yesus pun akhirnya dipermalukan. Karena Dia berkumpul dengan orang-orang yang dipermalukan sehingga Dia dipermalukan.  
Tuhan dipermalukan dan mati di kayu salib. Mati di kayu salib adalah mati yang sangat memalukan.  Waktu itu kalau orang Romawi dihukum mati karena bersalah maka mereka lebih suka diracun, digantung  atau dipotong kepalanya. Itu cara mati dari warga negara Romawi yang terhormat. Tetapi kalau mati di kayu salib itu adalah matinya budak. Sehingga bagi orang Romawi dalam percakapan sehari-hari bila menyebut kayu salib dikatakan tidak sopan dan kurang ajar sekali . Sedangkan orang Yahudi menekankan tata busana yang baik. Semua badan harus ditutup. Namun saat disalib Tuhan Yesus ditelanjangi berjam-jam dan dilihat orang. Itu dipermalukan. Digantung di antara langit dan bumi berarti dikutuk. Ini luar biasa sekali. Mengapa Tuhan seperti ini mempermalukan diri sedemikian rendah?  Kita tidak mengenal Tuhan tapi sekarang waktu Tuhan memperkenalkan diriNya kita kaget luar biasa.

Mengapa Tuhan mempermalukan diri sedemikian rendah?

Ada tiga alasan yakni :

1.     Standar kita sangat berbeda dengan standar Tuhan.
Perbedaannya seperti bumi dan langit. Manusia ingin bergaul dengan orang elit masyarakat dan orang yang kaya - berkuasa. Ini gengsi. Bagi Tuhan adalah hina kalau kamu bergaul dengan orang kaya saja tanpa memperhatikan orang miskin. Manusia maunya pakai topeng, tidak peduli kondisi sebrenarnya seperti apa. Bagi manusia mulia, bagi Tuhan hina. Bagi Tuhan mulia tapi bagi manusia itu mungkin hina. Kayu salib bagi manusia itu hina, tetapi bagi Tuhan dan orang Kristen itu mulia karena ada kasih Tuhan yang luar biasa.

2.     Karena Tuhan ingin menunjukkan kasih yang luar biasa besar.
Kasih yang besar bukan hanya kasih yang memberikan hadiah tapi kasih yang besar adalah kasih yang rela memberikan segala sesuatu. Kasih yang besar adalah kasih yang mau dipermalukan untuk orang yang dikasihi. Kalau kita melihat orang lain mencintai kita, apa yang membuat kita tergerak, saat orang yang mencintai kita mau dipermalukan untuk kita, itu cinta yang luar biasa besar. Tuhan mencintai kita begitu besar sehinga Dia rela dipermalukan. Saat ada cinta maka tidak ada ketakutan. Karena kasih yang begitu besar dari Tuhan maka kita merasa cukup dan kita tidak perlu lagi mencari pengakuan dari orang lain. Kita tidak perlu lagi mencari topeng karena kasih Tuhan yang begitu besar.

3.     Tuhan mau menanggung hukuman dosa kita.
Hukuman dosa kita apa? Dosa kita adalah dosa yang mau mencari muka. Hukuman dosanya adalah kita tidak dikenal manusia dan Tuhan. Kita terpisah dari Tuhan dan manusia. Ini dinamakan neraka. Terpisah dari manusia karena orang tidak mengenal kita. Kita ini siapa? Sehingga banyak oang yang punya banyak anak-cucu dan teman  tapi masih merasa kesepian dan sedih. Karena yang dilihat orang adalah topengnya dan bukan dirinya. Orang seperti ini juga terpisah dari Allah. Waktu orang Farisi berdoa kepada Allah, “Saya bersyukur saya tidak seperti pemungut cukai ini. Saya berbuat baik dan hidup rajin.” Tetapi Tuhan berkata,”Kamu ini siapa?” Tidak ada hal yang semalang seperti ditolak Tuhan. Itu hal yang paling tidak mujur (hoki) di dunia ini. Yang menakutkan adalah bukan tidak punya kekayaan atau sakit tetapi nanti di hari penghakiman , saat kita berkata,”Tuhan ini saya!” Tuhan kasih kita mata putih,”Kamu ini siapa? Saya tidak kenal kamu!”. Hal yang paling menakutkan adalah ditolak Tuhan dan manusia karena kita hidup memakai topeng. Tuhan Yesus saat di kayu salib, Dia ditolak oleh manusia. Alkitab mengatakan bahwa Ia disalib di luar pintu gerbang, Dia dianggap sampah masyarakat. Dia ditolak. Bukan hanya itu, waktu di kayu salib Yesus berkata, “AllahKu, AllahKu,  mengapa Engkau meninggalkanKu?”  Yesus menanggung hukuman kita. Turun dalam kerajaan maut artinya ditinggal Tuhan. Hukuman manusia harusnya ditinggal Tuhan yaitu neraka, itu yang ditanggung Tuhan Yesus. Kalau hal yang paling menakutkan sudah ditanggung oleh Tuhan Yesus maka maka kita perlu takut lagi. Hal yang paling menakutkan di dunia ini bukan dipermalukan orang tetapi nanti kita masuk neraka , ditinggal Tuhan dan manusia. Hal yang paling menakutkan sudah ditanggung oleh Tuhan Yesus di dalam kasihNya yang besar sehingga kita tidak perlu merasa takut. Manusia pakai topeng karena merasa tidak aman dan orang merasa takut. Yang pertama Allah yang palsu adalah topeng kita (gengsi kita). Rasul Paulus sering mengatakan bermegah (kita pakai topeng apa?). yang kedua, Allah yang benar adalah Allah yang mau merendahkan diriNya sedemikian muka, Allah yang tidak mencari muka.

Bagaimana agar Bisa Beralih dari Allah yang palsu ke Allah yang benar?

1.     Kita harus mengenakan identitas diri yang benar.
Identitas diri bahwa sekarang kita sudah bertobat dan mengubah identitas diri kita. Pepatah tobat dalam bahasa Tionghoa adalah menyuci hati dan mengubah wajah menjadi seperti Kristus. Dosen saya berkata, manusia seperti bawang. Bawang kalau dikupas ada lapisan lagi sampai yang terakhir kosong. Jadi topengnya terlalu banyak. Untuk melepaskan topeng kita harus berani menanyakan sesuatu, pertanyaan yang sangat kita takuti. “Kalau kamu tahu siapa saja, apakah kamu masih mencintai saya?” Seringkali orang berkata-kata,”Jangan macam-macam. Jangan tanyakan ini ke suami/istri kamu. Kalau kamu tanya ke pasangan kamu maka mereka berkata, memang kamu buat apa?’ Tetapi pertanyaan ini harus ditanyakan Tuhan, “Tuhan, Engkau tahu siapa saya. Engkau tahu semua cacat-cela saya. Engkau tahu saya luar-dalam.  Apakah Engkau masih menerima saya?” Allah berkata, “Iya, Saya masih menerima engkau.” Karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini sehingga Ia mengaruniakan anakNya yang tunggal.  Apa yang kita terima di perjamuan kudus (roti dan anggur) adalah tanda yang selalu mengingatkan kita akan kasih Tuhan yang besar. Tuhan memberikan diriNya ke kita. Tuhan masuk merendahkan diriNya segitu rendah. Tidak menganggap kesetaraan kepada Allah sebagai milikNya yang harus dipertahankan, tapi menjadi manusia, hamba  dan kemudian mati di kayu salib. Kita diterima oleh Tuhan. Kalau kita diterima maka kita harus menerima bahwa Tuhan menerima kita . Menjadikan Kristus sebagai Juruselamat berarti menerima kita dengan penebusan di kayu salib. Tapi itu tidak cukup. Tuhan berkata,”Kamu kan mau mencari muka terus, Saya akan memberikanmu wajah yang baru. Tidak cukup kamu mengakui bahwa kamu memakai topeng tapi kamu harus mengenakan wajah baru yaitu wajah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus begitu indah karena Dia rela dipermalukan untuk saya (menderita untuk saya). Di dalam diri Yesus saya melihat keindahan yang luar biasa. Dulu kalau saya tidak suka dengan wajah saya maka saya pergi operasi plastik. Sekarang waktu saya bertobat, bila saya tidak suka dengan diri maka saya pergi menjalani operasi plastik rohani. Saya diberikan wajah Tuhan Yesus. Saya mau menjadi mulia lagi seperti Adam dan Hawa sebelum jatuh ke dalam dosa. Sehingga saya menjadi mirip Tuhan. Karena Kristus adalah gambar Allah. Di dalam Alkitab, Tuhan berkata, “Di dalam Kristus kita mengenakan Tuhan Yesus Kristus” Kita menjadi seperti Tuhan Yesus. Nanti saat hari penghakiman, Allah Bapa mataNya hanya mengenali orang yang wajahnya yang mirip Tuhan Yesus. Yaitu orang yang hidup seperti Tuhan Yesus. Itu Identitas diri  (siapa saya) di mana yang hidup bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.

2.     Aktualisasi diri
Aktualisisasi diri yaitu  hidup sesuai dengan identitas diri. Kalau saya tahu siapa saya yaitu saya yang sudah bersatu dengan Tuhan Yesus maka saya harus hidup seperti Tuhan Yesus yaitu hidup yang merendahkan hati. Rendah hati artinya penghiburan dan  keamanan saya tidak terletak dari apa yang bisa saya lakukan dan saya miliki. Keamanan dan penghiburan saya adalah saya milik dan dikasihi  Tuhan. Tuhan adalah Juruselamat saya. Keamanan saya  bukan sehebat pelayanan, pekerjaan dan talenta saya  karena semuanya itu sementara. Tetapi keamanan saya diletakkan pada kasih Tuhan. Ini aktualisasi diri. Kita hidup menghayati kasih Tuhan. Alkitab mengatakan, “Engkau telah mengenakan kasih Kristus maka kenakanlah Tuhan Yesus Kristus setiap saat. Kita harus hidup sesuai dengan identitas baru.

3.       Disiplin diri.
Disiplin diri maksudnya kita mau hidup sesuai dengan standar Tuhan. Kita mau melakukan apa yang orang lain pandang hina. Kita mau bersama orang-orang yang paling perlu kita. Kita mau mendoakan orang-orang yang paling menderita. Kita mau membantu orang-orang yang miskin. Kita mau mengabarkan Injil kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya. Kita tidak lagi mencari muka tetapi sekarang kita mau hidup menyenangkan hati Tuhan.

Dengan identitas yang benar, aktualisasi dan disiplin diri maka menurut Martin Luther, orang seperti ini akan menjadi Kristus-Kristus kecil di dunia ini yang memancarkan kemuliaan Allah.