Thursday, July 12, 2018

Melakukan Firman-Nya, Menikmati Kedaulatan-Nya





Pdt. Imanuel Frenky

Yesaya 38:1-8
1 Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi."
2  Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN.
3  Ia berkata: "Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat.
4  Maka berfirmanlah TUHAN kepada Yesaya:
5  "Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi,
6  dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur dan Aku akan memagari kota ini.
7  Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari TUHAN, bahwa TUHAN akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya:
8  Sesungguhnya, bayang-bayang pada penunjuk matahari buatan Ahas akan Kubuat mundur ke belakang sepuluh tapak yang telah dijalaninya." Maka pada penunjuk matahari itu mataharipun mundurlah ke belakang sepuluh tapak dari jarak yang telah dijalaninya.

Gerakan Reformasi Kerohanian Raja Hizkia

              Hari ini kita belajar dari salah satu tokoh yang ada di Alkitab yakni Raja Hizkia yang sejak muda melakukan firman Tuhan dan Tuhan memberkati hidupnya. Hizkia adalah seorang raja yang hidup di zaman Nabi Yesaya sehingga Yesaya menuliskan kisah tentang hidupnya. Raja Hizkia merupakan seorang raja Yehuda yang cukup terkenal. Sepanjang hidupnya kerajaannya dijaga oleh Tuhan. Selama hidupnya kerajaan Yehuda tidak pernah mengalami kekalahan dalam peperangan walau ia bukanlah seorang ahli perang. Ia anak dari Raja Ahas yang kisahnya dapat dilihat pada pasal 2 Taw 28. Raja Ahas sendiri tidak hidup dengan takut akan Tuhan. Ia tidak hidup seperti Daud , leluhurnya. Ia melakukan banyak hal yang tidak disukai oleh Tuhan. Bahkan ia mengeluarkan semua barang yang ada di Bait Allah seperti emas-emas lalu diberikan ke bangsa asing untuk membantunya berperang. Ia membawa bangsa Israel hidup dalam penyembahan berhala. Semasa hidupnya Tuhan tidak menyertainya. Pada akhir kehidupannya, Raja Ahas membawa Kerajaan Yehuda dalam kehancuran. Bahkan Bait Allah ditutup olehnya dan menjadi tempat di mana umat Israel tidak lagi beribadah. Waktu meninggal , ia meninggalkan suatu warisan yang tidak menyenangkan hati Tuhan dan meninggalkan Yehuda dalam kondisi terpuruk.
              Setelah Ahas mati Hizkia menggantikannya sebagai raja. Saat itu ia berusia 25 tahun (2 Taw 29). Kondisi kerajaan saat itu terpuruk dalam krisis yang begitu hebat. Bahkan Kerajaan Yehuda sedang menghadapi musuh – musuh yang selalu menyerang mereka. Dalam 2 Taw 29 dicatat bahwa hal pertama yang dilakukan oleh Raja Hizkia adalah membuat suatu gerakan reformasi kerohanian. Ia tahu Kerajaan Yehuda menjadi hancur karena Tuhan tidak lagi berkenan kepada bangsa Yehuda karena Raja Ahas membawa umatnya menyembah berhala. Jadi ia melakukan reformasi kegerakan rohani bangsa Yehuda. Pada bulan dan tahun pertama memerintah, ia membuka kembali pintu-pintu rumah Tuhan dan memperbaikinya (pada zaman ayahnya, pintu rumah Tuhan ditutup). Orang Yehuda tidak lagi beribadah kepada Tuhan. Pelita yang menggambarkan terang firman Tuhan di rumah Tuhan pun dipadamkan sehingga orang Israel tidak mengenal Tuhan. Jadi hal pertama yang dilakukannya sebagai raja ialah membuka pintu rumah Tuhan dan memperbaikinya sebagai awal pelayanannya sebagai raja. Ia mendatangkan kembali imam-imam dan orang Lewi yang dulunya dibuang oleh ayahnya. Ia berkata kepada imam-imam untuk menguduskan diri mereka supaya boleh melayani Allah yang kudus. Ia memberikan perintah ke seluruh umat Yehuda untuk menguduskan diri mereka, datang beribadah kepada Tuhan, memohon pengampunan Tuhan dan hidup dalam firman Tuhan. Ia memperkenalkan Taurat Tuhan, yang selama ini tidak pernah diperdengarkan lagi.

Hidup Orang Percaya adalah Hidup yang Bergantung pada Tuhan

              Kekuatan hidup kita sebagai umat Tuhan bukan tergantung pada kekayaan dan kehebatan kita tetapi tergantung pada Tuhan. Itu yang tidak dipahami oleh Ahas, tetapi Hizkia memahaminya.sehingga ia mencari dan memperdengarkan firman Tuhan dan melakukan apa yang firman Tuhan katakan. Pada 2 Taw 31:20-21 Alkitab berkata, Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, Allahnya. Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allahnya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.  Raja Hizkia melakukan firman Tuhan dengan segenap hati sehingga apa yang dilakukannya berhasil. Tuhan melihat apa yang dikerjakannya dan Tuhan menyatakan kedaulatanNya dalam hidup Hizkia sehingga apa yang dilakukan dalam hidupnya Tuhan membuatnya berhasil. Banyak orang yang berpikir, keberhasilan yang diraihnya tergantung pada diri sendiri (aku sebagai penentu masa depanku). Banyak motivator sekarang ini berkata bahwa di dalam diri kita ada raksasa (raksasa itu adalah dirimu sendiri). Tetapi Alkitab mengatakan bahwa sehebat apapun diri kita sebagai manusia yang menentukan masa depan kita, baik atau tidak ada dalam kedaulatan Tuhan. Tuhan yang menjadi penentu masa depan kita. Raja Ahas tidak menghormati Tuhan sehingga hancur. Tetapi Hizkia menghormati Tuhan, sehingga walaupun ia bukan seorang ahli berperang atau seorang raja pemberani seperti bapa leluhurnya (Daud) tapi ia punya sikap hati yang sama dengan sikap hati Daud yang mengutamakan dan menghormati Tuhan sehingga Tuhan berkenan kepadanya dan Tuhan membuatnya berhasil.

Saat Mengalami Kejadian yang Tidak Menyenangkan Tetap Mencari Kehendak Tuhan

              Dalam kitab Yesaya dicatat suatu ketika Tuhan mengijinkan Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Yesaya 38:1 Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi." Ini menunjukkan bahwa orang yang takut akan Tuhan, tidak mungkin tidak mengalami sakit. Tuhan mengutus nabi Yesaya untuk memberitahu kepadanya. Seandainya kita berada di posisi Raja Hizkia dan dapat mendapat berita dari ‘nabi’ (sekarang mungkin disampaikan oleh dokter),” Kamu mengalami sakit kanker stadium 4 (ganas). Kamu akan mati, hidupmu tinggal satu bulan lagi” perasaan kita pasti stress. Sebagai manusia yang punya keluarga (punya anak dan istri), setia melayani Tuhan dan tiap minggu beribadah lalu tiba-tiba kita divonis bahwa kita sakit berat dan akan mati. Yesaya mengatakan sampaikanlah berita terakhir. Ini seakan-akan berita terakhir dan penyakitnya tidak bisa tersembuhkan dan ia harus menggunakan kesempatannya hidup untuk menyampaikan pesan kepada keluarganya. Saat orang mengalami sakit dan divonis (kematian),maka prestasi apa pun yang diraihnya, kerajaan, kuasa dan harta menjadi sesuatu tidak berarti.
Ada beberapa reaksi dari orang sewaktu mendengar vonis akan kematiannya seperti menikmati hidup dan ada juga yang berputus asa. Tetapi waktu Hizkia mendengar berita yang begitu menyentak hatinya, hal pertama yang dilakukan pada ayat 2-3  Lalu Hizkia memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN.  Ia berkata: "Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mata-Mu." Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat., Hizkia memalingkan mukaknya dan tetap mencari Tuhan. Sekalipun hatinya bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa berita ini yang kudapat?” tetapi ia tidak menyalahkan Tuhan melainkan ia langsung mencari Tuhan. Di dalam mencari Tuhan ia berdoa. Dalam kesulitan hatinya, ia bingung mau bercerita dengan siapa dan ia menangis. Sekalipun ia seorang raja. Ia menangis di hadapan Tuhan. “Ingatlah aku Tuhan dan apa yang aku telah lakukan di hadapanMu”. Ia tidak meminta umur panjang. Ini menunjukkan suatu sikap hidup Hizkia yang selalu percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang berdauluat. Ini sikap hati dari Hizkia yang percaya bahwa kalau Tuhan mau melakukan apa saja atas hidupnya, maka pasti Ia melakukan yang terbaik bagi dirinya sekalipun berita yang didengar adalah berita yang tidak enak (ia akan mati). Usianya masih muda (sekitar 38-39 tahun) saat mendengar berita ini. Tetapi dalam doanya, tidak ada kata pun yang menyalahkan Tuhan. Di dalam doanya, kita mendengar doa penyerahan diri kepada Tuhan. Ia menangis dan tangisan ini merupakan tangisan tentang penyerahan diri. Waktu menangis di hadapanNya, kita melihat air mata kita ditaruh Tuhan pada kirbatNya. Maz 56:9 Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?
              Kalau hidup takut akan Tuhan, maka saat kita menghadapi masalah yang besar dan sepertinya tidak terselesaikan, maka kuncinya adalah menangis di hadapan Tuhan. Saya pernah menangis di hadapan Tuhan. 7 tahun lalu saya merintis pelayanan di Poris Indah (mulai dari nol). Sejak selesai pelayanan di Belitung, saya kembali ke Jakarta (saat itu saya baru saya menikah selama 2 tahun). Saya ingin merintis pelayanan. Beberapa gereja menawarkan pelayanan tetapi saat itu saya ingin merintis dan saat itu saya hanya bersama  istri dan ditemani oleh beberapa anak muda. Awal merintis , belum ada gereja yang menaunginya. Dalam perjalanan merintis beberapa gereja mendekati kami namun akhirnya saya bergabung dengan Gereja Kristen Kebenaran di Rajawali. Karena sudah 40 tahun gerejanya berdiri tapi belum ada satu pun Pos PI dan mereka menawarkan untuk menaungi kami. Saya bersedia asalkan diberi kebebasan utnuk mengembangkan pelayanannya. Puji Tuhan, setelah 2 tahun kami pelayanan ,jemaat  di sana berkembang. Lalu kami membeli tempat di Poris Indah. Awalnya tidak ada masalah saat membeli tanah. Tapi saat membangun gereja datang masalah, karena ada tetangga yang orang Aceh (non Kristen) saat pergi sembahyang dihampiri oleh orang-orang yang marah dan berkata, “Mengapa kamu bisa memberi ijin untuk mendirikan gereja di samping rumahmu?”
Singkat cerita, mereka mengumpulkan massa dan kemudian memanggil saya untuk datang ke kantor RW. Mereka memarahi saya dan mengatakan saya berani sekali buka gereja di tempat ini,”Dulu kalau ada anjing lewat tempat ini pasti mati”.  Dengan kata ini mereka mengibaratkan kita lebih dari anjing. Saya berkata, “Saya sudah bertanya apakah boleh mendirikan gereja dan dijawab boleh.”  Saya katakan (orang Tionghoa yang menjadi) tetangga kami membolehkan kami mendirikan gereja. “Tapi kamu tidak menanyakan orang di belakang!” sahut mereka. Di belakang gereja ada satu pesantren besar milik seorang ustad. Saya pun disidang sendirian karena saat itu majelisnya masih anak mahasiswa dan mereka ketakutan. Saat berbicara, mereka satu per satu menunjuk-nunjuk saya. Saya berdoa kepada Tuhan dalam hati, “Tuhan apa yang harus saya lakukan di tengah-tengah begitu banyak orang menyerang?”. Tuhan ingatkan akan ayat di kitab Mazmur yang berbunyi, “Diam! Ketahuilah, Akulah Tuhan. Aku yang akan bertindak.” Mereka marah -marah namun saya diam saja. Singkat cerita setelah pk 0.30 saya bertanya, “Jadi solusinya bagaimana? Saya lanjut atau tidak? Kalau tidak lanjut, beri saya solusi , saya harus pindah ke mana? (saat itu jemaat kami baru 40-50 orang)” Saya akan pindah dari tempat ini kalau kalian memberikan kami solusi, karena tempat ini masih KPR.” Akhirnya mereka juga bingung. Saya pulang pk 1 pagi dan menangis. “Tuhan mengapa sulit sekali? Namun biarlah kehendakMu yang jadi.” Saya cerita ke istri saya namun  Istri saya juga tidak bisa memberi solusi. Paginya mereka telpon saya dan meminta saya datang kembali. Saya pun datang. Mereka bilang, “Setelah kami pikir-pikir, kami juga tidak punya solusi buatmu. Tetapi kamu harus minta 70% tandatangan warga sekitar sini. Kalau dapat kami kasih ijin kamu beribadah di sini!” Persoalannya, tetangga di depan banyak Tionghoa tetapi tetangga di belakang adalah orang-orang mereka. Otomatis mereka tidak mau memberi tandatangan. Jadi itu bukan solusi tapi jebakan Batman. Ada yang menyarankan, untuk memberi amplop satu per satu agar mereka mau memberi tandatangan. Tetapi karena baru merintis jangankan amplop malah kami tidak punya uang. Saya sudah ajarkan untuk tidak meminta kepada siapa pun kecuali kepada Tuhan.
Saya pergi dari satu rumah ke rumah yang lain. Saya bertanya, “Boleh minta tanda tangan?” Ditanya,”Untuk apa?” “Untuk membangun gereja”, jawab saya. “Apa urusannya kami memberi tanda tangan untukmu?” jawab mereka dan mereka tidak memberi tanda tangan. Saya pulang ke rumah, tutup pintu dan menangis sejadi-jadinya di hadapan Tuhan, “Tuhan aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Biarlah kehendakMu yang jadi.” Esoknya saya tetap pergi. Suatu kali ada rombongan 5 orang dan mereka bertanya, “Pak Imam, keliling bawa amplop untuk apa?” “Saya mau minta tanda tangan untuk membangun gereja Pak!” jawab saya. “Dapat?” tanya mereka. “Tidak dapat! Hanya dapat 20%’ jawab saya. “Mengapa tidak dapat?” tanya mereka lagi. “Sebagian tidak mau tanda tangan!” jawab saya lagi. Mereka sudah tinggal di sana sudah lama dan mereka dikenal tukang mabok (preman-preman). Lalu mereka temani saya meminta tanda tangan dan saat datang ke rumah-rumah tetangga mereka berkata, “Orang ini mau buka gereja. Tolonglah kasih tanda tangan. Apa susahnya sih? Memang ganggu apa?” Tuan rumah tidak enak dan akhirnya memberi tanda tangan. Singkat cerita akhirnya saya dapat 70% tanda tangan. Orang-orang bertanya, “Lima orang itu apakah minta uang kepadamu?” Saya berkata, “Saya kasih uang tapi mereka tidak mau terima. Mereka berkata,’Ini untuk Tuhan!”.

Apa yang Mustahil Bagi Manusia, Tidak Mustahil Bagi Allah

              Waktu datang ke Tuhan, kita tidak tahu solusinya tetapi Tuhan tahu. Tuhan bertindak dengan caraNya. Apa yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Tuhan. Demikian juga yang terjadi dengan Hizkia. Sewaktu menderita sakit keras dan mendengar bahwa ia akan mati dalam usia muda, sebagai raja muda ia tahu banyak hal yang masih harus dikerjakan untuk kerajaan Yehuda. Ia hanya meminta hikmat Tuhan,”Ingatlah Tuhan masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan. Tuhan aku masih muda, mengapa saya harus mati dengan cara demikian?” Sebagai orang yang takut akan Tuhan, dia hanya meminta tanpa memaksa. Tetapi apa yang dilakukan oleh Tuhan dalam hidup Hizkia? Efesus 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, Bagi dialah yang dapat melakukan apa yang kita doakan dan pikirkan. Itulah yang terjadi dalam diri Hizkia. Ia hanya meminta Tuhan untuk mengingat dirinya, tetapi Tuhan memberi 5 berkat dalam hidup Hizkia di ayat 4-8 :
1.     Tuhan menyembuhkan dia dari sakit-penyakit.
2.     Tuhan memperpanjang usianya 15 tahun lagi.
3.     (Ayat ke 6) Tuhan berjanji memberinya kelepasan dari tangan Asyur. Pada waktu itu Asyur sangat berkuasa dan bermaksud mencaplok Kerajaan Yehuda. Tetapi Tuhan berkata,”Aku akan melepaskan engkau dari kota ini dan dari tangan Asyur.” Tuhan berjanji memagari Kota Yehuda dan memberi kelepasan dari tangan Asyur. Saat menghadapi penyerangan Asyur, ayah Hizkia menjual semua harta di Bait Allah untuk mendapatkan tentara bayaran tapi tetap hancur. Sedangkan Hizkia mengutamakan Tuhan sehingga Tuhan berkata bahwa Ia akan memagari kotamu dan akan melindungimu.
4.     Dia akan memberi perlindungan atas kota itu
5.     Hizkia melihat mujizat Tuhan yaitu petunjuk matahari mundur 10 tapak. Hal ini menunjukkan Tuhan melakukan keajaiban bagi Hizkia agar ia melihat bahwa Tuhan berkuasa dan berdaulat terhadap umatNya. Umat yang mengasihiNya bisa melihat kedaulatan Tuhan dan menikmatiNya. Tuhan berdaulat atas hidup kita. Yeremia 17:7  Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! dan "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! (Yeremia 17:5). Hizkia tahu bahwa kunci hidup yang diberkati Tuhan adalah hanya takut akan Tuhan Sang Sumber Berkat. Tuhan menyatakan kedaulatan. Hizkia hanya meminta Tuhan mengingatnya tetapi Tuhan memberi dia bonus 5 berkat.

Rahasia atas Berkat dan Pertolongan yang Diperoleh Hizkia

Mengapa Hizkia bisa mengalami semua itu dan mendapatkan pertolongan  ,berkat dan kedaulatan Tuhan yang begitu dahysat?

1.     Ia hidup mengandalkan Tuhan.
2 Taw 29:2 sebab ia hidup melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan tepat seperti yang dilakukan Daud. Sekalipun dia sudah menjadi raja tetapi ia tidak mengandalkan kekuasaan melainkan mengandalkan Tuhan. Bagaimana dengan hidup kita? Apakah hidup kita mengandalkan Tuhan? Adakah hidup kita menyatakan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan? Hizkia mengandalkan Tuhan dalam segala hal sehingga Tuhan berkenan atas hidupnya. Umumnya kesombongan manusia terbesar adalah selalu merasa diri bisa tanpa Tuhan sehingga membuatnya tidak bisa melihat Tuhan. Tetapi Hizkia tahu bahwa ia adalah seorang raja yang biasa, hanya Tuhan yang sanggup menolongnya. Apapun yang terjadi dalam hidupnya, ia mengandalkan dan mencari Tuhan seperti Daud. Daud walau punya pengalaman perang yang hebat, tapi saat menghadapi musuh ia selalu mencari Tuhan. Setiap kali menghadapi Filistin yang tidak pernah  menang melawannya, ia tetap berdoa dan mencari Tuhan. Beda dengan Saul yang setelah menjadi raja tidak mengandalkan Tuhan. Bahkan apa yang tidak boleh ia lakukan tetapi ia lakukan karena ia memandang dirinya raja. Itu adalah kesombongannya.

2.   Ia hidup menuruti segala perintah Tuhan (firman Tuhan)
Banyak yang berkata kepada saya,”Pak, saat ini dagang susah. Mau cari uang haram saja susah apalagi uang halal. Jadi kalau tidak memakai cara yang diajarkan dunia , susah untuk bersaing” Saya berkata, “Kamu anak Tuhan atau anak setan? Kalau kamu anak Tuhan maka lakukan sesuai cara Tuhan. Nanti kamu akan melihat hasilnya pada akhirnya.” Berapa banyak orang yang melakukan segala hal untuk mencapai keberhasilan? Hari-hari ini dengan segala cara ia menutupi segala kebejatannya sehingga kita melihat di TV mereka satu per satu mereka masuk tahanan KPK. Hanya dengan hidup melakukan firman Tuhan kita bisa menikmati kedaulatan Tuhan. Saat tidak melakukan firman Tuhan, kita melihat kedaulatan Tuhan bekerja dalam hidup kita atas penghukuman. Sehingga jangan sesat, apa yang kau tabur itu yang dituai. Kalau kamu menabur kejahatan maka kamu akan menuai kejahatan. Tetapi kalau kamu menabur kebaikan, hidup dalam firman kamu akan melihat berkat firman Tuhan bekerja dalam hidupmu. Lebih baik dapat hasil sedikit tapi caranya benar daripada hasil banyak tetapi dengan cara yang tidak benar. Hizkia tahu hal itu. Makanya ia hidup melakukan segala perintah Tuhan.

3.   Ia hidup mengutamakan Tuhan.
Artinya ia mendahulukan Tuhan. Berapa banyak dari kita yang mendahulukan Tuhan? Hari minggu adalah sabat dipakai untuk Tuhan atau hal yang lain? Ini yang sederhana. Orang yang mengasihi Tuhan pasti akan mengutamakan Tuhan. Saat mendekati Idul Fitri, bisa dilihat mana jemaat yang mengutamakan Tuhan. Ada jemaat yang tetap buka toko saat hari Minggu, karena mengejar hal itu. Saya berkata ,”Jangan karena hari Minggu untuk beribadah, tetapi mereka menolak karena melihat ini sebagai sumber rejeki. Saya berkata,”Rejeki itu datangnya dari Tuhan!” Tetapi ada jemaat yang tetap buka toko dan selama sebulan tidak ke gereja. Memasuki Idul Fitri ia tidak liburan tetapi menjaga anaknya di rumah sakit. Anaknya sakit dan dirawat selama 2 minggu karena tidak diajak ke gereja, tetapi diajak ke toko. Mungkin kena virus sehingga dirawat. Saya berkata, ,”Apa yang kamu cari? Kalau itu berkat Tuhan, kamu harus percaya walau hari biasa pun Tuhan berkati. Hari Sabat adalah hari di mana Tuhan minta agar kita bersekutu denganNya dan menikmati berkatNya bersama keluargamu. Tetapi kamu pakai itu, tandanya kamu tidak percaya.” Adakah kita mengandalkan Tuhan? Adakah kita merasa Tuhan yang terutama? Bila dalam hal ini kita tidak mengutamakan  Tuhan, maka dalam hal lainnya kita tidak bisa juga mengutamakanNya. Kita utamakan Tuhan berarti kita mau Tuhan yang lebih dahulu kita sembah dan layani. Bagaimana kasih Tuhan bagi kita? Demi kita, Dia rela mati. Demi kita ciptaanNya yang sudah berdosa, melanggar firmanNya, dan tidak setia, Dia rela meninggalkan sorga, datang ke dalam dunia, mati bagi kita,  menebus dosa kita dan mengutamakan kita. Setelah mendapatkan anugerahNya mengapa kita tidak bisa memberikan yang terutama bagi Dia? Ada juga yang datang ke gereja hari Minggu tapi tidak memberi hati kepadaNya, itu juga berarti kita tidak mengutamakan Tuhan. Hizkia mengutamakan Tuhan. Seharusnya di awal pemerintahannya, kondisi kerajaannya begitu kacau sehingga seharusnya ia menggunakan banyak strategi untuk memulihkan kerajaannya tetapi yang pertama ia lakukan adalah mengembalikan posisi Tuhan di tengah orang Israel (Dia yang terutama). Di sana Tuhan menyatakan kuasaNya. Walau Hizkia juga melakukan kebodohan dengan memamerkan seluruh kekayaannya sehingga Tuhan tidak suka dan mengatakan setelah Hizkia semuanya akan diangkat ke Babelonia. Namun selama Hizkia hidup, musuh tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan Yehuda untuk menyerangnya karena Tuhan memandang Hizkia orang yang berkenan kepadaNya. Teladan Hizkia bisa terjadi dalam hidup kita kalau kita melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Hizkia yaitu hidup mencintai Tuhan dan firmanNya dan mengutamakanNya.



Melakukan Firman-Nya Mengakui KedaulatanNya





Ev. Susan Kwok

Keluaran 14:1-2, 11-14
1   Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian:
2  "Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut.
11  dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?
12  Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini."
13  Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.
14  TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja."

Pendahuluan

              Dengan melakukan firman Tuhan, itu menjadi tanda bahwa kita mengakui kedaulatan Tuhan. Dengan kata lain kita mengakui kedaulatan Tuhan ketika kita melakukan firman Tuhan. Ketika firman Tuhan disampaikan kepada kita, baik kita mendengarnya atau tidak, mempercayainya atau tidak, mau melakukannya atau tidak maka hal itu akan berdampak pada sikap kita apakah kita akan mengakui kedaulatan Dia atas diri kita atau tidak. Kalau kita mengakui kedaulatan Dia atas hidup kita, maka sebaliknya kita juga akan melakukan, mentaati dan mendengarkan firman Tuhan.

Belajar Firman Allah Berbeda dengan Belajar dari Allah.

Banyak orang belajar firman Allah tetapi ada orang yang berlajar dari Allah. Ini adalah dua hal yang tidak sama. Keduanya penting tapi tidak sama. Ketika belajar tentang Allah, maka Allah itu menjadi objek  (materi, bahan) yang ingin kita selidiki dan ketahui. Di sini kita mencari tahu siapa Allah, bagaimana Dia dsbnya. Belajar tentang Allah bisa tidak mempunyai akibat apa-apa dalam hidup kita, karena Allah itu menjadi hanya sebagai sumber atau objek penggalian, perdebatan dan pengetahuan. Itu sebabnya seorang Kristen yang hanya datang ke gereja atau dalam hidupnya sehari-hari hanya belajar tentang Allah, seringkali tidak bisa mengaitkan, mengintegrasikan, ,menghubungkan antara apa yang Allah katakan (apa yang diketahui tentang Allah) dengan kejadian sehari-hari yang dialami (baik dalam segala hal yang pahit maupun yang enak dalam hidupnya). Dia tidak bisa mengaitkan firman Allah dengan hobi , talenta bahkan  pelayanannya. Karena baginya, Allah hanya menjadi bahan yang dipelajari (tidak ada kaitannya dalam kehidupan sehari-hari). Ini berbahaya. Itu sebabnya ketika tidak berkaitan terus-menerus dengan Allah dalam suatu hubungan yang hidup maka dosa yang selalu mengintai seperti harimau yang buas itu akan segera menyergapnya ketika ia lemah. Allah itu seperti sesuatu yang jauh (tidak ada hubungan dengan hidupnya).
              Akhir-akhir ini ada berita yang memalukan korps hamba Tuhan, gereja dan denominasi gereja. Seorang pendeta yang sudah berusia setengah baya dulu pernah mengambil dan memelihara seorang anak perempuan. Anak itu kemudian menjadi besar dan pergi kuliah. Ternyata apa yang terjadi? Sang pendeta melakukan hubungan percintaan dengan anaknya tersebut! Ketika anaknya ini ternyata punya hubungan lain dengan seorang pemuda di kampusnya, maka sang pendeta membunuh anaknya di kamar mandi (WC) gereja. Hal ini mengejutkan sekali ,terlebih lagi pelakunya menyandang jabatan pendeta. Sulit membayangkan hati jemaatnya ketika mengetahui kejadian tersebut. Ada juga sepasang mahasiswa-mahasiswi teologi (belajar tentang Alkitab dan Allah) berpacaran. Namun kemudia terjadi pertikaian sehingga yang cowo membunuh yang cewe.

Allah sebagai Pribadi yang Mendidik

Ketika seseorang yang percaya kepada Kristus (baik dia pendeta, calon rohaniawan, siswa sekolah teologi atau umat biasa yang belajar Alkitab) maka saat belajar firman Allah, seharusnya ia tidak berhenti hanya belajar tentang Allah. Namun ia harus masuk lebih jauh yaitu belajar dari Allah. Belajar dari Allah berarti kita melihat Allah sebagai pribadi yang mengajar dan mendidik kita. Kalau belajar dari Allah maka Allah secara langsung bersentuhan dengan hidupnya. Kata-kataNya mau didengar dan dicermatinya dan selalu punya relasi dengan Dia. Sehingga dalam hidup yang penuh kekacauan dan dosa ini , maka ketika mulai  dilingkupi dengan hal-hal yang menyesakkan hidup (kejadian sulit atau kebencian) atau sebaliknya sesuatu yang menyenangkan, maka ia bisa mengaitkannya dengan Allah. Dengan mengaitkannya dengan Allah , dalam keadaan sukacita  maka ia bisa bersyukur (berkat Allah luar biasa). Ketika sedang senang atau sedih maka ia bisa mengaitkannya dengan Allah (Allah ingin kita belajar apa).

Belajar dari Allah Melahirkan Sikap Hormat kepada Allah

              Belajar tentang Allah dan belajar dari Allah akan melahirkan sikap yang berbeda baik saat kita beribadah, menjalani kehidupan kita, bekerja di perusahaan atau saat mengelola keluarga kita. Sikap kita berbeda bila kita hanya mengenal Allah dengan sikap kalau kita belajar dari Allah. Itu sebabnya kalau kita belajar dari Allah maka kita akan tahu bahwa Dia adalah pribadi  yang berkuasa, mengasihi, adil , tidak terduga cara kerjaNya, tidak terselami hati dan tujuanNya, tidak bisa dikekang oleh waktu dan tuntutan kita. Walau kita berdoa 10 kali sehari, kalau Dia belum berkata iya, Dia tidak akan berkata iya. Ia tidak bisa dituntut dan disetir oleh kita. Dia bebas melakukan tindakanNya seorang diri dan kita tidak bisa berbuat apa-apa karena kita hanyalah manusia fana yang terbatas karena ciptaanNya. Ini akan melahirkan sikap di satu sisi perasaan yang tidak berdaya (merasa kecil-hina-berdosa-fana) tetapi di sisi lain akan melahirkan ketergantungan yang mutlak kepada dia yang berkuasa. Saya tidak berkuasa, berdaya, tidak punya jalan keluar tetapi Dia berkuasa, berdaya dan bisa memberi jalan keluar. Akhirnya ini akan melahirkan sikap hormat kita yang  luar biasa kepada Allah. Kalau kita belajar dari Allah akan melahirkan sikap hormat kepada Allah dengan luar biasa.

Allah Menuntun UmatNya

              Kita mau belajar bagaimana Allah mengajar orang Israel untuk melihat siapa Allah yang menuntun mereka keluar dari tanah Mesir. Allah tidak mau Israel cupat, picik, kerdil hanya tahu Allah dari satu sisi. Allah ingin Israel belajar berbagai segi dari Allah yang luar biasa, Allah yang berdaulat yang bisa membawa keluar dari Mesir, baik, perkasa namun Dia juga mau mengajar sisi lainNya dalam paragraph Kitab Keluaran yang dibaca.
              Dalam Keluaran 13:17-22, LAI mengatakan “Allah menuntun umatNya”. Saya membayangkan bangsa Israel enak sekali karena tidak banyak pergumulan, pertanyaan dan penafsiran, karena Allah secara langsung  dan jelas menuntun mereka. Kalau tiang awan di siang hari berhenti atau tiang api di malam hari berhenti, maka orang Israel berhenti. Demikian pula sebaliknya. Itu tinggal lihat saja dengan mata. Mau jalan dan berhenti begitu jelas dalam pernyataan, jawaban dan tuntunanNya. Sepertinya tidak susah jadi orang percaya. Hal ini terkadang membuat kita iri dan ingin juga mengalaminya. Dengan demikian kalau kita berada di persimpangan jalan (pilih A atau B) maka Dia langsung menjawab pilihannya. Atau saat bingung memilih destinasi (saya mau liburan ke Tegal atau ke Bali?) bila Tuhan menjawab langsung ke Bali maka kita tinggal ke Bali tanpa perlu berpikir.
              Ada orang Kristen tertentu yang diajar, “Kamu berdoa, tutup mata lalu buka Alkitab secara sembarangan, tunjuk jarimu mau yang mana maka itulah jawabanNya.” Ternyata banyak yang melakukan hal itu. Hal ini bodoh. Bagaimana kalau giliran kita menunjuk ke Yudas yang keluar menggantung diri bagaimana? Maka kita akan ikut gantung diri? Tapi ada orang Kristen yang mau seperti itu karena mengikut Tuhan begitu saja. Yang dilakukan Allah sudah benar, menuntun Israel begitu gampang, jelas dan lugas, tanpa perdebatan. Berjalan, berhenti, berkemah mudah. Tetapi itu hanya satu sisi. Allah ingin Israel mengenal Allah di sisi lain. Supaya mereka mengenal Allah yang komplit dan seimbang sehingga akan membuat mereka semakin taat, tahu diri, tahu berjalan dalam hidup seperti apa.
              Berfirmanlah Tuhan kepada Musa, di ayat 2, “katakan kepada orang Israel untuk balik kembali.” Tempat itu sudah dilewati. Allah membawa orang Israel keluar Mesir dengan jalan memutar dan tempat ini sudah dilalui. Allah melakukan itu karena Allah tahu Israel ibarat bayi, jadi Allah kasih yang enak dulu supaya orang Israel merasa lega dan relaks dahulu. Tetapi kemudian Allah berkata, “Balik kembali berkemah di Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon.” Mereka disuruh utnuk berkemah di sana, suatu tempat yang telah dilewati tapi diminta untuk putar kembali. Ini hal yang aneh. Mengapa? Bukan hanya karena tadi mereka melewatinya, tetapi tempat itu sebenarnya merupakan suatu jalan buntu. Kalau dikejar musuh sudah susah balik lagi. Karena Baal-Zefon di Utara ada benteng Mesir yang terbuat dari batu cadas yang luar biasa besar dan tinggi. Maka saat perang Mesir berlindung di baliknya sehingga musuh susah menyerang mereka. Mereka ngeri melihat benteng Mesir karena kalau ada apa-apa apakah mereka harus balik ke sana. Sedangkan kalau orang Israel ada apa-apa mau lari ke mana? Di Selatan ada padang gurun yang luas dan terik, yang sejauh mata memandang hanya hamparan pasir sehingga  orang Israel bisa mati kalau lari ke sana. Di Barat merupakan tempat tinggal mereka saat menjadi budak di kota Raamses dan Gosyen, Tuhan sudah menyuruh mereka keluar dari sana , tidak mungkin mereka kembali ke sana lagi. Di Timur pas di hadapan mereka adalah laut Teberau yang luas, kalau ada apa-apa bagaimana? Kalau jadi umat Israel kita berpikir,  “Mengapa Tuhan suruh saya harus balik lagi?” Bukankah ini keputusan yang bodoh dan konyol kalau ada apa-apa bagaimana dan ternyata ada apa-apa.

Mau-Maunya Tuhan (Kedaulatan Tuhan)

              Di ayat 11-12 ketika menoleh ke belakang mereka melihat debu hasil kuda-kuda tentara Mesir yang berlari mengejar mereka. Mereka mendengar deru seperti deru suara perang karena prajurit yang gagah perkasa mengejar dan ingin membunuh mereka. Tuhan tahu itu yang akan terjadi. Kalau membacanya,Tuhan luar biasa unik. Siapa yang menjebak siapa? Waktu Tuhan suruh mereka balik, Tuhan berkata ke Musa,”Aku akan mengeraskan hati Firaun. Nanti Firaun akan berpikir karena Israel berkemah di Baal-Zefon berarti Israel tersesat, lalu dikejar. Pikiran Firaun memang seperti itu. Ia mengira Israel yang terjebak dan dikejar. Siapa yang mengejar siapa? Tuhan yang sedang mengintai Mesir atau Mesir yang mengelabui Israel sehingga Israel berada di sudut buntu? Tuhan yang membawa mereka ke jalan buntu. Walaupun Firaun berpikir sudah bisa mendesak Israel sampai ke jalan buntu, padahal Tuhanlah yang membawa. Pada kelas Tiranus yang lalu yang membahas tentang kedaulatan , Pak Tommy Matakupan menggunakan istilah yang cukup unit dan dikenal, “Tuhan punya mauNya sendiri kalau sudah punya mau karena Dia berdaulat melakukan apa pun yang Dia mau. Mau-mauNya Tuhan. Rencana-rencana Tuhan terkadang tidak bisa kita terima karena di otak kita Tuhan itu hanya satu sisi yang kita kenal. Tuhan itu baik, tidak mungkin mendatangkan celaka, tidak mungkin membiarkan kita di jalan buntu, itu Tuhan yang kita bangun menurut konsep kita sendiri. Tuhan ingin orang Israel belajar. Tuhan punya kehendak yang kadangkala jauh beda dengan pikiran kita. Ketika hal itu berbenturan dengan pikiran kita, apakah kita tetap percaya kepadaNya, menghormati Dia dan mengakui kedaulatan Dia atau tidak? Itu yang Tuhan ingin ajarkan. Itu sebabnya ketika orang Israel melihat itu mereka jadi takut dan panik.
              Pada ayat 11, untuk pertama kali setelah keluar dari Mesir dikatakan mereka berseru-seru bersama-sama kepada Allah oleh karena ada bahaya yang mengejar mereka. Tidak salah untuk berseru kepada Tuhan. Ketika terhimpit dan terjepit kita minta pertolongan kepada Allah, tidak salah. Masalahnya ada di mana? Orang Israel berseru-seru. Kita juga sering berseru-seru kepada Allah dengan melihat Allah itu memiliki cara pandang yang berbeda dengan cara pandang kita. Ketika takut dan berseru kepada Allah, kita melihat Allah tidak lebih seperti mesin ATM. “Tuhan ini lintah darat sudah mau datang dan mau membunuh saya tapi saya tidak punya uang, Tuhan tolong seperti mesin ATM.” Saat kita berdoa itu adalah kode agar Allah seperti mesin yang keluarkan uang. Itu yang sering kita pikirkan tentang Allah. “Tuhan, bagaimana dengan hidup saya ini? Anak saya begini dan suami saya begini-begitu, bagaimana ya Tuhan?” Melihat Allah saat berseru tidak lebih seperti bola kristal seorang peramal yang berkata, “Sabar ya anak, Setahun ini kamu susah. 2 tahun lagi kamu akan hebat, 3 tahun lagi kamu akan mendapat jodoh, 4 tahun lagi kamu akan menjadi direktur dsbnya. Itu melihat Allah seperi itu.
              Saya punya seorang kenalan yang jauh lebih tua dari gereja lain. Ketika keluarga punya masalah yang berat dan tidak tahu mau bicara apa sakit beratnya. Ia menjadi tidak sabar suatu hari ia berkata,” Saya mau cari peramal. Karena berdoa kepada Tuhan melalui pendeta-pendeta percuma. Baik pendeta dari gereja A, B,C dstnya tidak selesai masalahnya, jadi ia mau cari peramal supaya tahu jalan keluarnya. Siapa dia? Dia seorang aktifis, berkali-kali menjadi majelis ternyata hanya belajar tentang Allah, tidak belajar dari Allah. Cara dia berpikir tentang Allah dan cara kerjanya seperti yang ia mau. Banyak orang seperti ini. Ketika ada masalah baru ketahuan kita seperti apa. Tetapi masalah itu akan datang tiba-tiba, siapkah kita? Waktu masalah itu datang, kita seperti apa di hadapan Allah? Itu akan ketahuan.
              Di dalam ayat ke 11, dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Israel mulai bernostalgia mengenang masa lalu yang indah. Dulu saya di Mesir walaupun tidak ada Tuhan, hidup lancar dan sukses dsbnya namun ketika dituntun Tuhan mengapa malah seperti ini ya? Saya sering mendengar orang berbicara seperti itu. Dulu sebelum saya kenal Tuhan, sukses dan lancar namun ketika sudah mengenal Tuhan dan mau melakukan firman Tuhan mengapa malah jadi susah? Pernah berpikir tidak, “Apa dan cara bagaimana Tuhan mendidik kita dewasa, kuat dan tidak hanya bayi yang selalu diberi minum susu saja , tetapi mulai diberi makanan keras supaya gigi dan kakinya kuat dan nalarnya jalan. Tuhan ingin kita menjadi pribadi yang kuat tetapi selalu ingin mengenang masa lalu seolah-olah menyesal kita mengenal Tuhan. Kasihan juga. Terkadang saya berpikir,”Ada manusia yang merasa tidak ada untungnya mengenal Tuhan.” Kadang saya berpikir, “Tuhan jangan kasihani dia, karena dia tidak tahu diri karena merasa mengenal Tuhan tetapi tidak ada untungnya.”
              Lalu mereka berkata ke Musa, Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." Ini keadaan terjadi karena salah kamu. Saat takut dan panik orang menyalahkan orang lain. Israel menyalahkan Musa. Kalau kita menyalahkan Tuhan, pasangan kita, orang-orang di sekitar kita, pemimpin kita (perusahaan, gereja, ayah kita dll). Kalau panik dan takut bisanya menyalahkan orang lain. Ini manusia dan Israel sudah mencontohkannya untuk kita pelajari. Keluaran 14:1-2;11-12, saya beri judul ,”Ikut Allah akan bertemu jalan buntu” walau tidak semua jalan akan buntu tetapi siap-siap saja suatu kali akan bertemu jalan buntu karena  jalan buntu diberikan Allah untuk mendidik kita.
              Keluaran 14:13-14 Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.  TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja." “Janganlah takut. Berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN” adalah perintah. Manusia kalau panik itu selalu suka lari dari kenyataan. Kalau tidak lari dari kenyataan, maka berkelahi satu dengan lain atau mencari kesalahan orang lain. Kalau saya takut apa yang akan saya lakukan yang bisa menjadi gambaran untuk banyak orang. Mulut tidak berhenti ngomong. Omong ke sana-sini, tentang kesusahan pribadi, omong terus  tidak ada berhenti-hentinya. Dengan harapan orang yang diajak bicara bisa melegakan, membantu, tetapi tidak lega juga dan terus omong lagi, kasih tahu ke semua orang. Pada ayat 13-14, Tuhan katakan,”Jangan takut dan jangan lari. Aku akan berperang bagimu.” Bagaimana cara Allah berperang bagi orang Israel? Allah bisa memberhentikan tiang awan, menjadi benteng antara orang Israel dan Mesir supaya orang Mesir tidak bisa mencapai mereka dan agar orang Israel tidak terus-menerus melihat bangsa Mesir yang sedang mengejar mereka (tiang awan menghalangi). Allah membuka satu jalan di Laut Teberau dan Allah mengacaukan sehingga tidak ada tentara Mesir yang selamat. Seorang ahli arkeologi dan sejarah mencari tahu dan mencatat sejak Keluaran pasal 14, ketika tentara Mesir dan Firaun mati di tengah-tengah Laut Teberau, di daerah sebelah Timur ini sampai 20 tahun lebih orang Mesir tidak berani menginjakkan kakinya ke daerah ini apalagi memperluas kerajaannya sampai ke tempat ini karena mereka trauma. Karena setiap kali mereka mengingat kisah Laut Teberau mereka mengingat kekalahan mereka yang luar biasa. Karena mereka berperang bukan melawan orang Israel tetapi melawan sesuatu atau seseorang yang tidak bisa mereka lihat wujudnya. Mereka seperti melawan suatu pribadi yang betul-betul hebat luar biasa dan tidak bisa mereka sentuh. Orang Mesir sedemikian trauma terhadap kejadian ini. Apa sikap orang Israel? Kalau musuhnya trauma sampai puluhan tahun, apakah Israel memuji Tuhan sampai puluhan tahun? Jawabannya tidak!  Itulah manusia. Itulah sebabnya Tuhan mau menghajar Israel dan menghajar kita semua. Orang yang tidak kenal Tuhan bisa trauma melihat perbuatan kita tetapi orang yang mengalami kasih Tuhan, sebulan sudah lupa akan kebaikan Tuhan seolah-olah Tuhan tidak pernah melakukan kebaikan terhadap mereka. Israel di Keluaran 15-17, pada bulan yang kedua hari yang kelima belas (2 bulan lebih sedikit) mereka bersungut-sunggut karena tidak ada air. Walau Tuhan sudah memberi manna, namun baru berjalan mereka lupa lagi dan berkata, “Tuhan, aku mau daging dan roti.” Ini manusia. Mengapa Israel dan kita hari ini Tuhan membuat kebaikan, bisakah selama 20 tahun kita tidak lupa? Kalau bisa begitu betapa banyak kebaikan Tuhan dan itu membuat kita seumur hidup tidak akan pernah bisa melupakannya

FirmanNya Membentuk dan Membuat Taat

Roma 15:4   Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semua yang tertulis di dalam firman Tuhan dan kisah yang baru kita dengar terutama bagian itu menjadi satu hal yang Allah berikan kepada kita untuk membentuk kita agar kita bisa hidup taat kepada FirmanNya dengan demikian kita bisa mengakui Allah itu benar-benar mengakui bahwa berdaulat dalam hidup kita. Karena kita sudah biasa hidup dan berpikir dengan kekuatan dan pikiran sendiri , berjalan dengan cara kita sendiri. Israel selama ratusan tahun biasa membaca tulisan Mesir, sudah biasa dididik dalam didikan Mesir, biasa melihat Baal Mesir, biasa dipimpin oleh orang-orang Mesir yang tidak mengenal Tuhan. Pikirannya sudah terkontaminasi. Allah perlu membawa mereka keluar , masuk bertemu jalan buntu di Baal Zefon sehingga mereka dibentuk oleh Tuhan. Bagaimana dengan kita? Semakian kita karatan dalam kebiasaan-kebiasaan buruk kita, maka semakin kita perlu jalan buntu-jalan buntu untuk bisa mengikis kita. Kebiasaan-kebiasaan, cara pikir yang membuat kita sulit mengakui kedaulatan Allah, sulit mentaati firman Allah, perlu dikikis. Karena kalau tidak, hal itu bisa membawa kita pada jurung maut. Kristus yang sudah memerdekakan kita dari status kita, Dia juga ingin kita merdeka di dalam segala pemikiran dosa yang pernah mengungkung kita. Tidak cukup percaya Yesus yang merupakan awal, tapi selanjutnya perlu bertumbuh dalam pemikiran kita yang kudus, sikap terhadap firman dan Tuhan, kita harus benar-benar menjadi orang-orang merdeka.
              Saat libur pergi ke suatu gereja di Malang. Ada hal yang membuat saya kesal. Saya merasa senang saat mendengar firman Tuhan. Tapi sejak awal masuk ibadah, perempuan -perempuan di sebelah saya ngobrol terus. Itu membuat saya terganggu. Apa yang digosipkan? Apa sudah tidak bertemu selama 30 tahun? Apa tidak ada waktu sebentar lagi selesai ibadah baru bicara? Ini bicara terus sejak liturgis masuk dan membawa puji-pujian kepada Tuhan. Ketiga  perempuan tersebut membuka handphone , ternyata mereka melihat galeri foto. Lalu mereka membicarakan tentang foto-foto tersebut. Saya gregetan dan kesal. Mereka melihat saya tapi saya diamkan saja. Saya berkata ke mu-shi, “Saya kesal.” Mu-shi meminta saya mendiamkannya saja. Sampai tiba waktu khotbah juga begitu. Kalau dari lagu pujian sampai khotbah mereka begitu,lau apa yang didengar mereka? Saya tidak menghakimi orang, tetapi kebiasaan jelek ini bisa membuat celaka. Akhirnya karena kesal, saya ‘balas dendam’. Waktu diminta berdiri dan salam-salaman satu dengan lain, saya berdiri namun saya tidak mau salaman dengan mereka. , saya pergi keluar dan salaman dengan orang lain. Sebelum bicara belum selesai masalahnya,tapi tidak bertemu mereka lagi.
              Kemarin saya menonton Jurassic Park. Dari lampu belum dimatikan, lampu dimatikan sampai berakhir filmnya, di pojok ada 8 orang anak remaja  (sekitar 12-15 tahun) mereka bicara seperti belalang, Belum lagi sinar HP nya. Mereka lihat ke sana -sini. Saya merasa kesal dan semua orang sudah meminta mereka diam. Tapi tetap tidak diam. Saya tidak tahu mereka tahu tidak ceritanya. Mereka mau bayar Rp 45.000 untuk ke gedung bioskop dan main handphone. Saat saya antri di WC mereka juga ada dan mereka tidak bisa diam. Saya diamkan saja. Tetapi di gedung bioskop apalagi di gereja? Saya tidak bayangkan kalau suatu kali mereka menjadi hamba Tuhan tetapi tidak bisa melepas gadget mereka. Kebiasaan yang dibangun perlu tempat Baal-Zefon untuk membuat kita bertemu jalan buntu dan hanya Allah yang bisa menyelesaikan.
              Kita diajar tentang waktu Allah karena Allah berdaulat atas waktu. Waktu Allah adalah kedaulatan Allah. Laut Teberau solusi (jalan keluar) diblok oleh Allah berdasarkan waktuNya. Laut Teberau terbuka dan tertutup hanya pada saat Allah berfirman, Tidak sebelum Allah berfirman. Hanya saat Allah berfirman. Waktu-waktu dalam hidup kita, tidak mungkin Allah tidak tahu. Bisakah kita mempercayakan diri kita seutuhnya kepada Allah sang pemegang waktu karena Dia berdaulat atas waktu?