Sunday, April 15, 2018

Sepertinya Setan Menang Tapi Setan Bukan Pemenang





Pdt. Hery Kwok

Kolose 2:6-15
6   Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.
7  Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
8  Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.
9  Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,
10  dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.
11  Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa,
12  karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.
13  Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita,
14  dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib:
15 Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.

Pendahuluan

Kolose 2:15 ditulis dalam beberapa versi terjemahan.

a.     Terjemahan Baru (1974) : Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka (= si jahat) tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.
b.     Terjemahan Lama (1954) : Setelah ditolakkan-Nya segala penguasa dan kuasa, lalu Ia menunjukkan nyata-nyata, serta menewaskan sekaliannya dengan salib-Nya itu. Artinya dalam terjemahan lama, digunakan frase ‘penguasa itu telah ditewaskan dengan salibNya’.
c.     BIS (1985) : Pada salib itu Kristus membuat segala roh-roh yang memerintah dan berkuasa menjadi tidak berdaya lagi. Mereka dijadikan tontonan umum pada waktu Kristus menggiring mereka sebagai tawanan dalam pawai kemenangan-Nya. Kuasa itu sudah tidak berdaya yang dibuktikan penguasa diarak sebagai  tawanan perang yang tidak berdaya.
d.    Shellabear (2000) Pada salib itu, Al Masih (=Tuhan Yesus Kristus) membuat segala roh yang berkuasa dan memerintah menjadi tidak berdaya dan secara terang-terangan mempermalukan mereka dalam kemenangan-Nya.  Penguasa (si jahat) itu dipermalukan dalam sebuah tontonan yang dapat disaksikan oleh orang-orang percaya sehingga benarlah dengan apa yang dikatakan sebagai Ia melucuti penguasa-penguasa itu.

              Dari cuplikan film “The Passion of The Christ” (2014) kita melihat  adegan di mana Yesus disalibkan dan iblis melihat kemuliaan Allah. Mel Gibson (1956) selaku produser dan sutradara film ini mencoba mengangkat momen saat iblis dikalahkan (dilucuti) menjadi tontonan yang mempermalukannya. Waktu Kristus disalib, iblis digambarkan (divisualisasikan) sedang berteriak karena tidak mampu melawan kuasa Allah.

Sudut Pandang Manusia yang Berbeda dengan Kitab Suci

              Apakah benar faktanya seperti di atas? Seringkali kita berfikir dari sudut yang berbeda dari Kitab Suci. Kita menyaksikan (melihatnya) dan mencoba merasakan dan menterjemahkan keseharian kita dalam hidup rohani kita. Walau sudah lama menjadi Kristen, dan memiliki iman yang kuat namun sewaktu menghadapi tantangan, pergumulan dan merasa dikalahkan, maka pikiran kita menjadi berbeda dengan Kitab Suci dan kita mencoba menafsirkan Allah berbeda dengan kebenaran Kitab Suci.
Pada tanggal 29 Maret 2011, ada sebuah berita yang cukup menghebohkan di kalangan umat Kristen. Natalia Amanda Setiawan (16), siswi kelas 2 SMA IPEKA Kristen Internasional ditemukan tergeletak bersimbah darah di pinggir Jl Batu Mulia, Kembangan, Jakarta Barat . Natalia tewas dengan luka tusuk di bagian lambung. Rupanya ada seorang pelaku kriminal yang mencoba merampas telepon seluler, perhiasan dan tas miliknya dan siswi tersebut mencoba mempertahankannya. Penjahat tersebut menjadi marah sehingga ia menusuk Amanda hingga meninggal. Jasad Amanda ditemukan oleh salah seorang sopir jemputan sekolahnya. Sang sopir sengaja mencari Amanda karena pulang terlambat dan tidak naik mobil jemputan. Kedua orang tuanya mungkin bertanya-tanya, “Saya telah menjadi orang Kristen yang baik, tidak neko-neko, menjaga kesucian hidup dan jujur tetapi mengapa hal ini dialami?” Pada waktu kita mencoba lurus dalam hidup dan bisnis, tetapi mengapa dagangan dan usaha kita  menjadi porak-poranda dan bangkrut? Yang dipikirkan di benak kita apakah sama dengan Kitab Suci bahwa Ia telah melucuti dan mengalahkan penguasa (iblis) itu? Atau malah kita berpikir sebaliknya. Dalam perjalanan kekristenan dan hidup orang percaya, kita cenderung membangun pikiran kita melalui pengalaman-pengalaman yang dialami atau fenomena-fenomena (hal-hal yang ditangkap kelima indera) lalu membuat kesimpulan atau seringkali menemukan tanda tanya besar dalam hidup kita. Hal ini juga didukung oleh keberadaan film-film yang diputar di gedung-gedung bioskop.

              Saya termasuk orang yang sangat suka menonton film-film di bioskop. Hal ini tidak mengherankan karena sebelah rumah saya adalah bioskop. Saya sering menonton di sana. Setiap film baru saya mau nonton. Terkadang bila saya tidak memiliki tiket bioskop , saya coba menebeng dengan sebuah keluarga yang mau menonton dengan berpura-pura menjadi anaknya (masuk bersama keluarga itu). Hal ini saya lakukan hingga dikenali oleh pemeriksa tiketnya. Akhirnya saya tidak diperbolehkan masuk. Pernah juga saya meloncat dari tembok belakang gedung bioskop yang tinggi, namun ketahuan petugas bioskop sehingga saya dihukum. Seiring dengan pertambahan usia , teknologi berkembang. Saat itu beredar film-film video dalam format BETA dan kemudian saya menjadi tukang menyewakan video-video tersebut dari rumah ke rumah dengan bayaran Rp 1.000/keping. Dalam rangka mempromosikan video yang disewakan (yang penting disewa), saya menonton terlebih dahulu filmnya sehingga saya bisa bercerita tentangnya. Bila saya berhasil menyewakannya sebanyak 30 keping, maka papa selaku pemilik video tersebut memberikan saya komisi. Jadi sejak kecil saya berusaha tahu tentang film. Kemudian saya mengenal seorang anak Tuhan yang memiliki hubungan dengan jaringan bioskop XXI, setiap tahunnya saya diberikan setumpuk karcis bioskop sehingga saya bisa dengan puas menonton dan juga mengajak serta 12 anak Sekolah Minggu. Pada masa lalu, umumnya film-film yang diproduksi oleh Hollywood mengangkat cerita dengan pesan bahwa pada akhirnya yang menang adalah pihak yang baik dan yang jahat berhasil dikalahkan. Dalam film-film cowboy , jagoannya pasti menang, yang jahat akhirnya mati. Demikian pula dengan film-film yang dibintangi oleh Alexander Fu Sheng (aktor Hong Kong, 1954 –1983) yang menang adalah jagoannya dan yang kalah penjahatnya. Itu membawa pola pikir untuk menyimpulkan bahwa yang baik pasti menang. Namun dalam berjalan waktu, akhir cerita sebuah film memberi kesimpulan bahwa yang menang itu tidak selalu pihak yang baik. Saat menonton film sekarang terkadang kita bingung yang menang siapa karena akhir filmnya menggantung (penjahatnya masih ada dan berkeliaran walau pun jagoannya belum meninggal, jadi siapa yang menang)? Timbul tanda tanya besar untuk pernyataann bahwa jangan berpikir yang baik (jagoannya) itu selalu menang. Terkadang ada semacam win-win solution (jagoan dan penjahatnya dipelihara. Kita jadi diajak berpikir bahwa tidak selalu yang menang itu adalah pihak yang baik (golongan putih).

              Begitu masuk ke era sekarang, malah kita dipertontonkan bahwa pihak yang jahat bisa menang  dan lebih berkuasa dari pihak yang baik. Seperti itu yang dihadapi dalam kehidupan kita. Bahwa yang jahat bisa menang, berkuasa dan tidak dikalahkan oleh pihak yang baik. Saat pikiran kita dikendalikan (diarahkan) oleh film-film dan dihadapi dengan kenyataan hidup, kita dihadapi dengan kedaulatan Allah (Allah yang sungguh-sungguh punya kendali atas alam semesta). Kita bertanya-tanya, sewaktu pilkada kedua DKI tahun lalu (19 April 2017), banyak orang Kristen menangis saat mengetahui hasilnya. Terlebih lagi saat mantan gubernur DKI Jakarta (A Hok) tersebut kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Cipinang dan kemudian dipindahkan ke penjara di Mako Brimob banyak yang menangis karena mengalami episode ‘kekalahan’. Waktu kita melihat bagaimana jalan ceritanya dan nasib yang dialami Sang Mantan Gubernur, banyak yang sedih dan menangis. Sampai hari ini kita dikatakan sebagai orang yang tidak move-on. Kita merasa tidak boleh seperti ini hasilnya. Ini yang membawa kita tabrakan dengan firman Allah. Kita dicekoki oleh si jahat dengan apa yang dilihat, ditonton dan didengar tentang hidup ini. Itu sebabnya apa yang dibaca di Kitab Suci dianggap sebagai cerita saja.

              Saat menonton salah satu program Indonesia Lawyers Club (ILC) di tvOne yang dibawakan oleh  Karni Ilyas sebagai host-nya, ada yang mengatakan bahwa Kitab Suci adalah fiksi yakni  cerita karangan seseorang yang tidak ada dasarnya. Dia percaya dengan apa yang dikatakan Kitab Suci tidak nyata. Hal itulah yang sering kita jumpai. Sehingga seolah-olah kesimpulannya setan sepertinya menang. Inilah yang dibangun dalam iman kita oleh dunia ini. Dunia ingin mengacaukan kita dalam melihat dan mempercayai Allah. Waktu kita terhisap dengan pikiran tersebut, maka kita menjadi khawatir , curiga, bingung dan tidak punya kepastian. Ada dalam rumah tangga orang Kristen di mana istrinya baik tetapi suaminya tidak atau sebaliknya. Mengapa Tuhan tidak menolongnya? Ada juga orang-tuanya saleh dan melayani, namun anaknya terkena narkoba. Hal ini pernah dialami oleh salah sebuah keluarga di GKK yang orang tuanya saleh, namun anaknya terkena narkoba dan waktu dibawa ke panti rehabilitasi, karena tidak bisa menahan ketagihannya anaknya meminta sabu-sabu dan heroine. Orang tuanya tidak tahan melihatnya dan kemudian menangis. Mereka akhirnya berpikir dan meragukan apakah Tuhan bisa menolong.

              Rasul Paulus menulis sebuah nas Alkitab yang baik sekali pada Kolose 2:15 Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka. Istilah yang dipakai untuk menyatakan kemenangan Allah terhadap setan adalah ‘melucuti’. Istilah ini baik sekali, karena saat itu Rasul Paulus hidup dalam nuansa penjajahan Romawi. Rasul Paulus sangat menguasai Perjanjian Lama sehingga ia paham dengan penggunaan kata itu. Pola yang dipakai dalam Perjanjian Lama adalah pola perang dimana Raja Saul, Raja Daud, dan anak-anak Raja Daud turun ke medan perang. Bahkan jauh sebelumnya, Nabi Musa membawa orang-orang Israel ke luar Mesir untuk menuju Tanah Perjanjian lalu setelah Nabi Musa meninggal dilanjutkan oleh Yosua yang memimpin peperangan bangsa Israel. Perang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Yahudi pada zaman itu. Waktu perang terjadi , orang-orang Israel di Perjanjian Lama selalu memberi pemahanam yang baik tentang ‘menang perang’. Bila tentara yang maju berperang menang, maka musuh yang kalah dibawa masuk lalu diarak-arak, supaya rakyat tahu bahwa musuh telah kalah dan kita menang. Hal itu pola untuk menggambarkan bahwa negara kita adalah negara yang hebat – kuat dan Tuhan kita adalah Allah yang hidup (ini tujuan utamanya). Waktu rakyat melihat Allah sangat berkuasa atas pasukan Israel, maka seluruh rakyat Israel mengatakan bahwa Allah sungguh luar biasa. Setelah diarak-arak, pada akhirnya kepala musuh dipenggal untuk menggambarkan musuh itu tidak lagi berkuasa dan menang terhadap Israel. Jadi orang Israel tidak perlu kuatir terhadap musuh dan penjajah karena sudah menang. Waktu musuh diarak, seluruh rakyat Israel ada di sebelah kiri kanan jalan. Bila rumahnya ada balkon, mereka menyaksikan dan mungkin menimpuki para musuh yang ditawan dengan gembira bahwa musuh ini telah masuk dalam benteng dan sudah dikalahkan oleh Raja Daud dan pasukannya. Para musuh tersebut terntunduk malu dan tidak berani mengangkat kepala karena di ujung arakan kepala mereka akan dipenggal dan mereka tidak berdaya (tidak punya kekuatan lagi). Ini peristiwa yang menggambarkan bahwa mereka dilucuti. Rasul Paulus memahami pola dalam Perjanjian Lama ini  dan ia menyaksikan kerajaan Romawi. Waktu Yesus jalan salib (via dolorosa) orang banyak berusaha mengejek, menyambit dan melakukan segala macam. Seperti itulah orang-orang yang dikalahkan dalam perang  yang  kesannya menunjukkan tidak ada lagi kemampuan dari lawan. Rasul Paulus ingin mengatakan bahwa secara rohani, iblis yang memisahkan kita dengan Allah sudah dikalahkan Tuhan. Di Taman Eden, saat Allah bersama Adam-Hawa, relasinya sangat indah. Kedua manusia pertama ini menikmati persekutuan yang indah dengan Allah sebelum mereka jatuh dalam dosa. Ini diceritakan di Kitab Kejadian. Persekutan yang indah ini akan kita nikmati pada waktu nanti kita bersama Tuhan. Namun waktu menikmati persekutuan itulah, masuk dosa dan memisahkan manusia dari Allah.

Allah Pedulli Dengan Manusia Berdosa

Apa itu dosa? Dosa bukanlah sekedar peristiwa seperti mencuri atau berbuat zina atau menipu. Perbuatan itu memang salah dan merupakan dosa. Namun arti sesungguhnya dosa adalah satu keadaan di mana ada keterpisahan antara manusia dengan Allah dimana manusia tidak lagi taat kepada Allah. Allah menyuruh manusia melakukan sesuatu tetapi manusia tidak mau. Dosa membuat Adam dan Hawa terpisah dari Allah. Mereka tidak mau lagi menuruti Allah dan menjadikan Allah sebagai pemimpin mereka dan itulah perkara yang paling mengerikan dalam hidup mereka. Kalau kita tidak ditolong oleh Tuhan, maka hidup kita menjadi jahat, meskipun secara undang-undang kita tidak melanggar. Tetapi apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita tidak selalu mau diarahkan kepada Tuhan. Itulah kondisi orang berdosa. Kondisi seperti inilah yang  dikatakan Rasul Paulus dalam Kolose 2:13-14  Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Dia memberikan pengampunan dengan menghapuskan surat hutang. Ini istilah hukum dan perdagangan.
Saya sebelum menempuh pendidikan teologia, pernah mengambil kuliah bidang hukum dan menekuni dunia hukum. Kalau seseorang punya utang maka utang itu akan terus muncul (tidak selesai) sebelum dibayar lunas. Bila kita punya utang sebesar Rp 1 miliar dan baru dibayar Rp 500 juta hal itu berarti utang kita belum lunas. Kalau kita tidak punya kemampuan untuk membayarnya lagi  berarti kita dinyatakan pailit, lalu untuk menghindari debt collector ada yang lari dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Itulah orang-orang  yang dicari-cari. Hal ini terjadi pada orang memakai Kartu Kredit seenaknya tapi tidak mau membayar. Maka ia pun dicari-cari penagih utang sehingga karena merasa tidak mampu membayar lalu pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan ketakutan. Kondisi inilah yang ada di dalam diri manusia berdosa. Allah sangat peduli dengan hal ini. Ini yang Allah kerjakan dalam hidup manusia. Ini yang terutama yang tidak bisa dilakukan manusia. Maka Rasul Paulus mengatakan di dalam Kitab Kolose bahwa “dahulu kamu sudah mati tapi Allah memberi pengampunan dengan menghapuskan surat utang.” Itu sebabnya sekarang si jahat sudah dikalahkan oleh Tuhan. Allah sangat peduli dengan dosa manusia. Allah punya kemampuan untuk alam sejati dan sejarah. Dalam sejarah yang ditetapkan, Ia masuk ke orang-orang percaya, pribadi demi pribadi agar kita mengalami kebebasan secara rohani. Kita tidak akan merasa takut atau curiga dengan Allah seperti Adam dan Hawa yang was-was dengan Allah. Waktu Allah berjalan di Taman Eden , mereka takut karena mereka sudah melanggar perintah Allah. Maka mereka takut, kuatir dan timbul kecurigaan dalam diri manusia. Itu suatu permasalahan serius.

              Dalam dunia psikologi orang bisa gila bukan karena sekedar alasan yang terlihat secara fisik (seperti bangkrut), tetapi karena ada rasa tertekan di dalam jiwa dan tidak tertolong sehingga merasa kuatir. Saya pernah melihat di RSCM dosen saya meng-konseling seorang pasien yang bergelar S2 yang mendapat bea siswa dari pemerintah Czecho-Slovakia. Ia mengambil jurusan kimia yang meracik berbagai bahan kimia dan mengaduknya sehingga menjadi obat. Di negara Ceko ia merasa tertekan sehingga membayangkan adiknya ingin membunuhnya , padahal adiknya berada di Jakarta. Hal ini disebabkan jiwanya secara psikis tidak lepas. Ia takut , merasa terus takut dan akhirnya jadi gila. Cara berjalannya seperti robot. Kalau Allah tidak membereskan dosa yang menjadi biang utama dan akar permasalahan manusia, maka hidup kita akan menjadi sulit. Maka Ia ingin menyelesaikannya bagi kita.

              Sebagai penjudi , suka main perempuan atau penipu harus diangkat permasalahan dosanya oleh Tuhan. Itu sebabnya Allah sangat peduli. Sehingga apa yang dikatakan Rasul Paulus bahwa “Ia sudah melucuti pemerintah-pemerintah” itu adalah sebuah fakta yang sangat jelas. Secara spiritual (rohani)  Allah sudah memerdekakan kita. Maka Rasul Paulus menuliskan tentang kebangkitan pada 1 Korintus 15:55, “Hai maut di mana sengatmu?” Binatang kalajengking punya kekuatan di ekor. Jadi jangan sampai disengat. Istilah yang digunakan Rasul Paulus , ibarat kalajengking menyengat tapi tidak ada lagi racunnya. Di film Salt (2010) yang dibintangi oleh Angelina Jolie ada adegan di mana Jolie mencoba menyedot racun laba-laba dan ditembakkan ke orang Rusia yang kemudian mati suri. Yang diambil sengatnya karena itulah kekuatan. Kalau kekuatan tidak ada lagi, maka tidak berbahaya lagi. Itu sebabnya yang menjadi inti masalah di Kitab Kolose 2 adalah bahwa kamu sekarang sudah menerima Yesus Kristus sehingga hendaknya kamu berakar-bertumbuh dan teguh dalam iman. Jangan mau diombang-ambingkan dengan pikiran, perasaan dan perkataan orang lain.
             
 Penutup

Dunia ini berusaha membawa kita berprasangka buruk dan mencurigai Tuhan. Maka bisa jadi perasaan menipu kita. Orang lain tidak mengenal kita, hanya kita sendiri yang paling tahu dan mengenal diri kita sendiri. Kalau kita ditipu, maka kita akan susah sekali. Karena ia main dalam area perasaan. Perasaan itu ada dalam diri kita. Kalau perasaan itu terus ditekan, maka kita bisa menjadi orang yang akhirnya tidak mau mencari Allah.  Padahal setan bukanlah pemenang. Melalui tema hari ini, kita dibawa dalam pola pikir yang sama dengan Kitab Suci. Kita diberikan kuasa dan kemampuan sebagai anak Allah yang membawa kita bisa keluar sebagai pemenang, sebagai orang yang bisa menghadapi apapun yang sedang dihadapi hari ini, entah pergumulan sesulit apa pun. Karena Dialah Allah yang berdaulat. Kiranya Tuhan menolong kita sekali lagi untuk menjadi orang Kristen yang mempunyai kekuatan adi (super) sehingga kita tidak menjadi orang Kristen yang biasa, tetapi punya pengharapan ,keberanian dan kekuatan untuk melihat Allah dalam hidup kita.
             


Monday, April 9, 2018

Masalah Boleh Muncul Tapi Pemeliharaan Allah Selalu Ada





Ev. Rony Sofian

Matius 6:25-34 Hal Kekuatiran
25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
26  Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
27  Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
28  Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
29  namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
30  Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
31  Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
32  Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.
33  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
34  Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Pendahuluan

              Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang kehidupan. Ada sebuah pandangan (peribahasa) yang cukup dikenal “Hidup ini ibarat roda pedati. Kadang ia ada di bawah, terkadang berada di atas.” Sebagian besar mengartikan pandangan ini secara harfiah bahwa "bila sedang mengalami kesusahan mereka berfikir sedang berada di bawah, adapun bila mereka mendapatkan keberhasilan mereka cenderung berfikir "saya sedang berada di atas”. Tetapi kenyataannya tidak selalu seperti itu. Ada orang yang hidupnya selalu di bawah alias  tidak pernah berada di atas. Bertahun-tahun ia menjalani hidup yang rasanya seperti di bawah terus dengan beban menindih. Ada juga yang hidupnya di atas terus. Jadi belum tentu hidup seperti roda pedati.
              Ada juga yang mengatakan bahwa hidup itu ibarat sebuah garis lurus (linear), ada awal dan akhirnya. Dalam menjalaninya, ada faset (bagian) yang tidak akan terulang. Hidup dan usia memang tidak terulang lagi. Pada Mazmur 90:10 dikatakan Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. Bila usianya melebihi 80 tahun maka selebihnya adalah penderitaan. Saya sudah menjalani umur kehidupan saya lebih dari separuh, ada juga yang baru memulainya atau yang tinggal mencapai garis akhir, tetapi kehidupan tetap merupakan misteri. Yang usianya lebih lebih muda belum tentu lebih menikmati masa hidup yang lebih panjang dari yang usianya lebih tua karena Tuhan bisa saja memberi umur yang panjang bagi yang  lebih tua itu. Hidup ini sesungguhnya misteri. Dalam menjalaninya kita harus mengakui walaupun kita anak Tuhan dan telah mengikuti Yesus dan menjadikan Dia sebagai tempat kita bergantung, hidup tidak selalu baik dan lancar saja. Mengikut Tuhan Yesus tidak selalu sejahtera tetapi menghadapi masalah. Itu adalah separuh kebenaran. Hidup ini ada pergumulan, kita akan melalui proses pembentukan sehingga setiap hari semakin serupa dengan Tuhan Yesus.
              Kedua, ,kita tidak tahu apa yang terjadi di depan. Misal : sepatu yang kita pakai , tidak tahu apakah kita akan memakainya lagi besok. Kalau ditanya, apakah lebih enak kalau tahu kapan kita meninggal, kebanyakan menjawab “tidak enak” padahal bukankah kita bisa melakukan persiapan bila tahu? Tapi saya memilih tidak tahu. Misalnya usianya tinggal 4 tahun lagi, maka dalam usia yang tersisa akan menjadi banyak pergumulan dan semakin mendekati akhir akan semakin stress. Ada banyak pergumulan dan tekanan dalam hidup kita.

Kekuatiran Hidup

              Sejauh manusia hidup pasti ada masalah dan kekuatiran adalah sepupunya. Satu-satunya tempat tidak ada masalah adalah TPU (tempat pemakaman umum). Kalau sudah di dalam kuburan manusia tidak lagi menghadapi pergumulan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan sehingga hal ini membuat kita khawatir. Kekuatiran didefisinikan perasaan tertekan karena gelisah dan takut akan sesuatu hal yang mungkin saja terjadi namun belum tentu terjadi. Kita kuatir karena terlalu memikirkannya, sekalipun belum tentu terjadi. Beberapa waktu lalu, datang seorang a-yi ke saya. Dia bertanya,”Kalau Pak Rony berangkat dengan keluarga besar, apakah Pak Rony pergi dengan satu pesawat?” Dia khawatir kalau pesawatnya mengalami kecelakaan maka semua anggota keluarga akan meninggal secara bersamaan). Padahal kekuatiran ini belum terjadi dan itu menakutkannya. Walau belum terjadi tapi karena perkataan seperti itu terkadang membuat kita jadi ikut kuatir dan merasa takut. Namun sebagai orang percaya, kita percaya bahwa Tuhan yang menopang dan memelihara. Bukankah kita seharusnya menyadari hal ini?

Kekuatiran hidup membuat kita terjaring dan terkukung (terpenjara) sedangkan hidup dalam Kristus memerdekakan. Hidup dalam kekuatiran membuat takut dan gelisah. Hidup yang benar adalah jangan kamu terlalu khawatir. Hidup menghadapi semakin banyak halangan dan kesulitan. Misal : dengan peraturan pemerintah berubah maka  impor barang menjadi susah, bagaimana kita tidak menjadi kuatir. Namun kebenaran firman Tuhan berkata, “Jangan kamu kuatir!”

Kita tidak perlu kuatir. Mengapa?

1.     Ada sesuatu yang lebih penting dari segala hal yang kita kuatirkan dalam hidup ini yaitu hidup itu sendiri.

Kalau kita diberikan hidup, itu jauh lebih berharga dari semuanya. Matius 6:25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
Seringkali kita lupa bersyukur untuk hidup kita. Apakah ada yang saat bangun tidur lalu berdoa untuk mengucapkan syukur atas tarikan nafas setiap hari? Padahal kalau kita masuk ke rumah sakit barulah tersadar bahwa oksigen itu relatif mahal harganya. Kita baru saja memperingati Jumat Agung dan merayakan Paskah. KematianNya membuat kita hidup hari ini dan nantinya. Hidup itu lebih penting dari segala sesuatu, itulah anugerah yang besar. Keselamatan yang tidak bisa kita peroleh dengan usaha sendiri tetapi melalui pengorbanan di kayu salib. Sewaktu kita percaya Yesus sebagai Allah, kita menerima janji Allah yang diwariskan kepada kita. Sebagai Allah, Dia berjanji untuk menyertai kita, tapi semuanya itu terjadi hanya karena kita tinggal di dalam Dia. Yoh 15: 4  Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Pada ayat 5 bagian terakhir ditekankan sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Relasi kita dengan Tuhan sebagai orang yang sudah menerima anugerah dari Allah , itu jauh lebih penting dari segala hal dalam hidup ini. Kalau Dia sudah memberikan hidup yang kekal untuk kita, bagaimana kita menjalani hidup kita? Apakah kita mengasihi dan mengutamakan Dia? Jangan kuatir akan hidupmu karena banyak hal yang lebih penting!

2.     Kekuatiran adalah sia-sia.

Matius 6:27  Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Kalimat ini adalah kalimat retorik ini yang jawabannya tidak. Kalau kuatir bisa membuat hidup ini jauh lebih panjang, saya juga mau. Bahkan kalau kuatir saja bisa membuat kita terbebas dari masalah, siapa yang tidak mau?  Mengkhawatirkan banyak hal tidak membuat kita jauh lebih sehat dan masalah kita selesai, bahkan menambahkan beban yang belum tentu terjadi dan membuat kita semakin berat dalam menjalani hidup ini. Yesus memberikan contoh burung-burung yang terbang tetapi dipelihara Allah dan bunga bakung yang didandani Allah. Di alam ada rumput-rumput liar dan seringkali kita takjub dengan begitu indah bagian-bagiannya tapi usianya tidak panjang. Dia tidak bekerja dan mengerjakan banyak hal tetapi Tuhan pelihara dan dandani. Daripada khawatir dalam hidup ini lebih baik kita mengambil sikap jangan hidup dengan menanggung kekuatiran yang tidak harus kita tanggung karena belum tentu terjadi, tetapi menarilah seperti bunga di padang yang bebas bergoyang ditiup angina karena Allah penciptaMu memelihara engkau.

Hidup kita jauh lebih berharga dari burung-burung di udara dan bunga di ladang.  Waktu Allah menciptakan kita , Dia berkata,”Sungguh amat baik”. Barang-barang yang limited edition lebih berharga dan mahal daripada barang-barang mass product. Seandainya ada produk tas Hermes yang salah satunya dimiliki kita, maka kita akan menjaganya. Lebih baik beli tiket pesawat satu lagi daripada ta situ ditaruh di bawah. Kita bukan limited edition, tetapi satu-satunya. Setiap kita unik di mata Tuhan. Ia mengasihi dan menciptakan   kita berharga. Orang tua tanpa sadar sering membandingkan anak. Kalau kamu baik dan rajin kamu anak mama, kalau bandel kamu anak papa. Kita menghargai orang yang lebih pintar, penampilan lebih baik dan lebih sukses dalam hidupnya. Sedang yang ‘kurang’ akan kurang dihargai. Manusia bisa begitu tetapi Allah mengasihi kita dengan luar biasa. Dia mati dan menebus saya. Kalau Dia berikan yang terbaik dengan mati untuk menebus kita, apalagi yang harus kita khawatirkan dalam hidup kita? Apa yang kita bisa berikan yang paling berharga bagi Tuhan kecuali hidup kita? Masalahnya : apa yang kita pandang baik bisa berbeda dengan apa yang Tuhan pandang baik. Selain baik Allah berkuasa, lalu untuk apa kita khawatir? Karena kekuatiran itu menjadi sia-sia.

3.     Allah memelihara ciptaanNya terutama kita anak-anakNya.

Matius 6:30-31 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Kalau burung di langit dipelihara, apalagi kita. Karena dia Allah yang memelihara hidup kita. Masalahnya : Kita suka punya pandangan yang keliru tentang Allah. Kalau Allah memelihara tidak berarti kita bebas dari masalah. Kalau Allah memelihara hidup kita, kita bisa menyelesaikan masalah kita dengan cara paling mudah. Kalau Allah memelihara kita berarti Dia menuntun kita di jalan yang tidak pernah keliru sekali pun mungkin Dia melewati masalah demi masalah dalam hidup kita. Kalau Allah memelihara , maka Dia berjalan dan menuntun kita. Kalau pun kita harus berjalan di padang gurun sekalipun, Tuhan bisa mengubah menjadi padang rumput yang berair tenang. Itu janji Tuhan dan itu iman. Masalahnya : apakah kita memilih kuatir dan berlari ke sesuatu yang lain yang bukan Allah atau kita datang dan berserah kepada Tuhan? Percaya kepada Tuhan tidak hanya mengakui bahwa Dia baik dan berkuasa dalam hidup kita. Tetapi kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan karena kita tahu Dia berkuasa untuk memelihara hidup kita. Saat kita menaruh kekuatiran kita di tangan Allah,  Dia menaruh kedamaian-Nya  di hati kita.
18 tahun lalu ketika saya menuju Malang untuk sekolah teologi, saya berangkat dari Kosambi Baru. Sebelum pergi, ada teman-teman  yang mengajak saya ke Ancol. Saya belum pernah pergi ke sana sehingga saya dibawa dan dibayarin ke Ancol  lalu pergi bermain ke Dufan. Mereka berkata, “Pokoknya Dufan itu menyenangkan dan banyak permainan menarik di dalamnya” Saya tertarik dan percaya kepada mereka. Menjelang masuk ke Dufan, ada seorang teman berkata, “Kalau mau menarik, maka mulailah dari permainan Kora-Kora (seperti Bahtara Nuh). Dan menjelang naik, mereka berkata,”Kalau mau menikmati sensasi main Kora-Kora maka duduklah di paling ujung. Karena saya percaya kepada mereka, maka saya bersedia duduk di belakang dengan diapit mereka. Sambil menunggu sampai tempat terisi penuh, mereka tersenyum sehingga membuat saya tenang dan tersenyum. Saya menunggu permainan dimulai. Saat dimulai, bagian penyangganya naik, saya berpegangan. Mereka melihat saya dan tersenyum-senyum, saya juga tersenyum. Saya pikir ini permainan aman dan permainan dimulai. Makin ditarik makin tinggi dan sampai ketinggian tertentu dilepas. Saat dilepas, saya tahu bahwa saya tidak suka permainan ini. Waktu dilepas, sepertinya jantung saya tinggal di atas. Saya berteriak, “Berhenti! Saya tidak mau.” Makin saya berteriak, makin mereka tertawa.  Saya begitu pucat. Dari kecil hidup saya keras dan tidak pernah menangis. Tetapi di atas Kora-Kora itu saya menangis. Sekian lama berayun, setiap kali turun ,jantung saya terasa tertinggal di atas. Akhirnya waktu mau berhenti saya berkata “Puji Tuhan!” tetapi ternyata diputar lagi sampai akhirnya berhenti. Waktu berhenti, saya ucapkan terima kasih ke Tuhan , penderitaan saya selesai dan waktu turun saya muntah. Semua isi perut saya keluar. Sejak itu semua permainan di sana tidak menarik bagi saya. Jadi saya hanya membawakan tas mereka dan hanya main istana boneka karena itu aman. Saya tidak berani naik permainan lain seperti Halilintar. Saya tidak akan mimpi mencoba. Bagi yang lain, Ancol seperti tidak ada apa-apanya karena lebih seru di Disney Land Hong Kong. Saya tidak berani.
Berbeda sekali dengan anak kecil yang tinggal di pinggir Jakarta. Dia berkata ke papanya,”Papa, saya ingin ke Jakarta. Saya tidak mau diajak ke mal tetapi saya hanya ingin masuk Ancol dan tidak usah main semua tetapi hanya satu saja yang putar-putar itu (Halilintar).” Karena setiap kali melihat iklan di TV tentang Ancol, dia senang. Ia merengek minta ke papanya untuk ke Ancol. Papanya berjanji,”Kalau semester ini prestasi baik, papa ajak ke Ancol.” Dia belajar sungguh dan ujiannya baik. Papanya tepati janji dan membawanya ke Ancol. Permainan pertama yang dituju adalah Halilintar. Mereka menunggu antrian. Sambil menunggu giliran, anak ini melihat orang yang bermain lalu ia mengajak papanya pulang. Papanya heran dan bertanya alasannya. Dia berkata, “Tidak seindah seperti di TV. Di TV yang main tertawa-tawa tetapi itu ada menangis dan muntah-muntah.” Papanya berkata,”Tenang saja, sebentar lagi giliran kita. Itu tidak ada yang jatuh” Tetapi karena masih kecil, dia tetap ketakutan. Dia menarik papanya untuk pulang. Papanya berkata,”Nak, tenang saja. Kalau nanti kita di kereta dan kamu takut, tutup matamu. Saat kereta berputar kamu masih takut, kamu berteriak ‘Papa’ dan papa akan menjawab ‘Anakku’” Hal itu terjadi, anaknya berteriak dan memanggil papanya. Lalu papanya membalas. Perlahan-lahan sang anak bisa menikmati permainan itu sampai akhirnya berhenti. Saat turun, anak itu malah mengajak papanya bermain lagi.
Hidup kita seperti saat main Halilitar. Bertahun-tahun hidup dan usaha berjalan lancar dan tiba-tiba kita terjun bebas. Kita kesulitan membiayai anak-anak studi dan kebingungan sakit-menyakit menerpa mereka sementara asuransi tidak bisa menutupi biayanya. Bisnis yang tadinya lancar tiba-tiba entah mengapa customer pegi satu persatu. Kita merasa terjun bebas dan membuat kita ketakutan. Tetapi ingatlah Tuhan berkata,”Anakku, Aku di sini.” Kita berteriak,”Saya tidak sanggup” tetapi Allah berkata,”Aku di sini bersamamu!” Hidup ini bisa berputar tetapi Allah berjanji untuk selalu memelihara, menjaga dan menyertai kita. Kalau itu terjadi, kenapa harus khawatir dan menyerah dan berkata kepada Tuhan,”Tuhan aku berhenti , aku tidak sanggup ikut Tuhan. Kenapa hidup ini begitu berat dan aku tidak sanggup menjalaninya.” Tetapi ingatlah yang terbaik yang sudah diberikan untuk kita (hidup yang kekal). Dia Allah yang baik dan berkuata. Tetapi Dia juga Allah yang Mata Tahu, dia tahu pergumulan dan kebutuhan hidup kita. Suatu kali seorang jemaat berkata,”Pak Roni, orang pikir saya baik-baik saja. Padahal sebenarnya saya tinggal menghitung hari kebangkrutan saya. Kalau orang lain mendengar saya bangkrut, mereka tidak percaya. Mereka melihat hidup saya yang sukses padahal hidup saya penuh pergumulan. Bahkan untuk memberi makan anak saya besok, tidak tahu apa saya masih sanggup atau tidak.” Setiap pergumulan kita pasti berat tapi jangan lupa kita punya Tuhan yang tahu apa yang kita butuhkan dalam hidup ini.

4.     Allah tahu yang kita perlukan

Matius 6:32-33 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Kalimat ini adalah  bagian dari khotbah Tuhan Yesus di bukit yang begitu terkenal. Khotbah ini bicara tentang satu bagian yang penting bahwa Yesus dalam dunia tidak untuk membuat fans club dan mencari pengikut. Alkitab mengatakan kemanapun Dia pergi, orang banyak berbodong-onong. Tetapi Yesus tidak puas dengan orang banyak yang berbondong-bondong karena bukan itu yang menjadi tujuanNya datang ke dunia. Bila kita bergabung dengan sebuah fans club, maka kita akan bergaya, bertingkah , cara berpakaian – dan potongan rambutnya mengikuti idola kita. Namun suatu kali pamor sang idola turun, maka klubnya juga bubar. Yesus tidak mau menjadi seperti itu. Dia datang ke dalam dunia mencari murid-murid yang berkomitmen penuh untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai kerajaan Allah.
Pada kitab Matius pasal 5-7 Yesus berbicara tentang nilai-nilai hidup seorang anggota kerajaan Allah. Kita menjadi bagian dari kerajaan itu sewaktu kita percaya kepada Tuhan Yesus sehingga sikap dan cara hidup kita harus berbeda dengan dunia. Nilai-nilai hidup kita harus berbeda dengan dunia. Dalam 3 pasal itu, Yesus sedang membalik nilai-nilai dunia. Contoh : Ia berkata, “Barang siapa menampar pipi kananmu berikan kepadanya pipi kirimu”. Kalau kita pernah ditampar pipi kanan atau kiri umumnya kita membalas. Tetapi Tuhan mengajarkan prinsip pengampunan. Kita harus mengampuni seberapa kali pun kita disakiti. Dunia mengajar kepada kita, kalau kamu baik kepada kita,maka kita akan baik kepadamu. Demikian juga bila kita diperlakukan jahat. Tanpa sadar itu menjadi nilai hidup kita dan Yesus membaliknya. Di sini Dia katakan, “Kalau engkau ingin mendapatkan semua itu maka carilah dahulu Kerajaan Allah.” Hiduplah berdasarkan nilai-nilai yang Tuhan Yesus ajarkan dalam 3 pasal ini. Setidaknya ada 7 sikap radikal yang harus kita punya dalam hidup ini. Hiduplah sesuai dengan apa yang Yesus ajarkan dan di sanalah kita akan menikmati segalanya. Jadi bukan hanya belajar. Dikatakan “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya”. Kebenaran tidak hanya bicara pengetahuan. Kebenaran  Firman Tuhan yang dipelajari di gereja tidak akan mengubah hidup kita kecuali dilakukan dengan taat dan setia dalam hidup kita. Entah berapa lama kita telah menjadi orang Kristen dan membaca Alkitab dari Kejadian-Wahyu dan menghafal banyak ayat Alkitab, tetapi kalau kita tidak melakukannya maka kita tidak akan berubah. “Carilah dulu kerajaan Allah dan kebenarannya” artinya belajarlah kebenaran itu, hidupi dan lakukan dalam hidup kita. Sebagai orang Kristen, terkadang kita tahu banyak tentang Allah, pertanyaannya apakah kita melakukan kebenaran itu dalam hidup kita.
Tokoh India, Mahatma Gandhi bisa jadi membaca apa yang Yesus ajarkan pada khotbah di bukit itu jauh lebih banyak dari kita, kemana pun ia pergi ia membawa penggalan dari 3 pasal itu. Suatu kali ia berkata,”Tidak ada guru-guru lain di dunia yang mengajarkan yang jauh lebih tinggi dari yang diajarkan Yesus. Namun mengapa ia tidak ikut Yesus dan tidak menjadi orang Kristen?  Dalam suatu wawancara ia berkata,”Saya suka Kristus-mu tetapi saya tidak suka orang Kristen. Orang Kristen tidak hidup seperti Kristus hidup.” Ini bukan kutipan kata-kata indah, buat saya ini cermin untuk hidup. Sudahkah kita menghidupi kebenaran firman Tuhan itu dalam hidup kita?

Penutup

Hari ini kita belajar tentang kekuatiran. “Carilah dahulu Kerajaan Allah. Dia memelihara kita”  Kita belajar untuk tidak perlu khawatir dalam hidup kita karena ada sesuatu yang lebih besar. Kekuatiran itu sia-sia. Allah memelihara kita karena kita adalah anak-anakNya.  Tetapi semuanya ini tinggal menjadi pengetahuan belaka, kalau kita tidak melakukannya. Setelah pulang mari renungkan sejenak, apakah ada yang membuat kita menggelantung dan khawatir. Misal batuk tidak sembuh-sembuh sehingga membuat kita khawatir ada penyakit yang lebih berat, demikian juga dengan kondisi perusahaan yang hanya bisa bertahan selama dua tahun ini tanpa tahu apakah bisa bertahan di masa depan. Mari datang kepada Tuhan dan bersandar padaNya. Kalau gelisah dengan kondisi bisnis, regulasi yang ketat sehingga barang tertahan di pelabuhan tidak bisa masuk lalu diakali oleh orang Indonesia. Tidak dapat barang, tapi bisa didapat barang lain yang mirip aslinya. Tetapi apakah kita tergoda melakukannya demi kehidupan mempertahankan bisnis? Kita khawatir dan gelisah dengan kehidupan seperti relasi keluarga yang semakin jauh, suam-suam kuku, anak-anak yang semakin tidak bisa dikontrol dan menyendiri di kamar, tidak mendengar apa yang kita sampaikan. Apa yang kita kuatirkan dan kepada siapa kita datang? Setiap mengawali dan mengakhiri khotbah saya selalu berkata, “Kalau saudara-saudara pulang dari tempat ini tanpa membawa pesan khusus dari Tuhan, maka sia-sialah ibadahnya”. Mari renungkan sejenak, pergumulan apa yang begitu membebani, apa yang dialami hari-hari belakangan ini. Tuhan bicara apa secara pribadi (jangan hanya dipikir). Kalau tangkap sesuatu tulislah, bawa pulang dan renungkan sepanjang minggu.  Kedua, mari pikirkan kalau Tuhan sudah bicara secara pribadi dan meneguhkan untuk kita tidak kuatir karena Dia tahu kebutuhan kita, pertanyaan berikutnya  : apa yang harus kita lakukan mulai hari ini? Bergantung dan bersandar pada Tuhan, menolak godaan berbuat curang, mengampuni orang yang menyakiti kita? Kalau kita tidak sampai ke sana, tidak heran kita tidak akan bertumbuh. Kita tahu kebenaran Allah, tetapi belum tentu kebenaran itu menguasai hidup kita.