Sunday, March 9, 2014

Allah Perjanjian Lama Berbeda dengan Allah Perjanjian Baru. Betulkah?

Pdt. Irwan Hidayat

Yoh 4:22-24
22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
24  Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Pendahuluan

Alkitab adalah firman Allah yang tertulis di mana kita bisa membaca kebenaran di dalam Alkitab dan melihatnya sebagai satu kesatuan. Melihat kebenaran Alkitab sebagai kesatuan artinya berita yang ada di dalamnya fokus (inti) nya satu yaitu  Alkitab ingin menyampaikan tindakan (karya kasih) Allah demi keselamatan manusia. Walaupun terdiri dari 2 bagian besar yaitu Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB)  tetapi keduanya bermuara pada satu hal yang sama yaitu perbuatan Tuhan  yang luar biasa, anugerah Tuhan untuk manusia. Namun ada orang-orang (termasuk orang Kristen) yang tidak mampu untuk melihat dan memperlakukan Alkitab sebagai satu kesatuan atau mereka melihat bahwa Akitab terdiri dari 2 bagian yang mempunyai berita dan fokus yang berbeda. Dengan kata lain mereka mengatakan bahwa  peraturan yang berlaku di PL tidak berlaku di PB atau kisah-kisah dan pernyataan – pernyataan di PL tidak ada kaitan dengan PB.  Contoh : hukum Taurat yang dibahas panjang lebar di PL dikatakan tidak relevan dengan PB (hanya berlaku untuk PL) atau sekarang di zaman anugerah hukum Taurat tidak berlaku lagi. Kesulitan orang seperti ini adalah bukan hanya tidak melihat kontiniutas (kelanjutan) PL dengan PB , tetapi mereka tidak bisa melihat Alkitab sebagai sebuah kesatuan. Mereka melihat sebagai 2 berita (pokok, inti, fokus, penekanan) yang berbeda. Orang yang punya cara pandang ini terhadap Alkitab akan jatuh kepada satu sikap bahwa  Allah PL dan PB punya penekanan dan berita sendiri-sendiri, maka Allah versi PL dengan versi PB adalah Allah yang berbeda. Betulkah? Allah di PL dan PB adalah pribadi yang berbeda?

3 Alasan Orang Mengatakan Allah PL Berbeda dengan Allah PB

1.     Nama Allah pada PL dan PB berbeda.  Kel 3:13-14  Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya?  —  apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.". Ketika membahas nama Allah di PL , maka orang biasanya merujuk pada versi ini. Nama "AKU ADALAH AKU" di dalam bahasa Ibrani berasal dari kata YHWH (Yahweh, Yehova). Sehingga mencuat isu ada kelompok Kristen yang tidak memanggil Tuhan Allah tapi Bapa Yahweh. Sedangkan nama Allah di PB sesuai dengan berita yang disampaikan kepada Yusuf oleh malaikat pada Mat 1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Jadi di PB nama Allah adalah Yesus sedangkan di PL Yahweh sehingga Allah PL dan Allah PB dianggap sebagai pribadi yang berbeda. Benarkah? Satu hal yang perlu diketahui bagi Allah nama bukan saja sekedar sebutan sedangkan bagi kita nama itu adalah sebutan. (orang hanya menyebut satu individu dengan sebutan yaitu nama). Ketika bicara nama Allah, itu bukan sekedar pribadi, tapi menjelaskan tentang siapa Dia. Menjelaskan bagaimana karakter (sifat) Nya. Yahweh (I am that I am) ternyata bukan hanya sekedar sebutan. Nama itu menunjuk kepada keberadaan Allah yang kekal. Dalam bahasa Inggris, digunakan present tense yang menunjukkan sesuatu yang terus menerus berada. Berarti Aku kekal dan terus menerus ada. Bukan hanya menunjukkan kekekalanNya, tetapi menjelaskan naturNya yang tidak pernah berubah. Nama Yahweh mengingatkan Musa bahwa Allah yang memperkenalkan diri kepadanya adalah yang Allah yang sama yang sudah mengikat perjanjian dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Tuhan berkata, “Akulah Tuhan yang di dalam kesetiaan sudah mengikat perjanjian dengan bapa leluhurmu. Dan sekarang Aku akan membuktikan janjiKu kepada umat Israel”. Kata Yahweh ingin menggambarkan pribadi Allah yang setia, tidak berubah yang memegang janji agung kepada umatNya dan akan membebaskan umatNya dan membawa umatNya ke tanah perjanjian, masuk kepada anugerah. Makna itu juga yang kita dapati dalam nama Yesus. Yesus di dalam bahasa Yunani punya arti Allah menyelamatkan (Mat 1:21). God saves. Maka kalau dilihat secara teliti makna yang terkandung, Allah menyediakan diri sebagai pemegang janji seperti waktu dikatakan ke Musa bahwa ia akan memegang janji untuk menyelamakan umatNya, Allah menuntun umatNya untuk ke tanah perjanjian yaitu hidup yang kekal. Allah berjanji setelah Adam-Hawa jatuh ke dalam dosa, Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya (Kej 3:15). Allah berjanji akan menyelamatkan dan janji ini digenapi di dalam Yesus yang artinya God Saves. Yesus adalah  Allah yang memegang janjiNya dan menuntun umatNya. Pada PL Yahweh adalah Allah yang memegang janjiNya untuk melepaskan umat Israel dari perbudakan bangsa Mesir, sedangkan pada PB Allah melepaskan manusia dari dosa dan membawa mereka kepada hidup kekal. Dari nama Allah, kita mendapat kesimpulan, Allah di PL adalah pribadi yang sama yang menyatakan diri kepada kita di dalam Yesus Kristus.

2.     Allah PL berbeda sifatnya dengan Allah PB. Pada PL, sifat Allah pemarah, galak, penuh murka menyala-nyala, seperti pribadi yang “haus darah”. Contoh : 1 Sam 15:2-3 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir.  Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai." Waktu Tuhan menyuruh Saul memberantas musuh Israel dengan jalan dibunuh tanpa sisa (semua harus mati) sehingga Allah PL kalau sudah marah mengerikan. Contoh kedua 2 Sam 6:6-7  Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir.  Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.. Saat Tabut Perjanjian Tuhan tergelincir dan hampir jatuh, dikisahkan Uza mencoba menahannya agar tidak jatuh, namun Allah marah sekali dan membuat Uza menemui kematian. Itu yang dijadikan alasan, Allah PL pemarah, galak, haus darah, Sedangkan di PB justru kita menyaksikan wajah yang berbeda dengan di PL. Di PB mendadak wajahNya penuh belas kasihan, kesabaran, banyak pengampunan, dan banyak memberi kesempatan orang memperbaiki kesalahan. Mat 9:36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Allah di PL seakan-akan tidak mengenal belas kasihan. Allah tegerak hatiNya oleh belas kasihan. Belas kasihan muncul di PB. Yoh 21:16-19 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."  Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku." Melalui pertanyaan, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Allah memberi kesempatan kembali kepada Petrus walau Petrus sebelumnya telah menyangkalNya. Kenapa hal seperti itu tidak muncul di PL? Jadi berdasarkan hal sifatnya, Allah Pl beda dengan Allah PB. Betulkah? Allah PL yang galak, beda dengan Allah PB yang penuh belas kesihan?  Imamat 19: 2  "Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus. Kudus artinya khusus terpisah dari yang lain, khusus disendirikan tidak bercampur dengan yang lain, tidak sama dengan yang lain, satu-satunya. Frase “Sebab Tuhan Allahmu kudus” hendak mengatakan atribut Allah, bahwa tidak ada yang menyamai (tidak ada yang seperti) Dia. Aku Tuhan Allahmu adalah satu-satunya, Allah yang kudus. Sebagai Allah yang kudus tidak bercampur dengan yang lain. Setelah itu baru kita bisa memahami Allah di PL yang begitu galak dan, tegas. Alkitab ingin menceritakan salah satu atribut Allah yaitu Allah yang kudus tidak bisa mentolerir kecemaran, kejahatan dan nista, Maka ia berkata kepada Musa: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.".(Kel 3:5). Artinya manusia dalam dosa dan kecemaran, tidak bisa mendekati Allah yang kudus. Sehingga Allah memerintah hal seperti itu seperti kepada Uza  yang mati. Allah ingin mengatakan “Aku ini kudus, manusia yang penuh kecemaran dan dosa, kekotoran, kenajisan, tidak bisa mendekati, menyatu denganKu karena Aku terpisah dari semua”. Allah di PL sangat menekankan kekudusan. Di PB tidak menekankan? Justru di PB juga menekankan bahwa ia pribadi kudus yang dinyatakan dalam kasihNya sampai di puncaknya mati di kayu salib. Di PB, banyak tentang kasih dan kemurahan Allah. Itulah kasih  yang satu-satunya, tidak ada kasih yang seperti itu, tidak ada kemurahan, belas kasihan, pengampunan yang diberikan oleh dunia selain dari yang Allah berikan. Sehingga Allah PB adalah yang sama konsisten yang menyatakan kekudusan di dalam kasih dan kemurahan. Dari sini kita belajar bahwa Allah tidak berubah, Dia tetap Allah  yang sama.

3.     Karya Allah di PL berbeda dengan di PB. Orang digiring berpikir Allah di PL berkarya di dalam penciptaan, sedangkan di PB Allah berkarya di dalam penyelamatan. Betulkah? Dalam doktrin Allah Tritunggal, Yesus Kristus sudah ada baik di PL maupun di PB. Kejadian 1:26  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Pada ayat tersebut digunakan kata ganti orang “kita”. Kata “kita” kalau dicek di PL digunakan kata ganti orang pertama jamak (kita, plural). Ini adalah teks paling awal yang ingin menyatakan kepada kita bahwa Allah Tritunggal itu ada sejak kekal, bahkan waktu peristiwa penciptaan, bukan hanya karya Bapa tetapi selain Bapa, Anak dan Roh Kudus hadir. Yoh 1:1  Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Yesus disebut firman (logos). Dalam bahasa Inggris dikatakan, In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God. Jadi penciptaan tidak hanya dilakukan oleh Bapa. Karya keselamatan itu tidak hanya karya Kristus. Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:34). Jadi keselamatan manusia adalah kehendak Bapa, untuk menuntun orang datang kepada keselamatan. Jadi keselamatan juga dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Maka dilihat dari karyaNya, Allah tetap sama di PL dan PB. Dia yang mengerjakan semuanya itu.

Arti Allah di PL sama dengan Allah di PB
Ibrani 13 :8 Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Kalau Allah tetap sama maka ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita. Ada pribadi yang tidak berubah. Ketika semua orang dan segala sesuatu berubah, ada 1 (satu) yang tidak berubah yaitu Tuhan. Kita bergantung penuh kepada Tuhan yang tidak berubah. Sampai hari ini, itu menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita. Ada orang yang dulunya baik sekarang menjadi jahat. Maka bila semua berubah  yang bisa jadi andalan adalah Tuhan yang tidak pernah berubah. Nama, perbuatan dan sifat Tuhan tetap sama. Tuhan yang sama punya banyak cara untuk menolong kita. Kalau dulu Dia pernah sembuhkan orang sakit, Tuhan yang sama sanggup tetap melakukannya pada zaman ini. Kita punya pegangan yang teguh, di dalam Tuhan yang tidak pernah berubah.

Monday, March 3, 2014

Kristus Adalah Tuan dan Aku Adalah HambaNya





Pdt. Hery Kwok

Ayub 13:15
Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela peri lakuku di hadapan-Nya. Dalam terjemahan lain Lihatlah Ia (Tuhan) hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku namun aku tetap percaya kepada Allah. Ini ungkapan dari Ayub  yang tetap percaya kepada Tuhan meskipun dalam kesusahan.

Mal 1:6
6 Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"

Lukas 17:7-8
7  "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
8  Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
9  Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
10  Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

Pendahuluan

                Beberapa waktu lalu di salah satu acara TV, komisi HAM (Hak Asazi Manusia) menyoroti majikan yang menganiaya pembantunya. Misalnya : ada majikan di Medan yang menyekap pembantunya di rumah dan selama bebrapa bulan tidak diperlakukan dengan layak. Lalu di Bogor ada istri seorang polisi yang menyekap dan tidak memperlakukan dengan baik pembantunya. Dalam acara tersebut, disampaikan bahwa  penganiayaan itu sepatutnya tidak dilakukan karena seorang pembantu juga mempunyai haknya. Dalam zaman demokrasi seperti sekarang ini,  sepertinya kita kehilangan makna terkait relasi antara tuan dan hambanya.  Namun hal ini bukan berarti kita boleh memperlakukan seorang hamba (pembantu) dengan semena-mena seperti contoh di atas. Itu sebabnya dengan tema “Yesus adalah Tuan dan Aku adalah Hamba”, kita akan mengalami kesulitan kalau menghubungkannya dengan konteks sekarang (bagaimana perlakuan tuan kepada hambanya). Ada ungkapan seorang teolog tentang Yesus yang baik, “Jikalau Yesus Kristus bukan Tuhan atas semua maka Dia bukan Tuhan sama sekali”. Ungkapan itu hendak menyatakan bahwa dalam segala hal (sesuatu) , benarkah Yesus Kristus itu Tuhan atas semuanya?

                Pada Lukas 17:7-10 dicatat bagaimana Yesus memberi nasehat terkait dengan “Tuan dan hamba”. Mengapa Yesus mengatakan “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."? Karena banyak ahli Taurat dan orang Farisi yang ingin menempatkan dirinya sendiri sebagai Tuhan atas segala sesuatu. Pasal 17:1-6 Yesus Kristus mengkritik ahli Taurat dan Farisi yang ingin melakukan hal demikian. Dalam ayat 1-2 dikatakan “jangan kamu jadi batu sandangan terhadap sesamamu”. Dalam hal relasi, orang Farisi dan Ahli Taurat menganggap diri lebih hebat sehingga menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Istilah batu sandungan bagus sekali. Suatu ketika saat berjalan kaki, saya merasa hampir terjatuh. Ternyata ada sebuah batu yang lebih besar dari batu lainnya yang membuat saya tersandung. Waktu kita menempatkan diri lebih dari orang lain seperti ahli Taurat dan Farisi maka kita menganggap diri kita tuan atas mereka. Dalam hal pengampunan, kita seakan menjadi Tuhan yang tidak mau mengampuni orang lain karena tidak pantas diampuni. Ada banyak relasi yang rusak saat ada orang yangmenganggap lebih hebat dari yang lain. Ahli Taurat dan orang Farisi menganggap mereka lebih suci dari pemungut cukai dan menganggap mereka tidak layak mendapat pengampunan. Yesus mengatakan, kamu bukan tuan atau Tuhan.

Hal-hal yang dipelajari dari Luk 17:7-8

a.     Apakah Yesus benar Tuhan atas seluruh hidupmu? 
Kita sering memperlakukan Yesus sebagai bukan Tuhan (hanya menyebutnya saja Tuhan). Sama seperti bangsa Israel pada kitab Maleaki yang menyebut Allah itu Yahweh namun tidak menghormatiNya (Mal 1:6 Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"? Orang Israel mengatakan, “Apa buktinya kami tidak menghormati kamu?” Tuhan Allah berkata, “…dalam memberi persembahan. Kamu memberikan yang tidak layak kepada Aku.” Selayaknya kita memberikan hidup kita kepadaNya dan memperlakukan Dia sebagai Tuhan. Apakah kita sudah benar-benar mencari Dia dalam seluruh keberadaan kita? Kalau dia Tuhan, apakah kita menyembah Dia dalam segala kesukaran? Waktu orang Israel keluar dari Mesir, Allah memanggil mereka untuk beribadah. Sehingga ibadah adalah kewajiban dan menempatkan Dia sebagai Tuhan yang dicari dan kita menyembah Dia. Sehingga tidak ada alasan tidak datang beribadah karena Tuhan akan menghukumnya. Allah memperlihatkan bagaimana Firaun harus mati karena menghalangi umatNya beribadah (Karena Aku Tuhan atas umatKu sehingga akan membinasakan yang menghalangi umatKu beribadah). Dalam bagian kitab suci lainnya, dapat ditemukan bahwa orang Israel wajib datang beribadah kepadaNya. Bahkan bila tidak hadir mereka akan dihukum mati. Itulah bentuk, di mana kita menempatkan Tuhan sebagai tuan atas seluruh hidup kita. Secara sederhana dari kesetiaan kita beribadah, membuktikan apakah kita menganggapnya Tuhan. Seringkali saat kita membutuhkan Dia baru kita mencari Dia. Kalau kita hidup aman , kita seakan-akan tidak perlu mencariNya. Pada Lukas 17:7-9, Yesus Kristus menyatakan bahwa untuk posisi tuan, Dialah yang seharusnya menjadi Tuhan atas hidupmu. Kalau dia benar-benar Tuhan, adakah kita memberi diri kita melayani Dia dengan penuh sukacita? Ayat 7-9 bukan berarti Tuhan kejam tidak beri makan kepada hambaNya, tetapi ayat ini menekankan bahwa hamba harus melayani Tuhan dengan sepenuh hati. Kalau Kristus benar-benar menebus kita, menyelamatkan kita, harusnya kita menjadi milikNya yang telah dibayar dan ditebus Dia. Kita memasuki pra-paskah (masa kesengsaraan), minggu di mana kita memperingati Allah kita untuk masuk dalam penderitaan. Dia menderita dan mati semata-mata agar Dia menjadi Tuhan atas kita. Apakah kita benar-benar memberi diri melayani Dia, kalau benar-benar dia Tuhan? Kita tidak dipaksa untuk melayani , karena Tuhan tidak mau memaksa, tetapi bagaimana kita menempatkan Dia sebagai Tuhan dalam hidup kita. Saya di rumah punya pembantu, dia tahu apa yang harus dilakukan sebagai pembantu. Dia melakukan tugasnya untuk melayani tuannya. Walaupun dia dibayar, tetapi memang tugas pembantu adalah melayani tuannya. Inilah yang membuktikan apakah Yesus itu adalah Tuhan dalam melayani Dia. Sehingga gereja Tuhan membuka diri agar umatNya melayani Dia. Karena dalam melayani Dia, kita mengakui bahwa dialah Tuhan atas hidup saya. Adakah keluarga kita, keluarga yang menjadi milik Tuhan? Apakah anak-anak kita, kita dorong untuk datang kepada Tuhan? Kita mendorong pasangan, mertua untuk datang karena kita milik Dia? Adakah kesulitan yang kita hadapi adalah milik dan dibawa ke Tuhan. Kalau banyak harta, kita tidak terlalu mencari Tuhan. Tapi begitu tidak punya apa-apa baru cari Tuhan. Ungkapan seorang teolong, kalau Yesus bukan Tuhan atas segala-galanya maka Dia bukan Tuhan. Maka apa yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Saya punya kebiasaan dari awal dari melayani Tuhan. Saat saya mendapat berkat saya berdoa agar Tuhan memberi saya hikmat-bijaksana dalam menggunakan uang itu untuk memuliakan Dia. Jangan pikir hal itu karena engkau bisa bekerja , tetapi itu milik Tuhan dan harus dikembalikan kepada Dia. Artinya totalitas hidup kita, sekecil apapun, dia Tuhan atas semuanya. Mari refleksikan Dia adalah Tuhan atas seluruh hidup kita? Atas seluruh pergumulan, penyakit, keuangan kita, benarkah dia Tuhan atas itu semua? Kalau hati kita seperti itu, pengharapan kita akan kokoh kepada Dia, itu sebabnya Lukas 17:6, tambahkan iman seperti biji sesawi sehingga bisa mengatakan pindahkan gunung ke sana. Iman seperti itu menempatkan Yesus Kristus sebagai Tuhan secara total dalam rumah tangga dan kehidupan.

b.     Lukas 17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.". Kata “tidak berguna” lebih tepat digunakan istilah “ kami tidak layak mendapat penghormatan”.  Hubungan antara tuan-hamba bicara tetang relasi anugerah. Relasi bahwa Dia memberi anguerah kepada saya. Pdt. Billy Graham saat ditanya dalam bukunya berkata, “Anda sudah begitu hebat melayani Tuhan, kenapa di masa tuamu Allah memberi sakit Parkinson sehingga tanganmu bergoyang-goyang?” Pdt Billy menjawab, “Saya tidak tahu jawabanNYA. Hanya yang saya tahu apapun yang terjadi, Tuhan kasih memberi anugerah untuk saya. Relasi tuan dan hamba menempatkan kita kepada kesadaran bahwa relasi kita berdasarkan kemurahan semata. Ayub 13:15 mengatakan Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela peri lakuku di hadapan-Nya. Apapun yang sedang dialami seperti rumah tungga sulit (sedang dalam hubungan yang tidak baik), ekonomi bermasalah, janganlah membuat  kita berpikir negative tentang Tuhan. Justru di dalam relasi anugerahNya, Dia ijinkan kita mencari Dia dengan baik. Mari kita belajar menempatkan Dia sebagai tuan, meskipun kita memanggilnya Bapa. Harus menghormati dia dalam kesucian karena Dia pemilik hidupku.



Sunday, February 23, 2014

Hosea 6 : Pertobatan yang Tulus




Ev Susan Kwok

Hosea 6:1-3
1 "Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita.
2  Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya.
3  Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi."

Pendahuluan

Inti dari Hosea pasal 1 adalah perintah Allah kadang kala tidak masuk akal, unik dan tidak sesuai jalan pikiran kita karena Allah sudah memerintahkan (nabi) Hosea untuk menikahi perempuan pelacur yang bernama Gomer. Dalam keadaan normal, tidak ada seorang ibu yang bercita-cita menikahkan anaknya dengan seorang pelacur, namun pada Hosea pasal 1,  Allah bahkan mengijinkan  nabi Hosea untuk menikahi pelacur! Yang ingin ditunjukkan di sini adalah  Gomer yang tidak setia terhadap Hosea suaminya menjadi contoh dari keberdosaan bangsa Israel khususnya dan manusia di muka bumi umumnya terhadap Allah. Tetapi sikap Hosea yang mengasihi Gomer menjadi bukti kasih Allah kepada manusia yang memberontak kepada Allah.
Hosea 2 : Allah yang kasih adalah Allah yang kudus dan tidak bermain-main dengan dosa. Sehingga banyak pernyataan yang ekstrim seperti Aku akan menyingkapkan kemaluannya, di depan mata para kekasihnya (ayat 10). UmatNya yang terus bermain dengan dosa mendatangkan murka Allah. Israel Selatan dibuang ke Babel selama 70 tahun. Israel Utara dibuang ke Asyur selama 350 tahun.  Allah yang kasih adalah Allah yang disiplin, untuk menunjukkan kasihNya yang kudus.
Hosea 3 : Allah yang menciptakan sekaligus Allah yang menebus ciptaanNya. CiptaanNya terbuang men jadi budak dosa, tetapi Allah ingin mengambil kembali umatNya sehingga ditebus. Arti nama Gomer adalah kue kismis. Pada Hosea 3:1 dikatakan “mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis" untuk menunjukkan bahwa bangsa Israel lebih suka melacurkan diri. Allah meminta Hosea untuk menebus Gomer dengan harga terendah dari seorang budak, yaitu sebesar 30 syikal perak. Gomer ditebus dengan 15 syikal perak dan 1,5 homer jelai (Hosea 3:2) yang bila diuangkan senilai 15 syikal perak (sehingga bila dijumlahkan semuanya 30 syikal perak). Hosea 3 memperlihatkan bahwa kedudukan Gomer itu sangat rendah. Seharusnya Allah tidak perlu membuang-buang waktu untuk memeliharanya karena sepertinya akan sia-sia. Tetapi Tuhan menyuruh nabi Hosea untuk menebus dan menghargai dia. Angka 30 syikal perak akan mengingatkan kita bagaimana Yudas menghianati Yesus dengan 30 uang perak. Yudas dan dunia ini menganggap Yesus dan pengorbananNya sangat rendah di mata manusia. Harga terendah dari seorang yang rendah adalah senilai 30 keping uang perak. Itulah pengkhianatan manusia terhadap Allah. Tetapi Yesus telah membayar , melunasi dan menghargai kita dengan biji mataNya padahal kita tidak layak. Bahkan sebagai budak pun kita juga tidak layak dibayar dengan darah, nyawa dan diriNya sendiri. Perbandingan yang luar biasa. Israel dan manusia menghargai Allah dengan harga terendah tetapi Allah menghargai umat ciptaanNya itu dengan harga yang tertinggi.  Jikalau Allah menghargai bangsa Israel dan kita dengan harga tertinggi , apa respon kita terhadap kasih yang luar biasa tersebut? Kita acuh dan tetap main-main dengan dosa dan tidak mau bertobat dengan sungguh-sungguh atau sebaliknya?

Pertobatan yang Tulus

Hosea 6:1-3 merupakan respon yang Tuhan rindukan dari setiap manusia yang Dia kasihi. Ini bukan respon langsung dari bangsa Israel. Hosea 5:15 mengatakan “Aku akan pergi pulang ke tempat-Ku, sampai mereka mengaku bersalah dan mencari wajah-Ku. Dalam kesesakannya mereka akan merindukan Aku” Mari berbalik kepadaNya! Itulah kerinduan Allah. Allah rindu dan Dia sudah mendisiplinkan, menghukum umatNya sehingga mereka tahu mereka bersalah. Allah menghukum bukan karena Dia membenci umatNya tapi Dia tidak mau mereka hidup seterusnya dalam dosa. Allah rindu umatNya mengaku bersalah dan dalam kesesakannya merindukan Allah. Karena hanya orang yang merindukan Allah yang akan mengeluarkan kalimat pada Hosea 6:1-3. Tuhan menginginkan umatNya berbalik (return) kepada Dia. Berbalik bukan berarti kita kembali ke posisi awal di mana kita berdosa, tetapi Allah menginginkan kita kembali ke titik di mana kita menyesali apa yang sudah kita buat. Allah ingin kita berbalik dari kejahatan yang kita sudah lakukan dengan penyesalan yang dalam.  Teolog Matthew Henry  (1662 –1714) mengatakan, “Akibat dosa yang paling fatal adalah manusia tidak menyadari dirinya berbuat dosa ketika dia sedang berbuat dosa. Dia berbuat dosa namun enak-enak saja dan tidak merasa salah (melakukan dosa yang tidak menyenangkan hati Allah dalam berbagai bentuk dan tidak merasa bersalah). Dosa membuat manusia tidak mengakui dosanya dan menjadi tidak peka bahwa dia sedang berbuat dosa! Manusia yang tahu Allah yang mengasihi dan meresponi penghargaan Allah kepadaNya akan menyesali dan berbalik kepada Allah.

Pada Yoel 2:12 dikatakan "Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." “Berbaliklah kepadaku dengan berpuasa” merupakan ungkapan penyesalan. Pertanyaannya : ketika TUhan meminta kita berbalik, apakah kita pernah menangisi dosa-dosa yang pernah kita lakukan dan sungguh menyesal untuk apa yang telah dilakukan? Sedangkan kata “mengaduh” di Perjanjian Lama berarti menganggap dirinya orang yang paling malang karena tidak bisa ditolong lagi. Kejatuhannya ke dalam dosa merupakan kejatuhan yang paling dalam dan tidak ada seorang pun bisa menolong sehingga ia siap mati (bukan sekedar mengaduh sakit). Tidak ada yang bisa menolong kecuali Tuhan. Itu penyesalan atas apa yang telah dilakukan. Allah ingin bangsa Israel menyesali akan apa yang telah dilakukan.

Mengenal Allah

Hosea 6:3 “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi." Kata “mengenal” dan “berusaha sungguh-sungguh mengenal” sepertinya hanyalah permainan kata. Tapi ada makna yang sedang diungkapkan tentang kedua kata (frasa) tersebut. Kata “mengenal” dalam Kitab Kejadian dipakai saat Adam dan Hawa menyadari keduanya telanjang tetapi mereka tidak merasa malu. Yada. Artinya Adam dan Hawa sangat mengenal satu dengan lain dengan intim dan dekat. Tidak ada bagian yang mereka tidak mengenal dan tidak ada rahasia di antara mereka. Artinya Tuhan ingin kita mengenal Dia, sampai hubungan kita dengan Dia sangat intim dan dekat sampai tidak ada sesuatu yang tidak kita kenal. Hal ini sebenarnya mustahil. Kita manusia yang berdosa dan kotor (najis) sehingga tidak mungkin mengenal Allah yang kudus. Hanya satu caranya agar manusia mengenal Allah yaitu dengan cara Allah mengenalkan diriNya kepada manusia, membuka diriNya kepada manusia, di situ baru manusia bisa mengenal Allah. Ini doktrin yang harus dipegang jemaat Tuhan. Tidak ada seorang yang bisa mengenal dan mencari Allah jika Allah tidak membuka diriNya karena ada jurang yang tak terseberangi antara Allah dengan CiptaanNya kecuali Allah yang membuka diriNya dan memperkenalkan diriNya dalam ciptaanNya. Allah membuka diriNya melalui wahyu umum dan melalui wahyu khusus yaitu melalui anakNya Yesus Kristus. Tanpa baca Alkitab kita tidak bisa mengenal Allah. Wahyu umum tidak cukup untuk menceritakan siapa Yesus Kristus dan bagaimana keselamatan dapat dimiliki. Jadi kalau jemaat Tuhan malas membaca dan menggali Alkitab maka tidak mungkin Dia bisa seperti kata “”marilah kita mengenal Allah”. Sehingga kita harus mengenal Allah, tidak ada cara lain.

                Sedangkan “berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan” sebenarnya merupakan reaksi dari yang pertama (Allah sudah meperkenalkan diriNya dan kemudian kesungguhan itu menjadi hal yang konkrit dalam hidup kita). Kita perlu mengenal artinya memberlakukan firman Tuhan dalam hidup sehari-hari, bukan hanya dibaca dan digali tetapi juga dilakukan (dikonkritkan) dalam hidup sehari-hari . Itu sebabnya saat membaca teguran Allah ke Israel , Dia mengatakan, “Tolonglah kamu itu jangan hanya sibuk dengan ibadah, perayaan dan hukum-hukum yang secara seremonial dilakukan dengan baik, tetapi kenyataan sehari-harinya bagaimana?” Allah ingin keduanya terjadi. Ketika kita berusaha mengenal sungguh Tuhan berarti kita ingin melakukan sungguh-sungguh  dalam hidup kita. Saat di keluraga bagaimana Firman Tuhan terealisasi antara orang tua dengan anak, antara orang tua dengan kakek-neke, antara kakek dengan cucu dan lain-lain. Keluarga kita yang paling tahu sikap kita.  Teman saya kesulitan mencari pembantu. Pembantunya tidak pernah betah lebih dari 100 hari. Ia hanya mengatakan susah mencari mba (pembantu). Apakah karena  banyak yang mau menjadi TKI? Lalu saya coba menggalinya. Terlepas dari kita sudah berbuat baik kepadanya, tetapi kalau pembantu tidak betah karena kita, maka hal ini perlu dikoreksi. Rupanya pembantunya kalau mau makan malam, dia harus menunggu semua nya pulang. Setelah tuan rumah makan, baru dia makan. Padahal tuan rumah pulangnya  malam (pk 21- 22). Setelah bekerja seharian, pembantu perlu mengembalikan staminanya dengan makanan yang sehat dan tidak terlambat makan. Kalau makannya baru pk 21-22 siapa yang kuat? Untuk mengatasinya, biarkan pembantu makan duluan dan itu tidak merendahkan kita selaku tuan rumah. Makanannya dipisahkan, maka saat lapar dia langsung bisa makan. Di samping itu sang pembantu kesepian walau sudah ada TV sendiri. Hanya sang pembantu dibatasi waktu nontonya. Ternyata program TV saat datang waktunya nonton , yang ada hanya acara berita atau sepakbola (di luar waktu yang ditentukan , sang pembantu tidak boleh menonton dan setelah selesai bekerja juga tidak boleh menonton TV). Hal ini dirasakan sebagai siksaan bagi sang pembantu sehingga tidak ada yang betah kerja sampai lebih dari 100 hari. Untuk itu solusinya sang pembantu diberi sasaran, dia boleh menonton TV sesuai dengan kebutuhannya yang penting pekerjaannya selesai. Hal ini tergantung juga dari mentalnya. Saya dapat seorang pembantu yang hanya bekerja 1 bulan gara-gara kesepian walau ada TV (tidak ada teman) dan  pekerjaannya kurang banyak. Ternyata sebelumnya, dia kerja di warteg selama puluhan tahun (umur 16-50 tahun) dan tidak menikah. Tiap hari ia naik sepeda untuk belanja sayur. Setelah itu  pulangnya nguleg dll. Dengan banyaknya pekerjaan di warteg dia merasa sehat. Dengan bekerja di rumah saya, tidak ada anak, saya pergi ke luar kota, lalu orang tua saya  diajak anaknya yang lain ke Bekasi, sehingga ia merasa kesepian. Akhirnya saya bawa lagi ke majikan lama dan dia senang karena bisa  naik sepeda kemana-mana (tidak mau naik  angkot).

                Ketika kita mau berusaha sungguh-sungguh mengenal Allah dalam hidup kita , maka akan nyata dalam kegiatan kita sehari-hari. Dalam saluran TV Life ada acara rohani yang menyampaikan bahwa  ketika Rasul Paulus berkata kepada Timotius, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu (1Tim 4:12)”. Kalau menjadi teladan bagi orang percaya akan lebih mudah, tetapi bagi orang yang belum mengenal Tuhan , berarti kita harus jadi lebih baik dan menyenangkan , itu jauh lebih susah. Di tengah orang yang merokok, kalau kita merokok, itu jauh lebih gampang. Di lingkungan orang yang hidupnya tidak terpuji, untuk menjadi teladan akan sulit, tetapi firman Tuhan harus dilaksanakan. Ada juga hobi dan kebiasaan yang cenderung merusak hubungan kita dengan Allah dan sesama. Ibadah pada hari minggu adalah salah satu tolok untuk mengukur apakah kita sungguh-sungguh melakukan firman Tuhan. Karena bukan hamba Tuhan yang memanggil ke gereja tapi Tuhan karena Dia memanggil kita untuk melakukannya. Mari kita setia dalam melakukan ibadah kita.

Siapakah Allah menurut Kitab Hosea ?

Untuk menutup pembahasan kitab Hosea yang terdiri dari 14 pasal , mari kita pikirkan siapa Allah menurut kitab Hosea?

1.     Allah yang menerkam tetapi yang akan menyembuhkan (Hosea 6:1). Allah yang menghukum tetapi juga Allah yang membalut luka-luka kita.
2.     Allah tidak selamanya murka (kemudian Dia akan membebaskan). Ini tidak bicara tentang kematian dan kebangkitan Kristus (Hosea 6:2). 2 hari menunjukkan waktu yang sifatnya sementara.
3.     Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi  (Hosea 6:3). Sepasti itulah Allah. Dialah Allah yang luar biasa.

Pada Hosea 14:9 dikatakan “Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ”. Pada Mat 7:24-27 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.  Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.  Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."