Monday, November 4, 2013

Hutang yang Tak Terbayarkan



(Tidak diedit)

Pdt Hery Kwok

Roma 1:14-17
14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.
15  Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.
16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.
17  Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Pendahuluan

Suatu kali saya mengikuti acara Paskah di penjara. Waktu itu pelayanannya dilakukan oleh para sarjana (penasehat) hukum yang beragama Kristen. Itu pelayanan pertama saya bersama rekan-rekan di penjara. Pelayanannya kami dihadiri oleh banyak napi. Awalnya saya mengira mereka rindu beribadah, namun saat saya menanyakan alasannya ternyata bukan begitu. Ada yang beralasan tidak mau diam di sel saja (sumpek) sehingga lebih baik beribadah. Ada juga yang berkata, setelah ibadah biasanya disiapkan konsumsi (ada yang mengharapkan makanan). Sewaktu pemimpin pujian mengajak para narapidana bernyanyi , dia memilih lagu yang popular yakni “Sekarang Saya Sudah Bebas” (http://www.youtube.com/watch?v=vurViBZrSb8). Syairnya : s'karang saya sudah bebas, s'karang saya sudah bebas, s'karang saya bebas oleh darahNYA Domba Allah, s'karang saya bebas, bebas, haleluya. (s'karang saya bebas, bebas, bebas, saya bebas haleluya. Lalu ia bertanya, “Apakah saudara mau bebas?” Serempak para narapidana menjawab, “Amin”. Itu kata yang didambakan mereka yaitu “bebas”. Lalu pemimpin pujian berkata, “Sekarang mari kita nyanyikan, ‘Sekarang Saya Sudah Bebas’.” Setelah musik bergema dan pemimpin pujian menyanyi dengan semangat, narapidana yang begitu banyak tidak mengeluarkan suara. Hanya 1-2 orang saja yang bernyanyi. Pemimpin pujian bingung. Lalu ia bertanya lagi, “Saudara mau bebas?” Serentak mereka menjawab lagi, “Amin”. Pemimpin pujian berkata lagi, “Mari kita nyanyi lagi ‘Sekarang Saya Sudah Bebas”. Ternyata kembali yang menyanyi hanya 1-2 saja. Lalu ia bertanya, “Mengapa Saudara-Saudara tidak mau menyanyi?” Mereka menjawab, “Memang lagunya bilang sudah bebas, tetapi kita tetap ada di penjara.”

Mungkin gambaran seperti itu ada dalam kehidupan Kristen kita. Kita sudah bebas dari dosa tapi sepertinya kita masih terkukung oleh dosa. Pertanyaan penting yang perlu dijawab,”Apa benar kita benar-benar sudah bebas?” Karena kalau benar-benar sudah bebas, maka hidup kita punya perbedaan yang luar biasa. Jangan sampai seperti orang di penjara yang menyanyikan lagu “Sekarang Saya Sudah Bebas”, tetapi secara fisik masih di penjara. Rasul Paulus mengatakan bahwa,”Saya sudah dibebaskan dari dosa.” Ini ungkapan yang diucapkan setelah ia berjumpa dengan Kristus. Saat itu Saulus (nama Paulus sebelumnya) menganiaya jemaat Tuhan dan ingin membunuhnya. Hal ini dilakukan karena ia menganggap pada waktu lalu, ajaran Kristus adalah bidat (ajaran sesat). Sehingga sebagai ahli taurat (Farisi) , ia ingin membasmi ajaran yang menyimpang. Namun kemudian dalam perjalanan ke Damsyik , Kristus menjumpai dan memanggilnya “Saulus, Saulus!” Itulah perjumpaan Kristus dengan Saulus (Kis 9). Saulus mendapat kebebasan dari dosa-dosanya saat berjumpa dengan Kristus. Di sana ia mengakui Kristus adalah Tuhan dalam hidupnya. Karena ia mengalami kebebasan yang sejati, ia kemudian ingin menceritakan tentang Kristus. Salah satu ciri orang yang ditebus dosanya, ia punya kerinduan untuk menceritakan tentang Kristus yang sudah membebaskannya. Itu sebabnya dalam Kis 1:14-15 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.  Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma. Rasul Paulus mengatakan dirinya sebagai orang yang berhutang. Ini perkataaan yang penting. Orang yang berhutang seharusnya punya kesadaran untuk membayar hutangnya. Ia mengakui Yesus sudah membebaskan dirinya sehingga ia ingin memberitakan Injil. ia punya hutang untuk menceritakan Yesus kepada orang lain.

Kalau kita berhutang dan penagih hutang datang, maka sebagai orang yang berhutang, kita berkewajiban untuk membayarnya.  Kecuali kita nakal, begitu datang penagih hutang, kita malah bersembunyi. Ada orang Kristen modelnya seperti itu. Mau berhutang tapi mentalnya tidak mau bayar. Ada anak kecil yang diajari orang tuanya, nanti kalau tukang kredit datang, bilang mama tidak ada. Waktu tukang kredit datang bertanya, “Mana mamamu?” Ia menjawabnya, “Mama tidak ada. Sedang pergi.” Tukang kredit kembali bertanya, “Perginya kemana?” Lalu dengan polosnya sang anak menjawab, “Nanti saya tanya mama dulu ya di belakang.” Itu mental berhutang yang tidak benar.  Orang-orang jaman dulu punya mental berhutang yang bagus, kalau berhutang harus dilunasi. Sejak kecil diajarkan, kalau berhutang harus dilunasi. Maka kalau berhutang, kita akan bekerja keras untuk membayarnya. Ada semangat untuk menabung dan membayar hutang kepada orang yang memberi pinjaman. Semangat untuk membayar hutang itulah yang Rasul Paulus sampaikan. Kalau kita mendapat kebebasan seperti Rasul Paulus, maka kita juga punya semangat untuk membayar hutangnya.  Kerinduan itu muncul karena kita telah mengalami kebaikan Allah. Kalau kita punya hutang yang besar lalu dihapuskan oleh orang yang memberikan hutang, maka kita akan merasa sukacita luar biasa. Kita akan bercerita kepada orang-orang lain tentang kebaikan dan anugerahNya. Di kitab Matius dikatakan kita sebenarnya berhutang kepada Allah dan tidak bisa (mampu) membayarnya. Itu sebabnya setelah kita diampuni, seharusnya kita tidak pernah tutup mulut untuk mengabarkan Injil.

Fakta di lapangan mengapa manusia perlu Yesus.

Ratusan tahun sebelum Kristus dilahirkan jadi manusia, ada banyak agama hebat yang didirikan atas dasar kebenaran manusia. Manusia berusaha dengan kekuatan, kebaikan, uang dan amalnya, itu yang disebut sebagai kebenaran manusia.

Sebagai contoh,
-        2.000 tahun sebelum kedatangan Kristus, Hinduisme mengajarkan, “Biarlah mereka bersabar dalam menanggung beban yang berat. Biarlah dia tidak mencerca orang lain. Dalam menghadapi orang-orang yang pemarah, biarlah mereka tidak menunjukkan kemarahannya. Diberkatilah mereka ketika mereka dikutuk.”  Itulah Hinduisme. Bila hal ini diterapkan pengikutnya maka hasilnya baik, karena biasanya kalau dimarahi, hati tidak senang dan ingin membalas bahkan dengan kasar.
-          Konfusius hidup sekitar tahun 551 S.M. Ada sekitar 300.000.000 (tiga ratus juta) pengikut konfusius. Ajaran utamanya berbunyi, “Apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan terhadap dirimu, jangan berbuat hal itu kepada orang lain.” Dan ini merupakan suatu ”golden rule”. Dan lagi, “Balaslah penghinaan dengan keadilan, dan balaslah kebaikan dengan kebaikan.”
-        Lao Tse hidup 604 tahun sebelum Kristus. Ada sekitar 43.000.000 (43 juta) pengikut Taoisme hari ini. Lao Tse berkata, “Kepada setiap orang yang berbuat baik kepadaku, saya akan baik. Dan kepada mereka yang tidak baik kepada saya, saya tetap baik. Dan biarlah semuanya beroleh kebaikan.” Lao Tse juga berkata “Kepada mereka yang tulus hatinya, hati saya tulus. Kepada mereka yang tidak tulus hatinya, saya tetap tulus. Dan biarlah kita semua memiliki hati yang tulus.”
-        “Jainisme”, kepercayaan yang telah ada sekitar 595 tahun sebelum kelahiran Kristus – dan saat ini pengikut aliran Jainisme berjumlah sekitar 50.000.000 (lima puluh juta) – dan mereka mengajarkan, “Belajarlah dariku hukum yang mulia dari Jain. Sebagaimana adanya, kamu melihat ketamakan, kemarahan dan kesombongan. Orang bijaksana seharusnya tidak menjauhkan diri dari hal-hal itu. Jika dia digigit seharusnya dia tidak menjadi marah. Jika dia dicaci maki, seharusnya dia tidak mendendam. Dengan sebuah ketenangan pikiran dia seharusnya menanggung segala sesuatu
-        Budha hidup 560 tahun sebelum Kristus. Ada sekitar lebih dari 200.000.000 (dua ratus juta) pengikut Budha saat ini. Budha berkata, “Manusia yang pemarah, dan membawa kebencian, seseorang yang berbicara dusta, yang memegahkan dirinya sendiri dan memandang rendah orang lain, biarlah orang mengenalnya sebagai seorang buangan.” Artinya kalau kamu berbuat jahat akan dinilai sebagai orang buangan. Ini ajaran yang keras agar kita sadar jangan berkelakuan jahat. Budha juga berkata, “Jika seorang murid berhasrat untuk diselamatkan, untuk memperoleh keselamatan yang final, biarlah dia memenuhi dirinya dengan kebenaran. Biarlah dia bertekun dalam ketenangan hati yang mengalir bersamanya.”

Namun demikian Rasul Paulus tetap mengajarkan tentang Kristus. Kalau ajaran manusia sudah dianggap sempurna mengapa Rasul Paulus tetap mengajarkan tentang Tuhan Yesus? Kalau pengajar-pengajar yang mengajarkan agama besar sudah sempurna, Tuhan Yesus tidak perlu hadir di dunia. Itu sebabnya. Rasul Paulus menyadari, tidak mungkin orang diselamatkan tanpa Tuhan Yesus. Oleh karena itu manusia perlu Tuhan Yesus.

Kenapa manusia perlu Kristus?

1.     Manusia tidak dapat menolong dirinya yang berdosa dengan KEKUATAN sendiri (kebaikannya, kepintarannya, amalnya, dll). Waktu mengajar di sekolah, saya mendengar seorang anak kelas 2 SD (8 tahun) mengucapkan kata-kata kotor. Saya panggil dan konseling dia. Saya bertanya tentang siapa yang mengajarinya. Dia menjawabnya,”Belajar sendiri!”. Setelah Adam (pertama manusia) jatuh dalam dosa, manusia dan keturunannya punya dosa warisan. Walau berdosa, bukan berarti manusia tidak bisa membuat kebaikan. Itulah sebabnya pemimpin agama mengajarkan tentang kebaikan. Namun ada 1 hal, yaitu manusia tidak bisa menebus dosanya sendiri. Dosa warisan ini membuat manusia cenderung berbuat dosa. Dosa warisan membuat kita hidup dalam dosa. Kebaikan, kepintaran, uang tidak bisa melepaskan kita dari dosa. Suatu kali ada jemaat suatu gereja yang menyumbang Rp 2 miliar. Majelis dan hamba Tuhan terheran-heran. Bendahara, majelis dan hamba Tuhan berterima kasih. Ternyata 2 bulan kemudian, nama penyumbang itu ada di daftar KPK.  Manusia berdosa seperti itu. Melakukan kebaikan tetapi dalam dosa. Itu sebabnya kekuatan kita tidak bisa menolong kita keluar dari dosa. Ibarat kain lap yang kotor. Waktu kain lap kotor digunakan untuk melap meja, maka meja yang bersih menjadi kotor. Kita memberikan amal (uang) seperti kain lap kotor membuat meja menjadi kotor. Rasul Paulus menyadari hidupnya seperti itu dan tidak bisa menolong dirinya sendiri.

2.     Manusia tidak dapat menolong dirinya yang berdosa dengan CARANYA sendiri.
Suatu kali, saya dan istri mengendarai mobil. TIba-tiba mobil di depan rem sehingga kami menabraknya. Sebagai orang yang bertanggung jawab, saya turun dan minta maaf. Saya bermaksud mengganti dan membawa mobil yang saya tabrak ke bengkel asuransi. Namun pengemudinya berkata, “Saya tidak tahu karena ini mobil majikan saya”. Sang supir memberi nomor telpon pemilik mobil, lalu saya menelponnya. Rupanya supir tersebut sudah memberitahu majikannya. Sewaktu saya sampaikan ingin memperbaiki mobil yang ditabark, saya sampaikan hal tersebut dengan pikiran dan cara saya. Namun pemiliknya berkata, “Pak, tidak perlu. Saya sudah anggap lunas.”  Dia tidak ingin cara saya, itu bukan yang dia mau. Allah tidak mau cara kita, Allah punya cara yaitu melalui anakNya. Dia sudah menentukan caranya yaitu Yesus Kristus satu-satunya jalan. Karena hanya Yesus  yang bisa menggantikan posisi kita sebagai orang yang seharusnya dihukum Allah. Karena HANYA KRISTUS yang ditentukan oleh Allah sebagai penebus dosa manusia. (KRISTUS melakukan kehendak ALLAH sehingga yang DIKERJAKAN KRISTUS BERKENAN/LAYAK dihadapan Allah). Seharusnya kita sendiri yang membayar hukuman. Namun Allah tahu kita tidak mampu sehingga dengan cinta Nya yang luar biasa, Dia  menggantikan posisi kita sebagai terhukum. Harusnya kita yang duduk di kursi penghukuman, tetapi Tuhan Yesus yang menggantikan.  Hanya Kristus yang ditentukan untuk menggantikan dosa kita. Pada kitab Roma dikatakan Kristus melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Sehingga apa yang dikerjakan Kristus membuat Ia berkenan di hadapan Allah (Ibrani). Itu sebabnya Kristus menjadi pokok bagi orang yang mengharapNya. Allah senang akan apa yang Yesus lakukan di kayu salib. Bukan Allah senang dengan kematianNya, tetapi senang karena anakNya Yesus melakukan apa yang dia minta dan lakukan selama di dunia.
Kesimpulan

Kalau kita mendapat anugerah Allah, kita percaya kepada Kristus, maka kita diselamatkan. Kalau sudah diselamatkan, jangan simpan untuk dirimu saja. Jangan menyimpan apa yang seharusnya diberikan kepada orang lain. Kalau disimpan untuk diri sendiri itulah kejahatan. Ada seorang teman saya memberitakan Injil kepada orang yang dianggapnya perlu mengenal Tuhan.  Dia injili hampir 5 jam dalam perjalanan di bus. Sampai terakhir bus mau masuk diterminal, orang yang diinjili berkata, “Saya sebenarnya seorang pendeta”.  Teman saya berkata, “Pak, kalau bapak seorang pendeta, jangan biarkan saya sampai 5 jam berbicara”. Tapi teman saya senang karena , “Saya tidak menyimpan berita keselamatan tapi menceritakan kepada orang lain”. Jangan “menyimpan” keselamatan sehingga orang lain tidak dengar. Ceritakan keselamatan itu kepada papa dan mamamu kalau belum kenal Kristus. Ceritakan kepada saudaramu kalau belum kenal yesus. Kalau disimpan, kita berhutang kepadanya. Jangan bosan menceritakan keselamatan kepada orang lain. Walau orang yang mendengarnya menolak. Saya menginjili papa saya selama lebih dari 17 tahun. Saya pernah merasa bosan, sewaktu melihatnya tidak bereaksi. Hati jadi letih. Dalam pikiran saya percuma saya cerita tentang Kristus, tapi tidak diresponi. Ini penyakit yang sering terjadi dalam diri kita. Sampai suatu kali Tuhan sendiri yang membuat hatinya percaya. Kita hanya menceritakan, Kristus yang membuatnya percaya. Selama papa hidup ia berbuat baik pada saya. Saya percaya, di tengah kelelahan orang tua, ia memberikan kasih  yang terbaik untuk anak-anaknya. Kita bisa membalasnya dengan hidup yang baik. Itu ajaran yang baik. Jangan berbuat baik setelah orang tua sudah meninggal. Jangan membawa babi hong di kuburan karena yang menikmati orang lain. Kita bisa membalas kebaiknya, secara etika, sopan santun dalam hubungan anak kepada orang tua. Tapi kita akan terus “berputar” pada orang tua, kalau kita belum menceritakan tentang Yesus. Tunjukkan selama orang tua hidup dengan merawat dan memperhatikannya selama mereka hidup. Namun yang tidak boleh dilupakan, ceritakan tentang Yesus. Itu yang harus dilakukan. Menurut Alkitab, waktu bertemu dengan Tuhan, Dia tidak bertanya tentang seberapa berhasil bisnis kita. Tuhan tidak butuh kekayaan, karena Dia kaya sekali. Ia bisa membaut seseorang kaya. Dia tidak membutuhkan segala kekayaaanmu. Dia memberikan kita semangat sehingga kita bisa bekerja. Ia hanya bertanya tentang seberapa besar cinta kepada sesame kita. Jangan sekali-kali tidak bayar hutang kepada sesamamu. Bayar dengan menceritakan ke relasi binis , rekan kerja dan kepada siapapun yang belum percaya.

Thursday, October 31, 2013

Hati-Hati Gunakan Mulutmu

(tidak diedit)

Ev Susan M.

Yak 3:7-12
7  Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia,
8  tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.
9  Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,
10  dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.
11  Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?
12  Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

Suatu hari ada seseorang yang baik meninggal dan kemudian dibawa oleh malaikat Tuhan masuk ke surga. Di sana ia melihat banyak orang yang punya mulut dan gigi tetapi tidak mempunyai lidah. Akhirnya orang ini bertanya, “Mengapa mereka tidak punya lidah?”. Malaikat menjawab, “Mata ,hidung, kaki, tangan, dompet dan semuanya bertobat kecuali lidah , mulut dan bicaranya tidak bertobat. Ilustrasi ini hanya ingin menunjukkan bahwa,”Perkataan atau lidah adalah sesuatu yang sangat sulit dikendalikan (dijinakan).” Itu sebabnya Rasul Yakobus mengingatkan tentang bahayanya lidah.

Ada 2 permasalahan penting yang disoroti oleh Rasul Yakobus.
1.     Terjadinya pertikaian, perselisihan, permusuhan karena adanya kesenjangan hidup antara kelompok yang kaya dan yang miskin (kesenjangan ekonomi)  di mana kelompok yang kaya memandang rendah yang miskin dan sebaliknya (Yak 1 dan 2).
2.     Perselisihan, pertengkaran dan permusuhan di tengah komunitas orang percaya, disebabkan banyak orang yang menganggap dirinya lebih pintar / tahu lalu mengucapkan hal-hal yang membuat terjadinya permusahan. Sehingga Rasul Yakobus mengatakan pada pasal 3 ayat 1, “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.”. Rasul Yakobus tidak menolak dengan profesi guru yakni profesi yang memberi pelajaran kepada orang lain. Jangan mau jadi guru maksudnya jangan menganggap dirimu lebih pintar daripada yang lain sehingga sok mengkritik dan menghakimi orang lain. Banyak orang yang sering hanya omong kosong (omdo). Itu seringkali terjadi di kalangan guru agama Yahudi zaman dahulu. Mereka pintar secara teologi dan dianggap lebih pintar dari masyarakat tetapi yang diucapkan tidak sesuai dengan kelakuan. Rasul Yakabus pada ayat 2-8 memberikan beberapa analogi / contoh tentang bahayanya menganggap diri pintar dan tidak mengekang / mengendalikan / membatasi perkataan. Pada ayat 3 Rasul Yakobus mengibaratkan lidah itu seperti tali kekang yang kecil pada mulut kuda namun dapat mengendalikan kuda yang besar (mau ke kiri atau ke kanan) atau seperti kemudi kecil yang mengarahkan kapal yang besar (yang besar belum tentu mampu menguasai yang kecil). Sesuatu yang kecil ketika digunakan dengan baik, hasilnya baik dan sebaliknya. Analogi yang kedua, lidah itu ibarat api (ayat 4) dimulai dari kecil. Kerusakannya awalnya kecil (mungkin dimulai dari punting rokok) dan kemudian menjadi besar menyebabkan kerusakan. 

Manusia belum tentu menguasai dirinya sendiri atau lidah. Pada ayat 8, Rasul Yakobus mengatakan , “tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan”. Kejahatan lidah adalah sesuatu yang buas dan tak terkuasai, menakutkan. Rasul Yakobus mengatakan,”Lidah adalah sesuatu yang buas (menakutkan).” Rasul Paulus pernah mengatakan,”Aku adalah orang buas.” Dalam bahasa aslinya buas identik dengan penyakit jiwa yang tidak dapat dikendalikan. Yakobus orang belum percaya tidak dapat mengendalikan sebaik-baiknya karena tidak punya kuasa Tuhan. Masalahnya , kita tidak mau menggunakan kuasa yang diberikan Tuhan. Suami memberi julukan “bodoh” kepada istrinya juga sebaliknya sehingga membuat rumah tangga mereka menjadi tidak benar karena yang kumpul orang “goblok” dan “bodoh”. Julukan-julukan sebelum percaya Tuhan tidak terkendalikan. Lidah penuh racun yang mematikan. Lidah yang bisa dikendalikan ibarat racun mematikan diri kita, hati nurani kita, kepekaan kita, kebiasaan baik dan hubungan kita dengan orang lain.
Jemaat Kristen mula-mula menghadapi kaisar Romawi (Nero) yang jahat sekali. Ia menyebarkan fitnah terhadap orang Kristen dan ingin memusnahkan orang Kristen. Gosip itu diterima dan dipercaya sehingga orang Kristen ditangkap. Lalu ada yang dalam keadaan hidup kulitnya dicabut sampai mati, ada yang dibakar hidup-hidup, ada yang diikat pada wadah berpaku tajam dan mengalami siksaan yang sangat kejam. Hal ini diawali dengan perkataan yang tidak benar (fitnah) oleh sang kaisar.

Ada seorang bapak yang menjadi suami yang setia dari seorang istri. Ia menghadapi tuduhan perselingkuhan dan berusaha membela dirinya. Dengan kepintaran pengacara dari pihak pendakwa, akhirnya sang bapak menjadi tertuduh dan kalah sehingga dihukum masuk penjara. Istrinya menjadi kecewa dan sakit hati walaupun ia mempercayai sang suami. Akhirnya sang istri menderita penyakit dan meninggal dunia. Setelah suaminya bebas, dia tetap hidup sendiri (tidak menikah lagi). Suatu kali pengacara yang membuatnya masuk penjara, datang dengan tubuh yang sudah loyo karena sakit berat. Sebelum meninggal, ia datang meminta maaf karena ia tahu sang suami sebenarnya orang yang benar (tidak berselingkuh). Bahkan ternyata sang pengacara sendiri yang selingkuh. Sang pengacara terpaksa mengajukan tuduhan itu supaya ia tetap hidup bebas. Sang suami memaafkan si pengacara, namun ia mengatakan,”Apa yang kamu lakukan tidak membuat istri saya hidup kembali, tidak membuat istri saya percaya saya lagi 100%, tidak mungkin membuat orang-orang di kota itu serta merta berbalik percaya kembali kepada saya”.

Melontarkan perkataan yang tidak bertanggung jawab ibarat bulu ayam di kemoceng yang dicabut satu per satu lalu ditiup oleh angin kencang sehingga berhamburan kemana-mana. Bulu-bulu ayam tersebut kemudian sulit dan akhirnya tidak bisa dikumpulkan semuanya. Berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkannya? Berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki kata-kata yang dikeluarkan secara tidak bertanggung jawab?  
Suatu kali ada sepasang jemaat yang akan menikah dan sudah diumumkan di warta gereja. Lalu ada surat keberatan yang disampaikan ke majelis atas rencana pernikahan tersebut. Surat tersebut tanpa mencantumkan nomor urut dan ditulis tanpa nama sehingga seharusnya surat tersebut diabaikan. Kebetuan ada anggota majelis yang pernah memiliki masalah (bermusuhan) dengan jemaat yang akan menikah tersebut. Majelis tersebut kemudian memakai surat itu sebagai bahan untuk membesar-besarkan masalahnya.  Akhirnya keluarga calon pengantin menjadi kecewa dan sakit hati. Lalu mereka mencari gereja yang bisa menikahkan calon pengantin tersebut. Terakhir ke-25 anggota keluarga (dari sekolah minggu sampai jemaat umum) tersebut keluar dari gereja tersebut. Hal ini dimuai dari kata-kata dan perbuatan yang tidak bertanggung jawab.
Sehingga Rasul Yakobus menulis pada Yak 3:10 mengingatkan untuk tidak melakukan perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Jangan sampai dari mulut yang sama keluar berkat dan kutuk. Dengan lidah kita memuji Tuhan, jangan sampai memakai lidah untuk menghancurkan. Jangan kita ketawa sana-sini dengan seseorang namun di belakangnya menyebarkan gossip. Allah kita adalah Allah yang kudus sehingga sebagai anakNya kita juga harus kudus. Allah adalah sumber kehidupan kita. Seperti yang tertulis pada ayat 11-12 “Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.”

Tips (petunjuk) praktis bila ingin mengomentari sesuatu
1.     Ketika mendengar suatu berita, jangan cepat-cepat menyimpulkan atau memberi komentar. Dengarkan dengan jelas dan simak baik-baik.
2.     Gunakan 3 alat penyaring :
a.    Cari tahu apakah berita itu benar 100%. Karena ada berita yang setelah dikonfirmasikan kebenarannya kepada yang menyampaikannya hanya dijawab “Saya juga tidak tahu karena saya hanya mendengar saja”
b.    Apakah berita yang disampaikan itu baik dan positif? Kalau tidak baik  maka ini merupakan sinyal untuk kita berhati-hati. Biasanya kalau mendengar berita yang baik seperti khotbah , pendengarnya malah tidur, tetapi bila mendengar berita yang tidak baik atau gosip pendengarnya malah dengan semangat mendengarnya. Seharusnya disaring, apakah berita tersebut berguna atau tidak (membuat lebih baik),
c.    Biasakan diri untuk tidak menyampaikan sesuatu yang tidak kita tahu dengan jelas atau tidak berani kita sampaikan sendiri (jangan mengatasnamakan orang lain). Misalnya ada yang berkata,”Satu gereja tidak setuju.” Lalu siapa yang dimaksud dengan “satu gereja”? Padahal yang bicara hanya satu orang saja.
3.     Belajar untuk objektif. Isi pembicaraan benar-benar merupakan hal yang ingin disampaikan. Yang benar katakan benar, yang salah katakan salah. Jangan sampai kalau sudah tidak suka dengan seseorang, maka semua yang dikatakan orang tersebut dianggap salah. Itu sangat subjetif.

Demikianlah sebagian hal yang dapat dipelajari dari Kitab Yakobus yang banyak berbicara tetang hal-hal praktis dalam kehidupan. Isi surat Rasul Yakobus sederhana (tidak seperti surat-surat dari Rasul Paulus yang perlu dicerna secara mendalam) sehingga tidak perlu dipikir secara rumit.

Sunday, October 20, 2013

Dewasa di Dalam Kristus

Pdt. Djemy Andalangi S. Th

Roma 8:29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Pengertian Dewasa di Dalam Kristus
Pada Roma 8:29 dikatakan Allah memilih kita dengan kasihNya, kemurahanNya dan kebaikanNya supaya kita ditetapkan, ditentukan , diproses untuk menjadi serupa dengan Kristus. Artinya menjadi dewasa di dalam Tuhan, supaya Yesus menjadi yang sulung dan kita menjadi adik-adikNya secara rohani. Yesus yang sulung di antara banyak saudara, di hadapan Bapa di surga, malaikat dan Roh Kudus. Kita semua yang percaya dan menerima Tuhan Yesus menjadi saudara Yesus, bahkan kita menjadi adikNya. Ini luar biasa. Martin Luther mengatakan, “Orang percaya adalah Kristus kecil”. Menjadi serupa dengan Yesus dalam hal manusia batiniah, roh, karakter, pikiran, cara menjalani hidup ini harus serupa dengan Yesus. Karena Yesus ,seperti dikatakan di dalam Alkitab, adalah batu penjuru. Ketika kita mendirikan bangunan ada batu itu, yang menjadi ukuran bagi bangunan. Seluruh bangunan mengikuti standard itu. Ketika “bangunan” menjadi utuh (bangunan rumah Tuhan) Roh Allah dan jemaat Allah ada di dalamNya. Ketika kita percaya Tuhan, bertumbuh, lahir baru, melayani Tuhan dari waktu ke waktu , hidup kita harus bertumbuh. Dalam berbuat baik, ikutilah kebaikan Yesus yang luar biasa. Ia memberikan kebaikanNya kepada semua orang. Dia nyatakan kemurahanNya. Ini proses belajar dan bertumbuh setiap hari. Lakukanlah kebaikan mulai dari hal-hal yang sederhana. Saya orangnya cuek. Tapi ketika saya berjalan, saya berusaha belajar melihat , menyapa, tersenyum. Ketika perlu memberi, berilah. Ketika ada orang sungguh-sungguh minta tolong, tanyalah apa yang bisa dibantu lalu kita beri. Jangan ketika orang datang perlu bantuan dan kita bisa memberi tapi tidak member, maka ini adalah dosa. Firman Tuhan berkata, “Jika kau mampu melakukan yang baik tapi tidak dilakukan, itu dosa”. Maka kita terus belajar seperti Yesus, karena Ia batu penjuru. Hal ini tidak berarti kita tidak boleh belajar dari orang lain. Saya juga belajar dari hamba Tuhan dan jemaat yang saya layani. Namun belajar dari manusia, ada kekurangannya. Saya belajar di SAAT di mana ada hamba-hamba Tuhan terkenal seperti Pdt. Dr. Peter Wongso, Pdt. Hasan Sutanto,  Pdt. Buby Ticoalu dan banyak pendeta yang lain, mereka patut diteladani. Ketika saya pindah di Reform saya juga belajar dari Pdt. Dr. Stephen Tong dan Pdt. Yakub Susabda. Namun mereka juga memiliki kelemahan. Ada hamba Tuhan yang pemarah. Juga ada dosen yang walau sudah sekolah di luar negeri, menjadi doctor, kalau kasih ujian soal ujiannya sama seperti  5 tahun lalu. Saya pelajari soal-soalnya dan ketika ujian , soalnya sama semua sehingga saya hanya salah 1 soal. Dosen tersebut tidak selalu memberi yang terbaik. Menjadi orang Kristen seperti yang dikatakan pada Maz 84:7-8, “Orang percaya berjalan menuju ke Sion”. Hal ini berarti sepanjang jalan hidupnya, ia menuju ke rumah Tuhan. Perjalanan hidup kita. semakin hari semakin kuat. Dari kekuatan 1 menuju kekuatan yang lain. Meskipun fisik kita dengan bertambahnya usia melemah, tetapi hal rohani makin bertumbuh, makin kuat, makin serupa dengan Yesus. Itu artinya menjadi dewasa.

Ciri Orang Dewasa di Dalam Kristus
1.     Kuat di dalam Tuhan. Satu bulan lalu, Tuhan mengaruniakan kami seorang anak lagi. Waktu ia lahir, saya lihat wajahnya. Pipinya bulat seperti petinju, kuat. Tetapi ia masih bayi, masih lemah secara fisik. Perlu dirawat, makanannya harus dijaga dengan baik, diberi susu, supaya sehat. Ia masih lemah tapi tiap hari, saya lihat ia terus bertumbuh menjadi semakin kuat. Setelah 1 bulan, terus bertumbuh. Demikian juga hidup kita, terus bertumbuh , kuat di dalam Tuhan. Cirinya : tidak mudah tersinggung. Saya belajar dalam hidup ini suatu rahasia, kalau saya terus ingin maju di dalam TUhan, bertumbuh menjadi kuat, jangan gampang tersinggung. Gampang tersinggung merupakan ciri orang yang lemah secara rohani. Orang demikian tidak dipakai oleh Tuhan, tidak menjadi teladan. Kita harus menjadi kuat dalam Tuhan, di dalam kebenaran, kekudusan dan sifat-sifat Tuhan. Ini yang Tuhan inginkan. Beberapa waktu lalu, kami menghadapi masalah dengan adik saya yang seorang tentara dan mengikuti pendidikan komando pasukan khusus, orang yang biasa mengandalkan kekerasan. Waktu telpon, saya tegur dia. Dia tersinggung, telponnya tidak diangkat lagi. Saya kemudian belajar dan SMS , “Dik, abang minta maaf kalau sudah melukai hatimu. Tapi tolong angkat telpon, kita bicara baik-baik.” Dia angkat telpon saya. Juga dengan mama saya. Ia seorang pendoa. Doanya sederhana, “Tuhan berkati, lindungi anak-anak saya”. Ia rajin berdoa, sehingga saya diselamatkan dan dipakai oleh TUhan. Ini berkat mama saya. Ia orang saleh, dia jaga anaknya dengan baik. Perkataan dan perbuatannya sama. Walaupun saya sudah hamba Tuhan, ia tetap melihat saya sebagai anaknya, bukan hamba Tuhan. Saat ada masalah, saya nasehatkan dia. “Walaupun saya adalah anak mama tetapi saya hamba Tuhan , ada kata saya yang perlu mama dengar. Karena apa yang saya sampaikan itu berasal dari Tuhan karena sudah didoakan.” Mulai saat itu, ia tidak tersinggung. Demiian juga waktu menghadapi masalah besar dengan adik saya. Ketika bertumbuh, kita menjadi kuat dalam doa.

2.     Memiliki karakter serupa dengan Kristus. Mat 11:28-30, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.  Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.  Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.". Lemah lembut dan rendah hati merupakan karakter, sifat dari hati, pikiran dan seluruh hidup kita agar menjadi serupa Yesus. Orang yang lembut, gampang menerima teguran, menerima Firman, tidak gampang tersinggung. Kalau sudah lembut, maka sifat lain berumbuh, orang itu akan sabar. Hati kita agar dilembutkan dan dikoreksi oleh Tuhan, walaupun kita sudah tua. Ketika ada kebenaran disampaikan, kita bisa menerima, untuk membuat kita semakin lembut. Orang yang lembut adalah orang yang kuat. Orang lembut itu, batinnya kuat. Lembut itu sifat Tuhan. Orang yang keras, mempertajam prinsip yang salah, memiliki sifat dan hati yang kedagingan. Ketika hidup tidak sesuai prinsip Tuhan, maka kita menjadi pemarah. Ada saatnyaTuhan mengijinkan hati kita dihancurkan, mengalami masalah dalam hidup kita. Tuhan sedang membentuk kita untuk semkain serupa dengan Kristus. Ketika orang menjadi lembut, ia menjadi rendah hati, sabar, dan sifat-sifat lain bertumbuh dalam hidupnya. Saat orang lain dan keluarga melihat , ada gambar Kristus dalam diri kita. Beberapa waktu lalu, ada seorang teman ynag mengatakan, “Djem, sifat kamu jelas” Cara hidup kita terpampang. Lemah lembut, kesabaran harus menjadi sifat kita yang paling berarti sampai Tuhan memanggil, menjadi milik kita sampai berakhir. Menjadi orang Kristen yang rendah hati, lembut, menjaga hidup yang suci, mencintai perdamaian, harus bertumbuh dalam hidup kita. Kalau tidak kita menjadi orang Kristen yang (kelakuannya) tidak jelas. Suatu hari , saya menelepon ibu yang ditelantari suaminya. Dia berkata, “Semua hamba Tuhan sama.” Saya bilang, “Tidak.” Ada hamba Tuhan yang hatinya baik, ada yang duniawi. Ada hamba Tuhan yang sungguh-sungguh melayani  di gereja dengan penuh pengorbanan. Ini yang dirindukan. Supaya jemaatnya dibangun melalui khotbah, pelayanan dan hidupnya. Saya katakan , “Lihat diri saya!.” Ada hamba Tuhan katakan, “Jangan lihat saya, saya juga manusia.” Jemaatnya berkata, “Kami lihat siapa?” karena Tuhan Yesus tidak bisa dilihat. Seperti Rasul Paulus katakan, “Ikutilah aku karena aku mengikuti Kristus!” Orang Kristen seharusnya berani berkata, “Ikut saya, pikul salib”. Kebenaran, karakter, sifat Tuhan harus terlihat jelas dalam hidup kita. Ini yang disebut orang dewasa. Beranikah kita seperti itu? Itu bukan masalah berani, ini keinginan Tuhan. Ini yang ada dalam hati Tuhan agar kita rindu untuk terus bertumbuh dan hidup kita serupa Tuhan.

Bagaimana cara kita bertumbuh di dalam Kristus?
Bertekad untuk hidup tidak bercela. Maz 84:12 Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. Orang tidak bercela bukan berarti orang yang tidak punya cacat atau kekurangan. Orang tidak bercela maksudnya  orang yang rindu terus berutmbuh dalam sifat , karakter, pikiran seluruh hidup seturut Yesus. Ada kebaikan, kemurahan, kesucian, kebenaran yang terpancar dari hidupnya. Suatu hari saya melayani seorang Ibu. Ia punya masalah dengan suaminya dan mau cerai. Saya konseling. Saat pertama kali bertemu, dia memakai baju yang pendek. Pada pertemuan kedua, bajunya masih pendek. Saya katakan, “Ibu reflesikan iman ibu dari cara ibu berpakaian. Masa orang saleh, bajunya kependekan. Kalau duduk di gereja ditutup-tutupi karena kependekan.” Kalau punya anak demikian, tegur mereka. Saat ke gereja, hormatilah Tuhan. Pancarkan kemuliaan Tuhan. Harus sampaikan kebenaran itu. Saya terkadang sedih melihatnya. Cara hidup anak-anak muda tidak mencerminkan kehidupan Allah. Ketika bertekad untuk hidup kudus, tidak bercela, maka Allah memberkati kita. Kej 17:1 Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. Abraham hidup tidak bercela Abraham bertekad hidup benar, suci, sesuai firman Tuhan. Tidak menyembah berhala tapi mengandalkan dan mendengar firman Tuhan. Ia berdoa, bersekutu dengan Tuhan, mendengar firman Tuhan , mentaatiNya. Dalam seluruh hdiupnya dia belajar mentaati Tuhan. Ini ciri orang dewasa dalam Kristus. Suatu hari , Tuhan berfirman, “Abraham berikan anakmu , Ishak. Korbankan ia menjadi persembahan yang berkenan kepadaKu.” Permintaan kepada Abraham tidak gampang. Kalau Tuhan minta Sarah untuk dikorbankan, maka mungkin jawabnya, “Oh tidak apa-apa Tuhan.” Karena Sarah sudah tua dan bisa cari lagi. Yang baik , mentaati Tuhan walaupun sulit. Ketika mendengarkan firman Tuhan, ia taati dengan member persembahan seperti yang Tuhan inginkan. Ia menjalani hidupnya dengan tidak bercela selama hidupnya. Walaupun Abraham juga punya kelemahan. Contoh : waktu ke Mesir, ia ditanya oleh Firaun tentang Sara, ia berbohong. Atau Tuhan tidak menyuruhnya ke Mesir, tapi ia ke Mesir. Ini menunjukkan ada kelemahan tapi terus bertumbuh, jadi kuat, diberkati Tuhan. Demikian juga hidup kita, banyak kelemahan, kita terus bertekad menjaga kekudusan kita. Kita belajar untuk tidak melakukan dosa. Bila tidak atau kurang berdoa, itu dosa. Karena kalau kurang berdoa, kita menjadi orang lemah dan gampang jatuh dalam dosa. Ketika membangun hidup, saya berdoa , menjadi kuat di dalam Tuhan, mengalami kasihnya dan terus bertumbuh. Saya belajar mengampuni dan sabar. Suatu hari , anak saya sakit. Saya bawa ke rumah sakit. Saya berdoa, “Tuhan minta taxi yang terbaik”. Setelah naik taxi, saya katakan ke supirnya, “Saya mau ke rumah sakit X” tapi  tidak ada respon. Dia jalan terus. Saya katakan, “Sudah mau kelewatan, belok kiri.” Ia dengan kecepatan tinggi berputar, sehingga hampir terbalik. Saya katakan, “Stop saya mau turun!” Saya turun dan bawa anak saya. Dia turun dengan badannya yang besar, ia mau memukul saya. Saya katakan, “Bapa yang salah. Saya bawa anak saya yang sakit. Saya haya katakan untuk balik. Saya tidak takut dengan bapak.” Banyak orang datang mengerumi kami sehingga ia tidak berani. Kemudian ia balik ke taxinya dan jalan tanpa sempat saya bayar. Kemudian, setelah dari rumah sakit saya pulang. Saya berdoa, “Tuhan, saya sudah salah. Ampuni saya”. Saya belajar member pengampunan, memiliki hati yang lembut, belajar sabar. Demikianlah dalam hidup, kita harus punya tekad untuk memiliki hidup yang tidak bercela. Ini sifatnya Tuhan. Orang yang tidak bercela diberkati oleh Tuhan. Kasih yang luar biasa yang Tuhan berikan. Kita menjadi orang yang puas, tidak perlu mengandalkan kasih dari orang lain. Saya melihat diri saya sebagai orang yang dikasihi TUhan dan saya puas. Kita harus menjadi seperti itu. Penuh kemuliaan artinya sifat Yesus terpancar dalam hdiup saya. Ketika saya berkata, “Orang tahu siapa saya dan orang lain menghormati diri saya” maka sIfat Tuhan terpancar dari hidup kita. Itulah kemuliaan. Tuhan mulai mempromosi hidup seseorang, “ini anakKu, hambaKu.” Kebaikan artinya doa kita mulai dijawab Tuhan. Ini kehidupan doa yang indah. Orang yang rajin berdoa, akan menikmati doa, senang berdoa, dan memiliki kehidupan rohani dan iman yang bertumbuh. Memiliki perlindungan (perisai). Contoh : kemarin ada seorang ibu yang naik pesawat dari Soeta menju ke Medan. Waktu mau naik pesawat, cuaca gelap gulita dan angin bertiup sangat kencang. Lalu ia telpon minta didoakan. Saat pesawat mau take-off cuacanya berubah.  Akhirnya ia bisa menikmati kemurahan dan perlindungan Tuhan daalm perjalanan itu. Tuhan menjaga orang-orang yang hidupnya berkenan kepadaNya dan hidupnya tidak bercela. Ada seorang nenek, umur 75 tahun. Ia saleh , menjaga hidup dengan baik, hidup suci, menjaga perkataan, pikiran, hidupnya sesuai dengan firman Allah. Suatu malam ia tidak bisa tidur walau sudah mau pk 3 pagi. Lalu ia berdoa. Setelah itu ia melihat dari kaca, ada 2 orang perampok bersenjata yang mau merampok rumahnya. Ia membuka pintu mempersilahkan , perampok masuk. Ini Ia berakata, “Dengar baik-baik. Kalian berdua mau merampok rumah saya. Saya tidak takut dengan senjata kalian. Karena malaikat menjaga rumah saya. Simpan senjata kalian baik-baik. Silahkan duduk, saya mau buatkan roti dan teh. Lalu ia hidangkan roti, teh dan susu. Sambil makan, ia berkata, “Dengarkan baik-baik. Pertama kalian harus bertobat, kalau tidak bertobat , maka kalian mati.” Keduanya tidak jadi merampok dan hanya mendengar firman Tuhan , makan roti, minum susu, kopi. Lalu keduanya pulang. Satu perampok itu kemudian bertobat dan menjadi hamba Tuhan. Sedangkan perampok yang tidak bertobat, beberapa tahun kemudian dalam suatu perampokan ditembak mati polisi. Saat saya membaca kesaksian ini dalam hati saya berkata, “Inilah orang Kristen. Ia memiliki kekuatan batin, iman, rohnya. Ia tidak takut. Ia tetap kuat meskipun menghadapi kesulitan.” Karena ia tahu ia hidup benar, tidak bercela, menyenangkan Tuhan. Ia tahu dalam hatinya Tuhan memberkati, menjaga, melindungi dia dalam hidupnya.