Friday, May 10, 2013

Kenaikan Tuhan Yesus

Ev. Anky Hitro

Kis 1:6-14
6   Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?"
7  Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.
8  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
10  Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
11  dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."
12 Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.
13 Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.
14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

Pada ayat 6 , murid-murid Tuhan Yesus bertanya, "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?"
Apakah Tuhan mau memulihkan kerajaan Israel saat ini yang kelihatan? Ada 2 fokus yang dipikirkan murid-murid Tuhan Yesus sewaktu bertanya yakni :
1.       Maukah Engkau pada masa ini (now=present)
2.       Memulihkan kerajaan Israel yang ada di dunia yang kelihatan mata.
Sadar tidak sadar anak-anak Tuhan hari ini sering terjebak pada 2 fokus ini. Kita berpikir tentang sekarang (now). Hari ini kalau sakit, saya minta disembuhkan hari ini. Kalau tidak punya pekerjaan / pacar atau sedang bermasalah, hari ini juga pekerjaan ;/ pacar / masalahnya minta diselesaikan. Sehingga orang Kristen dan orang dunia tidak berbeda, fokusnya sekarang!
Demikian juga “memulihkan kerajaan Israel” begitu penting. Bagi mereka kerajaan Israel kelihatan sebagai sesuatu yang kelihatan mata (secara fisik terlihat).
Atas pertanyaan muridNya ini, Yesus menjawab pada
-          ayat 7, "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya”. Persepektif waktu yang ditanya murid dijawab dengan persektif waktu dari Bapa di surga. Kalau hanya fokus pada masa kini, Yesus menjawab bukan masa sekarng atau saat ini. Tetapi berbeda. Bahkan ada tertulis bagi Tuhan 1 hari bagai seribu tahun.
-          Ayat 8. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  
Saya lahir bukan dari keluarga Kristen, saya baru menerima Yesus pada umur 18 tahun kurang sedikit. Apakah Yesus mati bagi saya, menebus dosa saya, agar supaya saya sama hidup seperti orang dunia? Kalau Yesus mati bagi saya supaya hidup sama dengan orang dunia, maka percuma saja. Kalau Yesus mati bagi saya hanya untuk saat ini (present) , di tempat ini saja (here) maka percuma saja. Yesus menembus dengan jawaban tadi. Engkau tidak perlu tahu tentang masa dan waktu yang ditetapkan Bapa. Yang engkau perlu tahu adalah kalau Roh Kudus turun ke atasmu engkau menerima kuasa. Ini kalimat yang saya suka. Roh Kudus akan membawa kita menembus Yerusalem, Yudea, sampai ke ujung bumi. Jikalau hari ini ada 1 saja orang Kristen yang mendapatkan firman ini : saudara ditebus oleh Kristus bukan untuk saat ini dan di sini, tetapi ditebus untuk masa yang ditentukan dan menembus Yeruselam, Yudea sampai ke ujung bumi. Kekristenan tidak diukur dengan sebuah kotak. Kekritenan tidak dibatasi oleh sebuah tembok. Pelayanan tidak pernah boleh diukur pakai sebuah kotak. Pelayanan tidak pernah diukur dengan sebuah tembok. Pelayanan idak pernah boleh dikukur dengan hanya saat ini saja. Pelayanan dari kerja Kristus adalah sebuah karya yang menembus saat itu. Kalau pelayanan Kristus diukur saat itu dan disitu maka Dia gagal. Kalau Yesus diukur pakai kotak waktu , Dia gagal. Hari ini saya membawa paling tidak ada 1 orang yang mengerti mengapa hadir di kebaktian Kenaikan Tuhan Yesus. Barangkali kita hadir bukan saja memikirkan sebuah kotak dalam hidup, bukan saja  sebuah tembok hari ini, dan sangat mungkin sekali hadir bukan saja untuk sebentar saat ini saja.

Ayat berikutnya ,ayat 9, Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Apa beda guru yang bagus dan tidak bagus? Salah satunya, guru yang ngajarnya tidak bagus, dia hanya berbagi informasi dan mungkin hanya kalimat-kalimat. Tanpa intonasi yang baik , tanpa bahasa tubuh yang baik, tanpa ekspresi , tanpa mimik wajah dan tanpa tindakan-tindakan dan yang paling jelek adalah apa yang dikatakan, dia sendiri tidak lakukan. Itu guru yang jelek. guru yang baik bukan saja transfer kalimat tapi waktu mengajar , memberitahu dengan intonasi dengan bahasa tubuh, dengan mimik wajahnya, yang paling hebat dari seroang guru adalah dia melakukan apa yang dia katakan. Hari itu dia berkata begini. “Mengenai masa dan waktu dalam kekuasaan Bapa engkau tidak perlu pikirkan. Tetapi engkau hanya menerima kuasa kalau Roh Kudus turun kea as kamu menjadi saksi di Yerusalem, Yudea dan sampai ke ujung dunia. Lalu kumpul lagi, makan-makan, urusin kerajaan Israel.” Murid-murid ini  akan berpikir gurunya aneh, hanya urusi gini-gini saja. Tunggu setiap hari hanya urusan Israel, satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun hanya mengurusi kotak-kotak itu saja. Kalau Yesus seperti itu maka Ia adalah guru yang jelek. Guru yang gagal, guru yang buruk. Kita bersyukur Yesus tidak begitu. Demontrasi yang ajaib saat ini di suasana yang terbuka.
Saat kita mungkin sedang berpikir saat itu, “Kalau gede punya pacara menikah tidak ya? Dapat pekerjaan bagus tidak? Kalau anak saya menikah, anak saya baik-baik? “ Saat kita pikir lahiriah saat itu, Yesus bilang, “mengenai masa dan waktu engkau tidak perlu pikirkan karena telah ditetapkan Bapa bagimu, tetapi kamu akan menerima Roh Kudus atas kamu dan waktu Roh Kudus turun atasmu kamu akan menembus masalah pacaran saja. Kamu menembus pekerjaan, pernikahan dan punya anak, menembus urusan kotak-kotak itu lagi, waktu Roh Kudus turun atas mu kamu menembus keluar kotak itu. Engkau menembus keterbatasan itu. Setelah Dia ngomong ia melayang ke udara. Ayat 9 sesudah Dia mengatakan demikian (itu kalimat terakhir waktu Dia injak bumi), kalau di lapangan terbuka, waktu Yesus bicara lalu naik, orang tunggu setelah naik mungkin turun lagi. Namun Yesus naik….. dan tidak turun-turun lagi. Saya membayangkan suasana yang begitu fenomenal , tidak pakai turbo, tapi ia naik perlahan-lahan seperti melepas balon naik terus dan bisa dilihat terus. Yesus naik terus dilihat dengan mata. Yesus seukuran kita selesai bicara naik terus dan terlihat makin kecil. Alkitab menulis , naik sampai menebus awan. Yesus bilang, kita bisa sampai ke ujung bumi. Kita kalau dipenuhi Roh Kudus bisa menembus batas negeri. Yesus mendemontrasikan menembus luar bumi. Yesus mengatakan, Dia sendiri menembus luar bumi, lalu awan menutup dan Dia hilang.
Kalau orang Kristen tidak punya mata iman yang baik, ini jadi bahaya. Saat saya sakit dan doa tidak sembuh-sembuh, maka akan bertanya, “Yesus dimana?” Jika saya tidak punya pekerjaan, lalu berdoa dan tidak dapat-dapat, “Tuhan Yesus dimana?”. Anak saya tidak dapat diatur, pergaulan buruk, “Yesus dimana?” Yesus ada di luar bumi. Dia menembus awan lalu murid-murid melihat terus.
Ayat 10. Murid-murid lihat terus. Berapa lama? Saudara pikirkan tentang kerjaan, pacaran, pernikahan, anak, punya kebencian, dendam simpan berapa lama? Punya kekecewaan, kepahitan hidup, dosa berapa lama disimpan? Murid-murid lihat terus ke atas. Berapa lama? Kalau Alkitab selesai sampai di situ, murid menatap langit lalu titik. Selesai. Mereka tidak melihat Yesus, tetapi melihat awan. Tapi satu jam lalu, Tuhan Yesus ada di sini. Dua jam, 3 jam lalu Yeuss masih di sini, lalu ke mana? 2 , 3, 5 hari ditunggu juga tidak keluar. Yesus memberkati kita, waktu sakit disembuhkan namun tidak selalu begitu. Kalau Yesus pernah memberkati tertentu, maka tidak selalu pakai cara itu. Kenaikan Tuhan Yesus ke surga , saya berdoa masih ada 1 orang yang menyadari bagaimana perspektif iman kita kepada Tuhan. Kenaikan Kristus ke surga harus menembus perseptif dunia kita. Karena Yesus bukan lagi memimpin dari bumi tapi memimpin dari surga. Cara berpikir kita, bukan hanya saat ini tetapi saat yang kekal. Hidup kita bukan melulu memikirkan kotak yang ada sekarang dan here (di sini), hidup kita harus menembus kotak tembok untuk memikirkan apa yang TUhan mau, sampai suatu hari kita menembus bumi dan kembali ke sorga selama-lamanya.
Saya berharap bisa berbisik kepada satu per satu orang, sungguh-sungguh. Jangan hanya hidup hanya untuk saat ini. Kita ditebus Tuhan Yesus untuk menembus saat ini supaya kita hidup kekal selama-lamanya.
Kedua. Jangan hidup hanya pikirkan kotak batasan hidup kita, itu terus yang dipikirin. Yesus menebus kita untuk menembus kotak kita untuk hidup sesuai dengan panggilan kita.
Maka Tuhan kirim malaikat bilang, “Apa yang kalian tunggu?” Malaikat diutus Tuhan bilang tidak perlu tunggu, nanti akan kembali lagi. Begitu Dia pergi begitulah Dia kembali. Tidak perlu ditunggu. Sadari, dalam hati kita sekarang ada Roh Kudus yang punya kuasa yang membuat kita tembus Yerusalem, Yudea dan ujung bumi. Kalau Tuhan tidak suruh kita tembus sesuatu, kembalikan kepada Tuhan biar Tuhan yang urus, tapi kalau Tuhan suruh kita urus sesuatu jangan urus hanya untuk saat ini saja, tetapi marilah urus bersama dengan Roh Kudus, urus sampai nilai yang kekal dan itu akan mempengaruhi keluar dari tembok. Lepaskan apa yang tidak perlu diurus. Kita akan urus, yang Tuhan suruh kita urus. Saat kita urus pekerjaan Tuhan bersama Roh Kudus, maka kita akan tembus waktu dan terus melayani sampai kita pulang ke surga , itu yang Tuhan mau. Seumur hidup tidak pernah menyesal jadi orang Kristen. Karena kita lepas apa yang tidak perlu kita pegang, tetapi bersama Tuhan. Khusus itu panggilan hidup. Satu-dua orang pikirkan , peka , maka lepaskan yang ada sekarang dan jawab panggilan itu. Khusus untuk mereka yang punya panggilan khusus, ambil itu. Lepaskan yang lain. Jangan kuatir, takut, Tuhan urus yang kita lepas itu. Percayalah. Secara umum, Yesus bicara pada Mat 6, “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semuanya akan ditambahkan.” Buat orang Kristen tidak perlu pusing memikirkan tempat tinggal , itu Tuhan yang urus. Kita dipanggil untuk mencari kehendak Tuhan dan hidup di dalamnya. Untuk semua orang Kristen yang hidup saat ini, saya ingin berdoa untuk 1-2 orang yang sedang memikirkan sesuatu dan ada panggilan, lepaskan sesuatu itu. Kiranya Tuhan kasih kepekaan , bila itu bukan panggilan Tuhan lepaskan biar Tuhan yang urus. Begitu selesai malaikat berkata, murid-murid pulang.

Ayat 14 mereka bersehati dan berdoa. Mereka kumpul, sehati, doa ,mencari kehendak Tuhan, rencana Tuhan, cari apa yang Tuhan mau untuk masa depan. 10 hari kemudian, Tuhan kirim Roh Kudus menembus batas. Lengkap. Komplit. Tidak ada lagi yang kurang. Perfect semuanya. Siapa pun yang punya Yesus tembus bumi masuk surga. Jadi jangan kuatir bolak-balik sesuatu yang sudah pasti. Bersama Yesus kita tembus bumi. Mari kita berdoa, apa yang Tuhan panggil untuk 1-2 orang siapapun yang punya panggilan khusus itu. Namun buat kita semuanya, mari kita cari kerajaan dan kebenaran Tuhan. Tuhan memberkati.

Tuesday, May 7, 2013

Komunitas yang Saling Memberkati

Pdt. Lim Ie Liong

1 Petrus 3: 8-12
8   Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,
9  dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:
10  "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
11  Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.
12  Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."

Pendahuluan.
       Hari ini perkataan “Tuhan memberkatimu”  menjadi hambar dan sekedar basa-basi di antara orang Kristen, tanpa kita memahami maknanya. Sehingga tidak terjadi kehidupan jemaat  yang seharusnya saling memberkati.  Jemaat yang diberkati Tuhan tidak menyalurkan berkatnya kepada saudara-saudar seiman, sehingga jemaat tidak merasakan hubungan yang  saling memberkati.
Kata “Memberkati” artinya  memohon kepada Allah dengan kasih karuniaNya, untuk dicurahkan kepada semua orang , termasuk orang yang melakukan kejahatan kepada orang Kristen (konteks di surat Petrus ini, dimana orang Kristen diaspora/perantauan sedang dalam penderitaan /penganiayaan karena mengikut Kristus). Surat Petrus ini ditulis kepada orang-orang Kristen yang sebagai pendatang  tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia kecil dan Bitinia (1 Pe.1:1).  Orang-orang Kristen pada waktu itu menghadapi berbagai  penderitaan karena mereka orang Kristen.  Dalam keadaan yang sedemikian Rasul Petrus  memerintahkan agar mereka saling memberkati. (lihat ay.9 janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dngan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil , yaitu utnuk memperoleh berkat).

Apa itu KOMUNITAS?
        Komunitas: suatu tempat di mana dan dengan siapa orang-orang dapat berhubungan, member kontribusi, dan mempunyai rasa memiliki.        Komunitas mungkin merupakan keinginan terbesar  yang  tidak dapat ditemui oleh orang-orang dalam kebudayaan kita. Lebih dari apapun juga, gereja kecil dan ibadahnya merupakan ukuran yang tepat dalam menyediakan hal-hal tersebut. Contoh: sebelum memulai ibadah, memberikan salam terlebih dulu, suasana kegembiraan, kehangatan , serta kepeduliaan tercipta. Dalam survey ibadah kami, waktu kegembiraan dan kepedulian merupakan komponen tertinggi kedua dalam ibadah. Para pengunjung sering menemukan diri mereka terbuka kepada orang yg beberapa menit sebelumnya tampak sebagai orang asing. Rendahnya tingkat anggota/jemaat yg keluar dari komunitas jemaat kami merupakan bukti dari tingginya tingkat persekutuan kami. (dikutip dari buku “Gereja yang Hidup”, ditulis oleh David R. Ray).

1.       HIDUP YANG SALING BERDAMAI.
Dahulu kita orang berdosa, yang  ketika kita bertobat dan percaya pada Tuhan Yesus , kita berdamai dengan Allah oleh penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib, sehingga kita memiliki damai sejahtera, agar kita dapat berdamai juga dengan sesama kita. (Matius 5:9 - Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka  akan disebut anak-anak Allah).
Disini Rasul Petrus  menekankan  mereka yang berbalik dari dosa perkataan dan perbuatan serta mencari damai sejahtera  akan mengalami:
a)       Hidup yang penuh berkat dan perkenanan Allah.
b)       KehadiranNya yang dekat dengan pertolonganNya  dan Kasih KaruniaNya ( 1 Petrus 3:12).
c)       Jawaban Allah atas doa mereka. (bnd. Yak. 5:16; 1 Yoh.3:21-22).
       Hidup yang saling berdamai karena  kita sudah berdamai dengan Allah, maka kita dapat berdamai dengan sesama kita, terlebih lagi kita sebagai jemaat dalam komunitas, seharusnya hidup saling berdamai, sehingga kita dapat memberkati.

2.       HIDUP YANG SALING MENGASIHI.
Yohanes 13:35 – dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. Saudara kita dapat saling memberkati, kalau kita hidup saling mengasihi.  Lihat ay. 8. Rasul Petrus memerintahkan … hendaklah kamu semua seia sekata (satu tujuan) , seperasaan, mengasihi saudara2, penyayang (belas kasihan), dan rendah hati. (lihat ayat.9 jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, caci maki …dst).Disini kita bisa menjadi berkat satu dengan yang lain di mana komunitas jemaat yang saling mengasihi, satu tujuan dan satu perasaan memiliki belas kasihan. Dan satu karakter yaitu rendah hati. Saudara orang yang rendah hati dapat memberi / membagi kasih kepada saudara-saudara yang membutuhkan kasih atau belas kasihan.
Dalam komunitas jemaat di mana memiliki tinggi hati / kesombongan / gengsi , seringkali timbul perselisihan / pertengkaran seperti jemaat di Korintus, sehingga di 1 Korintus 13 , Rasul Pualus berbicara tentang KASIH.dan 1 Kor. 14:1, Rasul Paulus berkata: Kejarlah kasih itu,…… Saudara komunitas jemaat yang saling memberkati, apabila hidup dalam komunitas jemaat yang saling mengasihi.



3.       HIDUP YANG SALING MEMBAGI (SHARE).
       Saudara komunitas jemaat yang saling memberkati, karena jemaat saling membagi berkat kepada saudara-saudara seiman. Tanpa berbagi (share), maka tidak mungkin kita dapat memberkati, agar saudara seiman dapat memperoleh berkat.  Baik berkat rohani maupun berkat jasmani/materi.
Jemaat mula-mula setelah hari Pentakosta, mereka hidup yang saling berbagi berkat Tuhan yang mereka telah terima.  (lihat. Kisah 2:44… semua orang yg telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.( Ay. 45….. menjual, lalu membagi-bagikannya sesuai … keperluan masing2).Apa yang terjadi , jika komunitas jemaat yang saling memberkati, bukan saja menjadi berkat bagi saudara-saudara seiman, tetapi juga menjadi kesaksian/berkat kepada saudara-saudara yg belum percaya.
Perhatikan ayat 47…. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari ada orang yang diselamatkan.
       Hal yang rohani, yaitu jika berkat-berkat rohani, pengalaman bersama dengan Tuhan kita sharingkan/bagikan melalui kesaksian , sehingga kita dapat menjadi berkat bagi saudara-saudara seiman,  Sehingga kita saling menguatkan dan membangun iman rohani kita.

PENUTUP:
       Marilah jemaat kita menjadi komunitas  yang saling memberkati, sehingga berkat yang kita telah peroleh dari Tuhan dapat dibagikan kepada saudara-saudara seiman, sehingga saudara-saudara seiman mendapat berkat melalui kita (baik berkat rohani maupun berkat jasmani/materi bagi mereka yang  membutuhkan pertolongan). Tuhan mau memakai kita yang diberkati untuk menyalurkan berkat-berkat Tuhan yang telah kita terima. Janganlah menjadi orang Kristen yang hanya menikmati berkat-berkat Tuhan untuk diri sendiri, tetapi bagikan kepada saudara2 seiman, sehingga kita menjadi komunitas jemaat yang saling memberkati. Kiranya Tuhan memberkati FirmanNya yang telah kita renungkan. Amin.


Sunday, April 28, 2013

Penderitaan yang Memurnikan dan Mendewasakan



Sekar Wulan

Ayub 42:1-6,
1   Maka jawab Ayub kepada TUHAN:
2  "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.
3  Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.
4  Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.
5  Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
6  Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

1 Perus 1:6-9
6  Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
7  Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
8  Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,
9  karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

Pendahuluan
Benarlah yang mengatakan, bahwa hidup kita bukanlah produk yang “sekali jadi”, melainkan suatu “proses menjadi”. Bergerak. Berkembang. Bertumbuh. Berubah. Dalam setiap proses pertumbuhan ini, satu unsur tak terhindarkan: kesakitan. Bertumbuh itu menyakitkan. Membingungkan. Menimbulkan ketidakpastian. Penderitaan adalah proses yang akan dialami oleh setiap roang percaya untuk berubah dan berbuah ke arah yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan dalam kehidupan manusia. Yang tidak dapat dipungkiri, kita memang manusia yang sejak awal telah jatuh ke dalam dosa dan menerima penderitaan itu sebagai ganjaran. Tetapi dibalik setiap penderitaan yang kita alami, apakah Tuhan tidak pernah peduli? Apakah Tuhan tidak memiliki kebaikan-kebaikan di dalam penderitaan yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Pergumulan Hidup (Ayub 42:1-6)
Ayat-ayat ini menunjukkan suatu perubahan yang total di dalam pengalaman seorang yang saleh. Ayub adalah seorang saleh yang di zaman yang sangat awal, dan ia mungkin lebih dahulu ada daripada Musa. Ayub hidup di zaman yang sangat kuno, ia tidak hidup dalam arus orang Yahudi dan tidak menerima Perjanjian Lama (Hukum Taurat). Namun ia memiliki pengalaman yang ajaib dengan Tuhan. Ia mengalami pencobaan dari iblis. Pencobaan itu diijinkan oleh Tuhan dan dipakai oleh Tuhan sebagai ujian. Jadi, pada satu pihak ia menerima pencobaan dari iblis, di pihak lain Allah menggunakan pencobaan itu sebagai ujian bagi Ayub. Hal inilah yang menimbulkan konflik iman di dalam diri Ayub sehingga ia mengalami pergumulan yang sangat berat. Pergumulan yang paling berat adalah tuduhan dari mereka yang menganggap bahwa penderitaannya pasti karena akibat dari perbuatan dosanya yang tersembunyi. Pergumulan ini terus berlangsung dan Tuhan sepertinya tidak memberikan jawaban apa-apa. Seolah-olah membiarkan orang itu terus bergumul. Di tengah pergumulan itu, terjadi perdebatan antara Ayub dengan ketiga temannya. Ayub, satu orang melawan tiga orang temannya. Sampai pada akhirnya terbukti bahwa ketiga orang teman Ayub tidak mengerti rencana Allah yang jauh melebihi konsep manusia. Ayub sepertinya tidak menerima suatu imbalan yang umumnya dimengerti oleh manusia. Pada saat ia mengalami kesulitan tersebut, seharusnya ia mendapatkan penghiburan dari mereka yang sehati dan dekat dengannya. Tetapi justru sebaliknya yang Ayub dapatkan: fitnahan, kritikan, kutukan dari mereka yang seharusnya paling mengerti keadaannya.
Kalau kita perhatikan, ketiga teman Ayub sebenarnya begitu mengasihi dan memperhatikan Ayub. Sehingga begitu mereka mendengar bahwa Ayub sedang menghadapi musibah, yaitu sepuluh anaknya mati, seluruh hartanya hilang dan Ayub sendiri menderita penyakit yang berat, mereka datang dari tempat yang jauh untuk menghibur Ayub. Selain itu, mereka tidak menghibur Ayub dengan kata-kata kosong belaka. Disinilah letak kesulitan kita. Ketika kita melihat orang lain mengalami kesulitan dan bencana, seringkali kita dengan mudahnya berkata, “Jangan sedih, jangan menangis, banyaklah berdoa. Tuhan tahu, serahkan saja pada Tuhan.” Perkataan yang membosankan ini tidak akan pernah memberikan penghiburan yang sesungguhnya. Itulah sebabnya seringkali ketika kita menghibur orang yang sedang dalam kesulitan, makin kita hibur ia justru makin merasa jengkel dengan kita. Karena kita belum pernah sungguh-sungguh mengerti kesedihannya.
Akan tetapi, ketika ketiga teman Ayub datang untuk menghibur Ayub, mereka menghibur dengan cara yang sangat berbeda, yaitu dengan berdiam diri. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun, tidak menegur ataupun berbicara. Mereka duduk di samping Ayub selama 7 hari 7 malam. Ini semacam pendampingan atau simpati yang dinyatakan dengan berdiam diri dan di dalam kesunyian. Penghiburan semacam ini sangat berarti dan merupakan sebuah pernyataan simpati yang luar biasa. Namun, pada akhirnya mereka juga sudah tidak tahan lagi. Setelah 7 hari 7 malam, mereka mulai berbicara untuk mengkritik Ayub. Semuanya ini menandakan bahwa simpati dan cinta kasih manusia bagaimanapun besarnya, tetap terbatas.
Jangan berharap bahwa orang yang paling dekat dengan saudara akan bisa mengerti segala kesulitan dan kesusahan yang kita alami. Istri Ayub, seorang yang seharusnya paling dengat dengannya, justru berkata: “Kalau Tuhanmu hidup mengapa anakmu semuanya mati? Mengapa keadaanmu menjadi seperti ini? Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” Orang yang paling dekat dengan Ayub justru mengucapkan perkataan seperti itu.
Ketiga teman Ayub juga mulai menuduh dan menghakimi Ayub. Mereka berkata bahwa jika Ayub adalah orang yang cinta Tuhan, dan sekarang mengalami kemalangan seperti ini, maka pastilah ada dosa-dosa yang tidak kelihatan.
Tuduhan ini muncuk karena mereka mempunyai konsep bahwa Allah adalah Allah yang Maha adil, dan Allah yang Maha adil tidak mungkin melakukan suatu perbutan yang tidak adil. Menurut mereka, Ayub pasti teah berbuat sesuatu yang mengakibatkan dosa, sehingga oleh karena dosa itulah maka ia dihakimi oleh Allah.
Memang benar bahwa Allah adalah Allah yang Maha adil. Memang benar bahwa apa yang Allah kerjakan tidak mungkin berdasarkan ketidakadilan. Konsep ini memang tidak dapat dipisah-pisahkan. Tetapi ada satu kalimat yang belum mereka katakan, dan kalimat itu dikatakan oleh Ayub (42:3 - baca).
Kalimat ini menyatakan tentang kehendak Allah yang tersembunyi, yang melampaui segala kemungkinan pengertian kita. Kehendak yang tersembunyi dan misterius dari rencana Allah yang kekal, tidak mungkin kita mengerti seluruhnya.
Di tengah pergumulan hidup kita, kita perlu mengerti tentang poin ini. Jika tidak, maka kita akan selalu mengeluh dan bersungut-sungut, tidak puas, tidak rela taat, bahkan bisa meninggalkan Tuhan. kita akan terus bertanya, “Mengapa orang lain hidupnya lebih baik daripada saya? Mengapa orang lain tidak mengalami kesulitan seperti yang saya alami?”
Tidak ada orang hidup yang tidak merasakan kesulitan, tanpa air mata dan tidak mengalami ketidakadilan. Jika saudara tidak mau menerima fakta, maka saudara akan terus memikul salib yang tidak ada harganya. Semakin saudara marah, semakin saudara lemah; semakin saudara lemah, semakin saudara jengkel, dan akhirnya saudara akan terus berada dalam lingkaran pergumulan saudara.
Inilah titik bahaya bagi Ayub. Jika ia tidak berhasil keluar dari titik ini, maka dia akan menjadi orang yang mencela Allah, menjadi ateis dan menjadi alat di tangan iblis. Namun, akhirnya Ayub bisa keluar dan ia mulai melihat pemecahan masalahnya, yaitu pada Allah yang tidak dapat dimengerti oleh akal manusia (Trancendency of God).
Allah tidak boleh diukur dengan ukuran, atau dimasukkan ke dalam “kotak” rumusan, atau dikurung dalam prinsip yang dibangun oleh manusia. Di sinilah letak pemecahan masalah Ayub. Ayub mengerti bahwa Allah tidak dapat dimengerti sepenuhnya oleh manusia yang sangat terbatas. Oleh karena pengertian seperti inilah, maka Ayub bisa keluar dari lingkaran permasalahannya.
Kalau kita mempunyai pengertian tentang rencana dan kehendak kekal Allah yang misterius, yang jauh melampaui kemungkinan kita untuk mengerti, maka kita akan dilepaskan dari ikatan-ikatan pemahaman kita yang terbatas. Jika kita menerima dan menghadapi fakta dengan berani, dan kemudian mengaitkan fakta itu dengan rencana kekal Allah yang misterius, maka kita akan terlepas dari ikatan masalah dan pergumulan hidup kita.
Namun bagaimana kita dapat mencapai atau memperoleh keberanian untuk menghadapi kesulitan dan masalah hidup kita? Bagaimana caranya supaya kita dapat mempunyai kekuatan untuk menghadapi kesulitan yang menggerogoti iman kita sehingga kita tetap dapat hidup dalam sukacita?
Ini tidak mudah! Tetapi, inilah yang disebut hidup rohani, yaitu hidup yang menerima fakta dengan berdasarkan pengertian tentang rencana Allah yang melampaui pengertian kita dan menerima rencana Allah yang kekal dan yang misterius itu.
Ayub bisa mengakui ketidak mampuannya untuk mengerti rencana Allah yang msiterius, karena ia tahu bahwa Allah itu Maha kuasa. Ayub mengatakan, “Aku tahu, Engkau Maha kuasa (sanggup melakukan segala sesuatu).” Kita tahu Allah itu Maha kuasa, namun seringkali kita tidak mengerti arti sebenarnya dari penyataan itu. Pernyataan ini seringkalai hanya sekedar pengetahuan umum saja. Allah Maha kuasa artinya Ia menguasa segala sesuatu di dalam seluruh aspek hidup kita. Ayub melanjutkan, “Tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Terjemahan yang tepat, “tidak ada yang bisa merintangi-Mu.” Tidak ada orang yang bisa merintangi kehendak-Mu karena Engkau Maha kuasa.
Karena pengetahuan dan pemahaman kita telah dirusak oleh dosa, maka pengetahuan kita tentang Allah yang Maha kuasa juga rusak. Itulah sebabnya kita sering bertanya, “Kalau Allah itu Maha kuasa, mengapa ia tidak menyelamatkan saya? Mengapa Ia tidak menolong saya dan malah membiarkan saya dalam kesengsaraan ini?” Jika tidak ada yang bisa merintangi-MU, “Waktu Engkau mau menolong saya, Engkau dirintangi oleh siapa, sehinga Engkau tidak jadi menolong saya?
Jika Engkau benar-benar Maha kuasa, mengapa Engkau tidak menolongku? Jika Engkau menolongku, namun aku tetap menderita, maka bukankah hal itu berarti Engkau dirintangi?” Iman  kita mulai menjadi goncang. Apakah hal seperti ini pernah terjadi di dalam kehidupan saudara?
Apakah selama ini kemahakuasaan Allah membuat saudara bingung? Saudara dan saya bingung karena pemahaman dan pengertian kita telah rusak. Kita tidak mampu benar-benar mengerti kemahakuasaan Allah. Mari kita belajar dari Ayub.
Ketika Ayub sadar, ia mengubah semua situasinya dan mulai mengakui, “Engkau Mahakuasa, sebaliknya aku tidak mungkin mengerti.” Ini berarti sama dengan mengatakan, “Kemahakuasaan-Mu jauh melebihi rasioku.”
Kehendak dan rencana Allah yang kekal jauh melampaui kata-kata yang dapat diucapkan. Perbendaharaan kata yang ada tidaklah cukup untuk menyatakannya. Kehendak dan rencana Allah jaug melampaui perkiraan rasio manusia. Pengetahuan Allah melampaui semua kemungkinan pengetahuan kita. Kemahakuasaan Allah juga melampaui pengalaman dan emosi kita.
Itulah sebabnya Ayub mengatakan, “dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Ungkapan ini adalah sebuah kiasan, karena pada waktu itu, cara orang-orang yang tinggal di Timur Tengah, di dalam mengutarakan kesedihan yang begitu mendalam adalah dengan menaburkan abu di atas kepala, muka dan tubuhnya.
Apa yang Ayub sesali? Ayub menyesal karena dengan pengertiannya yang terbatas, ia sudah terlalu cepat menilai Allah, dan ia sudah berusaha memasukkan Allah ke dalam kotak logikanya sendiri. Ia juga sudah menyalahkan Allah dan tidak mau menerima fakta. Ia telah beranggapan bahwa jika Allah Maha kuasa, maka mengapa Dia menimpakan kesulitan itu kepadanya.
Tetapi sekarang dia sudah memahami bahwa pengertian seperti itu adalah salah dan ia sudah mengerti bahwa Allah melebihi pengertiannya. Oleh karena itu, sekarang ia tunduk pada rencana Allah, karena ia tahu bahwa kehendak Allah lebih tinggi dari pengetahuan dan pengertiannya. Perubahan semacam ini adalah suatu perubahan yang luar biasa.
Kunci perubahan ada dalam kalimat ini, “dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (46:5). Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang bersifat sangat pribadi, antara pribadi dengan pribadi.
Ayub berkata, “tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Bagaimana caranya kita memandang Allah? Kita melihat Allah bukan secara fisik, karena Allah itu Roh. Karena Roh Allah itu suci, maka hanya jika hati kita suci dan rohani kita murni, barulah kita dapat melihat Allah.
Tuhan Yesus mengatakan, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8).
Saudara lihat! Betapa pentingnya mengenal Allah secara pribadi. Bukan dengar dari perkataan orang lain, tetapi kita secara pribadi yang mengalaminya. Pengenalan Allah secara pribadi mempengaruhi seluruh kehidupan rohani kita dan sudut pandang kita dalam memandang hidup, masalah dan kesulitan yang kita alami.
Inilah hal yang paling penting yang harus kita cari dalam hidup kita, dan harus menjadi tujuan utama dalam hidup kita, yaitu mengenal Allah secara pribadi. Seorang teolog Finlandia mengatakan, “Mengenal Tuhan secara pribadi itu sangat pahit.” Pertama kali mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh secara pribadi, pengalaman pengenalan itu adalah pengalaman yang pahit. Tetapi banyak gereja sekarang berusaha supaya orang dapat mengenal Allah dengan pengalaman pertama yang manis.
Mengapa pengalaman pengenalan Tuhan secara pribadi merupakan pengalaman yang pahit? Mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh secara pribadi, berarti saudara dan saya harus melucuti/ menelanjangi segala topeng kemunafikan kita, dosa kita, kepalsuan kita yang selama ini menutupi hidup kita. Bukankah ini merupakan pengalaman yang pahit?
Biarlah Allah yang menlucuti segala topeng kemunafikan, dosa dan kepalsuan kita, sehingga kita benar-benar menjadi orang yang menganal Dia secara pribadi. Inilah kehidupan rohani yang sejati. Inilah yang harus menjadi tujuan utama dalam seluruh kehidupan kita.
Mengenal Allah secara pribadi inilah yang akan memampukan kita berjalan dalam kehidupan yang penuh dengan pergumulan, masalah dan penderitaan. Dengan telanjang secara rohani kita menyatakan diri kepada Tuhan, “Tuhan, jika Engkau mau menolong saya atau tidak menolong saya dari kesulitan, itu terserah pada kedaulatan-Mu.” Orang yang benar-benar mengenal Allah secara pribadi, dia akan mampu mengucapkan kalimat itu tanpa keraguan ataupun protes.
Ayub menerima fakta. Ayub tahu bahwa kematian anaknya, istrinya yang meninggalkannya dan penderitaannya, semuanya berada di dalam kedaulatan Tuhan. Ayub sadar bahwa kehendak Allah jauh melampaui pengertian manusia, dan Ayub pun menyesal karena kata-katanya yang bodoh. Sesudah terjadi penerobosan ini, maka Tuhan baru mulai menolong dia. Baru setelah Ayub sungguh-sungguh mengerti secara pribadi, maka kemahakuasaan Allah dinyatakan.

Ilustrasi: Pohon terkenal
Di California Selatan ada sebatang pohon yang terkenal di seluruh Amerika. Sepanjang tahun pohon itu dikunjungi ribuan wisatawan dari dalam dan luar negeri. Bentuk pohon itu sama sekali tidak sedap dipandang mata. Tingginya kurang dari 2 meter dengan batang agak pipih & melintir. Hanya sebagian cabang ditumbuhi daun, sedang bagian lainnya gundul. Pohon itu menjadi terkenal karena tumbuh di atas batu granit yang keras. Tingginya sekitar 100 mtr di atas permukaan laut, menghadang langsung Samudera Pasifik yang anginnya keras  mendera. Tidak ada pohon lain yang tumbuh di sekitarnya, kecuali pohon itu. Rupanya beberapa tahun lalu sebutir biji pohon terbawa angin, dan jatuh di celah batu granit yang ada tanahnya. Benih itu kemudian tumbuh, tetapi setiap kali batang muncul keluar, langsung hancur diterpa angin Pacifik yang kencang. Terkadang pohon itu tumbuh agak besar, tapi badai kembali memporakporandakann ya. Sekalipun demikian, akarnya terus tumbuh menghunjam ke bawah mencapai tanah melewati poros-poros batu granit sambil menghisap mineral-mineral di sekitarnya. Sementara itu batangnya tumbuh terus setelah berkali-kali dihancurkan angin kencang, makin lama makin kokoh dan liat sampai akhirnya cukup kuat menahan terpaan badai, sekalipun bentuknya tidak karuan. Oleh orang Amerika, pohon tersebut dianggap sebagai simbol ketegaran karena seakan-akan memberi pelajaran kepada umat manusia untuk tetap tabah dan gigih dalam menghadapi berbagai cobaan dan gelombang kehidupan.

ketika kita hidup di dunia ini, Tuhan tidak menjanjikan bahwa mengikut Dia, berarti kita akan bebas dari penderitaan, bahwa kita akan bebas dari kesusahan, tekanan, sakit penyakit, kelemahan. Dia tidak menjanjikan bahwa pekerjaan kita akan selalu lancar, bahwa semua orang akan menyukai kita, bahwa tidak akan ada persoalan hidup dalam hidup kita. Tetapi setiap kita sebagai orang-orang percaya didalam penderitaan terus belajar di proses menjadi seorang yang memiliki iman dan kesetiaan dalam Tuhan. melalu penderitaan, Tuhan memurnikan dan mendewasakan iman kita, semakin teguh dan semakin kuat di dalam dia.

Penderitaan mendekatkan kita kepada Tuhan, penderitaan memberitahukan kepada kita betapa kita ini lemah dan butuh bersandar kepada Tuhan dan bukan kepada diri kita sendiri.

Pergumulan hidup yang seperti apakah yang saat ini saudara dan saya hadapi? Bagaimana saduara dan saya hadapi pergumulan itu? Jika selama ini kita masih mempertanyakan kemahakuasaan Allah, dan ingin Allah segera menolong kita keluar dari pergumulan hidup kita, maka kita tidak akan pernah menjadi dewasa secara rohani.
Marilah kita mulai membuka diri kepada Tuhan, membiarkan Tuhan yang menelanjangi hidup rohani kita, pengetahuan dan pemahaman kita yang terbatas. Biarkan Tuhan yang menyatakan Diri-Nya secara pribadi kepada saudara, sehingga saudara juga dapat mengenal-Nya secara pribadi. Kejarlah hidup rohani yang baik, maka saudara dan saya akan mampu menghadapi pergumulan hidup dengan pertolongan dari Allah yang Mahakuasa dan tidak dapat dimengerti oleh keterbatasan kita. Amin.

Pada akhirnya kitab Ayub mengantar kita kembali kepada karunia Ilahi. Kitab Ayub mendorong kita agar memandang segala sesuatu dari segi ilahi, bukan dari segi manusiawi.

Iman berarti belajar mempercayai Allah dalam kegelapan, dalam ketidaktahuan, dalam bayang-bayang kegagagalan. Iman adalah pemberian Tuhan kepada kita agar kita dapat menerima ketidakpastian.