Sunday, March 24, 2019

Para Nabi & Raja pun ingin Melihat Sang Penebus





Ev. Putra Waruwu

Lukas 10:21-24
21  Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.
22  Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu."
23  Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.
24  Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."

Pendahuluan

              Tema renungan siang ini “Para Nabi dan Raja pun Ingin Melihat Sang Penebus”. Tema ini cukup panjang dan membuat kita berpikir. Kita akan bersama-sama belajar Firman hari ini dengan cara yang sederhana. Umumnya setiap orang akan tertarik ketika mendengar dan mendapatkan informasi tentang sesuatu yang mengesankan. Misalnya : ada info tentang tempat makan yang enak dan murah. Pasti ada orang yang tertarik dan kemudian bertanya, “Di mana? Kira-kira harganya berapa?” Yang kedua mungkin tempat nongkrong, berkumpul dan bercengkrama satu dengan lain.
              Rabu lalu setelah Persekutuan Doa, seorang jemaat mengajak ke sebuah rumah makan dan mengatakan bahwa restoran tersebut cocok digunakan sebagai tempat untuk kegiatan komsel. Hal-hal ini memang menarik dan membuat kita bertanya, “Tempatnya seperti apa? Suasana nya seperti apa?” sangat mengesankan dan menjadi bagian dari hidup manusia. Bila ada yang membuatnya tertarik maka ia akan berjuang untuk melihat hal tersebut.
2 minggu terakhir ini banyak penduduk DKI diberi kesempatan untuk mencoba MRT secara gratis. Mengapa orang-orang berbondong untuk mencobanya? Karena mereka ingin tahu seperti apa MRT itu. Saya dan mu-shi mencoba naik MRT dari Hotel Indonesia (HI)  sampai terminal Lebak Bulus yang ditempuh dalam waktu 30 menit. Banyak orang yang ber - swa-foto dan ngobrol. Kemudian ada yang membandingkan dengan MRT di Singapore. MRT di sana saat berjalan cukup besar bunyinya, sedangkan MRT di Jakarta masih halus suaranya. Yang paling penting adalah setiap orang punya keinginan untuk menikmati secara langsung. Kalau hanya mendengar dan tahu dari orang lain, sepertinya tidak sah dan afdol. Tetapi kalau sudah mencicipi , duduk, melihat dan  menikmati sendiri maka orang sudah merasa puas.

Bersyukur kepada Allah

              “Ingin” artinya mau melihat Sang Penebus tersebut. Tetapi yang menarik adalah apa yang Tuhan Yesus katakan, “raja dan nabi tidak bisa melihat Sang Penebus”. Lukas 10 adalah sebuah perikop panjang yang menceritakan kepada kita bahwa Yesus di awal pelayananNya mengutus 70 murid untuk melayani di berbagai kota yang ada. 70 murid ini diluar dari 12 murid yang ada, artinya mereka adalah murid-murid yang baru yang menjadi bagian dari kelompok Tuhan Yesus. Mereka diutus ke beberapa kota untuk menghibur, menguatkan yang lemah, menyembuhkan yang sakit dan menaklukkan segala kuasa di luar Tuhan Yesus. Itulah yang mereka lakukan. Setelah itu mereka kembali kepada Yesus. Mereka bercerita bahwa,”Kami telah melakukan pelayanan ini-itu. Puji Tuhan , segala kuasa di luar nama Yesus takluk kepada kami di dalam nama Yesus.” Berarti ada sebuah rangkaian pelayanan yang dapat dirasakan oleh orang banyak pada saat itu. Tapi Tuhan Yesus berkata, “Jangan bersuka cita karena kegelapan itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” Berarti keselamatan lebih jauh lebih besar dibanding kuasa yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya.
              Melihat itu, Lukas 10:20-24 adalah bagian di mana Tuhan Yesus bersyukur di dalam Roh Kudus kepada BapaNya di surga, Yesus berkata, “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa Tuhan langit dan bumi.” Ini menarik karena secara tidak langsung, Tuhan Yesus mengajarkan kepada 70 murid tersebut agar tidak lupa untuk bersyukur. Aku bersyukur kepada Bapa, Tuhan langit dan bumi. Karena semuanya itu Engkau dinyatakan bagi orang kecil tetapi Engkau sembunyikan kepada orang bijak.
              Saya pernah khotbahkan tentang orang kecil dan orang bijak (pandai). Yang dimaksud di sini adalah Injil tentang Keselamatan. Yesus berkata demikian padahal 70 murid itu adalah orang – orang yang secara pendidikan (intelektual) tidak pintar dan pengalamannya biasa. Orang-orang ini tidak masuk hitungan, golongan yang terbawah (hina-dina). Tetapi Allah mau memakai mereka (golongan ini) untuk menyatakan kuasa Allah. Bukan karena kepintaran dan kemampuan tetapi karena Tuhan ingin memakai mereka. Itu yang penting dan dinyatakan Tuhan kepada murid-muridNya saat itu.

Beruntung dan berbahagia orang yang menyaksikan kuasa Allah

              Pada ayat 23 Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya, : "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.  Setelah bersyukur, Yesus berpaling ke murid. “Bersyukur , dan beruntunglah orang yang melihat apa yang kamu saksikan di dalam iman kepada Tuhan” artinya beruntunglah orang yang telah menyaksikan kuasa Allah melalui pelayanan murid-murid tersebut. Ketika mereka menyembuhkan penyakit, makan bersama, memberitakan firman Tuhan, menaklukkan setan-setan  atau ditolak di dalam kota maka itu merupakan kesempatan yang Tuhan ijinkan agar para murid bisa melewati masa sulit sedemikian. Itu peristiwa yang bisa disaksikan oleh para murid. Butuh perjuangan dan pengorbanan untuk menjalankan apa yang Tuhan inginkan. Dari apa yang disaksikan para murid, ada orang-orang di sekitar mereka yang turut menyaksikan peristiwa itu. Ketika murid-murid tahu bahwa iblis kalah dari Tuhan Yesus, disaksikan oleh para murid dan juga oleh orang-orang yang ada pada saat itu. Yesus berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.” Keselamatan itu dapat disaksikan oleh semua orang dan didengarkan oleh semua orang, tetapi tidak dapat diterima oleh semua orang.
              Ayat 24 dikatakan “Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat dan mendengar apa yang kamu dengar tetapi mereka tidak melihat dan mendengarnya.” Raja dan nabi adalah pemangku jabatan terbesar. Raja adalah pemimpin sebuah bangsa, berkuasa atas orang-orang, wilayah dan seluruh tatanan administrasi sebuah bangsa. Raja dihormati, disegani dan sangat diagungkan. Sedangkan nabi adalah penyambung lidah Allah yang bertugas menyampaikan isi hati Allah kepada sebuah bangsa. Ada 2 pesan penting  yang disampaikan oleh nabi yaitu berkat dan kutuk. Berkat adalah segala sesuatu yang baik, mendatangkan sukacita, hal-hal yang tidak mengecewakan, kedamaian dan keharmonisan. Kutuk adalah segala sesuatu yang berbau tentang kesedihan, peperangan , kekacauan dan kehancuran. Ini yang disampaikan para nabi. Sehingga dalam zaman Perjanjian Lama, setiap kali nabi datang, orang ketar-ketir. Karena berita yang disampaikan hanya 2 yaitu berkat dan kutuk. Tetapi ada juga nabi-nabi palsu yang mengatasnamakan Tuhan dalam pemberitaan. Nabi pada dasarnya adalah penyambung lidah Allah. Mereka pemangku jabatan yang besar dan mulia.

Tetapi mengapa Yesus mengatakan mereka tidak melihat apa yang kamu lihat? Tidak adil dong? Ada beberapa jawaban :

1.     Karena nabi dan raja sudah mati.
Perjanjian Lama adalah nubuat tentang kedatangan Juruselamat. Ini adalah pertanyaan komsel bulan lalu. Inti dari Perjanjian Lama itu apa? Nubuat, belum kenyataan, masih sebatas berita, informasi. Walau nubuat akan terjadi di masa mendatang, tetapi belum ada kejelasan tentang kapan akan terjadi. Para nabi dan raja sudah mendengarnya tetapi belum melihatnya karena mereka sudah meninggal.

2.     Nabi dan raja mengeraskan hati mereka untuk mempercayai apa yang difirmankan oleh Allah.
Jangan katakan nabi yang ada hanyalah yang disebutkan di Alkitab. Kenyataannya banyak nabi yang tidak disebutkan di Alkitab. Ada banyak nabi selain Yesaya dan Mikha. Mereka tidak dapat melihatnya. Mengapa mereka mengeraskan hati (degil)? Karena pesan yang disampaikan oleh nabi-nabi tentang kedatangan Tuhan Yesus, sepertinya bertolak belakang antar seorang nabi dengan nabi yang lainnya. Yesaya berkata bahwa Ia yang akan datang itu adalah Raja Damai yang kekal, tetapi di bagian lain Yesaya mengatakan bahwa Ia akan dibawa ke tempat pembantaian. Ia akan dihina dan disika, kakinya akan ditusuk oleh paku. Mana mungkin raja tetapi harus mati , didera (disiksa) dan dibawa ke tempat pembataian? Yang dibawa ke sana ke tempat pembantaian seharusnya adalah hewan pembantaian. Namun Ia dibawa ke tempat pembantaian, untuk kita! Berbahagialah mata yang melihat apa yang kita lihat.

3.     Nabi dan raja tidak mendapat anugerah dari Tuhan.
Nabi dan raja tidak diberi kemampuan untuk melihat secara langsung. Kita bersyukur karena  kita orang yang diberi angerah dan dapat meresponi. Kita bisa bertanya, “Mengapa Tuhan?” Sepertinya tidak adil, tetapi ini semua adalah kedaulatan Tuhan. Anugerah Tuhan cukup bagi kita.

Inilah yang Tuhan Yesus mau katakan. Ketika keselamatan diberikan secara cuma-cuma untuk kita, maka kita hidup jangan sembarangan. Kita hidup harus seturut dengan  apa yang Tuhan kehendaki. 3 minggu lalu, ketika guru Sekolah Minggu menceritakan tentang penderitaan dan kesulitan Tuhan Yesus, ada seorang anak dengan polos bertanya, “Lao-shi benar tidak ceritanya?” Ketika guru Sekolah Minggu tersebut bercerita kepada saya. Saya menjawab, “Benar!” Karena di dalam pikirannya bentrok. Katanya Yesus baik dan suka menolong orang, Ia sayang dan memberi makan 5.000 orang, pelayanan ke mana-mana tetapi kenapa disalib? Ini hal yang bertentangan! Seharusnya kalau berbuat baik jangan dihukum (kalau jahat baru dihukum). Pola berpikir seperti ini adalah cara pikir anak-anak. Ketika anak di Sekolah Minggu melakukan perbuatan baik maka akan diberi poin. Kalau salah diberi sanksi seperti  tidak boleh main atau jalan-jalan dan hal ini nyata  sehingga seorang anak  berkata, “Benar tidak kisah-kisah di dalam Alkitab? Atau hanya sebatas ilustrasi saja?”
              Adakah kita yang dalam pergumulan iman bertanya demikian? Apakah hanya sekedar ilusi belaka. Yesus adalah Jurselamat itu telah membuat kita menjadi manusia yang berharga. Sebeharga apa? Tidak dapat dinilai harganya, tidak dapat dihitung jumlahnya (nominalnya) berapa, tetapi Yesus berkata,”Engkau berharga di mataKu!”.
              Ketika melihat kita dapat mencicipi anugerah keselamatan dari Tuhan, diberikan secara cuma-cuma tanpa menuntut jawaban. Apa yang menjadi respon, tanggung jawab iman kita pada saat ini? Ketika Kamis kemarin kita besuk, salah seorang di antaranya mama dari seorang jemaat. Kami berbicara tentang banyak hal. Dan ia bertanya tentang iman. Ia bertanya tentang ceng beng. Boleh tidak ikut merayakannya? Lalu ia bertanya tentang keselamatan. Di akhir dari semua penjelasan , ia berkata, “kalau begitu hidup dan keselamatan saya adalah semata berdasarkan panggilan. Keselamatan yang kita terima bukan karena kita belajar Firman atau mendengar dari orang. Tetapi kita diselamatkan oleh karena Tuhan ingin  menyelamatkan dan memampukan kita untuk berespon , “Ya aku percaya”. Ini penting, Mengapa menjadi sangat penting? Karena hari -hari ini banyak orang yang salah kaprah dan berkata, “Dengan belajar dan banyak membaca pun saya bisa selamat.” Hal ini tidak benar. Bukankah banyak orang yang lebih pintar dari kita yang sampai hari ini masih mencari jalan keselamatan?

Bagaimana meresponsi keselamatan dari Tuhan?

1.      Senantiasa bersyukur kepada Tuhan.

Kebijaksanaan tidak melulu lahir dari kecemerlangan intelektual dan status sosial seseorang. Kebijaksanaan bisa muncul dari kesadaran akan makna dan tujuan hidup dan ketika kita mampu bersyukur atas semua hal yang Tuhan ijinkan untuk kita nikmati dalam hidup kita. Tuhan menuntut kita untuk selalu bersyukur dan biasanya kita selalu berkata “ya” bahwa kita akan selalu bersyukur. Tetapi dalam perjalanan hidup ini, seringkali kita lupa untuk bersyukur. Jika semua hal menjadi baik, maka ucapan syukur menjadi hal yang mudah untuk terlontar dari mulut bibir kita. Tetapi saat semua hal menjadi sulit dan keadaan menekan sepertinya kita sulit dan tidak mampu bersyukur kepada Tuhan.
         Saya selalu merefleksi diri, dari setiap kesaksian jemaat khususnya saat komsel saya bisa melihat dan mendengar banyak kisah dari jemaat. Satu per satu mulai bercerita tentang iman dan bagaimana ia diselamatkan. Ada yang berkata, “Saya bertahun-tahun dikejar-kejar dan diingatkan untuk beribadah tetapi sama sekali saya tidak mau datang. Tetapi ada 1 momen Tuhan menangkap saya dan sampai hari ini saya berubah. Momen ini saya nantikan untuk keluarga saya yang belum percaya Tuhan.” Bersyukur untuk diri sendiri karena diselamatkan, tetapi punya beban yang besar untuk keluarga , anak, istri yang belum percaya.
Kita harus selalu bersyukur dalam segala keadaan. Kalau kita tidak bisa bersyukur maka sulit menikmati sumber kebahagiaan itu. Tidak selalu hidup kita diisi dengan hal-hal yang membahagiakan. Mungkin hari-hari ini kesulitan jauh lebih banyak menghimpit kehidupan kita seperti  kesehatan , ekonomi, pekerjaan, pimpinan dan rekan sepelayanan bisa menjadi tantangan bagi kita. Sudahkah kita bersyukur dengan keadaan yang demikian? Atau kita mulai bersungut-sungut kepada Tuhan? Kita dipanggil untuk menjadi murid. Kita diberi keselamatan untuk bisa membagikan kepada orang-orang di sekitar kita. Kita harus hidup dalam kesederhanaan di hadapan Tuhan, karena kita bukan siapa-siapa dan kita tidak punya apa-apa. Kita harus bersyukur seperti lirik lagu Kasih Allahku Sungguh T’lah Terbukti (Drs. Yuda D. Mailo'ol) Bersyukur.. bersyukur..bersyukurlah. Bersyukur karna Kasih setiaNya Kusembah..kusembah..kusembah. Dan kusembah..s’lama hidupku. Kusembah kau Tuhan.  Tidak ada batas waktu dan situasi untuk kita tidak bersyukur.

2.     Kita harus siap untuk setia

Setia-setialah , setia sampai sampai. Seperti Tuhan Yesus, setialah sampai mati. Setia itu tidak ditentukan oleh waktu. Ada yang berkata,”Oh saya sudah berpuluh tahun menjadi orang Kristen, jadi saya setia dong?”. Secara waktu setia, tetapi secara kualitas bagaimana? Setia yang mau dikatakan adalah bagaimana kita dalam keseharian kita semakin dekat dan intim dengan Tuhan,  semakin mengandalkan Tuhan, semakin mau berdiri dan berjalan di rute yang telah Tuhan tetapkan.
         Di dalam kesetiaan dituntut sebuah komitmen. Janji yang terpatri dalam hati kita. Ketika tahu bahwa kita seorang Kristen, apa komiteman untuk menunjukkan dan menyatakan bahwa kita sungguh bersyukur kepada Tuhan? Tuhan mau kita taat. Hanya TAAT! Taat itu sulit. Mengapa susah? Karena tidak sesuai dengan hati kita. Tidak cocok dengan hati kita. Seharusnya begini, mengapa begitu? Bisa tidak begini? Kalau orang Jawa berkata,”Jangan nakal. Aku hanya minta kamu taat.” Ada lirik lagu Sekolah Minggu yang berkata. Susahnya aku taat, lebih mudah tidak taat. Susahnya ku-diatur. Lebih mudah ku-mengatur. Pilih yang mana? Yang Mana? Yang menyenangkan Tuhan. Kupilih taat, kumau taat , wajah Tuhan tersenyum.
         Minggu depan ada komsel Sekolah Minggu. Tema yang diangkat tentang hormat dan taat kepada orang tua. Ada proyek , salah satunya sebuah pertanyaan sederhana yang diberikan. Yang pertama :  taat itu susah atau mudah? Yang kedua : hal-hal apa saja yang di dalam ketaatanmu, kamu siap melakukannya? Artinya orang tua punya banyak aturan dan kebijakan. Kamu sering taati yang mana, selalu taat yang mana dan tidak pernah taati yang mana? “Mau taat?” dijawab  mau , tetapi sesering apakah taatnya?
         Inilah yang menjadi tuntutan Tuhan bagi kita yakni menjadi taat. Kalau tadi jawabannya “sulit”, maka kita harus berjuang untuk menjadi taat. Sampai kapan kita berjuang? Selama kita berada di dalam dunia. Setelah meninggalkan dunia, kita tidak berjuang lagi. Selama di dunia ini kita harus berjuang, mensyukuri dan hidup taat di hadapan Tuhan.
         Kita tahu bahwa dalam kehidupan ini kita tidak terlepas dari pergumulan. Rasa takut, kekecewaan, ketidakpastian, putus asa dan pergumulan. Tetapi apapun keadaan yang kita alami, pandanganlah itu sebagai berkat yang datangnya dari Tuhan. Artinya kesusahan itu juga merupakan berkat yang datangnya dari Tuhan.
         Kita tetap percaya sekalipun banyak tantangan dan pergumulan tetapi Tuhan akan selalu bersama-sama  dengan kita. Walau langit tidak selalu biru, jalan tidak rata , tetapi penyertaan Tuhan sempurna atas kita. Inilah janji dan kekuatan yang Tuhan berikan untuk kita. Walaupun nabi dan raja tidak melihat dan mendengar, tetapi kita bersyukur karena kita bisa melihat dan mendengar janji keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Ketika kita mau bersyukur, taat dan setia, maka disiplin rohani itu penting. Dimulai dari sikap kita yang mau taat (perjuangan bersama).

3.     Tekun berlajar firman Tuhan.

Ini cerminan hidup kita. Kita bisa melihat apakah yang kita lakukan sesuai Firman Tuhan. Saya berjuang untuk setiap hari membaca 3 pasal. Sebab moto kita “baca firman itu bukan kewajiban tetapi kebutuhan”. Makan , minum,, dan tempat tinggal bukan kewajiban tetapi itu semua kebutuhan. Jangan sisakan waktu untuk Firman, tetapi beri waktu untuk membaca Firman Tuhan. Konotasi “sisa” sepertinya yang tidak lagi kita gunakan untuk beraktivitas. Tetapi kalau beri waktu untuk Firman berarti kita punya prioritas untuk Tuhan.
         Dalam persiapan Sekolah Minggu saya berkata dan mendorong untuk membaca Firman Tuhan. Kalau 1 pasal sulit, setidaknya 1 hari membaca 1 ayat saja. Mari kita bersama-sama berjuang untuk tetap bisa dekat dengan Tuhan. Bukan seberapa banyak kita sudah membaca tetapi seberapa banyak kita mengerti akan apa yang Tuhan mau dalam hidup kita. Kita harus tekun berdoa untuk minta kekuatan dari Tuhan. Kita bersekutu di tempat ini. Inilah yang menjadi pesan firman Tuhan bagi setiap kita. Saya juga sangat bersyukur kepada tuhan. Dari kemarin sampai tadi malam, kesehatan saya menurun. Saya mau minta ganti khotbah dengan siapa? Mu-shi sedang pelayanan di kota Padang sedangkan Ev. Dian akan melayani di Kebaktian Nuansa Muda. Saya mengalami demam tinggi sehingga semalam tidak bisa tidur dan berkeringat dingin. Saya hanya berdoa, “Selama khotbah, Tuhan berikan saya kekuatan untuk berkhotbah. Setelah itu mau sakit tidak apa.” Tetapi saya bersyukur Tuhan memberi kemampuan untuk bisa berdiri dan menyampaikan apa yang menjadi renungan siang ini. Besok saya akan pergi ke Bandung bersama mu-shi untuk peneguhan pendeta, pulangnya Selasa sore pk 16. Pk 18.30 sudah latihan untuk ibadah Jumat Agung sampai malam. Rabunya, saya akan menyampaikan firman Tuhan di sekolah, di persekutuan hamba Tuhan-staf dan  malamnya khotbah di  persekutuan doa. Melihat skedul seperti itu sepertinya akan melelahkan.
         Persiapannya kapan dan waktu untuk diri sendiri kapan? Tetapi saya beryukur Tuhan selalu memberi sukacita. Bukan sukacita yang besar. Tetapi melihat bapak-ibu tersenyum di pagi ini , saya sudah bersukacita. Itu menjadi kekuatan, artinya kita bisa menjadi berkat bagi orang lain tidak selalu dalam hal-hal yang spektakuler. Ketika kita mampu untuk bisa membagi diri dan cerita, menyapa dan membagi senyuman kita sudah membagi kepada orang di sekitar kita. Mari kita mau taat, bersyukur dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan kita. Jangan sampai satu kali Tuhan berkata,”Mengapa kamu berseru kepadaku ‘Tuhan! Tuhan!’ padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakana?” Tetapi kita rindu Tuhan mengatakan, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21).  Itulah yang menjadi kekuatan kita tatkala kita boleh berjalan bersama dengan Tuhan.


Friday, March 1, 2019

Allah Sanggup Pelihara Keluargamu

Pdt. Theofilus Sudari

Mazmur 46
1      Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Dengan lagu: Alamot. Nyanyian.
2 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.
3  Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;
4 sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Sela
5  Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.
6  Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.
7 Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur.
8 TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela
9  Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi,
10 yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!
11 "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!"
12 TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela

Sekalipun hidup kita di dalam Tuhan, hidup tetap merupakan perjalanan dari satu masalah ke masalah lainnya

              Kita semua mempunyai iman yang sama yakni iman kepada Yesus Kristus, iman kepada Allah yang hidup dan yang memperhatikan pergumulan-pergumulan kita. Kita bersyukur iman itu diberikan karena anugerah di dalam Yesus Kristus. Dalam iman kepada Yesus Kristus ada mujizat, pemulihan, kuasa , kekuatan dan lainnya namun harus diakui dengan jujur sekalipun kita hidup di dalam Tuhan, hidup kita merupakan perjalanan dari satu masalah ke masalah yang lain. Masalah yang satu belum selesai, sudah antri masalah yang ada di belakangnya. Masalah-masalah itu bahkan seringkali menghampiri kita secara bersamaan.
              Ketika masalah datang bertubi-tubi kita mempertanyakan benarkah Tuhan itu ada? Kita menjadi stres, depresi,  ragu, takut, cemas.  Masalah dan kemunduran kemudian hadir dalam hidup kita. Sekitar 25 tahun lalu, saya menjadi orang percaya. Saya lahir dari keluarga non Kristen. Papa saya adalah seorang penerjemah Al Quran, kakek-nenek saya khotib (pengkhotbah) di mesjid. Saya keturunan dari keluarga yang sungguh-sungguh belajar agama. Sehingga suatu hari, keluarga saya percaya kepada Yesus Kristus, namun saya tidak mau percaya. Saya sekolah SMP kelas 3  di sekolah yang mayoritas teman saya adalah orang-orang Tionghoa. Suatu hari seorang teman mengajak saya ke gereja dan akhirnya percaya dan menerima Kristus. Belum seminggu saya dibaptis, keluarga kami didatangi orang sekampung. Mereka berkata,”Iman kamu dengan kami sudah berbeda. Kalau tetap percaya, kamu tinggalkan kampung ini. Tetapi kalau kamu sangkal imanmu, kamu tetap tinggal di sini”. Keluarga kami sebenarnya sangat baik dan diterima oleh masyarakat . Tetapi hanya karena percaya kepada Yesus, mereka mengatakan hal yang berbeda. Akhirnya papa yang sudah terlebih dahulu percaya mengatakan, “Kalau memang susah biar kita susah.” Kami hanya diberi waktu 1 bulan untuk pindah, dan kami tidak tahu mau pindah ke mana. Tanah yang kami tinggali sebenarnya diberikan oleh seorang sahabat papa. Karena tidak ada secarik kertas, maka tanah tersebut diambil lagi. Belum selesai bergumul dengan persoalan pindah tempat tinggal, papa terkena stroke. Belum selesai hal itu teratasi, adik saya yang paling kecil terkena kanker otak. Saat kami belum tahu adik saya mau dibawa ke rumah sakit mana, usaha keluarga kami bangkrut sampai ke titik nol. Dalam kondisi seperti itu, keluarga papa dan mama mulai berdatangan dan membujuk, “Kami akan bantu kalau kalian kembali ke agama semula”. Dalam kondisi seperti itu, akan sangat mudah buat saya untuk mengatakan, “Iya ternyata salah pintu, salah Allah.” Ternyata apa  yang dikatakan sebagai Allah yang membela ternyata tidak juga karena hidup makin susah. Masalah benar-benar bertumpuk. Puji Tuhan karena kami diberi kekuatan walaupun akhirnya adik saya meninggal dan papa sembuh walau tidak sungguh sembuh secara tuntas. Namun hal itu membuat pengalaman iman kami menjadi nyata. Kami pindah ke satu tempat dan puji Tuhan di sana ada 1 gereja dan di sana iman saya bertumbuh dan kemudian menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan.
              Pada umumnya ketika masalah datang ke dalam keluarga kita tidak bersamaan waktunya (datang satu per satu), tetapi sering kali berefek domino. Misalnya : sakit fisik berkepanjangan mengakibatkan kita kehilangan pekerjaan. Kehilangan pekerjaan menyebabkan  ekonomi menjadi tidak baik. Kondisi ekonomi tidak baik menyebabkan anak-anak putus sekolah. Ini terjadi pada kakak saya semua yang keluar dari sekolahnya. Kemudian muncul masalah-masalah lain  alias berefek domino. Satu masalah  yang tidak selesai akan menimbulkan persoalan-persoalan lain. Seperti ada pernyataan yang sering dipakai orang ketika ditanya, “Apa di sini banyak nyamuk?” Yang dijawab,”Tidak. Nyamuknya tidak banyak. Hanya ada 1 nyamuk. Tetapi teman-nya banyak sekali.” Masalah hanya 1 seperti sakitnya berkepanjangan sehingga akhirnya menimbulkan masalah. Begitu satu masalah datang, muncul masalah lain karena ada efek domino.

Mazmur 46 (Kekuatan saat menghadapi Masalah)

Biarlah saat membaca Mazmur 46 menjadi kekuatan bagi kita yang sedang menghadapi masalah, krisis dalam keluarga yang sedang terjadi saat ini seperti dalam relasi suami-istri, relasi orang tua-anak, pekerjaan dan lain sebagainya . Kita tidak tahu sampai berapa lama masalah itu datang dan sampai kapan masalah selesai. Tetapi Mazmur memberi kekuatan, Allah dulu sekarang dan selamanya tetaplah melindungi dan  menjaga kita. Mazmur 46 mengingatkan kita pada  peristiwa 31 Oktober 1517 yaitu peristiwa Martin Luther  dengan 95 dalilnya yaitu ketika ia menancapkan dalilnya pada pintu gerbang gereja Wittenberg. Jelas Martin Luther sedang ingin mengajak orang-orang percaya agar kembali kepada anugerah Allah dan iman sesungguhnya. Karena pada saat itu orang Kristen mulai meninggalkan imannya, Alkitab dan Tuhannya, maka Martin Luther berjuang dan terus mendorong di tengah kondisi yang sangat sulit (dikejar-kejar untuk dibunuh). Martin Luther mengambil lagu dari Marzmur 45 ini (A Mighty Fortress is Our God - Allah Kota Benteng Teguh, KPPK no. 387). Syair lagunya sangat bagus sekali. Di tengah kondisi yang menghimpit dan sepertinya persoalan itu tidak akan selesai Martin Luther mengatakan Allah bentengku yang teguh, perisai dan pelindungku, menolong bilaku jatuh dan jadi pengharapanku. Meski musuh keji, menyerang tak henti, ngeri kuasanya dan tipu dayanya, namun Kristus p’liharaku. Martin Luther dengan pujian ini selama berabad-abad memberi kekuatan dan kemampuan bagi orang percaya, mereka yang sedang ditindas , dikucilkan dan akan dibunuh. Pujian ini membuat mereka tetap percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, Allah yang hidup. Pemazmur mengungkapkan satu bagian yang sangat baik yang memberi tahu kepada kita, saat engkau tertekan oleh satu masalah (apapun persoalannya), Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Maz 46:2). Dia mengungkapkan  tetap bagaimana pun Allah adalah sumber kekuatan dan pemeliharaan, tidak ada yang lain. Sumber perlindungan yaitu tempat di mana kita merasa aman, diamankan, mencari rasa aman. Pada waktu itu orang selalu berfokus bahwa tempat teraman adalah di dalam benteng. Sehingga orang-orang zaman dahulu saat peperangan pasti akan membangun benteng yang sangat kuat seperti Tembok Besar di Tiongkok adalah benteng untuk mempertahankan diri agar musuh tidak bisa masuk. Benteng yang kokoh bisa jadi tempat berlindung tetapi tidak punya kekuatan untuk mengusir musuh dan tidak ada jaminan orang yang berada di dalamnya akan selamat.

Sebagai Penolong dalam Kesesakan Sangat Terbukti

Kalau membaca sejarah, kita akan tahu peristiwa benteng Masada. 2 tahun lalu saya pergi ke sana dan belajar ke Yordania dan ke beberapa tempat situs-situs Alkitab dengan beberapa teman. Pada tahun 72/73 Masehi, ada peristiwa benteng Masada yang merupakan peristiwa tragis bagi bangsa Yahudi. Benteng Masada mulanya adalah  istana yang dibangun oleh Raja Herodes sebagai tempat ia beristirahat. Dari atas benteng itu , dia akan melihat semua kota yang ada di Israel (terlihat dari atas, bahkan kalau diteropong dapat melihat ke seluruh penjuru). Dari istana, Herodes dapat melihat semuanya. Tetapi pada tahun 68 orang Yahudi dipimpin oleh kaum Zelot yang merupakan pasukan berani mati dan sangat perkasa dan ingin menyerang benteng Masada dan akhirnya dikuasainya. Semua orang di dalamnya dihabisi termasuk Raja Herodes. Zaman kaisar Titus panglima Romawi mengirim pasukan dan mengepung benteng Masada pada tahun 72 SM. Lalu orang Yahudi yang tinggal di dalam terkepung dan tidak bisa keluar. Setelah 1 bulan lebih, mereka kehabisan makanan. Ketika tidak punya makanan, lalu Eliezer  berpidato kepada rakyatnya,”Kita mungkin tidak bisa bertahan dan akan mati. Tetapi kita masih punya kehormatan yang tidak terletak di kaki bangsa Romawi. Kita punya kehormatan tidak pernah menyembah tentara Romawi. Kalau kita keluar dari benteng maka kita menjadi hamba Bangsa Romawi.” Eliezer kemudian mengajak semuanya bunuh diri. Sebelum bunuh diri Eliezer meminta untuk memilih 10 orang untuk membunuh semuanya. Dari 10 orang tersebut ditunjuk 1 orang untuk membunuh yang 9 orang lainnya, lalu yang 1 orang ini kemudian membunuh dirinya sendiri. Akhirnya saat tentara Romawi masuk ke benteng Masada mereka kaget menjumpai sekitar 960 orang Yahudi sudah mati. Peristiwa Masada ini menjadi dasar untuk memperingati kepahlawanan orang-orang Yahudi. Orang Yahudi mengingat ada orang yang berani mati demi suatu kehormatan tidak mau menyembah kepada tentara Romawi.
              Dari benteng yang sangat indah tadi,, benteng yang kokoh dan kuat memang dapat menjadi tempat perlindungan tetapi tidak mempunyai  kekuatan untuk menolak musuh. Benteng yang kuat tidak ada jaminan bahwa orang yang tinggal di dalamnya akan selamat selamanya. Tetapi berbeda waktu pemazmur mengungkapkan “ Siapa Allah orang percaya? Allah bukan hanya adalah tempat perlindungan tetapi juga memberi kekuatan untuk melawan segala sesuatu yang bisa membahayakan orang itu. Dengan kata lain pemazmur ingin mengungkapkan Allah yang hidup bukan hanya menjaga kita tetapi kalau ada musuh datang, Allah yang hidup memberi kekuatan bagi kita untuk menolak dan melawannya. Kalau iblis datang, kita bisa usir dalam nama Yesus. Dengan kata lain pemazmur ingin mengatakan Allah benteng yang hidup tetapi benteng Masada adalah benteng yang mati, yang hanya memberi kekuatan sementara. Pemazmur mengatakan bahwa harta bisa beri kenyamanan tetapi tidak bisa menjamin orang itu damai sejahtera. Rumah yang megah bisa menjamin orang bisa berlindung di dalamnya tetapi tidak menjamin tidak akan roboh oleh badai dan sebagainya. Baik uang maupun harta benda semua dikejar manusia tetapi tidak pernah menjamin manusia tetap selamat di hadapan Tuhan. Pemazmur mengatakan,”Sebagai penolong, benteng yang kokoh dan kuat dapat menjadi tempat perlindungan tetapi tidak mempunyai kekuatan.”

Pemazmur mengatakan sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti berarti peran Allah sebagai tempat perlindungan dan kekuatan tidak perlu diragukan. Sejarah mencatat dari kitab Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru memperlihatkan bagaimana orang-orang yang tetap berlindung setia kepada Tuhan, Tuhan akan pelihara sampai kesudahannya. Menjelang pagi artinya  Allah tidak pernah terlambat walaupun terlihat agak terlambat. Pemazmur berkata  ketika Daud dalam kesulitan, dikejar musuh, dalam kesesakan Daud naik ke atas gunung. Maz 121:1-2 Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?  Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Gunung pada saat itu adalah simbol keamanan karena banyak dewa di sana. Ketika saya naik ke gunung Sinai pk 1 malam, naik tanpa dituntun orang tetapi naik di atas onta dalam kondisi gelap dan  onta berjalan sampai ke puncak.   Saya baru tahu setelah ada matahari, di kanan-kiri jalan adalah jurang yang curam. Kalau kita berteriak “Haleluyah” gemanya bisa sampai ke mana-mana. Saya bertanya kepada orang di sana, “Gunung di sana punya kekuatan mistis yang luar bisa”. Hingga saya percaya Daud berkata, “Adakah kekuatan yang bisa menolong saya?” Tidak ada! Karena pertolonganku dari TUHAN yang menjadikan langit dan bumi. Tuhan disini adalah TUHAN (memakai huruf besar semua) YHWH yakni Allah yang menciptakan langit-bumi, alam semesta, umat manusia, yang berjanji ya dan amin , Allah yang memelihara umatNya dengan sungguh-sungguh. Ada yang mengatakan TUHAN merupakan simbol Allah Tritunggal ada di sana. Adakah di antara kita yang menghadapi pergumulan, kesulitan (sakit-penyakit) datang kepada Tuhan lalu ada damai sejahtera. Kalau kita sudah menyerahkan pergumulan, tetapi masih cemas , takut dan bimbang, saya ragu saudara bukan sedang datang kepada Tuhan.
Saya masih ingat saat diusir, kami sama-sama berdoa pada pk 4 pagi. Doa kami persis sama dengan lagu tadi. Jangan lepaskan kami Tuhan. Kalau Engkau lepaskan, kami pasti sangkal imanMu. Apalagi adik dari papa kami berkata, “Sudahlah kalau kamu tinggalkan iman, satu keluarga semua umroh.” Saat itu umroh adalah kebanggaan luar biasa. Dalam doa kami tidak minta disediakan rumah. Doa kami hanyalah,”Tuhan jangan lepaskan”. Kami tidak minta agar papa disembuhkan karena kami tahu sakit stroke dan kanker otak bukan perkara mudah untuk disembuhkan. Kami tidak ragu dengan iman. Saat itu kami di GBI  yang katanya penuh mujizat sebelum saya kuliah di STRII. Kami hanya berdoa, “Tuhan jangan lepaskan. Beri kami kekuatan damai sejahtera.” Terkadang kita begitu kurang ajar datang kepada Tuhan.  Ketika kondisi baik, kita tidak datang dengan serius. Baru setelah masalah, kita “paksa-paksa” Tuhan.
              Seperti kemarin di lapangan Monas ada yang berkata, “Kalau Tuhan tidak pulihkan dan sembuhkan, kami tidak sembah Engkau lagi.” Banyak orang Kristen seperti itu. “Tuhan kalau tidak pulihkan ekonomi dan keluargaku, sembuhkan sakitku, saya tidak akan melayani Engkau lagi, perpuluhan akan saya kurangi.” Di gereja saya banyak jemaat seperti itu. Kita begitu kurang ajar, tidak serius ikut Tuhan. Siapa orang yang paling kurang ajar memandang Allah sehingga tidak ada damai sejahtera? Selalu saya katakan sebagai mantan orang Muslim yang taat adalah orang  Kristen yang mengaku sebagai anak Allah dan selalu menyebut Allah sebagai Bapa. Saya tidak  pernah lihat di mesjid orang berdoa bawa handphone sambil lihat Instagram, Facebook, balas  pesan WA, tidak ada, tetapi di gereja banyak. Lagi buat pengakuan dosa, dia buat dosa. Cekakak-cekikik baca yang lucu-lucu. Tidak ada orang di klenteng, saat sedang berdoa membalas pesan handphone terlebih dahulu. Moga-moga di sini tidak ada jemaat seperti itu. Kalau ada bertobatlah! TUHAN adalah Allah yang dahsyat. Jangan engkau main-mainkan. Engkau menyebut Dia sebagai Bapa sehingga harusnya ada hormat. Saya tidak sedang marah tetapi sedang banyak menegur gereja. Mentang-mentang sekarang tidak tidak bawa Alkitab, maka ketika khotbahnya membosankan, lalu membuka Instagram, Whatsapp, Twitter, Facebook. Kita sedang beribadah ke Tuhan, bukan sedang datang ke Ko Akiong untuk pinjam uang. Barangkali saat ibadah, tidak sunggguh-sungguh datang kepada Tuhan. Dalam doanya dikatakan,”Aku datang kepada Tuhan siapa tahu Tuhan tolong saya.” Di dalam Maz 46:3 mengatakan  Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; Kalau sungguh percaya bahwa pertolongan dan  perlindungan adalah Tuhan, maka kita yang percaya kepada Allah YHWH , tidak akan takut sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang, di dalam laut sekalipun ada tsunami, bencana dan sebagainya. Pemazmur mengungkapkan apa yang dirasakannya saat menjadikan Allah sebagai tempat perlindungan karena Allah tidak tergoncangkan. Situasi dunia bisa goncang, laut bergelora, terjadi gempa bumi, tsunami, banjir di mana-mana, tetapi Allah tidak tergoncangkan.
              Tiap hari saya mendengar, stock makanan di bulan April tidak ada, tidak tahu apa yang akan terjadi. Kalau terjadi dalam kedaulatan Allah akan memurnikan kita. Kita boleh bersiap-siap tetapi jangan melampaui kekuatan iman kita. Situasi dunia akan semakin buruk, masalah demi masalah hadir. Pemazmur berkata, orang yang disembah orang Kristen adalah Allah yang tidak tergoncangkan. Saya bersyukur kepada Allah dan hanya mengatakan ,”Bapa, Bapa jangan lepaskan tangan kami, anakmu.” Sampai hari ini kami beriman dan cukup. Pemazmur memberi 2 alasan kenapa kita tidak takut dan kita percaya Allah sanggup menjaga dan memelihara kita :

1.     Ayat 5. Kota Allah, kediaman yang maha tinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.

Ayat 6. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang. Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bagian ini ingin mengatakan bahwa orang -orang yang mengandalkan pertolongan Tuhan, tidak akan pernah layu. Sungai itu adalah lambang kehidupan. Tuhan Yesus mengatakan,”Akulah air hidup”. Kalau dekat dengan Tuhan, maka kita tidak mengalami kekeringan rohani dan segala kebutuhan kita karena Dialah yang terus menghidupi kita.  Pemamur memaksudkan sungai bukan secara lahiriah tetapi sebagai Roh Kudus. Yoh 7:38-39  Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."  Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan. Diberikan kepada  mereka yang percaya kepadaNya. Apakah kita yakin percaya kepadaNya. Saya bertanya kepada anak saya,”Kamu percaya papa akan mengasihi dan menjagamumu?” Dia menjawab,”Saya percaya karena papa saya”. Percaya itu ada 2 yaitu trust dan believe dan keduanya berbeda. Believe sekedar percaya. Trust melampaui believe. Ia bukan sekedar percaya kepada papanya tetapi papanya sudah membuktikan artinya dia kenal dan punya pengalaman bersama papanya. Banyak orang Kristen tidak punya pengalaman bersama dengan Tuhan karena hanya percaya. Dia tidak pernah menguji firman Tuhan untuk dialami. Sudah waktunya kita menguji firman Tuhan artinya kita mengalami apa yang dikatakan Firman itu. Roh Kudus ketika kita percaya, akan berperan, Kalau masalah belum selesai fungsinya memberi damai sejahtera, mengingatkan kita kepada firman Tuhan. Di saat kita mulai mencari pegangan yang lain, Roh Kudus akan berkata, “Jangan ke sana!  Datang kepada Tuhan!” Saat masalah belum selesai karena menunggu menjelang pagi, Alkitab mencatat Roh Kudus memberi kekuatan, penghiburan, kepekaan bahkan damai sejahtera yang melampaui segala akal pikiran.
         Roh Kudus tinggal di hati orang yang sungguh-sungguh percaya kepadaNya dan menaruh hidupnya kepada Kristus dan Kristus hidup di dalamnya. Itulah sebabnya Kristus saat berkhotbah di bukit pernah berkata, “Bukan setiap orang yang berseru-seru ‘Tuhan, Tuhan’, bukan setiap orang  yang melakukan mujizat , mengusir setan demi nama Yesus pasti masuk sorga.” Siapa yang diterima? Orang yang melakukan kehendak Tuhan dan mengenal Dia. Hidup kekal adalah mengenal satu-satunya Allah. Dalam hidup kita banyak allah.  Allahnya  bisa berupa harta, jabatan atau uang. Yohanes 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Kalau sungguh – sungguh percaya kepada Yesus Kristus, maka Roh Kudus akan memampukan kita menghadapi masalah.

2.     Tuhan semesta alam menjaga dan menyertai kita (ayat 8).

Mazmur 46:6-8 , Tuhan semesta alam menjaga dan menyertai kita. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela. Allah menjaga dan memelihara setiap kita. Pemazmur kembali mengatakan Sesungguhnya tidak tertelelap dan  tertidur penjaga Israel, Tuhanlah penjagamu dan naunganmu. Di sebelah tangan kananmu Ia menjaga kita artinya kalau ia berada di sebelah kanan kita , Ia tidak akan pernah membiarkan kita jatuh tergeletak. Ketika kita sudah mau jatuh , ditopangnya.
         Apabila kita sudah percaya dari kecil, apakah kita sungguh-sungguh mengalami topangan Tuhan yang dahsyat. Ayat selanjutnya berkata, “Diamlah dan ketahuilah Akulah Allah.” Dari kata “diamlah” pemazmur ingin mengingatkan kita yang seringkali merasa lebih mampu , tahu atau berinisiatif  ketika kita menghadapi masalah , otak cepat bergerak (kita ingin ini-itu, selesaikan ini-itu minta bantuan sana -sini) sehingga Tuhan membentak kita ,”Diam kamu! Kamu percaya kepadaKu, Aku tetap Allah yang mengontrol hidup kamu”. Saat kita tidak tahu mau berbuat apa lagi, Allah berkata,”Diamlah! Be still! Akulah Allah. Tidak ada bandingannya” Di sini dalam kehidupan seringkali , kita hanya menghubungkan dengan Allah saat duduk seperti ini. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga harus praktek. Setiap saya ke mal susah cari tempat parkir. Saya ajari anak saya berdoa yang sederhana tapi kuasanya luar biasa,”Tuhan hari ini saya tidak minta mobil tetapi cukup 1 tempat parkir saja.” Selalu dapat. Selesai berkata “amin” ada mobil yang keluar atau bila tidak keluar dikasih tempat yang spesial. Jadi anak saya (Rexy) sebelum masuk mal minta berdoa, “Pi tutup mata dulu Rexy mau berdoa. Tuhan tidak minta ganti mobil , hanya minta parkir satu saja.” Itu hal sederhana , tetapi kalau tidak minta bila ke Central Park bisa 1 jam mencari tempat parkir. Kita seringkali menganggap untuk apa untuk hal yang sepele minta Tuhan, padahal kita anakNya. Saya banyak minta hal-hal yang sederhana. Tadi pagi saya berdoa,”Tuhan salama khotbah jangan saya bersin-bersin”  sampai saat ini tidak bersin-bersin dan jangan bersin-bersin. Saya tidak minta untuk sembuh dulu, mungkin dengan sakit ini saya bisa punya alasan untuk istirahat di rumah. Kadangkala saya berpikir karena minggu ini saya harus beberapa kali berkhotbah , pimpin retreat dan pembinaan , Tuhan kasih pilek agar bisa di tempat tidur. Tapi saya tidak mungkin batalkan di sini. Ternyata benar. Pdt. Hery Kwok berkhotbah di tempat lain, kalau dibatalkan bingung mencari penggantinya. Dalam kehidupan, bukan hanya tiap Minggu kita berkaitan dengan Tuhan. Tiap hari kita berhak asal kita sungguh-sungguh. Kata diamlah secara hurufiah dalam bahasa Ibrani  berarti“Angkatlah tanganmu” dan berkata,” I will be still  know you are God”. Kalau Tuhan berkata, “Aku masih Tuhanmu” dan kau berkata,”Aku masih tetap menenal Engkau adalah Allah yang menolong saya”.  Kadangkala kita perlu angkat tangan agar Tuhan turun tangan. Biarkan Tuhan secara leluasa bekerja dalam hidup kita.
         Istri saya orang Bangka asli. Membentuk 1 keluarga tidak mudah. Setelah menikah baru 6 tahun Tuhan beri kami anak. Keluarga kami dari Bangka dengan tradisi Tionghoa yang kuat, setahun pertama kami belum punya anak kami ditanya. Waktu belum menikah ditanya kapan. Belum punya anak ditanya kapan. Sekarang sudah punya anak satu tiap minggu ditanya kapan tambah. Di gereja jangan kepo (jangan tanya urusan orang lain). Mau jomblo atau menikah apakah terganggu, bukan urusanmu. Kalau sudah punya anak, kalau tambah satu apakah kamu akan mencukupi kebutuhan hidupnya. Sebelum punya anak saya capai. Tahun kedua mulai ada desakan keluarga banyak. Tahun 3 tingkat stess tinggi karena papa-mama berkata “Oh iya, waktu menikah belum dikasih selendang.” Saya bertanya,”Selendang buat apa ma?” DIjawab,”Itu tradisi kita.” Akhirnya cari dokter sana-sini, capai. Istri saya memaksa terus berobat seminggu 2 kali terapi padahal saya pelayanan. Saya berkata di dalam taxi,”Kalau kamu masih menuntut anak terus, kita pisah. Dari awal kita nikah bukan untuk punya anak” Sampai supir taxi berkata,”Ada apa Pak? Kalau ada masalah  selesaikan dulu Pak. Jangan marah-marah.” Saya sudah capai. Semua berusaha. Setiap hari Minggu jemaat saya banyak dan mereka membawa toge agar supaya subur. Maka sampai hari ini kalau saya melihat toge menjadi trauma.Saat itu  di kulkas penuh toge. Ada jemaat yang baru datang di gereja berkata,”Mu shi  ini dimakan ya. Tambah sambal kacang enak.” Tiap hari makan toge. Sehari tiga kali .Jadi sebulan berapa. Maka hari ini kalau saya melihat tauge saya tutup mata karena  trauma. Sampai titik tertentu, saya berdoa, “Tuhan saya capai. Saya marah dengan Tuhan.” Saya suka mengungkapkan isi hati,”Tuhan lihat cicak di dinding saja punya anak. Kecoa yang menjijikkan punya anak. Ini Theofilus, seorang pendeta! Pendeta mendoakan pernikahan dan hampir 99% punya anak. Tuhan, saya minta anak Tuhan.” Bahkan sampai titik tertentu bahasa saya sudah tidak benar,”Tuhan tahu. Saya buat dengan cara yang benar di tempat yang benar bukan di semak-semak. Seperti Tuhan berkata, “Diam Theo!! Aku tetap Allah.” Saya baru mengerti singkat kata hingga saya minta ampun, dari awal saya menikah bukan untuk punya anak tetapi agar hidup saya makin dewasa dan efektif dipakai Tuhan. Rupanya Tuhan ingin saya selesai S2 di Reform. Istri saya selesai S2 di UPH. Doa saya ,”Kalau Tuhan tidak kasih kami soerang anak, saya punya anak sekolah minggu banyak dan saya akan mengasihi mereka. Tetapi kalau Tuhan kasih anak, persis pas istri saya mau wisuda sebagai bukti . Kalau tidak jangan kasih anak, saya tidak butuh anak lagi.” Persis saat istri saya besok wisuda, dia merasa perutnya sakit. Walau istri saya lembut tapi kalau sudah keluar marahnya menjadi galak. Waktu itu di Karawaci ia sedang antri ambil undangan wisuda, lalu ditikung oleh 2 cowo dan disikut perutnya hingga terjatuh. Sehingga kerah cowo tersebut dipegang dan ditariknya. Karena sakit perut, temannya mengusulkan untuk diperiksa. Setelah diperiksa ternyata ada bayi. Saat kehamilan 7 bulan, air ketubannya habis sehingga bayi tersebut lahir saat usia kandungan 8 bulan. Waktu istri saya memberitahu, “Saya hamil!” Saya tidak bereaksi dengan lompat-lompat. Saya masuk kamar sehingga dia marah sekali. “Kamu tidak senang?” istri saya bertanya. “Saya mau bersenang-senang dengan Tuhan dulu,” jawab saya.  Saya berdoa,”Tuhan terima kasih!” Saya belum memberitahu papa-mama dahulu. Setelah istri wisuda dan ucapan syukur baru saya memberitahu,”Ada berita yang baik. Dia Tuhan tetaplah Tuhan yang menjawab semua masalah menjelang pagi” Semuanya menjadi gembira.
Sebelum nikah kita tertekan mencari pasangan. Setelah menikah tertekan mencari anak. Setelah punya anak, tertekan mencari biayanya. Setelah ada biaya, tertekan untuk tambah anak. Setelah tambah, sakit-sakitan. Jadi jangan kepo. Jadi suka tanya kapan nikah, kapan punya anak dll. Itu urusan dengan Tuhan. Tetapi ini sudah menjadi budaya. Orang yang ditanya (beberapa teman saya ditanya begitu) menjadi stress dikonseling dan akhirnya tidak ke gereja. Jadi kalau tidak punya anak, berlutut berdoa , “Tuhan punya anak membuat saya damai.”
         Saya usia 9 tahun baru kelas 1 SD karena terlahir dengan IQ tidak sampai 100. Anak saya belum 5 tahun sudah kelas 1 SD. Saya berkata kepadanya,”Kamu setelah selesai kuliah kalau bisa menikah karena papi masih sehat. Sekarang usia 49 tahun. Saya hanya ingin mengantarkan kamu ke altar adalah saya.” Doa saya sekarang,”Tuhan, kalau Tuhan kasih jodoh kepada anak saya, saya tidak mau yang menuntun anak saya ke altar orang lain. Yang berkati boleh orang lain.” Jangan khawatir yang masih muda-muda. Mungkin ada yang sudah berdoa 15 tahun, tetapi 15 tahun  itu mungkin baru pk 3, masih ada pk 4. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Saya bersyukur semua keluarga saya sudah percaya, tinggal 1 lagi (kakak saya). Saya percaya dia percaya. Karena sudah 3 tahun natal dan paskah, ia mengirim pesan “Yesus mati bagi orang berdosa”. Kakak saya dulu sebenarnya Katolik, sekarang ia seorang pelukis dan pemusik. Ia berdakwah lewat musik. Ia yang berkata,”Kalau kamu jadi pendeta, saya orang pertama yang akan turunkan kamu kalau motivasi kamu bukan pelayanan tetapi uang. Mari kita bersaing. Kamu menyatakan kepada orang untuk menerima anugerah Yesus, dan saya akan berbicara kepada orang untuk menerima hidayah.” Saya berkata,”Suatu kali saya berdoa kamu menerima anugerah Yesus Kristus.” Dan ia berkata,”Suatu kali  saya akan berdoa kamu akan menerima hidayah”. Kata “diamlah” secara hurufiah mau berkata, “Tuhan, aku berserah kepadaMu.” Kenapa? Pegang janji Tuhan.
Yesaya 41:10 janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. Yesaya 46:4 Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

Percaya bahwa Tuhan beserta kita? Saya tidak tahu apa pergumulan saudara. Tetapi pergumulan seberat apa pun yang dialami, kalau sampai hari ini kita masih bisa ke gereja, berarti Tuhan sedang menuntun dan memelihara kita. Tuhan ingin menyatakan perkara-perkara besar. Seberapa jauh kita menangkap iman itu, kita berkata,”Tuhan aku menyerah di hadapanMu” dan Ia akan berkata,”Diamlah! Akulah tetap Allah.” Jikalau Tuhan sudah menolong banyak orang, menolong dan memelihara saya sampai hari ini, Tuhan akan menolong saudara. Kalau Tuhan pakai Theofilus yang bodoh , IQ-nya  tidak sampai 100, 9 tahun baru kelas 1 SD. Dia bisa menjadi alat Tuhan, apalagi hidup saudara yang Tuhan pakai juga akan luar biasa. Apakah kita berkata, “Tuhan aku tetap percaya, Engkau Allah yang memelihara”? Amin.