Sunday, January 6, 2019

Allah : Pusat Ibadahmu





Ev. Putra Waruwu

Nehemia 8:1-13
1 Ketika tiba bulan yang ketujuh, sedang orang Israel telah menetap di kota-kotanya,
8 maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel.
3 Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti.
4 Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.
5 Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Di sisinya sebelah kanan berdiri Matica, Sema, Anaya, Uria, Hilkia dan Maaseya, sedang di sebelah kiri berdiri Pedaya, Misael, Malkia, Hasum, Hasbadana, Zakharia dan Mesulam.
6 Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri.
7 Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: "Amin, amin!," sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah.
8 Juga Yesua, Bani, Serebya, Yamin, Akub, Sabetai, Hodia, Maaseya, Kelita, Azarya, Yozabad, Hanan, Pelaya, yang adalah orang-orang Lewi, mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu, sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya.
9 Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.
10 Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: "Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!," karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu.
11 Lalu berkatalah ia kepada mereka: "Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!"
12 Juga orang-orang Lewi menyuruh semua orang itu supaya diam dengan kata-kata: "Tenanglah! Hari ini adalah kudus. Jangan kamu bersusah hati!"
13 Maka pergilah semua orang itu untuk makan dan minum, untuk membagi-bagi makanan dan berpesta ria, karena mereka mengerti segala firman yang diberitahukan kepada mereka.

Pendahuluan

              Selama Januari 2019 ,kita akan diingatkan bagaimana seharusnya kita yang telah dimenangkan oleh Kristus memiliki pola pikir yang sama, pengertian yang benar dan pemahaman yang tepat tentang apa itu ibadah, bagaimana itu ibadah dan apa yang seharusnya kita lakukan selama kita beribadah. Tema hari ini  Allah : Pusat Ibadahmu”. Minggu lalu para hamba Tuhan GKKK Mangga Besar pergi ke Tegal. Dari Jakarta berangkat ke Tegal namun singgah dulu di Kampung Batik, Cirebon. Di sana banyak butik dan toko batik. Kita masuk dari satu toko ke toko lain. Yang cocok dibeli dan yang tidak cocok ditinggalkan. Setelah mondar-mandir beberapa kali, namun tidak beli apa-apa. Di sini adalah pusat dan rumah produksi batik sehingga bisa didapat batik dari harga yang murah sampai yang mahal. Ada satu toko di mana kami masuk ke sana pk 12.30 dan pk 18.30 baru keluar (setengah harian berada di sana). Aldin sudah capai, ama sudah istirahat dan mu shi sudah menyandarkan kepala di dinding. Saya dan shimu terus asyik belanja. Pk 18.30 akhirnya kami baru keluar dari toko tersebut. Bukan masalah belanjanya tetapi itu adalah pusatnya batik. Ketika tahu sumbernya maka kita rela untuk berlama-lama di sana dan melihat banyak hal. Itu tempat produksi batik dan dipamerkan kepada semua orang. Jadi kita rela berlama-lama  berada di tempat tersebut. Kalau Allah adalah pusat dari ibadah maka kita juga akan rela untuk berada setengah harian di gereja.

Apa itu Ibadah?

              Nehemia pasal 8 berbicara bagaimana bangsa Israel merayakan hari Raya Pondok Daun untuk mensyukuri semua berkat Tuhan melalui hasil panen mereka. Dikatakan Ezra yang membaca firman Tuhan dari pagi hingga tengah hari dan mereka betah (kerasan) mendengar firman Tuhan. Setengah hari sekitar 6 jam dan yang didengar hanya kitab Taurat dan penjelasannya. Saat itu Allah menjadi pusat ibadah. Allah adalah pribadi yang menciptakan , menjadikan , memelihara dan menguasai seluruh otoritas kehidupan kita. Tidak ada sesuatu  terjadi tanpa sepengetahuan dan seijin Allah. Allah kita bukanlah Allah yang diam (tidur) tetapi Ia menilik sampai isi hati yang paling dalam dari setiap hidup manusia. Kalau kita datang ke gereja dan beribadah, maka kesan yang ditimbulkan sama yaitu semua adalah orang benar dan alim. Tetapi lepas (ke luar) dari pintu gereja, itulah yang  menunjukkan siapakah kita (termasuk para hamba Tuhan) sebenarnya di hadapan Tuhan. Di gereja mungkin kita dibungkus dengan ‘bungkusan rohani’ tetapi di luar gereja siapakah kita?
Ibadah kita adalah tanggapan (respon) kita terhadap apa yang telah dilakukan Allah di dalam hidup kita. Perkumpulan semacam ini disebut ibadah jemaat. Ini adalah ibadah dalam arti yang sempit karena dibatasi dengan tembok gedung. Tetapi ibadah dalam pengertian luas adalah seluruh kehidupan kita mulai dari pagi sampai malam. Jadi ibadah itu bukan saja di tempat ini, tetapi juga di tempat lain termasuk di rumah juga (ketika berinteraksi pun ibadah kita). Ketika kita makan pun itu adalah ibadah kita. Kita menyembah Tuhan di sana. Jadi jangan mengira ibadah itu hanya di gereja. Seluruh rangkaian kehidupan kita adalah ibadah kita kepada Tuhan. Di dalam tempat ini ada banyak elemen seperti pujian, penyembahan, doa, pengakuan dosa, berita anugerah, firman, ucapan syukur dan doa berkat pengutusan. Elemen-elemen  itu yang di bawa keluar ketika keluar dari pintu gereja dan menghadapi kehidupan yang masuk nyata. Kita menyembah Tuhan, memberi pelepasan dan pengampunan kepada orang lain , bersyukur dan mau setia kepada Tuhan . Itulah ibadah dan respon kita kepada apa yang Allah kerjakan bagi kita. Bukan manusia yang menyelenggarakan dan memulai ibadah tetapi Tuhan sendiri yang memulai ibadah. Bukan hamba Tuhan dan majelis yang mengadakan ibadah pagi ini tetapi Tuhan yang mengadakan ibadah. Majelis, hamba Tuhan dan jemaat adalah alat atau pelayan Tuhan. Maka kita disebut sebagai pelayan atau hamba Tuhan. Karena yang punya ibadah adalah Tuhan. Kalau Tuhan yang punya ibadah, maka kita harus mengikuti apa maunya Tuhan untuk menyusun ibadah itu. Bukan maunya , keinginan dan selera saya tetapi harus selera dan maunya Tuhan.

Sejak kapan manusia beribadah kepada Tuhan?

Alkitab memberikan gambaran besar bahwa sejak awal sejarah kehidupan manusia di Taman Eden , manusia telah beribadah kepada Tuhan. Pada kitab Kejadian 3:8 Adam dan Hawa mendengar langkah Allah di taman Eden. Ada satu kedekatan , keintiman, persekutuan yang dekat antara Allah dengan manusia. Dari langkah kaki saja, manusia sudah tahu yang datang adalah Allah. Ketika Kain dan Habel memberi persembahan kepada Tuhan, mereka membawa hasil dari apa yang mereka dapatkan, mereka juga menyembah dan beribadah kepada Tuhan. Ketika Nuh melewati masa-masa sulit , ketika bumi dipenuh dengan air dan setelah itu Nuh membawa persembahan kepada Tuhan. Lanjut di zaman Abraham, Abraham juga membawa korban syukur bahkan membangun mezbah  korban bakaran untuk Tuhan. Semua itu mereka lakukan karena Tuhan yang meminta. Persembahan yang dibawa pun jelas apa dan bentuknya seperti apa.
              Ibadah kita tidak semata-mata merupakan kerinduan kita, tetapi karena Allah terlebih dahulu memberi perintah kepada kita untuk melaksanakannya. Maka tema ini sebenarnya cukup berat. Ketika Allah menjadi pusat ibadah kita, maka yang harus dipandang dalam ibadah adalah Allah bukan person atau orang-orangnya melainkan hanya Allah. Bukan berarti kita mengabaikan yang lain, tetapi fokus kita adalah kepada Allah.
              Nehemia pasal 8 sekali lagi menggambarkan kepada kita bagaimana orang-orang Israel pasca pembuangan kembali ke Israel, membangun tembok lalu  mereka meminta kepada Ezra untuk membacakan kitab Taurat Musa. Mereka yang rindu dan meminta pertolongan Ezra untuk membacakan firman itu.
              Dari kisah ini kita akan melihat setidaknya ada 3 bagian bagaimana kita merayakan ibadah yang berpusat kepada Allah, bagaimana kita bisa menikmati ibadah yang berpusat pada Allah , bagaimana kita menghidupi ibadah yang berpusat pada Allah :

1.     Siap untuk menyembah dengan kesungguhan

Refrain lagu Kau yang Terindah mengatakan Ku sembah Kau ya Allahku, Ku tinggikan nama Mu selalu Tiada lutut tak bertelut, Menyembah Yesus Tuhan Rajaku. Penyembahan adalah satu sikap di mana kita menundukkan diri di bawah otoritas Tuhan dan mau mengikuti apa maunya Tuhan. Penyembahan itu dapat dimaknai sebagai sikap kita men-tuhan-kan Tuhan atau meng-allah-kan Allah. Ketika kita menyembah Tuhan dengan kesungguhan maka hati kita dibangkitkan untuk menikmati kekudusan. Imaginasi kita diindahkan dengan keindahanNya, hati kita dilekatkan pada kesetiaanNya , dan kehendak kita diletakkan pada rencanaNya. Itulah makna penyembahan.
Kapan kita bisa menyembah Allah? Tentunya dalam seluruh kehidupan kita baik  di gereja maupun di luar gereja. Tetapi menyembah dengan kesungguhan dapat kita tilik secara pribadi ketika beribadah semacam ini. Ibadah  minggu sangat penting saat kita datang menyembah Tuhan. Mengapa? Karena di sepanjang hari kehidupan, kita menyembah Tuhan. Tetapi bisa saja kita sedang memberhalakan sesuatu yangl lain dibanding Tuhan. Mungkin saja uang, karir, kepandaian atau bahkan pengetahuan secara rohani yang kita jadikan sebagai sumber dari kehidupan kita. Di tempat ini, ketika lagu-lagu dinaikkan dan doa dipanjatkan adakah sungguh hati kita hanya fokus kepada Tuhan? Atau hati dan pikiran kita masih diselimuti oleh hal-hal yang lain di luar Tuhan? Ketika kita sedang duduk terdiam saat ini mendengarkan firman Tuhan, apakah kita sedang fokus seluruhnya kepada Tuhan atau pikiran kita sedang  terbagi pada hal-hal yang lain? Kita harus siap mengalahkan dunia untuk kita dapat fokus pada Tuhan. Cara terbaik mengalahkan dunia bukan dengan moralitas atau disiplin yang kuat. Tetapi cara terbaik terbaik mengalahkan dunia adalah dengan memandang sesuatu yang jauh lebih menarik dari dunia dan itu adalah Kristus. Ketika Kristus jauh lebih indah dari semuanya, maka itu tidak akan menjadi alasan untuk sulit menyembah Dia tetapi ketika dunia jauh lebih indah daripada  Kristus maka jangan bertanya lagi mengapa kita sulit sekali untuk datang kepada Tuhan dengan penuh ketulusan dan kesungguhan hati.
Beberapa minggu lalu , anak-anak sekolah Minggu belajar tentang Allah:  Bapa yang Kekal, Raja Damai, Penasehat Ajaib. Saya titip pesan kepada guru Sekolah Minggu agar aktivitasnya mereka menulis tentang apa yang mereka tahu tentang Allah. Bagi mereka Allah itu apa, siapa dan seperti apa, minta mereka untuk menulis hal-hal tersebut. Mereka menuliskannya di kertas berbentuk hati dan pagi ini kertas itu diberikan kepada saya. Saya mulai membaca satu per satu bagaimana anak-anak itu memahami Allah di dalam kehidupan mereka. Bahasanya sangat sederhana. Mereka mengatakan, Dia Penyelamat, Juruselamat, Dia Sahabat saya  dll. Mereka berkata demikian dalam kertas itu. Ada yang menulis hanya satu dan ada yang menulis banyak sekali sehingga saya bingung mau membaca dari mana.
Kita memahami Allah seperti apa? Kita punya konsep Allah itu seperti apa? Kalau konsep Allah kita  benar, ketika kita datang beribadah , maka kita tahu siapa kita di hadapan Tuhan dan siapa Tuhan di dalam hidup kita. Tetapi kalau konsep kita salah untuk mengenal siapa Allah maka kita harus terus belajar di dalam kerohanian kita. Kita harus memilik hati yang mau menyembah kepada Tuhan.

2.     Kita harus siap mendengarkan Tuhan.

Nehemia 8 memberikan banyak petunjuk bagaimana kita seharusnya mendengar firman Tuhan. Ezra membuka kitab itu di depan mata semua umat karena dia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Dia berdiri di sebuah mimbar kayu yang tinggi. Saya dibentuk dari budaya, kebiasaan gereja tradisional yang lebih ketat. Yang boleh ada di mimbar adalah hamba Tuhan yang akan menyampaikan firman. Altar kosong karena itu kudus. Kalau anak ada yang main di altar maka akan dimarahi oleh jemaat. Itu tempat di mana firman diberitakan. Pembentukan itu membawa saya sampai hari ini terus di dalam pola yang demikian walaupun harus sedikit terbuka dengan hal-hal yang baru. Maka mimbar itu umumnya lebih tinggi dari jemaat. Tetapi kalau si-kon seperti kita karena ada balkon. Firman ada di posisi tertinggi. Allah harus berada di posisi yang tertinggi. Itu simbol dan lambang yang mengajarkan jemaat. Hari ini kita dituntut Tuhan untuk mendengarkan firman Tuhan.
Pada waktu Ezra membacakan kitab itu, semua orang bangkit berdiri. Mereka menunjukkan rasa hormat mereka. Maka jangan heran kalau ada hamba Tuhan (pendeta atau pengkhotbah) ketika membaca firman mengajak umat untuk berdiri.  Ketika persiapan firman Tuhan, liturgos mengajak kita untuk beridri. Ezra memuji Tuhan yang maha besar dan semua orang menyambut dengan sebutan,”Amin..Amin!”. Sambil mengangkat tangan  kemudian mereka bersujud dan berlutut sampai muka mereka mencium tanah. Bayangkan bagaimana Allah yang pusat ibadah itu dihormati dan diagungkan sedemikian. Hati , tubuh dan semua bagian tubuhnya dipersembahkan untuk Tuhan.. Kalau kita mau mendengarkan firman Tuhan, maka kita harus memiliki kerinduan untuk itu. Kalau kita menginginkan sesuatu maka pasti kita berjuang untuk mendapatkannya. Sama halnya  dengan firman , kita harus punya satu kerinduan yang dalam untuk terus belajar dan diajar oleh firman itu.
Orang Israel minta Ezra untuk membacakan mereka kitab Taurat Musa. Di gereja tidak ada yang minta hamba Tuhan untuk membacakan firman Tuhan atau membagikan firman Tuhan yang dibaca pagi ini. Atau ketika ada firman Tuhan di sharing di grup, apakah kita membacanya? Atau adakah kita punya waktu sedikit dalam satu hari untuk membaca dan merenungkan firmanNya? Saya tidak sedang menghakimi tapi sedang mengingatkan, karena saya pun ditegur melalui firman Tuhan. Prinsip saya, sebelum berkhotbah maka saya harus belajar dan bercermin terlebih dahulu  Tuhan mau apa terhadap firman. Ketika saya menyiapkan diri, maka saya meminta tolong Tuhan untuk menyampaikan kebenaranNya.
Adanya hati yang haus dan rindu dari umat Tuhan untuk mendengar firman Tuhan, sehingga mereka sendiri meminta agar Taurat itu dibacakan dan diuraikan sehingga pembacaan itu dapat dimengerti oleh jemaat dan umat Tuhan. Kalau hal itu berlangsung sampai tengah hari, bayangkan Ezra sendirian di atas mimbar kayu yang tinggi, tugasnya hanya satu yaitu membaca dan menjelaskan firman Tuhan. Semua umat mendengarkannya. Apakah kita memiliki kerinduan mendengarkan firman Tuhan? Kalau kita tidak rindu dengan firman Tuhan , maka kita sedang sakit berat secara rohani!
   Kalau kita mau mendengarkan firman Tuhan, makakita harus punya kesungguhan dalam mendengar firman Tuhan. Pada ayat 4b dikatakan, Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu. Penuh perhatian di sini berarti mereka benar-benar menyimak dan fokus untuk memahami dan mengerti isi dari firman yang diberitakan. Hal ini terjadi karena mereka memahami firman Tuhan itu sangat penting untuk pemulihan kehidupan mereka dan masa depan mereka setelah mengalami keterpurukan di segala bidang. Bukankah orang Israel dihukum oleh Tuhan dibuang dan dijadikan budak di negara di tempat lain dalam kurun waktu yang sangat panjang dan setelah itu Tuhan mengijinkan mereka kembali, menikmati kehidupan normal seperti biasanya dan  mereka mendengarkan firman Tuhan karena firman Tuhan itu yang akan menguatkan mereka untuk menjalani hidup mereka sehari-hari .
Adakah kita bersukacita ketika firman diberitakan ? Adakah hati kita legowo ketika firman disampaikan? Adakah kita menerima firman itu dengan kesungguhan hati di hadapan Tuhan? Hidup di seminari Alkitab tidak selalu indah. Kita harus menyesuaikan dengan berbagai kegiatan. Bangun pk 4.45 dan tidur paling lambat pk 22.30. Setiap pagi mengikuti ibadah, baik ibadah pagi maupun ibadah malam. Dan setiap ibadah akan ada firman yang diberitakan , dan yang berkhotbah adalah mahasiswa. Namanya mahasiswa tingkat-tingkat awal masih banyak terpaku pada buku-buku, tafisran-tafsiran dan pendekatan-pendekatan. Saya yakin di tingkat awal, kita susah mengikuti morning chapel. Di auditorium para siswa masuk satu per satu dan sudah ada denah tempat duduk. Masuk dari pintu langsung ke tempat duduk yang ditentukan dengan tenang. Mulai ibadah pk 7.45 dan sebelumnya (pk 7.30) sudah harus duduk, sebab 15 menit ke depan kita harus siap beribadah dan istrumen akan dibunyikan. Tenang dan tidak ada yang bicara dan bercerita. Pemberitaan firman dimulai pk 8. Salah seorang mahasiswa maju berkhotbah dan berkisah serta menjelaskan firman. Yang menjadi jemaatnya pada ngantuk dan tidur. Saya pun mengantuk.
   Saya duduk paling depan karena mata saya kurang bisa melihat jauh. Jadi saya duduk paling depan dan mengantuk. Teman sebelah kiri saya juga sudah mengantuk dan tertidur. Mahasiswa yang khotbah di depan berapi-api dan di satu titik suaranya besar sekali sehingga mengagetkan kita. Saya terbangun dan teman saya lebih terkejut lagi. Alkitabnya terbang! Kertas-kertasnya berserakan. Dia bingung pena-nya ada di mana. Tidak ada yang berani tertawa. Karena kalau tertawanya lebih kencang, akan dipanggil. Itulah kenyataannya, setelah itu teman saya dipanggil dan ditanya,”Mengapa kamu tidur?” Ia menjawab,”Tadi malam lembur karena sedang mengerjakan tugas untuk mata kuliah Ibrani dan Yunani.” Diingatkan,”Lain kali jangan tertidur lagi ya?” Lalu ia menjawab,”Ya”. Dari situ saya belajar, “Kalau hati kita tidak dipersiapkan untuk menghadap firman, maka godaan itu lebih mudah masuk!” Bukan hanya mengantuk, maka teman yang duduk di sebelah, jam tangan, jam dinding bisa jadi godaan (berapa lama lagi khotbahnya selesai?). Banyak sekali godaan, tetapi kalau hati siap untuk diberkati dengan firman Tuhan, bukan berarti kita butuh waktu yang panjang, tetapi waktu yang ada dapat kita gunakan untuk mendengarkan firman Tuhan. Apakah kita merasa firman Tuhan itu sungguh penting sehingga kita mau mendengarkannya dengan penuh perhatian? Kalau kita mendengar firman Tuhan, maka kita harus mempunyai rasa hormat terhadap firman itu. Ketika Ezra membaca kitab Taurat Musa maka semua umat mengangkat tangan dan menjawab, “Amin… Amin..” Amin  artinya pasti, sungguh dan benar. Meyakini  apa yang disampaikan, didengarkan, mengimani apa yang diwartakan, itulah amin. Jadi kalau kita berkata amin, maka lihat konteksnya. Jangan ‘amin..amin’ sampai kita berkata ‘Amin’ tapi tidak mau melakukan. Dengan berkata ‘amin’ berarti kita sudah sepakat dengan hal tersebut.
Maka dikatakan sekali lagi, mereka sujud sampai muka meyentuh tanah. Ini sikap  dari orang-orang  yang mau mendengarkan firman Tuhan. Ketika firman Tuhan diberitakan maka kita harus punya kelembutan hati. Ini yang kita harus sedikit berjuang yaitu kelembutan hati. Pada ayat 10b dikatakan semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu. Mengapa mereka menangis? Karena fiman Tuhan itu sedang menilik dan mengutik-utik kehidupan mereka. Ada firman yang menyinggung dosa dan kebiasaan buruk. Mereka sedih akan hal itu. Mereka sadar bahwa mereka adalah pendosa di hadapan Tuhan. Kesedihan mereka sebagai lambang penyesalan akan dosa. Inilah contoh umat yang tidak mau mengeraskan hati. Ketika ditegur firman, mereka meresponinya dengan hati yang hancur dan penuh penyesalan serta pengakuan dosa. Bagaimana dengan kita? Apakah kita siap ditegur oleh firman Tuhan? Adakah tempat di hati kita untuk menyimpan firman Tuhan?
         Minggu lalu  setelah ibadah 1 Januari 2019 seorang jemaat datang. Saya tidak mengajak ngobrol tapi ia datang dan bercerita bahwa beberapa hari ini hatinya dipenuhi dengan pertanyaan dan ada ‘kekalutan’. Saya bertanya,”Mengapa?” Tadi pagi saya membaca renungan yang berkata ,”Adakah satu kegentaran dalam hati? Ada ketakutan apakah saya berkenan di hadapan Tuhan? Saya takut!” Dia berkata sambil meneteskan air mata. Saya hanya bisa menjadi pendengar setia dan memegang bahunya. Saya berkata, “Kita sama-sama belajar. Anda belajar dan saya juga belajar. Yang penting hati kita terbuka ketika firman menegur kita!” Jangan sekali-kali mengeraskan hati. Kalau kita main keras-kerasan dengan Tuhan, maka jauh lebih keras Tuhan bisa menegur kita. Tapi kalau dengan cara yang lembut Dia mengingatkan kita, maka segeralah peka dengan teguran itu.

3.     Kita harus memiliki sukacita karena firman memberikan kekuatan.

Setelah orang Israel merasa sedih, hancur , menyesal dengan dosa-dosa mereka, Ezra dan Nehemia (kepala negeri dan kepala wilayah saat itu) berkata,”Sudah. Hari ini adalah hari kudus bagi Tuhan.  Pergilah! Makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman yang manis-manis dan berbagilah dengan mereka yang mungkin tidak menyediakan apa-apa.” Artinya ada sukacita, kegembiraan, kelepasan, kemenangan, kekuatan, pengharapan dan damai sejahtera yang Tuhan berikan ketika kita mau tunduk pada otoritas Tuhan. Inilah bukti nyata bagi kita. Kalau kita mau ikut mauNya Tuhan, maka jangan lihat awalnya tetapi lihat akhirnya. Awal tidak selalu menjadi bukti dari perjuangan kita tetapi akhirlah yang menentukan apakah kita berhasil atau tidak.

Penutup

Pesan hari ini : ketika kita merayakan ibadah kita sebagai momen di mana Allah menjadi pusatnya, maka kita harus memiliki sikap penyembahan yang benar dan kita harus mendengarkan firman dengan sikap yang benar. Mari kita sejenak mengingat kembali bagaimana kehidupan ibadah kita selama ini, apakah sekedar formalitas atau rutinitas? Adakah ibadah kita digerakkan oleh hati yang terdalam dan menaruh rasa hormat dan kagum kepada kekuasaan Allah? Apakah Allah menjadi pusat dari ibadah kita?


Tuesday, January 1, 2019

Baru di dalam Tuhan

Pdt. Hery Kwok

Lukas 5:33-39
33  Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum."
34  Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?
35  Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa."
36  Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.
37  Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur.
38  Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.
39  Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."

Pendahuluan

              Saat membaca koran atau  menonton TV, mungkin pernah mendapat berita ada seorang Bapak yang tertangkap karena mencuri baju atau sepatu di sebuah toko agar anaknya yang masih kecil bisa memasuki tahun baru dengan pakaian dan sepatu yang baru. Orang ini pada waktu ditangkap polisi meminta untuk dimaafkan karena ia hanya ingin anaknya mengenakan baju baru padahal ia bukan orang mampu. Ia berkata,”Saya ingin anak saya memakai baju dan sepatu baru karena teman-temannya memakai sepatu dan baju baru. Sehingga akhirnya saya khilaf dan mencuri.”
              Konsep dunia tentang “baru” untuk memasuki tahun atau momen baru seringkali diberi penekanan harus lahiriahnya dengan mengenakan baju dan sepatu baru sehingga mal mengadakan obral (sale) besar-besaran dengan demikian  orang bisa membeli barang-barang dengan murah. Dunia bisa menangkap filosofi bahwa dunia ini memasuki yang “baru” secara lahiriah.
              Waktu kita membaca Injil Lukas pasal 5 ada satu dialog yang terjadi antara Tuhan Yesus dengan orang-orang Farisi. Kitab Injil banyak memberikan kita cerita tentang dialog antara Yesus dengan orang-orang Farisi. Bacaan kita bukan yang pertama kali tetapi banyak sekali Yesus dan orang Farisi beragumentasi karena orang -orang Farisi ingin menyerang dan menjatuhkan Yesus. Mereka ingin Yesus dengan popularitasnya yang semakin maju bisa mereka berhentikan. Kalau kita memahami tentang konsep makna puasa bagi orang-orang Farisi baru kita memahami apa yang dimaksudkan oleh Lukas  yang memberi argumentasi melalui perumpamaan Tuhan Yesus. Orang Farisi khususnya para imam mengajarkan puasa yang sedemikian ketat, njelimet dan dituntut karena mereka punya pemahaman bahwa mereka menantikan seorang  Mesias yang akan datang. Jadi menurut pemahaman mereka nubuatan nabi-nabi membicarakan bahwa ada Mesias yang akan datang dan menolong mereka. Ia dari keturunan Raja Daud. Sehingga apa yang mereka harapkan dari kedatangkan Mesias, harus mereka persiapkan dengan cara mereka melatih dan membuat diri mereka harus mengikuti aturan-aturan agama yang ketat dan salah satunya adalah puasa. Mereka menuntut secara lahiriah agar orang-orang  dan pengikut-pengikut Taurat harus hidup seperti yang mereka lakukan. Kalau mereka berpuasa maka orang-orang lain juga harus berpuasa. Murid-murid mereka puasa maka murid-murid dari pengajar lain juga harus berpuasa. Waktu mereka harus mempersiapkan diri mereka karena kedatangan Mesias yang mereka nantikan akan datang membebaskan mereka dari penjajahan maka mereka harus menjaga perilaku mereka. Mereka puasa dan melakukan tuntutan agama dengan ketat.
              Sehingga waktu murid-murid Yesus makan dan minum, mereka complain. Mengapa murid-murid Yesus tidak puasa? Mereka pintar dengan mengungkapkan bahwa murid-murid Yohanes sering berpuasa. Mereka tidak ingin mengangkat murid-murid mereka terlebih dahulu. Yohanes adalah tokoh yang juga dihormati dan punya peran yang  luar biasa. Pada permulaan Injil kita menemukan bagaimana Yohanes dengan pengaruhnya membuat orang-orang  di Utara dan Selatan datang berbondong-bondong untuk untuk mendengarkan Yohanes. Yohanes dengan kemampuannya mengajar, pengaruh yang luar biasa dan pengajarannya yang berani menegur orang membuat Yohanes disegani dan punya banyak pengikut. Murid Yohanes (berarti  murid orang terkenal) juga berpuasa, selanjutnya baru mereka katakan bahwa murid-murid mereka juga berpuasa. Artinya mereka juga sama . Namun konsepnya keliru. Karena Yesus berkata pada orang-orang Farisi, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa. (Lukas 5:34-35).  Dia berkata, “Apa yang dilakukan oleh Yohanes dan murid-muridnya karena mereka tidak mengerti bahwa mempelainya ada bersama-sama mereka. Nanti baru setelah mempelainya diambil mereka berpuasa. Ungkapan ini pernah disampaikan oleh Tuhan Yesus juga. Dari situ Yesus mengkirtik dan membersihkan pemikiran orang Farisi yang keliru tentang konsep ‘baru’. Maka Yesus masuk ke perumpamaan tentang kain baju dan anggur.
              Perumpamaan ini adalah perumpamaan yang diambil oleh Yesus yang merupakan sebuah pepatah yang sangat dikuasai oleh orang-orang Yahudi . Karena rabi-rabi Yahudi pada zaman dahulu memiliki pepatah (kata Mutiara) yang berhubungan dengan apa yang Yesus katakan. Yesus memulai sebuah perumpamaan pada ayat 36  Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Itu ilustrasi yang pertama. Yang kedua, anggur yang baru harus ditaruh pada kantong (kirbat, botol) yang baru kalau tidak akan merusak tempatnya. Itu ilustrasi yang sering diungkapkan oleh rabi-rabi mereka. Yesus mengambil (mengangkat) dari apa yang didengar dari rabi-rabi mereka. Orang-orang Yahudi sangat menghargai perkataan senior mereka. Bagi mereka perkataan rabi sangat penting untuk mereka terima. Rabi-rabi  itu mengajarkan , “Kalau engkau pakai tinta baru jangan engkau tulis di kertas (papyrus) yang sudah lapuk. Karena kalau gunakan tinta yang baru untuk menulis di atas kertas (papyrus) yang lapuk, maka engkau akan saksikan sendiri bagaimana kertasnya akan hancur karena tinta yang baru. Ini menarik sekali karena saat Yesus bicara pada mereka tentang apa yang rabi-rabimu ajarkan sendiri, kalau engkau menulis di atas media seperti kertas (papyrus) yang lapuk maka engkau sendiri akan menyaksikan kertas (papyrus) itu akan hancur oleh karena tinta yang  baru.

Apa yang Tuhan Yesus ingin sampaikan kepada mereka?

1.     Yesus ingin membawa mereka untuk melihat nilai rohani yang harus dilakukan (dikerjakan) pada diri seseorang.
Yang dituntut Tuhan adalah karakter mereka. Karena karakter mereka tidak ada perubahan meskipun mereka notabene seringkali tidak asing dengan firman Tuhan. Orang-orang  Farisi adalah orang yang mengajar firman Tuhan tetapi mereka tidak mengalami perubahan dari firman (karakter mereka tidak pernah berubah setelah mendengar firman). Itu sebabnya catatan penulis Injil Matius 23 sebelum Yesus khotbah tentang akhir zaman, Tuhan Yesus mengecam ahli-ahli Taurat bahwa mereka adalah orang-orang munafik yang sungguh-sungguh mengajarkan ini-itu tapi mereka tidak melakukannya. Mereka membuat orang tidak bisa masuk sorga padahal mereka sendiri tidak bisa masuk sorga. Mereka mencegah, menghakimi orang kemudian menelan rumah-rumah janda sementara mereka berpuasa jadi  mereka melakukan hal-hal yang kontradiktif dari apa yang firman ajarkan.
         Waktu saya coba renungkan firman ini saya merasa agak ngeri. Ada ungkapan dari jemaat yang berkata, “Sudah jadi majelis tapi tidak disangka bahwa ia tetap menipu”  atau “Hamba Tuhan itu benar-benar menggelapkan uang”. Itu ungkapan-ungkapan yang saya selalu dengar dan ungkapan-ungkapan itu benar-benar mengerikan. Ungkapan itu dekat dengan kita yang melayani. Waktu kita mendengar seorang hamba Tuhan menggelapkan Tuhan, ada yang berkata,”Kok hamba Tuhan bisa begitu ya?” Saat hamba Tuhan melakukan kesalahan, ada yang bertanya,”Kok hamba Tuhan bisa begitu?” Pertanyaan itu lahir karena bingung. Ia mengajar, berkhotbah dan memberitakan firman tapi melakukan tidak sesuai dengan apa yang diajarkan. Istri saya berkata, “Apa yang memang menjadi pengetahuan tapi tidak dilakukan berarti hanya teori saja” Saat hamba Tuhan menipu, mencuri , menggelapkan atau berzina , hanya ada satu kalimat,”kok bisa?” Demikan juga dengan majelis yang melakukan sesuatu yang berbeda dari apa yang dipahami timbul perkataan,”Kok majelis bisa?”. Banyak orang tidak mau menjadi orang Kristen waktu ia melihat hamba Tuhan dan majelis nya seperti itu karena berbenturan dengan apa yang dipahami. Sebagai orang mengajarkan firman , seharusnya ia hidup dalam firman. Apa yang mereka dapati tentang firman Allah justru membuat mereka semakin luar biasa melakukan kejahatan.
Kita sudah mendengar dan mendapat firman Tuhan banyak sekali. Tetapi kalau tidak berubah karakteristik-nya, saya khawatir firman Tuhan yang engkau dengar akan menghancurkanmu dan  membuat engkau semakin terpuruk dengan kelakuan dan hidup yang semakin jahat. Artinya saat memasuki tahun baru, dan engkau tidak baru dalam karakteristikmu yang seharusnya diubahkan oleh firman, maka firman yang baik, benar dan ditaburkan justru akan mengoyakkan engkau.
   Saya ingat waktu Rasul Paulus berkata dalam kitab Roma, “Apakah hukum Taurat itu dosa?” Tidak! “Apakah hukum Taurat itu salah?” Tidak! “Apa yang benar yaitu Taurat diberikan oleh Allah. Tetapi karena mereka tidak mau berubah, maka Allah mengijinkan hati mereka untuk terus mengikuti kejahatan hati mereka. Sehingga akhirnya mereka benar-benar hancur-lebur dalam kejahatannya.
   Kita memasuki tahun 2019 hari ini, masih ada 364 hari lagi. Kita sudah melewati tahun 2018, apakah kita sungguh memiliki kebenaran firman Tuhan yang mengubah atau kebenaran firman itu tidak mengubah? Kalau kebenaran firman itu tidak mengubah, apa yang dikatakan Rasul Paulus sebagai manusia baru, maka sesungguhnya kita akan berada pada peribahasa  yang Tuhan sampaikan bahwa secarik kertas (kain) yang baru akan merobek kertas (kain) yang lama.  Jangan pernah bermain-main atau berpikir bahwa firman Tuhan yang diterima setiap minggu kalau disepelekan akan tidak punya dampak terhadap kejahatan dan kedegilan kita karena itu akan menghancurkan hidup kita. Mari pikirkan tahun 2019. Karakter apa yang masih benar-benar menjadi kekuatan saya untuk hidup di dalam dosa? Kekuatan karakter saya yang masih bertentangnan dengan firman Tuhan! Pikirkan baik-baik, waktu karakter tidak diubahkan maka dengan mendengar firman Tuhan maka engkau justru semakin beringas, jahat dan berbahaya.
   Waktu baru memasuki tahun baru 2019, minta Tuhan agar diberikan hati yang sungguh-sungguh mau  diubahkan sehingga kalau Tuhan tegur dan nyatakan, kita berubah. Hati yang seperti itulah yang benar-benar bisa bertumbuh dalam firman Tuhan.

2.     Anggur yang baru disimpan dalam kirbat (botol) yang baru.
Kemarin waktu ke Tegal, kami minum sedikit soju (minuman beralkohol Korea) rasa anggur. Yang ikut minum soju adalah saya, Aldin dan Ev. Putra. Bolehkah hamba Tuhan minum soju? Boleh, asal jangan jadi peminum. Karena ada gereja yang majelisnya pro-kontra terhadap minuman beralkohol. Majelis yang pro mengajak hamba Tuhannya untuk minum. Namun saat minum terlihat oleh majelis yang kontra dan kemudian melaporkannya ke sekolah teologianya sehingga diskors. Saya saat meminum minuman beralkohol mukanya menjadi merah sedangkan Aldin alergi terhadap minuman beralkohol (mukanya jadi berbentol-bentol). Kadar alkohol tergantung kadar minumannya. Jadi setelah itu kami langsung pulang agar tidak mabuk. Kalau minum anggur , maka harus minum anggur yang tua. Semakin tua anggur itu, semakin hebat kadarnya. Di Israel, kita diminta untuk melihat anggur dari daerah Kana. Semua peserta tour berbondong-bondong untuk belanja. Harganya berapa? Dijawab,”Tergantung anggur yang tahunnya lama atau yang baru. Yang lama bisa langsung diminum, yang masih baru 7 tahun lagi baru bisa diminum.” Bagi orang Indonesia yang diperlukan adalah harganya. Dikatakan,”Anggur yang tahunnya lama harganya 15-20 $ (dulu Rp 12.000/$). Kalau yang tahun yang baru, baru dibuat jadi perlu ditunggu lagi 15 tahun, harganya 5$.” Jadi itu yang dibeli. Anggur yang lama makin lama makin ok. Orang Israel, khususnya rabi punya pepatah. “Manusia ibarat botol. Semakin ditaruh anggur dan anggur mengenadap lama maka akan semakin sedap. Jadi dirimu waktu mendapat Taurat maka seharusnya Taurat menjadi kesukaan dan membuat sedap dan menjadikan enak.” Filosofi ini dituangkan dalam kitab Mazmur, “Tauratmu luar biasa”  yang dilukiskan oleh pemazmur seperti gambaran anggur tua. Karena itulah anggur yang baru harus disimpan dalam kirbat yang baru lalu disimpan terus sampai nanti anggur itu menjadi tua baru dibuka. Jadi anggur dan botolnya harus sama-sama tua. Itu yang disampaikan oleh rabi mereka. Tetapi Lukas kemudian menambahkan pada ayat 36 "Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.. Lukas ingin mengatakan : Yesus mengkritik orang-orang Yahudi khususnya orang Farisi, “Engkau menganggap dirimu anggur tua sementara engkau menganggap pengajaranKu sebagai anggur muda sehingga engkau tolak apa yang Aku ajarkan. Engkau merasa dirimu benar, konsep dan pengajaranmu benar sehingga engkau mengabaikan apa yang Saya ajarkan. Waktu Tuhan berbicara seperti ini, Tuhan sedang berbicara tentang konsep orang Yahudi keliru dan sungguh-sungguh tidak sesuai sehingga Tuhan memberikan perumpamaan ini (engkau anggur tua yang menganggap dirimu sungguh-sungguh hebat dan tidak perlu dinasehati sehingga engkau menolak apa yang Aku ajarkan).
         Kita sebagai orang Kristen, jangan-jangan kita punya konsep yang sama dengan orang Farisi. Konsep itu didapat dari keluarga, lingkungan, sosial media dan kemudian membuat kita punya pendapat. Dari pandangan dunia yang didapat membentuk kita. Konsep itu seringkali  bertabrakan degan firman yang mungkin menegur kita.

Saya punya catatan yang bagus sekali yakni :
a.       Orang Kristen zaman sekarang adalah orang Kristen yang pintar mendengar tetapi tidak pintar mengubah konsepnya.
Saya coba pahami orang Kristen zaman sekarang yang pintar mendengar tapi tidak pintar mengubah konsep. Contoh : Konsep tentang bohong putih. Itu adalah konsep yang dilakukan pada saat kepepet. Konsep itu sangat kuat dan sangat lumrah di masyarakat. Konsep ini dipegang dan dijalani meskipun firman Tuhan berkata tidak. Konsep mau sembuh dan kaya, ,membuat kita melakukan apa yang tidak dianjurkan firman Tuhan. Ada orang yang mau sembuh. Dia berkata,”Saya dengar kalau pergi ke sana bisa disembuhkan. Katanya tidak bertentangan karena tidak mengajarkan macam-macam.” Waktu kita menganggap apa yang didengar oleh konsep dunia  dan dilakukan, maka konsep itu dianggap anggur tua dan itulah yang Tuhan sampaikan kepada orang Farisi.

b.       Orang Kristen zaman sekarang adalah orang Kristen yang pintar mendengar tapi tidak pintar mengubah hidup.
Mengubah hidup artinya hidup yang tidak selaras dengan Firman tidak mau diubah meskipun sudah mendengar firman. Firman yang didengar dan dibaca tidak mengubah hidupmu. Hidupmu seperti dahulu sehingga engkau bukan manusia baru.

c.     Orang Kristen yang pintar mendengar tapi tidak pernah pintar mencari cara untuk hidup sinkron dengan firman Tuhan.
Menjadi orang Kristen yang  sungguh-sungguh memiliki kepekaan terhadap Tuhan maunya apa dan yang baru adalah dalam hidup kita taat pada firman dan mau melakukannya.  

3 ciri yang hidup berkenan kepada Allah

1.       Apa yang Tuhan senang membuat kita senang

Contoh : Tuhan senang kalau kita diberkati dan percaya kepada firman Tuhan. Sewaktu ia berbicara,”Jangan kamu khawatir” apakah kita percaya bahwa Tuhan itu benar-benar berbicara bahwa Ia akan memelihara. Tuhan disenangkan oleh orang-orang Yahudi sewaktu mereka melakukan dan menuruti firman Tuhan. Dalam kitab Injil ada 2 orang yang dipuji oleh Tuhan . Yang pertama adalah perwira yang berkata, “Tuan, jangan Tuan datang. Cukup Tuan bersabda (berbicara) maka hambamu pasti lakukan.” Tuhan terpesona karena perwira itu sungguh-sungguh menyenangkan hati Tuhan yaitu waktu dia mendengar firman dan percaya. Waktu Tuhan berkata,”Jangan khawatir” apakah percaya? Tuhan senang memberkati, menolong, orang pilihannya berada di dalam jalur . Saat memasuki tahun baru dengan hati yang sungguh-sungguh peka terhadap apa yang Tuhan senang, maka kita akan memasuki tahun itu dengan harapan yang luar biasa. Seornag anak diajak bicara oleh papanya,”Nak, kok kamu tidak ikut teman-teman kamu dengan menghisap narkoba?” Rupanya teman-temannya tertangkap karena menghisap narkoba. Anaknya menjawab,”Pa, meskipun saya kos di tempat yang jauh dan punya teman-teman yang mungkin sering menghisap narkoba, saya tidak mau. Karena saya hanya mengingat kata-kata papa agar saya menjauhinya.” Tuhan senang saat kita melakukan dan menuruti firman Tuhan dan belajar percaya pada Tuhan. Apa yang Tuhan senang , harusnya kita senang. Kalau Tuhan senang tapi engkau tidak senang, berarti engkau tidak memiliki kepekaan terhadap apa yang Tuhan mau.

2.     Waktu Tuhan marah, membuat hati kita seharusnya juga marah

Kalau seorang pemarah sedang marah-marah maka benar-benar dia akan marah. Dia akan berkata,”Saya benci!” Saya pikir ada benarnya kalau marah orang menjadi benci. Kalau tidak benci berarti tidak marah. Misalanya : kalau ditipu  dan marah maka pada saat itu pasti benci. Waktu Tuhan marah dan Tuhan benci , itu yang harus kita benci. Waktu Tuhan marah tentang hidup kita yang tidak berubah (masih bergelimang dosa), seharusnya engkau benci terhadap dirimu. Kalau engkau tidak benci terhadap dirimu, berarti engkau belum punya hati yang Tuhan mau. Tuhan marah kalau engkau masih menipu tetapi masih senang menipu, Tuhan marah kalau engkau menonton film porno tetapi engkau masih menonton juga, Tuhan benci kalau engkau omong jorok tapi engkau masih melakukannya. Berarti engkau belum sinkron dengan Tuhan dan belum punya hati seperti Tuhan

3.       Apa yang membuat Tuhan sedih seharusnya membuat kita sedih.

Saat ini kita memasuki tahun yang baru. Yang baru karaktermu apa yang harus diubah? Yang baru  dalam kehidupan hatimu, apakah sungguh-sungguh engkau mau memiliki hati yang peka terhadap apa yang Tuhan baru. Kalau yang baru ada dalam hati kita, maka kita akan sungguh-sungguh menikmati dengan kemurahan Tuhan.