Thursday, September 13, 2018

Gerejamu dan Bangsamu : Tanggung Jawabmu



Pdt. Hery Kwok

Galatia 5:13-15
13  Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.
14  Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!"
15  Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Yeremia 29:4-8
4  "Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, kepada semua orang buangan yang diangkut ke dalam pembuangan dari Yerusalem ke Babel:
5  Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;
6  ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang!
7  Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.


Pendahuluan

              Kamis lalu (16 Agustus 2018) kirab obor (torch relay) Asian Games 2018  etape pertama (5 kilometer) berjalan mulai dari Kantor Kelurahan Tanah Sereal - Jalan K.H Zainul Arifin - Jalan Gajah Mada - Jalan Pintu Besar Selatan - Jalan Pintu Besar Utara - Jalan Kali Besar Barat - Jalan Kunir sehingga polantas melakukan pengalihan arus lalu lintas di Jakarta Barat. Tepuk tangan, teriakan “Indonesia” dan lagu-lagu patriot terkait dengan kemerdekaan menyambut kedatangan pawai obor Asian Games 2018. Anggota komunitas motor gede (moge) mengawali iring-iringan kirab obor Asian Games 2018 di jalan Gajah mada. Warga yang sudah menunggu sejak pagi langsung bersorak-sorai menyambut obor tersebut. Kelompok drum band yang terdiri dari siswa SD pun dengan semangatnya menabuh alat musik yang mereka bawa walau mereka harus menunggu lama. Lagu penyemangat terus dimainkan, hingga obor berpindah tangan ke Devina Yuliandharini yang merupakan  atlet Nasional Renang Indah, dan di bawa ke etape selanjutnya.
Karena saya dan shi-mu tidak mengetahuinya maka sewaktu mau pergi belanja beberapa keperluan bazar gereja di Glodok lewat Hayam Wuruk dan Beos kami dihalangi oleh para petugas. Akhirnya mobil saya parkirkan di Jl. Pinangsia. Begitu banyak orang yang menonton kirab obor tersebut sehingga lalu lintas macet total. Mereka bersorak dan menyanyikan lagu-lagu nasional sehingga suasananya sangat bersemarak. Kami ingin ke Glodok karena mau berbelanja ke toko yang menjual barang-barang kebutuhan rumah tangga (alat-alat masak). Saat kami tiba, toko itu sedang sepi pengunjung. Biasanya toko itu sangat ramai , sehingga pemiliknya tidak mau melayani pertanyaan para pembeli. Namun hari itu hanya ada saya dan istri. Setelah saya menyapanya ia membuka pembicaraan dengan kalimat, “Sebentar lagi kita akan mengikuti pemilu. Kira-kira pilih siapa ya?” Saya memahami arah tujuan pertanyaannya yang ingin memancing jawaban. Jadi saya menanggapinya,”Kita pilih calon presiden yang memiliki kinerja yang jelas dan telah terbukti mensejahterakan rakyat.” Namun ia sepertinya tidak setuju dan membalas,”Tetapi keadaan ekonomi sekarang sedang sulit dan merosot.” Saya balas kembali,”Yang merosot bukan hanya ekonomi Indonesia saja tetapi juga ekonomi negara-negara lain seperti Singapura dll. Jadi bukan karena gara-gara negara kita dipimpin oleh presiden sekarang.” Dia pun terdiam sejenak lalu berkata lagi,”Tapi hari ini menjelang Asian Games ada pawai obor keliling melewati Glodok membuat toko saya sepi.” Ini adalah contoh orang egois karena hanya memikirkan diri, dagangan dan tokonya saja  dan tidak mau melihat kepentingan bangsa yang lebih besar. Kalau hidup orang-orang seperti ini, bagaimana dengan gereja dan apa jadinya negara?
              Saya pernah berkumpul dengan teman SMA. Dia berkata,”Saya belum tentu pilih presiden yang mencegah korupsi.” Saya pun menanyakan alasannya,”Mengapa?”. Ia pun menjawab,” Karena usaha saya menjadi susah!” Saya pun mencoba mengingatkannya, “Mengapa tidak memikirkan negara jauh ke depan atau memikirkan generasi mendatang tapi hanya memikirkan diri sendiri? Karena bagimu di negara yang bisa korupsi kamu bisa jadi makmur, berdagang dan mendapat keuntungan pribadi!” Seringkali kita melihat kebenaran bahwa apa yang ada dalam diri manusia tentang  rasa mementingkan diri (ego) sangat luar biasa.
              Dalam kitab Galatia, Rasul Paulus ingin memberikan suatu catatan yang sangat penting. Sehingga tema hari ini adalah kita mempunyai tanggung jawab yang tidak boleh kita abaikan. Kedua contoh di atas di mana manusia selalu menuntut hak-hak dan keinginannya. Tapi manusia telah kehilangann dan lupa punya tanggung jawab. Kita punya 2 institutsi yang Tuhan berikan untuk menolong orang yang tidak hanya memikirkan diri , tidak picik untuk golongan-nya sendiri dan tidak mau peduli dengan orang lain yaitu gereja dan negara.

Tanggung Jawab Orang Kristen

1.     Tanggung Jawab kepada Gereja

Apa tanggung jawab kita dalam kehidupan sebagai orang Kristen yang sudah ditebus oleh Tuhan? Apa tanggung jawab kita sebagai gereja yang ditempatkan Allah dalam keberadaan kita?
         Kitab Galatia 5: 13 mengatakan Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat Galatia memberikan catatan-catatan yang sangat keras ke jemaat di sana. Surat Galatia adalah surat yang paling keras karena di sana Rasul Paulus mencela dan mengkritik orang-orang yang Kristen yang hidupnya tidak berpadanan dengan Firman Tuhan dan hanya mementingkan kedagingannya. Itu sebabnya pada Galatia pasal 5 Rasul Paulus memberikan kriteria dan ciri dari orang-orang yang dipimpin oleh keinginan  roh dan keinginan daging. Padahal pada ayat 13 Rasul Paulus mengatakan bahwa  kamu adalah orang-orang yang sudah merdeka. Rasul Paulus menjelaskan tentang status orang-orang yang sudah percaya Kristus yang disebut sebagai gereja Tuhan.
         Ada 2 definsi tentang gereja yaitu yang pertama adalah orang-orangnya yaitu kita  yang telah ditebus dan  dimerdekakan oleh Kristus dari dosa. Yang kedua adalah institusinya. Di sini saya berbicara tentang orang-orang-nya (definisi yang pertama). Rasul Paulus berbicara tentang orang-orang yang sudah dimerdekakan. Rasul Paulus memulai dengan kalimat bahwa statusmu sudah jelas yakni sebagai orang merdeka. Kalau tidak menghargai kemerdekaan , kita tidak pernah bisa mengisi kemerdekaan itu. Kadang-kadang manusia suka ironis dalam kondisinya. Waktu di penjara kita menghendaki kebebasan (kapan saya bebas atau kapan dapat remisi?). Kalau berbuat baik di penjara agar saya pada hari raya dapat remisi dan dipotong masa tahanannya. Anehnya, sewaktu tahanan berada di penjara ingin bebas, tetapi waktu berada di luar penjara dan sudah bebas, orang tidak mengerti arti kekebasan. Artinya kita tidak mengisi kebebasan itu  dengan hal-hal sepatutnya. Maka kondisi ini sangat ironis dan bertentangan. Orang yang di penjara ingin bebas, sedangkan orang yang bebas, tidak memahami kebebasannya dan dia melakukan hal yang baik. Pada ayat 13, Rasul Paulus  mengatakan, “Memang kamu sudah dipanggil untuk merdeka.” Ia ingin mengingatkan bagaimana Allah di dalam Kristus sungguh-sungguh telah melakukan karyaNya yang hebat. Waktu membaca ayat ini, saya teringat injil Matius tentang penggarap kebun anggur. Peristiwa ini dicatat dengan baik oleh Matius. Pemilik kebun anggur mengirim orang-orang upahannya untuk menagih. Orang-orang upahan ini merupakan catatan tentang nabi-nabinya. Allah telah mengirim orang-orang upahannya yaitu nabi-nabinya  untuk datang dan memperingati tentang dosa dan tentang bagaimana mereka harus bertobat, sebagai orang pilihan harus punya kehidupan yang jelas. Tetapi dalam catatan tentang kebun anggur ini, orang-orang itu (para penggarap) membunuh orang-orang suruhan. Lalu pemilik kebun anggur mengirim anaknya yang diharap akan dihormati dan diberi tempat yang baik. Tetapi justru waktu melihat anak majikan itu penggarap-penggarap anggur membunuhnya. Pada ayat 13 (memang kamu telah dipanggil untuk merdeka) Rasul Paulus ingin mengingatkan karya Kristus yang telah sungguh-sungguh menebusmu dan  membebaskan engkau dan telah membuatmu tidak ada lagi dalam kukungan dosa dan terbebas dari kuasa dosa.
         Dalam ayat selanjutnya ia menuliskan ,”Tetapi janganlah kamu menggunakan kesempatan itu untuk hidup dalam dosa”. Kebebasan yang diberikan dalam Kristus, tidak membuatmu melakukan sebebas-bebasnya seperti di dalam hati. Kebebasan kita adalah kebebasan yang terbatas. Para filsuf Barat khususnya Immanuel Kant (1724-1804) mengatakan , “Kebebasan manusia tidak bisa sebebas-bebasnya.” Karena kalau kebebasan manusia dilakukan sebebas-bebasnya maka akibatnya akan mengerikan. Pdt. Stephen Tong pernah berkata ,”Kalau kita berada di jalan raya dan di perempatan jalan tidak ada lampu merah maka setiap orang bisa jalan, nyelonong dan ngebut dari keempat jurusan, maka di perempatan itu akan terjadi kecelakaan yang mengerikan.” Karena kebebasan dilakukan seenak nya. Kita tidak berpikir bahwa kebebasan kita terbatas terhadap apa yang ada di sekeliling kita. Jadi waktu bicara tentang kebebasan, Rasul Paulus berbicara tetang kebebasan yang tidak boleh digunakan untuk kesempatan dalam dosa. Apa maksud dengan  frase “kesempatan dalam dosa”? Ia bicara tentang keinginan daging yang sifatnya untuk kepentingan diri sendiri. Keinginan daging yang membuat kita hidup untuk diri kita.
         Contoh sederhana dari keinginan yang sebenarnya selalu untuk kita. Ada yang senang nyontek karena itu perkara yang paling mudah. Tidak perlu usaha banyak tapi memperoleh hasil sebanyak-banyaknya. Itu adalah ego karena orang tidak mau belajar dengan susah payah tapi mau mendapat nilai. Kita berusaha dengan cara-cara yang tidak bagus karena keinginannya untuk diri sendiri. Itu terbukti banyak sekali.  Beberapa waktu lalu, saya melakukan diskusi dengan teman-teman. Sekarang zaman online yakni zaman di mana  saat mau beli barang kita tidak perlu ke toko, tinggal buka aplikasinya (seperti  Tokopedia, Blibi dll) lalu pesan. Dalam sistem usaha online ada yang bisa diakali untuk mengambil keuntungan. Kemudian ada yang membuka rekening bodong lalu mencoba pesan barang yang sebenarnya tidak ada, agar dapat komisi. Dengan melakukan hal tersebut untuk mendapat komisi (tanpa ada transaksi jual beli) maka itu sebenarnya transaski untuk kepentingan di mana kita melakukan perkara-perkara yang sifatnya untuk ego, memuaskan hawa nafsu atau perbuatan dosa. Maka dikatakan Rasul Paulus agar kita  jangan menggunakan segala kebebasan untuk melakukan hal-hal yang sifatnya dosa.
         Beberapa waktu lalu seorang teman hamba Tuhan ditilang gara-gara melanggar peraturan lalu-lintas ‘3 in 1’ . Ia marah sekali karena merasa rambu-rambu tidak jelas dan  oknum polisi hanya mencari-cari kesalahan orang untuk mencari uang. Sehingga polisi dicap agar bila nanti punya anak perempuan jangan menikah dengan polisi karena polisi adalah aparat yang suka menilang orang, mencari kesalahan orang dan segala macam. Itu gara-gara kesalahan seorang oknum polisi maka semua polisi dicap tidak benar. Sehingga ada yang memberi pernyataan, “Biar saja polisi itu makan duit dengan tidak benar, nanti anak-istrinya akan makan duit yang tidak benar.” Sehingga kalau bisnis kita tidak benar, maka kita sedang memberi anak-istri makanan yang tidak benar yang kata orang “tidak jadi daging”. Karena kita berada dalam kebebasan untuk berbuat dosa. Rasul Paulus mengingatkan kita agar tanggung jawab kita sebagai orang yang telah ditebus, dimerdekakan, melayani seorang akan yang lain. Ia memberikan kita catatan untuk melakukan tugas sebagai gereja yaitu melayani. Karena waktu kita melayani maka kita hidup dalam pimpinan roh. Orang yang melayani adalah orang yang tidak ego terhadap dirinya, tetapi membuka hatinya untuk orang lain dan memberikan dirinya untuk orang lain. Aku ingin ikut ambil bagian dalam apa yang dibutuhkan. Apa yang menjadi kesulitanmu saya ingin ikut ambil bagian. Itu tanggung jawab gereja yang dicatat oleh Rasul Paulus oleh karena kita sudah dimerdekakan. Kalau kita sudah dimerdekakan tetapi tidak menggunakannya dengan melayani maka kita akan menggunakan kebebasanmu untuk melakukan dosa. Karena itulah Rasul Paulus mengingatkan tanggung jawab kita yang sangat baik sekali.

2.     Tanggung Jawab kepada Negara

         Ini merupakan tanggung jawab kita sebagai warga negara. Nabi Yeremia memberi catatan suatu kondisi orang Israel yang berada dalam pembuangan. Orang Israel mengalami dua kali perjalanan exodus. Pertama, perjalanan Israel keluar dari Mesir ke Tanah Kanaan, itu exodus pertama. Saat itu mereka merasa sukacita karena mereka menemukan tanah perjanjian dan mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir. Mereka tidak lagi diperhamba oleh bangsa Mesir. Mereka pergi dengan sukacita karena mereka berada di negara yang dijanjikan Tuhan. Exodus kedua adalah orang Israel pergi ke tanah pembuangan karena dosa-dosa mereka. Itu merupakan masa yang paling susah. Sebagai bangsa mereka sudah kehilangan dirinya. Sebagai orang Yahudi, nilai mereka sudah habis dengan musuh mereka. Di tempat pembuanganlah ada nabi palsu yang mengatakan bahwa kita akan pulang dan Allah memberi kelepasan lagi . Allah mengatakan itu adalah janji-janji yang palsu. Pada kitab Yeremia 29:8 dikatakan  Sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Janganlah kamu diperdayakan oleh nabi-nabimu yang ada di tengah-tengahmu dan oleh juru-juru tenungmu, dan janganlah kamu dengarkan mimpi-mimpi yang mereka mimpikan! Karena mereka adalah nabi-nabi palsu maka kamu tidak perlu mendengarkan mereka.

Waktu di orang-orang Yahudi ada di negara pembuangan Tuhan ingin mengingatkan :

1.     Hidupmu ada di negara yang memang Aku berikan sebagai konsekuensi dosamu.

Kamu harus menanggung dosamu dan kamu berada dalam pembuangan di mana engkau menanggung semua kesalahanmu. Di sanalah engkau harus berdiam diri dan hidup sebagai bangsa yang terjajah. Pada ayat ke-8 dikatakan “Sesungguhnya firman Tuhan : Jangan kamu diperdayakan oleh nabi-nabi”. Ayat ini ingin mengingatkan bahwa realita hidup di mana Allah taruh engkau di mana saja adalah realita yang harus engkau jalani.  Orang Israel tidak mau menerima realita bahwa mereka dijajah. Itu sebabnya mereka ada yang mau pulang dan kembali dan Tuhan marah dengan orang-orang seperti ini. Saya ingin menghubungkan dengan realita di Indonesia. Suku Tionghoa, Jawa , Batak adalah orang Indonesia. Kita hidup di Indonesia yang beraneka ragam dan pluralisme. Itu sangat kental dalam perjalanan hidup kita berbangsa. Kita mungkin sebagai kelompok yang menganggap diri orang-orang minoritas. Seringkali mungkin ada perasaan-perasaan di mana kita berontak dan tidak menerima, tetapi itu adalah realita.  Saya senang dengan ayat ini karena Nabi Yeremia mengingatkan tentang realita di mana kita ditempatkan adalah bukan kebetulan. Tuhan tidak pernah menempatkan kita secara kesalahan atau kebetulan . Kita dilahirkan sebagai orang Indonesia , itu adalah rencana Allah untuk kita. Waktu kita ditempatkan sebagai bangsa Indonesia dan kita adalah orang percaya kepada Kristrus , mungkin kita adalah kelompok sangat kecil. Tetapi realita ini tidaklah membuat kita tidak memiliki peran dalam negara ini. Karena itulah Nabi Yeremia mengingatkan realita ini terlebih dahulu agar realita ini jangan sampai membuat kita tidak membuka diri atau tertutup atau membenci. Berapa lama kita menjadi orang-orang yang membenci orang-orang sebangsa kita. Berapa lama kelompok minoritas merasa yang kemudian memikirkan hal-hal negatif kepada bangsa ini. Waktu kemarin penetapan cawapres dan capres mendatang ada beberapa komentar muncul, di antaranya, “Apa masih mau golput seperti pada pilkada?” Ternyata waktu pilkada lalu, banyak yang memilih sebagai golput (tidak memilih). Siapa yang golput? Apakah kita dari suku etnis Tionghoa? Ini perkara penting. Kalau golput kita hilang telah kesadaran bahwa kita hidup dalam realita di bangsa ini sehingga kita tidak mau menerima realita itu. Nabi Yeremia mengingatkan agar sebagai orang-orang yang dibuang engkau harus bisa menerima  realita ini baru engkau bisa berkarya. Kalau tidak pernah menerima maka engkau tidak akan bisa berkarya di suatu tempat di mana engkau ditempatkan Tuhan.
Apa tanggung jawab kita sebagai warga negara di negara Indonesia. Pada ayat 5:4-6 Nabi Yeremia tidak bicara muluk-muluk (engkau akan menjadi politikus atau anggota DPR). Dia bicara tentang hal sederhana, tentang kontribusi orang Israel yang ada di Babel. Apa kontribusinya? Engkau harus bekerja keras di mana engkau bekerja atau berdagang maka jadilah karyawan atau pedagang yang baik , maka kontribusi sebagai tanggung jawab Yahudi di pembuangan “engkau harus bekerja keras”. Realitamu  membukakan bahwa engkau ada di sini , dan engkau tidak boleh berdiam dalam berkarya. Melalui apa? Melalui bekerja keras. Tanggung jawab kita sebagai bangsa Indonesia adalah kerja keras. Kerja keras inilah yang sudah mulai menghilang dalam zaman yang sekarang kita hidupi. Orang lebih senang dapat banyak uang tanpa perlu berlelah-lelah. Orang ingin cepat dapat uang tapi tanpa berkeringat. Mental ini adalah mental budak dan mengerikan. Mental ini masuk ke gereja dan masuk ke orang-orang Kristen. Ada banyak orang Kristen yang tidak mau bekerja keras tapi mau enak dan uang banyak. Ada banyak orang Kristen yang bekerja lalu berhenti, kerja lagi terus berhenti lagi  dan terus begitu. Itu mental yang tidak mau bekerja keras.
Saya hidup saat ekonomi  sedang susah. Papa saya orang susah. Dari kecil  saya menenteng es untuk dibawa ke kantin. Itu pekerjaan yang memalukan karena teman-teman saya melihat saya membawa es. Tetapi papa saya hanya berkata, “Kalau kamu tidak mau bekerja keras, maka lebih baik kamu tidak hidup.” Kata-kata ini luar biasa karena membentuk saya untuk tidak menyerah terhadap kondisi. Saya berani untuk terus bekerja karena itulah yang ditanamkan dalam diri saya. Nabi Yeremia berkata, “Usahakanlah tempat di mana engkau berada.” Ia bicara tentang kerja keras yang harus kita lakukan di bidang masing-masing. Kita tidak usah-usah muluk seperti ingin membela bangsa dan lain-lain. Bekerjalah dengan baik. Saat bekerja sebaik-baik, punya keluarga baik, tidak menyusahkan lingkungan dan tidak menjadi beban negara. Itu sudah baik.  Tetapi sepanjang kita tidak bekerja keras, dan engkau menjadi keluarga yang merepotkan dan menjadi beban negara, maka itulah yang menjadi bahaya .
Saya beberapa kali bergurau dengan orang-orang yang taraf ekonominya rendah tapi anaknya banyak. Saya suka berkata,”Bu tidak dipikirkan mengapa punya anak lagi?” Jawabannya mudah,”Habis kebablasan Pak” jawabnya santai. Maunya tidak tapi akhirnya dapat.” Untuk mencari makan saja susah tetapi anaknya terus lahir. Saya terkadang berpikir,”Kita maunya apa? Tidak mau kerja keras tetapi anak maunya banyak dan duit maunya banyak” Ini mental budak. Nabi Yeremia mengingatkan “Engkau berada di negara Babel dan engkau harus tetap bekerja keras!” Mari pikirkan semangat ini. Karena semangat ini lahir dari Kitab Suci. Semangat di mana engkau ada dengan realitamu dan engkau  terus bekerja keras.

2.     Harapan akan hidup yang lebih baik.

Dalam ayat 5-6 Dirikanlah rumah untuk kamu diami; buatlah kebun untuk kamu nikmati hasilnya;  ambillah isteri untuk memperanakkan anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah isteri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan, agar di sana kamu bertambah banyak dan jangan berkurang! Ayat-ayat ini berbicara tentang harapan untuk hidup yang lebih baik. Waktu orang percaya yang bekerja-keras punya harapan, punya sesuatu di mana engkau percaya terhadap apa yang akan Allah buat, itu akan membuatmu menjadi orang-orang yang punya mental kuat menghadapi tantangan. Ini sebenarnya modal yang bisa diberikan kepada bangsa ini. Ketika engkau mempunyai spirit yang kuat dan punya pandangan tentang masa depan yang bisa diyakini di dalam Tuhan maka engkau akan menjalani hidup itu dengan luar biasa. Menjalani hidup dengan luar biasa inilah adalah sebuah upaya yang bisa diberikan kepada bangsa ini karena engkau bisa berkontribusi untuk bangsa ini dengan baik.

Mari pikirkan apa yang engkau bisa perbuat untuk gereja dan negaramu. Karena kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan oleh Tuhan.

Keluargamu Ladangmu






Ev. Susan Kwok

Keluaran 2:1-10

1  Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi;
2  lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya.
3  Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil;
4  kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia.
5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya.
6  Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: "Tentulah ini bayi orang Ibrani."
7  Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?"
8  Sahut puteri Firaun kepadanya: "Baiklah." Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu.
9  Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu." Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya.
10  Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air."

Pendahuluan

              Tema hari ini : “Keluargamu adalah Ladangmu”. Berbicara tentang ladang di tengah keluarga bukan sekedar berbicara tentang penginjilan, namun kita berbicara tentang banyak hal termasuk penginjilan yakni  bagaimana bila ada anggota keluarga yang belum mengenal Tuhan dan kita harus punya beban dan kerinduan untuk mendoakannya. Dengan perkataan lain, hal ini bisa berbicara tentang bagaimana kita mempunyai konsep keluarga yang bernilai dan juga bagaimana kita melihat keluarga kita sebagai sesuatu  yang Tuhan percayakan untuk kita garap, gali dan temukan mutiara-mutiara rohani di dalam keluarga. Jadi kita bukan berbicara tentang sesuatu yang sepele (jauh yang tidak bisa kita jangkau) tetapi sesuatu yang sangat sederhana yang ada di depan kita. Setiap kita pasti punya keluarga. Bagi yang belum menikah pasti punya orang tua dan saudara. Bagi yang sudah menikah mungkin sudah punya anak. Atau ada yang sudah berpacaran dan berencana ingin menikah. Terdapat begitu banyak permasalahan dalam keluarga. Ada keluarga yang sudah mengenal Tuhan dan ada keluarga yang anggotanya belum mengenal Tuhan. Ada keluarga yang tabiatnya berbeda-beda  Berbicara tentang keluarga itu berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kita.

Beberapa Keadaan Keluarga Kristen

              Pengalaman ini saya temukan sepanjang pelayanan dan kehidupan saya dan terjadi di tengah keluarga Kristen. Sebagian contohnya membuat saya merasa khawatir dan sedih, tetapi ada juga contoh yang menguatkan. Itulah hidup, ada yang baik dan tidak baik. Dari yang tidak baik kita bisa belajar jangan seperti itu dan dari yang baik kita belajar bagaimana kita bisa seperti itu.
              Saya mengenal seorang bapak yang menjadi aktivis di gereja. Awalnya saya mengetahui  ia seorang yang mencintai keluarganya (istri dan anaknya). Tetapi perjalanan waktu membuatnya berubah. Ia tertarik dan jatuh cinta pada seorang janda (non Kristen) lalu ia hidup bersama (samen leven) dengannya dan  meninggalkan istri dan anaknya. Secara organisasi , saya dan mu-shi tidak ada kaitan dengannya, tetapi secara pertemanan ada.  Sehingga ketika diminta tolong untuk mengunjungi orang tersebut, kami coba mengunjunginya walau tempatnya jauh dari Jakarta. Kami berusaha datang mencari setelah Mu-shi pernah bertemu dengannya secara tidak sengaja. Lalu secara sengaja kami datang membesuknya. Waktu pagi kami datang, pintu rumahnya digembok. Lalu siang hari kami datang lagi dan ternyata masih dikunci. Demkian juga sore hari kami datang lagi dan masih dikunci juga. Saya berkata dengan kesal, “Kita buat kemah saja di depan rumahnya, agar bisa tahu kapan dia pulang! Jangan-jangan dia berada dalam rumahnya.” Kami pun bertanya ke tetangga , “Apakah ada orang di rumah itu?” tetapi tetangganya juga tidak tahu. Saya merasa yakin pasti ada karena waktu kami  datang pada siang hari lampu rumahnya tidak menyala tetapi waktu kami datang lagi pada malam hari lampunya sudah menyala. Siapakah yang menyalakannya? Saya juga tidak tahu apa dia menggunakan lampu otomatis yang menyala saat gelap. Tetapi bisa saja ia ada di dalam. Jadi saya berkata,”Mu-shi , besok pagi-pagi kita datang fajar-fajar agar bisa melihat pukul berapa dia keluar rumah”. Tetapi tetap saja ia tidak keluar-keluar. Ia tidak mau berelasi lagi dengan teman-teman lama. Sangat menyedihkan karena ia aktifis. Dulu saya pernah menegurnya satu kali. Saat itu ia menjadi majelis di suatu gereja tetapi ia paling bisa menemukan kesalahan-kesalahan orang lain. Kesalahan yang tidak bisa kami temukan, dia bisa temukan. Dia punya ‘talenta’ seperti itu. Jadi saya pikir orang ini ada sesuatu yang Tuhan ingin dia urus. Dia tidak boleh lari dari permasalahan. Itu inti dari maksud kami datang yaitu agar dia jangan lari dari permasalahan tetapi harus hadapi dan selesaikan bagaimana caranya. Saya juga tidak tahu bagaimana caranya, yang penting kami bertemu dahulu. Tetapi ia tidak mau menemui. Jadi sangat tragis. Sampai hari ini, istrinya banting tulang sendiri dan tidak ada komunikasi.
              Contoh kedua. Seorang teman yang lebih tua sedikit usianya dari saya dan sudah memiliki anak.  Ia berkata terang-terangan,”Anak saya akan saya kuliahkan di Universitas A!”. Saya berkata,”Wow!” Karena universitas yang dipilih itu adalah universitas yang beken, keren, dan mahal. Banyak pejabat, pengusaha dan  orang kaya yang menyekolahkan anak-anaknya di sana.” Saya bertanya,”Mengapa harus di sana? Bukankah di sana lokasinya jauh? Mengapa tidak cari dekat sini saja yang bagus? Di sini juga banyak yang bagus” Ia menjawab, “Itu modal untuk anak saya bisa bertemu anak orang keren dan terkenal. Bertemu anak pejabat dan pengusaha. Siapa tahu suatu hari ia akan kenal dan berpacaran , lalu kenalannya itu menjadi suaminya sehingga saya menjadi tenang.” Saya terdiam , bingung dan bertanya-tanya dalam hati,”Ini sebenarnya sedang meminta anaknya sekolah atau yang lainnya?” Mengapa ada orang yang punya konsep seperti ini? Mungkin ada juga yang lain tetapi dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Saya tidak mengerti karena orang tua tidak melihat anaknya sebagai anggota keluarga yang harus diurus dengan benar, tetapi lebih mirip sebagai modal yang nanti suatu hari harus dikembalikan dengan bunganya. Bagaimana kalau nanti yang jatuh cinta pada anaknya bukan dari kalangan di sana? Mungkin anaknya bisa ‘digorok lehernya’! Cinta mana bisa dipaksa? Apalagi anak sekarang, maunya bebas.
              Contoh ketiga. Saya punya seorang kenalan. Usianya jauh di bawah saya. Setelah  beberapa saat menikah, ia berkata, “Waduh shi-mu, saya baru tahu orang Protestan seperti itu.” Saya merasa heran,”Mengapa?” Apa maksudnya berbicara seperti itu (menyebut Protestan). Ia beribadah di Gereja Betel, aliran karismatik dan ia senang ke JPCC. Saya melihat foto pernikahannya. Ternyata suaminya tampan sekali. Tetapi tidak lama kemudian, usia pernikahannya tidak bertahan lama. Hanya 3 bulan! Hanya seumur jagung ia sudah bercerai karena permasalahan yang sangat luar biasa. Di hari pertama menikah, waktu membersihkan dandanannya dia masuk ke kamar mandi. Di sana ia menjadi bingung melihat suaminya punya peralatan make-up yang lebih banyak dari dia sendiri. “Ini apa?” tanyanya kepada suaminya. Suaminya pun menjelaskan,”Ini sabun muka. Ini sabun tumit. Ini sabun tangan. Ini lotion untuk ini-itu.” Jadi dari hari pertama ia sudah curiga. Ternyata suaminya adalah pecinta sejenis. Suaminya terpaksa menikah karena dipaksa oleh keluarganya, karena kalau tidak menikah maka harta warisan tidak jatuh kepadanya. Suaminya memang keturunan orang kaya luar biasa. Kenalan saya itu berkata, “Saya bingung dengan orang Protestan. Ia aktif di gereja , mengapa bisa begitu?” Ia mencoba menarik jarak antara Protestan dan non Protestan (bicara tentang organisasi). Lalu apalagi? Ia berkata,”Seminggu sesudah kami menikah, mertua saya ribut. Saya bingung. Papa-mama saya sendiri saja baru masuk gereja. Padahal mereka majelis di gereja yang sangat terkenal. Yang membuat terkejut, hari ketiga selesai kami menikah, papa mertua ribut dengan istrinya. Mereka saling teriak di dapur. Yang membuatnya terkejut adalah istrinya sedang mengejar suaminya membawa pisau dapur sambil keliling-keliling seperti ke kamar, ke dapur dll. Saya merasa heran,”Yang benar?” Dijawab,”Benar!” Jadi waktu ribut pada hari ketiga , istrinya memakai pisau. “Apa mungkin sedang emosi saja kali? Berikut-berikutnya bagaimana?” saya bertanya lagi. “Sama!” tegasnya lagi. “Pokoknya, apa yang ada di rumah, mau pisau, garpu atau apa pun bisa menjadi senjata kalau ribut!”. Padahal ia adalah aktifis dan majelis. Artinya, mereka orang yang seharusnya menunjukkan bagaimana seharusnya Kristus hidup di tengah keluarga tetapi kenyataannya tidak demikian. Ini cerita yang sangat tidak enak.
              Contoh keempat. Cerita yang sangat indah yang saya rindukan terjadi di tengah keluarga kita. Kalau ada suatu keluarga yang konsisten, di minggu malam dikumpulkan anak-anaknya untuk sharing. Padahal anaknya ada yang SMP, SD dan TK besar. “Hari ini lao shi cerita apa di Sekolah Minggu? Hayo coba cerita!” mamanya bertanya seperti itu kepadanya anaknya di TK besar.  Untuk anaknya yang sudah SD dan SMP ditanya yang berbeda, “Hari ini dengar firman Tuhan apa? Yang kamu pelajari apa? Tadi di sekolah, kamu ganggu teman tidak? Ada PR tidak?” Mamanya selalu aktif bertanya dan terakhir papanya menutup dalam doa. Suatu persektuan keluarga yang sangat sederhana. Kemarin waktu kami ke Malang, saya berbicara dengan keponakan saya ,dia punya teman namanya Hansel. Anaknya lucu sekali dan sama sekali tidak tampan. Ia masih kelas 2 SD. Saya bertanya, “Hansel, kamu kalau jadi besar mau jadi apa? Kamu mau minta apa?” Ia menjawab,”Mau operasi plastik!”. Saya bertanya, “Hah? Kamu mau minta operasi plastik? Mau apa kelas 2 SD operasi plastic? Ada juga bintang film Korea yang operasi plastik.  Mengapa begitu?” “Saya mau menjadi handsome seperti Abi.” Mendengar hal ini Abi , keponakan saya, tersenyum-senyum malu. Saya terus berkata, “Hansel, bukankah papa-mama mu tidak punya uang? Kamu sangat cakap dan tampan” Dia berkata, “Tidak! Papa-mama saya tidak pernah berkata begitu.” Lalu mu-shi mencoba membesarkan hatinya,“Walau papa-mama mu tidak berkata begitu, tetapi kamu adalah ciptaan Tuhan yang berharga dan luar biasa. Tuhan Yesus mati untukmu…. Dan seterusnya” Dia bertanya, “Abi mengapa pamanmu kalau bicara selalu back to the Bible seperti mamamu?”. Mendengar perkataannya itu, saya bukannya mau membesarkan atau memuji. Ternyata kakak ipar saya kalau bicara ke anaknya suka bicara  back to Bible. Maka dia bisa berkata “Mengapa paman kamu bicara seperti mama kamu yang selalu apa-apa baliknya ke Alkitab?” Pertanyaannya, waktu kita punya anak kecil sampai dia besar dan tua sekalipun, pernah tidak ia mengeluarkan pernyataan seperti begitu, “Kok selalu baliknya ke Alkitab ya?” Ini kalimat yang positif. Dia bisa berkata seperti itu, karena setiap hari ia mendengar dan diajar oleh orang tuanya tentang Alkitab. Sehingga isi Alkitab , pembicaraan Alkitab dan kalimat-kalimat positif tidak asing di telinganya. Itu membahagiakan dan melegakan di tengah-tengah cerita yang cukup tragis di atas.

Belajar dari Keluarga Musa

              Setiap keluarga punya salib dan permasalahan sendiri. Kita tidak bisa berkata, “Keluarga saya lebih susah dari yang lain  karena setiap keluarga punya takaran sendiri.” atau tidak bisa juga berkata, “Keluarga itu lebih berbahagia dari keluarga saya, karena semua keluarga punya hal-hal yang diberikan oleh Tuhan masing-masing.           Oleh karena itu kita ingin belajar dari Musa. Tidak seorang pun yang tidak mengenal Musa.

1.     Iman Keluarga Musa

Harun, Miryam dan Musa , ketiga bersaudara dilahirkan Yokhebed (mama Musa) dan Amram (papa Musa) yang keturunan imam. Yokhebed dan Amram keturunan imam dan keturunan dari Abraham, Ishak , Yakub dari suku Lewi. Mereka adalah keluarga yang secara pelayanan tidak asing. Musa adalah tokoh yang lahir di tengah situasi yang sangat sulit. Pada Kel 1:22, Firaun sudah memberikan perintah, oleh karena takut suatu hari nanti secara politik, jumlah SDM mereka kalah banyak dengan bangsa Israel. Karena ternyata Israel (Yahudi) berkembang dengan sangat pesat dan ditolong Tuhan. Sehingga di tanah Gosyen, jumlah mereka lebih banyak dari orang Firaun. Firaun pun mengeluarkan titah bahwa semua anak-anak lelaki yang lahir bagi orang Ibrani harus dibuang ke dalam sungai Nil (dibunuh). Singkatnya, Musa lahir di tengah situasi politik yang sangat suram dan keras. Pemerintah di dalam keputusan yang sangat keras, tetapi satu hal Allah tidak pernah salah menempatkan seseorang. Mau di zaman yang keras maupun gampang, Allah tidak pernah salah menempatkan anak di keluarga. Keluarga kita hari ini berlawanan , bermusuhan atau menghadapi pertentangan mungkin bukan dengan cara seperti Firaun tetapi dengan medsos, handphone dan segala macam , sepertinya tidak pernah lepas dari itu. Terkadang saya suka berpikir : Mengapa kita tidak bisa melawan dan berhasil memeranginya. Mengapa keluarga Kristen tidak berhasil melawan atau berhasil mengatasinya? Mengapa keluarga Kristen tidak berhasil menjadi pemenang ketika berbicara tentang penggunaan teknologi . Mengapa malah sebaliknya keluarga Kristen dipecah belah dan dijauhkan dengan kemajuan teknologi? Tidak ada satu orang yang mau bayar harga untuk benar-benar berkata, “Sekarang saya tidak mau pakai handphone karena sedang makan dengan orang tua.” Tidak ada! Orang tua cuek dan anaknya cuek dan itu perlawanan kita hari ini. Kita tidak sedang menghadapi peraturan pemerintah yang mengatakan GKKK tidak boleh beribadah di hari Minggu. Tetapi yang dihadapi adalah bagaimana keluarga Kristen tidak menjadi berkat satu sama lain, kehilangan hal-hal indah dalam gereja dan sosialisasi dengan jemaat, kehilangan hal-hal indah dalam beribadah karena ditundukkan oleh alat-alat seperti itu.
         Kemarin saya pergi dengan mu-shi, karena Lelah mau pijat dan makan karena tidak sempat makan. Setiap kali pergi kalau tidak merasa perlu membawa handphone saya tinggalkan. Jadi kalau saya belum membalas hal-hal penting dari jemaat, malamnya baru saya pasti balas. Karena terkadang hal itu sangat mengganggu saat kita mau berinteraksi. Banyak keluarga Kristen menghadapi masa sulit bukan kesulitan seperti Musa, tetapi kesulitan dalam menundukkan hal – hal seperti ini. Apakah kita menjadi pemenang atau tidak , itu kembali kepada kita.
         Saat Musa lahir di masa sulit yang juga dihadapi papa-mamanya. Tetapi mereka tidak pernah meragukan kepedulian dan campur tangan Allah. Pada Ibrani 11 mencatat, “Karena iman maka Musa oleh orang tuanya ditaruh di sungai Nil. Karena iman ,maka Musa begini-begitu.” Mengapa Tuhan menaruh keluarga ini sebagai pahlawan iman? Tuhan tidak bisa dibohongi. Iman adalah urusan pribadi seseorang dengan Tuhan. Kita bisa berlaga rohani tetapi kita tidak mungkin bisa tulus rohani, hanya Tuhan yang tahu. Jadi kalau Tuhan berkata Keluarga ini punya iman, berarti benar keluarga ini punya iman karena Alkitab yang mencatatnya. Di tengah kesulitan, ia tidak putus harapan. Orang yang beriman bukan orang yang malas atau orang yang bodoh tetapi orang yang cerdik, tahu susah, tahu bayar harga dan tahu merencanakan. Karena Iman modal dari segala sesuatunya. Ketika Amram dan Yokhebed beriman, modal beriman itu membuat mereka berani menanggung resiko. Kalau ketahuan anaknya masih hidup, mereka beresiko akan dihukum mati. Bukan hanya untuk menyelamatkan nyawa sendiri, tetapi berani mengambil resiko kalaupun nyawa itu dipertaruhkan. Sepertinya berbicaranya mudah, suatu hari mungkin kita diijinkan untuk mengalami masalah seperti ini. Di saat itulah kita baru tahu apakah kita berani mengambil resiko atau tidak. Iman adalah modal untuk orang tua ini memiliki kecerdikan luar biasa. Mengapa saya katakana demikian? Sungai Nil pada zaman dulu memiliki aliran air yang sangat deras atau hampir seperti sungai Yordan derasnya. Tetapi orang tua ini tahu bagaimana  bisa membuat peti pandan yang dipakalnya dengan gala-gala dan ter, tidak masuk ke muara yang lebih besar. Kemungkinan besar, Amram membuat satu jalur di mana ia menaruh anaknya di situ, sehingga berada di jalur aman tidak terseret arus kemana-mana. Apa pun penafsiran itu, ini adalah orang tua yang rajin, berani beresiko, dan mau berusaha. Di tengah kesulitan ada sesuatu yang mereka ingin perbuat, tidak berhenti begitu saja. Bukan hanya sekedar cinta pada Musa, tetapi saya sangat yakin karena ia punya modal iman yang luar bisa.

2.     Kecerdikan

Walau tidak diceritakan, kalau kita membaca ayat yang ketujuh, waktu putri Fiarun sudah menemukan bayi kecil ini, menurut penafsir bayi ini kemudian di bawa pulang oleh dayang-dayang. Berhari-hari bayi ini tidak mau makan ,menyusui dan terus menangis. Jadi ada jeda waktu. Tetapi ada atau tidak jeda waktu, Miryam diajar orang tuanya untuk menangkap momentum untuk berbicara apa di saat yang tepat. Waktu ia melihat raut muka putri Firaun yang mungkin kebingungan karena melihat bayi kecil ini menangis, ia berkata , "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?" (Kel 2:7)  Puteri Firaun setuju. Lalu Miryam memanggil mamanya sendiri. Karena mamanya juga pasti ingin tetap masih dekat anaknya, bagaimana mendidik adiknya. Tangkap momentum, bagaimana ia bisa mendidik Musa di tengah keluarga selama mungkin. Mengapa Miryam bisa menangkap momentum? Mengapa mereka bisa membuat keranjang alang-alang (keranjang pandan)? Mengapa? Karena Tuhan memberikan hikmat (kecerdikan). Lalu di mana peran Tuhan kalau semua bisa diusahakan oleh manusia. Kalau kita memperhatikan cerita ini, air sungai mengalir deras. Putri Firaun mandi di pinggir sungai saja yang sudah dibuat sedemikian rupa. Sekalipun mungkin Amram membuat jalur, tetapi kalau Allah tidak berkenan, maka bisa menghilang di tengah derasnya aliran air. Tetapi itu tidak terjadi karena ada peran Tuhan di dalamnya. Itu bukan hal yang susah untuk Tuhan. Waktu Tuhan membelah laut Teberau nantinya pun bukan hal yang susah buat Tuhan. Waktu Tuhan mau membesarkan nama Yosua dan membelah Sungai Yordan sejauh 7 km, itu juga bukan hal yang susah untuk Tuhan. Ia adalah Allah atas alam. Ia yang menciptakan. Ia bisa atur semuanya (kita tidak bisa atur). Yang penting, hati ada di mana? Apalagi peran Tuhan? Memegang hati orang. Kita tidak bisa memegang hati orang. Hati pasangan saja kita tidak bisa memegangnya. Kalau kita berpikir, bahwa kita bisa memegang hati suami lewat kecantikan, dengan pedicure dan medicure. Bohong. Orang kalau mau selingkuh (dosa) bisa saja. Itu sebabnya kita perlu tangan Tuhan yang memegang. Suami juga begitu, mau istri dikandangi di rumah agar tidak melihat pria lain, tetapi kalau tetap mau nakal, maka ia akan nakal saja. Ada 1.001 macam cara. Maka hati harus dipegang oleh Tuhan. Hati putri Firaun, mengapa tidak bisa takut pada titah ayahnya? Ayahnya kan sudah jelas memberi perintah, “Bunuh anak laki-laki dan buang ke sungai Nil!” malah ia dapat anak dari Sungai Nil dan ia sangat yakin itu adalah anak Ibrani tetapi mengapa ia bisa punya iba dan berbelas kasihan? Kalau bukan Tuhan yang menaruh belas kasihan dan kalau bukan Tuhan yang menaruh ia agar percaya kata-kata Miryam, ia tidak mungkin melakukan hal itu. Ia bisa saja berkata, “Bayi ini pasti bayi orang Ibrani, kasih Firaun pasti dibunuh. Cari keluarganya sampai dapat. Cari semuanya  sehingga mereka dibunuh!”  Hal ini bisa terjadi karena Tuhan pegang hatinya.

Bagaimana sekarang dengan keluarga dengan masing-masing permasalahan yang ada di tengah keluarga kita.  Apakah dari kecil anak sampai besar mulai dari lahir, dibawa ke sekolah di hari pertama, menjadi remaja dan bisa main ensemble atau hari ini akan menikah, adakah iman bertumbuh di tengah keluarga? Bagaimana peran kita sebagai orang tua di tengah keluarga? Melihat anak-anak sebagai tumbuhan yang harus dirawat . Tumbuhan yang bukan hanya sekedar harus diberi makan secara jasmani tetapi juga memberi makan secara rohani sehingga secara mental, sosial dan sisi apa pun ia bagus.
Kalau kita membaca Alkitab dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, Yosua 24:15 “aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!". Yosua dalam usia tuanya tidak bergeming di tengah-tenngah keluarga yang tidak mau beribadah. Ini sikap yang harus dipegang. Jangan melihat orang lain. Kalau kita datang beribadah, kita datang beribadah. Kalau kita mau mendidik anak dengan cara yang benar, maka kita tetap didik anak kita dengan benar. Jangan terpengaruh dengan orang lain seperti teman, keluarga lain dll. Kalau kita mau konsentrasi beribadah maka konsentrasilah. Kalau orang lain mau main handphone biarkan saja. Kalau sudah ditegur tapi tidak peduli maka  kerjakan bagian kita. Kalau kita mau didik anak kita , maka kita didik dengan cara terbaik, mungkin kita tidak perlu ikut keluarga orang lain. Karena anak keluarga kita , kita tahu seperti apa.
         Susanna Wesley (1669 –1742) adalah seorang ibu yang melahirkan 19 anak (tidak semuanya hidup). Ada beberapa yang meninggal . Anak ke-15 namanya John Wesley yang nantinya menjadi pemimpin pergerakan rohani yang luar bisa di Amerika dan menjadi pendiri gereja Methodist. Adiknya yang terkecil Charles Wesley, selain penginjil juga seorang musisi musik gerejawi yang telah menciptakan lagu rohani. Ada lagu himne  sekitar 8.000  buah yang ia ciptakan. Itu dari orang tua yang saleh dan mendoakan anaknya. Orang tua yang memberikan hal-hal yang baik kepada anaknya. Rasul Paulus berkata kepada Timotius, “Hai Timotius! Engkau sudah belajar Alkitab dari kecil. Jangan tinggalkan iman itu. Ikuti teladan nenekmu, Lois, dan ikuti ajaran ibumu, Eunike. Kenapa bapak tidak disebut? Apakah tidak berperan? Mungkin bapaknya sudah meninggal. Ketika istri disebut itu juga berlaku untuk suami, dan sebaliknya. Siapa pun di dalam keluarga, Allah mau semuanya terlibat.

Keluargaku adalah ladangku

              Bagaimana pandangan kita tentang keluarga adalah ladangku? Apakah keluarga itu menjadi ladang yang berharga dari Tuhan dan akan kita kembalikan untuk Tuhan? Perkawinan dan keluarga bukan manusia yang ciptakan pertama kali. Bukan inisiatif manusia tetapi Tuhan yang berinisiatif untuk membentuk keluarga. Jadi harus kita kembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Kalau kita melihat keluarga sebagai ladang yang berharga maka kita harus memberi nutrisi yang bagus untuk keluarga kita. Saya tidak bicara tentang makanan yang sehat jasmani, tetapi makanan yang bersifat pengajaran rohani atau pun mental dan hal yang lain. Susana Wesley mempunyai 3 cara mendidik anak.
a.     Ia selalu pakai tongkat untuk anaknya.
Selama anak masih bisa dikasih tongkat atau dipukul dengan tongkat, seperti firman Tuhan ajarkan maka ajarlah. Supaya tongkat ini bisa melembutkan hatinya.
b.    Ia selalu bicara mengajar anaknya. Walau pun hati tidak suka , mau berontak, berteriak dan ingin menangis maka lakukanlah dengan suara yang lembut. Artinya ia sedang mengajar mengajar anaknya untuk lembut (jangan menantang)
c.     Ia selalu katakan kepada anaknya, “Jangan selalu minta saya untuk mengoreksi kesalahanmu, tetapi kamu harus belajar mengoreksi dirimu sendiri.” Ia mengajarkan kepada anaknya untuk menilai diri sendiri,  apakah yang dilakukan betul atau tidak. Jangan selalu minta mama dan papa untuk mengoreksi. Ini cukup unik juga. Tetapi akhirnya ia bisa mendidik anak-anaknya. Mungkin ada hal yang bisa kita pelajari dari dia.

Penutup

              Bagaimana dengan kita ketika kita mendengar firman Tuhan ini? Seorang PM Israel pernah komplain kepada salah satu misionaris yang masuk ke Israel. Dia berkata,”Apakah tidak banyak orang Kristen yang bisa melakukan seperti di buku yang ditulis di dalam Alkitab ini?”.  Sang misionaris menjawab,”Banyak orang Kristen. Berjuta-juta di tengah dunia ini!” Tetapi kemudian Perdana Menteri ini berkata,”Kalau begitu banyak orang Kristen seperti yang kamu katakan, mengapa hanya kalimat-kalimat di buku yang bagus, tetapi kenyataannya di  dunia itu tidak bagus?” Pemimpin negara yang katanya Kristen melahirkan keputusan yang tidak bagus dan sangat menentang firman Tuhan dan tidak selaras dengan kebenaran Firman Tuhan. Ternyata, orang zaman sekarang termasuk kita cenderung gudangnya garam, bukan menjadi garam itu sendri. Jadi ia menumpuk garam. Gudangnya garam bukan garam itu sendiri. Terbukti banyak keluarga (mungkin termasuk kita) hari ini yang tidak prihatin terhadap hal-hal sosial yang terjadi di sekitar kita. Kita tidak prihatin terhadap kejahatan , ketidakdisiplinan, kebersihan, kebebasaan seksual di sekitar kita, penjahan media sosial yang menceritakan hal-hal yang tidak benar, tidak peduli perceraian, tindak kekerasan dan sebagainya karena kita menganggap itu tugas negara, pemerintah , kepala desa, pasukan kuning yang membersihkan kali dan itu bukan tugas saya.
              Beberapa hari lalu, ada orang  di depan saya dan mu-shi, membuang sampah banyak sekali di pinggir jalan. Satu kresek lebih. Mu-shi reflex otomatis klakson. Tapi garangan dia yang naik motor. Ia langsung melihat ke arah kita. Saya berkomentar,”Lihat tuh, garangan dia dari kita! Coba kalau dia berhenti, sudah saya fotoin.” Mu-shi menanggapi, “Tidak. Ia pasti lari karena ketakutan. Dia mengira kita petugas kebersihan.” Buang sampah sembarangan itu bukan urusan saya? Tetapi  begitu banjir dan Jakarta tenggelam baru katakan itu tugas siapa? Tidak fair kan? Sama kita juga tidak peduli terhadap hal-hal yang lain. Keluarga-keluarga Kristen hari ini seringkali tidak mementingkan kehidupan dan mengutamakan hal-hal rohani dalam hidup berkeluarga. Boro-boro saat teduh,  mezbah keluarga, pelayanan bahkan beribadah saja mungkin bisa bolong-bolong. Ini baru hal sederhana. Semua itu bisa terjadi dari hal-hal yang kecil baru bisa dipercaya hal-hal yang besar. Kalau tidak keluarga kita akan begitu-begitu saja terus menerus. Karena kita susah melihat bagaimana Tuhan bisa bekerja di tengah keluarga kita. Kita tidak bersungguh-sungguh dalam berhubungan dengan Tuhan kita. Kita hanya menganggapNya, ada dan tidak ada. Tidak ada tapi ada. Begitu-begitu saja. Keluargamu adalah ladangmu! Sadarkah kita bahwa kita perlu membawa keluarga kita bertemu secara pribadi dengan Tuhan. Ikut Tuhan, tidak bisa ikut-ikutan. Anak kita harus bertemu dengan Tuhan secara pribadi. Suami (pasangan) kita yang belum percaya harus bertemu dengan Tuhan secara pribadi. Semua kita harus mendoakan keluarga kita supaya masing-masing bertemu Tuhan secara pribadi.