Sunday, June 10, 2018

Allah Memelihara: Serahkanlah Kekuatiranmu!





Ev. Antoni Samosir

1 Pet 5:6-7
6  Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.
7  Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

Pendahuluan

              Tema renungan hari ini adalah “Allah Memelihara : Serahkanlah Kekuatiranmu!” Pada Matius 6:19-34 saat menyampaikan khotbah di bukit, secara khusus Yesus mengajarkan para pendengar dan murid-muridNya (termasuk kita) tentang apa yang menjadi prioritas atau fokus terutama dan tertinggi dari seorang murid Yesus yang radikal (otentik). Yesus mengetengahkan tentang 2 hal kekayaan : kekayaan duniawi dan surgawi, dua jenis mata : mata tunggal dan mata ganda (mata tunggal berbicara tentang mata yang berfokus pada Allah dan mata ganda adalah mata yang penuh kekuatiran karena ia tidak berfokus pada satu arah alias fokusnya terlalu banyak), dua tuan yaitu  Allah dan mamon (bahasa Aram, dewa harta) dan ditutup dengan pernyataan yang sangat luar biasa “Carilah dahulu kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.” Sebuah penutup yang sangat agung! Khotbah Yesus ini hendak mengajar para muridNya untuk berfokus pada siapa di dunia ini. Bila fokus pada Allah maka kita akan hidup sesuai cara pandang, tuntunan dan arah Allah, tapi bila fokus bercabang pada hal-hal di dunia ini, maka kita tidak bisa memandang kepada Allah dan seringkali kita bersahabat dengan kekuatiran dan kecemasan. Itu sebabnya pada ayat 26-30, Yesus katakan,”Jangan khawatir pada apa yang kamu makan, minum dan pakai”.  Perkataan ini bukan berarti seolah-olah Yesus tidak tahu kebutuhan kita. Yesus ingin mengajarkan suatu prinsip yang sangat tegas yaitu kalau Allah membuat tubuhmu masa Dia lupa memberikan baju-baju? Kalau Allah membuat mata , tangan, jantung , hati dan perut masa Dia lupa memberikan makanan yang menopang seluruh kinerja tubuh kita? Masa Allah lupa memberikan kita minuman? Yesus mengingatkan hal ini dengan ilustrasi yang sederhana, Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Matius 6:26). Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal (Matius 6:28).  Lihat di sana tidak disebut “bapak burung” atau “bapak bunga bakung” tetapi hanya satu yang dibicarakan yaitu “Bapamu yang di surga”. Kalimat ini menunjukkan bahwa Yesus ingin membukakan kepada para murid agar fokus pada “Bapa di surga”. Tidak pernah dikatakan “ bapak atas bunga bakung” atau “bapak atas burung” tetapi “Bapamu yang di surga”. Itu menunjukkan relasi yang intim.
              Satu prinsip dasar dari seorang murid adalah bagaimana fokus kita tertuju pada Allah, relasi yang akrab dan tunduk pada Allah menunjukkan fokus hidup seorang murid Kristus yang sejati. Rasul Petrus ingin mengingatkan jemaat (orang percaya) di Asia Kecil yang penuh penderitaan, dianiaya (baik oleh pihak asing yang tidak percaya kepada Kristus) dan penderitaan mereka sangat berat sehingga Rasul  Petrus menulis surat kepada mereka secara bersamaan agar mata mereka tertuju kepada Allah dan  prioritas hidup mereka tidak boleh tergoyahkan hanya karena mereka menderita sakit dan penganiayaan badaniah sekalipun tetapi harus tetap memandang kepada Allah yang menjadikan , menyelamatkan dan senantiasa memelihara iman percaya mereka. Nasehat Rasul Petrus ditujukan pada jemaat di sana.
              1 Petrus 5: 1-4 adalah nasehat Rasul Petrus kepada para panatua (pendeta, hamba Tuhan dan majelis) : kiranya mereka sebagai pemimpin gereja harus hidup dalam keteladanan. Kalau dikaitkan dengan kekuatiran setidaknya mereka hidup menjadi orang-orang yang meneladani bagaimana berfokus pada Allah tidak menguatirkan hal-hal di dunia ini. Jangan sampai menggembalakan dan melayani orang demi mencari keuntungan karena merasa kuatir dengan hidup ini dan jangan sampai memanipulasi jemaatnya. Ini nasehat keras dari Rasul Petrus kepada pemimpin gereja. Ayat 5-11 nasehat Rasul Petrus kepada seluruh jemaat agar mereka senantiasa merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang kuat. Maksud “tangan Allah yang kuat” bicara tentang seseorang yang menyelesaikan sebuah pekerjaan demi tujuan / rencanaNya (Allah mengerjakan tujuan dalam setiap orang percaya untuk mengerjakan pekerjaan baik demi kemuliaan Allah). Meskipun menghadapi penderitaan, pergumulan, sakit penyakit, kesulitan ekonomi sekalipun tujuan dan rencana Allah bekerja dalam setiap anak dan orang percaya kepadaNya. Sehingga tidak heran setiap orang percaya dan murid Tuhan di setiap tempat dan abad, walau menghadapi persoalan dan penderitaan tetap pekerjaan dan tujuan  Allah tidak pernah berhenti. Allah terus menggenapkan (menyelesaikan) - nya sampai Tuhan Yesus datang ke dua kali (selesai semuanya). Kalau kita diperhadapkan dalam situasi dan sedang bergumul dalam hidup ini, ingat tangan Tuhan yang kuat sedang mengerjakan tujuanNya dalam hidup kita. Dalam diri kita Tuhan sedang melakukan pekerjaan yang baik. Ini nasihat singkat yang diberikan Rasul Petrus kepada  5 jemaat di Asia Kecil. Apa yang disampaikan Yesus pada khotbah di bukit dan nasehat Rasul Petrus (dan Rasul Paulus) merupakan satu kesatuan yang utuh yaitu agar semua murid Tuhan memiliki prioritas untuk memadang kepada Allah.

Sikap dari Murid Kristus yang Berfokus kepada Allah

1.     Kita meyakini Allah yang memelihara orang- orang percaya dari kekekalan sampai kekekalan.

Pada ayat 7b, kata “memelihara” berbicara bahwa Allah memperhatikan dan memberi minat kepada orang-orang percayaNya dan Allah itu peduli kepada umat pilihanNya dan orang-orang percayaNya. Ketika merancangkan umat tebusanNya dalam dimensi kekekalan, Allah rancangkan, ciptakan ,pelihara dan selamatkan dalam satu nama yaitu Yesus Kristus. Dalam pribadi inilah mengapa kita dirancang dan diciptakan , dipelihara, diperhatikan dan dipedulikan Allah karena ada Kristus anakNya. Efesus 2:10 Kita diciptakan dibuat dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan yang baik. Karena ada Kristus itulah yang membuat Allah memandang dan memberi perhatian pada kita. Jadi kalau ditanya mengapa Allah memberi perhatian kepada kita bukan karena kita baik, rajin beribadah dan pelayanan atau banyak memberi sumbangsih pada gereja dll tapi karena ada Kristus. Dalam teonomy jelas bahwa Allah memutuskan bahwa Yesus ,yang menjadi anak tunggal itu dan dasar mengapa orang percaya yang ditebusNya, diberi perhatian dan minat yang sangat tinggi oleh Allah. Dengan demikian tidak heran Yesus mengajarkan agar kita harus berfokus padaNya. Dari atas fokus kepada bawah dan kita yang ada di bawah berfokus pada Dia yang di atas.  Inilah ikatan perjanjian. Itu semua karena Kristus, anak Allah yang diberikan pada kita. Kalau sampai kita bergumul dan menderita karena iman kepada Kristus dan Tuhan mengijinkan kita mati teraniaya maka orang tersebut tidak pernah tidak berfokus pada Allah yang menciptakan, merancang dan terus menguatkannya. Ia akan selalu memandang pada Allah. Kata “memelihara” di sini bukan saja berbicara tentang makanan, pakaian dan masalah kita Tuhan bereskan atau berikan solusi tetapi Allah memelihara sampai kepada kekekalan. Karena Ia mencipta dari sejak kekekalan dan  Ia paling tahu apa yang kita perlukan.
Ada seorang majelis yang bertanya, “Mengapa khotbah tidak menjawab kebutuhan kita?” Saya tanya balik kepadanya,”Di gereja yang hadir beribadah 100-200 orang. Coba didaftarkan kebutuhan mereka masing-masing. Kalau satu orang saja punya 100 kebutuhan, masa dalam waktu 40-60 menit bisa menjawab seluruh kebutuhan mereka?” Ini perlu dibalik, jemaat harusnya diajarkan untuk kembali memandang Allah yang paling tahu kebutuhan kita yang paling mendasar. Saya tantang dia dengan satu pertanyaan, “Apa yang menjadi kebutuhan manusia?” Dia menjawab,” Sebagai businessman , saya perlu usaha saya berjalan lancar, berhasil dan dapat untung terus (tidak pernah rugi). Bagi Bapak sebagai hamba Tuhan yang diperlukan adalah tubuh yang sehat.” Saya menjawab,”Tidak! Kebutuhan yang Allah paling tahu dan kita perlukan adalah satu yaitu penerimaan dan pengampunan.” Itu sebabnya mengapa Yesus tidak datang sibuk mengurusi hal-hal jasmaniah (rumah kecil , usaha tidak lancar, fisik begitu lemah, tidak kerja), bukan itu tetapi Yesus mengurusi spirit (jiwa) kita yang sangat berharga. Bagaimana kita mengaitkan prinsip ini dengan kebutuhan hidup jasmaniah kita sehari-hari? Kalau kita datang untuk mendengar khotbah untuk memelihara kebutuhan hidup sehari-hari, kata “memelihara” itu bukan fokus pada hal tersebut tetapi lebih kepada spiritualitas kita di hadapan Tuhan. Bagaimana rasa haus dan lapar kita di hadapanNya? Bagaimana jiwa kita hancur karena dosa hingga tidak bisa memandang kepadaNya? Terhalangi oleh karena kita lebih fokus kepada diri kita daripada kepada Dia?. Bagaimana relasi kita yang intim dengan Bapa Sorgawi? Bagaimana kecintaan kita kepada Kristus, Anak Allah yang terkasih yang sampai menjelma dalam diri kita ini? Itu yang diajarkan kepada 5 jemaat tersebut dan kita. Kalau Allah tidak pernah salah merancang maka Dia juga tidak pernah salah memelihara kita dan kebutuhan hidup kita sehari-hari. Tinggal yang Allah tuntut dari kita sekarang apakah hati, jiwa dan bahkan raga diberikan kepadaNya dan memandang kepadaNya? Pemeliharaan Allah tidak hanya bersifat di dunia ini tetapi sampai kekekalan. Itu juga yang disampaikan oleh Rasul Petrus. Ayat ke 1 mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak itu bicara kekelana. Ayat ke 4 Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. Itu juga bicara tentang pemeliharaan yang kekal. Ayat 10 Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Ini bicara tentang pemeliharaanNya yang kekal. Kalau Allah merancang kita dari kekekalanNya, pasti Ia akan terus menuntun kita sejak di dunia ini sampai kembali kepada kekekalan. Dari kekekalan sampai kekekalan, dari kemuliaan sampai kepada kemuliaan, itu pemeliharaan Allah. Kalau kita hanya sibuk , mau percaya kepada Tuhan hanya untuk urusan daging sehari-hari di dunia ini saja dan tidak bisa mau berpikir jauh pada kekekalan berarti kita belum berfokus pada Allah dan kita belum menjadi murid Kristus yang radikal. Yesus ketika hadir sebagai Anak Allah, tidak pernah berpikir tentang kenyamanan diriNya, ia hanya memandang BapaNya di sorga. Ia tahu bahwa Bapaknya tidak pernah jauh dariNya dan tidak pernah tidak memeliharaNya. Ini saatnya , anak-anak Tuhan yang ditebus Kristus dan dibentuk sekarang serupa denganNya, dibawa untuk serupa dengan Yesus yang percaya pada pemeliharaan Bapa di surga bukan saja untuk kebutuhan hidup sehari-hari tapi termasuk juga jiwa kita hingga sampai kepada kekekalan.

Seorang keponakan perempuan saya meninggal setahun lalu. Ia siswa kelas 2 SMA (usia 16 tahun). Saat bermain volley ,tangan kirinya sakit. Karena dikira keseleo, tangannya dipijat agar sembuh. Ternyata tangannya malah membengkak dan terlihat semakin aneh. Warna bengkaknya pink. Kemudian mulai muncul bintik bernanah yanag dikira bisulan karena ia suka makan telur. Semakin lama semakin aneh karena tubuhnya semakin lemah. Setelah dibiopsi ternyata diketahui bahwa ia menderita kanker tulang. Sewaktu mendengarnya, saudara perempuan saya yang menjadi mamanya menangis setiap hari. Anaknya itu adalah anak tunggal dan dalam bayangannya pasti tidak lama lagi akan meninggal. Dokter yang menanganinya menyarankan agar dua jarinya diamputasi , namun semakin menjalar bahkan tangan kirinya menjadi seperti tangan monster. Kankernya menjalar ke payudara dan ke baigan belakang sehingga  punggungnya borok. Hampir 2 tahun ia mengalami sakit yang sangat. Awalnya keponakan saya berdoa, “Tuhan beri saya kesembuhan kalau Engkau menghendaki karena saya mau kuliah.” Ia memang ingin sekali kuliah di Yogya. Tapi cara Tuhan ajaib, bukan tubuh tapi hatinya yang disembuhkan . Selama 2 tahun ia menikmati Tuhan. Kami yang di Sumatra yang memelihara dan menjaganya memperhatikan bagaimana ia sangat mencintai Tuhan. Sebelum meninggal setahun lalu ia minta diadakan persekutuan dengan para pemuda, ia ingin menyanyikan 13 lagu pujian. Saat itu ia tidak bisa duduk (hanya tiduran). Tubuhnya penuh borok dan dokter angkat tangan serta berkatakan,”Sudah tidak bisa lagi!”. Sebelum meninggal, ia berkata, “Mama, waktuku tidak lama lagi, aku akan bertemu dengan Yesus. Mama tenang saja di sini. Kalau mama merasa tidak punya anak lagi masih ada sepupu saya dan keponakanmu, jadikanlah mereka anakmu. Mama tidak perlu khawatir saya akan tenang bersama Tuhan.” Ia meninggal dengan penuh damai. Yang saya renungkan dari kepergiannya bukan bicara tentang sakitnya, tetapi bicara tentang Allah yang hebat memberi iman ke seorang anakNya sampai meyakini pemeliharaan Allah yang kekal. Ia tidak bicara kesembuhan fisik tapi hati yang terus dekat dengan Tuhan. Saat dipanggil ia siap. Kalau kita hanya menganggap Allah itu sebatas Tuhan yang harus memuaskan kebutuhan jasmaniah sehari-hari, kita tidak pernah menempatkan Dia sebagai Tuhan , tetapi kitalah sebagai tuannya yang mengatur Tuhan seperti yang kita mau. Kalau kita tempatkan Dia sebagai Tuhan dan kita hambanya dan ciptaanNya maka kita harus siap dikontrol olehNya. Bukan seperti apa yang kita mau tetapi seperti apa yang Dia mau. Baru kita akan mengerti apa artinya Allah yang memelihara kita.
  
2.     Serahkanlah segala kekuatiaramu kepadaNya

Sejak kekekalan sampai kekekalan kita dipelihara oleh Nya, jadi tidak perlu kuatir akan apa yang terjadi di dunia ini. Itu sebabnya Rasul Petrus mengingatkan 5 jemaat tersebut (dan kita saat ini) untuk menyerahkan kekuatiran kepada Dia yang memelihara kita. Kata “serahkanlah” berarti melempar dan meletakkan pada yang peduli yaitu Allah yang menciptakan dan memelihara. Kata “Kekuatiran” bicara tentang terbagi. Satu bagian terpisah dari keseluruhan (terpecah-pecah). Tidak fokus pikiran dan pandangannya pada satu tujuan (sangat berantakan), beragam sekali pandangannya sehingga membuat tidak bisa berfokus pada satu hal. Ini yang juga disampaikan Yesus ketika khotbah tentang mamon dan Allah. Bicara tentang mata ganda artinya orang yang tidak bisa fokus pada Allah (pandangan orang ini banyak sekali) , itulah yang menimbulkan kekuatiran demi kekuatiran pada hidupnya. Jadi yang menyebabkan kekuatiran dalam hidup kita adalah tatkala kita tidak lagi berfokus pada Allah dan tidak menyerahkan segenap hidup kita ini kepadaNya, maka ‘sahabat’ baik kita adalah kekuatiran. Itu akan ada selalu dalam hidup kita. Apakah salah kalau kita kuatir? Yesus berkata dengan tegas, “Janganlah kamu kuatir.” Itu sangat tegas artinya tidak ada satu ruang kecil sekalipun dalam diri orang percaya untuk kuatir kepada Allah.  Perkataan ini seakan-akan enak sekali. Mungkin saat kita sedang bergumul, maka lagu “El Shaddai” tidak mudah dinyanyikan. Yesus yang berkata tentang tidak kuatir tentang apapun juga Dia memberi contoh bagaimana anak manusia tidak kuatir karena ia meletakkan seluruh hidupNya pada yang peduli itu yaitu Bapa di surga. Mungkin kita berkata, “Bagaimana dengan kejadian pada bangsa kita yang baru-baru saja terjadi?” Kita kuatir dengan kenyamanan, keamanan ,ekonomi, kesehatan, pasangan, anak-anak kita yang kecanduan (teradiksi) pada gawai. Baru kemarin saya bertemu dengan jemaat yang berkata bahwa anaknya (siswa SMP) sangat teradiksi dengan gawai. Saat sedang bicara , ia tidak menatap orang tuanya tetapi gawainya. Rupanya cara ia mendidik anak itu sangat membolehkan hal itu. Sehingga tidak heran, inilah yang dihasilkan. Untuk mengubahnya sekarang susahnya luar biasa. Maka harus dimulai sejak kecil. Kuatir kalau anaknya anti-sosial (di sekolah ia sudah dicap anti sosial). Anak saya yang satunya suka bicara, bawel sehingga gurunya menulis dalam buku rapotnya bahwa anak Bapak-Ibu bawel , tidak bisa tenang di kelas. Sehingga ia berkata,”Saya kuatir dengan anak-anak saya.” Macam-macam bentuk kekuatiran. Matthew Henry (1662-1714) juga menafsirkan seluruh kekuatiran untuk menunjukkan bahwa semua orang memiliki banyak sekali kekuatiran termasuk hamba Tuhan dan para pemimpin gereja. Ini akan terjadi kalau kita tidak berfokus pada Allah dan kita tidak berakar – bertumbuh di dalam Kristus. Akibat dari kekuatiran yang melingkupi kita bahayanya luar biasa. Matius 13:22 kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Kekuatiran yang beragam dan sangat besar itu termasuk tipu daya kekayaan akan mendesak keluar setiap kebenaran Firman Tuhan agar tidak bertumbuh dalam diri kita. Firman yang didengar dibuang jauh sehingga membuat hidup kita tidak bisa berbuah. Maksudnya hidupnya tidak bisa bernilai dan berharga. Hidupnya tidak bisa memandang kepada Allah bahkan hidupnya tidak berdampak kepada orang lain dan hidupnya jahat bagi orang lain. Hidupnya tidak bisa membawa damai Tuhan di tengah komunitasnya, menjadi bengis, sinis, jahat terhadap orang lain dan memanipulasi orang lain. Kalau ada orang di sekitar kita dengan karakter deformis seperti itu (memanipulasi orang, bengis, jahat untuk kepentingan pribadi) pasti dia dihimpit kekuatiran dan tipu daya kekayaan. Untuk mencapai apa yang dia inginkan dia pakai banyak cara bahkan kepada orang-orang yang terdekat sakali pun. Mengerikan kekuatiran tersebut. Sehingga Yesus berkata kepada para muridNya, “Jangan kamu kuatir!” Kekuatiran itu menghimpit. Bukan bicara tentang apa boleh atau tidak tentang kekuatiran. Tapi kalau kita tahu sekarang bahwa Tuhan yang menjadikan kita tahu segala kebutuhan kita, mengapa masih bersahabat dengan kekuatiran itu? Letakkan segala kekuatiran kita padaNya yang empunya kehidupan ini maka kita akan kagum akan Dia. Satu persatu cara persatu cara Tuhan dinyatakan. Mengapa banyak orang cari jalan pintas? Karena tidak mau mengikuti waktu dan cara Tuhan yang terkesan lama dan tidak masuk akal!  Ini bahaya! Ketika penderitaan mengancam 5 jemaat di sana, Rasul Petrus tahu mereka bisa tawar hati dan tidak sanggup memikulnya. Maka ia harus mengingatkan mereka bahayanya kekuatiran dan menyerahkan semuanya pada Kristus. Oswald Chambers (1874-1917) , dalam renungannya “My Upmost for His Highest” menuliskan Tuhan kita menunjukkan bahwa dari sudut pandangNya sungguh tidak masuk akal jika kita khawatir dan cemas tentang bagaimana kita akan hidup. Yesus tidak berkata bahwa orang yang tidak memikirkan apa-apa untuk kehidupannya akan diberkati. Tidak! Orang itu orang bodoh. Namun Yesus mengajarkan bahwa muridNya harusnya menjadikan relasi dengan Allah sebagai prioritas tertinggi hidupnya dan tidak mengkhawatirkan berbagai hal lainnya. Intinya Yesus berkata,”Jangan membiarkan makanan, minuman, pakaian atau apa pun juga mengendalikan hidupmu selain Allah. Tetapi berfokuslah sepenuhnya kepada Dia . Sejumlah orang ceroboh dengan apa yang mereka makan. Mereka makan seenaknya dan sepuasnya yang penting kenyang. Apa efek dari makan ceroboh itu? Sakitnya bermacam-macam! Sejumlah orang ceroboh dengan apa yang diminum seperti oplosan sehingga matinya menyedihkan. Baru-baru ini ada berita orang yang mati karena minum oplosan. Sejumlah orang ceroboh dengan pakaian. Sejumlah orang ceroboh dengan apa yang digunakan termasuk handphone, gawai dan harta. Ceroboh untuk  urusan-urusan duniawi dan Allah meminta pertanggungjawaban mereka. Seorang Rabi Hilel dalam zaman Yesus berkata, “Semakin banyak makan daging, maka semakin banyak cacing.” Orang yang banyak makan daging, di liang lahat cacingnya banyak sekali. Artinya ada maksud dibalik pernyataan Rabi Hilal itu. Semakin banyak harta milik maka semakin banyak rasa kuatir. Ironis sekali orang tahu apa yang dimiliki di dunia ini tidak bisa memberi kedamaian dan kepuasan tapi ironisnya itu terus yang dikejar. Orang tahu bahwa bukan harta itu yang menenangkan jiwanya tetapi hal itu terus yang dikejar. Orang tahu bahwa bukan kecantikan yang membuat dia bisa menjadi orang berkarisma, berguna dan berdampak , tapi itu yang dilakukan apalagi sampai operasi ganti kelamin (cewe jadi cowo dan sebaliknya). Inilah urusan-urusan dunia yang sangat mengganggu fokus kita pada Allah untuk menyerahkan seluruh hidup ini kepadaNya.

Penutup

Saya juga punya kekuatiran. Selama seminggu ini dalam menyiapkan khotbah Tuhan, saya diperhadapkan pada situasi yang tidak mudah. Tetapi Tuhan sedang melatih saya tidak hanya bicara tentang “Serahkanlah Hidupmu” tetapi dimulai dari saya untuk menghidupi Firman.  Ini yang Tuhan bentuk dari diri saya.
         Ibu saya tinggal sendiri di Pematang Siantar. Ia sakit keras dan HB-nya rendah, puji Tuhan sekarang sudah lebih baik. Beberapa saat kemudian, papa mertua saya jatuh sehingga pecah pembuluh darah dan dia batuk – bersin berdarah. Hal ini sempat membuat istri saya panik dan berkata,”Pa, bisa tidak jadwal khotah di GKKK Mangga Besar diganti?” Saya terima surat dari Ibu Lidia untuk mencari pengganti bila tidak bisa berkhotbah. Saya sempat meminta kesediaan seorang rekan untuk menggantikannya. Teman saya berkata,”Siap!”  Kemudian dua anak laki-laki saya mengalami sakit. Dimulai dari kakaknya batuk dan flu  menyerang adiknya yang masih bayi. Istri saya bersama saya mengerjakan semua dan juga mengurus sekolah. Ada kekuatiran, tetapi saat menyiapkan firman ini Tuhan melatih saya. Beberapa hari sebelum khotbah, istri saya berkata, “Saya sangat takut kalau anak kedua sakit.” Karena Desember lalu lalu anak kedua ini 3 kali masuk rumah sakit karena menderita ISPA. Saya berkata, “Ma, saya besok minggu khotbah tentang “jangan kuatir” . Siapa yang membuat anak kita? Bukan kamu dan saya tetapi Tuhan! Kau sudah memberikan yang terbaik dan saya juga berusaha memberikan yang terbaik. Kita dipakai Tuhan untuk memberi yang terbaik kepada buah hati kita. Tetapi kau ingat satu hal bahwa anak itu punya Tuhan. Jadi tidak apa-apa. Nikmati waktu kau harus mendengar ia batuk dan melihat ia sesak sekali nafasnya. Nikmati Tuhan dalam setiap kesesakkan anak kita. Itu membuatmu berbeda sekali dalam memandang sakit anak kita. Penyerahan yang total kepadaNya!”
         Baru-baru ini pada seorang putri pertama dari seorang hamba Tuhan yang kuliah kedokteran (19 tahun) ditemukan ada tumor di kepalanya dan jumlahnya sangat banyak. Ia sudah dibawa ke Prof. Eka dan dioperasi sebagian. Prof. Eka berkata,”Ini sangat banyak sekali.” Ternyata bukan saja di kepala tapi juga di payudara. 3 minggu lalu tumornya sudah dioperasi dan satu payudaranya diangkat. Waktu kami mengundangnya menyampaikan seminar tentang “Kesatuan Mistikal antara Kristus dan Para Murid (Mystical union between Christ and His Desciples)” saya menelponnya, “Apakah Bapak siap untuk membawa seminar ini karena Bapak baru saja menemani anak anda operasi payudaranya?” Ia menjawab,”Jangan khawatir. Saya tetap akan memberitakan firman! Saya sudah siapkan anak saya. Dokter katakan anak ini tidak akan bertahan lama sekitar paling lama 1 tahun karena sudah stadium 4 (terakhir). Kalau dokter sudah bisa menyatakan bahwa nyawa anak saya tinggal 6 bulan sampai setahun lagi saya berkata kepadanya,’Jangan-jangan bapaknya duluan atau dokter duluan yang meninggal’. Sel kanker dijinkan Tuhan untuk menggerogoti tubuh siapa pun termasuk anak Tuhan dan anak saya. Tetapi saya pegang firman Tuhan 1 Tes 5:9 bahwa Bapa kita tidak pernah memurkai anak-anakNya walaupun sel kanker itu menggerogoti putri saya.  Saya sudah siapkan dia, kalau sampai dia dipanggil Tuhan sekalipun Dia harus siap. Demikian juga dengan saya, istri dan anak saya yang kedua harus siap.” Mengapa ada orang yang begitu tenangnya dalam menghadapi apa yang sedang terjadi? Saya percaya di prinsip yang pertama tadi yaitu Allah yang memelihara dia , digenggamnya dan dipegang selalu. Putrinya yang menderita kanker menulis di buku diari-nya , “Kalau saya tidak sanggup menggenggam Allah, maka saya percaya Allah yang menggenggamku.” Apa yang menjadi kekuatiran kita saat ini? Saya tidak akan katakan untuk menikmati kekuatiran itu. Saya ingin mengajak jemaat untuk sekarang memandang kepadaNya dan kembali kepada Allah Pencipta dan Juruselamat kita di dalam Yesus. Tidak ada jawaban selain memandang kepadaNya. Dekat dengan Dia dan berikan hati dan tubuh kita untuk dikuasaiNya. Maka di sana kita akan melihat betapa Dia hebat untuk memelihara hidup kita dari kebutuhan yang kecil-sederhana sampai kepada kebutuhan kekal sekalipun Dia berikan kepada kita. Amin


Monday, June 4, 2018

Mata Tuhan Tertuju pada Mereka yang Takut akan Tuhan

Pdt. Hery Kwok

Maz 33:6-22
6  Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya.
7  Ia mengumpulkan air laut seperti dalam bendungan, Ia menaruh samudera raya ke dalam wadah.
8  Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia!
9  Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.
10  TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa;
11  tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.
12  Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!
14  dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi.
15  Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka.
16  Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa; seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan.
17  Kuda adalah harapan sia-sia untuk mencapai kemenangan, yang sekalipun besar ketangkasannya tidak dapat memberi keluputan.
18  Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih, setia-Nya
19  untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
20  Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita!
21  Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya.
22  Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

Ibrani 11:3 Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

Pendahuluan

              Pada adegan drama yang baru saja dipentaskan dikisahkan bahwa saat menghadapi kesulitan (kekurangan uang untuk kebutuhan hidup), pemainnya yang berperan sebagai suami-istri menghadapinya dengan berserah dan berdoa kepada Tuhan. Lalu tiba-tiba datang seorang kawan dari sang suami yang menawarkan pekerjaan untuk membuat foto para siswa di sekolah tempat sang kawan bekerja. Sang kawan juga memberikan uang muka sebagai tanda jadi sehingga masalahnya teratasi. Melihat drama tersebut sepertinya hidup beriman itu mudah sekali. Saat kita menyerahkan masalah kita pada Tuhan, tiba-tiba ada orang yang datang membantu (pertolongan Tuhan luar biasa). Bagi yang tidak mengenal firman Tuhan, mereka bisa mengatakan pertolongan Tuhan itu kebetulan belaka. Namun bagi orang-orang percaya , saat menyaksikan cerita seperti itu apakah iman mereka bisa melihat apakah benar mata Tuhan tertuju pada orang-orang yang berpengharapan padaNya? Atau kita berada dalam kondisi yang benar-benar merasakan titik-titik di mana kita berpikir apakah Tuhan benar-benar ada atau tidak? Kehidupan yang nyata atau realita yang dihidupi adalah sesuatu yang tidak mudah dalam perjalanan iman kita. Iman kita seringkali berbenturan dengan fakta atau fakta itu tidak sesuai dengan apa yang dipercayai. Berbicara tentang tema “Mata Tuhan Tertuju pada Orang yang Takut akan Dia”, kalau dibuat drama nya sepertinya mudah sekali. Tetapi waktu kita menghadapi, menggumuli, berjalan dalam percaya bisa jadi kita berada pada titik-titik yang mungkin mempertanyakan Tuhan memperhatikan  (memahami) atau tidak apa yang sedang kita alami.

Pada lirik lagu Sekolah Minggu dikatakan “Mata Tuhan melihat apa yang kita perbuat. Baik yang baik, maupun yang jahat. Oleh sebab itulah jangan berbuat jahat, Tuhan melihat!”.  Lagu ini ingin mengajarkan kita bahwa mata Tuhan mampu melihat kita berbuat baik tapi sebaliknya kita berbuat jahat. Namun apa yang kita nyanyikan seringkali tidak kita lakukan dalam perjalanan hidup kita karena kita tidak mampu melihat apa yang Tuhan lihat. Contoh : saat seorang siswa sekolah (Kristen atau bukan) sedang ‘kepepet’ sehingga hanya belajar sebentar lalu mencontek pada waktu tidak mengerti melihat soal ujiannya. Suatu kali saya bertanya kepada seorang siswa Kristen,”Apakah kamu tidak takut kalau Tuhan melihat apa yang kamu lakukan?” Dia menjawab,”Saya tidak takut. Saya lebih takut kalau guru yang melihat.” Jadi mata guru seakan lebih hebat dari mata Tuhan. Karena sampai guru melihatnya mencontek maka kertas ujiannya akan  langsung diambil dan ia pun dinyatakan gagal dalam ujian. Kalau guru tidak melihat, maka dia merasa aman-aman saja dan menyerukan puji Tuhan karena tidak tertangkap.  Dalam pikirannya,”Mana Tuhan melihat karena buktinya saya tidak tertangkap saat ujian.” Jadi ukurannya kita selalu melihat mata Tuhan tidak seperti yang kita bayangkan. Kemarin tanggal 1 Juni 2018 saya makan-makan di Kelapa Gading dengan seorang jemaat dari GKY. Ia bercerita bahwa anaknya di Hong Kong mendapat kesempatan magang di sebuah perusahaan Jerman. Sebelum bekerja ia sudah mengingatkan anaknya agar kalau sedang bekerja di perusahaan jangan main handphone (termasuk membalas pesan WA dari pacar) kecuali sedang beristirahat,”Kamu harus ingat bahwa kamu adalah anak Tuhan”. Contoh lain : di kantor seringkali karyawan lebih takut dengan mata pimpinan (bos) -nya  karena kalau sampai seorang karyawan terlihat bermain handphone, maka keesokan harinya akan dipanggil dan diberi Surat Peringatan (SP) pertama dan kalau tetap mengulangi perbuatannya dan kembali tertangkap maka akan diberikan surat peringatan kedua.  Kita lebih takut pada mata manusia daripada mata Tuhan.

Mata Tuhan Tertuju pada Mereka yang Takut akan Tuhan

              Apakah betul mata Tuhan tertuju pada orang-orang yang takut akan Tuhan? Apakah betul seperti apa yang dialami dalam drama yang dipentaskan tadi? Apakah betul Tuhan mampu menolong orang-orang yang berharap kepadaNya (meskipun kita menganggapnya sebagai peristiwa-peristiwa kebetulan pada saat kita benar-benar mengalami pertolonganNya)? Penulis kitab Mazmur pasal 33 mengungkapkan beberapa hal untuk menunjukkan ayat ke-18 sebagai bagian yang luar biasa. Pada Maz 33:18 dikatakan Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih, setia-Nya. Ayat ini dimulai dari kata “sesungguhnya” yang bukan merupakan kata sembarangan. Kata ini  menunjukkan adanya elemen “penekanan”.  Kata ini juga digunakan oleh Tuhan Yesus dalam pengertian yang sama pada Matius 18:3, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat  dan menjadi seperti anak kecil ini,   kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Di sini Tuhan Yesus ingin mengatakan bahwa engkau harus benar-benar bertobat. Pemazmur menulis ayat tersebut bukan satu ayat  tanpa dasar, bukan satu ayat yang ditulis  pemazmur tanpa memahami Tuhan dengan baik. Karena ada beberapa hal yang dikemukan dalam perikop Maz 33:1-22.

a.     Allah adalah Pencipta Langit-Bumi

Pada Maz 33:1-9 pemazmur mau menyampaikan bahwa  engkau lihat (pandang) langit dan bumi, sesungguhnya yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah. Yang oleh firmanNya Allah menciptakan langit dan bumi dari yang tidak ada menjadi ada. Penulis kitab Ibrani mengatakan bahwa karena iman kita mengerti, percaya, mengakui bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah. Mengapa pemzamur mengangkat kejadian alam? Penulis Perjanjian Lama selalu menggunakan kejadian alam (yaitu langit dan bumi) sebagai contoh konkrit yang menunjukkan bahwa Allah itu ada. Contoh : Abraham dijanjikan oleh Allah suatu daerah yang dinamakan sebagai Tanah Perjanjian yang akan diberikan kepadanya dan keturunannya. Saat berangkat ke Kasdim dengan Sara, Abraham berusia 75 tahun. Waktu berangkat mereka belum punya anak karena istrinya (Sara) mandul sehingga ia membawa Lot (keponakannya). Karena ia berpikir mungkin nanti ia yang akan mewariskannya. Tetapi Allah tidak mau dan berkata bukan Lot melainkan keturunannya yang akan mendapat Tanah Perjanjian tersebut. Maka pada kitab Kejadian pasal 17 dikatakan bahwa Hagar diambil Abraham sebagai istri tetapi Allah berkata,”Bukan Hagar, tetapi melalui Sara.” Abraham bingung karena Sara tidak bisa mengandung. Lalu bagaimana caranya Abraham mendapat keturunan? Ketika itu TUHAN membawa Abraham keluar dari kemah dan memintanya untuk memandang bintang-bintang di langit. Waktu ia memandang bintang-bintang di langit, Allah berkata, “Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat (Kej 26:4). Alkitab mencatat kalimat sederhana: “Lalu percayalah Abaraham”. Penulis Perjanjian Lama sering menggunakan alam semesta untuk menunjukkan Allah yang sungguh-sungguh ada dan nyata (bukan isapan jempol atau rekayasa orang). Sehingga pemazmur dengan berani mengatakan,”Oleh firman Tuhan langit dan bumi dijadikan.” Bumi yang bagaimana? Bumi yang merupakan tempat kita tinggal dan berfungsi dengan baik dengan melakukan rotasi mengelilingi matahari. Tidak ada planet yang ada di alam semesta yang tidak berfungsi baik. Matahari , bulan dan bintang tahu fungsinya dan tahu kapan harus bersinar. Dalam teknologi yang lebih modern kita dalam melihat sungguh luar biasa benda-benda bergerak di langit tanpa pernah menimbulkan tabrakan satu pun. Karena Allah Pencipta Langit-Bumi sudah mengaturnya secara mengherankan sehingga melihat hal tersebut dikatakan Ia pasti mampu menolong kita.

b.    Allah mengatur sejarah zaman ini.

Pada Maz 33:10-12 dikatakan bahwa Allah bukan saja pencipta langit-bumi tapi Dia juga mengatur sejarah zaman ini. Sejarah barang-bangsa ada di tangan Allah dan tidak terjadi tanpa melalui campur tanganNya. Seluruh kejadian yang ada tidak pernah tanpa seijin Allah ada. Dalam Perjanjian Lama ada nubuatan-nubuatan yang disampaikan nabi-nabi Allah tentang kerajaan-kerajaan yang muncul, hancur, tenggelam lalu muncul lagi lalu nubuatan-nubuatan tentang raja-raja yang ada, tidak ada dan diberikan kepercayaan dan raja yang diangkat kepercayaanNya oleh Allah. Allah tidak pernah berhenti dalam sejarah masa lalu, tetapi terus menyertai dalam sejarah yang ada di depan. Pemazmur mengatakan bahwa Allah pencipta langit dan bumi, Dia juga mengatur jalannya sejarah ini. Lengsernya Pak Soeharto bukan saja diakibatkan oleh demo mahasiswa tapi Allah yang bergerak di dalamnya untuk menentukan siapa yang tumbang dan siapa yang bangkit. Mau diakui atau tidak, Alkitab berbicara dalam ayat yang luar biasa bahwa Allah menggagalkan rencana bangsa-bangsa. Rencana Allah tetap dan rancangan hatiNya turun-temurun. Waktu bangsa Israel dibuang ke Babel , Nabi Yeremia menulis surat kepada orang Israel di pembuangan, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yer 29:11).”  Rancangan Allah damai sejarah dan diminta untuk diikuti sehingga mendapat damai sejahtera. Tetapi bangsa Israel tidak mau taat karena mereka tidak mau mengaku bahwa Allah ada dalam sejarah bangsa Israel. Ia adalah Allah yang menggerakan dan memegang sejarah ini bahkan Dialah Allah yang kelak akan memusnahkan sejarah ini saat langit dan bumi semuanya hilang lenyap. Kekuatan ini yang dilontarkan pemazmur menjadi alasan bahwa Mata Tuhan selalu benar-benar sanggup melihat kita.

c.     Tuhan memandang dari sorga

Pada Maz 33: 13-14 dikatakan TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia;  dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi. Dia yang membentuk hati  mereka sekalian. Saya dan shi mu terkadang pergi ke mal dan sesampai di mal kami terpisah.  Saya dan shi mu dengan tujuan masing-masing. Saya terkadang mau temani dan terkadang tidak karena perempuan saat memilih barang suka lama. Contohnya saat mau membeli satu sepatu , saya menunggunya saat meneliti warna ,bahan,  haknya dan lain-lain sehingga memerlukan waktu yang lama. Berbeda dengan laki-laki yang tidak kemauan seperti perempuan. Kalau shi mu menemani saya membeli celana, tinggal saya membeli tidak dan saya tinggal menyetujui saja. Sedangkan shi mu saat memilih akan melihat lagi kantong celana saja bisa lama. Sedang saya, kalau mau yang mana, tinggal saya hampiri. Beda dengan shi mu yang kreatif saat melihat satu celana lalu pergi dari satu toko ke toko yang lain sehingga saat sedang ramai mencari shi mu susah. Meskipun saya ingat pakaian yang dikenakan dari rumah (walau terkadang tidak ingat juga). Karena sudah lama mencari tapi ketemu, lalu saya memakai handphone untuk menanyakan keberadaannya tapi tidak dijawab. Setelah menunggu 5 menit tidak dijawab, lalu 10 menit tidak dijawab dan terakhir baru 30 menit juga belum dijawab. Setelah satu jam baru dijawab. Saya bertanya, “Kamu dimana?” Rupanya ia  sedang asyik berbelanja dan saya tidak mampu melihatnya dalam keramaian orang yang jumlahnya tidak banyak. Waktu membaca ayat ini (Allah memandang dari sorga, seluruh manusia di bumi) saya menyadari bahwa Ia sanggup melihat seluruh manusia di bumi. Kalau Dia sanggup melihat seluruh manusia di bumi, di ayat 18 kita masuk ke dalam scope yang panggil kecil, “Sesungguhnya mata Tuhan tertuju pada mereka yang takut akan Dia.” Dia sanggup melihat apa yang  menjadi pergumulan kita yang paling dalam. Sehingga pemazmur ingin mengatakan kepada kita bahwa kebenaran tentang Allah dalam kedaulatanNya : Ia pasti memelihara umatNya dengan baik meskipun caraNya tidak mungkin kita bisa selami secara sederhana. Namun akhirnya Tuhan sanggup menolong dengan caraNya. Dia sanggup karena Ia Allah yang benar-benar memperhatikan dengan baik. Ada 2 kata yang menarik dalam ayat 13 dan 18 yaitu “Ia yang membentuk dengan hati” (ayat 13) dan “Ia yang mataNya melihat kita” (ayat 18).

Dalam perjalanan pernikahan kami selama lebih dari 20 tahun ternyata hati shi mu tidak dapat saya mengerti sedalam-dalamnya. Terkadang bangun tidur ia langsung cemberut atau cengengesan, saya tidak mengerti. Sebaliknya kalau shi mu melihat raut wajah saya yang sedang tertekuk terus selama seminggu lalu bertanya,”Mengapa susah?” Hati kita biar orang terdekat sekali pun tidak tahu. Demikian saat pasangan suami-istri mencari pasangan dengan handphone akan berbeda. Saat  mu shi pergi ke luar kota dan shi mu telpon untuk bertanya, “Kamu ada di mana?” dan bila saya menjawab sedang makan dengan majelis, maka hatinya akan tenang (aman suaminya karena bersama majelis dan sedang makan). Tetapi kalau suami yang telpon dan bertanya,”Shi mu sedang di mana?” lalu dijawab,”Saya sedang CP” maka kalau perlu pertemuannya kita pindah ke CL. Rasa ketidakmampuan saya ditolong oleh handphone dengan tujuan berbeda. Allah sanggup melihat hati kita karena Dia yang membentuk manusia. Saya benar-benar terpesona dengan ayat ini.  Saat saya merenungkan ayat ini, saya mendapatkan bahwa Tuhan tahu hati saya. Hati saya sedang bergumul tentang anak, jodoh, menantu dll, Tuhan tahu semuanya.  Kemampuan itu dilihat pada ayat 18,”MataNya tertuju pada mereka yang takut akan Dia dan berharap pada kasih setiaNya” bukan berharap kepada dunia dengan kekayaannya, kuda dengan kemampuannya atau pahlawan dengan kegagahannya tetapi dalam pengharapan kepada Allah. Kemarin para pemuda mengadakan suatu pertemuan berbicara tentang saham dari pk 10-16. Saya cukup salut dengan mereka karena tidak bergeser duduk di bangku untuk memperhatikan tentang saham. Padahal kalau sedang ibadah mendengar khotbah selama 30 menit, hati sudah gelisah menunggu kapan khotbahnya selesai. Sedangkan mendengar saham kalau bukan matahari akan tenggelam mereka tetap tidak beranjak! Saya hanya bicara hanya 5 menit sudah bingung mau bicara apa. Saya senang bila anak muda bisa kaya karena bila tidak akan menyusahkan diri sendiri, keluarga dan bahkan gereja (susahkan semua orang). Kalau ada jemaat memiliki kemampuan uang saya senang. Lukas mencatat saat melayani , Yesus dibantu oleh perempuan-perempuan kaya salah satunya istri bendahara negara seperti Antipas yang dengan kekayaannya melayani Tuhan. Saya tidak anti dengannya dan terkadang saya melihat perkembangan zaman tapi saya sesuaikan dengan firman Tuhan. Saya sampaikan boleh mencari uang dan kaya tapi jangan berorientasi pada uang karena ini berbahaya (hati kita lebih terpincut dengan yang kelihatan). Mata Tuhan tidak kita lihat tetapi waktu kita melihat ke harta kekayaan, hati kita lebih cenderung ke sana. Pemazmur mengatakan kalau mata Tuhan tertuju maka  Allah akan mengasihi orang-orang yang berharap kepadaNya dan bukan orang-orang berharap pada kekuatan dunia ini.

Dari Senin-Rabu kemarin (28-30 Mei 2018) saya sedang mengikuti rapat tahunan Yayasan Kalam Kudus Indonesia yang membawahi Sekolah Kristen Kalam Kudus di hotel Grand Tjokro selama 3 hari. Saya ikut sebagai peserta karena saya adalah anggota BPH sinode, sehingga walau tidak mengerti tentang pendidikan saya ikut hadir. Saya memperhatikan bagaimana perjalanan dan perkembangan sekolah. Saat sedang duduk-duduk mengikuti rapat, tiba-tiba lampu HP saya nyala. Ternyata ada satu pesan WA yang masuk dari seorang jemaat yang pernah saya layani. Ia bertanya tentang rencana perjalanan misi ke NTT, saya bertanya,”Apakah kamu mau ikut?” Dia menjawab,”Tidak bisa ikut karena mau menghadiri seminar dari hillsong di Australia. Tetapi bolehkah saya ikut membantu?” Saya pun mempersilahkannya. Dia bertanya tentang apa yang dibutuhkan. Saya menginformasikan bahwa telah banyak hal yang Tuhan tolong , namun bila ia ingin membantu dapat dilakukan untuk menyediakan dana untuk orang-orang yang mau ikut tapi kurang mampu. Akhirnya ia mau membantu mensponsori 2 orang yang mau ikut. Saat kita sedang duduk, kalau Tuhan mau kasih rejeki maka Tuhan akan berikan.  Saya teringat pada Maz 127 dikatakan Ia memberikan kepada orang-orang yang dikasihi saat tidur. Ini bukan berarti orang Kristen malas tetapi Alkitab mau menjelaskan melalui kalimat-kalimat  yang sangat  ekstrim sekali pun. Saat kita sedang duduk atau tidur pun kalau Allah mau kirim rejeki maka Dia akan  mengirimnya. Dalam kesimpulan akhir drama yang dipentaskan tadi ingin disampaikan bahwa Allah yang matanya tertuju sanggup menolong kapanpun waktunya dan dengan cara bagaimana pun. Tetapi Dia menolong bukan kepada orang yang tidak berharap, tetapi kepada orang yang berharap dan berseru padaNya dan itulah orang yang Allah kasihi yaitu orang yang beriman kepadaNya.

Memasuki bulan yang ke-6, kita mungkin mengalami kesulitan. Mungkin tidak ada uang sekolah untuk anak-anak dan angka dalam tabungan sangat krisis. Demikian juga dengan gereja yang mengalami banyak masalah. Saya bertanya saldo di bank kepada bendahara majelis, ternyata saldonya sangat sedikit sekali. Angkanya negatif. Kalau bicara tentang tabungan dan angkanya sedikit maka betul kita berpikir tentang bagaimana pembangunan gereja. Tetapi waktu melangkah dengan iman dan berharap, maka Tuhan bisa gerakan dan pakai siapa saja. Jadi manusia jangan sombong. Kalau tidak mau melayani Tuhan, maka Tuhan bisa pakai yang lain. Allah itu hidup dan mataNya melihat kita. Dia tahu hati setiap kita. Kalau kita jahat, istri mungkin tidak tahu tapi Tuhan tahu. Itu kebenaran yang harus kita pegang kuat-kuat. Kebenaran itu berdampak 2 hal :

1.     Jangan hidup sembrono di hadapan Tuhan.

Kita mau menipu istri / suami atau orang tua, Tuhan tahu. Ada anak yang membuka  buku pelajaran saat mamanya membuka pintu kamarnya, namun setelah pintu ditutup ia menutup buku tersebut dan kembali bermain game. Itu tipuan kelas teri tapi Tuhan tahu. Lalu mama bercerita kepada papa, “Anak kita rajin. Puji Tuhan. Kita bersyukur!” padahal anaknya sedang bermain game. Tuhan tahu saat kita menonton blue film walau tidak ada yang tahu tapi Tuhan tahu. Kalau kita berbuat apa Tuhan tahu. Jangan pernah bermain-main dengan Tuhan karena  mataNya tertuju. Waktu tertuju maka bila kita bersembunyi di mana pun seperti pemazmur pada pasal 139 mengatakan “Aku terbang ke tempat yang paling tinggi, Dia ada di sana. Aku pergi ke dunia yang paling dalam Ia ada di sana.” Pemamur menyerah dan berkata,”Tuhan Engkau tahu segala sesuatu”. Itu mata Tuhan.

2.     Mata Tuhan yang tertuju memberi pengharapan. Jangan pernah takut , kecewa atau merasa putus asa ikut Tuhan. Pegang dalam iman kita.

Kemarin saat renungan, saya ditegur waktu membaca kitab Lukas. Yohanes Pembaptis di penjarakan  Raja Herodes karena  Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!" (Matius 14:4). Di penjara ia mendengar apa  yang dilakukan oleh Yesus, lalu mengutus murid-muridnya bertanya,” Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?"(Matius 11:3). Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat:   orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.  Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku." (Matius 11:4-6) . Tuhan Yesus sebenarnya bisa saja menjawab ke murid-murid Yohanes,”Aku orang yang akan datang” tetapi Yohanes bisa berkata, “Mana buktinya?” Saya dibukakan dengan tafsiran yang bagus. Waktu ia membaptis Yesus dia mengatakan,: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.  Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel." (Yohanes 1:29-31). Dalam konsep Yohanes Pembaptis, ia menyakini Yesus akan datang seperti apa yang disampaikannya. Tetapi Yesus datang dengan menyampaikan kabar baik dan menyembuhkan orang sakit. Tetapi Yesus ingin mengatatakan ke Yohanes, “Jangan kamu kecewa.” Memang saat ini Ia tidak melakukan penghakiman, tetapi Ia adalah hakim yang agung. Ia berkata kepada Yohanes, apa yang kamu nubuatkan tidak salah. Karena Yesus nanti akan menjadi hakim. Tetapi Yesus datang untuk membuka lembaran yang baru bahwa apa yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya,”Ia mencelikkan mata orang buta, membuat orang lumpuh berjalan, menghidupkan orang mati dan memberi kabar baru kepada orang-orang  susah” itulah babak baru yang sedang dijalani oleh Tuhan Yesus dan  nanti di penghujung Ia jadi hakim yang menghakimi. Jadi kamu jangan kecewa kalau Aku belum lakukan apa yang engkau nubuatkan. Waktu membaca ayat ini (engkau jangan kecewa) saya sangat terberkati. Mata Tuhan tertuju. Hari ini mungkin kita kecewa sepertinya Tuhan tidak menolong saya, Tuhan tidak memberi jalan keluar atau  sepertinya Dia diam 1.000 bahasa. Jangan kecewa karena mataNya tetap tertuju pada kita. Kapan dan dengan cara bagaimana adalah urusan Allah karena Ia adalah Allah yang berdaulat karena Ia mampu mengurus kita dengan baik.