Thursday, May 10, 2018

Dia Akan Datang Kembali, Berjagalah!!!





Ev. Johan Nugroho

Yoh 14:1-3
1   "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
2  Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.
3  Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

Orang Kristen Tidak Memiliki Tempat di Dunia Ini
             
              Ketika Rasul Yohanes menulis ayat kitab Yohanes 14:1-3 kondisi masa itu sangat mengerikan. Mengapa? Karena bangsa Yahudi bersama dengan bangsa Romawi tidak memberikan tempat bagi orang percaya. Bila kita menjadi orang Kristen saat itu, kita bisa dikeluarkan dari keluarga dan tidak dianggap anak. Begitu memilih jadi orang Kristen, kepala kita bisa dipenggal dan tubuh kita ditaruh di arena koloseum untuk menjadi makanan binatang buas atau dibakar hidup-hidup. Banyak orang Kristen dianiaya oleh keluarga dan bangsanya sendiri (di samping oleh orang Romawi). Dikatakan Yesus menyediakan tempat bagimu karena di dunia ini orang Kristen tidak punya tempat di dunia ini untuk beristirahat. Bahkan Tuhan Yesus pun berkata, “Aku pun tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala.” Itulah janji Tuhan Yesus untuk menyediakan tempat bagi orang-orang Kristen yang sedang teraniaya dan lari ketakutan.

Hospitality

Dalam film “Christian Martyr” dikisahkan tentang penganiayaan orang-orang Kristen oleh Kaisar Nero 64 tahun setelah kematian Tuhan Yesus. Kaisar itu begitu kejam dengan membakar kota untuk menyelesaikan puisinya. Saat itu banyak orang Kristen yang digiring ke dalam arena ampi-teater untuk jadi umpan binatang buas. Satu per satu umat beriman jadi mangsa binatang buas. Orang-orang ini tubuhnya dicabik-cabik oleh singa yang lapar dan menjadi tontonan penguasa dan rakyat banyak. Orang-orang menonton pertunjukkan itu dengan takjub dan menikmati saat orang Kristen dijadikan umpan kepada binatang buas. Mereka membayar untuk menikmati tontonan itu. Tidak hanya dijadikan umpan kepada binatang buas tetapi orang Kristen juga dibakar hidup-hidup dan dijadikan obor hidup di pesta-pesta Kaisar. Tuhan Yesus menjanjikan ada tempat bagi orang-orang yang tidak memiliki tempat di dunia dan orang-orang yang kehilangan orang yang dicintai. Mungkin kita berpikir memang pada masa itu bangsa itu jahat dan barbar sehingga penganiayaan itu terjadi. Itu asumsi kita dan kita juga berasumsi zaman kita sekarang ini tidak barbar. Jangan salah, pada masa itu ada budaya yang sangat agung yang dipercaya oleh bangsa Romawi dan Yahudi yang dikenal dengan budaya hospitality (keramahtamahan). Mereka bukan bangsa barbar dan sadis.
Kata “hospital” (rumah sakit) berasal dari tradisi budaya ini. Orang Romawi dan Yahudi memiliki kepercayaan untuk harus ramah kepada orang asing. Bahkan mereka menyediakan rumahnya untuk orang asing singgah. Ketika orang asing datang, mereka akan menjamu dengan makanan, minuman dan bahkan  memberikan hadiah kepada orang asing sebagai tanda kesalehan. Mereka percaya bahwa terkadang ada dewa, malaikat atau Tuhan yang datang kepada mereka dalam wujud manusia sehingga mereka harus menyambut orang-orang asing itu. Kematian yang begitu mengerikan di atas ada pada budaya yang sangat agung yang sangat menghargai (menerima) orang asing. Saat Yesus lahir di Betlehem itu juga merupakan lambang hospitality. Namun karena terlalu banyaknya orang yang datang ke Yerusalem,  maka saat Yesus akan lahir ke dunia hanya ada tempat berupa kandang, tetapi Yusuf-Maria tetap diterima. Ini budaya yang sangat unik dan dihidupi oleh orang-orang Romawi, Yahudi , Arab (semua negara di Timur Tengah) bahkan Tiongkok pun ada. Ada rumah (biasanya rumah pejabat) disediakan bagi pendekar-pendekar asing yang lewat (mereka diberi makanan dan jamuan). Namun dalam budaya agung mereka bisa memperlakukan manusia begitu jahatnya dan menjadikannya sebagai tontonan-kenikmatan. Budaya Romawi dan Yunani memiliki budaya hospitality. Bahkan kata “hospital” (=rumah sakit) berasal dari kata hospitality. Hospital adalah tempat untuk orang sakit, tidak punya uang, susah, sakit dan kelaparan. Hospital awalnya diurus gereja, lalu diurus negara dan akhirnya menjadi tempat bisnis. Yang miskin tidak bisa ke hospital.
Seorang dokter teman saya berkata, “Saya kasihan sekali dengan rakyat yang sakit. Karena rumah sakit di tempat saya bekerja membeli alat CT-Scan secara kredit. Karena itu setiap bulan harus dikejar pemasukan untuk membayar cicilannya kalau tidak perputaran arus kas rumah sakit akan terganggu. Sehingga semua orang sakit akan diminta untuk menggunakannya, tidak peduli apakah dia orang kaya atau orang miskin yang penting bisa membayar cicilan. Itu terjadi juga di mana tidak ada kemanusiaan di sana. Itu terjadi di zaman Romawi, zaman hospitality orang begitu jahatnya. Saat ini orang lebih jahat dari orang zaman dulu. Pada zaman dulu, orang yang saleh artinya orang yang menerima orang asing. Sehingga Yesus selalu memberi contoh orang Samaria yang menolong orang asing atau Zakheus yang membuka tempatnya untuk Yesus (untuk makan dan berhidangan). Yesus sering datang ke rumah orang-orang berdosa untuk menikmati jamuan dan makanan di sana. Orang saleh adalah orang ramah yang menyediakan dirinya, rumahnya dan keluarganya untuk menerima orang lain yang sedang kesukaran sehingga bisa menerima berkat dari keluarga itu dan hal itu dicatat dalam Alkitab. Maka ada gambar yang memperlihatkan Yesus sedang mengetuk pintu rumah yang tidak ada gagang pintunya di bagian depan ,tetapi di dalamnya menunggu orang membukakan hatinya untuk Yesus. Di Alkitab, prinsip hospitality itulah prinsip keselamatan.

Apakah Zaman Sekarang Lebih Jahat dari Zaman Dahulu?

              Walau tidak ada lagi orang yang diumpan ke singa atau ditusuk dari lubang belakang sampai ke mulut tetapi zaman sekarang lebih jahat dari zaman dulu. Apa alasannya? Saya punya dua orang murid yang ayahnya bekerja keras untuk adiknya (=pamannya). Ternyata walau ayahnya rela tidak sekolah untuk menyekolahkan adiknya itu, namun setelah pamannya sukses membuat perusahaan, ayahnya didepak dari perusahaan. Anak bimbingan saya itu (adiknya) bertekad untuk sukses. Setelah itu anak pamannya akan dijadikan karyawan dan bila susah dibiarkan mati sengsara. Tetapi kakaknya berkata,”Tidak boleh begitu dong. Ketika saya sukses, anak-anak pamanku akan kubuat menjadi karyawanku. Lalu aku akan membuat aku berjasa bagi mereka sehingga mereka akan berterima kasih. Setelah itu akan kubiarkan hidup mereka tergantung dariku.” Yang pertama jahat namun yang kedua lebih jahat. Pada zaman dahulu kalau tidak suka langsung dibunuh sehingga mati. Zaman sekarang, walau tidak disukai namun namun selama masih menguntungkan orang tersebut tidak dibiarkan mati. Kalau sekarat aku tolong supaya bisa dimanfaatkan lagi selama masih bisa menguntungkan saya. Itu yang terjadi di zaman sekarang. Jahatnya adalah orang tidak lagi “makan” orang lain tetapi orang membiarkan orang lain selama orang lain itu bisa dimanfaatkan dan dimanipulasi untuk dirinya lebih baik , lebih kaya atau lebih apapun. Itulah kejahatan di zaman sekarang.

Bukan Tempat yang Yesus Sediakan.

Ada seorang pemikir , Thomas Hobbes, yang mengatakan,”Manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus) karena saling memangsa”. Itu kurang jahat, yang jahat adalah manusia saling memanipulasi. Ini juga kurang jahat karena ada yang memanipulasi dan ada yang dimanipulasi. Sekarang seseorang saling memanipulasi agar dapat untung lebih banyak. Beberapa tahun lalu ada seorang adik kelas yang menjadi bimbingan saya sejak SMP-SMA lalu saat akan menikah dia menelpon saya, “Ko Johan lama tidak bertemu, kangen banget.  Boleh tidak saya main ke rumah ko Johan?”. Saya bahagia sekali karena ternyata orang yang saya bimbing saat mau menikah masih mengingat saya. Saya siapkan rumah dan makanan untuk menjamunya. Akhirnya ia datang dengan calon suaminya dan saya pun menyambutnya. Saat datang, ia bertanya apakah saya sudah ikut asuransi. Itulah yang terakhir setelah sekian lama dia bertemu saya. Jadi akhirnya relasi digunakan seseorang untuk mendapat sesuatu karena anak saya ada 3 orang sehingga prospeknya  jelas. Pendidikan, kesehatan dan kematian (resikonya jelas karena saya punya 3 orang anak). Kalau tidak hati-hati, walau dunia ini tidak saling memangsa tetapi dunia membuat kita hidup selama bisa dimanupulasi.
Ada satu prinsip ekonomi di mana orang yang berada “di atas” memanipulasi orang yang ada “di bawah”. Dulu saya percaya orang kaya memanipulasi orang miskin. Saya sekarang tidak percaya karena di Alkitab dikatakan pada hari terakhir yang jahat akan semakin jahat. Berarti setiap orang adalah jahat. Sekarang saya percaya hal itu. Siapa bilang orang “yang di atas” atau  orang yang kaya adalah jahat dan sedangkan orang yang miskin adalah tidak jahat? Karena saya sering berjumpa orang kaya yang tidak jahat dan bertemu orang miskin yang jahat. Saya juga berjumpa orang miskin yang baik tapi ada orang kaya yang jahat. Jadi Yesus tidak membandingkan antara orang kaya dan miskin. Pengikut Yesus ada yang kaya dan miskin tetapi mereka bukan orang-orang jahat. Kalau memang orang miskin itu tidak jahat, tetapi mengapa saat kerusuhan ada orang miskin yang bisa begitu jahat dengan menjarah milik orang lain? Itu fakta dan bukti. Zaman sekarang, entah kaya dan miskin semua jahat, mereka memperlakukan sesamanya untuk kepentingan dirinya. Selagi menguntungkan , saya akan baik dengannya. Bahkan bawahan yang ingin jabatannya naik memperlakukan atasannya dengan baik. Kalau tidak hati-hati kita bisa berlaku seperti itu di gereja. Saya juga pernah merintis dan menggembalakan sebuah jemaat. Ada seorang jemaat wanita yang mendekati pendetanya dan berkata“Pak Pendeta, suami saya begini-begitu…..” supaya pendetanya mengamuk kepada (menasehati) suaminya. Ia memanfaatkan pendeta untuk mempengaruhi suaminya atau pun sebaliknya.
Dunia kita sekarang lebih jahat karena tidak ada hospitality, tempat yang terbuka untuk orang lain. Di Tuban, ada wihara setiap hari dibuka untuk orang-orang yang tidak bisa makan agar mereka bisa makan secara gratis. Hal ini masih terjadi sampai hari ini sejak saat saya masih kecil. Walaupun makanannya sederhana, tetapi tukang-tukang beca yang tidak bisa makan datang untuk makan. Kalau kita datang ke Tuban dan bertanya tentang kelenteng itu ,maka tukang-tukang beca itu tahu. Kelenteng itu banyak memberi makan kepada orang tidak mampu. Mereka terbuka, hospitality -nya luar biasa. Itu prinsip Kristen. Sebetulnya Kristen lebih dari itu karena Kristen menyediakan hal seperti itu di rumah-rumah tempat mereka ibadah. Seperti Abraham melihat 3 orang asing dan ia sedang menyediakan makanan maka ia meminta ketiga orang asing itu datang dan ia menjamu orang asing tersebut. Orang Kristen bukan orang yang memanfaatkan orang lain, tetapi mereka percaya kepada Yesus dan hospitality karena Tuhan mereka memiliki bumi itu, tetapi Tuhan sebagai pemilik bumi ini diusir dari bumi ini dan dibunuh. Sehingga bumi ini dikuasai oleh orang-orang jahat termasuk pengikut-pengikut Tuhan saat datang ke dunia ini justru dikuasai oleh orang-orang jahat dan dianiaya padahal mereka adalah anak-anak Allah sendiri. Itulah keadaan dunia kita. Kehancuran gereja bukanlah gereja ditutup karena jemaatnya habis tetapi gereja semakin banyak dan besar tetapi setiap anggota jemaat tidak ada hospitality (keramahtamahan). Mereka tidak menyediakan dirinya dan hartanya untuk dibagikan ke orang lain. Jemaat saling memanipulasi untuk keuntungan dirinya. Sehingga mereka memperlakukan sesamanya bukan dengan cinta tetapi diperalat seperti benda yang bisa memuaskan dia. Kalau sudah tidak berguna, maka benda itu dibuang. Itulah kejahatan di zaman kita. Kalau tidak hati-hati maka kita bisa menjadi jahat. Di dunia pelayanan pun, hamba Tuhan bisa jadi jahat, berebutan posisi, saling menjatuhkan dan memanfaatkan jemaatnya untuk kebencian dan kepentingan. Itulah tanda yang Tuhan tidak suka karena itu bukan tanda umat Tuhan. Tanda umat Tuhan adalah orang yang memberikan dirinya buat orang lain. Tuhan menyediakan tempat. Tempat apa?

Yerusalem Baru Turun dari Surga
             
Pengikut Kristus yang tidak mendapatkan tempat di bumi ini (alami ketidakadilan) akan masuk Yerusalem baru  (Wahyu 22: 1-2, 17) dan menikmati persekutuan (hospitality) dengan Anak Domba. Nanti di hari terakhir, Yerusalem baru yang Rajanya adalah raja yang adil dan tidak memanfaatkan orang lain tetapi Dia mengorbankan diriNya untuk orang-orang yang dicintai.  Akan datang Yerusalem baru , turun dari surga ke bumi ini. Orang-orang percaya bersama Raja itu akan memerintah bumi ini dengan adil. Bumi yang ada di hancurkan lalu direstorasi maka akan ada langit dan bumi yang baru. Maka doa kita ,”KerajaanMu datanglah dan kehendakMu jadilah di bumi seperti di sorga”. Waktu itulah tidak ada kejahatan di bumi karena Yesuslah Sang Empunya Rumah ini yang akan memerintah bumi dengan keadilan sehingga tidak boleh orang yang fasik ada di bumi. Inilah janji kepada umat Tuhan yang menderita karena mereka memilih tidak menjadi seperti dunia ini. Jemaat Kristen yang dihukum mati karena imannya tidak membalasnya tetapi tetap mengasihi. Itu dibuktikan oleh Tuhan Yesus dan diteruskan oleh rasul-rasulNya yang mati sengsara tetapi mereka tidak menjadi sama dengan orang-orang jahat itu. Tantangan gereja sekarang ini bukan membesarkan gereja tetapi bagaimana selama kita tinggal di dunia ini hati kita masih tulus dan tidak kotor .
              Saat jadi hamba Tuhan saya ingin keliling Indonesia untuk memberitakan Injil. Saat muda, saya membaca sebuah tulisan dari Alm. Pdt. Eka Darmaputera (1942-2005). Pdt. Eka mengatakan,”Dulu waktu muda aku mau mengubah dunia. Tetapi sekarang aku tua, aku berdoa agar biarlah dunia jangan berubah.” Maka ketika Tuhan datang ke dunia kedua kali apakah Dia masih mendapatkan iman di bumi. Jadi pergulatan gereja adalah,”Bagaimana hatiku ini tetap murni dan tidak dikotori oleh perbuatan-perbuatan jahat yang memperlakukan dan memanfaatkan sesamaku hanya sebagai alat?” Di Jakarta, hati kita menjadi lebih kosong karena relasi kita banyak saling memanfaatkan. Tidak ada hati yang tulus yang mau berelasi. Terdapat perbedaan antara relasi dengan kebutuhan.  Kalau saat butuh, saya datang kepada teman lalu minta tolong. Itu merendahkan diri. Tetapi relasi, walau sebenarnya ia tidak perlu datang tetapi ia datang dengan manis-manis sehingga orang yang didatangi itu bisa melakukan apa yang dimau. Itu manipulasi.
Orang Kristen yang sedang susah datang minta boleh ditolong. Tetapi kalau manipulasi, ia tidak minta tolong, tetapi tahu-tahu dengan cara yang lihai orang lain bisa menolongnya secara sukarela.  Itulah beda manipulasi dengan minta tolong. Kalau minta tolong harus minta  untuk saling menanggung satu dengan lain. Ketika istri saya datang ke Jakarta (saya belum 3 tahun di Jakarta) , setelah pulang dari gereja ia merasa bahagia sekali padahal ia orang Jakarta tetapi 7 tahun sebelumnya kami melayani bersama di Surabaya. Ketika ia sedang duduk datang orang-orang lain duduk di sebelahnya (di Surabaya tidak ada yang mau duduk di sebelah kita kalau tidak kenal). Namun di Jakarta setelah duduk di sebelah kita, orang itu tidak mau mengajak ngobrol. Itu lebih jahat. Di Surabaya, kalau duduk di sebelah harus mengajak ngobrol sehingga lebih baik tidak duduk di sampingnya. Di Jakarta yang penting saya duduk, ada orang lain atau tidak maka tidak menjadi masalah. Lebih jahat mana? Di Surabaya naik motor serempetan maka akan saling pelototan. Tetapi di Jakarta pertama kali naik mobil Estilo di tol, saya melihat pengemudi saling balap mobil. Dengan kesal, saya kejar. Tetapi herannya saat saya klakson, dia diam saja. Berarti permakluman orang Jakarta lebih besar karena kita sama-sama melakukan kejahatan (saya kalah cepat dengan kamu). Beberapa bulan kemudian, saya sudah menjadi seperti orang Jakarta. Tetapi saya berusaha belajar tidak seperti orang Jakarta yang lain. Dulu waktu mau mutar balik tapi tidak dikasih jalan membuat saya jengkel. Tapi sekarang belajar agar orang bisa bahagia, saya berusaha mengalah. Bagaimana menjaga hati kita agar tidak jahat dan hancur itulah tantangannya. Saya pernah melayani seorang anak muda , seorang anak majelis. Ia benci sekali dengan guru agamanya dan marah setiap hari. Mamanya meminta tolong saya. Rupanya guru agamanya mengata-ngatainya dan membuatnya kesal. Akhirnya dia kumpulkan teman-temannya untuk membuat petisi dengan maksud agar guru itu keluar dari sekolah. Setelah keluar hatinya puas namun hatinya tetap marah. Ia tidak suka karena ia merasa guru itu jahat. Saya katakan,”Kamu tidak suka apa yang dilakukan guru itu jahat, tapi apa yang kamu lakukan itu lebih jahat.” Ia bertanya,”Maksudnya?” “Dia satu orang yang melukai hatimu. Tetapi kamu mengajak banyak orang untuk menghajar satu guru dengan alasan kamu sebagai orang yang dilukai. Ia hanya punya pekerjaan sebagai guru agama. Setelah ia keluar dan ia tidak punya pekerjaan padahal ia punya anak. Kamu melakukan apa yang kamu tidak suka lakukan sendiri. Itulah kamu.” Anak itu menangis,”Aku memang jahat.” Hati-hati, terkadang untuk kepentingan membela diri, kita mengajak orang lain untuk membenci satu orang. Kita lebih jahat dari orang yang jahat terhadap kita. Maka Tuhan Yesus mau agar kita melihat hati kita. Agar hati kita murni dan berpakaian bersih untuk menyongsong Anak Domba, supaya pakaian kita dibasuh dengan darah  yang mahal itu. Yesus mengatakan, “Hai orang-orang yang setia, maka saat berjumpa denganKu, Aku akan menghapuskan air matamu.” Mana yang dipilih : membuat orang lain menangis agar kita tidak menangis sendiri atau kita berusaha untuk tidak manipulasi sehingga mengalami banyak terluka dan tangisan tetapi Yesus berjanji akan datang menghapus setiap air mata kita yang berusaha mencintai orang lain?

Hospitality : Early Christian Life
             
Lambang salib itu baru muncul sekitar abad ketiga yaitu 300 tahun setelah kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Gereja awal tidak memakai tanda salib sebagai simbol gereja. Ketika orang-orang Kristen dianiaya oleh Kaisar Nero, mereka sembunyi di kuburan-kuburan dan mereka tidak membuat gambar salib tetapi mereka menggambarkan ikan dan banyak mereka menggambarkan orang-orang yang sedang makan bersama-sama. Hospitality adalah makan bersama. Table fellowship adalah makan yang disediakan untuk orang asing. Mengapa digambarkan “ikan”? Kata “ikan” bahasa Yunaninya ICHTHUS (singkatan untuk kata Iesous Christos, Theou Uios, Soter yang berarti Yesus Kristus, Putra Allah, Juruselamat). Ada gambar perjamuan yang ada ikan dan roti itu karena keduanya melambangkan Yesus dan Yesus memerintahkan murid-muridNya tidak merayakan Natal dan Paskah melainkan harus sering melakukan perjamuan kudus bersama orang percaya (memecah-mecah roti untuk dinikmati). Yesus mengajarkan ketika dunia saling memanfaatkan orang lain (orang saling memanipulasi) kekristenan mengajarkan kita harus saling berbagai seperti Yesus yang tubuhNya dibagi dan dinikmati oleh orang lain. Berapa banyak kita bisa membagi hidup, waktu dan uang kita kepada orang lain agar mereka bisa menikmati Kristus yang kita percaya. Banyak orang tertarik menjadi Kristen karena banyak janda, fakir miskin dan budak diterima oleh orang Kristen. Iblis semakin tidak suka karena Dia baik dan tidak jahat. Kejahatan iblis tidak berupa menghancurkan gereja dengan cara menutup gereja. Iblis akan berhasil saat orang-orang di gereja sudah tidak memiliki kasih, belas kasihan dan saling membenci - menjatuhkan. Itu keberhasilan iblis. Di gereja mula-mula iblis tidak berhasil karena walau tubuh mereka hancur tetapi hati mereka tetap mengasihi. Seperti walaupun tubuh Yesus hancur tetapi hati Yesus tetap mengasihi dan mengampuni. Tuhan berjanji akan datang kembali untuk orang percaya yaitu orang yang bersekutu bersama untuk saling menguatkan agar hidupnya bisa dinikmati oleh orang lain. Yesus mengatakan ,”Aku sedang menyiapkan jamuan Anak Domba untuk mengundang pengikut-pengikutKu yang setia agar berpesta dengan Anak Domba.” Jadi keselamatan bicara tentang hospitality menerima orang berdosa masuk di dalam keluarga, makan bersama dan berbagi bersama.

Penutup

              Berikut cuplikan (klip) sebuah film tentang hospitality : Les Miserables (artinya Orang-orang Yang Menderita). Film ini diangkat dari novel Perancis terkenal karya Victor Hugo tahun 1862 yang telah beberapa kali difilmkan. Film terakhir dibuat tahun 2012 dan beredar di Indonesia Januari 2013. Dikisahkan tentang Jean Valjean yang baru dibebaskan dari penjara setelah menjalani hukuman selama 19 tahun karena mencuri sebuah roti untuk keluarganya yang kelaparan. Selama di penjara ia telah berusaha kabur beberapa kali. Sebenarnya ia tidak begitu jahat tapi di penjara ia menjadi orang yang sangat jahat karena pengaruh lingkungan sekelilingnya. Ia menjadi terbiasa dengan kekerasan. Setelah dibebaskan ia mengelana di Perancis selama beberapa bulan mencari pekerjaan, namun dunia ini tidak menerima mantan napi untuk bekerja.  Dalam keputusasaan ia duduk di pinggir kota dan melihat ada sebuah gereja yang menerima orang-orang asing datang. Gereja masa itu selalu membuka pintunya untuk orang asing datang, biasanya ada ruang khusus di samping gereja untuk orang-orang yang tidak punya tempat tidur dan bagi yang tidak bisa makan bisa makan di sana.  Memang hospitality ditandai dengan minuman, makanan dan tempat untuk tidur. Di Yahudi ada tempat untuk mencuci kakinya. Valjean pun bertemu dengan Uskup Digne yang menawarinya makanan serta tempat tinggal. Valjean menerima bantuan tersebut. Namun karena sudah terbiasa jadi pencuri, ia pun mencuri aset gereja (seperti piring dari perak) pada malam harinya. Gereja pada zaman itu kaya. Piring dan tempat minumnya dari perak. Ia mencuri semuanya.  Keesokan harinya, Valjean tertangkap oleh petugas keamanan setempat karena diduga telah mencuri aset gereja. Ia pun membantahnya dengan mengatakan bahwa aset itu pemberian dari sang uskup sehingga polisi menghadapkannya pada sang uskup. Yang mengejutkan sang uskup ternyata membela Valjean dengan mengatakan bahwa aset tersebut memang hadiah yang diberikannya untuk Valjean. Sang Uskup bahkan menambahkan bahwa ada barang berharga lain yang tertinggal, kemudian diambilnya aset lainnya untuk diberikan ke Valjean (ini simbol hospitality) dengan pesan agar aset tersebut digunakan untuk hidupnya di masa depan. Terkesan dengan kebaikan hati sang uskup, Valjean bersumpah bahwa ia akan menjalani kehidupan yang jujur dengan identitas baru mulai saat itu. Sejatinya hospitality adalah pesan penginjilan.

Beberapa tahun lalu saya pernah terjatuh sebagai hamba Tuhan bukan karena masalah moral tetapi wilayah keyakinan saya yang tidak bisa diterima oleh gereja tempat saya melayani. Saya meyakini dengan sungguh dan gereja tempat saya melayani tidak bisa menemukan kesalahan saya. Saya pun diberhentikan secara diam-diam. Ketika itu istri saya tengah hamil 9 bulan, saya tidak punya pekerjaan selama setahun. Karena masalah tersebut, saya juga tidak diterima di gereja-gereja lainnya (semua gereja tertutup). Saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan yang selalu punya tempat untuk anak-anakNya. Akhirnya Tuhan mengutus majelis gereja dari gereja yang memecat saya untuk menyediakan rumahnya untuk menampung kami. Rumah, mobil dan semua fasilitas gereja telah saya kembalikan sehingga akhirnya saya kembali menggunakan motor. Teman majelis tersebut yang berprofesi sebagai dokter (yang aktif dalam pelayanan marriage enrichment) juga membantu kelahiran anak saya melalui operasi Caesar secara gratis. Tidak ada tempat untuk saya tetapi ada anak Tuhan yang membuka rumahnya untuk saya sekeluarga. Saya tidak bisa membalas budi mereka sampai hari ini. Saya hanya bisa mengingat kedua orang itu dan mendoakan mereka. Itulah hospitality. Akhirnya Tuhan membentuk saya. Di kemudian hari, saat saya punya pembantu (bukan Kristen) dan saya mengajaknya menonton film Laskar Pelangi (yang dibuat 2008 dan diedarkan 2012). Melihat film ini, dia menangis karena teringat akan cita-citanya menjadi guru sedangkan ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Saya sangat terharu mendengarnya. Waktu itu gaji saya sangat kecil untuk hidup saja pas-pasan. Tetapi saya pernah merasakan belas kasihan Tuhan melalui orang lain. Jadi dengan iman kami berdoa dan memantapkan hati kami menguliahkan pembantu tersebut walau penghasilan saya tidak jelas dan masih naik motor. Saya tidak ingin ia terus menjadi pembantu (juga anaknya agar tidak menjadi pembantu). Saya pernah mendapat berkat uang yang begitu banyak dan  saya merasa bahagia ketika mendapat uang yang begitu banyak. Tetapi hari itu waktu saya memberi uang yang tidak begitu banyak untuk dia kuliah sambil bekerja dengan saya, saya melihat matanya dan kebahagiaan  melihat mata yang berterima kasih tidak terbayarkan. Dunia mengajarkan kalau ingin berbahagia, maka ambil, dapatkan dan raih sebanyak yang kau bisa. Tapi Tuhan berkata,”Kalau kau ingin berbahagia, orang yang memberi lebih bahagia daripada orang yang menerima”. Sehingga kalau kita ingin mencoba terus meraih segalanya maka diri kita tidak merasa bahagia karena kita sudah melenceng dari firman Tahun dan kita tidak terlatih untuk memberi. Ketika saya memberi ternyata saya pun diberi kesempatan oleh Tuhan. Orang yang menantikan Tuhan adalah orang yang terus menangis, karena ia tidak mau menjadi seperti dunia ini dan dia tidak mau dunia yang tidak ada kasih. Orang yang menantikan Tuhan adalah orang yang menangis bersama Yesus karena tidak punya ruang di dunia ini karena dunia ini tidak ada kasih dan keadilan. Sehingga kita menantikan Yesus datang kedua kalinya untuk bertahta di dunia ini , mengadili setiap orang dan berbuat kebaikan ke seluruh penjura bumi ini. Inilah orang yang menantikan Yesus kedua kali.


Tuesday, May 8, 2018

Bahwasanya untuk Selama-Lamanya Kasih Setia-Nya

Pdt. Hery Kwok

Matius 26:30  Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun.
Mazmur 136:1-26
1  Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
2  Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
3  Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
4  Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
5  Kepada Dia yang menjadikan langit dengan kebijaksanaan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
6  Kepada Dia yang menghamparkan bumi di atas air! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
7  Kepada Dia yang menjadikan benda-benda penerang yang besar; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
8  Matahari untuk menguasai siang; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
9  Bulan dan bintang-bintang untuk menguasai malam! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
10   Kepada Dia yang memukul mati anak-anak sulung Mesir; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
11  Dan membawa Israel keluar dari tengah-tengah mereka; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
12  Dengan tangan yang kuat dan dengan lengan yang teracung! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
13  Kepada Dia yang membelah Laut Teberau menjadi dua belahan; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
14  Dan menyeberangkan Israel dari tengah-tengahnya; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
15  Dan mencampakkan Firaun dengan tentaranya ke Laut Teberau! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
16  Kepada Dia yang memimpin umat-Nya melalui padang gurun! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
17  Kepada Dia yang memukul kalah raja-raja yang besar; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
18  Dan membunuh raja-raja yang mulia; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
19  Sihon, raja orang Amori; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
20  Dan Og, raja negeri Basan; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
21  Dan memberikan tanah mereka menjadi milik pusaka; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
22  Milik pusaka kepada Israel, hamba-Nya! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
23  Dia yang mengingat kita dalam kerendahan kita; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
24  Dan membebaskan kita dari pada para lawan kita; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
25  Dia yang memberikan roti kepada segala makhluk; bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
26  Bersyukurlah kepada Allah semesta langit! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Pendahuluan

              Pada kitab Mazmur pasal  136 dari ayat 1-26 penulisnya berulang-ulang mengatakan “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya”. Hal ini berarti pemazmur tersebut ingin menekankan pada orang-orang yang mendengar madah (pujian) saat itu dan orang-orang percaya saat ini bahwa kasih setia Allah untuk selama-lamanya. Mungkin kita seringkali menemui kesulitan dalam memahami arti “selama-lamanya”, karena di dalam dunia yang fana ini kita memiliki keterbatasan (limitasi). Contoh : dalam menjalani bahtera kehidupan rumah tangga suatu kali pasangan suami-istri yang pada awalnya mengalami kebahagian, menemukan bahwa  kebahagian itu sifatnya sementara dan kemudian hilang baik karena pasangannya meninggal atau tidak setia. Di sini sang suami atau istri sulit menemukan pengertian “selama-lamanya”. Padahal sewaktu mengikrarkan janji pernikahan, mereka telah mengatakan, ““Saya mengambil engaku menjadi istri/suami saya untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya; pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus”. Namun faktanya istilah “selama-lamanya” seringkali sulit ditemukan dalam perjalanan hidup pernikahan sehingga kita terkadang sulit memahami arti “selama-lamanya” seperti yang diungkapkan oleh pemazmur tersebut.

Mengukur Kasih Setia Tuhan

              Saat ada yang menanyakan apakah kasih setia Tuhan benar-benar kita rasakan berarti kita sedang mengukur atau menanyakan alasan kasih setia Allah. Seringkali kita mengukur kasih setia Allah berdasarkan hal-hal yang positif, meng-enak-kan dan menggembirakan. Saat itu kita mengatakan Allah itu luar biasa baik dalam kasih setiaNya. Karena kita menikmati berbagai kebaikan dari sudut pandang positif di mana kita menerima berkat, kesehatan , keberhasilan sehingga kita berkata Dia memiliki kasih setia yang luar biasa. Namun saat menghadapi fakta kehidupan yang sulit seperti yang dialami Ayub di mana semua anaknya meninggal , harta kekayaan habis lenyap dan ia tinggal dengan istrinya dalam kondisi yang sulit. Itulah fakta di mana Ayub mengalami kehidupan yang tidak mengenakkan. Saat menghadapi peristiwa tersebut apakah kita berani mengatakan dengan mulut kita kepada orang lain bahwa Allah itu baik? Belum tentu.
              Dalam buku Where is God When It Hurts (1977) karangan Philip Yancey (1949) dalam bagian pendahuluan  dikisahkan ada seorang pemudi yang mengalami kelumpuhan karena tulang belakangnya patah. Lalu seorang sahabatnya (seorang percaya) datang dan selalu bercerita tentang Tuhan. Pemudi yang lumpuh ini bertanya,”Apakah pada waktu aku jatuh dan kemudian tulang belakangku patah, Allah benar-benar ada dalam kejadian itu? Apakah Allah benar-benar menyertai saya saat kejadian itu?” Sahabatnya sulit menjawabnya. Karena waktu ingin menjawabnya dia merasa apakah dalam kejadian yang membuat temannya itu lumpuh menjadi bagian dalam kasih setia Allah. Belum tentu kita bisa menjawab pertanyaan seperti ini dengan baik. Seringkali kita mengukur, menilai dan memahani kasih setia Allah hanya dari sudut pandang berkat, bersifat positif dan keberhasilan baru kita memandang Allah dalam kasih setiaNya yang hebat. Maka Pemazmur ingin mengajak kita untuk melihat kasih setia Allah melampaui hal-hal yang bisa kita alami dalam dunia yang tidak terduga ini (hal-hal yang sifatnya menyenangkankah atau hal-hal  sungguh-sungguh menyakitkan dalam hidup kita). Pemazmur memberikan pengajaran yang luar biasa di mana ia tetap mengatakan berulang-ulang,”Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya “. Frase ini terus diulang bukan karena pemarmur tidak punya dasar tapi ia punya pemahaman yang jelas tentang Allahnya.

Ada 2 hal yang dipelajari dari Mazmur 136:1-26

1.     Kasih setia Allah dalam penciptaanNya

Dalam Mazmur 136:4-9, pemazmur ingin mengatakan pada orang-orang yang mendengarkan pujiannya, bahwa kasih setia Allah itu terbukti dalam penciptaan yang dikerjakan oleh Allah sendiri. Allah Sang Pencipta adalah Allah yang kasih setiaNya benar-benar untuk selama-lamanya. Pada ayat 4 pemazmur mengatakan  Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar!  Keajaiban apa yang dilakukan oleh Allah, Sang Pencipta? Ia-lah dalam kebijaksanaanNya menjadikan langit dan bumi, menghamparkan bumi di atas air, menaruh benda-benda penerangan yang tergantung dan tidak jatuh dalam seluruh masa tetap berada di sana. Bagi orang-orang Perjanjian Lama itulah keajaiban-keajaiban yang Allah lakukan di dalam penciptaanNya. Sehingga waktu mereka menyaksikan bulan , bintang dan lainnya, mereka melihat Allah dalam penciptaanNya sungguh-sungguh memelihara dengan kasih setiaNya yang luar biasa. Semua langit, bumi, benda-benda penerang tetap berada di tempatnya (di porosnya) dan tidak bergeser sedikit pun oleh apa pun dan mereka tetap tergantung di sana di dalam kemahakuasaan Sang Pencipta. Pemazmur ingin mengatakan bahwa apa yang dikerjakan Allah sungguh-sungguh dalam kasih setia yang hebat. Dia sungguh-sungguh tidak meninggalkan perbuatan tanganNya. Sehingga dalam votum diakui , “Bahwa pertolongan kita adalah di dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi.” Dia yang memelihara dengan kasih setiaNya artinya seluruh penciptaan benar-benar dipelihara dengan baik oleh Allah. Tetapi ayat 4-9 akan ditemukan perbandingannya pada Mazmur 8:4-5 sewaktu Daud menulis kalimat yang luar biasa “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Daud coba membandingkan keajaiban Allah yang hebat dengan manusia yang kecil. Pada ayat berikutnya 6-7 dikatakan, “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:” Di sini kita bisa menemukan kasih setia Allah yang hebat sewaktu dibandingkan dengan alam semesta dan manusia karena manusia dalam perjalanannya tidak pernah setia kepada Allah. Pada waktu Allah menciptakan Adam dan Hawa, mereka  memberontak dan tidak setia kepada Allah. Seluruh keturunan Adam dan Hawa hidup dalam ketidaksetiaan kepada Allah, tetapi ketidaksetiaan manusia tidak pernah menggoyang kesetiaan Allah. Sehingga waktu pemazmur mencoba mengangkat tentang  ciptaan alam semesta, dikatakan alam semesta saja setia kepada Allah. Langit, bumi , bulan dan bintang setia pada fungsinya, sedangkan manusia tidak setia walau Allah tetap memelihara. Perbandingan kontras seperti inilah yang membawa kita bisa melihat bahwa ternyata kasih setia Allah tidak pernah bergeser terhadap umat manusia dan terhadap orang-orang pilihannya. Dia tidak akan pernah menarik kasih setiaNya. Sehingga tepat sekali pemazmur mengatakan bahwa,”Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setianya”.  Terhadap orang yang kita kasihi, bisa saja kita tidak setia apalagi orang yang jauh dari kita. Rekan bisnis yang sudah lama berhubungan bisa saja tidak setia. Menghadapi orang yang tidak setia, kita berkata,”Saya menyesal berkawan (berteman) dengan kamu. Saya menyesal berbisnis dengan kamu karena kamu tidak setia” Tetapi Allah tidak demikian. Sehingga pemazmur memberikan garis kesimpulan yang kuat,”Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setianya”. Jadi kasih setia Allah dalam pandangan pemazmur membuktikan Allah yang  tidak pernah berubah dalam ketetapanNya untuk mencintai manusia. Kita sungguh-sungguh mendapat belas kasihan dalam kasih karunia  yang sedemikian hebat dari Allah.

2.     Allah adalah Penyelamat dan Pelindung. Kasih setia Allah adalah nyata dalam kondisi susah. Dia memelihara hidup kita meskipun kita tidak setia.

a.     Allah Pencipta sekaligus Penyelamat hidup kita.

Mazmur 136: 10-22 menceritakan tentang perjalanan orang Israel keluar dari Mesir dengan pertolongan Tuhan sehingga mereka memiliki tanah perjanjian dengan mengalahkan raja-raja di bagian Timur. Raja Og dan Raja Sihon dikalahkan waktu kepemimpinan Musa sebelum mereka masuk ke tanah perjanjian. Pemazmur ingin mengatakan Allah pencipta itu sekaligus penyelamat dalam hidup orang Israel sebagai umatNya karena Dia menyertai mereka sejak keluar dari Mesir sangat terbukti hingga masuk ke tanah Perjanjian.
Pada ayat 10-15 ada 6 kali cerita bangsa Israel keluar dari Mesir diulang-ulang dengan sedemikian baik. Mereka keluar dari Mesir lalu dengan  tangan Tuhan yang kuat membelah Laut Teberau (Laut Merah).
Pada ayat 17-22 diceritakan tentang bagaimana Allah memberikan tanah yang bisa mereka miliki.
Pada ayat 16 pemazmur menulis satu bait, Kepada Dia yang memimpin umat-Nya melalui padang gurun! Pada ayat ke 10-15 kita menemukan kasih setia Allah sedemikian dramatis. Pada waktu Engkau membawa kami keluar dari Mesir, pada waktu Engkau membelah Laut Teberau, itu merupakan peristiwa-peristiwa yang luar biasa yang dialami oleh bangsa Israel. Lalu mereka berperang melawan Raja Sihon (raja orang Amori) dan Raja Og (raja orang Basan) yang sedemikian besar kerajaannya. Ibarat kerajaan kecil melawan kerajaan besar tetapi mereka bisa mengalahkannya. Hal itu diceritakan dengan sedemikian baik sehingga seluruh alurnya sangat dramatis. Tetapi pada ayat 16,pemazmur hanya menulis 1 bait yaitu Kepada Dia yang memimpin umatNya melalui padang gurun. Sepertinya ayat 16 ini tidak ada arti, tetapi ayat inilah ungkapan cinta kasih Tuhan yang kedua pada pasal 136. Karena di padang gurun selama 40 tahun lah Allah membuktikan kasih setiaNya yang sedemikian agung dan kekal karena 40 tahun mereka berubah setia dengan segala kejahatan mereka, tetapi selama 40 tahun Allah melakukan perkara yang tidak pernah dikurangi yaitu pemeliharaanNya. 40 tahun mereka makan dan tidak pernah kekurangan. Bahkan saat mereka bersungut-sungut meminta daging, Allah memberikan daging dengan cara yang luar biasa. Ada beberapa orang yang rakus sehingga saat daging masih di mulut mereka menangkap lagi binatang yang lain. Mereka mencoba menangkap daging dengan rakus. Di situlah Allah tidak pernah tidak memelihara mereka. Saat lapar Allah memberikan makanan dan saat mereka haus Allah memberikan air. Makanan dan minuman adalah satu gambaran yang jelas, bagaimana kebutuhan pokok manusia tidak pernah dilalaikan Allah. Sehingga selama 40 tahun , pemazmur dalam 1 ayat mengatakan Allah hebat dalam pemeliharaanNya. Ia benar-benar memelihara dengan sempurna. Sehingga Musa mengatakan, “Adakah kasutmu menjadi rusak? Adakah pakaianmu menjadi robek?” Tidak ada! Karena kasih setiaNya luar biasa. Bagian ini ingin mengatakan ke kita bahwa kasih setianya Allah itu dasarnya kokoh karena Ia membuktikan pemeliharaan dalam hidup kita. Meskipun kita tidak setia kepada Dia , Dia tetap pelihara kita.  

b.     Bukan saja Dia memelihara kita tetapi Dia sekaligus melindungi kita

Padang gurun adalah tempat di mana saat siang hari panasnya luar biasa, sedangkan pada malam hari dinginnya luar bisa. Dalam ekstrim cuaca yang sangat luar biasa kontras ini, mereka disertai dalam perjalanan dengan tiang awan (pillar of cloud) dan tiang api (pillar of fire).  Menarik sekali karena pada saat pembinaan di kelas Tiranus, Pdt. Thomy Matakupan membahas tentang istilah tiang awan dan tiang api. Dikatakan tiang awan ada pada siang hari sehingga panas yang terik itu tidak membuat mereka kehausan dan tidak kehilangan tenaga mereka karena tiang awan itu menutupi mereka. Pada waktu malam yang dingin dan gelap, tiang apilah yang ada. Pernah tidak memikirkan perubahan antara tiang awan dan tiang api terjadinya bagaimana? Apakah seperti di  film di mana tiba-tiba terjadi tiang api dan pada pk 6 pagi langsung terjadi tiang awan? Pada waktu menjelang malam , tiang api keluar dan bersinar artinya di dalam tiang awan ada tiang api. Sewaktu tiang api keluar pada malam hari, maka orang Israel melihat pemeliharaan Tuhan. Di situlah dikatakan kasih setia Allah berlapis-lapis.  Dia berlapis pada pagi hari dan keluar pada malam hari. Artinya kebaikan Allah dalam memimpin orang Israel sempurna. Tidak pernah Allah sedikit pun lalai untuk melindungi mereka. Itu sebabnya pada ayat 16, pemazmur hanya menulis 1 bait tetapi sangat dipahami bangsa Israel bagaimana Alalh melindungi dan memelihara mereka. Karena itulah dasar “kasih setia Allah selama-lamanya” keluar dari hati sang pemazmur.

c.     Kasih setia Allah adalah nyata dalam kondisi susah

Pada Matius 26:30 dikatakan Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun. Ada beberapa penafsir mengatakan puji-pujian yang dinyanyikan oleh Yesus adalah puji-pujian dari Mazmur 136 yang dikenal sebagai “Hallel (artinya pujian) Mesir (Hallel Agung)”. Ini adalah madah pujian dalam tradisi orang Israel yang dinyanyikan pada waktu mereka mau merayakan Paskah :  “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia Allah”. Hal ini sangat menarik karena Tuhan Yesus menyanyikan ayat ini sebelum Dia disangkal oleh Petrus, dikhianati oleh Yudas, imam-imam membawaNya ke pengadilan sebelum disalib. Artinya Tuhan Yesus ingin mengajarkan kasih setia Allah adalah nyata. Dalam kondisi susah sekalipun Tuhan tetap setia kepada kita. Kalau kita pernah disangkal atau tidak diakui maka itu merupakan peristiwa yang sangat menyakiti hati kita karena kita tidak diakui lagi oleh orang yang mengenal kita. Kalau kita punya anak, pada zaman dahulu untuk menghormati orang tua diajarkan dengan jalan menceritakan dongeng seperti Malin Kundang (dongeng asal Sumatra Barat). Maling Kundang sangat dikenal. Untuk menghormati orang tua dikatakan,”Jangan seperti Maling Kundang”. Kisahnya tentang seorang anak yang setelah besar merantau lalu berhasil dan menjadi kaya, punya istri yang cantik dan berlimpah kekayaan. Kemudian datanglah orang tua yang miskin dan tidak diakui oleh Maling Kundang. Cerita ini sangat membekas dalam diri saya. Waktu saya mau menyangkal orang tua saya yang miskin  saya teringat cerita ini dan saya pun takut dikutuk menjadi  batu dalam posisi berjongkok. Jadi saya rasa takut sehingga akhirnya cerita itu membuat saya tidak boleh menyangkal orang tua. Saat tidak diakui oleh anak, orang tua, kerabat yang menimbulkan hati yang sangat sakit. Waktu Yesus menyanyikan lagu “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setianya” Dia akan disangkal. Yesus merasakan perasaan paling pedih dalam hidup manusia yaitu disangkal oleh orang yang dikasihi. Bukan saja Yesus disangkal oleh Petrus, kemudian Yudas juga mengkhianatiNya. Waktu hati kita dikhianati itu merupakan tikaman yang mematikan seluruh enersi kita, hati, perasaan dan emosi kita seperti ditikan dengan belati dan membuat seluruh kekuatan kita lumpuh karena pengkhianatan adalah sesuatu yang paling mengerikan dalam hidup manusia. Yesus mengalami peristiwa ini dan peristiwa itu tidak membuat Dia tidak menyanyikan kasih setia Allah. Pada waktu Dia harus masuk dalam jalan salib (via dolorosa) sekali lagi Dia membuktikan bahwa kasih setia Allah tidak pernah undur dalam peristiwa ini. Itu sebabnya Yesus mengatakan di dalam pujian itu,”kasih setia Allah luar biasa” sampai selamanya.

Tema yang diambil  dalam ucapan syukur GKKK Mangga Besar,”Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setianya” berdasarkan kebenaran Allah sendiri. Kasih setia Allah tidak bisa diukur oleh kita hanya saat senang denganNya atau merasakan keberhasilan saja. Tetapi kasih setia Allah justru akan bisa dinikmati pada saat kita mengalami kesulitan demi kesulitan.

Penutup

              Saya melayani dan menjadi hamba Tuhan di GKKK Mangga Besar selama 4 tahunan (bulan Agustus 2018 genap 5 tahun). Waktu pertama bergabung saya bertanya ke majelis,”Apakah gedung gereja yang sudah sedemikian rusak itu tidak mau direnovasi?” Dijawab oleh majelis,”Bukan tidak mau renovasi tetapi kami tidak mempunyai dana.” Waktu itu saya sampaikan,”Mari kita mulai renovasi. Kita adakan gerakan membawa perpuluhan yang dicanangkan secara teratur untuk diberikan setiap awal bulan.” Majelis merasa was-was karena sudah lama berlangsung sedangkan saya adalah pendatang baru, sepertinya hal itu sederhana dan mudah saja walau sebenarnya tidak. Tetapi saya percaya kasih setiaNya luar biasa. Selama 4 tahun gedung gereja ini benar-benar direnovasi mulai dari  lantai 4 untuk kelas Sekolah Minggu, lalu turun ke ruang untuk ibadah remaja-pemuda, kantin, cat dinding gereja lalu beralih ke ruang kebaktian umum. Selama 4 tahun Allah membuktikan kasihNya sehingga gereja tidak pernah kekurangan. Saya suka menanyakan berapa jumlah kas gereja yang dijawab bendahara majelis besarnya nihil. Saya katakan,”Puji Tuhan jumlahnya tidak minus”. Kalau sampai minus berarti kita berada dalam keadaan sulit sehingga kita harus berjuang lebih keras lagi. Setiap kali saya bertanya ke bendahara majelis, selalu jumlah uangnya berada dalam kondisi ‘net’ (bergulir) . Istilah net (bergulir) diambil dari istilah bulutangkis. Di mana saat bergulir (netting), bolanya tidak bisa dijangkau oleh lawan. Jadi bola kok (shuttlecock) yang paling manis berada di net lawan karena tidak bisa dikembalikan lawan. Itulah bola kemenangan. Kemarin ada mantan jemaat yang datang dan berkata, “Kalau kas gereja di sini belum defisit itu masih bagus. Karena gereja saya sudah defisit.” Dia katakan bahwa kondisi gereja kita lebih baik karena tidak defisit. Kita seringkali mengukur kasih setia Allah dari sudut-sudut  : selalu positif , berhasil dan ada padahal kasih setia Allah justru sangat nyata dalam segala keterbatasan kita.  Itu sebabnya tema hari ini diangkat agar kita melihat kasih setia Allah sungguh nyata. Saya rindu agar setiap kita mengalami kasih setia Allah bukan dalam cerita orang atau karena teori tetapi karena kita mengalami sendiri kasih Allah itu nyata walaupun padang gurun yang akan dialami begitu panjang dan dahsyat. Mungkin kita akan mengalami sakit dan kesulitan tetapi hal itu tidak pernah menghilangkan kasih setia Allah. Mungkin kita berada dalam kesulitan ekonomi tetapi kesulitan tersebut tidak pernah menggoyangkan kasih setia Allah. Mungkin kita sedang bergumul untuk anak yang akan studi dan tidak ada biaya namun  kesulitan itu tidak pernah membuat Allah menarik kasih setiaNya. Maka mari bersama pemazmur kita berkata,”Kasih setia Allah sungguh dan selama-lamanya sampai selama-lamanya”.