Sunday, November 12, 2017

Hukum yang Vertikal = Cermin Kehidupan Rohani Orang-Orang Modern








Pdt. Susanto Liau

Matius 22:34-40
34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
35  dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
36  "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
37  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
40  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Pendahuluan (Prolegomena)

              Ada seorang tokoh reformasi  namanya Martin Luther (Jerman, 1483-1546). Ia pernah mengucapkan kalimat yang luar biasa,”Semakin banyak seseorang mengasihi semakin serupa ia dengan Tuhan”. Kalimat yang singkat tapi merupakan intisari tentang kasih Tuhan (Love of God). Kalau kalimat ini dibalik menjadi, “Semakin sedikit seseorang mengasihi semakin tidak serupa ia dengan Tuhan”. Ketika seseorang tidak pernah mengasihi maka ia sama sekali tidak serupa dengan Tuhan. 1 Yoh 4:8 Allah adalah kasih. Allah yang kita sembah, puja dan menjadi Juruselamat kita adalah kasih. 2.000 tahun lampau Ia turun ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang berdosa dengan mati di kayu salib. Kasih terbesar adalah kasih yang memberikan nyawaNya bagi orang berdosa (Yoh 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya). Donald S. Whitney dalam bukunya, Spiritual Check-Up (10 Pertanyaan untuk Memeriksa Kesehatan Rohani Anda), menulis,”Kasih adalah tanda paling nyata dari seorang Kristen sejati”. Untuk mengetahui kondisi fisik maka kita melakukan general check-up secara berkala untuk mengetahui gula darah, tekanan darah, ada penyumbatan atau tidak dan lain-lain sehingga kita bisa mencegah penyakit yang fatal. Seorang adalah Kristen sejati dibuktikan dari  kasih (bukan dibuktikan dari tiap minggu beribadah, bisa membaca Alkitab dan berdoa).
              Presiden AS ke-45, Donald Trump (sebelumnya dikenal sebagai raja real estat dan miliader sukses yang lahir pada tahun 1946 di New York), memberikan pernyataan luar biasa sebagai seorang politikus,”Saya adalah seorang Kristen Protestan yang  mengasihi Allah dan gerejaNya”. Ia berani mengucapkan hal ini di depan para wartawan  dan dengan jarinya menunjuk melontarkan pertanyaan, “Do you love Him and His Love?”. Setelah kita sekian lama menjadi orang Kristen, apakah betul kita mengasihi Tuhan dan gereja Tuhan hari ini? Bagaimana kita menjawab pertanyaan ini? 2.000 tahun lalu, Simon Petrus menyangkal Yesus 3 kali dan ketika ia dipulihkan, pada Yoh 20-21 , Yesus bertanya, “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”. Ia menjawab, “Ya Tuhan, aku mengasihi Engkau.” Apakah kita sungguh mengasihi Kristus? Bisakah kita menjawabnya seperti Petrus? Bagaimana bukti dan caranya mengasihi Allah?

Apa Arti Mengasihi Allah Menurut Mat 22:37?

              Matius 22:37  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Jawaban ini diberikan Yesus untuk pertanyaan dari seorang ahli Taurat, "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (Mat 22:36).  Pertanyaan ini sebenarnya merupakan pertanyaan jebakan. Karena menurut tradisi Yahudi ada 613 hukum dan peraturan Yahudi.  Ada yang mengatakan sunat adalah hukum utama atau merayakan perayaan tertentu itu yang terutama. Tetapi Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan Allahmu”. Ini adalah kata kerja imperatif, perintah langsung (bukan kamu boleh mengasihi Tuhan atau tidak). Istilah kasih (dalam kata benda Bahasa Yunani agape, kata kerjanya agapao). Kasih bukan sekedar ekspresi perasaan, tetapi ia aktif (agapao). Artinya unconditional love (kasih tanpa syarat / pamrih, kasih ilahi). Jadi Tuhan ingin kita mencintai bukan dengan eros  (romantik, kasih yang bersyarat) atau filia (kasih persahabatan), tetapi Tuhan meminta kita untuk mengasihi Dia dengan kasih ilahi (kasih tanpa syarat). Saya mengasihi engkau tanpa syarat walau engkau merugikan atau mengkhianati saya. Kasih paling agung ketika Allah turun ke dunia dan mati di kayu salib. Ia datang kepada manusia berdosa yang memberontak dan melawan Dia. Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Yoh 15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Mengasihi orang baik itu mudah. Ketika orang memberi angpao ke saya, maka ketika dia ulang tahun saya kasih angpao. Ketika saya ultah dikasih kado dan hadiah, nanti dibalas waktu dia ulang tahun juga. Kalau mengasihi orang yang mengasihi kamu, apa bedanya kita dengan dunia? Tetapi kalau seseorang merugikan, membenci, mengkhianati kita tetapi kita bisa mengasihi dia dan membalas kejahatan dengan kebaikan, maka inilah yang disebut kasih agape (kasih tanpa syarat). Inilah kasih ilahi! 1 Yoh 4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Mengapa Mengasihi Tuhan Adalah Sebuah Perintah , Bukan Pilihan (anjuran, usulan)?

              Usulan atau anjuran boleh dilakukan atau tidak. Tetapi kalau “Kasihilah  Tuhan Allahmu” itu adalah kata kerja imperatif yang artinya perintah langsung yang wajib dilakukan (tidak ada pilihan). Yoh 13:34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Siapa mengasih Aku dibuktikan dengan mentaati segala perintah Tuhan tanpa kecuali dan syarat. Ini mudah diucapkan, dikhotbahkan namun dalam prakteknya tidak mudah dilakukan. Yoh 14:21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.".

Mengasihi Allah secara Total

              Matius 22:37, “dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akalbudimu” Kasih kita kepada Allah haruslah kasih yang sepenuh hati dan yang menguasai seluruh diri kita.
20 tahun lalu sebelum tamat dari seminari saya diutus ke satu gereja. Sebagai penginjil yang masih muda, saya ditempatkan di suatu gereja di Singkawang (Kalimantan Barat). Di sana ada seorang ibu yang mengalami gangguan jiwa. Ketika saya di sana, ia memaki saya terus, “Gereja ini sudah besar baru kamu datang.” Karena stress, ia mencurahkan kemarahan kepada hamba Tuhan yang baru. Kendaraan roda dua yang saya pakai dirusak. Tempat duduknya diiris pisau. Ketika saya duduk di ruang ibadah saat tidak khutbah dan ia duduk di belakang saya, ia menarik rambut saya. Mengapa ia begitu jahat dengan hamba Tuhan. Mengapa ke orang lain ia tidak berani? Saya pikir ada gangguan setan. Saya berdoa untuk pengusiran setan tetapi ternyata setannya tidak pergi. Belakang saya baru tahu ini bukan gangguan setan tapi ia mengalami gangguan jiwa (psikologis). Bagaimana sikap saya? Apakah saya balas dengan meninggalkan gereja? Saya hanya berdoa ke Tuhan dan saya anggap ini adalah momen saya dilatih untuk sabar dan untuk mengasihi dan mengampuninya. Pelajaran ini tidak mudah. Saya berdoa.  Saya menghampiri dia , memberinya salam dan memberi dia makanan . Lama-lama ia jadi baik. Di mana-mana bertemu, ia menegur. Orang yang mengalami gangguan, ketika kita membalas kejahatan dengan kebaikan maka ia bisa berubah. Ini yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Ketika Yesus di kayu salib berkata, “Bapa ampuni mereka” . Yang dimaksud mereka adalah orang yang sudah menyalibkan dan menganiaya Tuhan Yesus. Merekalah yang Yesus doakan.
              Berapa banyak orang yang sudah menyakiti hati kita? Mungkin anak, orang tua, mertua, suami (pasangan). Ketika kita belajar kasih (Kasihilah Tuhan) maka kasih diekspresikan dengan mengasihi orang yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (hukum horizontal). Imperatif adalah perintah langsung, tidak ada pilihan sebagai orang yang percaya Yesus menerima anugerah keselamatan maka kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan  akal budi . Kita harus mengasihi secara total. 3 kata kunci (hati, jiwa dan akal budi) mewakili seluruh manusia yaitu tubuh, jiwa  dan roh. Kata kunci yang diulang adalah “segenap”  (with all your heart, soul and mind). Kasih kita kepada Allah haruslah kasih yang sepenuh hati dengan sungguh-sungguh seluruh totalitas hidup kita. Itu yang Tuhan minta. Saya kurang sependapat dengan pendapat agar dalam hidup kita membuat priortitas yakni  yang pertama untuk Tuhan, kedua untuk keluarga, ketiga untuk pekerjaan dan keempat untuk hobi dan pribadi. Tuhan ingin terlibat dalam seluruh aspek hidup kita, baik kita bekerja, di rumah, berolahraga, berenang, bertanding dll. Tuhan ingin terlibat dalam seluruh hidup kita. Tidak ada aspek di mana Tuhan tidak terlibat. Kasih kita kepada Allah haruslah kasih yang sepenuh hati dan yang menguasai seluruh diri kita
Bagaimana caranya mengasihi Tuhan?

              Kita tahu mengasihi Tuhan itu penting dan wajib. Bagaimana cara mengasihinya karena Tuhan tidak konkrit tapi abstrak. Ia tidak muncul secara fisik di  depan kita sehingga kita bisa menjamah.

1.    Menyembah Allah secara eksklusif.

2 hukum yang Tuhan ringkas dari 10 hukum Allah. 4 hukum pertama terkait dengan Allah (vertical, kasihilah Tuhan Allahmu) dan 6 hukum selebihnya dengan sesama (horizontal). Objek penyembahan kita adalah Allah bukan berhala. “Jangan ada padamu allah lain dihadapanKu…Jangan membuat bagiku patung yg menyerupai apapun…. ” (Kel. 20:2-6). Ini adalah sebuah larangan keras (mutlak, tidak boleh tidak dilakukan). Ketika Musa menulis di Kitab Keluaran, umat Israel di bawa keluar tanah Mesir masuk ke tanah Kanaan. Di padang gurun generasi pertama sudah mati yang tersisa Yosua dan Kaleb (segelintir orang). Mereka bersungut-sungut , menyembah berhala dan melakukan kehidupan yang amoral seperti menyembah anak lembu emas sehingga Allah murka. Sebelum generasi kedua masuk tanah Kanaan muncullah larangan ini. Tuhan mengingatkan generasi kedua umat Israel, yang sudah menerima kasih , pertolongan , pemeliharaan dan anugerah Tuhan yang ajaib. Ketika mereka lapar diberi makan dari langit, ketika lapar di kasih daging yang dibawa oleh burung puyuh, ketika tidak ada air diberi air, air yang pahit diubah menjadi air manis. Tuhan mengingatkan agar mereka tidak lupa untuk tetap mengasihi Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, akal-budi dan kekuatanmu. Lalu diulangi lagi di Ulangan 6:4-5 Dengarlah, hai orang Israel (Shema Yisrael) : TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Ini mengingatkan umat Israel dan juga kita : berapa banyak kebaikan Tuhan yang sudah kita terima setiap hari? Mari kita menghitungnya satu per satu. Berkat keselamatan, pengampunan dosa, oksigen, panas matahari yang gratis, udara yang dihirup  dll. Bagaimana respon kita terhadap kasih Allah? Respon Allah, “Jangan ada Allah lain di hadapanKu.” Mengapa menyembah berhala dilarang? Kel 20: 5 sebab aku Tuhan Allahmu adalah Allah yang cemburu yang membalas kejahatan dari generasi ke generasi. Ia melarang kita menyembah berhala karena :
a.       Ialah yang layak disembah karena Ia Allah pencipta semesta alam. Ia tidak rela kemulian yang  ciptaan berikan ke Sang Pencipta dipindahkan ke objek ciptaan manusia berupa patung berhala. Tuhan tidak rela kemuliaanNya dibagi ke yang lain.
b.       Sebab apa yang Tuhan lakukan (Ia membebaskan umatNya dari tanah perbudakan). Ulangan 20:2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.”

Cat and Dog theology (teologi tentang anjing dan kucing) yang ditulis oleh Bob Sjogren and Gerald Robison. Penulis mengatakan prinsip hidup anjing adalah, saya hidup untuk melayani tuanku” (I exist to serve you as my master). Dulu kami memelihara 4 ekor anjing. Ketika saya pulang sekolah anjing menggonggong dari jarak 100 meter. Setelah sampai di kaki saya, ia menjilati kaki saya dengan ekor bergerak dan menggonggong. Ia begitu kenal siapa tuannya. Saya merasa senang dilayani dan disambut oleh anjing. Inilah anjing yang peduli dengan tuannya. Allah juga ingin kita melayani Dia dengan setia karena Dia adalah bos kita. Beda dengan kucing yang dilambangkan sebagai pasif, malas dan tidur-tiduran. Ketika kita pulang ke rumah kucing tidur. Saat dielus-elus bulunya ,matanya terbuka sebentar lalu tidur lagi. Prinsip hidup kucing, “kamu hidup untuk melayani aku” (you exist to serve me).  
Penullis mengatakan , ada 2 tipe orang Kristen
a.       orang Kristen yang mengenal dan tahu Tuhan. Ia Pencipta, Allah yang hidup dan begitu luar biasa kasihNya dan tahu siapa saya (saya adalah orang berdosa yang diangkat dari lumpur dosa, kenal Allah , kenal diri sehingga jadi tahu diri). Inilah tipe seekor anjing. Ia melayani tuannya. Sebagai anak Tuhan kita seharusnya melayani dan mengasihi Tuhan kita.
b.       Orang yang tipenya take it for grantend. Orang Kristen yang minta dilayani dan selalu minta berkat dari Tuhan. Selalu minta dan tidak pernah memberi. Inilah tipe seekor kucing.
Kita termasuk golongan mana? Kita harus punya mindset bahwa saya hidup di dunia untuk melayani Tuhan , kepadaNya kita berutang anugerah keselamatan dan pengampunan dosa. Seperti Rasul Paulus mengatakan, “Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma. (Roma 1:14-15). Setiap kita menerima anugerah keselamatan kepada Tuhan, maka kita berhutang anugerah kepada Tuhan. Selayaknya sebagai hambaNya, bukan saja penginjil tetapi apapun profesi kita maka kita diminta untuk mengasihi Dia melalui pelayanan, waktu, persembahan dan totalitas kita untuk memuliakan namaNya.

2.    Menghormati nama Allah kita.

Orang yang mengasihi Allah pasti menghormati dan menghargai Allah. Kebalikannya, orang yang tidak mengasihi Allah tidak pernah menghormati dan menghargai Allah. Orang yang mengasihi Allah berusaha untuk menyenangkan hati Allah melalui ketaatan total. Seorang suami mengasihi istrinya, buktinya dengan berusaha untuk menyenangkannya. Orang yang mengasihi pasangan berusaha menyenangkan pasangan (bukan hanya di mulut juga dengan perbuatan). Ketika mengasihi dan membuktikan bahwa kita mengasihi Allah dengan menghormati dan menghargai Allah. Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu dengan sembarangan. (Kel. 20:7). Karena Allah kita adalah Allah yang kudus, maka nama Allah yang kudus perlu dijaga dan dihargai. “Dikuduskanlah namaMu”(Mat. 6:9).  Kata dikuduskan nama Allah bukan berarti nama Allah kotor lalu dibersihkan. Kudus artinya dikhususkan , dispesialkan. Nama Allah tidak dicemarkan melalui perbuatan dan hidup kita. Nama Allah merepresentasikan natur Allah. Akibatnya jika tidak menghormati nama Allah berarti tidak menghormati Allah itu sendiri. Bagaimana sikap kita terhadap nama Tuhan? Selama ini kita sudah mengenal Dia, pernah bersumpah demi nama Tuhan? Dalam pelantikan pejabat Kristen dikatakan, “Aku berjanji”. Ketika Ahok dilantik jadi gubernur dia angkat tangan dan berkata, “Aku berjanji” bukan bersumpah. Kalau bersumpah harus dilakukan kalau tidak, maka kita mempertaruhkan nama Allah yang kudus. Dalam kehidupan keseharian kita, siapapun kita, etnis dan warna kulit kita, ketika menyandang sebutan orang Kristen berarti nama Tuhan dipertaruhkan dalam hidup. Orang Kristen yang melakukan kesalahan maka nama gereja ikut terbawa dan nama Tuhan ikut tercemar. Ada seorang ibu yang menyaksikan orang Kristen yang bercerai, keluar dari mulutnya berkata, “Katanya orang Kristen tidak boleh bercerai , kenapa bercerai?” Apa yang kita perbuat dan ucapkan, reputasi nama Tuhan dipertaruhkan. Sebagai pengikut kristus , mari kita meneladani Kristus dan hidup dalam kekudusan dan kebenaran.

3.    Setia beribadah kepada Allah.

Kel. 20:8-11, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat…”. Hari sabat berarti mengkhususkan hari itu untuk Dia. Hari yang khusus , hari perhentian untuk beribadah kepada Tuhan.
Kel. 20:10 dikatakan hari ke-7 adalah Hari Sabat Tuhan. Hari itu,Tuhan berhenti dari pekerjaanNya. Hari ke-7 hari sabat Tuhan di mana ia berhenti dari pekerjaan bukan karena Dia lelah. Ia memberi pola kepada umat Israel , di tengah kesibukan kita, perlu ada 1 hari perhentian untuk beristirahat. Bagi orang Yahudi hari Sabtu, tetapi dalam kekristenan kita beristirahat pada hari Minggu. Karena Yesus menggenapi Sabat, Dia Tuhan atas hari Sabat.” (Mrk. 2:27-28). Maka orang Kristen tidak beribadah pada hari Sabtu tetapi hari Minggu, karena itu hari pertama ketika Yesus bangkit. Itu sebabnya kita beribadah. Kuduskanlah hari sabat. Khususkanlah hari Sabat untuk kita beribadah pada Tuhan.  Gereja mula-mula beribadah hari Minggu hari kebangkitan Yesus (Kis. 20:7). Ibr. 10:25, “Janganlah menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah”  

Dalam 1 tahun 2017, 52 minggu hampir selesai. Sudah berapa minggu kita tidak hadir di gereja? Mari kita bertanya ke diri sendiri. Ibadah itu bukan pilihan (mau atau tidak). Tetapi itu perintah (Tuhan mau kita beribadah). Supaya melalui ibadah kita bisa saling menghibur dan menguatkan seperi accu yang bila tidak dipakai maka akan soak dan akhirnya dibuang. Hidup kita sama. Dari Senin-Sabtu kita berjuang dalam hidup. Menghadapi tantangan dan kesulitan hidup, jiwa dan rohani kita menjadi letih-lesu. Hari Minggu kita datang ke gereja dan mendengar firman. Ini seperti di stroom kembali iman kerohanian kita supaya bangkit kembali semangat kita. Hari Senin kita kembali ke dunia nyata dan mulai lagi menghadapi lagi peperangan rohani. Terus menerus, iman kita mengalami pertumbuhan progressif (perlahan tapi pasti) melalui kebenaran firman Tuhan dan ibadah bersama-sama , maka penting kita beribadah tiap Minggu.

Ada seorang pendeta yang menyaksikan bahwa ada kursi yang tidak pernah kosong karena diduduki oleh seorang jemaat yang berprofesi sebagai dokter. Namanya Albert. Tapi suatu kali kursi itu kosong. Mengapa Albert tidak datang beribadah? Kali ini tanpa berita , ia tidak datang ke gereja. Biasanya ia memberi kabar kalau sedang bertugas ke luar kota. Pendeta langsung berkesimpulan bahwa pasti ada yang salah. Lalu ia telpon ke rumah Albert, namun tidak diangkat. Ia cepat-cepat ke rumahnya. Ketika digedor pintunya tidak dibuka, terkunci dari dalam. Ia pun melihat dari jendela. Di samping kamar mandi muncul kaki. Pintu pun kemudian didobrak. Rupanya ketika Albert mandi, ia jatuh dan pingsan. Akhirnya ia bisa tertolong. Ini ilustrasi yang diambil dari kejadian yang nyata. Ia terselamatkan karena tidak pernah tidak beribadah. Kalau ia biasa tidak ke gereja, maka saat tidak datang paling-paling dikatakan “penyakitnya” kumat sehingga pendeta tidak datang ke rumahnya. Orang yang rajin beribadah pasti tidak kehilangan berkat Tuhan. Ada berkat Tuhan yang disediakan bagi yang rajin beribadah. Mungkin ada beranggapan bahawa ia sudah lama beribadah tapi tidak ada yang ingat khotbahnya sehingga untuk apa beribadah? Berapa lama kita masak masakan istri selama puluhan tahun? Tidak ada yang ingat. Tapi tidak bisa dikatakan karena tidak ingat, apakah besok jangan masak lagi? Walau tidak ingat, karena masakan istri kita bertumbuh (karena ada gizi). Kerohanian kita sama, tapi ada 1 poin yang kita tangkap yang membantu kerohanian kita bertumbuh  menghadapi badai kehidupan dan berkemenangan karena anugerah Tuhan. Maka tetaplah beribadah.

4.    Berani menyerahkan seluruh hidup dipakai Tuhan.
Kita harus MENGASIHI secara total (Roma 12:1-2; Flp. 1:21). Karena kasih itu MEMBERI (Yoh.3:16) Maka berikan Harta, waktu, tenaga, talenta (Mat.25) dan tubuh (harga diri, kehormatan, ego) untuk melayani Tuhan seperti yang diperintahkan. Hanya orang yg berani BERKORBAN untuk Tuhan, yang layak disebut murid yang sejati (Mrk. 8:34, sangkal diri, pikul salib, ikut Dia).

Kesimpulan (Epilegomena)

Mengasihi Allah dibuktikan dengan cara apa?
-          Menyembah Allah seca eksklusif.
-          Menghomati nama Allah.
-          Setia beribadah kepada Allah
-          Berani menyerahkan totalitas hidup untuk dipakai Tuhan.

Monday, November 6, 2017

Mengapa Harus Ada 10 Hukum Taurat








Ev. Susan Magdalena

Mazmur 119:1 Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.
Matius 5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Pendahuluan

              Apa yanag dimaksud dengan Hukum Taurat? Hukum Taurat secara luas merujuk kepada kitab-kitab (hukum) Musa yang ada di 5 kitab pertama Perjanjian Lama (Kitab Pentateukh). 5 Kitab Musa kemudian dirangkum dalam 10 Hukum Taurat yang diberi oleh Tuhan dalam 2 loh batu di Gunung Sinai. Secara lebih luas Hukum Taurat adalah Perjanjian Lama (dari kitab Kejadian sampai Maleakhi).
              Suatu kali saat saya masih kelas 2-3 SD,  ada seorang teman yang membawa Alkitab berukuran kecil yang berisikan Perjanjian Baru saja. Sewaktu guru Sekolah Minggu meminta kami membuka Kitab Perjanjian Lama dia kebingungan. Setiap hari Minggu ia memang hanya membawa Perjanjian Baru itu. Saya bertanya kepadanya , “Mengapa kamu hanya membawa kitab Perjanjian Baru? Guru kan sudah bilang akan bercerita dari kitab Perjanjian Lama” Dengan tegas dan tanpa ragu ia menjawab,”Papa saya berkata bahwa Kristus di atas kayu salib sudah menggenapi semuanya. Jadi yang berlaku hanya Perjanjian Baru. Perjanjian Lama tidak berguna lagi, jadi tidak perlu diceritakan dan dikhotbahkan lagi” Waktu itu saya masih kelas 3 SD dan tidak bisa membantah. Hanya pernyataan itu membuat saya bertanya-tanya,”Kalau benar begitu mengapa guru Sekolah Minggu masih menceritakan Perjanjian Lama?” Itu kisah waktu saya berusia 9 tahun sekitar 40 tahun lalu. Saya sering mendengar bahwa ada aliran, bacaan, khotbah tertentu yang intinya mengatakan,”Kristus sudah melakukan segalanya dengan sempurna, sehingga Perjanjian Lama dibatalkan, tidak perlu lagi, tidak berguna dan tidak relevan lagi terutama kalau bicara tentang kondisi dan situasi. Perjanjian Lama tidak cocok dengan kehidupan orang modern.” Jika benar demikian maka kitab Perjanjian Lama tidak akan dibawa lagi hari ini sehingga Alkitab akan menjadi semakin tipis. Namun yang jelas hal ini tidak benar.
              Di Alkitab tidak pernah ditulis, Perjanjian Lama dibatalkan dan tidak berlaku lagi. Sehingga kita tidak boleh ragu-ragu lagi berkata bahwa firman Tuhan adalah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi tema kita hari ini lebih menjurus kepada hubungan antara Perjanjian Lama dengan apa yang telah Kristus lakukan (untuk saya apa gunanya?) Mazmur 119:1 Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Penulis Perjanjian Lama  tetap menggunakan istilah “yang hidup menurut Taurat Tuhan” , jadi Hukum Taurat tidak pernah dibatalkan. Matius 5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Bahkan dikatakan, “Orang  yang bisa mengikuti Taurat Tuhan adalah orang yang berbahagia.” Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat. Jadi untuk apa ada Hukum Taurat? Apakah Hukum Taurat cocok sampai sekarang?

Alasan Hukum Taurat Masih Ada dan Cocok (Relevan) Sampai Sekarang

              Hukum Taurat tidak pernah dibatalkan dan tetap masih berlaku, walaupun telah disempurnakan dan digenapi. Hukum Taurat tidak pernah dibatalkan dengan tujuan untuk menjaga agar manusia yang berdosa tidak semakin berbuat dosa. Hukum Taurat diberikan setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Allah memberikan Hukum Taurat bukan supaya manusia terbebas dari dosa, karena manusia tidak mungkin terlepas dari dosa. Allah sudah mengatakannya pada Kejadian 3:15 tentang benih Injil sehingga dosa tidak bisa dibereskan.  Setelah itu Allah baru memberi Hukum Taurat. Hukum Taurat itu seperti pagar yang memagari supaya manusia tidak semakin berbuat dosa dan bobrok. Sehingga manusia memerlukan pagar, tata tertib dan peraturan yang tidak menyelamatkan tetapi bisa membuat manusia tidak semakin jahat. Banyak orang Israel yang tidak paham dalam melihat Hukum Taurat. Mereka menganggap Hukum Taurat membuat mereka tidak berdosa. Sehingga mereka mati-matian supaya hidup seperti Hukum Taurat bahkan menambah peraturan agar hidup tambah taat, kudus dan baik. Tapi tidak demikian. Kenyataannya, mereka terkungkung dalam peraturan yang membuat mereka berdosa akan hal yang lain.
              Orang Farisi dan ahli Taurat beberapa kali ditegur Tuhan. Mereka tidak membayar perpuluhan ke Allah di Bait Suci dengan memberikan berbagai alasan. Lalu ada yang memberikan perpuluhan tetapi juga ditegur Tuhan. Mat 23:23  Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Ada juga dari mereka yang memberikan perpuluhan hanya agar mereka tidak disalahkan karena mereka melalaikan perawatan orang tua-nya. Uang untuk merawat orang tua digunakan untuk membayar persembahan kepada Allah. Markus 7:9-13 Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.  Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.   Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban  —  yaitu persembahan kepada Allah  —  maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.  Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan."
Allah menegur agar jangan plintat-plintut (tidak melakukan firman Tuhan karena berbagai alasan). Yesus menegur dengan lebih tegas lagi. Ada larangan dalam Hukum Taurat seperti jangan berzina. Mereka berusaha ketat tidak berzina dan tidak pergi ke tempat pelacuran. Tetapi mereka melakukan hal lain yang sama dengan berzina. Walau mereka tidak pergi ke tempat pelacuran tetapi mereka melakukan hal lain yang sama berdosanya dengan berzina. Seperti Yesus berkata,”Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Matius 5:28) Dengan kata lain,”Kamu sudah melakukan zina di dalam hati dan pikiran walaupun secara fisik kamu tidak melakukan perzinaan”. Orang Israel berusaha menjadikan “sesuatu yang seharusnya menjadi pagar” sebagai alat untuk membuat mereka semakin mengenal alat dan menjadikannya tujuan hidup. Mereka seperti benang kusut. Lepas dari satu dosa masuk ke dosa yang lain. Dosa beranak dosa. Dosa membuat manusia tidak mau mencari Allah. Dosa membuat relasi manusia dengan Allah dan sesama menjadi rusak. Itu sebabnya Kristus datang untuk memulihkan relasi manusia dengan Allah dan sesama. Kedua hal ini sudah tercakup dalam 10 Hukum Taurat. Apa yang Yesus katakan dalam hukum kasih pada Matius 22 sudah ada dalam Hukum Taurat. Oleh karena itu Hukum Taurat bukan untuk menghapus dosa manusia justru Hukum Taurat itu akan memperlihatkan bahwa dosa itu bukan hal yang sepele. Dosa itu bukan hal yang main-main. Karena hukum-hukum itu tidak membuat kita terbebas dari dosa malah semakin mengikat kita berbuat dosa karena  yang membebaskan dari dosa bukan Hukum Taurat.

Hubungan antara Hukum Taurat dengan Kristus

              Kristus menggenapi, artinya Kristus melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia dalam melakukan Hukum Taurat. Kristus melakukan Hukum Taurat dengan sempurna tanpa kesalahan (utuh) sampai tujuan. Tidak ada bagian Hukum Taurat yang tidak dilakukan dalam karya Kristus, semuanya utuh. Tidak seperti manusia biasa, umat Israel dulu atau kita. Kita tidak sanggup melakukan Hukum Taurat. Hanya Kristus yang bisa melakukannya. Maka Allah berkenan dengan apa yang Yesus kerjakan karena Ia mengerjakan dengan tuntas dan sempurna. Sehingga barangsiapa percaya kepada Kristus, maka kita diperhitungkan oleh Allah sebagai orang yang benar. Bukan karena kita yang benar atau melakukan hukum tetapi karena Allah melihat Kristus yang ada dalam diri kita. Kristus yang menjadikan kita benar (bukan perbuatan, pikiran dan kemampuan kita). Seperti yang disampaikan pada tema tentang reformasi lalu bahwa  keselamatan adalah anugerah, tidak ada andil manusia dalam keselamatan. Kalau keselamatan berdasarkan perbuatan baik maka ibarat timbangan , perbuatan baik kita dibandingkan dengan perbuatan jahat maka hasilnya adalah nihil karena yang jahat yang lebih banyak. Jadi kita tidak mampu memperoleh keselamatan. Hanya orang yang percaya kepada Kristus yang diperhitungkan Allah sebagai benar. Jadi orang percaya (orang Kristen) bodoh kalau menganggap di luar Kristus bisa menyenangkan, memuaskan atau membuat Allah bersukacita. Ini tidak mungkin bisa. Ketika kita berkeluarga atau melakukan  pelayanan di luar Kristus maka sekalipun di mata manusia kelihatannya bagus dan rohani, tetapi di mata Allah sebaliknya. Hanya Kristus yang sanggup melakukan segala sesuatu. Bagian kita adalah merespon apa yang telah dilakukanNya (merespon apa yang menjadi perintahNya). Itulah respon. Manusia cenderung untuk berbuat dosa dan melakukan kesalahan demi kesalahan. Itu sebabnya kita tidak akan pernah mencapai sasaran. Kalau Hukum itu tergantung manusia , maka kita tidak pernah mencapai sasaran.

Alasan Harus Adanya Hukum Taurat

1.     Hukum Taurat memperlihatkan kepada kita bahwa Kristus menjadi goal (sasaran)  

Hukum Taurat menjadi lambang (prototipe) atau sesuatu yang nantinya menunjuk pada Kristus.  Apa yang dilakukan Kristus di atas salib dan nantinya datang kedua kali itu yang menjadi goal dari Hukum Taurat. Itu sebabnya Hukum Taurat tidak pernah dibatalkan. Hukum Taurat akan digenapi oleh Kristus. Tidak ada manusia yang mampu melakukan Hukum Taurat. Goal dari Hukum Taurat adalah memperlihatkan kepada kita bahwa hanya Kristus yang menjadi goal, sasaran dan tujuan akhir dari Hukum Taurat.
         Itu sebabnya bila Hukum Taurat bisa diperluas menjadi sesuatu yang relevan  dalam kehidupan gereja hari ini, itu bukan semata-mata karena hukum itu sendiri tetapi karena Kristus. Kita melakukannya karena Kristus. Mengapa kita beribadah ? Karena itu respon kita bagi Kristus, karena ia telah melakukan apa yang kita tidak bisa lakukan. Mengapa kita melayani? Karena Kristus! Aku tidak bisa menyenangkan hati Tuhan, tetapi hanya Kristus. Jadi kita hanya merespon apa yang telah Kristus lakukan. Melakukan apa pun dalam hidup ini, kita harus ingat bahwa Kristus telah melakukannya dengan sempurna. Maka yang kita lakukan itu hanyalah respons, reaksi dari aksi utama yang sudah dilakukan oleh Kristus.

2.     Hukum Taurat memperlihatkan bahwa Kristus adalah Tuhan (Kristos, yang diurapi oleh Bapa)

Selain Kristus, tidak ada Tuhan dan Juruselamat yang lain. Kristus artinya yang diurapi. Kristus adalah Tuhan atas Hukum Taurat. Hukum Taurat digenapi di dalam Kristus, karena Ia adalah Tuhan. Ia berada di atas Hukum Taurat. Itu sebabnya sesuai tuntutan Hukum Taurat, maka setiap tahun imam besar masuk ke ruang maha kudus untuk melakukannya. Imam besar melakukannya berkali-kali tetapi Yesus cukup melakukannya sekali untuk selama-lamanya. Ia bukan saja menjadi imam besar namun telah menjadi anak domba itu sendiri yang dipersembahkan dan sempurna sehingga cukup satu kali dan untuk selama-lamanya. Tidak berkali-kali. Kuasa dosa ditelan di dalam kebangkitan Kristus , kuasa dosa ditaklukan di dalam Kristus . Kristus adalah Tuhan atas hukum Taurat karena Ia menaklukan Hukum Taurat dan merebut Hukum Taurat yang dipakai si Jahat untuk mengukung manusia sehingga manusia bisa berespon dengan sukacita. Kalau ada orang Kristen yang saat membaca Alkitab merasa terlalu banyak tuntutan peraturan dan tuntutannya, maka hati-hati kalau kita melihat Alkitab hanya sebagai kumpulan peraturan yang memberatkan atau kita bisa melihat apa yang diatur dalam Alkitab supaya kita bisa belajar berespon terhadap apa yang tidak bisa kita lakukan tetapi Kristus telah lakukan. Itu menjadi cara pikir yang berbeda. Maka ada orang yang penuh merasa sukacita melakukannya dan sebaliknya.

3.   Hukum Taurat memberi tahu kita bahwa Kristus adalah guru (paedagogos, Bahasa Latin) yang sempurna yang bukan hanya mengajar tetapi juga melakukan (memberi contoh dan teladan)  

Tidak ada yang lebih baik dari Kristus dalam mengajar dan melakukan Hukum Tuhan. 2 Tim 3:15-17 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.  Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.  Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. Firman (Hukum) Tuhan (merujuk pada Perjamuan Lama) bisa unuk mengajar dan mengoreksi kesalahan dstnya. Karena Firman Tuhan seperti pengajar, guru, yang mendidik anak-anakNya sehingga orang yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak mengerti kesalahan menjadi tahu bahwa itu adalah kesalahan dan yang mengajar bagaimana menafsir kebenaran firman Tuhan. Oleh karena itu Hukum Taurat tidak dibatlakan tetapi Krisuts mengajarkan bahwa Hukum Taurat  harus dipelajari, diselidiki dengan hati yang baru dan ditaati dalam konsep yang benar. Jangan menganggap Hukum Taurat usang. Jadikan Hukum Taurat sebagai rambu-rambu dalam kita hidup dalam berelasi dengan Tuhan dan sesama. Selidiki, pelajari dan temukan mutiara rohani dalam Hukum Taurat. Jangan meninggalkan Hukum Taurat karena itu sesuatu yang relevan untuk kita.

Saya membaca sebuah artikel di medsos. Pada zaman sekarang di salah satu negara (Amerika atau Inggris), dosa seks membuat orang mendadani binatang untuk dijadikan objek pemuas nafsunya. Binatang dipakaikan sepati asesoris seperti heel dan segala macam. Saat melihatnya saya ingin muntah. Mengapa bisa ada mansuia seperti itu? Ternyata pelanggannya ada saja. Sehingga membuat pecinta hewan di dunia protes. Setelah diprotes , perbuatan tidak pantas ini menjadi ketahuan oleh umum. Dosa membuat manusia melakukan hal yang menjijikkan tetapi tidak menganggapnya dosa. Kalau Hukum Taurat mengatakan “jangan berzina” maka hukum ini relevan dengan dosa tersebut. Apalagi bila pengertiannya diperluas. Saat ini manusia bukan saja berzina dengan manusia tetapi juga dengan hewan (binatang). Hal ini mengerikan.

         Bulan lalu saya menceritakan tentang upaya untuk menjebak  orang yang suka melakukan hubungan sex bukan saja dengan anak kecil, tetapi sekarang cenderung dengan anak bayi yang berusia 3-5 bulan. Sungguh bertambah jahat dosa manusia. Hukum Taurat memperlihatkan kepada kita bahwa dosa bukan hal sepele. Hukum Taurat yang memberitahukan bahwa tidak boleh melakukan ini-itu dan hal ini masih relevan sampai saat ini. Ia menjadi rambu-rambu. Ibarat berlalu lintas ada lampunya. Kalau sudah lampu kuning maka pengemudi harus waspada. Hati rohani harus berhati-hati kalau sudah lampu kuning.

Hal-Hal Yang Bisa Dipelajari dari Hukum Taurat.

1.     Yesus menggenapi Hukum Taurat secara radikal

Radikal artinya betul-betul berubah. Tidak ada yang kabur, benar – benar jelas. Jadi kita harus mengikuti Kristus secara radikal jangan abu-abu. Jangan main-main dengan dosa. Jangan plin-plan dalam berkomitmen dengan Tuhan . Kalau Kristus tidak radikal, kita tidak bisa diselamatkan. Jadi kita harus dengan total mengikut Kristus. Dalam bekerja, berkeluarga dan pelayanan saja kita perlu berkomitmen total, tidak bisa setengah-setengah. Kristus telah melakukannya kepada kita secara tuntas. Saya pernah mendengar khotbah dari Pdt. Gilbert yang memberikan sebuah ilustrasi. Ada sepasang suami istri yang baru menikah selama 6 bulan namun sudah meminta cerai. Karena menurut sang istri , suaminya berbohong kepadanya. Suami bertanya, ”Sejak kapan saya berbohong kepadamu? Kalau kamu berkata bahwa saya miskin memang benar saya miskin. Tapi kalau kamu katakan saya berbohong, saya tidak pernah berbohong ke padamu. Saya selalu jujur kepadamu. Coba tunjukkan mana perkataan saya yang bohong?” Istri menjawab, “Dulu waktu pacaran kamu berkata bahwa kamu tidak punya pekerjaan dan hanya punya saya.” Suami menjawab, “Memang betul! Saya tidak punya pekerjaan. Saya hanya punya kamu seorang. Harta saya hanya kamu seorang. Saya berkata benar. Lalu kamu menanggapi,’So sweet’. Sekarang mengapa kamu jadi kaget? Memang itu kenyataannya. Sekarang mengapa kamu ingin meminta cerai?”. Jadi sewaktu pacaran, orang berkata benar pun dianggap merayu. Hati-hati! Tuhan Yesus tidak pernah merayu dan mengiming-imingi. Ia berbicara dengan jelas dan radikal seperti,”Ikut Aku kamu hidup. Tidak ikut Aku, kamu tidak ada kesempatan. Kalau mau ikut Aku harus begini , kalau tidak mau ikut Aku , silahkan pergi.” Tidak ada setengah-setengah.

2.     Mari melihat Hukum Taurat dengan cara Kristus melihat (semuanya dari Allah untuk Allah)

Mengapa kita harus hidup kudus? Karena Allah adalah kudus. Mengapa kita harus adil dan penuh kasih? Karena Allah itu adil dan penuh kasih. Semua tujuan dan sebab , kita harus melihatnya karena Kristus. Kalau Dia melihat seperti kita, maka Ia tidak akan jadi berkorban di kayu salib. Karena manusia yang ingin ditolongNya adalah manusia yang tidak tahu balas budi, hanya manis di mulut (kenyataannya tidak), orang yang bobrok. Kristus diutus oleh Allah sehingga Ia bisa melakukannya dengan sempurna karena Allah sempurna. Kalau kita melihat dengan cara Kristus melihat, maka kita akan berterima kasih. Kita berterima kasih kepada Tuhan karena bisa mendapat pekerjaan, melayani, bergereja, punya istri (suami), anak, rumah (bisa kecil atau besar)  dan hal yang lain.

3.     Hukum Taurat memperlihatkan hal yang agung.

Saya tidak mampu tetapi Allah yang mampu. Hukum Taurat memperlihatkan kita hal itu. Kita tidak bisa, tidak mungkin melakukannya tetapi Allah yang bisa dan sangat mungkin melakukannya. Bagi kita mustahil, tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Mustahil bagi kita melakukan Hukum Taurat. Misalnya : hukum pertama : Jangan ada padamu allah lain. Jangan membuat bagimu patung yang lain. Kita tidak bisa sempurna melakukan hal hokum ini. Walau kita tidak membuat patung, tetapi patung dalam hidup kita bisa berbentuk yang lain. Segala sesuatu yang membuat Allah nomor dua, itulah patungnya. Selidikilah diri kita sendiri. Terlalu banyak bicara di mimbar, terkadang bisa membuat masuk telinga kiri ke luar telinga kanan. Yang mendengar firman Tuhan terkadang lebih pintar daripada yang menyampaikannya. Setiap kita menyelediki diri sendiri :  Apa yang membuat kita menomorduakan Tuhan, itulah ‘patung’ kita yang tidak disukai Allah. Hukum itu menjadi cara Allah untuk memperlihatkan ke kita bahwa kita tidak mampu. Jadi kita harus bisa melihat dengan kacamata yang rohani.

Penutup

Lagu “Selalu UntukMu” dikarang oleh Pdt. Erastus Sabdono. Lagu ini diciptakan untuk ibadah penghiburan dalam momen kedukaan saat ada yang meninggal. Tetapi kita harus sadar bahwa  setiap hari bisa menjadi hari terakhir bagi kita.
             
Selalu untukMu, selalu untukMu, Tuhan dan Rajaku. Semua yang kuperbuat baik siang dan malam selalu untukMu. Segenap hidupku adalah milikMu untuk kemulianMu. Sampai kutua nanti, sampai di surga nanti selalu untukMu.