Saturday, August 19, 2017

ALKITAB TIDAK KELIRU DAN TIDAK ADA KESALAHAN


Ev. Mercy Matakupan

Berbicara tentang “Alkitab Tidak Keliru dan Tidak Ada Kesalahan” berarti kita bicara tentang kemutlakan. Alkitab adalah kebenaran. Umat Kristen pasti berkata bahwa Alkitab benar, tetapi apakah sama dengan kitab-kitab  lain seperti Al Quran dan Tripitaka yang juga mengatakan mereka benar. Setiap umat agama pasti berkata bahwa kitab suci mereka pasti benar. Alkitab tidak keliru dan tidak ada kesalahan berdasarkan apa? Kapan manusia betul-betul mengakui Alkitab sebagai kebenaran? Kapan manusia mulai meragukan Alkitab sebagai kebenaran (kritik yang meragukan kebenaran Alkitab).

I.      Pendahuluan : Problematika menerima kebenaran mutlak. Kapan manusia mulai menerimanya?

a.     Sejarah meragukan kebenaran Alkitab.

-        Sains dan agama (Alkitab) : Geosentris (Ptolomeus) vs Heliosentris (Copernicus, Galileo)

Dimulai dari gereja Tuhan (Katolik) menekankan begitu mutlak dan mengatakan bahwa keselamatan tidak ada di luar gereja. Lalu Gereja Katolik menerima kebenaran bahwa bumi sebagai pusat dari tata surya (geosentris) yang dipegang berabad-abad hanya karena Yosua mengatakan matahari berhenti berputar (Yosua 10:12 Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: "Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!"). Berdasarkan hal itu gereja mengambil kesimpulan bahwa bumi sebagai pusat dari tata surya. Ide ini sebenarnya dari Klaudius Ptolemaeus (100-168 AD). Gereja mengambil idenya berdasarkan teori pencocokan dengan berdasarkan Yosua 10:12. . Kepercayaan bahwa seluruh tata surya berpusat pada bumi yang dikenalkan oleh Ptolomeus ini diterima selama berabad-abad. Tetapi Nicolaus Copernicus (1473-1543) dan Galileo Galilei (1633, ahli fisika, astronom) yang menyempurnakan teleskop ilmu perbintangan merasa susah karena punya pendapat lain. Ia merasa susah sekali karena sebelumnya Copernicus dibuang gereja akibat mengeluarkan teori Heliocentris di mana matahari sebagai pusat tata surya. Galilei mengatakan bukan bumi pusat alam semesta tetapi matahari. Galileo Galilei mengalami kesulitan dan pengasingan (bahkan ada artikel yang mengatakan bahwa dirusak fisiknya dan meninggal di pengasingan. Tidak diketahui kebenaran artikel ini, karena dipercaya hal ini mitos). Dia dipaksa mengakui bahwa ia bersalah karena menghina gereja dan Tuhan karena teori heliocentrisnya merupakan teori bidat. Ia menghentakan kaki dan mengatakan, “Kamu menyuruh orang tua berbohong.” Akhirnya ia memilih diasingkan sampai tua daripada mengubah teori heliocentris menjadi geosentris. Sejarah mulai mencatat dan menghina kekristenan. Teori yang didukung kekristenan salah. Jadi yang benar bukan Ptolomeus tetapi Galileo Galilei.  Saat itu gereja bersalah menghukum orang yang tidak bersalah. Kalau bertemu orang dengan orang yang berkata, “Pokoknya menurut saya begini..” sulit untuk melakukan diskusi. Karena kalau tidak sesuai dengan pendapat dia maka akhirnya akan bertengkar.  Gereja ada masanya berkata “pokoknya” hingga rela mengasingkan orang dan cenderung membunuh orang demi mempertahankan teorinya yang salah. Sejak saat itu Alkitab makin dihina orang. Mengapa ada kritik teks dan kesalahan teks Alkitab? Mengapa ada orang yang membaca 66 kitab lalu mencari-cari kesalahannya  dan menulisnya dalam buku yang tebal (Hard Sayings of the Bible oleh F. F. Bruce, Manfred T. Brauch, Peter Davids, and Walter Kaiser Jr., Encyclopedia of Bible difficulties oleh Gleason Leonard Archer). Ada yang mengatakan ada 1.500 kesalahan di dalam Alkitab. Kesalahan dicari seperti mencari kutu. Semua cari salahnya, di sini ditulis “ke” di sana ditulis “dan” dan sebaliknya. Kenapa di sana masuk tetapi kalau di sini keluar. Mengapa Daud perang menang perang dengan 14.000 orang sedang di bagian lain hanya 4.000 orang. Catatan Alkitab di Tawarikh dan 1 Samuel tidak konsisten? Kenapa waktu Yesus bangkit ada yang bilang 2 malaikat , ada juga yang mengatakan 1 malaikat? Mana yang benar? Senang benar menemukan kesulitan dan kontradiksi dalam Bible. Bukunya tebal-tebal. Ada orang yang berhasil meneliti Alkitab dan menemukan seluruh kontradiksi dalam Alkitab.
.
b.   Moralitas  yang merosot

Manusia Berdosa tidak tertarik pada kebenaran Para pemimpin agama menipu, memanipulasi jemaat!! Berbohong hal biasa di panggung politik! Orang-orang yang paling aku percaya seringkali membohongiku melebihi orang lain –  masih adakah yang bisa dipercaya?

Kalau bicara Alkitab tidak mungkin salah dan kebenaran mutlak sulit sekali saat ini. Apakah masih perlu membicarakan tentang kebenaran? Ada yang berkata, sudah tidak perlu bicara tentang kebenaran, karena kalau bicara bisa berantem. Orang menjadi apatis. Untuk apa bicara kebenaran. Karena ada pemimpin agama besar yang melakukan hal yang tidak benar. Iblis melakukan investasi terbesar bukan di luar tetapi  di dalam gereja. Gereja dibiarkan bertumbuh besar. Pekerjaan Tuhan nyata dalam hidup gereja ini. Tetapi ternyata kemudian, baru diketahui kebohongan itu dan ribuan jemaat tawar hati dan menghina kebenaran. Ah omong kosong, orang yang omong kebenaran, hidupnya tidak benar. Itu iblis investasi besar-besaran di dalam gereja. Di Semarang ada hamba Tuhan yang bisa membangkitkan orang mati lalu membuat channel TV (coffee break). Suatu kali ia tidak bisa membangkitkan orang mati lalu ia berkata ibu yang kurang beriman (suaminya yang meninggal). Lalu istri dan anak berebut harta. Baru diketahui penggelapan uang. Gereja yang awalnya kapasitas 7.000 orang menjadi 9.000 orang (ada yang duduk di tangga) langsung ambruk semua, jemaatnya pada lari. Omong kosong deh pemimpin seperti itu. Sehingga ada yang mengatakan,”Kalau bicara Alkitab tidak bisa salah , keliru, satu-satunya kebenaran, itu hanya teori. Itu hanya bagus di tatanan mahasiswa teologi.” Mereka melihat pemimpin agama hidupnya bobrok. Juga pemimpin politik Kristen memainkan kebohongan menjadi hal yang biasa. Sehingga orang tidak tertarik dengan kebenaran. Orang lebih cinta kedamaian daripada kebenaran. Yang penting damai dan tidak menyakiti hati orang lain. Tidak usah bicara kebenaran karena kebenaran membuat pertikaian. Kita lebih cinta goodness (baik) daripada kebenaran (truth). Orang yang baik bantu gereja dan juga suka bantu agama lain, tetapi berbisnis dengan benar tidak? Benar dan baik mana yang lebih tinggi kualitasnya? Mana tuntutannya lebih tinggi? Benar! Banyak orang ingin mati untuk orang baik tapi tidak ada orang yang mau mati untuk orang benar. Mat 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Tuhan memberikan standar antara baik dan benar yaitu jika hidup keagamaanmu tidak lebih baik dari orang Farisi, tidak akan lolos. Padahal kebaikan orang Farisi luar biasa. Mereka melakukan segala tuntutan hukum Taurat, bahkan kalau perlu ditambahkan. Mereka menyiksa dirinya supaya kelihatan semakin baik dan Yesus mengatakan,”Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar (emet, lurus, tidak berkelok sedikitpun, tuntutannya bukan baik) kamu tidak akan bisa melihat kerajan sorga!” Di tengah dunia yang apatis, orang yang memakai jubah keagamaan bisa memanipulasi kebenaran. Kebenaran masih ada tidak? Kebenaran masih bisa dipercaya?

c.     Ada banyak kebenaran, Tidak ada kebenaran mutlak

Apakah kebenaran masih ada di zaman ini? Ada kebenaran yang kualitasnya  menurun. Kebenaran ada, tetapi tidak ada kebenaran yang mutlak. Tidak dikatakan, Alkitab benar. Itu tidak salah. Tetapi jangan katakan Alkitab satu-satunya kebenaran. Ada mitos kuno berkata, “Ada banyak jalan yang menuju Roma.” Mana boleh orang Kristen berkata Alkitab satu-satunya kebenaran dan Yesus satu-satunya jalan? Kita bilang Al Quran juga kebenaran. Keduanya bilang benar, sehingga terjadi kontradiksi. Di sini bilang Isa, di sana bilang Tuhan Juruselamat. Di sini bilang manusia, di sana bilang Allah dan manusia. Mana yang benar?  Jadi dikatakan tidak ada kebenaran yang mutlak. Semua ada kebenaran sendiri-sendiri dan tidak nyambung.
Apakah ada kebenaran yang pluralisme? Semua agama itu benar, toh mengajarkan kebaikan.Apakah kita bisa menerimanya? Alkitab dan kitab suci agama lainnya benar? Toh semuanya mengajarkan kebenaran? Tidak! Tidak semuanya benar. Kebenaran itu hanya satu (esa), tidak mungkin ada di tempat lainnya. Tidak mungkin ada kebenaran yang berkontradiksi. Dikatakan A benar tetapi kontradiksi dengan B padahal  masing-masing mengklaim benar. Misal : Alkitab dan Al Quran. Al Quran mengatakan Yesus hanyalah anak Maria. Alkitab : selain anak Maria, Dia juga adalah Anak Allah dan Anak Manusia. Jadi tidak mungkin kedua-duanya benar. Tidak mungkin sama-sama benar tetapi tidak sambung. Sekarang di sini bilang Ia mati sedang yang lain bilang hidup. Kemungkinannya : A benar B salah atau A salah B benar atau kedua-duanya salah. Tetapi tidak mungkin keduanya benar. Itu merusak logika, itu pembodohan. Kalau bicara tentang kebenaran, kita harus sampai sisi bahwa mungkin salah satu yang benar atau keduanya salah. Pasti ada kebenaran yang mutlak, tidak mungkin keduanya benar dan berkontradiksi. Kalau ada itu bohong, penipuan. Itu hanya untuk membuat damai tanpa kebenaran. Punyamu yang benar, semua agama yang benar. Kalau begitu, kamu yang salah. Tetapi tidak mau dikatakan begitu. Waktu katakan tidak ada kebenaran yang mutlak, ini adalah teori yang mutlak juga. Dia juga mendesak logika pikiran dia benar. Walau mau tutup dengan apapun (kecewa dan ketidakpedulian), dalam hati  ada tuntutan bahwa yang benar itu ada. Kebenaran tidak mungkin ditutupi. Ada satu yang paling benar.  

Kebenaran sejati

Apakah Alkitab adalah benar-benar Firman Tuhan? Mungkinkah ada beberapa kesalahan dan kontradiksi dalam catatan Alkitab ? Apakah ada bukti bahwa Alkitab  benar-benar Firman Tuhan dan kebenaran? 

Alkitab tidak akan keliru atau ada kesalahan , Alkitab adalah kebenaran sejati . Prinsipnya :

1.     Kebenaran yang menyatakan (memproklamasikan) diri.

Ada 3 agama wahyu Allah di dunia yaitu Kristen, Islam dan Yahudi (agama yang berasal dari wahyu Allah) . Alkitab tidak mungkin keliru karena ia kebenaran yang hidup. Kebenaran yang hidup berkuasa atas yang mati. Di Alkitab ada musuh Tuhan haus kebenaran, ia tidak mencari mujizat, mendapat bonus bicara panjang lebar dengan Yesus. Dia tidak tertarik dengan yang lain.  Apa itu kebenaran? Yesus raja orang Yahudi, nabi , orang biasa, dia kumpulkan banyak data. Pilatus paling banyak diskusi dengan Yesus. Sambil bertanya apa itu kebenaran? Yoh 18:38a Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?",39b Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?" Ini cara pencatatan Rasul Yohanes yang ironis, menyedihkan. Pilatus bertanya,”Apakah kebenaran itu?” Yesus belum berkata apa-apa lalu ia keluar mendapatkan orang Yahudi. Pilatus bertanya, apa kebenaran itu? Yesus belum jawab apa-apa. Lalu ia cari masukan ke orang banyak. Padahal Yesus adalah sumber kebenaran. Sambil mencari kebenaran tapi ia membelakangi sumber kebenaran. Demo-crazy. Sungguh ironis. Dia tidak mendapat konsep kebenaran. Sambil mencari kebenaran sambil balik ke belakang. Ini benar-benar Farisi sekali (Banyak orang Kristen berkata,”Saya mencari kebenaran tapi tidak tunduk kepada kebenaran”.Ini mirip Pilatus.  Orang Kristen berkata saya pencari kebenaran, ikut PA, saya cinta belajar (sayangnya ada yang tidak mau tunduk pada kebenaran yang dicarinya). Saya suka cari kebenaran tapi harus juga rela ditaklukkan oleh kebenaran. Jangan mencari kebenaran dan berpaling ke orang banyak. Saat mencari kebenaran dan sudah dapat jawaban yang tidak enak, tidak sesuai dengan dirinya lalu berpaling sehingga Pilatus tidak mendapat kebenaran. Kebenaran itu harus menyatakan diri!

2.     Kebenaran yang hidup.

Kebenaran tidak mati. Aku berkenan menyerahkan nyawaku dan berkuasa mengambilnya kembali. Hanya Yesus yang berkata,”Akulah jalan , kebenaran dan hidup.” Ini otoritas tertinggi. Semua orang berkata,”Aku tunjukkan kebenara” tetapi hanya Yesus yang mengatakan hal ini. Kebenaran itu harus hidup. Semua tokoh agama mati dan tidak hidup. Lazarus pernah hidup kembali tapi kemudian mati kembali.

3.     Kebenaran yang tidak akan berkontradiksi dan menjelaskan dirinya sendiri.

Kebenaran mutlak tidak mungkin berkontradiksi. Kenapa di sini bilang A lalu di sana bilang C? Kebenaran mutlak harus menyingkapan dan membuktikan diri sendiri. Waktu dikatakan Alkitab tidak mungkin keliru, harus memberikan bukti. Saya tidak tertarik memberikan bukti dari sains. Saya hanya ingin Alkitab mengatakan bahwa ia benar dari dirinya sendiri. Apakah masuk akal kalau Alkitab berkata saya benar dari dirinya sendiri? Boleh tidak  kebenaran menyaksikan bahwa ia benar dari kesaksian dirinya sendiri. Mana bisa kalau pergi ke pengadilan dan membutuhkan saksi.  Kalau kita dituduh bersalah, harusnya saksi di luar orang itu sendiri. Maka dipilih, saksi di luar keluarga, dicari yang tidak ada hubungannya. Ada bukti Alkitab tidak mungkin salah dan keliru dari Alkitab dari dirinya sendiri. Kenapa putar-putar begitu? Memang tidak ada bukti yang lain? Boleh tidak kebenaran menyatakan dirinya sendiri benar. Ia punya proteksi sendiri. Ia harus punya hal ini. Kalau tidak kita bisa ragu. Kebenaran sejati bisa menyatakan diri benar dari diri sendiri. Jadi boleh. Setiap ayat bisa menyatakan diri benar. Bentuknya saling melengkapi. Kalau kurang mengerti ayat yang satu cari ayat yang lain sehingga baru mengerti. Alkitab menjelaskan diri benar. Kalau mau tahu uang itu asli atau palsu. Pembuktiannya : harus tahu ciri-ciri uang asli dan palsu. Metodenya untuk mencari tahu : pakai uang itu sendiri yaitu dengan cara dilihat, diterawang, diraba, dielus. Uang itu membuktikan diri benar.  Allah itu an sich punya kuasa tertinggi diketahui dari dirinya sendiri. Lihat uang itu sendiri apakah uang itu palsu atau tidak. Jadi boleh kebenaran membuktikan dirinya benar? Harus! Semua bukti sains membuktikan Alkitab. Tetapi bagi saya itu adalah bukti sekunder. Dulu saya senang membaca artikel, ditemukannya bahtera Nuh. Sebelumnya orang meragukan, bumi banjir dan seluruh muka bumi ditutupi. Banjirnya terjadi  di Mesopotamia saja atau sedunia? Ada yang bilang tidak mungkin ada seperti itu. Mana mungkin ada bahtera sebesar itu. Di mana buktinya? Ada juga mengatakan ditemukan bahtera Nuh. Ditemukan penemuan-penemuan sains. Berarti cerita Alkitab benar. Banyak penemuan membuktikan. Ada tengkorak Goliat yang melawan Daud. Waktu lihat bukti itu saya bingung, bukannya Goliat kepalanya ditebas Daud. Mengapa buktinya sekarang kepalanya menempel? Setelah lulus kuliah, ada pembuktian, ternyata itu bukan punya Nuh tetapi kepunyaan pirates, bajak laut (ada namanya). Semua bukti dari sains luar bersifat sekunder. Kita bisa menerima bukti dari sains atau tidak. Firman itu tidak perlu pembuktian dari luar. Sekarang ada pembuktian dari Alkitab. Kalau pakai bukti-bukti lain, bisa jadi 15 tahun kemudian ditemukan bukti-bukti lain sehingga tidak habis-habisnya perdebatan. Karena itu kita meletakannya di dalam pembuktian Alkitab. Yoh 5:31-36 Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku.

4.    Kebenaran yang universal

Yesus katakan ke orang yang meragukan dirinya dan berkata bahwa mereka tahu Yesus adalah anak dari Maria dan Yusuf serta mengenal saudara-saudara Yesus (mereka katakan,”Mana boleh Dia katakan diriNya Allah).Yesus katakan, “Aku punya kesaksian yang lebih besar bahkan dari Yohanes.” Zaman itu Yohanes Pembaptis sangat terkenal. Yohanes tidak pernah melakukan mujizat dan saat khotbah ia marah-marah. Tetapi Yesus tidak mau kesaksian manusia. Ia mau kesaksian dari Allah sendiri. Alkitab sebagai wahyu Allah, Firman Tuhan, mengatakan diri benar tidak tergantung dari pembuktian dari luar Alkitab. Yang utama dari pembuktian diri sendiri adalah bahwa Alkitab benar. Banyak kontradiksi yang dicari oleh orang-orang liberal (1.500 kontradiksi dalam Alkitab). Saat kebangkitan Kristus , ada yang mencatat ada 2 malaikat (Lukas 24:4) dan ada juga yang mencatat 1 malaikat (Mat 28:2). Yang di sana bilang Yesus masuk ke Galilea tapi yang di sini bilang Yesus keluar dari Galilea.  Mana yang benar? Maka ada kesulitan sehingga dikatakan : Di dalam Alkitab ada pembenaran doktrin bahwa Alkitab tidak mungkin salah. Di Alkitab ada infallible tetapi tidak mau terima inerransi. Kebanyakan orang mau pegang infallible tetapi tidak mau inerransi. Infallible adalah bahwa Alkitab memiliki otoritas yang absolut dan tidak bercacat, tidak akan gagal dalam setiap penghakiman dan pernyataannya,  dan setiap pengajarannya tidak dapat digugat bersalah, tidak menyesatkan dan tidak dapat dikontradiksikan serta disangkal kebenarannya. Benar tidak? Setuju dan bagus sekali, semua tidak mungkin digugat bersalah dalam pengajarannya.  Di samping itu ada inerransi, ada kemiripan. Orang harus menerima keduanya Mutlak tidak bersalah dalam catatan aslinya! Infallible Alkitab tidak mungkin bersalah , tidak bercacat dan mutlak dalam hal penghakiman dan pengajarannya. Sedangkan inerransi naskah aslinya tidak mungkin salah. Firman Tuhan yang bicara tidak mungkin error (salah). Di dalam semua catatan tidak mungkin salah. Kebanyakan orang cari aman , hanya menganut infallible tetapi tidak inerransi. Karena waktu gali Alkitab seakan ditemukan ada yang tidak cocok dan tidak menemukan jawabannya. Yesus juga melihat catatan di Perjanjian Lama seperti kisah tentang Yunus yang berada 3 hari di dalam perut ikan. Padahal ada yang berkata bahwa itu hanya cerita saja (bohong-bohongan saja). Tapi nyatanya banyak data dari Perjanjian Lama dikutip oleh Tuhan Yesus dan Rasul Paulus.

5.     Kebenaran yang menyatakan kemutlakan.

Apakah Alkitab hanya otoritatif untuk iman dan perbuatan saja? Adakah kemungkinan salah pada isu-isu lain seperti ilmu pengetahuan dan sejarah?  Beberapa akan mengklaim bahwa Alkitab sempurna/Infallible (berarti "dalam iman dan praktek") namun ragu-ragu untuk menggunakan kata "tidak mungkin salah." Bagaimana kita memutuskan bagian mana yang "iman dan perbuatan."

Inerransi Alkitab berarti Alkitab adalah firman yang diwahyukan oleh Allah sendiri dan diilhamkan Roh Kudus kepada para penulisnya sehingga naskah aslinya memiliki kualitas yang bebas dari kesalahan, bukan hanya dalam hal yang berkaitan dengan moral dan kerohanian tetapi juga termasuk hal yang berkaitan dengan sejarah, geografi, dan ilmu pengetahuan.

Waktu Allah mewahyukan ke manusia tidak mungkin salah. Masa ada kereta perang Daud yang salah hitung? Mungkin tidak salah. Di dalam catatan gengsi mugkin itu yang benar Ada juga infalibel dan inerransi diterima. Banyak yang hanya mengikuti yang infallible yang tidak ada. Tuhan menyatakan diri. Waktu ajarkan penghakiman, mereka seperti Nuh, kawin dan mekin , tidak tahu harinya kapan mati. Ada yang bilang itu bohongan. Ada yang berkata, Yunus dimakan ikan besar, anaknya menjawab, nanti kalau kamu pergi ke neraka nanti kamu tanya ya. Nanti aku kasih tahu kamu. Tidak terima infallible yang dikutup tentang kelahiran Tuhan Yesus, jadi dasar pencatatannya. Bisa jadi benar atau tidak. Siapa yang tentukan kebenaran? Saya. Bukan Akitab maka kita tidak menerima itu.

II.    Alkitab menyatakan dirinya Firman Allah dan Kebenaran.

Buku-buku klasik rohani yang baik mengatakan Alkitab tidak mungkin keliru dari kesaksian Alkitab sendiri. karena Nielsen AC mengatakan, “Kita bisa menemukan ada 3.500 kata di Perjanjian Lama yang mengatakan bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. 3.500 kali Allah berkata, “Inilah firman Tuhan!”, “Inilah firmanKu”, “demikianlah Allah berbakata” dll. Contoh : “Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya.” (Mazmur 119:160) ;  “…Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus (=emet, lurus, tidak ada cacat sedikit pun).” (Yesaya 45:19);   “Firman-Mu adalah Kebenaran “ (Yohanes 17:17).  

III.  Kesatuan tema dalam Alkitab.

a.     66 kitab yang berbeda, ditulis di tiga benua, dalam tiga bahasa.
b.     Kurun waktu sekitar 1.500 tahun
c.     40 orang penulis yang berasal dari latar belakang hidup yang berbeda-beda (raja, nelayan, pemungut cukai, gembala dsb).
d.     Situasi yang berbeda (padang gurun, penjara, istana kerajaan).
Alkitab tetap merupakan satu kesatuan tema, dari depan sampai akhir , tanpa ada kontradiksi.

Alkitab terdiri dari 66 kitab , ditulis dalam kurun waktu 1.500 tahun oleh 40 orang penulis yang tidak pernah bertemu dan diskusi. Berasal dari 3 benua yang berbeda, 3 bahasa yang berbeda (Aram, Yunani dan Ibrani). Ayub, Yusuf dan Yesaya semua bicara tentang Yesus dan mereka tidak pernah bertemu. Surat Petrus paling jelek tapi  Tuhan pakai nelayan untuk menulis surat 1 Petrus dan 2 Petrus. Surat yang paling  bagus tata bahasa dan sistematisnya ditulis oleh Paulus. Ia menulis suratnya dalam salam pembukaan lalu  inti permasalah , kesulitan , jalan keluarnya,  kesimpulannya lalu salam penutup. Orang pada zaman sekarang membuat tesis dengan menggunakan pola yang digunakan oleh Rasul Paulus. Ia paparkan salam pembuka (pendahuluan), problematika, jalan keluar, kesimpulan. Sangat teratur. Sedangkan Daud seperti raja emosi sedikit-sedikit “Hai Jiwaku, Kemanakah Engkau?”, “Engkaulah matahariku”. Itu Daud banget. Sedangkan Paulus, kepada jemaat di Galatia menulis betapa bodohnya kamu. Kasar sekali. 3 kali ia mengirim surat bernada marah-marah. Penulis Alkitab menulisnya dari dalam penjara, di padang gurun, istana. Walaupun tidak bersama-sama tetapi intinya sama dan tidak berkontradiksi. Kalau kita semua diminta membuat definisi cinta maka beda-beda. Ada yang berkata, “Di mana kantongmu berada di situ hatimu berada.”, “Air mata untuk membayar cinta”. Walaupun sama-sama satu gereja, satu bahasa, satu abad, tetapi definisinya tidak bisa nyambung dan berbeda-beda. Sedangkan intisari Alkitab sama yaitu tentang Kristus.

IV.  Isi dan berita di dalam Alkitab yang memberikan penjelasan tentang :

a.        Asal mula alam semesta dan akhir segala sesuatu
b.       Siapakah Allah dan siapakah Manusia
c.        Kejujuran tentang kondisi dosa dan hukuman
d.       Nubuat-nubuat mendetail yang dicatat dalam Alkitab.

Isi dan berita Alkitab tidak bisa ditemukan di kitab suci lainnya. Bagaimana asal bumi, bagaimana jatuh dalam dosa (catatan detil kronologis), kebenaran mutlak tentang siapa Allah,  kejujuran kondisi manusia dll hanya ada di Alkitab. Alkitab begitu beresiko tidak disukai manusia untuk menyampaikan kebenaran. Semua kitab lainnya hanya jalan tengah. Sedangkan di Alkitab dikatakan , seluruh kebaikan manusia seperti kain kotor, seluruh kebajikanmu seperti sampah. Tidak ditemukan kebenaran yang strict seperti ini di luar Alkitab.

Semua nubuat (prophecies) di Alkitab telah digenapi, hanya ada satu yang belum digenapi yaitu  Tuhan Yesus akan datang kedua kalinya (maranata). Kalau ada nubuatan di luar itu adalah omong kosong (loe yang buat).  Lee Strobel (1952) yang menulis tentang pembelaan Alkitab berkata dalam bukunya The Verdict of History,”Kita bisa menemukan 300 poin di dalam Alkitab. Semua nubuatan menunjuk dan fokus pada satu orang yaitu Kristus yang ditulis secara detil. Lahir di mana, di kota mana, siapa nama ibunya, lahir di kandang , lari ke Mesir, dikhianati sahabat, cara Dia mati di antara penjahat dan pada hari keberapa dia bangkit.” Ada 300 klue (petunjuk) yang diambil dari Perjanjian Lama dan semuanya fokus pada Kristus. Islam menuduh bahwa itu kan karena orang Kristen cocok-cocokan (dipas-paskan) saja dan 300 klue belum tentu benar. Banyak serangan terhadap Alkitab dan mengatakan itu pembuktian yang salah. Kita tidak butuh 300 tetapi 3 klue supaya sebuah surat itu bisa sampai ke tangan saya (Mercy). Hanya butuh 3 klue agar surat tersebut sampai yaitu nama jelas, alamat jelas dan kode pos. Sekarang pernikahan sejenis sudah dilegalisasi oleh lebih dari 20 negara (yang terakahir Jerman dan Taiwan pada Mei 2017). Suatu kali anak saya berkata,”Mami kalau aku besar dan undang pernikahan ke sesama jenis dilegalisir, nanti saya dituntut dong kalau mau datang ke pernikahan sejenis?”. Ini tuntutan karena pelecehan. Kristus punya 300 data (nubuatan) dan hari ini saya hanya berikan 12 contohnya seperti lahir di kota Betlehem, lahir dari perawan, berasal dari garis keturunan Daud, menghadapi ancaman pembunuhan dari Herodes, dikhianati oleh seorang teman, dijual seharga 30 keping perak, ditikam, pakaianNya diundi, tak ada tulangNya dipatahkan, waktu mati Dia berada di antara penjahat-penjahat, tahun, tanggal (dalam kalender Yahudi) dan jam kematianNya, dibangkitkan tiga hari kemudian. Semuanya dicatat rinci.  Jadi kesimpulannya tidak mungkin salah orang karena 300 klue terlalu spesifik.

No. Urut           Tertulis di Perjanjian Lama                 Nubuatan Perjanjian Lama       Digenapi dalam  Perjanjian Baru
   1.                   Lahir di kota Betlehem                                        Mikha 5:2                              Matius 2:1
   2.                   Lahir dari perawan                                              Yesaya 7:14                           Matius 1:18-23
   3.                   Berasal dari garis keturunan Daud                    Yeremia 23:5                        Wahyu 22:16
   4.                   Menghadapi ancaman
pembunuhan dari Herodes                Yeremia 31:15                      Matius 2:16-18
   5.                   Dikhianati oleh seorang teman                          Mazmur 41:10                      Yohanes 13:18, 19, 26
   6.                   Dijual seharga 30 keping perak                         Zakharia 11:12                     Matius 26:14-16
   7.                   Ditikam                                                                   Zakharia 12:10                     Yohanes 19:16-18, 37
   8.                   Pakaian-Nya diundi                                              Mazmur 22:19                      Matius 27:35
   9.                   Tak ada tulang-Nya yang dipatahkan Mazmur 34:21
Keluaran 12:46                    Yohanes 19:31-36
  10.                  Waktu mati, Dia berada di antara
penjahat-penjahat                               Yesaya 53:9                           Matius 27:38
  11.                  Tahun, tanggal (dalam kalender Yahudi),
dan jam kematian-Nya                         Daniel 9:26, 27
Keluaran 12:6                       Matius 27:45-50
   12.                 Dibangkitkan tiga hari kemudian                       Hosea 6:2                              Kisah 10:38-40

Contoh catatan Nubuat dalam Alkitab
Empat kerajaan dunia muncul: Babel, Medo-Persia, Yunani, dan Roma. (Daniel pasal 2, 7, 8)
Koresh akan menjadi pemimpin pasukan yang mengalahkan Babel. (Yesaya 45:1-3)
Setelah kehancuran Babel, negara itu tidak akan dihuni manusia lagi. (Yesaya 13:19, 20; Yeremia 51:37).
Mesir tidak akan menjadi negara besar lagi di antara negara-negara dunia. (Yehezkiel 29:14, 15; 30:12, 13)
Timbul bencana-bencana alam yang besar dan munculnya rasa takut di hati manusia dalam menghadapi hari kiamat. (Lukas 21:25, 26)
Kemerosotan moral dan penurunan kerohanian di zaman akhir (2 Timotius 3:1-5)

V.    Otoritas dan kuasa yang mengubahkan hidup.

Alkitab satu-satunya kebenaran yang mempunyai otoritas untu mengubah hati manusia yang berdosa. Ada orang Amerika yang terdampar di benua Afrika yang masih menganut kanibalisme. Ia melihat penduduk asli di sana sedang membaca Alkitab dan ia pun berkata,”Hari ini kamu masih membaca Alkitab? Dasar Afrika!”. Dijawab oleh penduduk tersebut, “Kamu tahu tidak, kalau bukan karena Alkitab saya sudah makan kamu.” John Newton pengarang lagu Amazing Grace diubah hatinya. Memang benar iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan.

Sikap Kita menghadapi kesulitan dalam Alkitab

Benar, ada bagian-bagian yang sulit. Betul, ada ayat-ayat yang kelihatannya bertentangan satu dengan yang lainnya.  Mari kita dengan rendah hati belajar dan terbuka mentaklukkan diri. Yang menyedihkan, kebanyakan orang yang menyerang Alkitab itu tidak betul-betul tertarik dengan jawaban, mereka hanya ingin menyerang. Tuhan telah memberikan pernyataan-pernyataan yang harus diterima secara utuh dimana hal ini memperlihatkan kemampuan Tuhan untuk menjaga ketepatan isi Alkitab selama berabad-abad.

DISKUSI

Pertanyaan untuk bahan diskusi tentang Alkitab sebagai kebenaran.

1.     Pencatatan penciptaan dalam Kejadian 1 dan Kejadian 2 tampak berbeda. Misalnya dalam Kejadian 1 binatang liar dan burung diciptakan sebelum penciptaan manusia sedangkan dalam Kejadian 2:1 diciptakan setelah penciptaan manusia. Jelaskan!!
Penjelasan
Ayat 19 : binatang hutan dan burung tidak diciptakan dari Firman tapi dari debu tanah. Pasal 1 Allah berfirman. Pasal 2 YHWH. Waktu ciptakan alam semesta, orang Islam harus tunduk. Kejadian 2 tidak pakai Elohim tapi Tuhan Allah yang mengikat perjanjian. Pasal 2 God make covenent. Pasal 2 bicara spesifik manusia. Allah menciptakan binatang dari debu dan tanah. Pasal 2 bicara tentang manusia. Sama-sama debu tanah untuk ciptakan manusia dan binatang. Untuk buat vaksin yang dibedah adalah orang utan. Tapi manusia paling dekat dengan babi. Pasal 2 spesifik tentang manusia, lalu hubungan Allah dengan manusia.

2.     Berapakah jumlah sebenarnya keturunan Yakub seluruhnya yang tiba di Mesir? Manakah yang benar?
a.        66 jiwa (Kejadian 46:2)
b.       70 jiwa ((Keluaran 1:5)
c.        75 jiwa (Kisah Para Rasul 7:1-14)

Penjelasan : perbedaan karena dilihat dari sudut pandang penulis.
a.        66 jiwa (Kejadian 46:2) tidak termasuk Yusuf, istrinya dan kedua anaknya (Manasye dan Efraim)
b.       70 jiwa ((Keluaran 1:5) sudah masuk keluarga Yusuf yang sudah berada di Mesir
c.        75 jiwa (Kisah Para Rasul 7:1-14) . Stefanus waktu khotbah sudah memasukkan seluruh keturunan Manasye.

3.     Daud memerangi Israel atas hasutan Tuhan atau atas bujukan ilbis? Bagaimana menjelaskan bagian ini!!
a.        Tuhan murka lalu menghasut Daud (II Samuel 24:1)
b.       Setan bangkit lalu membujuk Daud (1 Tawarikh 21:1)
Penjelasan :
Kitab Tawarikh ditulis setelah pembuangan dan penulisnya sangat membela keturunan Daud sehingga tidak menuliskan kejelekkan keturunan Daud. Bagi dia, Daud sangat sempurna. Kalau tulisan lain, dikatakan Tuhan menghasut.
Tetapi jawabannya yang benar adalah kedua-duanya (baik Tuhan maupun Setan). Iblis minta izin ke Tuhan. Seperti waktu Ayub dicobai juga oleh Tuhan dan Iblis karena iblis minta ijin dari Tuhan. Jadi saling melengkapi. Semua dalam rencana Tuhan (diijinkan Tuhan).
Ini terjadi saat Daud tua. Daud salah sehingga orang Israel yang hancur. Ada momen dia salah rakyat yang dihukum ini. Tetapi melalui pertobatannya akhirnya Daud diubahkan. Tuhan luar biasa.

4.     Apakah Tuhan bisa Menyesal? Bagaimana memahami bagian ini berkaitan dengan sifat Allah yang berdaulat dan tidak berubah?
a.        1 Sam 15:29. Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal.
b.       Kej 6:6 . Maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya.
Penjelasan :
Bahasa yang dipakai Nasahem sorrowful (berduka). Sangat berduka. Dua kata yang dijadikan 1. Allah sangat berduka.

5.     Jika diteliti ada beberapa Nubuat Tuhan tidak terjadi (misalnya Yeremia 36:30).
Dalam kitab Yeremia 36:30 Tuhan berfirman bahwa keturunan Yoyakim tidak ada yang naik tahta kerajaan Daud. Ternyata Nubuat ini meleset. Diceritakan dalam kitab II Raja-raja 24:6 bahwa sepeninggal Yoyakim, yang naik tahta menggantikannya adalah Yoyakin, anaknya. Bagaimana menyikapi hal ini?
Penjelasannya :
Tetap duduk di tahta tapi tidak selamanya. Jadi keturunannya tidak akan tetap duduk di atas tahta. Yang duduk di tahta selamanya hanya Daud. Jadi Yoyakim tidak bisa duduk selamanya. Jadi problemnya adalah  terjemahannya. Untuk lebih memahami Alkitab, sedikitnya pakai 3 versi Alkitab baru baca bahasa aslinya.

6.     Pencatatan silsilah Yesus yang kontradiksi. Manakah catatan silsilah yang benar?
a.     Silsilah Matius yang menyatakan bahwa Yusuf adalah anak Yakub (Mat 1:16)
b.     Silsilah Lukas yang menyatakan bahwa Yusuf adalah anak Eli (Lukas 3:23)
Penjelasannya :
Matius audience-nya adalah orang Yahudi sehingga tulisannya jewish sehingga ia menulis Yesus dari sisi Yusuf. Sedangkan Lukas untuk gentile (orang kafir). Jadi ia menulis seperti dokter. Akan mempengaruhi sebagai seorang dokter. Ia lihat dari sisi Maria. Jadi Eli adalah papanya Maria. Orang yang tidak punya anak laki-laki maka yang dimasukkan nya adalah menantu laki-laki. Jadi Eli memasukkan Yusuf dalam keturunan. Ia bukan Yahudi. Matius tidak akan melakukan itu (karena gentile).

Bible menjelaskan dirinya sendiri. Hanya butuh waktu untuk meneliti. Ada gaya bahasa penulisan (gap penulisan). Indonesia paling buruk dalam menerterjemahkan Alkitab. Tuhan memilih 2 bahasa untuk menjelaskannya. Yunani ada beberapa kata untuk kasih. Terjemahan dalam bahasa Indonesia bisa terbatas jadi bisa kurang tepat. Pdt. Stephen Tong mengatakan kalau hamba Tuhan hanya  pakai 1 Alkitab maka dikutuk. Itulah kelimpahan Alkitab.

Kalau ada kesulitan dalam Alkitab , terima. Ada kemungkinan perbedaan pencatatan. Ada jumlah kuda Salomo berbeda. Ada pesan sponsor di belakangnya. Jumlah kuda Salomo di seluruh kota dan di setiap kota. Ada yang 1.500 perbedaan , namun hari ini hanya diberi 6 kasus. Kita tidak menghakimi Alkitab tetapi sebaliknya. Makin baca dan gali Alkitab, semakin Alkitab menggali dan menghakimi kita. Tetapi Alkitab sering diperlakukan sebagai teori. Sehingga makin baca, makin sombong, keras jiwanya. Ini firman Tuhan. Waktu kita baca kita ditelanjangi oleh Alkitab. Itu yang menghakimi kita. 

Monday, August 14, 2017

Keluarga Penting! Hanya Teori? (Kenyataan Terabaikan)


Ev. Charlotte

Ulangan 6:4-9
4  Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
5  Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
7  haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
8  Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
9  dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Pendahuluan

                Tema hari ini “Keluarga Penting! Hanya Teori?”. Keluarga penting, apakah hanya teori? Kalau selama ini menganggap keluarga penting, apakah  itu hanya ‘omdo’ (bicara saja)?. Apakah dikatakan saja tetapi tidak dilakukan? Alkitab bila diperas hanya menjadi 2 ayat saja yakni Matius 22:37-39.  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi dan bukti kita mengasihi Tuhan adalah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Hukum inilah yang seharusnya ada di dalam hidup kita baik di keluarga, pekerjaan maupun dalam pelayanan. Intinya : hanya mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi. Jadi sewaktu membangun keluarga untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, kalau hal itu sudah dicapai maka dengan demikian kita akan mudah mengasihi istri, suami, papa, mama, anak , keluarga, karyawan dll.
                Yang paling penting di dalam diri kita apa? Apakah pekerjaan , pelayanan , keluarga saya yang paling penting? Ketika dihadapi pada berbagai pilihan, kita bisa bingung memilih yang mana. Akhirnya bertanya,”Bagaimana keseimbangan antara pekerjaan, pelayanan dan keluarga?” Selamanya tidak pernah bisa seimbang  karena porosnya salah. Bila memiliki 3 orang anak, orang tua tidak pernah bisa mengasihi ketiganya dengan sama besarnya. Ada yang lebih dan kurang sedikit. Mungkin anak yang baik, rajin, pintar dan mirip dengan orang tua, lebih disayangi. Kalau nakal, bodoh, malas kurang disayang. Manusia tidak bisa pernah adil.
                Waktu saya kecil ada lagu “Aku Sedih” Joan Tanamal (1971) yang liriknya, “Aku sedih, duduk sendiri, mama pergi, papa pergi. Oh itu dia mereka datang. Aku senang hatiku riang.” Itu lagu dulu di mana  kalau anak ditinggal akan merasa sedih. Namun sekarang liriknya berbeda,”Aku senang duduk sendiri. Mama pergi papa pergi. Oh itu dia mengapa pulang? Aku sedih hatiku pedih.” Mengapa bisa begitu? Pada iklan produk biskuit Khong Guan , tampak ada seorang ibu dengan 2 anaknya. Pertanyaannya,”Di mana Papa?” Saat itu bisa dijawab,”Papanya yang memfoto” karena pada zaman dulu tidak ada tongsis. Tetapi yang sekarang,”Di mana Papa? Di mana Mama?” Tidak ada! Mereka tidak hadir dalam kehidupan anak-anak. Kalau dulu sekeluarga masih berkumpul, di dalam keluarga ada interaksi dan komunikasi, tetapi sekarang keluarga inti masih duduk bersama-sama tetapi tidak ada kebersamaan. Masing-masing dengan gawainya masing-masing. Bahkan anjingnya saja santai untuk dirinya sendiri , padahal anjing ada untuk tuannya. Apa yang salah dengan kondisi sekarang ini?

1.    Salah fokus

Roma 14:7-8 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati kita adalah milik Tuhan! Ayat ini menginspirasi lagu “Ku Hidup bagiMu” (Sari Simorangkir) dengan lirik,”Kalau kuhidup, kuhidup bagiMu. Hatiku tetap, tetap menyembahMu. Dunia tidak bisa menjauhkanku dari kasihMu. Selama ku hidup, kuhidup bagiMu. Mataku tetap, tetap memandangMu. Dunia tak bisa menjauhkanku dari kasihMu.” Fokus hidup kita hanya satu yaitu untuk Tuhan. Karena Ia sudah memberi hidupNya untuk kita. Jadi hidup kita bukan lagi tentang kita tetapi tentang Dia. Ada ayat yang sering dibaca yakni Roma 8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Atau penderitaan, sakit-penyakit, perceraian? Singkatnya apapun yang dialami saat ini.
Semalam saya baru tiba dari Singapura. Saya bergumul karena anak mantu saya sakit. Saya baru menikahkan anak pertama saya yang menjadi dokter. Mereka berdua adalah dokter, mereka akan segera pelayanan di Papua. Menantu saya waktu kelas 2 SMP satu ginjalnya sudah pecah. Pembuluh darahnya melebar dan pecah sehingga hanya ada 1 ginjal. 10 tahun lalu ternyata ginjal yang satunya lagi pembuluh darah sudah melebar (aneurisma) dan sewaktu-waktu bisa pecah. Setelah menikah, pembuluh darah dipasang selongsong stent graft. Suami saya seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Dia melihat pembuluh darah menantu saya sangat rapuh. Biasanya hal ini terjadi di otak tetapi ini di ginjal. Di Indonesia kejadian ini sangat langka. Setelah mencari dokter yang tepat akhirnya ditemukan ada dokter yang dapat menanganinya di Singapura yang telah menangani kasus seperti ini. Sehingga ia didaftarkan di sana dan dapat jadwal dioperasi hari Jumat kemarin. Saya bergumul tapi saya datang hari ini. Kami berharap stent bisa dipasang supaya pembuluh darahnya tidak  pecah karena kalau pecah hanya bisa punya 1 ginjal. Ternyata tidak bisa pasang stent. Sewaktu dibedah, ternyata pembuluh darah itu sangat banyak cabangnya, tidak tahu yang mana harus dipasang stent. Kalau dipasang stent kemungkinan gagal ginjal 40%. Yang mengoperasinya ada 2 dokter. 1 dokter konsulen biasanya menangani pembuluh darah di otak. Dia berkata, “Ya sudah pasang saja stent karena anak dan menantu saya mau ke pedalaman. Ia mengusulkan agar pembuluh darahnya tinggal dipasang-stent. Pasang atau tidak pasang stent tetap memiliki resiko. Jadi setelah peralatan operasi dicopot semua, mereka diskusi bertiga. Akhirnya dokter yang ahli pembuluh darah di otak berkata, “Sudahlah daripada 40% ginjal rusak tidak perlu pasang stent, toh dia bisa hidup 10 tahun seperti ini. Kita hanya bisa berharap dia bisa tetap seperti ini, tidak menjadi lebih buruk.” Kesimpulan ,”sudah dibiarkan saja”. Tentu saja, kami kecewa. Anak ini mau melayani Tuhan , hidupnya untuk Tuhan. Tetapi kenapa Tuhan tidak kasih dia? Mengapa kasusnya paling unik sendiri? Tapi kami disadarkan seakan-akan Tuhan berbicara, “Memangnya siapa yang bisa memberi hidup?” Pertama kali saya berdoa,”Ya Tuhan anak mantu saya sakit seperti ini dan sewaktu-waktu bisa dipanggil. Boleh tidak Tuhan, kalau usianya pendek, mereka jangan menikah. Kasihan anak saya, kalau baru satu tahun menikah istrinya meninggal, nanti bisa jadi duda.” Tetapi bisa saja anak saya yang mati duluan. Kita berpikir,”Apa anak kita bisa tahan lama?” Siapa bisa menduga pembuluh darah di otak dan jantung bagus-bagus , bisa saja ada aneurisma (pelebaran pembuluh darah abnormal) di otak dan sewaktu-waktu bisa pecah. Bisa saja seperti mainan , baterenya habis sehingga mainannya mati. Kita juga bisa habis ‘batere’ dan mati. Kitar merenungkan hal ini. Keluar dari rumah sakit, Kita bersyukur dan berdoa bergandengan tangan berempat, “Tuhan bukankah kami sudah berdoa kepadamu?  Apapun hasilnya kami tetap percaya Engkau baik dan semua baik. Dan hidup kami hanya untuk Engkau. Pergunakanlah semua untukMu selama Engkau mau.” Ini pengalaman rohani buat anak dan menantu kami saat mereka nanti melayani di pedalaman. Kalau Tuhan mau tidak ada yang mustahil. Tuhan mau seberapa lama pelayananmu lakukanlah. Sebagai manusia kita lakukan. Setelah melakukan yang terbaik, lakukan saja. Apa yang memisahkan kita dari kasih Kristus? Apakah kesulitan, penderitaan, kekecewaan sehingga ada yang begitu kecewanya hingga berkata,”Saya tidak mau lagi mengasihi Tuhan.” Tidak ada! Tuhan mengasihi kita sewaktu kita berdosa (sewaktu kita tidak layak dikasihi). Jadi kasih Tuhan tidak tergantung dari apa yang kita lakukan.
Apa yang kita kejar? Uang, prestasi akademik dan bidang lainnya, kemewahan, deposito, reputasi, gengsi yang memisahkan kita dari kasih Kristus dan menganggapnya yang utama? 1 Yoh 2:15-17  Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.  Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. Agustus tahun lalu (2016) saya mengkhotbahkan hal ini. Tentang keinginan daging (hedonisme), keinginan mata (materialisme), dan keangkuhan hidup (narsisisme). Orang ingin punya ilah (i) sehingga ada i-pad, i-phone. Kalau mencintai hal seperti ini maka  kasih akan Allah tidak ada. Tidak bisa kita katakan,”Ada secuil kasih untuk diri , anak, suami saya jadi saya kasih Tuhan 99%” tidak bisa! Kita harus mengasihi Tuhan 100%, dengan kasih kepada Tuhan baru mampu mengasihi anak, istri, orang tua bahkan siapapun yang melukai kita. Tanpa kasih ini, kita tidak mampu. Jadi kita hanya fokus kepada Dia.
Apa yang menjadi fokus kita? When Christ is the center of your foucs. All elese will come into proper perspective. Bila Kristus yang jadi pusat dari fokus, maka yang lain akan berada dalam perspektif yang tepat. Misalnya : keluarga dulu , bukan pelayanan. Atau sebaliknya sehingga keluarga diabaikan. Kalau Kristus yang menjadi fokus (core) maka semua akan seimbang. Punya uang, teman, rekreasi, pekerjaan, hobi, keluarga, sekolah,rekreasi untuk Tuhan. Semuanya untuk Tuhan. Jadi tidak usah bingung. Karena kalau bingung akan terkotak-kotak. Seolah-olah yang satu bukan urusan Tuhan. Jadi dari Senin-Sabtu hidup untuk diri sendiri sedangkan Minggu untuk Tuhan? Tidak! Kita hidup dari Senin sampai Minggu untuk Tuhan. Bahkan buang air besar pun untuk Tuhan. Anak saya tidak makan sayur jadi sulit buang air. Saya katakan kepadanya,”Makanlah sayur bukan masalah kamu mau atau tidak tetapi karena tubuh kamu butuh.” Dia menjawab,”Saya tidak apa-apa! Saya kan sehat” Saya berkata lagi,”Bagaimana tidak apa-apa ? Kamu kan sulit BAB.” Firman Tuhan bahkan berkata makan dan minum untuk memuliakan Tuhan, melalui tubuhmu mempersembahkannya sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah (bukan tubuh yang mati). Persembahkanlah tubuh yang sehat untuk Tuhan. Bukan kita sehat untuk hemat (tidak keluar masuk rumah sakit). Bukan itu. Kita perlu hidup sehat karena kita mau memuliakan Tuhan. Bisa buang air besar itu anugerah Tuhan. Karena anugerah Tuhan, maka tiap hari kita harus buang air besar. Kalau mules pagi hari, itu sehat. Kalau harus makan obat untuk mules, berarti tidak sehat. Demikian juga dengan buang angin. Waktu anak saya di rumah sakit untuk dioperasi , dia merasa haus dan ingin minum. Saya berkata,”Tidak bisa minum, karena kamu belum kentut!” Dia pun merengek,”Mami tolong belikan kentut”. Saya menjawab,”Kalau bisa mami belikan.” Ternyata bisa  kentut saja anugerah. Saya pun mendukungnya,”Mami tidak minum - makan sampai kamu kentut supaya setelah itu kita sama-sama makan.” Saya ingin menemaninya terus. Jadi waktu itu kita berdoa,”Tuhan bagaimana caranya kirimkan kentut agar ia bisa minum.” Hidup itu anugerah. Saat bangun pagi ini apakah ada yang bisa membuka mata sendiri? Siapa yang membukakan mata kita selain Tuhan? Tuhan yang membukakan mata kita , hidup kita rapuh sekali.

2.    Salah prioritas

“Kekurangan waktu” menjadi problem keluarga masa kini. Kita diberi waktu 24 jam. Semua manusia sama. Tetapi kita selalu bilang kurang waktu dan sibuk sekali. Sehingga seolah-olah waktu itu menjadi sesuatu yang mahal. Berapa banyak waktu yang diluangkan ayah bagi anaknya? Menurut survey hanya 7 menit/hari. Menjadi ayah (being father) tidak sama dengan having children (punya anak). Keduanya berbeda, jangan katakan saya punya anak harus cari uang. Ketika menjadi ayah atau ibu apakah kita sudah menjalankan fungsinya? Efesus 6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Apakah kita sudah melakukannya? Ulangan 6:4-9 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.   Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,   haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.  Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,  dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Ada 3 hal  yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa, hati dan kekuatan. Itulah yang harus diajarkan. Bagaimana anak mengasihi , kagum dan hormat yang kudus? Mengasihi Tuhan sesuatu yang abstrak. Kalau mengagumi Tuhan yang kudus , itu lebih konkrit. Kalau Tuhan ada di sampingmu, kita tidak akan berani membuka situs porno, tidak berani menulis untuk mengumpat di situs medsos. Kalau orang yang kamu bully itu punya Tuhan, maka tidak berani kita lakukan. Jadi ketika mengasihi Tuhan dengan seluruh keberadaan. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan. Dengan segenap keberadaan, semua dikasihi Tuhan. Tidak ada kesenangan saya tetapi yang ada adalah kesenangan Tuhan. Tidak ada kepentingan saya tetapi yang ada kepentingan Tuhan. Bagaimana bentuk mengasihi Tuhan? Cowo datang ke cewenya dan mengatakan,”Saya mengasihi kamu. Ini dompet saya. Kalau tidak cukup, ini jam tangan saya. Kalau masih tidak cukup, saya kasih baju dll, semuanya dikasih” sampai si cowo membuktikan kalau kamu berada di ruangan yang terbakar, si cowo masuk ke dalam menyelamatkan si cewe sehingga cewenya mengatakan,”Iya betul kamu mengasihi saya!” Memberi yang utama bagi orang lain adalah nyawa. Suatu hari kalau kita ditanya,”Percaya dan mengasihi Tuhan tidak?” Kalau percaya akan dipancung. Akhir-akhir ini kita dikhawatirkan oleh ISIS. Sebagai orang Kristen kita dipertaruhkan. Apakah sampai pada titik itu mengatakan , “Kita tetap mengasihi Tuhan walaupun mengalami penderitaan.” Kalau kita menghadapi masalah itu apakah kita masih tetap mengasihi Tuhan atau tidak? Saya berdoa supaya kita tetap mengasihiNya.
Kita menghadirkan Tuhan dalam segenap aspek hidup kita (masalah, pergumulan). Apakah waktu mengambil pilihan, apakah menghadirkan Tuhan dalam hidup? Apakah saat menghadapi masalah, lari ke Tuhan atau ke yang lain? Apakah kita melihat, di dalam masalah dan pilihan-pilihan ,“Tuhan yang ada di sini, bantulah kami mengambil keputusan” . Ketika Tuhan ada maka damai sejahtera Tuhan menaungi kami.
Dalam memilih karir, teman, sekolah, pekerjaan dan teman hidup apakah untuk mengutamakan Tuhan? Seperti yang ditulis pada Ulangan 6, apakah kita mengasihi Tuhan melebihi apapun? Membenci dosa melebihi apapun? Apakah kita mengutamakan Tuhan dalam setiap kegiatan dan kesempatan kita? Kalau kita mengutamakan Tuhan, yang lain dianggap sampah (yang lain kuanggap rugi karena Kristus). Karena Kristus lebih mulia dari apa pun. Ketika kita mengasihi, mengutamakan dan menghadirkan Tuhan, itulah prioritas. Jadi hal yang menyebabkan kehancuran keluarga adalah  salah fokus (bukan pada Kristus).
Mana yang lebih penting : kualitas atau kuantitas? Bukan soal waktu yang menjadi sasaran tapi waktu hanya menjadi sarana untuk menicptakan hubungan (kedekatan). Jadi bukan masalah kualitas atau kuantitas tapi apakah waktu yang diluangkan bersama dapat memperat hubungan. Kalau anak mau curhat pada hari Selasa tidak bisa dijawab tunggu sampai nanti akhir Minggu. Waktu itu adalah sarana, sasarannya adalah hubungan (relasi). Ada orang yang tua diwawancara, “Kalau anak ingin hadiah yang paling baik seperti apa?” Hadiah yang terindah. Orang tua pikir anaknya pasti mau main dan pergi jalan-jalan tetapi apa yang terjadi ketika anak itu ditinggal? Anak ini hanya menginginkan punya papa dan pergi dengan papa!

3.    Salah relasi

Hukum kasih tidak bisa berjalan tanpa relasi. Apa relasi yang ada? Relasi yang kita bangun biasnya hanya relasi memiliki. Karena saya punya orang tua, maka saya jadi anak. Jadi being bukan having. Yang ada demanding (menuntut). Karena saya mama maka kamu harus hormat ke mama atau “Turut ke papa” itu relasi having. Seharusnya relasi being bukan transaksional , apakah saya telah menjadi mama dan papa yang baik? Apakah saya sudah menjadi suami yang mengasihi istri, apakah sebagai istri saya tunduk ke suami? Kalau relasi being, maka kita harus menghargai orang di sekeliling. Saya akan menjadikan diri saya berharga pada suaminya. Supaya suami nyaman, tidak diganggu saya, ditolong dan membuat kita merefleksikan diri. Kalau tidak,”Apakah dia sudah jadi suami yang baik? Dia saja tinggalkan saya dan tidak ada waktu temani saya jalan-jalan.” Jadi yang ada tuntut-menuntut. Ketika diri sendiri, relasi diri kita beres, maka relasi kita dengan pasangan dan anak-anak akan menjadi beres, juga relasi dengan anggota gereja. Jadi negara kalau mau kuat maka keluarga harus kuat. Gereja kuat kalau anggota keluarga kuat. Mau tidak mau diri kita sendiri diperbaiki. Masalah muncul karena diri sendiri yang menyimpang. Saat konseling, saya memberi nasehat ke seorang ibu,”Ibu harus berubah!”. Sang Ibu menjawab,”Kenapa suami saya tidak?Kan dia yang selingkuh!” Saya menjawab,”Saya sangat mengerti. Masalahnya suami Ibu tidak berada di depan saya. Ibu yang berubah dahulu. Tanpa ibu yang berubah, suami tidak akan berubah. Ibu lakukan apa yang Tuhan mau Ibu lakukan. Lakukan dengan taat dan setia” Memang tidak mudah berubah, dimulai dari diri sendiri.
2 minggu lalu setelah seharian penuh saya pelayanan dan pulang malam hari pk 21.30 setelah kondangan dengan tubuh yang lelah sekali. Lalu suami saya berkata “Coba lihat waze”. Waze sebagai aplikasi penunjuk jalan mengarahkan untuk belok ke kiri, tetapi suami saya tidak belok kiri hanya mengambil jalan kiri. Jadi saya berkata,”belok kiri”, suami menjawab,”Ini saya sudah kiri” dengan nada jengkel. Lalu dia berkata,”Jangan ngomong” sehingga hati saya jadi mendidih. Lalu saya diam dan sampai di rumah saya diamkan saja. Dia mengajak bicara namun saya diamkan. Firman Tuhan mengatakan, “Sebelum matahari terbenam, harus dibereskan”. Tetapi kalau setelah matahari terbenam, diselesaikan sebelum matahari terbit alias sesegera mungkin. Suami saya setelah pulang langsung mandi dan tidur, jadi  belum bisa dibereskan masalahnya. Keesokan pagi saya mau pergi pelayanan. Sebelumnya saya berdoa,”Tuhan hari ini saya mau melayani Tuhan.” Namun saya teringat 2 tema yang akan disampaikan yaitu bagaimana komunikasi efektif dalam keluarga dan bagaimana keluarga yang saling mengampuni. Tuhan ingatkan ada hal yang belum beres,”Tetapi kamu harus beres dengan Aku”,kata Tuhan. Saya berdoa minta ampun“Tuhan, ampuni saya! Tuhan, saya sombong dan egois. Saya tidak mau mengampuni suami saya.” Akhirnya ada damai sejahtera Tuhan. Saya tahu Tuhan mengasihi saya. Saya mandi , siap-siap dan waktu saya cium suami saya, dia diam saja. Akhirnya saya bilang, “Pap saya pergi dulu.” Dia mejawab, “Hmm...” Kalau dulu, saya balikkan, “Sudah bagus saya ngomong dulu. Tahu rasa” Itu dulu. Begitu beres dengan Tuhan, tingkah laku dia tidak mengganggu saya, sukacita saya tidak hilang. Saya baru mengerti apa yang Rasul Yohanes katakan, “Sukacitamu menjadi penuh!” Seperti beras yang ditakar dan sudah padat jadi bila digoyang-goyang pun tidak jadi tumpah. Saya bilang,”Tuhan tolonglah dia, supaya sukacita Tuhan ada di dalam dia!” Belas kasihan muncul dalam diri saya. Sepanjang perjalanan untuk pergi pelayanan saya merasa gemibra. Dengan mengetahui firman Tuhan, maka saya tidak merasa jengkel dan kesal dengan perlakuan orang lain. Karena sukacita Tuhan ada di dalam diri kita. Kalau keluarga penting, apakah kita mau melakukan yang the best untuk keluarga karena sedang melakukan yang the best untuk Tuhan? Orang yang mengkomunikasikan tentang keluarga kepada rekannya dan mengkomunikasikan pekerjaan pada keluarganya, maka ia akan berada lebih puas dan efektif dalam lingkungan itu karena bekerja untuk keluarga sehingga pergi bekerja dengan semangat. Ada tulisan : never get so busy making a living that  you forget to make a life. Biasanya kita sibuk, bagaimana supaya kita bisa hidup tetapi kita lupa tentang kehidupan kita sendiri.
Ada seorang anak yang akan berulang tahun seminggu lagi dan diberi satu tas berisi hadiah-hadiah ulang tahun oleh orang tuanya.  Ibunya mempersilahkannya untuk membukanya lebih dahulu. Ia mendapat banyak hadiah dari 2 film, piyama, kaos disney-land dan makanan-makanan kecil. Lalu sang anak ditawarkan hadiah ulang tahun yang paling diinginkan yaitu pergi ke disney land hari itu juga bersama orang tuanya.  Sang anak merasa begitu terkejut hingga menangis. Mereka sekeluarga akan pergi setelah papanya bekerja. Orang tua kita saja bisa memberi apa yang menjadi keinginan kita,bukan hanya kebutuhan kita terlebih lagi Tuhan yang kita sembah. Dia memberikan lebih dari segalanya. Karena Tuhan tidak hanya tahu tetapi Dia selalu memberi yang terbaik untuk kita. God not only gives you presents on your birthday, but He always gives the special gifts for you at present. Don’t just do things for the one you love only on special days. Make everyday for HIM special.  Maz 103:13   Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. 1 Kor 2:9  Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."


Sunday, August 6, 2017

Lihatlah Generasi Muda di Gerejamu

Ev. Mercy Matakupan

Hakim 2:8-11
8  Dan Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, mati pada umur seratus sepuluh tahun;
9  ia dikuburkan di daerah milik pusakanya di Timnat-Heres, di pegunungan Efraim, di sebelah utara gunung Gaas.
10  Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel.
11  Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal.

1 Yoh 2:14-17
14  Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.
15  Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
16  Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
17  Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Orang-Orang Muda yang Dipakai Tuhan

                Alkitab memberikan perhatian yang besar sekali untuk orang-orang muda. Tuhan membangkitkan pahlawan-pahlawan iman yang mengarahkan sejarah dan itu dimulai dari orang-orang muda. Bahkan Tuhan bekerja dalam hidup mereka pada usia mereka yang masih sangat muda. Ada yang masih dalam kandungan seperti Simson dan ada juga yang mulai dari bayi seperti Musa. Bahkan Yosia yang menjadi raja pada usia 8 tahun lahir dari keluarga yang tidak mengenal Tuhan (kakek dan ayahnya jahat). Alkitab memberi catatan hidupnya begitu saleh dan berkenan di hadapan Tuhan. Tetapi di antara raja-raja tidak ada yang seperti Yosia yang memiliki iman seperti leluhurnya Daud. Tuhan membangkitkan orang-orang muda seperti Musa, juga Samuel yang masih minum susu  sapi lalu dipersembahkan kepada Tuhan. Tuhan memakai Yosua yang sejak muda mengikuti Musa. Tuhan memakai Daniel dan ketiga temannya Sadrakh , Mesakh dan Abednego untuk mengguncangkan raja-raja  besar. Daniel berkuasa selama pemerintahan 4 raja. Semua raja tersebut turun satu per satu dan diganti tetapi Daniel tetap dipakai sebagai perdana menteri. Padahal Daniel dan teman-temannya dididik di  antara usia 12-15 tahun (teenager). Rasul Yohanes memberikan perhatian yang besar kepada orang-orang muda, “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.(1 Yoh 2:14). Rasul Yohanes saat menulis surat tersebut sudah tua dan sebentar lagi dibuang ke Pulau Patmos lalu menulis kitab Wahyu. Ia menulis kepada orang muda, karena Rasul Yohanes melihat orang muda adalah orang yang kuat dan Firman Allah diam di dalam mereka dan mereka telah mengalahkan yang jahat. Itu pesannya kepada orang muda. Kegagalan besar gereja yang terjadi terus berulang. Apa yang tidak penting bagi Allah itu yang sering dipentingkan. Hal-hal yang sekunder seperti  bangunan gereja dan musik diperhatikan, tetapi hal utama yang diminta Tuhan tidak diperhatikan.

Teledor Mewariskan Iman kepada Generasi Berikut

Yosua dalam pidatonya yang terkenal mengatakan, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:15). Pilihan pertama (allah yang disembah Abraham di seberang sungai Efrat) adalah pilihan agama tradisi, pilihan yang kedua (ilah orang Amori) memuaskan seks, memberi kekayaan, kesuburan dan kenikmatan masa muda tetapi Yosua dan keluarganya akan menyembah Allah Israel. Waktu Yosua berpidato, kebanyakan pemimpin-pemimpin saat itu juga sudah tua. Yosua hanya membutuhkan satu lembar pidato pemisah lalu setelah itu matilah Yousa di usia 110 tahun. Lalu bangkitlah generasi yang jahat, yang tidak mengenal Tuhan, yang berpaling dari hadapan Tuhan. Setelah Yosua mati , orang Israel tidak peduli lagi kepada Tuhan. Sebelum Yosua mati iman mereka adalah iman warisan. Bila pemimpinnya lurus, iman Israel juga lurus. Kalau pemimpinnya bengkok maka iman mereka juga bengkok. Waktu Yosua mati, mereka sudah masuk ke tanah perjanjian yang subur. Masih ada perang tapi mereka telah masuk di tanah yang subur. Tetapi manusia tidak belajar dari sejarah. Socrates (469 SM - 399 SM, filsuf dari Athena Yunani) berkata,”Kesalahan manusia terbesar adalah manusia terus-menerus membuat kesalahan dan tidak menyadari kesalahannya.” Hegel (1770-1831) mengatakan,”Sejarah mencatat bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah”. Yang dibaca di catatan Alkitab 3.000-3.500 tahun lalu, kesalahan bangsa Israel yang tidak peduli generasi muda mereka akan menjadi seperti apa. Papa-mamanya mungkin masih memegang iman yang diwariskan dari Musa kepada Yosua. Mereka menyembah Allah Yehova juga. Tetapi setelah Yosua dan orang-orang tua mati, maka bangkitlah suatu generasi yang jahat dan tidak mengenal Tuhan. Generasi yang tinggal di tanah Kanaan adalah generasi yang jahat. Bukan karena kehidupan seks mereka tidak bermoral (karena mereka tetap melakukan tindakan agama seperti memberi persembahan, pergi ke Kemah Suci dll) tetapi karena hati mereka tidak mengarah kepada Tuhan.
Kita seringkali teledor untuk mewariskan iman ke generasi berikutnya. Papa-mama semangat melayani, bahkan terkadang tidak punya waktu untuk keluarga. Dari hari Senin sampai Minggu mengikuti berbagai kegiatan gerejawi seperti paduan suara, perkunjungan, PA dll  tetapi lupa melihat anaknya yang  tidak dilibatkan. Ada anak-anak yang  merasa gereja telah merampok waktu mereka bersama dengan orang tua. Saya adalah salah satu korban seperti itu. Kalau Tuhan tidak menangkap saya, maka saya benci sekali dengan gereja, karena merasa papa tidak pernah punya waktu dengan keluarga. Anak sakit harus berusaha sendiri (survive) sendiri. Papa sibuk terus di gereja. Saya hanya menjadi penonton dari luar.

Peperangan pada Usia Muda

Betapa pentingnya menyelamatkan satu generasi itu. Baik pada Perjanjian Lama  maupun Perjanjian Baru memberikan dimensi bahwa  peperangan paling besar terjadi pada usia orang-orang muda. Iblis paling tertarik menghancurkan anak-anak muda. Anak-anak usia di bawah 17 tahun menjadi generasi yang baru. Perang yang terjadi tidak seperti zaman Israel yang menaklukan musuh untuk mendapat tanah. Tetapi ada dimensi peperangan yang jauh lebih menakutkan dari sekedar perang fisik yang menggunakan senjata seperti tombak, pisau, pistol, nuklir dan sejenisnya karena musuhnya tidak terlihatan. Musuh yang paling sulit ditaklukan adalah musuh yang tidak dikenali. Kalau musuh dikenali maka akan mudah menjadi sasaran. Musuh yang tidak dikenali lebih menakutkan dan bahaya. Alkitab mengatakan ruang peperangan rohani yang paling besar adalah memperebutkan hati orang muda, menarik orang muda , membawa mereka agar tidak datang kepada Tuhan. Peperangan kita bukan melawan darah dan daging, pisau dengan pisau, atau tombak dengan tombak . Tetapi peperangan yang sangat serius yaitu melawan si jahat yang bertahta di udara dan ingin menguasai pola pikir manusia. Itu paling sulit. Rasul Paulus mengatakan,” ”Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata dari Allah agar kamu sanggup berdiri teguh melawan siasat-siasat licik Iblis (Efesus 6:11)”. Ada dimensi peperangan yang lebih serius, tapi sering dianggap sepele karena musuhnya tidak kelihatan. Alkitab mencatat bahwa iblis melihat hidup orang muda adalah  hidup yang layak diperebutkan. Hidup orang muda adalah hidup yang berharga. Untuk menjatuhkan gereja maka jatuhkanlah orang-orang mudanya. Jatuhkan orang-orang muda di gereja maka secara perlahan gereja akan hancur.
                Keluarga besar Israel (Yakob) datang ke Mesir sebanyak 70 orang. Orang Israel sangat terkenal karena janji berkat Tuhan yang diberikan ke Abraham bahwa rahim perempuan-perempuan  Israel akan menghasilkan keturunan yang diberkati oleh Tuhan. Kandungan mereka diberkati Tuhan. Waktu mereka masuk ke Mesir jumlahnya 70 orang, tetapi Keluaran pasal 1 ada kalimat repetisi yang membuat Firaun takut, “Lihatlah bangsa itu, mereka menjadi sangat banyak , dahsyat dan berlipat ganda. Bahkan negeri ini dipenuhi oleh orang-orang itu.” Firaun tidak takut dengan orang Israel yang tua. Ia takut karena melihat orang Israel yang waktu masuk sebanyak 70 orang, tetapi sekarang jumlahnya dahsyat (beranak-pinak) dan memenuhi Mesir. Iblis memakai raja-raja  dahsyat dan yang diserang adalah anak-anak. Anak-anak menakutkan iblis. Bagi yang berusia 40 tahun ke atas, tidak lama lagi waktunya karena banyak sakitnya, berkurang banyak kapasitasnya dan tidak level (layak). Tetapi anak muda, paling fresh. Kekuatan memori dan kemampuan berbicara paling baik terjadi di usia muda. Walau datang ‘hanya’ 70 orang, tetapi orang Israel terus hamil. Firaun ketakutan dan membuat kerja paksa. Dengan kerja paksa dan dikasih makan hanya 1 hari sekali, harapan Firaun mereka pulang tidur kecapaian. Tetapi perempuan Israel tetap hamil lagi. Sehingga anak-anak dibuang dan dibunuh . Tapi Tuhan mengirim 1 anak yaitu Musa untuk dididik di istana Firaun sendiri pakai uang Firaun dan suatu kali kelak akan memukul balik Firaun. Yang dibunuh Firaun beribu anak, tetapi Tuhan menitip hanya 1 bayi saja. Anak-anak sungguh menakutkan. Dalam the art of war (seni perang) setelah penaklukan, panglima dari pihak pemenang akan mencari di mana anak raja yang ditaklukannya. Ada anak raja yang disembunyikan di ruang bawah tanah atau gua. Tetapi perang tidak bisa dimenangkan sebelum dibunuh generasi selanjutnya. Agar perang betul-betul menang final, maka kalahkan yang kecil yang digendong inang pengasuhnya (dayang-dayang). Maka raja yang taklukan musuhnya akan mencari anak-anak raja yang dikalahkannya baik dari istri maupun selirnya. Sepertinya anak itu lemah  dan tidak tahu apa-apa tetapi itu musuh potensial yang menakutkan. Zaman Yesus juga begitu, Herodes takut ada anak kecil lahir  di tanah Yudea yang akan menjadi raja. Itu membuat dia grogi dan takut. Ia peduli bayi yang akan menjadi raja. Jadi jangan main dengan generasi berikut. Kamu bisa mengalahkan papa-mamanya tetapi belum tentu anak-anaknya.

Penghancuran Generasi Melalui Kenikmatan Dunia

                Orang tua sering teledor generasi di bawah kita. Peperangan kita sangat berat. Bukan lagi fisik, tetapi peperangan bergeser. Iblis belajar bila menghancurkan fisik anak-anak Tuhan yang cinta Tuhan tidak akan habis. Maka anak-anak Tuhan dibiarkan beranak-pinak, hidup mapan dan membesarkan anak mereka lalu dihancurkanlah hati mereka. Peperangan bergeser , bukan lagi fisik pedang dengan pedang , bom atom melawan bom atom. 20-30 tahun lalu, peperangan terjadi di dunia pikir, filosofi , semua diberikan untuk menaklukkan anak muda. Teori kalahkan teori.  Buktikan bagaimana Alkitab itu benar? Maka anak muda dipaparkan bahwa Alkitab banyak kesalahan. Maka generasi berikut akan gentar sekali. Peperangan berubah ke teori (taklukkan logika). Ateis menyerang kekristenan dengan mengatakan,”Saya buktikan Allah tidak ada. Saya buktikan Yesus bukan satu-satunya Allah. Saya buktikan Kristus tidak bangkit.” Peperangan di area pengetahuan. Pengetahuan menaklukkan pengetahuan. Maka sekarang makin menjadi . Sekarang bukan lagi di logika, tetapi di basic sexual pleasure, insting , peperangan bergeser ke hiburan (di area yang seru dan gembira). Sejarah mencatat bahwa bila taklukan orang dengan  logika melawan logika, otak melawan otak, mereka tidak bisa membuang Allah. Sekarang tidak masuk peperangan, mereka menonton TV, mendengar musik , melihat film, membaca majalah, itu semua medan peperangan untuk merampas mereka dari Tuhan. Peperangan ini berat.
Suatu kali saya ditelpon dari Sekolah Dian Harapan dan Pelita Harapan. Saya ditanya apakah ada hamba Tuhan lain yang bisa mengisi jadwal khotbah di sana di kebaktian awal pengajaran baru. Lalu saya pun menyebut beberapa nama. Kemudian saya ditanya,”Bu, apakah mereka bisa bicara dengan anak-anak sehingga anak-anak bisa bertahan 30 menit mendengarkan khotbah?” Rupanya mereka kebingungan untuk mencari pembicara yang bisa menghibur anak-anak. Bagaimana anak-anak SMP dan SMA bisa bertahan mendengar khotbah selama 30 menit tidak bergerak ke kanan kiri karena mereka sudah sangat dipuaskan dengan segala hiburan. Mereka merasa bosan mendengar hamba Tuhan berkhotbah. Waktu mendengar seminar 45 menit, mereka tidak bisa tahan, mereka gelisah terutama yang remaja. Untuk anak-anak kecil masih bisa dimarahi ,”Kalau tidak mau duduk, silahkan keluar!” Tetapi bagi anak-anak remaja, mereka akan memilih keluar. Mereka tidak  mau mendengar firman. Jadi mereka minta dicarikan hamba Tuhan yang bisa bicara ke anak-anak.
Kita masuk ke generasi yang mati rasa dengan kesukaan akan hal-hal  rohani sangat rendah sekali. Mereka melihat semua iklan dan tokoh idola mereka seperti artis K-Pop dan band-band mereka. Para artis dan anggota band tersebut tidak ada yang berkata,”Pakai baju seperti saya!” ,”Kasih tangan seperti saya” atau “Keluarkan lidah seperti saya” namun herannya anak-anak hanya mendengar mereka beryanyi lalu mereka mengikuti gerakan artis idola mereka. Ada ‘nabi’ dunia yang merampas anak-anak kita. Peperangan ini menjadi tidak adil. Saat orang dewasa mengajar anaknya, modelnya membosankan. Ada hamba Tuhan, pembina remaja, pendeta yang bicara dengan mereka dengan cara one way (monolog) dan  tidak pakai power point, tidak ada seru-serunya saat mereka diminta duduk mendengarkannya. Lalu mereka menjadi berat dan tidak seimbang. Kita ajari mereka takut akan Tuhan tapi dengan cara monolog. Padahal dunia berusaha merampas hati mereka. Sewaktu mereka berada di kamar sendiri  yang ber-AC, minum coke sambil berselancar di dunia maya maka ‘sampah’ pun masuk ke pikiran mereka.
Ada seorang anak perempaun kelas 5 SD yang kecanduan menonton video porno. Ia mendekati siswa laki-laki yang kelas 6 SD. Ia tidak bisa mengendalikan diri dan melakukan hal-hal yang memalukan. Rupanya ia menonton film porno pertama kali dari kamar papa-mamanya yang lupa menyimpannya. Dulu kita takut anak-anak akan  dirusak di luar rumah. Sehingga kita melarang anak untuk berkumpul dengan kelompok tertentu tetapi sekarang anak-anak dirusak di rumah dan di kamar sendiri. Semua ide ‘sampah’ masuk otak anak lewat lagu, musik, kartun,  film, fashion (cara berpakaian) dan semua itu mereka terima. Tidak ada yang menyuruh mereka untuk pakai baju apa dan mereka hanya melihat saja sambil tertawa-tawa. Anak menyanyikan lagu dunia tanpa mengetahui inti dan artinya. Saya berkomentar ke adik saya,”Anakmu kok bisa nyanyi seperti itu?” Padahal iman timbul dari pendengaran. Kalau yang didengar firman Tuhan, maka imanmu akan bertumbuh sesuai firman Tuhan, tetapi bila mereka mendengar sampah maka imanmu menjadi sampah. Zaman dulu perselingkuhan merupakan hal yang nista (hina-dina) sekarang jadi trend, tetapi sekarang ada lagu yang berlirik,”Jadikan aku yang kedua.” Apakah lagu yang dinyanyikan tersebut bisa dimengerti artinya oleh mereka? Dunia menghibur dan menarik hati mereka. Ada video musik di MTV di mana perempuan penyanyinya berpakaian hampir telanjang. Bajunya minim sekali tetapi keponakan saya mengatakan ,”Keren” padahal komentar seperti itu bagi kita  bisa sport jantung. Mereka melihat hal itu dari video musik sambil tertawa-tertawa dengan temannya. Lalu saat di-counter oleh hamba Tuhan di seminar, mereka berkata, “Teori itu bagus di hari minggu.” Senin-Sabtu mereka hidup dengan kesenangan mereka sendiri. Dunia menanamkan ideologi mereka dengan menggunakan kenikmatan. Dan gereja pun dengan susah berusaha mengambil hati mereka lewat edukasi (pengajaran). Namun kita jangan gentar. Alkitab mengatakan,”Ajarkan itu berulang-ulang.” tetapi dengan bijaksana. Mengulang tanpa bijaksana bisa membuat mereka membenci gereja.

Ketidakpeduliaan Hal Rohani dan Kenyamanan Hidup yang Menghancurkan Generasi Muda

Untuk menjual produk minuman dunia menggunakan pola Alkitab yaitu dengan cara memasang iklan berulang-ulang walau harga tayang iklan tersebut selama 5 detik bisa bertarif puluhan juta rupiah di TV. Prinsipnya dilakukan berulang-ulang. Diulang terus sehingga dengan mendengar musiknya saja kita tahu itu iklan produk apa. Prinsipnya siapa yang mengajarkan pertama kali  akan diingat. Hal ini terus berlaku sehingga menjadi kepercayaan. Mari kita belajar, sejarah mencatat bagaimana anak-anak muda dirampas oleh  dunia ini. Bagaimana peperangan itu dibukakan di hadapan kita. Masalahnya ada 2 yaitu dalam diri orang tua dan gereja. Mengapa setelah Yosua mati, lalu bangkit generasi di bawahnya yang tidak mengenal Tuhan?” Gereja teledor dan  tidak peduli dengan hal-hal rohani. Ini tidak fokus dalam pendidikan anak yaitu ketidakpedulian hal rohani. Tetapi saya perhatikan hal ini terjadi walau tidak semuanya salah. Ada kegiatan yang dicatat di majalah dinding gereja seperti lomba basket, lomba fashion show. Saya kaget di gereja ada brosur fashion show untuk memperingati 17 Agustus. Lalu diadakan latihan band. Hal ini tidak salah, tetapi dampaknya anak dibuat sibuk saja tetapi tidak ada relasi kedekatan dengan Tuhan (kerohanian mereka). Pembimbingnya berkata, “Penginjil tahu generasi anak-anak tidak suka datang ke PA atau KTB kecuali dengan nonton bersama sebulan sekali. Mobil gereja menjemput mereka. Apa ini solusi untuk memenangkan anak kita?” Supaya dapat fans pengikut yang banyak (kuantitas), tetapi kita kehilangan kualitas iman mereka (kehilangan iman yang sungguh-sungguh di hadapan Allah) .
Kemungkinan besar, bangsa Israel sudah nyaman masuk tanah perjanjian. Orang tua tidak lagi mengajar dan membimbing untuk mengenal Tuhan. Mereka tidak perang lagi melainkan mereka membangun rumah, beternak, bercocok tanam, semakin kaya dan tidak peduli hal rohani. Kedua, kenyamanan hidup. Saya dibesarkan di Madura. Orang-orang di tempat saya tinggal kebanyakan muslim (95%) dan militan. Saya belajar agama islam di sekolah supaya dapat nilai rapot. Keinginan mereka untuk mendidik anak berkenan di hadapan Tuhan tinggi sekali. Ada seorang bapak yang punya istri lebih dari satu. Suatu kali sang bapak ini berlari-lari dan ketika ditanya,”mengapa?” Dia menjawab,”Saya mau pulang, istri saya mau melahirkan.” Dia tidak tahu anak yang akan dilahirkan anak yang ke berapa dan urutan istri yang mana juga tidak tahu karena mereka banyak. Tetapi ia berkata, “Saya mau  menjadi papa yang mengendong anaknya, untuk memberikan 2 kalimat syahadat.” Kalau anak lahir pertama kali, ia harus memahami asma Allah. Saat menghirup nafas mendengar kalimat syahadat beda (ini beda dengan orang Kristen, saat anaknya lahir yang didengarkan adalah musik klasik).

Didiklah Anak-Anak di Usia Muda untuk Takut akan Tuhan!

                Anak orang Islam harus pakai jilbab agar mereka tahu dibesarkan dari keluarga Muslim. Di belakang rumah saya dulu ada langgar (mesjid kecil). Anak-anak nya dididik menyanyikan lagu “Happy ya ya ya . happy he ye.ye.. aku ini seorang muslimah, aku rajin berdoa dan suka sadakoh, aku ini anak soleha”. Saya kaget. Papa saya berkata,”Kamu terlalu enak tinggal di lingkungan Kristen sehingga kamu lupa keinginannya” Mereka belajar tapi tidak sebentar. Saat radikalisme bangkit kita tertidur. Mereka belajar dengan mendidik orang pasang bom dan mereka merasa dengan berbuat demikian dianggap “menikah dengan Allah”. “Itu 20 tahun lalu kamu tidak baca koran?” papa saya mengingatkan. Waktu 1.000 orang dikirim untuk jadi guru agar bisa mendidik jadi orang militan. Untuk menjadi besar, mereka dididik secara ekstrim. Jangan didik waktu mereka sudah besar (harus usia paling kecil). Amerika  pernah menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, lalu Jepang bangkit kerja keras mati-matian. 50 tahun kemudian Amerika  hancur dari dalam sendiri. Anak-anaknya rusak dan tidak tahu bekerja. Mereka mendatangkan tenaga kerja dari Asia. Sedangkan mereka sendiri hanya ingin menjadi artis, berjudi dan mereka tidak mau kerja. Generasi mudanya rontok. Jepang bangkit dan mendidik orang dari muda. Amerika  menghancurkan fisik orang Jepang, namun anak Jepang dididik untuk menjadi orang paling pintar. Etos kerja orang Amerika  merosot, kenyamanan dan kemapanan membuat rontok. Generasi yang dididik sekarang tidak tahan uji , instan, tidak mau berjuang.
Di sekolah Calvin, anak kelas 5 SD diajar untuk menyapu dan ini dilakukan seadanya. Ada yang baru lari sedikit terjatuh, lalu pura-pura sakit. Anak sekarang merupakan hasil produk instan yang kurang berhikmat. Jadi orang tua maunya anak tidak boleh susah karena  anak sekarang dididik untuk bisa melanjutkan bisnis keluarganya. Mereka pintar tapi kurang berhikmat dan tidak takut akan Tuhan. Mereka tidak mau bekerja keras. Jika merasa susah sedikit mereka pun bunuh diri. Suatu kali saya mengunjungi jemaat. Di rumahnya ada musik klasik dan  tulisan “Hush... my baby is asleep.” Lampu dibuat remang untuk tidak menganggu bayinya. Sewaktu bicara sedikit keras, saya diingatkan bahwa saya bukan sedang berkhotbah jadi bicaranya agar pelan-pelan saja. Sehingga saya pun bicaranya berbisik-bisik. Kalau anak mau keluar makan, ada mangkok berisi air panas, semuanya tersedia dan sang anak sangat dilindungi. Saya berkata ke ibunya, ‘Saya kasih tahu ya, itu anakmu kalau sudah besar, saat mendengar suara anjing kentut pun bisa sakit jantungan.” Dia berkata,”Jangan begitu dong!” Masa anak jatuh langsung panik dan suster yang menjaganya langsung dimarahi? Binatang dapat mendidik anak dengan lebih bijaksana. Seekor induk burung rajawali akan mendorong anaknya untuk keluar hingga terjatuh dari sarangnya. Namun sebelum terbentur tanah, induknya terbang mengejar dan mengangkatnya kembali. Burung rajawali ternyata lebih berhikmat. Tuhan telah memberi insting kepada binatang, karena kalau tidak begitu maka anaknya rusak.   Sedangkan bila seorang ibu sudah menyiapkan semua untuk anaknya maka anaknya akan susah mandiri dan kita akan kehilangan generasi kita. Anak kita punya kebutuhan rohani mereka. Doakan satu persatu dan sebutkan nama mereka. Ceritakan firman Tuhan kepada mereka. Bila anak salah, maka berani untuk memberikan hukuman. Jangan hanya memberikan kenikmatan. Anak Pdt. Stephen Tong, saat belajar di Amerika juga bekerja cuci piring. Sedangkan anak di tempat kita kalau boleh tidak ngapa-ngapain. Padahal orang muda mempunyai 3 tantangan yaitu kedagingan, keinganan mata dan keangkuhan hidup. Itu PR orang-orang muda. Kiranya Tuhan memberkati gereja ini dan sebagai orang tua. Socrates berkata,”Apa gunanya kamu memperoleh setiap jengkal tanah kalau kamu kehilangan generasi muda?” Dengan kata lain ia berkata, “Bodoh kalau kamu mendapat setiap jengkal tanah tapi kehilangan generasi muda. Kiranya anak muda dididik untuk takut akan Tuhan.