Monday, March 17, 2014

Kristus adalah Kegenapan Hukum Taurat. Apa Artinya untukku?








Matius 5:17-20
17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
18  Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
19  Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
20  Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Pendahuluan

                Setiap kali penulis Alkitab menuliskan kitabnya, maka ia harus menyesuaikan tulisan dengan konteks dan pembacanya. Hal ini ibarat, warta GKKK Mabes yang sebagian menggunakan bahasa Mandarin, tidak cocok dengan gereja yang saya layani karena jemaatnya  berbahasa Jawa. Injil Matius ditujukan pada orang-orang Yahudi maka terdapat banyak sekali tulisan yang terkait dengan adat dan budaya Yahudi di dalamnya. Salah satu kekuatan orang Yahudi adalah ketaatan mereka pada hukum Taurat. Bahkan ada orang Yahudi yang berkata , “Silahkan bunuh saya tetapi jangan pernah kutak-katik hukum Taurat”. Hukum Taurat memperoleh tempat utama dalam bangsa Yahudi. Sehingga begitu Yesus Kristus melakukan sesuatu yang menyimpang dari hukum Taurat, mereka marah luar biasa. Mereka merencanakan pembunuhan jauh-jauh hari karena menganggap Yesus melanggar hukum Taurat. Benarkah Yesus melanggar atau meniadakan hukum Taurat? Tidak! Yesus menggenapi hukum Taurat.

Terdapat 3 hal yang perlu dicatat pada perikop terkait dengan hukum Taurat ini :

1.     Yesus bukan datang untuk meniadakan hukum Taurat. Matius 5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Yesus memulai khotbahnya dengan “Janganlah kamu menyangka” yang bermakna “Janganlah kamu curiga” bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat. Perkataan “Jangan kamu menyangka” diintonasikan dengan tegas. Hal ini dikatakan karena ada beberapa kali Yesus “melanggar” hukum Taurat. Contoh : Yesus mengijinkan muridNya memetik gandum pada hari Sabat (Markus 2: 23 Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum.). Waktu ditanya alasannya, Yesus mengatakan, "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat (Markus 2:27). Bahkan akhir dari kisah itu Yesus mengatakan, “Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." (Markus 2:28). Jadi Aku (Yesus) mempunyai hak menggunakan hukum Taurat untuk melakukan apapun juga (Yesus menyembuhkan orang sakit, orang lumpuh dan orang buta  pada hari sabat). Sebelum melakukannya, Yesus bertanya, "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" (Markus 3:34). Bagi orang Yahudi, pada hari Sabat jangan melakukan apa pun. Orang berdosa bukan hanya karena berbuat jahat, tetapi kalau diam-diam saja (Yak 4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa). Alkitab dengan jelas mengatakan hukuman atas orang-orang yang diam-diam saja, “Kamu akan binasa kalau tidak memberitakan Injil kepada orang yang akan binasa itu”. Mereka mengatakan, “Tuhan kami tidak melakukan apa-apa kepada mereka”. Tuhan berkata, “Justru karena itu, AKu menghukum kamu”. Orang Yahudi pada hari sabat  diam-diam saja. Yesus berkata , "Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?" (Lukas 14:5). Sudah berapa banyak Allah menghukum manusia karena menunda?  Berapa banyak yang dihukum Tuhan karena diam-diam saja? Maka Yesus mengatakan,”Hari Sabat adalah hari yang tepat untuk berbuat baik”  atau lebih tepat “Setiap hari adalah hari yang tepat untuk berbuat baik termasuk hari Sabat”. Maka saat berbuat baik , jangan menunda! Jadi kalau hari ini digerakkan untuk berbuat baik, maka lakukanlah! Jangan tunggu minggu depan karena mungkin tidak ada lagi kesempatan yang sama. “Senjata ampuh” yang diberikan iblis adalah “tunda saja”.
          Ada seorang ibu yang suka memberitakan Injil. Tiap hari ia memberitakan Injil pada orang-orang yang ditemui. Bahkan saat ia lanjut usia dan matanya sudah kabur, ia tetap memberitakan Injil. Ada seorang majelis muda mengatakan, “Bu jadi orang Kristen jangan sok-lah. Sesudah dari gereja pulang saja”. Terhadap perkataan ini, si Ibu tidak lemah semangat dan ia tetap memberitakan Injil. Suatu saat ia tidak bisa membedakan lagi antara pria atau wanita , pohon atau orang karena sudah begitu kabur matanya. Tetapi tetap semangat memberitakan Injil. Suatu kali ia berjalan dari toko ke jalan lalu ia bertemu patung untuk promosi barang. Karena ia kabur, ia mengira patung itu orang dan ia menginjilinya, “Kamu percaya saja kepada Yesus!” Karena tidak ada jawaban, ia berpikir orang itu setuju dan ia berkata, “Kalau begitu saya doakan kamu supaya percaya”. Maka ia pun berdoa untuk keselamatannya. Pada saat yang sama majelis muda lewat dan melihat kejadian tersebut. Lalu ia berkata, “Bu jadi orang Kristen jangan sok-lah, masa patung diberitakan Injil?” Ibu ini terkejut. Tapi komentarnya, “Bagiku lebih baik memberitakan Injil kepada patung daripada menjadi orang Kristen sama dengan patung”. Coba periksa berapa banyak “patung” di gereja ini? “Doing nothing” sama saja “digging something” (tidak melakukan apa-apa sama saja dengan menggali sesuatu yaitu menggali kuburan dan kegagalannya sendiri). Untuk merusak gereja tidak perlu melakukan apa-apa tapi diam saja maka gereja akan hancur. Jadi jika tidak melakukan apa-apa, ibarat menggali kuburan sendiri. Maka Yesus berbuat sesuatu tiap hari bahkan pada hari Sabat. Hudson Taylor saat KKR pernah mengundang banyak orang, Semua orang harus terlibat dalam pelayanan. Semua peserta KKR diberi kertas untuk menulis komitmennya dalam melayani Tuhan. Semua menulis komitmennya. Tetapi ada seorang pemuda yang tidak berani menulis dan tetap membawa kertas kosong. Saat bubaran, dia pulang terakhir untuk bertemu Hudson Taylor. Saat bertemu, ia menyerahkan kertas kosongnya. Kemudian sang pendeta bertanya,”Mengapa kamu tidak menulis sesuatu?” Ia menjawab, “Saya tidak bisa apa-apa. Saya tidak bisa bernyanyi, main musik, tidak bisa menterjemahkan, tidak bisa computer”. Hudson kemudian bertanya,. “Apa pekerjaanMu?” Dijawabnya, “Akrobat”. Hudosn berkata, “Kalau begitu kamu main akorbat saja di gereja”. Jadi pagi-pagi sekali sebelum gereja dimulai dia sudah berdiri dan main acrobat. Legenda ini dimulai saat ia meloncat sampai terjatuh dengan sempurna dan berdiri di depan patung Bunda Maria di gereja Katolik tersebut. Patung tersebut lalu menggerakkan tangannya dan melap keringat pemuda tersebut. Apa artinya? Loncat-loncat diterima, yang ditolak adalah diam-diam saja dan ngantuk. Gereja hancur bukan karena kejahatan di gereja tapi karena jemaat yang pasif. Saya selalu berkhotbah dimana pun, “Gereja hancur bukan karena kejahatan aktif di gereja tapi karena jemaat yang pasif. , tidak melakukan apapun juga”. Tuhan berkata, “Aku justru memanfaatkan hari sabat untuk berbuat sebanyak mungkin”. Yesus menggunakan kata “meniadakan” 4 kali artinya Yesus serius sewaktu berkata, “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat. Satu iota, titik pun tidak akan ditiadakan”. Satu iota (titik) dalam bahasa Ibrani, suatu tanda yang tidak mempengaruhi bunyi dan artinya. Artinya kalau diambil pun tidak mempengaruhi arti kalimat. Yang itu saja “Saya tidak akan tiadakan”, maka Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat.

2.     Yesus menggenapkan hukum Taurat karena hukum Taurat gagal membuat manusia dekat kembali kepada Allah. Justru hukum Taurat membuat manusia tahu bahwa manusia adalah berdosa (dulu aku tidak pernah tahu sampai ada peraturan yang aku baca). Rasul Paulus mempunyai pergumulan yang luar biasa. Kalau kita mencari contoh orang yang taat hukum Taurat maka harusnya Rasul Pauluslah yang menjadi contoh. Ia berkata, Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.  Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku (Roma 7 : 19-20). Mustahil manusia bisa mentaati Taurat. Kita berdosa bukan karena ingin berbuat dosa, tetapi dosalah yang memaksa kita berbuat dosa. Pada akhirnya seperti Rasul Paulus  berkata “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24). “Aku manusia celaka” juga menjadi teriakan kita. Aku ingin memberi justru merampas, aku ingin mengasihi tapi malah membenci, aku ingin damai tapi pertengkaran yang dilakukan. Maka ia berkata, “Akulah manusia celaka”. Pertanyaaan agung dari Rasul Paulus pada Roma 7:24, “Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Saat kita begitu frustasi dan stress dan mengalami tekanan berat , pasti pertanyaan yang muncul, “Siapakah yang sanggup menolong aku, memecahkan persoalanku, sanggup menolong rumah tangga, pekerjaanku, anak-anakku, orang tuaku, gerejaku?”  Pertanyaan yang sungguh-sungguh. Siapakah yang sanggup? Hari ini mungkin kita berkata, “Tuhan aku punya masalah yang besar. Pergumulan yang besar. Aku tidak tahu cara keluarnya bagaimana.” Tetapi setelah khotbah ini saya berharap kita semua mengatakan, “Hai masalah aku punya Allah yang besar”. Allah besar luar biasa, kenapa kita lemah dan lesu seperti orang yang kalah terus? Tidak kebetulan saya datang ke tempat ini untuk mengingatkan bapak-ibu agar tidak letih, lesu, lemah dan letoy. Semangat yang membuat kita sukses. Setelah ada pertanyaan “Siapakah yang sanggup?” harus ada jawabannya. Syukur kepada Allah, oleh karena di dalam Yesus Kristus .  apapun masalah kita , Yesuslah jawabannya! Pertanyaan, “Aku manusia celaka, siapakah yang sanggup membebaskan aku dari tubuh celaka ini?” Syukur kepada Allah di dalam Yesus Kristus, Yesus telah menggenapi hukum Taurat, karena kita tidak mampu menggenapi, tidak sanggup memikul beban melakukan hukum taurat. Kalau tidak sanggup kita akan pergi menuju neraka. Tetapi Tuhan mengangkat supaya kita bisa berdiri tegak berjalan menuju surga. Maka 8:1 Roma berkata,” Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Jadi tuntutan hukum Taurat yang tidak sanggup kita lakukan, diambil alih oleh Tuhan Yesus sehingga kita tinggal tenang saja. Ini memang bagian dari Allah, kita tidak sanggup memikul hukum Allah. Ini bagian dari Allah. Biarkanlah Allah menyelesaikan dan Ia telah menyelesaikannya! Sehingga di atas kayu salib Yesus berkata, “Sudah selesai!” Tapi kita tidak bisa santai saja. Ada bagian yang Allah kerjakan dan ada bagian yang kita kerjakan. Maka biarkanlah Allah dan kita mengerjakan bagian masing-masing. Jangan sampai , Allah sudah mati di kayu salib lalu kita diam saja. Tidak bisa! Semangat yang kita pegang, apa yang kita tidak sanggup lakukan, biarkanlah Allah lakukan. Jangan kita malas, dan hanya membiarkan Tuhan yang lakukan. Datang ke gereja adalah bagian kita. Jangan bilang, sekali-sekali tidak datang, biar di rumah saja. Tidak bisa. Sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan, lakukan sesuatu bagi Tuhan.

3.     Yesus menggenapkan hukum Taurat artinya menyempurnakannya  sehingga makna hukum Taurat menjadi sempurna. Yesus datang suapya kita bisa sempurna menuruti hukum Tuhan. Yang menarik  kata kunci dari kitab Matius : “digenapi”. Pada pasal 1-4 berkali-kali dikatakan : “maka digenapilah”. Maka tidak berlebihan ketika Yesus berkata, "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”(Mat 5:17). Apa yang dulu merupakan bayang-bayang di kitab Taurat, sekarang di dalam Kristus menjadi nyata. Pada Kej 3:15 Allah berfirman, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." Kalau kita berada di kitab Kejadian, kita tidak tahu maksud Allah berkata seperti itu, tetapi di Perjanjian Baru kita tahu, maksudnya Yesus diremukkan tumitnya oleh iblis tapi Dia meremukkan kepala si iblis. Apa yang dulu hanya bayang-bayang sekarang jadi kenyataan di dalam kristus. Apa yang dulu mudah-mudahan sekarang menjadi kepastian. Maka kekristenan bukan agama mudah-mudahan, tetapi agama yang pasti, ya dan amin. Kalau ditanya, “Apakah anda masuk surge?” maka jawabannya bukan “insya Allah” tapi “pasti masuk surge”. Bahkan kita sudah ke surga sebelum kita meninggal karena sejak kita menerima Kristus kita menjadi warga negara surga. Yesus mengerjakan bagian kita untuk memberi kepastian kita pasti masuk ke kerajaan surga,  kita diberi pengampunan atas dosa-dosa kita.
          Suatu kali Martin Luther didatangani iblis. Tiba-tiba iblis melemparkan gulungan kertas dan berkata, “Baca itu!” Lalu gulungan kertas itu diambil dan dibaca oleh Marin Luther. Isinya daftar dosa yang dilakukan oleh Martin Luther. Ada tanggal dan jam. Martin Luther gemetar. Dosanya dicatat lebih banyak dari yang dia ingat. Di agama lain, diajarkan ada 2 malaikat di kiri kanan pundak manusia. Malaikat di sebelah kanan mencatat semua kebaikan dan malaikat di sebelah kiri mencatat kejahatan manusia tersebut. Malaikat yang di kiri kecapaian mencatat dosa manusia. Sementara malaikat di sebelah kanan minta cuti daripada tidak kerja, karena ditunggu-tunggu tidak ada perbuatan baik yang dilakukan manusia.  Kemudian iblis berkata , “Hai Martin Luther,  aku kira kamu selamat tapi dosamu banyak sekali. Itu yang saya catat dan yang ingat.” Jadi Marin Luther gemertar dan berpikir, “Jangan-jangan aku tidak selamat gara-gara banyak dosaku.” Lalu iblis tertawa dan melemparkan lagi gulungan berikutnya. Ketika gulungan kertas kedua dibuka oleh Martin Luther, ternyata ia lebih kaget lagi. Itu dosa masa depan Martin Luther. Banyak orang berpikir untuk berbuat dosa di masa depan sehingga ada pembunuhan yang direncanakan 2 bulan lalu, pencurian yang direncanakan, perceraian yang direncanakan, pertengkaran direncanakan, iblis tahu dan mencatatnya. Martin Luther kaget. Ia gemetar, “Oh Tuhan bagaimana aku menyelesaikan hal ini?” Hal ini sama seperti teriakan Rasul Paulus, “Aku manusia celaka. Siapa yang akan menyelamatkan aku?” Martin Luther teringat, Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba (Yes 1:18) lalu ia menggulung kertas itu dan dengan tegas berkata ke iblis,”Balik hai iblis! Enyahlah! Darah Kristus menghapus dosaku.” Sehingga iblis balik ke neraka dan tidak kembali lagi. Yesus telah menggenapi apa yang kita tidak sanggup genapi. Yesus telah lakukan apa yang tidak sanggup kita lakukan. Kita mesyukuri apa yang telah Tuhan kerjakan bagi kita. Kita berterima kasih untuk apa yang telah diperbuatNya bagi kita dengan cara melakukan apa yang bisa kita layani. Memberi apa yang bisa kita beri, berdoa apa yang bisa kita doakan. Tuhan ingin kita melayani Dia karena Dia telah melayani kita. Tidak ada lagi yang perlu kita perbuat untuk menggenapi hukum Taurat, karena Yesus telah menggenapinya


Oleh :  Pdt. Gunar Sahari

Pdt. Gunar Sahari melayani di Gereja Presbyterian Indonesia dan mendirikan Sekolah Teologia Pelita Dunia berlokasi di Gading Serpong.

Sunday, March 9, 2014

Allah Perjanjian Lama Berbeda dengan Allah Perjanjian Baru. Betulkah?

Pdt. Irwan Hidayat

Yoh 4:22-24
22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.
23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
24  Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Pendahuluan

Alkitab adalah firman Allah yang tertulis di mana kita bisa membaca kebenaran di dalam Alkitab dan melihatnya sebagai satu kesatuan. Melihat kebenaran Alkitab sebagai kesatuan artinya berita yang ada di dalamnya fokus (inti) nya satu yaitu  Alkitab ingin menyampaikan tindakan (karya kasih) Allah demi keselamatan manusia. Walaupun terdiri dari 2 bagian besar yaitu Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB)  tetapi keduanya bermuara pada satu hal yang sama yaitu perbuatan Tuhan  yang luar biasa, anugerah Tuhan untuk manusia. Namun ada orang-orang (termasuk orang Kristen) yang tidak mampu untuk melihat dan memperlakukan Alkitab sebagai satu kesatuan atau mereka melihat bahwa Akitab terdiri dari 2 bagian yang mempunyai berita dan fokus yang berbeda. Dengan kata lain mereka mengatakan bahwa  peraturan yang berlaku di PL tidak berlaku di PB atau kisah-kisah dan pernyataan – pernyataan di PL tidak ada kaitan dengan PB.  Contoh : hukum Taurat yang dibahas panjang lebar di PL dikatakan tidak relevan dengan PB (hanya berlaku untuk PL) atau sekarang di zaman anugerah hukum Taurat tidak berlaku lagi. Kesulitan orang seperti ini adalah bukan hanya tidak melihat kontiniutas (kelanjutan) PL dengan PB , tetapi mereka tidak bisa melihat Alkitab sebagai sebuah kesatuan. Mereka melihat sebagai 2 berita (pokok, inti, fokus, penekanan) yang berbeda. Orang yang punya cara pandang ini terhadap Alkitab akan jatuh kepada satu sikap bahwa  Allah PL dan PB punya penekanan dan berita sendiri-sendiri, maka Allah versi PL dengan versi PB adalah Allah yang berbeda. Betulkah? Allah di PL dan PB adalah pribadi yang berbeda?

3 Alasan Orang Mengatakan Allah PL Berbeda dengan Allah PB

1.     Nama Allah pada PL dan PB berbeda.  Kel 3:13-14  Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya?  —  apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.". Ketika membahas nama Allah di PL , maka orang biasanya merujuk pada versi ini. Nama "AKU ADALAH AKU" di dalam bahasa Ibrani berasal dari kata YHWH (Yahweh, Yehova). Sehingga mencuat isu ada kelompok Kristen yang tidak memanggil Tuhan Allah tapi Bapa Yahweh. Sedangkan nama Allah di PB sesuai dengan berita yang disampaikan kepada Yusuf oleh malaikat pada Mat 1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Jadi di PB nama Allah adalah Yesus sedangkan di PL Yahweh sehingga Allah PL dan Allah PB dianggap sebagai pribadi yang berbeda. Benarkah? Satu hal yang perlu diketahui bagi Allah nama bukan saja sekedar sebutan sedangkan bagi kita nama itu adalah sebutan. (orang hanya menyebut satu individu dengan sebutan yaitu nama). Ketika bicara nama Allah, itu bukan sekedar pribadi, tapi menjelaskan tentang siapa Dia. Menjelaskan bagaimana karakter (sifat) Nya. Yahweh (I am that I am) ternyata bukan hanya sekedar sebutan. Nama itu menunjuk kepada keberadaan Allah yang kekal. Dalam bahasa Inggris, digunakan present tense yang menunjukkan sesuatu yang terus menerus berada. Berarti Aku kekal dan terus menerus ada. Bukan hanya menunjukkan kekekalanNya, tetapi menjelaskan naturNya yang tidak pernah berubah. Nama Yahweh mengingatkan Musa bahwa Allah yang memperkenalkan diri kepadanya adalah yang Allah yang sama yang sudah mengikat perjanjian dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Tuhan berkata, “Akulah Tuhan yang di dalam kesetiaan sudah mengikat perjanjian dengan bapa leluhurmu. Dan sekarang Aku akan membuktikan janjiKu kepada umat Israel”. Kata Yahweh ingin menggambarkan pribadi Allah yang setia, tidak berubah yang memegang janji agung kepada umatNya dan akan membebaskan umatNya dan membawa umatNya ke tanah perjanjian, masuk kepada anugerah. Makna itu juga yang kita dapati dalam nama Yesus. Yesus di dalam bahasa Yunani punya arti Allah menyelamatkan (Mat 1:21). God saves. Maka kalau dilihat secara teliti makna yang terkandung, Allah menyediakan diri sebagai pemegang janji seperti waktu dikatakan ke Musa bahwa ia akan memegang janji untuk menyelamakan umatNya, Allah menuntun umatNya untuk ke tanah perjanjian yaitu hidup yang kekal. Allah berjanji setelah Adam-Hawa jatuh ke dalam dosa, Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya (Kej 3:15). Allah berjanji akan menyelamatkan dan janji ini digenapi di dalam Yesus yang artinya God Saves. Yesus adalah  Allah yang memegang janjiNya dan menuntun umatNya. Pada PL Yahweh adalah Allah yang memegang janjiNya untuk melepaskan umat Israel dari perbudakan bangsa Mesir, sedangkan pada PB Allah melepaskan manusia dari dosa dan membawa mereka kepada hidup kekal. Dari nama Allah, kita mendapat kesimpulan, Allah di PL adalah pribadi yang sama yang menyatakan diri kepada kita di dalam Yesus Kristus.

2.     Allah PL berbeda sifatnya dengan Allah PB. Pada PL, sifat Allah pemarah, galak, penuh murka menyala-nyala, seperti pribadi yang “haus darah”. Contoh : 1 Sam 15:2-3 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir.  Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai." Waktu Tuhan menyuruh Saul memberantas musuh Israel dengan jalan dibunuh tanpa sisa (semua harus mati) sehingga Allah PL kalau sudah marah mengerikan. Contoh kedua 2 Sam 6:6-7  Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir.  Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.. Saat Tabut Perjanjian Tuhan tergelincir dan hampir jatuh, dikisahkan Uza mencoba menahannya agar tidak jatuh, namun Allah marah sekali dan membuat Uza menemui kematian. Itu yang dijadikan alasan, Allah PL pemarah, galak, haus darah, Sedangkan di PB justru kita menyaksikan wajah yang berbeda dengan di PL. Di PB mendadak wajahNya penuh belas kasihan, kesabaran, banyak pengampunan, dan banyak memberi kesempatan orang memperbaiki kesalahan. Mat 9:36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Allah di PL seakan-akan tidak mengenal belas kasihan. Allah tegerak hatiNya oleh belas kasihan. Belas kasihan muncul di PB. Yoh 21:16-19 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."  Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku." Melalui pertanyaan, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Allah memberi kesempatan kembali kepada Petrus walau Petrus sebelumnya telah menyangkalNya. Kenapa hal seperti itu tidak muncul di PL? Jadi berdasarkan hal sifatnya, Allah Pl beda dengan Allah PB. Betulkah? Allah PL yang galak, beda dengan Allah PB yang penuh belas kesihan?  Imamat 19: 2  "Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus. Kudus artinya khusus terpisah dari yang lain, khusus disendirikan tidak bercampur dengan yang lain, tidak sama dengan yang lain, satu-satunya. Frase “Sebab Tuhan Allahmu kudus” hendak mengatakan atribut Allah, bahwa tidak ada yang menyamai (tidak ada yang seperti) Dia. Aku Tuhan Allahmu adalah satu-satunya, Allah yang kudus. Sebagai Allah yang kudus tidak bercampur dengan yang lain. Setelah itu baru kita bisa memahami Allah di PL yang begitu galak dan, tegas. Alkitab ingin menceritakan salah satu atribut Allah yaitu Allah yang kudus tidak bisa mentolerir kecemaran, kejahatan dan nista, Maka ia berkata kepada Musa: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.".(Kel 3:5). Artinya manusia dalam dosa dan kecemaran, tidak bisa mendekati Allah yang kudus. Sehingga Allah memerintah hal seperti itu seperti kepada Uza  yang mati. Allah ingin mengatakan “Aku ini kudus, manusia yang penuh kecemaran dan dosa, kekotoran, kenajisan, tidak bisa mendekati, menyatu denganKu karena Aku terpisah dari semua”. Allah di PL sangat menekankan kekudusan. Di PB tidak menekankan? Justru di PB juga menekankan bahwa ia pribadi kudus yang dinyatakan dalam kasihNya sampai di puncaknya mati di kayu salib. Di PB, banyak tentang kasih dan kemurahan Allah. Itulah kasih  yang satu-satunya, tidak ada kasih yang seperti itu, tidak ada kemurahan, belas kasihan, pengampunan yang diberikan oleh dunia selain dari yang Allah berikan. Sehingga Allah PB adalah yang sama konsisten yang menyatakan kekudusan di dalam kasih dan kemurahan. Dari sini kita belajar bahwa Allah tidak berubah, Dia tetap Allah  yang sama.

3.     Karya Allah di PL berbeda dengan di PB. Orang digiring berpikir Allah di PL berkarya di dalam penciptaan, sedangkan di PB Allah berkarya di dalam penyelamatan. Betulkah? Dalam doktrin Allah Tritunggal, Yesus Kristus sudah ada baik di PL maupun di PB. Kejadian 1:26  Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Pada ayat tersebut digunakan kata ganti orang “kita”. Kata “kita” kalau dicek di PL digunakan kata ganti orang pertama jamak (kita, plural). Ini adalah teks paling awal yang ingin menyatakan kepada kita bahwa Allah Tritunggal itu ada sejak kekal, bahkan waktu peristiwa penciptaan, bukan hanya karya Bapa tetapi selain Bapa, Anak dan Roh Kudus hadir. Yoh 1:1  Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Yesus disebut firman (logos). Dalam bahasa Inggris dikatakan, In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God. Jadi penciptaan tidak hanya dilakukan oleh Bapa. Karya keselamatan itu tidak hanya karya Kristus. Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:34). Jadi keselamatan manusia adalah kehendak Bapa, untuk menuntun orang datang kepada keselamatan. Jadi keselamatan juga dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Maka dilihat dari karyaNya, Allah tetap sama di PL dan PB. Dia yang mengerjakan semuanya itu.

Arti Allah di PL sama dengan Allah di PB
Ibrani 13 :8 Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. Kalau Allah tetap sama maka ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita. Ada pribadi yang tidak berubah. Ketika semua orang dan segala sesuatu berubah, ada 1 (satu) yang tidak berubah yaitu Tuhan. Kita bergantung penuh kepada Tuhan yang tidak berubah. Sampai hari ini, itu menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita. Ada orang yang dulunya baik sekarang menjadi jahat. Maka bila semua berubah  yang bisa jadi andalan adalah Tuhan yang tidak pernah berubah. Nama, perbuatan dan sifat Tuhan tetap sama. Tuhan yang sama punya banyak cara untuk menolong kita. Kalau dulu Dia pernah sembuhkan orang sakit, Tuhan yang sama sanggup tetap melakukannya pada zaman ini. Kita punya pegangan yang teguh, di dalam Tuhan yang tidak pernah berubah.

Monday, March 3, 2014

Kristus Adalah Tuan dan Aku Adalah HambaNya





Pdt. Hery Kwok

Ayub 13:15
Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela peri lakuku di hadapan-Nya. Dalam terjemahan lain Lihatlah Ia (Tuhan) hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku namun aku tetap percaya kepada Allah. Ini ungkapan dari Ayub  yang tetap percaya kepada Tuhan meskipun dalam kesusahan.

Mal 1:6
6 Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"

Lukas 17:7-8
7  "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
8  Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
9  Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
10  Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

Pendahuluan

                Beberapa waktu lalu di salah satu acara TV, komisi HAM (Hak Asazi Manusia) menyoroti majikan yang menganiaya pembantunya. Misalnya : ada majikan di Medan yang menyekap pembantunya di rumah dan selama bebrapa bulan tidak diperlakukan dengan layak. Lalu di Bogor ada istri seorang polisi yang menyekap dan tidak memperlakukan dengan baik pembantunya. Dalam acara tersebut, disampaikan bahwa  penganiayaan itu sepatutnya tidak dilakukan karena seorang pembantu juga mempunyai haknya. Dalam zaman demokrasi seperti sekarang ini,  sepertinya kita kehilangan makna terkait relasi antara tuan dan hambanya.  Namun hal ini bukan berarti kita boleh memperlakukan seorang hamba (pembantu) dengan semena-mena seperti contoh di atas. Itu sebabnya dengan tema “Yesus adalah Tuan dan Aku adalah Hamba”, kita akan mengalami kesulitan kalau menghubungkannya dengan konteks sekarang (bagaimana perlakuan tuan kepada hambanya). Ada ungkapan seorang teolog tentang Yesus yang baik, “Jikalau Yesus Kristus bukan Tuhan atas semua maka Dia bukan Tuhan sama sekali”. Ungkapan itu hendak menyatakan bahwa dalam segala hal (sesuatu) , benarkah Yesus Kristus itu Tuhan atas semuanya?

                Pada Lukas 17:7-10 dicatat bagaimana Yesus memberi nasehat terkait dengan “Tuan dan hamba”. Mengapa Yesus mengatakan “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."? Karena banyak ahli Taurat dan orang Farisi yang ingin menempatkan dirinya sendiri sebagai Tuhan atas segala sesuatu. Pasal 17:1-6 Yesus Kristus mengkritik ahli Taurat dan Farisi yang ingin melakukan hal demikian. Dalam ayat 1-2 dikatakan “jangan kamu jadi batu sandangan terhadap sesamamu”. Dalam hal relasi, orang Farisi dan Ahli Taurat menganggap diri lebih hebat sehingga menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Istilah batu sandungan bagus sekali. Suatu ketika saat berjalan kaki, saya merasa hampir terjatuh. Ternyata ada sebuah batu yang lebih besar dari batu lainnya yang membuat saya tersandung. Waktu kita menempatkan diri lebih dari orang lain seperti ahli Taurat dan Farisi maka kita menganggap diri kita tuan atas mereka. Dalam hal pengampunan, kita seakan menjadi Tuhan yang tidak mau mengampuni orang lain karena tidak pantas diampuni. Ada banyak relasi yang rusak saat ada orang yangmenganggap lebih hebat dari yang lain. Ahli Taurat dan orang Farisi menganggap mereka lebih suci dari pemungut cukai dan menganggap mereka tidak layak mendapat pengampunan. Yesus mengatakan, kamu bukan tuan atau Tuhan.

Hal-hal yang dipelajari dari Luk 17:7-8

a.     Apakah Yesus benar Tuhan atas seluruh hidupmu? 
Kita sering memperlakukan Yesus sebagai bukan Tuhan (hanya menyebutnya saja Tuhan). Sama seperti bangsa Israel pada kitab Maleaki yang menyebut Allah itu Yahweh namun tidak menghormatiNya (Mal 1:6 Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"? Orang Israel mengatakan, “Apa buktinya kami tidak menghormati kamu?” Tuhan Allah berkata, “…dalam memberi persembahan. Kamu memberikan yang tidak layak kepada Aku.” Selayaknya kita memberikan hidup kita kepadaNya dan memperlakukan Dia sebagai Tuhan. Apakah kita sudah benar-benar mencari Dia dalam seluruh keberadaan kita? Kalau dia Tuhan, apakah kita menyembah Dia dalam segala kesukaran? Waktu orang Israel keluar dari Mesir, Allah memanggil mereka untuk beribadah. Sehingga ibadah adalah kewajiban dan menempatkan Dia sebagai Tuhan yang dicari dan kita menyembah Dia. Sehingga tidak ada alasan tidak datang beribadah karena Tuhan akan menghukumnya. Allah memperlihatkan bagaimana Firaun harus mati karena menghalangi umatNya beribadah (Karena Aku Tuhan atas umatKu sehingga akan membinasakan yang menghalangi umatKu beribadah). Dalam bagian kitab suci lainnya, dapat ditemukan bahwa orang Israel wajib datang beribadah kepadaNya. Bahkan bila tidak hadir mereka akan dihukum mati. Itulah bentuk, di mana kita menempatkan Tuhan sebagai tuan atas seluruh hidup kita. Secara sederhana dari kesetiaan kita beribadah, membuktikan apakah kita menganggapnya Tuhan. Seringkali saat kita membutuhkan Dia baru kita mencari Dia. Kalau kita hidup aman , kita seakan-akan tidak perlu mencariNya. Pada Lukas 17:7-9, Yesus Kristus menyatakan bahwa untuk posisi tuan, Dialah yang seharusnya menjadi Tuhan atas hidupmu. Kalau dia benar-benar Tuhan, adakah kita memberi diri kita melayani Dia dengan penuh sukacita? Ayat 7-9 bukan berarti Tuhan kejam tidak beri makan kepada hambaNya, tetapi ayat ini menekankan bahwa hamba harus melayani Tuhan dengan sepenuh hati. Kalau Kristus benar-benar menebus kita, menyelamatkan kita, harusnya kita menjadi milikNya yang telah dibayar dan ditebus Dia. Kita memasuki pra-paskah (masa kesengsaraan), minggu di mana kita memperingati Allah kita untuk masuk dalam penderitaan. Dia menderita dan mati semata-mata agar Dia menjadi Tuhan atas kita. Apakah kita benar-benar memberi diri melayani Dia, kalau benar-benar dia Tuhan? Kita tidak dipaksa untuk melayani , karena Tuhan tidak mau memaksa, tetapi bagaimana kita menempatkan Dia sebagai Tuhan dalam hidup kita. Saya di rumah punya pembantu, dia tahu apa yang harus dilakukan sebagai pembantu. Dia melakukan tugasnya untuk melayani tuannya. Walaupun dia dibayar, tetapi memang tugas pembantu adalah melayani tuannya. Inilah yang membuktikan apakah Yesus itu adalah Tuhan dalam melayani Dia. Sehingga gereja Tuhan membuka diri agar umatNya melayani Dia. Karena dalam melayani Dia, kita mengakui bahwa dialah Tuhan atas hidup saya. Adakah keluarga kita, keluarga yang menjadi milik Tuhan? Apakah anak-anak kita, kita dorong untuk datang kepada Tuhan? Kita mendorong pasangan, mertua untuk datang karena kita milik Dia? Adakah kesulitan yang kita hadapi adalah milik dan dibawa ke Tuhan. Kalau banyak harta, kita tidak terlalu mencari Tuhan. Tapi begitu tidak punya apa-apa baru cari Tuhan. Ungkapan seorang teolong, kalau Yesus bukan Tuhan atas segala-galanya maka Dia bukan Tuhan. Maka apa yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Saya punya kebiasaan dari awal dari melayani Tuhan. Saat saya mendapat berkat saya berdoa agar Tuhan memberi saya hikmat-bijaksana dalam menggunakan uang itu untuk memuliakan Dia. Jangan pikir hal itu karena engkau bisa bekerja , tetapi itu milik Tuhan dan harus dikembalikan kepada Dia. Artinya totalitas hidup kita, sekecil apapun, dia Tuhan atas semuanya. Mari refleksikan Dia adalah Tuhan atas seluruh hidup kita? Atas seluruh pergumulan, penyakit, keuangan kita, benarkah dia Tuhan atas itu semua? Kalau hati kita seperti itu, pengharapan kita akan kokoh kepada Dia, itu sebabnya Lukas 17:6, tambahkan iman seperti biji sesawi sehingga bisa mengatakan pindahkan gunung ke sana. Iman seperti itu menempatkan Yesus Kristus sebagai Tuhan secara total dalam rumah tangga dan kehidupan.

b.     Lukas 17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.". Kata “tidak berguna” lebih tepat digunakan istilah “ kami tidak layak mendapat penghormatan”.  Hubungan antara tuan-hamba bicara tetang relasi anugerah. Relasi bahwa Dia memberi anguerah kepada saya. Pdt. Billy Graham saat ditanya dalam bukunya berkata, “Anda sudah begitu hebat melayani Tuhan, kenapa di masa tuamu Allah memberi sakit Parkinson sehingga tanganmu bergoyang-goyang?” Pdt Billy menjawab, “Saya tidak tahu jawabanNYA. Hanya yang saya tahu apapun yang terjadi, Tuhan kasih memberi anugerah untuk saya. Relasi tuan dan hamba menempatkan kita kepada kesadaran bahwa relasi kita berdasarkan kemurahan semata. Ayub 13:15 mengatakan Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela peri lakuku di hadapan-Nya. Apapun yang sedang dialami seperti rumah tungga sulit (sedang dalam hubungan yang tidak baik), ekonomi bermasalah, janganlah membuat  kita berpikir negative tentang Tuhan. Justru di dalam relasi anugerahNya, Dia ijinkan kita mencari Dia dengan baik. Mari kita belajar menempatkan Dia sebagai tuan, meskipun kita memanggilnya Bapa. Harus menghormati dia dalam kesucian karena Dia pemilik hidupku.