Sunday, March 17, 2013

Hukum yang Terutama

Pdt. Grace Lim

Ulangan 6:1-9
1  "Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya,
2  supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu.
3  Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
4   Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
7  haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
8  Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
9  dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Markus 12:28-31
28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?"
29  Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
31  Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."

Saat murid-murid ribut di kelas, guru biasanya mengancam, “Hai dengarlah..dengarlah, besok ada ujian” sambil memukul meja. Pada Ulangan 6:4, Musa juga menyampaikan firman Tuhan dimulai dengan kata,”Dengarlah” yang dalam bahasa Ibraninya “shema”. Pada kitab Ulangan, sering dikatakan Musa mengulangi hukum Taurat. Bukan sebenarnya bukan mengulangi melainkan menjelaskan kepada generasi yang baru, karena generasi sebelumnya sudah meninggal di padang belantara. Ini generasi baru yang belum mendengarkan hukum Allah sehingga Musa menjelaskan dan mengatakan “Dengarlah, hai orang Israel.” Hal ini agar orang Israel mendengarkan apa yang dikatakannya, sehingga saat masuk ke tanah perjanjian orang Israel bisa hidup sebagai umat pilihan, memfokuskan diri kepada Allah dan hidup suci. Lalu orang Yahudi menaruh nats tersebut di dahi dan di tangan kiri karena daerah kiri dekat jantung (hati). Sampai saat ini orang Israel tetap membacakan shema (Ul 6:4) ini. Mereka juga menulis shema di tiang dan gerbang pintu. Shema (berasal dari sh’ma) bukan hanya berarti dengar tetapi juga taatilah. Perintah ini bukanlah sembarangan. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasih bukan perkataan tetapi perbuatan. Inilah tema kitab Ulangan. Supaya mereka mendengar, mengasihi Allah dan melakukan firmanNya. 
Kalau mereka melakukan hal ini, mereka akan menerima 3 macam berkat :
1.       Tuhan memberkati anak cucu mereka.
2.       Mereka akan panjang umur
3.       Mereka akan menikmati negeri yang berlimpah susu dan madu. Waktu di Israel, saya diajak ke tempat yang luas yang ada macam-macam pohon yang ditulis di dalam Alkitab. Ada tempat penggilingan anggur dan banyak bunga bakung yang disebut Tuhan Yesus (Matius 6:28 dan Lukas 12:27). Bunga bakung berwarna merah (hanya bisa diambil 10 buah sehari) dan berbeda dengan bunga Lily yang berwarna putih. Di dalam bunga bakung ada tawon yang menghasilkan madu. Di samping itu juga banyak ternak yang menghasilkan susu yang berlimpah.

Apa yang disampaikan Musa kepada bani Israel sudah disampaikan Tuhan kepada Abraham. Kejadian 12:1-3 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;   Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.   Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Tuhan adalah sumber berkat. Dari dulu orang mencari berkat. Ada yang ke gunung atau ke orang pintar untuk mencari berkat atau usaha sendiri sekuatnya. Tetapi berkat  kita, orang percaya, dari Tuhan. Panjang umur, melihat anak cucumu dan dapat menikmati negeri yang berlimpah susu dan  madu. Itulah berkat yang diberikan Tuhan bagi yang orang yang mendengar dan melakukan firmanNya (Shema). Shema tidak mudah. Mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa dan semuanya.  Mengasihi Tuhan dan mengampuni orang inilah ajaran Tuhan Yesus (Alkitab).

Seorang misionari yang diutus ke Australia, diutus khusus ke penjara menggembalakan para narapidana (napi). Ada Ada napi yang suka dan ada juga yang tidak suka dengannya. Suatu sore, sang misionari berjalan di tepi sungai di lingkungan rumah tahanan. Hamba Tuhan itu merenungkan dan menikmati suasana di sana. Tiba-tiba ada seorang napi yang terjun ke sungai. Mengira sang napi bunuh diri, sang misionari ikut terjun ke sungai untuk menyelamatkannya. Sebenarnya napi itu bukan kecemplung. Ia sengaja melakukannya. Saat sang misionaris menjangkaunya di sungai, sang napi kemudian memaksa kepala hamba Tuhan untuk terus berada di sungai supaya sang misionari mati. Untunglah hamba Tuhan ini kuat dan kemudian menyeret sang napi ke pinggir sungai. Napi itu mengira akan dimaki oleh hamba Tuhan dan dihukum seberat-beratnya. Tetapi tidak. Pendeta ini mengambil jubahnya lalu dipakaikan ke napi yang akan membunuh dia. Ia kemudian mengatakan perkataan yang sederahan, “Saudaraku, saya tidak bisa mengatakan apa-apa. Sebab saya tahu Tuhan bapa di surga mengampuni engkau dan saya juga mengampuni engkau. Inilah bajumu dan berdoalah.” Napi itu mengatakan, “Saya baru tahu, hamba Tuhan yang setiap hari yang mengajar , ia juga melakukan apa yang ia katakan yaitu firman Tuhan.” Napi ini kemudian bertobat lalu menjadi orang Kristen yang berkobar-kobar dan membantu pelayanan misi dalam penjara. Kasih itu bertindak dan taat.

Kita mungkin tidak bisa  melakukan hal yang begitu besar, tetapi kita bisa melakukan hal yang kecil tapi penuh kasih. Tidak sampai 2 minggu lagi , kita akan memperingati kesengsaraan Tuhan Yesus. Hari ini pra paskah minggu kelima. Mari kita memikirkan dan belajar dari Tuhan Yesus Kristus yang mengasihi Bapa, taat melakukan firmanNya. Bagaimana Musa (Tuhan melalui Musa) mengajar mereka , umatNya, untuk mengasihi Allah. “Kasihilah Tuhan Allah mu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, kekuatanmu.”(Markus 12:30). Ada 4 macam hal dalam injil Markus, namun dalam Matius hanya 3 macam yakni hati, jiwa dan akal budi (Matius 22:37). Ini merupakan kelemahan dari terjemahan dan pandangan yang berbeda orang Ibrani terhadap Yunani. Yang dimaksud di sini adalah mengasihi Tuhan Allah semuanya (total), berarti 100%. Dengan perkataan lain segenap hidupmu, emosimu, pikiranmu dan segenap tenagamu. Semuanya!

Gereja Injili biasanya kalau ibadah lihat buku. Emosinya tidak dipakai. Saya tidak menyalahkan perbedaan kebiasaan. Kalau ikut ibadah gereja pantekosta, mereka beribadah dengan emosinya dalam mengasihi Allah. Segenap tenaga / kekuatanmu, manusia itu kekuatannya bukan 1 atau 10 macam. Pada tayangan TV China ada 77 macam kekuatan atau daya. Misal : daya melihat, daya dengar, daya pikir, daya emosi, daya sabar, daya konsentrasi, daya / kekuatan fisik, kekuatan untuk mengingat dll. Semua diberi isitlah “li” – daya / kekuatan. Kita mengasihi Tuhan Allah kita, karena Dialah yang mengasihi kita. Kita hanya meresponi kasih Allah. Banyak guru Sekolah Minggu suka menceritakan kisah orang Israel dibawa keluar dari Mesir. Tetapi ada cerita orang Yahudi yang membawa anaknya keluar jalan-jalan. Di tengah jalan ketemu penjahat yang mau menangkap anaknya. Lalu ia memindahkan anaknya ke belakang tubuhnya. Kemudian ada seekor serigala datang mau menggigit anaknya sehingga bapaknya memindahkan anaknya ke depan. Selanjutnya waktu di jalan, penjahat datang dari depan dan serigala datang dari belakang. Karena ia sayang anaknya, ia peluk anaknya. Waktu matahari begitu panas, bapaknya membuka baju untuk melindungi anaknya, supaya mata anaknya teduh. Saat anaknya berkata, “Papa saya lapar”, papanya memberinya makan. Lalu sang anak berkata, “Papa saya haus” dan papanya mencari minuman dan memberikannya kepada sang anak. Itulah cerita orang Yahudi.  Saat orang Yahudi dibawa keluar dari Mesir, demikianlah Allah menuntun orang Yahudi seperti bapak yang menuntun anaknya . Orang Yahudi dituntun dan dibimbing oleh kasih Allah.

Saya sudah pensiun dan sekarang saya sering pelayanan di lansia (usia indah). Umumnya mereka senang dengan 1 ayat yakni Yes 46:3-4 "Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim.   Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. (Istilah “kudukung sejak dari kandungan” dalam bahasa Mandarin, digunakan istilah “orang yang kujunjung sejak keluar dari kandungan”). Dalam Alkitab, Allah selalu aktif. Allah yang bertindak, kita hanya merespon.

Ada seorang anak lelaki berumur 4 tahun yang memakai dasi menyambut PM China. Anak laki ini lucu sekali dan sangat tampan. Lalu saat PM mau pulang, ia berkata, “Engkong saya minta satu hal. Boleh tidak?“ Ia tidak minta untuk bersekolah di Beijing, jalan-jalan atau bangun rumah. Ia minta ,”Maukah  anda memeluk saya?”. Sang PM Wen Jia Bao, kemudian memeluk anak ini dan difoto. Fotonya kemudian dimuat di Koran-koran dan tersebar ke seluruh negara Tiongkok. Gambar yang indah. Kalau kita merasa kesepian dan banyak masalah tidak bisa dilakukan, mintalah “Tuhan gendong aku”. Jaman sekarang, karena kehilangan kasih banyak pembunuhan sadis di mana-mana. Dalam perang Suriah , karena hal sepele, berjuta-juta orang sengsara dan banyak anak kelaparan. Kasih kepada Tuhan sudah tidak ada. Sehingga Tuhan katakan, “Shema, kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu.” Menjelang kesengsaraan Tuhan Yesus, marilah kita mengenang dan melakukan kasih Yesus yang sungguh-sungguh kepada sesama.

Sunday, March 10, 2013

Warisan Ilahi

Ev Yenny Suh

Yoh 13:1-17
1   Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.
2  Mereka sedang makan bersama, dan Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia.
3  Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
4  Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya,
5  kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
6  Maka sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?"
7  Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."
8  Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku."
9  Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!"
10  Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."
11  Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih."
12  Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?
13  Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.
14  Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu;
15  sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.
16  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.
17  Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Minggu ini adalah minggu menjelang kematian Tuhan Yesus, minggu di mana kita dibawa ke dalam kedukaan yang mendalam. Seberapa besar di antara kita yang tahu persis bahwa sekarang adalah minggu-minggu kesengsaraan Tuhan Yesus? Minggu kesengsaraan Tuhan Yesus bukan dimulai minggu ini tetapi sudah dimulai dari minggu-minggu sebelumnya. Jangan-jangan kita tidak menyadari dan memahami akan hal tersebut. Sehingga kita kurang memaknai akan kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib. Karena tidak ada hati yang dipersiapkan memasuki masa-masa kedukaan tersebut. Padahal masa inilah kita melihat karya agung Tuhan Yesus bagi dunia ini.

Warisan Ilahi
Perikop yang dibacakan (Yoh 13:1-17) merupakan  bagian di mana Tuhan Yesus akan mengakhiri hidupnya dalam dunia ini. Masa di mana ia menempuh jalan salib (via dolorosa). Yesus tahu betul, masanya tidak lama lagi. Ia tidak mau menyia-nyiakan masa yang sedikit ini terbuang dengan percuma.  Jika kita membaca bagian pertama, “Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai”, banyak ahli Alkitab meyakini bahwa setelah masa  inilah Tuhan Yesus ditangkap oleh para prajurit. Setelah membasuh kaki murid-muridNya, Yudas pergi untuk menyerahkan Tuhan yesus. Jika benar, masa menjelang Tuhan Yesus dieksekusi tinggal hitungan jam. Tidak menunggu lagi hitungan hari. Tetapi di masa-masa itulah digunakan Tuhan Yesus sebaik-baiknya. Sebab Dia tahu kematianNya sudah semakin dekat. Dia tahu, keberadaanNya sebagai guru secara fisik akan berakhir. Dan Dia tahu apa yang harus Dia berikan bagi murid-muridNya. Dengan waktu yang begitu sempit, itulah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Yesus. Walaupun waktunya  sedikit, tetapi memberi makna dan kesan yang mendalam bagi para muridNya. Umumnya saat orang meninggal, kita menunggu pesan terakhir apa yang akan diberikan kepada kita.  Kita ingin dengar baik-baik, apa yang ingin disampaikan dan pada umumnya pesan itu dijalankan. Waktu Pdt. Paulus Sung meninggal, di ruang UGD, Se Mu mengelus pipinya dan berkata,”Kamu cepat sekali meninggalnya dan tidak meninggalkan pesan apa-apa.” Ada harapan orang yang akan pergi meningalkan pesan. Itulah hal yang akan dilakukan oleh Yesus. Sebelum Dia disiksa dan pergi selama-lamanya secara fisik, harus meninggalkan pesan yang mendalam bagi para muridNya. Kesan dan pesan yang diberikan Yesus kepada murid-muridNya itulah yang disebut sebagai Warisan Ilahi. Dia pergi tidak meninggalkan warisan harta duniawi tetapi Dia memberikan warisan abadi. Warisan duniawi tidak pernah dibawa sampai mati. Justru akan menimbulkan banyak perpecahan. Tetapi jika warisan ilahi yang diberikan, akan dibawa sampai mati dan akan memberikan suatu ketenangan. Inilah yang diberikan Tuhan Yesus kepada para muridNya. Warisan yang tidak diberikan untuk diri sendiri tapi harus diwariskan kepada orang lain. Banyak pelayanan yang telah Tuhan Yesus lakukan. Apa yang diperintahkan sudah diberikan terlebih dahulu. PerkataanNya  dan tindakanNya sama. Itulah yang disebut sebagai integritas. Melakukan apa yang diucapkan. Kalau kita manusia yang berdosa, kita melakukan apa yang lain dari yang diucapkan. Tetapi tidak demikian Tuhan Yesus. Ia melakukan apa yang diucapkan. Itulah yang Dia ingin wariskan. Keteladanan! Di dalam masa-masa Dia akan berakhir , Dia masih memberikan waktu yang tersisa kepada murid-muridNya.

Keteladanan
Ada 2 hal yang ingin Tuhan Yesus tunjukkan terkait keteladanan.
1.       Pelayanan. Kalau ditanya apa yang dimaksud dengan pelayanan? Semua jawaban yang diberikan tidak ada yang salah. Semua orang tahu, apa yang dimaksud dengan pelayanan. Semua tahu Tuhan Yesus mau kita ambil bagian dalam pelayanan. Pelayanan yang kita berikan seperti apa di hadapan Tuhan? Seringkali saat melayani, kita berpikir : saya melayani karena saya kurang pekerjaan (punya banyak waktu); melayani karena dipaksa melayani; melayani karena tidak ada orang lain yang mau melayani atau melayani karena mampu melayani di bidang pelayanan tersebut.  Itu yang seringkali ada di benak kita. Kalau melayani karena punya banyak waktu dikatakan sebagai melayani dengan memberikan yang terbaik kepada Tuhan.   Benarkah? Kalau ke empat hal tadi yang menjadi jawaban kita saat ditanya Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus akan berkata, “Enyahlah engkau karena Aku tidak mengenal engkau!” Bisakah kita bercermin kembali , pelayanan seperti apa yang sudah kita berikan kepada Tuhan? Mungkin kita tidak bisa disandingkan dengan Yesus yang adalah Tuhan. Tetapi Tuhan Yesus sebelum mati, menunjukkan sisi manusiawinya. Dia bukan hanya Tuhan tapi juga manusia 100%. Pelayanan yang ditunjukkan adalah pelayanan dari sisi manusia yang diberikan Bapa kepadaNya.  Pelayanan apa yang kita berikan kepada Tuhan? Kita bilang yang terbaik, tetapi kalau dikoreksi kita memberikan pelayanan yang menyedihkan kepada Tuhan. Kita tidak mempersiapkan hati untuk melayani Tuhan. Di mana letak hati kita yang telah diisi Tuhan Yesus untuk melayani Dia? Saat mau dieksekusi, Dia mempersiapkan dengan baik murid-muridNya. Dia tahu persis siapa yang akah menjual Dia, tetapi Dia tetap menunjukkan pelayanan yang terbaik. 3,5 tahun bukan masa pelayanan yang pendek dalam mempersiapkan para murid dalam pelayanan.  Tetapi bagi Tuhan Yesus, tetap tidak cukup untuk memberikan teladan untuk melayani Dia. Tuhan Yesus mempersiapkan dengan begitu baik dan sempurna. Dari awal sampai akhir Dia sudah melakukannya dengan begitu indah, walau di akhirnya Dia tahu akan begitu menyedihkan. Tetapi Dia tidak lari dari pelayanan, agar bisa menjadi penebus bagi banyak orang. Dia mempersiapkan sebaik mungkin agar bisa diingat dan dilakukan oleh murid-muridNya. Melayani Tuhan adalah masalah hati dan panggilan. Banyak orang yang punya hati melayani tetapi belum tentu dipanggil untuk melayani. Banyak yang dipanggil untuk menjadi hamba Tuhan tetapi belum tentu dipilih jadi hamba-hamba Tuhan. Tetapi orang yang sudah terpanggil melayani Tuhan sudah pasti mau melayani Tuhan. Jikalau kita sudah tahu hal itu, kita bisa menjawab pelayanan seperti apa yang kita berikan pada Tuhan. Apa saya memberikan pelayanan selama ini menurut saya yang terbaik? Atau justru yang menurut saya, terbaik tetapi menurut Tuhan paling menyedihkan. Dulu saat pelayanan di gereja lama, setiap minggu 1 dan 4 saya bertugas jadi MC di kebaktian kedua. Saya menangni bidang ibadah dan music dan saya memberi peraturan dalam ibadah, setiap MC yang mau bawa pujian, 3 minggu sebelumnya harus serahkan lagu yang akan dinyanyikan.  Contohnya : saya MC minggu 1 maka minggu ke 2 bulan sebelumnya sudah harus menyerahkan lagu kepada pemusik dan singer. Pemusik yang akan mengatur antara sesama pemusik setiap partitur yang akan dinyanyikan. Itu aturan pertama dan tidak bisa ditawar-tawar. Peraturan kedua, latihan minimal 2 kali.  Minggu depan saya mau MC , setelah kebaktian saya latihan. Kebaktian pk 8 dan pk 10 , saya latihan setelahnya. Seluruh yang memimpin pujian harus latihan minimal 2 kali. Satu kali saat mau latihan pertama kali, singer mengirim sms kepada saya, “GI sorry saya tidak bisa ikut latihan. Saya ikut pas pelayanan saja, lagu-lagunya saya kenal.” Saat dapat sms seperti itu, mungkin kita balas, “Ok. Dipelajari ya lagunya.” Tetapi hari itu saya balas, “Ok, minggu depan tidak ikut pelayanan.” Saya MC dan saya pilih lagu. Saya yang tahu lagu yang saya pilih. Model partitur yang dipilih pemusik sesuai dengan keinginan saya. Alur dan variasi lagu nya saya pun yang tahu. Jadi saya lebih tahu dari singer saya. Harusnya saya tidak usah latihan, pas waktu latihan baru saya maju. Tetapi saya harus konsisten dengan peraturan yang dibuat. Akhirnya latihan tanpa singer dan saat pelayanan juga tanpa singer. Saya ingin menekankan, melayani bukan untuk hamba Tuhan dan majelis yang kasat mata, melainkan melayani kepada Tuhan yang tidak kasat mata. Tetapi saat menerima pelayanan, banyak yang merasa bisa , sehingga tidak perlu latihan dan tidak perlu hati melayani Tuhan. Tetapi lebih menyedihkan di saat pelayanan, kita berkata, “kita memberikan yang terbaik kepada Tuhan!” Sebenarnya, kurang apa persiapan Yesus dalam menyiapkan murid-muridNya sampai waktu Dia ditangkap dan murid-muridNya dinyatakan gagal. Satu menyerahkanNya, satu menyangkal dan yang lainnya meninggalkan Dia. Pelayanan seperti apa yang kita berikan? Inikah memberikan pelayanan terbaik bagi Tuhan? Pelayanan yang dipersiapkan dengan baik,dan penuh kegentaran dalam mempersiapkan pelayanan. Itulah arti dalam melayani. Tuhan Yesus mempersiapkan kembali para muridNya ketika membasuh kaki para muridNya. Tuhan Yesus membasuh kaki para muridNya, bukan berarti kakinya kotor tetapi Tuhan Yesus ingin menunjukkan arti  pelayanan yang sesungguhnya. Mereka dipersiapkan untuk melayani Tuhan. Jikalau kita dipanggil melayani Tuhan, seharusnya pelayanan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh baik sehingga memberikan hasil pelayanan yang berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus membasuh kaki murid-muridNya untuk pelayanan di bumi ini setelah Tuhan Yesus tidak ada lagi di bumi ini.
2.       Kerendahan hati. Ketika berada di dalam rumah, Yesus mengambil baskom atau ember yang berisi air lalu menanggalkan jubahNya. Kata “menanggalkan jubahNya” dipakai juga pada Yoh 10:11 saat Tuhan Yesus mengatakan bahwa  Dialah gembala yang baik dan gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya. Menyerahkan nyawa dan menanggalkan jubah mempunyai makna yang sama. Secara tidak langsung, Yesus mengatakan Dia akan mati dan menyerahkan nyawaNya bagi umat manusia. Ia membasuh kaki murid-muridNya. Di rumah Yahudi ada gentong untuk membersihkan kaki. Bila ada tamu, maka kakinya harus dibasuh , dicuci dulu supaya bersih waktu masuk ke dalam rumah. Yang mencuci kaki tamu itu , bukan tuan rumah tetapi budak yang diperkerjakan dan ia bukan orang Yahudi. Pekerjaan itu hanya dilakukan oleh non Yahudi. Karena pekerjaan mencuci kaki dipandang rendah oleh orang Yahudi. Sehingga sangat mengherankan murid-murid Yesus ketika Yesus melakukan pekerjaan yang dianggap paling rendah tersebut. Suatu keanehan yang luar biasa. Yesus tidak membasuh kaki mereka saat baru masuk , tetapi setelah di dalam rumah. Secara status Yesus lebih tinggi, karena Yesus adalah guru mereka, dan mereka murid-muridNya. Jadi yang seharusnya melakukan pekerjaan tersebut adalah murid-murid bukan sang guru. Tetapi sampai dalam rumah, Yesus tidak mendapatkan yang demikian. Mengapa? Di dalam perjalanan, para murid memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka. Secara tidak langsung, siapa yang menjadi nomor satu di antara mereka? Adanya perdebatan untuk mencari siapa yang menjadi pemimpin di antara mereka. Bagi mereka , pemimpin bukanlah melayani tetapi dilayani. Sehingga sampai di dalam rumah tersebut, Yesus tidak mendapati insiatif di antara para muridNya. Konsep mereka : pemimpin harus dilayani. Tetapi Yesus mengajarkan kalau menjadi seorang pemimpin, Dia harus melayani. Konsep yang terbalik dari murid-muridNya. Dalam persiapan, saya berhalusinasi. Jangan-jangan Yesus ngomong, “Ya, saya mengerti kamu tidak membasuh kaki saya saat masuk karena kalian memperebutkan siapa yang menjadi yang nomor satu di antara kalian. Saya mengerti siapa pun tidak tergerak karena maunya dilayani. Mereka lupa Anak Manusia bukan untuk dilayani tetapi melayani , untuk memberikan nyawaNya bagi banyak orang. Ketika Tuhan Yesus melakukan cuci kaki, maka mereka terkejut. Tapi rasa terkejut, tidak mengurangi keinginan Yesus untuk melakukan apa yang ingin dilakukanNya. Ia menunjukkan bagaimana Yang Maha Mulia berada di tempat itu, tetapi ia memberi keteladanan yang tidak pernah mati. Pelayanan yang diberikan menunjukkan kasihNya kepada manusia. Pembasuhan kaki yang Yesus lakukan memberikan keteladanan yang harus dimiliki oleh semua yaitu kerendahan hati. Satu kata yang susah dilakukan : kerendahan hati! Bagaimana Yang Maha Mulia menunjukkan bentuk pelayanan adalah kerendahan hati? Dengan menanggalkan keegoisan kita sebagai posisi yang utama bagi umat Allah. Yesus ingin meninggalkan warisan yang terus diingat murid-muridNya. Kerendahan hati sangat sulit untuk diterapkan. Tetapi yang sering dimiliki bukan rendah hati tetapi tinggi hati. Lebih sering kesombongan kita yang menjadi landasan dalam melayani Tuhan . Yesus memberi teladan bagaimana kerendahan hati menjadi dasar dalam melayani. Saat saya kuliah S1 saya ingat perkataan dosen waktu kuliah di dalam kelas,”Belajar tafsir PB butuh waktu 2 tahun untuk mempelajari, belajar tafsir PL butuh waktu 3 tahun untuk mempelajari. Belajar dogmatika 2,5 tahun untuk mempelajari. Semua ada batas waktunya. Tetapi belajar pelayanan penuh kerendahan hati tidak pernah ada waktu yang habis untuk dipelajari.” Semua ada limitnya , tetapi mempelajari kerendahan hati , tidak akan pernah habis waktunya. Itu yang harus dipelajari dan harus ditunjukkan sepanjang hidup kita. Inilah yang ingin ditunjukkan Yesus kepada murid-muridNya. Bukan menunjukkan kaki murid yang kotor, tetapi Dia ingin menunjukkan pelayanan dengan rendah hati.
Tema gereja “Sehati sepikir melayani tubuh Kristus”, ini adalah kerinduan gereja, hamba Tuhan, majelis dan jemaat Tuhan di seluruh dunia. Sehati dan sepikir tidak akan tercapai, bila pelayanan tidak didasarkan hati yang terpanggil dan kerendahan hati. Sehati sepikir tidak akan mencapai tujuannya, kalau orang-orang melayani berdasarkan kemampuan diri sendiri atau didasari dengan tinggi hati. Bagaimana Yesus mewarisi keteladanan dengan pelayanan yang penuh kerendahan hati. Ketika kita meninggalkan dunia ini, keteladanan apa yang ingin ditinggalkan bagi orang lain. Apa yang bisa diberikan kepada orang lain , bukan keburukan tapi keteladanan. Berapa hari ini negara Venezuela sedang berduka karena presiden Hugo Chaves meninggal dunia yang mereka kasihi. Mereka ingat presiden mereka sangat memikirkan mereka. Sehingga di kematiannya, banyak yang memberi komentar belum pernah ada presiden seperti dia dan tidak akan pernah ada presiden seperti dia. Saat dimakamkan, seluruh rakyat ingat, dialah seorang pemimpin yang luar biasa bagi mereka. Yesus sebelum masa kematianNya, ia memberi teladan seorang pemimpin bagaimana melayani bukan dilayani. Seorang pemimpin bukan jadi terbesar tapi jadi seorang hamba. Seorang pemimpin melakukan apa yang diucapkan. Itulah warisan yang ingin diberikan Yesus yang dikenang terus oleh banyak orang. Warisan harta tidak bisa dibawa mati, dalam hitungan waktu akan habis dan lenyap. Tetapi warisan ilahi berupa keteladanan yang bisa dibawa sampai mati. Itulah yang bisa dikenang sampai selama-lamanya , turun temurun. Bisa terus diulang-ulang. Itulah yang menjadi penekanan Tuhan Yesus sebelum menjalanai masa-masa penghukuman. “Jika kamu tahu apa yang Aku lakukan. Aku melakukan hal ini maka kamu harus melakukan hal yang sama.” Di masa kematian ia memberi keteladanan yang besar. Biarlah keteladanan itu terus dijalani selama kita berada di dunia ini. Karena keteladanan tidak akan pernah mati.


Tuesday, March 5, 2013

Kasih yang Semula

Pdt Liem Ie Liong

Yoh 21:15-19
15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
16  Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
17  Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
18  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."
19  Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."
Wahyu 2:1-7
1  "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.
2  Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
3  Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.
4  Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
5  Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
6  Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.
7  Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."

PENDAHULUAN
Zaman ini banyak masyarakat yang sudah kehilangan kasih. Bukan saja di masyarakat, tapi kasih juga hilang di tengah keluarga. Baru- baru ini kita mendengar  berita, seorang ayah tega membunuh anak kandungnya sendiri (13 th), dan seorang ibu membunuh anak kandungnya sendiri (5 th). Bagaimana di dalam gereja, sebagai keluarga Allah? Apakah juga kehilangan kasih dari pemimpin gereja dan jemaat? Pertanyaan ini penting untuk kita renungkan bersama. Para rohaniwan / hamba Tuhan, majelis, aktifis gereja dan jemaat, apakah sudah kehilangan kasih? Ketika saya  bertobat dan percaya serta menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi,  kasih saya begitu luar biasa (memiliki semangat yang berkobar-kobar dan mencintai Tuhan. Misalnya : rajin beribadah dan bersekutu; membaca Alkitab dan berdoa, melayani Tuhan dan membawa jiwa/bersaksi.
Kita akan belajar dan bercermin dari wahyu Allah melalui Rasul Yohanes di Patmos kepada 7 gereja / jemaat  di Asia Kecil. Ciri dari pada Firman Allah kepada 7 Gereja / Jemaat adalah Pujian dan Kritikan. Ada perkecualiaan yaitu Jemaat Laodikia tidak di puji dan jemaat di Smirna tidak di kritik.

I.        Wahyu  Kristus untuk Jemaat Efesus.
Efesus merupakan Kota terbesar di propinsi Asia kecil pada waktu itu. Kota ini adalah satu-satunya diantara ke 7 kota lain yang muncul berkali-kali dalam kitab-kitab Perjanjian Baru. Kota ini memperoleh perhatian cukup luas di dalam Kisah Para Rasul (18:18-19:41); kepada jemaat di kota ini , Rasul Paulus menuliskan salah satu suratnya; dan kepada jemaat ini juga Tuhan yang telah naik ke Sorga mengirimkan sebuah surat. Setelah memuji Jemaat atas ketekunan mereka bekerja, rela mendertita dalam kesabaran, dan penolakan mereka atas para rasul palsu, Tuhan menunjukkan satu kekurangan yang menyedihkan yaitu Jemaat Efesus telah kehilangan kasih yang semula.
Kalau kita perhatikan :
1.       Pujian Apa kepada jemaat Efesus ?  Soal pekerjaan: rela berjerih lelah dan ketekunan/setia. Sabar dan rela menderita karena Nama Yesus(mengikut  Yesus). Ayat 6. siapa Penggikut Nikolaus? Pengikut Nikolaus adalah  sekelompok orang yang merusak anak-anak Tuhan dengan membujuk mereka untuk melakukan kompromi tehadap budaya pada masa itu. Daripada hanya menyembah Allah saja,  mereka mengatakan bahwa adalah tepat untuk melibatkan diri dalam upacara kebangsaan (misalnya pesta yang berkaitan dengan pemujaan Kaisar) dan lembaga budaya lainnya (misalnya serikat sekerja perdagangan yang mirip dengan serikat sekerja atau perkumpulan professional modern, beserta pemujaannya). Mungkin saja sebagai bagian dari upacara tsb atau sebagai tindakan kompromi secara terpisah, mereka juga mengijinkan penggunaan pelacur (barangkali sebagai bagian yang diterima dari “etika bisnis” pada zaman mereka).

2.       Apa celaan/kritikan kepada jemaat Efesus? Engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula ( YOUR  FIRST   LOVE). Celaan/kritikan ini ditujukan bukan saja kepada jemaat Efesus tetapi juga kepada para pemimpin gereja / jemaat Efesus. Gambaran kasih yang semula dari gereja / jemaat mula: beribadah di Bait Allah setiap hari, bertekun dalam bersekutu dan berdoa; bertekun dalam pengajaran para rasul (diisi dengan Firman Allah). Hidup dalam kemurnian, kesederhanaan dan kasih kepada Tuhan Yesus dan sesama (selalu mendukung jemaat yang berkekurangan. Dan selalu dalam pengutusan untuk memberitakan Injil (bersaksi). Kasih yang semula seperti kasih dalam pernikahan yang baru sebagai suami isteri yang saling mengasihi. Kasih Gereja terhadap Tuhannya dilambangkan sebagai kasih seorang suami kepada isterinya (Efesus 5:32-33).Lalu apa kasih Gereja/Jemaat kepada Kristus? Kasih semula merupakan tindakan meninggalkan segala sesuatu didasarkan kasih yang sudah meninggalkan segala sesuatu. Tuhan menuntut kasih kita kepada Tuhan seperti Tuhan sudah mengasihi kita.
Contoh: Simon Petrus. (Yoh. 21:15-19). Tuhan Yesus menampakkan diri setelah  bangkit dari kematian, dan menanyakan kepada Petrus sampai 3 kali : Apakah engkau mengasihiKu? Lalu jawab Tuhan Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-dombaKu.” Tuhan Yesus meminta Simon Petrus mengasihi Tuhan Yesus dengan kasih agape, bukan kasih filia/kasih persahabatan. Lalu Tuhan Yesus berkata kembali kepada Petrus, “Ikutlah Aku!”. Mengingatkan kepada Petrus  untuk menyangkal diri dan memikul salib dalam mengikut Yesus.

Ada 4 hal yang membuat Orang Kristen kehilangan kasih mula-mula.
1.     Sudah nyaman. Kehidupan saya berjalan baik dan aman. Tidak ada banyak masalah. Inilah orang Kristen yang berada dalam zona nyaman. Saya dapat melakukannya sendiri tanpa Tuhan. Itulah sebabnya, tidak perlu ibadah. Karena ia tidak perlu Tuhan.
2.     Cinta akan dunia ini. Firman Tuhan mengatakan, jangan mencintai uang. Cinta akan dunia ini artinya bagaimana dunia akan menarik kenikmatan dunia. Sehingga kasih kita semula semakin lama semakin menurun. Karena saya menikmati dunia ini.
3.     Sudah jenuh. Tiap hari saya membaca Alkitab. Berdoa. Dalam kehidupan berjalan seperti biasa. Bangun tidur , sebelum makan berdoa. Sesuatu yang rutinitas membuat jenuh. Kita akan jenuh kalau melakukannya terus. Tetapi waktu membaca, merenungkan firman Tuhan berdoa. Walau tiap hari secara rutinitas, mau mengubahnya menjadi anugerah. Saya akan disiplin melakukannya. Tetapi saya menganggapnya anugerah Tuhan yang memperbarui kehdupan kita. Sehingga kita tidak menjadi jenuh walau setiap hari, berdoa dan membaca Alkitab.
4.     Luka di hati. Ada kepahitan dalam hidupnya, tidak bisa hilang dan sulit mengampuni. Sehingga ada rasa benci yang terus menerus dan kasih kita menjadi hilang. Ada ibu berusia sekitar 60 tahun, cukup aktif datang ke gereja melayani Tuhan dalam paduan suara, tetapi belum mau dibaptis karena masih benci dengan suaminya. Karena suaminya meninggalkan dia dan anak-anaknya. Saat tua, lalu datang ke rumahnya. Kalau suaminya datang, dia pergi karena benci melihat suaminya. Kalau orang Kristen terus mempunyai luka hati , maka ia akan kehilangan kasih yang mula-mula .

II.      Panggilan Gereja  untuk mengasihi  Kristus.
Kritikan Kristus kepada Gereja Efesus bahwa mereka telah meninggalkan kasih yang semula (your first love).  Tuhan Yesus  yang sudah ada di Sorga, melalui Rasul Yohanes menyampaikan FirmanNya  dan mengatakan kepada jemaat Efesus bahwa mereka sudah meninggalkan kasih yang semula. Pangggilan ini harus di tanggapi  atau direspon oleh jemaat Efesus. Lihat ayat 5.  Ingatlah…, bertobatlah…, lakukanlah… yang  semula kamu lakukan. Ancaman Tuhan kepada Gereja Efesus, jika engkau tidak bertobat, Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya. Apa artinya? Tuhan Yesus memanggil kita untuk mengasihi Tuhan, namun benarkah saat ini saya masih mengasihi Tuhan? Tuhan berbicara kepada Jemaat di Efesus bahwa “engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.”  Kalau Tuhan juga berbicara kepada setiap kita. Kiranya kita mau bertobat  dan melakukan kembali seperti kasih yang mula-mula kita telah melakukannya. (setia dan semangat dalam beribadah, memiliki semangat dalam membaca Alkitab dan berdoa; dan  dalam melayani serta bersaksi, semua itu didasarkan dengan  mengasihi Tuhan Yesus. Kalau kita sudah meninggalkan kasih yang semula, Firman Tuhan memanggil kita untuk : Bertobat.