Sunday, November 19, 2017

Hukum yang Horizontal = Cermin Kehidupan Sosial – Etika Orang-Orang Modern

Ev. Andy

Imamat 19:34  Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.
Matius 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Markus 12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."

Pendahuluan

Beberapa orang pakar mencoba mendefinisikan arti hukum di antaranya :

Plato : Hukum merupakan segala peraturan yang tersusun dengan baik dan teratur yang mempunyai sifat mengikat hakim dan masyarakat
Immanuel Kant : Hukum merupakan semua syarat dimana seseorang mempunyai kehendak bebas, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan kehendak bebas orang lain dan menaati peraturan hukum mengenai kemerdekaan
Aristoteles : Hukum merupakan kumpulan beraturan yang tidak hanya mengikat tapi juga hakim untuk masyarakat, dimana undang-undang akan mengawasi hakim dalam menjalankan tugasnya untuk menghukum para pelanggar hukum

              Melihat definisi-definini di atas, bukan berarti seseorang bisa dengan semena-mena menjadi hukum bagi orang lain. Ada undang-undang yang diberlakukan (tidak serta merta aku menjadi hukum bagi orang lain).

Berikut petikan berita dari Kompos.com dengan judul “Malam Minggu Kelam Pasangan yang Dituduh Berbuat Mesum di Tangerang”.  
Aksi main hakim sendiri kembali terjadi. Kali ini peristiwa itu menimpa R dan MA. Pasangan kekasih itu dianiaya, diarak, hingga dilucuti pakaiannya karena dianggap berbuat tak senonoh di sebuah kontrakan di Sukamulya, Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (11/11/2017). Tak sampai disitu, warga yang menggerebek memvideokan kondisi sejoli itu saat dianiaya dan dilucuti pakaiannya. Video itu disebarluaskan di media sosial. Sontak aksi tak terpuji itu menggegerkan warganet. Berdasarkan video yang viral itu, pihak kepolisian bergerak melakukan penyelidikan. Kapolres Kabupaten Tangerang AKBP Sabilul Alif menegaskan, dari hasil penyelidikan, muda-mudi itu tak terbukti berbuat mesum.
"Yang bersangkutan tidak berbuat mesum dan memang yang bersangkutan adalah pacaran dan akan segera menikah," ujar Sabilul, Selasa (14/11/2017). Sabilul menceritakan, mulanya MA meminta dibawakan makanan oleh R. Permintaan perempuan pujaannya itu dituruti R. Dia tiba di kontrakan kekasihnya sekitar pukul 22.00. Begitu R datang, MA menyambutnya dan mempersilakan pacarnya itu masuk ke dalam kontrakannya untuk menyantap makan malam bersama. Saat itu, pintu kontrakan tak ditutup rapat. Seusai menyantap makan malam, pintu kontrakan MA digedor T selaku Ketua RT 007 Sukamulya, Cikupa, Kabupaten Tangerang. T tak datang sendiri. Dia datang bersama G dan A untuk menggerebek pasangan itu. Ketiganya memaksa masuk ke dalam kontrakan dan langsung menuding R dan MA berbuat mesum.
"Keduanya dipaksa mengaku berbuat mesum. Tiga orang berinisial G, T, dan A memaksa laki-laki mengaku dan mencekik," ucapnya. Karena tak berbuat seperti apa yang dituduhkan, R dan MA membantah tuduhan itu. Lantaran R dan MA tak mau mengakau, G, T, dan A geram.  Ketiganya memaksa R dan MA keluar dari kontrakan dan membawanya ke rumah ketua RW. Keduanya lalu diarak.  T sebagai ketua RT bukan menenangkan warganya, malah memprovokasi warga.
"T ini yang pertama mendobrak pintu, melakukan penggerebekan, dan memobilisasi massa. 'Tolong ayo-ayo lihat sini, lihat sini, silakan yang mau foto, mau videokan'," ujar Sabilul. Pasangan kekasih itu diarak massa ke depan sebuah ruko yang berjarak sekitar 200 meter dari kontrakannya.  "Di situlah mereka dipaksa, ditempeleng, dan dipukuli untuk mengaku. Bahkan, yang paling menyedihkan dari salah satu ini membuka baju perempuan untuk memaksa. Yang laki-laki melindungi dan sudah tidak menggunakan baju sama sekali," kata Sabilul. Seusai menganiaya dan melucuti pakaian R dan MA, warga membawa mereka ke rumah ketua RW. Seusai diinterogasi, R dan MA dipersilakan kembali ke rumah masing-masing. Berdasarkan video penggerebekan yang viral itu, pihak polisi melakukan penyelidikan. Polisi mendatangi R dan MA untuk mengecek kebenarannya.
Keduanya mengakui telah menjadi korban perbuatan tak terpuji dari sekelompok orang. Polisi akhirnya menangkap dan menetapkan enam tersangka dalam kasus itu. Polisi masih memburu pelaku lain, termasuk orang yang mengunggah dan menyebarluaskan video penggerebekan itu. Sejauh ini, sudah ada empat akun YouTube yang ditutup karena mengunggah video itu.

Fenomena ini luar biasa. Orang melihat orang lain sebagai objek dan dirinya adalah subjek. Sehingga subjek ingin melakukan apa pun ke objek tersebut. Ini sangat memilukan hati.

1.     Hukum yang Horizontal harus menjadi Etika hidup orang-orang Modern

              Tuhan katakan ke umat Israel di padang gurun yang telah 40 tahun lamanya berkelana, Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu (Imamat 19:34). Dulu Mesir adalah bangsa besar dan memiliki banyak budak yang datang dari berbagai bangsa (Mesopotamia, wilayah-wilayah Timur dll). Salah satunya adalah Yusuf yang oleh saudara-saudaranya dijual sebagai budak dan dibawa ke Mesir. Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa, banyak budak yang sudah lama menjadi budak di Mesir juga ikut. Ada budak yang karena kawin campur menjadi percaya. Jadi banyak orang-orang yang bukan asli Israel juga ikut bersama rombongan Musa untuk datang ke tanah perjanjian. Jadi orang asing ini adalah bukan bagian dari 12 suku (anak-anak dari Yakub). Orang-orang asing ini harus dikasihi seperti dirimu (melihat dia seperti bangsa dan saudaramu). Ini perintah yang Tuhan inginkan. Padahal mereka belum sampai di tanah perjanjian (masih di padang gurun dan belum jadi bangsa mandiri) tetapi Tuhan telah memberikan hukum ini agar Bangsa Israel belajar sehingga saat sampai di Tanah Perjanjian maka orang lain yang tinggal bersama mereka diperlakukan sebagai saudara (mengasihi orang lain seperti diri sendiri). Mengasihi orang lain merupakan hal yang susah karena manusia adalah mahluk egosentris (apalagi di zaman modern ini individualisme begitu tinggi) sehingga  “aku merasa paling penting dibandingkan orang lain”. Yang diutamakan adalah diri sendiri.
              Sewaktu kuliah di Bandung, pada akhir pekan dari kota saya ingin pergi ke Bandung Timur. Saya tinggal di daerah Pasteur dan akan naik KA ke Rancaekek dengan jarak tempuh sekitar 45 menit. Untuk mendapat tiket, kita harus antri untuk membelinya karena begitu banyak orang yang ingin pergi ke sana. Apalagi saat hujan, mereka berdiri mengantri. Lalu setelah dapat tiket, berebutan untuk mendapat tempat duduk. Ketika dapat tempat duduk, walau di depan ada orang tua (kakek-nenek) tidak dipedulikan karena  aku juga perlu tempat duduk yang nyaman. Sehingga kasih terhadap sesama tidak dimunculkan, yang diutamakan adalah diri kita. Kita sebagai subjek yang penting dan  orang lain hanyalah objek. Sehingga Tuhan berkata untuk belajar (orang asing yang tinggal padamu haruslah diperlukan sebagai orang Israel). Bagi Israel kedua belas suku adalah suku yang dijanjikan. Untuk mengasihi orang lain sulit. Orang Isarel melihat orang Samaria sebagai orang kafir, anjing dll padahal mereka sama-sama keturunan orang Yahudi walaupun sudah tercampur dengan bangsa yang lain (kawin campur). Ketika mengasihi orang lain yang merupakan bagian dari kita sendiri sulit. Adik-kakak bisa saling bunuh. Orang tua dan menantu bisa bertengkar kalau tidak sepaham. Orang asing adalah orang yang tidak sepikiran dengan kita. Mereka merupakan orang asing karena  berbeda dengan aku. Diskriminasi mendatangkan permusuhan dan kebencian. Ini berbahaya. Terhadap siapa pun bisa terjadi. Tuhan inginkan agar kita saling mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Ini adalah hukum dan ajaran yang relevan. Mari kita belajar sama-sama. Kalau Tuhan berkata “kasihilah sesamamu manusia”, maka belajarlah untuk mengaplikasikannya. Ini perwujudan nyata iman kita di tengah dunia yang kurang kasih. Kasih terhadap sesama sulit dilakukan namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Kita harus berjuang untuk melakukannya.
Waktu saya praktek pelayanan di Palembang , terjadi hal yang menyedihkan. Rupanya diskriminasi itu juga terjadi di kalangan hamba Tuhan. Karena berbeda sekolah maka kehadiran kita di gereja dianggap sebagai saingan. Apa yang kita lakukan akan terus disorot. Padahal kalau kita sudah berada di gereja dan sama-sama melayanai maka seharusnya kita menjadi satu tim. Tetapi bendera sekolah tetap dikibarkan. Akhirnya kerjasama untuk tujuan yang baik susah dicapai. Masing-masing kalau sudah membawa bendera menganggap orang lain asing (bukan dari bendera yang sama dengan saya) dan menjadi musuh. Hamba Tuhan yang satu tidak suka karena berbeda dengan yang lain. Kalau hal ini terjadi terus, maka akan muncullah perpecahan. Masing-masing kuat dalam perbedaan dan tidak mau mencari solusi. Bagaimana bagian yang berbeda itu bisa disatukan? Harusnya hukum yang horizontal menjadi bagian hidup orang-orang modern karena ketetapan Allah bagi manusia adalah hidup secara sosial. Saya harus berbagi karena saya bukan mahluk individu. Saya membutuhkan engkau dan sebaliknya (saling membutuhkan). Kalau kasih sudah tidak ada maka terjadi diskriminasi. Kalau ada diskrimasi berbahaya karena bisa terjadi peperangan. Di Papua ada tentara OPM (Operasi Papua Merdeka) yang ditangkap oleh TNI dan ditanya mengapa OPM menjadi pemberontak. Mereka menjawab karena kekayaan alam di sana diambil terus sedangkan kesejahteraan  bagi masyarakat tidak diberikan. Mereka sangat tertinggal sekali pendidikannya dan miskin padahal kekayaan di sana sangat luar biasa. Sudah diambil sekian tahun tidak habis-habis bahkan kerjasama dengan Freeport akan dilanjutkan terus. Sehingga terjadi pemberontakan oleh orang-orang Papua (OPM). Tembak-tembakan terjadi beberapa hari ini. Mereka menembak polisi dan ada yang mati. Ada tembakan-tembakan di hutan dan di gunung. Mereka merasa didiskriminasi (kami tidak melihat bagaimana keutuhan di dalam negeri). Bila diskriminasi ada akan muncul banyak pertentangan, pemberontakan, kejadian-kejadian yang tidak diduga.

2. Hukum yang Horizontal Harus Menjadi Cerminan Sosial

              Mengapa Hukum horizontal ini diberikan ? Hukum horizontal harus menjadi cerminan sosial. Matius 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Ini dimulai dari pertanyaan orang Farisi,” Guru hukum manakah yang utama dalam hukum Taurat?”. Pertanyaan yang diajukan oleh orang Farisi dan jawaban yang diterima merupakan tamparan bagi mereka. Di dalam Bait Allah ada Ruang Kudus dan Maha Kudus. Ruang Maha Kudus adalah tempat imam besar. Tempat Kudus adalah tempat di mana para imam, ahli Taurat  dan ahli Farisi. Adalagi pelataran dimana pria-pria dewasa ada di sana. Di belakangnya ada wanita dan anak-anak. Di belakangnya lagi ada orang berdosa yaitu orang yang sakit, kusta (orang yang dikutuk) dan orang Samaria yang tidak menjaga Taurat dengan utuh, juga bangsa lain-lain yang tidak mengenal Allah dianggap sebagai orang berdosa. Di dalam Ruang Kudus dan Maha Kudus, orang Farisi dan ahli Taurat itu bersahabat. Rupanya ketetapan atas struktur dalam Bait Allah dibawa dalam kehidupan (konteks) sosial. Makanya orang Farisi dan Ahli Taurat tidak pernah bersahabat dengan orang berdosa. Mereka mengucilkan anak-anak dan para wanita.
              Waktu Yesus duduk dan makan dengan pemungut cukai ,orang Farisi mencemooh , “Dia duduk dan makan bersama orang-orang berdosa”. Yesus bergaul dengan orang-orang  berdosa  tidak seperti mereka yang bergaul dengan orang-orang kudus karena mereka  berada di Ruang Kudus dan Maha Kudus. Ini yang mereka cemooh.  Gap ini dibawa. Mereka melihat orang berdosa sebagai objek. Sehingga ada perumpamaan doa orang Farisi dan pemungut cukai. Lukas 18:10-14  "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.  Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;   aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.   Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.  Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Doa pemungut cukai didengar Tuhan karena ia datang dalam ketidakberdayaan. Gap ini sesuatu yang berbahaya apalagi di dalam konteks sosial. Di zaman modern ini gap -nya juga kuat. Orang kaya bergaul dengan orang kaya dan pengusaha bergaul dengan pengusaha. Akhirnya orang-orang kecil dan miskin diabaikan. Sehingga waktu Yesus datang, maka tembok yang dibangun tersebut dihancurkan. Dia yang Maha Kudus ,Allah yang tidak berdosa, datang kepada orang berdosa. Hal ini menunjukkan bahwa Allah itu kasih. Menyatakan kasih itu tidak hanya dengan berdiri di atas mimbar dan mengajarkan teori tetapi Ia hadir dengan nyata dan orang bisa merasakannya. Ini yang dilakukan oleh Yesus (menyatakan kasih dengan nyata). Tidak seperti ahli Taurat  dan orang Farisi yang hanya mengatakan tentang kasih tetapi tidak melakukannya. Sehingga apa yang dikatakan Yesus tentang mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri merupakan tamparan keras karena memang mereka tidak bisa mengasihi sesama manusia termasuk orang berdosa. Rupanya paham dari Perjanjian Lama masih mereka bawa. Hanya bisa mengasihi antara orang Farisi dengan orang Farisi dan sesama orang-orang Yahudi saja, tetapi  terhadap orang-orang berdosa tidak mereka bawa dan aplikasikan. Paham-paham dalam Perjanjian Lama masih kental dalam pemahaman ahli Taurat dan orang-orang Farisi sehingga mereka sulit mengasihi sesama. Sehingga waktu Yesus hadir dan mengasihi sesama, duduk dan makan bersama orang-orang berdosa , menyembuhkan orang sakit selalu dicemooh oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Karena dalam pemahaman mereka , mereka membawa konsep perjanjian Lama yang salah itu dikembangkan dan dihidupi dalam keseharian. Tidak ada persahabatan orang Farisi dan ahli Taurat ketika melihat orang sakit. Maka Yesus memberi perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30-38).
"Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.  Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.  Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.  Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.  Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.   Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.   Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"  Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"
Imam hanya liwat saja karena kalau ia menyentuh orang yang mau mati itu maka ia akan menjadi najis dan harus menguduskan diri kembali. Demikian juga dengan orang Lewi. Maka ketika orang Samaria datang dan menolongnya, membawanya ke penginapan dan mengobatinya, ini hal yang luar biasa. Secara kenyataan tidak ada orang Samaria yang baik hati dan melakukannya seperti itu. Yang ada adalah “kalau kamu melihat saya sebagai musuh maka saya demikian juga”. Orang Israel melihat orang Samaria sebagai musuh dan sebaliknya. Mau tidak ia mengasihi musuh? Tetapi Yesus menggambarkan kasih seperti ini, “Kamu harus menyatakan kasih kepada musuh”. Di sini gambaran orang Samaria adalah Yesus sendiri . Ia menggambarkan diriNya sebagai orang Samaria. Ia memisahkan tembok yang sudah ada. Manusia lebih berharga dari teori dan prinsip yang dihidupi. Lihatlah manusia sebagai subjek, ketika ia membutuhkan pertolonganmu maka tolonglah dia. Ini adalah hal yang sulit dilakukan.
Ada video di youtube di mana terjadi pertengkaran sehingga terjadi pukul-pukulan antara mertua dan menantunya (yang lebih muda dan kuat). Pukul-pukulan dari dalam di bawa ke luar sampai di tangga-tangga. Rupanya mengasihi sesama itu susah. Apalagi kalau sudah ada orang ketiga dalam rumah tangga (bisa mertua, saudara, orang-orang terdekat). Bila ada orang ketiga bisa menjadi ancaman. Mengasihi sesama adalah hal yang sulit. Dalam konteks zaman ini masih relevan dan masih dibutuhkan dan dihadirkan untuk menjadi cerminan. Orang krisen harus menjadi cerminan. Tuhan memberi hukum kasih karena Ia terlebih dahulu adalah kasih itu sendiri. Dalam konsep Allah Tritunggal  , Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus memiliki relasi yang kuat dalam kasih. Maka sebagai manusia yang sudah mendapatkan kasih itu seharusnya kita mengaplikasikan kasih terhadap sesama. Jangan hadirkan gap-gap , diskriminasi dan jangan hidup dalam individualisme. Ini berbahaya. Kasihilah sesama mu manusia adalah perintah yang harus dilakukan bersama dan hal yang penting . Ini menjunjukkan iman kita. Dalam diri orang yang dewasa, kasih akan terlihat di dalamnya. Dalam Kitab Imamat Tuhan memberikan hukum kasih terhadap sesama sebagai pedoman dalam hidup kekudusan. “Aku bisa mengasihi sesama” menjadi  bagian sikap hidup dalam kekudusan.

Penutup

Berbicara tentang kasih , hukum yang horizontal, cerminan kehidupan horizontal , etika orang-orang modern maka hal yang paling penting adalah kasih. Kasih menjadi sentral dalam hukum yang horizontal. Tanpa adanya kasih dalam hukum yang horizontal maka tidak ada gunanya. Hukum itu kehilangan artinya. Kasih menjadi poin penting walau ini sulit dilakukan (ketika orang berbeda denganku kita sulit mengasihi). Firman Tuhan ini mengingatkan kita untuk berjuang di dalam hukum yang telah Tuhan berikan kepada kita (kasihilah sesamamu manusia). Ini yang harus diperjuangkan dalam hidup kita. Jangan biarkan gap , diskriminasi itu menguasai kita. Mari lakukan hukum yang horizontal itu. Berjuang lalukan hukum yang horizontal itu dan jadikan cerminan hidup. Saat ini manusia zaman modern membutuhkan kasih yang horizontal. Kalau bukan kita yang melakukannya siapa lagi yang akan melakukannya? Kalau kita tidak sadar bahwa ini sesuatu  yang penting, maka akan jadi apa bangsa kita dan orang-orang yang dekat dengan kita? Bisakah kita lakukan kasih terhadap sesamamu seperti pembantu , saudara-saudara, karyawan dan terhadap siapapun yang kita jumpai. Jangan biarkan gap itu ada. Mari hadirkan kasih terhadap sesama itu. Kiranya Tuhan menolong kita dan tetaplah berjuang melakukan hukum yang horizontal ini. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment