Monday, August 17, 2015

Warisan Apa yang Kau Tinggalkan?


Ev. Susan Guo

Yosua 24:14-15
14  Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.
15  Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

Pendahuluan

                Warisan rohani apa yang kau tinggalkan? Warisan di sini bukan dalam bentuk harta duniawi, tetapi dalam bentuk iman, rohani dan nilai-nilai baik. Kalau pertanyaan ini ditanyakan kepada kita, “Untuk anak, cucu dan orang-orang dekat di sekelilingmu, hal-hal rohani apa yang akan kamu wariskan?” Apa  jawaban kita?
                Puluhan tahun lalu ketika masih kecil, orang yang mewarisi kehidupan rohani kepada saya adalah papa saya. Papa dengan setia mengingatkan saya untuk pergi ke Sekolah Minggu. Saya masih ingat saat saya digendongnya untuk pergi ke gereja dan ia berpesan,”Di gereja jangan ribut ya. Duduk diam di sebelah saya!” Hobi papa bernyanyi sehingga ia mengenal hampir setiap lagu yang dinyanyikan di gereja. Saya senang memperhatikan dan mendengar papa saya menyanyi. Di rumah, papa juga senang menyanyi semua lagu dari lagu rohani sampai lagu dangdut. Salah satu lagu rohani yang sering dinyanyikan adalah Ke Tempat yang Tertinggilah (Higher Ground, Charles H. Gabriel, 1898) : Ke tempat yang tertinggilah g’nap jiwaku merindulah. Kunaikkan doa tiap waktu, Tuhan tetapkan jiwaku.  Reff :  Tuhan tetapkan jiwaku lebih dekat kepada-Mu. Lebih tinggi ‘ku merindu, di tempat yang lebih tinggi. Sehingga waktu kecil saya sudah menghafalnya. Itulah warisan rohani yang dia tinggalkan. Mungkin papa tidak tahu itu warisan rohani yang dia tinggalkan , tetapi apa yang dia tinggalkan itulah warisan rohaninya. Saat ini saya senang bernyanyi dan sudah menjadi hamba Tuhan itu semua karena warisan rohani.  Papa saya senang membaca Alkitab di rumah dengan keras. Di desa yang rukun dan memiliki toleransi tinggi, tidak masalah kalau orang membaca Alkitab di halaman rumah keras-keras. Mama bertanya kepadanya, “Mengapa kamu membaca Alkittab keras-keras dan mengapa membacanya di halaman rumah?. Papa menjawab,”Supaya orang lain bisa mendengar!” Saya juga bertanya, “Mengapa membacanya keras-keras? Nanti orang lain marah!”. Papa menjawab, “Biar saja orang mendengar, sehingga saya membacanya keras-keras. (sekarang saya tidak berani membaca Alkitab keras-keras karena situasinya berbeda). Itu bagian kecil yang ditinggalkan papa ke saya, sekarang saya harus bertanya, “Apa yang saya tinggalkan untuk generasi sesudah saya? “

Warisan Nilai Rohani Yosua

1.     Warisan rohani (iman, nilai rohani) sesuai kebenaran firman Tuhan memerlukan sesuatu yang konkrit dalam keseharian (implementasi harus jelas dalam kehidupan sehari-hari).
Salah satunya yang kita pelajari dari Yosua. Sebelum meninggal dalam usia sekitar 110 tahun, Yosua mengingatkan generasi bangsanya akan satu hal yang penting dan ditekankan yaitu untuk beribadah pada Tuhan. Dari kitab Bilangan diketahui bahwa Yosua bukanlah pribadi yang sembarangan. Nama aslinya Hosea bin Nun , namun Musa memberinya nama Yosua (Bil 13:16). Ia keturunan Efraim ,anak Yusuf. Yosua bersama Kaleb bin Yefune (suku Yehuda) dan 10 pemimpin suku Israel lainnya diutus Musa untuk mengintai Kanaan. Dari 12 orang pengintai itu, hanya Yosua dan Kaleb yang kembali dengan berita yang menyejukan hati. Di lapangan, kedua belas pengintai (termasuk Yosua dan Kaleb) melihat hal yang sulit (Bil 13:27-29). Mereka tidak menipu kenyataan yang ada. Mereka menyampaikan keadaan yang jelas dan sulit dilawan. Bahwa ada tantangan yang besar untuk bangsa Israel masuk ke Kanaan  (Bil 13:32-33). Tetapi Yosua dan Kaleb mempunyai persepsi yang berbeda dalam melihat keadaan saat itu. “Memang ada masalah, orang Kanaan tidak mudah ditaklukkan tetapi kalau Tuhan yang mengutus untuk masuk ke tanah Kanaan maka pasti kita masuk” (Bil 14:7-9). Itu yang tidak bisa dilihat oleh 10 orang pengintai lainnya. Kalau ditanya apakah ke sepuluh pengintai lainnya beriman? Pasti mereka menjawab mereka keturunan orang-orang yang merasakan campur tangan Tuhan yang luar biasa dan mereka umat piihan, jadi mereka juga orang beriman. Tetapi pengintai yang 10 orang berbeda dengan yang 2 orang saat menghadapi masalah karena di situ imannya berbicara. Menurut ke 10 pengintai “Kita tidak mungkin mengalahkan orang Kanaan jadi lebih baik tidak masuk tanah Kanaan” sehingga orang Israel menjadi marah dan ingin melempari Musa dengan batu. Hanya Yosua dan Kaleb dapat melihat dengan iman sesungguhnya betul ada masalah, tetapi Tuhan lebih besar dari masalah yang ada. “Kita harus memegang janji Tuhan. Kalau Tuhan menyuruh masuk kita bisa masuk, kalau tidak suruh, kita tidak bisa masuk. Iman seperti inilah yang ingin ditinggalkan Yosua kepada bangsa Israel berikutnya.” “Takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN” (Yosua 24:14)

2.     Yosua pemimpin politik yang berintegritas.
Pada Yosua 24:14-15 Yosua lebih banyak berbicara sebagai negarawan , pemimpin politik dan pemimpin bangsa Israel. Namun ia tidak saja berbicara tentang politik, melainkan juga berbicara hal yang rohani, “beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia”. Indonesia merindukan pemimpin politik seperti ini. Pemimpin yang tidak hanya  bicara secara politik tetapi juga mengimplementasikan (mengaplikasikan)nya secara jelas. Kadangkala, pemimpin rohani (termasuk majelis) tidak memiliki cara pandang dan kalimat rohani untuk generasi gereja yang dipimpinnya. Sebelum Yosua kembali kepada Allah ia mengingatkan bangsa Israel untuk beribadah kepada Allah dengan memberi pernyataan yang dewasa, Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" Yosua mempunyai wibawa rohani dan integritas yang jelas. Ia berbicara selaku pemimpin bangsa dan kepala rumah tangga. Bulan ini adalah bulan keluarga sehingga tema-nya menyangkut rumah tangga. Adakah ayah atau suami di dalam gereja ini yang berani dengan wibawa rohani mengatakan kalimat, “Aku akan membawa istri dan anakku , menantuku untuk beribadah kepada Tuhan”?
          Yosua memiliki integritas yang jelas dan konsisten dari muda sampai tua dan tutup mata selamanya. Ia tidak beralih dari keyakinan imannya dan kerinduannya untuk beribadah kepada Yahwe. Kalau kita di gereja atau kekristenan saat ini suka terbalik realitanya. Selagi muda aktif  tetapi begitu sudah menikah ternyata menikah dengan orang yang tidak seiman sehingga lama-lama hilang dari gereja (pindah dari gereja bahkan iman). Konsistensi seperti Yosua merupakan tantangan dan motivasi untuk kita pada zaman ini. Integritas Yosua jelas dari yang diucapkan dan dilakukannya dari muda sampai mati. Apakah kita seperti itu?  Yosua memberikan ketegasan untuk anggota keluarganya. Ini tidak bicara tentang Yosua tidak toleransi terhadap hak azasi anak dan mantunya tetapi ini berbicara tentang suatu bentuk tanggung jawab di hadapan Tuhan bahwa beribadah kepada Tuhan adalah sesuatu yag serius (tidak main-main), bukan suatu alternative (bisa ya atau tidak). Tetapi beribadah dan percaya kepada Tuhan itu sesuatu yang serius, dan seharusnya selaku orang dewasa dan sebagai orang tua, kita melihat mandat ini dan sebagai mandataris Allah dalam keluarga Kristen kita harus meneruskannya kepada anak kita. Tetapi hari ini banyak orang yang mengatakan “Itukan hak azasi manusia. Itu pilihan dia kalau dia sudah dewasa.” Betul! Tetapi apakah anak kita memilih Allah karena dari kecil sudah ditanamkan dengan baik? Apakah selaku orang tua dan pembina rohani kita memberikan warisan yang jelas (baik kata, kalimat rohani atau apapun yang keluar dari diri kita yang menunjukkan kita orang yang beribadah  dan percaya)? Berkali-kali kata ibadah muncul dalam ayat 14-15. Kata ibadah (berasal dari kata Ibrani ‘abodah) mempunya 2 arti yaitu menyembah dan  taat atau tunduk atau melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Konsep dasar dari ibadah adalah pelayanan atau pengabdian seutuhnya kepada Allah, yang dinyatakan baik dalam bentuk penyembahan (kultus) maupun dalam tingkah laku atau tabiat (jadi bukan hanya menyangkut hal-hal ritual yang bersifat formal legalistis).  Bukan sesuatu yang main-main atau ritual seperti setiap hari Minggu harus rajin beribadah dan mengikuti persekutuan sekolah minggu. Itu masih sebatas hal kecil tetapi ibadah adalah hidup hari lepas hari yang merupakan penyembahan dan ketaatan kepada perintah Allah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup sehari-hari. Bukan ibadah seremonial bangun mezbah dll tetapi bagaimana hidup ibadah seperti darah dan daging dalam hidup seseorang tidak bisa dipisahkan.

2 Hal dalam Mewariskan Kerohanian

1.    Keluarga adalah tempat dimana seluruh anggotanya belajar tentang Allah , mengenal Allah , berjalan bersama Allah dalam suka dan duka.
Apakah orang tua hari ini mewariskan kepada anak-anaknya bahwa keluarga kita adalah keluarga yang merupakan wadah mengenal Allah dan berjalan bersama Allah dalam suka dan duka?.  Orang tua seharusnya mendorong anak-anaknya untuk  ke gereja, karena bila tidak bagaimana keluarga bisa jadi mezbah keluarga dan  anak mengenal Allah dalam susah- senang? Saya punya 3 orang keponakan yang masih kecil dan sempat tinggal bersama di pastori selama 1-2 bulan.  Selama itu, pagi hari saya bangun lalu sibuk memasak dan menyiapkan semua karena tidak ingin ketiganya kelaparan. Suatu kali selesai minum susu , keponakan saya yang terkecil (hampir 6 tahun) berkata, “Kuku setelah minum susu, saya mau berdoa dan membaca Alkitab dengan mama.” Saya kemudian mengintip, ternyata dia sedang bersama koko, cici, dan mamanya. Mamanya saat itu sedang menjelaskan isi Alkitab. Jadi pagi-pagi mereka mengadakan mezbah keluarga walau bapaknya tidak ada. Saya bertanya kepada diri saya, “Kalau punya anak, bisa tidak saya melakukan hal itu?” Kalau punya anak seberapa jauh kita membangun mezbah keluarga supaya anak mengenal Tuhan? Suatu kali saya bertanya kepada keponakan saya yang berusia 6 tahun, “Abi, apakah Tuhan harus menyembuhkan semua penyakit?” Anak ini menjawab, “Tidak harus! Itu terserah Tuhan. Kalau Tuhan mau, Dia akan sembuhkan. Tapi kalau tidak mau Tuhan tidak harus menyembuhkan.” Walaupun nantinya setelah dewasa kalimat ini tidak mudah dijalankan , ia sudah memiliki fondasi untuk kehidupannya. Bagaimana dengan keluarga kita? Mungkin tidak mudah bagi kita karena kesibukan, kelelahan atau waktu yang tidak sinkron antara anak-anak dan kita sendiri. Saudara saya itu juga tidak setiap kali melakukan mezbah keluarga (dilakukan di hari Sabtu karena kalau hari sekolah tidak bisa). Bisa juga dilakukan malam sebelum tidur berkumpul bersama dan kemudian belajar mengenal Allah melalui keluarga.

2.    Orang tua mempunyai peran yang benar.
Kita harus menamamkan kepada anak bahwa sebagai orang tua, ayah-ibu punya peran yang benar di mata anak. Melakukan peran yang benar adalah penting, karena berarti mengajarkan anak kita nilai moral seperti kerajinan, keteguhan, kejujuran, keikhlasan, hidup suci dll dari keluarga (orang tua). Tetapi kalau orang tua sendiri tidak memakai peran itu tidak benar bagaimana? Pdt Irwan Hidayat menceritakan pengalaman dia berbicara pada seorang ayah. Ia terkejut karena ayah itu berkata, “Bagi saya, tidak apa-apa kalau anak saya tahu pornografi, dan saya okey saja anak saya mengakses situs porno dan sebagainya”. Sewaktu ditanya alasannya, Bapak itu berkata, “Iyalah, supaya mengerti dan tidak kuper. Tetapi Pdt. Irwan mengingatkan bahwa apa yang dilakukannya salah besar. Mengajar anak melihat buku porno dan situs porno bukan cara yang benar. Pendidikan seks yang benar dilakukan  oleh hamba Tuhan atau kelompok yang terpercaya. Kalau ayah keluarga Kristen hari ini memiliki cara pandang seperti ini, bagaimana nanti anaknya? Anak tidak kuper diajar seperti itu, karena ia bisa belajar sendiri. Seharusnya orang tua mencegah, tetapi ini malah dibebaskan (sangat sekuler sekali). Kalau seorang ayah sedemikian, warisan rohani apa yang ditinggalkan untuk anaknya? Untuk seorang ibu , warisan rohani  apa yang diwariskan kepada anak? Saya pernah mengajar anak SMA dan pernah berbincang dengan seorang siswa kelas 2 SMA. Saya bertanya,”Kamu membawa bekal apa?” Yang dijawabnya,”Nasi goreng” Rupanya setiap hari ia dibekali menu yang sama yakni nasi goreng! Sejak TK , SD, SMP dan sampai SMA 2 dibekali nasi goreng setiap hari sehingga ia melihat nasi goreng saja sudah tidak nyaman. Sewaktu ditanya, “Apakah mamamu tidak bisa masak menu lainnya?” Dijawabnya,”Tidak tahu. Kan kerjanya tiap hari menelpon temannya. Begitu papa pergi kerja, mama pasti menelpon temannya. Bisa dari pagi sampai sore! Mungkin itu pekerjaan mama yang mengasyikkan . Karena waktunya sempit, maka masak yang paling gampang adalah membuat nasi goreng! Dalam sebulan pulsa teleponnya bisa mencapai jutaan rupiah. Papa hanya membayar saja karena baginya yang penting mama senang. Papa tidak makan di rumah. Saya diberi uang jajan sedikit, jadi saya terpaksa makan nasi goreng saja!” Jadi dari TK sammpai SMA 2 selama 13 tahun, mamanya  masak nasi goreng! Bila untuk makanan jasmani anaknya saja tidak serius apalagi makanan rohani? Apakah ada yang merasa kesal mengantar anak ke gereja?  Bagaimana bila nanti suatu kali sang anank meminta diantar ke nite club? Anak melihat papa rajin ke gereja tapi terus ribut dengan mamanya. Saya punya anak murid yang berkata, “Bu lihat perubahadn di muka saya?” Saya menjawab “Tidak”. Dia berkata lagi, “Lihat mata saya?” Saya berkata,”Tidak ada perubahan.” Lalu dia melanjutkan, “Bu, saya sedang sedih.  Papa dan mama ribut lagi. Sejak kemarin papa pulang kantor, saya bangun tidur sampai mau berangkat sekolah mereka ribut terus. Padahal papa dan mama merupakan aktifis gereja. Saya nanti tidak mau menikah dengan orang Kristen karena  percuma! Tante saya yang tidak Kristen tenang saja.” Apakah hal ini yang salah kekristenan? Padahal Tuhan Yesus tidak mengajar begitu. Tapi akhirnya anaknya berkata, “Saya tidak mau kawin seperti itu!” Pada tahun 1960-80an kita menemukan pertanyaan di lapangan, “Kok bercerai?  Kenapa bapa dan ibu itu bercerai?” Hal ini menunjukkan kebingungan kenapa bercerai karena rumah tangga umumnya harmonis dan perjalanan rumah tangga bisa panjang. Namun pertanyaan sekarang, “Kok harmonis ya? Kok bisa harmonis? Apa resepnya?” Saya ingat waktu itu TV masih hitam putih. Pasangan Ahmad Albar dan RIni S Bono dipanggil dan ditanya, “Apa resepnya bisa harmonis?” Ahmad Albar dan RIni memberitahu resepnya namun ternyata tidak sampai setahun kemudian mereka bercerai! Sehingga pertanyaan yang merebak “Kok bisa ya harmonis?” Generasi diwarisi hal-hal yang tidak beres, maka anak-anaknya ragu-ragu dan pesimis tentang pernikahan yang langgeng dan menguatkan. Sulit menemui ayah-ibu yang serasi. Anak sekarang hidup dalam keraguan sehingga mengatakan tidak perlu menikah! Akhirnya free-sex dengan pacar atau pergi ke lokalisasi tanpa ketahuan. Ada juga wanita yang mau punya anak saja tanpa menikah (menjadi orang tua tunggal alias single parent). Itu semua berawal dari dalam rumah. Tetapi Yosua berkata, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!”


No comments:

Post a Comment