Tuesday, May 13, 2014

Memberi Tak Menjadikan Miskin





Ev. Esther Kurniati

Amsal 11:24-26
24  Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.
25  Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.
26  Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum.
Amsal 21:13 Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.
Amsal 22:9   Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.
Amsal 28:7-8, 22
7  Orang yang memelihara hukum adalah anak yang berpengertian, tetapi orang yang bergaul dengan pelahap mempermalukan ayahnya.
8  Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah.
22  Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.

Pendahuluan

                Di zaman dan kondisi yang sulit (tidak mudah mendapat pekerjaan dan orang kaya takut miskin walau hidup serba berkecukupan), tema “Memberi Tak Menjadikan Miskin” ini menarik. Di zaman ini, manusia cenderung berpusat pada diri sendiri (sulit memikirkan orang lain) dan banyak orang yang merasa mampu mengatasi masalah tanpa Tuhan. Di tengah kondisi seperti ini terdapat ada 2 kelompok manusia yakni :
-        orang mengindroktinasi (mensugesti) diri sendiri bahwa ia mampu. Jadi ia coba menenangkan diri sedemikian rupa bahwa “saya bisa melakukan dan mencukupi diri sendiri”
-        tenggelam dalam kebingunan, ketakutan dan akhirnya depresi.
Namun keduanya berpusat pada diri sendiri dan menyebabkan masalah psikis dan rohani tercampur.
Kata “memberi” sendiri memiliki pengertian yang luas. Kita bisa memberi kepada gereja dan orang di sekeliing kita. Tapi apapun yang diberikan, apakah tema ini relevan? Apakah tema ini terbukti? Bandingkan dengan filosofi dunia “siapa cepat , ia dapat”. Kita berpacu dalam apapun juga untuk mendapat keuntungan. Yang lebih cepat, lebih untung. Misalnya supir mikrolet dan angkot yang mengebut untuk rebutan penumpang. Atau prinsip ekonomi yang diajarkan kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi “dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk mendapat hasil yang sebesar-besarnya”. Filosofi-filosofi seperti di atas bertentangan dengan yang diajarkan Alkitab sehingga kita tertantang dengan tema di atas karena sudah banyak ditinggalkan. Amsal banyak memberikan pelajaran tentang bagaimana memberi kepada orang yang miskin. Hal ini perlu diperhatikan dalam menjalani kehidupan di Indonesia yang dilanda krisis kepedulian. Seperti adanya pemimpin daerah yang mobil koleksiannya saja berjumlah beberapa puluh (mengalahkan ruang pamer mobil) padahal masih banyak bayi yang tidak pernah merasakan enaknya susu. Sebagai jemaat Tuhan , mari kita memperhatikan orang-orang yang “miskin” (termasuk di gereja). Gereja bisa jadi “miskin” kalau tidak yakin Allah kita kaya.

Kekontrasan di Alkitab
Tema kita senada dengan Amsal 11:24 Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.  Ada bagian yang dkontraskan di kitab Amsal. Ayat sebelum dan sesudahnya dibandingkan dengan kontras walau ada juga yang hanya dibandingkan saja. Contoh : yang ini merah dan yang itu biru (kontras). Ada juga ayat yang saling mendukung. Yang ini biru, yang lain bilang benar yang ini biru. Orang yang punya harta untuk diberi dan disebarkan maka dia bertambah kaya. Ada yang menghemat secara luar biasa (kikir?)  namun selalu berkekurangan (ini kontras). Ada yang menahan gandum (ayat 26) dikutuki orang (dikontraskan), siapa yang banyak memberi berkat diberi kelimpahan (ayat 25). Filosofi Alkitab aneh tapi nyata! Apakah mungkin dengan banyak memberi, tidak menjadikan miskin?

3 Prinsip dalam Memberi dalam kaitannya dengan “Memberi Tak Menjadikan Miskin

1.     Apa yang kita punya (uang, harta  dll) bukan milik kita tetapi milik Tuhan. Sehingga Ayub berkata, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Kita seringkali lupa dan menganggap bahwa kita punya harta karena kita rajin bekerja. Semakin rajin, semakin sering lupa bahwa kita bukanlah pemilik harta tersebut. Ada orang tua mahasiswa yang berkata, “Hari ini jangan banyak-banyak ayat Alkitabnya. Karena yang penting anak itu, bisa punya gelar dan itu pun karena di dunia ini tanpa gelar tidak dianggap. Yang penting kerja keras! Saya bila tidak bekerja keras tidak dapat. Orang bilang kalau berkata, tidak ke gereja tidak diberkati. Tapi tanpa bekerja? Dulu saya bekerja beberapa jam, sekarang bertambah lama sehingga dapat menjadi seperti sekarang.” Padahal semuanya bukan milik kita, kita hanyalah pengelola. Kita bukan siapa-siapa tapi diberikan kepercayaan untuk mengelola milik Tuhan termasuk uang. Dalam mendidik anak dalam hal keuangan, anak perlu mengerti tentang kecukupan. Saat anak merengek minta dibelikan barang yang sudah dimiliki, saya berkata, “Mama punya uang. Tapi masalahnya, uang mama ini adalah titipan Tuhan, karena itu punya Tuhan. Jadi waktu mau dipakai harus tanya dulu. Tuhan apakah cocok tidak untuk memakai uang untuk membeli mainan itu. Bukannya mainan sudah banyak, apakah perlu beli lagi?” Sehingga anak saya tidak merengek dan bergulung untuk meminta barang.  Perlu dibedakan antara “keperluan” dan “keinginan”. Untuk suatu keperluan akan disediakan Tuhan. Sedangkan untuk keinginan , kalau kita tidak punya tidak masalah karena kita hanya bisa mengelola. Yang berhak mengatur adalah Tuhan. Pada premarital conselling, saya bertanya, “Siapa yang berhak atur uang di rumah?” Di jawab , “Kaum pria karena mereka yang bekerja” . Ada juga yang berkata, “Yang bekerja”. Pada Alkitab dikatakan, yang mengatur adalah pemiliknya yaitu Allah. Allah yang berhak punya cara dan aturan main tentang apa yang kita punya. Pada waktu saya ganti mobil, anak saya yang besar berkata, “Ma rasanya tidak ada orang yang mau ganti mobil pergumulannya seperti mama”. Saya kumpulkan anak-anak dan bertanya, “Apakah perlu ganti mobil tidak?” Jadi waktu ganti mobil saya bertanya,”Untuk apa kita ganti? Untuk prestise?” Sehingga anak saya berkata, “Beli mobil ribet amat”. Saya menjawab, “Karena ini milik Tuhan , untuk apa ganti mobil? Semua milik Tuhan.” Kita hanyalah saluran berkat, Tuhan memberi lewat kita. Tuhan memberi kita, lalu kita berikan lagi ke orang lain. Tapi kalau lupa, kita seperti lautan mati. Semuanya untuk kita sehingga kita tidak mengalami indahnya Tuhan. Apakah mungkin memberi? Sangat mungkin, karena yang ada, bukan punya kita, maka berilah! Kecuali dalam memberi banyak salahnya misalnya : cara memberi salah. Itu salahnya kita. Allah yang sempurna, kalau Dia memberikan sesuatu , itu sempurna! Ayub yang begitu kaya, tahu prinsip ini. Meskipun semua meragukan apa yang dialaminya, dia menjawab, “Bukan saya tapi Tuhan yang berhak”. Kita tidak miskin, kita memberi karena Tuhan yang perintahkan dan  yang kita berikan itu semua kepunyaan Allah!

2.      Memberi memiutangi Tuhan, apapun yang diberi. Amsal 19:17 Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu. Jadi janganlah kita sombong kalau sudah memberi, karena yang diberikan itu milik Tuhan. Kita tidak punya apa-apa. Mama saya pekerja keras. Saya berusia 13 tahun ketika papa dipanggil Tuhan. Lalu mama bekerja sendiri dan  membuka toko pk 3.30 pagi. Ia bekerja keras sehingga bisa membesarkan anak-anaknya. Sekarang kalau kami berikan uang untuk mama , dia berikan ke cucunya. Saya katakan,”Ma, anak-anak senang dengan barang yang mama berikan ke mereka”. Ia hanya jawab, “Itukan uang dari kamu.” Tanpa mengetahui prinsip dasar bahwa segala sesuatu milik Tuhan, maka kita cenderung merasa kita ini hebat. Siapa yang memberi terbesar? Tuhan Yesus! Karena semua punya Tuhan. Kalau kita memberi, itu punya TUhan. Kita memiutangi dan Tuhan tidak pernah tidak membayar “utangNya” kepada kita. Tuhan tidak pernah berhutang. Tuhan bisa bayar yang kita berikan. Kalau kita dipercayakan Tuhan untuk memberi ke orang lain, maka apakah sulit orang tersebut membayar kembali ke kita? Tuhan itu kreditor yang selalu membayar tunai. Tuhan tidak pernah berhutang kepada saya. Dia berikan lebih banyak dan belum tentu dalam bentuk kas juga. Terkadang rasa humorNya tinggi. Saya merasa tidak layak tapi Dia buka jalan sedemikian rupa. Anak saya yang pertama, doanya seperti nya dijawab Tuhan persis seperti yang dia mau. Dari kecil sejak kecil, dia dapat apa yang dia doakan. Sehingga waktu dia ingin masuk ke sekolah yang notabene mahal, saya bilang dibayar pakai apa? Tapi Tuhan bukan jalan, selama sekolah, dia hanya bayar 1/3 atau ¼ dari yang lain dan tidak pernah dinaikan uang sekolahnya. Dia bisa berikan dengan caraNya sendiri. Kalau Dia beri perintah dan Dia akan mem-backup semua dan tidak pernah berhutang kepada kita. Seharusnya saat memberi, kita dengan semakin ringan memberi, karena tahu itu milik Tuhan. Allah itu Allah yang berdaulat. Gereja injili menekankan Allah adalah Allah yang berdaulat, bekerja dan punya. Ia adil dan memberikan janji serta menggenapinya. Di kitab Amsal kita menemukan banyak ayat tentang memberi. Contoh : Amsal 21:13; 22:9; 28:22. Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan (Ams 28:22). Orang yang tidak sadar diri siapa dia. Semua milikkku dan bersandar pada diri sendiri. Dia terus mengejar harta itu. Tergopoh-gopoh, jiwanya tidak bisa tenang. Kalau teman bisa beli apartemen, dia juga ingin punya. Dia pikir kalau dikejar tidak akan kekurangan. Dia pikir ia bisa menjagai lumbungnya (ukuran kekayaan dulu dilihat dari agaris). Ketika harta miliknya ada dimana-mana, ia merasa tidak akan hilang. Kaum “the haves” (orang kaya) memiliki tekanan luar biasa dalam hidup mereka dan terikat pada harta itu. Ketika Tuhan memerintahkan untuk memberi, maka Tuhan minta kita tidak pelit. Amsal 28:8   Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah. Bandingkan dengan ayat 28:27 Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki. Itu sebenarnya cara kerja Tuhan. Yang berhak mengatur dan mengalokasikan uang kita adalah Dia. Jadi kita harus tunduk pada cara kerja Tuhan. Kita adalah saluran berkat untuk dibagikan. Tuhan bisa memberikan semuanya, berdaulat, tidak terjangkau cara pikiranNya. Pilihan di kita , apakah kita mau tunduk kepada Tuhan? Pengkhotbah 11:1 Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu. Kalau saudara tidak ingin sia-sia, maka seperti nasehat Salomo- raja yang penuh hikmat, nanti sesuai dengan kedaulatan Tuhan maka engkau akan mendapatkannya kembali. Tuhan tidak pernah berhutang kepada kita. Apa yang kita beri sama dengan memiutangi Tuhan.

3.  Kita tidak miskin karena kita punya status sebagai orang yang tidak mungkin “miskin”. Kita adalah anak dari Raja Diraja. Kita orang benar.  Amsal 29:7 Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya. Orang benar berbeda dengan orang baik. Orang benar seharusnya pasti baik. Tapi orang baik belum tentu orang benar. Orang baik belum tentu kenal Kristus, belum tentu milik Tuhan dan punya  kerajaan Sorga. Tetapi kita diubahkan menjadi orang benar, yakni dari orang yang berdosa , dibenarkan dan dosanya dihapus. Orangnya tidak kudus tapi dikuduskan. Kata “di” menunjukkan ke-pasif-an karena yang mengerjakan Allah. Benar karena kita milik Allah dan sorga. Identitas kita baru, itu tidak ada di agama apapun.  Kita focus pada 1 hal yang penting. Beda antara kita memberi dengan orang di luar Kristus memberi. Apakah kita berani bersaing dalam memberi? Kita gentar. Mereka memakai kaus putih lalu memegang sampah, memberi sana-sini sehingga ada anak yang pindah dari sekolah Kristen ke sekolah mereka yang digratiskan. Karena bagi mereka kalau amal banyak, akan pergi ke surga. Sehingga mereka berjuang. Kita karena yakin masuk sorga sehingga tidak berjuang. Memang benar, surga itu sdah pasti miliki kita. Tapi kita seringkali malu-maluin. Padahal kita adalah orang paling kaya di dunia ini, semua milik Bapa. Di Sekolah Minggu saya berkata, “Ibu Ester merasa paling bahagia karena paling kaya sedunia”. Anak-anak Sekolah Minggu protes, “Mobil ibu Ester apa? Rumahnya di mana?” Saya jawab, “Langit punya siapa? Tuhan. Tuhan adalah Bapa dari Ibu Ester.” Kita terkadang malu-maluin, warga surga tapi tidak seperti warga surga. Orang fasik tidak mengerti prinsip ini. Orang benar tahu status. Orang benar harusnya orang baik. Kalau tidak benar, status benarnya dipetanyakan. Jangan-jangan anak gereja tapi bukan anak surga. Orang benar sangat suka berbuat baik, karena hatinya diubah Tuhan. Amsal 21:26 Keinginan bernafsu sepanjang hari, tetapi orang benar memberi tanpa batas. LAI tidak mencantumkan kontrasnya secara harafiah, kalau orang benar dikontraskan dengan orang fasik  the weak man (dalam kitab bahasa Inggris). Orang fasik kalau punya keinginan rakus. Dikontraskan dengan kita anak Allah. Bukan berarti pulang dari gereja , rumah dijual lalu tidak punya apa-apa tetapi untuk memberi itu tidak merasa lelah dan tidak merasa cukup. Dari muda sampai tua terus memberi. Yang penting adalah identitas warga kerajaan sorga dengan kekayaan rohani (anugerah dari Tuhan). Orang benar memberi tanpa batas, karena dia tanpa batas. Orang yang belum dibenarkan, wajar kalau ia ketakutan. Karena belum tentu ia punya, karena sumbernya tidak jelas.

Kesimpulan

Apakah kita bisa memberikan tanpa jadi miskin? Pasti. Dia yang punya dan memberikan perintah itu (perintah untuk memberi). Waktu kita memberi, yang kita berikan itu punya Tuhan. Kita hanya saluran. Kita orang benar. Status kita diuji apakah kita orang benar atau kita baru di level orang baik yang berusaha menjadi orang baik untuk mendapat kavling di surga. Orang yang dapat kavling di sorga adalah orang benar. Kita harus buktikan, status kita dengan jadi orang baik. Namun ada yang berbuat baik karena kendala psikis. Ada orang yang terlalu baik sehingga dimanfaatkan orang. Dia selalu memberi. Ini something wrong. Setelah 3 sesi konseling, saya mendapat akar masalahnya. Jiwa orang ini, jiwa dari orang yan g minder. Ia perlu kebutuhan psikis untuk dihargai orang. Dia merasa berarti kalau memberi. Walau dia hutang sana sini, dan merasa benar, dengan memberi ke sana sini. Saat menjadi saluran berkat, maka pusatnya adalah Allah. Kita memberi , ternyata untungnya untuk kita, prestise dan ketenangan jiwa kita. Ketika memberi, kita tahu karena kita terlebih dahulu diberi, bukan untuk membuat kita tenang (berpusat pada diri sendiri). Ilustrasi : ada seorang kakek yang punya tongkat ajaib berkeliling desa. Anak-anak boleh minta apa saja dengan tongkat ajaib , namun setiap anak hanya boleh minta satu permintaan dan diberi kesempatan untuk memikirkannya satu malam. “Pikirkan malam ini, besok kakek datang. Sekali minta tidak boleh diganti”. Sehingga malam itu tidak anak yang tidur. Orang tua juga ikut tidak tidur. Karena sebenarnya orang tua yang tamak. Jadi ia sarankan untuk minta yang lebih mahal. Keesokan harinya, semua anak meminta dari tongkat ajaib. Ada yang minta sepeda dan minta yang mahal-mahal. Tinggal 1 anak yang tidak minta. Ditanya, “Kenapa tidak minta?” Ia merasa ragu tapi akhirnya berkata, “Saya sudah tahu apa yang mau saya minta, tapi apakah kakek akan menepati janji?” Kakek marah, karena diragukan. Dipanggillah para saksi dan sang anak diminta untuk mengajukan permintaannya dengan cepat karena kakek tersebut mau pergi ke desa lain. Akhirnya si anak berkata, “Saya hanya minta 1 hal. Saya minta tongkat kakek itu!” Rupanya dia pikir semalam, kalau minta motor atau mobil dikasih tapi hanya sekali. Kalau tongkat di tangan, maka bisa minta apa saja. Sorga punya kita , dan sorga bagaikan tongkat ajaib. Marilah kita hidup , supaya tongkat jadi berkat bagi kita semua.

No comments:

Post a Comment